Chapter 3
Aplikasi Hipnosis Itu Paling Mantap, Bro!
"Siapa
kau?"
"Siapa
ini?"
Sepasang
pria dan wanita itu saling merapat sambil menatapku dengan penuh rasa curiga. Si pria adalah mantan pacar Aisaka, dan si
wanita adalah selingkuhannya... Aku sama sekali tidak tahu nama mereka, tapi
biar kupanggil saja mereka "Kalian" supaya praktis.
"..............."
Sejujurnya,
setelah berhadapan langsung dengan mereka, aku kembali bertanya-tanya mengapa
aku bisa berada di tempat seperti ini.
Padahal aku
menggunakan aplikasi hipnosis hanya karena ingin melakukan hal nakal pada
Aisaka, tapi itu malah menjadi pemicu bagiku untuk mengetahui rahasia yang dia
pendam. Dan meski seharusnya aku hanyalah orang asing, di sinilah aku berdiri
sekarang.
(Ini hanyalah kepuasan pribadi... Aku hanya ingin merasa
lega.)
Atau mungkin, aku
hanya ingin merasa hebat dengan kekuatan ini.
"...Haa."
"Oi,
tiba-tiba memanggil kami tapi malah menghela napas sendiri."
"Rasanya
menjijikkan~"
Tentu saja aku
ingin menghela napas. Aku tahu mereka adalah sampah, tapi berbeda denganku,
pria ini memang tampan, dan wanitanya juga lumayan cantik... Tanpa sadar aku
memberikan tatapan penuh dendam seolah berkata "Dasar kalian para penganut
normies sialan".
(Tapi... seleraku
tetap Aisaka.)
Meski aku
berpikir begitu, seleraku tidak ada hubungannya dengan situasi ini.
Aku memalingkan
pandangan sejenak dari wanita yang memasang senyum menjijikkan itu, lalu
bertanya langsung pada si pria yang tampak kesal karena kehadiranku.
"Hei, apa
kau kenal Mari Aisaka?"
"Hah? Ada
apa dengan Mari?"
Bagus, berarti
ini bukan sekadar kemiripan wajah; dia memang target yang kucari. Tepat saat
aku hendak menanyakan keadaan Aisaka sekarang, dia menyeringai.
"Kenapa?
Jangan-jangan kau naksir dia? Atau mungkin kau sudah mendengar sesuatu?
Misalnya, soal dia yang kuselingkuhi?"
"...Kau
mengakuinya semudah itu?"
Sepertinya tanpa
perlu kupaksa pun, dia akan membeberkan semuanya sendiri.
"Tak
kusangka orang sepertimu akan repot-repot datang demi Mari. Aku tidak tahu apa
yang dia ceritakan padamu, tapi semua itu sudah terlambat. Aku bersikap manis
di depan orang tuanya, jadi mereka lebih memercayaiku... Haha, wajah menangis
Mari itu benar-benar lucu setiap kali aku mengingatnya."
"Hah~
seleramu buruk sekali. Kasihan ya gadis itu~"
Meski berkata
"kasihan", wanita itu tertawa. Mungkin karena menganggap aku
kehilangan kata-kata karena sikap mereka yang tak tahu malu, pria itu terus
mengoceh tanpa henti.
"Lagipula,
dia itu terlalu berharap banyak pada hal sepele seperti cinta. Aku sudah tidak
peduli soal teman masa kecil, dan aku tidak peduli seberapa menderitanya dia.
Malah, kalau ini membuatnya menghilang, itu lebih baik—meski aku tahu dia tidak
punya keberanian untuk melakukan itu."
"..............."
Aku... tidak bisa
menemukan kata-kata untuk membalasnya. Orang yang bisa bicara seperti ini
biasanya adalah tipe yang tidak pernah memikirkan kemungkinan bahwa pihak lawan
benar-benar bisa mengakhiri hidupnya sendiri... Itulah sebabnya dia bisa
mengucapkan kata-kata tak bertanggung jawab dan melukai orang lain tanpa merasa
bersalah.
"...Kau
benar-benar cuma sampah."
"Apa
katamu?"
Yah, aku juga
sampah, sih. Tapi sepertinya disebut sampah oleh orang yang baru ditemuinya
benar-benar menyinggung perasaannya. Dia melepaskan rangkulannya pada si wanita
dan mendekat ke arahku. Anehnya, aku tetap merasa tenang meski dia sudah berada
tepat di depanku.
"Coba
katakan sekali lagi."
"Ugh..."
Kerah bajuku
dicengkeram, tenggorokanku tertekan hingga aku sulit bernapas.
"Bagus,
bagus! Hajar saja dia!♪"
Wanita itu
bersorak menyemangati, dan cengkeraman di kerahku semakin kuat.
(Aku...
tidak pernah membayangkan akan bicara dengan orang seperti ini...)
Sejujurnya,
aku belum pernah bertemu orang dengan sisi sejahat ini sebelumnya. Dulu saat
SMP memang pernah ada kejadian yang mirip perundungan, tapi itu berakhir damai
dengan cara yang langka di mana kedua belah pihak saling berdamai.
"Gadis
itu... dia melukai lengannya sendiri, tahu?"
"Lalu?"
