NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Mugen no Majutsu Shi Maryoku Nashi de Heimin no Ko to Hakugai Sareta Ore ⁓ Jitsuha Mugen no Maryoku Mochi Volume 1 Chapter 3

Chapter 3

Undangan dari Keluarga Marquis


Beberapa hari setelah pertemuan dengan saudari Rosemary di hutan.

Pagi-pagi sekali, Rest dipanggil ke ruang kerja ayahnya, sebuah kejadian yang sangat jarang terjadi.

"Hei... Apa maksudnya ini, dasar si cacat?"

Baru saja masuk, kata-kata cacian langsung menghujani Rest sebagai kalimat pembuka.

"Apa yang Ayah bicarakan?"

"Ada surat undangan dari keluarga Marquis Rosemary. Bukan untukku atau Cedric, tapi untukmu."

Sang ayah, Lucas Evern, bicara dengan ketidaksenangan yang terpampang jelas di wajahnya.

"Katanya itu keinginan kuat dari putri-putri beliau... Memangnya di mana kau bertemu mereka? Jangan-jangan kau sudah membocorkan asal-usulmu kepada mereka?"

"...Aku hanya bicara sebentar dengan mereka di taman saat para nona itu berkunjung ke sini. Percakapan kami pun hanya basa-basi biasa, kok?"

"............"

Ketika Rest menjawab dengan wajah tanpa dosa, Lucas melontarkan tatapan penuh kecurigaan.

Lucas sempat melotot kesal sesaat... sebelum akhirnya mendecak keras dengan lidahnya.

"Orang rendahan sepertimu menerima undangan keluarga Marquis itu seharusnya mustahil. Tapi, undangan dari keluarga Marquis tidak mungkin bisa ditolak. Bahkan jika kecelakaan kemarin tidak terjadi sekalipun."

"Begitu ya."

"Benar-benar, kenapa orang sepertimu yang berdarah rakyat jelata dan 'tanpa mana' bisa..."

Lucas terus menggerutu pelan, namun Rest tidak peduli. Ia hanya berharap ayahnya berhenti melampiaskan kekesalan padanya.

"Ya sudahlah... Ingat, jangan sampai tidak sopan kepada Marquis Rosemary. Meski harus menjilat sepatunya sekalipun, kau harus menjilat mereka dan meminta maaf atas kegagalan Cedric."

Setelah itu, Rest pun bersiap-siap sesuai instruksi ayahnya. Ia mandi untuk pertama kalinya sejak datang ke kediaman ini, dan dipakaikan pakaian berkualitas tinggi yang belum pernah ia kenakan sebelumnya.

Ini adalah perlakuan yang sulit dipercaya bagi anak yang selama ini tinggal di kandang kuda. Entah karena ayahnya merasa sangat berutang budi kepada sang Marquis, atau dia ingin menutupi fakta bahwa dia telah menindas Rest selama ini.

"Kalau dilihat-lihat begini, aku tidak buruk juga, ya. Sudah seperti tuan muda bangsawan saja."

Rest tertawa kecut melihat bayangannya sendiri di cermin.

Bukannya "seperti", dia memang terlahir sebagai bangsawan, tapi ia sudah terlalu terbiasa dengan bau kuda sampai-sampai melupakan hal itu.

Setelah persiapan selesai, ia dinaikkan ke kereta kuda keluarga Viscount Kehormatan Evern menuju kediaman keluarga Marquis Rosemary. Ayah dan kakaknya tidak ikut... mungkin surat undangannya memang tertulis "jangan datang".

(Apa mereka mengerti karena aku minta agar ayah dan kakakku tidak usah diberitahu, ya?)

Kereta kuda melaju beberapa saat, hingga akhirnya tiba di rumah kota milik keluarga Marquis Rosemary.

"Kita sudah sampai. Hati-hati, ya."

"Ya, terima kasih banyak."

Rest berterima kasih kepada kusir yang ia kenal, lalu turun dari kereta.

Di hadapannya berdiri sebuah kediaman yang sangat besar. Benar-benar tidak bisa dibandingkan dengan kediaman keluarga Viscount Kehormatan Evern.

Ini adalah perbedaan nyata antara keluarga Evern yang hanya menyandang gelar kehormatan, dengan keluarga bangsawan agung yang memiliki wilayah kekuasaan sendiri.

"Selamat datang, Rest-kun!"

"Selamat datang, Tuan Rest!"

Begitu turun dari kereta, dua gadis berlari menghampirinya.

Gadis-gadis cantik dengan rambut emas dan perak yang panjang... Viola dan Primula. Mereka adalah saudari dari keluarga Marquis Rosemary yang ia selamatkan di hutan.

"Kami sudah menunggumu, terima kasih ya sudah menyempatkan datang hari ini! Aku senang bisa bertemu denganmu lagi!"

"Seharusnya kami yang datang berkunjung untuk berterima kasih, mohon maaf ya. Aku akan segera menyiapkan teh untukmu!"

"Eh, ee!? Tu-tunggu sebentar...!"

Viola dan Primula masing-masing menggandeng lengan Rest dan menyeretnya masuk ke arah kediaman.

Saat ia menoleh dengan panik, si kusir yang merupakan pelayan keluarga Evern tampak melongo kaget.

Meski sempat tertegun, kusir itu segera membuang muka dari Rest dan kawan-kawan. Ia berpura-pura bersiul seolah tidak melihat apa-apa.

(Aku mengerti perasaannya. Hal seperti ini mana mungkin bisa dilaporkan kepada ayahku itu.)

"Kalau begitu, ayo kita pergi."

Ditarik oleh keduanya, mereka melangkah mantap menyusuri taman kediaman.

Meski kedua lengannya digandeng oleh dua gadis cantik, kepala Rest hanya dipenuhi oleh kebingungan.

(A-aneh... Memangnya aku pernah melakukan sesuatu sampai disukai mereka seperti ini?)

Ia memang menyelamatkan nyawa mereka... tapi penyebab masalahnya adalah kakak tirinya, Cedric.

Ia merasa hanya membereskan kekacauan keluarga saja, tapi kenapa reaksi mereka bisa sepositif ini.

"Kami sudah menyiapkan teh di taman. Ayo lewat sini."

"Ada kue yang enak juga lho. Silakan."

