Chapter 2
Menghipnosis Diri
Sendiri… Eh, Kamu Kenapa?
Bukan hanya aku,
tapi semua orang melihat mimpi yang sama... Kejadian ajaib—atau mungkin bisa
dibilang mimpi buruk—itu sudah berlalu beberapa hari.
Meski dalam
kondisi terhipnosis Matsuri dan yang lainnya telah bicara jujur, aku tidak
mungkin mengungkit hal itu kepada mereka dalam kondisi sadar.
Untungnya,
kejadian itu tidak berbuntut panjang, dan itu sangat membantuku.
".................."
Selesai sarapan,
sambil menyikat gigi di depan wastafel, tiba-tiba sebuah pikiran terlintas.
"Hipnosis...
apa bisa digunakan ke diri sendiri, ya?"
Yah, sambil
berpikir mana mungkin bisa, aku mencoba menggunakan kekuatan Partner dengan
perasaan iseng sambil menatap diriku di cermin.
"Hmm...
Untuk hari ini, jalani hari dengan gaya super ganteng!"
Yah, aku
tidak mau memberi perintah seperti lari telanjang yang pernah kuberikan pada
mantan pacar Matsuri, kan?
Kalau perintah
seaman ini... aman, tidak ya?
Pokoknya,
perintah begini sepertinya tidak akan menimbulkan kejadian aneh dan terasa
lebih menenangkan.
".................."
Aku menggunakan
Partner pada diriku yang terpantul di cermin, tapi tidak ada perubahan khusus.
"Hipnosisnya...
sepertinya aktif, sih."
Caranya sama
persis dengan saat kugunakan pada Matsuri dan yang lainnya, Partner memang
aktif.
Tapi karena aku
masih sadar sepenuhnya begini, sepertinya memang tidak mungkin. Ternyata kekuatan di luar nalar
seperti Partner pun tidak bisa melakukan hal bodoh seperti menghipnosis diri
sendiri.
"Ya sudah,
kalau begitu sekolah—ugh."
Eh...? Saat itu,
aku merasakan sensasi aneh. Seolah-olah terputus dari dunia, aku merasa seperti
melayang di mana kakiku tidak menginjak bumi.
"Heh, mari
berangkat."
Dalam sensasi
itu, telingaku menangkap suaraku sendiri. Tapi suara itu terdengar sangat gagah
sampai aku ingin bertanya apa itu benar-benar suaraku.
Rasanya tipe
suara yang membuat merinding, dan tepat setelah pikiran itu lewat, pandanganku
menjadi gelap.
◆◇◆
"Hei
Matsuri, kau sudah tidak apa-apa?"
"Eh? Apa
maksudnya?"
"Itu lho,
beberapa hari lalu kau kan kelihatan gelisah sekali."
"...Ah~ soal
itu ya."
Aku tertawa kecut
mendengar perkataan sahabatku, Ricchan. Kata 'gelisah' yang dia maksud adalah
hari di mana aku bermimpi memberikan pelayanan manja pada Kai-kun.
Hari itu, meski
aku tahu itu cuma mimpi, saat Kai-kun ada di depanku, aku langsung teringat
mimpi itu dan tidak bisa bersikap biasa padanya.
(Siapa sangka
Saika dan Emu-chan juga melihat mimpi yang sama...)
Sebenarnya, aku sudah mendengar ceritanya dari Saika dan
Emu-chan.
Kai-kun di dalam mimpi sangat agresif, melakukan hal-hal
yang tidak bisa dilakukan di dunia nyata... Bukannya aku tidak mengizinkannya,
tapi dia melakukan banyak hal memalukan, dan karena dia bilang ingin kami
melakukannya, kami melakukannya dengan senang hati—karena kami ingin membuatnya
senang.
"Ehehé..."
"Aduh, gawat. Dia sudah tidak tertolong."
Habisnya, habisnya!
Kai-kun itu sangat baik, dia pahlawan yang menolongku... dan
dia juga orang yang menyelamatkan Saika serta Emu-chan, tahu?
Lagipula... dia
adalah orang yang sangat kusukai!?
Orang seperti
itu, meski di dalam mimpi, bersikap seberani itu—meremas dan mengisap
dadaku—tentu saja hatiku langsung berdebar kencang, kan!?
Berbeda dengan
sosok kerennya saat menolongku, wajahnya yang sedikit mesum saat kalah oleh
nafsu itu sangat imut.
Ditambah lagi,
dia tetap tidak lupa memperhatikanku di sela-sela itu, benar-benar membuat
hatiku luluh!?
"...Itu
kan indah banget."
"Apanya
yang indah."
"Berisik."
"Kejam
banget!?"
Ricchan
memprotes sambil menggoyangkan kuncir kembarnya yang imut, tapi kurasa tidak
sopan menyela orang yang sedang berfantasi bahagia.
Meski begitu, hari ini... Kai-kun datangnya lama sekali, ya.
Biasanya dia datang lebih awal, tapi hari ini orang yang paling ingin kutemui
di sekolah belum muncul juga... Apa terjadi sesuatu padanya?
"Hah..."
"Sekarang malah mendesah... Kalau kau terus
mengabaikanku, kubetot nih dada besarmu."
"...Hah."
"Boleh ya!?
Jangan protes kalau kusentuh, lho!?"
Di hadapan
perasaan galau ini, biarlah kurelakan saja. Ricchan menyentuh dadaku, tapi aku
tidak terlalu peduli dan tetap menatap ke pintu kelas... Dan tak lama kemudian,
Kai-kun muncul.
"Ah..."
Aku sampai tanpa
sadar mengeluarkan suara karena begitu menantikannya.
Baru melihatnya
saja sudah membuatku senang, dan kehadirannya yang memberikan rasa aman
membuatku langsung berdiri... tapi, aku memiringkan kepala keheranan.
"...?"
Yang masuk ke
kelas memang benar Kai-kun. Caranya masuk sambil menyampirkan tas di bahu pun
seperti biasa... Tapi, rasanya ada yang berbeda. Perasaan janggal apa ini?
"Mukai-kun,
Endo-kun... ada apa?"
Mukai-kun dan
Endo-kun, sahabat Kai-kun, tampak menjauh sambil menatap Kai-kun dengan curiga.
Karena penasaran, aku menghampiri Mukai-kun dan yang lainnya terlebih dahulu.
"Mukai-kun,
Endo-kun, selamat pagi."
"Selamat
pagi, Aizaka."
"Se-selamat
pagi..."
Sikap mereka
berdua aneh, dan penyebabnya pasti Kai-kun.
"Apa terjadi
sesuatu pada Kai-kun?"
"Yah...
kalau ditanya ada apa, memang ada apa-apanya sih."
"Aku
tidak paham lagi... benar-benar tidak paham."
"??"
