Chapter 4
Rasanya Ada Sesuatu yang Sedikit Demi Sedikit
Berubah, Bro!
Bukan
lagi aplikasi hipnosis... melainkan Partner. Beberapa waktu telah
berlalu sejak aku bertemu dengannya dan mulai menggunakan kekuatannya pada
gadis gal cantik, Aisaka.
Memanggil
Aisaka dengan Reservation Hypnosis agar tidak menimbulkan kecurigaan,
lalu membiarkan tubuh montoknya memelukku seperti biasa sambil memastikan
keadaannya, kini sudah menjadi rutinitas harian bagiku.
"Hidupku
belakangan ini benar-benar terasa lengkap."
Tidak
berlebihan jika kukatakan ini semua berkat Partner. Saking bersyukurnya,
aku sampai membiasakan diri untuk mengucapkan terima kasih kepada Partner
setiap malam sebelum tidur.
"Sebenarnya
sudah waktunya aku membidik gadis lain selain Aisaka... tapi menghabiskan waktu
dengan Aisaka rasanya terlalu nyaman."
Ya, waktu
yang kuhabiskan bersamanya begitu menyenangkan sampai aku tidak sempat melirik
gadis lain... Aku jadi terlihat seperti pemuda baik hati yang setia, padahal
kenyataannya aku hanyalah penjahat yang berbuat sesuka hati pada gadis yang
tidak berdaya... Heh, aku benar-benar sudah terbiasa dengan ini.
"Hari
ini pun aku mengandalkanmu, Partner."
Setelah
bergumam pada ponselku, aku keluar kamar dan berpapasan dengan Kakak.
Menguntungkan sekali bagi Kakak karena hari ini dia libur, sepertinya dia akan
menghabiskan waktu seharian dengan bersantai di rumah.
"Ara, mau
berangkat sekarang?"
"Ya. Aku
pergi dulu."
"Hati-hati
di jalan... ah, Kai."
"Apa?"
Aku menoleh saat
Kakak memanggilku di tengah jalan menuruni tangga. Kakak mendekat, tubuhnya
tetap mungil seperti biasa, tapi berkat perbedaan anak tangga, tinggi wajah
kami jadi sejajar. Kakak berdiri di depanku tanpa mengatakan apa-apa, lalu dia
mengusap kepalaku sambil tersenyum lembut.
"Eh...
kenapa?"
"Soalnya
akhir-akhir ini Kai terlihat sangat senang. Kakak penasaran apa ada hal baik
yang terjadi pada adikku ini, tapi sebagai kakak, apa pun alasannya, selama kau
terlihat bahagia, itu sudah cukup bagiku."
"..............."
Kakak...
perkataanmu benar-benar membuatku terharu. Aku segera membuang muka agar dia
tidak melihat wajahku yang memerah, tapi Kakak malah terkikik pelan, sepertinya
usahaku sia-sia.
"Kalau
begitu, sekarang benar-benar hati-hati di jalan, ya."
"Oh."
Terima kasih
sudah membuat perasaanku sangat baik sejak pagi hari. Sambil memendam perasaan
itu, aku pun melangkah keluar rumah. Yah, meski alasan di balik kegembiraanku
ini agak bermasalah sampai aku merasa sedikit bersalah pada Kakak, tapi sudah
terlambat untuk menyesal.
"Baiklah~
Hari ini pun aku akan melakukan hal-hal menyenangkan bersama Aisaka~"
Hanya dengan
membayangkan jam istirahat makan siang saat Reservation Hypnosis aktif
saja sudah membuat senyumku melebar. Dulu, berangkat sekolah dalam keadaan
mengantuk rasanya sangat malas, tapi sekarang aku benar-benar tidak sabar
menantikannya—inilah kekuatan mesum yang sesungguhnya. Ternyata pepatah bahwa
"Mesum akan menyelamatkan dunia" itu memang benar adanya.
Aku terus
berjalan dengan perasaan riang, dan saat jumlah siswa mulai bertambah banyak,
mataku tertuju pada seorang siswi.
"Itu
adalah..."
Seorang gadis
cantik yang sangat mencolok dengan rambut berkilau yang terayun saat dia
berjalan dengan penuh percaya diri—dia adalah Emu Honma, adik kelas yang
tingkatnya satu tahun di bawahku.
Meski
tidak se-ekstrem Aisaka, dia memiliki proporsi tubuh yang bagus. Ditambah
auranya yang keren, dia menjadi gadis yang sangat populer. Namun, dia memiliki
julukan memalukan yaitu "Ratu Es", yang disematkan padanya karena dia
sering menolak mentah-mentah para lelaki yang menyatakan cinta padanya.
"Ratu Es, ya... Kuku, menarik juga."
Karena kami berbeda tingkat, aku belum pernah bicara dengan
Honma dan sama sekali tidak tahu kepribadiannya seperti apa. Terlepas dari
sifatnya, penampilannya benar-benar cantik luar biasa. Suatu saat nanti, aku
pasti akan menjatuhkannya ke dalam cengkeraman jahatku!
Membayangkan bisa berbuat sesuka hati pada gadis dingin yang
dijuluki Ratu Es itu benar-benar terdengar luar biasa.
"Dengan begini, level kejahatanku akan semakin
meningkat, ya."
Jadi, tunggulah Honma. Suatu saat nanti, aku pasti akan membuatmu memperlihatkan sosok yang tak terduga kepadaku!
Aku mengepalkan
tinjarku dengan mantap, tapi tepat saat itu, Honma yang berjalan di depanku
menoleh.
"……Eh?"
Dalam posisi
masih mengepalkan tangan, aku pun membeku. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Apa hasratku bocor keluar? Atau jangan-jangan suamiku tadi sempat terucap? Aku
memikirkan berbagai kemungkinan, tapi Honma kembali menatap ke depan seolah
tidak terjadi apa-apa dan terus berjalan begitu saja.
"……Apa-apaan
tadi itu?"
Gumamanku
itu hanya menguap di udara dengan menyedihkan. Meskipun sepertinya dia menoleh
bukan karena aku, melainkan karena ada sesuatu yang mengganggunya di
belakang... yah, jujur saja, wajahnya yang cantik dengan aura dingin itu
benar-benar sesuai dengan julukan "Ratu Es", dan itu membuat
jantungku berdebar.
"Aku pasti akan menjatuhkannya…… Sekarang, itu saja
sudah cukup."
Partner, ingatlah ini—dia juga adalah mangsa kita.
Aku membayangkan sosok seperti apa yang akan diperlihatkan Honma saat
terhipnosis nanti, dan rasa kegembiraan yang mirip saat bersama Aisaka pun
menyerangku. Kalau dipikir-pikir, di sekolah ini masih banyak gadis yang
disebut-sebut secantik Aisaka dan Honma. Sepertinya kesenanganku tidak akan
pernah berakhir.
