NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Te ni Ireta Saimin Appli de Yume no Harem Seikatsu o Okuritai Volume 3 Chapter 2

Chapter 2

Menghipnosis Diri Sendiri… Eh, Kamu Kenapa?


Bukan hanya aku, tapi semua orang melihat mimpi yang sama... Kejadian ajaib—atau mungkin bisa dibilang mimpi buruk—itu sudah berlalu beberapa hari.

Meski dalam kondisi terhipnosis Matsuri dan yang lainnya telah bicara jujur, aku tidak mungkin mengungkit hal itu kepada mereka dalam kondisi sadar.

Untungnya, kejadian itu tidak berbuntut panjang, dan itu sangat membantuku.

".................."

Selesai sarapan, sambil menyikat gigi di depan wastafel, tiba-tiba sebuah pikiran terlintas.

"Hipnosis... apa bisa digunakan ke diri sendiri, ya?"

Yah, sambil berpikir mana mungkin bisa, aku mencoba menggunakan kekuatan Partner dengan perasaan iseng sambil menatap diriku di cermin.

"Hmm... Untuk hari ini, jalani hari dengan gaya super ganteng!"

Yah, aku tidak mau memberi perintah seperti lari telanjang yang pernah kuberikan pada mantan pacar Matsuri, kan?

Kalau perintah seaman ini... aman, tidak ya?

Pokoknya, perintah begini sepertinya tidak akan menimbulkan kejadian aneh dan terasa lebih menenangkan.

".................."

Aku menggunakan Partner pada diriku yang terpantul di cermin, tapi tidak ada perubahan khusus.

"Hipnosisnya... sepertinya aktif, sih."

Caranya sama persis dengan saat kugunakan pada Matsuri dan yang lainnya, Partner memang aktif.

Tapi karena aku masih sadar sepenuhnya begini, sepertinya memang tidak mungkin. Ternyata kekuatan di luar nalar seperti Partner pun tidak bisa melakukan hal bodoh seperti menghipnosis diri sendiri.

"Ya sudah, kalau begitu sekolah—ugh."

Eh...? Saat itu, aku merasakan sensasi aneh. Seolah-olah terputus dari dunia, aku merasa seperti melayang di mana kakiku tidak menginjak bumi.

"Heh, mari berangkat."

Dalam sensasi itu, telingaku menangkap suaraku sendiri. Tapi suara itu terdengar sangat gagah sampai aku ingin bertanya apa itu benar-benar suaraku.

Rasanya tipe suara yang membuat merinding, dan tepat setelah pikiran itu lewat, pandanganku menjadi gelap.

◆◇◆

"Hei Matsuri, kau sudah tidak apa-apa?"

"Eh? Apa maksudnya?"

"Itu lho, beberapa hari lalu kau kan kelihatan gelisah sekali."

"...Ah~ soal itu ya."

Aku tertawa kecut mendengar perkataan sahabatku, Ricchan. Kata 'gelisah' yang dia maksud adalah hari di mana aku bermimpi memberikan pelayanan manja pada Kai-kun.

Hari itu, meski aku tahu itu cuma mimpi, saat Kai-kun ada di depanku, aku langsung teringat mimpi itu dan tidak bisa bersikap biasa padanya.

(Siapa sangka Saika dan Emu-chan juga melihat mimpi yang sama...)

Sebenarnya, aku sudah mendengar ceritanya dari Saika dan Emu-chan.

Kai-kun di dalam mimpi sangat agresif, melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan di dunia nyata... Bukannya aku tidak mengizinkannya, tapi dia melakukan banyak hal memalukan, dan karena dia bilang ingin kami melakukannya, kami melakukannya dengan senang hati—karena kami ingin membuatnya senang.

"Ehehé..."

"Aduh, gawat. Dia sudah tidak tertolong."

Habisnya, habisnya!

Kai-kun itu sangat baik, dia pahlawan yang menolongku... dan dia juga orang yang menyelamatkan Saika serta Emu-chan, tahu?

Lagipula... dia adalah orang yang sangat kusukai!?

Orang seperti itu, meski di dalam mimpi, bersikap seberani itu—meremas dan mengisap dadaku—tentu saja hatiku langsung berdebar kencang, kan!?

Berbeda dengan sosok kerennya saat menolongku, wajahnya yang sedikit mesum saat kalah oleh nafsu itu sangat imut.

Ditambah lagi, dia tetap tidak lupa memperhatikanku di sela-sela itu, benar-benar membuat hatiku luluh!?

"...Itu kan indah banget."

"Apanya yang indah."

"Berisik."

"Kejam banget!?"

Ricchan memprotes sambil menggoyangkan kuncir kembarnya yang imut, tapi kurasa tidak sopan menyela orang yang sedang berfantasi bahagia.

Meski begitu, hari ini... Kai-kun datangnya lama sekali, ya. Biasanya dia datang lebih awal, tapi hari ini orang yang paling ingin kutemui di sekolah belum muncul juga... Apa terjadi sesuatu padanya?

"Hah..."

"Sekarang malah mendesah... Kalau kau terus mengabaikanku, kubetot nih dada besarmu."

"...Hah."

"Boleh ya!? Jangan protes kalau kusentuh, lho!?"

Di hadapan perasaan galau ini, biarlah kurelakan saja. Ricchan menyentuh dadaku, tapi aku tidak terlalu peduli dan tetap menatap ke pintu kelas... Dan tak lama kemudian, Kai-kun muncul.

"Ah..."

Aku sampai tanpa sadar mengeluarkan suara karena begitu menantikannya.

Baru melihatnya saja sudah membuatku senang, dan kehadirannya yang memberikan rasa aman membuatku langsung berdiri... tapi, aku memiringkan kepala keheranan.

"...?"

Yang masuk ke kelas memang benar Kai-kun. Caranya masuk sambil menyampirkan tas di bahu pun seperti biasa... Tapi, rasanya ada yang berbeda. Perasaan janggal apa ini?

"Mukai-kun, Endo-kun... ada apa?"

Mukai-kun dan Endo-kun, sahabat Kai-kun, tampak menjauh sambil menatap Kai-kun dengan curiga. Karena penasaran, aku menghampiri Mukai-kun dan yang lainnya terlebih dahulu.

"Mukai-kun, Endo-kun, selamat pagi."

"Selamat pagi, Aizaka."

"Se-selamat pagi..."

Sikap mereka berdua aneh, dan penyebabnya pasti Kai-kun.

"Apa terjadi sesuatu pada Kai-kun?"

"Yah... kalau ditanya ada apa, memang ada apa-apanya sih."

"Aku tidak paham lagi... benar-benar tidak paham."

