Chapter 4
Tanya Jawab Kulit Terkelupas ~Harga Diri 2~
1
"Haaai,
semuanya! Kari, kari, kari sudah tiba~!"
Di dalam bus
menuju destinasi hari kedua, yaitu perkemahan, Michiru-san berteriak dengan
semangat yang levelnya sudah sampai tahap menyebalkan. Sepertinya, agenda utama
hari ini adalah membuat nasi kari.
"Karena
itulah Amakusa-chan, tolong nyanyikan lagu bertema kari untuk kami!"
"Hah?"
"Aduh,
tidak kedengaran ya? Nyanyikan lagu yang ada hubungannya dengan kari,
dong."
Permintaan macam apa itu... Memangnya ada lagu tentang kari?
"Kalau
sulit, biar aku saja yang menentukan. Judulnya: 'Kariku adalah Dada Kiri'.
Ayo, silakan!"
"Lagunya
sudah tidak berbentuk, woi!"
"Kalau
begitu, lagu dari anime Kiteretsu saja."
"Itu lagu
tentang kroket!"
"Ah, kalau
begitu tolong tirukan gayanya Korokke-san."
"Sudah tidak
ada hubungannya sama kari lagi, kan!"
Lagipula dia itu
kan komedian peniru, bukan yang ditiru...
"Kalau begitu, tirukan gaya Curry Cook!"
"Cara
membelokkan topiknya maksa banget!"
"Ah,
omong-omong, katanya sebentar lagi akan ada bab pendek tentang Benkiman,
lho."
"Jangan
bahas toilet (Benki) di depan makanan kari!"
"Ayo, ayo,
tingkatkan semangat kita dan buat kari yang lezat~!"
"Mana bisa
semangat kalau begini!"
◆◇◆
Setelah pembukaan
yang paling buruk itu, kami pun tiba di perkemahan. Agenda utamanya memang
membuat kari, tapi bahan-bahan, bumbu, alat masak, hingga kayu bakar dan alat
pemantik api sudah tersedia lengkap.
Sepertinya
konsepnya bukan bersusah payah dari nol, melainkan lebih ke arah menikmati
suasana memasak di tengah alam terbuka.
"Padahal aku
jago menyalakan api dari nol, lho. Sayang sekali, padahal itu seru
banget," ucap Ouka dengan nada sedikit kecewa. Jarang-jarang ada gadis
yang jago menyalakan api unggun, tapi dia memang sepertinya punya kemampuan
bertahan hidup yang tinggi sih.
"Aku jago
menyalakan Kaminari-okoshi (rengginang manis)!"
"Itu mah
kamu cuma doyan makan saja..."
"Kalau aku,
jago bertanya kepada Raiden, 'Apa kau tahu soal ini?!'."
"Cuma kata
'Kilat' (Rai) doang yang nyambung, woi!"
...Payah. Kalau
mereka dibiarkan begini terus, masakannya tidak akan pernah selesai. Lebih baik
segera mulai memasak.
"Nah, kalau
begitu, pertama-tama kita potong sayurnya dulu."
Saat aku hendak
memulai,
"Aku juga
ikut."
Furano mulai
memotong sayuran dengan gerakan tangan yang sangat mahir. Beberapa waktu lalu
saat aku sakit, Furano datang merawatku (?). Saat itu pun aku sudah berpikir—
"Kamu memang
jago ya dalam hal begini."
"Biasa
saja... hal begini sih sudah sewajarnya."
Furano menjawab
dengan sangat cuek, tapi ujung hidungnya kembang kempis... Sepertinya dia
senang dipuji. Sambil terus mengembang-kempiskan hidungnya, dia memotong
sayuran satu demi satu dengan pisau.
"Ooh, hebat
ya, Furanocchi," puji Ouka yang melihat dengan kagum.
"Ouka, apa
kamu belum pernah memasak?"
"Hmm, kalau
mencampur obat-obatan mencurigakan untuk eksperimen sih sering. Tapi kalau
memegang pisau dapur dengan benar, mungkin belum pernah ya."
Yah, daripada
menyuruh orang yang hobi membuat Abazuren Z atau Skirt-Mekure-eru
memasak, lebih baik dia tidak usah menyentuh dapur saja sih...
"Ahaha, tapi
kelihatannya seru, aku coba juga ah!"
"Eh, oi,
kalau orang yang tidak biasa pegang pisau—"
"Eh? Ada
apa?"
Ouka mengupas
kulit kentang dengan sangat santai. Anak ini... apa dia jenius?
Tentu saja jika
dibandingkan denganku atau Furano gerakannya masih agak kaku, tapi ini bukan
gerakan orang yang baru pertama kali memegang pisau. Seperti biasa, dia selalu
dipenuhi bakat yang sia-sia.
"Kanade-san,
aku juga mau!"
Chocolat
mengangkat tangan karena sudah tidak tahan ingin ikut campur.
"Ka-Kamu
yakin bisa?"
"Tentu
saja!"
Percaya dirinya
sih boleh diadu, tapi cara memotongnya sangat kasar, zrak-zruk begitu
saja.
