Chapter 4
Hembusan Angin Esok Hari
Tempat ini, tepat
di sini, adalah kota tempat aku, Asuka Nishino, dilahirkan, dan tempat aku
tinggal hingga kelas lima SD.
Secara teknis ini
masuk wilayah Kota Fukui, tapi letaknya di pinggiran.
Jika kau berjalan
sedikit lagi, kau akan sampai di Kota Sakai yang bertetangga. Tempat ini bukan
daerah yang paling pelosok di Prefektur Fukui, tapi lingkungannya memang
dikelilingi oleh hamparan sawah.
Tidak
banyak yang bisa dilakukan di sini. Benar-benar tidak ada.
Untuk
bepergian di akhir pekan, biasanya ada pusat perbelanjaan bernama Ami, yang
tentu saja tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Lpa.
Hal
favoritku adalah mengunjungi toko buku di pusat perbelanjaan itu atau pergi ke
toko buku Miyawaki di dekat sana untuk membeli buku-buku terbaru.
Aku lahir
di kota kecil semacam ini, dari pasangan guru yang sangat disiplin. Tentu saja,
aku tumbuh menjadi gadis yang terkekang dan membosankan. Aku cukup pandai dalam
belajar, tidak mahir berolahraga, dan sama sekali bukan tipe anak yang menjadi
pusat perhatian di kelas.
Meski
begitu, bukan berarti aku anak yang super murung dan tidak pernah mengobrol
dengan siapa pun. Aku punya teman. Kurasa deskripsi yang paling akurat untuk
diriku adalah anak yang benar-benar rata-rata.
Tidak ada
anak seusiaku yang tinggal di dekat rumah, dan aku tidak diizinkan pergi
bermain terlalu jauh. Begitu sekolah usai, aku akan langsung pulang dan
menenggelamkan diri dalam buku, dan aku tidak pernah merasa bosan sedikit pun.
Teman-teman
sekelasku sering berkumpul di rumah satu sama lain setelah sekolah untuk
bermain, jadi mungkin mereka menganggapku sedikit penyendiri.
Tapi
bagiku, yang benar-benar kubutuhkan hanyalah cerita-ceritaku.
Para
protagonis dalam novelku semuanya sangat jujur, sangat bersemangat, sangat
baik, dan menginspirasi. Mereka mengejar impian mereka dan terbang bebas
menjelajahi dunia.
Andai saja aku
bisa menjadi seperti itu, pikirku berulang kali.
Namun, meskipun
aku mengagumi anak laki-laki dan perempuan dalam cerita-cerita itu, aku mampu
membedakan dengan jelas mana yang kenyataan dan mana yang fiksi.
Lagipula, ada
orang tuaku yang selalu berkata, "Kau tidak boleh melakukan ini, kau tidak
boleh melakukan itu," dan aku tidak pernah bisa mendapatkan apa pun sesuai
keinginanku sendiri.
Jika aku ingin
pergi ke festival, jika aku ingin menginap di rumah teman, jika aku ingin pergi
ke tempat baru sendirian—semua itu tidak akan menjadi kenyataan tanpa izin
orang tuaku.
Aku dibesarkan
dengan doktrin bahwa selama aku menuruti semua perkataan orang tuaku, aku akan
tumbuh menjadi orang dewasa yang baik. Bahkan sekarang pun, aku tidak berpikir
bahwa mereka salah dalam segala hal.
Tapi pada musim
panas di tahun keempat SD, aku bertemu dengan seorang anak laki-laki.
Dia lebih muda
dariku, tapi dia sangat jujur, sangat bersemangat, sangat baik, dan
menginspirasi.
"Sudah lama
sekali ya, Saku."
"K-kau
adalah..."
Aku
mengucapkannya. Akhirnya aku mengucapkannya.
Kata-kata yang
telah kupendam sejak September tahun lalu, sejak aku bertemu dengannya kembali.
Aku menatap wajah
orang yang berdiri di sampingku.
Dia selalu
bersikap sangat keren, tapi sekarang dia tampak benar-benar terperangah,
matanya terbelalak, dan mulutnya sedikit terbuka.
Apakah beberapa
patah kata itu cukup untuk memicu ingatannya?
Akan sedikit
menyesakkan—tidak, akan sangat menyesakkan—jika ingatan itu tidak ada di sudut
pikirannya, apalagi setelah aku bersusah payah datang jauh-jauh ke sini.
"Ada apa,
Saku?"
Aku mengintip
wajah terkejutnya dan memberinya pancingan godaan sekali lagi.
Dia tidak
membalas dengan kata-kata sinis seperti biasanya. Sebaliknya, dia tampak sedang
berusaha keras menarik kembali ingatan dari bagian belakang pikirannya, atau
mencoba menyusun situasi ini ke dalam semacam logika.
Yah, itu masuk
akal.
Bagimu, aku
adalah Asuka, kakak kelasmu. Aku tidak pernah memanggilmu Saku, hanya Chitose,
kan?
Tapi sebelum aku
memanggilmu Chitose, aku memanggilmu Saku, tahu?
"Uh, tunggu..." Dia meletakkan tangan di dahinya
saat berbicara. "Apakah...
apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Mungkin saat kita masih kecil?"
"Yap."
"Mungkin
dulu rambutmu panjang? Sampai
ke tengah punggung?"
"Yap."
"Dan mungkin
kepribadianmu sedikit lebih pemalu?"
"Yap."
"Kita
bermain bersama saat liburan musim panas?"
"Yap. Tepat
sekali."
"Kenapa kau
tidak bilang dari awal?!"
Aku tidak bisa
menahannya lagi. Aku pun tertawa terbahak-bahak.
Benar, penampilan
dan sikapku sudah banyak berubah sejak saat itu. Kalau dipikir-pikir, aku cukup
yakin aku tidak pernah memberi tahu namaku padanya.
Waktu itu, dia
hanya selalu memanggilku "Teman."
"Kau ingat?
Dulu, kita bukanlah Asuka dan Chitose. Kita adalah 'Teman' dan Saku."
"Aduh,
yang benar saja...?"
"Sudah
kubilang, kan? Beberapa dongeng itu nyata. Dan letaknya lebih dekat dari yang
kau duga."
Chitose... Saku menggaruk kepalanya, membuat rambutnya
berantakan.
Aku menggandeng tangannya selagi dia berdiri di sana dengan
bingung, dan kami pun meninggalkan stasiun kota kecil itu.
Aku menarik napas panjang, dan aku bisa mencium aroma sawah
yang sudah tidak asing lagi. Aku bisa mencium aroma sisa pembakaran jerami. Tak
diragukan lagi orang kota besar pasti bilang bau ini menyengat, tapi bagiku,
ini adalah aroma yang menenangkan, aroma masa kecilku.
"Selama ini, kupikir kau adalah gadis yang jauh lebih
muda dariku," kata Saku sambil berjalan di sampingku.
"Baru pada
musim panas kedua aku menyadari kalau aku sebenarnya lebih tua darimu. Itu saat
aku menanyakan kapan hari ulang tahunmu. Tapi saat itu terlalu canggung untuk
mengatakannya, jadi aku biarkan saja."
Di sekolah dasar,
anak perempuan cenderung lebih cepat dewasa daripada anak laki-laki, yang
kurasa menjadi salah satu penyebabnya.
Tapi itu juga
karena kesan pertama yang kudapatkan darinya—bahwa dia adalah anak laki-laki
yang bisa diandalkan dan tampak lebih dewasa.
Sebaliknya, aku
adalah gadis yang terlalu dilindungi dan tidak tahu apa-apa tentang dunia.
Mudah untuk melihat bagaimana kami melakukan kesalahan penilaian itu.
"Wah, tempat
ini benar-benar membuatku rindu. Aku jadi sangat sibuk dengan bisbol setelah
lulus SD sampai-sampai tidak pernah kembali ke sini."
Saku melihat ke
sekeliling selagi kami berjalan.
"Sekarang
aku ingat; ada kuil kecil di seberang jalan itu, kan? Aku pernah pergi ke sana
bersamamu, kan?"
Tentu saja aku
ingat. Itu adalah salah satu kenanganku yang paling berharga.
"Jadi kau
membawaku ke sini untuk membuatku kaget, ya?"
"Itu salah
satu tujuanku. Tapi tujuan lainnya adalah untuk mengonfirmasi di mana semuanya
bermula, kurasa."
"Di mana
semuanya bermula?"
"Maukah kau
mendengarkan ceritaku kali ini?"
Saku mengangguk,
maka aku pun memulai ceritaku perlahan-lahan.
◆◇◆
Itu terjadi pada
musim panas saat aku kelas empat SD.
Ada seorang
wanita tua yang tinggal sendirian di dekat rumahku, dan aku mendengar bahwa ada
seorang cucu laki-lakinya yang datang berkunjung.
Nenek itu
sangat ramah dan sering memberiku permen. Dulu, dia pernah berkata padaku,
"Kalau dia datang berkunjung, tolong temani dia bermain ya?"
Jadi
sesuai janji, aku harus mampir dan mengajaknya bermain. Tapi sejujurnya,
jantungku berdegup kencang saat memikirkannya.
Aku belum
pernah berduaan dengan anak laki-laki sebelumnya, dan aku tidak tahu dia akan
seperti apa.
Tidak ada
jaminan dia akan sebaik neneknya, dan kabarnya dia tinggal di kota. Mungkin dia
akan mengejekku karena aku anak desa.
Maka aku
mengenakan gaun yang tampak paling dewasa dan topi jerami, lalu pergi
menemuinya.
Aku
menganggap pakaianku sebagai zirah untuk melindungi hatiku jika diperlukan.
Lalu aku
bertemu dengan seorang anak laki-laki yang wajahnya secantik anak perempuan.
Kulitnya cukup cokelat karena terbakar matahari, dan lengan yang muncul dari
balik baju singletnya tampak berotot, sangat berbeda dariku.
Saat dia
tersenyum, gigi putihnya terlihat berkilau.
"Hei, Teman.
Kau tinggal di sekitar sini, ya?" kata anak laki-laki itu sambil
menatapku.
"I-iya.
Tidak jauh dari sini."
Sikapnya yang
tidak kenal takut membuatku sedikit ciut.
Di sekolah, ada
banyak anak laki-laki yang ceria dan eksterior, tapi aku juga menganggap mereka
sedikit kasar, dan aku tidak menyukai mereka karena itu.
"Kalau
begitu, bolehkah kau mengajakku berkeliling?" Tapi anak laki-laki ini, dia
punya cara bicara dan pembawaan yang santai.
"Tentu, tapi
tidak banyak yang bisa dilihat. Isinya cuma sawah."
"Tidak masalah. Ayo pergi!" Dan anak itu menggenggam tanganku erat-erat. "Aku
Saku. Saku Chitose."
"Saku..."
Tangannya
terasa jauh lebih hangat daripada tanganku, saat aku mencoba melafalkan namanya
di lidahku.
Sambil
berpegangan tangan, kami berjalan pergi. Dan ya, aku merasa sedikit malu.
Maksudku, di
sekitar sini hanya ada rumah-rumah tua, selokan yang mengalir, kuil kecil,
taman, dan sisanya hanyalah sawah.