"??"

Mereka bilang kalau aku penasaran, tanya saja sendiri. Karena memang itu tujuanku, aku pun mengangguk. Aku mendekati Kai-kun yang sedang mengeluarkan buku pelajaran dari tasnya dan menyapanya.

"Kai-kun... selamat pagi?"

"Ah, selamat pagi, Matsuri."

"!?"

Begitu aku menyapanya dengan ragu, Kai-kun membalas salamku dengan senyum lebar yang menawan.

Bukan hanya senyum yang memperlihatkan deretan gigi putih yang berkilau, tapi seolah-olah ada bintang-bintang yang bercahaya di sekitar Kai-kun... Apa-apaan aura ganteng seperti di manga shoujo ini!?

"Matsuri? Ada apa denganmu?"

"Heh!? Ah, tidak, bukan apa-apa... Ngomong-ngomong, Kai-kun?"

"Ada apa?"

"Kau... merasa aneh di suatu tempat?"

Ih, aku ini bicara apa, sih! Tiba-tiba bilang aneh! Aku baru saja mau minta maaf karena sudah bicara yang tidak-tidak, tapi Kai-kun hanya terkekeh pelan dan tidak menunjukkan reaksi tersinggung sama sekali.

"Di depan gadis semanis Matsuri, mungkin aku memang jadi sedikit aneh. Jika kita hanya berdua saja, kau adalah gadis yang begitu memikat sampai aku tidak tahan untuk mengulurkan tanganku."

"Ka-Kai-kun...!?"

Tunggu, tunggu, tunggu! Ini benar-benar aneh! Mana mungkin Kai-kun bicara seperti itu... Tidak, kalau dia mengatakannya aku memang senang, tapi setidaknya Kai-kun yang biasanya tidak mungkin bicara begini!

"Wajahmu merah sekali... apa terjadi sesuatu? Apa kau flu?"

"Hyaaa...!? A-anu..."

Tangan Kai-kun yang terasa dingin menyentuh pipiku yang panas. Sampai-sampai suara di sekitar tidak terdengar lagi, pandanganku terkunci pada Kai-kun, dan aku hanya bisa mendengar suaranya.

"Jangan-jangan... kau malu ya?"

"Te-tentu saja... siapa yang tidak malu diginiin."

"Kalau begitu, maaf ya. Tapi sosokmu yang malu begitu juga imut, dan aku sangat menyukai sosokmu yang biasanya ceria."

"!?"

"Aku selalu berpikir begitu, tapi keinginan untuk memonopoli sosokmu itu... mungkin hanyalah keegoisanku saja, ya."

"!?!?"

Kalimat seperti ini... biasanya pasti bisa kutertawakan dan kuabaikan. Tapi justru karena lawan bicaranya adalah Kai-kun, kata-kata itu menancap dalam di hatiku, sampai kakiku lemas dan aku jatuh terduduk.

(A-a-a-a-apa yang sedang terjadiiiiiii!?)

Ini bukan Kai-kun! Aku ingin berteriak begitu, tapi di saat yang sama aku juga bisa memastikan kalau ini memang Kai-kun.

Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi sekarang aku paham kenapa Mukai-kun dan yang lainnya terlihat sangat lelah.

"Ma-maaf ya! Aku tidak apa-apa!"

"Begitu ya... Kalau ada apa-apa bilang ya? Aku ingin membantumu."

"U-um...!!"

Auranya... aura gantengnya terlalu kuat! Bukan hanya sekadar kata-kata, Kai-kun sama sekali tidak terlihat sedang bercanda. Karena ketulusannya begitu terasa, jantungku jadi berdegup sangat kencang.

"Ka-kalau begitu... sepulang sekolah mau jalan-jalan?"

"Tentu. Aku akan mengosongkan jadwalku demi Matsuri."

"Terima kasih!"




Di tengah kekacauan itu, aku melakukan pose victory dalam hati karena berhasil mendapatkan janji darinya. Setelah itu, aku pun menjauh sejenak dari Kai-kun. Namun, tetap saja Kai-kun yang hari ini terasa aneh. Aku harus terus mengawasinya agar bisa membantunya jika terjadi sesuatu...!

"Ada apa sebenarnya?"

"Bukan apa-apa."

"Pasti ada sesuatu, kan!"

"Berisik, Ricchan."

Begitulah, hari pemantauan sekaligus pengawasan Kai-kun pun dimulai.

◆◇◆

Hari itu, keberadaan Kai terasa sangat asing. Bukan hanya saat berinteraksi dengan Matsuri, tetapi setelah itu pun keasingannya terpancar tanpa sisa. Pertama, saat jam pelajaran matematika di jam pertama.

"Kalau begitu, Masaki, coba kerjakan soal ini."

"Baik."

Suaranya terdengar lantang dan berwibawa. Biasanya, siapa pun yang ditunjuk oleh guru saat pelajaran, hanya sedikit murid yang benar-benar peduli.

Karena itu, tidak ada reaksi khusus saat Kai bangkit dari kursinya. Guru menunjuk murid, murid menjawab soal, lalu selesai... Seharusnya begitu.

(Kai-kun... bahkan caranya menjawab pun benar-benar berbeda, ya.)

(Anak itu... sebenarnya ada apa dengannya?)

(Kalau dibilang sedang sok keren... tapi ini aneh sekali.)

Matsuri, Akira, dan Shogo—tiga orang dalam kelas yang menyadari keanehan Kai—memperhatikan punggung Kai yang berjalan menuju papan tulis dengan saksama.

Tentu saja, Kai sendiri tidak menyadari tatapan-tatapan itu. Setibanya di depan papan tulis, Kai mengerjakan soal tersebut dengan lancar.

Meski soal itu baru saja dipelajari hari ini, sang guru tampak puas melihatnya terselesaikan dengan sempurna.

"Jawaban yang sempurna. Padahal baru diajarkan hari ini, tapi kau sudah bisa menggunakan rumusnya dengan baik."

"Itu semua berkat pengajaran Anda, Pak. Bisa bertemu dengan pendidik luar biasa seperti Anda adalah kebahagiaan terbesar bagi saya."

"Masaki... kau...!"

Sang guru tampak terharu dan mengusap kepala Kai. Itu adalah momen yang mengharukan antara guru dan murid, dan teman-teman sekelas seharusnya melihatnya dengan senyuman hangat... Namun, kenyataannya tidak begitu.

Mereka justru menatap Kai dengan ngeri karena mendengar kalimat yang terlalu berlebihan itu.

"Apa-apaan... barusan itu?"

"Apa Masaki memang tipe orang yang seperti itu?"