Mereka bilang
kalau aku penasaran, tanya saja sendiri. Karena memang itu tujuanku, aku pun
mengangguk. Aku mendekati Kai-kun yang sedang mengeluarkan buku pelajaran dari
tasnya dan menyapanya.
"Kai-kun...
selamat pagi?"
"Ah, selamat
pagi, Matsuri."
"!?"
Begitu aku
menyapanya dengan ragu, Kai-kun membalas salamku dengan senyum lebar yang
menawan.
Bukan hanya
senyum yang memperlihatkan deretan gigi putih yang berkilau, tapi seolah-olah
ada bintang-bintang yang bercahaya di sekitar Kai-kun... Apa-apaan aura ganteng
seperti di manga shoujo ini!?
"Matsuri?
Ada apa denganmu?"
"Heh!? Ah,
tidak, bukan apa-apa... Ngomong-ngomong, Kai-kun?"
"Ada
apa?"
"Kau...
merasa aneh di suatu tempat?"
Ih, aku ini
bicara apa, sih! Tiba-tiba bilang aneh! Aku baru saja mau minta maaf karena
sudah bicara yang tidak-tidak, tapi Kai-kun hanya terkekeh pelan dan tidak
menunjukkan reaksi tersinggung sama sekali.
"Di depan
gadis semanis Matsuri, mungkin aku memang jadi sedikit aneh. Jika kita hanya
berdua saja, kau adalah gadis yang begitu memikat sampai aku tidak tahan untuk
mengulurkan tanganku."
"Ka-Kai-kun...!?"
Tunggu, tunggu,
tunggu! Ini benar-benar aneh! Mana mungkin Kai-kun bicara seperti itu... Tidak,
kalau dia mengatakannya aku memang senang, tapi setidaknya Kai-kun yang
biasanya tidak mungkin bicara begini!
"Wajahmu
merah sekali... apa terjadi sesuatu? Apa kau flu?"
"Hyaaa...!?
A-anu..."
Tangan Kai-kun
yang terasa dingin menyentuh pipiku yang panas. Sampai-sampai suara di sekitar
tidak terdengar lagi, pandanganku terkunci pada Kai-kun, dan aku hanya bisa
mendengar suaranya.
"Jangan-jangan...
kau malu ya?"
"Te-tentu
saja... siapa yang tidak malu diginiin."
"Kalau
begitu, maaf ya. Tapi sosokmu yang malu begitu juga imut, dan aku sangat
menyukai sosokmu yang biasanya ceria."
"!?"
"Aku selalu
berpikir begitu, tapi keinginan untuk memonopoli sosokmu itu... mungkin
hanyalah keegoisanku saja, ya."
"!?!?"
Kalimat seperti
ini... biasanya pasti bisa kutertawakan dan kuabaikan. Tapi justru karena lawan
bicaranya adalah Kai-kun, kata-kata itu menancap dalam di hatiku, sampai kakiku
lemas dan aku jatuh terduduk.
(A-a-a-a-apa yang sedang terjadiiiiiii!?)
Ini bukan
Kai-kun! Aku ingin berteriak begitu, tapi di saat yang sama aku juga bisa
memastikan kalau ini memang Kai-kun.
Aku sama sekali
tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi sekarang aku paham kenapa
Mukai-kun dan yang lainnya terlihat sangat lelah.
"Ma-maaf ya!
Aku tidak apa-apa!"
"Begitu ya... Kalau ada apa-apa bilang ya? Aku ingin membantumu."
"U-um...!!"
Auranya... aura
gantengnya terlalu kuat! Bukan hanya sekadar kata-kata, Kai-kun sama sekali
tidak terlihat sedang bercanda. Karena ketulusannya begitu terasa, jantungku
jadi berdegup sangat kencang.
"Ka-kalau
begitu... sepulang sekolah mau jalan-jalan?"
"Tentu. Aku
akan mengosongkan jadwalku demi Matsuri."
"Terima kasih!"
Di tengah
kekacauan itu, aku melakukan pose victory dalam hati karena berhasil
mendapatkan janji darinya. Setelah itu, aku pun menjauh sejenak dari Kai-kun.
Namun, tetap saja Kai-kun yang hari ini terasa aneh. Aku harus terus
mengawasinya agar bisa membantunya jika terjadi sesuatu...!
"Ada apa
sebenarnya?"
"Bukan
apa-apa."
"Pasti ada
sesuatu, kan!"
"Berisik,
Ricchan."
Begitulah, hari
pemantauan sekaligus pengawasan Kai-kun pun dimulai.
◆◇◆
Hari itu,
keberadaan Kai terasa sangat asing. Bukan hanya saat berinteraksi dengan
Matsuri, tetapi setelah itu pun keasingannya terpancar tanpa sisa. Pertama,
saat jam pelajaran matematika di jam pertama.
"Kalau
begitu, Masaki, coba kerjakan soal ini."
"Baik."
Suaranya
terdengar lantang dan berwibawa. Biasanya, siapa pun yang ditunjuk oleh guru
saat pelajaran, hanya sedikit murid yang benar-benar peduli.
Karena itu, tidak
ada reaksi khusus saat Kai bangkit dari kursinya. Guru menunjuk murid,
murid menjawab soal, lalu selesai... Seharusnya begitu.
(Kai-kun... bahkan caranya menjawab pun benar-benar
berbeda, ya.)
(Anak itu... sebenarnya ada apa dengannya?)
(Kalau
dibilang sedang sok keren... tapi ini aneh sekali.)
Matsuri,
Akira, dan Shogo—tiga orang dalam kelas yang menyadari keanehan
Kai—memperhatikan punggung Kai yang berjalan menuju papan tulis dengan saksama.
Tentu saja, Kai
sendiri tidak menyadari tatapan-tatapan itu. Setibanya di depan papan tulis,
Kai mengerjakan soal tersebut dengan lancar.
Meski soal itu
baru saja dipelajari hari ini, sang guru tampak puas melihatnya terselesaikan
dengan sempurna.
"Jawaban
yang sempurna. Padahal baru diajarkan hari ini, tapi kau sudah bisa menggunakan
rumusnya dengan baik."
"Itu semua berkat pengajaran Anda, Pak. Bisa bertemu
dengan pendidik luar biasa seperti Anda adalah kebahagiaan terbesar bagi
saya."
"Masaki...
kau...!"
Sang guru tampak
terharu dan mengusap kepala Kai. Itu adalah momen yang mengharukan antara guru
dan murid, dan teman-teman sekelas seharusnya melihatnya dengan senyuman
hangat... Namun, kenyataannya tidak begitu.
Mereka justru
menatap Kai dengan ngeri karena mendengar kalimat yang terlalu berlebihan itu.
"Apa-apaan...
barusan itu?"
"Apa Masaki
memang tipe orang yang seperti itu?"
"Gara-gara
jadi akrab dengan Aisaka dia jadi aneh... tapi aku iri, sial!"