Aku yakin dia
akan kecewa.
Aku menatapnya
dengan cemas, tapi...
"Tempat ini
kelihatannya seru banget! Pasti ada ratusan anggang-anggang, telur katak, dan lobster air tawar! Dan tidak ada mobil sama sekali, jadi kau
bisa pergi ke mana saja!"
Wajahnya tampak
berseri-seri.
Selama dua hari
berikutnya, kami bermain bersama, dan ternyata dia adalah seorang jenius dalam
membuat hal-hal biasa menjadi menyenangkan.
Kami berburu
lobster air tawar dan jangkrik, mengoleskan madu pada pohon besar di kuil untuk
memancing kumbang badak, dan melompat dari ayunan di taman.
Sebagian besar
waktu aku hanya berdiri di belakang sambil bertepuk tangan dan bersorak saat
dia melakukan hal-hal itu, tapi sungguh luar biasa bagaimana dia membuat kotaku
yang membosankan tampak seperti gudang harta karun.
Aku segera
terbiasa dengannya, dan aku mengikutinya ke mana-mana dari pagi hingga sore,
sambil terus berceloteh, "Saku, Saku."
Lalu hari ketiga
tiba. Hari di mana Saku harus pulang.
Aku merasa sangat
sedih dan merana, dan aku merengut sejak bangun tidur.
"Begitu kau
pulang, hidupku bakal membosankan lagi."
"Membosankan?"
"Iya. Pergi
sekolah, pulang ke rumah, cuma mondar-mandir saja."
Saku menatapku,
lalu tampak berpikir keras. "Hei, di mana tempat paling jauh yang pernah kau datangi dengan
berjalan kaki?"
"Aku tidak
diizinkan pergi terlalu jauh. Cuma sejauh yang kutunjukkan padamu saja,
kurasa."
"Kalau
begitu ayo kita berpetualang. Ke suatu tempat yang belum pernah kau lihat
sebelumnya."
"Tapi ayahku
akan marah..."
Dia memegang
tanganku dan menggenggamnya erat saat aku ragu-ragu.
"Jangan
pikirkan ayahmu. Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan?"
"Aku... aku
ingin pergi."
"Kalau
begitu kita harus pergi."
Setelah itu, Saku
mengemas tasnya dengan bola-bola nasi yang dibuat neneknya untuk makan siang
dan mengambil botol minumnya, lalu dia menggenggam tanganku, dan kami
berangkat.
Dia juga belum
pernah lewat jalan ini, tapi dia tidak menunjukkan rasa takut atau ragu sama
sekali.
Awalnya,
jantungku berdegup kencang memikirkan sedang melakukan sesuatu yang salah, tapi
saat aku melihat senyum Saku, semua kegugupanku langsung lenyap.
Kami melewati
daerah yang kukenal dan menyusuri jalan di tepi sungai, lurus terus tanpa
henti.
Itu benar-benar
jalan pedesaan yang tidak ada apa-apanya. Ke mana pun kau memandang, hanya ada
sawah hijau, dengan perbukitan jauh dan rumah-rumah yang tersebar di cakrawala.
Tapi bagiku,
semuanya terasa segar dan baru.
Saku benar-benar
jenius dalam membuat segalanya jadi seru. Dia bisa menemukan segala macam hal
menarik di lingkungan yang paling menjemukan sekalipun.
"Hei, Teman,
bangunan kecil apa itu?"
"Kurasa itu
untuk pemeliharaan sungai dan semacamnya?"
"Itu
membosankan. Hei, kau lihat benda seperti selang tebal itu? Itu mengarah ke
rumah kappa."
"Kappa?"
"Mereka
sudah ada di daerah ini sejak lama, tapi zaman sekarang, pasti kaget kalau
melihatnya langsung, kan? Jadi mereka tinggal di rumah-rumah kecil yang
disediakan oleh petinggi Fukui untuk mereka. Dan kemudian, agar tidak terlihat
orang, mereka bepergian melalui selang-selang itu ke sungai."
"Apa? Yang
benar saja!"
Kami berdua
tertawa saat Saku terus menceritakan kisah-kisah seperti itu padaku.
Begitu sungai itu
berakhir, kami mengikuti jalan sempit yang menembus sawah.
Kami terus
berhenti dan menatap ke dalam selokan, lalu kami bermain kejar-kejaran, dan
kami terus berjalan, meskipun kami tidak punya tujuan tertentu dalam pikiran.
Lalu, tanpa
kusadari, segalanya mulai menjadi gelap di sekitar kami.
"Waduh,
kita benar-benar harus pulang sekarang."
Saku
menatapku. "Jadi, kau sudah melihat sesuatu yang baru? Tidak membosankan,
kan?"
Aku
mengangguk.
"Tuh
kan, gampang."
Anak
laki-laki itu tersenyum, dengan latar belakang matahari terbenam, dan bagiku
dia tampak seperti perwujudan dari kebebasan.
Aku
selalu melakukan persis seperti yang dikatakan orang tuaku, hidup tenang di
dunia kecilku sendiri. Ini adalah petualangan pertama yang benar-benar
kujalani.
Tapi bagi
Saku, ini hanyalah perjalanan santai, sesuatu yang dia putuskan secara
tiba-tiba.
Maka kami
berbalik menuju jalan pulang.
Sawah-sawah
tampak subur dengan pertumbuhan musim panas, jalannya begitu lurus, kabel-kabel
listrik membentang di atas kepala, permukaan sungai berkilauan, dan segalanya
diwarnai merah oleh matahari terbenam.
Aku bisa
mendengar nyanyian jangkrik dari tempat yang jauh, dan aku bisa mendengar suara
katak yang cukup keras untuk menenggelamkan suara mereka.
Sambil berjalan,
kami memakan bola-bola nasi. Isinya plum asinan, yang biasanya tidak kusukai,
tapi entah kenapa hari itu rasa asam-manisnya terasa lezat.
Kami
berhenti sejenak untuk meneguk teh gandum.
Keadaan
sudah gelap di sekeliling kami, dan bulan bundar menggantung di langit,
sementara bintang-bintang berkelap-kelip seperti taburan permen konpeito.
Ini
pertama kalinya aku pergi keluar selarut ini hanya dengan sesama anak kecil,
dan rasanya aneh, tapi dengan Saku yang menggandeng tanganku, aku tidak takut
sama sekali.
Sesampainya
di rumah, ayahku benar-benar meneriakiku, tapi aku tidak merasa sedih sama
sekali.
Alasanku
tidak bisa berhenti menangis adalah karena kereta yang membawa Saku pergi
menjauh, hingga aku tidak bisa melihatnya lagi.
Berulang
kali, aku berharap agar musim panas berikutnya cepat datang.
◆◇◆
Itu adalah
liburan musim panas saat aku kelas lima SD.
Aku mengenakan
gaun putih bersih yang kupinta dengan memelas agar dibelikan Ayah dan Ibu, lalu
menunggu Saku dengan penuh semangat.
Dia sudah mulai
bermain bisbol, tubuhnya lebih tinggi dari tahun lalu, dan dia tampak lebih
seperti seorang remaja laki-laki.
Tapi dia
tidak berubah di dalam, dan kami berlari-lari serta bermain bersama.
Kejadiannya
saat kami sedang berjalan di sepanjang tanggul kecil yang mengapit selokan.
Saku
berjalan sedikit di depanku, dan aku berlari dari belakangnya, ingin
mengejutkannya.
Tapi saat
aku berlari, tanah yang basah mulai licin di bawah kakiku. Aku kehilangan
keseimbangan dan jatuh ke sungai dengan cipratan yang besar.
Untungnya
aku tidak terluka, tapi gaun putih yang kubeli khusus untuk diperlihatkan pada
Saku benar-benar rusak. Aku
merasakan mataku panas karena sedih dan malu.
Tidak. Aku tidak
boleh menangis di depan Saku.
Tidak
saat kami sedang bersenang-senang. Tidak saat liburan musim panas.
Aku mengatupkan
gigi dan mengerutkan wajahku, tapi itu tidak cukup. Air mata menggenang dan
tumpah seperti keran bocor.
Jangan, jangan,
jangan.
Aku tidak ingin
Saku melihat wajahku yang berantakan seperti ini.
Hentikan,
hentikan, hentikan.
—Tepat saat itu.
Terdengar
cipratan air, cipratan yang lebih keras daripada yang baru saja kubuat. Saku
sudah melompat ke dalam sungai.
"Hei, kenapa
kau bersenang-senang tanpa aku? Aku ikut ya."
Dengan seringai
geli, dia mulai mencipratiku air.
Airnya berbau
sedikit amis, tapi saat mengenai wajahku, air itu menghapus air mataku.
Dan kemudian aku
menyadarinya.
Oh. Tangisanku
berhenti.
Rasanya aneh. Aku
benar-benar lupa bahwa aku baru saja akan melolong beberapa detik yang lalu,
dan aku malah balik mengejar Saku.
"Hei!
Berhenti! Ini gaun favoritku!"
"Kau tidak
perlu pakai gaun. Tahun depan pakai celana pendek, kaos, dan sandal jepit
saja."
"Hmph! Tidak
bisa dipercaya! Kau jahat!"
Kami bermain air
di sungai yang kotor itu, dan tak lama kemudian aku benar-benar lupa soal
gaunku. Aku terlalu sibuk mencipratkan air dan tersedak karena tertawa.
◆◇◆
Itu adalah
liburan musim panas saat aku kelas enam SD.
Saku
bilang dia sibuk dengan latihan bisbol, jadi dia hanya bisa menginap satu
malam.
Tapi ada
festival malam itu di kuil kecil. Jika kami bisa pergi bersama, itu akan
menjadi kenangan yang sangat istimewa.
Aku sudah
mencoba bertanya pada Ayah dan Ibu malam sebelumnya, tapi mereka bilang tidak
mungkin aku bisa pergi jika hanya kami berdua yang masih anak-anak.
Aku
memberi tahu mereka bahwa anak-anak lain dari sekolah pergi tanpa orang tua,
tapi mereka hanya menjawab, "Keluarga lain punya aturan mereka sendiri,
dan ini adalah aturan kita."
Ayah
bilang kami boleh pergi jika dia ikut menemani, tapi aku tidak mau. Aku ingin
pergi hanya berdua saja.
Aku
menceritakan hal itu pada Saku sambil memakan semangka, mengenakan celana
pendek, kaos, dan sandal jepit.
"Para guru
di sekolah memang bicara seperti itu. Itu karena ayah dan ibumu sama-sama
guru."
"Kau
tidak ingin pergi, Saku?"
"Tentu saja
aku mau. Bagaimana kalau aku mampir dan menjemputmu malam nanti? Aku akan
menjelaskan bahwa tidak akan ada bahaya."
"Kurasa itu
tidak akan berhasil. Aku akan mencoba bicara dengan mereka lagi, tapi..."
Melihatku begitu
murung, Saku tampak berpikir keras. Kemudian dia tampak mendapatkan ide
cemerlang.
