NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Te ni Ireta Saimin Appli de Yume no Harem Seikatsu o Okuritai Volume 3 Chapter 1

Chapter 1

Mungkin Nggak Cuma Soal Hal Mesum Aja, Bro!

"...Apa-apaan ini?"

Tempat itu adalah ruang gelap yang terasa familier.

"...Mimpi buruk itu lagi?"

Sebenarnya, fakta bahwa aku bisa menyadari kalau ini adalah mimpi saja sudah terasa aneh.

Tapi, mengingat aku sudah bertemu dengan Partner—kekuatan supranatural berupa aplikasi hipnosis—dan menggunakan kekuatan itu untuk melakukan hal-hal yang mustahil dilakukan terhadap para gadis, kurasa menyadari kalau ini mimpi bukan lagi hal yang mengejutkan.

"Ini memang mimpi gelap yang menyeramkan, tapi aku sama sekali tidak takut... Boong deng, sialan."

Maaf, aku berbohong. Aku takut setengah mati. Jika ini mimpi di mana aku tidak tahu apa-apa, mungkin tidak masalah.

Tapi, justru karena kesadaranku sangat jernih, rasa takut itu terasa nyata. Terlebih lagi, aku bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

"...Sudah kuduga."

Dan tepat seperti dugaanku, perubahan yang kubayangkan terjadi.

Pria yang pernah kulihat di mimpi sebelumnya muncul di hadapanku.

Pria itu terjerat oleh benang-benang hitam yang menggeliat... Dan hari ini, seolah-olah ingin menyuguhkan pertunjukan yang lebih mengerikan, benang-benang itu mulai melukai tubuh si pria.

"Sakit... Hentikan... Hentikan...!"

Suaranya terdengar menyedihkan, tapi aku tidak bisa tertawa melihat pemandangan itu.

Suara gesekan menjijikkan yang meremukkan benda dan jeritan pria itu terus bergema di dunia yang belum bisa kutinggalkan ini.

"A... Tolong... aku..."

"Ugh..."

Pria itu menyadari keberadaanku dan mengulurkan tangan meminta pertolongan. Tentu saja, aku tidak bereaksi... Tidak, lebih tepatnya aku tidak bisa melakukannya.

Begitu saja, pria itu tertutup sepenuhnya oleh benang hitam dan hancur berkeping-keping diiringi jeritan yang memekakkan telinga.

"...Benar-benar, mimpi macam apa ini?"

Padahal aku tidak bergumam dengan keras, tapi seolah merespons suaraku, benang-benang hitam itu berbalik ke arahku.

"A-apa-apaan ini...!"

Gerakan sekumpulan benang yang berbalik dengan licin itu terasa sangat mengerikan, mengingatkanku pada ular jika saja mereka punya kepala.

Aku merasa ini gawat dan berniat lari, tapi benang-benang hitam itu memanjang dengan suara mendesis. Saat aku berpikir ini adalah akhir dari segalanya... aku ternyata baik-baik saja.

"...Eh?"

Benang hitam yang hampir menerjangku telah terpotong-potong oleh benang berwarna merah muda.

Kejadian ini persis seperti mimpi yang kulihat sebelumnya... Itu artinya, munculnya benang merah muda ini menandakan!?

"...Ah."

Cahaya menyinari dunia yang gelap tadi, membuatnya menjadi terang benderang.

Rasa cemas yang menyelimuti hatiku sirna seketika, dan itu bukan hanya karena cahaya ini.

"Kai-kun, kau tidak apa-apa?"

"Aku datang untuk menolongmu."

"Apa Anda baik-baik saja? Kai-senpai."

Sama seperti sebelumnya, mereka muncul.

Matsuri Aizaka, perwujudan gadis gal yang baik pada otaku; Saika Azuma, yang menyembunyikan kecantikan luar biasa di balik penampilannya; dan Emu Honma, si gadis cantik yang ternyata seorang masokis tersembunyi.

Mereka bertiga adalah gadis-gadis yang menjadi akrab denganku melalui aplikasi hipnosis.

Terasa aneh mengatakannya, tapi karena aku berteman dengan mereka lewat benda yang kupanggil 'Partner' itu, aku tidak bisa mendeskripsikannya dengan cara lain.

"Matsuri! Saika! Emu!"

Begitu kupanggil nama mereka, mereka melihatku dan tersenyum. Saat melihat senyum itu, tenagaku langsung hilang sampai aku jatuh terduduk, namun mereka segera berlari menghampiriku.

"Kau tidak apa-apa?"

