Chapter 2
Penolakan Status Perjaka ~Harga Diri~
1
"Halo
semuanyaaa! Masih semangat, kaaan?!"
Tak lama setelah
bus berangkat, suara dengan nada tinggi yang memekakkan telinga itu kembali
menggema.
"Perkenalkan,
saya Madobe Michiru yang akan memandu perjalanan kalian hari ini! Mohon
bantuannya yaaa, kyarun~"
Pakai bilang 'kyarun' segala... Zaman sekarang bahkan idol
sok imut pun sudah nggak pakai kata-kata begitu.
Karakter
orang ini terlalu kuat dan nggak masuk akal... Harusnya aku nggak
mungkin melupakan sosok seperti dia, tapi... Sial, rasanya sudah di ujung lidah
tapi aku tetap nggak ingat.
"Kalau begitu, Amakusa-chan yang masih perjaka—"
"Bhuft!"
A-apa-apaan orang ini, tiba-tiba ngomong apa dia?!
"Muhufu~
Reaksinya kena sasaran ya, nyah."
Sial... Me-memang benar aku masih perjaka, tapi aku kan
sudah kelas 2 SMA! Nggak
punya pengalaman begitu pun bukan sesuatu yang memalukan, kan... iya kan?
"A-aku...
bukan perjaka, kok."
Saking paniknya,
aku malah berbohong demi gengsi.
"Ibu
pemandu, laki-laki ini berbohong. Kenyataannya, dia adalah seorang perjaka yang
sudah di tahap tidak tertolong lagi."
"Kamu
ngomong apa, sih?!"
Furano yang duduk
di sebelahku (omong-omong, ketiga gadis itu menentukan urutan duduk dengan
pingsut.
Furano bilang dia
terpaksa duduk di sebelahku karena kalah, dan jujur saja itu agak menyakitkan
hati) berucap dengan wajah datar tanpa dosa.
"Lho,
aku kan cuma mengungkapkan kebenaran... Yuuouji-san, bisa tolong
konfirmasikan?"
"Eh,
konfirmasi apa—Wuaah?!"
Ujung
jari Yuuouji yang mencondongkan tubuh dari kursi belakang menelusuri tengkukku.
"Muhufu... Tengkuk ini adalah tengkuk seorang
pembohong!"
"Memangnya
kamu bisa tahu dari rasanya?!"
"Kanade-san,
'kesucian' di bagian lubang belakangmu sudah lama sirna."
"MASIH ADA,
TAHU?!"
Bahkan Chocolat
yang duduk di sebelah Yuuouji ikut-ikutan bercanda. Me-mereka ini
benar-benar...
"Oalah, jadi
ini plesetan antara 'suci' dan 'pantat' ya?"
"Jangan dianalisis sedalam itu juga, dong!"
Melihat interaksi kami, Michiru-san mengangguk puas.
"Ooh, kalian semua reaksinya oke juga ya. Namanya siapa saja?"
"Yukihira
Furano."
"Yuuouji
Ouka!"
"Saya
Chocolat!"
"Oke, oke.
Yukihira-chan, Yuuouji-chan, dan Chocolat-chan ya. Dengan begini, persiapan
untuk ngeledek Amakusa-chan sudah matang sempurna!"
"Eh
sebentar, persiapan macam itu nggak perlu dimatang-matang—"
Pilih:
① "Kalau mau ngeledek-ku,
mulai dari bagian ini dulu, dong!" (Memamerkan puting susu)
② "Kalau mau ngeledek-ku,
mulai dari bagian ini dulu, dong!" (Memamerkan Anu-nya)
③ "Kalau mau ngeledek-ku,
mulai dari bagian ini dulu, dong!" (Memamerkan lubang belakang)
"MANA
MUNGKIN BISA, WOI!"
"Hmm?
Amakusa-chan kenapa?"
"E-enggak,
ini cuma... GUAARRGGHHH!"
...Sambil
menangis batin, aku terpaksa melepas kausku... dan berkata:
"Kalau mau
ngeledek aku, mulai dari bagian ini dulu, dong!"
"A-Amakusa-chan..."
Michiru-san menutup mulut dengan tangan, alisnya berkedut
ngeri. Ya iyalah, orang gila kayak dia pun pasti bakal ilfeel melihat
ini...
"Kamu sudah tumbuh besar ya... Kakak terharu."
"REAKSIMU ANEH BANGET, TAHU!"
"Semuanya, mari beri tepuk tangan yang meriah untuk
puting susu Amakusa-chan!"
"Ini penyiksaan, ya?!"
Prok prok prok prok!
"Nggak usah tepuk tangan juga!"
Penumpang yang
lain kenapa asyik banget ikut-ikutan, sih!
"Nyahaha! Kalau begitu selanjutnya... Oh, Mas-mas yang
di sana yang auranya mirip Pengawal Rumah!"
Michiru-san kembali mulai meledek pria bertubuh agak tambun
yang duduk di belakang... Sebenarnya ada apa sih dengan orang ini? Apa dia
nggak takut kena komplain?
Aku memeriksa brosur yang terselip di rak, dan di sana
tertulis: 'Undangan Spesial HUT ke-25: Kembali Diledek Habis-habisan oleh
Pemandu Wisata, Paket Tur 3 Hari 2 Malam Tingkat Lanjut'.
...Ternyata para peserta di sini adalah orang-orang terpilih
yang dulu pernah ikut tur serupa secara sukarela, pantas saja mental mereka
sudah terlatih.
Dan
menurut brosur ini, di agensi Arable Travel, ada lebih dari sepuluh pemandu
yang khusus spesialis tur 'ledek-ledekan' begini... Kalau perusahaan defisit, mereka pasti jadi staf
pertama yang dipecat.
Setelah
Michiru-san puas meledek beberapa orang selama belasan menit,
"Nah, nah,
kalau cuma diledek terus kan membosankan. Gimana kalau kita main game
saja~"
Game? Ini kan bukan karya wisata sekolah,
menurutku nggak perlu sampai segitunya...
"Ada yang
punya ide mau main apa?"
Aduh, mana
mungkin ada orang yang mau angkat bicara di situasi yang isinya orang asing
semua be—
"Saya punya
ide."
"Ah,
Yukihira-chan, silakan."
Ada yang mau
dong...
"Karena kita
kebetulan naik bus yang sama, bagaimana kalau kita semua melakukan Sesi
Kenalan Pasca-Kejadian?"
"Oi, ini kan
bukan di sekolah, nggak perlu sampai kenal—"
Belum sempat aku
menyelesaikan protesku, Furano langsung memotong dengan wajah datarnya yang
biasa.