"Pagi~ semuanya."
Setibanya di sekolah dan masuk ke kelas pun, kegembiraanku
tidak luntur... itu berarti aku terus memikirkan hal-hal mesum sepanjang jalan.
Saat aku sedang sibuk membayangkan Aisaka, Honma, dan gadis-gadis cantik
lainnya, tiba-tiba seseorang memanggilku dan membuat pikiranku berhenti
seketika.
"Masaki-kun,
bisa bicara sebentar?"
"……Ho-he?"
Aku memberikan
jawaban yang konyol. Saat aku menoleh ke arah sumber suara, di sana berdirilah
Aisaka.
"Aisaka……?"
Kenapa……? Kenapa
Aisaka memanggilku……? Sebagai teman sekelas, sebenarnya ini tidak aneh, tapi
tetap saja, Aisaka dalam kondisi sadar memanggilku di pagi buta begini……
seingatku hal ini belum pernah terjadi. Jangan-jangan soal hipnosis itu
ketahuan?
Ketakutan yang
mustahil itu sempat terlintas, tapi dari ekspresi Aisaka, aku segera tahu bahwa
bukan itu masalahnya.
"Lihat
itu."
"Itu?"
Jari Aisaka
menunjuk ke papan tulis. Di sudut papan tertulis bahwa petugas piket hari ini
adalah aku dan Aisaka. Aku pun berdiri sambil bergumam "Ah, benar
juga".
"Maaf
Aisaka, aku akan segera bersiap."
"Iya."
Aku tidak tahu
bagaimana di sekolah lain, tapi di sekolah kami sudah menjadi tradisi bagi
petugas piket untuk mengambil buku jurnal ke ruang guru sebelum upacara pagi
dimulai. Meski guru akan membawakannya jika kami lupa, tapi karena itu sudah
aturannya, lebih baik dilakukan dengan serius.
"Ini pertama
kalinya kita piket bareng ya, Masaki-kun."
"Iya juga
ya."
Aku mengangguk
menanggapi pertanyaannya, lalu berjalan menuju ruang guru dengan sedikit
kata-kata. Di tengah jalan saat kembali ke kelas setelah menerima buku jurnal
dari guru, Aisaka tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sangat aneh.
"Hei,
Masaki-kun."
"Ya?"
"Apa
orang-orang pernah bilang kalau suaramu itu menenangkan?"
Suaraku
menenangkan……? Apa yang dibicarakan gadis ini? Melihatku yang bengong, Aisaka tertawa pahit
sambil meminta maaf dan menjelaskan alasannya bertanya.
"Maaf ya
tiba-tiba. Kenapa aku berpikir begitu…… hmmm, aku sendiri juga tidak terlalu
tahu. Hanya saja, entah kenapa rasanya damai, atau lebih tepatnya, terasa
misterius."
"……Ooh?"
Sepertinya
suaraku punya kekuatan untuk menenangkan wanita…… Eh, tidak mungkin begitu, kan?
"Ma-maaf ya,
sungguh! Jangan dimasukkan ke hati!"
"……Oke."
Aku terkejut
dengan suaranya yang tiba-tiba keras, tapi di luar itu, sosok Aisaka yang
pipinya sedikit memerah itu sangat cantik…… Entah kenapa, melihat Aisaka yang
biasanya tidak pernah mengobrol denganku bersikap begini, dia terlihat seperti
"gadis gal yang baik pada otaku" yang sedang populer belakangan ini.
"Yah, intinya…… mohon bantuannya untuk hari ini."
"Iya, mohon
bantuannya juga ya."
Aisaka
tersenyum manis sambil mengangguk. Aisaka benar-benar cantik. Dia punya
ekspresi yang kaya dan perkataannya sama sekali tidak membuat orang
tersinggung, pantas saja dia sangat populer. Tapi! Tetap saja dia tidak punya cara untuk lari
dari kekuatanku…… Kuku, di jam istirahat makan siang nanti, aku akan memintanya
menemaniku sepuasnya!
◆◇◆
"……Dan
tibalah saatnya waktu yang paling bejat!"
Waktu berlalu
dengan cepat dan jam istirahat makan siang kembali tiba. Aku mengunjungi kelas
kosong seperti biasa, dan tak lama kemudian Aisaka datang menyusul dalam
kondisi terhipnosis.
"Nah Aisaka,
lakukan yang seperti biasa ya."
"Iya."
Aisaka
merentangkan tangannya seolah berkata "Kemarilah", dan aku pun segera
menghambur ke pelukannya. Sambil merasakan kelembutan di pipiku, aku membuka
mulut teringat kejadian tadi pagi.
"Tadi pagi
kau bilang begitu padaku, padahal kenyataannya aku sedang melakukan hal seperti
ini padamu."
Suara yang
menenangkan? Perasaan misterius? Maaf ya Aisaka, aku yang sebenarnya hanyalah
sampah yang sedang berbuat sesuka hati pada dirimu yang sedang tidak sadar ini.
Saat aku menggosokkan wajahku, bentuk dada montok Aisaka berubah mengikuti
gerakanku…… Hmmm, luar biasa!
"……Tapi,"
Aku sedikit
mendongakkan pandangan. Aisaka tetap menatapku dengan mata yang tanpa cahaya.
Dia benar-benar dalam kondisi terhipnosis, berubah menjadi boneka yang
menjalankan perintahku dengan setia…… Melihat sosoknya yang begini, aku merasa
sangat bersalah atas perkataan manisnya tadi pagi, tapi aku tidak mungkin
melepaskan waktu yang luar biasa ini.
"……Fuu, puas
sekali."
"Sudah
cukup? Waktunya masih banyak, lho."
Aisaka mengatakan
hal yang sangat menggoda saat aku menjauhkan wajahku. Awalnya dia hanya
merespons pertanyaanku saja, tapi belakangan ini Aisaka mulai sering menawarkan
hal seperti ini. Apakah ini kekuatan Partner? Aku tidak terlalu paham,
tapi tidak diragukan lagi kalau dia sedang terhipnosis, kan? Karena mana
mungkin ada gadis yang menawarkan hal seperti ini kepada teman sekelasnya yang
mesum dalam keadaan sadar.
"Terima
kasih ya, Aisaka. Tapi hari ini aku ingin sedikit mengubah variasi…… um, bisakah kau merangkul
lenganku? Seperti sedang bermanja-manja dengan pacarmu."
"Aku
mengerti."
Aisaka
mengangguk, lalu pindah ke sampingku dan memeluk lenganku dengan erat.
"……Ini
benar-benar yang terbaik."
Hal ini
bahkan tidak termasuk tindakan mesum berat…… tapi perasaan puas saat seorang gadis melakukan
ini sungguh luar biasa.
