Chapter 3
Undangan dari Keluarga Marquis
Beberapa hari
setelah pertemuan dengan saudari Rosemary di hutan.
Pagi-pagi sekali,
Rest dipanggil ke ruang kerja ayahnya, sebuah kejadian yang sangat jarang
terjadi.
"Hei... Apa
maksudnya ini, dasar si cacat?"
Baru saja masuk,
kata-kata cacian langsung menghujani Rest sebagai kalimat pembuka.
"Apa yang
Ayah bicarakan?"
"Ada surat
undangan dari keluarga Marquis Rosemary. Bukan untukku atau Cedric, tapi
untukmu."
Sang ayah, Lucas
Evern, bicara dengan ketidaksenangan yang terpampang jelas di wajahnya.
"Katanya itu
keinginan kuat dari putri-putri beliau... Memangnya di mana kau bertemu mereka?
Jangan-jangan kau sudah membocorkan asal-usulmu kepada mereka?"
"...Aku
hanya bicara sebentar dengan mereka di taman saat para nona itu berkunjung ke
sini. Percakapan kami pun hanya basa-basi biasa, kok?"
"............"
Ketika Rest
menjawab dengan wajah tanpa dosa, Lucas melontarkan tatapan penuh kecurigaan.
Lucas sempat
melotot kesal sesaat... sebelum akhirnya mendecak keras dengan lidahnya.
"Orang
rendahan sepertimu menerima undangan keluarga Marquis itu seharusnya mustahil.
Tapi, undangan dari keluarga Marquis tidak mungkin bisa ditolak. Bahkan jika
kecelakaan kemarin tidak terjadi sekalipun."
"Begitu
ya."
"Benar-benar,
kenapa orang sepertimu yang berdarah rakyat jelata dan 'tanpa mana'
bisa..."
Lucas terus
menggerutu pelan, namun Rest tidak peduli. Ia hanya berharap ayahnya berhenti
melampiaskan kekesalan padanya.
"Ya sudahlah... Ingat, jangan sampai tidak sopan kepada
Marquis Rosemary. Meski harus
menjilat sepatunya sekalipun, kau harus menjilat mereka dan meminta maaf atas
kegagalan Cedric."
Setelah itu, Rest
pun bersiap-siap sesuai instruksi ayahnya. Ia mandi untuk pertama kalinya sejak
datang ke kediaman ini, dan dipakaikan pakaian berkualitas tinggi yang belum
pernah ia kenakan sebelumnya.
Ini adalah
perlakuan yang sulit dipercaya bagi anak yang selama ini tinggal di kandang
kuda. Entah karena ayahnya merasa sangat berutang budi kepada sang Marquis,
atau dia ingin menutupi fakta bahwa dia telah menindas Rest selama ini.
"Kalau
dilihat-lihat begini, aku tidak buruk juga, ya. Sudah seperti tuan muda
bangsawan saja."
Rest tertawa
kecut melihat bayangannya sendiri di cermin.
Bukannya
"seperti", dia memang terlahir sebagai bangsawan, tapi ia sudah
terlalu terbiasa dengan bau kuda sampai-sampai melupakan hal itu.
Setelah persiapan
selesai, ia dinaikkan ke kereta kuda keluarga Viscount Kehormatan Evern menuju
kediaman keluarga Marquis Rosemary. Ayah dan kakaknya tidak ikut... mungkin
surat undangannya memang tertulis "jangan datang".
(Apa mereka
mengerti karena aku minta agar ayah dan kakakku tidak usah diberitahu, ya?)
Kereta kuda
melaju beberapa saat, hingga akhirnya tiba di rumah kota milik keluarga Marquis
Rosemary.
"Kita sudah
sampai. Hati-hati, ya."
"Ya, terima
kasih banyak."
Rest berterima
kasih kepada kusir yang ia kenal, lalu turun dari kereta.
Di
hadapannya berdiri sebuah kediaman yang sangat besar. Benar-benar tidak bisa
dibandingkan dengan kediaman keluarga Viscount Kehormatan Evern.
Ini
adalah perbedaan nyata antara keluarga Evern yang hanya menyandang gelar
kehormatan, dengan keluarga bangsawan agung yang memiliki wilayah kekuasaan
sendiri.
"Selamat
datang, Rest-kun!"
"Selamat
datang, Tuan Rest!"
Begitu
turun dari kereta, dua gadis berlari menghampirinya.
Gadis-gadis
cantik dengan rambut emas dan perak yang panjang... Viola dan Primula. Mereka
adalah saudari dari keluarga Marquis Rosemary yang ia selamatkan di hutan.
"Kami
sudah menunggumu, terima kasih ya sudah menyempatkan datang hari ini! Aku
senang bisa bertemu denganmu lagi!"
"Seharusnya
kami yang datang berkunjung untuk berterima kasih, mohon maaf ya. Aku akan segera menyiapkan teh
untukmu!"
"Eh, ee!?
Tu-tunggu sebentar...!"
Viola dan Primula
masing-masing menggandeng lengan Rest dan menyeretnya masuk ke arah kediaman.
Saat ia menoleh
dengan panik, si kusir yang merupakan pelayan keluarga Evern tampak melongo
kaget.
Meski sempat
tertegun, kusir itu segera membuang muka dari Rest dan kawan-kawan. Ia
berpura-pura bersiul seolah tidak melihat apa-apa.
(Aku mengerti
perasaannya. Hal seperti ini mana mungkin bisa dilaporkan kepada ayahku itu.)
"Kalau
begitu, ayo kita pergi."
Ditarik oleh
keduanya, mereka melangkah mantap menyusuri taman kediaman.
Meski kedua
lengannya digandeng oleh dua gadis cantik, kepala Rest hanya dipenuhi oleh
kebingungan.
(A-aneh... Memangnya aku pernah melakukan sesuatu sampai
disukai mereka seperti ini?)
Ia memang menyelamatkan nyawa mereka... tapi penyebab
masalahnya adalah kakak tirinya, Cedric.
Ia merasa hanya
membereskan kekacauan keluarga saja, tapi kenapa reaksi mereka bisa sepositif
ini.
"Kami sudah
menyiapkan teh di taman. Ayo lewat sini."
"Ada kue
yang enak juga lho. Silakan."
Rest dibawa
menuju sebuah meja yang diletakkan di tengah taman.
Di taman yang
luas itu, bunga-bunga musim bermekaran dengan warna-warni cerah yang memanjakan
mata.