"Amakusa-kun,
sepertinya telingamu sudah membusuk. Aku bilang Kenalan Pasca-Kejadian."
"Hah?
Pasca?"
"Iya. Kita
saling memperkenalkan pengalaman paling mengejutkan yang pernah kita alami di
atas tempat tidur."
"SIAPA JUGA
YANG MAU CERITA BEGITUAN!"
Tiba-tiba,
Michiru-san mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Saya mau!
Waktu SMA dulu, saya pernah diajak Pak Guru ke—"
"JANGAN
IKUT-IKUTAN!"
"Waktu
Kanade-san sedang tidur, Natsuhiko-san mencoba lubang belakang—"
"YANG
OTAKNYA FUJOSHI JUGA DIAM DEH!"
"Tempat
tidur? Ah, kalau ibuku, dia bilang bakal bergairah kalau dipukul pakai
cambuk—"
"HENTIKANNNNN!"
Chocolat dan Ouka
yang duduk di belakang mulai ikut kumat gilanya. Anak-anak ini... mereka benar-benar bercanda
dengan gaya yang sama persis seperti saat di sekolah. Kalau begini terus,
penumpang lain pasti bakal merasa risi.
"Gimana
dengan Bapak yang di sana?"
Di luar
kekhawatiranku, si pemandu malah menyodorkan mikrofon ke arah pria paruh baya.
Nggak mungkinlah dia mau ja—
"Eh?
Saya? Saya sih waktu itu di gudang kantor—"
"CERITA
JUGA, DONG?!"
Kalian semua ini
kenapa asyik banget sih ikutannya!
"Kalau Mbak
yang di sana gimana?"
"A-aku...
sebenarnya... aku cuma bisa nafsu kalau lawannya anak kecil..."
"OUT, WOI!
OUTTTT!"
Nggak, nggak,
nggak, kenapa mereka semua malah menjawab dengan jujur?! Ini aneh banget...
"Kalau gitu,
sekali lagi, Mas Pengawal Rumah, silakan!"
Michiru-san
kembali menodong pria tambun itu.
"A-aku...
tiga bulan lagi bakal jadi Penyihir (Perjaka 30 tahun)..."
"CERITA YANG ITU NGGAK PERLU DISEBUTIN, WOI!"
Level ngenesnya beda jauh dengan ledekan perjaka yang
kuterima tadi.
"Sip! Berkat
Sesi Kenalan Pasca-Kejadian tadi, suasana di bus ini jadi terasa sangat
kekeluargaan ya—"
"Keluarga
dari mana! Matamu sudah katarak, ya?!"
...Sepertinya, di
dalam bus ini, nggak ada satu pun orang waras selain aku.
ï¼’
"LAUTTTT!"
"Laut,
desu!"
Ouka dan Chocolat
menempelkan wajah mereka ke kaca bus sambil heboh bersorak.
Ya, tujuan
pertama tur kali ini memang laut.
Dua orang ini
jelas terlalu bersemangat, tapi jujur aja… aku juga lumayan excited. Sudah lama
banget aku nggak ke laut.
"……"
"Hm? Ada
apa, Furano?"
Di sebelahku,
Furano terlihat agak pucat.
"……Nggak ada
apa-apa."
"Eh?
Kayaknya kamu nggak enak badan deh… jangan-jangan mabuk kendaraan?"
"……Terima
kasih atas perhatianmu. Tapi yang bikin aku mual bukan karena bus ini."
"Kalau gitu
kenapa?"
"Aku mabuk
Amakusa."
"……Hah?"
"Setiap kali
lihat wajahmu, perutku langsung mual. Jadi, Amakusa-kun, boleh nggak aku
muntahin isi perutku ke muka kamu?"
"JELAS NGGAK
BOLEH!"
"Masalahnya,
sarapan aku tadi pagi itu salamander panggang utuh. Jadi mungkin bakal keluar
utuh juga."
"KAMU
SEBENARNYA MAKAN APA SIH⁉"
"Ah, maaf.
Maksudku tokek, bukan salamander."
"ITU
NGGAK BEDA JAUH!"
"Jelas
beda banget‼"
"Kenapa
malah marah balik⁉"
"Minta
maaf."
"Hah?"
"Ke tokek di
perutku. Bilang, 'Maaf ya, aku salah kira kamu sama salamander'."
"Eh, tunggu
dulu, itu kan──"
"Cepat."
"……Ma-maaf
ya, aku salah kira kamu sama salamander."
"Oh,
ternyata kamu lumayan jujur juga. Dengan begini, salamander di perutku… eh, tokek ya? Yah, sama aja sih."
"AKU
BENAR-BENAR MAU NABOK KAMU!"
"Padahal aku
nggak makan keduanya kok."
"UGAAAAHHHHH!"
…Aku benar-benar
bodoh karena sempat khawatir.
◆◇◆
"Yosh…
hoi…!"
Setelah ganti
baju di ruang ganti yang sudah disediakan, aku melakukan pemanasan di tepi
ombak.
"Kanade-cchi,
maaf nunggu yaa!"
"Kanade-saaan!"
"……"
Ouka, Chocolat, dan Furano datang bersama-sama.
Entah baru beli atau gimana, ketiganya memakai swimsuit yang
berbeda dari waktu kami pergi ke Aqua Galaxy dulu.
Ouka tampil berbeda dari citra warna merahnya yang biasa, ia
mengenakan bikini berwarna biru muda.
Meski warnanya sangat kontras, tapi entah kenapa terasa
menyegarkan dan sangat cocok dengan kepribadian Ouka.
Bagian
kainnya luar biasa minim, dan tingkat keterbukaannya pun tetap bar-bar seperti
biasanya.
Chocolat
mengenakan baju renang warna-warni dengan basis putih.
Kalau
kostum biasanya bertema cokelat, yang ini lebih terasa seperti parfait.
Kalau cokelat itu
Chocolat, berarti parfait itu Parfait? ...Kayaknya bahaya kalau
diteruskan, mending berhenti sampai di sini saja.
Furano memakai
baju renang yang benar-benar hitam, baik atasan maupun bawahannya. Karena
rambut dan kulitnya seputih salju, warna hitam itu jadi terlihat sangat
menonjol.
Apalagi
desainnya sangat mendetail dan imut... Ada apa dengannya?
Mulai
dari rok mini tadi sampai baju renang ini, rasanya ini bukan gaya Furano yang
biasanya.
"Kanade-chi, gimana, gimana?"
"Kanade-san, apa aku imut?"
"..."
"A-Ah, iya... Aku rasa kalian bertiga cocok
memakainya," jawabku jujur.