"Meskipun
dia tidak berniat mati, dia sudah tersudut sampai melakukan hal itu,
tahu?"
"Lalu
kenapa!? Kau mau menceramahiku, hah, sampah!"
BUAK!
Sebuah pukulan
mendarat keras di pipiku. Sakit... Rasa besi menyebar di mulutku,
sepertinya lidahku tergigit... Ah sial, kenapa aku harus mengorbankan tubuhku
seperti ini?
Aku tidak pernah berkelahi seumur hidupku, dan karena tidak
pernah dipukul, tubuhku tidak terbiasa dengan rasa sakit... Mungkin karena itu,
air mata mengalir dengan sendirinya.
"Wah, payah banget! Dia menangis!"
"Ini akibatnya kalau sampah mencoba melawan. Sadarlah
akan posisimu, pecundang."
Seolah sudah tidak berminat lagi padaku, mereka berdua
berjalan melewati aku.
"...Tunggu dulu."
Tentu saja aku tidak bisa membiarkannya berakhir begini...
Sejak awal tujuanku belum tercapai, dan dipukul seperti tadi benar-benar
membuatku tersinggung.
"Akan
kubunuh kau, sialan."
"Lama-lama
kau ini menyebalkan ya~"
Keduanya berbalik
dengan tatapan seperti melihat tumpukan sampah, tapi aku tidak gentar sedikit
pun. Tepat saat pria yang mendekat itu mengulurkan tangannya lagi, aku
menjalankan aplikasi hipnosis.
"Berhenti."
"---!?"
"...Eh?"
Aplikasi hipnosis
yang kutargetkan pada keduanya berhasil dijalankan. Seketika, sosok mereka
berubah menjadi melamun, persis seperti Aisaka sebelumnya.
"...Bodohnya
aku, karena terlalu asyik mengobrol aku sampai lupa soal aplikasi ini."
Dipukul dulu baru
teringat itu benar-benar konyol... Tapi yah, dengan ini kalian resmi menjadi
boneka pemuas keinginanku—nah, mari kita tuntaskan tujuan awal ini.
Aku memberikan
perintah kepada mereka berdua. Pertama, jelaskan pada orang tua Aisaka tentang
apa yang sebenarnya kalian lakukan dan apa yang kalian pikirkan tentang gadis
itu... Lalu sebagai puncaknya, aku menambahkan ini:
"Sebagai
balasan karena telah memukulku, kau akan telanjang... Tidak, aku masih berbaik
hati menyisakan celana dalammu. Berlarilah sekuat tenaga di sekitar lingkungan
ini dengan hanya memakai celana dalam sambil berteriak keras-keras."
Mereka sempat
terdiam di tempat, tapi saat aku membentak "Cepat pergi!", keduanya
mulai berjalan dan menghilang dari pandanganku.
"...Fuu.
Aku benar-benar keterlaluan."
Seharusnya aku
cukup meminta mereka meminta maaf pada Aisaka dan menjelaskan semuanya pada
orang tuanya... Tapi perintah yang terakhir itu murni karena dendam pribadi
akibat dipukul dan dihina. Perintah sudah diberikan dan tidak bisa dihentikan.
Jika pria itu
melaksanakannya dengan setia, dia tidak akan bisa lagi berjalan di luar dengan
wajah tenang dan hidupnya akan menjadi sangat menyedihkan.
"Wah...
setelah benar-benar memerintahkannya, aku malah jadi takut sendiri. Sebaiknya
aku cepat pulang."
Ada sedikit...
benar-benar hanya sedikit rasa bersalah karena memberikan perintah yang gila,
tapi rasa puas karena bisa membalas mereka jauh lebih kuat.
Melihat mereka
menderita dalam bentuk apa pun, ditambah rasa superior karena aku melakukannya
dengan aplikasi hipnosis yang tidak akan ketahuan... Lihat kan, aku memang orang yang sudah tidak
tertolong.
"Baiklah!
Mulai besok aku akan
mengganti suasana hati!"
Aku akan
melupakan kejadian hari ini dan bersantai sejenak. Setelah semuanya terlupakan,
aku akan menjadikan kejadian hari ini sebagai pengalaman berharga untuk berbuat
sesuka hati pada gadis-gadis lain... Ya! Begitu lebih baik. Sambil menahan tawa
licik, aku berjalan pulang ke rumah.
"Hei, ada
apa dengan pipimu?"
"Eh?"
Hanya saja...
pipiku yang membengkak merah membuat Kakak dan orang tuaku sangat khawatir.
Karena kejadian seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya, kekhawatiran
mereka sangat besar. Kakak langsung menarik tanganku untuk mengobatiku.
"Sampai luka begini... Kau dipukul? Siapa bajingan yang
memukul Kai? Kalau tidak tahu namanya, apa kau ingat wajahnya? Beritahu Kakak
semuanya—akan kubuat dia menjadi tumbal darah."
Bukan hanya mengelus pipiku yang bengkak dengan lembut,
Kakak juga mengoleskan obat pada lidahku yang terluka menggunakan cotton bud...
Kakak benar-benar baik hari ini, tapi di saat yang sama, kemarahannya pada
orang yang memukulku juga sangat luar biasa.
"...Haa,
ini benar-benar bukan gayaku."