"Silakan
duduk di meja ini."
Atas
arahan Primula, ia duduk di meja bundar tersebut.
Kedua
saudari itu duduk di sisi kiri dan kanannya, sementara pelayan yang bersiap
segera menyajikan teh dan kue dengan cekatan.
"Pelayan di
rumah kami sangat ahli menyeduh teh. Kue ini juga dibuat oleh koki kami dengan
segenap kemampuannya."
"Ini adalah
favorit aku dan Kakak. Semoga saja rasanya cocok dengan selera Tuan
Rest..."
"A-aku makan
ya..."
Sambil merasa
bingung karena jarak mereka yang sangat dekat, ia mengangkat cangkir tehnya.
Aroma teh
yang harum semerbak. Bahkan orang awam pun tahu kalau ini adalah barang mewah.
Termasuk
di kehidupan sebelumnya, ia merasa belum pernah mencium aroma teh yang seharum
ini.
"Hm..."
Ia
menyeruputnya dan membiarkan cairan itu mengalir di dalam mulut sembari
berusaha merasakannya.
Jujur
saja, ia tidak tahu apakah ini enak atau tidak. Mungkin karena ia tidak terbiasa minum teh.
"Bagaimana menurutmu?"
"............"
Primula bertanya dengan nada cemas. Viola juga menatapnya dengan lekat.
Ia tidak tahu
reaksi apa yang benar... tapi ia memutuskan untuk jujur.
"Aku tidak
tahu karena jarang minum teh... tapi setidaknya, aku tidak benci ini."
Setelah
mengatakan itu... ia baru sadar dan merasa cemas apakah gaya bicara santainya
tadi sudah benar.
Lawan bicaranya
adalah putri keluarga Marquis. Bukankah lebih baik bicara dengan bahasa formal?
"Begitu
ya... syukurlah..."
"Coba makan
kue ini juga. Pasti enak."
Namun, kedua
saudari itu tampak tidak keberatan dan justru menawarkan kue. Itu adalah kue shortcake
dengan krim yang melimpah. Stroberi yang ada di atasnya berwarna merah cerah
dan sangat menggoda.
Glek...
Sudah berapa
tahun ya ia tidak makan kue.
Setidaknya, ini
adalah yang pertama kalinya sejak ia bereinkarnasi ke dunia ini.
(Di kehidupan
sebelumnya pun aku jarang sekali bisa makan kue. Orang tuaku tidak pernah
membelikannya, paling aku hanya membelinya di minimarket menggunakan uang hasil
kerja sampingan saat ulang tahun saja...)
"A-aku makan
ya..."
Sambil menahan
air mata agar tidak tumpah, Rest memakan satu suap kue tersebut.
"E-enak
banget...!?"
Dan kemudian...
ia nyaris pingsan karena rasa manis dan asam yang menyebar di lidahnya.
Kue itu luar
biasa lezat. Rasa manis krim dan asamnya stroberi berpadu sempurna, namun tidak
terasa berlebihan dan menciptakan harmoni yang membuat tidak bosan. Entah
berapa banyak tenaga dan waktu yang dihabiskan untuk menciptakan makanan manis
yang seperti karya seni ini.
"Sepertinya
dia menyukainya ya, Kak."
"Benar,
syukurlah."
Nyam nyam, hap
hap... nyam nyam!
Rest makan dengan
lahap, seolah terpikat oleh kue di hadapannya. Ia tidak peduli lagi bahwa
dirinya sedang diperhatikan oleh dua orang di sisi kiri dan kanannya. Seluruh
saraf di tubuhnya terfokus pada kue itu.
Dan setelah
menghabiskan kue tersebut tanpa sisa sedikit pun, ia akhirnya sadar bahwa cara
makannya sangat tidak sopan.
"Ma-maaf...
tidak sengaja...!"
"Tidak
apa-apa kok, jangan dipikirkan."
"Tadi lucu
sekali, lho. Seperti anak kecil saja."
"............"
Melihat keduanya
yang tampak merasa gemas, wajah Rest justru memerah padam.
Ia kehilangan
kendali diri gara-gara kue pertama di kehidupan keduanya. Benar-benar sangat
memalukan.
Melihat Rest yang
seperti itu, Viola menyodorkan piring kuenya sendiri.
"Ini, kue
punyaku juga buat kamu saja. Silakan dimakan."
"E-eh... Kalau itu rasanya agak..."
"Punya aku
juga silakan dimakan. Jangan sungkan, ya."
Menyusul Viola,
Primula pun menyerahkan piringnya. Apa ia terlihat begitu menyedihkan karena
makan dengan sangat lahap tadi?
"Ho...
Sepertinya kalian sedang bersenang-senang, ya."
Namun, di
sana terdengar suara orang ketiga. Orang yang menyapa dengan nada suara yang
sangat berat dan dingin itu adalah seorang pria paruh baya yang entah sejak
kapan sudah berada di taman.
Pria itu
adalah seorang pria terhormat dengan rambut perak yang tertata rapi dan aura
yang cerdas. Ia mengenakan setelan jas yang terlihat berkualitas sangat baik,
dan memancarkan aura "keagungan" dari sekujur tubuhnya.
"Bolehkah
aku bergabung bersama kalian?"
"A-Anda
adalah...?"
"Ah,
maaf aku terlambat memperkenalkan diri. Aku adalah pemilik rumah ini, dan ayah
dari gadis-gadis yang ada di sampingmu... Albert Rosemary."
Marquis
Albert Rosemary.
Seorang
bangsawan agung yang menjabat sebagai Kepala Penyihir Istana, sekaligus Tameng
Raja yang setara dengan Komandan Ksatria Pengawal.
Dia
adalah atasan dari ayah Rest yang selalu bersikap sok berkuasa, dan merupakan
sosok yang tidak akan pernah bisa ditentang oleh ayahnya.
"Aku
senang melihat kalian akrab dengan putriku... Ah, sepertinya memang benar-benar
akrab, ya."
"Ah..."
Wajah Rest langsung memucat.
Suara Albert terdengar dingin mungkin karena Rest sedang
dikelilingi oleh kedua putri cantiknya. Putri-putrinya sedang bersandar dengan
akrab pada seorang laki-laki. Sebagai ayah, perasaan beliau pasti tidak sedang
baik-baik saja.
"Namamu Rest-kun, ya. Padahal baru saja bertemu, tapi
kau sepertinya sudah sangat akrab dengan putriku."