"YAY!"
"Ehe-he."
"..."
Ouka dan Chocolat bersorak gembira, sementara Furano hanya
terdiam sambil menunduk.
Yah, biarpun dia menunduk, sepertinya aura tidak bersahabat
yang biasanya tidak keluar, jadi kurasa dia baik-baik saja.
Bagaimanapun juga Furano itu perempuan, biarpun pujiannya
datang dariku, dia pasti tidak merasa keberatan.
"Kanade-chi, ayo cepat renang!"
"A-Ah,
oi...!"
Begitu selesai
bicara, Ouka langsung menarikku ke laut.
"Kanade-san,
ada banyak laki-laki yang berenang sambil memamerkan puting mereka dengan
jelas, lho!"
"Jangan
bilang begitu, dong!"
Chocolat
juga ikut mendorong punggungku dari belakang.
"A-Ah, tunggu dulu..."
Hm? Barusan
di belakang seperti ada suara yang sangat kecil—
"ORIIYAAAA!"
"UWAAH!"
Tiba-tiba
aku didorong dari samping sampai terjungkal ke permukaan laut.
"Geho, geho!
Kamu ini..."
"Ahaha! Rambutmu menempel semua, aneh
banget tahu!"
Ouka
tertawa terbahak-bahak. B-Bocah ini benar-benar...
"Para
pria sekalian... Kanade-san basah kuyup! Kanade-san sedang basah kuyup,
nih!"
"Pulang
sana kamu!"
"Kalau
di dalam air, makin basah pun tidak akan ketahuan, lho!"
"Ngomongin
apa sih kalian?!"
"Rambutnya
melayang-layang. Ahaha, mirip rumput laut!"
"UGAAAH!
KALIAN BERDUA BERHENTI TIDAK, SIH!"
◆◇◆
"...Sial,
aku benar-benar menderita."
Sekitar
tiga puluh menit kemudian, setelah dikerjai habis-habisan oleh Ouka dan
Chocolat, aku naik ke pantai dengan perasaan muak.
Ouka
bilang, "Aku mau renang sebentar ya," lalu dia berenang dengan
kecepatan luar biasa seolah mau ikut Olimpiade, sementara Chocolat pergi ke
arah bebatuan sambil bilang, "Aku mau cari kerang yang bisa dimakan!"
...Mereka terlalu bersemangat sampai aku tidak sanggup mengimbangi.
"Benar-benar...
Hm?"
Aku
melihat Furano sedang berjongkok melakukan sesuatu. Sepertinya dia
sedang membuat sesuatu dari pasir.
"..."
"Furano, itu apa?"
Karena terhalang tubuhnya, aku tidak bisa melihatnya dengan
jelas, tapi...
"Gunung kembar."
"...Hah?"
Furano menunjuk ke suatu arah.
"Di sana ada babi betina berotak udang yang punya
gunung kembar besar tidak karuan, kan?"
...Yah, memang dadanya besar sih, tapi dia tidak terlihat
bodoh juga. Lagipula "babi betina" itu kasar banget, tahu...
"Ini adalah objek yang kubentuk menyerupai gunung
kembar babi betina itu. Aku memainkannya dengan cara menginjak-injaknya sekuat
tenaga sambil merapalkan kutukan 'enyahlah'."
"Kelam
banget!"
"Aku akan
membasmi semua oppai besar tanpa menyisakan satu ekor pun."
Kenapa kamu
bicara seperti karakter yang mau membasmi Titan begitu, sih...
"Sekalian
juga, aku akan memusnahkan semua 'pusaka' besar sampai ke akar-akarnya."
"APA?!"
"Amakusa-kun...
sepertinya kamu boleh tenang."
"BERISIK!"
Bisa
tidak, jangan mengatakannya sambil menatap selangkanganku lekat-lekat begitu?
Sakit hati tahu.
"Ngomong-ngomong
Furano, kamu tidak masuk ke laut?"
"..."
Melihat
wajah Furano yang seketika berubah masam, aku langsung teringat.
"Ah,
benar juga. Kamu kan tidak bisa berenang."
Di Aqua
Galaxy kemarin dia memang tenggelam habis-habisan, sih.
"Tidak bisa
berenang? Apa maksudmu? Kalau 'pusaka' milik Amakusa-kun diibaratkan alat
pertukangan, itu paling banter cuma seukuran sekrup."
"KAMU
NGOMONG APA SIH?!"
Milikku...
sekecil itu kah?
"Amakusa-kun,
sepertinya kamu salah paham. Aku bukannya tidak bisa berenang."
"Tapi
yang di belakangmu itu... perahu karet, kan?"
Sedikit
jauh dari tempatnya, ada sebuah perahu karet berbentuk karakter Shirobuta-kun.
Rasanya tempat penyewaan di pantai tidak mungkin menyewakan benda seperti ini,
jadi kemungkinan dia membawanya sendiri.
"Perahu
karet? Bukan, ini adalah dakimakura babi untuk memuaskan hasrat."
"Mana
mungkin!"
"Untuk
Amakusa-kun yang punya selera aneh terhadap babi, bukannya ini pas?"
"Aku
normal, tahu!"
"Tapi
ukuran 'itu'-mu sepertinya tidak bisa dibilang normal."
"SUDDAAAAAHHH!"
Ini cuma
bercanda, kan... Iya, kan?
"Tidak
bisa... kalau begini terus bakal sama saja seperti biasanya... begini tidak
boleh."
Furano
menunduk dan menggumamkan sesuatu. Karena aku tidak mendengar jelas isinya, aku
berniat bertanya kembali, saat itulah—
"...Amakusa-kun."
"Ada
apa?"
Tiba-tiba
atmosfer di sekitar Furano berubah.
"A-Anu..."
"Anu?"
"Aku
bisa berenang, kok... Bukannya tidak bisa berenang... tapi menurutku tidak ada
aturan yang melarang orang yang bisa berenang untuk naik perahu karet."
"Yah...
kurasa begitu."
Karena
sepertinya dia bersikeras tidak mau mengaku kalau tidak bisa berenang, aku
ikuti saja maunya.
"Itu...
kalau tidak keberatan... kalau tidak keberatan..."
"Kalau tidak
keberatan?"
Furano melirik ke
arah perahu Shirobuta-kun dengan gelagat yang sulit diungkapkan.
"Ka-Kalau
kita bisa... naik ini... bersama-sama... aku akan senang, mungkin."
"Hm? Maaf,
bisa ulangi sekali lagi?"
"Na-Naik
perahu karet ini bersama—"
"...Maaf,
suaramu tidak terdengar sama sekali."
