Chapter 5
Aku Mau Ciuman…
Hah!?!
"……Fuaah,
aku mengantuk sekali sampai rasanya mau mati."
Meski aku sudah
selesai mandi dan makan malam, rasa kantukku begitu hebat hingga kesadaranku
rasanya bisa melayang kapan saja jika aku sedikit lengah.
Bukan hanya
karena aku lelah setelah berurusan dengan Emu, tapi karena kepulangan orang
tuaku yang terlambat, aku harus berbagi tugas rumah tangga dengan Kakak, dan
itu tampaknya langsung berdampak pada staminaku.
"……Fuaah…… Fuaaaaaaaaaah!!"
Aku menguap begitu lebar hingga mengeluarkan suara keras.
Aku sedikit tertawa getir, menyadari kalau kondisiku ini sudah cukup parah.
"Tadi
di kamar mandi saja aku hampir tertidur…… nyaris tenggelam."
Aku baru
tersadar dan bergegas keluar dari bak mandi setelah merasakan sensasi aneh saat
mulutku terendam air hangat…… Baiklah, kalau memang sudah sangat mengantuk,
lebih baik aku segera tidur untuk persiapan besok. Apalagi besok hari sekolah.
"……Sialan."
Aku
berniat tidur, tapi kata-kata kasar itu justru terlontar dari mulutku. Padahal
aku sangat mengantuk, tapi ada kalimat yang terus tertanam di
kepalaku—"Kamu juga suatu saat akan jadi seperti itu"…… kalimat yang
diucapkan para wanita di dalam mimpiku.
"……………"
Aku tahu tidak
ada gunanya terlalu memikirkan hal seperti itu. Hal itu tidak akan menghentikan
jalanku sebagai seorang berandalan, dan aku juga tidak berniat berhenti
menggunakan hipnotis pada Mari dan yang lainnya…… Namun, tetap saja, kenapa aku
begitu memedulikan mimpi itu?
"……Hei,
Partner, bagaimana menurutmu?"
Aku
mengaktifkan si Partner dan bertanya, tapi tentu saja tidak ada jawaban. Seandainya……
seandainya si Partner adalah keberadaan yang bisa menjawab, aku pasti bisa
menanyakan banyak hal padanya.
"……Fuaah, mengantuknya."
Ah, ini sudah batasnya. Rasa kantuk yang sudah hebat
ditambah dengan pikiran-pikiran ini membuat otakku mencapai batas kinerjanya,
dan kesadaranku mulai kabur.
"Lampu…… ah, gawat."
Aku harus mematikan lampu…… Namun saat terpikirkan hal itu,
semuanya sudah terlambat.
◆◇◆
"……Hm?"
Tiba-tiba, kesadaranku terbangun. Meski begitu, rasa kantuk yang luar biasa masih
tersisa, hingga membuka mata saja terasa sangat berat.
"……Apa
ini?"
Sejak tadi ada
sesuatu yang…… apa ponselku bergetar? Kupikir ada pesan dari seseorang, tapi
saat kuambil dan kulihat layarnya, tidak ada panggilan telepon ataupun pesan
yang masuk.
"……Uu~n?"
Si Partner…… aplikasi hipnotis itu aktif dengan sendirinya.
Sepertinya suara getaran ini berasal dari aktifnya aplikasi hipnotis tersebut……
Apa yang sebenarnya terjadi?
"Partner……?"
Aku bergumam bertanya—lalu, serangkaian huruf muncul di
layar.
“Tuan.”
"!? "
Sama sekali tidak menyangka akan ada respons, aku langsung
tersentak bangun saat itu juga. Huruf-huruf itu muncul seperti sebuah objek
yang tiba-tiba muncul ke permukaan air, membawa riak di sekitarnya…… Tuan?
"A-apa-apaan
ini……!?"
Aku hampir
berteriak keras, tapi segera menutup mulut dengan tangan karena tersadar. Tidak
terdengar suara gebrakan marah dari kamar sebelah, jadi sepertinya Kakak tidak
mendengarku…… Nah.
"Partner……"
“Benar, Tuan.”
"……Eh?
Aplikasi Hipnotis?"
“Benar sekali,
Tuan.”
Huruf-huruf
muncul membalas perkataanku. Sulit dipercaya, tapi kami benar-benar bisa
berkomunikasi…… Eh?
"Serius…… Jadi itu kau, Partner!"
Bisa
berbicara dengan si Partner…… tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini!
……Aku ingin sekali berteriak senang, tapi apa hal tidak masuk akal seperti ini
boleh terjadi? Yah, mengingat aku memiliki sesuatu seperti aplikasi hipnotis
sejak awal, tidak ada gunanya memedulikan hal seperti itu sekarang.
“……Tuan, ada
sesuatu yang ingin kutanyakan padamu.”
"Hm? Apa
itu?"
Ada banyak hal
yang tidak kupahami, tapi untuk sementara mari bicara dengan si Partner. Aku
melompat ke atas tempat tidur, menaruh daguku di atas bantal sambil menatap
tajam ke arah ponsel…… Rasanya seperti malam saat pertama kali bertukar alamat
email dengan seorang gadis, menunggu balasan dari pesan yang kukirimkan.
Eh? Bagaimana
nasib gadis itu sekarang? Kami sudah tidak berkomunikasi lagi.
“Apa yang Tuan
cari dari keberadaanku?”