"Bagus
sekali, bagus sekali."
Kegembiraan saat
menaklukkan lawan dengan kekuatan Partner memang bagus, tapi merasakan
kebahagiaan seperti ini juga tidak kalah hebatnya. Aku pun dengan berani menanyakan sesuatu
kepada Aisaka tentang beban berat di lenganku.
"Punya
yang sebesar ini pasti merepotkan, kan? Aku dengar wanita berdada besar sulit
memilih pakaian dalam."
Pertanyaan
yang mustahil kutanyakan dalam kondisi normal pun meluncur begitu saja.
"Iya.
Butuh banyak uang dan membuat bahu kaku…… Selain itu, aku juga sering mendapatkan tatapan
mesum."
"Yah, itu
tidak bisa dihindari. Kalau punya sesuatu sehebat ini, pria mana pun pasti akan
melihatnya."
Contohnya aku
sendiri sekarang, bahkan aku sampai merasakannya langsung dengan wajahku.
Cerita-cerita
tentang aplikasi hipnosis yang kutahu biasanya hanya berisi adegan seks dan si
target tidak banyak bicara…… Aku sempat berpikir itu akan terasa hambar jika
mereka hanya menuruti perintah, tapi karena di sini kami bisa mengobrol,
rasanya benar-benar sangat menyenangkan. Luar biasa rasanya meski target dalam
kondisi terhipnosis, kami bisa mengobrol dengan lancar dan nada bicaranya pun
tidak datar seperti robot.
"Apakah
ini menyenangkan?"
"Sangat
menyenangkan. Aku senang telah menghipnotismu, Aisaka."
Aku sudah
benar-benar tenggelam dalam kegelapan sampai bisa mengatakan hal seperti itu
dengan lantang. Seperti yang kukatakan berkali-kali, aku harus melangkah ke
tahap selanjutnya untuk mencapai puncak…… namun.
"……Hei,
Aisaka."
"Ada
apa?"
Aisaka
menjawab pertanyaanku dengan wajah datar. Karena suaranya minim emosi, aku
tidak bisa mendengar nada kekhawatiran darinya…… Tapi, di balik wajah tanpa
ekspresi dan mata tanpa cahaya itu, aku seolah bisa melihat sosoknya yang asli.
"Apa pendapatmu…… sejujurnya, tentang interaksi kita
ini?"
Aisaka yang asli
tidak akan mengingat interaksi ini sama sekali…… Karena itulah pertanyaan ini
sebenarnya tidak berarti apa-apa. Sebenarnya apa yang kucari dari Aisaka?
Karena dia dalam kondisi terhipnosis dan tidak bisa berbohong, aku ingin
mendengar apa yang dipikirkan Aisaka saat ini.
"Aku suka
interaksi ini. Sama sekali tidak membencinya."
"……Hah?"
Suka…… tidak benci? Mungkin wajahku sekarang terlihat sangat melongo…… Tapi Aisaka tidak
memedulikannya dan terus bicara dengan nada datar.
"Masaki-kun
sudah menyelamatkanku saat aku berada di dasar keputusasaan, kan? Hal aneh yang
terjadi pada bajingan itu, semuanya Masaki-kun yang melakukannya, kan? Seperti
yang kukatakan sebelumnya, aku merasa sangat lega…… Lagipula kau selalu
mencemaskanku dan memedulikan hal ini yang tidak pernah kukatakan pada siapa
pun."
Aisaka menyingsingkan lengannya dan memperlihatkan bekas
luka yang sudah memudar. Bukan hanya tidak ada luka baru, tapi bekas luka yang
lama pun sudah terlihat jauh lebih baik dibanding terakhir kali aku melihatnya.
"I-itu…… tapi tetap saja apa yang kulakukan ini
adalah——"
"Suara Masaki-kun…… sangat menenangkan. Aku tahu kalau kebaikan dan perhatian yang
kurasakan darimu itu nyata. Perasaan tulusmu yang lurus itu sampai ke
hatiku."
"……Begitu
ya…… Jadi begitu ya."
Heh…… Jadi tidak apa-apa? Apa benar aku boleh menikmati
waktu ini sepuasnya tanpa perlu merasa bersalah sedikit pun? Aisaka terdiam
seolah tidak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan.
"Tapi, bagaimana aku harus bereaksi kalau kau bilang
begitu!"
Benar-benar
di luar dugaan dia akan bicara seperti itu! Meskipun dia sedang terhipnosis
tanpa ego, aku ini orang yang sederhana jadi aku tetap merasa melayang-layang.
Soalnya
Aisaka yang asli tidak tahu kalau aku sudah menolongnya, bahkan dia tidak tahu
keberadaan Partner…… Tapi kalau dibilang begitu, aku jadi bersemangat
dan ingin mengatakan banyak hal!
"K-kalau
begitu, mulai sekarang aku akan berbuat sesuka hatiku sepuasnya, ya!? Boleh
kan, Aisaka!? Tidak boleh ditarik lagi lho ya!?"
"Iya."
Sudah
kudapat janjinya! Aku benar-benar sudah mendapatkannya!
Aku
mengangkat tanganku yang tidak sedang dipeluk tinggi-tinggi ke udara dan
melakukan pose kemenangan…… Fuhehh, dengan ini aku bisa menghipnotis Aisaka
tanpa perlu ragu lagi.
"Wah,
hari ini pun adalah waktu yang terbaik. Baiklah Aisaka, kau boleh kembali."
"Iya."
Setelah Aisaka
keluar kelas, aku pun menyusul kembali ke kelas. Nah…… karena aku
melakukan kencan semu dengan Aisaka yang terhipnosis setiap jam makan siang,
wajar saja kedua temanku menanyakan hal ini.
"Hei, kau ke
mana saja dan sedang apa setiap jam istirahat?"
"Kau
selalu menghilang, kan?"
"……Aah."
Itu adalah
pertanyaan yang sangat wajar jika melihat perilakuku belakangan ini. Aku sudah
menduga saat ini akan tiba, jadi mana mungkin aku tidak menyiapkan jawaban.
Seorang penjahat
harus bisa berbohong tanpa mengubah ekspresi wajah, dan menceritakan kebohongan
itu seolah-olah nyata.
"Sebenarnya belakangan ini perutku sering bermasalah……
maaf ya."
"Serius? Kau
tidak apa-apa?"
"Diare?
Hati-hati ya~"
Aku merasa
sedikit bersalah karena mereka benar-benar mencemaskanku, tapi jika
dibandingkan dengan waktuku bersama Aisaka, tentu saja itu jauh lebih penting……
Jadi maaf ya kalian berdua, aku akan terus berbohong demi menjaga hasratku.
