Chapter 1
Mungkin Nggak Cuma Soal Hal Mesum Aja, Bro!
"...Apa-apaan ini?"
Tempat itu adalah ruang gelap yang terasa familier.
"...Mimpi buruk itu lagi?"
Sebenarnya, fakta bahwa aku bisa menyadari kalau ini adalah
mimpi saja sudah terasa aneh.
Tapi, mengingat aku sudah bertemu dengan Partner—kekuatan
supranatural berupa aplikasi hipnosis—dan menggunakan kekuatan itu untuk
melakukan hal-hal yang mustahil dilakukan terhadap para gadis, kurasa menyadari
kalau ini mimpi bukan lagi hal yang mengejutkan.
"Ini memang mimpi gelap yang menyeramkan, tapi aku sama
sekali tidak takut... Boong deng, sialan."
Maaf, aku
berbohong. Aku takut setengah mati. Jika ini mimpi di mana aku tidak tahu apa-apa, mungkin tidak masalah.
Tapi, justru
karena kesadaranku sangat jernih, rasa takut itu terasa nyata. Terlebih lagi,
aku bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"...Sudah
kuduga."
Dan tepat seperti
dugaanku, perubahan yang kubayangkan terjadi.
Pria yang pernah
kulihat di mimpi sebelumnya muncul di hadapanku.
Pria itu terjerat
oleh benang-benang hitam yang menggeliat... Dan hari ini, seolah-olah ingin
menyuguhkan pertunjukan yang lebih mengerikan, benang-benang itu mulai melukai
tubuh si pria.
"Sakit... Hentikan... Hentikan...!"
Suaranya terdengar menyedihkan, tapi aku tidak bisa tertawa
melihat pemandangan itu.
Suara gesekan menjijikkan yang meremukkan benda dan jeritan
pria itu terus bergema di dunia yang belum bisa kutinggalkan ini.
"A...
Tolong... aku..."
"Ugh..."
Pria itu
menyadari keberadaanku dan mengulurkan tangan meminta pertolongan. Tentu
saja, aku tidak bereaksi... Tidak, lebih tepatnya aku tidak bisa melakukannya.
Begitu saja, pria itu tertutup sepenuhnya oleh benang hitam
dan hancur berkeping-keping diiringi jeritan yang memekakkan telinga.
"...Benar-benar, mimpi macam apa ini?"
Padahal aku tidak bergumam dengan keras, tapi seolah
merespons suaraku, benang-benang hitam itu berbalik ke arahku.
"A-apa-apaan ini...!"
Gerakan sekumpulan benang yang berbalik dengan licin itu
terasa sangat mengerikan, mengingatkanku pada ular jika saja mereka punya
kepala.
Aku
merasa ini gawat dan berniat lari, tapi benang-benang hitam itu memanjang
dengan suara mendesis. Saat aku berpikir ini adalah akhir dari segalanya... aku
ternyata baik-baik saja.
"...Eh?"
Benang
hitam yang hampir menerjangku telah terpotong-potong oleh benang berwarna merah
muda.
Kejadian ini
persis seperti mimpi yang kulihat sebelumnya... Itu artinya, munculnya benang
merah muda ini menandakan!?
"...Ah."
Cahaya menyinari
dunia yang gelap tadi, membuatnya menjadi terang benderang.
Rasa cemas yang
menyelimuti hatiku sirna seketika, dan itu bukan hanya karena cahaya ini.
"Kai-kun,
kau tidak apa-apa?"
"Aku
datang untuk menolongmu."
"Apa
Anda baik-baik saja? Kai-senpai."
Sama seperti
sebelumnya, mereka muncul.
Matsuri Aizaka,
perwujudan gadis gal yang baik pada otaku; Saika Azuma, yang
menyembunyikan kecantikan luar biasa di balik penampilannya; dan Emu Honma, si
gadis cantik yang ternyata seorang masokis tersembunyi.
Mereka bertiga
adalah gadis-gadis yang menjadi akrab denganku melalui aplikasi hipnosis.
Terasa aneh
mengatakannya, tapi karena aku berteman dengan mereka lewat benda yang
kupanggil 'Partner' itu, aku tidak bisa mendeskripsikannya dengan cara lain.
"Matsuri!
Saika! Emu!"
Begitu kupanggil
nama mereka, mereka melihatku dan tersenyum. Saat melihat senyum itu, tenagaku
langsung hilang sampai aku jatuh terduduk, namun mereka segera berlari
menghampiriku.
"Kau tidak
apa-apa?"
"Matsuri~!"
Aku
langsung menghambur ke dada Matsuri yang sudah berada di depanku.