Berbagai komentar
buruk dilontarkan pada Kai, meski tidak ada yang kelewat batas. Interaksi
antara Kai dan sang guru masih terus berlanjut.
"Kalau
begitu, apa kau bisa mengerjakan soal yang ini? Kalau ada yang tidak
dimengerti, tanyakan saja. Mari kita kerjakan bersama."
"Tidak
perlu, saya sama sekali tidak masalah. Sudah saya katakan, ini semua berkat
pengajaran Anda. Nah, bagaimana dengan jawaban ini?"
"Umu, benar
lagi! Wah, ada apa denganmu hari ini, Masaki? Kau terasa berbeda dari
biasanya."
"Ahaha,
harus berapa kali saya mengatakannya? Ini semua berkat didikan Anda, Pak."
"Nilai
matematikamu semester ini, nantikan saja!"
Pak
guru gampang banget dikibulin, batin para murid serempak.
Bahkan
teman sekelas yang jarang berinteraksi dengannya pun menyadari kalau Kai hari
ini benar-benar aneh.
Memang
terlihat seperti sedang menjilat guru, tapi mereka merasa ada sesuatu yang lain
yang sedang terjadi pada diri Kai.
"Fuu,
syukurlah bisa menyelesaikannya tanpa hambatan. Aku harus terus mengasah diri."
Orang
yang bersangkutan tetap bersikap seperti itu, sama sekali tidak peduli dengan
suasana di sekitarnya.
Ia tidak
tinggi hati karena bisa mengerjakan soal, justru menunjukkan ambisi untuk
bekerja lebih keras lagi. Melihat itu, sang guru kembali meneteskan air mata
haru.
Pemandangan
kelas seperti itu terus berlanjut hingga akhirnya jam istirahat tiba. Begitu guru keluar dan kelas menjadi
gaduh, Kai pergi ke koridor menuju toilet. Dan saat dalam perjalanan kembali
dari toilet, seseorang memanggilnya.
"Kai-kun."
"Hmm? Suara
ini, Saika ya?"
"Iya...
eh?"
Melihat gelagat
Kai, Saika pun ikut memiringkan kepalanya bingung seperti Matsuri. Tampaknya,
semakin seseorang mengenal Kai, semakin mudah bagi mereka untuk menyadari
perubahan itu hanya dengan melihatnya saja.
"Ada apa
menatapku lekat-lekat begitu? Bukannya aku tidak suka ditatap oleh gadis cantik
sepertimu, tapi aku jadi penasaran."
"A-Anu..."
Meski wajah datar
adalah setelan standar bagi Saika, ekspresinya akan menjadi kaya saat berada di
depan Kai.
Namun, dipanggil
gadis cantik secara terang-terangan membuat wajahnya memerah karena malu.
Mungkin karena melihat wajah malu-malu Saika, Kai tiba-tiba melipat tangan di
depan dada.
"Kai-kun?"
"Hmm..."
Meski pipinya
merona, Saika tampak kebingungan. Sambil terus ditatap oleh Saika, Kai berpikir
sejenak, lalu membuka mulutnya seolah telah menyadari sesuatu.
"Tadi juga
terjadi saat berinteraksi dengan Matsuri... kalau begini, bukannya terlihat
keren, aku malah tampak seperti cowok narsis yang sok gaya saja. Haha, aku
sedikit terlambat menyadarinya."
"Anu...
sebenarnya kamu kenapa?"
"Tidak,
bukan apa-apa. Maaf sudah menghentikan langkahmu... Aku akan memanggilmu
lagi nanti, aku akan senang jika kita bisa mengobrol."
"Eh? Ah,
iya... ajak aku kapan saja, ya? Tentu saja aku juga akan mengajak Kai-kun...
karena aku ingin mengobrol dan ingin bersamamu."
"Ya, terima
kasih."
"..."
Setelah
meninggalkan kata-kata itu pada Saika, Kai kembali ke kelas.
Nah... jawaban
mengenai perubahan abnormal Kai ini sebenarnya sudah ada—inilah efek dari
hipnotis yang dipasang Kai pada dirinya sendiri untuk "menghabiskan hari
dengan bersikap seperti cowok keren".
Terlepas dari
apakah tindakannya itu benar-benar mencerminkan cowok keren atau tidak, jika
melihat reaksi sejauh ini, tampaknya hal itu berhasil mengenai sasaran pada
Matsuri dan Saika, meski mereka menganggapnya aneh.
"Baiklah,
aku harus semangat di pelajaran berikutnya."
Masih banyak
tatapan yang tertuju pada Kai saat ia kembali ke kelas. Memang hari ini
sosoknya benar-benar menjadi pusat perhatian.
Karena Kai tidak
ditunjuk lagi pada pelajaran-pelajaran setelahnya, waktu berlalu tanpa kejadian
berarti... Dan saat di mana Kai kembali sadar adalah tepat setelah ia selesai
makan siang di jam istirahat.
◆◇◆
"...Lho?"
Tiba-tiba, aku
menggumamkan suara kebingungan. Di tanganku ada kotak bekal yang sudah kosong... Aku tidak ingat telah
memakan apa pun, tapi sepertinya aku sudah menghabiskan bekal buatan Ibu. Dan saat aku melihat sekeliling, di sini
adalah... ruang kelas?
"...Lhooo?"
Aneh... Bukankah seharusnya aku ada di rumah?
Tadi aku
di rumah sambil melihat cermin... Eh?
Apa yang ingin
kulakukan tadi? Bukan itu poinnya, kenapa aku yang seharusnya ada di rumah
malah ada di sekolah, dan lagi ini sudah jam istirahat siang?
"...??"
Eh, seram. Karena
merasa tidak tenang, aku keluar dari kelas dan berjalan menyusuri koridor.
"Apa... apa
yang sebenarnya terjadi?"
Saat aku refleks
mengeluarkan ponsel, entah kenapa baterainya juga sudah habis. Berpikir mungkin
aku sedang bermimpi buruk, aku terus berjalan tanpa tujuan hingga tanpa sadar
sudah turun ke lantai dua.
"Eh?
Kai-senpai?"
"Emu?"
Emu sedang
berdiri tepat di dekat tangga. Aku ingat tempo hari juga pernah memanggilnya ke
sini. Begitu berhadapan dengan Emu, perasaanku menjadi sedikit lebih tenang.
"Ada apa,
Senpai?"
"Tidak, Emu
sendiri sedang apa di sini?"
"Tidak ada
alasan khusus. Aku baru saja mengobrol dengan temanku di sana."
"He~..."
"Lalu,
Kai-senpai sebenarnya kenapa?"
"...Ah~"
Aku bingung
bagaimana harus menjelaskannya, tapi lama-kelamaan aku merasa itu tidak penting
lagi.