Ngomong-ngomong, Aisaka juga sepertinya ditanyai hal yang sama, tapi hipnosis
adalah hal yang sangat praktis; sepertinya aku sudah menanamkan alasan yang
masuk akal pada Aisaka sehingga dia tidak dicurigai sama sekali.
"Hei Mari,
apa yang kau lakukan belakangan ini?"
"Benar, lho.
Rasanya membosankan kalau kau tidak ada saat jam istirahat."
"Tunggu,
Mari kan sudah menjelaskannya."
"Kalau
bertanya terus-terusan nanti kalian dibenci, lho?"
Sepertinya hanya
anak laki-laki yang sangat penasaran dengan urusan Aisaka. Selama ini aku tidak
terlalu peduli, tapi melihat mereka yang berkumpul di sekitar Aisaka, meskipun
tidak semuanya, sepertinya sebagian besar dari mereka naksir padanya…… Yah, aku merasa senang karena bisa
mengelabui orang-orang mencolok seperti mereka.
Waktu
berlalu hingga sepulang sekolah, dan aku pun berhadapan dengan Aisaka untuk
menyelesaikan tugas piket.
"Hmm
hmmm hmmm~♪"
"..............."
Aisaka
yang sedang menulis buku jurnal sepertinya sedang dalam suasana hati yang
sangat baik sampai-sampai dia bersenandung. Dia terus mengisi jurnal itu dengan
sangat cepat sampai seolah melupakan keberadaanku di sampingnya.
Aku yang
hanya diam menonton justru merasa seperti pengganggu, tapi dari sini aku
menemukan banyak hal baru, seperti fakta bahwa tulisan tangan Aisaka ternyata
sangat rapi.
"Tulisan
tanganmu rapi sekali ya, Aisaka."
"Benarkah?
Yah, dulu aku pernah memenangkan lomba kaligrafi."
"Ooh,
begitu."
"Iya.
Masaki-kun tidak punya pengalaman seperti itu?"
"Sayangnya tidak sama sekali…… lagipula tulisanku
tergolong jelek."
Bukannya sombong, tapi tulisanku memang tidak terlalu rapi.
Bukannya tidak terbaca sama sekali, tapi setidaknya aku tidak ingin gadis-gadis
memperhatikannya dengan saksama.
"Kalau
begitu pas sekali, kan. Karena aku yang menulis semuanya."
"Wah, aku sangat terbantu…… tapi kalau begitu, rasanya
aku jadi petugas piket yang tidak berguna."
"Benar juga
ya. Kalau begitu, sisanya Masaki-kun saja yang tulis."
Aisaka
menyodorkan buku jurnal itu sambil tersenyum manis, lalu memberikan pensil
mekanik yang digunakannya padaku.
"Um…… aku punya sendiri, kok."
"Tidak
apa-apa. Pakai saja yang ini."
"……Oke."
Aku menerima
pensil mekanik yang masih menyisakan suhu tubuh dari genggamannya, lalu mulai
mengisi sisa kolom yang ada. Seperti yang kukatakan pada Aisaka tadi, tulisanku
sama sekali tidak rapi.
Tapi karena
Aisaka memperhatikanku dari samping, aku berusaha menulis sepelan mungkin agar
terlihat rapi…… meskipun di tengah jalan aku menyerah dan mulai menggerakkan
tangan secepat biasanya.
"Apa sejelek
itu? Bukannya ini terlihat biasa saja?"
"Aku senang
kau bilang begitu meski itu cuma basa-basi."
"Aku
tidak bermaksud berbasa-basi, kok."
Aisaka
terus tersenyum manis, entah apa yang membuatnya senang. Situasi di mana kami berhadapan di balik satu
meja…… berada sedekat ini dengan Aisaka yang tidak dalam kondisi terhipnosis
adalah jarak yang mustahil didapatkan jika bukan karena tugas piket ini.
"..............."
"Fufu♪"
Lagipula kenapa…… kenapa Aisaka terlihat sangat senang? Saat
aku melirik ke arahnya, kebetulan Aisaka juga sedang menatap wajahku……
akibatnya mata kami saling bertaut, dan aku yang masih polos ini segera
memalingkan muka.
"Hei, kau
bisa melukai perasaan orang lain kalau tiba-tiba memalingkan muka seperti itu,
tahu?"
"……Maaf."
Maafkan aku…… tapi kurasa ini tidak bisa dihindari. Selain
karena aku tidak terbiasa bicara normal dengan Aisaka, aku juga sudah melakukan
hal ini dan itu pada Aisaka yang tidak punya ego.
"Lalu…… ada apa?"
"Tidak, aku hanya ingin melihatmu saja."
"..............."
Begitu ya, jadi begini caranya pria bisa salah paham
terhadap gadis. Entah berapa banyak pria di sekitar Aisaka yang sudah jatuh
hati padanya…… yah, bagiku itu tidak penting.
"Nah,
selesai."
"Sudah ya.
Kalau begitu, mari kita serahkan ke ruang guru."
Aku keluar kelas
bersama Aisaka menuju ruang guru. Karena sudah cukup lama sejak bel pulang
sekolah berbunyi, tidak banyak siswa yang tersisa kecuali mereka yang memang
suka berlama-lama di kelas.
Lorong sekolah
pun terasa sepi dan sangat nyaman untuk dilewati.
"Ngomong-ngomong
Aisaka, kau boleh pulang duluan, kok. Aku saja yang menyerahkan ini sudah
cukup."
"Menyerahkan
ini kan juga bagian dari tugas piket? Temani aku sampai akhir, dong."
……Gadis ini,
benar-benar anak yang baik. Dalam hati aku merasa sangat terharu, sambil
memikirkan hal bejat seperti menghipnotisnya lagi sebelum pulang.
"Kalian
berdua, terima kasih untuk tugas piket hari ini. Hati-hati di jalan ya."
"Sip. Mari
pak guru."
"Sampai
jumpa~!"
Aku dan Aisaka
segera kembali ke kelas, membereskan barang-barang, dan keluar kelas hampir
secara bersamaan. Akira sedang klub dan Shogo sudah pulang.
Teman-teman
Aisaka pun sepertinya sudah pulang duluan, jadi kami berdua sendirian……
sebenarnya itu bagus, tapi saat aku mengucapkan sampai jumpa setelah keluar
kelas, dia segera mengejarku dan memintaku menunggu.
"Ada
apa?"
"Bukankah
kau terlalu dingin? Karena cuma tinggal kita berdua, mari kita jalan bareng
sampai loker sepatu."
Mengatakan itu,
Aisaka pun mensejajarkan langkahnya di sampingku seolah itu adalah hal yang
wajar.
"Aisaka…… kau benar-benar monster komunikasi ya."
"Monster itu
jahat sekali, bukan? Tapi sepertinya kau tidak bermaksud menghinaku, jadi
kuanggap itu pujian saja."
