NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (NouCome) Volume 6 Chapter 2 & Interlude 2

Chapter 2

Penolakan Status Perjaka Harga Diri


1

"Halo semuanyaaa! Masih semangat, kaaan?!"

Tak lama setelah bus berangkat, suara dengan nada tinggi yang memekakkan telinga itu kembali menggema.

"Perkenalkan, saya Madobe Michiru yang akan memandu perjalanan kalian hari ini! Mohon bantuannya yaaa, kyarun~"

Pakai bilang 'kyarun' segala... Zaman sekarang bahkan idol sok imut pun sudah nggak pakai kata-kata begitu.

Karakter orang ini terlalu kuat dan nggak masuk akal... Harusnya aku nggak mungkin melupakan sosok seperti dia, tapi... Sial, rasanya sudah di ujung lidah tapi aku tetap nggak ingat.

"Kalau begitu, Amakusa-chan yang masih perjaka—"

"Bhuft!"

A-apa-apaan orang ini, tiba-tiba ngomong apa dia?!

"Muhufu~ Reaksinya kena sasaran ya, nyah."

Sial... Me-memang benar aku masih perjaka, tapi aku kan sudah kelas 2 SMA! Nggak punya pengalaman begitu pun bukan sesuatu yang memalukan, kan... iya kan?

"A-aku... bukan perjaka, kok."

Saking paniknya, aku malah berbohong demi gengsi.

"Ibu pemandu, laki-laki ini berbohong. Kenyataannya, dia adalah seorang perjaka yang sudah di tahap tidak tertolong lagi."

"Kamu ngomong apa, sih?!"

Furano yang duduk di sebelahku (omong-omong, ketiga gadis itu menentukan urutan duduk dengan pingsut.

Furano bilang dia terpaksa duduk di sebelahku karena kalah, dan jujur saja itu agak menyakitkan hati) berucap dengan wajah datar tanpa dosa.

"Lho, aku kan cuma mengungkapkan kebenaran... Yuuouji-san, bisa tolong konfirmasikan?"

"Eh, konfirmasi apa—Wuaah?!"

Ujung jari Yuuouji yang mencondongkan tubuh dari kursi belakang menelusuri tengkukku.

"Muhufu... Tengkuk ini adalah tengkuk seorang pembohong!"

"Memangnya kamu bisa tahu dari rasanya?!"

"Kanade-san, 'kesucian' di bagian lubang belakangmu sudah lama sirna."

"MASIH ADA, TAHU?!"

Bahkan Chocolat yang duduk di sebelah Yuuouji ikut-ikutan bercanda. Me-mereka ini benar-benar...

"Oalah, jadi ini plesetan antara 'suci' dan 'pantat' ya?"

"Jangan dianalisis sedalam itu juga, dong!"

Melihat interaksi kami, Michiru-san mengangguk puas.

"Ooh, kalian semua reaksinya oke juga ya. Namanya siapa saja?"

"Yukihira Furano."

"Yuuouji Ouka!"

"Saya Chocolat!"

"Oke, oke. Yukihira-chan, Yuuouji-chan, dan Chocolat-chan ya. Dengan begini, persiapan untuk ngeledek Amakusa-chan sudah matang sempurna!"

"Eh sebentar, persiapan macam itu nggak perlu dimatang-matang—"


Pilih:

"Kalau mau ngeledek-ku, mulai dari bagian ini dulu, dong!" (Memamerkan puting susu)

"Kalau mau ngeledek-ku, mulai dari bagian ini dulu, dong!" (Memamerkan Anu-nya)

"Kalau mau ngeledek-ku, mulai dari bagian ini dulu, dong!" (Memamerkan lubang belakang)


"MANA MUNGKIN BISA, WOI!"

"Hmm? Amakusa-chan kenapa?"

"E-enggak, ini cuma... GUAARRGGHHH!"

...Sambil menangis batin, aku terpaksa melepas kausku... dan berkata:

"Kalau mau ngeledek aku, mulai dari bagian ini dulu, dong!"

"A-Amakusa-chan..."

Michiru-san menutup mulut dengan tangan, alisnya berkedut ngeri. Ya iyalah, orang gila kayak dia pun pasti bakal ilfeel melihat ini...

"Kamu sudah tumbuh besar ya... Kakak terharu."

"REAKSIMU ANEH BANGET, TAHU!"

"Semuanya, mari beri tepuk tangan yang meriah untuk puting susu Amakusa-chan!"

"Ini penyiksaan, ya?!"

Prok prok prok prok!

"Nggak usah tepuk tangan juga!"

Penumpang yang lain kenapa asyik banget ikut-ikutan, sih!

"Nyahaha! Kalau begitu selanjutnya... Oh, Mas-mas yang di sana yang auranya mirip Pengawal Rumah!"

Michiru-san kembali mulai meledek pria bertubuh agak tambun yang duduk di belakang... Sebenarnya ada apa sih dengan orang ini? Apa dia nggak takut kena komplain?

Aku memeriksa brosur yang terselip di rak, dan di sana tertulis: 'Undangan Spesial HUT ke-25: Kembali Diledek Habis-habisan oleh Pemandu Wisata, Paket Tur 3 Hari 2 Malam Tingkat Lanjut'.

...Ternyata para peserta di sini adalah orang-orang terpilih yang dulu pernah ikut tur serupa secara sukarela, pantas saja mental mereka sudah terlatih.

Dan menurut brosur ini, di agensi Arable Travel, ada lebih dari sepuluh pemandu yang khusus spesialis tur 'ledek-ledekan' begini... Kalau perusahaan defisit, mereka pasti jadi staf pertama yang dipecat.

Setelah Michiru-san puas meledek beberapa orang selama belasan menit,

"Nah, nah, kalau cuma diledek terus kan membosankan. Gimana kalau kita main game saja~"

Game? Ini kan bukan karya wisata sekolah, menurutku nggak perlu sampai segitunya...

"Ada yang punya ide mau main apa?"

Aduh, mana mungkin ada orang yang mau angkat bicara di situasi yang isinya orang asing semua be—

"Saya punya ide."

"Ah, Yukihira-chan, silakan."

Ada yang mau dong...

"Karena kita kebetulan naik bus yang sama, bagaimana kalau kita semua melakukan Sesi Kenalan Pasca-Kejadian?"

"Oi, ini kan bukan di sekolah, nggak perlu sampai kenal—"

Belum sempat aku menyelesaikan protesku, Furano langsung memotong dengan wajah datarnya yang biasa.