"Matsuri~!"

Aku langsung menghambur ke dada Matsuri yang sudah berada di depanku.

Aku membenamkan wajahku, merasakan elastisitas yang membuatku bahagia meski hanya di dalam mimpi. Wajahku sepenuhnya terbungkus oleh dadanya yang besar.

"Fufu, manisnya♪"

Matsuri mengusap kepalaku dengan lembut tanpa ada niat menjauhkan aku. Meski di dunia mimpi, aku sangat senang dia membiarkanku melakukan ini tanpa kekuatan Partner. Karena ini mimpi, aku akan menikmatinya sepuas hati!

"Kai-kun, tidak adil kalau hanya Matsuri-san."

"Benar, Kai-senpai!"

Mendengar mereka protes karena aku hanya bermanja pada Matsuri, aku pun menjawab.

"Kalian berdua pencemburu ya, tapi itu yang membuat kalian hebat!"

Uwah... aku benar-benar sedang melunjak, tapi karena ini mimpi, apa pun boleh dilakukan dan tidak akan merepotkan siapa pun!

"Saika, Emu, biarkan aku bermanja pada kalian juga!"

Aku melepaskan diri dari Matsuri dan menerjang Saika serta Emu. Mungkin karena ini ruang mimpi, tanahnya terasa selembut kasur mahal.

Meski aku menjatuhkan mereka berdua, mereka tidak akan merasa sakit.

"Yah, karena aku sudah jadi yang pertama, aku tonton saja deh~"

Saat aku menindih Saika dan Emu sambil menikmati kelembutan mereka, Matsuri berjongkok di depanku. Alhasil, bagian dalam roknya terlihat jelas, dan celana dalam hitam yang seksi seolah menyapaku.

"Ya ampun, padahal sedang menyentuh dada kami, tapi malah terpaku pada celana dalam Matsuri-san..."

"Muu... Ternyata Matsuri-senpai memang lawan yang berat."

"Kau boleh melihatnya sesukamu, kok~?"

Matsuri mengusap celana dalamnya dengan menggoda sambil merona merah. Menindih teman sekelas dan adik kelas yang cantik, sambil memandangi seorang gal cantik yang mengusap celana dalamnya sendiri dengan nakal... Mimpi yang tidak masuk akal ini benar-benar yang terbaik!

"Hei, Kai-kun."

"Hm?"

"Apa tidak ada hal lain yang ingin kau lakukan? Ini mimpi, kan? Kalau begitu, melakukan hal yang lebih ekstrem juga tidak apa-apa, bukan?"

"H-hal yang... ekstrem?"

Begitu aku bertanya balik, surga dunia langsung terbentang di depanku. Mereka bertiga menanggalkan pakaian mereka dan hanya mengenakan pakaian dalam, lalu melambai ke arahku.

"Kemarilah, Kai-kun."

"Datanglah, Kai-kun."

"Kemarilah, Kai-senpai."

Tentu saja aku menerjang mereka bertiga. Memanfaatkan kesempatan untuk melakukan apa pun sesuka hati, aku menikmati tubuh mereka bertiga seolah sedang merayakan mimpi ini.

"Sini, biar wajahmu kubungkus dengan dadaku♪"

Wajahku terbenam di dada Matsuri.

"Pinjamkan tanganmu."

Tangan kananku meremas dada Saika.

"Kalau begitu, tangan yang ini untukku."

Tangan kiriku meremas dada Emu!

Aku penasaran bagaimana posisiku sekarang, tapi karena ini mimpi, tidak ada gunanya dipikirkan.

(Bisa... bisa lebih lagi!?)

Membenamkan wajah di dada atau meremasnya adalah hal yang bisa kulakukan di dunia nyata.

Karena Matsuri dan yang lainnya tidak bisa melawanku jika aku menggunakan kekuatan Partner, bagi aku yang bercita-cita menjadi bajingan kelas kakap, hal semacam ini sudah menjadi makanan sehari-hari.

(Kalau begitu... kalau begitu!)

Mari lakukan hal yang selama ini membuatku segan di dunia nyata!

"Semuanya... bolehkah aku melakukan hal yang lebih mesum lagi?"

"Boleh saja♪"

"Iya."

"Tentu saja boleh♪"

Mendapat persetujuan dari ketiganya, aku pun membiarkan diriku terbawa suasana, sambil sadar kalau hidungku pasti sedang kembang kempis kegirangan.

"Lepaskan pakaian dalam kalian!"

