Chapter 7
Dengan Ini, Semuanya Beres Lagi, Bro!
Sehari
setelah pertemuanku dengan ayah Agatsuma, aku melangkah menuju alamat yang
berhasil kukorek darinya saat ia berada dalam kondisi terhipnosis.
Tujuanku
adalah rumah kakek dan nenek Agatsuma. Tentu saja, aku datang untuk memberitahu
mereka tentang kondisi Agatsuma, demi melengkapi kepingan terakhir untuk
menyelamatkannya.
"……………"
Meski
begitu… tak bisa kumungkiri kalau aku sempat merasa bimbang tentang apa yang
harus kulakukan.
Agatsuma
selama ini bungkam karena tidak ingin membuat kakek dan neneknya khawatir… Justru karena itulah aku merasa bimbang,
meski ini semua demi menolongnya.
Lantas, kenapa
sekarang aku tetap melangkah menuju rumah kakek dan neneknya—yah, anggap saja
ini semacam prasangka pribadiku.
‘Aku tidak mau
membuat mereka khawatir… aku tidak mau merepotkan… tapi sebenarnya aku selalu
ingin ditolong… siapa pun itu, aku ingin ada yang menolongku… hiks!’ Tadi malam, saat memikirkan
rencana hari ini sambil menatap layar ponsel, aku merasa benar-benar mendengar
suara lirih Agatsuma seperti itu.
"…Mana
mungkin aku benar-benar mendengar suaranya. Itu cuma khayalanku saja."
Benar…
itu hanya khayalanku, jadi apa yang akan kulakukan sekarang hanyalah kepuasan
pribadi yang mengabaikan perasaannya—tapi, yah, prinsipku memang berbuat sesuka
hati sejak awal, jadi buat apa aku bingung?
Setelah
berpikir sejenak, aku pun memantapkan hati dan mulai melangkah.
"Di sini,
ya."
Meski sempat agak
tersesat, akhirnya aku sampai di tempat tujuan dan mengamati keadaan sekitar.
Saat itulah,
seorang nenek yang sedang membawa anjingnya jalan-jalan memperhatikanku.
"Lho, apa
ada perlu dengan rumah kami?"
"…E-eto,
iya… selamat pagi."
"Selamat
pagi. Maaf ya, aku sudah tua… aku tidak ingat wajahmu, kamu siapa ya?"
Gawat… aku jadi
sedikit gugup.
Tapi karena dia
bilang 'rumah kami', berarti orang ini pasti salah satu target yang kucari.
"Maaf
mendadak. Aku teman satu sekolah Agatsuma Saika-san."
"Oalah, kamu
teman sekolah Saika, ya."
Bingo. Ternyata dia memang neneknya Agatsuma.
Dilihat dari
tutur katanya yang lembut serta aura baik hati yang terpancar, sepertinya dia
memang orang yang persis seperti cerita Agatsuma.
Merasa orang ini
bisa dipercaya, aku baru saja hendak membicarakan soal Agatsuma saat suara lain
terdengar.
"Oho, ada
tamu ya?"
Dilihat dari
situasinya, orang yang baru keluar dari rumah ini pasti kakeknya.
Rasanya sedikit
terintimidasi melihat kakek dan neneknya berkumpul seolah sudah direncanakan,
tapi karena sudah sampai di sini, sisanya tinggal menyelesaikan tujuan awal.
"Kakek dan
Nenek Agatsuma, hari ini saya datang karena ada urusan dengan kalian."
"Tentang
Saika?"
Aku mengangguk,
lalu melanjutkan kata-kataku.
"Saya datang
untuk memberitahu bahwa cucu kalian sedang mengalami penganiayaan."
"…Apa?"
"Eh…?"
Aku menjelaskan
kondisi Agatsuma saat ini sambil menunjukkan rekaman video yang sudah
kupersiapkan.
Meski aku punya
bukti kuat berupa rekaman video, kupikir mereka akan meragukannya… tentu saja,
mereka berdua menatapku seolah tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, tapi
rekaman suara Agatsuma yang kuputar menjadi bukti telak yang menentukan segalanya.
Mereka berdua
berjanji akan bergerak untuk menyelamatkan Agatsuma, sembari meneteskan air
mata penuh penyesalan karena tidak menyadari hal itu hingga sekarang.
"Agatsuma
sekarang sedang menginap di rumah teman sekelasku, jadi untuk saat ini tolong
tenang saja. Saya juga akan memberikan data rekaman ini, silakan gunakan sesuka
hati—tolong selamatkan Agatsuma dari rumah itu."
Aku menutup
pembicaraan itu… dan diam-diam menggunakan Si Sobat untuk memastikan perasaan
jujur mereka.
Benar bahwa
mereka berdua tidak hanya menyayangi Agatsuma, tapi juga memedulikan putra
mereka—si ayah itu—dan istrinya. Namun, rasa sayang mereka terhadap sang cucu
jauh lebih besar… Dengan kata lain, sudah terbukti bahwa kakek dan nenek ini
pasti akan bergerak demi Agatsuma.
Setelah itu, aku
berpamitan dan membeli minuman di mesin penjual otomatis terdekat.
"Untung saja
mereka kakek-nenek yang bisa diajak bicara."
Benar-benar
melegakan.
Karena aku sangat
sibuk mempersiapkan segalanya mulai dari mengorek informasi dari Agatsuma
sampai meminta bantuan Aisaka, rasanya sedikit aneh karena masalah ini selesai
begitu saja.
Tapi jika dipikir
sebaliknya, aku berhasil menarik masa depan yang kuinginkan melalui rute
tercepat tanpa ada kendala yang berarti… Tentu saja, kalaupun ini belum
berakhir sepenuhnya, aku tinggal memberikan hukuman yang lebih berat pada ayah
bajingan itu nanti.