"M-mohon maaf! Saya telah lancang!"
Rest terburu-buru berdiri dan menundukkan kepalanya.
Ia tidak tahu
kenapa harus minta maaf... tapi mengikuti alur, ia tidak punya pilihan lain
selain meminta maaf.
"Tunggu, Ayah... Jangan salahkan Rest-kun!"
"Jangan menindas Tuan Rest...!"
"Ugh... T-tidak, Ayah tidak bermaksud menindasnya,
kok..."
Namun, kedua saudari itu justru membela Rest.
Albert yang
diprotes oleh putri-putrinya tampak jelas sekali menciut. Sepertinya bagi sosok
yang merupakan Kepala Penyihir Istana dan seorang Marquis ini, kedua putrinya
adalah kelemahan mutlaknya.
"Ah—angkatlah
kepalamu. Hari ini aku mengundangmu untuk berterima kasih karena telah
menyelamatkan putriku. Aku benar-benar berterima kasih karena kau telah
menolong putriku di saat bahaya."
"T-tidak,
tidak perlu! Justru saya yang harus minta maaf atas kesalahan kakak saya!"
"Kau tidak
perlu minta maaf. Mengenai kejadian di hutan itu, bagaimanapun juga kau sama
sekali tidak bersalah."
Begitu Albert
duduk di kursi yang kosong, pelayan segera menyeduhkan teh untuk tuannya.
"Viscount
Kehormatan Evern memintaku untuk mempertemukan anak-anak kami karena tahun
depan mereka akan mengikuti ujian masuk akademi yang sama. Aku mendengar Cedric
Evern memiliki bakat sihir yang cukup bagus jadi aku meluangkan waktu, tapi aku
tidak menyangka mereka akan dibawa ke hutan tanpa pengawal. Evern memang
penyihir istana yang hebat, tapi sepertinya matanya menjadi buta jika
menyangkut putranya. Gara-gara itu aku hampir kehilangan putri-putriku
tercinta."
"............"
"Meski tidak
seberapa, ini adalah tanda terima kasih. Terimalah."
Saat Albert
mengangkat tangannya, seorang kepala pelayan tua berkacamata melangkah maju.
Kepala pelayan
itu meletakkan sebuah bungkusan kain yang tampak berisi sangat padat di atas
meja.
"Ini
adalah..."
"Isinya
sekitar lima puluh koin emas besar. Nilainya terlalu murah jika dibandingkan
dengan nyawa putriku."
"Koin emas
besar, apalagi sampai lima puluh keping..."
Rest tanpa sadar
menelan ludah.
Nilai satu koin
emas besar setara dengan sekitar satu juta yen (sekitar 100 juta rupiah).
Artinya, di dalam kantong ini terdapat uang senilai lima puluh juta yen
(sekitar 5 miliar rupiah).
"...Saya
tidak bisa menerimanya, uang sebanyak ini."
Sambil
menahan diri agar tangannya tidak refleks mengambilnya, Rest menjauhkan kantong
berisi uang tersebut.
"Saya
menolong para nona murni hanya karena ingin membereskan kekacauan kakak saya
yang bodoh. Saya melakukannya
bukan karena menginginkan imbalan. Saya tidak punya hak untuk menerima
ini."
Jujur saja, ia
ingin uang itu. Mengingat ia akan dewasa dan hidup mandiri tahun depan,
sebanyak apa pun uang tidak akan pernah cukup.
Tapi tetap saja,
lima puluh koin emas besar itu terlalu banyak. Di dunia ini tidak ada
yang namanya bank. Ia tidak mungkin membawa-bawa uang sebanyak ini, dan tidak
mungkin menyimpannya di kandang kuda.
"Hmm... kau tidak serakah, ya. Tapi, aku juga akan merasa kesulitan jika kau
tidak menerimanya."
Albert
mengelus kantong di atas meja dengan telapak tangannya, sambil memperdalam
senyum di bibirnya.
"Jika
aku tidak bisa membalas budi kepada penyelamat nyawa putriku, nama keluarga
Marquis akan jatuh. Jika kau tidak butuh uang, apakah ada hal lain yang bisa
aku penuhi? Anggap saja ini
demi menjaga martabatku, katakan saja jangan sungkan."
"Begitu
ya..."
Begitu masalah
martabat disinggung, ia tidak bisa menolak lagi. Sambil memutar otak memikirkan
permintaan yang pantas, Rest teringat satu hal yang memang ia butuhkan.
"Anu...
kalau begitu, ada satu hal yang ingin saya minta..."
Setelah terdiam
sesaat, Rest mengutarakan benda yang sudah sejak lama ia inginkan.
"Bisakah
Anda menuliskan surat rekomendasi untuk Akademi Sihir Kerajaan? Saya berencana
mengikuti ujian melalui jalur rakyat jelata tahun depan."
"Hmm? Tentu
saja, aku tidak keberatan menuliskan surat rekomendasi, tapi... lewat jalur
rakyat jelata?"
"Ya, ayah saya membenci saya. Karena saya tidak diakui
sebagai anggota keluarga Viscount Kehormatan Evern, saya tidak bisa mengikuti
ujian melalui jalur bangsawan."
"Hmm...
sepertinya ada masalah keluarga, ya. Bolehkah aku mendengar alasannya?"
"Baik..."
Rest menjelaskan
posisinya secara singkat.
"Menindas
anak haram yang lahir dari seorang pelayan... begitu ya, cerita yang sangat
mirip dengan pria itu."
Mendengar
hal itu, Albert mengerutkan dahi dan mengetukkan jarinya ke meja dengan kesal.
"Evern
hanyalah bangsawan dadakan yang hanya memiliki jabatan tanpa wilayah kekuasaan.
Sepertinya dia merasa minder dengan hal itu, sehingga dia sangat terobsesi
dengan otoritas dan kedudukan. Alasan dia mencoba mendekatkan putranya dengan
putri-putriku pun pasti karena itu."
Albert
bicara dengan nada jijik, lalu menoleh kembali ke arah Rest.
"Aku
mengerti situasinya. Mengenai surat rekomendasi Akademi Kerajaan itu..."
"Tolong
tuliskan (untuknya)!"
"...Putri-putriku
juga bilang begitu, jadi akan aku tuliskan."
Albert
menyanggupi untuk menulis surat rekomendasi meski dengan ekspresi yang sedikit
rumit.
"Terima
kasih banyak... ini sangat membantu!"