"Gara-gara jadi akrab dengan Aisaka dia jadi aneh... tapi aku iri, sial!"

Berbagai komentar buruk dilontarkan pada Kai, meski tidak ada yang kelewat batas. Interaksi antara Kai dan sang guru masih terus berlanjut.

"Kalau begitu, apa kau bisa mengerjakan soal yang ini? Kalau ada yang tidak dimengerti, tanyakan saja. Mari kita kerjakan bersama."

"Tidak perlu, saya sama sekali tidak masalah. Sudah saya katakan, ini semua berkat pengajaran Anda. Nah, bagaimana dengan jawaban ini?"

"Umu, benar lagi! Wah, ada apa denganmu hari ini, Masaki? Kau terasa berbeda dari biasanya."

"Ahaha, harus berapa kali saya mengatakannya? Ini semua berkat didikan Anda, Pak."

"Nilai matematikamu semester ini, nantikan saja!"

Pak guru gampang banget dikibulin, batin para murid serempak.

Bahkan teman sekelas yang jarang berinteraksi dengannya pun menyadari kalau Kai hari ini benar-benar aneh.

Memang terlihat seperti sedang menjilat guru, tapi mereka merasa ada sesuatu yang lain yang sedang terjadi pada diri Kai.

"Fuu, syukurlah bisa menyelesaikannya tanpa hambatan. Aku harus terus mengasah diri."

Orang yang bersangkutan tetap bersikap seperti itu, sama sekali tidak peduli dengan suasana di sekitarnya.

Ia tidak tinggi hati karena bisa mengerjakan soal, justru menunjukkan ambisi untuk bekerja lebih keras lagi. Melihat itu, sang guru kembali meneteskan air mata haru.

Pemandangan kelas seperti itu terus berlanjut hingga akhirnya jam istirahat tiba. Begitu guru keluar dan kelas menjadi gaduh, Kai pergi ke koridor menuju toilet. Dan saat dalam perjalanan kembali dari toilet, seseorang memanggilnya.

"Kai-kun."

"Hmm? Suara ini, Saika ya?"

"Iya... eh?"

Melihat gelagat Kai, Saika pun ikut memiringkan kepalanya bingung seperti Matsuri. Tampaknya, semakin seseorang mengenal Kai, semakin mudah bagi mereka untuk menyadari perubahan itu hanya dengan melihatnya saja.

"Ada apa menatapku lekat-lekat begitu? Bukannya aku tidak suka ditatap oleh gadis cantik sepertimu, tapi aku jadi penasaran."

"A-Anu..."

Meski wajah datar adalah setelan standar bagi Saika, ekspresinya akan menjadi kaya saat berada di depan Kai.

Namun, dipanggil gadis cantik secara terang-terangan membuat wajahnya memerah karena malu. Mungkin karena melihat wajah malu-malu Saika, Kai tiba-tiba melipat tangan di depan dada.

"Kai-kun?"

"Hmm..."

Meski pipinya merona, Saika tampak kebingungan. Sambil terus ditatap oleh Saika, Kai berpikir sejenak, lalu membuka mulutnya seolah telah menyadari sesuatu.

"Tadi juga terjadi saat berinteraksi dengan Matsuri... kalau begini, bukannya terlihat keren, aku malah tampak seperti cowok narsis yang sok gaya saja. Haha, aku sedikit terlambat menyadarinya."

"Anu... sebenarnya kamu kenapa?"

"Tidak, bukan apa-apa. Maaf sudah menghentikan langkahmu... Aku akan memanggilmu lagi nanti, aku akan senang jika kita bisa mengobrol."

"Eh? Ah, iya... ajak aku kapan saja, ya? Tentu saja aku juga akan mengajak Kai-kun... karena aku ingin mengobrol dan ingin bersamamu."

"Ya, terima kasih."

"..."

Setelah meninggalkan kata-kata itu pada Saika, Kai kembali ke kelas.

Nah... jawaban mengenai perubahan abnormal Kai ini sebenarnya sudah ada—inilah efek dari hipnotis yang dipasang Kai pada dirinya sendiri untuk "menghabiskan hari dengan bersikap seperti cowok keren".

Terlepas dari apakah tindakannya itu benar-benar mencerminkan cowok keren atau tidak, jika melihat reaksi sejauh ini, tampaknya hal itu berhasil mengenai sasaran pada Matsuri dan Saika, meski mereka menganggapnya aneh.

"Baiklah, aku harus semangat di pelajaran berikutnya."

Masih banyak tatapan yang tertuju pada Kai saat ia kembali ke kelas. Memang hari ini sosoknya benar-benar menjadi pusat perhatian.

Karena Kai tidak ditunjuk lagi pada pelajaran-pelajaran setelahnya, waktu berlalu tanpa kejadian berarti... Dan saat di mana Kai kembali sadar adalah tepat setelah ia selesai makan siang di jam istirahat.

◆◇◆

"...Lho?"

Tiba-tiba, aku menggumamkan suara kebingungan. Di tanganku ada kotak bekal yang sudah kosong... Aku tidak ingat telah memakan apa pun, tapi sepertinya aku sudah menghabiskan bekal buatan Ibu. Dan saat aku melihat sekeliling, di sini adalah... ruang kelas?

"...Lhooo?"

Aneh... Bukankah seharusnya aku ada di rumah?

Tadi aku di rumah sambil melihat cermin... Eh?

Apa yang ingin kulakukan tadi? Bukan itu poinnya, kenapa aku yang seharusnya ada di rumah malah ada di sekolah, dan lagi ini sudah jam istirahat siang?

"...??"

Eh, seram. Karena merasa tidak tenang, aku keluar dari kelas dan berjalan menyusuri koridor.

"Apa... apa yang sebenarnya terjadi?"

Saat aku refleks mengeluarkan ponsel, entah kenapa baterainya juga sudah habis. Berpikir mungkin aku sedang bermimpi buruk, aku terus berjalan tanpa tujuan hingga tanpa sadar sudah turun ke lantai dua.

"Eh? Kai-senpai?"

"Emu?"

Emu sedang berdiri tepat di dekat tangga. Aku ingat tempo hari juga pernah memanggilnya ke sini. Begitu berhadapan dengan Emu, perasaanku menjadi sedikit lebih tenang.

"Ada apa, Senpai?"

"Tidak, Emu sendiri sedang apa di sini?"

"Tidak ada alasan khusus. Aku baru saja mengobrol dengan temanku di sana."

"He~..."

"Lalu, Kai-senpai sebenarnya kenapa?"

"...Ah~"

Aku bingung bagaimana harus menjelaskannya, tapi lama-kelamaan aku merasa itu tidak penting lagi.