"............"
Furano yang
tiba-tiba kembali ke ekspresi datar, memanggil orang yang kebetulan lewat di
dekat kami.
"...Anda
yang di sana."
Dia adalah gadis
berdada besar yang tadi dihina habis-habisan oleh Furano.
"Eh?
Saya?"
Gadis itu
memiringkan kepala dengan heran.
"Iya, benar.
Saya cuma ingin memberitahu informasi soal orang berbahaya. Sebenarnya,
laki-laki di sebelah saya ini membuat objek dada dari pasir sambil terus
memandangi Anda."
ORANG INI NGOMONG APA SIH?!
"Eh? ...Eh?"
Dengan
bingung, si gadis melihat ke arah yang ditunjuk Furano. Di sana, ada sebuah
dada dari pasir dengan kualitas yang luar biasa tinggi.
"T-Tunggu,
ini salah paham..."
Saat aku
mengulurkan tangan ke arah gadis itu untuk menjelaskan situasinya—
PILIH:
① Remas dada gadis itu
② Remas dada Furano
③ Remas dada pasir
"MATI SAJA!"
Tanpa sadar aku berteriak keras, membuat gadis itu tersentak
kaget.
"Amakusa-kun, setelah sembarangan membuat objek dada,
mengumpat 'mati saja' itu agak keterlaluan."
"Kamu
benar-benar diam saja, deh!"
Sambil
menahan sakit kepala yang menyerang, aku berusaha membela diri.
"A-Anu,
maaf. Barusan aku bukan
mengatakannya padamu, tapi..."
Dan sambil
memberi alasan, aku berjongkok—
"Ini
adalah... makian untuk diriku sendiri yang melakukan hal semacam ini!"
Lalu aku meremas
dada dari pasir itu.
"I-IYYAAAAAA
DASAR HEN-TAIIIIIIIII!"
Sambil berteriak
histeris, gadis itu lari terbirit-birit dengan kecepatan penuh.
"Ke-Kenapa
aku harus mengalami hal seperti ini..."
Furano menepuk
pundakku pelan.
"Amakusa-kun..."
Tampak ekspresi
merasa bersalah di wajah Furano. Padahal biang keroknya adalah dia, tapi kalau
dia memang menyesal—
"Rasakan itu
(wkwk)."
"Lama-lama
benar-benar kupukul kamu! ...Eh?"
Tiba-tiba nada
bicara Furano melemah dan dia menunduk.
"...Permisi."
Sambil
berkata begitu, dia berjalan pergi sambil menyeret perahu karet Shirobuta-kun.
"Aku
bodoh... aku memang bodoh..."
Sepertinya
dia menggumamkan sesuatu... tapi seperti biasa, Furano itu benar-benar tidak
bisa dimengerti.
3
"Haaa..."
Aku berbaring telentang di pasir pantai sambil memikirkan
misi itu. Ciuman... Ciuman, ya... Apa yang harus kulakukan? Tentu saja aku
tidak bisa memaksakan ciuman kepada orang yang tidak menginginkannya.
Lagipula, meski ada keajaiban seorang gadis mau berciuman
denganku, melakukannya di depan ketiga orang itu punya tingkat kesulitan yang
terlalu tinggi.
"Yuhuu, Amakusa-chan~"
Sebuah suara tiba-tiba menginterupsi pemikiranku.
"Ah, Michiru-san... Eh, UWOH!"
Begitu
melihat sosoknya, aku spontan berteriak.
"A-Apa-apaan
baju renang yang Anda pakai itu...?"
Dia
mengenakan baju renang dengan tingkat keterbukaan kulit yang luar biasa
ekstrem.
Ouka
memang sudah parah, tapi yang ini jauh melampaui persentase warna kulit
dibanding kainnya.
"Gimana
ya, anggap saja ini fan service~?"
Dia meliukkan
tubuhnya sambil meniru gaya bicara Misato-san. Namun, harus diakui, bagian yang
harusnya menonjol memang menonjol, dan bagian yang harusnya ramping memang
ramping—sebuah proporsi tubuh yang ideal.
Kalau
saja sifatnya normal, dia pasti bakal populer banget. Sayang sekali... kalau
orang ini jadi murid di sekolahku, dia pasti sudah masuk daftar Okotowari
Five.
"Itu
jelas-jelas bukan seragam pemandu bus, kan..." gumamku sambil melangkah
mundur satu langkah.
"Hm?
Kok Amakusa-chan kayaknya menghindariku, sih?"
"Enggak,
bukan begitu..."
Sebenarnya
iya. Bukannya aku benci dia, tapi orang ini punya bau-bau yang sama dengan Ouka
dan Furano. Kalau bisa, aku ingin menghindari urusan dengannya.
"Ayo
dong, mumpung ada kakak cantik berbaju renang di dekatmu, boleh lho kalau mau
lebih bersemangat."
Michiru-san berpose layaknya model majalah dewasa.
"Lihat
kakak berbaju renang begini, nggak merasa terangsang?"
"...Enggak."
"Lihat
kakak berbaju renang begini, nggak merasa Ora-Ora?"
"Enggaklah.
Kenapa jadi Jotaro gitu, sih?"
"Lihat kakak
berbaju renang begini, nggak merasa Nara-Nara?"
"Nggak paham
maksudnya apa!"
"Lihat kakak
berbaju renang begini, nggak ngerasa pengen ke Nara?"
"Makuhari?!"
Sial... Makanya aku malas berurusan dengan orang tipe
begini. Kalau dibiarkan
bercanda, tidak akan ada habisnya. Mending ganti topik saja.
"Anu...
boleh aku tanya satu hal?"
"Ah, pemotong favoritku itu 'Nara Cutter', lho."
"SIAPA JUGA YANG TANYA ITU!"
"Apa, apa? Kamu mau dengar soal 3 FREEZE
kakak?"
"Itu ukuran
kan! Kenapa jadi Echoes!"
"Nyahaha,
ngerjain Amakusa-chan emang paling seru, ya~"
"Ugh..."
"Jadi,
sebenarnya apa yang mau kamu tanyakan?"
Akhirnya
dia mau mendengarkan dengan serius.
"Anu...
tiga tahun lalu, aku juga datang ke sini, kan?"
"Iya.
Kenapa, ada yang kamu ingat?"
"Enggak...
rasanya hampir teringat, tapi tidak ada satu pun yang muncul di kepala...
Michiru-san, bisa beri tahu aku apa yang terjadi tiga tahun lalu?"
"YA-GA-MAU☆"
"Hah?"