Keinginanku saat ini hanya satu, hancurkan benteng terakhir itu dan tunjukkan pemandangan di baliknya padaku!

"Fufu, oke."

"Kalau Kai-kun, akan kuperlihatkan."

"Kalau untuk Kai-senpai... aku ingin diperlihatkan... aku ingin dilihat."

Mereka mengangguk sambil tersenyum bahkan untuk permintaan seperti itu.

"O-ooh...!"

Aku melihat apa yang ada di balik pakaian dalam yang ditanggalkan itu.

Tubuh mereka yang tampil polos tanpa sehelai benang pun, sejujurnya terlihat seperti pemandangan suci yang mampu menyucikan otakku yang dikuasai nafsu. Aku pun memejamkan mata seolah bersyukur kepada Tuhan.

"...Eh, kalau merem kan jadi tidak bisa lihat!"

Tapi, aku bukan anak baik yang bisa puas hanya dengan memandangi saja.

"Matsuri, Saika, Emu—biarkan aku bermanja sepuasnya pada kalian yang polos ini."

"Iya♪ Kemarilah."

"Akan kumanjakan kau sebanyak mungkin."

"Apa cukup hanya bermanja saja? Berikan aku banyak perintah"

Begitulah, aku memanfaatkan mimpi ini untuk melakukan godaan nakal yang merangsang, sekaligus bermanja sepuas hati seperti yang kuminta sebelumnya.

(Aku sudah tidak bisa memikirkan benang hitam lagi... Aku ingin mati di dalam pelukan dada Matsuri dan yang lainnya.)

Dan yang terpenting, rasa takut yang kurasakan di awal mimpi tadi sudah sirna sepenuhnya.

◆◇◆

"Surga dada... Nng?"

Tiba-tiba aku membuka mata dan mendapati tanganku sedang terulur ke arah langit-langit.

"...Lho?"

Di mana... di mana surga dadaku!?

Matsuri!? Saika!? Emu!? Ke mana perginya mereka bertiga yang memanjakanku dengan nakal tadi!?

"...Ternyata cuma mimpi ya, sialaaaaan!!"

Benar juga... hal semacam itu pasti cuma mimpi. Lagipula, sejak awal di dalam mimpi tadi aku sudah sadar kalau itu cuma mimpi.

Tanpa kekuatan Partner, tidak mungkin Matsuri dan yang lainnya... Yah, akhir-akhir ini kami memang jadi sangat akrab, bahkan aku sempat pergi membeli baju renang bersama Matsuri dan Saika... tapi hubungan kami belum sampai di tahap di mana mereka akan mengangguk senang kalau aku minta mereka telanjang.

"Hah... mimpi macam apa yang kulihat tadi."

Tadi di dalam mimpi aku sangat bersemangat, tapi begitu bangun seperti ini, aku malah merasa bersalah yang sulit dijelaskan... Walau cuma mimpi, aku sudah melihat bagian-bagian penting Matsuri dan yang lainnya dengan jelas, meremasnya... bahkan melakukan hal yang lebih hebat sedikit.

"...Hm?"

Saat aku sedang mengenang mimpi yang tidak terlupakan itu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki raksasa dari luar kamar... Jangan-jangan ini.

Dug, dug, suara langkah kaki itu bergema dan berhenti di depan kamar. Tanpa mengetuk, pintu pun terbuka—dan yang muncul adalah seorang Ratu Iblis mungil.

"Hieee!?"

"Kau ini... dari pagi sudah berisik sekali, tahu?"

Kakak perempuanku, yang memancarkan aura intimidasi dengan suara beratnya, masuk begitu saja ke kamar dan mendekatiku... Entah hanya perasaanku saja, tapi matanya tampak berkilat merah.

"A-anu... Kakak?"

Bok, bok, Kakak membunyikan buku-jari tangannya sambil berdiri di depanku.

Meskipun dia sangat kecil sampai-sampai sering dikira anak SMP, aku tidak pernah bisa membayangkan diriku menang melawannya. Tapi, itu kan ceritaku yang dulu.

(Sekarang aku punya Partner... begitu ponsel di tangan, aku yang menang!)

Pada saat itu, aku mengulurkan tangan untuk mengambil ponsel... Aku benar-benar yakin aku sudah menang, tapi kenyataan ternyata sangat kejam.

"Apa yang mau kau lakukan?"

"Apa... katamu?"

Seharusnya aku bergerak dengan kecepatan yang meninggalkan Kakak di belakang.

