NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Te ni Ireta Saimin Appli de Yume no Harem Seikatsu o Okuritai Volume 4 Chapter 4

Chapter 4

Kencan Bareng Saika, Bro!


"Kai-senpai, terima kasih banyak untuk hari ini. Sampai-sampai begitu pulang pun aku terus memikirkan Kai-senpai dan Miyako-san... Benar-benar semenyenangkan itu."

Saat aku kembali ke kamar setelah selesai makan malam, pesan seperti itu masuk ke ponselku. Pengirimnya tentu saja Emu yang hari ini berkunjung ke rumahku. Dia juga mengatakan hal yang sama saat aku mengantarnya pulang tadi, tapi syukurlah kalau dia benar-benar menikmatinya.

"...Serius, tadi itu memang asyik banget."

Ada banyak alasan kenapa aku merasa begitu, tapi bagiku, melihat Emu yang imut sekaligus seksi adalah yang terbaik... Khkhkh! Bukan cuma aksi rutin membenamkan wajah di dadanya, aku juga sempat berciuman dengannya, lho! Sama seperti saat dengan Matsuri dulu, kenapa ya rasanya bisa bersentuhan dengan mereka itu luar biasa sekali!

"...Khkh, wajahku jadi terlihat brengsek begini."

Sosokku yang terpantul di cermin menampakkan ekspresi yang benar-benar tidak boleh diperlihatkan pada orang lain. Namun, ekspresi konyol itu segera berubah menjadi wajah yang penuh keraguan. Aku tahu persis alasannya, dan alasan utamanya tidak lain adalah hal yang berkaitan dengan si Partner.

"...Hei, Partner. Kamu sebenarnya kenapa sih?"

Aku tahu percuma saja bertanya. Jika saja aku bisa berkomunikasi dengan Partner seperti dalam ruang dimensi mimpi yang kulihat sebelumnya, urusannya pasti akan cepat selesai.

"Partner... Hm?"

Saat aku sedang melamunkan soal Partner, tiba-tiba ponselku menyala. Mengabaikan kebingunganku, aplikasi hipnosis itu pun ikut terbuka sendiri dan memunculkan layar yang sudah sangat familier. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi...?

"Partner...?"

Bukan cuma ponselku yang aneh, tapi seolah-olah diriku sendiri terputus dari dunia luar dan kesadaranku hanya tertuju pada ponsel. Sensasi ini entah kenapa mengingatkanku pada ruang saat aku berkomunikasi dengan Partner dulu. Aku berpikir mungkin suaraku bisa sampai padanya sekarang, jadi aku pun mulai bicara pada ponsel itu.

"Apa kamu mendengarku, Partner?"

...Lalu, sederet kata muncul di layar.

Tuanku, maafkan aku soal belakangan ini. Sepertinya aku sudah membuatmu sedikit kesulitan.

"...Beneran nyampe, dong."

Aku terkejut bukan main, tapi aku segera melanjutkan kata-kataku.

"Tidak, kamu tidak perlu minta maaf. Selama ini aku sudah sering terbantu, aku juga sudah sering meminjam kekuatanmu, jadi mungkin saja kamu lelah, kan?"

Aku bertanya dengan lembut, seolah ada seseorang di hadapanku. Tentu saja aku kaget dengan pesan yang sepertinya dari si Partner ini, tapi aku tidak merasa ingin ribut menanyakan apa maksud semua ini. Sekarang aku hanya ingin fokus berkomunikasi dengannya.

Lelah, ya... mungkin saja. Padahal seharusnya, makna keberadaanku adalah untuk terus mengabulkan semua keinginan Tuanku.

"Bukankah itu sedikit terlalu berat? Yah, memang sih aku kaget karena Partner tidak bisa digunakan dengan lancar, tapi hanya dengan kamu berada di sisiku saja sudah membuatku tenang, lho?"

Ah... aku sangat senang kamu berkata seperti itu. Bisa menjadi kekuatanmu, bisa membantumu, adalah kebahagiaan yang tak terkira bagiku.

"...Kamu ini serius kenapa sih, Partner."

Percakapan dengan Partner ini terasa agak menggelitik. Interaksiku dengan Matsuri, Saika, maupun Emu memang membawaku ke momen kebahagiaan yang luar biasa, tapi kata-kata Partner juga memberiku perasaan yang serupa.

"Yah, bagiku Partner tetaplah Partner. Bisa dibilang seperti rekan seperjuangan yang saling menjaga punggung satu sama lain. Karena aku orang yang simpel... aku jadi malu sendiri kalau kamu bicara begitu."

Aku tidak tahu apakah Partner punya mata atau tidak, tapi coba lihatlah. Cuma mengobrol begini saja wajahku sudah terasa panas sekali. Tapi kalau boleh jujur, ini karena aku menganggap Partner sebagai keberadaan yang unik... bukan sekadar keberadaan digital belaka.

Tuanku...

"Apa?"

Benar-benar... pria yang berdosa, ya.

"Ah—... di momen ini, aku sedikit menyadarinya. Itu tandanya aku sangat memikirkanmu, Partner."

Memang bagian itulah yang kumaksud. Tapi, karena itulah aku senang bisa bersama Tuanku. Karena kamu telah memberiku perasaan seperti ini, dan memberitahuku bahwa aku pun punya nilai untuk hidup.

"...Ada apa sih, Partner? Tiba-tiba bilang begitu... caramu bicara seolah-olah kamu akan menghilang dalam waktu dekat saja."

Atas perkataanku itu, Partner tidak memberikan balasan apa pun. Aku tidak mengejar lebih jauh alasan kenapa dia tidak menjawab, dan hanya mengembuskan napas pendek untuk menenangkan diri.

"...Lho?"

Saat itu, ponselku bergetar lagi. Aku buru-buru menatap layar karena mengira itu balasan dari Partner, tapi ternyata itu telepon dari Saika.

"Halo, Saika?"

Selamat malam, Kai-kun. Apa aku mengganggumu?

"Nggak, kok. Aku punya banyak waktu buatmu."

...Fufu, terima kasih.

Lagipula obrolanku dengan Partner sudah selesai, dan aku memang sedang senggang.

...Aku hanya ingin mengobrol dengan Kai-kun. Karena ingin mendengar suaramu... makanya aku menelepon.

Wah... mungkin ini terdengar klise, tapi suasana hatiku yang sempat mendung soal Partner langsung mood-up seketika.

"Emm... makasih ya, Saika."

Tapi, ya maklum saja kalau aku jadi malu-malu kucing begini. Sepertinya rasa maluku tertangkap oleh Saika, karena dia terdengar tertawa geli di seberang sana.

