NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Te ni Ireta Saimin Appli de Yume no Harem Seikatsu o Okuritai Volume 1 Chapter 6

Chapter 6

Target Berikutnya adalah Si Gadis Biasa!


"........."

"........."

Di hadapanku, Agatsuma masih terduduk hanya dengan mengenakan pakaian dalam.

Memang tidak salah lagi kalau pandanganku tercuri oleh tubuh indahnya yang membuatku ragu apakah dia benar-benar seorang siswi SMA... tapi lebih dari itu, memar-memar yang terlihat di tubuhnya tampak sangat menyakitkan.

"...Serius, apa-apaan ini."

Menyusul Aisaka, Agatsuma pun ternyata memiliki masalah yang cukup pelik.

Jangan-jangan, semua orang di kota yang kujadikan eksperimen hipnosis ini... tidak, tidak, kalau memang begitu, berarti tingkat keberuntunganku sudah tidak waras dan Jepang modern sudah di ambang kehancuran.

"Padahal di depanku ada tubuh wanita kelas atas... tapi kok malah begini, ya."

Untuk sementara, mari coba tanyakan beberapa hal.

"Apakah ada kekerasan seksual atau semacamnya...?"

"Kalau yang itu masih belum apa-apa."

"Masih... ya."

Dari cara bicaranya, apa itu berarti hal itu bisa terjadi kapan saja?

Aku masih bocah, jadi aku tidak mengerti perasaan orang dewasa yang sudah punya anak... tapi aku bisa menegaskan bahwa orang tua yang menyerang putrinya sendiri adalah sampah.

Yah, sebelum sampai ke kekerasan seksual, melakukan kekerasan fisik saja sudah membuktikan kalau dia itu bajingan.

"Agatsuma, mendekatlah sedikit lagi."

"Eum."

Aroma manis menguar dari Agatsuma yang mendekat ke arahku.

Aromanya berbeda dengan milik Aisaka, tapi ini membuatku merasa seolah sedang menghirup wangi bunga. Singkatnya, ini wangi yang enak.

Mataku tentu saja tercuri oleh dadanya yang lebih besar dari milik Aisaka saat bergoyang, tapi aku menempelkan tangan ke dahinya dan menyingkap poni rambutnya.

"Di balik rambut yang menutupi ini... apa-apaan. Ternyata wajahmu sangat cantik."

Hanya saja, aku merasakan kesan seolah dia sedikit kurang beruntung... yah, mengingat situasinya sekarang, perasaan itu pasti tidak salah.

"...Sayang sekali kalau begini."

Meski tanpa menghitung fakta bahwa dia menyembunyikan matanya dengan poni panjang dan sedang dalam kondisi linglung karena hipnosis, aku sama sekali tidak merasakan ambisi atau semangat dari Agatsuma.

Bisa dibilang hal inilah yang merusak segalanya dari Agatsuma, dan sepertinya hal itu juga berperan dalam menciptakan ekspresi wajah yang gelap dan suram.

"Sejak kapan kekerasan itu dimulai?"

"Sejak jadi siswi SMA... awalnya ringan, tapi belakangan ini sampai meninggalkan bekas seperti ini."

"...Kamu terus menahannya sendirian?"

"Iya. Karena tidak ada orang yang bisa diandalkan."

"........."

Perasaan ini... pernah kurasakan saat bersama Aisaka juga.

Di balik keseharianku yang menyenangkan bersama keluarga dan teman-teman, ada orang-orang seperti Aisaka dan Agatsuma yang menjalani hidup yang berat.

Tentu saja masalah seperti ini meluap di berita televisi atau internet... tapi aku benar-benar tidak pernah berpikir bahwa hal ini bisa terjadi begitu dekat denganku.

"........."

Lucu sekali aku yang berniat berbuat seenaknya dengan kekuatan Si Sobat malah merasa simpati begini... tapi, tapi 'kan... ah, sudahlah!

Aku menggaruk-garuk kepalaku dengan kasar.

Mendapat kekerasan dari keluarga... perasaan seperti apa itu?

Orang tuaku sangat menyayangi aku dan kakakku, dan aku tidak pernah sekalipun merasa dianggap pengganggu... itu artinya aku sangat diberkati dengan keberadaan keluargaku.

Bagi anak-anak, orang tua seharusnya menjadi sosok terdekat yang paling bisa diandalkan... mendapatkan kekerasan dari sosok seperti itu pasti rasanya sangat menyakitkan.

"...Apa kamu pernah berpikir untuk mati?"

Itu adalah pertanyaan yang kuajukan dengan ragu-ragu.

Aku tidak mungkin menanyakan hal seperti ini kepada Agatsuma yang asli, tapi karena saat ini dia sedang dalam kondisi jujur dan ingatannya tidak akan tersisa, aku bisa menanyakannya.

Agatsuma menjawab tanpa jeda sedikit pun.

"Tidak ada yang bisa diandalkan, tidak ada yang mau menolong. Aku sering berpikir, apa sebenarnya nilai diriku. Aku merasa akan lebih tenang jika aku menghilang saja sekalian."

Agatsuma berkata demikian sambil menunduk.

Sepertinya dia tidak berniat melakukannya dalam waktu dekat, tapi jika ada satu dorongan lagi, Agatsuma pasti akan mengakhiri hidupnya sendiri... kerapuhan seperti itu terasa di setiap kata-katanya, membuatku mengembuskan napas panjang karena lelah.

"Kalau tidak mengandalkan siapa pun, ya tidak akan ada bantuan..."

Mengatakan hal seperti itu mungkin karena aku adalah orang luar yang tidak tahu penderitaannya.

Tapi benar juga... mungkinkah penyebab kegelapan Agatsuma adalah kekerasan yang diterimanya, dan hal itu bertemu dengan cara yang paling buruk hingga menciptakan kesepian di sekolah, yang berujung pada Agatsuma yang sekarang, yang bahkan tidak bisa mencari teman.

"...Hanya saja."

"Hm?"

"Kakek dan nenek dari pihak ayah memperlakukanku dengan baik. Tapi di saat yang sama, mereka juga sangat menyayangi ayah, jadi kalau mereka tahu ayah melakukan kekerasan, mereka pasti akan sedih. Karena itu, aku tidak ingin merepotkan mereka."

"...Begitu, ya."

Dilema, ya.

Meskipun dia bilang tidak ada yang bisa diandalkan, ternyata dia punya orang yang bisa diandalkan... namun jika dia mengandalkan mereka, itu juga akan membuat mereka sedih.

Aku nyaris saja mengatakan bahwa dia seharusnya tidak perlu mempedulikan hal itu dan katakan saja demi melindungi diri sendiri, tapi aku menahan diri.