Rest dibawa menuju sebuah meja yang diletakkan di tengah taman.

Di taman yang luas itu, bunga-bunga musim bermekaran dengan warna-warni cerah yang memanjakan mata.

"Silakan duduk di meja ini."

Atas arahan Primula, ia duduk di meja bundar tersebut.

Kedua saudari itu duduk di sisi kiri dan kanannya, sementara pelayan yang bersiap segera menyajikan teh dan kue dengan cekatan.

"Pelayan di rumah kami sangat ahli menyeduh teh. Kue ini juga dibuat oleh koki kami dengan segenap kemampuannya."

"Ini adalah favorit aku dan Kakak. Semoga saja rasanya cocok dengan selera Tuan Rest..."

"A-aku makan ya..."

Sambil merasa bingung karena jarak mereka yang sangat dekat, ia mengangkat cangkir tehnya.

Aroma teh yang harum semerbak. Bahkan orang awam pun tahu kalau ini adalah barang mewah.

Termasuk di kehidupan sebelumnya, ia merasa belum pernah mencium aroma teh yang seharum ini.

"Hm..."

Ia menyeruputnya dan membiarkan cairan itu mengalir di dalam mulut sembari berusaha merasakannya.

Jujur saja, ia tidak tahu apakah ini enak atau tidak. Mungkin karena ia tidak terbiasa minum teh.

"Bagaimana menurutmu?"

"............"

Primula bertanya dengan nada cemas. Viola juga menatapnya dengan lekat.

Ia tidak tahu reaksi apa yang benar... tapi ia memutuskan untuk jujur.

"Aku tidak tahu karena jarang minum teh... tapi setidaknya, aku tidak benci ini."

Setelah mengatakan itu... ia baru sadar dan merasa cemas apakah gaya bicara santainya tadi sudah benar.

Lawan bicaranya adalah putri keluarga Marquis. Bukankah lebih baik bicara dengan bahasa formal?

"Begitu ya... syukurlah..."

"Coba makan kue ini juga. Pasti enak."

Namun, kedua saudari itu tampak tidak keberatan dan justru menawarkan kue. Itu adalah kue shortcake dengan krim yang melimpah. Stroberi yang ada di atasnya berwarna merah cerah dan sangat menggoda.

Glek...

Sudah berapa tahun ya ia tidak makan kue.

Setidaknya, ini adalah yang pertama kalinya sejak ia bereinkarnasi ke dunia ini.

(Di kehidupan sebelumnya pun aku jarang sekali bisa makan kue. Orang tuaku tidak pernah membelikannya, paling aku hanya membelinya di minimarket menggunakan uang hasil kerja sampingan saat ulang tahun saja...)

"A-aku makan ya..."

Sambil menahan air mata agar tidak tumpah, Rest memakan satu suap kue tersebut.

"E-enak banget...!?"

Dan kemudian... ia nyaris pingsan karena rasa manis dan asam yang menyebar di lidahnya.

Kue itu luar biasa lezat. Rasa manis krim dan asamnya stroberi berpadu sempurna, namun tidak terasa berlebihan dan menciptakan harmoni yang membuat tidak bosan. Entah berapa banyak tenaga dan waktu yang dihabiskan untuk menciptakan makanan manis yang seperti karya seni ini.

"Sepertinya dia menyukainya ya, Kak."

"Benar, syukurlah."

Nyam nyam, hap hap... nyam nyam!

Rest makan dengan lahap, seolah terpikat oleh kue di hadapannya. Ia tidak peduli lagi bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh dua orang di sisi kiri dan kanannya. Seluruh saraf di tubuhnya terfokus pada kue itu.

Dan setelah menghabiskan kue tersebut tanpa sisa sedikit pun, ia akhirnya sadar bahwa cara makannya sangat tidak sopan.

"Ma-maaf... tidak sengaja...!"

"Tidak apa-apa kok, jangan dipikirkan."

"Tadi lucu sekali, lho. Seperti anak kecil saja."

"............"

Melihat keduanya yang tampak merasa gemas, wajah Rest justru memerah padam.

Ia kehilangan kendali diri gara-gara kue pertama di kehidupan keduanya. Benar-benar sangat memalukan.

Melihat Rest yang seperti itu, Viola menyodorkan piring kuenya sendiri.

"Ini, kue punyaku juga buat kamu saja. Silakan dimakan."

"E-eh... Kalau itu rasanya agak..."

"Punya aku juga silakan dimakan. Jangan sungkan, ya."

Menyusul Viola, Primula pun menyerahkan piringnya. Apa ia terlihat begitu menyedihkan karena makan dengan sangat lahap tadi?

"Ho... Sepertinya kalian sedang bersenang-senang, ya."

Namun, di sana terdengar suara orang ketiga. Orang yang menyapa dengan nada suara yang sangat berat dan dingin itu adalah seorang pria paruh baya yang entah sejak kapan sudah berada di taman.

Pria itu adalah seorang pria terhormat dengan rambut perak yang tertata rapi dan aura yang cerdas. Ia mengenakan setelan jas yang terlihat berkualitas sangat baik, dan memancarkan aura "keagungan" dari sekujur tubuhnya.

"Bolehkah aku bergabung bersama kalian?"

"A-Anda adalah...?"

"Ah, maaf aku terlambat memperkenalkan diri. Aku adalah pemilik rumah ini, dan ayah dari gadis-gadis yang ada di sampingmu... Albert Rosemary."

Marquis Albert Rosemary.

Seorang bangsawan agung yang menjabat sebagai Kepala Penyihir Istana, sekaligus Tameng Raja yang setara dengan Komandan Ksatria Pengawal.

Dia adalah atasan dari ayah Rest yang selalu bersikap sok berkuasa, dan merupakan sosok yang tidak akan pernah bisa ditentang oleh ayahnya.

"Aku senang melihat kalian akrab dengan putriku... Ah, sepertinya memang benar-benar akrab, ya."

"Ah..."

Wajah Rest langsung memucat.

Suara Albert terdengar dingin mungkin karena Rest sedang dikelilingi oleh kedua putri cantiknya. Putri-putrinya sedang bersandar dengan akrab pada seorang laki-laki. Sebagai ayah, perasaan beliau pasti tidak sedang baik-baik saja.