Mungkin karena perasaanku sudah tenang, dan aku juga tidak ingin membuat Emu yang lebih muda dariku merasa khawatir.

"...Fuh."

"Senpai?"

"Ah, maaf—melihat wajah Emu membuatku merasa bersemangat lagi."

"...Eh?"

"Tidak, sepertinya tadi aku melamun. Mungkin aku sedang lelah... tapi serius, melihat wajah Emu membuatku kembali bertenaga. Terima kasih ya!"

"I-Iya!"

Aku pun membalikkan punggung pada Emu yang menjawab dengan penuh semangat.

(Aku tidak mengerti... tapi kalau dipikir-pikir dengan tenang, karena baterai ponselku habis, aku tidak bisa melakukan Reservation Hypnosis, kan!)

Padahal ada hal lain yang harus kupikirkan, tapi bagi aku, masalah terbesarnya adalah tidak bisa bermesraan dengan bantuan kekuatanku.

Memanggil Matsuri dan yang lainnya di jam istirahat siang lalu bersentuhan dengan keempukan itu... Itulah kesenangan harianku, sekaligus satu-satunya tujuanku berjuang!

"...Haa, mau dibilang apa pun, tidak ada gunanya, ya?"

Tiba-tiba, aku berhenti melangkah sambil memiringkan kepala. Banyak hal yang tidak kupahami mengenai situasi sekarang, seolah ingatanku tertutup kabut.

Namun, tiba-tiba kabut itu tersingkap dengan deras dan aku mengingat semuanya.

"A... AAAAAAAAAAAAAAA!!"

Karena aku tiba-tiba berteriak keras, siswi yang berjalan di sampingku tampak terkejut dan menjaga jarak, lalu bergegas lari menjauh. Aku memegangi kepala karena merasa sudah melakukan kesalahan fatal. Pasti siswi tadi menganggapku murid laki-laki yang sangat aneh.

"Bukan, hal itu tidak penting... bukannya tidak penting, tapi lupakan dulu... Aku, bukannya hipnotis yang kupasang pada diriku sendiri itu berhasil?"

Meski aku bilang sudah ingat, itu hanya ingatan di pagi hari.

Ingatanku hanya tersisa sampai saat aku memberikan perintah pada diriku sendiri di depan cermin untuk "mencoba menghabiskan hari ini dengan bersikap seperti cowok keren"... Mengingat tidak adanya ingatan setelah itu dan alasan baterai ponselku habis, jawabannya muncul secara alami.

"...Aku sama sekali tidak ingat."

Untuk kedua kalinya kukatakan, aku hanya ingat sampai saat memberikan perintah.

Aku tidak ingat satu pun kejadian setelah sampai di sekolah... Bagaimana jika saat dalam kondisi terhipnotis aku melakukan hal aneh di kelas? Memikirkannya saja membuatku sangat takut... Uugh, aku benar-benar takut kembali ke kelas.

"Kai-kun?"

"Nuoaaa!?"

Seseorang menepuk pundakku dan memanggil namaku. Karena sedang fokus melamun, aku mengeluarkan teriakan yang tidak jelas. Saat aku segera menoleh, ternyata di sana ada Matsuri.

"Matsuri...?"

"I-Iya... Kai-kun, kamu tidak apa-apa?"

Meski aku baru saja mengeluarkan teriakan aneh, Matsuri tetap tulus mengkhawatirkanku. Aku merasa senang dengan perhatiannya, tapi di atas semua itu, aku ingin segera menanyakan keadaanku sejauh ini.

"Matsuri, apa kau sedang senggang sekarang?"

"Sangat senggang, kok."

"Ka-Kalau begitu, maukah kau ikut denganku ke ruang kelas kosong sekarang?"

"Boleh saja, tapi... berdua saja?"

"Ya, aku mohon, hanya berdua saja."

"B-Baiklah!"

Masih ada sisa waktu sebelum jam istirahat berakhir. Merasa diperhatikan saat berjalan bersama Matsuri memang bukan hal baru, tapi aku merasa kali ini lebih banyak tatapan penuh kecurigaan yang tertuju padaku daripada biasanya... Sebenarnya apa yang telah terjadi!?

"...Nah, sekarang."

Sambil membawa Matsuri, aku tiba di ruang kelas kosong yang sudah sangat akrab bagiku. Kalau dipikir-pikir, apakah ini pertama kalinya aku membawa seseorang ke sini dalam kondisi sadarku? Mengingat orang itu adalah Matsuri, aku merasa ada sedikit ikatan takdir... Pokoknya, ada hal yang harus kupastikan sekarang!

"Matsuri!"

"I-Iya!"

Karena terlalu menuntut jawaban, tanpa sengaja aku mencengkeram bahu Matsuri. Sepertinya tidak terlalu kuat, tapi karena bahu Matsuri gemetar terkejut, aku segera melepaskan tanganku.

"Ma-Maaf..."

"Tidak... t-tidak apa-apa, kok! Apa ini... pembicaraan penting?"

"Ya, pembicaraan penting... pembicaraan yang sangat penting."

"...Iya. Aku mau mendengarkannya."

Matsuri-iii... memang Matsuri yang terbaik! Suasana di sekitar entah kenapa terasa sangat serius. Tapi benar juga... aku pun ingin tahu apa yang terjadi dengan serius, jadi suasana ini tidaklah salah.

"Mungkin aneh menanyakan ini, tapi apakah Matsuri melihatku hari ini?"

"Iya, aku terus melihatmu kok. Sejak pagi, aku terus-menerus memperhatikan Kai-kun."

Sambil berkata begitu, Matsuri melangkah maju satu langkah. Rambutnya yang halus dan terawat bergoyang, menebarkan aroma yang harum.

Karena jarak kami yang dekat, aku bisa melihat belahan dadanya yang mengintip... Melihat seluruh pemandangan itu di dalam mimpi memang tidak buruk, apalagi menyentuhnya, itu yang terbaik... Tapi melihatnya sekilas saat masih terbungkus seragam seperti ini juga terasa sangat luar biasa.

"...Ehem!"

Setelah berdehem sejenak, aku langsung mencoba bertanya. "Mungkin ini terdengar seperti pertanyaan yang aneh... tapi apakah aku hari ini terlihat berbeda?"

"...Heh?"

Mendengar pertanyaanku, Matsuri menunjukkan ekspresi melongo. "A-Ah, jadi begitu... Ahaha, aduh, aku ini kenapa, ya."

"Matsuri?"

"Ma-Maaf! Sepertinya aku tadi salah paham... Eh, Kai-kun sudah kembali normal, ya!"