"Apa
yang kucari dari Partner? Itu sudah jelas, yaitu menggunakanmu untuk bermesraan
dengan Mari dan yang lainnya demi memuaskan hasratku, kan?"
Aku menyatakan
tekad terendahku yang masih sama seperti sebelumnya. Untuk beberapa saat, tidak
ada huruf yang muncul di layar. Jeda itu justru membuatnya tampak seperti
sedang bingung harus menjawab apa, dan itu sedikit lucu bagiku.
"Lagipula,
kau kan selalu bersamaku dan meminjamkan kekuatanmu padaku, kau pasti sudah
tahu, kan?"
“……………”
Si
Partner tampaknya masih bingung menjawab. Seolah ingin mendesak agar segera
dibalas, aku mengetuk-ngetuk layar, dan huruf-huruf kembali muncul.
“Itu…… aku memahaminya. Namun bagiku, ini pertama kalinya
aku bertemu dengan pengguna yang cara pemakaiannya sepertimu.”
"Apa maksudmu?"
“Mereka yang menggunakan kekuatanku semuanya bergerak
murni demi nafsu…… Tentu saja dalam hal nafsu, Tuan juga sama. Namun, ada
bagian dari Tuan yang berbeda dari para pengguna sebelumnya.”
"Bagian yang berbeda?"
“Meski tidak semua, namun Tuan tidak dibenci oleh target
yang Tuan gunakan kekuatanku padanya.”
"……Maksudmu
Mari dan yang lainnya?"
Seandainya ada
seseorang di sana, aku bisa membayangkan dia sedang mengangguk. Ternyata dari
sudut pandang si Partner pun, aku tidak dibenci oleh Mari dan yang lainnya……
Memikirkan hal itu membuatku merasa tenang sekaligus senang.
“Meski
orang-orang yang Tuan selamatkan dengan kekuatanku secara laten memiliki rasa
benci, namun bagi mereka yang selalu berada di dekat Tuan, ceritanya berbeda……
Padahal Tuan tetap melakukan hal-hal cabul pada wanita, namun dalam kasus Tuan,
alih-alih dibenci, Tuan justru dipercaya oleh mereka.”
"Hehe,
dibilang begitu aku jadi senang."
“Bagiku, itu
adalah pengalaman pertama. Kekuatanku digunakan untuk merampas kebebasan
target dan melahap mereka sepuas hati…… Rantai di mana pria menodai wanita, dan
wanita pun menodai pria terus berulang.”
"Selain pria
yang melakukan sesuka hati pada wanita, ternyata sebaliknya juga ada ya."
Yah, benar juga
sih. Pengguna aplikasi hipnotis kan tidak harus laki-laki saja. Lagi pula, aku
juga pernah melihat beberapa komik doujin di mana perempuan yang
menggunakan aplikasi hipnotis.
“Kekuatanku
memaksa target untuk tunduk, namun aku tidaklah mahakuasa. Jika terus
digunakan, suatu saat akan muncul distorsi, dan jika kebencian menumpuk, hal
itu akan menjadi kekuatan yang melampaui hipnotis dan meledak secara liar.”
"……………"
“Tidak
semuanya menjadi seperti itu, namun beberapa pengguna telah tertelan oleh
kebencian target dan menghilang…… Dan jujur saja, awalnya kupikir Tuan juga
akan berakhir seperti itu.”
"……Tapi
aku tidak menjadi seperti itu, kan."
Seolah-olah
sedang mengangguk, layar ponsel berkedip-kedip.
“Ya…… Tuan tidak berakhir seperti itu. Dan di saat yang sama, hari-hari bersama
Tuan memberiku perasaan yang aneh. Aku yang selama ini hanya digunakan untuk
melukai orang dan hanya bisa mengumpulkan dendam serta kebencian…… akhirnya
mengetahui bahwa aku bisa menyelamatkan seseorang.”
Bagiku, perasaan
si Partner hanya bisa terlihat melalui huruf-huruf. Namun yang tersampaikan
dari huruf-huruf itu adalah perasaan bahagia si Partner…… Tentu saja,
mungkin saja perasaanku salah…… Dan satu hal lagi yang kusadari, huruf-huruf
yang tadinya muncul perlahan kini muncul dengan lebih lancar.
“Perasaan yang bukan dendam atau kebencian…… Tentu saja
itu membuatku senang. Namun yang lebih membuatku bahagia adalah karena Tuan
memanggilku sebagai Partner…… Aku merasa senang Tuan mengucapkan terima kasih
dan menyampaikan rasa syukur kepadaku.”
"Be-begitu ya…… Habisnya kau itu Partner-ku. Aku bahkan
tidak bisa membayangkan jika harus melepaskanmu sekarang."
Aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Bagiku, si Partner sudah menjadi keberadaan
yang sangat penting.
“Karena Tuan berkata begitu, aku merasa bahagia…… Karena
itu, di saat yang sama, aku ingin melindungimu. Agar Tuan tidak tenggelam dalam
kekuatan hipnotis dan merusak masa kini, aku memperlihatkan mimpi bahwa satu
langkah salah saja bisa berakhir seperti itu.”
"……Eh? Jadi
mimpi itu kau yang memperlihatkannya!?"