(Tapi benar juga... mungkinkah Agatsuma juga berpikir bahwa jika dia menceritakan hal ini, kakek dan neneknya justru lebih membela ayahnya daripada dirinya dan malah berbalik menjadi musuh?)

Memikirkan hal itu, aku tidak bisa mengucapkan kata-kata yang tidak bertanggung jawab.

"Sial... ini masalah yang terlalu sulit untuk seorang pelajar biasa."

Aku kembali menggaruk-garuk kepalaku.

Masalah penganiayaan itu akarnya sangat dalam. Aku pernah membaca di suatu tempat bahwa melapor ke polisi pun belum tentu menyelesaikannya, malah bisa memperburuk keadaan atau bahkan laporannya ditolak mentah-mentah.

Memang tidak semuanya begitu, tapi... ah, sial, kenapa aku yang masih SMA harus pusing memikirkan hal semacam ini.

"Belakangan ini, Ibu sama sekali tidak pulang... Ayah biasanya pulang telat, tapi dia selalu pulang dalam keadaan mabuk dan terlihat emosi."

"Makin didengar, makin hancur saja keluargamu."

Saat itu, ponsel Agatsuma berdering.

Setelah aku memerintahkannya untuk mengangkat telepon itu, Agatsuma mengangguk dan mulai berbicara.

"Iya... iya... mengerti... kalau begitu."

"Dari suasananya, apa itu ayahmu?"

"Iya. Katanya hari ini dia tidak pulang."

"Oho."

Keluarga yang tidak pulang... itu seharusnya adalah hal yang menyedihkan, tapi aku merasakan semacam rasa lega dari Agatsuma.

(Sial... mungkin karena aku bukan orang yang mengalaminya sendiri, jadi aku bisa menganggapnya enteng. Aku merasa kasihan, tapi aku tetap tidak mengerti sampai ke tahap apa yang dipikirkan Agatsuma.)

Antara orang yang bahagia dan orang yang tidak, jarak perasaan yang ada di antara keduanya pasti sangat besar.

Meski begitu, dari telepon tadi, sudah jelas tidak akan ada yang pulang.

Kalau begitu, aku bisa berbuat sesuka hatiku sepuasnya. Untuk sesaat ini saja, aku akan membuang hati nuraniku dan menjalankan tujuan utamaku.

"E-etoo... untuk sekarang, bisa peluk aku dari belakang lagi?"

"Dimengerti."

...Haa, pada akhirnya aku tetap tidak punya keberanian untuk meraba sendiri.

Sesuai instruksi, Agatsuma pindah ke belakangku, lalu memelukku sambil menempelkan gundukan montoknya yang kenyal itu ke punggungku.

"Oooh... emang luar biasa."

Soal meraba atau tidak, atau menyentuh sendiri atau tidak, mungkin itu sudah pemikiran kuno.

Zaman sekarang itu masanya muni-muni di punggung dan muni-muni di lengan, tahu.

(Aku sama sekali... sama sekali bukannya sedang pura-pura tidak melihat kepicikan diriku yang tidak berani menyentuh sendiri! Benar-benar bukan, lho!!)

Aku merasa seolah sedang meneteskan air mata sebagai bayaran untuk mencapai kebenaran ini, tapi kalau dipikirkan, aku kalah.

Waktu dan daya baterai ponsel masih sangat cukup... Nah, kalau begitu, kali ini aku akan minta dipeluk dari depan!

"Boleh aku minta dipeluk dari depan kali ini?"

"Boleh."

Kali ini Agatsuma datang tepat di hadapanku, lebih dekat dari sebelumnya.

Dia duduk di antara kedua kakiku yang sedang bersila, lalu memelukku dari depan seolah menempelkan seluruh tubuhnya kepadaku.

Karena posisi wajahku dan dia hampir sejajar, aku bisa melihat dengan jelas dadanya yang besar itu berubah bentuk karena tertekan ke dadaku.

"Oooh... Ooooh!"

Ini luar biasa, aku terpesona oleh pemandangan indah yang membentang di depan mataku.

Kalau dipikir-pikir, saat dipeluk Aisaka, dia masih memakai seragam, jadi aku belum pernah melihatnya sedekat ini secara langsung... Hm, lain kali aku harus melakukan hal yang sama pada Aisaka.

"Agatsuma, kamu yang terbaik!"

"Apa hal seperti ini membuatmu senang?"

"Senang banget!"

Dari situ, selama sekitar tiga puluh menit, aku terus menikmati tubuh Agatsuma.

Tentu saja selama itu, bagian yang kusentuh sendiri paling-paling hanya bahunya saja. Untuk bagian yang sangat ingin kusentuh, aku mengarahkannya agar Agatsuma sendiri yang melakukannya, dan sekali lagi aku menyadari betapa lemahnya tekadku.

"...Tadi itu hebat banget."

Bukan hanya wajahnya yang cantik dan bentuk tubuhnya yang luar biasa yang selama ini tersembunyi, tapi juga kulitnya yang bersih dan mulus—jika mengabaikan aroma dan memarnya—benar-benar sesuatu yang mengagumkan.

Meskipun masih bersemangat, aku yang sudah merasa puas dan memasuki semacam Wise Man Mode, meminta Agatsuma memakai bajunya kembali dan memintanya memeluk lenganku.

"Ah~... ini bahaya banget."

Aku pernah memikirkannya saat bersama Aisaka, tapi hanya dengan begini saja aku sudah merasa bahagia.

Sensasi dan perasaan nyaman ini terlalu manis... Ini seperti narkoba yang sekali dirasakan, tidak akan pernah bisa dilepaskan.

"Meskipun aku belum pernah punya atau memakai narkoba, sih."

"Eh?"

"Bukan apa-apa... Hei, Agatsuma?"

"Apa?"

"Itu... kamu tidak sengaja, 'kan?"

"??"

Yang kumaksud dengan 'itu' adalah bagian di mana dia memeluk lenganku.

Aku memintanya melakukan ini karena aku ingin merasakan sensasi dadanya di lenganku, tapi Agatsuma memeluk lenganku seolah-olah menjepitnya di antara kedua payudaranya.

Agatsuma memiringkan kepalanya, jadi ini pasti tidak disengaja... Kalau begitu, mungkinkah Agatsuma secara potensial sebenarnya sangat mesum?

"...Ternyata anak yang tipe begini malah lebih erotis ya. Dugaan kembarku tidak salah."

Menyusul Aisaka, aku merasa bangga pada diriku sendiri karena telah menemukan permata seperti Agatsuma.

Karena itulah, aku tidak boleh membiarkannya berpikir untuk menghilang.