Setelah
sendirian di kamar, aku kembali merenung. Meski aku merasa ingin melakukan
sesuatu demi Aisaka, sampai mengorbankan tubuh sendiri seperti tadi benar-benar
bukan gayaku.
Yah,
terlepas dari fakta aku sempat lupa soal aplikasi hipnosis, berkat kekuatan
inilah aku bisa berada di atas angin dan memberikan hukuman yang setimpal pada
mereka.
"...Hehe,
kekuatan ini benar-benar hebat."
Rasa
perih yang masih tersisa di pipiku juga menjadi kesempatan bagus untuk
mengingatkanku bahwa kekuatan ini mutlak adanya. Meskipun mungkin aku akan
merasa ciut lagi nantinya... aku pasti akan menggunakan kekuatan ini demi
hasratku sendiri—aku sudah mantap, aku tidak akan ragu lagi.
"Nah,
kira-kira apa yang harus kulakukan besok, ya?"
Aku
benar-benar tidak sabar menantikan apa yang akan dibawa oleh hari esok bagi
diriku yang memegang aplikasi hipnosis ini. Sepertinya hari ini aku bisa
tidur dengan perasaan tenang... Tapi meski sudah merebahkan diri di tempat
tidur, aku tidak bisa tidur untuk waktu yang lama. Kenapa?
"...Tampilan
tubuh polos Aisaka tidak mau hilang dari kepalaku."
Ya... sosoknya
yang hanya mengenakan pakaian dalam terus membekas di benakku. Semakin aku
mengingat betapa cantiknya dia dan betapa seksinya dia, rasa penyesalan karena
tidak melakukan hal sesuka hati kembali muncul.
"...Muu."
Alasan mengapa
aku merasakan aura seksi yang jauh lebih kuat daripada kakak cantik di kota
tadi... apakah karena Aisaka adalah teman sekelasku?
"Selain
itu..."
Tentu saja aku
juga penasaran dengan akhir dari si mantan pacar dan selingkuhannya yang
terhipnosis.
Meski baterai
ponselku sekarat, mereka sudah berlari pergi dan secara jarak seharusnya ada
cukup waktu bagi mereka untuk melaksanakan perintahku... Pokoknya, besok kalau
ada kesempatan, aku akan menghipnotis Aisaka untuk memastikannya.
"...Huwaa."
Padahal tadi
rasanya sulit tidur, tapi sekarang aku malah menguap lebar. Di tengah rasa
kantuk yang mulai menyerang, ingatan tentang Aisaka yang terus tertinggal di
benak seolah menjadi obat tidur bagiku. Sambil merasakan ketenangan yang
menjijikkan itu, aku pun terlelap.
◆◇◆
Keesokan harinya,
rasa penasaranku segera terjawab. Sepertinya perintah yang kuberikan pada
mereka berdua—terutama si pria—telah dilaksanakan dengan sempurna.
Kabarnya, seorang
pria yang hanya memakai celana dalam terlihat berlari kencang sambil berteriak
di lingkungan sekitar hingga harus berurusan dengan polisi.
"Ada orang
gila ya ternyata..."
"Di antara
kita tidak ada yang punya kelainan seperti itu, kan!?"
"Mana
mungkin ada."
Sambil
mendengarkan obrolan kedua temanku, aku berpura-pura tidak peduli, meski di
dalam hati aku merasa puas dan lega karena kekuatanku telah bekerja dengan
baik.
(Sejujurnya aku
sudah tidak peduli lagi soal mereka... Kuku, tak disangka semuanya berjalan
selancar ini.)
Saat aku sedang
tertawa kecil dalam hati, targetku, Aisaka, masuk ke kelas.
"Selamat
pagi, semuanya~"
"Pagi,
Mari!"
"Pagi!"
Aisaka tetap
tersenyum seperti biasanya... Melihatnya sekarang, rasanya kejadian setelah aku
menghipnotisnya itu seperti mimpi belaka.
"Kai, kenapa
wajahmu merah?"
"Ada
apa?"
"...Eh!?"
Karena ditegur
oleh mereka berdua, aku baru sadar kalau wajahku sedikit memanas. Gawat...
sepertinya ini karena melihat Aisaka membuatku teringat akan kulitnya dan
kejadian kemarin...!
"T-tidak ada
apa-apa, kok."
"Masa,
sih?"
"Melihat
Aisaka lalu merah begini... Hahaa~?"
Jangan salah
paham, sialan! Memang benar wajahku memerah karena melihat Aisaka, tapi mereka
pasti mengira aku menyukainya... Yah, meski tersipu karena alasan itu jauh
lebih sehat, sih!
"Bukan
begitu. Aku tahu diri, jadi jangan salah paham."
"Iya,
iya, kami mengerti."
"Benar
sekali. Kami mengerti kok."
Orang-orang
ini...
Sambil menahan
keinginan untuk menghajar mereka, aku kembali melirik ke arah Aisaka. Aku bukan
orang yang cukup peka untuk memahami segala hal hanya dari ekspresi wajah
seseorang... Karena itulah, aku sangat penasaran tentang apa yang Aisaka
pikirkan dan bagaimana keadaannya setelah kejadian kemarin.