Aku
membenamkan wajahku, merasakan elastisitas yang membuatku bahagia meski hanya
di dalam mimpi. Wajahku sepenuhnya terbungkus oleh dadanya yang besar.
"Fufu,
manisnya♪"
Matsuri
mengusap kepalaku dengan lembut tanpa ada niat menjauhkan aku. Meski di dunia mimpi, aku sangat senang
dia membiarkanku melakukan ini tanpa kekuatan Partner. Karena ini mimpi, aku
akan menikmatinya sepuas hati!
"Kai-kun,
tidak adil kalau hanya Matsuri-san."
"Benar,
Kai-senpai!"
Mendengar mereka
protes karena aku hanya bermanja pada Matsuri, aku pun menjawab.
"Kalian berdua pencemburu ya, tapi itu yang membuat
kalian hebat!"
Uwah... aku benar-benar sedang melunjak, tapi karena ini
mimpi, apa pun boleh dilakukan dan tidak akan merepotkan siapa pun!
"Saika, Emu,
biarkan aku bermanja pada kalian juga!"
Aku melepaskan
diri dari Matsuri dan menerjang Saika serta Emu. Mungkin karena ini ruang
mimpi, tanahnya terasa selembut kasur mahal.
Meski aku
menjatuhkan mereka berdua, mereka tidak akan merasa sakit.
"Yah, karena
aku sudah jadi yang pertama, aku tonton saja deh~"
Saat aku menindih
Saika dan Emu sambil menikmati kelembutan mereka, Matsuri berjongkok di
depanku. Alhasil, bagian dalam roknya terlihat jelas, dan celana dalam hitam
yang seksi seolah menyapaku.
"Ya ampun,
padahal sedang menyentuh dada kami, tapi malah terpaku pada celana dalam
Matsuri-san..."
"Muu...
Ternyata Matsuri-senpai memang lawan yang berat."
"Kau boleh
melihatnya sesukamu, kok~?"
Matsuri mengusap
celana dalamnya dengan menggoda sambil merona merah. Menindih teman sekelas dan
adik kelas yang cantik, sambil memandangi seorang gal cantik yang
mengusap celana dalamnya sendiri dengan nakal... Mimpi yang tidak masuk akal ini benar-benar
yang terbaik!
"Hei,
Kai-kun."
"Hm?"
"Apa tidak
ada hal lain yang ingin kau lakukan? Ini mimpi, kan? Kalau begitu, melakukan
hal yang lebih ekstrem juga tidak apa-apa, bukan?"
"H-hal
yang... ekstrem?"
Begitu
aku bertanya balik, surga dunia langsung terbentang di depanku. Mereka bertiga
menanggalkan pakaian mereka dan hanya mengenakan pakaian dalam, lalu melambai
ke arahku.
"Kemarilah,
Kai-kun."
"Datanglah,
Kai-kun."
"Kemarilah,
Kai-senpai."
Tentu saja aku
menerjang mereka bertiga. Memanfaatkan kesempatan untuk melakukan apa pun
sesuka hati, aku menikmati tubuh mereka bertiga seolah sedang merayakan mimpi
ini.
"Sini, biar
wajahmu kubungkus dengan dadaku♪"
Wajahku terbenam
di dada Matsuri.
"Pinjamkan
tanganmu."
Tangan kananku
meremas dada Saika.
"Kalau
begitu, tangan yang ini untukku."
Tangan kiriku
meremas dada Emu!
Aku penasaran
bagaimana posisiku sekarang, tapi karena ini mimpi, tidak ada gunanya
dipikirkan.
(Bisa... bisa
lebih lagi!?)
Membenamkan wajah
di dada atau meremasnya adalah hal yang bisa kulakukan di dunia nyata.
Karena Matsuri
dan yang lainnya tidak bisa melawanku jika aku menggunakan kekuatan Partner,
bagi aku yang bercita-cita menjadi bajingan kelas kakap, hal semacam ini sudah
menjadi makanan sehari-hari.
(Kalau begitu...
kalau begitu!)
Mari lakukan hal
yang selama ini membuatku segan di dunia nyata!
"Semuanya...
bolehkah aku melakukan hal yang lebih mesum lagi?"
"Boleh
saja♪"
"Iya."
"Tentu saja
boleh♪"
Mendapat
persetujuan dari ketiganya, aku pun membiarkan diriku terbawa suasana, sambil
sadar kalau hidungku pasti sedang kembang kempis kegirangan.
"Lepaskan
pakaian dalam kalian!"
Keinginanku saat
ini hanya satu, hancurkan benteng terakhir itu dan tunjukkan pemandangan di
baliknya padaku!
"Fufu,
oke."