"Ayo coba
ini! Kau coba bicara dengan ayahmu sekali lagi setelah pulang. Lalu aku akan
datang menjemputmu setelah gelap. Kalau mereka memberi izin, maka semua
beres."
"Dan
bagaimana kalau mereka tidak memberi izin?"
"Kita buat
perjanjian. Jika kau ingin membatalkannya, aku akan langsung pulang. Tapi jika
kau masih sangat ingin pergi, sentuhlah telinga kirimu. Itu akan menjadi
tandanya."
"Lalu?"
"Lalu aku
akan membawamu kabur lewat jendela."
Jantungku
berdegup kencang.
Aku sudah mencoba
bertanya pada Ayah lagi, tapi tentu saja, jawabannya tidak berubah.
Ketika Saku
datang ke rumah, Ayah bersikap ramah padanya, tapi dia menjelaskan bahwa tidak
ada alasan bagi kami berdua untuk pergi ke festival sendirian.
Jadi aku berkata,
"Maaf, Saku."
Lalu kuselipkan
rambutku ke belakang telinga kiri.
"Baiklah,
aku mengerti. Kalau begitu, sampai jumpa tahun depan. Aku akan berangkat besok
pagi-pagi sekali."
Lalu, dengan
wajah lesu, Saku melambai dan pergi.
Tunggu... Bagaimana dengan perjanjian kami? pikirku. Apa dia tidak sadar? Kusentuh telinga
kiriku. Itu adalah tandanya.
Dia bilang dia
akan membawaku kabur! Dia berbohong!
Aku mengurung
diri di kamar dan membenamkan wajah ke bantal, dipenuhi amarah, kesedihan, dan
rasa frustrasi.
Aku tidak bisa
menahan air mataku. Mereka tumpah dan merembes ke bantal.
Malam ini adalah
satu-satunya kesempatan yang kami punya sampai tahun depan!
Seharusnya aku
setuju saja membiarkan Ayah dan Ibu ikut bersama kami.
Aku mengepalkan
tinjuku.
Seharusnya kami
tidak perlu bersusah payah membuat rencana sejak awal, jika dia tidak berniat
menepatinya.
Saat aku
terbaring di sana dengan pikiran yang berkecamuk, aku mendengar suara aneh.
Tok.
Tok. Tok. Tok.
Dalam
kondisi setengah mengantuk, aku duduk dan melihat sekeliling.
Saku
berada di luar jendela, melambai padaku.
"Hah? Apa?
Ini—ini lantai dua, lho?"
Aku membuka
jendela dengan bingung dan melihat Saku menempelkan jari ke bibirnya sambil
menyeringai. "Ssst. Sedang apa kau berbaring di tempat tidur? Bukankah
kita mau pergi ke festival?"
Aku menjulurkan
kepala sedikit dan melihat ke bawah, tampak dia sedang berdiri di atas semacam
tangga darurat.
"Aku
meminjam tangga milik nenek dari rumahnya."
Lalu dia
terkekeh.
Setetes air mata
jatuh di pipiku. Aku tidak tahu apakah itu karena lega atau hanya rasa bahagia
yang murni.
"Ada apa
sekarang? Kau benar-benar cengeng, ya. Kau membuat wajah yang persis sama tahun
lalu saat kau jatuh ke sungai."
Dengan jari yang
kaku, dia menghapus air mataku.
"Oh...
Sepatuku..."
Tangga rumah kami
berderit berisik, jadi jika aku turun untuk mengambilnya, Ayah pasti akan
mendengarku.
"Heh-heh.
Aku meminjam sesuatu yang lain juga."
Lalu Saku
mengeluarkan sepasang sandal jepit dari saku celana pendeknya dan
menyerahkannya padaku. Tidak ada orang di lingkungan ini yang repot-repot
mengunci pintu depan mereka, jadi jika perlu, kami bisa saja menyelinap kembali
ke dalam dan mengambilnya. Tapi jika ketahuan, aku tahu kami akan mendapat
masalah besar, jadi aku sangat senang melihat sandal itu.
Dia
benar-benar seperti pangeran dari negeri dongeng.
Turun dari tangga
itu cukup menakutkan, tapi...
"Tidak
apa-apa. Aku akan turun duluan dan menahannya agar stabil untukmu," kata
Saku.
Untuk
berjaga-jaga, aku menulis catatan yang berbunyi: Maafkan aku. Aku pergi ke
festival bersama Saku. Aku akan pulang sebelum larut, dan meletakkannya di
atas mejaku.
Lalu perlahan,
saat aku turun, Saku berkata, "Aku senang kau memakai celana pendek tahun
ini. Kalau tidak, aku pasti bisa melihat pakaian dalammu."
"Hmph! Dasar
mesum!"
Setelah itu, kami
mulai berlari, dan tidak sampai lima menit kemudian, kami sampai di kuil di
sisi lain stasiun.
Di tengah jalan,
aku baru sadar bahwa kami tidak punya uang, tapi ternyata nenek Saku telah
memberinya seribu yen dan berkata kami harus makan sesuatu yang enak bersama.
Festival
itu benar-benar kecil, dan tidak banyak kedai di sana.
Tapi
kegembiraan karena melakukan apa yang dilarang Ayah membuat jantungku berdebar,
dan rasanya juga mendebarkan berada di sana tanpa pengawasan orang tua untuk
pertama kalinya. Seluruh suasana itu terasa ajaib.
Kami
berdua berkeliling festival, praktis dengan langkah melompat kegirangan.
Tapi hal
yang paling membuat jantungku berdebar adalah bersama Saku, yang telah
membawaku kabur, persis seperti yang dia janjikan.
Bersama-sama,
kami makan yakisoba dan marumaru yaki, lalu kami menutupnya dengan Ramune.
"Aku selalu
merasa kasihan pada kelereng yang tenggelam di dalam botol Ramune," gumam
Saku dengan penuh pemikiran. "Ia sendirian."
Aku mengerjap.
"Itu aneh. Bagiku itu terlihat seperti sedang mengapung dengan bahagia.
Seperti bulan, sangat indah, dicintai oleh semua orang. Sepertimu, Saku."
"Bulan...
begitu ya."
Hanya itu yang
dia katakan. Lalu dia mengacak rambutku dengan penuh kasih sayang.
Aku mengintip
profil wajahnya. Dia sedang menatap bulan yang asli, yang mengambang di langit
malam.
Tatapannya jauh
lebih serius daripada biasanya. Entah bagaimana, tampak sedih.
Dia terlihat
begitu dewasa pada saat itu hingga membuat jantungku berdegup kencang, tapi aku
juga merasa sedih. Dadaku terasa sesak. Aku ingin menangis padanya agar tidak
pergi menjauh, tapi aku tidak melakukannya.
"Jika kau
merasa kesepian dan sedih, Saku, aku bisa menjadi pengantinmu."
"Asal kau
bisa mengatasi sifat cengengmu itu."
Aku menatapnya
saat dia tersenyum hangat, dan aku berharap aku bisa menjadi sepertinya.
Dia begitu keren,
begitu berbakat dalam olahraga, dan memiliki pikiran yang tajam. Tentu saja,
aku mencintai semua aspek darinya.
Tapi kekuatan
batinnya yang lembutlah yang membuat Saku selalu maju terus, apa pun
situasinya.
Itu
adalah api di dalam dirinya. Caranya menunjukkan bagian kota yang belum pernah
kulihat, meskipun itu membuat ayahku marah.
Caranya
menghentikan tangisanku di sungai yang berlumpur, caranya membangun semua
kenangan berharga ini bersamaku.
Caranya
memutuskan sendiri apa yang penting.
Itulah yang
benar-benar membuatnya bersinar di mataku.
Bisakah aku
menjadi sepertinya? Aku sangat menginginkannya.
Seperti pahlawan
dari sebuah cerita, seperti bulan yang mengambang di langit malam, kepercayaan
diri itu...
◆◇◆
"Dan itulah
kisah cinta pertamaku di musim panas masa lalu, yang berakhir hanya setelah
tujuh hari."
Sambil kami
berjalan di jalan yang sama seperti dulu, aku menceritakan padanya kisah yang
selama ini kusimpan sendiri.
Mengatakannya
dengan kata-kata, terdengar seperti jenis kesalahpahaman tipikal yang mungkin
dibuat oleh seorang gadis muda, dan aku merasa sedikit malu.
...Tidak. Tidak
banyak laki-laki yang mau memanjat jendela lantai dua kamarmu untuk membawamu
kabur.
Setelah itu,
ayahku datang mencariku, dan kami berdua mendapat masalah besar.
Saat dia berjalan
di sampingku, Saku awalnya tampak malu, tapi di tengah ceritaku matanya mulai
menyipit, seolah-olah dia sedang menatap sesuatu yang jauh, dan dia
mendengarkan dengan penuh perhatian.
Tapi dia
tidak merespons, dan sekarang aku merasa canggung.
"Kita tidak
pernah bertemu lagi setelah musim panas itu, karena aku pindah. Aku tidak tahu
alamatmu, dan aku tidak cukup berani untuk menanyakannya pada nenekmu."
Akibatnya, dia
tidak pernah melihat potongan rambut pendek baruku, yang kupotong di akhir
musim panas itu karena kupikir dia mungkin suka gaya yang lebih bersemangat.
Sekarang dia
terkekeh, mengingatnya.
"Yah, aku
dengar dari Nenek kalau kau jatuh cinta pada seseorang yang keren, jago
olahraga, dan pintar."
"Tapi itu
kan kau. Aku malu memberi tahu nenekmu siapa orangnya, jadi aku sengaja bicara
tidak jelas."
"Wah. Jadi
kau menyukaiku sejak dulu, ya, Asuka?"
"Apa?!" seruku. "Bagaimana mungkin kau tidak tahu? Aku mengikutimu ke mana-mana dulu. Benar-benar seorang gadis polos
dengan cinta monyet yang jelas sekali."
"Ah
ya, memang terasa seperti itu. Itulah sebabnya aku tidak menyadarinya saat kita
mulai masuk SMA dan pertama kali bertemu. Tapi kau tahu..." Saku
menggaruk pipinya. "Ingat dulu, kau selalu bilang betapa kau iri padaku,
pada cara hidupku yang bebas? Kata-kata
itu benar-benar menguatkanku. Kata-kata itu membuatku terus maju saat segala
hal mulai menumpuk padaku di saat yang sama. Pengetahuan bahwa ada seorang
gadis di luar sana yang melihat bagian dari diriku yang tersembunyi di bawah
permukaan."
Aku juga
terkejut, ketika kami mendiskusikan banyak hal malam itu di Tokyo.
Anak laki-laki
yang tampak seperti perwujudan kebebasan di mataku ternyata sedang menghadapi
begitu banyak hal secara rahasia.
Di saat yang
sama, aku menyadari lagi betapa luar biasanya hal itu, dan semuanya menjadi
jelas bagiku.
Kenapa dia dan
aku bertemu lagi di SMA seperti ini?
"Dengar,
Asuka," katanya. "Sudah berapa lama sejak kau menyadari ini?"
Yah, itu
pertanyaan yang mudah.
"Sejak
September tahun lalu, saat kita bertemu di tepi sungai."