"O-Oi...
tunggu... bahaya... ah, sudah, aku tidak tahan melihatnya!"
Aku pindah ke
belakang Chocolat dan memegang kedua tangannya.
"Dengar,
pegang pisaunya begini, lalu gerakkan seperti ini."
"Hoaa,
Kanade-san mengajariku dengan sangat mesra, aku senaaang!"
"".........""
Melihat aku dan
Chocolat seperti itu, Furano dan Ouka entah kenapa berhenti memotong. Lalu,
mereka mulai melakukan sesuatu tanpa terlihat olehku. Beberapa menit kemudian.
"Ka-Kanade-chi,
ajari aku juga, dong!"
"Hah? Eh,
tapi Ouka sudah cukup mahir, tidak perlu diajari la—"
"Li-Lihat,
saking tidak becusnya, aku malah mengupasnya dengan aneh begini."
Ouka menyodorkan
wortel yang dikupas tipis secara melingkar (katsura-muki), saking
tipisnya sampai bagian belakangnya terlihat transparan.
"HEBAT
BANGET!"
Oi, oi,
setipis ini sih aku pun bakal kesulitan. Ini bukan level "cepat
belajar" lagi... Lalu Furano mendekat dengan gerakan pelan.
"Amakusa-kun...
tolong ajari aku juga."
"Nggak,
Furano malah lebih tidak butuh diajari lagi. Kamu malah lebih jago
dariku—"
"Lihat
ini... karena saking tidak becusnya, aku malah mengupas kentang ini menjadi
bentuk 'Sepasang Gunung Kembar dan Tangan yang Sedang Meremasnya'."
"HEBAT
BANGET, WOI!"
Motifnya sih yang
terburuk, tapi detail pengerjaannya sudah mencapai level maestro. Apa-apaan
kualitas super yang sia-sia ini...
"Kalau bisa
membuat yang begini, mana mungkin kamu tidak becus mengupas..."
"...Aku
ingin mengupasnya dengan lebih normal, makanya aku ingin diajari Amakusa-kun.
Yah, meski agak berat hati meminta bantuan pada orang yang 'アレ-nya' sendiri belum terkupas."
"Berisik!"
"Ara, kamu
tidak membantahnya ya."
"Su-su-sudah
terkupas, tahu! Malah terkupas habis!"
"Kalau
begitu, bolehkah aku melihat buktinya?"
"Iya, iya,
ayo kita buka di sini... MANA MUNGKIN, WOI!"
...Mereka ini
tidak bisa ya memasak kari dengan tenang sedikit saja.
◆◇◆
"Sip...
sudah oke!"
Setelah sekitar
satu jam memasak sambil harus menghadapi lelucon tiga orang itu, akhirnya kari
kami selesai.
Aku menuangkannya
ke piring dan membagikannya kepada mereka yang sudah duduk di meja kayu.
"Hoaa,
enaaak!"
"Benar,
karena kita membuatnya bersama, rasanya jadi makin nikmat!"
"...Ini
lumayan juga."
Rasanya sendiri
sih bisa dibilang rasa kari standar, tidak ada yang spesial. Tapi seperti kata
Ouka, rasa pencapaian setelah membuatnya bersama meningkatkan kelezatannya
beberapa persen.
Tanpa sadar aku
yang biasanya makan sedikit pun sampai nambah tiga piring.
Sebagai catatan, tim perempuan: Furano satu piring, Ouka dua
piring, dan Chocolat sepuluh piring... Syukurlah aku memasak nasi lebih banyak.
"---Hmm."
"Ada
apa?"
Selesai
menghabiskan piring kedua, Ouka tampak memiringkan kepalanya.
"Yah,
awalnya memang enak sih. Tapi rasanya aku mulai bosan, atau mungkin butuh
sedikit 'tendangan' rasa lagi."
Tendangan rasa, ya... Yah, karena bumbunya juga pakai produk
instan yang sudah tersedia, memang kurang memberikan kesan kuat.
"Tapi mau bagaimana lagi? Kita tidak punya bumbu rempah
spesial di sini."
"Kanade-chi, jawabannya adalah ikan!"
"Hah?"
Ouka
menunjuk ke arah sungai dengan mata berbinar-berinar.
"Kalau
dimasukkan ikan, rasanya pasti jadi lebih liar dan lebih lezat!"
"Ikan
katamu..."
"Kalau
begitu, aku pergi tangkap sebentar ya~!"
Sesaat setelah
mengatakannya, Ouka langsung berlari menuju sungai.
Tadi Michiru-san
bilang ada penyewaan alat pancing untuk waktu bebas nanti... tapi Ouka bahkan
tidak membawa alat apa pun, dia mau ngapain?
Dia bahkan
meninggalkan topi jeraminya di atas meja.
"Di bawah
terik matahari begini malah tidak pakai topi... dasar anak itu."
Saat aku bergumam
pelan, Furano tiba-tiba sudah berada di sampingku.
"Padahal
'bagian bawahnya' Amakusa-kun selalu pakai topi (kulup), ya."
"BERISIK!"