"…Hah,
kenapa jadi begini, ya."
Sempat ada
kejadian konyol di mana perutku terasa tidak enak gara-gara langsung menenggak
habis minuman bersoda yang kubeli, tapi aku segera mengoperasikan ponselku
untuk mengaktifkan Si Sobat.
"Padahal aku
cuma ingin… berbuat mesum, harusnya itu saja sudah cukup. Tidak kusangka
aplikasi hipnosis ini malah kupakai buat menolong orang."
Ini semua pasti
berkat otak jeniusku… tidak, lho, jangan mulai sombong lagi.
Ini sangat jauh
dari bayanganku tentang surga mesum yang penuh kenikmatan… tapi anehnya, ada
rasa puas yang sangat besar di dalam hatiku.
Rasanya sama
seperti saat menolong Aisaka dulu.
"Untuk
sementara, sepertinya Agatsuma akan diasuh oleh kakek-neneknya… Ayah itu sudah
bertindak keterlaluan sejak Agatsuma masuk SMA, dia pasti tidak akan pernah
berubah."
Pria itu bahkan
sempat terpikir untuk meniduri putrinya sendiri.
Dan tentu saja,
ucapan itu terekam jelas dalam video yang kutunjukkan tadi. Jadi, apa pun yang
terjadi nanti, mereka pasti tidak akan membiarkan Agatsuma kembali ke tangan
ayahnya.
Mungkin akan ada
urusan pindahan dan lain-lain, tapi karena jaraknya tidak terlalu jauh,
Agatsuma tidak perlu menghadapi perubahan lingkungan yang terlalu drastis… Itu
juga membuatku lega.
"Coba… lihat
ke sana sebentar, ah."
Sudah satu hari
berlalu, aku penasaran bagaimana keadaan Agatsuma selama menghabiskan waktu
bersama Aisaka.
Mungkin kalau aku
mendekati rumahnya, aku bisa melihat mereka.
Begitu pikiran
itu terlintas, aku langsung menaiki sepeda dan mengayuh pedal sekuat tenaga.
"Yah, aku
memang tidak tahu kontaknya, tapi aku tahu posisi rumahnya."
Serius, aku cuma
penasaran sedikit… sedikit saja, lho!
Kalau aku bisa
melihatnya meski cuma sekilas saat lewat, itu sudah untung. Kalau tidak, aku
harus menunggu sampai hari sekolah dimulai… tapi kalau begitu, sepertinya aku
malah tidak akan bisa tidur karena kepikiran terus hari ini.
Namun,
kekhawatiran itu ternyata tidak perlu.
Sebab saat aku
sampai di rumah Aisaka, mereka berdua kebetulan baru saja keluar dari pintu
depan.
"Ah,
Masaki-kun!"
"…Oh,
Aisaka. Kebetulan banget ya, aku juga kebetulan lewat sini tadi—"
Sial, aktingku
payah banget! Aku
terdengar seperti aktor amatiran yang sedang membaca naskah dengan kaku!
Meski
mendengar salamku yang sangat kaku itu, Aisaka tetap tersenyum manis dan
berlari menghampiriku.
Lalu, dia
berbisik pelan di telingaku.
"Sebenarnya
tadi Saika baru saja dihubungi kakek dan neneknya lewat ponsel. Sepertinya
rencanamu berhasil ya, Masaki-kun."
"…Begitu,
ya."
Mengingat
waktu yang kuhabiskan untuk perjalanan dengan sepeda, memang sudah cukup waktu
bagi mereka untuk menghubungi Agatsuma.
"Ngomong-ngomong,
Saika sudah tahu kalau Masaki-kun yang membantu, lho. Soalnya lewat telepon
tadi, mereka membicarakan siapa yang memberitahu mereka."
Sepertinya
Agatsuma sudah tahu semuanya.
…Gawat, bagaimana
ini? Dia pasti penasaran kenapa aku bisa tahu, dan bagaimana aku bisa
menyiapkan bukti sejauh itu.
Meski aku mencoba
memikirkan alasannya sekarang… ugh, benar-benar gawat.
"Yah, aku
memang tidak bilang ke dia untuk merahasiakan kalau info itu dariku, tidak
seperti saat bersamamu dulu. Habisnya, situasinya memang serius."
"Kalau
begitu, ya mau bagaimana lagi."
"…Kira-kira,
aku bakal dicap sebagai penguntit tidak ya oleh Agatsuma karena tahu hal
sedalam itu?"
"Sepertinya
kamu tidak perlu khawatir? Soalnya Saika terlihat sangat lega, dan dia bilang
ingin berterima kasih langsung kepadamu."
Benarkah…?
Syukurlah kalau begitu.
Untuk sementara,
sembari memeras otak mencari alasan jika dia bertanya kenapa aku bisa tahu…
sebaiknya aku hadapi dulu Agatsuma.
"Oh iya,
tadi kami sebenarnya mau pergi belanja… tapi karena ketemu Masaki-kun, mending
ditunda dulu saja, yuk."
"Eh? Kalian
mau belanja? Kalau begitu pergi saja. Aku… aku cuma mampir sebentar untuk
melihat keadaan saja, kok."
Begitu
aku bilang begitu, Aisaka langsung menarik tanganku.
"Jangan
bilang begitu dong~. Ayo, ayo, pasti banyak yang mau dibicarakan, kan? Mari silakan masuk, Masaki-kun!"
"Eh,
t-tunggu sebentar!?"
Tanpa bisa
melawan, aku pun ditarik masuk ke dalam rumah.
Padahal aku masuk
ke rumah gadis cantik secara legal, tapi kenapa rasanya begini… rasa bingungku
lebih besar daripada rasa senang.