"Namamu Rest-kun, ya. Padahal baru saja bertemu, tapi kau sepertinya sudah sangat akrab dengan putriku."

"M-mohon maaf! Saya telah lancang!"

Rest terburu-buru berdiri dan menundukkan kepalanya.

Ia tidak tahu kenapa harus minta maaf... tapi mengikuti alur, ia tidak punya pilihan lain selain meminta maaf.

"Tunggu, Ayah... Jangan salahkan Rest-kun!"

"Jangan menindas Tuan Rest...!"

"Ugh... T-tidak, Ayah tidak bermaksud menindasnya, kok..."

Namun, kedua saudari itu justru membela Rest.

Albert yang diprotes oleh putri-putrinya tampak jelas sekali menciut. Sepertinya bagi sosok yang merupakan Kepala Penyihir Istana dan seorang Marquis ini, kedua putrinya adalah kelemahan mutlaknya.

"Ah—angkatlah kepalamu. Hari ini aku mengundangmu untuk berterima kasih karena telah menyelamatkan putriku. Aku benar-benar berterima kasih karena kau telah menolong putriku di saat bahaya."

"T-tidak, tidak perlu! Justru saya yang harus minta maaf atas kesalahan kakak saya!"

"Kau tidak perlu minta maaf. Mengenai kejadian di hutan itu, bagaimanapun juga kau sama sekali tidak bersalah."

Begitu Albert duduk di kursi yang kosong, pelayan segera menyeduhkan teh untuk tuannya.

"Viscount Kehormatan Evern memintaku untuk mempertemukan anak-anak kami karena tahun depan mereka akan mengikuti ujian masuk akademi yang sama. Aku mendengar Cedric Evern memiliki bakat sihir yang cukup bagus jadi aku meluangkan waktu, tapi aku tidak menyangka mereka akan dibawa ke hutan tanpa pengawal. Evern memang penyihir istana yang hebat, tapi sepertinya matanya menjadi buta jika menyangkut putranya. Gara-gara itu aku hampir kehilangan putri-putriku tercinta."

"............"

"Meski tidak seberapa, ini adalah tanda terima kasih. Terimalah."

Saat Albert mengangkat tangannya, seorang kepala pelayan tua berkacamata melangkah maju.

Kepala pelayan itu meletakkan sebuah bungkusan kain yang tampak berisi sangat padat di atas meja.

"Ini adalah..."

"Isinya sekitar lima puluh koin emas besar. Nilainya terlalu murah jika dibandingkan dengan nyawa putriku."

"Koin emas besar, apalagi sampai lima puluh keping..."

Rest tanpa sadar menelan ludah.

Nilai satu koin emas besar setara dengan sekitar satu juta yen (sekitar 100 juta rupiah). Artinya, di dalam kantong ini terdapat uang senilai lima puluh juta yen (sekitar 5 miliar rupiah).

"...Saya tidak bisa menerimanya, uang sebanyak ini."

Sambil menahan diri agar tangannya tidak refleks mengambilnya, Rest menjauhkan kantong berisi uang tersebut.

"Saya menolong para nona murni hanya karena ingin membereskan kekacauan kakak saya yang bodoh. Saya melakukannya bukan karena menginginkan imbalan. Saya tidak punya hak untuk menerima ini."

Jujur saja, ia ingin uang itu. Mengingat ia akan dewasa dan hidup mandiri tahun depan, sebanyak apa pun uang tidak akan pernah cukup.

Tapi tetap saja, lima puluh koin emas besar itu terlalu banyak. Di dunia ini tidak ada yang namanya bank. Ia tidak mungkin membawa-bawa uang sebanyak ini, dan tidak mungkin menyimpannya di kandang kuda.

"Hmm... kau tidak serakah, ya. Tapi, aku juga akan merasa kesulitan jika kau tidak menerimanya."

Albert mengelus kantong di atas meja dengan telapak tangannya, sambil memperdalam senyum di bibirnya.

"Jika aku tidak bisa membalas budi kepada penyelamat nyawa putriku, nama keluarga Marquis akan jatuh. Jika kau tidak butuh uang, apakah ada hal lain yang bisa aku penuhi? Anggap saja ini demi menjaga martabatku, katakan saja jangan sungkan."

"Begitu ya..."

Begitu masalah martabat disinggung, ia tidak bisa menolak lagi. Sambil memutar otak memikirkan permintaan yang pantas, Rest teringat satu hal yang memang ia butuhkan.

"Anu... kalau begitu, ada satu hal yang ingin saya minta..."

Setelah terdiam sesaat, Rest mengutarakan benda yang sudah sejak lama ia inginkan.

"Bisakah Anda menuliskan surat rekomendasi untuk Akademi Sihir Kerajaan? Saya berencana mengikuti ujian melalui jalur rakyat jelata tahun depan."

"Hmm? Tentu saja, aku tidak keberatan menuliskan surat rekomendasi, tapi... lewat jalur rakyat jelata?"

"Ya, ayah saya membenci saya. Karena saya tidak diakui sebagai anggota keluarga Viscount Kehormatan Evern, saya tidak bisa mengikuti ujian melalui jalur bangsawan."

"Hmm... sepertinya ada masalah keluarga, ya. Bolehkah aku mendengar alasannya?"

"Baik..."

Rest menjelaskan posisinya secara singkat.

"Menindas anak haram yang lahir dari seorang pelayan... begitu ya, cerita yang sangat mirip dengan pria itu."

Mendengar hal itu, Albert mengerutkan dahi dan mengetukkan jarinya ke meja dengan kesal.

"Evern hanyalah bangsawan dadakan yang hanya memiliki jabatan tanpa wilayah kekuasaan. Sepertinya dia merasa minder dengan hal itu, sehingga dia sangat terobsesi dengan otoritas dan kedudukan. Alasan dia mencoba mendekatkan putranya dengan putri-putriku pun pasti karena itu."

Albert bicara dengan nada jijik, lalu menoleh kembali ke arah Rest.

"Aku mengerti situasinya. Mengenai surat rekomendasi Akademi Kerajaan itu..."

"Tolong tuliskan (untuknya)!"

"...Putri-putriku juga bilang begitu, jadi akan aku tuliskan."