Mata Saku terbuka
lebar, dan dia menghela napas. "Karena kau kecewa?"
Sekarang aku tahu
apa yang dia maksud dengan kata-kata itu.
"Sebagai
perbandingan, meskipun aku benci mengatakannya, bukan berarti aku terus
mencintaimu sepanjang waktu itu. Aku bahkan tidak menyadari kau berada di SMA
yang sama denganku, di tingkat bawah."
"Hmm, masuk
akal."
"Tapi selalu
ada dorongan kuat ini di hatiku—aku ingin menjadi seperti anak laki-laki dari
masa kecilku itu. Agar jika kita bertemu lagi, aku bisa menjadi tipe gadis yang
cukup pantas untuk laki-laki sepertimu."
Aku berdehem.
"Saat aku
memanjat keluar dari sungai dan melihatmu, aku langsung tahu itu kau. Kau jauh
lebih keren dari ingatanku, tapi aku benar-benar yakin. Aku sempat bimbang
apakah aku harus memberitahumu atau menunggu untuk melihat apakah kau akan
menyadarinya sendiri."
Saku tertawa
malu-malu.
"Tapi kau
adalah orang yang jauh lebih kompleks daripada anak laki-laki di ingatanku. Kau
seperti, 'Kenapa kau melakukan hal seperti itu?' Tapi yang kulakukan hanyalah
meniru apa yang kau lakukan waktu itu, ingat?"
Itu adalah salah
satu kenangan masa kecilku yang paling hidup.
Gaun putih yang
ternoda lumpur sungai, senyuman itu.
"Jadi aku berpikir... Mungkin sesuatu terjadi pada
Saku, dan sekarang dia terkunci di dalam kepalanya sendiri seperti aku dulu.
Aku pikir, kalau begitu, aku harus menuntunmu sekarang."
Aku mengesampingkan perasaanku sendiri.
Demi anak laki-laki yang menunjukkan padaku cara menjalani
hidup dengan caraku sendiri.
Aku memutuskan
untuk menjadi kakak kelas perempuan terbaik yang aku bisa.
Aku memutuskan
bahwa kita akan menjadi "Asuka" dan "Teman."
Lalu, suatu hari
nanti, ketika "Saku" kembali...
"Asuka yang
sangat kau kagumi itu sebenarnya hanyalah bayangan cermin dari Saku yang
kukagumi."
Aku pikir aku
akan memberitahunya, persis seperti itu.
"Tapi kau
tahu...," lanjutku. "Seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari
bahwa kau benar-benar Saku selama ini. Pahlawan yang sama, yang begitu jujur,
begitu bersemangat, begitu baik seperti cahaya dalam kegelapan, terbang bebas
menjelajahi dunia dengan kehendakmu sendiri."
Aku selalu
berpikir, begitu aku telah memastikan hal itu, barulah aku akan memberitahunya,
persis seperti ini.
Saku menatapku
dengan tatapan lembut. "Terima kasih, Asuka."
Aku menggelengkan
kepala.
Ada satu hal lagi
yang harus kukatakan padanya.
"Jadi kau
lihat, citra yang kau punya tentangku sebenarnya hanyalah sebuah ilusi. Aku
ingin menjadi sepertimu, menjalani hidup dengan caraku sendiri, menjadi
kuat—tapi aku hanyalah gadis biasa yang kaku, yang tidak mampu menentang
keinginan ayahnya. Kau mengikuti versi diriku yang masih kucoba capai."
Aku selalu merasa
menyesal bahwa versi diriku yang kau pikir kau lihat semuanya palsu.
Kaulah yang
keren.
Dan seperti yang
aku duga, diriku yang sebenarnya mulai menunjukkan dirinya ketika aku harus
mengambil sikap dan membuat pilihan.
Sebanyak apa pun
aku mencoba meniru Saku, hanya butuh kata "tidak" dari orang tuaku
untuk membuatku bimbang dan mulai menyerah pada impianku sendiri.
Pada akhirnya,
dialah yang menyelamatkanku sekali lagi.
Itulah sebabnya
aku ingin mengonfirmasi di mana semuanya bermula.
Hal yang sangat
kuinginkan, hari itu.
Betapa aku ingin
menjadi orang dewasa.
Untuk berdiri di
sampingnya dan mengangkat kepalaku tinggi-tinggi.
Agar citra yang
kau miliki tentangku bisa menjadi lebih dari sekadar ilusi.
Saku mengembuskan
napas. "Asuka," gumamnya dengan suara pelan.
Apakah dia kecewa? Hilang simpati? Bertanya-tanya kenapa aku mengungkit ini sekarang?
Tapi saat ini,
kurasa aku tidak peduli jika dia menganggapnya seperti itu.
Yang harus
kulakukan hanyalah memulai dari awal. Mengambil langkah berikutnya.
Agar suatu hari
nanti aku bisa mengejar teladan yang masih begitu, sangat jauh di depanku.
Asuka yang kau
pikir aku adalah akan terus maju, tidak peduli seberapa sulit keadaannya; tidak
peduli seberapa kalah kelihatannya, dia akan menggertakkan giginya dan terus
berjalan.
Saku terdiam
sejenak, seolah memilih kata-katanya dengan hati-hati sebelum dia berbicara.
"Kau
sebenarnya cukup romantis, ya? Benar-benar gadis muda yang murni! Mata penuh
cinta, dan semua itu?"
...Hah?
"Ah, ampun,
beban menjadi orang yang lebih bebas dari siapa pun sekaligus terbelenggu
sepenuhnya. Dengar, ini bukan manga shoujo, dan kau tidak bisa mengubah
seluruh hidup dan kepribadianmu berdasarkan tujuh hari yang kau habiskan
bermain dengan seorang anak saat liburan musim panas sekolah dasar."
Dia
menggaruk kepalanya, seolah merasa frustrasi, dan dia menghela napas berat.
"Tentu,
mungkin itu bisa menjadi semacam pemicu. Tapi hanya sebatas itu. Kau adalah
dirimu yang sekarang, Asuka, karena kau berjuang untuk tujuanmu sendiri."
"Tapi... aku
selalu berpikir bahwa aku ingin menjadi lebih sepertimu."
"Semua orang
memulai dengan cara seperti itu. Mereka ingin menjadi seperti pahlawan yang
mereka baca di novel atau manga, atau seperti super sentai yang mereka
tonton di TV. Atau—oke, mungkin mereka ingin bekerja di bidang yang melibatkan
membawa buku kepada orang-orang. Tapi berapa banyak orang yang berhasil
mempertahankan keinginan itu dan benar-benar mewujudkannya menjadi
kenyataan?"
Saku menepukkan
tangannya di bahuku.
"Seperti
yang kau katakan malam itu di Tokyo. 'Kau menolak menjadikan masa lalumu
sebagai sebuah cerita,' kan?"
Tangannya
mengencang.
"Kalau
begitu, tidak perlu meremehkan dirimu yang sekarang dengan mengeluarkan sebuah
cerita masa lalu, kan? Entah kau dan aku bertemu atau tidak, kau akan tetap
menjadi dirimu sendiri, Asuka."
Matanya begitu
hangat, begitu dipenuhi kebaikan.
"Kau bisa
membuat anak-anak tersenyum saat mereka berlumuran lumpur tanpa peduli siapa
yang melihat. Kau punya impianmu sendiri, dan kata-kata sangat berharga bagimu,
dan kau selalu memberikan saran terbaik. Kau menyelamatkanku saat aku
membutuhkan seseorang, kau menegaskan siapa aku hari ini, kau agak androgini
tapi tetap feminin, kau canggung, tahi lalat di bawah matamu itu sangat seksi,
tahi lalat kecil di dadamu bahkan lebih seksi lagi, dan baru-baru ini aku mulai
melihatmu dengan cara yang lebih seksual. Ada begitu banyak hal lainnya,
tapi..."
Dia menyeringai,
seperti Saku kecil dari masa itu.
"Dan kau
menginspirasiku sebagaimana dirimu sekarang, seperti hembusan angin yang
berlari menuju hari esok. Itu cerita yang cukup sederhana, kan?"
Aku merasakan
jantungku berdegup kencang di dada.
Kau benar-benar... Saku, kau benar-benar...
...Selalu memutarbalikkan duniaku dan membawaku ke
tempat-tempat yang tidak kukenal.
Sambil menggenggam ujung rokku, aku menatap tepat padanya.
Aku menghirup napas dan mengembuskannya, memberinya senyuman
khas Asuka Nishino yang tulus.
"Wah. Kedengarannya kau jauh lebih naksir padaku
daripada yang kukira, Saku!"
"Oh, kau baru tahu?"
Dia menyambut candaanku, dan dia tertawa.
"Aku sudah
sangat naksir padamu sejak awal."
Aku terkikik dan
menggaruk pipiku.
"Pertemuan
orang tua besok. Aku akan pergi sebagai diriku apa adanya, Asuka yang sekarang.
Dan aku akan menghadapi masa depanku."
Romansa pertama
yang kecil dan kuhargai itu... Berakhir di sini.
Masa lalu yang selama ini kukejar dan kuideal-kan...
Berakhir di sini.
"Hei,
Asuka?"
"Hmm?"
"Mau
mengunjungi nenekku bersama-sama kapan-kapan?"
"Kedengarannya
seperti hari terbaik yang pernah ada."
Baiklah.
Inilah saatnya untuk dimulai. Kisah nyata dari Asuka Nishino.
◆◇◆
Keesokan harinya,
setelah jam wali kelas terakhir yang mengakhiri hari sekolah, Saku datang ke
kelasku.
"Ini. Anggap
saja sebagai jimat keberuntungan." Dia memasukkan sesuatu ke dalam saku
tasku.
Aku mengintip
untuk melihat apa itu, dan...
"Kenapa kau
memberiku ponsel?" Aku terkejut.
"Hmm, kurasa
itu satu-satunya barang milikku yang selalu kubawa dekat denganku."
Dia tampak begitu
manis, menggaruk kepalanya dengan malu-malu, dan itu membuat hatiku terasa
ringan.
"Terima
kasih. Manis sekali."
"Berikan
segalanya yang kau punya. Ayahmu itu orang yang sulit ditaklukkan."
"Aku tahu
itu lebih baik dari siapa pun."
Ketika aku
memasuki ruang kelas kosong yang ditunjukkan Kura, aku menemukan sebuah meja
yang ditata dengan dua set kursi yang saling berhadapan.
Ayah dan Kura
sudah duduk di sana.
Seolah-olah
mereka berdua tahu bahwa ini bukanlah pertemuan orang tua-guru melainkan
pertemuan anak-orang tua.
Aku merasa tidak
enak karena merepotkan Kura, tapi aku ingin menghadapi masa depanku dengan
benar sebagai siswa kelas tiga SMA, dalam suasana pertemuan orang tua-guru yang
formal.
"Uh, jadi kalau begitu..." Kura mulai berbicara
lebih dulu, dengan gaya santainya yang biasa. "Apa yang ingin kau lakukan,
Nishino?"
Aku memejamkan mata sejenak, lalu aku menguatkan diri,
menatap Ayah.