"Amakusa-kun, sepertinya telingamu sudah membusuk. Aku bilang Kenalan Pasca-Kejadian."

"Hah? Pasca?"

"Iya. Kita saling memperkenalkan pengalaman paling mengejutkan yang pernah kita alami di atas tempat tidur."

"SIAPA JUGA YANG MAU CERITA BEGITUAN!"

Tiba-tiba, Michiru-san mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

"Saya mau! Waktu SMA dulu, saya pernah diajak Pak Guru ke—"

"JANGAN IKUT-IKUTAN!"

"Waktu Kanade-san sedang tidur, Natsuhiko-san mencoba lubang belakang—"

"YANG OTAKNYA FUJOSHI JUGA DIAM DEH!"

"Tempat tidur? Ah, kalau ibuku, dia bilang bakal bergairah kalau dipukul pakai cambuk—"

"HENTIKANNNNN!"

Chocolat dan Ouka yang duduk di belakang mulai ikut kumat gilanya. Anak-anak ini... mereka benar-benar bercanda dengan gaya yang sama persis seperti saat di sekolah. Kalau begini terus, penumpang lain pasti bakal merasa risi.

"Gimana dengan Bapak yang di sana?"

Di luar kekhawatiranku, si pemandu malah menyodorkan mikrofon ke arah pria paruh baya. Nggak mungkinlah dia mau ja—

"Eh? Saya? Saya sih waktu itu di gudang kantor—"

"CERITA JUGA, DONG?!"

Kalian semua ini kenapa asyik banget sih ikutannya!

"Kalau Mbak yang di sana gimana?"

"A-aku... sebenarnya... aku cuma bisa nafsu kalau lawannya anak kecil..."

"OUT, WOI! OUTTTT!"

Nggak, nggak, nggak, kenapa mereka semua malah menjawab dengan jujur?! Ini aneh banget...

"Kalau gitu, sekali lagi, Mas Pengawal Rumah, silakan!"

Michiru-san kembali menodong pria tambun itu.

"A-aku... tiga bulan lagi bakal jadi Penyihir (Perjaka 30 tahun)..."

"CERITA YANG ITU NGGAK PERLU DISEBUTIN, WOI!"

Level ngenesnya beda jauh dengan ledekan perjaka yang kuterima tadi.

"Sip! Berkat Sesi Kenalan Pasca-Kejadian tadi, suasana di bus ini jadi terasa sangat kekeluargaan ya—"

"Keluarga dari mana! Matamu sudah katarak, ya?!"

...Sepertinya, di dalam bus ini, nggak ada satu pun orang waras selain aku.


ï¼’

"LAUTTTT!"

"Laut, desu!"

Ouka dan Chocolat menempelkan wajah mereka ke kaca bus sambil heboh bersorak.

Ya, tujuan pertama tur kali ini memang laut.

Dua orang ini jelas terlalu bersemangat, tapi jujur aja… aku juga lumayan excited. Sudah lama banget aku nggak ke laut.

"……"

"Hm? Ada apa, Furano?"

Di sebelahku, Furano terlihat agak pucat.

"……Nggak ada apa-apa."

"Eh? Kayaknya kamu nggak enak badan deh… jangan-jangan mabuk kendaraan?"

"……Terima kasih atas perhatianmu. Tapi yang bikin aku mual bukan karena bus ini."

"Kalau gitu kenapa?"

"Aku mabuk Amakusa."

"……Hah?"

"Setiap kali lihat wajahmu, perutku langsung mual. Jadi, Amakusa-kun, boleh nggak aku muntahin isi perutku ke muka kamu?"

"JELAS NGGAK BOLEH!"

"Masalahnya, sarapan aku tadi pagi itu salamander panggang utuh. Jadi mungkin bakal keluar utuh juga."

"KAMU SEBENARNYA MAKAN APA SIH⁉"

"Ah, maaf. Maksudku tokek, bukan salamander."

"ITU NGGAK BEDA JAUH!"

"Jelas beda banget‼"

"Kenapa malah marah balik⁉"

"Minta maaf."

"Hah?"

"Ke tokek di perutku. Bilang, 'Maaf ya, aku salah kira kamu sama salamander'."

"Eh, tunggu dulu, itu kan──"

"Cepat."

"……Ma-maaf ya, aku salah kira kamu sama salamander."

"Oh, ternyata kamu lumayan jujur juga. Dengan begini, salamander di perutku… eh, tokek ya? Yah, sama aja sih."

"AKU BENAR-BENAR MAU NABOK KAMU!"

"Padahal aku nggak makan keduanya kok."

"UGAAAAHHHHH!"

…Aku benar-benar bodoh karena sempat khawatir.

◆◇◆

"Yosh… hoi…!"

Setelah ganti baju di ruang ganti yang sudah disediakan, aku melakukan pemanasan di tepi ombak.

"Kanade-cchi, maaf nunggu yaa!"

"Kanade-saaan!"

"……"

Ouka, Chocolat, dan Furano datang bersama-sama.

Entah baru beli atau gimana, ketiganya memakai swimsuit yang berbeda dari waktu kami pergi ke Aqua Galaxy dulu.

Ouka tampil berbeda dari citra warna merahnya yang biasa, ia mengenakan bikini berwarna biru muda.

Meski warnanya sangat kontras, tapi entah kenapa terasa menyegarkan dan sangat cocok dengan kepribadian Ouka.

Bagian kainnya luar biasa minim, dan tingkat keterbukaannya pun tetap bar-bar seperti biasanya.

Chocolat mengenakan baju renang warna-warni dengan basis putih.

Kalau kostum biasanya bertema cokelat, yang ini lebih terasa seperti parfait.

Kalau cokelat itu Chocolat, berarti parfait itu Parfait? ...Kayaknya bahaya kalau diteruskan, mending berhenti sampai di sini saja.

Furano memakai baju renang yang benar-benar hitam, baik atasan maupun bawahannya. Karena rambut dan kulitnya seputih salju, warna hitam itu jadi terlihat sangat menonjol.

Apalagi desainnya sangat mendetail dan imut... Ada apa dengannya?

Mulai dari rok mini tadi sampai baju renang ini, rasanya ini bukan gaya Furano yang biasanya.

"Kanade-chi, gimana, gimana?"

"Kanade-san, apa aku imut?"

"..."