Mungkin karena
perasaanku sudah tenang, dan aku juga tidak ingin membuat Emu yang lebih muda
dariku merasa khawatir.
"...Fuh."
"Senpai?"
"Ah,
maaf—melihat wajah Emu membuatku merasa bersemangat lagi."
"...Eh?"
"Tidak,
sepertinya tadi aku melamun. Mungkin aku sedang lelah... tapi serius, melihat
wajah Emu membuatku kembali bertenaga. Terima kasih ya!"
"I-Iya!"
Aku pun
membalikkan punggung pada Emu yang menjawab dengan penuh semangat.
(Aku
tidak mengerti... tapi kalau dipikir-pikir dengan tenang, karena baterai
ponselku habis, aku tidak bisa melakukan Reservation Hypnosis, kan!)
Padahal
ada hal lain yang harus kupikirkan, tapi bagi aku, masalah terbesarnya adalah
tidak bisa bermesraan dengan bantuan kekuatanku.
Memanggil
Matsuri dan yang lainnya di jam istirahat siang lalu bersentuhan dengan
keempukan itu... Itulah kesenangan harianku, sekaligus satu-satunya tujuanku
berjuang!
"...Haa,
mau dibilang apa pun, tidak ada gunanya, ya?"
Tiba-tiba,
aku berhenti melangkah sambil memiringkan kepala. Banyak hal yang tidak
kupahami mengenai situasi sekarang, seolah ingatanku tertutup kabut.
Namun,
tiba-tiba kabut itu tersingkap dengan deras dan aku mengingat semuanya.
"A...
AAAAAAAAAAAAAAA!!"
Karena
aku tiba-tiba berteriak keras, siswi yang berjalan di sampingku tampak terkejut
dan menjaga jarak, lalu bergegas lari menjauh. Aku memegangi kepala karena
merasa sudah melakukan kesalahan fatal. Pasti siswi tadi menganggapku murid
laki-laki yang sangat aneh.
"Bukan,
hal itu tidak penting... bukannya tidak penting, tapi lupakan dulu... Aku,
bukannya hipnotis yang kupasang pada diriku sendiri itu berhasil?"
Meski aku
bilang sudah ingat, itu hanya ingatan di pagi hari.
Ingatanku
hanya tersisa sampai saat aku memberikan perintah pada diriku sendiri di depan
cermin untuk "mencoba menghabiskan hari ini dengan bersikap seperti cowok
keren"... Mengingat tidak adanya ingatan setelah itu dan alasan baterai
ponselku habis, jawabannya muncul secara alami.
"...Aku sama
sekali tidak ingat."
Untuk kedua
kalinya kukatakan, aku hanya ingat sampai saat memberikan perintah.
Aku tidak ingat
satu pun kejadian setelah sampai di sekolah... Bagaimana jika saat dalam
kondisi terhipnotis aku melakukan hal aneh di kelas? Memikirkannya saja
membuatku sangat takut... Uugh, aku benar-benar takut kembali ke kelas.
"Kai-kun?"
"Nuoaaa!?"
Seseorang menepuk
pundakku dan memanggil namaku. Karena sedang fokus melamun, aku mengeluarkan
teriakan yang tidak jelas. Saat aku segera menoleh, ternyata di sana ada
Matsuri.
"Matsuri...?"
"I-Iya... Kai-kun, kamu tidak apa-apa?"
Meski aku baru
saja mengeluarkan teriakan aneh, Matsuri tetap tulus mengkhawatirkanku. Aku
merasa senang dengan perhatiannya, tapi di atas semua itu, aku ingin segera
menanyakan keadaanku sejauh ini.
"Matsuri,
apa kau sedang senggang sekarang?"
"Sangat
senggang, kok."
"Ka-Kalau
begitu, maukah kau ikut denganku ke ruang kelas kosong sekarang?"
"Boleh saja,
tapi... berdua saja?"
"Ya, aku
mohon, hanya berdua saja."
"B-Baiklah!"
Masih ada sisa
waktu sebelum jam istirahat berakhir. Merasa diperhatikan saat berjalan bersama
Matsuri memang bukan hal baru, tapi aku merasa kali ini lebih banyak tatapan
penuh kecurigaan yang tertuju padaku daripada biasanya... Sebenarnya apa yang
telah terjadi!?
"...Nah,
sekarang."
Sambil membawa
Matsuri, aku tiba di ruang kelas kosong yang sudah sangat akrab bagiku. Kalau
dipikir-pikir, apakah ini pertama kalinya aku membawa seseorang ke sini dalam
kondisi sadarku? Mengingat orang itu adalah Matsuri, aku merasa ada sedikit
ikatan takdir... Pokoknya, ada hal yang harus kupastikan sekarang!
"Matsuri!"
"I-Iya!"
Karena terlalu
menuntut jawaban, tanpa sengaja aku mencengkeram bahu Matsuri. Sepertinya tidak
terlalu kuat, tapi karena bahu Matsuri gemetar terkejut, aku segera melepaskan
tanganku.
"Ma-Maaf..."
"Tidak...
t-tidak apa-apa, kok! Apa ini... pembicaraan penting?"
"Ya,
pembicaraan penting... pembicaraan yang sangat penting."
"...Iya. Aku
mau mendengarkannya."
Matsuri-iii...
memang Matsuri yang terbaik! Suasana di sekitar entah kenapa terasa sangat
serius. Tapi benar juga... aku pun ingin tahu apa yang terjadi dengan serius,
jadi suasana ini tidaklah salah.
"Mungkin
aneh menanyakan ini, tapi apakah Matsuri melihatku hari ini?"
"Iya, aku
terus melihatmu kok. Sejak pagi, aku terus-menerus memperhatikan Kai-kun."
Sambil berkata
begitu, Matsuri melangkah maju satu langkah. Rambutnya yang halus dan terawat
bergoyang, menebarkan aroma yang harum.
Karena
jarak kami yang dekat, aku bisa melihat belahan dadanya yang mengintip...
Melihat seluruh pemandangan itu di dalam mimpi memang tidak buruk, apalagi
menyentuhnya, itu yang terbaik... Tapi melihatnya sekilas saat masih terbungkus seragam seperti ini juga
terasa sangat luar biasa.
"...Ehem!"
Setelah
berdehem sejenak, aku langsung mencoba bertanya. "Mungkin ini terdengar
seperti pertanyaan yang aneh... tapi apakah aku hari ini terlihat
berbeda?"
"...Heh?"
Mendengar
pertanyaanku, Matsuri menunjukkan ekspresi melongo. "A-Ah, jadi begitu... Ahaha, aduh, aku ini kenapa, ya."
"Matsuri?"
"Ma-Maaf!
Sepertinya aku tadi salah paham... Eh, Kai-kun sudah kembali normal, ya!"
Dan kali
ini, gilirannya yang mencengkeram bahuku. Bukan sekadar mencengkeram, ia bahkan
mengguncang-guncangkan tubuhku.