Tapi dia sudah berdiri di depanku... Sekali lagi kukatakan, Kakak adalah wanita yang lebih kecil dariku, tapi kenapa dia tampak begitu besar?

"Seorang adik tidak akan bisa menang dari kakaknya. Menyerahlah, Kai—terimalah hukuman karena sudah membuat keributan sejak pagi."

"...Sudah tidak ada harapan?"

"Nggak boleh♪"

Setelah itu, Kakak menunjukkan perbedaan level kekuatan kami yang sangat jauh.

"Kalian benar-benar akrab ya."

"Namanya juga saudara, tentu saja."

"Miyako sudah menjaga Kai sejak dulu... Ayah benar-benar tenang."

"Serahkan saja padaku, Ayah."

...Suatu saat, aku pasti akan menang. Sambil melihat Kakak yang memasang wajah penuh kemenangan saat makan, aku membuat sumpah di dalam hati entah untuk yang keberapa kalinya.

"Aku berangkat~"

"Aku berangkat."

Tak lama kemudian, aku keluar rumah bersama Kakak. Setelah kejadian tadi pagi, berangkat bersama seperti ini bisa dibilang hal yang cukup langka.

"Cuacanya mulai panas, ya."

"Yah, sebentar lagi kan musim panas."

"Fufu, aku menantikannya, lho? Pergi ke kolam renang bersama Matsuri-chan dan Saika-chan."

"Kau semenanti itu?"

Saat aku bertanya, Kakak mengangguk dengan mantap.

"Selain karena mereka adalah gadis-gadis yang menjadi temanmu, mereka juga anak-anak yang sangat baik. Aku sendiri ingin menjadi lebih akrab dengan mereka."

"Kurasa kalian sudah cukup akrab."

Saat Matsuri dan yang lainnya datang ke rumah, atau saat membeli baju renang, Kakak selalu ada di samping mereka dan seharusnya sudah sangat akrab... Mereka berdua juga sering membicarakan Kakak dan bilang ingin bertemu lagi.

"Teman yang sudah akrab, ya... Kira-kira dia bakal kaget tidak ya kalau aku bilang sebenarnya ada satu orang lagi."

"Kau bilang sesuatu?"

"Tidak."

Yah, sepertinya suatu saat aku harus menceritakannya juga.

"Nah, kita berpisah di sini. Semangat sekolahnya, ya."

"Kakak juga."

"Iya."

Setelah berpisah dengan Kakak, aku berjalan sendirian menuju sekolah.

"...Sepi juga, ya."

Wajar kalau suasana jadi sepi saat sendirian, tapi aku merasa sedikit kesepian.

Mungkin karena sudah lama aku tidak berjalan bersama Kakak di jalan menuju sekolah... Ah, aku tidak mungkin mengatakan hal memalukan seperti itu, lagipula aku tidak mau mengakuinya.

"...Hah."

"Ngapain pakai acara mendesah segala, sih."

"Kelihatannya suram sekali."

Sesaat setelah suara langkah kaki terdengar, punggungku dipukul dengan keras dibarengi suara tersebut.

"Aku tidak bermaksud kelihatan suram, kok... Halo, kalian berdua."

"Yo."

"Selamat pagi."

Dua temanku—Akira dan Shogo—muncul dengan wajah seolah berhasil mengerjaiku. Jalanan yang tadi kurasa sepi kini menjadi ramai karena kehadiran mereka.

"Akira, bagaimana latihan sepak bolamu belakangan ini?"

"Lancar jaya tanpa cedera sama sekali, dong."

"Shogo, bagaimana dengan kegiatan otaku-mu?"

"Mantap... Tapi aku baru beli figur yang agak mahal, jadi uang sakuku sedang sekarat sekarang."

Sepertinya mereka berdua tidak punya masalah apa pun.

"Baguslah kalau kalian tidak kenapa-kenapa."

"Kami sih senang kau perhatian, tapi..."

"Belakangan ini Kai jadi perhatian banget ya sama kita~"

Itu mungkin karena aku khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada orang-orang terdekatku. Matsuri, Saika, Emu, dan tentu saja... teman-temanku ini juga berharga bagiku.

"Kai sendiri tidak punya masalah?"

"Tidak ada, tuh."

"Apa-apaan. Berarti kita semua tidak punya masalah, dong."

"Bukannya bagus kalau tidak ada masalah?"

"Benar juga."

Kami bertiga tertawa bersama dan melanjutkan perjalanan. Sesampainya di sekolah dan masuk ke kelas pun percakapan kami tetap berlanjut, tapi Akira dan Shogo yang sepertinya sudah menahan kencing sejak di jalan langsung lari keluar kelas.