Albert menyanggupi untuk menulis surat rekomendasi meski dengan ekspresi yang sedikit rumit.

"Terima kasih banyak... ini sangat membantu!"

Dengan ini syarat minimal untuk masuk akademi sudah terpenuhi.

Ia masih harus lulus ujian masuk, tapi setidaknya ia sudah berhasil berdiri di garis awal.

"Tapi... sebelum aku menuliskan surat rekomendasi, aku ingin menguji kekuatanmu terlebih dahulu."

"Eh?"

"Menguji... Ayah, apa yang Ayah bicarakan sih!"

"Benar sekali! Dia kan penyelamat kami!?"

"Tentu saja aku ingin berterima kasih. Tapi... memberikan surat rekomendasi berarti keluarga Marquis Rosemary akan menjadi pelindung di belakangnya."

Meski tadi sempat menciut karena dimarahi putrinya, Albert kali ini menegaskan dengan nada bicara yang jelas dan tidak mau mengalah.

"Jika aku merekomendasikan seseorang yang tidak memiliki kemampuan yang sepadan, wibawa keluarga kita akan tercoreng. Aku juga memiliki posisi sebagai Kepala Penyihir Istana. Aku tidak bisa memberikan rekomendasi tanpa memastikan kemampuannya terlebih dahulu."

"...Saya mengerti. Apa yang harus saya lakukan?"

Rest menerima usulan itu. Apa yang dikatakan Albert masuk akal. Ia tidak punya alasan untuk menolak.

"Sederhana saja... aku ingin kau bertarung dengan pria ini."

Begitu Albert bertepuk tangan pelan, kepala pelayan tadi melangkah maju.

"Dia adalah bawahan kepercayaanku, dan pria yang hebat sebagai penyihir. Aku ingin kau bertarung melawannya."

"Bertarung... maksud Anda?"

"Tentu saja ini bukan pertarungan sampai mati, melainkan latihan tanding. Kau tidak perlu menang secara paksa. Cukup tunjukkan padaku bahwa kau memiliki kekuatan yang layak untuk direkomendasikan oleh keluarga ini."

"Saya mengerti... mohon izinkan saya melakukannya!"

Jika hanya dengan begitu ia bisa mendapatkan surat rekomendasi dan mengambil langkah pertama menuju kejayaan, maka itu adalah harga yang murah.

Kepala pelayan dari Marquis Rosemary yang merupakan pemimpin para penyihir istana. Kemampuannya pasti luar biasa, dan ini akan menjadi pengalaman berharga dalam pertempuran antarmanusia.

(Karena aku belum pernah bertarung melawan siapapun selain monster... jika aku bisa mendapatkan pengalaman bertarung melawan manusia, ini adalah kesempatan bagus!)

Rest justru dengan senang hati menerima tawaran sang Marquis.

Pindah dari taman menuju area latihan di dalam area kediaman Marquis.

Di tempat yang biasa digunakan para prajurit penjaga dan penyihir untuk berlatih, Rest dan sang kepala pelayan berdiri berhadapan.

Di tempat yang agak jauh, ayah dan putri dari keluarga Marquis Rosemary memperhatikan mereka berdua.

"Ayah! Apa maksudnya ini!?"

"Ayah jahat...!"

Viola dan Primula mendesak ayah mereka.

Sepertinya mereka sangat marah karena ayahnya memberikan tugas yang sulit kepada pemuda penyelamat nyawa mereka.

"Kenapa Ayah berbuat usil kepada Rest-kun! Tergantung jawaban Ayah, aku tidak akan memaafkanmu lho!"

"Aku tidak akan memaafkan... meskipun itu Ayah sendiri...!"

"Te-tenanglah kalian berdua!"

Karena didesak oleh kedua putri tercintanya, Albert yang menganggap dirinya adalah ayah yang dipercaya oleh putrinya segera menjelaskan kembali.

"Ayah sudah menjelaskan alasannya, kan!? Sebagai kepala keluarga Marquis, bagaimanapun juga aku harus memastikan kekuatannya!"

Albert berusaha keras membela diri di hadapan putri-putrinya yang menunjukkan wajah marah yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Bagi Albert sendiri, ia tidak bermaksud berbuat usil dengan mengadakan latihan tanding ini.

Pada dasarnya, Akademi Kerajaan adalah lembaga untuk mendidik sumber daya manusia yang akan terlibat dalam pengelolaan negara, seperti anggota keluarga kerajaan, bangsawan, ksatria, dan pejabat.

Saat akademi baru didirikan rakyat jelata tidak bisa masuk, namun kemudian pintu dibuka lebar-lebar bagi rakyat jelata asalkan memiliki rekomendasi dari orang berpengaruh.

Jika menerima rekomendasi dari seorang bangsawan, orang tersebut akan dianggap oleh sekeliling sebagai orang dari "Keluarga" bangsawan yang merekomendasikannya. Faktanya, saat Albert masih sekolah dulu, ia juga memberikan surat rekomendasi kepada bawahan yang seumuran dengannya agar bisa masuk sebagai pengawal pribadi.

"Ini bukan masalah perasaan. Jika ia menerima rekomendasi dari keluarga ini, ia harus menunjukkan bahwa ia memiliki kekuatan yang pantas. Ini adalah syarat mutlak!"

Sama sekali bukan karena mencampuradukkan masalah pribadi. Sama sekali bukan karena ia merasa cemburu melihat kedua putrinya begitu menyukai Rest sehingga ia ingin menjahilinya.

"Tapi...!"

"Tetap saja...!"

"Ayah tidak bilang kalau Ayah tidak akan menulis surat rekomendasi jika ia tidak menang, kan!? Ayah hanya ingin jaminan bahwa ia pasti bisa masuk ke akademi! Jika orang yang direkomendasikan keluarga Marquis Rosemary gagal ujian, wibawa keluarga kita akan hancur!"

Albert terus meyakinkan putri-putrinya yang tampak tidak puas dengan nada bicara yang kuat.

"Lagi pula, kepala pelayan itu adalah salah satu ahli terbaik di antara bawahan keluarga kita. Dia adalah mantan Penyihir Istana yang sekarang mengabdi di rumah ini setelah pensiun. Biarpun ia bisa menggunakan sihir dengan cukup baik, tidak mungkin ia bisa menang melawan seorang anak kecil."