Aku meminta Agatsuma melepaskan lenganku, lalu aku menaruh tanganku di bahunya dan menariknya mendekat.

"Ah..."

Agatsuma tampak terkejut, tapi tentu saja dia tidak lari.

Aku menatap balik matanya yang tanpa cahaya itu secara langsung, dan menyampaikan apa yang ada di pikiranku.

"Kamu tadi bilang soal nilai dirimu atau apa tadi, 'kan? Sekarang, aku sangat senang bisa menghabiskan waktu dengan Agatsuma seperti ini, dan aku sangat bergairah. Aku sadar aku mengatakan hal yang brengsek, tapi izinkan aku mengatakannya—bagiku, nilai Agatsuma itu luar biasa, tidak ada kata lain selain itu."

Aku mengatakannya dengan ekspresi wajah yang mantap... tapi kalau dipikir dengan tenang, ini sama saja dengan aku bilang dia punya nilai hanya karena aku menyukainya.

Dan kata-kataku masih belum berhenti.

"Ini kata-kata yang benar-benar keji, tapi serius, Agatsuma itu hebat. Kamu punya tubuh yang luar biasa begini, dan kamu sudah membuat jantungku berdebar serta membuatku senang, tahu? Jadi, jangan cepat-cepat menghilang—kalau kamu terus berpikir tidak punya nilai, maka hiduplah untukku."

"Untuk... Masaki-kun?"

"Ya! Karena aku akan menganggapmu penting!"

"Aku... penting...?"

Makin didengar, makin brengsek saja diriku ini.

Tapi repotnya, ini adalah perasaanku yang sejujur-jujurnya, dan jika bisa, aku ingin terus berbuat sesuka hatiku kepada Agatsuma selamanya!

"Penting... aku... penting..."

Agatsuma menunduk sambil terus bergumam berkali-kali.

Karena dia dalam kondisi terhipnosis, itu agak sedikit menakutkan, tapi saat ini aku sedang sangat bersemangat dan jauh lebih sombong dari biasanya, jadi kami berdua sama saja.

"Saat hipnosis ini lepas, Agatsuma mungkin tidak akan ingat apa-apa, tapi aku tetap akan mengatakannya. Jangan berpikir yang macam-macam, ya? Aku tidak tahu seberapa jauh aku bisa bertindak, tapi aku akan mencoba melakukan sesuatu."

Yah, ini sama saja seperti kasus Aisaka.

Sebagai balasan karena aku sudah berbuat cabul dan mengetahui kegelapan gadis ini setelah mendekatinya, aku akan memberikan imbalan atas apa yang telah dia lakukan untukku.

"Aku akan menolongmu, Agatsuma."

"---"

"Jadi setelah itu, teruslah hibur aku."

Aku tidak bisa menjamin pasti bisa melakukannya, tapi tetap saja, jika masalah ini bisa diselesaikan dan perasaanku menjadi lega, aku pasti bisa berbuat sesuka hati dengan tenang seperti yang kulakukan pada Aisaka.

"Jadi, jangan lakukan hal yang tidak bisa ditarik kembali."

Eum... apa aku harus mengelus kepalanya juga?

Sambil berpikir tidak apa-apa karena dia sedang terhipnosis, aku mengelus kepala Agatsuma.

"...Halus banget. Rambut hitam yang cantik."

Rambut wanita itu benar-benar indah ya.

Rambut berwarna terang milik Aisaka tentu saja indah, tapi kehalusan rambut hitam Agatsuma yang panjangnya sampai ke pinggang ini menunjukkan bahwa dia sangat merawatnya.

"Beda jauh sama rambutku yang jabrik... eum?"

Agatsuma yang kupeluk bahunya terus menunduk, tapi di sana aku menyadari bahwa tubuhnya gemetar.

Saat aku mengintip wajahnya karena khawatir apa yang terjadi... dia menangis.

Aku sempat berpikir apakah dia sebegitu tidak sukanya dan berniat menjauh, tapi karena Agatsuma menumpuk tangannya di atas tanganku dan menggenggamnya, aku berpikir mungkin dia bukannya tidak suka, melainkan merasa senang.

"Jangan menangis. Nanti kamu kaget sendiri kenapa matamu merah, lho."

Aku mengeluarkan sapu tangan dan menyeka matanya, lalu saat itu aku tersentak melihat ponselku.

"Gawat, tinggal lima persen lagi!"

Bahaya, bahaya... kalau aku tidak sadar tadi, bisa kacau.

Saat aku menjauh dari Agatsuma dan mengambil barang-albarangku... Agatsuma bergumam pelan.

"...Mau pulang?"

Meskipun ekspresinya datar, kata-kata yang diucapkan dengan nada kesepian itu membuat langkahku terhenti.

Mendengar hal itu membuatku ingin bilang kalau aku tidak jadi pulang, tapi kalau aku tetap di sini, hidupku bisa berakhir, jadi itu mustahil.

"Aku akan kembali berbuat sesuka hati kepadamu nanti, jadi tenang saja. Dan aku katakan sekali lagi, jangan berpikiran pendek, ya? Aku pasti akan melakukan sesuatu... jadi tenanglah, Agatsuma."

"...Eum."

Serius, di posisi apa sih aku sampai berani bicara begitu.

Agatsuma yang seolah ingin mengulurkan tangan padahal aku baru menjauh sedikit itu terasa sangat manis.

Di saat yang sama aku tidak tahu kenapa dia bisa se-bersahabat ini, tapi bagiku ini malah menguntungkan, jadi tidak masalah.

Aku keluar dari rumah, berjalan sebentar, lalu melepas hipnosisnya dan menarik napas lega.

"Tubuh Agatsuma... hebat banget ya. Apa aku tidak bisa berbuat sesuka hati bersama Aisaka sekaligus?"

Memang ini hal yang pasti terpikirkan.

Kekuatan Si Sobat bisa diaktifkan dengan target sampai tiga orang... Menghipnosis Aisaka dan Agatsuma sekaligus, lalu membuat mereka berdua memelukku di kedua sisi seperti seorang raja yang memiliki harem... Kuuuh, imajinasiku tidak bisa berhenti!

"...Lagi ngapain sih dia."

"Entahlah... Hei, ayo cepat pergi."

Aku yang sedang menyeringai sendiri itu ternyata dilihat jelas oleh seorang siswi SMP yang lewat.

Ditatap seperti melihat orang berbahaya membuatku langsung merasa malu dan bergegas mempercepat langkah pulang.

◆◇◆

Setelah selesai mandi dan makan malam, aku berbaring di tempat tidur kamarku sambil melihat foto-foto yang tersimpan di ponsel.