"Kalau
Kai-kun, akan kuperlihatkan."
"Kalau untuk
Kai-senpai... aku ingin diperlihatkan... aku ingin dilihat."
Mereka
mengangguk sambil tersenyum bahkan untuk permintaan seperti itu.
"O-ooh...!"
Aku
melihat apa yang ada di balik pakaian dalam yang ditanggalkan itu.
Tubuh
mereka yang tampil polos tanpa sehelai benang pun, sejujurnya terlihat seperti
pemandangan suci yang mampu menyucikan otakku yang dikuasai nafsu. Aku pun memejamkan mata seolah bersyukur
kepada Tuhan.
"...Eh,
kalau merem kan jadi tidak bisa lihat!"
Tapi, aku bukan
anak baik yang bisa puas hanya dengan memandangi saja.
"Matsuri,
Saika, Emu—biarkan aku bermanja sepuasnya pada kalian yang polos ini."
"Iya♪
Kemarilah."
"Akan
kumanjakan kau sebanyak mungkin."
"Apa cukup
hanya bermanja saja? Berikan aku banyak perintah♡"
Begitulah, aku
memanfaatkan mimpi ini untuk melakukan godaan nakal yang merangsang, sekaligus
bermanja sepuas hati seperti yang kuminta sebelumnya.
(Aku sudah tidak
bisa memikirkan benang hitam lagi... Aku ingin mati di dalam pelukan dada Matsuri dan yang lainnya.)
Dan yang
terpenting, rasa takut yang kurasakan di awal mimpi tadi sudah sirna
sepenuhnya.
◆◇◆
"Surga dada... Nng?"
Tiba-tiba aku membuka mata dan mendapati tanganku sedang
terulur ke arah langit-langit.
"...Lho?"
Di mana... di
mana surga dadaku!?
Matsuri!? Saika!?
Emu!? Ke mana perginya mereka bertiga yang memanjakanku dengan nakal tadi!?
"...Ternyata
cuma mimpi ya, sialaaaaan!!"
Benar juga... hal
semacam itu pasti cuma mimpi. Lagipula, sejak awal di dalam mimpi tadi aku
sudah sadar kalau itu cuma mimpi.
Tanpa kekuatan Partner, tidak mungkin Matsuri dan yang
lainnya... Yah, akhir-akhir ini kami memang jadi sangat akrab, bahkan aku
sempat pergi membeli baju renang bersama Matsuri dan Saika... tapi hubungan
kami belum sampai di tahap di mana mereka akan mengangguk senang kalau aku
minta mereka telanjang.
"Hah... mimpi macam apa yang kulihat tadi."
Tadi di dalam mimpi aku sangat bersemangat, tapi begitu
bangun seperti ini, aku malah merasa bersalah yang sulit dijelaskan... Walau
cuma mimpi, aku sudah melihat bagian-bagian penting Matsuri dan yang lainnya
dengan jelas, meremasnya... bahkan melakukan hal yang lebih hebat sedikit.
"...Hm?"
Saat aku sedang mengenang mimpi yang tidak terlupakan itu,
tiba-tiba terdengar suara langkah kaki raksasa dari luar kamar... Jangan-jangan
ini.
Dug, dug, suara langkah kaki itu bergema dan berhenti
di depan kamar. Tanpa mengetuk, pintu pun terbuka—dan yang muncul adalah
seorang Ratu Iblis mungil.
"Hieee!?"
"Kau ini...
dari pagi sudah berisik sekali, tahu?"
Kakak
perempuanku, yang memancarkan aura intimidasi dengan suara beratnya, masuk
begitu saja ke kamar dan mendekatiku... Entah hanya perasaanku saja, tapi
matanya tampak berkilat merah.
"A-anu... Kakak?"
Bok,
bok, Kakak
membunyikan buku-jari tangannya sambil berdiri di depanku.
Meskipun
dia sangat kecil sampai-sampai sering dikira anak SMP, aku tidak pernah bisa
membayangkan diriku menang melawannya. Tapi, itu kan ceritaku yang dulu.
(Sekarang
aku punya Partner... begitu ponsel di tangan, aku yang menang!)
Pada saat itu, aku mengulurkan tangan untuk mengambil
ponsel... Aku benar-benar yakin aku sudah menang, tapi kenyataan ternyata
sangat kejam.
"Apa yang
mau kau lakukan?"
"Apa...
katamu?"
Seharusnya aku
bergerak dengan kecepatan yang meninggalkan Kakak di belakang.
Tapi dia
sudah berdiri di depanku... Sekali lagi kukatakan, Kakak adalah wanita yang
lebih kecil dariku, tapi kenapa dia tampak begitu besar?