"A-Ah, iya... Aku rasa kalian bertiga cocok memakainya," jawabku jujur.

"YAY!"

"Ehe-he."

"..."

Ouka dan Chocolat bersorak gembira, sementara Furano hanya terdiam sambil menunduk.

Yah, biarpun dia menunduk, sepertinya aura tidak bersahabat yang biasanya tidak keluar, jadi kurasa dia baik-baik saja.

Bagaimanapun juga Furano itu perempuan, biarpun pujiannya datang dariku, dia pasti tidak merasa keberatan.

"Kanade-chi, ayo cepat renang!"

"A-Ah, oi...!"

Begitu selesai bicara, Ouka langsung menarikku ke laut.

"Kanade-san, ada banyak laki-laki yang berenang sambil memamerkan puting mereka dengan jelas, lho!"

"Jangan bilang begitu, dong!"

Chocolat juga ikut mendorong punggungku dari belakang.

"A-Ah, tunggu dulu..."

Hm? Barusan di belakang seperti ada suara yang sangat kecil—

"ORIIYAAAA!"

"UWAAH!"

Tiba-tiba aku didorong dari samping sampai terjungkal ke permukaan laut.

"Geho, geho! Kamu ini..."

"Ahaha! Rambutmu menempel semua, aneh banget tahu!"

Ouka tertawa terbahak-bahak. B-Bocah ini benar-benar...

"Para pria sekalian... Kanade-san basah kuyup! Kanade-san sedang basah kuyup, nih!"

"Pulang sana kamu!"

"Kalau di dalam air, makin basah pun tidak akan ketahuan, lho!"

"Ngomongin apa sih kalian?!"

"Rambutnya melayang-layang. Ahaha, mirip rumput laut!"

"UGAAAH! KALIAN BERDUA BERHENTI TIDAK, SIH!"

◆◇◆

"...Sial, aku benar-benar menderita."

Sekitar tiga puluh menit kemudian, setelah dikerjai habis-habisan oleh Ouka dan Chocolat, aku naik ke pantai dengan perasaan muak.

Ouka bilang, "Aku mau renang sebentar ya," lalu dia berenang dengan kecepatan luar biasa seolah mau ikut Olimpiade, sementara Chocolat pergi ke arah bebatuan sambil bilang, "Aku mau cari kerang yang bisa dimakan!" ...Mereka terlalu bersemangat sampai aku tidak sanggup mengimbangi.

"Benar-benar... Hm?"

Aku melihat Furano sedang berjongkok melakukan sesuatu. Sepertinya dia sedang membuat sesuatu dari pasir.

"..."

"Furano, itu apa?"

Karena terhalang tubuhnya, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, tapi...

"Gunung kembar."

"...Hah?"

Furano menunjuk ke suatu arah.

"Di sana ada babi betina berotak udang yang punya gunung kembar besar tidak karuan, kan?"

...Yah, memang dadanya besar sih, tapi dia tidak terlihat bodoh juga. Lagipula "babi betina" itu kasar banget, tahu...

"Ini adalah objek yang kubentuk menyerupai gunung kembar babi betina itu. Aku memainkannya dengan cara menginjak-injaknya sekuat tenaga sambil merapalkan kutukan 'enyahlah'."

"Kelam banget!"

"Aku akan membasmi semua oppai besar tanpa menyisakan satu ekor pun."

Kenapa kamu bicara seperti karakter yang mau membasmi Titan begitu, sih...

"Sekalian juga, aku akan memusnahkan semua 'pusaka' besar sampai ke akar-akarnya."

"APA?!"

"Amakusa-kun... sepertinya kamu boleh tenang."

"BERISIK!"

Bisa tidak, jangan mengatakannya sambil menatap selangkanganku lekat-lekat begitu? Sakit hati tahu.

"Ngomong-ngomong Furano, kamu tidak masuk ke laut?"

"..."

Melihat wajah Furano yang seketika berubah masam, aku langsung teringat.

"Ah, benar juga. Kamu kan tidak bisa berenang."

Di Aqua Galaxy kemarin dia memang tenggelam habis-habisan, sih.

"Tidak bisa berenang? Apa maksudmu? Kalau 'pusaka' milik Amakusa-kun diibaratkan alat pertukangan, itu paling banter cuma seukuran sekrup."

"KAMU NGOMONG APA SIH?!"

Milikku... sekecil itu kah?

"Amakusa-kun, sepertinya kamu salah paham. Aku bukannya tidak bisa berenang."

"Tapi yang di belakangmu itu... perahu karet, kan?"

Sedikit jauh dari tempatnya, ada sebuah perahu karet berbentuk karakter Shirobuta-kun. Rasanya tempat penyewaan di pantai tidak mungkin menyewakan benda seperti ini, jadi kemungkinan dia membawanya sendiri.

"Perahu karet? Bukan, ini adalah dakimakura babi untuk memuaskan hasrat."

"Mana mungkin!"

"Untuk Amakusa-kun yang punya selera aneh terhadap babi, bukannya ini pas?"

"Aku normal, tahu!"

"Tapi ukuran 'itu'-mu sepertinya tidak bisa dibilang normal."

"SUDDAAAAAHHH!"

Ini cuma bercanda, kan... Iya, kan?

"Tidak bisa... kalau begini terus bakal sama saja seperti biasanya... begini tidak boleh."

Furano menunduk dan menggumamkan sesuatu. Karena aku tidak mendengar jelas isinya, aku berniat bertanya kembali, saat itulah—

"...Amakusa-kun."

"Ada apa?"

Tiba-tiba atmosfer di sekitar Furano berubah.

"A-Anu..."

"Anu?"

"Aku bisa berenang, kok... Bukannya tidak bisa berenang... tapi menurutku tidak ada aturan yang melarang orang yang bisa berenang untuk naik perahu karet."

"Yah... kurasa begitu."

Karena sepertinya dia bersikeras tidak mau mengaku kalau tidak bisa berenang, aku ikuti saja maunya.

"Itu... kalau tidak keberatan... kalau tidak keberatan..."

"Kalau tidak keberatan?"

Furano melirik ke arah perahu Shirobuta-kun dengan gelagat yang sulit diungkapkan.

"Ka-Kalau kita bisa... naik ini... bersama-sama... aku akan senang, mungkin."

"Hm? Maaf, bisa ulangi sekali lagi?"