Kalau
dipikir-pikir, ini kunjungan keduaku… Aku langsung dibawa ke kamar Aisaka. Dia pamit
keluar sebentar untuk mengambilkan minuman dan camilan… artinya, di ruangan ini
tinggal tersisa aku dan Agatsuma.
Saat aku
sedang berpikir harus mulai bicara dari mana, Agatsuma perlahan menundukkan
kepalanya dalam-dalam di hadapanku.
"Aku
sudah dengar dari Kakek dan Nenek… kalau Masaki-kun sudah bergerak demi
aku."
"Ah—iya."
"Terima
kasih, Masaki-kun… aku… selama ini belum pernah ditolong oleh siapa pun, jadi
aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya lewat kata-kata… tapi aku sudah
bertekad untuk mengucapkan terima kasih padamu sebagai hal pertama."
Belakangan
ini aku jadi lebih sering mendengar kata terima kasih, ya. Rasanya senang tapi
juga sedikit sedih… Sembari
memikirkan hal itu, aku membalas "sama-sama", lalu melanjutkan:
"Aku
tidak melakukan hal yang spesial, kok. Agatsuma bisa keluar dari rumah itu
berkat bantuan Aisaka, aku cuma mendengarkan cerita ayahmu lalu menyampaikannya
pada kakek dan nenekmu."
"Padahal
itu saja sudah…"
"Sudah
cukup kok—lagipula, urusan selanjutnya bukan ranah anak-anak sepertiku lagi.
Mulai sekarang, biarkan kakek dan nenekmu yang mengurus semuanya."
Dengan
kekuatan Si Sobat, aku memang bisa melakukan hal sesulit apa pun… tapi untuk
masalah seperti ini, bantuan orang dewasa tetaplah mutlak diperlukan.
Dalam
artian, apa yang kulakukan hanyalah memberikan pemicu untuk penyelesaian
masalah ini.
Seandainya
Si Sobat punya kekuatan untuk mengubah dunia hanya dengan satu ucapanku… tidak,
itu malah bakal membuatku takut.
"Jadi
Agatsuma, sekarang sudah tidak apa-apa. Pasti semuanya akan baik-baik
saja."
"…Iya!"
Matanya masih
tertutup poni seperti biasa, tapi aku merasa Agatsuma tersenyum, dan itu
membuatku senang.
…Tapi, masalahnya
dimulai dari sini.
"E-eto… soal
kenapa aku bisa tahu tentang masalahmu itu—"
Sejujurnya aku
belum menyiapkan alasan yang matang. Dulu aku memang memberitahu alasannya pada
Aisaka… tapi dibandingkan waktu itu, informasi kali ini bukan hal yang bisa
diketahui dengan mudah.
Sama seperti saat
dengan Aisaka, aku berniat bilang kalau aku tahu secara kebetulan… itu alasan
yang dangkal, tapi saat aku hendak mengatakannya, Agatsuma memotong
kata-kataku.
"Masaki-kun
sudah menolongku… mengulurkan tangan padaku… bagiku itu saja sudah cukup."
"E-eto…
meskipun aku sendiri yang mengatakannya, apa tidak apa-apa begitu saja?"
"Iya… karena
aku tahu suara Masaki-kun tidak sedang berbohong."
"Suaraku…?"
Rasanya aku
pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya… deja vu, ya.
Tapi yah, ucapan
Agatsuma sangat menguntungkanku dan sangat membantu… jadi anggap saja urusan
ini sudah selesai.
"Bagaimana
menginap di rumah Aisaka? Menyenangkan?"
"Iya. Sangat menyenangkan… Matsuri-san sangat baik
padaku."
"Begitu ya…
eh?"
"Ada
apa?"
Tunggu dulu…
kalau dipikir-pikir, mereka berdua memanggil satu sama lain dengan nama depan?
"Aku sudah
penasaran sejak di pintu depan tadi. Kalian berdua memanggil dengan nama depan,
ya?"
"Ah, iya…
kemarin Matsuri-san yang mengusulkannya. Sebelum tidur dia sempat minta
dipanggil tanpa embel-embel nama belakang, tapi bagiku tingkat kesulitannya
masih terlalu tinggi."
"Oho… begitu
ya."
Karena ini
Aisaka, aku memang tidak khawatir, tapi aku lega melihat hubungan mereka
ternyata jauh lebih akrab daripada bayanganku.
"Si Aisaka
itu kemampuan komunikasinya gila, kan?"
"Hebat…
aku benar-benar berpikir dia sangat hebat."
"Itu
sudah selevel monster, tahu."
"Monster…
fufu, mungkin itu perumpamaan yang pas."
Monster
komunikasi, atau kalau mau dibilang lebih manis, dia itu hantu komunikasi.
Mungkin
karena aku dan Agatsuma asyik tertawa membicarakan hal itu, seolah sudah
menunggu waktu yang tepat, Aisaka pun kembali.
"Siapa
yang kalian panggil monster, hah?"
"Ups."
"Enggak
ada, kok!"
Aku dan
Agatsuma kompak memalingkan wajah dari tatapan Aisaka… lagipula si Agatsuma ini
ternyata cukup asyik kalau diajak bercanda, ya.
Yah, itu tandanya beban di hatinya sudah benar-benar
terangkat.
"Ini, jus dan camilannya."
"Terima
kasih, Aisaka."
Aku langsung
memasukkan biskuit cokelat ke mulutku.
Rasa manis
cokelatnya meresap ke seluruh tubuh, perlahan meredakan ketegangan yang selama
ini kupendam… Benar, sebenarnya aku terus merasa tegang sejak tadi.
Ini kamar Aisaka
untuk kedua kalinya, dan sekarang aku sedang berhadapan dengan mereka berdua
dalam kondisi normal, bukan dalam kondisi terhipnosis… mana mungkin aku tidak
gugup.