Selama upacara
pagi, pelajaran, hingga jam istirahat... sayangnya momen untuk menghipnotis
Aisaka tidak kunjung tiba. Namun, saat jam istirahat makan siang, aku kebetulan
melihat Aisaka berjalan sendirian di koridor. Aku segera mendekatinya tanpa
menimbulkan kecurigaan dan berhasil menghipnotisnya.
"Ikut aku ke
kelas kosong."
"Iya."
Seandainya aku
bisa menghipnotis semua orang dalam jangkauan tertentu, aku tidak perlu
sembunyi-sembunyi begini, tapi aku tidak boleh terlalu serakah. Aku dan Aisaka
masuk ke sebuah kelas kosong yang berantakan karena hanya digunakan sebagai
gudang penyimpanan dokumen dan barang-barang lama.
"Lampu tidak perlu dinyalakan... Ah."
Karena gordennya tertutup rapat, ruangan itu jadi gelap
tanpa cahaya lampu. Berada berduaan dengan Aisaka yang matanya tampak sayu di
tengah kegelapan seperti ini terasa seperti ruang yang sangat mesum hingga
membuat jantungku berdebar kencang.
"Ugh..."
Wajah yang cantik, rambut yang halus, dada yang montok, paha
yang terlihat dari balik rok... Daya tarik Aisaka terpampang di depan mataku
hingga aku sulit mengalihkan pandangan dari setiap bagian tubuhnya.
"Y-yah,
memandangi saja kan gratis!"
Jadi, biarkan aku
menikmatinya dengan saksama! Setelah sekitar lima menit berlalu tanpa menyentuh
Aisaka sama sekali dan hanya mengobservasinya, aku merasa sangat puas dan
akhirnya mulai angkat bicara.
"Aku ingin
mendengar detail kejadian kemarin. Apa yang terjadi dengan mantan
pacarmu?"
Atas
pertanyaanku, Aisaka mengangguk dan memberitahuku. Sepertinya mereka
benar-benar melaksanakan hampir semua perintah yang kuberikan.
"Aku
terkejut dia tiba-tiba datang ke rumah, tapi dia... menceritakan semuanya
dengan jujur. Meski gelagatnya aneh, dia tidak terlihat berbohong...
Wanita yang bersamanya juga ikut minta maaf, dan akhirnya orang tuaku mengerti
bahwa ini bukan salahku."
"Begitu ya... Haha, syukurlah."
Untuk saat ini, sepertinya hubungan keluarganya yang sempat
retak mulai membaik...? Aku tertawa memikirkan itu, tapi melihat gelagat
Aisaka, sepertinya masalahnya tidak sesederhana itu... Kenapa?
"...Fakta bahwa aku tidak dipercaya itu terasa sangat
menyesakkan bagi aku... Meski mereka minta maaf, aku tidak merasa senang sama
sekali. Aku hanya ingin mereka tidak melupakan fakta bahwa aku telah
dikhianati... sejak kemarin aku belum bicara lagi dengan mereka."
"Ugh... begitu ya."
Fakta bahwa dia tidak dipercaya oleh orang tuanya sendiri
ternyata meninggalkan bekas yang dalam. Mungkin karena dia sangat menyayangi mereka, luka di hati Aisaka jadi
sangat dalam... Jika sudah begini, apakah tidak ada yang bisa kulakukan?
"...Yah, aku
sudah melakukan apa yang bisa kulakukan... Ngomong-ngomong, Aisaka."
"Apa?"
"Apa kau
tidak merasa lega sama sekali?"
"Tidak,
bukan begitu. Bagiku, aku sudah tidak mau menganggapnya sebagai teman masa
kecil lagi. Aku tidak tahu kenapa dia melakukan hal itu, tapi... melihatnya
menderita dengan cara apa pun membuatku merasa lega."
Begitu ya... Baguslah kalau begitu, aku juga ikut senang.
Meski caraku bukan yang terbaik, aku sendiri merasa puas, dan jika itu bisa
membuat Aisaka sedikit merasa lega, maka itu sudah cukup.
"...Aisaka,
boleh aku melihat lenganmu?"
"Iya."
Aisaka
menyingsingkan lengan seragamnya, menunjukkan lengannya yang terluka. Aku
mengernyit melihat luka yang masih tampak menyakitkan itu, tapi aku merasa lega
karena tidak ada luka baru dibandingkan kemarin... Karena jika ada luka baru,
itu berarti dia melukai dirinya lagi tadi malam.
"...Aku
tidak tahu apakah permintaanku dalam kondisi ini akan efektif, tapi berhentilah
melakukan hal seperti ini. Aisaka tidak perlu melukai diri sendiri hanya karena
kejadian dengan bajingan itu."
"Iya...
Iya."
"Hei,
jawaban itu terdengar sedikit mencurigakan, ya?"
Meski aku
mengatakannya sambil tertawa pahit, ekspresi Aisaka tetap tidak berubah. Aku
sempat berpikir untuk melepaskan hipnosisnya dan mengatakannya langsung agar
dia mengerti, tapi itu hanya akan menyulitkan posisiku sendiri... Malah ada
kemungkinan aku akan dicurigai, tindakanku terbongkar, dan semuanya berakhir
tamat.