Bukankah
ini bukti bahwa baginya pun, aku telah menjadi orang yang aneh selama masa
ingatanku yang hilang itu...?
Lagipula,
dia sendiri bilang aku sudah 'kembali normal'!
"Itu...
bolehkah aku tahu seperti apa aku tadi?"
Begitulah,
aku pun mendengarkan ceritanya tentang diriku sejak tiba di sekolah. Meski
seharusnya itu adalah pertanyaan yang tidak masuk akal bagi Matsuri, ia tetap
menjelaskannya dengan sangat lembut dan detail... Hasilnya, aku rasanya ingin mati saja karena malu.
"Uugh...
apa-apaan itu... itu bukan aku sama sekali..."
Mengucapkan
kata-kata memalukan yang bikin geli, mengucapkan kalimat-kalimat manis yang
lebih dari sekadar menjilat guru saat pelajaran—singkatnya, segala perkataan
dan perbuatanku tadi sangat jauh dari diriku yang biasanya.
"Ta-Tapi aku
tidak merasa keberatan kok, dan pak guru juga kelihatan sangat senang!"
"..........."
"Teman-teman
sekelas memang terkejut... tapi tenang saja, kamu sama sekali tidak membuat
siapa pun merasa tidak nyaman!"
"...Iya."
Aku tidak
bisa tenang... Memang tidak bisa, tapi aku senang karena Matsuri menghiburku.
Lagi pula, ini semua adalah benih yang aku tanam sendiri, jadi kalau ditanya
siapa yang salah, ya aku sendiri... Yah, setidaknya aku tidak merepotkan orang
lain, mungkin di bagian itu aku bisa sedikit lega.
"Anu...
Kai-kun!"
"Eh...!?"
Kira aku
ia akan merangkul kepalaku dengan lembut, ternyata aku langsung didekap oleh
sensasi yang empuk.
Seluruh
wajahku tertutup, aroma manis dan kehangatan yang nyaman seolah membasuh habis
perasaan buruk di dalam diriku... Ah, benar—ini adalah payudara, sensasi yang selama ini ingin kurasakan tapi
tidak bisa kurasakan!
"Pasti ada sesuatu yang terjadi, kan... Tapi tidak
apa-apa. Aku ada di pihakmu,
Kai-kun."
Merasakan usapan
lembut di kepalaku dan suara lembut yang berbisik di telingaku, aku merasakan
naluri keibuan yang luar biasa. Rasanya aku ingin semakin manja
padanya... Padahal Matsuri yang sekarang tidak sedang dalam kondisi
terhipnotis.
"Aku tidak akan melakukan hal seperti ini pada orang
lain... Hanya karena ini Kai-kun. Sejak aku dibantu olehmu dan kita menjadi
akrab, aku ingin menjaga hubungan ini dengan baik... Jadi, saat Kai-kun sedang
kesulitan, aku akan mendekapmu seperti ini."
"...Matsuri,
kau terlalu baik."
"Bukan cuma
aku saja. Saika dan Emu-chan juga sama, apalagi Mukai-kun, Endo-kun, dan
kakakmu juga ada di pihakmu, kan?"
"Haha, kau benar... Terima kasih, ya."
Meski masih ingin
lebih lama, aku menjauhkan wajahku dan kami pun tertawa bersama. Sebenarnya aku
masih ingin menikmati sensasi payudara Matsuri lebih lama lagi, tapi aku tidak
boleh terlalu egois... Tapi, kalau punya pacar yang bisa menghibur seperti dia,
hidup pasti akan sangat bahagia.
"Hmm? Ada
apa?"
"...Tidak,
bukan apa-apa."
Aku
segera membuang muka dan menatap ke depan.
Jika
gadis seperti Matsuri menjadi pacarku... aku pasti bisa melakukan hal-hal yang
kulakukan di mimpi dengannya dalam kondisi sadar, bahkan melakukan 'itu' pun
pasti... Tapi, aku ini memang laki-laki brengsek—bukan cuma Matsuri, wajah
Saika dan Emu pun terlintas di pikiranku.
Aku
bahkan sempat berpikir betapa hebatnya jika aku bisa menjadikan mereka bertiga
sebagai pacarku... Yah, ini memang cara berpikir seorang bajingan.
"Kalau
begitu, ayo kita kembali!"
"O-Oh!"
Bersama Matsuri,
aku memantapkan hati untuk kembali ke kelas. Begitu pintu terbuka, banyak
pasang mata langsung tertuju padaku. Inilah tatapan-tatapan untuk diriku yang
tadi sempat berakting menjadi cowok keren jadi-jadian.
"Ayo
semuanya! Jangan menatap begitu! Sebenarnya Kai-kun itu begadang semalam dan
kurang tidur. Makanya tadi dia kelihatan sedikit berbeda dari biasanya."
"Matsuri?"
"Serahkan
padaku ♪"
Berkat
penjelasannya yang mengarang cerita bahwa aku kurang tidur, tatapan yang
menganggapku orang aneh berubah menjadi tatapan jengkel seolah berkata
'apa-apaan sih'. Kemudian
Akira dan Shogo segera mendekat dan merangkul bahuku dengan erat.
"Kau...
sudah kembali, ya?"
"A-Ah,
iya..."
"Syukurlah...
sosok yang tadi itu benar-benar bukan kau."
"Sampai
segitunya...?"
Melihat
teman-temanku yang merasa lega seolah-olah semuanya sudah berakhir dengan baik,
di balik rasa syukurku karena masalah telah selesai, aku merasa hampa
memikirkan tentang sosok 'cowok keren' yang kudambakan itu.
(Kalau
dengar ceritanya, aku bisa menjawab soal-soal pelajaran dengan lancar... Tapi karena aku tidak ingat, itu sama
sekali tidak berguna bagiku. Dan meski aku berakting jadi cowok keren, jadinya
malah begini... Begitu ya, ini terasa seperti pesan bahwa tidak baik
menggunakan hipnotis pada diri sendiri untuk mencari jalan pintas.)
Bukannya aku
berniat mencari jalan pintas, ini murni hanya untuk eksperimen.
Namun, bisa
melihat sisi buruknya seperti ini adalah sebuah pelajaran. Ternyata, kekuatan
'Partner' ini memang paling menunjukkan nilai aslinya di bidang mesum.
(Mungkin saja
saat ujian, ada kemungkinan aku bisa mendapat nilai bagus tanpa belajar jika
aku menghipnotis diriku sendiri... Tapi itu tidak akan berguna bagi masa
depanku. Mulai sekarang, aku akan menggunakan kekuatan Partner untuk tujuan
mesum dan sesekali untuk membantu orang saja!)
Di tengah
kerumunan Akira dan yang lainnya, aku kembali menyampaikan terima kasih pada
Matsuri.