(Tapi… rasa
gugupku juga cepat hilangnya. Apa karena aku sudah sering merepotkan Aisaka,
dan aku juga sudah melihat Agatsuma dalam balutan pakaian dalam… Ah, kalau
begitu masa aku masih harus gugup!)
"Berarti
tidak apa-apa," begitulah caraku untuk bersikap masa bodoh sepenuhnya.
Aisaka maupun
Agatsuma pasti tidak menyangka kalau aku pernah melihat apa yang ada di balik
pakaian mereka, atau pernah membuat mereka memelukku dan membenamkan wajahku di
dada mereka.
Berbuat sesuka
hati tanpa diketahui oleh orang yang bersangkutan… ah, inilah kenikmatan dari
aplikasi hipnosis itu!
"Syukurlah
Masaki-kun dan Saika sudah bisa bicara dengan akrab."
"Meskipun
awalnya agak kaku, sih."
"U-um…"
"Ehe ♪
Suasananya tidak buruk!"
Tidak, suasana
secerah ini tercipta pastinya berkat bantuan Aisaka.
Kalau cuma aku
dan Agatsuma… suasananya mungkin tidak akan 'mati', tapi rasanya mustahil bisa
secerah ini.
Yah, kalau bagi
aku, begitu aku berduaan saja dengan salah satu dari mereka, aku pasti bakal
langsung pakai Si Sobat untuk berbuat sesuka hati.
"…Lalu, ada
apa?"
Aku yang terus
melahap biskuit tanpa sungkan mulai merasa risi dengan tatapan mereka berdua
yang terus tertuju padaku.
"Enggak,
bukan apa-apa."
"Iya… tidak
ada apa-apa."
Kalau tidak ada
apa-apa, harusnya kalian tidak menatapku terus, kan?
Meski aku ingin
lari dari tatapan mereka, tidak ada tempat sembunyi di kamar ini, jadi aku
terpaksa pasrah menerimanya… Namun saat itulah aku teringat—aku 'kan punya Si
Sobat.
(Di ruangan ini
tidak ada siapa-siapa selain kami, dan sekarang dua target incaranku ada tepat
di depan mata… Bukankah ini saat yang paling sempurna!)
Selama ini aku
selalu menghipnosis mereka satu per satu untuk berbuat sesuka hati, dan setiap
kali itu pula aku merasa puas… Tapi bagaimanapun juga, aku ini laki-laki
normal… dan aku punya satu impian.
Yaitu memiliki
harem!
"Saika,
pasti masih banyak yang ingin kamu bicarakan, kan?"
"Benar sih,
tapi… bukannya Matsuri-san juga begitu?"
"Tentu saja!
Tapi karena sekarang kita sedang bersama, kita bisa mengobrol sepuasnya selama
masih ada waktu."
Maaf ya sedang
asyik mengobrol, tapi aku akan… berbuat sesuka hati kepada kalian berdua!
Dengan cepat aku
mengoperasikan ponsel di tanganku, lalu mengaktifkan Si Sobat dengan target
Aisaka dan Agatsuma.
Seketika, mereka
berdua yang tadinya sedang asyik bicara langsung terdiam, dan menatapku balik
dengan tatapan mata yang kosong.
"Sip,
hipnosis pada mereka berdua sukses… hehehe."
Melihat mereka
berdua berubah menjadi boneka yang menunggu perintahku… pemandangan ini
benar-benar luar biasa.
Aisaka dan Agatsuma, keduanya memakai sweter yang memperlihatkan lekuk tubuh mereka dengan jelas, sehingga tonjolan dada mereka yang besar pun terlihat sangat menonjol.
Jujur saja, hanya
dengan memandangi mereka seperti ini sudah cukup untuk menyegarkan mata dan
membuatku merasa puas, tapi kalau aku tidak melakukan apa-apa di sini, harga
diriku sebagai laki-laki bisa hancur.
"Aisaka,
Wazuma juga... anu... kemarilah, duduk di sampingku."
"Iya."
"Aku
mengerti."
Mengikuti
instruksiku, mereka berdua perlahan mendekat dan duduk di kedua sisiku. Aroma
manis yang lembut terpancar dari mereka berdua, seolah mampu melumpuhkan otakku
dan mencoba membangkitkan monster yang tertidur di dalam diriku. Sambil
mati-matian menekan dorongan batin itu, aku pun melontarkan permintaan
selanjutnya.
"Tetaplah
seperti itu, lalu tempelkan tubuh kalian lebih erat padaku, peluk lenganku
seolah kalian sedang bersandar."
Begitu
kata-kataku selesai, sesuatu yang lembut langsung menekan kedua lenganku.
Dengan tambahan instruksi untuk memeluk lenganku sambil bersandar, Aisaka dan
Wazuma menggerakkan tubuh mereka sedikit demi sedikit untuk mencari posisi yang
paling pas saat memeluk lenganku. Kau tahu apa yang terjadi setelah itu, baby?
"Fo...
Fooohhhhhhhhh!!"
Ini benar-benar
terasa seperti surga dunia. Kelembutan dan kehangatan tiada tara yang
sebelumnya hanya bisa kurasakan di satu sisi, kini menekan dari kedua sisi
lenganku sekaligus. Inilah perwujudan raja harem yang selama ini aku
bayangkan!
"…… Masaki-kun?"
"…… Kamu menangis?"
Ah, air mataku
menetes karena saking terharunya. Aku harus menyeka air mata ini, tapi aku
tidak ingin melepaskan lengan mereka, jadi aku berusaha memasang ekspresi tegar
untuk menahan tangis.
Di cermin besar
yang ada di depan, terpantul sosokku dan mereka berdua; seorang cowok yang
dipeluk erat oleh teman sekelasnya yang punya bentuk tubuh luar biasa, tanpa
menunjukkan tampang mesum sedikit pun, melainkan menangis dengan wajah
serius—benar-benar pemandangan yang aneh.