"...Kalau
begitu, aku hanya bisa berinteraksi dengan Aisaka dalam kondisi ini... Ya
ampun, merepotkan sekali."
Lagipula, akulah
pengecut yang tidak bisa bicara mendalam tanpa menghipnotisnya seperti ini...
Yah, biarlah, aku juga akan berhenti berpikir berat dan menyampaikan
kata-kataku dengan perasaan ringan saja.
"Sayang
sekali jika kau melukai diri sendiri padahal kau punya tubuh seksi yang sesuai
seleraku, jadi tolong berhentilah, ya? Aku tidak mau kau menghilang karena
terlalu menyudutkan dirimu sendiri, tahu?"
Bagian terakhir
mungkin bagus, tapi bagian awal tadi benar-benar menjijikkan. Seandainya dia
sadar, dia pasti akan menampar wajahku... atau bahkan lebih. Namun, Aisaka yang
terhipnosis justru membalas dengan kata-kata ini:
"Kau tidak
suka... kalau aku menghilang?"
Begitulah
balasannya. Memang tidak aneh jika Aisaka membalas perkataanku, tapi bukankah
ini pertama kalinya dia membalas dengan nada bertanya? Merasa ini hal yang langka, aku
pun mengangguk.
"Tentu
saja. Meski kita tidak
terlalu akrab, perasaanku akan buruk jika teman sekelasku tiba-tiba
menghilang."
"...Begitu
ya."
"Tentu saja.
Lagipula... yah, bagaimana ya—bukannya aku naksir atau apa, tapi melihat senyum
Aisaka di pagi hari itu sangat menyegarkan mata, tahu?"
Wajahku memanas
segera setelah mengatakannya, dan aku menggaruk pipiku.
Lagipula, kenapa
aku harus tersipu di depan orang yang tidak sadar begini... Untuk menutupi rasa
malu, aku pun mengikuti dorongan suasana dan mengatakan hal ini:
"Hei Aisaka,
boleh aku menyentuh dadamu?"
Tentu saja,
wajahku jadi semakin panas setelah mengatakannya.
Padahal aku sudah
memantapkan tekad untuk menjadi bajingan sejati, tapi pada akhirnya saat hendak
melakukannya, aku malah jadi begini... Aku merasa putus asa karena ternyata aku
tidak berubah sedikit pun.
"...Haa."
Tanpa sadar aku
menghela napas panjang, tapi secara tak terduga, jawaban datang dari Aisaka...
bukan, jawaban itu akhirnya keluar.
"Boleh."
"...Eh!?"
Aisaka
membusungkan dadanya ke arahku. Dada besarnya yang sedikit memantul membuatku
menelan ludah, dan fakta bahwa aku baru saja mendapat izin untuk menyentuhnya
membuatku menelan ludah sekali lagi.
Aku sangat
terguncang, tapi mataku tidak bisa lepas dari dada besar Aisaka yang disodorkan
di depan mataku.
(I-ini adalah milik anak perempuan... Luar biasa.)
Meskipun aku sudah pernah melihat bagian dalamnya sekali,
melihat dada Aisaka dari jarak sedekat ini benar-benar luar biasa... Besar dan
terlihat lembut, memancarkan daya tarik yang membuat tanganku ingin segera
meraihnya.
"...Fuhehh."
Senyum yang sangat menjijikkan keluar dari mulutku, dan aku
mengulurkan tangan... Namun, pada akhirnya aku tetap tidak bisa menyentuhnya.
"Maaf... sepertinya ini masih wilayah yang terlalu
berat untukku."
Benar-benar,
deh!
Aku ini
benar-benar tidak punya nyali! Padahal apa pun yang kulakukan tidak akan
ketahuan dan semuanya akan baik-baik saja... tapi kenapa aku bahkan tidak bisa
menyentuhnya... Apakah rasa bersalah itu masih tersisa di dalam diriku!?
"Padahal
aku tidak merasa takut saat dipukul oleh mantan pacarmu, malah aku punya nyali
untuk membalasnya, tapi aku malah tidak punya nyali untuk menyentuh buah
terlarang itu... Tertawalah padaku, Aisaka."
"..............."
Tidak ada jawaban dari Aisaka... Yah, aku sudah tahu itu!
"...Aah."
"..............."
Karena tidak ada lagi yang dibicarakan, suasana canggung
menyelimuti kami. Jika aku tidak bertanya sesuatu, dia tidak akan bicara, jadi
penyebab kecanggungan ini adalah aku sendiri.
"Ah, maksudku, maaf Aisaka. Kau tidak perlu
membusungkan dadamu seperti itu lagi."
Mendengar itu, Aisaka mengangguk dan kembali ke posisi
semula.
Namun, karena tatapannya tetap terarah padaku, ketegangan
dan debaran jantung yang aneh itu tetap tidak hilang. Untuk menutupi suasana
itu, aku berdehem kecil dan menatap ponselku.
"Seandainya aku tidak bertemu dengan aplikasi hipnosis
ini, momen bicara berdua saja dengan Aisaka seperti ini mungkin tidak akan
pernah terjadi."
Meski ini hanya
interaksi sepihak dariku, waktu ini ada berkat bantuan aplikasi ini.
"...Bagaimana
kalau kucoba fitur ini?"