"Na-Naik perahu karet ini bersama—"

"...Maaf, suaramu tidak terdengar sama sekali."

"............"

Furano yang tiba-tiba kembali ke ekspresi datar, memanggil orang yang kebetulan lewat di dekat kami.

"...Anda yang di sana."

Dia adalah gadis berdada besar yang tadi dihina habis-habisan oleh Furano.

"Eh? Saya?"

Gadis itu memiringkan kepala dengan heran.

"Iya, benar. Saya cuma ingin memberitahu informasi soal orang berbahaya. Sebenarnya, laki-laki di sebelah saya ini membuat objek dada dari pasir sambil terus memandangi Anda."

ORANG INI NGOMONG APA SIH?!

"Eh? ...Eh?"

Dengan bingung, si gadis melihat ke arah yang ditunjuk Furano. Di sana, ada sebuah dada dari pasir dengan kualitas yang luar biasa tinggi.

"T-Tunggu, ini salah paham..."

Saat aku mengulurkan tangan ke arah gadis itu untuk menjelaskan situasinya—


PILIH:

Remas dada gadis itu

Remas dada Furano

Remas dada pasir


"MATI SAJA!"

Tanpa sadar aku berteriak keras, membuat gadis itu tersentak kaget.

"Amakusa-kun, setelah sembarangan membuat objek dada, mengumpat 'mati saja' itu agak keterlaluan."

"Kamu benar-benar diam saja, deh!"

Sambil menahan sakit kepala yang menyerang, aku berusaha membela diri.

"A-Anu, maaf. Barusan aku bukan mengatakannya padamu, tapi..."

Dan sambil memberi alasan, aku berjongkok—

"Ini adalah... makian untuk diriku sendiri yang melakukan hal semacam ini!"

Lalu aku meremas dada dari pasir itu.

"I-IYYAAAAAA DASAR HEN-TAIIIIIIIII!"

Sambil berteriak histeris, gadis itu lari terbirit-birit dengan kecepatan penuh.

"Ke-Kenapa aku harus mengalami hal seperti ini..."

Furano menepuk pundakku pelan.

"Amakusa-kun..."

Tampak ekspresi merasa bersalah di wajah Furano. Padahal biang keroknya adalah dia, tapi kalau dia memang menyesal—

"Rasakan itu (wkwk)."

"Lama-lama benar-benar kupukul kamu! ...Eh?"

Tiba-tiba nada bicara Furano melemah dan dia menunduk.

"...Permisi."

Sambil berkata begitu, dia berjalan pergi sambil menyeret perahu karet Shirobuta-kun.

"Aku bodoh... aku memang bodoh..."

Sepertinya dia menggumamkan sesuatu... tapi seperti biasa, Furano itu benar-benar tidak bisa dimengerti.


3

"Haaa..."

Aku berbaring telentang di pasir pantai sambil memikirkan misi itu. Ciuman... Ciuman, ya... Apa yang harus kulakukan? Tentu saja aku tidak bisa memaksakan ciuman kepada orang yang tidak menginginkannya.

Lagipula, meski ada keajaiban seorang gadis mau berciuman denganku, melakukannya di depan ketiga orang itu punya tingkat kesulitan yang terlalu tinggi.

"Yuhuu, Amakusa-chan~"

Sebuah suara tiba-tiba menginterupsi pemikiranku.

"Ah, Michiru-san... Eh, UWOH!"

Begitu melihat sosoknya, aku spontan berteriak.

"A-Apa-apaan baju renang yang Anda pakai itu...?"

Dia mengenakan baju renang dengan tingkat keterbukaan kulit yang luar biasa ekstrem.

Ouka memang sudah parah, tapi yang ini jauh melampaui persentase warna kulit dibanding kainnya.

"Gimana ya, anggap saja ini fan service~?"

Dia meliukkan tubuhnya sambil meniru gaya bicara Misato-san. Namun, harus diakui, bagian yang harusnya menonjol memang menonjol, dan bagian yang harusnya ramping memang ramping—sebuah proporsi tubuh yang ideal.

Kalau saja sifatnya normal, dia pasti bakal populer banget. Sayang sekali... kalau orang ini jadi murid di sekolahku, dia pasti sudah masuk daftar Okotowari Five.

"Itu jelas-jelas bukan seragam pemandu bus, kan..." gumamku sambil melangkah mundur satu langkah.

"Hm? Kok Amakusa-chan kayaknya menghindariku, sih?"

"Enggak, bukan begitu..."

Sebenarnya iya. Bukannya aku benci dia, tapi orang ini punya bau-bau yang sama dengan Ouka dan Furano. Kalau bisa, aku ingin menghindari urusan dengannya.

"Ayo dong, mumpung ada kakak cantik berbaju renang di dekatmu, boleh lho kalau mau lebih bersemangat."

Michiru-san berpose layaknya model majalah dewasa.

"Lihat kakak berbaju renang begini, nggak merasa terangsang?"

"...Enggak."

"Lihat kakak berbaju renang begini, nggak merasa Ora-Ora?"

"Enggaklah. Kenapa jadi Jotaro gitu, sih?"

"Lihat kakak berbaju renang begini, nggak merasa Nara-Nara?"

"Nggak paham maksudnya apa!"

"Lihat kakak berbaju renang begini, nggak ngerasa pengen ke Nara?"

"Makuhari?!"

Sial... Makanya aku malas berurusan dengan orang tipe begini. Kalau dibiarkan bercanda, tidak akan ada habisnya. Mending ganti topik saja.

"Anu... boleh aku tanya satu hal?"

"Ah, pemotong favoritku itu 'Nara Cutter', lho."

"SIAPA JUGA YANG TANYA ITU!"

"Apa, apa? Kamu mau dengar soal 3 FREEZE kakak?"

"Itu ukuran kan! Kenapa jadi Echoes!"

"Nyahaha, ngerjain Amakusa-chan emang paling seru, ya~"

"Ugh..."

"Jadi, sebenarnya apa yang mau kamu tanyakan?"

Akhirnya dia mau mendengarkan dengan serius.

"Anu... tiga tahun lalu, aku juga datang ke sini, kan?"

"Iya. Kenapa, ada yang kamu ingat?"

"Enggak... rasanya hampir teringat, tapi tidak ada satu pun yang muncul di kepala... Michiru-san, bisa beri tahu aku apa yang terjadi tiga tahun lalu?"

"YA-GA-MAU"

"Hah?"