Aku sama sekali
tidak menghinamu, itu murni pujian. Tapi…… saat berduaan dengan Aisaka
seperti ini, aku jadi merasa ingin menggunakan kekuatan Partner untuk
membawanya ke suatu tempat.
Padahal aku pikir aku sudah puas di jam istirahat makan
siang tadi, tapi sepertinya hasrat ini tidak mau hilang begitu saja.
(Lagipula ini
salah Aisaka sendiri, tahu? Karena tadi pagi dia bilang suaraku menenangkan,
dan dia baru saja memberiku waktu yang sangat menyenangkan.)
Padahal ini hanya
tugas piket, tapi waktuku bersama Aisaka benar-benar menyenangkan. Meskipun
yang kami bicarakan hanyalah obrolan ringan, tapi bicara dengan Aisaka yang
normal terasa sangat segar dan membuatku senang.
"……Lakukan
saja."
Maaf Aisaka, aku
tidak tahan kalau harus pulang begitu saja. Aku segera merogoh ponsel untuk mengaktifkan Partner……
namun, aku terkesiap saat melihat sisa baterainya.
(Baterainya habis…… serius!?)
Ya…… baterai yang merupakan nyawaku sudah hampir habis.
Ponsel tempat bersemayamnya Partner ini sudah bisa dibilang sebagai
bagian dari tubuhku, dan sisa dua puluh persen baterai ini adalah lentera
nyawaku…… Ah, malangnya nasibku.
"Tu-tunggu,
Masaki-kun!? Wajahmu jadi sangat pucat!"
"Aisaka…… sepertinya aku sudah tamat."
"Masaki-kun!?"
Kepada Aisaka yang mengguncang bahuku sambil bertanya apa
yang terjadi, aku menjawab dengan suara pelan dan jujur.
"Baterainya…… sudah habis."
Aku rasa aku
tidak akan pernah melupakan tatapan mata Aisaka saat aku mengatakan hal itu.
Matanya membulat sejenak, lalu berubah menjadi tatapan mata yang lembut dan
penuh kelegaan seolah berkata "Aku sudah khawatir untuk hal yang
sepele". Ya, benar sekali…… Aisaka tidak merasa kesal, dia justru
menatapku dengan lega.
"Wajahmu berubah saat melihat ponsel, jadi aku khawatir
kau mendapat kabar yang mengejutkan."
"Maaf…… ini benar-benar hal yang tidak penting."
Betapa baiknya
Aisaka ini sebenarnya…… aku
benar-benar ingin menikah dengan gadis seperti ini di masa depan. Meskipun itu
adalah hal yang muluk, tapi bermimpi kan gratis, biarkan aku memikirkan hal ini
sepuasnya.
"Ah~
setelah ini enaknya bagaimana ya. Teman-temanku pasti sedang bermain, tapi rasanya malas kalau harus menyusul
sekarang."
"Aku pikir
teman-temanmu pasti sedang menunggumu."
"Karena
aku sudah bilang kalau aku akan langsung pulang hari ini. Kalau aku tidak bilang begitu, mereka—terutama
anak laki-laki itu—pasti akan terus mengikutiku."
"……Ooh."
"Anak-anak
itu" mungkin maksudnya adalah teman-teman perempuannya, dan "anak
laki-laki itu" adalah mereka yang selalu mendekati Aisaka…… rasanya memang
begitu.
"Kau juga
ternyata berjuang keras ya, Aisaka."
"Berteman
itu ada bahagianya dan ada repotnya, perbandingannya setengah-setengah.
Masaki-kun tidak merasa begitu?"
"Aku sih
kalau bersama teman-temanku yang biasanya tidak merasa lelah…… mungkin."
"Teman yang
biasanya itu maksudnya Mukai-kun dan Endo-kun, ya?"
"Iya, itu
mereka."
Tentu saja aku
punya teman lain, tapi teman dekatku memang mereka.
"Mereka itu…… benar-benar teman yang baik."
Awalnya
kami bertiga tidak langsung bersama-sama. Aku mulai akrab dengan Shogo saat
kami duduk bersebelahan dan mengobrol asyik soal manga dan anime. Lalu aku
mulai akrab dengan Akira saat kami berada dalam satu tim sepak bola di
pelajaran olahraga…… Entah kenapa momen saat berteman dengan seseorang itu
terjadi begitu tiba-tiba, dan baru kemudian kita menyadari bahwa kita sudah
berteman.
"……Masaki-kun,
wajahmu terlihat sangat lembut, lho?"
"Eh?"
"Kau
benar-benar menyayangi teman-temanmu ya."
"..............."
Dibilang begitu
secara terang-terangan membuatku malu……
Setelah itu,
seperti yang dikatakan Aisaka, kebersamaan kami hanya sampai di loker sepatu…… Setelah mengganti sepatunya, dia
melambaikan tangan sambil tersenyum dan berjalan pergi.
"……Waktu
yang misterius."
Aku
benar-benar berpikir begitu. Alasan kenapa aku merasa misterius adalah karena
aku bisa bicara sejauh itu dengan Aisaka, lebih spesifiknya dalam suasana yang
sangat santai…… padahal ini
pertama kalinya kami bicara sedekat itu dalam waktu yang lama.
"Apa karena
aku sering bicara dengan Aisaka yang terhipnosis……? Mungkin saja begitu, tapi
tak kusangka Aisaka bisa seakrab itu denganku."
Bukan, pada
dasarnya Aisaka memang tipe orang yang bisa akrab dengan siapa saja, jadi bukan
berarti dia bersikap lembut hanya padaku…… jadi benar, inilah yang membuat para
pria jadi salah paham.
"……Aku
pulang juga, deh."
Tugas piket yang
biasanya membosankan dan merepotkan, hari ini terasa sangat menyenangkan berkat
Aisaka. Aku akan membalas budi ini besok dengan berbuat sesuka hati pada Aisaka
yang terhipnosis.
"Oh,
bukankah itu Kai!"
"——!?"
Aku sedang
melamun mesum dan tidak fokus, jadi bahuku tersentak saat seseorang memanggil
namaku dari jauh.
Saat aku menoleh
ke arah sumber suara, di sana ada Akira yang sedang kegiatan klub.
Seragamnya kotor
terkena tanah lapangan dan dia tampak berkeringat, sosoknya itu terlihat sangat
cocok dengan wajahnya yang lumayan tampan sampai-sampai terasa menyebalkan.
"Tugas
piketmu baru selesai ya~?"
"Oi~! Aku
baru mau pulang~!"
"Begitu ya~!
Kau tidak melakukan hal yang tidak sopan pada Aisaka, kan~?"
Suaramu itu keras
sekali, apa-apaan kau bertanya begitu…… padahal aku memang sudah melakukannya.