Sebenarnya aku ingin mendengar suara Kai-kun setiap hari seperti ini. Tapi kalau setiap hari, kamu pasti lelah, kan? Makanya aku terus menahannya... dan hari ini, aku sudah sampai batasnya jadi aku meneleponmu.

Heh... apa dia ini yandere? Baru saja aku berpikir begitu, Saika melanjutkan kata-katanya.

Tapi, sepertinya bicara lewat telepon saja tidak cukup. Jadi, besok maukah kamu berkencan denganku?

"...Kencan?"

Iya.

Ajakan kencan dari Saika... aku langsung menjawabnya.

"Oke. Besok, kan?"

Tentu saja jawabannya adalah iya. Mungkin aku terdengar tenang saat menjawab, tapi di dalam hati, tension-ku sudah naik ke tingkat di mana aku harus berjuang keras agar tidak melompat kegirangan. Meski rasa cemas soal Partner belum hilang sepenuhnya... besok saat bertemu Saika, aku akan berusaha sebisa mungkin agar tidak menunjukkannya di wajah. Kalau tidak, aku pasti akan membuat Saika khawatir.

◆◇◆

Keesokan harinya, aku keluar rumah dengan penampilan yang sudah oke punya.

Sensasi ini sama seperti saat aku pergi ke rumah Matsuri dulu... tapi ini kencan, lho, kencan!

Gara-gara itu aku baru bisa tidur larut malam dan sekarang agak mengantuk... Awas ya, jangan sampai ketiduran di tengah jalan, wahai diriku!

"...Tapi kalau begini terus, sepertinya aku bakal sampai jauh lebih awal dari jadwal."

Tempat janjinya adalah di depan stasiun, tapi kalau terus berjalan begini aku bakal kepagian. Meski begitu, karena ini kencan dengan Saika, aku pikir tidak buruk juga menunggu lawan bicara dalam situasi seperti ini. Jadi, meski tidak perlu, aku mempercepat langkah kakiku.

"...Panas banget, ya."

Tapi tolonglah, baru jalan sebentar saja keringat sudah mengucur karena cuaca sepanas ini.

Di ramalan cuaca kemungkinan hujan adalah nol persen jadi aku tidak khawatir soal hujan, tapi panasnya ini benar-benar menyiksa kalau tidak bercanda... Rasanya aku ingin pergi ke kolam renang lagi.

Begitulah, aku pun sampai di tempat janji di depan stasiun... tapi, lho?

"...Sudah sampai, dong."

Di sana sudah ada sosok Saika. Aku memastikan waktu di ponselku untuk jaga-jaga, tapi ternyata memang masih sangat pagi... Sepertinya Saika berpikiran sama denganku, malah dia jauh lebih awal dariku.

Memikirkan kalau Saika mungkin sama bersemangatnya denganku membuatku merasa geli... tapi lebih dari itu, aku terpesona oleh kecantikan Saika.

"...Ya aku tahu sih, tapi si Saika ini benar-benar terlalu cantik."

Aku sudah berkali-kali menyadari kalau Saika itu cantik. Jika dibandingkan dengan saat pertama kali mengenalnya, perubahannya sangat drastis, sampai-sampai aku bisa menceritakannya berulang kali tanpa merasa bosan.

"Buset... seksi banget Saika hari ini."

Biasanya Saika tidak suka memakai baju yang terlalu terbuka. Tapi hari ini, penampilannya cukup berani menunjukkan kulit, bahkan punya aura mencolok yang mirip dengan baju-baju yang biasa dipakai Matsuri.

Yah, mungkin memang untuk menghalau panasnya musim panas, tapi karena yang memakainya itu Saika, aku jadi berpikir yang macam-macam.

"...Aduh, kalau aku bengong terus nanti malah ada orang bodoh yang berani menyapa Saika."

Baru saja berpikir begitu, seorang pria berambut pirang seumuran mahasiswa mulai mendekatinya.

Karena ini Saika, dia pasti tidak akan mau diajak pergi dan bisa menolak dengan sikap tegas. Namun, kalau hal itu malah menyinggung perasaan si lawan dan dia mulai main fisik, urusannya bakal panjang.

Kalau begitu, sebelum itu terjadi aku harus segera menghampiri Saika, dan biarkan nafsu yang seharusnya ditujukan pada Saika itu berubah menjadi kebencian padaku... Yah, cuma bercanda sih.

"Saika!"

"...Ah."

Aku mengangkat tangan dan berlari kecil menghampiri Saika. Begitu memastikan sosokku, ekspresi datar Saika berubah menjadi senyuman, dan dia pun berlari ke arahku... eh, dadanya mantul-mantul!?

Kalau pemilik dada monster seperti Saika berlari, tentu saja dadanya bakal berguncang hebat! Meskipun ini liburan musim panas, hari ini adalah hari Sabtu, jadi ada banyak orang di sekitar dan tidak sedikit pasang mata yang tertuju pada Saika.

"Ups..."

"...Ketangkap."

Saika menggenggam tanganku erat-erat, lalu berdiri berjajar di sampingku. Ucapannya yang bilang kalau dia sudah menangkap tanganku itu cukup imut, tapi senyumannya dari jarak sedekat ini jauh lebih imut lagi.

".................."

Tapiii... memang dada Saika itu senjata maut ya, mataku jadi tersedot ke arah belahan dada yang terlihat melimpah itu. Tapi kalau terus berhenti di sini, kencan kami tidak akan maju-maju. Hari ini adalah kencan yang berharga... jadi aku harus menikmatinya sampai puas!

"Nah, ayo berangkat, Saika."

"Ehm."

Begitulah, tirai kencan dengan Saika resmi dibuka. Setelah bertemu, kami langsung menuju ke dalam stasiun dan menunggu kereta yang akan datang beberapa menit lagi.

Selama menunggu, Saika terus-menerus menggenggam tanganku. Mungkin karena kerumunan orang yang mau naik kereta jauh lebih banyak dibanding di luar stasiun, jadi dia melakukannya agar tidak terpisah oleh arus orang.

"Oh, itu keretanya."

Tak lama kemudian kereta masuk ke peron. Saat pintu terbuka, banyak orang turun terlebih dahulu, baru setelah itu aku dan Saika masuk ke dalam... tapi, serius deh orangnya banyak banget!?

Tadinya aku ingin duduk kalau ada kursi kosong, tapi kursi di dekat situ sudah terisi semua.

Sambil terdorong oleh penumpang yang terus masuk dari belakang, aku berpindah ke bagian pinggir untuk melindungi Saika... dan akhirnya, aku berhasil mengarahkannya ke dekat dinding agar terlindungi dari penumpang lain.