Dengan ini syarat
minimal untuk masuk akademi sudah terpenuhi.
Ia masih harus
lulus ujian masuk, tapi setidaknya ia sudah berhasil berdiri di garis awal.
"Tapi...
sebelum aku menuliskan surat rekomendasi, aku ingin menguji kekuatanmu terlebih
dahulu."
"Eh?"
"Menguji... Ayah, apa yang Ayah bicarakan sih!"
"Benar
sekali! Dia kan penyelamat kami!?"
"Tentu saja
aku ingin berterima kasih. Tapi... memberikan surat rekomendasi berarti
keluarga Marquis Rosemary akan menjadi pelindung di belakangnya."
Meski tadi sempat
menciut karena dimarahi putrinya, Albert kali ini menegaskan dengan nada bicara
yang jelas dan tidak mau mengalah.
"Jika aku
merekomendasikan seseorang yang tidak memiliki kemampuan yang sepadan, wibawa
keluarga kita akan tercoreng. Aku juga memiliki posisi sebagai Kepala Penyihir
Istana. Aku tidak bisa memberikan rekomendasi tanpa memastikan kemampuannya
terlebih dahulu."
"...Saya
mengerti. Apa yang harus saya lakukan?"
Rest menerima
usulan itu. Apa yang dikatakan Albert masuk akal. Ia tidak punya alasan untuk
menolak.
"Sederhana
saja... aku ingin kau bertarung dengan pria ini."
Begitu Albert
bertepuk tangan pelan, kepala pelayan tadi melangkah maju.
"Dia adalah
bawahan kepercayaanku, dan pria yang hebat sebagai penyihir. Aku ingin kau
bertarung melawannya."
"Bertarung...
maksud Anda?"
"Tentu saja
ini bukan pertarungan sampai mati, melainkan latihan tanding. Kau tidak perlu
menang secara paksa. Cukup tunjukkan padaku bahwa kau memiliki kekuatan yang
layak untuk direkomendasikan oleh keluarga ini."
"Saya
mengerti... mohon izinkan saya melakukannya!"
Jika hanya dengan
begitu ia bisa mendapatkan surat rekomendasi dan mengambil langkah pertama
menuju kejayaan, maka itu adalah harga yang murah.
Kepala pelayan
dari Marquis Rosemary yang merupakan pemimpin para penyihir istana.
Kemampuannya pasti luar biasa, dan ini akan menjadi pengalaman berharga dalam
pertempuran antarmanusia.
(Karena aku belum
pernah bertarung melawan siapapun selain monster... jika aku bisa mendapatkan
pengalaman bertarung melawan manusia, ini adalah kesempatan bagus!)
Rest
justru dengan senang hati menerima tawaran sang Marquis.
◇
Pindah dari taman
menuju area latihan di dalam area kediaman Marquis.
Di tempat yang
biasa digunakan para prajurit penjaga dan penyihir untuk berlatih, Rest dan
sang kepala pelayan berdiri berhadapan.
Di tempat yang
agak jauh, ayah dan putri dari keluarga Marquis Rosemary memperhatikan mereka
berdua.
"Ayah! Apa
maksudnya ini!?"
"Ayah
jahat...!"
Viola dan Primula
mendesak ayah mereka.
Sepertinya mereka
sangat marah karena ayahnya memberikan tugas yang sulit kepada pemuda
penyelamat nyawa mereka.
"Kenapa Ayah
berbuat usil kepada Rest-kun! Tergantung jawaban Ayah, aku tidak akan
memaafkanmu lho!"
"Aku tidak
akan memaafkan... meskipun itu Ayah sendiri...!"
"Te-tenanglah
kalian berdua!"
Karena didesak
oleh kedua putri tercintanya, Albert yang menganggap dirinya adalah ayah yang
dipercaya oleh putrinya segera menjelaskan kembali.
"Ayah sudah
menjelaskan alasannya, kan!? Sebagai kepala keluarga Marquis, bagaimanapun juga
aku harus memastikan kekuatannya!"
Albert berusaha
keras membela diri di hadapan putri-putrinya yang menunjukkan wajah marah yang
belum pernah ia lihat sebelumnya.
Bagi
Albert sendiri, ia tidak bermaksud berbuat usil dengan mengadakan latihan
tanding ini.
Pada
dasarnya, Akademi Kerajaan adalah lembaga untuk mendidik sumber daya manusia
yang akan terlibat dalam pengelolaan negara, seperti anggota keluarga kerajaan,
bangsawan, ksatria, dan pejabat.
Saat
akademi baru didirikan rakyat jelata tidak bisa masuk, namun kemudian pintu
dibuka lebar-lebar bagi rakyat jelata asalkan memiliki rekomendasi dari orang
berpengaruh.
Jika
menerima rekomendasi dari seorang bangsawan, orang tersebut akan dianggap oleh
sekeliling sebagai orang dari "Keluarga" bangsawan yang
merekomendasikannya. Faktanya, saat Albert masih sekolah dulu, ia juga
memberikan surat rekomendasi kepada bawahan yang seumuran dengannya agar bisa
masuk sebagai pengawal pribadi.
"Ini bukan
masalah perasaan. Jika ia menerima rekomendasi dari keluarga ini, ia harus
menunjukkan bahwa ia memiliki kekuatan yang pantas. Ini adalah syarat
mutlak!"
Sama sekali bukan
karena mencampuradukkan masalah pribadi. Sama sekali bukan karena ia merasa
cemburu melihat kedua putrinya begitu menyukai Rest sehingga ia ingin
menjahilinya.
"Tapi...!"
"Tetap
saja...!"
"Ayah tidak
bilang kalau Ayah tidak akan menulis surat rekomendasi jika ia tidak menang,
kan!? Ayah hanya ingin jaminan bahwa ia pasti bisa masuk ke akademi! Jika orang
yang direkomendasikan keluarga Marquis Rosemary gagal ujian, wibawa keluarga
kita akan hancur!"
Albert terus
meyakinkan putri-putrinya yang tampak tidak puas dengan nada bicara yang kuat.
"Lagi pula,
kepala pelayan itu adalah salah satu ahli terbaik di antara bawahan keluarga
kita. Dia adalah mantan Penyihir Istana yang sekarang mengabdi di rumah ini
setelah pensiun. Biarpun ia bisa menggunakan sihir dengan cukup baik, tidak
mungkin ia bisa menang melawan seorang anak kecil."
Ia tidak menyuruh
Rest untuk jangan kalah.