"Kalian
berdua, aku benar-benar terharu. Aku tidak menyangka bisa merasakan suasana harem seperti ini seumur
hidupku."
Setelah
mengatakan itu, aku meminta mereka melepaskan lenganku, lalu kali ini akulah
yang merangkul bahu mereka berdua. Dengan begini, aku merasa seolah sedang
menyatakan bahwa mereka berdua adalah milikku sendiri, dan hatiku melonjak
kegirangan karena bisa memonopoli mereka... kalau aku sendirian, mungkin aku
sudah menari-nari sekarang.
"Kamu bisa
merasakannya kapan saja, kok."
"Kalau
begini, kapan pun bisa."
"Benar juga
ya... tapi kalau di sekolah mungkin akan sulit melakukannya sering-sering, jadi
aku akan menikmati momen ini sepuasnya!"
Aplikasi
hipnotis memang yang terbaik! Sobat, kau yang terbaik! Hidup ini luar biasa!
Aku yang sudah melampaui rasa senang yang amat sangat kini merasa tak
terkalahkan... bahkan dalam momentum itu, aku sampai berani mengatakan hal
seperti ini.
"Kalian
berdua, tolong jepit wajahku dengan dada kalian."
"Oke."
"Serahkan
padaku."
Setelah
jawaban singkat itu, kepalaku dijepit dari kiri dan kanan... dan tanpa sadar
aku hampir saja melayang ke langit. Dengan dijepit oleh dada besar mereka
seperti sandwich ini, aku bisa merasakan kelembutannya jauh lebih jelas
daripada saat mereka memeluk lenganku tadi.
"Benar-benar
deh, Aisaka dan Wazuma itu tidak beruntung ya. Karena kalian malah diincar oleh
orang sepertiku dan disuruh melakukan hal-hal seperti ini! Diriku yang
sebenarnya adalah bajingan yang memperlakukan gadis-gadis sesuka hati!"
Rasanya nyaman
sekali... saking nyamannya, aku merasa bisa melakukan apa saja. Tentu saja,
meskipun berpikir begitu, aku tidak akan lepas kendali. Yang penting adalah
bagaimana manusia hidup setia pada hasratnya namun tetap dengan cara yang
cerdas.
"Bisa tolong
buat gerakan muni-muni?"
"Muni-muni?"
"…… Muni-muni."
Apa-apaan itu muni-muni... aku jadi malu sendiri
setelah mengucapkannya dan baru saja ingin bilang "tidak jadi", tapi
tak disangka, Aisaka dan Wazuma memahami maksud perkataanku.
"Begini?"
"Seperti ini... kan?"
Muni-muni, seperti bunyinya, adalah menikmati
perubahan bentuk dada yang terjadi karena mereka menggerakkan tubuh dalam
posisi tersebut.
Saat mereka berdua menggerakkan tubuh sesuai keinginan
mereka, empat gumpalan itu berubah bentuk sesuka hati sambil menjepit
wajahku—saat ini juga, aku sedang diperlakukan sesuka hati oleh dada
gadis-gadis yang ingin kuperlakukan sesuka hati!
"…… Fuuh."
Dan, setelah
membiarkan mereka melakukan itu selama beberapa saat... aku pun merasa tenang.
Ketenangan ini muncul karena aku merasa sangat puas dari lubuk hati yang paling
dalam, dan aku yakin wajahku sekarang pasti terlihat seperti orang yang
merasakan kebahagiaan yang belum pernah ada sebelumnya dalam hidup.
"Ini
benar-benar menyenangkan dan aku merasa sangat senang, puasnya bukan main, tapi
di sisi lain... rasa bersalahku kepada kalian berdua yang sudah bersikap baik
padaku tidak mau hilang. Sepertinya jalanku untuk menjadi penjahat sejati masih
jauh."
"Padahal
kamu tidak perlu merasa bersalah."
"Aku ingin
kamu senang... karena aku ingin membalas kebaikan hatimu itu."
Suara yang
lembut, hati yang baik—mereka sering sekali mengatakan hal itu ya... padahal
aku tidak punya hal semacam itu sedikit pun dan mendengarnya saja membuat
punggungku merinding, tapi karena kalian sampai bicara begitu, baiklah, aku
tidak akan merasa bersalah lagi.
(Tapi...
dengan kekuatan si Sobat, target tidak bisa berbohong. Terkadang aku berpikir,
sikap bersahabat yang mereka tunjukkan sekarang ini termasuk dalam arti yang
mana ya?)
Ini
benar-benar misteri yang mendalam. Dengan kekuatan aplikasi hipnotis, target
tidak bisa berbohong, jadi apa pun yang dikatakan target dalam kondisi ini
adalah kebenaran dan isi hati mereka yang sesungguhnya.
Tapi...
diri mereka yang asli tidak tahu soal aplikasi hipnotis ini. Dan mereka juga
tidak tahu kalau aku sedang melakukan hal-hal mesum seperti ini... kalau mereka
tahu, normalnya mereka pasti akan mencaciku habis-habisan. Apa mungkin kondisi saat ini dan saat
biasa itu ibarat kepribadian ganda?
"…… Entahlah."
"Apanya?"
"??"
"Fumyon...!"
Begitu aku bergumam tidak mengerti, dada mereka menekan
lebih kuat lagi hingga aku mengeluarkan suara yang memalukan.
Mereka melakukan ini mungkin karena merasa heran, tapi
seolah-olah mereka sedang belajar apa yang aku inginkan... kalian berdua
benar-benar sedang terhipnotis, kan?
Aku mengeluarkan wajahku dari daging lembut yang membungkus
wajahku, lalu sekali lagi aku memastikan mata mereka berdua dengan saksama.