Aku tekankan lagi, orang di dalam kereta ini sangat banyak dan hampir penuh sesak. Setelah beberapa kali pergantian penumpang nanti, barulah kami bisa turun di stasiun tujuan... tapi kalau begini terus, sepertinya untuk sementara kami bakal berhimpit-himpitan.

"Aku... jarang naik kereta, jadi ini terasa cukup segar."

"Aku juga mirip-mirip begitu... ya."

Sama seperti Saika, aku pun jarang sekali naik kereta. Entah itu pergi keluar atau main, biasanya aku tidak melakukan perjalanan yang sampai harus menggunakan kereta atau bus. ...Eh, daripada itu ada hal lain yang mengganggu pikiranku.

"Kai-kun? Ada apa?"

"E-enggak, kok..."

Ditanya begitu oleh Saika, aku refleks membuang muka. Kenapa aku memalingkan wajah dari Saika... dan apa yang mengganggu pikiranku—jawabannya ada pada dada Saika yang bentuknya sangat tertekan di bagian dadaku.

Aku memang sengaja menariknya ke dekat dinding agar terlindungi, tapi posisi Saika saat ini adalah menghadap ke arahku.

Apa yang terjadi jika kamu berhimpitan dengan Saika dalam posisi seperti itu?

Bukan cuma kekenyalan yang luar biasa yang terasa di dadaku, tapi karena bajunya memang memperlihatkan belahan dada, aku jadi tidak bisa mengalihkan pandangan dari dadanya yang tertekan dengan sangat indah itu...!

"...Ah, begitu ya? Dasar Kai-kun mesum."

"!?!"

Ke-ketahuan!?

Pipi Saika sedikit merona, namun dia menggoyangkan tubuhnya dengan ekspresi dan gerakan yang seolah memprovokasi.

Setelah bergoyang ke kiri dan kanan, dia menambah gerakan naik turun, menekan kekenyalan melimpahnya itu ke tubuhku tanpa sisa, sekaligus tampak sangat menikmati situasi ini.

"Hei, Kai-kun?"

"A-apaan..."

"Situasi ini... mirip sekali dengan situasi di manga dewasa yang baru-baru ini kubaca."

Manga dewasa... eh, apanya yang mirip!? Memang benar seperti yang dibilang Saika, situasi ini mungkin cukup sering terlihat di manga dewasa. Saling bertatapan di tengah kerumunan orang di kereta yang penuh sesak begini, tubuh saling menempel sampai dada tertekan seperti ini, apalagi si cewek malah memprovokasi seperti ini, benar-benar mirip manga dewasa, terima kasih banyak!

(...Eh, gawat!?)

Tiba-tiba, satu masalah muncul pada tubuhku. Meski aku sudah sering menyentuh tubuh mereka berkat kekuatan Partner, kalau dalam kondisi mendadak seperti ini... apalagi ditambah imajinasi liar yang terpancing, tubuhku tentu saja bereaksi secara alami. Saat dengan Matsuri dan Emu pun tentu saja jadi begini, tapi aku harus berusaha keras untuk menyembunyikannya!

"Di saat seperti ini, biasanya kereta berguncang dan terjadi hal yang lebih berbahaya."

"Saika... kamu seneng banget ya?"

Padahal aku lagi berjuang keras buat nahan, kenapa Saika malah begini sih...!

Jujur saja dalam situasi sekarang, apa yang dibilang Saika itu sama sekali bukan bahan bercanda, jadi tolong jangan bilang hal-hal yang seperti memicu flag begitu.

Eh, baru saja berpikir begitu, kereta sedikit berguncang. Walaupun cuma guncangan ringan, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat tubuhku balik menekan tubuh Saika.

"!?!"

"Nnh...!"

Gara-gara guncangan kecil tadi, kakiku jadi terselip di antara kedua paha Saika. Mendengar suara desahan seksi yang sepertinya bukan karena rasa sakit itu, jantungku berdegup kencang.

"Tuh kan, jadi kejadian seperti yang kukatakan."

"I-iya ya."

Ini... ini gawat!? Kenapa gawat, karena gara-gara guncangan tadi, "adik kecilku" yang sudah tegak jadi tertekan-tekan ke paha Saika. Untungnya Saika sepertinya tidak sadar, tapi situasi di mana aku menempelkan "adik kecil" yang bangun ke seorang gadis di kereta yang penuh sesak ini... Syukurlah Saika benar-benar tidak sadar!

"Kai-kun... dekat sekali."

"Yah... kalau nempel begini sih jelas dekat."

Saking dekatnya, kalau wajah kami sedikit saja bergeser, kami sudah bisa berciuman. Kami saling terdiam... hanya aku yang berdoa agar urusan tubuh bagian bawahku tidak ketahuan Saika, tapi entah kenapa mataku tiba-tiba tertuju ke orang di sebelahku.

"?"

Di sana ada seorang pria paruh baya. Om-om itu berdiri tepat di sampingku sambil melihat ke luar jendela, tapi aku menyadari kalau dia sesekali melirik ke arah Saika.

"...Kai-kun♪"

Saika... untungnya dia sedang asyik denganku, jadi om-om itu sama sekali tidak masuk dalam radarnya, bahkan sepertinya dia tidak sadar kalau ada orang berdiri di situ. Aku menggerakkan tubuhku sedikit untuk menutupi pandangan si om-om. Saat itulah terdengar suara decakan lidah yang cukup jelas, seolah dia baru saja mengaku kalau dia memang sedang mengintip.

"...Terima kasih, Kai-kun."

"Buat apa?"

Ah—... sepertinya Saika juga menyadari tatapan om-om tadi. Meski begitu, pria yang keren itu tidak akan sengaja bilang kalau dia baru saja melindunginya... yah, walaupun kalau aku yang melakukannya sama sekali tidak terlihat keren sih.

"...Fuuuh."

Tapi berkat kejadian tadi, urusan di bawah sana jadi agak tenang... terselamatkan deh. Setelah merasa lega, tak lama kemudian kereta pun sampai di stasiun tujuan.

"Ayo, Saika."

"Ehm."

Kali ini aku yang menggandeng tangan Saika untuk turun dari kereta. Karena ini tempat yang jarang kami kunjungi, kami berdua sudah mencari tahu sebelumnya fasilitas apa saja yang ada di sini, tapi intinya Saika hanya ingin kami bisa menghabiskan waktu bersama.

"Hari ini, ada satu tempat yang benar-benar ingin kukunjungi... selain itu, asal bisa bersama Kai-kun saja aku sudah senang."