Dan kali ini, gilirannya yang mencengkeram bahuku. Bukan sekadar mencengkeram, ia bahkan mengguncang-guncangkan tubuhku.

Bukankah ini bukti bahwa baginya pun, aku telah menjadi orang yang aneh selama masa ingatanku yang hilang itu...?

Lagipula, dia sendiri bilang aku sudah 'kembali normal'!

"Itu... bolehkah aku tahu seperti apa aku tadi?"

Begitulah, aku pun mendengarkan ceritanya tentang diriku sejak tiba di sekolah. Meski seharusnya itu adalah pertanyaan yang tidak masuk akal bagi Matsuri, ia tetap menjelaskannya dengan sangat lembut dan detail... Hasilnya, aku rasanya ingin mati saja karena malu.

"Uugh... apa-apaan itu... itu bukan aku sama sekali..."

Mengucapkan kata-kata memalukan yang bikin geli, mengucapkan kalimat-kalimat manis yang lebih dari sekadar menjilat guru saat pelajaran—singkatnya, segala perkataan dan perbuatanku tadi sangat jauh dari diriku yang biasanya.

"Ta-Tapi aku tidak merasa keberatan kok, dan pak guru juga kelihatan sangat senang!"

"..........."

"Teman-teman sekelas memang terkejut... tapi tenang saja, kamu sama sekali tidak membuat siapa pun merasa tidak nyaman!"

"...Iya."

Aku tidak bisa tenang... Memang tidak bisa, tapi aku senang karena Matsuri menghiburku. Lagi pula, ini semua adalah benih yang aku tanam sendiri, jadi kalau ditanya siapa yang salah, ya aku sendiri... Yah, setidaknya aku tidak merepotkan orang lain, mungkin di bagian itu aku bisa sedikit lega.

"Anu... Kai-kun!"

"Eh...!?"

Kira aku ia akan merangkul kepalaku dengan lembut, ternyata aku langsung didekap oleh sensasi yang empuk.

Seluruh wajahku tertutup, aroma manis dan kehangatan yang nyaman seolah membasuh habis perasaan buruk di dalam diriku... Ah, benar—ini adalah payudara, sensasi yang selama ini ingin kurasakan tapi tidak bisa kurasakan!

"Pasti ada sesuatu yang terjadi, kan... Tapi tidak apa-apa. Aku ada di pihakmu, Kai-kun."

Merasakan usapan lembut di kepalaku dan suara lembut yang berbisik di telingaku, aku merasakan naluri keibuan yang luar biasa. Rasanya aku ingin semakin manja padanya... Padahal Matsuri yang sekarang tidak sedang dalam kondisi terhipnotis.

"Aku tidak akan melakukan hal seperti ini pada orang lain... Hanya karena ini Kai-kun. Sejak aku dibantu olehmu dan kita menjadi akrab, aku ingin menjaga hubungan ini dengan baik... Jadi, saat Kai-kun sedang kesulitan, aku akan mendekapmu seperti ini."

"...Matsuri, kau terlalu baik."

"Bukan cuma aku saja. Saika dan Emu-chan juga sama, apalagi Mukai-kun, Endo-kun, dan kakakmu juga ada di pihakmu, kan?"

"Haha, kau benar... Terima kasih, ya."

Meski masih ingin lebih lama, aku menjauhkan wajahku dan kami pun tertawa bersama. Sebenarnya aku masih ingin menikmati sensasi payudara Matsuri lebih lama lagi, tapi aku tidak boleh terlalu egois... Tapi, kalau punya pacar yang bisa menghibur seperti dia, hidup pasti akan sangat bahagia.

"Hmm? Ada apa?"

"...Tidak, bukan apa-apa."

Aku segera membuang muka dan menatap ke depan.

Jika gadis seperti Matsuri menjadi pacarku... aku pasti bisa melakukan hal-hal yang kulakukan di mimpi dengannya dalam kondisi sadar, bahkan melakukan 'itu' pun pasti... Tapi, aku ini memang laki-laki brengsek—bukan cuma Matsuri, wajah Saika dan Emu pun terlintas di pikiranku.

Aku bahkan sempat berpikir betapa hebatnya jika aku bisa menjadikan mereka bertiga sebagai pacarku... Yah, ini memang cara berpikir seorang bajingan.

"Kalau begitu, ayo kita kembali!"

"O-Oh!"

Bersama Matsuri, aku memantapkan hati untuk kembali ke kelas. Begitu pintu terbuka, banyak pasang mata langsung tertuju padaku. Inilah tatapan-tatapan untuk diriku yang tadi sempat berakting menjadi cowok keren jadi-jadian.

"Ayo semuanya! Jangan menatap begitu! Sebenarnya Kai-kun itu begadang semalam dan kurang tidur. Makanya tadi dia kelihatan sedikit berbeda dari biasanya."

"Matsuri?"

"Serahkan padaku ♪"

Berkat penjelasannya yang mengarang cerita bahwa aku kurang tidur, tatapan yang menganggapku orang aneh berubah menjadi tatapan jengkel seolah berkata 'apa-apaan sih'. Kemudian Akira dan Shogo segera mendekat dan merangkul bahuku dengan erat.

"Kau... sudah kembali, ya?"

"A-Ah, iya..."

"Syukurlah... sosok yang tadi itu benar-benar bukan kau."

"Sampai segitunya...?"

Melihat teman-temanku yang merasa lega seolah-olah semuanya sudah berakhir dengan baik, di balik rasa syukurku karena masalah telah selesai, aku merasa hampa memikirkan tentang sosok 'cowok keren' yang kudambakan itu.

(Kalau dengar ceritanya, aku bisa menjawab soal-soal pelajaran dengan lancar... Tapi karena aku tidak ingat, itu sama sekali tidak berguna bagiku. Dan meski aku berakting jadi cowok keren, jadinya malah begini... Begitu ya, ini terasa seperti pesan bahwa tidak baik menggunakan hipnotis pada diri sendiri untuk mencari jalan pintas.)

Bukannya aku berniat mencari jalan pintas, ini murni hanya untuk eksperimen.

Namun, bisa melihat sisi buruknya seperti ini adalah sebuah pelajaran. Ternyata, kekuatan 'Partner' ini memang paling menunjukkan nilai aslinya di bidang mesum.

(Mungkin saja saat ujian, ada kemungkinan aku bisa mendapat nilai bagus tanpa belajar jika aku menghipnotis diriku sendiri... Tapi itu tidak akan berguna bagi masa depanku. Mulai sekarang, aku akan menggunakan kekuatan Partner untuk tujuan mesum dan sesekali untuk membantu orang saja!)