"Seorang
adik tidak akan bisa menang dari kakaknya. Menyerahlah, Kai—terimalah hukuman karena sudah
membuat keributan sejak pagi."
"...Sudah
tidak ada harapan?"
"Nggak
boleh♪"
Setelah itu,
Kakak menunjukkan perbedaan level kekuatan kami yang sangat jauh.
"Kalian
benar-benar akrab ya."
"Namanya
juga saudara, tentu saja."
"Miyako
sudah menjaga Kai sejak dulu... Ayah benar-benar tenang."
"Serahkan
saja padaku, Ayah."
...Suatu saat,
aku pasti akan menang. Sambil melihat Kakak yang memasang wajah penuh
kemenangan saat makan, aku membuat sumpah di dalam hati entah untuk yang
keberapa kalinya.
"Aku
berangkat~"
"Aku
berangkat."
Tak lama
kemudian, aku keluar rumah bersama Kakak. Setelah kejadian tadi pagi, berangkat
bersama seperti ini bisa dibilang hal yang cukup langka.
"Cuacanya
mulai panas, ya."
"Yah,
sebentar lagi kan musim panas."
"Fufu, aku
menantikannya, lho? Pergi ke kolam renang bersama Matsuri-chan dan
Saika-chan."
"Kau
semenanti itu?"
Saat aku
bertanya, Kakak mengangguk dengan mantap.
"Selain
karena mereka adalah gadis-gadis yang menjadi temanmu, mereka juga anak-anak
yang sangat baik. Aku sendiri ingin menjadi lebih akrab dengan mereka."
"Kurasa
kalian sudah cukup akrab."
Saat Matsuri dan
yang lainnya datang ke rumah, atau saat membeli baju renang, Kakak selalu ada
di samping mereka dan seharusnya sudah sangat akrab... Mereka berdua juga sering
membicarakan Kakak dan bilang ingin bertemu lagi.
"Teman
yang sudah akrab, ya... Kira-kira dia bakal kaget tidak ya kalau aku bilang
sebenarnya ada satu orang lagi."
"Kau
bilang sesuatu?"
"Tidak."
Yah,
sepertinya suatu saat aku harus menceritakannya juga.
"Nah, kita
berpisah di sini. Semangat sekolahnya, ya."
"Kakak
juga."
"Iya."
Setelah berpisah
dengan Kakak, aku berjalan sendirian menuju sekolah.
"...Sepi
juga, ya."
Wajar kalau
suasana jadi sepi saat sendirian, tapi aku merasa sedikit kesepian.
Mungkin karena
sudah lama aku tidak berjalan bersama Kakak di jalan menuju sekolah... Ah, aku
tidak mungkin mengatakan hal memalukan seperti itu, lagipula aku tidak mau
mengakuinya.
"...Hah."
"Ngapain
pakai acara mendesah segala, sih."
"Kelihatannya
suram sekali."
Sesaat setelah
suara langkah kaki terdengar, punggungku dipukul dengan keras dibarengi suara
tersebut.
"Aku tidak bermaksud kelihatan suram, kok... Halo,
kalian berdua."
"Yo."
"Selamat pagi."
Dua temanku—Akira dan Shogo—muncul dengan wajah seolah
berhasil mengerjaiku. Jalanan yang
tadi kurasa sepi kini menjadi ramai karena kehadiran mereka.
"Akira,
bagaimana latihan sepak bolamu belakangan ini?"
"Lancar jaya
tanpa cedera sama sekali, dong."
"Shogo,
bagaimana dengan kegiatan otaku-mu?"
"Mantap... Tapi aku baru beli figur yang agak mahal,
jadi uang sakuku sedang sekarat sekarang."
Sepertinya mereka
berdua tidak punya masalah apa pun.
"Baguslah
kalau kalian tidak kenapa-kenapa."
"Kami sih
senang kau perhatian, tapi..."
"Belakangan
ini Kai jadi perhatian banget ya sama kita~"
Itu mungkin
karena aku khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada orang-orang
terdekatku. Matsuri, Saika, Emu, dan tentu saja... teman-temanku ini juga
berharga bagiku.
"Kai sendiri
tidak punya masalah?"
"Tidak ada,
tuh."
"Apa-apaan.
Berarti kita semua tidak punya masalah, dong."
"Bukannya
bagus kalau tidak ada masalah?"
"Benar
juga."
Kami bertiga
tertawa bersama dan melanjutkan perjalanan. Sesampainya di sekolah dan masuk ke
kelas pun percakapan kami tetap berlanjut, tapi Akira dan Shogo yang sepertinya
sudah menahan kencing sejak di jalan langsung lari keluar kelas.