Yah, begitulah katanya. Aku tidak tahu tempat apa yang sangat ingin dikunjungi Saika, tapi meskipun tidak tahu, aku sendiri juga menantikannya.

"Kalau ada tempat yang ingin Kai-kun datangi atau ada yang menarik perhatianmu, ayo kita ke sana juga."

"Oke deh... Lho?"

Tanpa sadar aku mengeluarkan suara karena melihat sebuah toko. Toko kostum cosplay... Aku hanya berpikir ternyata ada toko seperti ini di sini, bukan berarti aku ingin masuk. Namun, kostum yang terlihat melalui jendela kaca itu... terlihat sangat seksi, dan aku jadi membayangkan bakal jadi seperti apa kalau Saika yang memakainya.

"...Eh, sori sori."

"Ayo masuk."

"Eh?"

Tunggu sebentar, Nona Saika!? Padahal aku tidak berniat masuk, tapi tanganku ditarik kuat oleh Saika dan kami pun langsung masuk ke toko itu. Begitu masuk, berbagai kostum cosplay langsung menyambut kami. Ada juga kostum dari anime atau manga yang aku tahu lewat Shogo, dan aku pun refleks berseru kagum.

"Ada banyak macamnya ya."

"Iya... eh, tapi kenapa Saika ke sini?"

"Karena sepertinya Kai-kun tertarik."

Ternyata ketahuan juga ya! Seolah ingin bilang kalau isi pikiranku sudah terbaca, Saika tersenyum geli sambil melihat-lihat seisi toko dengan penuh rasa ingin tahu.

"Aku belum pernah ke toko seperti ini, jadi sejujurnya aku agak berdebar."

"Heh?"

Ternyata Saika juga baru pertama kali ke toko seperti ini, sama sepertiku. Walaupun bukan toko yang dikunjungi semua orang, tapi cukup banyak orang yang melihat-lihat kostum karena tertarik seperti kami dan sepertinya mereka menikmatinya.

"...Ah, ini—"

Saat sedang melihat-lihat bagian dalam, kami masuk ke zona baju pelayan (maid). Bicara soal baju pelayan, aku jadi teringat Emu yang baru-baru ini memakainya, tapi baju pelayan yang dipajang di sini ada banyak jenisnya.

Ada rok mini, rok panjang, ada yang bagian dadanya bolong bentuk hati... eh, ada juga tipe bolong yang bisa memperlihatkan bagian bawah dada!?

"...Ternyata di dunia nyata juga ada yang begini ya... ya wajar sih."

Soalnya di media sosial memang ada orang yang mengunggah foto cosplay seperti ini... Luar biasa juga kostumnya.

"Aku tahu ini."

"Eh?"

"Ini namanya Zuri-ana (lubang gesek), kan?"

".................."

Anu ya... aku yang kaget sendiri sih memang salah, tapi aku harus jawab apa ya buat pertanyaan itu?

"Kalau aku memakai ini, apa bakal cocok?"

"...Kayaknya bakal cocok nyaa."

"Nyaa?"

Gara-gara terlalu sadar, akhiran bicaraku jadi aneh nyaa... Untuk berpura-pura tidak goyah, aku berdehem keras lalu berjalan ke arah belakang.

O-o-omong-omong, Saika sedang tertawa geli, sepertinya kegoyahanku benar-benar tertangkap olehnya... Sialan. Kalau kamu terus tertawa begitu, nanti aku bakal pakai Partner buat berbuat sesuka hati padamu, lho!

"Padahal tidak perlu malu begitu."

"...Itu karena kamu tiba-tiba bilang Zuri-ana, tahu?"

"Kai-kun, kasih tahu dong? Di lubang itu, biasanya dimasukin apa?"

"...Ampun, Nona Saika."

"Ufufu♪"

Senang sekali ya kelihatannya, Saika! Tapi ya bagaimanapun juga, aku memang menikmati interaksi seperti ini... benar-benar menikmatinya. Ternyata hanya dengan menghabiskan waktu bersama Saika dan yang lainnya saja sudah membuatku bahagia.

"Karena kita sudah sampai di toko begini, kalau ada yang Kai-kun suka, aku mau kok mencobanya buatmu."

"...Apa katamu?"

Dia mau memakai kostum yang aku suka...!? Rasanya seperti ada aliran listrik dari ujung kepala sampai ujung kaki, aku benar-benar kaget mendengar perkataan Saika. Bukannya aku mau nafsuan, tapi berlawanan dengan mental bajaku, mataku malah terus tertuju ke kostum-kostum itu.

"Sepertinya ada layanan sewa kostum dan pemotretan juga, lho."

Toko ini benar-benar yang terbaik. Aku juga merasa ingin mencoba cosplay, tapi hal itu tidak penting sekarang! Kalau Saika memang bersemangat, aku harus memintanya memakai sesuatu! Tapi karena aku pria yang beretika, aku akan tetap menjaga batas kewajaran!

"Benar tidak apa-apa?"

"Kenapa jadi formal begitu? Iya, boleh kok."

"Tidak ada kata ditarik kembali ya?"

"Perempuan tidak akan menarik kata-katanya, jadi tenang saja."

Sip, asyik! Kalau begitu mari kita cari kostumnya! Dari situ, aku mulai mengedarkan pandangan mencari kostum yang ingin kupakai pada Saika.

Jujur saja, pasti ada banyak kostum yang cocok untuk Saika. Bahkan kostum paling sederhana pun kalau dipakai oleh si cantik berdada monster seperti Saika, pasti bakal terlihat indah dan seksi... Tapi karena kami tidak bisa menghabiskan seluruh waktu di toko ini, sepertinya cukup satu kostum saja.

"Nah... mana ya yang bagus."

"Fufu, kostum seperti apa yang bakal Kai-kun pakaikan padaku ya?"

Wah, dia benar-benar bersemangat... aku terima tantanganmu, Saika! Aku akan memberikan kostum yang masih wajar tapi tetap super seksi, kira-kira bagaimana ya reaksi Saika nanti... yah, sudah terlambat buat menyesal! Tapi... pas dicari begini ternyata susah juga menemukan yang pas. Kostum yang berjajar semuanya bagus, dan aku yakin pasti cocok buat Saika... tapi belum ada yang bikin aku merasa "ini dia!" gitu.

"...Lho?"

Di tengah pencarian, aku berhenti di depan sebuah kostum.

"Ini..."

Yang menarik perhatianku adalah spy suit. Kostum yang membungkus seluruh tubuh dari leher ke bawah dengan setelan ketat yang mengilap... Melihat yang begini jadi mengingatkanku pada manga dewasa di mana si agen rahasia tertangkap saat menyusup ke markas musuh lalu disiksa secara mesum.