"Ara, kamu
tidak membantahnya ya."
"Su-su-sudah
tidak pakai, tahu! Malah terkupas habis!"
"Kalau
begitu, bolehkah aku melihat buktinya?"
"Iya, iya,
ayo kita buka di sini... MANA MUNGKIN, WOI!"
...Membalas
omongannya hanya akan membuatnya makin melunjak.
2
Beberapa puluh
menit kemudian.
"Lama
sekali..."
Ouka tidak
kunjung kembali. Yah, mana mungkin ikan bisa ditangkap secepat itu.
"Tapi, aku
akan pergi mencarinya sebentar."
Kalau
dipikir-pikir, meski Ouka tidak mungkin tenggelam, tapi tetap saja ada
kemungkinan buruk terjadi. Sekalian saja aku bawakan topi jeraminya.
"...Kalau
begitu, aku juga ikut."
Furano bersiap
bangkit dari kursinya.
"Tidak usah.
Malah merepotkan kalau kamu ikut (karena tidak bisa berenang)."
"Ta-Tapi..."
"Dengar ya,
kalau sembarangan pergi ke pinggir air, nanti kamu bakal tenggelam lagi seperti
kemar—GUEKH!"
Tenggorokanku
disodok sekuat tenaga.
"Uhuk!
A-Apa-apaan sih?!"
"Tengge...
apa?"
Ukh...
Furano memelototiku dengan tatapan yang sangat menyeramkan. Kalau tidak salah,
dia sudah menyuruhku melupakan kejadian itu. Chocolat juga ada di sini, jadi
dia pasti tidak mau dibilang tenggelam.
"Amakusa-kun,
kamu tadi mau bilang Kobo-chan, tapi malah salah sebut jadi Obo-chan,
ya?"
"...Tidak,
itu alasan yang terlalu maksa."
"Oh, kamu
mau bilang Kariage-kun, tapi malah salah sebut jadi Obo-chan,
kan?"
"Bagaimanapun
caranya tidak mungkin salah sebut sampai ke sana!"
"Apa kamu
mau bilang Otoboke Kacho, tapi malah salah sebut jadi Mikosuri Han
Gekijo?"
"Kok malah
ada yang aneh-aneh masuk ke sini?!"
Payah... meladeni
dia tidak akan ada habisnya.
"Pokoknya,
aku sendirian saja sudah cukup, jadi aku pergi dulu."
"...Begitu
ya, ya sudah, terserah kamu."
Furano
memalingkan wajah dan berjalan pergi begitu saja.
Apa sih yang
membuatnya kesal kalau aku pergi sendirian? Yah, suasana hati Furano yang tidak
stabil ini sudah seperti makanan sehari-hari, sih.
Setelah
memperingatkan Chocolat dengan keras agar tidak meminta kari milik orang lain,
aku pun pergi mencari Ouka.
"Nah,
sekarang..."
Sambil menyusuri
pinggiran sungai, aku melihat sosok Ouka yang sedang merendam kakinya sampai ke
bawah lutut dan menatap permukaan air dengan tajam.
"Oii,
Ouka!"
"Ah, Kanade-chi!"
Menyadari
keberadaanku, Ouka menoleh ke arahku dengan wajah ceria. Kemudian, dia berlari
ke arahku sambil mencipratkan air ke mana-mana.
"Sudah dapat
ikannya?"
Mendengar
pertanyaanku, mata Ouka berbinar-binar.
"Lihat,
lihat nih!"
Ouka membawakan
ember raksasa yang diletakkan di pinggir sungai. Isinya adalah—
"...SERIUSAN?!"
Hampir sepuluh
ekor ikan sungai berbagai ukuran tergeletak sembarangan di dalamnya.
"Kamu...
gimana cara nangkepnya?"
"Pakai
tangan kosong, lho."
"Tangan
kosong?!"
"Iya—ah,
kalau begitu aku contohkan ya, lihat baik-baik."
Sambil
membelakangiku, Ouka kembali masuk ke dalam sungai.
"Mumu...
daerah sini baunya mencurigakan..."
Lalu, dia terdiam
sambil menatap permukaan air selama beberapa detik.
"ORYAA!"
Dia menghujamkan
kedua tangannya ke dalam air sekuat tenaga.
"DAPEEET!"
Dan di
tangannya yang diangkat tinggi-tinggi, ada seekor ikan iwana raksasa...
Sumpah, kemampuan fisiknya ini sebenarnya level berapa, sih?
"Kamu...
kok bisa-bisanya melakukan hal seperti itu?" tanyaku pada Ouka yang sudah
kembali ke hadapanku dengan ekspresi setengah bengong.
"Hmm,
begini. 'Ah!', terus 'syuuk!', lalu 'oryaa!', terus 'grabb!', dan 'dapet!'...
begitu?"
"Kamu
ini pemain bisbol legendaris itu, ya?! (T/N: Referensi Shigeo Nagashima yang
sering bicara dengan onomatope)"
Yah,
sepertinya orang jenius memang sulit menyampaikan apa yang mereka rasakan
kepada orang lain.