Baterai ponselku
masih habis total, tapi karena tadi sudah 'diisi ulang' oleh Matsuri, baterai
semangatku sekarang sudah penuh.
Begitulah, aku
berhasil melewati pelajaran sore hari, dan mulai memikirkan apa yang akan
kulakukan setelah pulang sekolah.
"Kai-kun."
"Ya?"
Begitu aku
bangkit dari kursi, Matsuri yang sudah menyampirkan tas di bahunya mendekat.
"Ada
apa?"
"...Ah,
benar juga. Kamu lupa soal janji kita, ya."
"Janji?"
Janji apa?
"Sebenarnya,
kita sudah janji mau pergi jalan-jalan sepulang sekolah."
Begitu ya...
rupanya aku membuat janji itu saat masih jadi cowok keren jadi-jadian.
Tentu saja aku
tidak ingat sama sekali, tapi kebetulan aku memang sedang berpikir apa yang
akan kulakukan sore ini.
Lagipula,
melewatkan kesempatan jalan-jalan dengan gadis sepulang sekolah itu benar-benar
sebuah pemborosan.
"Kalau tidak
ingat, mau dibatalkan saja? Sayang sih kalau begitu..."
"Tidak,
kalau Matsuri tidak keberatan... aku mau jalan-jalan!"
"Ahaha!
Kalau begitu sudah diputuskan, ya ♪"
Setelah rencana
sore ini ditentukan, aku keluar dari sekolah bersama Matsuri. Kami berjalan ke
kota tanpa tujuan khusus, dan pembicaraan kami beralih ke soal baju renang yang
kami beli beberapa waktu lalu.
"Kita
sudah beli baju renang bareng kakakmu juga, kan? Waktu itu kita bilang mau
pergi saat liburan musim panas, dan aku kepikiran ingin mencoba pergi ke
fasilitas hiburan yang baru buka baru-baru ini. Bagaimana kalau minggu
depan?"
Fasilitas
hiburan yang dimaksud Matsuri adalah bangunan yang baru buka tahun ini.
Aku
dengar reputasi kolam renang indoor-nya cukup bagus, dan sepertinya
Kakak juga pernah bilang ingin pergi ke sana... Bagiku pun, aku ingin melihat kembali sosok
Matsuri dan Saika dalam balutan baju renang! Baju renang Kakak?
Sosok
cebol kayak dia sih tidak penting... Eh!?
"Ada
apa?"
"Ti-Tidak..."
Sesaat,
aku merasakan hawa dingin yang luar biasa. Baju renang Kakak tidak penting...
mungkinkah dia merasakan gumaman hatiku barusan? Kalau benar begitu, Kakakku
itu benar-benar Raja Iblis.
"Ah!
Jangan-jangan kamu baru saja memikirkan hal buruk tentang kakakmu ya!"
"Ko-Kok
tahu!?"
"Ahaha,
soalnya kamu gampang ditebak sih ♪"
"..........."
"Mungkin
sesuatu seperti 'Baju renang Kakak pasti kelihatan kekanak-kanakan', atau
semacam itu?"
"...Maaf
biar kutanya sekali lagi, kok kau bisa tahu?"
Mau dibilang
'cebol' atau 'kekanak-kanakan' kan sama saja... Eh, hawa dingin lagi!?
"Tolong,
jangan mengadu padanya, ya? Sekarang aku merinding banget nih. Kakakku itu
sangat tajam soal hal-hal begini kalau itu menyangkut aku... Orang itu
benar-benar Raja Iblis."
"I-Itu malah
membuatku bertanya-tanya kakakmu itu sebenarnya siapa..."
"Pasti di
kehidupan sebelumnya dia itu Raja Iblis. Penjahat yang menyiksa habis-habisan
sang Pahlawan yang memikul beban suci melindungi dunia."
Ya, aku sangat
yakin pasti begitu.
"...Tapi
yah, meskipun dia Raja Iblis, dia punya sisi lembut juga... Dia juga Kakak Raja
Iblis yang sangat kusayangi karena selalu melindungiku."
Aku sama sekali
tidak membenci Kakak, bahkan aku sangat menyayanginya. Saat aku mengatakan itu,
Matsuri menatapku dengan hangat, membuatku menggaruk pipi dan membuang muka
untuk menutupi rasa malu.
(Alurnya jadi seperti harus mengajak Kakak juga, ya...
Kami kan beli baju renang bareng, dan sudah ada janji seperti itu... Tapi,
bukannya cukup memalukan membawa Kakak ikut saat pergi bersama teman sekelas?)
Kalau
dipikir-pikir kembali, membawa Kakak ikut jalan-jalan dengan teman sekelas saat
sudah SMA itu bagaimana, ya...?
(Tapi, Kakak
kelihatan senang saat mengobrol dengan Matsuri dan yang lainnya, dan Matsuri
serta Saika juga sudah terbuka padanya... Uugh! Rasanya salah juga kalau aku
tidak mengajaknya hanya karena alasan aku merasa malu, atau malah mencoba
menghalanginya ikut...)
Setelah berpikir
sejenak, akhirnya aku memutuskan untuk mengajak Kakak.
"Anu...
pokoknya, kita ajak Kakak juga kan?"
"Iya, benar!
Oh, aku juga berniat mengajak Emu-chan."
"Emu
juga?"
"Bagaimana?"
"Kalau Emu
mau ikut, aku sih tidak masalah."
"Oke! Kalau
begitu aku akan coba tanya dia."
Meski acaranya
baru minggu depan, Matsuri langsung mengirim pesan pada Emu.
Hanya dalam
hitungan menit, balasannya sudah datang; katanya dia sangat ingin ikut
bermain... Itu artinya, aku tidak hanya bisa melihat Matsuri dan Saika saja,
tapi aku juga bisa melihat sosok Emu dalam baju renang. Wah, aku jadi tidak sabar!
"Kakakmu
kira-kira bakal senang tidak ya?"
"Dia
kan suka banget sama gadis cantik, pasti dia senang."
"Emu-chan
memang cantik, sih!"
"Benar."
Kira-kira
baju renang seperti apa yang akan dipakai Emu? Saat sedang membayangkan itu,
kami kebetulan melewati gerobak takoyaki. Aromanya yang lezat menarik perhatian kami, dan
aku pun mendekat bersama Matsuri.
"Selamat
datang!"
"Takoyaki
ya... sudah lama aku tidak makan."
"Perutku agak lapar, mau coba beli?"
"Boleh juga. Pak, minta yang isi enam satu porsi ya?"
"Siap!"
Setelah membeli
seporsi takoyaki isi enam, kami duduk di bangku terdekat. Aku menusuknya dengan
tusuk gigi, meniupnya sampai cukup dingin, lalu memasukkannya ke mulut... Saat
digigit, cairan panasnya tumpah keluar, tapi masih dalam batas yang bisa kutahan.