Di foto itu ada Agatsuma dan kedua orang tuanya.

Itu adalah foto yang kuambil langsung dari foto yang tersisa di sana atas permintaanku pada Agatsuma. Soalnya, tahu wajah mereka atau tidak itu membuat perbedaan besar.

"Tapi tetap saja kekerasan... penganiayaan, ya. Meskipun itu topik yang tidak pernah habis di berita, itu benar-benar salah satu masalah sosial."

Bukan hanya pada anak yang sudah cukup besar, aku juga sering melihat berita tentang bayi yang baru lahir dipukul sampai mati.

Bagi aku yang tidak pernah bersentuhan dengan lingkungan seperti itu, hal itu terasa seperti dunia yang jauh, tapi memang benar bahwa Agatsuma yang berada di dekatku sedang menjadi korbannya.

"...Meskipun dalam kondisi hipnosis, aku juga melihat air mata Agatsuma."

Sama seperti saat bersama Aisaka... aku mendekati Aisaka dan Agatsuma karena aku ingin berbuat cabul sesuka hatiku.

Aku ingin meraba payudara, ingin membenamkan wajah di dada telanjang mereka, bukan dari balik baju.

Aku ingin melakukan hal-hal yang lebih agresif, dan jika mereka menuruti perintah apa pun, aku ingin melakukan hal-hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata... Pada akhirnya hal itu belum kulakukan, tapi intinya aku hanya ingin melakukan hal-hal seperti yang ada di manga yang kubaca selama ini.

"Habisnya, aku telanjur berpikir ingin melakukan sesuatu."

Bukan hanya masuk ke rumah orang tanpa izin, aku juga memaksakan keinginanku kepada mereka tanpa mempedulikan kemauan mereka sendiri... Atas dasar itu, aku menganggap diriku brengsek.

Aku tidak peduli apa yang terjadi pada dia... pada mereka.

Seandainya aku bisa memisahkan perasaan dan hanya menikmati tubuh mereka secara murni, betapa tenangnya hidupku—setidaknya, sepertinya aku tidak bisa menjadi sebrengsek itu.

Yah sudahlah, mari rapikan situasinya untuk sementara.

"Kalau kakek dan nenek Agatsuma menyayanginya, aku yakin mereka akan bisa membantu... Jika tidak, aku terpaksa menggunakan cara kasar, tapi menurutku dari sudut pandang kakek-nenek, keberadaan cucu itu pasti sangat disayangi."

Kenyataannya, keluargaku pun begitu... meskipun mereka sudah meninggal karena sakit, mereka sangat menyayangi aku dan kakakku, bahkan rela datang jauh-jauh saat hari ulang tahun kami.

"...Eh, kenapa aku jadi merasa melankolis begini."

Pokoknya!

Sambil memikirkan cara untuk menyambungkan hubungan dengan kakek-nenek Agatsuma... terlepas dari hari ini, yang terpenting adalah mengungsikan Agatsuma dari ruang itu mulai besok.

Aku sudah memeras otak untuk memikirkan alurnya, dan pasti akan baik-baik saja... Jangan merasa cemas, katakan pada diriku sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja... Apalagi aku punya Si Sobat di sisiku.

"Pasti bisa... pasti."

Pertama-tama besok, persiapan tahap pertama dari rencana... lalu lusa kebetulan adalah hari Sabtu, jadi aku akan mempertaruhkan segalanya di sana.

"...Fuu, ke toilet dulu deh."

Aku bangkit dari tempat tidur, keluar kamar, dan menuju toilet.

Setelah merasa lega dan keluar dari toilet, aku berniat minum teh dingin dan turun ke ruang tengah, lalu melihat Ayah sedang menonton TV.

Setelah menuangkan teh ke gelas, aku berdiri di samping Ayah.

"Kai? Ada apa?"

"...Tidak."

Kenapa... aku mendatangi Ayah, ya.

Sambil menatap Ayah lekat-lekat, saat memikirkan orang tua Agatsuma yang diceritakannya, kata-kata meluncur begitu saja dari mulutku.

"Ayah."

"Ya."

"Apa pendapat Ayah tentang orang tua yang melakukan kekerasan pada anaknya sendiri?"

"Tiba-tiba sekali ada apa...? Yah, begitulah... Ayah rasa mungkin ada alasan tertentu kenapa mereka melakukan kekerasan, tapi setidaknya bagi Ayah, tindakan itu adalah hal yang paling rendah. Menyakiti sosok yang seharusnya paling dilindungi sebagai orang tua, bagi Ayah itu benar-benar tidak masuk akal."

Meskipun matanya membulat karena pertanyaan tiba-tiba itu, Ayah menjawab seperti itu.

Aku tersenyum kecil karena jawabannya sesuai dugaan, lalu mengatakan "Aku sayang Ayah" dan meninggalkan ruang tengah.

Ngomong-ngomong, di tengah jalan aku bertemu Ibu yang baru selesai mandi, dan saat menanyakan hal yang sama dengan yang kutanyakan pada Ayah, jawabannya pun sama... Aku pun mengatakan "Aku sayang Ibu" kepadanya.

"Aduh, Kai tumben banget sih~♪"

"Mugyah!?"

"Lagi apa?"

"Kai barusan bilang 'aku sayang Ibu' lho~♪"

"He~... buat aku tidak ada?"

"...Aku juga sayang Kakak."

"Bagus."

...Cepat biarkan aku kembali ke kamar woy!!

Meskipun aku sendiri yang memulainya, tapi tetap saja rasanya sangat malu. Tanpa peduli suara berisik yang kutimbulkan, aku berlari naik ke kamarku.

"...Ah, wajahku terasa panas."

Tapi yah... karena aku merasakan kehangatan itu, sepertinya aku bisa tidur dengan nyenyak hari ini.

Meskipun belum mengantuk, aku masuk ke tempat tidur dan memejamkan mata agar bisa bangun pagi besok... tapi aku tidak bisa tidur!

"...Aisaka dan Agatsuma tidak mau hilang dari pikiranku."

Ya, aku membayangkan mereka berdua dan jadi terlalu bersemangat sampai tidak bisa tidur.

Interaksiku dengan Aisaka yang terus membekas di ingatan, serta interaksiku dengan Agatsuma hari ini, bergantian muncul di benakku. Bahkan aroma dan sensasi sentuhannya pun kembali dengan jelas dan menyerangku dengan gairah.

"Ah, sudahlah! Apa aku ini monyet yang lagi kepanasan!?"

Pada akhirnya, aku baru benar-benar bisa tertidur sekitar satu jam setelah itu.

◆◇◆

Keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah lebih pagi dari biasanya.