Aku menunjukkan jari tengah padanya sebagai tanda "bodoh", dan Akira
kembali berlatih sambil tertawa terbahak-bahak.
"……Mungkin
aku tarik kembali perkataanku pada Aisaka tadi."
Meskipun aku
berpikir begitu, tapi melihatnya berlari dengan sungguh-sungguh membuat
perasaan itu memudar, dan aku pun tanpa sadar menggumamkan ini.
"Berjuanglah…… kau sudah kelas tiga, ini tahun
terakhirmu."
……Ini bukan gayaku, pikirku sambil menggaruk kepala dan
meninggalkan sekolah. Setelah berjalan sebentar dari sekolah, ponselku
bergetar. Siapa sih yang menghubungi saat baterainya hampir habis begini, tapi
ternyata pengirimnya adalah Shogo.
『Maid cafe yang baru buka itu kelihatannya bagus banget! Lain kali ayo kita ke sana bareng Akira
juga!』
Isinya cuma begitu…… ya ampun, kan bisa besok-besok saja.
Meskipun aku mengernyit, tapi aku tidak bisa menyalahkan ekspresinya…… dari
tulisannya terlihat jelas betapa dia sangat bersemangat dan tidak sabar, aku
pun tertawa pahit karena dia tidak pernah berubah. Tentu saja tawaku kali ini
tidak dengan wajah cemberut.
"Yah…… tidak buruk juga yang seperti ini."
Hari-hari yang dilewati bersama teman-teman…… ya,
benar-benar tidak buruk. Aku akan
menjadikan perasaan berharga ini sebagai motivasi untuk besok berbuat sesuka
hati pada Aisaka…… dan juga pada target baruku, Honma!
"Haha, kau
benar-benar bajingan ya."
Aku tertawa
mengatakannya, lalu melangkah pulang dengan hati yang berdebar menantikan surga
dunia yang akan tiba besok.
◆◇◆
Keesokan harinya
setelah hari piket yang kulewati bersama Aisaka.
Seperti yang
sudah kuikrarkan kemarin, segera setelah jam istirahat makan siang dimulai, aku
langsung menuju kelas kosong dan menunggu kedatangan Aisaka.
Lalu aku
menikmati waktu terbaik yang sudah menjadi rutinitas belakangan ini, dalam
pelukan Aisaka yang terhipnosis.
"Memang
kelembutan ini yang terbaik……"
"Apakah
terasa enak?"
"Sangat
enak."
"Aku akan
melakukannya untukmu kapan saja."
Aisaka…… kau benar-benar yang terbaik! Aisaka yang menatapku
tetap tanpa ekspresi, tidak ada jejak sosoknya yang kemarin…… Jika aku
melepaskan hipnosisnya sekarang, dia pasti akan berteriak keras dan menolakku.
Sosok lembut yang kulihat kemarin pasti akan hilang,
digantikan oleh tatapan penuh kebencian yang menganggapku sebagai musuh…… Aku
harus benar-benar berhati-hati agar hipnosisnya tidak lepas.
"Hore hya hei hiho hofu……"
Ah, aku tidak bisa bicara kalau wajahku terbenam di dadanya.
Aku memastikan ada ruang untuk
mulutku agar bisa bicara dengan jelas, lalu menanyakan laporan rutin pada
Aisaka.
"Kalau
begitu, laporan berkala——tidak ada luka baru di lenganmu, kan?"
"Iya."
"Hubungan
dengan keluargamu baik-baik saja?"
"Iya."
"Mantan
pacarmu tidak mengganggumu lagi?"
"Iya…… terima kasih, Masaki-kun."
"Sama-sama.
Lagipula aku juga mendapatkan imbalannya begini!"
Rub rub…… Rub rub. ……Eh, jujur saja ini
menjijikkan, ya.
"……Apa aku
menjijikkan?"
"Tidak,
kok."
Oho, kalau begitu
aku akan semakin menggosokkan wajahku. Karena Aisaka bilang tidak menjijikkan,
pembatasku sedikit lepas dan aku menggosokkan wajahku lebih kuat lagi ke dada
Aisaka.
"Hei
Aisaka."
"Ya?"
"Aisaka yang
asli mungkin tidak akan mengingat apa-apa, dan aku menanyakan ini karena kau
sedang terhipnosis…… tapi kalau ada apa-apa, beri tahu aku ya——aku akan
menolongmu jika ada yang bisa kubantu."
"……Iya.
Terima kasih, Masaki-kun."
Bukan aku yang
menolong, tapi aku akan menggunakan kekuatan Partner sepuasnya untuk
menolongmu.
Mungkin Aisaka
senang dengan perkataanku, pelukannya jadi sedikit lebih erat dan dadanya
semakin tertekan ke wajahku. Sensasi ini…… memiliki daya tarik iblis
yang tidak pernah membuatku bosan seberapa pun aku menikmatinya.
"Gara-gara ini, entah kenapa tanganku belum juga
menjangkau Honma."
Padahal aku sudah sangat bersemangat menjadikan Honma
sebagai target selanjutnya setelah Aisaka, tapi aku malah sudah merasa puas
dengan interaksiku bersama Aisaka.
Lagipula tingkat kami berbeda jadi aku tidak bisa membaca
pola kegiatannya, dan biasanya saat aku melihatnya, dia selalu bersama tiga
orang atau lebih…… entahlah, kapan ya aku bisa menjangkau si Ratu Es itu.
"Siapa itu
Honma?"
"Itu lho,
adik kelas yang dijuluki Ratu Es…… mgh!?"
Tepat saat aku
menyebut nama Honma pada Aisaka, sebuah kekuatan yang sangat kuat menyerangku.
Memang benar
wajahku tetap terbenam di dadanya seperti sebelumnya, tapi kepalaku terkunci
oleh kekuatan yang sangat kuat sampai-sampai aku tidak bisa melepaskan diri
meski aku mencobanya.
(T-tunggu
Aisaka!?)
Sensasinya memang
membahagiakan! Memang membahagiakan tapi tenagamu terlalu kuat! Aku
menepuk-nepuk punggung Aisaka sebagai tanda menyerah, barulah dia melepaskanku.
"……Apa
jangan-jangan tadi aku bilang 'peluk lebih kuat lagi'?"
"..............."
Aisaka terdiam,
tapi dia menatapku dengan tajam. Entah perasaanku saja atau bukan, tapi
ekspresinya terasa sedikit menyeramkan…… rasanya dia seperti sedang melototiku,
apa itu hanya khayalanku?
"Aisaka……-san?"
"Apa?"
"……Tidak ada
apa-apa, kok."
Aku
mengecek ponsel untuk memastikan, tapi Partner masih aktif…… yah, bagiku
kejadian tadi sama sekali bukan hal yang buruk, malah aku bisa merasakan
sensasi bahagia yang sangat kuat, jadi kuanggap impas saja.