Di tengah kerumunan Akira dan yang lainnya, aku kembali menyampaikan terima kasih pada Matsuri.

Baterai ponselku masih habis total, tapi karena tadi sudah 'diisi ulang' oleh Matsuri, baterai semangatku sekarang sudah penuh.

Begitulah, aku berhasil melewati pelajaran sore hari, dan mulai memikirkan apa yang akan kulakukan setelah pulang sekolah.

"Kai-kun."

"Ya?"

Begitu aku bangkit dari kursi, Matsuri yang sudah menyampirkan tas di bahunya mendekat.

"Ada apa?"

"...Ah, benar juga. Kamu lupa soal janji kita, ya."

"Janji?"

Janji apa?

"Sebenarnya, kita sudah janji mau pergi jalan-jalan sepulang sekolah."

Begitu ya... rupanya aku membuat janji itu saat masih jadi cowok keren jadi-jadian.

Tentu saja aku tidak ingat sama sekali, tapi kebetulan aku memang sedang berpikir apa yang akan kulakukan sore ini.

Lagipula, melewatkan kesempatan jalan-jalan dengan gadis sepulang sekolah itu benar-benar sebuah pemborosan.

"Kalau tidak ingat, mau dibatalkan saja? Sayang sih kalau begitu..."

"Tidak, kalau Matsuri tidak keberatan... aku mau jalan-jalan!"

"Ahaha! Kalau begitu sudah diputuskan, ya ♪"

Setelah rencana sore ini ditentukan, aku keluar dari sekolah bersama Matsuri. Kami berjalan ke kota tanpa tujuan khusus, dan pembicaraan kami beralih ke soal baju renang yang kami beli beberapa waktu lalu.

"Kita sudah beli baju renang bareng kakakmu juga, kan? Waktu itu kita bilang mau pergi saat liburan musim panas, dan aku kepikiran ingin mencoba pergi ke fasilitas hiburan yang baru buka baru-baru ini. Bagaimana kalau minggu depan?"

Fasilitas hiburan yang dimaksud Matsuri adalah bangunan yang baru buka tahun ini.

Aku dengar reputasi kolam renang indoor-nya cukup bagus, dan sepertinya Kakak juga pernah bilang ingin pergi ke sana... Bagiku pun, aku ingin melihat kembali sosok Matsuri dan Saika dalam balutan baju renang! Baju renang Kakak?

Sosok cebol kayak dia sih tidak penting... Eh!?

"Ada apa?"

"Ti-Tidak..."

Sesaat, aku merasakan hawa dingin yang luar biasa. Baju renang Kakak tidak penting... mungkinkah dia merasakan gumaman hatiku barusan? Kalau benar begitu, Kakakku itu benar-benar Raja Iblis.

"Ah! Jangan-jangan kamu baru saja memikirkan hal buruk tentang kakakmu ya!"

"Ko-Kok tahu!?"

"Ahaha, soalnya kamu gampang ditebak sih ♪"

"..........."

"Mungkin sesuatu seperti 'Baju renang Kakak pasti kelihatan kekanak-kanakan', atau semacam itu?"

"...Maaf biar kutanya sekali lagi, kok kau bisa tahu?"

Mau dibilang 'cebol' atau 'kekanak-kanakan' kan sama saja... Eh, hawa dingin lagi!?

"Tolong, jangan mengadu padanya, ya? Sekarang aku merinding banget nih. Kakakku itu sangat tajam soal hal-hal begini kalau itu menyangkut aku... Orang itu benar-benar Raja Iblis."

"I-Itu malah membuatku bertanya-tanya kakakmu itu sebenarnya siapa..."

"Pasti di kehidupan sebelumnya dia itu Raja Iblis. Penjahat yang menyiksa habis-habisan sang Pahlawan yang memikul beban suci melindungi dunia."

Ya, aku sangat yakin pasti begitu.

"...Tapi yah, meskipun dia Raja Iblis, dia punya sisi lembut juga... Dia juga Kakak Raja Iblis yang sangat kusayangi karena selalu melindungiku."

Aku sama sekali tidak membenci Kakak, bahkan aku sangat menyayanginya. Saat aku mengatakan itu, Matsuri menatapku dengan hangat, membuatku menggaruk pipi dan membuang muka untuk menutupi rasa malu.

(Alurnya jadi seperti harus mengajak Kakak juga, ya... Kami kan beli baju renang bareng, dan sudah ada janji seperti itu... Tapi, bukannya cukup memalukan membawa Kakak ikut saat pergi bersama teman sekelas?)

Kalau dipikir-pikir kembali, membawa Kakak ikut jalan-jalan dengan teman sekelas saat sudah SMA itu bagaimana, ya...?

(Tapi, Kakak kelihatan senang saat mengobrol dengan Matsuri dan yang lainnya, dan Matsuri serta Saika juga sudah terbuka padanya... Uugh! Rasanya salah juga kalau aku tidak mengajaknya hanya karena alasan aku merasa malu, atau malah mencoba menghalanginya ikut...)

Setelah berpikir sejenak, akhirnya aku memutuskan untuk mengajak Kakak.

"Anu... pokoknya, kita ajak Kakak juga kan?"

"Iya, benar! Oh, aku juga berniat mengajak Emu-chan."

"Emu juga?"

"Bagaimana?"

"Kalau Emu mau ikut, aku sih tidak masalah."

"Oke! Kalau begitu aku akan coba tanya dia."

Meski acaranya baru minggu depan, Matsuri langsung mengirim pesan pada Emu.

Hanya dalam hitungan menit, balasannya sudah datang; katanya dia sangat ingin ikut bermain... Itu artinya, aku tidak hanya bisa melihat Matsuri dan Saika saja, tapi aku juga bisa melihat sosok Emu dalam baju renang. Wah, aku jadi tidak sabar!

"Kakakmu kira-kira bakal senang tidak ya?"

"Dia kan suka banget sama gadis cantik, pasti dia senang."

"Emu-chan memang cantik, sih!"

"Benar."

Kira-kira baju renang seperti apa yang akan dipakai Emu? Saat sedang membayangkan itu, kami kebetulan melewati gerobak takoyaki. Aromanya yang lezat menarik perhatian kami, dan aku pun mendekat bersama Matsuri.

"Selamat datang!"

"Takoyaki ya... sudah lama aku tidak makan."

"Perutku agak lapar, mau coba beli?"

"Boleh juga. Pak, minta yang isi enam satu porsi ya?"

"Siap!"

Setelah membeli seporsi takoyaki isi enam, kami duduk di bangku terdekat. Aku menusuknya dengan tusuk gigi, meniupnya sampai cukup dingin, lalu memasukkannya ke mulut... Saat digigit, cairan panasnya tumpah keluar, tapi masih dalam batas yang bisa kutahan.