"Sip,
kalau dapat sebanyak ini, sudah cukup untuk bikin kari ikan, kan?"
"Bukan
cukup lagi... kalau semua ini dimasukkan, karinya bakal jadi kacau, tahu."
Melihat
ikan-ikan yang menggeliat sesak di dalam ember—dimulai dari ikan iwana raksasa
tadi—sepertinya lebih baik beberapa dilepaskan saja.
"Oke, karena
tujuannya sudah tercapai, sekarang waktunya main!"
"Eh?"
"ORYAA!"
Ouka langsung
menyerbu masuk ke dalam sungai.
"Kanade-chi,
sini masuk juga!"
Awalnya aku
berpikir, dasar kekanak-kanakan... tapi karena ekspresi Ouka terlihat
sangat bahagia, aku jadi terhasut.
"Ya sudah... sebentar saja ya."
Baru saja aku menggulung celana sampai ke atas lutut dan
mendekati Ouka—
"URYA!"
"UWA!"
Dia mencipratkan
air sekuat tenaga ke arahku.
"Ukh...
Ka-Kamu..."
Air itu telak
menghantam wajahku.
"Hehehe~"
Ouka menyeringai
nakal.
"Begitu ya,
kalau itu maumu... TERIMA INI!"
Aku membalas
cipratannya.
"Hup!"
Ouka
menghindarinya dengan sangat mudah. Kemudian,
"URYA!"
"UWA!"
Sekali lagi, air
telak menghantam wajahku.
"Fufun~"
Sial...
kemampuan fisiknya benar-benar di level yang berbeda.
"Omong-omong,
Kanade-chi. Apa ponselmu yang di kantong itu tahan air?"
"Hah?
Ah, iya, sepenuhnya tahan air, sih."
"Kalau
begitu, tidak masalah, ya."
"Hah...
apanya yang tidak masa—UWOHH?!"
"DORRR!"
Tiba-tiba,
Ouka menghantamkan kepalanya ke perutku (headbutt).
Sontak
aku terpental dan mendarat di permukaan air dengan punggung terlebih dahulu.
"Ahaha,
basah kuyup, basah kuyup!"
Ouka
menunjukku sambil tertawa melihatku jatuh terduduk di tengah sungai.
Bocah
ini... benar-benar kekanak-kanakan.
Merasa
sedikit kesal, aku memutuskan untuk membalas dendam meski harus menggunakan
cara yang agak licik.
"He-hei, Ouka... bajumu basah sampai tembus pandang,
lho."
"Eh, UEEEHHH?!"
Mendengar perkataanku, Ouka langsung menarik-narik bajunya
dengan panik.
"Eh? Eh?
Tidak basah sama seka—UWAA!"
"TERIMA
INI!"
Kali ini giliran
Ouka yang terkena doronganku telak-telak. Dengan suara "ZAPPAAAN!"
yang kencang, dia jatuh terjerembap ke air.
"Uuu, aku
kalah, ahaha!"
Sama sepertiku
tadi, dia juga jatuh dalam posisi terduduk, tapi bukannya kesal, dia malah
terlihat senang.
"Wah, segar
sekali~"
Di bawah sinar
matahari musim panas, ekspresi Ouka yang terkena tetesan air di wajahnya
terlihat sangat bersinar. Sumpah, musim panas benar-benar cocok untuk
anak ini.
"Ukh..."
Lalu, aku menyadari sesuatu.
Tadi itu sebenarnya hanya kebohongan untuk mengejutkannya...
Tapi sambil membuang muka agar tidak melihat ke arah Ouka, aku bergumam pelan.
"Oi... bajumu benar-benar basah sampai tembus
pandang."
Padahal sudah sewajarnya akan jadi begitu, tapi karena aku
hanya memikirkan balas dendam, otakku tidak sampai memikirkan risikonya.
"Ahaha, kalau basah kuyup begini ya wajar kalau tembus
pa... EEEEEHHH?!"
Gaun terusan (one-piece) miliknya menempel ketat di
tubuh, sehingga seluruh garis lekuk tubuhnya terlihat jelas. Bra miliknya juga
sangat transparan terlihat, dan karena dia punya bentuk tubuh yang bagus,
situasinya benar-benar berbahaya.
Dan karena faktor ketidaksengajaan, aku melihatnya... celana
dalam Ouka ternyata jenis bertali (himo-pan)... Seingatku saat misi
Yawakaze sebelumnya, dia juga pakai celana dalam bertali, ya.
"U... u... uuuu."
Ouka
mengeluarkan suara erangan yang aneh.
Ga-Gawat!
Ini tipe reaksi di mana dia
akan lari karena malu.
"Uhyaku—"
"Tu-Tunggu!"
"Eh?"
Karena tidak ada
pilihan lain, aku berbalik ke arah Ouka dan memegang lengannya.
"Kamu mau
pergi ke sana dengan penampilan seperti itu?"
Arah lari Ouka
adalah ke tempat memasak tadi. Kalau Ouka lari dalam kondisi begini, bisa geger
dunia persilatan.
"Ukh...
Ka-Kalau begitu ke arah hulu saja..."