"Guh... ini kayaknya terlalu seksi ya."

Tadi aku sempat membayangkan sekejap... Saika yang memakai ini. Kalau memakai baju seketat ini, bagian dada Saika pasti bakal jadi pemandangan yang luar biasa. Atau jangan-jangan, memang itu yang ingin kulihat...? Lagipula kalau yang membuatku merasa "ini dia!" adalah spy suit ini, bukankah sebaiknya aku minta dia memakainya saja!

"Kai-kun? Kamu suka yang ini?"

"!?!"

Saika menatap setelan itu dengan penuh minat. Karena Saika ada di dekatku, kalau aku berhenti dan memperhatikan sesuatu, dia tentu saja akan melihat hal yang sama.

"...Emm."

Dia memang bilang kalau ada yang aku suka boleh dicoba, tapi kalau yang ini... bagaimana ya?

Aku pikir kostum yang lebih normal mungkin lebih baik, tapi yang membuat aliran listrik menyambar di kepalaku memang spy suit ini.

"...Aku ingin melihat Saika memakai ini."

"Boleh. Akan kupakaikan."

Saika sama sekali tidak menunjukkan wajah keberatan, malah dia mengangguk sambil tersenyum.

Setelah itu kami bicara dengan pelayan toko dan diantar ke ruang pemotretan khusus untuk dua orang, lalu aku menunggu Saika selesai bersiap-siap. Beberapa menit kemudian... Saika yang sudah berganti baju pun muncul.

"Maaf menunggu..."

"...Wah."

Aku diliputi sensasi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, sampai refleks berseru kagum. Saika yang muncul tentu saja memakai spy suit ketat itu, tapi daya hancurnya benar-benar terlalu kuat.

Dada yang melimpah, pinggang yang ramping, dan bentuk pantat yang indah. Garis tubuhnya terlihat dengan sangat jelas dalam balutan setelan itu, tapi yang lebih menarik perhatianku adalah bagian dadanya... Jangan-jangan dia tidak memakai pakaian dalam?

"Bagaimana...? Kalau kamu diam saja aku jadi cemas."

"Eh!? Ah iya sori! Anu... aku terpukau."

Ya, aku benar-benar terpukau sekarang. Apalagi karena Saika yang bilang cemas itu jadi malu dan memeluk tubuhnya sendiri, lengan yang dilingkarkan di tubuhnya itu malah menekan dadanya yang besar sampai bentuknya jadi tidak karuan... Pemandangan yang seolah bisa terdengar efek suara munyu itu membuat kosakata di otakku hancur lebur.

"Eh itu... terima kasih banyak!"

"...Syukurlah kalau kamu senang."

Laki-laki mana pun pasti bakal senang kalau dikasih beginian! Tentu saja sosok Saika yang seperti ini cuma bisa kulihat sendiri!

Saat aku sedang menikmati perasaan bahagia karena cuma aku yang bisa melihat pemandangan terbaik ini, Saika memberi isyarat memanggil.

"Tidak mau lihat lebih dekat? Ayo sini, Kai-kun."

...Fuuuh, kayaknya aku memang harus maju. Dibilang begitu oleh Saika sendiri, sayang sekali kalau aku tidak mendekat.

Aku pun mendekat sampai ke jarak yang bisa disentuh jika aku mengulurkan tangan.

Dari situ, berbagai bagian terlihat lebih jelas dibanding tadi, kerutan halus di setelannya pun terlihat... dan yang terpenting, tonjolan kecil di dada yang sedari tadi membuatku penasaran juga terlihat dengan sangat jelas.

"Guh... cocok banget, dan seksi banget... ah emm... pokoknya mantap... ya."

"...Begitu? Kalau begitu aku senang."

Gawat. Hidungku mulai terasa panas... sensasi ini memberitahuku kalau sebentar lagi aku pasti bakal mimisan.

"Tidak mau ambil foto?"

"...Ah."

Benar juga... tujuan utamanya kan memang pemotretan di sini. Aku mengatur layar ponsel agar seluruh sosok Saika masuk ke dalam bingkai, lalu mengambil beberapa foto.

Hanya dengan ini saja aku sudah puas, tapi Saika malah mengatakan hal lain.

"Hei, waktunya masih ada... masih banyak hal yang bisa dilakukan, lho."

"Banyak hal?"

Saika mengangguk, lalu menaruh jarinya di ritsleting bagian leher. Baru saja aku berpikir 'jangan-jangan', Saika perlahan-lahan menurunkan ritsleting itu... Saika berhenti tepat saat ritsletingnya sampai di bawah dada.

"He-hei...!"

Ca-cara melepasnya... kalau dilihat dari jarak sedekat ini daya hancurnya bukan main, lho!?

Dari awal saja daya hancurnya sudah gila, tapi ini seolah-olah Saika benar-benar ingin membunuhku. Intinya, tingkat keseksiannya melonjak drastis.

Padahal dia sudah melakukan sejauh ini, seharusnya dia menunjukkan wajah bangga, tapi Saika masih terlihat malu-malu, dan itu benar-benar curang sekali.

"Terus... yang ini begini."

Sebenarnya... apa yang mau dilakukan Saika?

Karena ini ruang pemotretan, ada berbagai macam aksesori yang tersedia, dan yang diambil Saika adalah borgol mainan.

Setelah mengaitkannya ke dinding, dia mengangkat tangannya ke atas kepala... lalu menguncinya dengan borgol?

"Sekarang sudah jadi."

"!?!"

Apa yang dilakukan Saika... itu adalah sebuah arahan gaya. Baju setelan yang terbuka, tangan yang terborgol, dan entah itu akting atau bukan, dia menatapku dengan wajah yang sedikit ketakutan.

Sosok itu benar-benar mirip seperti tokoh utama wanita yang akan diperlakukan macam-macam setelah ini.

"Setelah ini... apa yang akan kamu lakukan padaku...!?"

Sa-sampai dialognya pun diucapkaaaan!? Bukan cuma kata-kata, dia juga sedikit melotot padaku, tapi ekspresi itu sangat cocok dengan situasinya.

"...Izinkan saya mengambil fotonya!"

Tentu saja aku tidak meraba-raba atau melakukan hal mesum... aku tidak melakukannya.

Soalnya ini kan di dalam toko, kalau aku melakukan hal yang keterlaluan nanti urusannya bukan cuma dilarang masuk... kalau sampai dipanggil polisi kan tidak lucu.

Setelah mengambil foto-foto mantap di ponsel, karena waktunya juga sudah hampir habis, Saika pun masuk ke balik tirai untuk berganti baju.