Aku
menyuruh Aisaka kembali ke kelas lebih cepat dari biasanya, dan aku pun
menyusul kembali ke kelas.
"Sakit perut
lagi ya hari ini."
"Kau tidak
apa-apa?"
"Ah~ iya,
tidak apa-apa kok."
Maaf ya sudah berbohong pada kalian berdua. Tepat saat aku
meminta maaf dalam hati, keinginan untuk buang air kecil menyerangku. Saat aku
keluar kelas dengan alasan ingin ke toilet lagi, Akira bilang dia juga mau ke
toilet dan ikut denganku. Lalu saat
perjalanan kembali, aku melihat seorang gadis.
"Itu
adalah……"
"Hmm?
Ah, itu kan si Gadis Suram."
"Gadis
Suram" yang dimaksud Akira adalah seorang siswi dari kelas sebelah……
dengan kata lain, gadis yang sedang berjalan di depan kami sekarang——Saika
Agatsuma.
Ciri
khasnya adalah rambut hitam panjang yang mencapai pinggang, tapi bagian matanya
tertutup rapat oleh poninya.
Penampilannya
sedikit menyeramkan, mengingatkan pada hantu wanita di film horor yang populer
beberapa waktu lalu.
Postur
tubuhnya yang membungkuk juga memperparah kesan tersebut.
Kabarnya
Agatsuma selalu sendirian di kelas, dia tidak pernah menonjolkan diri dan tidak
berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya, itulah sebabnya dia diejek
sebagai "Gadis Suram".
"Dia
tidak dirundung, kan?"
"Sepertinya
tidak sampai tahap itu…… tapi kalau ejekan gadis-gadis lain semakin parah, aku
tidak tahu juga."
"Begitu
ya."
Sama
sepertiku, Akira juga belum pernah mengobrol sepatah kata pun dengan Agatsuma.
Keadaan gadis itu biasanya hanya mampir ke telinga kami lewat desas-desus orang
lain.
(Entah
kenapa... gadis pendiam seperti itu biasanya punya sisi mesum yang
tersembunyi.)
Ngomong-ngomong,
ini cuma teori dari manga yang kubaca, jadi aslinya aku tidak tahu. Tapi justru
karena dia tipe yang membangun tembok tinggi di sekitarnya, aku jadi sangat
penasaran akan jadi seperti apa dia jika terkena kekuatan Partner.
"Kau
tertarik dengan tipe begitu?" tanya Akira.
"Tidak
juga. Tapi kalau dilihat-lihat, fitur wajahnya sepertinya cantik."
Wajah
yang mengintip dari balik rambutnya memang terlihat sangat rupawan, tapi aura
gelap yang dipancarkannya seolah menutupi kelebihan itu.
"Rasanya dia
punya rahasia kelam," gumamku.
"Ah,
aku juga berpikir begitu."
Berbeda dengan
Honma, Agatsuma sama sekali tidak menoleh meski kami memperhatikannya. Dengan
punggung yang tetap membungkuk, dia menghilang ke dalam kelas seolah membawa
kabut mendung bersamanya. Kami pun kembali ke kelas tanpa membahasnya lagi.
(Tadi aku sempat
berpikir, tapi memang biasanya gadis seperti itu yang sebenarnya liar. Sudah
tertulis di kitab kuno "Kojiki" begitu, tahu!)
Dan seingatku...
meski ingatanku agak samar, bukankah Agatsuma punya bentuk tubuh yang sangat
bagus? Biasanya sulit terlihat karena dia bungkuk, tapi aku pernah mendengar
seseorang bilang kalau dadanya sangat besar saat dia memakai baju olahraga...
Mungkin cuma perasaanku, tapi itu harus kupastikan!
Begitulah, dengan
memanjakan imajinasi mesum di dalam kepala, aku berhasil mengusir rasa kantuk
selama pelajaran hingga bel pulang sekolah berbunyi.
"Oke, aku
pergi latihan klub dulu," pamit Akira.
"Semangat
ya~"
"Jangan
sampai cedera. Kai, kau langsung pulang?" tanya Shogo.
"Tidak, aku
punya misi, jadi kau pulanglah duluan."
"Misi apa
sih... belakangan ini kau jadi susah diajak main ya?"
"Maaf, maaf.
Nanti kapan-kapan aku traktir sebagai gantinya."
"Yah,
sudahlah. Sampai jumpa!"
Maaf ya, Shogo.
Demi mencari
celah untuk menghipnotis Agatsuma, aku harus mempelajari pola gerakannya
terlebih dahulu.
Bukannya aku akan
menjadi penguntit, aku hanya ingin bertanya sedikit pada teman-teman
sekelasnya... Yah, kalau pakai kekuatan Partner sih sekali tembak
langsung beres.
"Nah,
saatnya berangkat...?"
Tepat saat aku
berdiri dengan penuh semangat, pandanganku beradu dengan Aisaka yang hendak
keluar kelas. Bukannya langsung pergi bersama teman-temannya, dia malah
berjalan ke arahku.
"Yahho~
Masaki-kun."
"O-oh..."
Anu... aku senang
kau menyapaku, tapi karena kita biasanya tidak pernah bicara, tatapan
orang-orang di belakangmu... terutama para cowok yang naksir padamu itu, sangat
mengerikan, tahu.
"Eh, kalian
berdua ternyata akrab?"
"Benar-benar tidak terduga... Ah, tapi mereka kan
kemarin piket bareng."
"Iya, iya♪ Itu juga salah satunya, tapi bicara dengan
Masaki-kun itu menyenangkan, lho?" timpal Aisaka.
"Heh."
"Masa
sih."
Tanggapan para
siswi sih lumayan, tapi para siswi laki-laki menatapku tajam! Tajam sekali!
"Hei,
Masaki-kun."
"Uek!?"
"Kenapa
kaget begitu? Lihat, kita kan sangat nyambung kalau mengobrol."
"...Masa,
sih?"
"Di sini kau
harusnya jawab 'Iya', tahu."
Dia menepuk
bahuku pelan. Yah, jangankan nyambung mengobrol, kita bahkan sudah melakukan
kontak yang sangat intens, sih~
"Kami
berencana pergi main bowling setelah ini, Masaki-kun mau ikut?"
"Eh... aku
juga?"
Tunggu, aku punya
misi penting... tapi tak kusangka aku akan mendapat ajakan seperti ini.
Jujur saja aku
takut masuk ke dalam kelompok orang-orang populer yang kontras denganku ini,
tapi diajak oleh Aisaka membuatku merasa senang.
Namun, karena
saat ini aku adalah "pria terhormat mesum" yang sedang mencari
Agatsuma, aku tidak bisa menerima ajakan ini.