"Di sana
juga pasti ada orang yang sedang memancing."
"Ukh..."
"...Aku akan
menghadap ke sana, jadi bagaimana kalau kamu tunggu sebentar di pinggir sungai
sampai bajumu agak kering?"
"...U-Um... boleh juga."
Di bawah terik matahari yang menyengat ini, sepertinya tidak
butuh waktu lama sampai bajunya kering ke level yang tidak tembus pandang lagi.
Sambil berusaha tidak melihat ke arah Ouka, aku mendudukkan
diri di kerikil pinggiran sungai.
"Hup... hm?"
Seketika, ada sesuatu yang menyentuh punggungku.
"Ouka?"
Sepertinya, dia
duduk menempelkan punggungnya padaku dalam posisi yang sama.
"Ka-Kalau
begini Kanade-chi tidak bisa melihatku... Ja-Jangan berbalik ya, aku malu
tahu."
"A-Ah,
oke..."
Kalau malu kenapa
malah menempel padaku, sih? Padahal kalau dia berada di arah berlawanan, aku
tetap tidak akan bisa melihatnya di mana pun dia berada.
Tapi, punggung
Ouka terasa sangat panas...
"..."
"..."
Kami berdua pun
terdiam.
Lalu, setelah
keheningan itu berlangsung beberapa saat,
"...Kanade-chi."
"Hm?"
"Menurutmu... 'suka' itu apa?"
"Hah? Ada
apa tiba-tiba tanya begitu?"
"Begini...
waktu festival musim panas kemarin... kamu bilang kamu menyukai kami sebagai
teman, kan?"
"Ah,
iya... aku memang bilang begitu."
Setelah
Furano, sekarang giliran Ouka yang mengungkit soal festival. Waktu itu aku
sedang sangat sibuk karena misinya berada di tahap klimaks... tapi apa kalimat
itu memang sangat mengganggu pikiran mereka?
"Itu
berarti... memang 'begitu', ya."
"'Begitu'
bagaimana?"
"Ternyata
kalau mengatakannya begini kamu tetap tidak sadar, ya..."
Setelah
menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, Ouka melanjutkan bicaranya.
"Kanade-chi,
tahu tidak... kemarin saat aku jalan di depan stasiun, aku digoda oleh
laki-laki (nanpa)."
Digoda? Tiba-tiba
topiknya melompat ke arah yang aneh... Yah, karena penampilan Ouka memang luar
biasa, tidak heran kalau orang yang baru pertama melihatnya langsung
mengajaknya bicara.
"Terus...
dia tanya, 'Mau pergi main sebentar sekarang?', begitu."
"Oh, lalu
apa yang kamu lakukan?"
"Um... aku
ikut."
Ouka menjawab
dengan nada yang agak ragu-ragu.
"Hee~ Seru
tidak?"
Aku hanya
menimpali secara santai, tapi—
"..."
Ouka mendadak
terdiam seribu bahasa.
"Kenapa,
Ouka?"
Rasanya suhu
tubuh di punggungku langsung turun drastis... Apa hanya perasaanku saja?
"...Kalau
aku ini Furanocchi, mungkin matamu sudah kucolok sekarang."
"Kenapa
tiba-tiba ngomong hal yang menyeramkan begitu?!"
"Rasanya
sekarang aku ingin menyuruhmu bersujud (dogeza) lalu menginjak-injak
kepalamu, boleh tidak?"
"Ouka-san,
kamu aneh tahu?!"
Ke-Kenapa
tiba-tiba jadi begini? Aku tahu belakangan ini dia mulai sadar akan sisi
sadisnya (Do-S), tapi ini terlalu mendadak.
"Terus
ya, orangnya ganteng sekali... dia mengajakku ke kafe, karaoke, sampai
bioskop."
Ouka kembali ke
cerita tentang dia digoda laki-laki. Tapi tunggu, untuk ukuran orang yang
mengajak main di jalanan, itu sih namanya benar-benar kencan biasa, kan?
"Terus ya...
terakhir, di taman yang tidak ada orang... itu... anu... kami berciuman."
"APA?!"
Tanpa sadar aku
berbalik arah.
"WA-WA-WA!
Belum kering tahu, jangan lihaaat!"
"Ah,
s-sorry!"
Aku kembali ke
posisi saling membelakangi semula.
"Tapi... aku
sedikit senang, sih."
"Eh?"
"Ti-Tidak
ada apa-apa!"
Ada dua alasan
kenapa aku bereaksi berlebihan. Pertama, karena misi dan ingatan yang hilang,
aku jadi sangat sensitif dengan kata "ciuman". Dan alasan kedua
adalah—
"Kamu...
setelah itu bagaimana?"
"Eh? Ah,
umm, gimana ya... Oh, i-iya, setelah itu kami berpisah dan berjanji untuk
bertemu lagi."
"Jangan
lakukan itu."
"Eh?"
"Bukannya
aku mau mencampuri urusan pertemananmu, tapi laki-laki yang berani menciummu di
hari pertama bertemu itu bukan orang baik-baik."