"Nggak mau, wlee. Lagipula, kalau bukan Amakusa-chan sendiri yang mengingatnya, itu tidak akan ada artinya, lho~"

"Aku sendiri..."

"Iya, iya. Soalnya—"

Tiba-tiba, ucapan Michiru-san terhenti.

"Oyoyo? Bukankah itu Yukihira-chan?"

"Eh?"

Aku mengikuti arah pandang Michiru-san ke arah laut.

"Ah, benar juga."

Agak jauh dari area ramai orang berenang, terlihat satu titik yang mengapung sendirian. Itu Furano yang sedang naik perahu karet Shirobuta-kun.

Dari kejauhan saja sudah terlihat kalau wajahnya pucat pasi. Sebenarnya dia tidak hanyut terlalu jauh, tapi bagi si payah renang Furano, itu masalah besar.

"Kenapa ya? Kelihatannya agak aneh."

"Dia itu tidak bisa berenang... Aku pergi ke sana sebentar."

"Uwah... Amakusa-chan pura-pura mau menolong padahal niatnya mau berbuat H ke Yukihira-chan."

"Enggaklah!"

"Uwah... Amakusa-chan pura-pura mau menolong padahal niatnya mau berbuat HG ke Yukihira-chan."

"Maksudnya apa sih!"

Ngapain juga aku harus goyang pinggul sambil menolong dia...

"Uwah... Amakusa-chan pura-pura mau menolong padahal niatnya mau berbuat RG ke Yukihira-chan."

"Nggak bakal a... ADA LAH!"

Michiru-san sepertinya masih ingin melawak, tapi aku langsung lari dan masuk ke laut. "Benar-benar... Sudah tahu nggak bisa berenang, ngapain sih dia itu."

Aku berenang di sela-sela kerumunan orang menuju perahu Shirobuta-kun. Setelah sampai di jarak tertentu, aku berhenti melakukan gaya bebas dan mendekat sambil berenang tegak.

"Gimana ini gimana ini gimana ini..."

Furano yang wajahnya sudah seputih kertas itu sedang memeluk erat perahu karetnya dengan putus asa. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiranku.

"Furano, kamu baik-baik saja?"

"Gimana ini gimana ini gimana ini..."

"Ooi, Furano."

"Gimana ini gimana ini gimana ini..."

...Sepertinya kalau begini terus dia tidak akan sadar, jadi aku menepuk pundaknya. Puk, puk.

"Halo-halo?"

"He? ............ A-AAAAAAAMAKUSA-KUN?!"

Reaksi Furano saat menyadariku benar-benar luar biasa heboh.

"Woi, woi, jangan terlalu banyak gerak, nanti jatuh!"

Mendengar peringatanku, Furano langsung tersentak dan tubuhnya mematung seketika.

"..."

Wajahnya kembali ke ekspresi datar yang biasa, dan sekilas tampak sudah tenang. Tapi,

"Kelihatannya kamu ketakutan banget, nggak apa-apa?"

"A-A-A-A-A-Apa yang kamu bi-bi-bi-bi-bi-bicara-kan. A-A-A-A-Aku ba-ba-baik-baik sa-ja-ja-ja-ja-ja."

"Gila, baru kali ini aku lihat orang segemetar ini!"

"A-A-A-A-Anginnya cuma sedikit kencang, jadi aku cuma sedikit ha-ha-ha-hanyut sa-ja-ja-ja-ja."

...Begitu ya. Kalau dia turun dari tadi saat baru mulai hanyut, mungkin tidak masalah kalau dia bisa berenang. Tapi bagi si payah renang, itu mustahil.

"...Nih." Aku menjulurkan tangan.

"..."

Namun, Furano tidak kunjung menyambutnya.

"...Ayo."

Begitu aku mendesak lebih tegas, dia akhirnya memegang tanganku dengan ragu-ragu.

"...Terima kasih."

Suaranya sangat kecil sampai aku hampir tidak dengar, tapi gemetarnya sudah berhenti. Sepertinya dia sudah mulai tenang.

"Kalau begitu, aku juga ikut naik, ya."

Aku pun naik ke belakang Furano.

"Tu-tunggu... Kamu sedang apa?"

"Apa lagi? Kalau tidak dikayuh, kita tidak bisa kembali, kan?"

Kalau aku berenang sambil mendorong perahu, keseimbangannya bakal buruk. Kurasa mengayuh bersama adalah cara terbaik, tapi...

"Be-belakang jangan..."

"Hah?"

"Maksudku, itu... rasanya seperti mau berbuat mesum... jadi jangan."

Suaranya kecil lagi, aku benar-benar tidak dengar.

"Furano, apa katamu?"

"...Aku bilang, aku tidak sudi memercayakan punggungku pada sampah sepertimu."

Kata-kata kasar yang luar biasa keluar dari mulutnya.

"...Maaf deh kalau gitu."

Entah bagian mana yang menyinggungnya, tapi tidak ada gunanya berdebat di sini. Aku turun ke air sebentar, lalu naik lagi ke depan Furano.

"..."

"Anu..."

"..."

...Kenapa ya, aku merasakan tatapan yang sangat tajam di punggungku.

"Furano, apa ada sesuatu di punggungku?"

"Amakusa-kun, apa kamu berminat membuat tato gunung kembar di punggungmu?"

"Kenapa tiba-tiba ngomong begitu?!"

"Kalau kamu pergi ke pemandian umum, orang bakal mengira kamu anggo-ta Yak*za, dan semuanya bakal minggir."

"Itu namanya mereka takut, tahu!"

"Selain itu, kalau di lomba lari tujuh belasan ada syarat 'orang yang punya tato gunung kembar di punggung', kamu bisa berguna."

"Sampai seribu tahun pun syarat kayak gitu nggak bakal ada!"

"Bukan... Bukan itu maksudku... Mumpung cuma berdua... aku harus tanya..."

Aku mendengar suara napas panjang dari belakang.

"Amakusa-kun... boleh aku tanya satu hal?"

"Hm? Apa?"

"............"

Furano mendadak diam seribu bahasa, seolah sulit mengatakannya.

"Ada apa?"

"............"

Dia makin terdiam lama. Setelah beberapa saat, barulah dia membuka suara.

"Itu... soal kejadian waktu itu..."

"Waktu itu?"

"Iya... saat kita pergi ke festival musim panas di kuil."

"Ah, festival itu kenapa?"