"Oi, oi, kau
bercanda ya? Kenapa
mengajak orang seperti dia?"
"Tidak
perlu mengajak si Masaki segala."
"..............."
Terlepas
dari cara bicaranya, sepertinya para cowok di sana tidak menerimaku. Rasanya
kesal disebut "orang seperti dia" padahal kami jarang bicara, tapi
kalau memikirkan posisi mereka, aku hanya bisa tertawa pahit.
Lebih
baik aku menggunakan perkataan mereka sebagai alasan untuk menolak—saat aku
berpikir begitu, tak disangka Aisaka membalas mereka.
"Kenapa
kalian bicara begitu? Memang benar aku mengajaknya atas keinginanku sendiri,
tapi kalian tidak perlu bicara sampai sejauh itu, kan?"
Dari posisiku,
aku tidak bisa melihat wajah Aisaka... tapi aku bisa merasakan kemarahan yang
kuat dari suaranya. Para cowok itu langsung memalingkan muka, sepertinya wajah
Aisaka saat ini sangat menyeramkan.
"...Maaf."
"Cih..."
Aku tidak peduli
meski mereka berdecak kesal. Apa pun pendapat mereka tentangku tidak akan
berpengaruh, karena mereka bukan orang yang dekat denganku.
"Terima
kasih sudah mengajakku, Aisaka. Tapi hari ini aku ada urusan... jadi kalau ada
lain waktu, ajak aku lagi ya."
"...Iya. Aku
mengerti."
Melihatnya tampak
kecewa membuatku senang... Tapi, meski kami sempat piket bareng, aku tetap
merasa heran kenapa kami bisa tiba-tiba jadi seakrab ini. Aku melambaikan
tangan saat dia pergi, lalu menghela napas panjang.
"Melihat
situasi tadi, sepertinya aku tidak akan pernah bisa masuk ke lingkaran
mereka... tapi pergi jalan-jalan dengan Aisaka yang tidak terhipnosis
sepertinya cukup menarik."
Setelah melamun
sejenak, aku tersadar akan Agatsuma dan segera keluar kelas. Kesimpulannya:
Agatsuma sudah pulang duluan, jadi aku tidak bertemu dengannya.
Aku terpaksa
menggunakan sisa baterai ponselku untuk menghipnotis teman sekelasnya dan
bertanya banyak hal... Ternyata benar, Agatsuma membangun tembok pembatas dan
tidak punya teman dekat.
"Nanti
sajalah kalau ada kesempatan."
Karena merasa
sayang jika langsung pulang, aku menghubungi Shogo barangkali dia masih di
luar, dan ternyata benar, jadi kami main sebentar.
Bermain sesama
laki-laki memang tidak ada pemandangan indahnya, tapi bermain dengan sahabat
selalu menyenangkan. Kami berpisah dengan tawa.
"Sampai
jumpa Shogo, tadi seru banget."
"Aku juga.
Lain kali ayo tanding lagi di Game Center itu."
"Oke!"
Sambil berjalan
sendirian, aku menatap aplikasi di ponselku. Tiba-tiba sebuah pertanyaan
muncul.
"Sebenarnya...
kenapa kau memilihku, Partner?"
Sudah cukup lama
sejak Partner muncul, tapi aku masih belum tahu kenapa dia bersemayam di
ponselku.
Keberadaan
kekuatan seperti ini sendiri sudah sangat misterius... apakah suatu saat nanti
rahasianya akan terungkap?
"Kalaupun
tidak terungkap, aku tidak akan pernah melepaskan kekuatan luar biasa
ini."
Memikirkan
hal-hal misterius seperti ini memang kebiasaan burukku.
Karena ini
mungkin akan menjadi misteri seumur hidup, lebih baik berhenti memikirkannya...
tapi tetap saja aku tidak bisa berhenti, karena Hypnosis App adalah
kekuatan supernatural yang seharusnya tidak ada di dunia ini.
"Bagaimana
kau lahir, dan bagaimana kau ada selama ini?"
Misterinya
terlalu banyak. Tentu saja, Partner tidak menjawab pertanyaanku dan
tetap terdiam dalam kebisuan.
Kalau tiba-tiba
ada teks muncul menjawabku sih malah akan jadi horor, tapi aku tetap ingin
tahu. Sayangnya dunia tidak bekerja semudah itu.
"Padahal
dengan kekuatan sehebat ini, kau bisa saja menjawabku sedikit."
Sebagai bentuk
perlawanan kecil, aku mencoba membuka dan menutup aplikasi itu berkali-kali,
tapi tetap tidak ada reaksi... Hah, pulang sajalah.
Aku menyerah dan
mulai berjalan. Dalam perjalanan pulang, aku akan melewati rumah Aisaka...
namun sepertinya hari ini aku harus berjuang sedikit lagi.
"...Hm?"
Di depan rumah
Aisaka... ada seorang pria dan wanita yang saling berhadapan. Aku segera tahu
siapa mereka—Aisaka, dan satu lagi adalah pria yang telah menyudutkannya... si
Mantan Pacar.
"Bajingan
ini tidak ada kapoknya ya."
Dari cerita
Aisaka, seharusnya pria itu sudah diam belakangan ini. Berarti dia baru
berani mengganggunya lagi hari ini... Sial, kenapa aku harus bertemu
pemandangan seperti ini justru saat ini.
"Harus kulakukan lagi... ya?"
Aku punya Partner... jadi tidak ada yang perlu
kutakutkan. Begitu pikirku
sambil memegang ponsel, namun aku menyadari hal yang sangat fatal.
"Gawat... baterainya mati."
Sisa baterai tinggal 2 persen... Jika aku menjalankan
aplikasi sekarang, ponselnya akan langsung mati dan hipnosisnya bisa terputus
di tengah jalan... aku tidak bisa menggunakannya.
"Apa boleh buat."
Aku memantapkan hati dan berjalan ke arah mereka.
Meninggalkan Aisaka begitu saja hanya karena aku tidak bisa menggunakan Partner
rasanya tidak enak... Lagipula selama ini aku sudah berbuat sesuka hati padanya
secara sepihak.
Dan yang terpenting, aku sudah berjanji padanya—bahwa aku
akan menolongnya jika terjadi sesuatu.
Meskipun itu janji yang kuucapkan pada Aisaka yang sedang
terhipnosis, aku tidak ingin berpura-pura tidak melihat situasi ini.
Apa karena orang
itu adalah Aisaka...? Ah sudahlah, abaikan saja alasannya, sekarang aku harus
menolongnya.
"Lagi apa
kau di sini? Dasar
Bocah-Pamer-Burung-Sambil-Lari-Telanjang."
Provokasi maksimal? Berisik, aku ini sangat galak pada pria tampan.



Post a Comment