Asalkan Rest bisa
memberikan perlawanan yang baik, Albert pasti akan dengan senang hati
merekomendasikannya.
"Jika ia
memang punya kekuatan untuk mengusir White Fenrir, maka tidak ada yang perlu
dikhawatirkan. Pasti akan memberikan hasil yang sepadan..."
Di tengah
ucapannya, terdengar suara dentuman keras.
Albert dan
saudari Rosemary yang terkejut menolehkan pandangan... dan mereka melihat
kepala pelayan kepercayaan mereka sedang terguling di tanah.
"Gkh... ugh..."
"Apakah ini berarti saya pemenangnya?"
"Belum... saya... belum kalah. Saya tidak bisa
menunjukkan penampilan memalukan di depan tuan saya."
"Kalau
begitu, mari kita lanjutkan."
"Ya, saya
datang...!"
Sang kepala
pelayan menerjang dengan penuh semangat, dan Rest menyambut serangan itu.
Ayah dan putri
keluarga Rosemary menatap pertempuran keduanya yang semakin sengit dengan wajah
terpana.
"Mustahil...
Dieble sampai kesulitan begitu, sebenarnya siapa pemuda itu!?"
"Ternyata
dia memang kuat...!"
"Tuan Rest
hebat sekali...!"
Keluarga Rosemary
hanya bisa tertegun melihat pertempuran hebat yang dilakoni keduanya.
Rest menjejakkan
kakinya ke tanah. Sambil meningkatkan kekuatan dan kecepatannya menggunakan
sihir Physical Up, ia melompat ke segala arah untuk mengecoh lawannya.
Sejak dibawa ke
rumah keluarga Viscount Kehormatan di usia sepuluh tahun, ia sudah berkali-kali
masuk ke hutan dan bertarung melawan monster.
Physical Up adalah salah satu sihir yang paling
sering ia gunakan. Bagi Rest, tidak berlebihan jika ia menyebut sihir ini
sebagai keahlian khususnya.
(Orang ini... kuat sekali...!)
Sambil bertarung melawan kepala pelayan keluarga Marquis
Rosemary, dalam hati Rest merasa sangat kagum.
Belum sampai tiga menit sejak pertarungan dimulai.
Ia memang berhasil mendaratkan serangan pertama dan
mempental lawannya... namun menurutnya itu hanyalah sebuah serangan
keberuntungan yang terjadi karena lawannya sedang lengah.
Faktanya, setelah itu serangannya tidak ada yang kena
biarpun ia menyerang dengan cara yang sama. Lawannya sepertinya sudah mulai
serius.
"Peningkatan fisik yang luar biasa... tidak kusangka
pemuda yang belum genap dua puluh tahun bisa menggunakan sihir dengan akurasi
setinggi ini...!"
Sambil menangkis
tinju Rest, sang kepala pelayan memberikan kata-kata pujian.
Meski usianya
pasti sudah di atas enam puluh tahun, gerakan kepala pelayan itu sangat tajam
dan gesit. Ia bergerak dengan kecepatan yang setara atau bahkan lebih dari Rest
yang baru berusia empat belas tahun.
"Sayalah
yang terkejut di sini... padahal saya cukup percaya diri dengan kecepatan saya
lho."
Rest melepaskan
tendangan. Sang kepala pelayan merundukkan tubuhnya untuk menghindari tendangan
tinggi yang mengincar kepalanya.
"Saya pun
punya harga diri sebagai prajurit tua. Tuan Rest memiliki jumlah mana yang
sangat besar, dan sepertinya sudah terbiasa menggunakan Physical Up
sehari-hari. Namun... apakah Anda kurang pengalaman dalam pertempuran
antarmanusia?"
"...Bagaimana
Anda bisa tahu?"
"Serangan
Anda sangat jujur dan besar-besaran tanpa ada tipuan. Itu adalah bukti bahwa
Anda tidak pernah mempelajari ilmu bela diri resmi, dan hanya bertarung melawan
monster."
"............"
Ucapannya tepat
mengenai sasaran. Pertarungan mereka memang terlihat Rest yang lebih banyak
menyerang, namun sang kepala pelayan berhasil menepis serangan tersebut dengan
teknik yang luar biasa.
(Sepertinya
benar, aku harus mempelajari ilmu bela diri dengan benar. Si Cedric itu
sepertinya juga tidak pernah latihan khusus sih...)
Sang kepala
pelayan melancarkan serangan tangan pisau yang tajam. Saat Rest refleks melindungi wajahnya, tulang
kering kirinya ditendang dengan tendangan rendah.
"Aduh...!"
Karena
tulang keringnya ditendang dengan keras, Rest tanpa sadar mengerang kesakitan.
"Gerakan
tipuan... begitu ya, jadi seperti ini cara mainnya...!"
"Oh? Anda
tidak apa-apa?"
"T-tidak
masalah...!"
Kakinya terasa
goyah. Ia rasa tidak sampai patah, tapi setidaknya memar.
Tanpa melepaskan
sihir penguatnya, ia secara bersamaan mengaktifkan sihir penyembuhan untuk
mengobati kakinya.
"Oya, Anda cukup terampil ya. Bisa mengaktifkan dua
sihir secara bersamaan?"
"T-tentu
saja saya bisa..."
"Banyak
penyihir muda yang tidak bisa melakukannya lho. Semakin tidak berpengalaman,
biasanya mereka semakin terobsesi untuk menggunakan sihir yang kuat, dan
meremehkan akurasi serta pengaktifan sihir secara bersamaan. Sungguh
menyedihkan melihat anak muda yang mengabaikan dasar-dasar sihir."
"Kalau
begitu... apakah saya boleh melakukan hal seperti ini juga?"
Rest yang sudah
mengobati lukanya mengaktifkan sihir lain. Di telapak tangan Rest muncul
bola petir. Jumlah bola petir itu bertambah menjadi dua, tiga... hingga lima
buah.
"Thunder Ball!"
"Hoho... sihir petir, bahkan bisa mengeluarkan lima
buah sekaligus ya."
"Rasakan
ini!"
Rest menembakkan
bola petir itu ke arah sang kepala pelayan.
Kepala pelayan
itu menghindari tembakan pertama dan kedua... namun ia tidak bisa menghindari
tembakan ketiga dan seterusnya. Rest sengaja menembakkannya dengan posisi dan
waktu yang berbeda agar tidak bisa dihindari.
"Hebat!
Tidak buruk juga!"