"Kenapa juga harus ditahan, sih?"

"Apanya?"

"Ugh!?"

Refleks aku tersentak ke belakang. Begitu aku melontarkan komentar untuk kedua temanku itu, tiba-tiba terdengar suara lain tepat di telingaku, tentu saja aku kaget... Tunggu!?

"Uwah!?"

"A-awas, bahaya!"

Sepertinya aku tersentak terlalu kuat sampai kursi yang kugunakan miring dan hampir jatuh. Aku mengeluarkan jeritan memalukan... lalu wajahku terbenam ke dalam gumpalan lembut yang empuk.

"Mmph!?"

Terbungkus oleh apa... aku tahu persis ini apa—ini dada.

"Fuu... Hampir saja... Ah."

Orang yang memelukku itu sepertinya juga baru menyadari situasinya.

Lengan yang tadinya melingkar di belakang kepalaku perlahan dilepaskan, dan elastisitas yang membungkus wajahku pun perlahan menjauh... Saat aku menengadah, Matsuri berdiri di sana dengan pipi yang sedikit merona.

"Ma-Matsuri... terima kasih."

"U-um! Syukurlah kau tidak jatuh!"

Meski tampak malu, Matsuri mengatakannya sambil tersenyum. Tapi bagiku, melihatnya membuatku teringat akan hal-hal yang kulakukan di dalam mimpi, dan wajahku pun langsung terasa panas.

"Ada apa?"

"Tidak... tidak ada apa-apa."

"Mencurigakan, ya? Ya sudah, aku duduk di sini saja♪"

Matsuri duduk di kursi meja depanku. Sambil menatapku dan menopang dagu, dia tampak sedang dalam suasana hati yang sangat baik... Apa terjadi sesuatu?

"Hei, Matsuri."

"Ada apa?"

"Hari ini, suasana hatimu bagus sekali ya?"

"...!!"

Begitu aku bertanya, wajah Matsuri langsung memerah padam. Jika digambarkan seperti dalam manga, seolah-olah ada uap yang keluar dari kepalanya karena dia tersipu malu begitu hebat.

"Anu... kalau tidak bisa cerita tidak apa-apa, kok."

"U-um... maaf ya? Soalnya ini agak memalukan."

Aku menyeringai dalam hati, ini pasti ada hubungannya dengan Partner di jam istirahat siang nanti... Inilah yang namanya tindakan bajingan—Dengar ya Matsuri, akan kubuat kau sadar sekali lagi kalau kau tidak akan pernah bisa menyembunyikan apa pun dariku!

"..........."

"...Hm?"

"Ugh..."

Meski aku mengalihkan pandangan, aku merasa terus diperhatikan. Tentu saja yang menatapku adalah Matsuri, tapi saat mata kami bertemu lagi, dia langsung membuang muka... Tunggu, apa-apaan reaksi manis ini... aku jadi sangat penasaran!?

"A-aku balik ke tempat teman-temanku dulu ya!"

"O-oh..."

Matsuri langsung pergi dengan terburu-buru, tapi dia sempat menoleh ke arahku beberapa kali, jadi sudah pasti ada sesuatu!

(Jangan-jangan... sesuatu terjadi lagi pada Matsuri?)

Meski cemas, tapi kalau itu hal buruk dia tidak akan bereaksi seperti itu... Lagipula kemarin kami mengobrol seperti biasa dan tidak ada yang aneh, jadi aku benar-benar tidak paham dengan reaksinya.

"...Yah, aku bakal tahu kalau sudah jam istirahat siang."

Meski aku ingin jam istirahat segera tiba, sayangnya meski aku bisa mengendalikan orang, aku tidak bisa mengendalikan waktu.

"Aku ke toilet dulu deh."

Akira dan Shogo sudah kembali, jadi aku keluar kelas bergantian dengan mereka. Aku langsung menuju toilet, dan saat hendak kembali ke kelas, aku melihat Saika berjalan di koridor.

"...Ah, selamat pagi Kai-kun."

"Selamat pagi, Saika."

Saling menyapa di pagi hari adalah hal yang biasa, tapi bagi aku yang sekarang, aku malah teringat mimpi tadi seperti saat bersama Matsuri. Sulit bagiku untuk menatap Saika secara langsung... Dengan kata lain, hal-hal ekstrem yang kulakukan di dalam mimpi benar-benar membuatku jadi sangat sadar akan keberadaan mereka.