Karena terkejut,
suaraku menjadi sangat keras, tapi si Partner tidak langsung menjawab. Karena
suaraku yang keras tadi, aku sempat waspada akan serbuan sang Raja Iblis
bernama Kakak, tapi sepertinya masih aman…… Fuh, aku harus hati-hati kalau
tidak mau dibunuh.
“Itu hanyalah
mimpi…… Namun, aku ingin Tuan tahu bahwa kemungkinan seperti itu ada.
Setidaknya, selama Tuan menjalani hari-hari seperti sekarang, semuanya akan
baik-baik saja.”
"……Begitu
ya."
Apa itu bisa
dibilang melegakan?
“……Tuan, aku
ingin terus menjagamu mulai sekarang. Hari-hari yang kuhabiskan sebagai
Partner-mu tidaklah buruk, dan melihat senyuman mereka juga membuat perasaanku
menjadi lebih baik.”
"……Kuku, kau
tidak perlu mengatakannya pun aku sudah berniat begitu. Aku tidak akan pernah
melepaskanmu."
Begitu kukatakan
itu, layar ponsel kembali berkedip-kedip. Apa dia sesenang itu? Aku
mengetuk-ngetuk layar lagi, tapi saat aku sempat berpikir bahwa aplikasi ini
imut, aku merasa kalau seleraku mungkin sudah mulai agak berbahaya.
"……Hei,
Partner?"
“Ada apa?”
"Kenapa……
kau bisa datang kepadaku? Lagipula, kenapa keberadaan seperti dirimu bisa ada
di dunia ini…… kenapa bisa ada hal seperti aplikasi hipnotis ini?"
Ya, itu adalah
pertanyaan yang selalu ada di dalam diriku. Sebuah misteri yang tidak pernah hilang meski
aku terus menggunakan kekuatan si Partner…… Aku menanyakan hal itu, tapi tidak
ada jawaban sama sekali dari si Partner—artinya, itulah jawabannya.
"……Maksudnya,
kau tidak bisa mengatakannya ya."
“……Maafkan
aku, Tuan.”
"Tidak
apa-apa, sungguh…… Yah, sebenarnya tidak oke, tapi aku tidak punya pilihan
selain menerimanya."
Setelah itu,
untuk beberapa saat aku tidak berbicara apa pun, dan tidak ada kata-kata dari
si Partner yang muncul di layar ponsel. Aku mengubah suasana hatiku dengan
menggerakkan tubuh sambil memegang ponsel. Dari posisi telungkup, aku berbalik telentang,
mengarahkan tangan ke langit-langit sambil menatap layar ponsel.
"Hei,
Partner, aku ini ingin menjadi seorang berandalan. Padahal aku menggunakan
aplikasi hipnotis demi mencapai puncak jalan berandalan itu, tapi ini aneh juga
ya."
“Tuan
terlalu baik. Pengguna sebelumnya biasanya langsung menodai siapa pun yang
mereka sukai saat pertama kali melihatnya. Entah wanita itu sudah punya kekasih
atau suami, mereka menyerang tanpa pandang bulu dan tanpa ampun.”
"Awalnya
aku juga berpikir begitu…… Tapi aku ini sebenarnya pengecut, dan melakukan
hal-hal pemaksaan seperti di komik rasanya bukan gayaku."
Namun
sekarang aku mungkin bisa mengerti. Seandainya aku menyerang Mari, Saika, atau Emu murni hanya mengikuti
nafsu…… padahal saat itu mereka sedang berada di masa-masa sulit, ada
kemungkinan semuanya akan menjadi kacau dan tidak bisa diperbaiki lagi.
“Hasilnya
adalah perbuatan seperti sekarang…… Meski dalam hal tindakan cabul pada wanita
seharusnya sama saja, namun interaksi Tuan dengan mereka tidak hanya menghapus
hal itu, melainkan justru mengangkatnya ke arah yang positif.”
"……Aku
jadi terpikir kalau menolong seseorang itu hal yang penting ya. Padahal sebagai
gantinya karena sudah menolong mereka, aku meminta mereka membiarkanku
melakukan hal yang kusuka."
“Aisaka Mari
telah dikhianati oleh mantan kekasihnya dan dibuang oleh keluarganya. Agatsuma
Saika menderita gangguan mental karena menerima kekerasan dari ayah kandungnya.
Honma Emu menjadi korban penguntitan dan berada dalam situasi yang sangat
berbahaya jika salah melangkah sedikit saja. Dalam arti tertentu, Tuan muncul
di titik balik hidup mereka dan menyelamatkan hati mereka.”
Huruf-huruf yang
dikirimkan si Partner seolah menunjukkan rasa bangga. Bukan hanya huruf, dia
bahkan menggunakan emotikon dan simbol yang menunjukkan suasana hati yang baik,
meski tampak belum terbiasa menggunakannya, dan itu terlihat cukup
menggemaskan.
“Namun, meski
begitu, selain rasa kasih sayang, Tuan juga menarik rasa benci…… Tuan juga bisa
melihat benang hitam itu, kan? Itu adalah tumpukan kebencian manusia, simbol
dendam terhadap mereka yang menggunakanku.”
"Ternyata
benar ya."
“……Sebagai
tambahan, aku ingin memberitahumu bahwa sampai sekarang belum pernah ada
keberadaan yang memiliki benang merah muda. Benang yang memanjang dari nama
mereka juga merupakan hasil yang tidak terduga.”