Sebenarnya ada
fitur dalam aplikasi hipnosis ini yang belum pernah kugunakan. Namanya adalah
"Hipnosis Reservasi", di mana aplikasi akan aktif secara otomatis
pada waktu yang ditentukan dan target akan terkena hipnosis.
Hanya saja untuk
melakukan reservasi, aku harus menghipnotis orang tersebut terlebih dahulu,
tapi sepertinya bisa dilakukan dengan cara menimpanya pada kondisi Aisaka yang
sekarang.
"Jadi...
begini ya. Aisaka, besok setelah makan siang, datanglah ke sini sendirian
lagi."
"Dimengerti."
Apakah dengan
begini sudah cukup? Meskipun aku sudah cukup memahami aplikasi hipnosis ini,
selama ini aku hanya puas dengan menghipnotis secara langsung dan tidak pernah
melirik fitur reservasi.
Pokoknya, apakah
ini akan berhasil atau tidak akan terbukti besok, tergantung apakah Aisaka akan
datang ke sini dalam kondisi terhipnosis atau tidak.
"Baiklah,
kau boleh kembali sekarang, Aisaka."
"Iya."
"...Jangan
lukai dirimu lagi, ya? Jangan lupa kalau ada orang-orang yang akan sedih jika
terjadi sesuatu padamu."
"Iya...
Teri... ma..."
"Eh?"
Sesuai
perintahku, Aisaka keluar dari kelas meski sempat hendak mengatakan sesuatu.
Setelah itu, setelah aku merasa waktunya sudah cukup, aku melepaskan aplikasi
hipnosisnya, pergi ke toilet sebentar untuk menyegarkan diri, lalu kembali ke
kelas.
◆◇◆
Kesimpulannya,
hipnosis reservasi yang kupasang pada Aisaka bekerja dengan sempurna keesokan
harinya. Segera setelah jam istirahat makan siang dimulai, aku menuju kelas
kosong, dan tak lama kemudian Aisaka datang pada waktu yang hampir sama dengan
hari sebelumnya.
Meski aku sempat
terkejut karena aplikasi tiba-tiba aktif (padahal sudah dijelaskan dalam
panduan), tapi Aisaka benar-benar dalam kondisi terhipnosis, yang berarti aku
telah menguasai satu teknik baru lagi.
Dengan begini,
aku tidak perlu lagi menunggu dengan sabar sampai Aisaka sendirian. Jadi selama
beberapa hari terakhir, aku selalu memanggilnya ke sini saat jam istirahat
makan siang.
"Bagus,
bagus. Hari ini pun tidak ada luka baru di lenganmu."
"Iya...
karena aku sudah... berjanji."
"...Apa
yang kulakukan dengan aplikasi hipnosis ini malah terlihat seperti seorang
konselor saja."
Sambil
menggelengkan kepala, sejujurnya aku merasa interaksi ini cukup menyenangkan. Dan... dan dan! Melalui interaksi selama
beberapa hari ini, aku telah mengalami kenaikan level!
"A-Aisaka."
"Iya."
"Bolehkah
aku... dipeluk erat lagi?"
"Boleh."
Seolah menjawab
permintaanku, Aisaka memeluk kepalaku... dan membawanya ke dadanya yang montok.
Sensasi lembut yang menyelimuti wajahku ditambah aroma harum tubuh Aisaka
benar-benar luar biasa... Hal ini bukan hanya menghilangkan rasa lelah
sehari-hari, tapi juga seolah memberikan vitalitas hidup yang tak terbatas.
(Keberanian itu memang perlu dicoba, ya.)
Aisaka mau
melakukan ini adalah hasil dari keberanianku untuk melangkah maju. Karena aku
masih belum punya nyali untuk menyentuh sendiri, aku malah memerintahkan Aisaka
untuk melakukannya padaku, dan hasilnya adalah ruang penuh kebahagiaan ini.
"Nasibmu
malang ya, Aisaka. Gara-gara menjadi targetku, kau jadi harus melakukan hal
seperti ini."
Wajahku sekarang
pasti terlihat seperti penjahat kelas kakap.
"Era
kekuasaanku... baru saja dimulai!"
Sambil diselimuti
kelembutan yang tiada tara, aku membuat pengumuman itu. Ya, tidak berlebihan
jika kukatakan era kekuasaanku dengan aplikasi hipnosis ini telah dimulai...
Mungkin sebentar lagi momen di mana aku benar-benar berubah dari anak-anak
menjadi dewasa akan segera tiba!
"Orang-orang
bilang dada wanita itu penuh dengan impian, dan itu benar-benar nyata. Aku
tidak bisa berhenti," gumamku.
Setelah
puas menikmati sensasi empuk dan kenyal itu, aku mengubah posisi dan meminta
bantalan lutut (hizamakura).
Meskipun
membenamkan wajah di dadanya jauh lebih agresif, tapi bantalan lutut pun
merupakan pengalaman yang mustahil kudapatkan secara normal... Ugh, Hypnosis
App memang yang terbaik!
"...Hah?"
Sesuatu
menyentuh kepalaku saat aku sedang asyik menikmati bantalan lutut itu... Itu
adalah tangan Aisaka. Eh...? Perasaan aku tidak bilang kalau aku ingin kepalaku
diusap juga?