"...Fuuuh."

Lelah juga... lelah sih, tapi tadi benar-benar luar biasa.

Setelah itu, aku keluar toko bersama Saika yang sudah selesai berganti baju... tapi sepertinya aku sudah menderita penyakit kronis, karena pemandangan tadi menempel begitu kuat di ingatanku sampai-sampai sosoknya dalam balutan spy suit terus terbayang seperti halusinasi.

"Fotonya, bisa tolong kirimkan padaku juga?"

"Eh? A-ah, tentu saja!"

Aku segera mengirimkan foto-foto yang tadi kuambil kepada Saika. Omong-omong, setelah mengambil foto situasi super seksi tadi, aku juga sempat berfoto berdua dengannya... dan di situ aku benar-benar terlihat seperti penjahat di manga dewasa.

"Posisimu seperti orang yang bakal bilang, 'Heyoo, kalian lihat tidak?', ya, Kai-kun."

"Jangan diteruskan, ya?"

Aku juga memikirkan hal yang sama, tapi kalau diucapkan begitu aku jadi malu juga. Nah, tepat saat aku sedang berpikir hendak ke mana setelah ini, perutku berbunyi pelan.

"Ah... sudah hampir jam makan siang, ya."

"Sepertinya kamu terlalu asyik bersenang-senang di toko tadi?"

"Yah, begitulah..."

Benar, sepertinya kami memang terlalu asyik bersenang-senang. Meski kami sudah datang sejak pagi, tapi perjalanan ke stasiun, pindah kereta, jalan kaki ke toko, ditambah menghabiskan waktu yang begitu "padat" di sana, wajar saja kalau waktu berlalu begitu cepat.

"Aku... rasanya ingin makan ramen lagi bersamamu, Kai-kun."

"Kalau begitu, ayo cari ramen!"

Tanpa membuang waktu, kami masuk ke kedai ramen terdekat. Meski aku sama sekali tidak tahu tentang kedai-kedai di daerah sini, tempatnya terlihat sangat ramai, menandakan bahwa ini adalah kedai populer. Aroma kuat khas kedai ramen menggoda selera makanku, dan perutku kembali berbunyi.

"Aku pesan ramen shoyu saja deh."

"Ah, kalau begitu aku juga pesan yang sama."

Kami berdua pun memesan ramen shoyu. Sambil menunggu pesanan diantar, aku mengedarkan pandangan ke pelanggan di sekitar, tapi seperti dugaan, tidak ada sosok yang kukenal.

"Terima kasih telah menunggu!"

Setelah menunggu beberapa saat, ramen pun diantar ke meja. Aku tahu kedai mana pun pasti menyajikan hidangan yang sudah teruji, tapi tetap saja, makan di tempat yang baru pertama kali dikunjungi selalu memberikan sensasi berdebar yang bikin ketagihan.

"Selamat makan."

Aku mengatupkan kedua tangan. Pertama, kucicipi kuahnya... enak. Lalu mienya... kumakan bersama daun bawang dan chashu-nya... Mantap!

"Enak ya."

"Iya. Benar-benar enak."

Ini... ramen enak yang nilainya seratus poin sempurna. Yah, pada dasarnya aku merasa semua ramen yang dimakan di kedai itu enak, malah jarang sekali aku menemukan ramen yang rasanya tidak enak. Tentu saja kedai seperti itu mungkin ada, tapi aku belum pernah sial sampai masuk ke kedai macam itu.

"Kai-kun."

"Ya?"

"Nanti siang, bolehkah kita pergi ke tempat yang ingin kukunjungi?"

"Tentu saja. Lagipula dari awal memang itu tujuanku."

Benar. Pergi ke tempat yang diinginkan Saika adalah tujuan utama kencan hari ini.

"...Fufu."

"Ada apa?"

"Tidak, aku hanya merasa ini sangat menyenangkan. Apa yang kita lakukan sekarang adalah kencan... Menghabiskan waktu sesukaku bersama Kai-kun, makan makanan enak, pergi ke tempat yang ingin kudatangi... hanya hal sederhana seperti itu, tapi hal sesederhana itu terasa begitu berharga bagiku."

Sambil berkata begitu, Saika menarik tanganku. ...Untunglah sekarang Saika tidak sedang melihatku. Karena saat ini wajahku pasti sudah merah padam, dan aku yakin tidak akan sanggup menatap mata Saika secara langsung.

Setelah itu, kami terus berjalan hingga sampai di sebuah taman yang menghadap ke danau. Tempat itu cukup ramai oleh orang-orang yang berfoto dengan latar belakang danau yang indah, dan kesanku adalah tempat ini banyak didatangi oleh keluarga.

"Di sini sangat indah, kan? Sepertinya banyak orang yang datang ke sini."

"Heh... jadi kamu ingin ke sini?"

"Iya. Lebih tepatnya, aku tertarik pada suatu hal."

"Hmm?"

"Itu."

"Tempat penyewaan kapal...?"

Jari Saika menunjuk ke arah dermaga kapal. Begitu ya... rupanya ini yang ingin dilakukan Saika.

"Ayo?"

"Oke."

Kami segera menuju tempat penyewaan kapal. Setelah mendengarkan penjelasan mengenai aturan keselamatan dari petugas, kami pun meluncur ke tengah danau.

"Tadinya kukira mendayung itu susah, tapi ternyata lumayan bisa juga."

"Kamu mahir, Kai-kun. Bilang ya kalau kamu lelah?"

"Tidak, biarkan aku saja yang melakukannya. Lagipula ini mulai terasa seru."

Ternyata mendayung kapal dengan dayung kayu seperti ini cukup menyenangkan. Jika terus begini mungkin lenganku akan pegal, tapi kalaupun itu terjadi, berhenti sejenak di atas air juga bukan ide yang buruk.

"Ah, lihat itu, Kai-kun."

"...Wah."

Dari arah seberang, sebuah kapal berbentuk anak ayam mendekat. Kapal yang kunaiki bersama Saika adalah kapal biasa, tapi ternyata memang ada ya kapal bentuk anak ayam seperti itu.

"Hup."

Meski tidak sampai bertabrakan, aku mengatur arah agar kami tetap menjaga jarak. Saat berpapasan dengan kapal anak ayam itu, aku melihat penumpangnya adalah dua orang pria. Sepertinya mereka benar-benar menikmati waktu mendayung, karena mereka terlihat asyik saling tunjuk menentukan arah selanjutnya.

"Hal seperti itu bagus juga ya."

"Iya... mereka terlihat sangat senang."