Namun... sambil
berteriak memuji, sang kepala pelayan memukul jatuh petir yang tidak bisa
dihindari itu dengan tangan pisaunya.
Ia pasti
menyentuh petir itu namun ia tidak terlihat tersetrum. Jika diperhatikan
baik-baik, lengan kepala pelayan itu dilapisi oleh tanah berwarna cokelat.
"Melapisi
tubuh dengan sihir seperti ini juga sangat efektif dalam pertempuran jarak
dekat, lho?"
"Begitu ya,
ternyata ada cara penggunaan sihir seperti itu. Kalau begitu...!"
Rest kembali
menyerang dengan petir.
Petirnya memang
berhasil ditangkis seperti tadi, namun ia memanfaatkan celah itu untuk
menerjang ke arah sang kepala pelayan.
"Hiaaa!"
"Ooo!?"
Sang kepala
pelayan mengeluarkan suara terkejut.
Lengan Rest kini
dilapisi oleh tanah yang dibuat meruncing seperti pedang. Itu adalah tiruan
dari sihir yang baru saja diperlihatkan sang kepala pelayan.
"Mohon maaf. Ternyata Anda sudah menguasai Earth
Wear, ya."
"Aku baru
saja mempelajarinya barusan!"
Kedua lengan yang
dipersenjatai tanah itu saling beradu.
Suara benturan
benda keras seperti batu yang saling menghantam terdengar berkali-kali secara
terus-menerus.
"Ugh...!"
Setelah beradu
beberapa kali, tinju sang kepala pelayan mendarat di bahu Rest.
Sepertinya
ia memang berada di posisi yang tidak menguntungkan dalam adu pukul. Teknik
bertarungnya jauh tertinggal.
"Kalau
begitu... bagaimana dengan ini!"
Bola
petir muncul di sekeliling Rest. Bersamaan dengan ia menembakkan petir itu, ia
menerjang dengan kedua tangan yang dilapisi pelindung tanah. Tentu saja,
Physical Up masih tetap aktif.
Physical Up, Thunder Ball, Earth Wear...
pengaktifan tiga jenis sihir secara bersamaan (Trio).
Rest mengaktifkan tiga jenis sihir secara paralel dan terus
mempertahankannya.
"Ini adalah...!"
Sambil menangkis petir dengan lengannya yang dilapisi tanah,
sang kepala pelayan menghela napas.
"Pengaktifan tiga jenis sihir secara bersamaan! Tidak
banyak orang bahkan di antara para Penyihir Istana yang sanggup
melakukannya...!"
"Bicara apa kau sambil menangkis seranganku dengan
mudah begitu!"
"Ini...
sepertinya aku akan kalah jika tidak serius!"
Sesaat
sebelum Rest mendaratkan serangan sekuat tenaganya, sosok sang kepala pelayan
menghilang.
"High
Accelerator!"
"Ugh...!?"
Sesaat
kemudian, tengkuknya dipukul dan otaknya terasa terguncang.
Akibat
serangan tajam itu, seluruh sihirnya terlepas secara paksa, dan kesadarannya
mulai menjauh.
Tanpa
tahu apa yang baru saja menimpanya, Rest jatuh tersungkur dan kehilangan
kesadaran.
"Luar
biasa..."
Sambil
menatap Rest yang terjatuh, sang kepala pelayan mengucapkan kata-kata pujian.
Serangan
dengan kecepatan yang bahkan tidak bisa ditangkap oleh mata. Benar-benar
seperti teleportasi. Bagi pria tua bernama Dieble—sang kepala pelayan keluarga
Marquis Rosemary—sihir High Accelerator adalah kartu as miliknya.
Jika ia tidak
menggunakan sihir itu, ia mungkin akan kalah. Meski Rest baru berusia empat
belas tahun, ia sudah memiliki kemampuan yang sanggup membuat mantan Penyihir
Istana seperti dia mengeluarkan keringat dingin.
"Rest-kun!"
"Tuan
Rest!"
Melihat Rest yang
terjatuh, saudari Rosemary berteriak pedih dan segera berlari menghampirinya.
Saat mereka
memeriksa tubuhnya... meski ada beberapa memar, sepertinya tidak ada luka yang
serius.
"Tunggu,
Dieble! Kamu melakukannya keterlaluan, tahu!?"
"Benar!
Tidak perlu sampai melakukan hal seperti ini, kan!"
Viola dan Primula
kompak memarahi sang kepala pelayan.
Menghadapi
kemarahan yang luar biasa itu, sang kepala pelayan tidak memberikan alasan
apa-apa, ia hanya membungkukkan badannya secara tegak lurus dan menundukkan
kepala.
"...Mohon
maaf yang sebesar-besarnya, para nona. Saya tidak memiliki kelonggaran untuk
bisa menahan diri."
"Tenanglah
kalian berdua. Yang barusan terjadi adalah bagian dari latihan tanding. Jangan
salahkan Dieble."
Albert
menenangkan kedua putrinya.
"Daripada
itu... segeralah berikan pengobatan kepadanya."
"Ah...!"
Kedua saudari itu
dengan terburu-buru mulai memberikan pengobatan kepada Rest.
Sang kepala
pelayan mengangkat kepalanya dan memberikan hormat dengan pandangan mata kepada
tuannya yang telah membelanya.
"Tidak
masalah. Daripada itu... bagaimana menurut pandanganmu tentang dia?"
"...Saya
rasa, pendapat saya sama dengan Tuan."
Kepala pelayan
itu menjawab pertanyaan Albert dengan penuh rasa hormat.
"Pemuda itu... Tuan Rest tampaknya memiliki kemampuan
yang sangat layak untuk mendapatkan dukungan dari keluarga Marquis Rosemary.
Aku sendiri yang menjamin hal itu."
"Begitu ya... Kau benar..."
Albert pun
memikirkan hal yang sama. Sebagai seorang penyihir, Rest memiliki kemampuan
teknis dan jumlah mana yang luar biasa di luar kewajaran usianya.
Meski mungkin masih kurang pengalaman dan pengetahuan...
Albert merasakan potensi yang suatu saat nanti bahkan bisa melampaui dirinya
sendiri, sang Kepala Penyihir Istana.
"Pemuda itu pasti akan menjadi penyihir agung yang
namanya tercatat dalam sejarah... Dia sangat layak ditarik ke dalam keluarga
kita, bahkan meski harus menjadikannya pendamping salah satu nona muda."
"............"