"...Fuu."

Tarik napas dalam-dalam dan tenang... Oke!

"Anu, maaf ya Saika. Sebenarnya tidak ada apa—"

"Ma-maafkan aku...!"

"...Eh?"

Saika langsung mengalihkan pandangan dariku dan masuk begitu saja ke dalam kelas. Sama seperti Matsuri, begitu mata kami bertemu, wajah Saika langsung memerah padam, membuatku memiringkan kepala keheranan... Sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Dilihat dari reaksinya, dia tidak membenciku. Lagipula kemarin kami juga mengobrol biasa saja... Ah, aku benar-benar tidak mengerti!!

"Apa ini... bukan cuma Matsuri dan Saika, tapi Emu juga sama?"

Gadis terakhir yang punya kesamaan karena kutolong melalui Partner dan menjadi akrab hanyalah Emu, si adik kelas. Sayangnya karena dia beda tingkatan kelas, aku tidak punya cara untuk memastikannya langsung.

Meski begitu, karena bel masuk belum berbunyi, aku mencoba mengirim pesan padanya untuk bertanya apakah kami bisa mengobrol sebentar, dan dia langsung membalas.

Tentu saja tidak apa-apa. Aku akan ke area tangga, ya.

"...Balasannya biasa saja."

Aku bersyukur dia langsung membalas, dan yang terpenting, aku senang dia sangat memercayaiku sampai-sampai tidak menanyakan alasannya.

"Ah, Kai-senpai. Selamat pagi."

Begitu menuruni tangga menuju lantai dua, Emu sudah ada di sana.

"Selamat pagi, Emu. Maaf ya tiba-tiba memanggilmu."

"Tidak apa-apa, saya tidak keberatan sama sekali."

Emu yang dijuluki Ratu Es dan sudah menolak banyak cowok, sekarang sedang tersenyum di depanku. Rasanya luar biasa, dan fakta bahwa akulah orang yang dia beri senyum itu memberiku rasa superioritas terhadap orang-orang di sekitar.

"...Anu, sebenarnya tidak ada urusan penting, sih."

"Begitukah?"

"Iya... cuma ingin mengobrol sebentar."

"Fufu, Anda memanggil saya hanya karena ingin mengobrol? Alasannya manis sekali."

Emu mendekat dengan tangan di belakang punggung dan posisi sedikit mendongak menatapku. Senyumnya bukan senyum lebar, melainkan senyum tipis yang masih menyisakan kesan dinginnya, dan itu memiliki daya hancur yang cukup besar.

"...Emu seperti biasa saja, ya."

"Eh?"

"Aku cuma berpikir kalau Emu tetap seperti biasanya."

"??"

Emu memiringkan kepalanya, benar-benar menunjukkan kalau dia tidak mengerti apa maksudku.

Melihatnya tetap tidak berubah seperti biasanya membuatku merasa paling tenang... Jika begini, aku jadi makin penasaran dengan reaksi Matsuri dan Saika.

"Ah, dipandang rendah seperti ini membuatku ingin bersujud saja..."

"Apa katamu?"

"Bukan apa-apa, kok♪"

Aku merasa melihat kilatan aneh di mata Emu yang mendongak menatapku, tapi setelah itu kami mengobrol ringan dan aku kembali ke kelas.

Bahkan saat kembali ke kelas pun Matsuri sempat mengalihkan pandangan lagi, tapi waktu terus berjalan hingga tibalah jam istirahat siang yang kunanti-nantikan.

"Baiklah, kalian bertiga sudah datang, ya."

Setelah selesai makan siang, mereka bertiga datang dalam kondisi terhipnosis seperti biasanya.

Kekuatan hipnosis reservasi yang sudah kugunakan berkali-kali ini memang luar biasa; kekuatan yang bisa mengendalikan waktu sesuai kehendakku ini benar-benar level cheat.

Aku melambai agar mereka mendekat, lalu memeluk mereka seperti biasa.

Setelah menikmati tubuh lembut Matsuri, Saika, dan Emu, aku meminta mereka membentuk formasi seperti biasanya untuk menyembuhkan kelelahanku selama setengah hari ini.

"Ah~ benar-benar surga dunia."




Aku menyandarkan punggungku pada Matsuri, sementara Saika dan Emu memelukku dari kedua sisi. Inilah ultimate formation yang berhasil kutemukan, sebuah susunan terkuat yang tidak akan pernah membuatku bosan seberapa sering pun aku melakukannya.

"Nah, kalau begitu mari kita lakukan yang seperti biasanya—Matsuri."