Ia tidak menyuruh Rest untuk jangan kalah.

Asalkan Rest bisa memberikan perlawanan yang baik, Albert pasti akan dengan senang hati merekomendasikannya.

"Jika ia memang punya kekuatan untuk mengusir White Fenrir, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pasti akan memberikan hasil yang sepadan..."

Di tengah ucapannya, terdengar suara dentuman keras.

Albert dan saudari Rosemary yang terkejut menolehkan pandangan... dan mereka melihat kepala pelayan kepercayaan mereka sedang terguling di tanah.

"Gkh... ugh..."

"Apakah ini berarti saya pemenangnya?"

"Belum... saya... belum kalah. Saya tidak bisa menunjukkan penampilan memalukan di depan tuan saya."

"Kalau begitu, mari kita lanjutkan."

"Ya, saya datang...!"

Sang kepala pelayan menerjang dengan penuh semangat, dan Rest menyambut serangan itu.

Ayah dan putri keluarga Rosemary menatap pertempuran keduanya yang semakin sengit dengan wajah terpana.

"Mustahil... Dieble sampai kesulitan begitu, sebenarnya siapa pemuda itu!?"

"Ternyata dia memang kuat...!"

"Tuan Rest hebat sekali...!"

Keluarga Rosemary hanya bisa tertegun melihat pertempuran hebat yang dilakoni keduanya.

Rest menjejakkan kakinya ke tanah. Sambil meningkatkan kekuatan dan kecepatannya menggunakan sihir Physical Up, ia melompat ke segala arah untuk mengecoh lawannya.

Sejak dibawa ke rumah keluarga Viscount Kehormatan di usia sepuluh tahun, ia sudah berkali-kali masuk ke hutan dan bertarung melawan monster.

Physical Up adalah salah satu sihir yang paling sering ia gunakan. Bagi Rest, tidak berlebihan jika ia menyebut sihir ini sebagai keahlian khususnya.

(Orang ini... kuat sekali...!)

Sambil bertarung melawan kepala pelayan keluarga Marquis Rosemary, dalam hati Rest merasa sangat kagum.

Belum sampai tiga menit sejak pertarungan dimulai.

Ia memang berhasil mendaratkan serangan pertama dan mempental lawannya... namun menurutnya itu hanyalah sebuah serangan keberuntungan yang terjadi karena lawannya sedang lengah.

Faktanya, setelah itu serangannya tidak ada yang kena biarpun ia menyerang dengan cara yang sama. Lawannya sepertinya sudah mulai serius.

"Peningkatan fisik yang luar biasa... tidak kusangka pemuda yang belum genap dua puluh tahun bisa menggunakan sihir dengan akurasi setinggi ini...!"

Sambil menangkis tinju Rest, sang kepala pelayan memberikan kata-kata pujian.

Meski usianya pasti sudah di atas enam puluh tahun, gerakan kepala pelayan itu sangat tajam dan gesit. Ia bergerak dengan kecepatan yang setara atau bahkan lebih dari Rest yang baru berusia empat belas tahun.

"Sayalah yang terkejut di sini... padahal saya cukup percaya diri dengan kecepatan saya lho."

Rest melepaskan tendangan. Sang kepala pelayan merundukkan tubuhnya untuk menghindari tendangan tinggi yang mengincar kepalanya.

"Saya pun punya harga diri sebagai prajurit tua. Tuan Rest memiliki jumlah mana yang sangat besar, dan sepertinya sudah terbiasa menggunakan Physical Up sehari-hari. Namun... apakah Anda kurang pengalaman dalam pertempuran antarmanusia?"

"...Bagaimana Anda bisa tahu?"

"Serangan Anda sangat jujur dan besar-besaran tanpa ada tipuan. Itu adalah bukti bahwa Anda tidak pernah mempelajari ilmu bela diri resmi, dan hanya bertarung melawan monster."

"............"

Ucapannya tepat mengenai sasaran. Pertarungan mereka memang terlihat Rest yang lebih banyak menyerang, namun sang kepala pelayan berhasil menepis serangan tersebut dengan teknik yang luar biasa.

(Sepertinya benar, aku harus mempelajari ilmu bela diri dengan benar. Si Cedric itu sepertinya juga tidak pernah latihan khusus sih...)

Sang kepala pelayan melancarkan serangan tangan pisau yang tajam. Saat Rest refleks melindungi wajahnya, tulang kering kirinya ditendang dengan tendangan rendah.

"Aduh...!"

Karena tulang keringnya ditendang dengan keras, Rest tanpa sadar mengerang kesakitan.

"Gerakan tipuan... begitu ya, jadi seperti ini cara mainnya...!"

"Oh? Anda tidak apa-apa?"

"T-tidak masalah...!"

Kakinya terasa goyah. Ia rasa tidak sampai patah, tapi setidaknya memar.

Tanpa melepaskan sihir penguatnya, ia secara bersamaan mengaktifkan sihir penyembuhan untuk mengobati kakinya.

"Oya, Anda cukup terampil ya. Bisa mengaktifkan dua sihir secara bersamaan?"

"T-tentu saja saya bisa..."

"Banyak penyihir muda yang tidak bisa melakukannya lho. Semakin tidak berpengalaman, biasanya mereka semakin terobsesi untuk menggunakan sihir yang kuat, dan meremehkan akurasi serta pengaktifan sihir secara bersamaan. Sungguh menyedihkan melihat anak muda yang mengabaikan dasar-dasar sihir."

"Kalau begitu... apakah saya boleh melakukan hal seperti ini juga?"

Rest yang sudah mengobati lukanya mengaktifkan sihir lain. Di telapak tangan Rest muncul bola petir. Jumlah bola petir itu bertambah menjadi dua, tiga... hingga lima buah.

"Thunder Ball!"

"Hoho... sihir petir, bahkan bisa mengeluarkan lima buah sekaligus ya."

"Rasakan ini!"

Rest menembakkan bola petir itu ke arah sang kepala pelayan.

Kepala pelayan itu menghindari tembakan pertama dan kedua... namun ia tidak bisa menghindari tembakan ketiga dan seterusnya. Rest sengaja menembakkannya dengan posisi dan waktu yang berbeda agar tidak bisa dihindari.

"Hebat! Tidak buruk juga!"