Aku sudah menyelidiki bahwa Agatsuma adalah tipe siswi yang datang lebih awal ke sekolah. Karena itulah, meski aku tahu semuanya akan baik-baik saja, aku tetap ingin datang lebih awal untuk memastikan keadaan Agatsuma dengan mata kepalaku sendiri.

"Lho, Masaki-kun?"

"…… Oh, Aisaka."

"Selamat pagi."

"Selamat pagi."

Aisaka yang baru saja tiba menghampiriku yang sedang menyandarkan punggung di dinding koridor.

Ternyata hari ini Aisaka juga datang pagi, ya…… Mungkin dia penasaran kenapa aku ada di sini, karena setelah menaruh tasnya di kelas, dia langsung kembali lagi.

"Lagi apa?"

"Enggak…… cuma ada urusan sedikit."

"Sedikit?"

"Iya, sedikit."

Ah, tapi ini mungkin kesempatan yang bagus.

Salah satu hal yang ingin kulakukan hari ini terkait Agatsuma adalah meminta bantuan Aisaka.

"Aisaka, sebenarnya ada yang ingin kubicarakan."

"Apa? Bilang saja, apa pun itu."

…… Anak ini memang baik banget, ya.

Karena tidak ada orang lain di sekitar, suasana ini sangat pas untuk membicarakan rahasia. Tepat saat aku hendak mulai bicara, sosok Agatsuma muncul.

Seperti biasa, dia menunduk dengan aura suram yang menyelimutinya, tapi melihatnya tetap datang ke sekolah membuatku merasa lega.

"Tentang Agatsuma-san…… ada apa dengannya?"

"Sebenarnya yang ingin kubicarakan itu memang soal Agatsuma…… tapi apa yang akan kuceritakan sekarang, kalau bisa jangan sampai bocor ke orang lain, ya."

"Mengerti. Aku janji akan menjaganya, tidak akan kubilang pada siapa pun."

Sambil berkata begitu, Aisaka mendekatkan wajahnya.

Jaraknya sangat dekat sampai-sampai wajah kami bisa bersentuhan jika aku bergerak sedikit saja, membuat jantungku berdebar, tapi aku segera masuk ke inti pembicaraan.

"Agatsuma…… sepertinya dia sering mendapatkan kekerasan dari ayahnya."

"…… Serius?"

"Iya."

Tentang bagaimana aku bisa tahu soal itu, aku sudah berniat menjawabnya jika dia bertanya, tapi Aisaka tidak menanyakannya. Alih-alih bertanya, matanya langsung menampakkan rasa khawatir yang mendalam terhadap Agatsuma.

Sepertinya keputusanku untuk mengandalkan Aisaka memang tepat.

"Aku ingin melakukan sesuatu untuk Agatsuma, tapi pertama-tama aku ingin menyelamatkannya dari lingkungan itu. Jadi, meski cuma hari ini saja, kalau Aisaka tidak keberatan, apa kamu bisa membiarkan Agatsuma menginap di rumahmu?"

"Boleh banget."

"…… Bukannya mau meragukan, tapi apa tidak apa-apa langsung setuju begitu?"

Aku sampai terkejut karena dia setuju secepat itu…… Aisaka mengangguk sambil tersenyum.

"Tentu saja aku terkejut, tahu? Tapi karena ekspresi Masaki-kun terlihat sangat serius, aku tahu kamu tidak sedang berbohong. Sebagai teman, sudah sewajarnya aku mempercayai Masaki-kun."

"…… Terima kasih. Tapi Aisaka bukannya tidak berteman dengan Agatsuma, kan?"

"Benar sih. Aku cuma tahu namanya saja…… tapi karena sekarang aku sudah tahu masalahnya, aku ingin membantunya. Lagipula, aku senang kalau bisa berteman dengan orang yang sebelumnya tidak punya hubungan apa-apa denganku ♪"

"Begitu ya…… Aku tidak tahu harus bilang apa lagi selain terima kasih."

"Ahaha ♪ Serahkan saja padaku!"

Aisaka terasa begitu hangat sampai aku hampir merasa terharu.

Hanya saja…… bagi dia, seharusnya ada banyak hal yang ingin ditanyakan tentang kenapa aku bisa tahu soal Agatsuma, tapi Aisaka tidak bertanya.

Menanggapi keraguanku itu, dia hanya berkata singkat bahwa dia mempercayaiku.

"Kamu…… pasti gampang ditipu ya."

"Kurang ajar banget. Aku ini cuma mengikuti instingku saja, dan instingku bilang kalau suara Masaki-kun tidak berbohong."

Apa-apaan maksudnya suaraku…… tapi dipercaya seperti ini tetap saja membuatku senang.

"Untuk saat ini, tolong jangan bilang kalau kamu tahu ini dariku, dan jangan tanya langsung padanya apakah dia sedang dianiaya."

"Aku mengerti."

"Meskipun begitu, kalau kamu menyadari sesuatu saat bersamanya, tolong dampingi dia."

"Oke!"

Sip, dengan ini tempat pengungsian sementara untuk Agatsuma sudah aman.

Namun masalahnya adalah bagaimana cara menggiring Agatsuma agar mau menginap di rumah Aisaka…… Saat aku sedang melipat tangan sambil berpikir, Aisaka membusungkan dadanya dengan bangga dan berkata:

"Tolong jangan remehkan kemampuan komunikasiku, ya. Meskipun aku harus sedikit berbohong, aku pasti akan mengajaknya menginap. Tenang saja."

"…… Oke. Aku serahkan padamu."

Dengan ini, sisanya tinggal aku yang bergerak.

Aku sudah memikirkan soal polisi atau dinas sosial, tapi jika menyerahkannya pada mereka justru tidak menyelesaikan apa-apa atau malah memperburuk keadaan, itu adalah skenario yang paling tidak bisa kuterima. Bukannya aku tidak percaya, tapi rasanya terlalu berisiko jika hanya bergantung pada mereka.

"Fufu, Masaki-kun yang sedang berusaha menolong seseorang itu terlihat keren, ya."

"…… Bisa tolong ulangi sekali lagi?"

"Masaki-kun keren banget!"

Ah, fiks aku menang.

Tidak ada cowok yang tidak akan bersemangat saat dibilang keren oleh gadis cantik, setidaknya itu berlaku bagiku.

Pokoknya, persiapan untuk hari ini sudah sempurna.

Waktu berlalu dengan sangat cepat sampai akhirnya jam sekolah usai. Saat aku sedang terburu-buru merapikan barang, percakapan ini terdengar.

"Matsuri~? Hari ini ada acara?"