"Waktu itu... kamu bilang kalau kamu suka berada bersama aku, Ouji-san, dan Chocolat... kan?"

"A-Ah, iya..."

Aku memang pernah bilang begitu... Kalau diingat lagi, itu kalimat yang cukup memalukan. Tapi kenapa dia membahasnya sekarang?

"Itu artinya... memang begitu, kan?"

"? Begitu bagaimana?"

"Itu artinya... tidak ada perasaan yang lebih dari itu, kan?"

"Lebih dari itu?"

"M-Maksudnya... ya lebih dari itu!"

"...Maaf. Aku tidak paham kalau tidak dibilang secara spesifik."

"............"

Furano terdiam lagi. Lalu, setelah beberapa saat, dia bergumam lirih.

"Sudahlah... mending kukatakan saja sekarang..."

Tiba-tiba, Furano menyandarkan wajahnya ke punggungku.

"Oi, Fura—"

"Dengarkan."

Suaranya terdengar sangat serius, nada yang belum pernah kudengar dari Furano sebelumnya.

"A-Ah, baiklah..."

Furano berucap pelan, namun jelas.

"Anu... Amakusa-kun... bagimu aku itu... aku itu... anu... sebagai se-seorang perempuan, apa pen-pendapat—"

Tepat saat itu, angin berembus sangat kencang.

"WOH!"

"KYAAAAA!"

Keseimbangan kami goyah, dan perahu Shirobuta-kun terbalik. Otomatis, aku dan Furano terlempar ke laut.

"Aduh. Furano, kamu tak a—"

"Wap, wap, wap! NGGAK MAU! BISA MATI AKU! AKU MATIIIIII!"

...Dia tenggelam habis-habisan.

"Oi, oi."

Furano meronta-ronta sambil mencipratkan air ke mana-mana.

"NGGAK MAU! TOLOOOONG!"

Dalam kondisi panik luar biasa, Furano memeluk punggungku dengan sangat erat.

"Oi!"

Karena dia memelukku terlalu kencang, meski dadanya minimalis, aku bisa merasakan sensasinya dengan jelas. Kurasa ini bahaya, jadi aku mencoba melepaskannya, tapi Furano melawan dengan kekuatan luar biasa.

"NGGAK MAU! JANGAN LEPAS! NANTI AKU TENGGELAM! AKU BISA MATIIIIIII!"

Anak ini... dia pasti tidak sadar sedang memelukku.

"Furano..."

"Nggak mau nggak mau, jangan lepasin! Kalau jauh dari Amakusa-kun aku bisa matiiii!"

"...Tapi di sini kan dangkal."

"................................ He?"

Dengan suara yang sangat cengo, Furano yang masih memeluk leherku itu langsung berdiri tegak.

"...Kakiku menapak, ya."

"...Iya."

"...Aku tidak tenggelam, ya."

"...Iya."

"...Meski dilepas, tidak apa-apa, ya."

"...Iya."

"............"

"............"

Tiba-tiba Furano mulai gemetaran hebat.

"Ya-Yah, setiap orang pasti punya hal yang tidak dikuasai, kok—AGUUEEEEHHH!"

Leherku dicekik sekuat tenaga!

"Setelah... setelah memperlihatkan sosok seperti itu... pilihannya cuma membunuhmu!"

Kamu pikir kamu karakter dari novel mana, hah! Mungkin ini yang namanya kekuatan dalam keadaan darurat, dia mencekikku dengan tenaga yang tidak masuk akal. B-Bahaya... nyawaku bisa melayang.

"He-hentikan...!"

"Kyat!"

Aku memutar tubuhku dan entah bagaimana berhasil melepaskan diri dari dekapan maut Furano.

"Geho... goho..."

Rasanya hampir mati. Tepat saat aku mau memarahinya—

"UUWOOH?!"

Tinju Furano sudah berada tepat di depan mataku. Anak ini... apa dia mau memukulku lagi untuk menghapus ingatan—

"—!"

Aku memejamkan mata karena pasrah, tapi rasa sakitnya tidak kunjung datang. Begitu kubuka mata pelan-pelan, tinju Furano berhenti tepat di depan wajahku.

"..."

Furano menurunkan tangannya tanpa suara. Dan—

"Oi..."

Wajah Furano menyandar di dadaku.

"...Tolong lupakan."

"...Ya-Yah, biarpun kamu bilang begitu..."

"Kumohon... lupakan saja."

"Furano..."

Setelah menjauhkan wajahnya, Furano membawa perahu Shirobuta-kun dan berjalan menuju pantai.

"Haaa..."

Sambil menghela napas melihat ketidakstabilan emosinya yang seperti biasa, aku tidak sengaja melihat ke bawah.

"Hm?"

Ada ubur-ubur. Karena warnanya transparan, aku harus melihatnya dengan jeli. Seekor ubur-ubur yang cukup besar sedang melayang di permukaan air.

Kalau tidak salah, sengatan ubur-ubur itu sakit sekali. Bahkan ada jenis yang bisa membahayakan nyawa. Yah, tapi dengan jarak sejauh ini, aku tinggal menghindar saja—


PILIH:

Disengat ubur-ubur (Seluruh tubuh akan lumpuh hebat selama beberapa menit)

Disengat ubur-ubur (Hanya 'pusaka'-mu yang akan lumpuh selamanya dengan rasa nikmat yang pas)


...Nggak mau lah. Meski rasanya "pas", aku nggak mau kalau barangku lumpuh seumur hidup. Tepat saat aku memilih nomor dengan gemetar—

"UWAAAAH?!"

Ubur-ubur yang tadinya mengapung santai itu tiba-tiba melesat ke arahku dengan kecepatan tinggi. Lalu—

"GYAAAAH!"

Pahaku disengat, dan aku langsung mengerang kesakitan. Ini... ini nggak lucu sama sekali...

"Ugh... ku..."

Karena aku tidak boleh pingsan di air, aku memaksakan diri berjalan ke pantai lalu langsung ambruk.

"Amakusa-kun?"

Furano yang menyadarinya langsung berlari mendekat.

"Tu-tunggu... ada apa?"

Dia duduk di sampingku dengan panik, tapi karena mulutku juga sudah lumpuh, aku tidak bisa menjawab.

"Gi-gimana ini gimana ini..."

Karena Furano panik berlebihan, kerumunan orang mulai berkumpul untuk melihat apa yang terjadi. Uwah, ini jadi masalah besar.