"...Yah,
sudahlah."
Aku
berhenti memikirkan hal-hal kecil dan memanjakan mataku dengan pemandangan
indah ini. Terlepas dari tatapan kosong Aisaka yang melihat ke bawah, dua
gundukan besar yang menggantung di depan mataku benar-benar menyegarkan
pandangan... Kalau diizinkan, aku ingin terus memandanginya seperti ini
selamanya.
"...Suatu
saat nanti, aku pasti akan menyentuhnya secara langsung," janjiku dalam
hati, lalu aku kembali mengajak Aisaka bicara.
"Bagaimana
keadaan keluargamu?"
"Mereka jadi
sangat perhatian padaku. Tentu saja, ini jauh lebih baik dari sebelumnya."
"Begitu ya.
Baguslah kalau begitu."
"Iya."
Mendengar kabar
terbaru dari mulut Aisaka seperti ini sudah menjadi bagian dari rutinitas kami.
Aku tahu aku
tidak punya hak untuk mencemaskan Aisaka karena akulah yang mengabaikan
kehendaknya dan melakukan hal ini padanya, tapi karena sudah terlibat, aku jadi
tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
"Bagaimana
dengan mantan pacarmu?"
"Sepertinya
terjadi hal yang luar biasa padanya. Bukan hanya keluarganya, orang-orang di
sekitarnya pun jadi merasa sangat jijik padanya."
"Wajar saja,
sih."
Kalau tiba-tiba
hanya memakai celana dalam sambil berteriak-teriak lari keliling lingkungan,
hasilnya pasti begitu.
"Tapi...
rasa puas melihatnya menderita tidak hilang dari hatiku. Aku tidak tahu apakah
dia melakukan itu karena mendadak gila, tapi rasanya senang sekali melihatnya
menerima ganjaran karena telah menyudutkanku."
"Kau jujur
sekali, ya."
Seberapa pun dia
telah disakiti, seandainya Aisaka masih punya sedikit perasaan rumit terhadap
teman masa kecilnya itu, aku mungkin akan merasa sedikit bersalah.
Tapi karena dia
sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda itu, aku jadi merasa benar telah
melakukannya.
"Seperti
yang kukatakan tadi, aku lega kau tidak melukai lenganmu lagi sejak saat itu.
Kau sama sekali tidak perlu melukai dirimu sendiri hanya karena sampah seperti
mereka."
"Iya."
"Yah,
padahal aku yang menghipnotismu dan berbuat sesuka hati begini jauh lebih
bajingan berkali-kali lipat! Ahahaha!"
Aku ini, sudah
terbiasa menyebut diriku sendiri bajingan. Memang benar berselingkuh dan
mengucapkan kata-kata kasar seperti mantan pacarnya itu adalah hal yang
menjijikkan... Tapi aku yang menggunakan kekuatan yang mustahil ada di dunia
nyata ini level bajingannya pasti jauh lebih tinggi.
"Masaki-kun
sudah... menolongku, kan?"
"Aku tidak
menyebutnya menolong. Aku cuma berbuat sesuka hatiku saja."
Setelah
mengatakan itu, aku berdiri.
"Jam
istirahat makan siang hampir habis. Terima kasih Aisaka, kembalilah ke kelas
seperti biasa."
"Iya..."
"Aisaka?"
Tepat sebelum
keluar kelas, Aisaka sempat menoleh ke belakang sekali... tapi dia segera pergi
keluar.
"...Ada
apa?"
Jika aku tidak
mengatakan apa-apa, Aisaka dalam kondisi itu seharusnya tidak akan bereaksi.
Entah itu reaksi terhadapku atau bukan, sejujurnya aku kaget dia tiba-tiba
menoleh padahal aku tidak memanggilnya.
"...Jangan-jangan
hipnosisnya lepas?"
Dengan panik aku
melihat ke arah ponselku, tapi baterainya masih penuh dan Hypnosis App
sendiri tidak terlihat mengalami eror... Hmm?
"Kalau dia
menoleh lalu membentakku karena sudah berbuat seenaknya, aku jadi tahu kalau
aplikasinya cacat, tapi..."
Eh, tapi kalau
begitu kan berarti hidupku tamat! Sambil memendam sedikit kecemasan, aku
meyakinkan diriku sendiri bahwa kekuatan ini mutlak dan tak terkalahkan, lalu
aku kembali ke kelas setelah memberi jeda waktu sebentar.
Mungkin karena
aku sudah mencicipi surga dunia berkat Hypnosis App, aku jadi kesulitan
saat pelajaran karena terus terbayang sensasi tubuh Aisaka dan senyum-senyum
sendiri.
(Waduh, gawat,
gawat. Aku harus fokus!)
Meskipun dalam
hati berpikir begitu, otakku segera dipenuhi lagi oleh bayangan Aisaka. Apakah
ini efek samping karena aku tidak pernah berinteraksi dengan gadis sebaya
selain kakakku sendiri...? Tidak, bukan itu alasannya.
(Berkat Hypnosis
App, aku bisa melakukan hal yang tadinya mustahil... ini bisa-bisa membuat
seleraku jadi menyimpang.)