"Maaf ya~! Hari ini aku ada urusan penting! Lain kali saja, oke!"

"Oh begitu? Ya sudah."

"Makasih ya!"

Karena aku sudah memberitahu bahwa Agatsuma adalah tipe yang langsung pulang, Aisaka segera meninggalkan kelas setelah percakapan singkat itu.

Saat itu, dia memberiku kedipan mata seolah berkata 'serahkan padaku'.

"…… Oke. Aku percayakan padamu."

Dan aku pun melangkah menuju medan tempur yang sebenarnya, yaitu rumah Agatsuma.

Aku menunggu beberapa saat setelah tiba di rumah Agatsuma, tapi karena dia tidak kunjung pulang, sepertinya Aisaka berhasil melakukan tugasnya dengan baik.

Tepat saat aku mengucapkan terima kasih dalam hati kepada Aisaka, sosok yang kunantikan akhirnya muncul.

"Siapa kamu? Kenapa kamu ada di depan rumahku?"

Seorang pria mengenakan setelan jas—ayah Agatsuma.

Pria itu menatapku seperti melihat orang yang mencurigakan. Yah, kalau aku di posisinya, aku pasti akan memasang tatapan yang sama.

Soalnya di luar sudah gelap, kan? Dan dengarkan ini.

Sebenarnya aku sudah sampai di sini sesaat setelah sekolah usai, jadi aku sudah menunggu cukup lama.

Karena ini sudah lewat waktu sore, hari sudah mulai gelap…… Kalau tahu begini, seharusnya aku tanya Agatsuma jam berapa ayahnya biasanya pulang.

"Halo, aku bukan siapa-siapa yang penting…… bercanda deng. Aku satu sekolah dengan putri Anda."

"…… Itu terdengar sangat tiba-tiba."

Ada jeda sejenak, tapi ekspresinya tidak berubah.

Seperti yang kubilang tadi, karena di sekitar sudah gelap, aura pria ini yang terlihat seolah bisa saja memukul orang membuatku agak takut.

"Maaf atas ketiba-tibaannya. Aku akan langsung ke intinya saja—Anda melakukan kekerasan pada putri Anda, kan?"

Pertama, aku melontarkan serangan ringan.

Alisnya berkedut sedikit, tapi hanya itu. Pria itu menjawab dengan senyuman seolah sedang menyangkalnya.

"Mana mungkin aku melakukan kekerasan pada putriku sendiri? Itu namanya gagal jadi orang tua, kan…… Jangan-jangan anak itu bicara yang tidak-tidak padamu?"

Di akhir kalimat, nadanya sedikit lebih kuat dan ada kilatan kejengkelan di sana.

(Sial, menakutkan juga…… menakutkan sih, tapi keberadaan Si Sobat benar-benar sangat membantu.)

Aku tidak mau berurusan dengan orang dewasa seperti ini…… tapi fakta bahwa aku bisa berdiri dengan tegak di sini sepenuhnya berkat bantuan Si Sobat.

Baterai sudah penuh, kalau situasi gawat, tolong bantu aku ya, Sobat!

"Iya, aku mendengarnya langsung darinya. Ada memar-memar di tubuhnya, dan sepertinya Anda sudah membuatnya menderita dalam waktu yang cukup lama, kan? Bagaimana menurut Anda tindakan itu sebagai orang tua?"

Begitu aku berbicara dengan nada yang sedikit provokatif, pria itu akhirnya menunjukkan jati diri atau sisi kasarnya.

"Diam kamu, bocah brengsek."

"Ups."

Aku menghindari tangannya yang mencoba menjangkauku dengan gerakan yang tenang.

Ekspresi yang dia pasang tadi kini hilang, dan pria itu menatapku dengan tatapan tajam yang seolah ingin membunuhku.

"Orang luar tidak usah ikut campur. Terserah aku mau melakukan apa pada putriku sendiri."

"……………"

Kira-kira ekspresi seperti apa yang kupasang sekarang, ya?

Entah kenapa…… fakta bahwa orang dewasa yang seumuran dengan orang tuaku bisa mengatakan hal seperti itu membuat perasaanku campur aduk.

Mengingat Agatsuma yang lebih penakut dariku yang dulu tak punya kekuatan apa-apa, dan dia adalah seorang gadis, pasti dia sudah menahan rasa takut ini sendirian selama ini. Dia benar-benar malang.

"…… Fuu."

Aku tidak berniat menjadi pahlawan keadilan, dan tanpa kekuatan Si Sobat, aku tidak akan berdiri di sini.

Aku adalah pengecut dan pecundang yang menggunakan hipnosis pada gadis-gadis untuk berbuat sesuka hatiku, tapi jika orang sepertiku bisa menolong seseorang, itu bukan hal yang buruk.

"Yah, sudah cukup bicaranya. Mari kita selesaikan dengan cepat."

"Apa—"

"Hypnosis!"

Aku menggunakan kekuatan hipnosis dengan pose yang sama sekali tidak keren.

Aura dan raut wajahnya yang seolah ingin menyerangku langsung hilang, dan pria itu berubah menjadi boneka yang bisa kukendalikan sepenuhnya.

Aku mengoperasikan ponselku yang sedang menjalankan aplikasi Si Sobat dan mulai merekam.

"Apakah benar Anda melakukan tindakan kasar pada putri Anda?"

"Benar."

"Kenapa Anda melakukannya?"

"Karena dia jadi penghalang. Begitu masuk SMA biayanya makin mahal, kalau tidak disebut penghalang, lalu disebut apa lagi?"

"……………"

Aku sempat berpikir mungkin ada alasan tersembunyi, tapi kenyataan bahwa dia menyakiti putrinya hanya karena alasan pribadi yang egois membuatku mengembuskan napas panjang.

"Anda punya tanggung jawab sebagai orang tua, dan soal itu aku mungkin belum paham. Tapi itu bukan alasan untuk melakukan kekerasan pada putri Anda. Anak itu terus menahan kekerasan Anda…… dia terus terpojok, tahu? Sampai dia bertanya-tanya apa nilai dirinya."

"Mana ada nilai pada benda seperti itu…… Ah tidak, tubuhnya cukup bagus juga, mungkin tidak buruk kalau kuserang dan kuberi tahu nilainya sebagai seorang wanita."

…… Target yang terkena hipnosis Si Sobat tidak bisa berbohong.

Artinya, ini adalah kebenaran yang dia simpan, perasaan yang sejujur-jujurnya…… Aku tidak tahu apakah dia benar-benar akan melakukannya, tapi setidaknya itu bukan kata-kata yang boleh diucapkan orang tua kepada anaknya, bahkan sebagai lelucon sekalipun.