Kepala pelayan itu berbisik pelan agar tidak terdengar oleh
kedua saudari tersebut. Itulah yang sedang dipikirkan Albert—hal yang mau tidak
mau melintasi benaknya.
Keluarga Marquis Rosemary hanya memiliki dua orang putri dan
tidak memiliki anak laki-laki. Kelak,
salah satu dari mereka harus mengambil menantu untuk meneruskan garis
keturunan.
Sebagai keluarga
penyihir ternama, pria yang menjadi menantu keluarga Marquis Rosemary haruslah
seorang penyihir yang hebat. Itu adalah syarat mutlak.
Karena itulah ia
memberikan kesempatan interaksi dengan Cedric yang sempat dirumorkan sebagai
penyihir jenius.
(Pemuda ini... Rest-kun, akan sangat sempurna. Tapi...)
Rest kuat. Meski masih ada bagian yang kasar, ia pasti akan
menjadi penyihir besar jika terus menimba pengalaman. Albert berani menjamin
bahwa Rest adalah orang yang harus ia tarik ke dalam keluarganya.
Namun... di balik pemikiran logis itu, ada sisi hatinya
sebagai seorang ayah yang sulit untuk menerima.
"Tidak
apa-apa, Rest-kun. Aku akan segera merapalkan sihir penyembuhan untukmu!"
"Kami ada di
sini. Tenang saja, Tuan Rest...!"
Viola dan
Primula. Kedua putri kesayangan Albert itu menempel erat pada Rest yang pingsan
dan memberikan perawatan dengan penuh dedikasi.
Bukan hanya salah
satu dari mereka... sangat jelas terlihat bahwa keduanya menaruh hati pada
Rest.
(Menjadikannya
menantu... yah, boleh saja. Tapi, jangan-jangan kedua putriku akan diambil
olehnya sekaligus...?)
Sifat Viola dan
Primula memang bertolak belakang, namun secara prinsip mereka sangat mirip
dengan istri Albert... sang Marquis Rosemary.
Kepribadian
mereka sangat keras kepala jika menyangkut hal yang mereka anggap penting.
Jika keduanya
sudah menetapkan Rest sebagai pendamping hidup, mereka pasti akan memaksakan
kehendak itu tanpa mau mengalah.
(Rest-kun, aku
mengakui bakatmu. Aku berterima kasih karena kau menolong putriku, dan aku akan
menuliskan surat rekomendasi ujian masuk akademi. Tapi...!)
"...Aku
belum bilang akan menyerahkan kedua putriku kepadamu, tahu!"
Melihat kedua
putrinya yang bersandar seolah sedang bersama kekasih tercinta, sang Marquis
Rosemary berteriak dalam hati sambil nyaris meneteskan air mata darah.
◇
'Jadilah anak yang lembut, ya.'
Itu adalah kejadian sesaat sebelum perpisahan dengan ibunya
tiba. Sang ibu berbaring di
tempat tidur, menggenggam erat tangan Rest dan bicara dengan suara yang sangat
lemah.
'Jadilah
anak yang kuat. Jadilah anak yang tangguh. Jadilah anak yang punya banyak
teman. Jadilah anak yang bahagia.'
'Ibu...'
'Maafkan
Ibu karena tidak bisa menemanimu sampai dewasa. Terima kasih sudah menjadikanku seorang ibu.
Terima kasih sudah terlahir ke dunia ini...'
Rest merasa
dialah yang seharusnya berterima kasih. Di kehidupan sebelumnya, Rest tumbuh
tanpa kasih sayang orang tua dan mengakhiri hidupnya karena ditikam oleh pria
yang seharusnya menjadi ayahnya. Bagi Rest, sepuluh tahun hidup dengan limpahan
kasih sayang ibunya adalah hari-hari yang berkilau seperti permata.
Meskipun dia
adalah anak yang tidak diinginkan, anak dari pria kejam dan tidak bertanggung
jawab itu, Rest hanya memiliki rasa syukur untuk ibu yang telah mencintainya.
Terima kasih
sudah melahirkanku.
Terima kasih
sudah mencintaiku.
Saat ia
membisikkan hal itu... ibunya tersenyum bahagia dan mengembuskan napas
terakhirnya dengan raut wajah penuh kedamaian.
'Rest-kun, jangan pernah membenci dunia.'
Seorang pendeta yang ia kenal bicara kepada Rest yang baru
saja kehilangan ibunya.
'Mulai sekarang, pasti akan banyak cobaan yang datang
padamu. Tapi... itu bukan untuk membuatmu tidak bahagia. Karena Dewi tidak akan
memberikan cobaan yang melampaui kemampuan hamba-Nya.'
'............'
'Hiduplah dengan kuat dan lurus. Jangan terjebak dalam
kebencian atau dendam. Tolonglah orang lain, dan hiduplah dengan senyuman. Jika kau melakukan itu... pasti akan
banyak orang yang berkumpul di sekitarmu. Kau akan segera melupakan rasa
kesepian itu.'
Kata-kata pendeta
itu setidaknya setengahnya benar. Tak lama kemudian, Rest diambil oleh ayahnya
dan berbagai cobaan pun datang. Tidur di kandang kuda, diberi makan sisa...
hari-hari yang jauh lebih berat daripada saat ia hidup sebagai rakyat jelata
telah menantinya.
Jujur saja,
adalah sebuah keajaiban ia bisa hidup tanpa membenci ayah, ibu tiri, maupun
Cedric. Jika ia salah melangkah sedikit saja, Rest pasti sudah menjadi iblis
pembalas dendam.
Ia pasti akan
mengarahkan pedang pembalasan kepada mereka, menganggap hidupnya yang tidak
adil ini adalah kesalahan mereka.
(Tapi...
itu tidak terjadi.)
Ia
berhasil menahan diri di detik-detik terakhir.
Meski ia
punya keinginan untuk membuktikan diri kepada ayahnya, mengungguli ibu tirinya,
dan melampaui Cedric jauh ke depan, ia tidak punya keinginan sampai ingin
membunuh mereka.
Mungkin karena
jika ia melakukannya, ibu dan Pak Pendeta akan merasa sedih.
Agar tidak
membuat orang-orang yang berharga baginya kecewa, dan agar ia bisa dengan
bangga mengatakan bahwa cinta mereka kepadanya tidaklah salah.
Rest memutuskan
untuk membuka jalan hidupnya sendiri dengan cara yang lurus.
"............ Ah?"