"Aku ingin pergi ke Tokyo. Menjadi editor sastra."
Aku menyebutkan nama universitas yang aku dan Saku kunjungi.
Aku sudah menyatakan keinginanku dengan jelas beberapa kali,
tapi aku tidak pernah sekali pun ditanggapi dengan serius.
Kura
membolak-balik beberapa kertas yang dipegangnya. "Hmm, yah dengan
nilai-nilai ini, kau seharusnya tidak akan mengalami banyak masalah."
Tapi Ayah
menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku mengulangi perkataanku lagi, tapi
pertama-tama, Tokyo adalah tempat yang terlalu berbahaya untuk didatangi oleh
seorang gadis muda sendirian. Terutama gadis yang terlalu dilindungi
sepertimu."
Dan siapa
orang yang membesarkanku seperti itu? Tapi aku tidak akan sampai ke mana-mana jika mengatakan hal itu.
Aku memang
terlalu dilindungi, tapi itu karena ayahku sangat menyayangiku, menjagaku tetap
aman dari segala sumber masalah agar aku bisa hidup tanpa rasa khawatir.
"Ayah terus
bilang betapa berbahayanya tempat itu, tapi Ayah sendiri tidak pernah tinggal
di Tokyo, kan? Menurutku tidak adil untuk menolak sesuatu hanya berdasarkan apa
yang Ayah dengar."
"Jika setiap
orang di desa punya kesan bahwa Tokyo adalah tempat yang berbahaya, maka itu
berarti banyak orang telah mengalami masalah di sana. Di Fukui, kau bisa
menghitung jumlah kejahatan serius dengan satu tangan: pembunuhan, perampokan,
pembakaran, pemerkosaan. Dalam jangka waktu yang sama di Tokyo, jumlahnya
mencapai tiga digit. Tidak
ada perbandingan dalam hal keamanan."
Dia
mendaratkan serangan telak.
Aku teringat
kejadian di Kabukicho. Apa yang mungkin terjadi padaku jika Saku tidak ada di
sana?
Tapi...
"Logika
seperti itu tidak adil," kataku. "Oke, memang benar itu lebih
berbahaya daripada Fukui. Aku benar-benar merasakannya hanya dalam satu
perjalanan menginap. Tapi menurutku mungkin saja untuk mempelajari tempat dan
orang mana yang harus dihindari. Lagipula, Ayah dan Ibu membesarkanku untuk
menggunakan otakku, kan?"
Ayah selalu benar
dalam apa yang dikatakannya, sejak aku masih kecil.
Aku tahu itu,
jadi aku melakukan apa yang dia katakan dan tidak pernah menentangnya.
Itulah sebabnya
aku merasa yakin bahwa aku bisa pergi ke Tokyo sendiri dan tetap berada di
jalan yang benar.
Tapi di saat yang
sama, aku tahu bahwa apa yang benar dan apa yang salah terbuka untuk
interpretasi. Seperti bagaimana sebuah gaun kotor bisa menjadi kenangan yang
berharga.
"Ada hal-hal
jahat di dunia yang tidak peduli apakah kau menggunakan otakmu atau
tidak."
"Tapi hal
yang sama juga berlaku di Fukui. Tidak ada jaminan aku tidak akan menjadi salah
satu dari segelintir kasus itu. Bahkan jika ada lebih banyak pelaku kejahatan
kekerasan di Tokyo, di Fukui, ada lebih sedikit target bagi orang-orang jahat
semacam itu untuk dipilih."
Ayah mengganti
topik pembicaraan.
"Sudah
kubilang, aku tidak akan mendukungmu secara finansial jika kau pergi ke Tokyo.
Jadi apa yang akan kau lakukan? Kau butuh biaya kuliah swasta dan biaya hidup.
Bahkan jika kami setuju untuk membantumu, itu akan menjadi beban besar bagi
kami."
"Aku tentu
akan sangat senang untuk bantuan apa pun. Tapi universitas yang ingin kutuju
menawarkan pinjaman mahasiswa yang sangat murah hati. Dan beberapa beasiswa
yang bahkan tidak perlu kau bayar kembali. Dengan nilai-nilaiku, aku seharusnya
punya kesempatan yang sama besarnya dengan orang lain untuk
mendapatkannya."
Aku
menatap Kura, berharap mendapat dukungan.
"Seharusnya
begitu," katanya. "Skor ujianmu selalu masuk dalam sepuluh besar di
angkatanmu sejak tahun pertama. Dan sejak kau masuk tahun ketiga, kau berada di
lima besar. Termasuk perilaku, kau adalah salah satu siswa terbaik kami."
Aku
berbalik menatap Ayah lagi. "Aku
juga mencari pekerjaan paruh waktu di Tokyo. Jika aku bekerja di call center
di kota, aku bisa bekerja selama tiga minggu di antara masa sekolah dan
mendapatkan minimal seratus lima puluh ribu yen sebulan. Dengan uang beasiswa,
kurasa aku seharusnya bisa bertahan hidup."
Aku bukan Saku.
Aku tidak bisa
mengubah pikiran orang dengan aura yang memikat, jadi aku harus melakukan riset
dan mengumpulkan buktinya.
Ayah
bergumam dan meletakkan tangannya di dagu.
"Baiklah,
itu cukup masuk akal. Tapi
ada hal lain. Selain masalah kau ingin menjadi editor... kenapa harus
Tokyo?"
"Ada dua
alasan nyata. Berdasarkan data masa lalu, universitas yang ingin kutuju
memiliki fokus nyata pada media. Perusahaan tempat aku ingin bekerja, banyak
lulusannya yang diterima di sana. Dan universitas itu memiliki banyak klub sosial yang melibatkan seni.
Dan karena aku ingin menjadi editor fiksi sastra, aku benar-benar harus mencari
pekerjaan di Tokyo. Jadi akan lebih baik bagiku untuk terbiasa dengan kota itu
selagi aku masih berstatus mahasiswa."
Setelah terhenti
sejenak, aku melanjutkan.
"Adapun
alasan lainnya, jika aku tetap di sini, ada begitu banyak hal yang tidak akan
pernah bisa kulihat. Tokyo memang menakutkan, tapi ada kehangatan yang bisa
ditemukan di bawah permukaannya, dan udara yang berkabut membuat udara Fukui
terasa lebih segar. Aku ingin melihat hal-hal yang masih belum kulihat,
mengalami hal-hal yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya."
Ayah menghela
napas. "Aku mengerti bahwa kau telah memikirkan hal ini matang-matang.
Tapi kembali ke inti masalahnya—kenapa kau harus menjadi editor? Jika kau
sangat ingin membawa kata-kata kepada orang-orang, kau bisa menjadi guru bahasa
Jepang atau bahkan pustakawan."
Ini adalah
pertanyaan yang membuatku terjepit terakhir kali.
Tapi tidak
apa-apa. Itu tidak akan menjatuhkanku lagi.
Saku membantuku
menemukan jawabannya.
"Kedua
pekerjaan itu bagus, menurutku. Tapi bagiku, aku ingin membantu membawa cerita
yang belum sepenuhnya menjadi cerita kepada orang-orang. Untuk membantu
memancing keluar kata-kata yang tepat. Itulah yang kusadari."
"Kau
bicara terlalu tidak jelas. Aku tidak mengerti."
"Buku-buku
yang kubaca sejauh ini, kata-katanya adalah hal-hal yang digali seseorang
dengan putus asa dari jiwa mereka dalam upaya untuk berbagi visi mereka dengan
orang lain. Jika ada dunia di
luar sana yang hanya bisa kutemukan dan kubawa keluar, maka aku merasa harus
melakukannya."
Aku
teringat adegan yang kulihat di Tokyo.
Persis
seperti latar belakang Saku, yang dia anggap konyol dan membosankan, dan persis
seperti versi diriku yang sudah kuserahkan sebagai tidak lebih dari sekadar
fatamorgana, yang Saku tolak untuk dibiarkan mati.
Ada
begitu banyak cerita di luar sana yang tidak pernah sempat diceritakan.
Tapi kata-kata
yang kuterima sebagai balasan terasa dingin.
"Motivasi
yang biasa saja. Jika kau mengumpulkan seratus orang yang ingin menjadi editor
dan penulis, maka setidaknya sembilan puluh lima dari mereka akan memiliki
motivasi yang sama. Kau harus bersaing dengan lima sisanya, mereka yang
hidupnya diselamatkan oleh buku tertentu atau diubah sepenuhnya oleh editor
tertentu. Orang-orang dengan tujuan yang nyata."
Ayah menyesuaikan
letak kacamatanya.
"Kau ingin
bergabung dengan perusahaan penerbitan besar, ditempatkan di departemen fiksi,
dan membuat buku-buku yang menjadi hit besar. Kau menyadari betapa sulitnya
semua itu nantinya, kan?"
"...Iya."
"Siapa pun
bisa bermimpi. Murid-muridku—aku sudah lupa berapa banyak jumlahnya—pernah
bilang padaku bahwa mereka ingin menjadi penyanyi, atau aktor, atau penulis
novel. Sebagian besar hanya kuliah dan kemudian menjadi pekerja kantoran biasa.
Yang mana itu tidak masalah."
Ayah menyipitkan
matanya dan mengetuk meja dengan jarinya.
"Hal yang
buruk adalah ketika mereka sebenarnya setengah serius tentang hal itu. Tapi
satu-satunya orang yang bisa mewujudkan impian mereka adalah mereka yang punya
perpaduan yang tepat antara kemampuan dan keberuntungan. Kau mungkin berpikir
kau adalah salah satu dari mereka, kau mungkin berpikir kau begitu keren karena
mengejar impianmu, tapi kau sengaja menutup mata terhadap kenyataan. Baru
setelah kau gagal, dan kau sudah menghabiskan setiap harapan, barulah kau
melihat sekelilingmu dan menyadari kebenarannya."
Ayah mengalihkan
pandangan gelapnya ke jendela dan melihat ke luar.
Gerimis terus
berlanjut sejak pagi, menyebabkan lubang-lubang di lapangan kerikil terisi air
hujan.
"Siswa-siswa
lain, teman sebayamu yang bekerja di pekerjaan normal—kau mungkin menganggap
mereka payah, tapi mereka punya pernikahan yang baik dan rumah tangga yang
bahagia. Dan kau akan menatap mereka dan menyadari bahwa kau telah ditinggalkan
sendirian dalam kedinginan. Dan..."
Dia mengetuk meja
lagi.
"Kau,
Asuka—seorang gadis yang selalu mendengarkan dengan patuh apa yang dikatakan
orang tuanya dan melakukan hal yang benar—aku hanya berpikir kau tidak punya
apa yang diperlukan untuk menjadi salah satu yang istimewa. Bangunlah. Hadapi
kenyataan."
"..."
Itu adalah hal
terburuk yang bisa dia katakan. Yang paling menghancurkan. Karena sampai
kemarin, persis seperti itulah aku melihat diriku sendiri.
Hanya seorang
gadis biasa yang membosankan, yang mengagumi seorang anak laki-laki istimewa
dan mencoba menirunya. Seorang palsu.
"Meskipun
begitu..."
Aku meninggikan
suaraku.