Padahal pilihan tadi bilang cuma beberapa menit, kalau dibiarkan sebentar lagi juga sembuh, tapi...

"I-Ini salahku, Amakusa-kun jadi begini..."

Mata Furano mulai berkaca-kaca. Sepertinya dia salah paham dan mengira aku jadi begini gara-gara dicekik tadi. Aku ingin memberitahunya, tapi mulutku belum bi—

"Tolong minggir!"

Tiba-tiba terdengar suara yang sangat berat, dan seseorang muncul dari kerumunan. Seorang paman berotot kekar yang memakai celana renang yang sangat pendek.

Dilihat dari penampilannya, sepertinya dia penjaga pantai (Lifesaver). Dia pasti datang karena melihat keributan ini.

Penjaga pantai itu berjongkok di sisi lain Furano dan menatap kondisiku dengan lekat... Ngomong-ngomong, kumis paman ini tebal banget, ya.

"Gawat, sepertinya dia meminum banyak air."

He?

"Kalau begini... harus segera diberi napas buatan!"

E-Eh, tunggu dulu paman. Aku cuma lumpuh dan tidak bisa bicara, tidak ada hubungannya dengan napas buatan...

"Anak ini... biar aku yang selamatkan!"

Tu-tunggu dulu, Paman! Kenapa kamu semangat banget mendekatkan wajahmu? Itu nggak perlu—

"Aku datang, Anak Muda!"

GYAAAAAAARGH!

◆◇◆

"Oueeh..."

Sambil menahan rasa mual, aku keluar dari klinik darurat di samping pondok pantai.

Menurut dokter, aku tidak masalah jika ingin melanjutkan tur. Karena sengatan ini bukan sengatan biasa melainkan akibat "pilihan", sepertinya tidak ada efek samping yang tersisa.

"Amakusa-kun..."

Furano ada di sana. Sepertinya dia menungguku selesai diperiksa.

"Maafkan aku."

"Eh? Kan sudah kubilang sebelum diperiksa tadi. Itu bukan salahmu, tapi gara-gara ubur-ubur. Kamu tidak perlu minta maaf."

"Bukan soal itu."

"Hah?"

"Maaf karena gara-gara aku heboh, kamu jadi harus melakukan ciuman yang tidak perlu."

"Jangan diingatkan lagi, dong..."

Sensasi bibir dan kumis penjaga pantai itu muncul lagi di ingatanku, rasa mualku kembali memuncak.

"Maaf karena membuatmu ciuman yang tidak perlu dengan Konuma Shigeo (44 tahun)."

"Kenapa sampai profilnya kamu cari tahu juga, sih..."

"Maaf karena membuatmu bertukar air liur yang tidak perlu dengan Konuma Shigeo (44 tahun)."

"Jangan dibilang begitu, geli tahu!"

"Maaf karena membuatmu bertukar cairan tubuh yang tidak perlu dengan Konuma Shigeo (44 tahun)."

"KITA NGGAK MELAKUKAN ITU!"

Lalu tiba-tiba aku tersadar.

"Ah... bukannya ini berarti misinya selesai?"

Aku jelas-jelas sudah berciuman di depan Furano.

"Selesai?"

"Furano, maaf, ada yang harus kupastikan sebentar."

Setelah berpamitan pada Furano yang kebingungan, aku lari ke ruang ganti.

"Ada..."

Ada satu email masuk dari "Tuhan". Dengan jantung berdebar penuh harap aku membukanya—

"Hm?"

Itu bukan pemberitahuan kalau misi selesai.

Napas buatan adalah tindakan mulia untuk menyelamatkan nyawa, dan dianggap berbeda dari ciuman. Oleh karena itu, kecupan dengan Konuma Shigeo tadi tidak dihitung... RASAKAN ITU!

"KAMU NGELEDEK YA!"

Sebagai tambahan, target ciuman dalam misi ini terbatas pada wanita asli... Berciuman dengan Paman Natsuhiko, kamu bodoh ya? (wkwk)

"UGYAAAAAAH!"

Tepat saat aku berteriak karena kesal dipermainkan—

Ciuman itu... harus dilakukan dengan orang yang kamu suka, ya.

"...Eh?"

Deg.

Tepat saat melihat kalimat itu,

"Ugh..."

Rasa mual yang hebat kembali menyerangku.

"Ugh... huekk..."

Aku menutup mulut dan lari ke toilet.

"Ugh... ah... khh."

Aku memuntahkan semua isi perutku. Dari kalimat email tadi... bagian mana yang membuatku merasa aneh?

Ciuman itu harus dengan orang yang disuka... Benar, kemarin aku juga memikirkan hal yang sama dan diserang rasa mual yang serupa—

"Ah..."

Sebuah kilatan ingatan melintas di otakku. Aku... aku yakin tiga tahun lalu, dalam tur ini, aku menghabiskan waktu bersama seseorang. Naik bus bersama, bermain di laut bersama, dan membuat kari bersama. Sangat menyenangkan... benar-benar menyenangkan.

Tapi... aku tidak bisa mengingat wajah maupun namanya. Gadis dalam ingatanku itu tertutup semacam kabut, sehingga wajahnya tidak terlihat sama sekali.

Ingatan soal bus, laut, dan kari pun hanya sekadar "pernah melakukan itu", tapi detail kejadiannya tidak muncul sama sekali.

Meski begitu, intuisiku berkata. Gadis ini berhubungan erat dengan ingatanku yang hilang.

Siapa... sebenarnya siapa gadis ini?



Interlude 2

Sebuah Kisah Tiga Tahun Lalu — Bagian 2


Amagami Sora.

Gadis yang memperkenalkan dirinya dengan nama itu tiba-tiba melepaskan tangannya dari kepalaku, seolah baru saja tersadar.

"Ah, ma-maaf ya. Aku terlalu lancang, ya? Mengelus kepala orang lain itu sudah jadi kebiasaan kecilku."

"E-Eh, tidak apa-apa, kok. Itu... rasanya nyaman."

"Benarkah? Syukurlah kalau begitu."

Sora-san tersenyum manis, lalu kembali mengelus kepalaku.

"Anak pintar, anak pintar."

Aku benar-benar diperlakukan seperti anak kecil, tapi anehnya, aku sama sekali tidak merasa keberatan.

"Rasanya... seperti punya kakak perempuan ya."

Mendengar tanggapanku, Sora-san tersenyum getir.