"Nggak
mau, wlee. Lagipula, kalau bukan Amakusa-chan sendiri yang mengingatnya, itu
tidak akan ada artinya, lho~"
"Aku
sendiri..."
"Iya,
iya. Soalnya—"
Tiba-tiba,
ucapan Michiru-san terhenti.
"Oyoyo?
Bukankah itu Yukihira-chan?"
"Eh?"
Aku
mengikuti arah pandang Michiru-san ke arah laut.
"Ah,
benar juga."
Agak jauh
dari area ramai orang berenang, terlihat satu titik yang mengapung sendirian.
Itu Furano yang sedang naik perahu karet Shirobuta-kun.
Dari
kejauhan saja sudah terlihat kalau wajahnya pucat pasi. Sebenarnya dia tidak
hanyut terlalu jauh, tapi bagi si payah renang Furano, itu masalah besar.
"Kenapa ya?
Kelihatannya agak aneh."
"Dia
itu tidak bisa berenang... Aku
pergi ke sana sebentar."
"Uwah... Amakusa-chan pura-pura mau menolong padahal
niatnya mau berbuat H ke Yukihira-chan."
"Enggaklah!"
"Uwah... Amakusa-chan pura-pura mau menolong padahal
niatnya mau berbuat HG ke Yukihira-chan."
"Maksudnya apa sih!"
Ngapain juga aku harus goyang pinggul sambil menolong dia...
"Uwah... Amakusa-chan pura-pura mau menolong padahal
niatnya mau berbuat RG ke Yukihira-chan."
"Nggak
bakal a... ADA LAH!"
Michiru-san
sepertinya masih ingin melawak, tapi aku langsung lari dan masuk ke laut. "Benar-benar...
Sudah tahu nggak bisa berenang, ngapain sih dia itu."
Aku berenang di
sela-sela kerumunan orang menuju perahu Shirobuta-kun. Setelah sampai di jarak tertentu,
aku berhenti melakukan gaya bebas dan mendekat sambil berenang tegak.
"Gimana ini
gimana ini gimana ini..."
Furano yang
wajahnya sudah seputih kertas itu sedang memeluk erat perahu karetnya dengan
putus asa. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiranku.
"Furano,
kamu baik-baik saja?"
"Gimana ini
gimana ini gimana ini..."
"Ooi,
Furano."
"Gimana ini
gimana ini gimana ini..."
...Sepertinya
kalau begini terus dia tidak akan sadar, jadi aku menepuk pundaknya. Puk,
puk.
"Halo-halo?"
"He?
............ A-AAAAAAAMAKUSA-KUN?!"
Reaksi Furano
saat menyadariku benar-benar luar biasa heboh.
"Woi, woi,
jangan terlalu banyak gerak, nanti jatuh!"
Mendengar
peringatanku, Furano langsung tersentak dan tubuhnya mematung seketika.
"..."
Wajahnya
kembali ke ekspresi datar yang biasa, dan sekilas tampak sudah tenang. Tapi,
"Kelihatannya
kamu ketakutan banget, nggak apa-apa?"
"A-A-A-A-A-Apa
yang kamu bi-bi-bi-bi-bi-bicara-kan. A-A-A-A-Aku ba-ba-baik-baik sa-ja-ja-ja-ja-ja."
"Gila,
baru kali ini aku lihat orang segemetar ini!"
"A-A-A-A-Anginnya
cuma sedikit kencang, jadi aku cuma sedikit ha-ha-ha-hanyut
sa-ja-ja-ja-ja."
...Begitu ya.
Kalau dia turun dari tadi saat baru mulai hanyut, mungkin tidak masalah kalau
dia bisa berenang. Tapi bagi si payah renang, itu mustahil.
"...Nih."
Aku menjulurkan tangan.
"..."
Namun,
Furano tidak kunjung menyambutnya.
"...Ayo."
Begitu
aku mendesak lebih tegas, dia akhirnya memegang tanganku dengan ragu-ragu.
"...Terima
kasih."
Suaranya
sangat kecil sampai aku hampir tidak dengar, tapi gemetarnya sudah berhenti. Sepertinya dia sudah mulai tenang.
"Kalau
begitu, aku juga ikut naik, ya."
Aku pun naik ke
belakang Furano.
"Tu-tunggu... Kamu sedang apa?"
"Apa lagi?
Kalau tidak dikayuh, kita tidak bisa kembali, kan?"
Kalau aku
berenang sambil mendorong perahu, keseimbangannya bakal buruk. Kurasa mengayuh
bersama adalah cara terbaik, tapi...
"Be-belakang
jangan..."
"Hah?"
"Maksudku,
itu... rasanya seperti mau berbuat mesum... jadi jangan."
Suaranya
kecil lagi, aku benar-benar tidak dengar.
"Furano,
apa katamu?"
"...Aku
bilang, aku tidak sudi memercayakan punggungku pada sampah sepertimu."
Kata-kata kasar
yang luar biasa keluar dari mulutnya.
"...Maaf deh
kalau gitu."
Entah bagian mana
yang menyinggungnya, tapi tidak ada gunanya berdebat di sini. Aku turun ke air
sebentar, lalu naik lagi ke depan Furano.
"..."
"Anu..."
"..."
...Kenapa ya, aku
merasakan tatapan yang sangat tajam di punggungku.
"Furano, apa
ada sesuatu di punggungku?"
"Amakusa-kun,
apa kamu berminat membuat tato gunung kembar di punggungmu?"
"Kenapa tiba-tiba ngomong begitu?!"
"Kalau kamu pergi ke pemandian umum, orang bakal
mengira kamu anggo-ta Yak*za, dan semuanya bakal minggir."
"Itu namanya
mereka takut, tahu!"
"Selain itu,
kalau di lomba lari tujuh belasan ada syarat 'orang yang punya tato gunung
kembar di punggung', kamu bisa berguna."
"Sampai
seribu tahun pun syarat kayak gitu nggak bakal ada!"
"Bukan... Bukan itu maksudku... Mumpung cuma berdua...
aku harus tanya..."
Aku mendengar
suara napas panjang dari belakang.
"Amakusa-kun...
boleh aku tanya satu hal?"
"Hm?
Apa?"
"............"
Furano mendadak
diam seribu bahasa, seolah sulit mengatakannya.
"Ada
apa?"
"............"
Dia makin terdiam
lama. Setelah beberapa saat, barulah dia membuka suara.
"Itu... soal
kejadian waktu itu..."
"Waktu
itu?"
"Iya... saat
kita pergi ke festival musim panas di kuil."
"Ah,
festival itu kenapa?"