"…… Masih dalam kondisi hipnotis. Lagipula kalau
pengaruhnya sudah hilang, mereka tidak mungkin melakukan hal seperti ini, sudah
berapa kali aku memikirkan hal ini."
Kalau mereka melakukan ini dalam keadaan sadar, itu
benar-benar sebuah peristiwa besar.
"Sudah
selesai?"
"Aku masih
mau melakukannya."
Padahal aku sudah
keluar dari celah di antara mereka, tapi karena aku tidak bilang
"berhenti", mereka berdua mendekatkan tubuh seolah ingin melakukannya
lagi.
Kalau mereka
sampai bilang begitu, aku ingin menikmatinya lebih lama lagi... pikirku begitu,
tapi karena menghipnotis dua orang sekaligus menghabiskan daya baterai ponsel
dengan sangat cepat, aku pun meminta mereka menghentikan sandwich dada
itu karena khawatir akan terjadi kecelakaan.
"Yah, aku
sangat puas, ini yang terbaik."
Baterai yang
boros memang tidak bisa dihindari, tapi kekuatan si Sobat bisa diaktifkan
sampai tiga orang sekaligus... artinya, dalam interaksi tadi, aku masih bisa
menambah satu orang lagi.
"…… Fuhe... Fuhehe."
Selain memeluk lengan dari kedua sisi, saat wajahku dijepit
tadi, masih ada tempat yang kosong, kan? Ya, tepat di depanku... kalau ada satu
orang lagi di sana, situasi yang paling sempurna akan tercipta.
"Tapi kalau berdua saja baterainya begini, kalau
bertiga konsumsi baterainya pasti gila... benar-benar pedang bermata dua
ya."
Karena ini adalah momen terbaik, maka waktu menikmatinya pun
singkat... yah, tapi kalau tidak ada batasnya, mungkin nilainya jadi tidak
berharga lagi.
"Apa pun
itu, terima kasih Sobat... sudah mau datang padaku."
Sampai sekarang,
pertanyaan mengapa si Sobat bisa datang padaku masih menjadi misteri yang tidak
pernah hilang di dalam diriku.
Terkadang aku
berpikir hal menakutkan, seperti mungkinkah terjadi sesuatu padaku lalu aku
tertidur selamanya, dan sekarang aku sedang bermimpi di dunia di mana
keinginanku terkabul. Tapi yah, mungkin itu hanya pemikiranku yang berlebihan
saja. Sebab, tidak mungkin ada mimpi yang terasa senyata ini.
"…… Sebentar lagi baterainya akan benar-benar habis
ya... sudah selesai, ya."
Sayang
sekali... benar-benar sayang sekali. Padahal aku ingin lebih lama lagi
menikmati ruang terbaik ini, tapi kalau begitu adanya, aku pun mengalihkan
pandanganku ke arah Wazuma.
"Wazuma,
aku masih belum tahu bagaimana hasil akhirnya nanti, tapi aku yakin hal seperti
sebelumnya tidak akan terjadi lagi. Kakek dan nenekmu pasti akan melakukan
sesuatu, dan aku pun akan membantu—jadi kalau aku menghipnotismu lagi, pastikan
untuk memberitahuku jika terjadi sesuatu, oke?"
"…… Aku mengerti."
"Jangan pernah lagi bertanya apa nilai dirimu, ya? Kalau kamu begitu menginginkan nilai, maka
hiduplah untukku. Mulai sekarang dan seterusnya, teruslah menyembuhkanku
sepuasnya seperti hari ini."
"Iya...
itulah arti hidupku... karena aku ingin membalas budi pada Masaki-kun, aku akan
banyak menyembuhkanmu, ya."
Terlepas dari
kata-kataku yang terlalu lancang, kalau saja Wazuma tidak sedang dalam kondisi
terhipnotis, ini pasti terdengar seperti kata-kata sepasang kekasih... tapi
kalau benar-benar diucapkan, rasanya cintanya agak terlalu berat.
"Lalu
Aisaka, terima kasih banyak untuk kali ini. Kamu juga, kalau ada apa-apa,
pastikan mengatakannya padaku saat waktu hipnotis—aku pasti akan
membantumu."
"Ah... iya.
Terima kasih, Masaki-kun♪"
Berbeda dengan
Wazuma, Aisaka mengatakannya dengan suara yang penuh emosi. Ini... apakah
memberikan hipnotis terus-menerus memberikan semacam perubahan pada orang
tersebut?
Hmm... banyak hal
yang tidak kumengerti, tapi seperti yang sudah kukatakan berkali-kali, mereka
dalam kondisi asli tidak mungkin memberikan reaksi seperti ini.
Melihat mereka
terlihat senang dengan kata-kataku membuatku merasa tenang bahwa hipnotisnya
bekerja dengan baik.
Setelah itu, aku
melepaskan hipnotis dan diri mereka yang asli pun kembali.
"Nah,
Kai-kun, camilannya masih ada jadi makanlah!"
"Ini
enak banget. Aku tidak akan sungkan, tidak apa-apa kan?"
"Tentu saja!
Saika juga, makan yang banyak ya?"
"…… Kalau makan terlalu banyak yang manis-manis, nanti
aku jadi gemuk."
Gemuk...? Apa
maksudnya larinya bukan ke perut tapi ke dada? Sepertinya ukurannya tidak akan
bertambah lebih besar dari itu lagi... tapi memang benar, kalau lebih besar
lagi dari itu, sepertinya akan merepotkan dalam berbagai hal.
"Bukankah
kamu terlalu khawatir? Yah, tapi sebagai perempuan, aku mengerti perasaan itu,
jadi aku tidak akan memaksamu."
"Maaf ya,
Mari-san."
"Aduh,
jangan minta maaf terus begitu!"
"Ma, maaf..."