Biar Ouka
biasanya suka bercanda, tapi dia itu anak yang polos. Aku takut dia dimanfaatkan oleh laki-laki
hidung belang dan berakhir dalam situasi yang mengerikan.
"Kamu...
khawatir padaku?"
"Yah...
tentu saja."
"Waktu
aku bilang aku berciuman... apa yang kamu pikirkan?"
"Apa katamu,
itu sih..."
...Bagaimana ya?
Waktu
mendengarnya, rasanya kepalaku langsung panas dan aku refleks bereaksi... aku
sendiri pun tidak begitu mengerti.
"..."
Suhu tubuh Ouka
yang terasa di punggungku sepertinya naik lagi.
"...Aku
tidak pergi, kok."
"Hah?"
"Aku
tidak pergi main dengan siapa pun."
"Tidak
pergi?"
"Iya,
semuanya cuma BO-HONG! Ahaha, Kanade-chi gampang sekali ditipu ya~"
"Terus,
soal ciuman itu?"
"Tidak
ada. Memang benar ada yang menggodaku, tapi saat itu juga langsung kutolak dan
minta maaf."
...Apa-apaan sih.
"Kenapa kamu
bohong soal hal begitu?"
"Habisnya... Kanade-chi itu tidak peka."
"Hah?"
Benar-benar
tidak paham maksudnya.
"Tuh, reaksimu saja sudah begitu... Yah, itu sangat
mirip Kanade-chi, sih."
Ouka terlihat senang sendiri seolah sudah mendapat
kesimpulan yang memuaskan baginya.
"Lagipula...
aku bukan tipe gadis seperti itu."
"Eh?"
"Aku bukan
gadis murahan."
"Murahan?"
"Maksudku...
berciuman di hari pertama bertemu... aku tidak akan melakukan hal semacam
itu."
"Be-Begitu ya..."
Yah, kalau melihat sifat Ouka sih aku memang berpikir
begitu... Tapi akhirnya, aku tetap tidak mengerti apa tujuan Ouka melakukan
rangkaian percakapan tadi.
"Hei, Kanade-chi sendiri bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
Sambil menggeliatkan tubuhnya, Ouka membuka suara dengan
nada yang sulit dikatakan.
"Anu... apa
kamu pernah berciuman?"
"Aku? Haha,
kamu tidak perlu tanya lagi. Mana mungkin aku pernah berciu—"
Deg.
Jantungku
berdegup dengan sangat kencang.
"—!"
Kemudian, rasa
mual yang luar biasa itu menyerangku lagi.
"Ugh...
huek..."
"Ka-Kanade-chi,
kamu tidak apa-apa?!"
Menyadari ada
yang aneh, Ouka langsung memutar tubuh ke depanku.
"Ti-Tidak
apa-apa. Cuma merasa sedikit kurang enak badan... tidak masalah."
"Ta-Tapi
keringatmu banyak sekali, wajahmu juga pucat pasi..."
Apa ini...
sebenarnya ada apa ini... apa yang sebenarnya terjadi tiga tahun yang lalu?
Ciuman, orang
yang disukai, gadis... kata-kata kunci itu berputar di dalam kepalaku, dan rasa
mual yang pekat bergejolak di dalam dadaku.
Tapi tinggal
sedikit lagi... sedikit lagi sepertinya aku bisa mengingat sesuatu—
"—?!"
Pada saat itu,
pintu ingatan sedikit terbuka.
Benar... ada
kejadian menyedihkan.
Sangat... sangat
menyedihkan dan menyakitkan... aku tidak sanggup menahannya sehingga
ingatanku...
Aku
menghapus ingatan tentang seorang gadis.
Gadis itu... gadis itu adalah...
"Ukh..."
Sejenak, aku merasa melihat senyuman seseorang di dalam
kepalaku, tapi dalam sekejap senyuman itu hancur berantakan.
...Siapa kamu sebenarnya?
Interlude 4
Sebuah Kisah Tiga
Tahun Lalu — Bagian 4
"Haaai,
semuanya! Kari, kari, kari sudah tiba~!"
Suara ceria
Michiru-san menggema. Agenda utama di hari kedua ini sepertinya adalah membuat
kari di perkemahan ini.
"Kanade-kun,
mau buat bareng?"
"Ah,
iya."
Tanpa perlu
kupinta, Sora-san sendiri yang mengajakku. Memasak bersama... membayangkan
situasi itu saja sudah membuat jantungku berdebar kencang.
Sora-san mulai
memotong bahan-bahan yang sudah disiapkan dengan gerakan tangan yang mahir.
"Sora-san,
kamu pandai memasak, ya."
"Fufu,
terima kasih."
Sora-san
tersenyum sambil mengupas kulit kentang dengan sangat lancar.
"Ah, benar
juga. Kanade-kun mau coba?"
"Eh?
Aku?"
Di rumah,
biasanya Ibuku yang mengurus seluruh pekerjaan rumah tangga, jadi aku baru
pernah memegang pisau dapur saat pelajaran tata boga di sekolah saja.
"Iya.
Memasak itu kalau dicoba ternyata sangat menyenangkan, lho."