"Panas!"

"Tapi enak ya ♪"

Aku juga sudah lama tidak makan ini, ternyata takoyaki memang lezat.

Setelah aku makan tiga butir dan Matsuri makan dua, tersisa satu butir terakhir... Tentu saja itu jatah Matsuri, tapi ia justru menyodorkan takoyaki yang sudah ia tusuk ke arahku.

"Ini, silakan."

"Eh?"

"Aku sudah kenyang. Lagipula, aku ingin melihat wajah Kai-kun saat makan lagi ♪"

"...Ka-Kalau begitu, aku terima ya?"

"Iya. Ayo, aaa~"

Aku membuka mulut dan melahap takoyaki yang disodorkan itu. Apa-apaan ini... Sebenarnya aku sudah merasakannya sejak berangkat tadi, tapi bukankah ini benar-benar seperti kencan sepulang sekolah...?

"Enak?"

"Enak banget."

"Fufu, benar-benar seperti sedang kencan ya~ ♪"

Ternyata kami memikirkan hal yang sama. Ini sudah tidak bisa dibantah lagi, ini pasti kencan sepulang sekolah.

Aku berniat membalas perkataan Matsuri yang sedang menyenggol bahuku dengan riang, namun suara yang paling tidak ingin kudengar membuat kami berhenti bergerak.

"Matsuri."

Suara yang memanggil Matsuri... suara yang terdengar familier. Ekspresi Matsuri yang tadinya ceria seketika berubah menjadi jijik dalam sekejap.

Karena aku tahu alasannya, aku pun merasa maklum. Di sana berdirilah Murakami—mantan pacar Matsuri.

"Su-Sudah lama ya."

"Rasanya belum selama itu? Lagipula, bisa jangan ajak aku bicara?"

"Tch... apa-apaan, dingin sekali pada mantan pacar."

"Bagi aku, kenyataan bahwa kau pernah jadi pacarku itu adalah sebuah aib sejarah (dark history). Aku tidak punya urusan apa pun denganmu... jadi cepat pergi sana."

Kata-kata Matsuri terasa lebih tajam daripada sebilah pedang. Senyum lembutnya tadi telah sirna, dan matanya menatap Murakami dengan penuh permusuhan.

(...Aku memang tidak bisa menggunakan 'Partner', tapi aku akan melindungi Matsuri apa pun yang terjadi.)

Aku tidak tahu dan tidak mau tahu apa tujuannya mendekat. Jika orang ini berniat melakukan sesuatu pada Matsuri, aku hanya perlu melindunginya seperti waktu itu.

"Sial... Kau lagi ya."

Mungkin sadar posisinya terdesak jika menghadapi Matsuri, Murakami mengalihkan pandangannya padaku.

"Maaf ya kalau aku lagi. Seperti yang dikatakan Matsuri, kami sedang menikmati jalan-jalan kami, jadi jangan mengganggu."

Aku mengatakannya sambil berpikir setidaknya kalimat ini boleh diucapkan, namun wajah Murakami mengerut kesal dan ia mendecih.

Meski penampilannya tetap mencolok seperti biasa, rumor memalukan tentang dirinya yang berlarian telanjang di luar pasti masih berbekas. Heran juga dia masih berani menyapa Matsuri meskipun waktu sudah berlalu.

"Seperti yang dia katakan, aku sekarang sedang sangat bersenang-senang. Aku merasa jauh lebih bahagia dan bisa tersenyum tulus daripada saat bersamamu."

"Tch... kau lebih memilih berada di samping orang seperti ini daripada aku, teman masa kecilmu?"

"Jangan sebut dia 'orang seperti ini'."

Matsuri tetap melontarkan kata-kata yang mengusir Murakami. Meski sudah tidak dipedulikan sampai seperti itu, Murakami sepertinya punya harga diri tinggi yang aneh sehingga tidak mau pergi. Ia terus menatap tajam ke arahku dan Matsuri... atau lebih tepatnya, menatapku dengan sangat benci.

"Dengar Matsuri, aku—"

Murakami masih terus mendesak, namun kata-katanya terhenti di tengah jalan.

Itu karena Matsuri yang duduk di sampingku merapatkan tubuhnya dan mendekap lenganku ke dadanya.

"Matsuri...!?"

Bukan hanya mendekap lenganku, ia juga menyandarkan kepalanya di bahuku... dan saat ia melirikku, ekspresinya terlihat sangat menggoda.

Dengan pipi yang merona dan mata yang berkaca-kaca, ekspresinya terlihat sangat seksi, sampai-sampai aku terus menatapnya tanpa sadar.

"Hei Matsuri, apa yang kau lakukan—"

"Berisik banget sih... serius."

Matsuri melotot pada Murakami yang mengulurkan tangan hendak menjauhkannya dariku. Murakami yang tersentak diam hanya ditertawakan oleh Matsuri. Namun, saat ia kembali menatapku, ekspresinya berubah menjadi manis dan meluluhkan hati, membuat jantungku berdebar kencang.

"Dengar ya, aku sudah tidak peduli padamu. Kau pasti tidak akan pernah bisa membuatku menunjukkan ekspresi seperti ini, kan?"

"Apa!?"

"Kalau dipikir-pikir, saat kita pacaran dulu pun aku tidak pernah berekspresi seperti ini. Sekarang aku malah bersyukur tidak pernah membuka hati padamu—berkat itu, aku bisa bertemu dengannya."

Sambil berkata begitu, Matsuri memelukku. Merasakan pelukan kuat dengan tangan yang melingkar di punggungku, Murakami mengerutkan wajahnya karena kesal, lalu berbalik dan lari pergi.

"...Matsuri, dia sudah pergi."

"Iya... Ehehe, maaf ya Kai-kun."

"Tidak apa-apa, sih... tapi aku tadi kaget banget."

"Aku pun merasa deg-degan. Mau coba sentuh untuk memastikannya?"

"Ha-Hah!?"

Pegang-pegang payudara kan cuma pas lagi dihipnotis saja, tahu! Tentu saja aku tidak bisa mengatakannya. Matsuri justru menjulurkan lidahnya dengan imut karena senang jebakannya berhasil.

"Ehem! Tapi tadi itu tiba-tiba sekali ya."

"Iya... tapi kurasa dia tidak akan mengganggu lagi. Memang kita mungkin akan berpapasan, tapi setelah diperlihatkan hal seperti tadi, menampakkan wajah lagi itu benar-benar memalukan."

Ekspresi Murakami saat pergi tadi memang terlihat mendelik, tapi aku merasa ada semacam kepasrahan terhadap Matsuri.

