NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Mugen no Majutsu Shi Maryoku Nashi de Heimin no Ko to Hakugai Sareta Ore ⁓ Jitsuha Mugen no Maryoku Mochi Volume 1 Epilog

Epilog

Kami Telah Menjadi Keluarga


Setelah kejadian itu, seluruh permasalahan pun menemui titik akhirnya. Insiden ini menjadi penyebab dicabutnya gelar bangsawan keluarga Viscount Kehormatan Evern.

Ayah Rest, Lucas Evern, sebelumnya dipercaya sebagai penyihir istana untuk mengelola benda-benda sihir berbahaya.

Karena salah satu benda yang ia kelola, yaitu Tongkat Iblis, dicuri dan disalahgunakan oleh putranya sendiri, Cedric, maka secara otomatis ia harus memikul tanggung jawab atas kelalaian tersebut.

Lucas dicopot dari jabatannya sebagai penyihir istana. Ia kehilangan gelar bangsawan yang melekat pada posisinya dan jatuh menjadi rakyat jelata.

Seluruh hartanya pun disita habis sebagai uang ganti rugi bagi Rest—selaku korban penyerangan Cedric—hingga ia kehilangan segalanya dan terancam luntang-lantung di jalanan.

Setelah kehilangan status, jabatan, harta, bahkan putra kesayangannya, entah apa yang ada di pikiran Lucas hingga ia mencoba datang menangis memohon bantuan kepada Rest.

Ia meminta Rest untuk membujuk Marquis Rosemary, meminta agar mereka diurus, bahkan meminta belas kasihan berupa uang. Mengingat betapa kejamnya ia menyiksa putranya dulu, tindakannya yang kini mencoba bergantung tanpa tahu malu ini benar-benar sebuah puncak kebebalan.

"Jika Anda menampakkan wajah lagi di hadapan Tuan Rest, saya sendiri yang akan memastikan Anda dikirim ke pertambangan sebagai kriminal. Atau mungkin, Anda tidak keberatan menjadi bahan percobaan untuk ramuan sihir jenis baru? Bagaimana menurut Anda?"

Mendengar ancaman dari Dieble, sang kepala pelayan yang melayani mereka, Lucas dan istrinya, Liza, segera menghilang ke arah gang sempit dengan penampilan compang-camping seperti pengemis.

Liza mungkin pengecualian, namun Lucas adalah seorang penyihir. Selama ia tidak pilih-pilih pekerjaan, sebenarnya masih ada kesempatan baginya untuk bangkit.

Tentu saja, itu hanya jika ia mau membuang gengsi sebagai mantan bangsawan dan memulai hidup dari nol sebagai rakyat jelata biasa.

Bagaimanapun juga, hubungan antara keluarga Viscount Kehormatan Evern dan Rest telah terputus sepenuhnya. Seluruh ikatan buruk itu kini telah mencapai babak akhir.

Di luar urusan itu, ada hal yang jauh lebih penting bagi Rest daripada nasib akhir keluarganya.

Setelah mengalahkan Cedric yang berubah menjadi iblis, Rest kembali ke kediaman Marquis Rosemary. Di sana, dua orang telah menunggunya berdiri di depan pintu masuk.

Gadis-gadis yang menunggu sambil menangkupkan tangan seolah sedang berdoa—Viola dan Primula—seketika memancarkan binar di mata mereka saat menyadari sosok Rest.

"Ah, Rest-kun!"

"Tuan Rest!"

"Eh? Kalian berdua menungguku?"

Melihat Viola dan Primula yang menunggu di bawah sinar matahari senja yang hampir tenggelam, Rest tak kuasa menahan rasa terkejutnya.

Padahal ia tidak memberi tahu kapan akan pulang, sudah berapa lama mereka menunggu di sana?

"A-ah, um... kami merasa khawatir. Soalnya kau pergi ke tempat itu, kan?"

"Hanya kereta kudanya yang pulang lebih dulu, jadi kami pikir telah terjadi sesuatu padamu!"