"Waktu
itu... kamu bilang kalau kamu suka berada bersama aku, Ouji-san, dan
Chocolat... kan?"
"A-Ah,
iya..."
Aku
memang pernah bilang begitu... Kalau diingat lagi, itu kalimat yang cukup memalukan. Tapi kenapa dia
membahasnya sekarang?
"Itu
artinya... memang begitu, kan?"
"? Begitu
bagaimana?"
"Itu
artinya... tidak ada perasaan yang lebih dari itu, kan?"
"Lebih dari
itu?"
"M-Maksudnya...
ya lebih dari itu!"
"...Maaf.
Aku tidak paham kalau tidak dibilang secara spesifik."
"............"
Furano
terdiam lagi. Lalu, setelah beberapa saat, dia bergumam lirih.
"Sudahlah...
mending kukatakan saja sekarang..."
Tiba-tiba, Furano
menyandarkan wajahnya ke punggungku.
"Oi,
Fura—"
"Dengarkan."
Suaranya
terdengar sangat serius, nada yang belum pernah kudengar dari Furano
sebelumnya.
"A-Ah, baiklah..."
Furano berucap pelan, namun jelas.
"Anu...
Amakusa-kun... bagimu aku itu... aku itu... anu... sebagai se-seorang
perempuan, apa pen-pendapat—"
Tepat saat itu,
angin berembus sangat kencang.
"WOH!"
"KYAAAAA!"
Keseimbangan kami
goyah, dan perahu Shirobuta-kun terbalik. Otomatis, aku dan Furano terlempar ke
laut.
"Aduh.
Furano, kamu tak a—"
"Wap, wap,
wap! NGGAK MAU! BISA
MATI AKU! AKU
MATIIIIII!"
...Dia tenggelam
habis-habisan.
"Oi,
oi."
Furano
meronta-ronta sambil mencipratkan air ke mana-mana.
"NGGAK MAU!
TOLOOOONG!"
Dalam kondisi
panik luar biasa, Furano memeluk punggungku dengan sangat erat.
"Oi!"
Karena dia
memelukku terlalu kencang, meski dadanya minimalis, aku bisa merasakan
sensasinya dengan jelas. Kurasa ini bahaya, jadi aku mencoba melepaskannya,
tapi Furano melawan dengan kekuatan luar biasa.
"NGGAK MAU!
JANGAN LEPAS! NANTI AKU TENGGELAM! AKU BISA MATIIIIIII!"
Anak
ini... dia pasti tidak sadar sedang memelukku.
"Furano..."
"Nggak mau
nggak mau, jangan lepasin! Kalau jauh dari Amakusa-kun aku bisa matiiii!"
"...Tapi
di sini kan dangkal."
"................................
He?"
Dengan
suara yang sangat cengo, Furano yang masih memeluk leherku itu langsung berdiri
tegak.
"...Kakiku
menapak, ya."
"...Iya."
"...Aku
tidak tenggelam, ya."
"...Iya."
"...Meski
dilepas, tidak apa-apa, ya."
"...Iya."
"............"
"............"
Tiba-tiba Furano mulai gemetaran hebat.
"Ya-Yah, setiap orang pasti punya hal yang tidak
dikuasai, kok—AGUUEEEEHHH!"
Leherku dicekik sekuat tenaga!
"Setelah... setelah memperlihatkan sosok seperti itu...
pilihannya cuma membunuhmu!"
Kamu pikir kamu karakter dari novel mana, hah! Mungkin ini
yang namanya kekuatan dalam keadaan darurat, dia mencekikku dengan tenaga yang
tidak masuk akal. B-Bahaya... nyawaku bisa melayang.
"He-hentikan...!"
"Kyat!"
Aku memutar tubuhku dan entah bagaimana berhasil melepaskan
diri dari dekapan maut Furano.
"Geho...
goho..."
Rasanya hampir
mati. Tepat saat aku mau memarahinya—
"UUWOOH?!"
Tinju Furano
sudah berada tepat di depan mataku. Anak ini... apa dia mau memukulku lagi
untuk menghapus ingatan—
"—!"
Aku memejamkan
mata karena pasrah, tapi rasa sakitnya tidak kunjung datang. Begitu kubuka mata
pelan-pelan, tinju Furano berhenti tepat di depan wajahku.
"..."
Furano menurunkan
tangannya tanpa suara. Dan—
"Oi..."
Wajah Furano
menyandar di dadaku.
"...Tolong
lupakan."
"...Ya-Yah,
biarpun kamu bilang begitu..."
"Kumohon...
lupakan saja."
"Furano..."
Setelah
menjauhkan wajahnya, Furano membawa perahu Shirobuta-kun dan berjalan menuju
pantai.
"Haaa..."
Sambil
menghela napas melihat ketidakstabilan emosinya yang seperti biasa, aku tidak
sengaja melihat ke bawah.
"Hm?"
Ada
ubur-ubur. Karena warnanya transparan, aku harus melihatnya dengan jeli. Seekor
ubur-ubur yang cukup besar sedang melayang di permukaan air.
Kalau
tidak salah, sengatan ubur-ubur itu sakit sekali. Bahkan ada jenis yang bisa
membahayakan nyawa. Yah, tapi dengan jarak sejauh ini, aku tinggal menghindar
saja—
PILIH:
① Disengat ubur-ubur (Seluruh tubuh
akan lumpuh hebat selama beberapa menit)
② Disengat ubur-ubur (Hanya
'pusaka'-mu yang akan lumpuh selamanya dengan rasa nikmat yang pas)
...Nggak mau lah. Meski rasanya "pas", aku nggak
mau kalau barangku lumpuh seumur hidup. Tepat saat aku memilih nomor ①
dengan gemetar—
"UWAAAAH?!"
Ubur-ubur yang tadinya mengapung santai itu tiba-tiba
melesat ke arahku dengan kecepatan tinggi. Lalu—
"GYAAAAH!"
Pahaku disengat, dan aku langsung mengerang kesakitan.
Ini... ini nggak lucu sama sekali...
"Ugh... ku..."
Karena aku tidak boleh pingsan di air, aku memaksakan diri
berjalan ke pantai lalu langsung ambruk.
"Amakusa-kun?"
Furano
yang menyadarinya langsung berlari mendekat.
"Tu-tunggu...
ada apa?"
Dia duduk
di sampingku dengan panik, tapi karena mulutku juga sudah lumpuh, aku tidak
bisa menjawab.
"Gi-gimana
ini gimana ini..."
Karena
Furano panik berlebihan, kerumunan orang mulai berkumpul untuk melihat apa yang
terjadi. Uwah, ini jadi masalah besar.