Ayah menatapku
dengan ketertarikan yang dalam.
Anak laki-laki
yang sangat kukagumi berkata bahwa diriku yang sekarang telah menyelamatkannya.
Dia bilang dia mengaguminya.
Dia telah melalui
begitu banyak pengalaman yang mengecewakan, dan dia menganggapnya remeh dan
sepele, tapi dia masih menghadapi cita-citanya dan menjangkau mereka.
"Aku tidak
akan pernah tahu kecuali aku mencoba. Aku tidak ingin menyerah pada diriku sendiri
di tengah jalan. Jika aku pernah menemui jalan buntu, dan aku tahu aku tidak
bisa melangkah lebih jauh, itu tidak apa-apa. Tapi aku ingin memutuskan hal itu
untuk diriku sendiri. Aku tidak akan pernah menerima bahwa ini sudah berakhir
sampai aku memukulkan tanganku hingga berdarah ke tembok itu."
Aku menggenggam
kain rokku.
"Ini adalah
kisah Asuka Nishino!!!"
"Kalau
begitu, apakah kau siap untuk memutuskan semua ikatan keluarga?"
"...Hah?"
Apa... yang baru
saja Ayah katakan?
"Apa aku
kurang jelas? Jika kau akan bersikap keras kepala seperti ini, maka sebagai
orang tua, kami memutuskan dukungan finansial untukmu. Dan kau tidak akan
pernah boleh menginjakkan kaki di rumah ini lagi."
"Tapi..."
"Bukannya
Ayah bersikap tidak masuk akal di sini. Ayah sudah menunjukkan padamu bagaimana
kau bisa menjalani hidup yang bahagia, dan Ayah sudah memperlihatkan bagaimana
jika kau terus menempuh jalan ini, itu hanya akan berujung pada
ketidakbahagiaanmu. Tapi jika kau tetap bersikeras melakukan apa pun yang kau
mau, setidaknya bebaskan Ayah dari rasa sakit karena harus menyaksikan putriku
sendiri menghancurkan hidupnya."
Kata-katanya
begitu dingin, nadanya tetap tak acuh seperti biasanya.
Aku
menatap Kura dengan putus asa demi mencari pertolongan, tapi dia hanya
menyandarkan tangannya di dagu dengan raut tidak senang.
Mengejar
impianku? Atau meninggalkan keluargaku?
Aku tidak bisa
membuat pilihan itu.
Ah, tidak.
Hanya ada satu
pilihan. Keluargaku.
Ibu dan Ayah
telah membesarkanku dengan segala hal yang mereka miliki.
Meskipun pendapat
kami sangat berbeda dalam hal ini, bukan berarti aku bisa membenci mereka.
Ini tidak adil.
Tapi jika Ayah
bersedia melangkah sejauh ini untuk menghentikanku, maka... apa yang
kurencanakan ini mungkin benar-benar sebuah kecerobohan.
Aku melemaskan
kepalan tanganku.
Aku tahu perasaan
ini. Perasaan menyerah.
Rasanya seperti
hari musim panas di masa lampau itu, ketika aku bilang aku menyerah untuk pergi
ke festival.
Apakah itu benar?
Aku kembali
meremas kain rokku.
Berpikirlah,
Asuka Nishino.
Tidakkah ada
jalan lain? Tangga
yang bisa kusandarkan di jendelaku?
Jika aku
menyerah sekarang, tidak akan ada yang berubah dalam hidupku.
"Cepat
putuskan. Kita tidak punya banyak waktu," kata Ayah.
Jika aku lari
hari ini, aku tidak akan pernah mendapatkan kesempatan seperti ini lagi.
Aku butuh lebih
banyak waktu.
Aku merasa pasti
ada jawaban lain di suatu tempat.
"Pak
Iwanami. Karena tampaknya Asuka tidak keberatan lagi, tidak akan ada perubahan
pada pilihan pendaftaran universitasnya."
Tunggu. Aku hanya
butuh sedikit waktu lagi.
Aku memejamkan
mataku rapat-rapat.
Aku tidak ingin
membiarkan semua ini berakhir begitu saja.
Tepat saat itu...
"—Tunggu
dulu!!!"
Pintu ruang kelas
terbuka dengan bantingan keras yang bergema layaknya guntur.
Ah.
Padahal aku tidak ingin bergantung padamu.
Tapi aku tahu kau
pasti akan datang pada akhirnya.
Maaf karena sudah
membuatmu khawatir.
"...Saku..."
Aku menatapnya
yang memegang ponsel di satu tangan, bahunya naik-turun karena napas yang
memburu, dan aku tahu apa yang telah terjadi.
Mungkin ponsel
yang dia selipkan ke tasku adalah ponsel yang dia pinjam dari seseorang, dan
dia mengaturnya ke mode pengeras suara agar bisa mendengarkan percakapan kami.
Itu
melanggar aturan, pikirku, dalam banyak hal.
Tapi
impulsivitasnya itu benar-benar gaya khas Saku.
Ayah
menghela napas, dan Kura memelototinya.
"Cukup
kelancanganmu itu, Chitose. Ingat apa yang kukatakan padamu? Kau tidak punya
hak untuk ikut campur dalam pembicaraan ini."
"Hah!"
Sebagai
tanggapan, terdengar tawa pendek dan tajam.
"Aku
punya hak! Hak penuh sebagai adik kelas yang sangat mengaguminya!"
Sudut
bibir Kura mulai berkedut naik, sedikit saja. "Begitu ya. Kalau begitu, silakan saja."
Ayah menanggapi
dengan wajah jijik. "Astaga. Tidak bisakah kau mengendalikan
murid-muridmu? ...Cukup dramanya. Duduklah, Chitose. Lagipula kau pasti akan
mengabaikanku jika aku menyuruhmu pergi."
"Terima
kasih."
Lalu dia duduk di
sampingku.
Tapi, pikirku.
Sejujurnya, ini
bukanlah jenis masalah yang bisa diselesaikan oleh Saku.
Jika upaya
seorang putri saja tidak bisa menembus pertahanan ayahnya, tidak akan ada
gunanya apa pun yang dikatakan oleh seseorang yang bahkan bukan anggota
keluarga. Aku tidak bisa membayangkan Ayah akan mengubah pikirannya.
Tapi ini Saku.
Mungkin dia punya ide brilian untuk menembus jalan buntu ini.
Saku meletakkan
kedua tangannya di atas meja dan menghirup napas dalam-dalam.
"Tolong!
Tolong izinkan Asuka pergi ke Tokyo!"
Lalu dia
menempelkan keningnya ke meja, bersujud di depan ayahku.
Ayah dan aku
telah menunggu apa yang akan dia katakan, tapi sekarang kami berdua hanya bisa
menatap dengan terkejut.
Sementara itu,
Kura tampak berusaha keras menahan tawa.
"Aku tidak
akan memberikan penjelasan mendalam, tapi yang harus Anda ketahui adalah aku
mendengarkan seluruh percakapan tadi. Aku minta maaf. Dan meskipun aku merasa
Anda terlalu kasar di bagian akhir tadi, aku menghargai apa yang Anda katakan,
Pak Nishino."
"Jadi untuk
apa kau datang menyerbu ke sini?"
"Sudah
kubilang? Ini adalah
permintaan yang tidak masuk akal. Karena alasan egoisku sendiri."
Alasan egois,
pikirku. Sesuatu seakan langsung masuk ke tempatnya di kepalaku.
Saku melanjutkan.
"Aku tahu aku sama sekali tidak berhak bicara dalam situasi ini. Tapi aku
ingin Asuka mengejar impiannya."
Keningnya masih
menempel di atas meja.
"Apakah dia
butuh alasan yang begitu kuat? Tidakkah cukup baginya untuk melakukan apa yang
dia inginkan? Tidak ada jaminan dia akan gagal! Tidakkah Anda mau membiarkannya
mengejar impiannya?"
Itu adalah logika
seorang anak kecil.
Mengabaikan
segala hal yang dikatakan Ayah dan terus mendesak berdasarkan perasaan sendiri.
Melihatnya dengan kepala menempel di meja, mengatakan
hal-hal ini... Rasanya tidak cocok dengan sosok Saku yang kukenal.
Aku teringat
percakapan yang pernah kami lakukan.
"Jadi,
menurutmu apakah seekor kucing liar yang mendekati seorang nenek demi
mendapatkan makanan akan berpikir kalau dirinya payah? Padahal, dia bertingkah
persis seperti hewan peliharaan."
"Tidak. Dia
hanya melakukan apa yang harus dia lakukan untuk bertahan hidup sebagai kucing
liar."
Tuh kan, aku tahu
kau akan mengingatnya.
"Kita masih
dalam tahap mencari tahu segala hal. Aku tahu, dalam proses menjadi dewasa,
kita harus merelakan banyak hal, membuat kompromi. Tapi itu bukan berarti kita
harus membuang impian kita! Impian itu adalah beban terberat untuk dibawa.
Memang akan terasa melegakan jika kita menurunkannya. Dengan begitu, kita tidak
akan terluka. Kita tidak perlu berjuang."
Ini adalah
kata-kata yang hanya bisa diucapkan oleh Saku.
"Tapi kita
sendiri yang harus memutuskan kapan waktu untuk mengakhiri impian kita. Jika
tidak, saat kita melihat orang-orang yang sedang berusaha semaksimal mungkin,
menggertakkan gigi, dan benar-benar mengejarnya... Kita hanya akan
merasa seperti telah tertinggal, sendirian di dunia ini... Persis seperti
aku—"
Kepalanya mendongak tiba-tiba.
"Aku masih ingin menemukan masa depanku sendiri. Orang dewasa selalu melihat ke belakang,
tapi kita masih punya masa depan di depan kita. Kita harus mengejarnya. Aku
ingin percaya bahwa suatu hari nanti, aku bisa menggapai bulan."
Kata-katanya,
sentimennya, semangatnya, semuanya mengalir ke dalam diriku.
Ah, dia
benar-benar berada jauh, sangat jauh di depanku.
Terima kasih,
Saku.
Sekarang aku tahu
apa yang harus kulakukan.
Ayah berbicara,
suaranya tetap sedingin biasanya. "Sudah selesai usahamu meyakinkanku?
Biar kutanyakan satu hal lagi padamu. Apakah kau akan bertanggung jawab saat
Asuka harus menghadapi impiannya yang hancur? Apakah kau akan
mendukungnya?"
Saku
menggertakkan giginya. "Ya, aku akan melakukannya. Jika Anda tidak siap
untuk percaya pada putri Anda sendiri, maka biarlah aku yang
melakukannya!"
"Kalian
semua, diamlah!!!"
Aku menggebrak
meja, tidak mampu lagi menahan ledakanku.
"Aku lebih
baik mati daripada menerima lamaran seperti itu! Ka-kalau kau berniat melamar,
datanglah lagi dan coba sepuluh tahun lagi, oke?"
Aku memberinya
seringai penuh makna, dan dia menatapku dengan mulut ternganga seolah-olah
semua api semangat dari beberapa detik lalu telah padam.