"…… Haha."
Tanpa sadar, aku tersenyum melihat interaksi mereka berdua.
Mengenai Wazuma, dia sudah menunjukkan senyum ceria seolah-olah dia sudah tidak
butuh lagi perawatan mental.
(Kata-kata
yang kuucapkan pada mereka berdua bukanlah bohong. Demi melindungi surga
mesumku, aku akan melindungi mereka berdua apa pun yang terjadi.)
Jadi kalian
berdua, mulai sekarang aku akan memperlakukan kalian sesuka hati, jadi
bersiaplah! Setelah memantapkan tekad itu sekali lagi, aku berpamitan pada
mereka dan pulang.
◆◇◆
Malam
harinya, sambil berbaring di tempat tidur, aku memandangi ponselku. Melihat
nama Aisaka dan Wazuma yang baru saja ditambahkan ke kontakku, aku tidak bisa
berhenti menyeringai sedari tadi.
"Ah, benar
juga! Masaki-kun, ayo tukaran kontak." "Aku juga... ingin
tukaran."
Tadi sebelum
berpisah, ada percakapan seperti itu. Bagiku tidak ada alasan untuk menolak,
dan sepertinya aku mengangguk dengan sangat bersemangat. Sambil menyeringai
melihat kedua nama itu, aku tiba-tiba terpikir untuk mengaktifkan aplikasi
hipnotis... lalu aku memiringkan kepala karena heran.
"Apa
ini...?"
Itu adalah layar
aneh di dalam aplikasi. Di tengah tertulis namaku, Masaki Kai, dan dari namaku
itu, ada benang berwarna merah muda dan benang hitam yang seolah mencoba
memanjang.
"……??"
Benang merah muda
ini... entah kenapa terasa menenangkan. Sebaliknya, benang hitam ini...
membuatku merasa sangat gelisah.
"Terlepas
dari apa ini sebenarnya, apakah namaku ada di tengah karena aku adalah
pemiliknya...?"
Namaku ada di
tengah, dan sesuatu dari sekeliling mencoba mendekat... teringat pernah melihat
komposisi seperti ini di suatu tempat, aku pun segera menemukan jawabannya.
"Benar...
ini seperti bagan hubungan karakter yang sering kulihat di manga atau
game."
Ya, benar
sekali, ini mirip bagan hubungan. Meskipun saat ini di layar hanya ada namaku
sendiri, di tempat asal benang merah muda dan hitam itu memanjang, ada bingkai
yang sepertinya akan diisi dengan nama... tapi tetap saja benang hitam ini
terlalu menyeramkan. Aku terus memandangi layar ini karena penasaran, tapi
karena tidak mengerti apa-apa, aku akhirnya berhenti memikirkannya di tengah
jalan.
"…… Fuwaah."
Hari ini aku berlarian terus, dan setelah itu aku
menghabiskan waktu yang luar biasa bersama Aisaka dan yang lainnya, sepertinya
rasa lelahku sudah menumpuk banyak... mungkin ada hal lain yang menumpuk juga,
tapi hari ini sudahlah.
"……………"
Hanya dengan diam
saja, kelopak mataku perlahan terasa berat, dan kesadaranku mulai menjauh.
Lampu belum dimatikan... aku juga merasa agak ingin ke toilet, kalau aku tidur
begini saja, mungkin aku akan terbangun tengah malam karena dorongan buang air
kecil yang tidak nyaman. Meski begitu, aku sudah mencapai batas.
"Selamat
malam... munya."
Begitulah,
setelah aku tertidur, aku melihat mimpi yang aneh.
◆◇◆
Aku tahu bahwa
itu adalah mimpi berdasarkan intuisi. Sebab, ingatanku saat tidur di kamarku
sendiri masih sangat jelas, dan karena sekeliling adalah dunia kegelapan yang
tidak alami, aku pun sadar ini adalah mimpi.
"…… Tempat apa ini?"
Jika aku sudah
tahu bahwa mimpi adalah mimpi, kegelapan ini tidaklah menakutkan. Hanya saja,
fenomena khas mimpi di mana aku ingin menggerakkan tubuh tapi tidak bisa
bergerak sama sekali ini benar-benar menyebalkan... ingin berlari tapi tidak
bisa, rasanya seperti terendam air setinggi pinggang, perasaan ini sungguh
tidak nyaman.
"Kuku,
memang tubuh perempuan itu yang terbaik."
Tiba-tiba
terdengar sebuah suara. Begitu aku melangkah menuju arah suara itu, sebuah
cahaya kecil menyala di dalam kegelapan dan menampakkan tempat itu... aku pun
mengeluarkan suara "eh".
"…… Wao."
Di sana ada seorang pria yang sedang menyentuh tubuh seorang
wanita. Di tangan pria itu tergenggam sebuah ponsel, dan wanita itu sama sekali
tidak memberikan reaksi terhadap tangan pria yang merabanya, dia hanya diam
melamun.
"Aplikasi
hipnotis... ini adalah hadiah dari Tuhan untukku. Hehehe, dengan kekuatan ini
aku bisa mengendalikan perempuan sesuka hati... hal seperti ini pun bisa
kulakukan."
Itu benar-benar
pemandangan yang seolah-olah mereproduksi manga bertema aplikasi hipnotis yang
sempat kulihat sekilas. Pria itu penampilannya berantakan, air liurnya
menetes... dalam arti tertentu, dia punya penampilan khas tokoh utama (manga
semacam itu).
"Yah, memang
jadi ingin melakukan hal seperti itu sih... ya, ya."
Kenyataannya, aku
juga menyentuh tubuh para gadis, kok! Namun, sepertinya pria ini sudah
melangkah ke dimensi yang lebih jauh dariku—sebab dia langsung memulai hal
itu.