"Kenapa juga
harus ditahan, sih?"
"Apanya?"
"Ugh!?"
Refleks
aku tersentak ke belakang. Begitu aku melontarkan komentar untuk kedua temanku
itu, tiba-tiba terdengar suara lain tepat di telingaku, tentu saja aku kaget...
Tunggu!?
"Uwah!?"
"A-awas,
bahaya!"
Sepertinya
aku tersentak terlalu kuat sampai kursi yang kugunakan miring dan hampir jatuh.
Aku mengeluarkan jeritan memalukan... lalu wajahku terbenam ke dalam gumpalan
lembut yang empuk.
"Mmph!?"
Terbungkus oleh
apa... aku tahu persis ini apa—ini dada.
"Fuu... Hampir saja... Ah."
Orang yang memelukku itu sepertinya juga baru menyadari
situasinya.
Lengan yang tadinya melingkar di belakang kepalaku perlahan
dilepaskan, dan elastisitas yang membungkus wajahku pun perlahan menjauh...
Saat aku menengadah, Matsuri berdiri di sana dengan pipi yang sedikit merona.
"Ma-Matsuri...
terima kasih."
"U-um!
Syukurlah kau tidak jatuh!"
Meski tampak
malu, Matsuri mengatakannya sambil tersenyum. Tapi bagiku, melihatnya membuatku
teringat akan hal-hal yang kulakukan di dalam mimpi, dan wajahku pun langsung
terasa panas.
"Ada
apa?"
"Tidak...
tidak ada apa-apa."
"Mencurigakan,
ya? Ya sudah, aku duduk di sini saja♪"
Matsuri duduk di
kursi meja depanku. Sambil
menatapku dan menopang dagu, dia tampak sedang dalam suasana hati yang sangat
baik... Apa terjadi sesuatu?
"Hei,
Matsuri."
"Ada
apa?"
"Hari ini,
suasana hatimu bagus sekali ya?"
"...!!"
Begitu aku
bertanya, wajah Matsuri langsung memerah padam. Jika digambarkan seperti dalam
manga, seolah-olah ada uap yang keluar dari kepalanya karena dia tersipu malu
begitu hebat.
"Anu...
kalau tidak bisa cerita tidak apa-apa, kok."
"U-um...
maaf ya? Soalnya ini agak memalukan."
Aku menyeringai
dalam hati, ini pasti ada hubungannya dengan Partner di jam istirahat siang
nanti... Inilah yang namanya tindakan bajingan—Dengar ya Matsuri, akan kubuat
kau sadar sekali lagi kalau kau tidak akan pernah bisa menyembunyikan apa pun
dariku!
"..........."
"...Hm?"
"Ugh..."
Meski aku
mengalihkan pandangan, aku merasa terus diperhatikan. Tentu saja yang menatapku
adalah Matsuri, tapi saat mata kami bertemu lagi, dia langsung membuang muka...
Tunggu, apa-apaan reaksi manis ini... aku jadi sangat penasaran!?
"A-aku balik
ke tempat teman-temanku dulu ya!"
"O-oh..."
Matsuri langsung
pergi dengan terburu-buru, tapi dia sempat menoleh ke arahku beberapa kali,
jadi sudah pasti ada sesuatu!
(Jangan-jangan...
sesuatu terjadi lagi pada Matsuri?)
Meski cemas, tapi
kalau itu hal buruk dia tidak akan bereaksi seperti itu... Lagipula kemarin
kami mengobrol seperti biasa dan tidak ada yang aneh, jadi aku benar-benar
tidak paham dengan reaksinya.
"...Yah, aku
bakal tahu kalau sudah jam istirahat siang."
Meski aku ingin
jam istirahat segera tiba, sayangnya meski aku bisa mengendalikan orang, aku
tidak bisa mengendalikan waktu.
"Aku ke
toilet dulu deh."
Akira dan Shogo
sudah kembali, jadi aku keluar kelas bergantian dengan mereka. Aku langsung
menuju toilet, dan saat hendak kembali ke kelas, aku melihat Saika berjalan di
koridor.
"...Ah,
selamat pagi Kai-kun."
"Selamat
pagi, Saika."
Saling menyapa di
pagi hari adalah hal yang biasa, tapi bagi aku yang sekarang, aku malah
teringat mimpi tadi seperti saat bersama Matsuri. Sulit bagiku untuk
menatap Saika secara langsung... Dengan kata lain, hal-hal ekstrem yang
kulakukan di dalam mimpi benar-benar membuatku jadi sangat sadar akan
keberadaan mereka.
"...Fuu."
Tarik napas dalam-dalam dan tenang... Oke!