"Meskipun begitu, aku tetap tidak mau sesuatu terjadi... Jika—"

"Aku mengerti kok. Kalau ada apa-apa lagi aku akan konsultasi... Aku sudah paham kalau membuatmu khawatir tanpa bicara itu tidak baik."

"Jangan sungkan, ya? Aku pasti akan membantumu."

"Iya!"

Nah, meski ada insiden bertemu Murakami, waktu sudah mulai sore. Kami memutuskan untuk pulang, dan aku mengantar Matsuri sampai ke rumahnya.

"Yah... sudah selesai ya."

"Kita memang cukup banyak berjalan-jalan tadi."

"Benar juga... Akan lebih baik kalau tidak bertemu orang itu tadi."

"Ahaha..."

Aku hanya bisa tertawa getir melihat wajahnya yang tampak benar-benar tidak suka. Di bawah sinar matahari senja yang memerah, percakapan kami di jalan menuju rumahnya tidak pernah terputus.

Kami membicarakan soal insiden 'cowok keren' hari ini, kesan jalan-jalan sore ini, dan sebagainya... Omong-omong, nama Murakami sama sekali tidak muncul dalam obrolan kami.

Rasanya Matsuri benar-benar menghapus keberadaannya dari ingatannya saking tidak inginnya ia membahas itu.

"Kalau begitu Kai-kun, sampai di sini saja tidak apa-apa."

"Iya... Anu, hari ini menyenangkan sekali. Serius, terima kasih."

"Tidak, aku juga senang kok. Terus, apa kamu sudah kembali bersemangat?"

"Semangat banget. Kalau jalan-jalan sama Matsuri tapi tidak semangat, itu namanya yang salah."

"Fufu, benar kan~? Soalnya kamu kencan sama gadis cantik!"

Aduh, benar juga. Aku merasa ingin menyatukan tangan dan menyembah kenyataan itu.

"Sampai jumpa!"

"Ya! Sampai jumpa!"

Setelah berpisah dengan Matsuri, aku pun melangkah pulang. Aku sempat waspada kalau-kalau Murakami melakukan sesuatu, tapi ternyata tidak ada apa-apa sampai aku tiba di rumah... Namun, di depan pintu, aku melihat sosok Kakak yang baru saja pulang.

"Oh, Kai."

"Yo, Kak."

"..........."

"...Apa?"

Tiba-tiba Kakak menatapku tajam, membuatku menghentikan langkah.

Saat aku bersiaga kalau-kalau dia menyerang, Kakak hanya menyeringai dan membunyikan buku-buku jarinya... Sudah kubilang jangan lakukan itu, menakutkan tahu!

"A-Aku tidak melakukan apa-apa lho!?"

"Benarkah? Sebenarnya hari ini aku merasa seolah-olah kau mengatakan sesuatu yang tidak sopan tentangku."

Jantungku berdegup kencang.

"Jangan hanya karena perasaan saja terus menyerangku dong! Kubilang ya, aku ini sangat menyayangi Kakak, tahu!? Mana mungkin aku melakukan hal licik seperti membicarakanmu di belakang! Kalau ada yang mau kukatakan, aku pasti mengatakannya langsung di depanmu!"

"Be-Begitu ya... Tapi bagian terakhir itu berlebihan, bodoh!"

Ujung-ujungnya, aku dipukul pelan oleh Kakak yang wajahnya memerah.

Yah, setidaknya cuma sebatas ini... Kalau dia sampai tahu aku menganggapnya cebol, urusannya pasti jadi panjang.

"...Ah, benar juga. Hei, Kak."

"Apa?"

"Minggu depan kita pergi ke fasilitas hiburan, yuk?"

"Fasilitas hiburan... Ah, apa Matsuri-chan dan Saika-chan juga ikut?"

"Iya. Waktu itu kan kita bahas soal liburan musim panas, tapi karena tempatnya baru buka, mereka ingin segera main ke sana."

"Wah! Aku sih oke-oke saja! Aku pasti akan mengosongkan jadwalku!"

Bagus, jadwal Kakak sudah aman.

"Lalu, ada satu orang tambahan lagi. Dia adik kelasku, dia juga akrab dengan Matsuri dan Saika."

"Wah, aku jadi tidak sabar melihat anak seperti apa dia... Tapi Kai, kenalan perempuanmu benar-benar bertambah ya?"

"Ya-Yah, begitulah..."

Aku mengeluarkan ponsel untuk mengirim pesan pada Matsuri, tapi teringat baterainya habis.

Jadi aku segera masuk ke kamar dan mencolokkan kabel pengisi daya. Setelah dayanya terisi sedikit, aku menyalakan ponsel dan langsung mengirim pesan pada Matsuri.

"Yo, Partner... Rasanya sudah lama sekali ya."

Padahal tadi pagi aku baru menggunakannya, tapi karena tidak ada ingatannya, rasanya jadi seperti itu. Meski tidak sedang ingin menggunakannya, aku menyalakan 'Partner' dan berbicara pada layar berwarna merah muda misterius yang sudah sangat kukenal itu.

"Aku benar-benar tersadar kalau menggunakan hipnotis pada diri sendiri itu tidak boleh... Apa ini pesan darimu supaya aku berhenti menggunakanmu untuk mempermudah hidup seperti belajar, dan hanya menggunakannya untuk hal-hal mesum saja?"

Tentu saja tidak ada jawaban atas pertanyaan itu. Aku hanya tertawa getir karena itu sudah jelas, lalu aku membuka bagan hubungan tersebut.

"Sepertinya tidak ada perubahan... kan?"

Posisi nama Matsuri, Saika, dan Emu serta benang merah mudanya tidak berubah. Namun, saat aku melihat dengan teliti, aku menemukan benang hitam yang bergerak-gerak menggeliat dengan gigih.

Aku memiringkan kepala bingung, apa ini? Meskipun begitu, karena benang itu dihancurkan habis-habisan oleh benang merah muda yang menjulur dari Matsuri, benang hitam itu sama sekali tidak punya celah untuk mencapai namaku.

"Kegigihan ini... persis seperti Murakami yang mendekati Matsuri hari ini."

Pikiran itu terlintas saat aku melihat benang hitam tersebut, namun segera tertimpa oleh kenangan manis saat bersama Matsuri sehingga aku tidak memikirkannya lagi.

"Ah... benar-benar luar biasa tadi."

Kencan sepulang sekolah dengan Matsuri... Malam ini sepertinya aku bisa tidur dengan nyenyak. Aku tidak bisa menahan senyum lebar yang terlihat menjijikkan karena saking senangnya.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close