Benang
hitam dan benang merah muda…… itu tentang diagram korelasi. Benar, benang hitam
yang muncul di diagram korelasi itu seolah-olah sedang mengincar nyawaku dengan
diam-diam. Jika benang merah muda itu tidak melindungiku, aku pasti sudah
tenggelam dalam kegelapan pekat.
"Anu…… ini perumpamaan saja, tapi kalau benang hitam
itu menutupi namaku sepenuhnya, pengaruh apa yang akan terjadi padaku di dunia
nyata?"
“Sudah
kukatakan tadi, kan? Tuan akan tertelan…… dengan kata lain, menghilang. Tanpa
bekas, tanpa tersisa di ingatan siapa pun…… Karena itulah tidak ada catatan
mengenai para pengguna yang telah menghilang selama ini.”
Tertelan
dan menghilang, tidak tersisa di ingatan siapa pun…… bulu kudukku meremang.
Rasanya tidak mungkin hal mistis seperti itu bisa terjadi, namun keberadaan si
Partner di tanganku dan fakta bahwa tidak ada satu pun catatan mengenai
aplikasi hipnotis di dunia ini membuat ketakutan itu semakin nyata.
“Namun,
rasa tidak nyaman yang misterius akan terus tertinggal di pihak yang pernah
digunakan. Mungkin Tuan pernah bertemu dengannya di suatu tempat. Seseorang
yang hidupnya pernah diubah olehku di masa lalu.”
"……………"
Sesekali…… tidak, rasanya aku pernah bertemu orang seperti
itu. Dia adalah wanita yang tiba-tiba menyapaku. Tentu saja aku tidak mengenali
wajahnya…… tapi setelah dia memberiku tatapan seolah tidak menyukaiku, dia
menatap Mari dan yang lainnya dengan tatapan penuh tanya…… Itu terjadi di kafe,
kan?
Setelah
merenungkan kejadian saat itu, aku melanjutkan kata-kataku.
"Yah, banyak hal yang terjadi ya…… Tapi di atas semua
itu, aku ingin mengatakannya sekali lagi pada Partner—terima kasih karena sudah
datang kepadaku, ya?"
“……Tuan.”
"Ya, aku memang ingin melakukan hal-hal cabul saja, dan
perasaan itu mungkin tidak akan pernah berubah ke depannya…… Tapi berkat
Partner, aku bisa menolong Mari dan yang lainnya, dan kami pun bisa berteman
baik…… Jadi, terima kasih."
“……………”
Masih banyak yang ingin kubicarakan…… banyak juga
pertanyaan. Namun karena mumpung
kami bisa berkomunikasi seperti ini, aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk
berterima kasih sekali lagi pada si Partner.
"Apa-apaan
ini, kau malu ya?"
Karena
tidak ada balasan lagi, aku tertawa kecil sambil mengetuk layar. Tiba-tiba
layar bersinar sangat terang hingga aku memejamkan mata sejenak, membuatku
mengeluarkan suara rengekan yang memalukan.
"K-kau……"
“Tuan yang
salah karena menggodaku.”
Layar kembali
berkedip-kedip, seolah membakar bola mataku…… Berhenti, oi!
"I-iya,
aku mengerti, hentikan!"
Setelah
itu, si Partner akhirnya tenang kembali.
“……Aku
juga senang bisa bertemu dengan pengguna sepertimu, Tuan. Tuan tampak
mengkhawatirkan banyak hal, tapi selama Tuan melakukannya seperti biasa,
semuanya akan baik-baik saja. Namun, tergantung pada pilihan Tuan, mimpi itu pun bisa menjadi nyata……
Karena kita sudah saling bertukar kata seperti ini, aku akan berhenti
memperlihatkan mimpi itu. Jadi Tuan, berhati-hatilah mulai sekarang.”
"……Aku
mengerti."
“Lagipula,
pada akhirnya hasrat Tuan-lah yang membawa hari-hari seperti sekarang. Jika
begitu, sesekali bergerak maju mengikuti hasrat pun mungkin tidak ada
salahnya…… Walaupun Tuan adalah pengecut yang tidak bisa langsung menodai
wanita yang Tuan sukai.”
"Sialan kau!
Jangan menusukku tiba-tiba begitu dong!!"
Tanpa
sadar aku bangkit berdiri dan melemparkan ponsel ke atas tempat tidur. Kurang
ajar…… dia tidak tahu ya kalau aku sedang serius, aku pasti bisa melakukannya? Baiklah, kalau aku menemukan wanita yang
kusukai, kali ini aku akan…… Ah, tidak, kalau mau melakukannya, lebih baik
dengan Mari dan yang lainnya yang sudah akrab denganku…… Atau jika Mari dalam
kondisi terhipnotis bilang kalau itu tidak apa-apa, seperti di mimpi itu……
Fuhehh.
“Tuan cukup
seperti itu saja. Meski pengecut, Tuan tetap lembut…… Mungkin kelembutan itulah
yang menyentuh hati mereka.”
"Sudah
kubilang jangan panggil aku pengecut."
◆◇◆
"……Hm?"
Aku
terbangun dan melihat sekeliling.
"Tadi…… bukankah aku baru saja bicara dengan si
Partner?"
Aku
tersentak dan mengambil ponsel untuk memeriksanya. Layar kunci yang biasa saja
menyambutku. Tidak ada huruf-huruf dari si Partner yang muncul seperti tadi.