"Melihat Anda, aku jadi benar-benar sadar kalau aku sangat diberkati dengan keluargaku."

"Apa yang kau bicarakan? Semua orang tua pasti menganggap anak yang menghabiskan banyak uang itu menjengkelkan."

"Ha, mungkin Anda begitu, tapi keluargaku tidak."

Lagipula, membandingkannya saja sudah konyol.

Ayah dan ibuku adalah orang tua terbaik, dan kakakku yang merajuk karena aku tidak bilang 'aku sayang dia' juga anggota keluarga yang terbaik, bodoh.

"Apa istri Anda juga sama?"

"Mana kutahu, aku sudah tidak bicara dengannya selama bertahun-tahun."

Begitu ya, berarti ikatan keluarganya sudah benar-benar hancur total.

Meski keajaiban terjadi sekalipun, Agatsuma tidak akan pernah bahagia di bawah asuhan orang tua seperti ini…… luka di hatinya pun tidak akan pernah sembuh.

Benar-benar…… benar-benar menakutkan jika aku tidak menaruh minat pada Agatsuma dan tidak pernah tahu fakta ini selamanya…… jika tidak ada yang mengulurkan tangan padanya, entah apa yang akan terjadi.

"…… Fuu, sisanya aku akan tanya-tanya seperlunya, jadi jawablah."

Setelah itu, aku menyelesaikan segalanya, pergi dari sana, dan melepas hipnosisnya.

Dia mungkin menyadari Agatsuma tidak ada di rumah dan mencoba menelepon, tapi soal itu aku sudah menyerahkannya pada Aisaka.

Gadis itu bilang dengan sangat percaya diri agar aku mempercayainya, jadi pasti akan baik-baik saja.

"Tapi di saat seperti ini, aku jadi ingin punya kontak Agatsuma untuk menanyakan kabarnya. Meski sudah jadi akrab, sepertinya aku terlalu berharap banyak ya."

Kontak seorang gadis…… aku mau, sih.

"Oke, aku juga pulang deh."

Karena semua yang bisa kulakukan hari ini sudah selesai, sisanya besok…… aku akan membawa rekaman ini untuk menemui kakek dan nenek Agatsuma.

◆◇◆

Pada malam hari di saat Kai baru saja menyelesaikan tugasnya, Matsuri sedang berhadapan dengan Saika—yang ekspresinya masih terlihat kaku—di dalam kamarnya.

"E-eto…… terima kasih untuk hari ini, Aisaka-san."

"Sama-sama. Aku yang minta maaf ya tiba-tiba mengajakmu."

"Enggak kok, aku senang banget. Aku belum pernah pergi ke rumah orang lain seperti ini sebelumnya."

Mendengar kata-kata Saika, Matsuri mengangguk paham.

Dia mendekati Saika yang masih menunduk lesu, lalu sambil mengelus kepalanya, Matsuri teringat kembali saat dia mengajak Saika tadi.

'Agatsuma-san, mau main ke rumahku sekarang?'

Mendengar ajakan yang sangat langsung dan tiba-tiba itu, tentu saja mata Saika membulat terkejut.

Seperti yang dikatakannya pada Kai, Matsuri menggunakan keceriaan dan kemampuan komunikasinya untuk mengobrol dengan Saika hingga akhirnya bisa membawanya ke sini. Namun saat itu, Matsuri merasakan keinginan kuat dari Saika bahwa dia sedang tidak ingin pulang ke rumah.

(Masaki-kun memang kasih tugas yang sulit, ya. Meskipun aku bilang jangan remehkan kemampuan komunikasiku, sebenarnya aku lumayan cemas juga tadi.)

Mengajak orang yang sebelumnya tidak pernah berinteraksi sama sekali itu jarang terjadi, tapi untungnya situasi Saika yang sangat khusus ini justru memudahkannya.

"Agatsuma-san…… boleh aku panggil Saika saja?"

"U-um…… itu tidak apa-apa sih."

"Terima kasih! Sebagai gantinya, panggil namaku juga, ya?"

Aisaka Matsuri, yang oleh teman-temannya dijuluki monster komunikasi, dengan mudah masuk ke dalam hati sesama jenis lewat aura dan kata-katanya.

Membiarkan orang yang awalnya bukan siapa-siapa menginap di rumah itu sebenarnya tindakan yang nekat, tapi karena ada alasan di baliknya dan ini adalah permintaan dari Kai—orang yang belakangan ini selalu ada di pikirannya—dia jadi sangat bersemangat.

"Matsuri…… san?"

"Iya ♪ Mohon bantuannya ya, Saika!"

"Ah…… mohon bantuannya juga……"

Dengan saling memanggil nama, jarak antara Matsuri dan Saika pun langsung terkikis.

Senyum Matsuri sepertinya benar-benar membuat Saika merasa tenang, karena ekspresi kakunya tadi sudah mulai menghilang. Saika akhirnya terlihat mulai terbiasa dengan suasana di sana.

(Saika…… sepertinya dia sudah mulai sedikit rileks, ya?)

Jika benar begitu, Matsuri merasa senang. Dia pun terus mengajak Saika mengobrol tentang berbagai hal.

Setelah beberapa jam mengobrol dan menjadi cukup akrab, tiba-tiba Saika menunduk dan mengungkapkan penderitaan yang selama ini dia pendam.

"Matsuri-san…… aku…… aku tidak ingin pulang ke rumah itu."

Mendengar itu, Matsuri perlahan melingkarkan lengannya di punggung Saika dan menariknya ke dalam pelukan.

"Aku tidak akan bertanya detailnya. Tapi tenang saja…… di sini tidak ada orang yang akan menyakitimu, Saika."

"Iya…… hiks……!"

Matsuri sudah mendengar dari Kai bahwa Saika sering mendapatkan kekerasan.

Namun, karena Kai memintanya untuk tidak bilang kalau tahu darinya, dan menurutnya tidak perlu menarik keluar penderitaan Saika secara paksa, dia memilih diam.

(Meskipun aku tetap ingin melakukan sesuatu untuknya……)

Karena itulah, setidaknya Matsuri ingin menenangkan hati Saika. Dia berharap gadis yang sampai gemetaran bilang tidak mau pulang ini bisa merasa sedikit lebih tenang.

"Matsuri-san…… terasa hangat, ya."

"Benarkah? Saika juga hangat, lho. Terus aromamu juga wangi banget!"

"W-wangi……?"

"Ahaha!"

Dari ekspresi sedih, Saika berubah menunjukkan wajah yang terkejut sekaligus malu, membuat Matsuri tertawa.