"Ahaha, aku memang sering dibilang terlihat lebih dewasa dari umurku yang sebenarnya."

Memang benar, Sora-san memancarkan aura dewasa yang membuatku tidak percaya kalau kami hanya selisih satu tahun.

"Anu, Sora-san."

"Ah, panggil Sora saja tidak apa-apa. Rasanya nama keluarga Amagami itu terdengar terlalu berlebihan, aku kurang suka."

"Kalau begitu... Sora, san."

Aku memanggilnya dengan nada ragu. Memanggil nama depan gadis sebaya adalah pengalaman pertamaku, selain kepada teman masa kecilku, Yuragi.

Sora-san tersenyum lebar dengan raut wajah bahagia.

"Iya. Kalau begitu, aku boleh panggil Kanade-kun juga?"

"Si-Silakan."

Kanade-kun... Kanade-kun, ya... Entah kenapa, kedengarannya menyenangkan.

"Jadi, ada apa, Kanade-kun?"

"Ah, tidak... Sora-san sama sekali tidak terlihat tua, kok."

"Begitukah? Meski cuma basa-basi, aku senang mendengarnya."

"I-Ini bukan basa-basi, tahu."

"Fufu. Hei Kanade-kun, selama tur ini, maukah kamu berteman baik denganku?"

"A-Ah, i-iya, tentu saja!"

"Syukurlah."

Sora-san tersenyum manis sekali lagi.

Setelah itu, kami mengobrolkan hal-hal ringan di dalam bus. Sora-san mendengarkan ceritaku yang sebenarnya tidak lucu sama sekali dengan senyuman, dan dia juga menceritakan tentang dirinya sendiri.

"...Observasi manusia?"

"Iya."

Saat topik beralih ke hobi, kata itulah yang keluar dari mulut Sora-san.

"Hobi yang unik, ya."

"Iya, aku sering dibilang begitu. Tapi tahu tidak, alasan aku menyapamu juga karena hobi ini, lho."

"Karena observasi manusia?"

"Benar. Begitu melihatmu mengobrol dengan Ibu Pemandu, aku langsung tahu. 'Anak ini orang yang sangat murni', begitu pikirku. Makanya aku ingin mencoba berteman dengannya... Fufu, ternyata kamu jauh lebih murni dari dugaanku."

"Be-Benarkah begitu?"

Sora-san mengangguk sambil tersenyum lebar. Aku tidak sanggup menatap senyuman itu secara langsung, jadi aku hanya bisa menunduk malu.

◆◇◆

Akhirnya, bus sampai di tujuan pertama kami, yaitu laut.

Ibu dan Ayahku masih asyik bermesraan berdua seperti biasa, jadi aku membiarkan mereka dan melakukan pemanasan sendirian di tepi pantai.

"Ah, ketemu! Itu Kanade-kun."

Mendengar suara dari belakang, aku menoleh.

"Ugh..."

Saking cantiknya sosoknya dalam balutan baju renang, aku sampai mengerang tanpa sadar.

Baju renang one-piece berwarna putih bersih itu sangat cocok dengan citra Sora-san, dan kontrasnya dengan rambut birunya benar-benar luar biasa. Aku terpaku menatapnya tanpa kedip.

"A-Anu... kalau dilihat terus begitu, aku jadi agak malu."

"Ma-Ma-Ma-Maafkan aku!"

"Ah, ti-tidak perlu minta maaf sedalam itu... Sebagai perempuan, aku malah senang, kok."

"Itu... menurutku sangat cocok untukmu."

"Benarkah? Terima kasih ya."

Bukannya sekadar cocok, tapi dia sangat imut sampai-sampai model majalah mana pun tidak akan bisa menandinginya.

"AAAAAH! Amagami-chan dan Amakusa-chan sedang asyik bermesraan~!"

Tiba-tiba Ibu Pemandu muncul.

"Ti-Tidak ada yang bermesraan... BUFF!"

Begitu menoleh, aku langsung tersedak.

"I-Ibu Pemandu, b-baju macam apa yang Anda pakai itu...?"

Baju renangnya punya tingkat keterbukaan yang sangat keterlaluan.

"Gimana ya? Rasanya kayak... service-service~?"

Sambil menirukan gaya bicara Misato-san, Ibu Pemandu mulai berpose ala model gravure. Orang ini... sebenarnya dia menganggap pekerjaan pemandu bus itu apa, sih?

"Lagipula Amakusa-chan, jangan panggil Ibu Pemandu dong, kaku banget. Panggil Michiru saja~"

"O-Oh, begitu ya..."

"Nah, karena si pengganggu ini mau pergi, silakan kalian nikmati waktu berdua... Mufufu."

Michiru-san pun pergi dengan gaya seperti tante-tante tetangga yang suka ikut campur.

"...Orang itu sebenarnya datang untuk apa, ya?"

"Haha... dia orang yang menarik, ya."

Sora-san hanya bisa tersenyum getir.

"Ah, benar juga, Kanade-kun."

Sora-san bertepuk tangan sekali untuk mengubah suasana.

"Mau membuat istana pasir bersamaku?"

"Ah, ide bagus."

Mengikuti usulan Sora-san, kami mulai membangun istana.

"Bagian sini... apa begini sudah bagus?"

"Wah, Kanade-kun, kamu hebat ya."

"Mungkin kalau bagian ini dikikis sedikit lagi bakal terlihat lebih keren."

"Ah, benar juga. Hebat, hebat!"

Bukannya mau menyombongkan diri, tapi aku memang cukup terampil dengan tanganku. Istana pasir yang kami selesaikan punya kualitas yang cukup membanggakan.

"Nah, selesai... Sora-san, bagaimana menurutmu?"

"Iya, cantik sekali. Kanade-kun sudah berjuang keras ya, anak pintar, anak pintar."

Lagi-lagi, Sora-san mengelus kepalaku.

"Ah, ada lumpur di wajahmu."

Lalu, dengan tangan satunya, dia mengusap noda lumpur yang menempel di pipiku.

"Hmm, ternyata bepergian jauh dan bermain seperti ini... benar-benar menyenangkan, ya!"

"Ugh..."

Tepat saat melihat ekspresi Sora-san itu, sebuah perasaan asing bergejolak di dalam dadaku. Rasanya menggelitik, menyesakkan, pedih, tapi di saat yang sama... terasa panas membara.

Perasaan ini... sebenarnya apa?






Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close