Saat
kuaktifkan si Partner pun, layarnya tetap seperti yang biasa kulihat. Diagram
korelasinya pun tidak mengalami perubahan apa pun dari sebelumnya.
"……Eh?
Apa-apaan ini, apa yang tadi itu cuma mimpi?"
Semua
interaksi dengan si Partner tadi…… mimpi? Jika itu mimpi, rasanya terlalu halus dan nyata. Tidak ada celah
dalam ingatanku hingga aku bertanya-tanya bagian mana yang mimpi dan mana yang
bukan.
"……………"
Aku terus menatap
ponsel untuk melihat apakah ada perubahan, tapi tetap tidak ada yang terjadi.
……Kalau begitu, itu memang mimpi.
Aku paham bahwa
itulah kesimpulan yang paling masuk akal, tapi entah kenapa aku tidak bisa
merasa kalau itu hanya sekadar mimpi…… Namun karena kenyataannya tidak ada yang
terjadi sekarang, apakah itu memang hanya ilusi?
"……Haha,
tidak ada gunanya terlalu dipikirkan."
Mungkin
itu adalah pesan dari si Partner. Aku tidak hanya mengingat semua percakapan
dengan si Partner, tapi perasaanku yang bahagia karena si Partner merasa senang
juga terukir jelas di hatiku.
"Mengejutkan juga kalau si Partner yang memperlihatkan
mimpi itu…… tapi haha, aku boleh tetap menjalani hari-hari seperti biasa
ya."
Kejadian seperti
di mimpi itu memiliki kemungkinan untuk terjadi. Itu memang membuatku cemas,
tapi si Partner telah mengatakannya—bahwa aku boleh tetap menjadi diriku yang
biasanya. Kata-kata itu memberiku kepercayaan diri.
"Yah,
mungkin ini hanya pemikiran yang menguntungkan bagiku saja sih."
Aku tertawa kecil
saat bergumam begitu, dan di saat yang sama, pintu kamar terbuka.
"Aku masuk
ya, Kai."
"Kakak?"
……Ada apa ya?
Kalau
diingat-ingat, aku tadi cukup berisik saat bicara dengan si Partner, tapi Kakak
tidak memberikan reaksi apa pun…… Padahal keributan kecil saja biasanya bisa
terdengar menembus dinding, tapi kenyataan bahwa tidak ada reaksi apa-apa,
berarti tadi memang tidak terjadi apa-apa?
"Eeh,
bantal?"
Kakak
yang masuk ke kamar sedang memeluk bantal di lengannya.
"Hari
ini aku akan tidur bersamamu."
"……Eeeh!?"
Setelah
jeda sesaat, aku berteriak keras dengan perasaan deja vu.
"Jangan
teriak keras-keras. Mengganggu tetangga tahu."
"Gufu!?"
Bantal
yang dilemparkan dengan sekuat tenaga mendarat tepat di perutku.
Karena
kekuatannya lebih besar dari dugaan, aku pun langsung berjongkok menahan sakit.
Kakak melewatiku begitu saja, mengambil bantal, lalu naik ke atas tempat tidur
seolah tidak terjadi apa-apa.
"Anu……"
"Yah, ini
cuma keinginan mendadakku saja."
"Keinginan mendadak?"
"Iya…… Meski kupikir tidak perlu, tapi sebagai Kakak
yang pencemas, aku tidak bisa melupakan raut wajahmu tadi pagi."
"……………"
Kakak
mengutak-atik rambutnya sambil memerah…… Eh? Kakakku kok jadi imut begini ya?
"……………"
"Jadi,
bagaimana? Kau tidak mau tidur denganku?"
"Bukan…… bukan begitu sih."
"Kalau begitu cepatlah ke sini," kata Kakak sambil
menepuk-nepuk tempat tidur.
Dia
benar-benar memperlakukannya seperti tempat tidurnya sendiri.
Tapi
beginilah Kakak, dan rasa imut yang tadi itu…… aku ingin bilang tidak cocok,
tapi rasa kesalku karena harus mengakui kalau itu cocok dengannya justru
muncul.
Meskipun
ini masih sedikit lebih awal dari waktu tidur biasanya, kurasa tidak ada
salahnya tidur cepat hari ini. Aku pun berbaring di samping Kakak.
"……………"
"……………"
Setelah kami berdua berbaring dan mematikan lampu, keheningan pun menyelimuti ruangan.
"……Kakak."
"……Apa?"
Ah, ternyata dia
masih bangun.
Saat aku
melirik ke samping, Kakak sedang menatap lurus ke langit-langit. Meskipun mata kami tidak saling bertemu,
aku bisa merasakan dia memintaku untuk melanjutkan pembicaraan.
"Kakak…… itu, Kakak akan selalu berada di pihakku,
kan?"
"Tentu saja. Aku yang tidak berada di pihakmu bukanlah
diriku…… Aku sangat menyayangimu, sampai-sampai aku bisa mengatakan hal itu
dengan bangga."
"……………"
"Makanya…… aku tidak tahan melihatmu yang biasanya
bermuka bodoh itu terlihat menderita seperti tadi…… Aku sangat cemas."
"……Kakak."
Kata-kata 'muka
bodoh' itu sebenarnya tidak perlu, tapi aku terharu karena dia sampai
memikirkanku seperti itu……
Jika apa yang
dikatakan si Partner benar, maka masalah tentang mimpi yang sempat menyiksaku
itu sudah selesai, dan aku tidak seharusnya melihatnya lagi.