Aku akan menjadi
penjahat... tapi aku harus berjanji untuk tidak menjadi binatang yang tidak
punya akal sehat—aku baru saja memutuskannya sekarang.
Meski begitu,
memang benar kalau buah manis yang sudah kucicipi itu sulit dilupakan.
Aku sudah
berusaha berhati-hati agar tidak dicurigai siswa lain, tapi benteng pertahanan
hasrat kecilku itu jebol saat jam istirahat. Kedua temanku yang mendekat sampai
khawatir melihatku.
"Apa kau
tidak apa-apa tiba-tiba tertawa sendiri...?"
"Apa kau
salah makan sesuatu?"
"Jangan
dipikirkan."
Aku menjawab
dengan wajah serius, tapi pipiku segera mengendur lagi. Keluar tawa
"fuhehe" yang menurutku sendiri pun menjijikkan, hingga mereka berdua
tampak merasa risi.
"Jangan-jangan..."
"Ada apa,
Shogo?"
Sambil terus
menatapku, Shogo menunjukku dengan tajam dan membuka mulutnya.
"Kai...
jangan-jangan... kau baru saja membangkitkan kekuatan khusus!"
Jeng
jeng jeng! Seolah
ada efek suara yang terdengar.
"Apa
yang kau bicarakan?"
Aku
membalas perkataan Shogo yang berlebihan itu dengan gaya keren, tapi jika
didengarkan dengan saksama, detak jantungku berdegup sangat kencang.
"Memangnya
kekuatan khusus apa?"
"Tentu saja
itu. Kekuatan mesum yang bisa membuatmu berbuat sesuka hati pada
gadis-gadis!"
Kenapa tebakannya
bisa sangat tepat sasaran begitu! Shogo tidak mungkin tahu rahasiaku, apalagi
curiga soal Hypnosis App, tapi kenapa instingnya tajam sekali.
"Mari~!"
"Ada
apa~?"
Sambil
mendengarkan obrolan kedua temanku, mataku langsung tertuju pada suara Aisaka.
Melihat Aisaka yang sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya seperti biasa
membuatku teringat lagi kejadian di jam istirahat makan siang tadi.
(...Lembut sekali
dan rasanya enak sekali.)
Itu adalah hal
yang luar biasa... benar-benar luar biasa. Tentu saja aku harus sangat
berhati-hati agar tidak ketahuan, tapi aku punya Hypnosis App... Mulai
sekarang, aku bisa melakukan apa pun yang kusukai kapan pun aku mau.
Bahkan jika aku
merasa ciut dan tidak bisa melangkah lebih jauh, aku masih punya banyak
waktu... Jadi tidak perlu terburu-buru.
"Sepulang
sekolah hari ini kau mau ke mana?"
"Ah~ mau ke
mana ya... Memangnya ada apa?"
Karena Aisaka
tipe yang mencolok, suaranya dan teman-temannya terdengar jelas.
Saat terhipnotis
suaranya sedikit rendah, jadi mungkin terlalu serakah jika aku berharap dia
bicara dengan nada ceria seperti itu saat bersamaku... Ya, sudahlah. Toh nanti
aku berencana menyentuh dadanya sesuka hatiku, jadi aku harus bersabar.
(Lagipula,
sebelum soal menyentuh atau tidak, aku bukan cuma membenamkan wajah di dada
Aisaka, tapi aku juga sampai dipeluk, lho!? Meski ini kekuatan Hypnosis App,
bukankah garis finis sudah tinggal sedikit lagi!?)
Memikirkan hal
itu membuat sisi mesum yang tertidur dalam diriku terbakar hebat. Aku belum
tahu ke mana api hasrat ini akan membawaku, tapi ada satu warisan negatif yang
harus kubuang terlebih dahulu—status Perjaka.
"Aku pasti
akan membuangnya..."
"Membuang
apa?"
"Sampah?"
...Fuu,
sepertinya aku harus memperbaiki kebiasaan mengabaikan sekitar saat sedang
melamun terlebih dahulu. Intinya, aku harus lebih percaya diri.
Sambil
mendengarkan obrolan Akira dan Shogo, aku mengelus ponsel yang tersimpan di
balik saku celanaku.
(Benda
ini sudah menjadi barang penting bagiku... bisa dibilang, dia adalah
Partner-ku.)
Saat
itulah, panggilan untuk Hypnosis App dalam diriku berubah menjadi
"Partner".
Dengar
Partner, mulai sekarang aku akan terus berbuat sesuka hatiku. Jadi tolong
pinjamkan kekuatanmu padaku—buatlah aku menjalani hari-hari mesum seperti
karakter di manga atau anime!
Sepertinya
tekad mesumku itu terpancar jelas di wajahku, karena tiba-tiba guru memanggil
namaku.
"Masaki,
wajahmu terlihat sangat bersemangat ya. Ibu guru sampai terharu melihatmu
mengikuti pelajaran dengan serius seperti itu—Ayo, coba kerjakan soal
ini."
"Ah,
baik."
Pokoknya...
sebaiknya aku tetap mendengarkan pelajaran dengan serius. Meski itu hal yang wajar, aku
kembali menyadarinya sekarang.
Statistik
Karakter: Status:
Virgin



Post a Comment