Meskipun aku
sempat berpikir ingin melakukannya, pada akhirnya aku belum sampai ke wilayah
itu... aku merasa sedikit kesal karena pria itu melangkah jauh di depanku, tapi
ada hal lain yang lebih mengganggu pikiranku.
"Rasanya...
ada yang salah."
Dengan kekuatan
si Sobat, aku menyentuh Aisaka dan Wazuma sesuka hatiku. Aku menyuruh mereka
melakukan berbagai hal untuk memuaskan hasratku, dan meski aku putus asa dengan
betapa pecundang dirinya diriku, ada kesenangan yang lebih besar dari itu...
apa yang aku dan pria ini lakukan, meski tingkatannya berbeda, tidak diragukan
lagi adalah perbuatan amoral. Tapi kenapa aku merasa ada yang janggal?
Wanita yang tidak
bisa melawan itu tidak mengeluarkan kata-kata maupun menggerakkan tubuhnya...
namun, matanya menangkap sosok pria itu dengan jelas... dan menatapnya dengan
tajam.
(Aneh ya...
tidak ada binar di matanya, jadi aku tahu dia tidak punya kehendak. Kondisi itu
sama dengan Aisaka dan Wazuma... tapi aku bisa tahu dia sedang menatap tajam...
seolah-olah aku bisa melihat kebencian yang ingin membunuh pria itu.)
Tanpa menyadari
tatapan wanita itu, si pria hanya fokus memuaskan hasratnya sendiri...
mungkinkah jika dilihat dari luar, aku juga terlihat seperti itu?
Tapi setidaknya,
aku yakin belum pernah ditatap dengan mata seperti itu oleh Aisaka dan yang
lainnya... meskipun apa yang kami lakukan sama-sama perbuatan rendah, apa
perbedaan antara aku dan pria itu?
"…… Yah, lagipula ini cuma mimpi."
Tapi kalau saat aku sedang bersenang-senang, aku ditatap
dengan mata seperti itu... sejujurnya aku pasti langsung hilang semangat.
"Hm?"
Tepat saat aku ingin mengeluh sampai kapan aku harus berada
di sini, benang hitam mulai memanjang dari wanita yang dilecehkan itu.
"Eh... itu kan."
Benang hitam itu memiliki kejijikan yang membuat perasaan
tidak enak hanya dengan melihatnya saja. Ini mirip sekali dengan benang yang
kulihat di ponselku tadi... benang hitam itu membungkus si pria, menyusut
seolah mengompresnya, lalu menghilang.
Wanita
yang tertinggal menatapku dan mengulurkan tangannya. Begitu aku melangkah
mundur satu, dua langkah untuk menghindar dari tangan itu, aku pun tersentak
bangun.
"……………"
Aku
mengecek sekeliling berkali-kali dan menyadari bahwa aku berada di kamarku
sendiri.
Kira-kira
aku akan merasa sangat buruk saat bangun karena melihat mimpi aneh, tapi
ternyata rasa lelah di tubuhku sudah hilang semua, sepertinya waktu tidurku
sendiri sudah cukup.
Karena lampu
kamar juga sudah mati, mungkin kakak menyadarinya dan mematikan lampunya
untukku.
"Mimpi yang
aneh..."
Apa yang terjadi
pada pria yang tertangkap benang hitam itu... yah, karena cuma mimpi, tidak ada
gunanya dipikirkan.
Aku
mengambil ponsel, mengaktifkan aplikasi, dan memanggil layar tadi. Bagan
hubungan yang terukir dengan benang merah muda, benang hitam, dan namaku... apa
kira-kira arti dari semua ini? Nanti juga akan mengerti sendiri, kan?
"Ngomong-ngomong,
terlepas dari yang hitam, benang merah muda yang meliuk-liuk itu... entah
kenapa terlihat mesum ya."
Rasanya
seperti tentakel... tidak, jangan mulai dari pagi hari. Pokoknya, masih banyak
hal yang belum kumengerti soal si Sobat, dan mungkin nanti akan ada
perubahan... sepertinya aku harus terus mengamatinya dengan saksama.
Semua demi surga
merah mudaku!
"O...?"
Saat itu,
ponselku bergetar dan sebuah pesan masuk. P
engirimnya
sepertinya adalah Aisaka dan Wazuma, pesan selamat pagi datang dari mereka
berdua... aku terharu sambil memandangi tulisan itu selama beberapa saat, lalu
segera membalasnya dengan "selamat pagi" juga.
"Saling
bertukar pesan dengan gadis-gadis sejak pagi memang luar biasa!"
Mereka
berdua pasti mengirim pesan itu dengan tulus, tapi karena yang menerima
pesannya adalah orang yang seperti ini, aku tidak bisa memperlihatkan tampangku
sekarang.
"…… Yah, tidak buruk juga hal seperti ini."
Aku tidak berniat
menjadi pahlawan keadilan.
Aku mendekati
mereka untuk mengikuti hasratku sendiri, dan menolong mereka hanya sebagai efek
samping dari hal itu... tapi, jika tindakanku bisa membuat mereka melangkah ke
arah yang lebih baik meski sedikit saja, itu adalah hal yang sangat
membahagiakan.
Ngomong-ngomong,
saat aku sedang menyeringai melihat ponsel, kakak memergokiku dan aku pun
diejek apakah aku sedang melihat gambar mesum sejak pagi—tak perlu dikatakan
lagi bagaimana kelanjutannya.
♡ ♡ ♡
Aplikasi ini,
tergantung cara penggunaannya, dapat menimbulkan perasaan yang kuat pada
target. Apakah itu
akan menjadi kebencian, atau sesuatu yang lain, itu semua tergantung pada
Anda... mohon bertanggung jawab atas tindakan Anda sendiri.
♡ ♡ ♡



Post a Comment