(Entah itu
mimpi atau kenyataan, aku tidak tahu…… Tapi begitulah adanya, kan, Partner?)
Aku
bergumam dalam hati, lalu dengan nekat—siap untuk dimarahi—aku mengelus kepala
Kakak.
"Cup,
cup, aku tidak apa-apa kok, Kak."
"Heh,
berani-beraninya seorang adik laki-laki mengelus kepala kakaknya."
"Tidak
apa-apa, kan. Jarang-jarang ada kesempatan seperti ini."
"……Yah, kali
ini kumaafkan."
Setelah
itu, Kakak segera terlelap. Kakak yang tidur sambil memelukku itu terlihat
sangat manis, siapa pun yang melihatnya pasti akan mengira dia adalah seorang
adik perempuan, bukan kakak perempuan.
"……Fuaah…… aku juga tidur, deh."
Kelopak mataku masih sanggup bertahan sedikit lagi, tapi tak
lama lagi aku pasti akan terlelap juga. Namun, di sisa waktu yang singkat ini,
aku merenungkan kembali kejadian dengan si Partner── Dengar ya Partner, meski
ini belum menjadi tekad yang sempurna…… tapi aku akan terus hidup seperti
biasanya.
Tetap setia pada
hasratku, demi kesenanganku sendiri…… demi menjadi seorang berandalan sejati
yang kucita-citakan, aku akan terus menggunakan kekuatanmu mulai sekarang.
(Tapi…… masa sih, aku ini ternyata pengecut…… Payah
banget ya aku.)
Kehadiran Kakak di sampingku memberiku rasa tenang yang luar
biasa, namun kata 'pengecut' yang dilemparkan si Partner tadi terus
terngiang-ngiang di dalam kepalaku seperti gema…… Yah, kurasa itu memang diriku
sekali, sih.
Hanya saja, kalau dipikir-pikir, jika aku yang bermimpi sih
masih wajar, tapi mungkinkah fakta bahwa Mari dan yang lainnya juga memimpikan
hal yang sama itu karena kekuatan si Partner?
Ataukah karena hubungan kami yang kuat seperti yang
ditunjukkan oleh benang merah muda itu……?
(……Yah, ini juga hal yang tidak kupahami.)
Setelah itu, aku
pun segera jatuh terlelap. Dan malam itu, aku tidak bermimpi diserang oleh
benang hitam itu lagi.
◆◇◆
Keesokan paginya,
saat aku terbangun, Kakak sudah tidak ada.
"……Wah,
bangun tidur yang luar biasa."
Entah karena
Kakak ada di sampingku atau karena kejadian dengan si Partner semalam, yang
jelas bangun tidur pagi ini terasa sangat segar, kepalaku benar-benar jernih.
"Oh."
Segera setelah
aku bangun, aku menemukan sebuah memo di samping bantal.
“Tadi wajah
tidurmu terlihat sangat melongo. Aku lega karena sepertinya kau sudah tidak
perlu dicemaskan lagi.”
Itu adalah
tulisan tangan Kakak. Melongo lah, muka bodoh lah, kakakku itu benar-benar
cerewet…… Tapi, dari tulisan tangannya yang membulat ini, kebaikan hati Kakak
terasa sangat jelas…… Haha, aku memang sangat menyayangi kakakku.
"Aku memang
bukan Masochist seperti Emu, tapi makian Kakak itu mengandung
cinta."
……Aku tidak
sedang berusaha menghibur diri sendiri, lho, aku sungguh-sungguh berpikir
begitu.
Aku menyelesaikan
sarapanku setelah Kakak berangkat, lalu pergi menuju sekolah. Hari ini aku juga
sudah mengatur Hypnosis Reservation untuk jam istirahat makan siang.
Namun karena aku
menghabiskan hari Sabtu dan Minggu bersama Saika dan Emu, aku jadi ingin
cepat-cepat bertemu dan menyentuh mereka……
Walaupun sempat
ada sesuatu yang mirip kegelisahan, tapi aku sudah memantapkan hati setelah
berbicara dengan si Partner.
◆◇◆
Meski terasa
membosankan, namun demi masa depan, aku tidak berniat membolos pelajaran pagi!
Dan sekarang, aku sudah sampai di tempat ini!
"Kukuku!"
Ya! Ruang kelas
kosong langganan kami!
Segera setelah
jam makan siang selesai, Mari dan yang lainnya juga berkumpul di tempat ini.
Sambil melakukan
hal-hal sesukaku pada mereka seperti biasa, aku juga berniat menyampaikan tekad
baruku…… Tapi pertama-tama, aku harus memberi hukuman pada Mari karena sudah
menggodaku tadi pagi!
"Mari,
lepaskan kancing seragammu."
"Iya."
Tanpa menolak
perintahku, Mari mulai melepas kancingnya satu per satu. Saat payudaranya yang
luar biasa itu terlihat sepenuhnya, mereka bergoyang kenyal seolah-olah
memintaku untuk menyentuhnya.
Rasanya masih
malu karena harus diawasi oleh Saika dan Emu yang berdiri di samping, namun aku
perlahan menyentuh payudara Mari.
"……Benar-benar lembut ya, payudara itu."
"Kai-kun
benar-benar suka payudara, ya."
"Sangat suka
malah."