"Anu, maaf
ya Saika. Sebenarnya tidak ada apa—"
"Ma-maafkan
aku...!"
"...Eh?"
Saika langsung
mengalihkan pandangan dariku dan masuk begitu saja ke dalam kelas. Sama seperti
Matsuri, begitu mata kami bertemu, wajah Saika langsung memerah padam,
membuatku memiringkan kepala keheranan... Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Dilihat dari
reaksinya, dia tidak membenciku. Lagipula kemarin kami juga mengobrol biasa
saja... Ah, aku benar-benar tidak mengerti!!
"Apa ini...
bukan cuma Matsuri dan Saika, tapi Emu juga sama?"
Gadis terakhir
yang punya kesamaan karena kutolong melalui Partner dan menjadi akrab hanyalah
Emu, si adik kelas. Sayangnya karena dia beda tingkatan kelas, aku tidak punya
cara untuk memastikannya langsung.
Meski begitu,
karena bel masuk belum berbunyi, aku mencoba mengirim pesan padanya untuk
bertanya apakah kami bisa mengobrol sebentar, dan dia langsung membalas.
『Tentu saja
tidak apa-apa. Aku akan ke area tangga, ya.』
"...Balasannya
biasa saja."
Aku bersyukur dia
langsung membalas, dan yang terpenting, aku senang dia sangat memercayaiku
sampai-sampai tidak menanyakan alasannya.
"Ah,
Kai-senpai. Selamat pagi."
Begitu menuruni
tangga menuju lantai dua, Emu sudah ada di sana.
"Selamat
pagi, Emu. Maaf ya tiba-tiba memanggilmu."
"Tidak
apa-apa, saya tidak keberatan sama sekali."
Emu yang dijuluki
Ratu Es dan sudah menolak banyak cowok, sekarang sedang tersenyum di depanku.
Rasanya luar biasa, dan fakta bahwa akulah orang yang dia beri senyum itu
memberiku rasa superioritas terhadap orang-orang di sekitar.
"...Anu,
sebenarnya tidak ada urusan penting, sih."
"Begitukah?"
"Iya... cuma ingin mengobrol sebentar."
"Fufu, Anda memanggil saya hanya karena ingin
mengobrol? Alasannya manis sekali."
Emu mendekat dengan tangan di belakang punggung dan posisi
sedikit mendongak menatapku. Senyumnya bukan senyum lebar, melainkan senyum
tipis yang masih menyisakan kesan dinginnya, dan itu memiliki daya hancur yang
cukup besar.
"...Emu
seperti biasa saja, ya."
"Eh?"
"Aku cuma
berpikir kalau Emu tetap seperti biasanya."
"??"
Emu memiringkan
kepalanya, benar-benar menunjukkan kalau dia tidak mengerti apa maksudku.
Melihatnya tetap
tidak berubah seperti biasanya membuatku merasa paling tenang... Jika begini,
aku jadi makin penasaran dengan reaksi Matsuri dan Saika.
"Ah, dipandang rendah seperti ini membuatku ingin
bersujud saja..."
"Apa
katamu?"
"Bukan
apa-apa, kok♪"
Aku merasa
melihat kilatan aneh di mata Emu yang mendongak menatapku, tapi setelah itu
kami mengobrol ringan dan aku kembali ke kelas.
Bahkan saat
kembali ke kelas pun Matsuri sempat mengalihkan pandangan lagi, tapi waktu
terus berjalan hingga tibalah jam istirahat siang yang kunanti-nantikan.
"Baiklah,
kalian bertiga sudah datang, ya."
Setelah selesai
makan siang, mereka bertiga datang dalam kondisi terhipnosis seperti biasanya.
Kekuatan hipnosis
reservasi yang sudah kugunakan berkali-kali ini memang luar biasa; kekuatan
yang bisa mengendalikan waktu sesuai kehendakku ini benar-benar level cheat.
Aku melambai agar
mereka mendekat, lalu memeluk mereka seperti biasa.
Setelah menikmati
tubuh lembut Matsuri, Saika, dan Emu, aku meminta mereka membentuk formasi
seperti biasanya untuk menyembuhkan kelelahanku selama setengah hari ini.
"Ah~ benar-benar surga dunia."
Aku menyandarkan
punggungku pada Matsuri, sementara Saika dan Emu memelukku dari kedua sisi.
Inilah ultimate formation yang berhasil kutemukan, sebuah susunan
terkuat yang tidak akan pernah membuatku bosan seberapa sering pun aku
melakukannya.
"Nah, kalau
begitu mari kita lakukan yang seperti biasanya—Matsuri."
"Ada
apa?"