"Panas!"
"Tapi enak
ya ♪"
Aku juga sudah
lama tidak makan ini, ternyata takoyaki memang lezat.
Setelah aku makan tiga butir dan Matsuri makan dua, tersisa
satu butir terakhir... Tentu saja itu jatah Matsuri, tapi ia justru menyodorkan
takoyaki yang sudah ia tusuk ke arahku.
"Ini,
silakan."
"Eh?"
"Aku sudah
kenyang. Lagipula, aku ingin melihat wajah Kai-kun saat makan lagi ♪"
"...Ka-Kalau
begitu, aku terima ya?"
"Iya. Ayo,
aaa~"
Aku membuka mulut
dan melahap takoyaki yang disodorkan itu. Apa-apaan ini... Sebenarnya
aku sudah merasakannya sejak berangkat tadi, tapi bukankah ini benar-benar
seperti kencan sepulang sekolah...?
"Enak?"
"Enak
banget."
"Fufu,
benar-benar seperti sedang kencan ya~ ♪"
Ternyata kami
memikirkan hal yang sama. Ini sudah tidak bisa dibantah lagi, ini pasti kencan
sepulang sekolah.
Aku berniat
membalas perkataan Matsuri yang sedang menyenggol bahuku dengan riang, namun
suara yang paling tidak ingin kudengar membuat kami berhenti bergerak.
"Matsuri."
Suara
yang memanggil Matsuri... suara yang terdengar familier. Ekspresi Matsuri yang
tadinya ceria seketika berubah menjadi jijik dalam sekejap.
Karena aku tahu
alasannya, aku pun merasa maklum. Di sana berdirilah Murakami—mantan pacar
Matsuri.
"Su-Sudah
lama ya."
"Rasanya
belum selama itu? Lagipula, bisa jangan ajak aku bicara?"
"Tch...
apa-apaan, dingin sekali pada mantan pacar."
"Bagi aku,
kenyataan bahwa kau pernah jadi pacarku itu adalah sebuah aib sejarah (dark
history). Aku tidak punya urusan apa pun denganmu... jadi cepat pergi
sana."
Kata-kata Matsuri
terasa lebih tajam daripada sebilah pedang. Senyum lembutnya tadi telah sirna,
dan matanya menatap Murakami dengan penuh permusuhan.
(...Aku memang
tidak bisa menggunakan 'Partner', tapi aku akan melindungi Matsuri apa pun yang
terjadi.)
Aku tidak tahu
dan tidak mau tahu apa tujuannya mendekat. Jika orang ini berniat melakukan
sesuatu pada Matsuri, aku hanya perlu melindunginya seperti waktu itu.
"Sial... Kau lagi ya."
Mungkin sadar
posisinya terdesak jika menghadapi Matsuri, Murakami mengalihkan pandangannya
padaku.
"Maaf ya
kalau aku lagi. Seperti yang dikatakan Matsuri, kami sedang menikmati
jalan-jalan kami, jadi jangan mengganggu."
Aku mengatakannya
sambil berpikir setidaknya kalimat ini boleh diucapkan, namun wajah Murakami
mengerut kesal dan ia mendecih.
Meski
penampilannya tetap mencolok seperti biasa, rumor memalukan tentang dirinya
yang berlarian telanjang di luar pasti masih berbekas. Heran juga dia masih
berani menyapa Matsuri meskipun waktu sudah berlalu.
"Seperti
yang dia katakan, aku sekarang sedang sangat bersenang-senang. Aku merasa jauh
lebih bahagia dan bisa tersenyum tulus daripada saat bersamamu."
"Tch...
kau lebih memilih berada di samping orang seperti ini daripada aku, teman masa
kecilmu?"
"Jangan
sebut dia 'orang seperti ini'."
Matsuri tetap
melontarkan kata-kata yang mengusir Murakami. Meski sudah tidak dipedulikan
sampai seperti itu, Murakami sepertinya punya harga diri tinggi yang aneh
sehingga tidak mau pergi. Ia terus menatap tajam ke arahku dan Matsuri... atau
lebih tepatnya, menatapku dengan sangat benci.
"Dengar
Matsuri, aku—"
Murakami masih
terus mendesak, namun kata-katanya terhenti di tengah jalan.
Itu karena
Matsuri yang duduk di sampingku merapatkan tubuhnya dan mendekap lenganku ke
dadanya.
"Matsuri...!?"
Bukan hanya
mendekap lenganku, ia juga menyandarkan kepalanya di bahuku... dan saat ia
melirikku, ekspresinya terlihat sangat menggoda.
Dengan pipi yang
merona dan mata yang berkaca-kaca, ekspresinya terlihat sangat seksi,
sampai-sampai aku terus menatapnya tanpa sadar.
"Hei
Matsuri, apa yang kau lakukan—"
"Berisik
banget sih... serius."
Matsuri melotot
pada Murakami yang mengulurkan tangan hendak menjauhkannya dariku. Murakami
yang tersentak diam hanya ditertawakan oleh Matsuri. Namun, saat ia kembali
menatapku, ekspresinya berubah menjadi manis dan meluluhkan hati, membuat
jantungku berdebar kencang.
"Dengar ya,
aku sudah tidak peduli padamu. Kau pasti tidak akan pernah bisa membuatku
menunjukkan ekspresi seperti ini, kan?"
"Apa!?"
"Kalau
dipikir-pikir, saat kita pacaran dulu pun aku tidak pernah berekspresi seperti
ini. Sekarang aku malah bersyukur tidak pernah membuka hati padamu—berkat itu,
aku bisa bertemu dengannya."
Sambil
berkata begitu, Matsuri memelukku. Merasakan pelukan kuat dengan tangan yang
melingkar di punggungku, Murakami mengerutkan wajahnya karena kesal, lalu
berbalik dan lari pergi.
"...Matsuri,
dia sudah pergi."
"Iya...
Ehehe, maaf ya Kai-kun."
"Tidak
apa-apa, sih... tapi aku tadi kaget banget."
"Aku
pun merasa deg-degan. Mau
coba sentuh untuk memastikannya?"
"Ha-Hah!?"
Pegang-pegang
payudara kan cuma pas lagi dihipnotis saja, tahu! Tentu saja aku tidak bisa
mengatakannya. Matsuri justru menjulurkan lidahnya dengan imut karena senang
jebakannya berhasil.
"Ehem! Tapi
tadi itu tiba-tiba sekali ya."
"Iya... tapi
kurasa dia tidak akan mengganggu lagi. Memang kita mungkin akan berpapasan,
tapi setelah diperlihatkan hal seperti tadi, menampakkan wajah lagi itu
benar-benar memalukan."
Ekspresi Murakami
saat pergi tadi memang terlihat mendelik, tapi aku merasa ada semacam
kepasrahan terhadap Matsuri.