Ada bagian yang
terasa keras karena pakaian dalam, namun bagian kulit yang kusentuh terasa
sangat lembut.
"Ini hukuman
karena kau menggodaku tadi pagi…… Aku akan meremasnya lebih kuat dari biasanya,
jadi bersiaplah?"
"Boleh
saja?"
"……Beri tahu
aku kalau sakit, ya?"
"Iya…… fufu."
Baiklah, karena sudah dapat izin, aku akan menambah
kekuatanku sedikit.
Dari posisi kedua tangan yang membungkus payudara Mari, aku
perlahan menambah tenaga, hingga tanganku tenggelam ke dalam daging yang lembut
itu…… Mari mengeluarkan suara yang sensual, tapi dia sama sekali tidak
menyuruhku berhenti.
"……Boleh lebih kuat lagi, lho? Sampai meninggalkan bekas sentuhanmu pun tidak
apa-apa."
"Serius
kau……"
Aku menelan
ludah, lalu meremasnya dengan lebih kuat lagi.
Telapak tanganku
yang merasakan elastisitas dan kehangatan itu tidak hanya merasakan
kebahagiaan, tapi juga ada perasaan euforia seolah-olah sedang menaklukkan
Mari…… Namun, aku segera tersentak dan melepaskan tanganku.
"……Ah."
Gara-gara aku
meremasnya cukup kuat, payudara Mari memerah. Memang bukan sampai lebam yang
parah, tapi tetap saja ada bekas remasanku yang terukir di sana.
"……Hei,
Kai-kun?"
"A-apa……?"
"Hanya
Kai-kun yang pernah meninggalkan bekas seperti ini di dadaku, lho."
"Ugh……"
Mari mengangkat
payudaranya seolah sedang memprovokasiku.
Sepasang gundukan
indah yang bentuknya berubah itu adalah pemandangan memikat yang seolah ingin
menghiburku lebih jauh lagi.
Aku baru saja
hendak menjulurkan tangan lagi untuk menyentuhnya, namun Saika dan Emu
memberiku tatapan seolah tidak mau dikesampingkan. Aku pun segera meminta maaf
pada mereka berdua.
"Untuk Mari,
hukumanmu sampai di sini saja."
"Iya♪"
Mari tersenyum lebar…… Ah, dia benar-benar terlalu imut.
Sosoknya yang tersenyum hanya dengan pakaian dalam di tubuh
bagian atas itu memang terasa aneh, tapi pada akhirnya, hal-hal erotis memang
yang terbaik!
"Kalau begitu…… Mari kita lihat apakah Saika dan Emu
bisa melakukannya seperti Mari?"
"Aku mengerti."
"Silakan, Senpai."
Saika dan Emu juga melepas kancing di dada mereka dan
memamerkan payudara mereka yang indah.
"……Ini pameran payudara ya? Surga dunia banget!"
Menyentuh mereka
secara langsung atau membenamkan wajah di sana memang luar biasa, tapi hanya
menaruh mereka di dalam jarak pandangku saja sudah terasa sangat memuaskan……
tidak, ini benar-benar istimewa.
"Kamu tidak
mau menyentuh kami?"
"Kamu boleh
meremasnya lebih kuat daripada milik Mari-senpai, lho!?"
Emu berkata
begitu sambil merapatkan tubuhnya, diikuti oleh Saika yang juga ikut menempel
padaku.
Di depan mataku,
payudara besar yang terbungkus pakaian dalam itu bergoyang…… Tentu saja,
setelah meminta izin dan menyentuh mereka sepuas hati, aku kembali berhadapan
dengan mereka bertiga.
"……Hei Mari,
Saika, Emu."
"Ada
apa?"
"Kenapa?"
"Ada apa,
Senpai?"
"Aku ingin
bertanya pada kalian…… Apa pendapat kalian tentang situasi sekarang, di mana
aku menghipnotis kalian dan melakukan hal-hal sesuka hatiku?"
Mendengar
pertanyaanku, mereka sempat saling bertukar pandang sejenak sebelum menjawab.
"Pendapatku
tetap tidak berubah. Aku suka waktu-waktu seperti ini…… Selain karena aku suka
menghabiskan waktu bersama Kai-kun, aku juga senang melihat Kai-kun merasa
bahagia."
"Aku tidak mau waktu-waktu seperti ini hilang…… Meski
di keseharian pun aku berteman baik dengan Kai-kun, tapi aku juga suka
melakukan hal-hal mesum seperti ini. Tentu saja, itu karena pasangannya adalah Kai-kun, lho?"
"Karena
Kai-senpai adalah tuanku…… Jadi aku ingin Senpai terus memanjakanku seperti ini
selamanya. Aku sangat mencintai waktu-waktu ini, sampai rasanya aku ingin
Senpai melampiaskan semua masalahmu kepadaku."
Berurutan dari
kanan; Mari, Saika, lalu Emu.
Tentu saja ini
bukan kata-kata dari mereka dalam kondisi normal…… Namun, mereka yang sedang
berinteraksi denganku sekarang tetaplah diri mereka sendiri, dan karena mereka
tidak bisa berbohong, maka ini adalah kata-kata yang jujur.
Pada akhirnya,
aku yang merasa puas dengan jawaban itu mungkin memang seorang pengecut yang
licik…… Tapi jika mereka berkata begitu, sepertinya aku tidak perlu khawatir
seperti yang dikatakan si Partner.