"Apa terjadi
sesuatu dengan mantan pacarmu itu?"
"Tidak,
aku baik-baik saja."
Aku
mengangguk lega mendengarnya, lalu beralih ke Saika.
"Bagaimana
denganmu, Saika? Apa ada masalah lagi dengan ayahmu?"
"Iya,
aku benar-benar tidak apa-apa. Jangan khawatir, Kai-kun."
Saika juga aman.
Terakhir, giliran Emu.
"Bagaimana
denganmu, Emu? Kau tidak dikuntit lagi, kan?"
"Sama sekali
tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Terima kasih, Kai-senpai."
Aku lega karena
mereka bertiga tetap baik-baik saja. Seandainya terjadi sesuatu pun, mereka
tidak akan bisa melawan kekuatan Partner. Seperti yang sudah sering kukatakan,
segala perkataan mereka saat ini adalah kebenaran, jadi jika mereka bilang
baik-baik saja, maka memang begitu adanya.
"...Ah, aku
hampir lupa."
Saking asyiknya
menikmati waktu surgawi ini, aku sampai melupakan hal yang sangat penting.
Mengenai sikap Matsuri dan Saika pagi tadi, aku harus mencari tahu apa
sebenarnya yang terjadi. Aku meminta mereka bertiga menjauh sedikit lalu
berhadapan dengan mereka.
"Emu, kau tunggu sebentar... Matsuri, Saika."
"Ya?"
"Ada apa?"
"Tadi pagi juga begitu, tapi apa kalian berdua merasa
ada yang aneh hari ini? Kenapa wajah
kalian sampai semerah itu dan membuang muka dariku?"
Nah, kalian tidak
bisa berbohong padaku, tahu? Ayo bicara yang jelas! Saat ini, aku pasti sedang
memasang senyum yang bahkan akan membuat seorang bajingan sekalipun merasa
kalah... Aku menatap mereka, menunggu mereka mulai bicara, namun tiba-tiba
wajah Matsuri dan Saika langsung memerah padam seolah mengeluarkan suara boof.
"...Eh?"
Wajah mereka
berdua memerah, persis seperti kejadian tadi pagi. Aku refleks mengalihkan
pandangan dari mereka berdua ke arah Emu, dan melihatnya sedikit terbelalak
adalah pemandangan yang menarik... Meski begitu, aku harus memperjelas
situasinya!
"Bicaralah—kenapa
wajah kalian memerah seperti itu?"
Menanggapi
pertanyaanku, Matsuri dan Saika tidak memberikan perlawanan.
"Aku bermimpi... Itu, mimpi melakukan hal-hal mesum
yang intens dengan Kai-kun."
"Aku juga sama... Karena aku ingin mengabulkan
permintaan Kai-kun, aku bermimpi memberikan pelayanan yang banyak dengan
dadaku."
"...Eh?"
Sesaat, aku tidak bisa memahami apa yang mereka bicarakan. Namun saat aku mulai meresapi kata-kata
itu perlahan-lahan, kali ini giliran wajahku yang memerah karena panik.
"Ke-kenapa...
eegh!?"
Tunggu... tunggu,
tunggu, tunggu! Mimpi
melakukan hal mesum yang intens denganku!? Mimpi melayaniku dengan dada!?
Bukankah itu semua adalah hal yang kulakukan pada mereka di dalam mimpiku!?
"..........."
Aku kehilangan
kata-kata. Jangan-jangan, mimpiku dan mimpi mereka itu saling terhubung? Atau
semacamnya!? Tidak, tidak, mana mungkin hal konyol seperti itu terjadi!
"...Ehem."
Tenang dulu... Tenangkan dirimu, Kai. Aku menarik dan mengembuskan napas berulang kali
untuk menenangkan perasaan, lalu aku teringat pada Emu.
(Mimpi yang
kulihat—aku menjilati seluruh tubuh Matsuri, meminta Saika melakukan berbagai
hal dengan gundukan montoknya... Dan untuk Emu, karena dia seorang masokis
dan aku tahu itu hanya mimpi, aku memberinya banyak sekali perintah.)
Di dalam mimpi,
aku memang benar-benar sudah melunjak.
"Hei,
Emu."
"Iya."
"Kau...
mimpi seperti apa yang kau lihat?"
"Kai-senpai...
atau lebih tepatnya Tuan, Anda meminta saya melakukan pose-pose yang memalukan,
menginjak saya, menyuruh saya menjilati kaki Anda... itu adalah mimpi yang
sangat luar biasaa♡"
Se-semuanya
benar...!? Seolah mengabaikan aku yang sedang gemetar ketakutan, Emu terus
melanjutkan kata-katanya.