"Meskipun begitu, aku tetap tidak mau sesuatu
terjadi... Jika—"
"Aku
mengerti kok. Kalau ada apa-apa lagi aku akan konsultasi... Aku sudah paham
kalau membuatmu khawatir tanpa bicara itu tidak baik."
"Jangan
sungkan, ya? Aku pasti akan membantumu."
"Iya!"
Nah, meski ada
insiden bertemu Murakami, waktu sudah mulai sore. Kami memutuskan untuk pulang,
dan aku mengantar Matsuri sampai ke rumahnya.
"Yah...
sudah selesai ya."
"Kita memang
cukup banyak berjalan-jalan tadi."
"Benar juga... Akan lebih baik kalau tidak bertemu
orang itu tadi."
"Ahaha..."
Aku hanya bisa tertawa getir melihat wajahnya yang tampak
benar-benar tidak suka. Di bawah sinar matahari senja yang memerah, percakapan
kami di jalan menuju rumahnya tidak pernah terputus.
Kami membicarakan soal insiden 'cowok keren' hari ini, kesan
jalan-jalan sore ini, dan sebagainya... Omong-omong, nama Murakami sama sekali
tidak muncul dalam obrolan kami.
Rasanya Matsuri benar-benar menghapus keberadaannya dari
ingatannya saking tidak inginnya ia membahas itu.
"Kalau
begitu Kai-kun, sampai di sini saja tidak apa-apa."
"Iya... Anu,
hari ini menyenangkan sekali. Serius, terima kasih."
"Tidak,
aku juga senang kok. Terus,
apa kamu sudah kembali bersemangat?"
"Semangat
banget. Kalau jalan-jalan sama Matsuri tapi tidak semangat, itu namanya yang
salah."
"Fufu, benar
kan~? Soalnya kamu kencan sama gadis cantik!"
Aduh, benar juga.
Aku merasa ingin menyatukan tangan dan menyembah kenyataan itu.
"Sampai
jumpa!"
"Ya! Sampai
jumpa!"
Setelah
berpisah dengan Matsuri, aku pun melangkah pulang. Aku sempat waspada kalau-kalau Murakami melakukan
sesuatu, tapi ternyata tidak ada apa-apa sampai aku tiba di rumah... Namun, di
depan pintu, aku melihat sosok Kakak yang baru saja pulang.
"Oh,
Kai."
"Yo,
Kak."
"..........."
"...Apa?"
Tiba-tiba Kakak
menatapku tajam, membuatku menghentikan langkah.
Saat aku bersiaga
kalau-kalau dia menyerang, Kakak hanya menyeringai dan membunyikan buku-buku
jarinya... Sudah kubilang jangan lakukan itu, menakutkan tahu!
"A-Aku tidak
melakukan apa-apa lho!?"
"Benarkah?
Sebenarnya hari ini aku merasa seolah-olah kau mengatakan sesuatu yang tidak
sopan tentangku."
Jantungku
berdegup kencang.
"Jangan
hanya karena perasaan saja terus menyerangku dong! Kubilang ya, aku ini sangat
menyayangi Kakak, tahu!? Mana mungkin aku melakukan hal licik seperti
membicarakanmu di belakang! Kalau ada yang mau kukatakan, aku pasti
mengatakannya langsung di depanmu!"
"Be-Begitu ya... Tapi bagian terakhir itu berlebihan,
bodoh!"
Ujung-ujungnya, aku dipukul pelan oleh Kakak yang wajahnya
memerah.
Yah, setidaknya cuma sebatas ini... Kalau dia sampai tahu
aku menganggapnya cebol, urusannya pasti jadi panjang.
"...Ah,
benar juga. Hei, Kak."
"Apa?"
"Minggu
depan kita pergi ke fasilitas hiburan, yuk?"
"Fasilitas hiburan... Ah, apa Matsuri-chan dan
Saika-chan juga ikut?"
"Iya. Waktu itu kan kita bahas soal liburan musim
panas, tapi karena tempatnya baru buka, mereka ingin segera main ke sana."
"Wah! Aku
sih oke-oke saja! Aku pasti akan mengosongkan jadwalku!"
Bagus, jadwal
Kakak sudah aman.
"Lalu, ada
satu orang tambahan lagi. Dia adik kelasku, dia juga akrab dengan Matsuri dan
Saika."
"Wah, aku
jadi tidak sabar melihat anak seperti apa dia... Tapi Kai, kenalan perempuanmu
benar-benar bertambah ya?"
"Ya-Yah,
begitulah..."
Aku mengeluarkan
ponsel untuk mengirim pesan pada Matsuri, tapi teringat baterainya habis.
Jadi aku
segera masuk ke kamar dan mencolokkan kabel pengisi daya. Setelah dayanya
terisi sedikit, aku menyalakan ponsel dan langsung mengirim pesan pada Matsuri.
"Yo,
Partner... Rasanya sudah lama
sekali ya."
Padahal tadi pagi
aku baru menggunakannya, tapi karena tidak ada ingatannya, rasanya jadi seperti
itu. Meski tidak sedang ingin menggunakannya, aku menyalakan 'Partner' dan
berbicara pada layar berwarna merah muda misterius yang sudah sangat kukenal
itu.
"Aku
benar-benar tersadar kalau menggunakan hipnotis pada diri sendiri itu tidak
boleh... Apa ini pesan darimu supaya aku berhenti menggunakanmu untuk
mempermudah hidup seperti belajar, dan hanya menggunakannya untuk hal-hal mesum
saja?"
Tentu saja tidak
ada jawaban atas pertanyaan itu. Aku hanya tertawa getir karena itu sudah
jelas, lalu aku membuka bagan hubungan tersebut.
"Sepertinya
tidak ada perubahan... kan?"
Posisi
nama Matsuri, Saika, dan Emu serta benang merah mudanya tidak berubah. Namun,
saat aku melihat dengan teliti, aku menemukan benang hitam yang bergerak-gerak
menggeliat dengan gigih.
Aku memiringkan
kepala bingung, apa ini? Meskipun begitu, karena benang itu dihancurkan
habis-habisan oleh benang merah muda yang menjulur dari Matsuri, benang hitam
itu sama sekali tidak punya celah untuk mencapai namaku.
"Kegigihan
ini... persis seperti Murakami yang mendekati Matsuri hari ini."
Pikiran itu
terlintas saat aku melihat benang hitam tersebut, namun segera tertimpa oleh
kenangan manis saat bersama Matsuri sehingga aku tidak memikirkannya lagi.
"Ah...
benar-benar luar biasa tadi."
Kencan sepulang sekolah dengan Matsuri... Malam ini sepertinya aku bisa tidur dengan nyenyak. Aku tidak bisa menahan senyum lebar yang terlihat menjijikkan karena saking senangnya.



Post a Comment