Setelah melirik singkat ke kapal itu, aku kembali mendayung. Ini pertama kalinya aku berduaan saja dengan seorang gadis di atas danau... rasa gugup di awal tadi sudah memudar, dan kini aku benar-benar menikmati waktu bersama Saika. Kami menghabiskan waktu menyenangkan di atas air tanpa ada yang mengganggu, sambil mengobrol tentang air yang jernih, menebak-nebak jenis ikan yang lewat, hingga topik yang agak seram seperti apa jadinya kalau terjatuh ke air.

"Romantis... ya?"

"Iya... rasanya sangat tenang dan syahdu."

Suara air yang mengalir tenang terasa sangat menenangkan. Jika aku memejamkan mata, rasanya seperti sedang memakai earphone dan mendengarkan ASMR suara air.

"Kai-kun, mau coba melewati kolong jembatan itu?"

"Oh, boleh juga."

Aku memutar arah kapal menuju jembatan yang bentuknya melengkung. Kalau aku berdiri, sepertinya aku bisa menyentuh bagian bawah jembatan, tapi tentu saja aku tidak punya cukup keberanian untuk melakukan hal berbahaya seperti itu.

"Satu, dua... pelan-pelan lewat sini."

"Kai-kun pintar mendayung."

Hehe, serahkan saja padaku! Dengan kontrol kapal yang bahkan membuatku kaget sendiri, kami melewati bawah jembatan secara perlahan. Saat aku mendongak, aku melihat sebuah tanda berbentuk hati di sana.

"Tadi itu, kamu lihat bentuk hati?"

"Iya, aku lihat."

Sepertinya Saika juga melihatnya. Itu pasti bukan sesuatu yang terbentuk secara tidak sengaja. Tanda hati yang hanya terlihat saat melewati bawah jembatan dengan kapal... benar-benar romantis, sampai-sampai aku sedikit tersenyum sendiri.

"...Fuuuh."

"Lelah?"

"Sedikit."

Aku melepaskan dayung dan memutar bahuku sedikit. Wah, sepertinya besok lenganku bakal pegal-pegal. Menyedihkan memang, tapi biasanya kalau menggunakan otot yang tidak biasa dipakai, hari berikutnya pasti sakit. Tapi jika dipikir ini setimpal dengan waktu yang kuhabiskan bersama Saika, pegal-pegal adalah harga yang murah.

Setelah beristirahat sejenak, kami kembali ke dermaga.

"Saika."

"Iya... ah."

Saat hendak turun dari kapal, Saika kehilangan keseimbangannya. Karena tidak ingin terjadi sesuatu pada Saika, tubuhku bergerak lebih cepat daripada otakku. Aku mengulurkan tangan menopang tubuh Saika, dan dengan sedikit paksaan, aku menariknya ke dalam pelukanku.

"Kamu tidak apa-apa?"

"I-iya... nnh."

Petugas dermaga sempat berlari mendekat karena panik, tapi kami segera memberitahunya bahwa kami baik-baik saja lalu pergi dari sana dan duduk di bangku di bawah pohon yang rindang. Aku terus memperhatikan kondisi Saika selama kami berjalan ke sini, tapi sepertinya dia tidak mengalami luka atau sakit di mana pun, jadi aku bisa merasa lega.

"Yah, meskipun tidak terbiasa, tapi tadi seru juga ya."

"Begitu? Kalau kamu merasa begitu, aku senang."

"Aku benar-benar senang sudah datang. Terima kasih ya, Saika... sudah mengajakku."

"Tidak, justru aku yang berterima kasih, Kai-kun. Karena aku merasa benar-benar tidak ingin kalah."

"Tidak ingin kalah?"

Apa maksudnya? Karena penasaran, aku menatap Saika lekat-lekat. Sambil terlihat malu-malu, dia pun memberitahuku.

"Itu... Kai-kun, kamu pernah menginap di rumah Matsuri-san, kan?"

"...Eh?"

"Aku mendengarnya saat menelepon Matsuri-san. Dia bilang itu sangat menyenangkan, dia bilang kamu menunjukkan sisi kerenmu... dia terdengar sangat bahagia."

".................."

Be-begitu ya... rupanya Matsuri menceritakannya pada Saika. Bukannya aku melarangnya bercerita, dan sekarang Matsuri maupun Saika sudah bisa dibilang sebagai sahabat dekat, jadi tidak aneh kalau mereka saling bercerita hal seperti itu.

"Mendengar itu, aku juga jadi ingin melakukan sesuatu bersamamu, Kai-kun. Karena ini libur musim panas, kita tidak bisa bertemu di sekolah... makanya aku mengajakmu hari ini."

"Jadi begitu alasannya."

"Iya... Hei Kai-kun. Tadi kita melewati kolong jembatan, kan?"

"Ya."

"Terus kita melihat tanda hati, kan? Sebenarnya jembatan itu punya legenda kecil."

"Legenda?"

"Katanya, dua orang yang melewati kolong jembatan itu dengan kapal akan bersatu... begitulah legendanya."

"!"

Mendengar kata-kata yang tak terduga itu, aku refleks menatap Saika. Dia menatap ke arah jembatan untuk beberapa saat, lalu mengalihkan pandangannya padaku sambil tersenyum tipis.

"Aku menyukaimu, Kai-kun."

".................."

"Aku menyukaimu sebagai seorang pria... aku ingin terus bersamamu mulai sekarang. Aku ingin berbagi waktu dengamu selamanya."

Kata-kata Saika meresap masuk ke dalam kepalaku dengan begitu lancar. Biasanya saat mendengar sesuatu yang sulit dipercaya, seseorang akan bertanya balik untuk memastikan... tapi kali ini aku tidak melakukannya, karena aku tahu bahwa kata-kata Saika bukanlah sesuatu yang mengejutkan.

"Maaf ya menyampaikannya secara tiba-tiba? Tapi, mengingat interaksi kita selama ini, kurasa ini sudah tidak mengejutkan lagi."

"Benar... juga ya."

"Makanya kupikir tidak apa-apa jika aku mengatakannya. Tetap bersama dalam hubungan yang sekarang pun tidak buruk, dan karena Kai-kun juga bilang ingin terus bersama... aku tahu kita akan terus bersama. Tapi tetap saja, aku merasa ingin menyampaikan perasaanku."

".................."

Itu benar-benar sebuah pengakuan yang jujur dan apa adanya. Aku memejamkan mata seolah ingin meresapi setiap kata dari Saika. Karena merasa tenggorokanku kering, kuminum jus yang sudah kubeli sebelumnya.

"...Fuuuh."

Setelah itu, aku mengambil napas dalam-dalam beberapa kali, lalu baru membuka suara.

"Terima kasih ya, Saika. Aku sangat senang... benar-benar senang."