Namun... sambil berteriak memuji, sang kepala pelayan memukul jatuh petir yang tidak bisa dihindari itu dengan tangan pisaunya.

Ia pasti menyentuh petir itu namun ia tidak terlihat tersetrum. Jika diperhatikan baik-baik, lengan kepala pelayan itu dilapisi oleh tanah berwarna cokelat.

"Melapisi tubuh dengan sihir seperti ini juga sangat efektif dalam pertempuran jarak dekat, lho?"

"Begitu ya, ternyata ada cara penggunaan sihir seperti itu. Kalau begitu...!"

Rest kembali menyerang dengan petir.

Petirnya memang berhasil ditangkis seperti tadi, namun ia memanfaatkan celah itu untuk menerjang ke arah sang kepala pelayan.

"Hiaaa!"

"Ooo!?"

Sang kepala pelayan mengeluarkan suara terkejut.

Lengan Rest kini dilapisi oleh tanah yang dibuat meruncing seperti pedang. Itu adalah tiruan dari sihir yang baru saja diperlihatkan sang kepala pelayan.

"Mohon maaf. Ternyata Anda sudah menguasai Earth Wear, ya."

"Aku baru saja mempelajarinya barusan!"

Kedua lengan yang dipersenjatai tanah itu saling beradu.

Suara benturan benda keras seperti batu yang saling menghantam terdengar berkali-kali secara terus-menerus.

"Ugh...!"

Setelah beradu beberapa kali, tinju sang kepala pelayan mendarat di bahu Rest.

Sepertinya ia memang berada di posisi yang tidak menguntungkan dalam adu pukul. Teknik bertarungnya jauh tertinggal.

"Kalau begitu... bagaimana dengan ini!"

Bola petir muncul di sekeliling Rest. Bersamaan dengan ia menembakkan petir itu, ia menerjang dengan kedua tangan yang dilapisi pelindung tanah. Tentu saja, Physical Up masih tetap aktif.

Physical Up, Thunder Ball, Earth Wear... pengaktifan tiga jenis sihir secara bersamaan (Trio).

Rest mengaktifkan tiga jenis sihir secara paralel dan terus mempertahankannya.

"Ini adalah...!"

Sambil menangkis petir dengan lengannya yang dilapisi tanah, sang kepala pelayan menghela napas.

"Pengaktifan tiga jenis sihir secara bersamaan! Tidak banyak orang bahkan di antara para Penyihir Istana yang sanggup melakukannya...!"

"Bicara apa kau sambil menangkis seranganku dengan mudah begitu!"

"Ini... sepertinya aku akan kalah jika tidak serius!"

Sesaat sebelum Rest mendaratkan serangan sekuat tenaganya, sosok sang kepala pelayan menghilang.

"High Accelerator!"

"Ugh...!?"

Sesaat kemudian, tengkuknya dipukul dan otaknya terasa terguncang.

Akibat serangan tajam itu, seluruh sihirnya terlepas secara paksa, dan kesadarannya mulai menjauh.

Tanpa tahu apa yang baru saja menimpanya, Rest jatuh tersungkur dan kehilangan kesadaran.

"Luar biasa..."

Sambil menatap Rest yang terjatuh, sang kepala pelayan mengucapkan kata-kata pujian.

Serangan dengan kecepatan yang bahkan tidak bisa ditangkap oleh mata. Benar-benar seperti teleportasi. Bagi pria tua bernama Dieble—sang kepala pelayan keluarga Marquis Rosemary—sihir High Accelerator adalah kartu as miliknya.

Jika ia tidak menggunakan sihir itu, ia mungkin akan kalah. Meski Rest baru berusia empat belas tahun, ia sudah memiliki kemampuan yang sanggup membuat mantan Penyihir Istana seperti dia mengeluarkan keringat dingin.

"Rest-kun!"

"Tuan Rest!"

Melihat Rest yang terjatuh, saudari Rosemary berteriak pedih dan segera berlari menghampirinya.

Saat mereka memeriksa tubuhnya... meski ada beberapa memar, sepertinya tidak ada luka yang serius.

"Tunggu, Dieble! Kamu melakukannya keterlaluan, tahu!?"

"Benar! Tidak perlu sampai melakukan hal seperti ini, kan!"

Viola dan Primula kompak memarahi sang kepala pelayan.

Menghadapi kemarahan yang luar biasa itu, sang kepala pelayan tidak memberikan alasan apa-apa, ia hanya membungkukkan badannya secara tegak lurus dan menundukkan kepala.

"...Mohon maaf yang sebesar-besarnya, para nona. Saya tidak memiliki kelonggaran untuk bisa menahan diri."

"Tenanglah kalian berdua. Yang barusan terjadi adalah bagian dari latihan tanding. Jangan salahkan Dieble."

Albert menenangkan kedua putrinya.

"Daripada itu... segeralah berikan pengobatan kepadanya."

"Ah...!"

Kedua saudari itu dengan terburu-buru mulai memberikan pengobatan kepada Rest.

Sang kepala pelayan mengangkat kepalanya dan memberikan hormat dengan pandangan mata kepada tuannya yang telah membelanya.

"Tidak masalah. Daripada itu... bagaimana menurut pandanganmu tentang dia?"

"...Saya rasa, pendapat saya sama dengan Tuan."

Kepala pelayan itu menjawab pertanyaan Albert dengan penuh rasa hormat.

"Pemuda itu... Tuan Rest tampaknya memiliki kemampuan yang sangat layak untuk mendapatkan dukungan dari keluarga Marquis Rosemary. Aku sendiri yang menjamin hal itu."

"Begitu ya... Kau benar..."

Albert pun memikirkan hal yang sama. Sebagai seorang penyihir, Rest memiliki kemampuan teknis dan jumlah mana yang luar biasa di luar kewajaran usianya.

Meski mungkin masih kurang pengalaman dan pengetahuan... Albert merasakan potensi yang suatu saat nanti bahkan bisa melampaui dirinya sendiri, sang Kepala Penyihir Istana.

"Pemuda itu pasti akan menjadi penyihir agung yang namanya tercatat dalam sejarah... Dia sangat layak ditarik ke dalam keluarga kita, bahkan meski harus menjadikannya pendamping salah satu nona muda."