Dia tampak sangat
manis. Aku ingin sekali menggodanya lebih lama, menatapnya sedikit lagi, tapi
sebaliknya aku mengumpulkan seluruh tekadku—dan apiku sendiri—lalu menatap Ayah
sebagai gantinya.
"Aku sudah
memutuskan. Aku akan menjadi seorang editor."
Sejujurnya, hanya
itu yang perlu kukatakan.
"Aku
mengerti sudut pandang Ayah. Tapi aku tidak peduli. Aku akan melakukannya karena aku ingin, karena itu
hal yang kusukai. Aku
akan mengejar impianku, mengejarnya secara langsung, dan memberikan segalanya.
Dan jika aku menemui tembok yang tak terlampaui, aku akan menendangnya hingga
runtuh dan terus maju."
Benar,
persis seperti seseorang yang kukenal.
Aku sudah
memutuskan bahwa begitulah cara hidup yang kuinginkan.
Aku ingin
membuat keputusan penting untuk diriku sendiri.
"Meskipun
ini terdengar kekanakan, ada satu kebenaran yang tidak bisa dibantah oleh siapa
pun. Ada banyak hal yang terlibat—bakat, keberuntungan, kerja keras—tapi satu
hal yang dimiliki oleh semua orang yang berhasil mewujudkan impian mereka
adalah mereka tidak menyerah hingga akhir yang pahit."
Persis
seperti rasa kagum yang dimiliki oleh gadis kecil itu, yang kusimpan di dalam
hatiku selama bertahun-tahun, yang menjadikanku seperti sekarang ini.
Aku
menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri lalu mengembuskannya.
"Ini
tidak sulit. Aku akan terus berpura-pura sampai aku benar-benar bisa
mewujudkannya. Menurutku itulah kuncinya. Sama seperti ada banyak orang yang
impiannya gagal, ada juga orang-orang yang menjadikan impian mereka
kenyataan."
"Asuka...,"
kata Ayah pelan karena terkejut.
"Itu namaku.
Nama berharga yang Ayah dan Ibu berikan padaku. Aku ingin hidup sesuai dengan
nama itu dan menjadi hembusan angin yang berlari menuju hari esok."
Aku memberinya
senyum cerah, yang dipenuhi dengan semua emosi dan gairah yang kurasakan.
"Tapi jika
Ayah tetap bersikeras untuk bilang tidak..."
Aku
mengangkat daguku tinggi-tinggi, memalingkan wajah darinya.
"...maka aku
akan menghabiskan seumur hidupku untuk meyakinkan Ayah sampai Ayah menerima
keinginanku."
...
"Bwah-ha-ha-ha!"
Ayahlah yang
memecah keheningan, tiba-tiba terbahak-bahak dengan keras.
Saku dan Kura
juga mulai tertawa, dan aku merasa wajahku merona merah.
"Asuka, apa
kau ini anak kecil?!"
"Bukan,
bukan, itu tadi hebat. Dia benar-benar mengalahkanmu ya, Nisshi?"
Ayah
terus tertawa setelah mereka berdua berkata begitu, seolah-olah dia tidak bisa
berhenti.
"Uhuk!
Ah, aku tidak pernah menyangka hari ini akan tiba di mana aku mendengar putriku
sendiri bicara seperti itu!"
"Hei! Kalian
semua sangat jahat!"
Akhirnya, dia
berhenti tertawa, dan Ayah menghirup napas.
"Kurasa aku
kalah, Asuka." Suaranya dipenuhi dengan kehangatan yang dalam. "Ayah
harus melihat sejauh mana kau akan bertahan tanpa menyerah. Seberapa keras Ayah
harus bersikap."
Ayah menyesuaikan
kacamatanya, memijat alisnya.
"Sebagai
guru, aku sudah melihat begitu banyak siswa bicara soal impian mereka. Sembilan
puluh lima persen dari mereka gagal, tapi ya, sekitar lima persen dari mereka
berhasil. Dari yang gagal itu, banyak yang tidak mau bertanggung jawab. Mereka
ingin aku yang mendorong mereka. Itu tidak berhasil, dan akhirnya mereka
gagal."
"Ayah..."
"Sayangnya,
dunia ini, negara ini, tidak ramah pada orang-orang yang mengejar impian
mereka. Tekanan sosial semakin buruk, semakin sering kau membicarakannya.
Orang-orang bersikap baik, mengatakan hal-hal yang benar, menawarkan logika di
permukaan, tapi di saat yang sama, mereka terus memberitahumu bahwa kau tidak
bisa melakukannya."
Dia mengeluarkan
saputangannya dan membersihkan kacamatanya sebelum memakainya kembali.
"Dan itu
buruk, karena kau tidak salah. Tidak benar bahwa semua pemimpi itu naif.
Meskipun orang-orang yang mengatakan hal-hal tersebut hanya mengatakannya
karena mereka merasa malu tidak bisa hidup dengan cara seperti itu."
Ayah
melihat ke luar jendela, ekspresinya mendung.
"Beberapa
siswa hatinya hancur. Mereka masih muda, meluap dengan rasa percaya diri dan
kemampuan ketika lulus, tapi sebelum kau menyadarinya, mereka menjadi orang
dewasa yang mengangkat bahu dan hidup dengan tenang."
"Jadi Ayah
sedang memerankan peran masyarakat, Yah?"
Dia
menggelengkan kepalanya dengan malu.
"Ayah
agak terbawa suasana. Ayah seharusnya tidak mengatakan bagian soal memutus
ikatan keluarga itu. Ayah menyamakanmu dengan semua siswa yang Ayah lihat
selama ini. Harus kuakui, melihatmu dipengaruhi oleh laki-laki lain yang bukan
Ayah—itu benar-benar memukulku."
Ayah menggaruk
pipinya, tampak malu-malu, saat melanjutkan.
"Malu untuk
mengakuinya, tapi aku adalah orang dewasa yang membosankan. Aku tidak pernah
membuat pilihan sampai aku merencanakan setiap kemungkinan. Tapi kenyataannya,
ayahmu yang tua ini sebenarnya dulu ingin menjadi musisi rok."
Aku
mendengar dua orang menelan ludah, berusaha keras untuk tidak bereaksi.
Tapi aku
tidak bisa menahan senyum.
Aku
teringat akan tumpukan CD dan gitar-gitar berdebu yang kami punya di rumah.
Ayah
memberi Kura pukulan cepat di perut sebelum melanjutkan dengan wajah merah.
"Tapi ada
saatnya kau harus menghadapi kenyataan. Jadi aku menyerah. Saat aku
membesarkanmu, Asuka, aku memutuskan untuk hanya mengajarkanmu apa yang
kuyakini benar, sebagai ayahmu. Jika aku bisa membesarkanmu agar memiliki hidup
yang bahagia, maka aku bisa berbagi kebahagiaan yang sama."
Aku belum
pernah mendengar hal ini sebelumnya.
Aku
selalu mengira Ayah punya kepercayaan diri yang tak tergoyahkan pada hal-hal
yang dia ajarkan padaku.
"Jadi
Ayah merasa khawatir. Memikirkan Asuka-ku, gadisku yang kubesarkan dengan
begitu hati-hati, akan segera pergi sendirian ke masyarakat, mengejar
impiannya."
Ayah
menatap mataku langsung.
"Seperti
yang Chitose katakan, keinginan untuk mengejar impian adalah alasan yang cukup
kuat untuk melakukannya. Satu kesamaan yang dimiliki semua siswaku yang sukses
adalah mereka tidak pernah menyerah. Tidak peduli apa pun yang dikatakan orang, mereka percaya pada diri mereka
sendiri dan memiliki tekad baja. Dan gairah untuk mempertahankan keinginan awal
itu. Selama mereka memiliki itu, bahkan siswa yang terburuk pun bisa bangkit
menjadi guru yang hebat... Benar kan, Kura?"
Kura
mendengus melalui hidungnya, tampak malu. "Aku bukan yang terburuk. Ada
satu atau dua yang lebih parah dariku."
Ayah
tersenyum, menyodorkan lembar nilai yang tadi ada di depan Kura kepadaku.
"Kau
sudah tumbuh menjadi orang dewasa yang baik tanpa kusadari. Asuka, silakan
hidup sesuai dengan keinginanmu sendiri."
Aku
menahan air mata yang tiba-tiba mengancam akan tumpah, dan...
"...Baik."
Aku menundukkan
kepalaku dalam-dalam saat mengatakannya. Gerakan itu dipenuhi dengan rasa
terima kasih selama delapan belas tahun hidupku.
"Dan kau,
Chitose."
"...Ya?"
"Kau tidak
berubah sedikit pun sejak saat itu."
Mulut Saku
perlahan terbuka. "Anda... ingat aku?"
"Mana
mungkin seorang ayah melupakan anak laki-laki yang membawa kabur putrinya tidak
hanya sekali, tapi dua kali? Dan perjalanan kecil ke Tokyo itu adalah yang
ketiga kalinya. Tidak akan ada yang keempat."
"Er...
Heh-heh."
"Aku
memberimu nilai mungkin enam puluh poin untuk pertemuan orang tua pertama dan
caramu yang lihai menghindar di telepon, tapi apa yang kau katakan barusan,
luapan emosimu yang mentah, itu menyentuhku. Kau juga membuat pilihan cerdas
dengan tidak pernah memanggilku 'Ayah Asuka'. Anggap saja nilainya genap
sembilan puluh."
Setelah sedikit
gurauan itu...
"Terima
kasih," kata Ayah sambil menundukkan kepalanya. "Terima kasih telah
percaya pada putriku—dan mendukungnya."
Saku
mendengarkan dengan khidmat, lalu mulai menyeringai.
Gawat.
Itu adalah wajah yang dia buat tepat sebelum dia melontarkan lelucon bodoh.
"Aku tidak
melakukan apa-apa. Asuka yang Anda lihat sekarang, Pak Nishino, adalah Asuka
yang sama yang Anda besarkan dengan nilai-nilai yang hebat. Yang kulakukan
hanyalah... mengajarinya sedikit kesenangan yang nakal."
"Hmm? Kau
harus menceritakan semuanya padaku. Secara detail."
Ayah tiba-tiba
terdengar serius lagi, tapi Saku mulai bersiul, menatap ke kejauhan.
Ayah memutar
matanya dan terkekeh. "Ketidakmampuanmu untuk bersikap serius di saat-saat
khidmat mengingatkanku pada seseorang di masa mudanya. Benar kan, Kura? Cih,
guru yang tidak bisa diatur mengajar murid yang tidak bisa diatur pula."
"Ada batas
untuk apa yang bisa dilakukan seorang guru, bukan?"
"Ya. Nah,
karena kalian tidak punya pekerjaan penting lagi, ikutlah minum denganku
setelah ini."
"Anda sangat
merepotkan kalau sudah minum, Nisshi. Isinya cuma pamer soal putri Anda."
"Apa aku
salah? Ada begitu
banyak hal yang bisa dipamerkan."
"Baiklah,
baiklah."
Mereka
menggeser kursi dengan bunyi berderit dan berdiri.
Saat mereka
keluar dari ruangan, Ayah menoleh ke belakang. "Chitose, mampirlah
berkunjung jika kau mau."