"Bagi saya,
mimpi bersama Tuan adalah kebahagiaan tertinggi. Karena itu, alih-alih merasa
malu, saya justru merasakan gairah untuk meminta lebih banyak lagi...
ngh!!"
"O-oke,
aku mengerti, jadi tenanglah! Kau sedang dalam kondisi terhipnosis, jadi
kendalikan sedikit egomu itu!?"
"Bukankah
sudah terlambat!?"
"Jangan
malah balik memprotes!!"
Aneh... Seharusnya aku mencari ketenangan, tapi kenapa
sekarang aku malah merasa sangat lelah sampai terengah-engah seperti ini.
"Kai-kun,
kau lelah?"
"Iya..."
"Kalau
begitu, biar kusembuhkan dengan dadaku, ya."
"Fuwaaa~"
Wajahku
terasa panas, jantungku berdegup kencang, dan aku masih belum bisa memahami
semuanya.
Namun di
depan gundukan montok yang melimpah ini, aku disadarkan bahwa hal-hal tadi
hanyalah masalah kecil belaka.
Rasanya
tidak ada gunanya dipikirkan, lebih baik tenggelam dalam kenyataan yang damai
di depan mataku ini.
"Memalukan...
memang memalukan, tahu? Tapi lihat, kami semua tidak membenci Kai-kun,
kok."
"Memang
memalukan, tapi... karena aku tidak merasa keberatan."
"Saya harap Anda tenang soal bagian itu. Jadi, Kai-senpai, kalau Anda bermimpi seperti itu
lagi di masa depan, silakan berikan lebih banyak permintaan dan perintah! Come
on!"
"A-ah,
iya."
Aku merasa tenang
mendengar perkataan Matsuri dan Saika, dan hanya bisa tersenyum kecut melihat
Emu yang begitu bersemangat.
Tapi begitu ya...
jika mereka merasa seperti itu, aku bisa tenang. Mungkin ini juga berkat aku
menolong mereka, dan hubungan yang terjalin lewat hal itu telah membawa dampak
yang positif.
"Tapi...
benang hitam itu sebenarnya apa, ya?"
"Benar
juga."
"Rasanya
menjijikkan... aku merasakan niat untuk melukai Kai-kun."
"Meski aku
suka diikat dengan benang, tapi kalau benang yang itu sepertinya agak kurang
menyenangkan."
Mengabaikan
keanehan Emu, sepertinya Matsuri dan yang lainnya juga ingat soal benang hitam
itu.
"...Karena
Matsuri dan yang lainnya sudah menolongku, mungkin untuk sekarang tidak
apa-apa. Lagipula mumpung kita sudah berkumpul dan masih ada waktu, biarkan aku
bermanja lebih banyak lagi pada kalian!"
Meski banyak hal
yang mengusik pikiran, tapi mimpi tetaplah mimpi... Walaupun berpikir begitu,
saat aku bermanja pada mereka bertiga, pikiran tentang apa sebenarnya benang
hitam itu tetap tidak mau hilang dari kepalaku.
Setelah
bermesraan dengan mereka sampai jam istirahat hampir berakhir, aku menyuruh
mereka kembali ke kelas. Kemudian, aku sekali lagi membuka ponsel dan
memeriksa bagan hubungan (correlation chart).
"...Aku
sudah sempat menduganya, sih."
Ini adalah
pertama kalinya aku melihat bagan hubungan setelah beberapa hari, dan terlihat
perubahan yang jelas.
Nama Matsuri,
Saika, dan Emu bergerak sangat dekat ke namaku seolah-olah hampir menempel.
Terlebih lagi,
benang merah muda yang memanjang dari mereka tetap terus menghalau
benang-benang hitam, seolah sedang melindungiku.
"Benang
hitam adalah sesuatu yang buruk, dan benang merah muda adalah perasaan dari
mereka yang tidak buruk. Aku mulai memahaminya."
Tentu saja saat
sedang terhipnosis, tapi di waktu biasa pun hubungan kami sangat baik... Itulah
sebabnya ikatan yang terpupuk melalui aplikasi hipnosis ini bekerja dan membuat
mereka menolongku di dalam mimpi.
"Waduh,
waktunya gawat!?"
Terkejut melihat
jam, aku pun segera bergegas kembali ke kelas. Sudah cukup lama sejak aku
mendapatkan Partner, dan meski masih banyak hal yang tidak kupahami, aku akan
terus maju mengikuti hasratku seperti biasanya!
Karena itu
Partner, mohon bantuannya mulai sekarang juga! Buatlah aku dan para gadis ini
semakin mesra lagi, ya!



Post a Comment