"...Kalau
begitu, sedikit saja ya."
Sejujurnya aku
tidak terlalu tertarik, tapi karena Sora-san yang mengatakannya, aku akan
mencobanya.
"Hup...
begini... ya?"
Aku mulai
memotong bawang bombay sambil meniru gerakannya. Meski bentuk potonganku
terlihat aneh dibanding milik Sora-san, setidaknya potonganku masih layak
dilihat.
"Ah, bagus,
bagus. Kanade-kun sepertinya punya bakat memasak."
"Be-Benarkah?"
Aku dipuji. Baru
dipuji saja wajahku sudah memerah, apalagi ketika—
"Tapi,
mungkin lebih baik kalau begini."
"Ukh..."
Sora-san
menempelkan tangannya ke tanganku, seolah sedang memelukku dari belakang.
"So-Sora-san..."
"Hm? Ada apa?"
"Ti-Tidak... anu... bukan apa-apa."
"Ah, benar sekali. Jadi jauh lebih baik dari yang tadi,
Kanade-kun."
"........."
Fokusku sepenuhnya teralihkan ke arah Sora-san yang ada di
belakangku, sehingga perhatianku pada pisau di tanganku benar-benar hilang.
Hasilnya—
"Aw!"
Jariku teriris sedikit.
"Ah, gawat!"
Sora-san menarik tanganku, lalu memasukkan jari itu ke
dalam... mulutnya.
"Ngh..."
Kejadian yang sangat mendadak itu membuatku terpaku kaku.
"So-Sora-san, itu kotor..."
Sambil
tetap mengulum jariku, Sora-san menggelengkan kepalanya.
"Sudah berhenti berdarah? ...Maaf ya... gara-gara aku
melakukan hal yang tidak perlu."
Setelah beberapa saat, Sora-san akhirnya melepaskan jariku
dan menundukkan kepala dengan rasa bersalah.
"Ti-Tidak,
tidak, ini mah bukan masalah besar!"
Demi
menyembunyikan wajahku yang sudah merah padam, kali ini aku mulai mengupas
kulit kentang.
"Hup...
begini... kan."
"Ah,
bagus, bagus. Ternyata Kanade-kun memang punya bakat."
Aku dipuji lagi... Nanti kalau aku sudah kuliah atau bekerja
dan tinggal sendiri, mungkin aku akan mencoba memasak dan mengurus rumah tangga
dengan serius...
Kami melanjutkan
memasak, dan akhirnya kari buatan kami berdua pun selesai.
"Wah,
masakan buatan sendiri memang terasa enak, ya."
Sora-san memasang
senyum lebar yang sangat ceria.
"...Iya,
benar."
Aku terlalu sibuk
berusaha merekam senyuman itu ke dalam ingatanku, sampai-sampai rasa karinya
sama sekali tidak terasa di lidahku.
◆◇◆
Setelah selesai
membereskan sisa masak-memasak, aku pergi bermain ke sungai di dekat tempat
memasak.
"Uwah,
airnya jernih sekali. Oke, aku mau masuk sebentar ah."
"Eh? Tapi
dengan pakaian seperti itu..."
"Tidak
apa-apa, tidak apa-apa. Hup!"
Sora-san
menyingsingkan ujung gaunnya dan melangkah masuk ke dalam air.
"Uwah!
Dingin dan segar sekali. Kanade-kun, sini masuk juga!"
Sora-san
mengajakku sambil berlarian dan mencipratkan air di sungai.
"Kalau
begitu aku mas—Ah, AWAS!"
"Kyaa!"
Kaki Sora-san
tersangkut sesuatu dan dia terjatuh.
"Haha, aku
jadi basah kuyup deh."
Sora-san
menunjukkan senyum polosnya. Aura dewasanya memang bagus, tapi kalau dia
seperti ini... dia terlihat sangat manis.
Namun, semakin
banyak aku menemukan sisi luar biasa dari Sora-san, semakin besar pula rasa
sesak yang tumbuh di dalam dadaku.
Besok... besok
aku sudah tidak bisa bertemu lagi dengannya.
"Anu...
Sora-san."
"Ada
apa?"
"........."
Aku membulatkan
tekad dan membuka suara.
"Bo-Bolehkan
aku... tetap menghubungimu setelah pulang nanti?"
Sora-san
tersenyum manis padaku.
"Boleh,
kok."
"Be-Benarkah?"
"Iya. Aku
juga tidak mau kalau besok jadi hari terakhir kita bertemu."
"Ukh..."
Seketika, aku
bisa merasakan wajahku memerah padam. A-Aku tidak menyangka dia akan mengatakan
hal yang semanis itu.
"Kalau
begitu, mari kita tukar nomor ponsel dan alamat email."
"I-Iya,
mari."
Dan
begitulah, nama "Tenjou Sora" terdaftar di dalam ponselku. Dengan
begini, aku bisa menghubunginya kapan saja. ...Namun, meski tujuanku sudah
tercapai, entah kenapa rasa haus di dalam diriku belum terpuaskan. Sebuah
perasaan tertentu tumbuh semakin besar di dalam dadaku.