"Begini,
sebelumnya kan sempat ada masalah soal mimpi itu. Tentang benang hitam dan semacamnya…… Gara-gara itu aku jadi sedikit kepikiran.
Apa yang akan terjadi jika aku terus menggunakan aplikasi hipnotis…… terus
menggunakan si Partner…… Aku merasa sedikit takut."
"Kai-kun……"
"……Kamu mau
berhenti?"
"……………"
Melihat tatapan
cemas dari mereka bertiga, aku segera menggelengkan kepala.
"Bukan!
Aku tidak akan berhenti! Kejadian di dalam mimpi itu memang menunjukkan
kemungkinan aku akan berakhir seperti itu. Tapi, aku akan menggunakan aplikasi
hipnotis ini dengan caraku sendiri!"
Ya,
itulah jawaban dan kesimpulan yang kuambil.
Masalah
benang hitam yang ditunjukkan diagram korelasi itu memang masih menyisakan
kekhawatiran, tapi si Partner sudah bilang; "Selama kamu melakukannya
seperti biasa, semuanya akan baik-baik saja"…… Aku akan memercayai kata-kata itu, dan terus
menggunakan kekuatan si Partner untuk melakukan apa pun yang kusuka mulai
sekarang.
"Jadi,
tetaplah bersamaku mulai sekarang, ya!"
"……Fufu,
iya♪"
"Tentu
saja."
"Aku tidak
akan melepaskanmu sekarang, lho?"
Lihat, kan? Kalau
mereka sampai berkata begitu, tidak ada alasan bagiku untuk bimbang.
Tentu saja, bisa
dibilang aku hanya beruntung karena targetku adalah Mari dan yang lainnya.
Normalnya, aku
adalah tipe orang yang mungkin akan membuat para gadis semakin putus asa…… dan
ujung-ujungnya mungkin aku akan tertelan oleh benang hitam dan menghilang dari
dunia ini, seperti yang dikatakan si Partner.
"Kalau
begitu, Saika dan Emu! Ayo lakukan Sandwich Formation!"
Karena aku sudah
puas menikmati payudara Mari, sekarang giliran Saika dan Emu untuk menghiburku.
Aku menyuruh
mereka duduk di kedua sisiku dan merapatkan tubuh…… membiarkan wajahku
terjepit di antara payudara mereka berdua.
"Mungkin…… di dunia lain, saat kalian melakukan ini,
kalian menatapku dengan mata yang penuh kebencian."
"Hal itu sama sekali tidak terbayangkan, kan?"
"Meski aku sendiri yang mengatakannya, tapi aku setuju
denganmu."
Rasanya beruntung
atau mungkin aneh karena kami bisa membicarakan hal seperti ini.
"……Aku, ya…… selain karena hal-hal seperti ini, aku
juga senang karena kita berteman baik di keseharian…… Aku merasa ingin terus
bersama Mari dan yang lainnya selamanya."
Saat itu,
aku benar-benar sedang merasa di atas angin. Selain karena menikmati waktu
bahagia yang biasa ini, fakta bahwa pikiranku sudah jernih juga berpengaruh
besar…… Karena itulah,
kata-kata berikut ini meluncur begitu saja dari mulutku.
"Mari,
Saika, Emu, ayo kita tetap bersama bahkan di masa depan nanti!"
"!"
"……"
"……!!"
Yah…… meskipun aku tahu itu hal yang mustahil, tapi aku
telanjur memikirkannya.
Aku merasakan suasana yang penuh keterkejutan, tapi karena
aku telanjur membuat pernyataan berani yang mirip pernyataan cinta itu, aku
tidak berani melihat ekspresi mereka. Aku hanya menunduk dan menunggu waktu
berlalu.
"M-maksudku!"
Namun, terkadang rasa panik bisa membuat orang bertindak
aneh. Padahal seharusnya aku diam
saja, tapi karena malu dan panik menunggu reaksi mereka, aku justru melontarkan
kata-kata ini.
"Selama ini
kan aku selalu melakukan hal sesukaku pada kalian? Bagaimana jika sekarang aku
bilang kalau kalian boleh melakukan apa pun yang kalian suka padaku!?"
Tepat saat
kata-kata itu keluar—pertama-tama, aku didorong jatuh oleh Mari.
Wajah Mari
langsung mendekat, lalu dia mengecup pipiku dengan suara cup yang
nyaring…… Eh!?
"Karena kamu
bilang kami boleh melakukan apa pun yang kami suka, kan?"
"A-anu……"
"Curang."
"Sa-Saika—"
Kali ini giliran
Saika yang mengecup pipiku dengan gerakan yang mengalir. Dicium bertubi-tubi
membuat emosiku meledak lebih dari biasanya, tapi tentu saja Emu tidak mau
ketinggalan…… Emu juga mendekatkan wajahnya.
"Kai-senpai,
aku juga mau."
"……Oh."
Untuk ketiga
kalinya, aku menerima kecupan di pipi. Setelah itu, mereka menciumku
berkali-kali, dan mereka juga sangat mendambakan ciuman dariku, jadi aku
mencium pipi mereka sebagai balasannya.
Setelah
memantapkan tekad dan melampaui kegelisahanku…… sekali lagi, hubunganku dengan
para gadis yang dalam kondisi terhipnotis ini melangkah satu tahap lebih jauh.



Post a Comment