"Kau sudah sadar ya, Rest-kun!"
"Tuan Rest, apakah ada bagian yang sakit?"
Rasanya ia baru saja memimpikan hal yang sangat ia rindukan.
Saat Rest membuka mata, ia melihat langit-langit yang asing, dan kedua
tangannya digenggam oleh para gadis.
"Anu... aku ini sebenarnya...?"
Yang sedang menatap wajah Rest dengan cemas adalah saudari
dari keluarga Marquis Rosemary. Saat
ia memanggil nama mereka, Viola dan Primula tersenyum sambil meneteskan air
mata di sudut mata mereka.
"Maafkan
kami, Rest-kun... sepertinya kepala pelayan kami melakukannya terlalu
berlebihan..."
"Padahal
kami mengundangmu ke rumah untuk berterima kasih, tapi malah jadi begini...
benar-benar maafkan kami..."
"...Tidak
apa-apa, kok. Aku juga belajar banyak darinya."
Rest
melepaskan tangan mereka dan bangkit duduk. Tidak ada bagian yang sakit. Tidak
ada luka yang berarti. Mungkin saat ia tidur, keduanya sudah merapalkan sihir
penyembuhan.
"Aku
akan menegur Ayah dan Dieble habis-habisan nanti! Aku tidak akan memaafkan
mereka berdua!"
"...Aku
tidak akan memaafkan mereka."
Wajah
Viola yang membara seperti iblis dalam amarah yang meledak-ledak, dan wajah
Primula yang sedingin penyihir dari negeri kutub. Rest bergidik ngeri melihat
ekspresi murka dari si kembar yang wajahnya sangat mirip itu.
"T-tidak,
sungguh aku tidak apa-apa? Sama sekali tidak ada yang sakit... dan aku serius
soal belajar banyak dari pertempuran tadi."
Faktanya,
pertarungan melawan kepala pelayan keluarga Marquis Rosemary memberinya banyak
pelajaran tentang kekurangannya.
Kurangnya
pengalaman bertarung antarmanusia dan teknik bela diri yang masih rendah adalah
poin-poin yang harus ia perbaiki ke depannya.
"Tapi...
sepertinya aku kalah, ya. Kalau begini, apa aku tetap dapat surat
rekomendasi?"
"Apa yang
kau katakan? Tentu saja dapat!"
"Eh?"
"Aku akan
memaksa Ayah menulisnya. Kepala pelayan itu... Dieble, adalah mantan
Penyihir Istana, tahu. Sejak awal tidak mungkin kau bisa menang
melawannya."
Viola berkacak pinggang dan menegaskan hal itu. Pantas saja dia kuat, ternyata dia adalah
penyihir veteran.
"Tuan Rest
pasti lulus...!"
Menyambung
kata-kata kakaknya, Primula juga menimpali dengan senyum lembut.
"Ayah sudah
berjanji akan menuliskan surat rekomendasi. Mulai tahun depan, kita akan
menjadi teman sekelas."
"Tentu saja,
itu kalau kita semua lulus ujian ya!"
Primula
tersenyum untuk menenangkan Rest, dan Viola pun membusungkan dada dengan
bangga.
"Begitu
ya... terima kasih. Berkat kalian berdua, jalanku sekarang terbuka."
"Wajar saja
karena kau sudah menyelamatkan nyawa kami. Lalu... ujian praktik sihir pasti
kau akan lulus dengan mudah, tapi apakah kau sudah belajar untuk ujian
tertulisnya?"
"Ah—sepertinya
belum..."
"Kalau
begitu, aku akan meminjamkan buku referensi kami."
"Anu... apa
tidak apa-apa? Aku jadi merepotkan kalian."
"Tentu saja
boleh. Benar kan,
Primula?"
"Benar
sekali. Malahan, bagaimana
kalau Tuan Rest tinggal saja di rumah ini? Kalau begitu, kami bisa mengajarimu
bagian-bagian yang tidak kau mengerti saat belajar."
"Wah, bagus
itu! Ide yang sangat cemerlang!"
Viola
menjentikkan jarinya menyetujui usul Primula. Rest merasa pembicaraan ini mulai
mengarah ke tujuan yang luar biasa merepotkan, sehingga ia buru-buru menyela.
"Tunggu,
tunggu! Bagaimanapun juga aku tidak bisa sampai dirawat seperti itu! Di rumah
yang ada gadis seumuran kalian, itu..."
"Lho,
memangnya kenapa?"
"Kenapa
katamu..."
"Ada Ayah
juga di sini, dan meskipun sekarang sedang pergi, Ibu juga akan segera pulang.
Kepala pelayan dan para pelayan juga tinggal di sini... tidak perlu mencemaskan
hal seperti itu!"
"Benar, akan
jauh lebih menyenangkan kalau Tuan Rest ada bersama kami. Sangat tidak praktis
kalau kami harus repot-repot membawa buku referensi ke kediaman Viscount
Kehormatan Evern."
Viola dan Primula
bicara dengan nada yang sangat kuat, menutup semua jalan keluar bagi Rest.
"Rest-kun
tidak diperlakukan dengan baik di sana karena statusmu sebagai anak haram, kan?
Kalau begitu, aku rasa
Viscount Kehormatan Evern pun tidak akan menolak."
"Aku juga
tidak mau pergi ke rumah itu untuk menemuimu. Di sana ada orang yang
menjijikkan."
"Benar,
aku ogah bertemu lagi dengan orang itu. Membayangkannya saja sudah
membuatku merinding!"
Orang menjijikkan yang dimaksud pasti adalah Cedric. Dia
benar-benar dianggap seperti hama dan sudah dibenci sepenuhnya oleh kedua
saudari itu.
"Ba-baiklah...
kalau Marquis mengizinkan, aku akan ikut menumpang di sini..."
Akhirnya, karena
terdesak oleh kedua saudari tersebut, Rest menyetujui usulan mereka. Bisa
dibilang ia menyerahkan seluruh urusan membujuk sang Marquis kepada mereka.
"Sudah
diputuskan! Kalau begitu, aku harus bicara pada Ayah!"
"Persiapan
kamar juga harus dilakukan! Ah, sepertinya akan jadi sangat sibuk!"
Viola dan Primula seolah berlomba lari keluar dari kamar. Rest yang ditinggalkan sendirian hanya bisa menatap pintu kamar dengan terpana, merasakan betapa hidupnya telah berubah drastis hanya dalam satu hari saja.



Post a Comment