NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka (Chiramune) Volume 6 Prolog

Prolog

Kenormalanku


Aku selalu menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja. Aku tidak benar-benar unggul dalam banyak hal, tapi aku juga tidak tertinggal dalam aspek apa pun.

Aku tidak punya teman yang benar-benar istimewa, tapi aku bisa bergaul baik dengan semua orang. Bahkan beberapa anak di kelasku terkadang mengandalkanku untuk beberapa hal. Aku tidak terlalu disukai, tapi juga tidak dibenci.

Aku melewati hari-hari dengan tenang dan sederhana, menghindari keterikatan yang mendebarkan maupun kesedihan yang muncul saat semua itu berakhir tiba-tiba. Menjadi rata-rata itu tidak apa-apa, begitulah aku selalu meyakinkan diriku.

Seolah-olah aku bertekad untuk membuktikan bahwa menjadi rata-rata akan membawa kebahagiaan. Maka seiring berjalannya waktu, aku membangun dinding transparan di sekelilingku.

Aku tidak akan menjalin ikatan yang mendalam dengan siapa pun, dan aku juga tidak akan membiarkan siapa pun terhubung terlalu dalam denganku. Ya. Aku berpura-pura bahwa itulah yang kuinginkan.

Aku menyelimuti sosok gadis kecil yang menangis di dalam diriku dengan senyuman ramah. Namun hari itu, di dalam ruang kelas itu...

Aku bertemu denganmu. Aku bahkan belum pernah berbicara denganmu sebelumnya, tapi kau melangkah masuk begitu saja ke bagian paling menyakitkan dalam diriku dengan sepatu beratmu, lalu menggeledah laci-laciku yang terkunci tanpa meminta izin.

Bahkan saat aku mengenangnya sekarang, kesan pertamaku tentangmu adalah aku membencimu. Namun malam itu, dalam sebuah momen yang hening...

Kau menemukanku. Kau mengambil kata itu, "normal", yang sebenarnya tidak pernah ingin aku akui. Kau mengambil cara hidupku yang menyesakkan yang telah kupeluk selama bertahun-tahun. Kau mengambil kenangan-kenangan yang sebenarnya sangat ingin kusimpan baik-baik...

...dan kau menerangi semuanya di sana, dalam kegelapan. Kalau dipikir-pikir lagi, emosi yang diam-diam terikat di jari kelingkingku adalah...

Yah, bagaimanapun juga, itulah alasan aku memanjatkan permohonan pada rembulan yang tidak bisa kulihat. Tidak apa-apa jika aku bukan orang yang istimewa bagimu. Aku tidak harus menjadi pacarmu, atau bahkan teman baikmu.

Tapi jika kau membutuhkan seseorang... aku ingin namakulah yang pertama kali kau panggil.

Aku hanya ingin berada di sisimu, dengan cara yang biasa saja. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup.




Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close