"A-Anu... Sora-san."
"Ada apa?"
A-Apa yang sedang kupikirkan? Berhenti, aku baru bertemu
dengannya kemarin, dan baru saja bertukar alamat email... apa yang sebenarnya
mau kukatakan?
Bagaimanapun aku memikirkannya, ini adalah tindakan yang
terlalu terburu-buru.
Kalau aku sudah dewasa nanti dan mengingatnya kembali, aku
pasti akan merasa ingin mati karena malu, sebuah tindakan khas anak SMP kelas 2
yang tidak tahu situasi... Tapi... tapi aku tidak bisa menghentikan perasaan
yang meluap-luap ini.
Aku mengatur
napas, menatap mata Sora-san perlahan dan dalam, lalu mengucapkan kata-kata
itu.
"Anu... aku
menyukaimu."
Aku
mengatakannya... aku benar-benar mengatakannya.
"........."
Sora-san terdiam seribu bahasa. Ya, wajar saja. Kalau tiba-tiba ditembak seperti
ini, siapa pun pasti akan merasa ilfeel.
"A-Anu,
Sora-sa—"
"...Iya. Aku
juga... menyukai Kanade-kun."
"....................................... Eh?"
Sesaat, aku meragukan pendengaranku sendiri. Melihat
ekspresiku yang melongo, Sora-san buru-buru melambaikan tangannya dengan panik.
"A-Anu, bukan dalam 'arti' itu! Maksudku bukan seperti
itu sekarang... tapi, aku berharap mulai sekarang kita bisa menjalin hubungan
baik agar suatu saat bisa sampai ke 'arti' itu."
Ini... apa
maksudnya? Meski kata-kata Sora-san terdengar oleh telingaku, otakku tidak bisa
memprosesnya dengan benar.
"Aku sudah
bilang kan kalau aku belum pernah jatuh cinta? Tapi, bersamamu rasanya
frekuensi kita sangat cocok, aku bisa menjadi diriku sendiri secara alami...
makanya aku berpikir, kalau dengan Kanade-kun, mungkin saja..."
"Sora-san..."
"Lagipula...
sejak pertama kali melihatmu di bus... aku sudah merasa, 'orang ini
kelihatannya baik'."
"—!"
Rasanya
ada sengatan listrik yang menyambar otakku. Akhirnya aku paham kenapa para
gadis di sekolah selalu meributkan soal "cinta-cintaan". Perasaan seperti ini... sekali saja
merasakannya, aku tidak bisa membayangkan hidup tanpanya.
"Sora-san...
bolehkah aku... menggandeng tanganmu?"
"...Boleh."
Sora-san
mengangguk sambil sedikit menundukkan wajahnya yang malu-malu.
"Ka-Kalau
begitu..."
Saat aku perlahan
mengulurkan tangan dan jari-jari kami hampir bersentuhan—
"Ah, ketemu
juga. Hei hei, apa yang sedang kalian lakukan, anak-anak muda?!"
Suara Michiru-san
menginterupsi kami. Aku
dan Sora-san langsung menjauh dengan kaget dan memalingkan muka.
"Araaa...
mungkinkah ini... aku sedang mengganggu kalian, ya?"
Michiru-san,
yang kapasitasnya untuk membaca situasi hampir nol besar itu, pun tampak merasa
tidak enak dan menggaruk kepalanya.
"O-Ohoho,
maaf ya, tapi sudah waktunya berangkat, lho."
Dia
mengucapkan itu sebagai dalih untuk menutupi kecanggungan, lalu segera
melangkah pergi dengan cepat.
"...A-Ayo
jalan."
"...I-Iya,
mari."
Kami
berjalan membuntuti Michiru-san... lalu, tanpa tahu siapa yang memulai, tangan
kami mendekat—dan bertautan.
Hangat...
sangat hangat. Rasanya seluruh keberadaan Sora-san tersampaikan lewat telapak
tanganku, dan hatiku dipenuhi perasaan yang sangat hangat.
Kalau... kalau
kami benar-benar jadi sepasang kekasih, apakah perasaan seperti mimpi ini akan
terus berlanjut selamanya?
Oke, aku
akan mengirim email setiap hari. Begitu sampai rumah, aku akan kirim email
setiap hari.
Tidak,
lebih baik telepon saja. Aku akan habiskan semua uang jajanku untuk biaya
telepon, dan meneleponnya setiap hari. Ah, tapi kalau terlalu sering nanti dia bisa benci padaku.
Sambil
berfantasi seperti itu, aku melirik ke arah Sora-san.
"...Fufu."
Sora-san
tersenyum manis padaku dengan wajah yang sedikit tersipu malu. Menyenangkan...
hanya berada di samping Sora-san saja... tidak, meskipun tidak berada di
sampingnya, hanya dengan terhubung lewat telepon atau email saja, hidupku pasti
akan terasa sangat luar biasa menyenangkan.
Ya, aku
mengira hari-hari menyenangkan bersama Sora-san akan terus berlanjut.
Saat itu, aku
masih berpikir begitu.



Post a Comment