"............"

Kepala pelayan itu berbisik pelan agar tidak terdengar oleh kedua saudari tersebut. Itulah yang sedang dipikirkan Albert—hal yang mau tidak mau melintasi benaknya.

Keluarga Marquis Rosemary hanya memiliki dua orang putri dan tidak memiliki anak laki-laki. Kelak, salah satu dari mereka harus mengambil menantu untuk meneruskan garis keturunan.

Sebagai keluarga penyihir ternama, pria yang menjadi menantu keluarga Marquis Rosemary haruslah seorang penyihir yang hebat. Itu adalah syarat mutlak.

Karena itulah ia memberikan kesempatan interaksi dengan Cedric yang sempat dirumorkan sebagai penyihir jenius.

(Pemuda ini... Rest-kun, akan sangat sempurna. Tapi...)

Rest kuat. Meski masih ada bagian yang kasar, ia pasti akan menjadi penyihir besar jika terus menimba pengalaman. Albert berani menjamin bahwa Rest adalah orang yang harus ia tarik ke dalam keluarganya.

Namun... di balik pemikiran logis itu, ada sisi hatinya sebagai seorang ayah yang sulit untuk menerima.

"Tidak apa-apa, Rest-kun. Aku akan segera merapalkan sihir penyembuhan untukmu!"

"Kami ada di sini. Tenang saja, Tuan Rest...!"

Viola dan Primula. Kedua putri kesayangan Albert itu menempel erat pada Rest yang pingsan dan memberikan perawatan dengan penuh dedikasi.

Bukan hanya salah satu dari mereka... sangat jelas terlihat bahwa keduanya menaruh hati pada Rest.

(Menjadikannya menantu... yah, boleh saja. Tapi, jangan-jangan kedua putriku akan diambil olehnya sekaligus...?)

Sifat Viola dan Primula memang bertolak belakang, namun secara prinsip mereka sangat mirip dengan istri Albert... sang Marquis Rosemary.

Kepribadian mereka sangat keras kepala jika menyangkut hal yang mereka anggap penting.

Jika keduanya sudah menetapkan Rest sebagai pendamping hidup, mereka pasti akan memaksakan kehendak itu tanpa mau mengalah.

(Rest-kun, aku mengakui bakatmu. Aku berterima kasih karena kau menolong putriku, dan aku akan menuliskan surat rekomendasi ujian masuk akademi. Tapi...!)

"...Aku belum bilang akan menyerahkan kedua putriku kepadamu, tahu!"

Melihat kedua putrinya yang bersandar seolah sedang bersama kekasih tercinta, sang Marquis Rosemary berteriak dalam hati sambil nyaris meneteskan air mata darah.

'Jadilah anak yang lembut, ya.'

Itu adalah kejadian sesaat sebelum perpisahan dengan ibunya tiba. Sang ibu berbaring di tempat tidur, menggenggam erat tangan Rest dan bicara dengan suara yang sangat lemah.

'Jadilah anak yang kuat. Jadilah anak yang tangguh. Jadilah anak yang punya banyak teman. Jadilah anak yang bahagia.'

'Ibu...'

'Maafkan Ibu karena tidak bisa menemanimu sampai dewasa. Terima kasih sudah menjadikanku seorang ibu. Terima kasih sudah terlahir ke dunia ini...'

Rest merasa dialah yang seharusnya berterima kasih. Di kehidupan sebelumnya, Rest tumbuh tanpa kasih sayang orang tua dan mengakhiri hidupnya karena ditikam oleh pria yang seharusnya menjadi ayahnya. Bagi Rest, sepuluh tahun hidup dengan limpahan kasih sayang ibunya adalah hari-hari yang berkilau seperti permata.

Meskipun dia adalah anak yang tidak diinginkan, anak dari pria kejam dan tidak bertanggung jawab itu, Rest hanya memiliki rasa syukur untuk ibu yang telah mencintainya.

Terima kasih sudah melahirkanku.

Terima kasih sudah mencintaiku.

Saat ia membisikkan hal itu... ibunya tersenyum bahagia dan mengembuskan napas terakhirnya dengan raut wajah penuh kedamaian.

'Rest-kun, jangan pernah membenci dunia.'

Seorang pendeta yang ia kenal bicara kepada Rest yang baru saja kehilangan ibunya.

'Mulai sekarang, pasti akan banyak cobaan yang datang padamu. Tapi... itu bukan untuk membuatmu tidak bahagia. Karena Dewi tidak akan memberikan cobaan yang melampaui kemampuan hamba-Nya.'

'............'

'Hiduplah dengan kuat dan lurus. Jangan terjebak dalam kebencian atau dendam. Tolonglah orang lain, dan hiduplah dengan senyuman. Jika kau melakukan itu... pasti akan banyak orang yang berkumpul di sekitarmu. Kau akan segera melupakan rasa kesepian itu.'

Kata-kata pendeta itu setidaknya setengahnya benar. Tak lama kemudian, Rest diambil oleh ayahnya dan berbagai cobaan pun datang. Tidur di kandang kuda, diberi makan sisa... hari-hari yang jauh lebih berat daripada saat ia hidup sebagai rakyat jelata telah menantinya.

Jujur saja, adalah sebuah keajaiban ia bisa hidup tanpa membenci ayah, ibu tiri, maupun Cedric. Jika ia salah melangkah sedikit saja, Rest pasti sudah menjadi iblis pembalas dendam.

Ia pasti akan mengarahkan pedang pembalasan kepada mereka, menganggap hidupnya yang tidak adil ini adalah kesalahan mereka.

(Tapi... itu tidak terjadi.)

Ia berhasil menahan diri di detik-detik terakhir.

Meski ia punya keinginan untuk membuktikan diri kepada ayahnya, mengungguli ibu tirinya, dan melampaui Cedric jauh ke depan, ia tidak punya keinginan sampai ingin membunuh mereka.

Mungkin karena jika ia melakukannya, ibu dan Pak Pendeta akan merasa sedih.

Agar tidak membuat orang-orang yang berharga baginya kecewa, dan agar ia bisa dengan bangga mengatakan bahwa cinta mereka kepadanya tidaklah salah.

Rest memutuskan untuk membuka jalan hidupnya sendiri dengan cara yang lurus.