Padahal
pilihan tadi bilang cuma beberapa menit, kalau dibiarkan sebentar lagi juga
sembuh, tapi...
"I-Ini
salahku, Amakusa-kun jadi begini..."
Mata Furano mulai
berkaca-kaca. Sepertinya dia salah paham dan mengira aku jadi begini gara-gara
dicekik tadi. Aku ingin memberitahunya, tapi mulutku belum bi—
"Tolong
minggir!"
Tiba-tiba
terdengar suara yang sangat berat, dan seseorang muncul dari kerumunan. Seorang
paman berotot kekar yang memakai celana renang yang sangat pendek.
Dilihat dari
penampilannya, sepertinya dia penjaga pantai (Lifesaver). Dia pasti
datang karena melihat keributan ini.
Penjaga pantai
itu berjongkok di sisi lain Furano dan menatap kondisiku dengan lekat... Ngomong-ngomong,
kumis paman ini tebal banget, ya.
"Gawat, sepertinya dia meminum banyak air."
He?
"Kalau
begini... harus segera diberi napas buatan!"
E-Eh, tunggu dulu
paman. Aku cuma lumpuh dan tidak bisa bicara, tidak ada hubungannya dengan
napas buatan...
"Anak
ini... biar aku yang selamatkan!"
Tu-tunggu dulu,
Paman! Kenapa kamu semangat banget mendekatkan wajahmu? Itu nggak perlu—
"Aku datang,
Anak Muda!"
GYAAAAAAARGH!
◆◇◆
"Oueeh..."
Sambil menahan
rasa mual, aku keluar dari klinik darurat di samping pondok pantai.
Menurut
dokter, aku tidak masalah jika ingin melanjutkan tur. Karena sengatan ini bukan
sengatan biasa melainkan akibat "pilihan", sepertinya tidak ada efek
samping yang tersisa.
"Amakusa-kun..."
Furano ada di
sana. Sepertinya dia menungguku selesai diperiksa.
"Maafkan
aku."
"Eh?
Kan sudah kubilang sebelum diperiksa tadi. Itu bukan salahmu, tapi gara-gara
ubur-ubur. Kamu tidak perlu minta maaf."
"Bukan
soal itu."
"Hah?"
"Maaf
karena gara-gara aku heboh, kamu jadi harus melakukan ciuman yang tidak
perlu."
"Jangan
diingatkan lagi, dong..."
Sensasi
bibir dan kumis penjaga pantai itu muncul lagi di ingatanku, rasa mualku
kembali memuncak.
"Maaf
karena membuatmu ciuman yang tidak perlu dengan Konuma Shigeo (44 tahun)."
"Kenapa
sampai profilnya kamu cari tahu juga, sih..."
"Maaf karena
membuatmu bertukar air liur yang tidak perlu dengan Konuma Shigeo (44
tahun)."
"Jangan
dibilang begitu, geli tahu!"
"Maaf
karena membuatmu bertukar cairan tubuh yang tidak perlu dengan Konuma Shigeo
(44 tahun)."
"KITA NGGAK
MELAKUKAN ITU!"
Lalu tiba-tiba
aku tersadar.
"Ah...
bukannya ini berarti misinya selesai?"
Aku jelas-jelas sudah berciuman di depan Furano.
"Selesai?"
"Furano,
maaf, ada yang harus kupastikan sebentar."
Setelah
berpamitan pada Furano yang kebingungan, aku lari ke ruang ganti.
"Ada..."
Ada satu email
masuk dari "Tuhan". Dengan jantung berdebar penuh harap aku membukanya—
"Hm?"
Itu bukan
pemberitahuan kalau misi selesai.
Napas buatan
adalah tindakan mulia untuk menyelamatkan nyawa, dan dianggap berbeda dari
ciuman. Oleh karena itu, kecupan dengan Konuma Shigeo tadi tidak dihitung...
RASAKAN ITU!
"KAMU
NGELEDEK YA!"
Sebagai
tambahan, target ciuman dalam misi ini terbatas pada wanita asli... Berciuman
dengan Paman Natsuhiko, kamu bodoh ya? (wkwk)
"UGYAAAAAAH!"
Tepat saat aku
berteriak karena kesal dipermainkan—
Ciuman itu...
harus dilakukan dengan orang yang kamu suka, ya.
"...Eh?"
Deg.
Tepat saat
melihat kalimat itu,
"Ugh..."
Rasa mual
yang hebat kembali menyerangku.
"Ugh...
huekk..."
Aku menutup mulut
dan lari ke toilet.
"Ugh...
ah... khh."
Aku memuntahkan
semua isi perutku. Dari kalimat email tadi... bagian mana yang membuatku merasa
aneh?
Ciuman
itu harus dengan orang yang disuka... Benar, kemarin aku juga memikirkan hal
yang sama dan diserang rasa mual yang serupa—
"Ah..."
Sebuah kilatan
ingatan melintas di otakku. Aku... aku yakin tiga tahun lalu, dalam tur ini,
aku menghabiskan waktu bersama seseorang. Naik bus bersama, bermain di
laut bersama, dan membuat kari bersama. Sangat menyenangkan... benar-benar
menyenangkan.
Tapi... aku tidak bisa mengingat wajah maupun namanya. Gadis
dalam ingatanku itu tertutup semacam kabut, sehingga wajahnya tidak terlihat
sama sekali.
Ingatan soal bus, laut, dan kari pun hanya sekadar
"pernah melakukan itu", tapi detail kejadiannya tidak muncul sama
sekali.
Meski begitu, intuisiku berkata. Gadis ini berhubungan erat
dengan ingatanku yang hilang.
Siapa... sebenarnya siapa gadis ini?
Interlude 2
Sebuah Kisah Tiga
Tahun Lalu — Bagian 2
Amagami Sora.
Gadis yang memperkenalkan dirinya dengan nama itu tiba-tiba
melepaskan tangannya dari kepalaku, seolah baru saja tersadar.
"Ah, ma-maaf ya. Aku terlalu lancang, ya? Mengelus kepala orang lain itu sudah jadi
kebiasaan kecilku."
"E-Eh, tidak
apa-apa, kok. Itu... rasanya nyaman."
"Benarkah?
Syukurlah kalau begitu."
Sora-san
tersenyum manis, lalu kembali mengelus kepalaku.
"Anak
pintar, anak pintar."
Aku benar-benar
diperlakukan seperti anak kecil, tapi anehnya, aku sama sekali tidak merasa
keberatan.
"Rasanya...
seperti punya kakak perempuan ya."
Mendengar
tanggapanku, Sora-san tersenyum getir.