Benar... aku sangat senang. Aku senang, tapi saat ini, menyedihkannya ada sisi dalam diriku yang merasa tidak bisa langsung mengangguk setuju atas kata-kata itu. Serius deh, kenapa sih aku punya kegalauan seperti ini? Meski dibilang galau pun ini terlalu mewah, tapi begitu berada di posisi ini, rasanya sulit dan membuat kepalaku sakit.

"Dari posisimu, ini sulit, kan? Aku bisa tahu hanya dengan melihat ekspresimu itu... karena baik aku, Matsuri-san, maupun Emu-chan, kami semua menyukai Kai-kun. Kami semua telah diselamatkan olehmu... baik raga maupun jiwa kami."

".................."

"Kalau tidak ada Kai-kun, kami mungkin tidak akan ada di sini... kamu sudah melakukan sebanyak itu untuk kami. Karena itu, maafkan aku ya, Kai-kun."

"Eh?"

"Aku akan mengatakan sesuatu yang akan makin membuatmu kesulitan, ya? Termasuk aku dan juga Matsuri-san, sepertinya kami tidak bisa apa-apa tanpa Kai-kun. Kami sudah tidak ingin lepas darimu lagi."

Tidak bisa apa-apa tanpaku... ya.

Kurasa ini bukan sekadar kata-kata manis belaka... Nah, apa jawaban yang paling tepat?

Jujur saja, aku sudah memikirkan banyak hal. Sampai sekarang pun aku belum menemukan jawaban yang pasti, tapi... yah... terus diam saja juga tidak jantan.

Meski apa yang akan kukatakan ini juga memalukan, sepertinya tidak ada salahnya jika aku memintanya untuk mendengarkanku kali ini.

"Hei Saika... boleh aku bicara?"

"Boleh."

"Aku... menyukai kalian semua."

Menyukai kalian semua... pada akhirnya, hanya jawaban itu yang bisa kutemukan.

Perasaanku yang bilang ingin terus bersama Saika dan yang lainnya itu bukan bohong. Aku benar-benar ingin terus bersama kalian... jika itu disebut sebagai hubungan yang spesial, maka aku memang menginginkannya dengan kalian bertiga.

"Aku... jadi menyukai kalian semua."

"...Fufu, begitu ya."

Hubungan kami sudah terlalu dekat untuk disebut sebagai teman biasa. Memang benar aku pernah berpikir ingin berbuat sesuka hati pada mereka dengan kekuatan Partner, dan aku ingin mencapai puncak dari hasratku.

Malah aku sempat bersemangat membayangkan betapa asyiknya jika aku punya hubungan semacam itu dengan mereka bertiga, itu kan namanya harem.

Tapi kenyataannya... aku tetap tidak melewati batas minimal, dan sepertinya aku hanya ingin mempertahankan hubungan yang seperti biasa dengan mereka bertiga.

Tanpa ada yang berubah, karena jika tidak menjadi lebih dari ini, aku tidak perlu memikirkan hal-hal yang rumit... jadi sebenarnya, aku hanya menginginkan hubungan yang sekarang ini terus berlanjut.

"Jika kamu tidak membenci kami, aku sudah senang."

"Mana mungkin aku membenci kalian... bukan cuma Saika, aku juga jadi sangat akrab dengan Matsuri dan Emu... aku pun tidak ingin terpisah dari kalian bertiga, makanya aku mengatakannya dengan jujur saat kita di kolam renang dulu."

"Iya. Dan kami juga menjawabnya dengan jujur... aku sangat senang mengetahui Kai-kun merasakan hal yang sama, sampai-sampai hari itu aku tidak bisa tidur untuk waktu yang lama."

Aku juga mirip-mirip begitu, kok.

"...Jawabannya sudah diputuskan... kurasa begitu. Tapi ini sulit ya... sial."

Satu jawaban sebenarnya sudah keluar... tidak ada jawaban lain. Tapi alasan kenapa aku tidak mengucapkannya adalah karena sisa logika dalam diriku, dan rasa takut apakah ini benar-benar tidak apa-apa.

"Aku bisa menunggu selamanya. Karena kami semua menyukai Kai-kun—jawaban apa pun itu, kami pasti akan menerimanya."

"...Serius deh, kalian ini benar-benar terlalu berharga untuk orang sepertiku."

"Itu karena kami punya daya tarik yang bisa membuatmu bicara begitu. Dan Kai-kun pun, punya daya tarik yang sama."

"Begitu ya... haha, aku senang mendengarnya."

Partner... serius deh, sepertinya kita sudah sampai di tempat yang luar biasa.

Sudah kukatakan berkali-kali, padahal awalnya aku adalah orang bejat yang ingin menggunakan Partner demi membangun surga dunia.

"Saika."

"Apa?"

"Aku akan segera memberikan jawabannya... karena aku memang ingin melakukannya."

"Aku mengerti."

Begitulah, percakapan itu pun berakhir untuk sementara, dan kami mulai berjalan kembali. Begitu mulai berjalan, kami saling menggenggam tangan.

Di saat seperti ini, sebenarnya aku juga senang kalau dia menggandeng lenganku, tapi mungkin karena cuaca panas dan tangan kami sedikit berkeringat, Saika menahan diri.

"Meski aku membuatmu kesulitan, tapi untuk saat ini aku memimpin, kan? Karena menyampaikan perasaan dengan jelas di awal itu akan selalu membekas di ingatan."

"...Jangan-jangan karena itu, jadi begini?"

"Eh?"

"Maksudku... rasanya jarak kita sekarang jadi jauh lebih dekat dari biasanya."

"Iya. Soalnya aku tidak perlu menahan diri lagi."

Sepertinya dugaanku benar, jarak kami terasa jauh lebih dekat setelah pembicaraan tadi. Sisa waktu kencan kami habiskan dengan melupakan hal-hal sulit sejenak dan bersenang-senang.

Waktu berlalu dan di dalam kereta saat perjalanan pulang, sepertinya Saika kelelahan karena dia tertidur dengan bersandar di bahuku.

Aku menatap wajah tidurnya yang imut sambil merenungkan kejadian hari ini.

"Aku... harus bicara dengan semuanya."

Sambil menggenggam tangan Saika yang terlelap, aku pun membulatkan tekad.

Aku tidak akan memberikan kepura-puraan atau jawaban yang setengah-setengah... meskipun itu bukan jawaban yang dianggap benar oleh dunia, aku akan memberikan jawaban dengan kata-kata yang sudah kupikirkan matang-matang.

Karena itulah bentuk pertanggungjawabanku, dan juga bentuk dari keinginanku.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close