Sepertinya mereka sudah mulai terbuka satu sama lain, tapi Matsuri merasa masih terlalu dini untuk menarik keluar seluruh isi hati Saika…… Namun.

"Matsuri-san…… bolehkah aku menceritakan tentang diriku?"

Saika bergumam pelan.

Sepasang matanya menatap Matsuri dengan lurus, di sana terdapat rasa cemas…… dan binar yang seolah mencari keselamatan.

"Tentu, ceritakan saja."

Matsuri menjawab dengan lembut, lalu memeluknya lebih erat agar Saika merasa lebih tenang.

Akhirnya Saika mulai bercerita—tentang apa yang terjadi pada dirinya, dan tentang hubungannya dengan kedua orang tuanya yang sudah hancur.

"…… Maaf ya tiba-tiba. Malah cerita hal seperti ini."

"Enggak apa-apa kok. Terima kasih sudah mau cerita…… kamu sudah berjuang keras ya, Saika."

"Hiks……"

Mendengar kata-kata Matsuri, air mata Saika tumpah dengan deras.

"Aku…… tidak bisa bilang apa-apa, aku terus menahannya…… bahkan kepada kakek dan nenek yang baik padaku pun aku tidak bisa mengatakannya."

"Iya."

"Aku tidak mau membuat mereka khawatir…… aku tidak mau merepotkan…… tapi sebenarnya aku selalu ingin ditolong…… siapa pun itu, aku ingin ada yang menolongku…… hiks!"

Sosoknya yang meminta pertolongan itu terlihat seperti anak kecil…… Matsuri berpikir setidaknya ini tidak apa-apa, lalu dia berbisik pelan.

"Tenang saja, Saika. Karena sekarang, ada orang yang sedang bergerak untuk menolongmu."

"Eh……?"

Saika tentu saja terkejut.

Matsuri sendiri tidak tahu bagaimana cara Kai bergerak atau bantuan seperti apa yang akan diberikan kepada Saika…… tapi Matsuri tahu—karena hatinya yakin bahwa kata-kata cowok itu tidak bohong, dia pasti akan menyelamatkan gadis yang menderita ini.

"Jadi tidak apa-apa…… semuanya akan baik-baik saja."

Mendengar suara lembut itu, tubuh Saika perlahan bergetar hebat. Dia membenamkan wajahnya di dada Matsuri sambil menangis sejadi-jadinya.

Matsuri tidak peduli meski piyamanya basah, dia terus memeluk Saika sampai gadis itu merasa tenang.

"T-terima kasih, Matsuri-san."

"Sama-sama."

Setelah itu, mereka berdua mulai saling melempar senyum, dan Saika pun jadi lebih banyak bicara.

Karena suasana di antara mereka sudah benar-benar seperti teman akrab, pembicaraan pun berkembang ke arah ini.

"Matsuri-san…… boleh aku cerita hal yang sedikit aneh?"

"Boleh."

"Aku itu…… selalu bertanya-tanya aku ini apa. Apa nilai dari orang sepertiku, dan apa alasanku hidup."

"Iya."

"Tapi…… aku bermimpi tentang seseorang yang menyemangatiku dan bilang bahwa aku ini penting."

"Ah……"

Mimpi. Kata itu terdengar sangat familiar bagi Matsuri.

Seseorang dalam mimpi tidak hanya memberikan kata-kata lembut, tapi juga menginginkannya dengan tulus…… Seseorang yang berinteraksi tanpa dinding penghalang sedikit pun di hatinya, dan mimpi itu tidak bisa dia lupakan.

"Sebenarnya, aku juga begitu."

"Benarkah……?"

Kebetulan macam apa ini…… mungkinkah ini benar-benar hanya kebetulan?

Matsuri memikirkan hal itu, tapi dia membalasnya dengan menceritakan mimpi yang dia alami sendiri kepada Saika.

Topik tentang kesamaan mimpi yang mereka alami membuat Matsuri merasa semakin dekat dengan Saika—suasana kaku dan suram yang menyelimuti mereka tadi kini benar-benar sudah hilang.

"Kita jadi akrab banget ya."

"Iya…… sejujurnya, aku sempat berpikir tidak akan bisa punya teman akrab sampai lulus nanti."

"Bukankah itu berlebihan?"

"Tidak berlebihan, lho. Soalnya aku…… kan begini."

Salah satu hal yang Matsuri sadari saat mengobrol dengan Saika adalah betapa rendahnya rasa percaya diri gadis itu.

"Aku ini…… si suram yang jelek."

Si suram yang jelek……?

Matsuri benar-benar memiringkan kepalanya, bingung apakah itu candaan atau apa.

Saat poni panjangnya disingkap, wajahnya terlihat sangat manis, dan bentuk tubuh di balik piyamanya pun sangat luar biasa.

Matsuri berpikir hal pertama yang penting dilakukan adalah membuat Saika percaya diri dengan apa yang dia miliki, yang sebenarnya diinginkan oleh banyak gadis lain.

"Saika itu tidak jelek, tahu. Kamu cantik banget."

"Begitu…… ya?"

"Beneran! Terus badanmu juga bagus banget!"

"Kalau soal badan itu…… fufu."

"Lho, kenapa malah tertawa?"

"Iya…… soalnya orang dalam mimpiku itu juga bilang hal yang sama."

"Hee, sepertinya pemikiran kami cocok, ya."

Cocok…… Matsuri tertawa kecil memikirkan betapa benarnya hal itu.

Entah kenapa saat mendengar cerita ini, sosok Kai terlintas di pikirannya. Meskipun dia tidak tahu alasannya, Matsuri secara insting merasa ada suatu hubungan di sana.

(Aneh ya…… tapi mungkin karena itulah kita bisa jadi akrab secepat ini.)

Dalam bentuk apa pun itu, bagi Matsuri, mendapatkan teman baru seperti Saika adalah hal yang membahagiakan.

Mulai sekarang, entah kenapa dia merasa hubungan mereka akan bertahan lama.

Dan jika itu terjadi, sudah pasti keberadaan Kai akan selalu ada di dekatnya…… Membayangkan hal itu saja sudah membuat hati Matsuri berdebar senang.

"…… Matsuri-san."

"Apa?"

"Sekarang…… hatiku terasa sangat hangat."

"Begitu ya. Kalau begitu, akan kubuat jadi lebih hangat lagi!"

Matsuri memeluk Saika dengan sangat erat.

Karena mereka sudah seakrab ini, Matsuri berpikir mungkin tidak ada salahnya menceritakan sedikit tentang dirinya. Dia pun mulai menceritakan rasa sakit yang pernah dia alami.

"Hei Saika, sebenarnya ya—"

Demikianlah, satu malam pun berlalu.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close