"Ahaha, aku
memang sering dibilang terlihat lebih dewasa dari umurku yang sebenarnya."
Memang benar,
Sora-san memancarkan aura dewasa yang membuatku tidak percaya kalau kami hanya
selisih satu tahun.
"Anu,
Sora-san."
"Ah, panggil
Sora saja tidak apa-apa. Rasanya nama keluarga Amagami itu terdengar terlalu
berlebihan, aku kurang suka."
"Kalau begitu... Sora, san."
Aku memanggilnya dengan nada ragu. Memanggil nama depan
gadis sebaya adalah pengalaman pertamaku, selain kepada teman masa kecilku,
Yuragi.
Sora-san tersenyum lebar dengan raut wajah bahagia.
"Iya. Kalau begitu, aku boleh panggil Kanade-kun
juga?"
"Si-Silakan."
Kanade-kun... Kanade-kun, ya... Entah kenapa, kedengarannya
menyenangkan.
"Jadi, ada
apa, Kanade-kun?"
"Ah, tidak... Sora-san sama sekali tidak terlihat tua,
kok."
"Begitukah?
Meski cuma basa-basi, aku senang mendengarnya."
"I-Ini
bukan basa-basi, tahu."
"Fufu.
Hei Kanade-kun, selama tur ini, maukah kamu berteman baik denganku?"
"A-Ah,
i-iya, tentu saja!"
"Syukurlah."
Sora-san
tersenyum manis sekali lagi.
Setelah
itu, kami mengobrolkan hal-hal ringan di dalam bus. Sora-san mendengarkan
ceritaku yang sebenarnya tidak lucu sama sekali dengan senyuman, dan dia juga
menceritakan tentang dirinya sendiri.
"...Observasi
manusia?"
"Iya."
Saat
topik beralih ke hobi, kata itulah yang keluar dari mulut Sora-san.
"Hobi
yang unik, ya."
"Iya,
aku sering dibilang begitu. Tapi
tahu tidak, alasan aku menyapamu juga karena hobi ini, lho."
"Karena
observasi manusia?"
"Benar.
Begitu melihatmu mengobrol dengan Ibu Pemandu, aku langsung tahu. 'Anak ini
orang yang sangat murni', begitu pikirku. Makanya aku ingin mencoba berteman
dengannya... Fufu, ternyata kamu jauh lebih murni dari dugaanku."
"Be-Benarkah
begitu?"
Sora-san
mengangguk sambil tersenyum lebar. Aku tidak sanggup menatap senyuman itu
secara langsung, jadi aku hanya bisa menunduk malu.
◆◇◆
Akhirnya, bus
sampai di tujuan pertama kami, yaitu laut.
Ibu dan Ayahku
masih asyik bermesraan berdua seperti biasa, jadi aku membiarkan mereka dan
melakukan pemanasan sendirian di tepi pantai.
"Ah, ketemu!
Itu Kanade-kun."
Mendengar
suara dari belakang, aku menoleh.
"Ugh..."
Saking
cantiknya sosoknya dalam balutan baju renang, aku sampai mengerang tanpa sadar.
Baju
renang one-piece berwarna putih bersih itu sangat cocok dengan citra
Sora-san, dan kontrasnya dengan rambut birunya benar-benar luar biasa. Aku
terpaku menatapnya tanpa kedip.
"A-Anu...
kalau dilihat terus begitu, aku jadi agak malu."
"Ma-Ma-Ma-Maafkan
aku!"
"Ah,
ti-tidak perlu minta maaf sedalam itu... Sebagai perempuan, aku malah senang,
kok."
"Itu...
menurutku sangat cocok untukmu."
"Benarkah?
Terima kasih ya."
Bukannya sekadar
cocok, tapi dia sangat imut sampai-sampai model majalah mana pun tidak akan
bisa menandinginya.
"AAAAAH!
Amagami-chan dan Amakusa-chan sedang asyik bermesraan~!"
Tiba-tiba Ibu Pemandu muncul.
"Ti-Tidak
ada yang bermesraan... BUFF!"
Begitu
menoleh, aku langsung tersedak.
"I-Ibu
Pemandu, b-baju macam apa yang Anda pakai itu...?"
Baju
renangnya punya tingkat keterbukaan yang sangat keterlaluan.
"Gimana
ya? Rasanya kayak... service-service~?"
Sambil
menirukan gaya bicara Misato-san, Ibu Pemandu mulai berpose ala model gravure.
Orang ini... sebenarnya dia menganggap pekerjaan pemandu bus itu apa, sih?
"Lagipula
Amakusa-chan, jangan panggil Ibu Pemandu dong, kaku banget. Panggil Michiru
saja~"
"O-Oh,
begitu ya..."
"Nah,
karena si pengganggu ini mau pergi, silakan kalian nikmati waktu berdua...
Mufufu."
Michiru-san
pun pergi dengan gaya seperti tante-tante tetangga yang suka ikut campur.
"...Orang
itu sebenarnya datang untuk apa, ya?"
"Haha...
dia orang yang menarik, ya."
Sora-san
hanya bisa tersenyum getir.
"Ah,
benar juga, Kanade-kun."
Sora-san
bertepuk tangan sekali untuk mengubah suasana.
"Mau membuat
istana pasir bersamaku?"
"Ah, ide
bagus."
Mengikuti usulan
Sora-san, kami mulai membangun istana.
"Bagian
sini... apa begini sudah bagus?"
"Wah,
Kanade-kun, kamu hebat ya."
"Mungkin
kalau bagian ini dikikis sedikit lagi bakal terlihat lebih keren."
"Ah, benar
juga. Hebat, hebat!"
Bukannya mau
menyombongkan diri, tapi aku memang cukup terampil dengan tanganku. Istana
pasir yang kami selesaikan punya kualitas yang cukup membanggakan.
"Nah, selesai... Sora-san, bagaimana menurutmu?"
"Iya, cantik
sekali. Kanade-kun sudah berjuang keras ya, anak pintar, anak pintar."
Lagi-lagi,
Sora-san mengelus kepalaku.
"Ah, ada
lumpur di wajahmu."
Lalu, dengan
tangan satunya, dia mengusap noda lumpur yang menempel di pipiku.
"Hmm,
ternyata bepergian jauh dan bermain seperti ini... benar-benar menyenangkan,
ya!"
"Ugh..."
Tepat
saat melihat ekspresi Sora-san itu, sebuah perasaan asing bergejolak di dalam
dadaku. Rasanya menggelitik,
menyesakkan, pedih, tapi di saat yang sama... terasa panas membara.
Perasaan ini... sebenarnya apa?



Post a Comment