"Ada apa?"

"Apa terjadi sesuatu dengan mantan pacarmu itu?"

"Tidak, aku baik-baik saja."

Aku mengangguk lega mendengarnya, lalu beralih ke Saika.

"Bagaimana denganmu, Saika? Apa ada masalah lagi dengan ayahmu?"

"Iya, aku benar-benar tidak apa-apa. Jangan khawatir, Kai-kun."

Saika juga aman. Terakhir, giliran Emu.

"Bagaimana denganmu, Emu? Kau tidak dikuntit lagi, kan?"

"Sama sekali tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Terima kasih, Kai-senpai."

Aku lega karena mereka bertiga tetap baik-baik saja. Seandainya terjadi sesuatu pun, mereka tidak akan bisa melawan kekuatan Partner. Seperti yang sudah sering kukatakan, segala perkataan mereka saat ini adalah kebenaran, jadi jika mereka bilang baik-baik saja, maka memang begitu adanya.

"...Ah, aku hampir lupa."

Saking asyiknya menikmati waktu surgawi ini, aku sampai melupakan hal yang sangat penting. Mengenai sikap Matsuri dan Saika pagi tadi, aku harus mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi. Aku meminta mereka bertiga menjauh sedikit lalu berhadapan dengan mereka.

"Emu, kau tunggu sebentar... Matsuri, Saika."

"Ya?"

"Ada apa?"

"Tadi pagi juga begitu, tapi apa kalian berdua merasa ada yang aneh hari ini? Kenapa wajah kalian sampai semerah itu dan membuang muka dariku?"

Nah, kalian tidak bisa berbohong padaku, tahu? Ayo bicara yang jelas! Saat ini, aku pasti sedang memasang senyum yang bahkan akan membuat seorang bajingan sekalipun merasa kalah... Aku menatap mereka, menunggu mereka mulai bicara, namun tiba-tiba wajah Matsuri dan Saika langsung memerah padam seolah mengeluarkan suara boof.

"...Eh?"

Wajah mereka berdua memerah, persis seperti kejadian tadi pagi. Aku refleks mengalihkan pandangan dari mereka berdua ke arah Emu, dan melihatnya sedikit terbelalak adalah pemandangan yang menarik... Meski begitu, aku harus memperjelas situasinya!

"Bicaralah—kenapa wajah kalian memerah seperti itu?"

Menanggapi pertanyaanku, Matsuri dan Saika tidak memberikan perlawanan.

"Aku bermimpi... Itu, mimpi melakukan hal-hal mesum yang intens dengan Kai-kun."

"Aku juga sama... Karena aku ingin mengabulkan permintaan Kai-kun, aku bermimpi memberikan pelayanan yang banyak dengan dadaku."

"...Eh?"

Sesaat, aku tidak bisa memahami apa yang mereka bicarakan. Namun saat aku mulai meresapi kata-kata itu perlahan-lahan, kali ini giliran wajahku yang memerah karena panik.

"Ke-kenapa... eegh!?"

Tunggu... tunggu, tunggu, tunggu! Mimpi melakukan hal mesum yang intens denganku!? Mimpi melayaniku dengan dada!? Bukankah itu semua adalah hal yang kulakukan pada mereka di dalam mimpiku!?

"..........."

Aku kehilangan kata-kata. Jangan-jangan, mimpiku dan mimpi mereka itu saling terhubung? Atau semacamnya!? Tidak, tidak, mana mungkin hal konyol seperti itu terjadi!

"...Ehem."

Tenang dulu... Tenangkan dirimu, Kai. Aku menarik dan mengembuskan napas berulang kali untuk menenangkan perasaan, lalu aku teringat pada Emu.

(Mimpi yang kulihat—aku menjilati seluruh tubuh Matsuri, meminta Saika melakukan berbagai hal dengan gundukan montoknya... Dan untuk Emu, karena dia seorang masokis dan aku tahu itu hanya mimpi, aku memberinya banyak sekali perintah.)

Di dalam mimpi, aku memang benar-benar sudah melunjak.

"Hei, Emu."

"Iya."

"Kau... mimpi seperti apa yang kau lihat?"

"Kai-senpai... atau lebih tepatnya Tuan, Anda meminta saya melakukan pose-pose yang memalukan, menginjak saya, menyuruh saya menjilati kaki Anda... itu adalah mimpi yang sangat luar biasaa"

Se-semuanya benar...!? Seolah mengabaikan aku yang sedang gemetar ketakutan, Emu terus melanjutkan kata-katanya.