Viola berbicara dengan nada canggung, sementara Primula terdengar sedikit marah.

"Begitu ya... Maaf, sepertinya aku sudah membuat kalian khawatir."

Sambil meminta maaf, Rest merasakan ketenangan yang menjalar di dadanya. Sepanjang perjalanan pulang, perasaannya sempat muram karena terpaksa harus membunuh kakak kandungnya sendiri.

Namun, hanya dengan melihat wajah kakak beradik itu, perasaan kalutnya seketika sirna dan digantikan oleh emosi yang hangat.

(Tempat untuk pulang... Benar, di sinilah rumahku yang sebenarnya.)

Dirinya diterima. Ada orang yang mencemaskannya. Rest sempat melupakan perasaan ini sejak kehilangan ibunya. Ternyata, memiliki seseorang yang menunggu kepulangan kita adalah sebuah kebahagiaan yang luar biasa.

"Maaf sudah membuat khawatir. Tapi... berkat itu, aku berhasil menyelesaikan segalanya dengan benar," ujar Rest sambil tersenyum.

Sebenarnya ia harus segera melapor kepada Albert selaku atasan penyihir istana tentang kejadian tadi, namun ada hal yang lebih penting yang harus ia sampaikan kepada mereka berdua.

Ia sudah membuat mereka menunggu terlalu lama. Ia tidak berniat menundanya lagi, meski hanya sedetik pun.

"Viola, Primula."

Rest merasakan jantungnya berdegup kencang saat ia berlutut di tempat itu. Ia mengulurkan kedua tangannya kepada mereka berdua, lalu mengucapkan kata-kata pengakuan itu.

"Menikahlah denganku... Tolong, jadilah keluargaku...!"

““............!””

Mendengar kata-kata itu, kedua bersaudari tersebut membelalakkan mata dengan ekspresi terkejut yang persis sama.

Setelah sempat mematung sejenak, mereka saling bertukar pandang, dan tak lama kemudian senyum mereka merekah seindah bunga yang bermekaran.

"Dengan senang hati!"

"Wah!"

Viola dan Primula menyambar tangan yang terulur itu dan langsung memeluk Rest dengan semangat.

"Aku tidak akan membiarkanmu menarik kata-katamu, ya! Kau harus benar-benar menjadi suamiku!"

"Aku juga akan melahirkan anak-anakmu! Aku dan Kakak akan memberimu sepuluh anak, jadi bersiaplah!"

"Hahaha... itu memang yang kuharapkan."

Sambil sedikit terhimpit oleh beban lembut mereka berdua, Rest tertawa kecil. Suhu tubuh yang hangat dan menenangkan menyelimutinya.

Tanpa perlu dikatakan pun, ia tidak akan pernah melepaskan kehangatan ini untuk kedua kalinya.

"Kalian berdua, mohon bantuannya mulai sekarang."

"Baik!"

Sambil jatuh telentang di atas tanah, Rest menatap wajah kedua bersaudari yang kini dipenuhi air mata kebahagiaan.



Orang-orang yang telah bersedia menjadi tunanganku. Mereka adalah keluarga sejati tempat hatiku bernaung, yang pertama kali kudapatkan sejak kehilangan ibuku.

(Aku harus benar-benar membuat mereka bahagia....)

Beban tanggung jawab kini terasa nyata, seiring dengan berat tubuh mereka berdua yang bersandar padaku.

Tanggung jawab ini begitu berat. Rasanya hampir membuatku hancur.

Namun... aku sama sekali tidak berniat untuk kalah.

Ke depannya, berbagai kesulitan mungkin akan menyerangku dan Rosemary bersaudara. Meski begitu, aku akan menepis semuanya tanpa sisa.

(Aku tidak akan membiarkan siapa pun merampas keluarga berhargaku lagi.... Tidak apa-apa, aku punya Infinite Magic Power!)

Kisah penyihir yang kelak akan dijuluki sebagai "Penyihir Tak Terbatas" ini, sebenarnya baru saja dimulai.





Previous Chapter | ToCNext Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close