Sudut mulut Chitose berkedut.
"Tidak mau. Anda orang yang menakutkan, ayahnya Asuka."
"Untuk
balasan ironis itu, kau dapat seratus poin."
Pintu
bergeser menutup, dan hanya dia dan aku yang tersisa di ruang kelas.
◆◇◆
Maka semuanya
telah diputuskan. Aku akan pergi ke Tokyo.
Rasanya
seperti beban yang sangat berat baru saja terangkat dariku.
Jadi seperti ini
rasanya ketika seluruh masa depanmu telah diputuskan.
Kupikir rasanya
akan lebih... dramatis entah bagaimana.
Di sampingku,
Saku berdiri. Lalu, dengan senyum yang sangat lembut...
"Selamat,
Asuka."
...dia
mengulurkan tangannya padaku.
Aku menjabatnya
dan berdiri, lantai terasa seperti awan di bawah kakiku.
Apakah ini rasa
takut? Kecemasan? Atau kondisi seperti mimpi?
"Wujudkan
impianmu di Tokyo."
Kenapa kata-kata
itu terdengar seperti ucapan perpisahan?
Perasaan ini
hanyalah kesedihan yang biasa.
Dalam sekejap,
aku merasakan beratnya semua ini menyelimutiku. Hari-hari yang kuhabiskan
tinggal di kota ini, waktu yang kuhabiskan bersama anak laki-laki di depanku
sekarang.
Sekarang jalanku
sudah diputuskan, dan itu berarti ada begitu banyak hal yang harus kulepaskan.
Ini adalah
persimpangan hidupku.
Aku tidak akan
pernah lagi menjalani hidup yang tenang dan biasa saja di kota yang hangat dan
ramah ini, mengobrol dengan Ibu dan Ayah, tanpa ada yang berubah.
Aku akan menjadi
mahasiswi. Aku tidak akan lagi bisa mampir untuk menemui Kura. Aku tidak akan
lagi bisa menunggu Saku, yang akan menjadi siswa kelas tiga saat itu, di tepi
sungai. Aku tidak akan lagi bisa mengajaknya berkencan secara mendadak.
Aku juga tahu
bahwa aku tidak akan pernah berakhir menjadi istrinya.
Dadaku terasa
sesak dan perih.
Inilah yang
kuputuskan untuk diriku sendiri. Aku tidak menyesal. Aku tidak boleh menyesal.
Aku akan
mengejar impianku, mengangkat kepalaku tinggi-tinggi di kota yang tidak
kukenal.
Tapi. Tapi. Tapi.
Terima kasih,
Ayah. Terima kasih, Ibu. Terima kasih telah membesarkanku. Terima kasih telah
memberiku semua yang kubutuhkan untuk berdiri di atas kakiku sendiri di kota
yang tidak kukenal.
Terima kasih,
Kura. Terima kasih telah mendampingi siswa yang merepotkan ini hingga akhir.
Terima kasih telah melihat cara-caraku merasa terikat.
Terima kasih,
Saku. Terima kasih telah menunjukkan padaku bagaimana cara menjadi bebas.
Terima kasih telah membawaku kabur berkali-kali.
Terima kasih
telah percaya padaku, telah mendukungku, telah menyelamatkanku. Terima kasih
telah menjadi begitu keren, hingga akhir. Terima kasih...
Sebelum aku
menyadari apa yang kulakukan, aku sudah memeluknya, bergantung seolah-olah aku
sedang memegang sesuatu yang lain.
Dia mungkin
terlalu terkejut untuk menahan dirinya.
Kami berdua
kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai.
Saku berada di
bawah, dan dia menyangga tubuhnya dengan siku, menatapku.
"Asuka,
wajahmu." Lalu dia tersenyum lembut.
Air mata
yang tidak bisa lagi kutahan mengalir dan menetes.
Air mata itu
jatuh di pipi anak laki-laki itu, seperti rintik hujan di bulan Juni.
Aku yakin wajahku
sangat berantakan.
"Masih
cengeng saja." Jari Saku menyentuh pipiku dengan lembut.
Sikapnya yang
baik, kata-katanya yang hangat, tidak ada yang berubah.
Sama sekali tidak
berubah sejak hari-hari musim panas yang berharga itu, yang sangat kusayangi.
Jalan pulang saat
kita berpegangan tangan. Gaun putih yang berlumuran lumpur. Kelereng di dalam
botol Ramune yang kita amati di festival. Malam di Tokyo saat kita tidur
bersisian. Dan momen ini sekarang.
Aku ingin
menyimpan momen-momen ini selamanya.
Agar mereka
menerangi jalan ke depannya.
"Tidak
apa-apa," katanya, menyemangatiku.
Bagiku, tidak ada
yang lebih besar, lebih indah, lebih terang, atau lebih baik...
Bagiku, dia adalah... Dia adalah...
"Kau... adalah bulanku!!"
Di tengah deru hujan yang membasuh sekeliling kami, aku
meneriakkan hal itu.
"Tidak. Bulan yang bersinar begitu indah saat aku
terjebak di dalam botol yang tak bisa dibuka… Bulan itu adalah kau,
Asuka."
Tidak, tidak, tidak.
Rasanya sulit sekali untuk tetap menopang tubuhku sendiri.
Aku ambruk, membenamkan kepalaku di dadanya yang kokoh.
Aku ingin mengucapkan terima kasih dengan cara yang lebih
elegan, namun hanya kata-kata biasa yang mampu kutemukan dalam keputusasaan
untuk menyampaikan perasaan ini padanya.
"Aku akan melakukan yang terbaik. Aku akan mewujudkan
impianku di Tokyo. Aku akan membuktikan bahwa cahayamulah yang menerangi
jalanku."
Dia mengusap rambutku dengan lembut.
"Kejarlah.
Kau pasti bisa melakukannya. Jangan pernah, sekali pun, menyerah."
"Hu-huaaaaa!!!"
Aku lupa di mana
kami berada. Aku lupa bahwa ini adalah bagian di mana aku seharusnya merasa
bahagia. Sebaliknya, aku justru menangis meraung-raung.
Begitu aku mulai
berlari, aku tidak ingin menoleh ke belakang. Aku tidak ingin kehilangan arah.
Aku tidak ingin bersandar pada siapa pun selain dirimu.
Jadi, akan
kutinggalkan semuanya di sini… seluruh persediaan air mata untuk seumur
hidupku.
◆◇◆
Setelah Asuka
akhirnya tenang, dia dan aku meninggalkan sekolah.
Hujan yang suram
telah berhenti, dan awan-awan mulai berarak pergi.
Jalan setapak di
pinggir sungai terasa sepi saat kami melangkah melewati genangan lumpur, dan
udara terasa segar serta transparan.
Di langit senja,
sebuah strawberry moon merah di bulan Juni mengapung, tampak persis
seperti namanya.
Dan gadis yang
berjalan di sampingku juga memiliki mata dan hidung yang memerah.
"Asuka, kau
benar-benar mirip bulan itu."
"Jangan
merusak momen emosional yang baru saja kita lalui."
"Terkadang hidup butuh lelucon konyol."
Kami berdua
terkekeh.
Aku tahu alasan
Asuka mulai menangis.
Maksudku, aku
sendiri pun nyaris hancur.
Kurasa aku belum
pernah merasa sesedih ini, sepedih ini, saat membayangkan perpisahan dengan
siapa pun sebelumnya.
Bahkan ketika aku
harus mengucapkan selamat tinggal pada teman-teman setelah lulus SD, rasanya
tidak seperti kami tidak bisa main bareng lagi.
Saat aku berpisah
dari orang tuaku dan mulai hidup sendiri… itu tidak benar-benar terasa seperti
berpisah dari mereka. Kami tetaplah keluarga.
Ah, benar.
Perasaan ini
mirip seperti saat aku meninggalkan rumah Nenek di setiap akhir liburan musim
panas.
Kesedihan karena
tahu aku tidak akan melihat cinta pertamaku lagi selama setahun penuh.
Bisakah
kami benar-benar bertemu lagi tahun depan? Dan saat kami bertemu, akankah musim panas kami
berikutnya terasa ajaib?
Saat kami bertemu
lagi, apakah dia masih menjadi gadis yang kukenal? Aku tersiksa oleh
pertanyaan-pertanyaan itu, berulang kali.
Jarak di antara
kami saat masih kecil… Kami
butuh mobil dan kereta untuk bisa bersama. Itu sangat mirip dengan jarak antara
Tokyo dan Fukui bagi anak SMA.
Asuka sudah mulai
berlari menuju masa depannya.
Hari ini adalah
akhirnya. Setelah ini, dia tidak akan menoleh ke belakang.
Dia akan terus
melangkah maju, semakin jauh dan jauh, menjadi sosok Asuka yang tidak kukenal.
Di suatu kota
yang jauh, di bawah langit yang jauh, diselimuti oleh malam yang jauh.
Aku sendiri masih
tidak tahu ke mana aku akan pergi, ke arah mana aku harus menghadap.
"Hanya
tinggal sembilan bulan lagi, ya."
Saat aku
menggumamkan itu, aku merasakan Asuka menyenggol bahuku.
"Hei, ingat
janji yang kita buat?" tanyanya.
"Tidak ada
lagi lari dari rumah bersama-sama. Lain kali, kita benar-benar akan
dipolisikan."
Terdengar
suara cekikikan.
"Bukan
itu. Yang bunyinya begini: Jika kau benar-benar pergi ke Tokyo, mari kita
pastikan untuk melihat segala hal yang hanya bisa kita lihat di sini, terlebih
dahulu. Mari kita
lakukan percakapan yang hanya bisa kita lakukan di sini. Mari kita tumpahkan
air mata yang hanya bisa kita tumpahkan di sini. Dengan begitu, meski kita
berakhir berjauhan, kita akan selalu memiliki tempat ini di hati kita untuk
pulang."
"Jangan
mengutip kata-kataku sendiri. Itu memalukan sekali."
Asuka melompat
kecil ke depanku lalu berputar. "Ada satu hal yang benar-benar ingin
kulakukan sebelum kelulusan."
Sambil
menyeringai, dia menunjuk tepat di antara kedua mataku.
"Kali ini…
kali ini sungguhan… Aku akan menjadi cahaya yang begitu terang sampai-sampai
kau akan ingin mengejarku. Aku akan menjadi Asuka Nishino yang ingin menjadi
sepertimu. Asuka Nishino yang membuatmu ingin menjadi sepertinya."
Di sana-sini,
rembulan yang jauh tak terhitung jumlahnya terpantul di genangan air dan di
permukaan sungai.
Mana yang asli?
Mana yang hanya sekadar ilusi?
Mungkin kita
sendirilah yang memutuskannya.
Sama
seperti sebutir kelereng yang tenggelam di dasar botol Ramune yang bisa
terlihat seperti rembulan bagi seseorang.
Angin
berhembus melewati kami, bertiup menuju hari esok, membawa serta masa depan
yang belum kami lihat.
Saat
bunga sakura berikutnya bermekaran, bagaimana cara kami menghadapi perpisahan
terakhir kami nanti?



Post a Comment