"Bagi saya, mimpi bersama Tuan adalah kebahagiaan tertinggi. Karena itu, alih-alih merasa malu, saya justru merasakan gairah untuk meminta lebih banyak lagi... ngh!!"

"O-oke, aku mengerti, jadi tenanglah! Kau sedang dalam kondisi terhipnosis, jadi kendalikan sedikit egomu itu!?"

"Bukankah sudah terlambat!?"

"Jangan malah balik memprotes!!"

Aneh... Seharusnya aku mencari ketenangan, tapi kenapa sekarang aku malah merasa sangat lelah sampai terengah-engah seperti ini.

"Kai-kun, kau lelah?"

"Iya..."

"Kalau begitu, biar kusembuhkan dengan dadaku, ya."

"Fuwaaa~"

Wajahku terasa panas, jantungku berdegup kencang, dan aku masih belum bisa memahami semuanya.

Namun di depan gundukan montok yang melimpah ini, aku disadarkan bahwa hal-hal tadi hanyalah masalah kecil belaka.

Rasanya tidak ada gunanya dipikirkan, lebih baik tenggelam dalam kenyataan yang damai di depan mataku ini.

"Memalukan... memang memalukan, tahu? Tapi lihat, kami semua tidak membenci Kai-kun, kok."

"Memang memalukan, tapi... karena aku tidak merasa keberatan."

"Saya harap Anda tenang soal bagian itu. Jadi, Kai-senpai, kalau Anda bermimpi seperti itu lagi di masa depan, silakan berikan lebih banyak permintaan dan perintah! Come on!"

"A-ah, iya."

Aku merasa tenang mendengar perkataan Matsuri dan Saika, dan hanya bisa tersenyum kecut melihat Emu yang begitu bersemangat.

Tapi begitu ya... jika mereka merasa seperti itu, aku bisa tenang. Mungkin ini juga berkat aku menolong mereka, dan hubungan yang terjalin lewat hal itu telah membawa dampak yang positif.

"Tapi... benang hitam itu sebenarnya apa, ya?"

"Benar juga."

"Rasanya menjijikkan... aku merasakan niat untuk melukai Kai-kun."

"Meski aku suka diikat dengan benang, tapi kalau benang yang itu sepertinya agak kurang menyenangkan."

Mengabaikan keanehan Emu, sepertinya Matsuri dan yang lainnya juga ingat soal benang hitam itu.

"...Karena Matsuri dan yang lainnya sudah menolongku, mungkin untuk sekarang tidak apa-apa. Lagipula mumpung kita sudah berkumpul dan masih ada waktu, biarkan aku bermanja lebih banyak lagi pada kalian!"

Meski banyak hal yang mengusik pikiran, tapi mimpi tetaplah mimpi... Walaupun berpikir begitu, saat aku bermanja pada mereka bertiga, pikiran tentang apa sebenarnya benang hitam itu tetap tidak mau hilang dari kepalaku.

Setelah bermesraan dengan mereka sampai jam istirahat hampir berakhir, aku menyuruh mereka kembali ke kelas. Kemudian, aku sekali lagi membuka ponsel dan memeriksa bagan hubungan (correlation chart).

"...Aku sudah sempat menduganya, sih."

Ini adalah pertama kalinya aku melihat bagan hubungan setelah beberapa hari, dan terlihat perubahan yang jelas.

Nama Matsuri, Saika, dan Emu bergerak sangat dekat ke namaku seolah-olah hampir menempel.

Terlebih lagi, benang merah muda yang memanjang dari mereka tetap terus menghalau benang-benang hitam, seolah sedang melindungiku.

"Benang hitam adalah sesuatu yang buruk, dan benang merah muda adalah perasaan dari mereka yang tidak buruk. Aku mulai memahaminya."

Tentu saja saat sedang terhipnosis, tapi di waktu biasa pun hubungan kami sangat baik... Itulah sebabnya ikatan yang terpupuk melalui aplikasi hipnosis ini bekerja dan membuat mereka menolongku di dalam mimpi.

"Waduh, waktunya gawat!?"

Terkejut melihat jam, aku pun segera bergegas kembali ke kelas. Sudah cukup lama sejak aku mendapatkan Partner, dan meski masih banyak hal yang tidak kupahami, aku akan terus maju mengikuti hasratku seperti biasanya!

Karena itu Partner, mohon bantuannya mulai sekarang juga! Buatlah aku dan para gadis ini semakin mesra lagi, ya!




Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close