"............ Ah?"

"Kau sudah sadar ya, Rest-kun!"

"Tuan Rest, apakah ada bagian yang sakit?"

Rasanya ia baru saja memimpikan hal yang sangat ia rindukan. Saat Rest membuka mata, ia melihat langit-langit yang asing, dan kedua tangannya digenggam oleh para gadis.

"Anu... aku ini sebenarnya...?"

Yang sedang menatap wajah Rest dengan cemas adalah saudari dari keluarga Marquis Rosemary. Saat ia memanggil nama mereka, Viola dan Primula tersenyum sambil meneteskan air mata di sudut mata mereka.

"Maafkan kami, Rest-kun... sepertinya kepala pelayan kami melakukannya terlalu berlebihan..."

"Padahal kami mengundangmu ke rumah untuk berterima kasih, tapi malah jadi begini... benar-benar maafkan kami..."

"...Tidak apa-apa, kok. Aku juga belajar banyak darinya."

Rest melepaskan tangan mereka dan bangkit duduk. Tidak ada bagian yang sakit. Tidak ada luka yang berarti. Mungkin saat ia tidur, keduanya sudah merapalkan sihir penyembuhan.

"Aku akan menegur Ayah dan Dieble habis-habisan nanti! Aku tidak akan memaafkan mereka berdua!"

"...Aku tidak akan memaafkan mereka."

Wajah Viola yang membara seperti iblis dalam amarah yang meledak-ledak, dan wajah Primula yang sedingin penyihir dari negeri kutub. Rest bergidik ngeri melihat ekspresi murka dari si kembar yang wajahnya sangat mirip itu.

"T-tidak, sungguh aku tidak apa-apa? Sama sekali tidak ada yang sakit... dan aku serius soal belajar banyak dari pertempuran tadi."

Faktanya, pertarungan melawan kepala pelayan keluarga Marquis Rosemary memberinya banyak pelajaran tentang kekurangannya.

Kurangnya pengalaman bertarung antarmanusia dan teknik bela diri yang masih rendah adalah poin-poin yang harus ia perbaiki ke depannya.

"Tapi... sepertinya aku kalah, ya. Kalau begini, apa aku tetap dapat surat rekomendasi?"

"Apa yang kau katakan? Tentu saja dapat!"

"Eh?"

"Aku akan memaksa Ayah menulisnya. Kepala pelayan itu... Dieble, adalah mantan Penyihir Istana, tahu. Sejak awal tidak mungkin kau bisa menang melawannya."

Viola berkacak pinggang dan menegaskan hal itu. Pantas saja dia kuat, ternyata dia adalah penyihir veteran.

"Tuan Rest pasti lulus...!"

Menyambung kata-kata kakaknya, Primula juga menimpali dengan senyum lembut.

"Ayah sudah berjanji akan menuliskan surat rekomendasi. Mulai tahun depan, kita akan menjadi teman sekelas."

"Tentu saja, itu kalau kita semua lulus ujian ya!"

Primula tersenyum untuk menenangkan Rest, dan Viola pun membusungkan dada dengan bangga.

"Begitu ya... terima kasih. Berkat kalian berdua, jalanku sekarang terbuka."

"Wajar saja karena kau sudah menyelamatkan nyawa kami. Lalu... ujian praktik sihir pasti kau akan lulus dengan mudah, tapi apakah kau sudah belajar untuk ujian tertulisnya?"

"Ah—sepertinya belum..."

"Kalau begitu, aku akan meminjamkan buku referensi kami."

"Anu... apa tidak apa-apa? Aku jadi merepotkan kalian."

"Tentu saja boleh. Benar kan, Primula?"

"Benar sekali. Malahan, bagaimana kalau Tuan Rest tinggal saja di rumah ini? Kalau begitu, kami bisa mengajarimu bagian-bagian yang tidak kau mengerti saat belajar."

"Wah, bagus itu! Ide yang sangat cemerlang!"

Viola menjentikkan jarinya menyetujui usul Primula. Rest merasa pembicaraan ini mulai mengarah ke tujuan yang luar biasa merepotkan, sehingga ia buru-buru menyela.

"Tunggu, tunggu! Bagaimanapun juga aku tidak bisa sampai dirawat seperti itu! Di rumah yang ada gadis seumuran kalian, itu..."

"Lho, memangnya kenapa?"

"Kenapa katamu..."

"Ada Ayah juga di sini, dan meskipun sekarang sedang pergi, Ibu juga akan segera pulang. Kepala pelayan dan para pelayan juga tinggal di sini... tidak perlu mencemaskan hal seperti itu!"

"Benar, akan jauh lebih menyenangkan kalau Tuan Rest ada bersama kami. Sangat tidak praktis kalau kami harus repot-repot membawa buku referensi ke kediaman Viscount Kehormatan Evern."

Viola dan Primula bicara dengan nada yang sangat kuat, menutup semua jalan keluar bagi Rest.

"Rest-kun tidak diperlakukan dengan baik di sana karena statusmu sebagai anak haram, kan? Kalau begitu, aku rasa Viscount Kehormatan Evern pun tidak akan menolak."

"Aku juga tidak mau pergi ke rumah itu untuk menemuimu. Di sana ada orang yang menjijikkan."

"Benar, aku ogah bertemu lagi dengan orang itu. Membayangkannya saja sudah membuatku merinding!"

Orang menjijikkan yang dimaksud pasti adalah Cedric. Dia benar-benar dianggap seperti hama dan sudah dibenci sepenuhnya oleh kedua saudari itu.

"Ba-baiklah... kalau Marquis mengizinkan, aku akan ikut menumpang di sini..."

Akhirnya, karena terdesak oleh kedua saudari tersebut, Rest menyetujui usulan mereka. Bisa dibilang ia menyerahkan seluruh urusan membujuk sang Marquis kepada mereka.

"Sudah diputuskan! Kalau begitu, aku harus bicara pada Ayah!"

"Persiapan kamar juga harus dilakukan! Ah, sepertinya akan jadi sangat sibuk!"

Viola dan Primula seolah berlomba lari keluar dari kamar. Rest yang ditinggalkan sendirian hanya bisa menatap pintu kamar dengan terpana, merasakan betapa hidupnya telah berubah drastis hanya dalam satu hari saja.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close