NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Te ni Ireta Saimin Appli de Yume no Harem Seikatsu o Okuritai Volume 3 Chapter 4

Chapter 4

Aku Mengetahui Fakta yang Nggak Terduga, Bro!


"...Lagi, ya," gumamku pelan di tengah ruang yang gelap.

Sepertinya aku sedang melihat mimpi misterius itu lagi. Aku berdiri mematung sendirian di tengah ruang hampa yang kelam.

"Sudahlah, lepaskan aku," keluhku.

Tepat setelah aku berpikir bahwa interval mimpi ini terasa lebih singkat dari biasanya, benang-benang hitam muncul dalam jumlah tak terhitung. Dari sela-selanya, keluarlah seorang pria dengan tubuh yang hancur berantakan.

"...Paman ini lagi."

Pria yang sebelumnya selalu memohon bantuan itu, kali ini tidak mengatakan sepatah kata pun.

Dia tampak lunglai seolah tak sadarkan diri, bahkan terlihat seperti sudah mati... Lalu, sekumpulan wanita muncul mengelilingi pria itu.

"Akhirnya dia lenyap juga."

"Ini hukuman karena sudah melakukan hal menjijikkan pada kami."

"Aplikasi hipnotis apanya, jangan bercanda!"

"Sampah yang menyerang wanita saat mereka tak berdaya!"

Mimpi hari ini terasa sangat jelas. Suara penuh kebencian dari para wanita itu menggema hingga ke sini.

Di saat yang sama, sebuah jawaban yang selama ini hanya berupa spekulasi dalam kepalaku akhirnya terungkap.

"Jadi, paman itu juga punya aplikasi hipnotis?"

Ini hanyalah kesimpulan dari pemandangan di depanku. Sudah cukup lama sejak aku mendapatkan 'Partner', tapi meski sesekali aku mencari tahu, tidak ada fakta bahwa keberadaan aplikasi hipnotis dikenali oleh publik, ataupun informasi mengenai korban yang pernah mengalaminya.

Itu sebabnya, memikirkan siapa pria ini atau siapa para wanita ini sebenarnya tidak ada gunanya... Namun, tetap saja aku merasa terganggu dengan benang-benang hitam ini.

"Kamu..."

"Hah!?"

Saat salah satu wanita mengalihkan pandangannya padaku, seketika itu juga mereka semua menatapku. Tatapan yang tadinya tertuju pada si pria kini berpindah padaku, persis seperti adegan film di mana sekumpulan zombi menoleh serempak karena mendengar suara keras.

"Kamu pun suatu saat akan menjadi seperti ini."

"Eh...?"

"Jika kamu membiarkan dirimu dikuasai nafsu dan menjadikan wanita sebagai mangsa... kau pasti akan berakhir begini. Sama seperti pria ini, kau pun akan menerima hukumanmu!"

Tepat saat dia menunjukku dengan tajam, aku terpental seolah diterjang angin puyuh. Kupikir aku akan menghantam tanah dengan keras, namun benang-benang hitam menjulur dan melilit tubuhku, lalu mengangkatku ke udara.

"Aku... rasa aku tidak punya urusan sampai harus diperlakukan begini oleh kalian."

"Diam kamu."

"Dasar sampah."

"Bedebah yang menghipnotis gadis-gadis!"

Ugh... aku tidak bisa membantah!! Benang hitam yang mengikat tubuhku terlalu kokoh, tidak bisa lepas seberapa pun aku meronta.

Jika sudah begini, aku hanya bisa menunggu bantuan seseorang... Memalukan memang, tapi aku percaya Matsuri dan yang lainnya akan datang menolongku—dan sepertinya permohonan itu terkabul.

"Datang!"

Retakan muncul di ruang gelap itu, dan cahaya mulai masuk. Kupikir mereka benar-benar datang menolongku... tapi yang muncul dari sana justru sebuah tangan raksasa.

"Tangan raksasaaaaa!?"

"A-Apa itu...?"

"Apa-apaan ini...!?"

Bukan hanya aku yang terkejut setengah mati, para wanita itu juga sama. Aku tahu itu adalah tangan seorang wanita, tapi aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat... sebuah perasaan familiar seolah aku sering melihatnya.

"...Kok... makin dekat ya?"

Bagiku, itu adalah tangan raksasa. Tepat saat aku membayangkan diriku ditangkap oleh tangan itu dan dibawa ke mulut raksasa berwajah menyeramkan untuk dikunyah, rasa takutku melampaui urusan benang hitam dan para wanita tadi.

Tubuhku gemetar hebat. Apalagi tangan itu bergerak lurus ke arahku.

"Tu-tunggu sebentar!?"

Tangan raksasa itu mencengkeram tubuhku. Aku diangkat seolah merobek benang-benang hitam itu.

Dalam hal itu aku terselamatkan, tapi tentu saja aku secara refleks meminta bantuan... pada para wanita tadi!

"To-tolong aku!"

"Ah, anu..."

"Ki-kita tidak bisa menang melawan benda seperti itu..."

"Woi! Kenapa kalian menyerah, dasar pengecut!!"

Ke mana perginya keberanian kalian tadi, dasar bodoh! Memang seharusnya aku tidak bicara kasar pada wanita yang lebih tua, tapi tolong mengertilah kalau aku sedang dalam kondisi terdesak.

"Uooooooooh!?!?"

Aku meronta sekuat tenaga tapi tidak bisa lepas dari genggaman ini.

Mimpi macam apa ini... aku akan dimakan oleh raksasa jahat nan kejam yang seperti iblis, lalu terbangun... Tepat saat aku berpikir ini adalah mimpi terburuk, rasa sakit yang kuat menjalar di pipiku akibat tamparan.

"Aduh!?"

Bersamaan dengan rasa sakit itu, aku terbangun.

◆◇◆

"...I... Kai!"

"Hah!?"

Aku terbangun karena suara keras yang menggetarkan gendang telingaku dan rasa sakit di pipi.

"A-Ada apa...!?"

"Akhirnya bangun juga, dasar adik malas."

"Kakak...!?"

Di depanku, wajah Kakak terlihat sangat dekat. Meskipun baru bangun, rasa sakit yang tiba-tiba itu membuatku tersadar sepenuhnya, tapi aku masih bingung dengan situasi ini.

"Kau susah sekali dibangunkan, jadi aku memukulmu sedikit."

"Bukankah itu keterlaluan!?"

Aku tahu Kakak yang memukulku, tapi bukankah itu keterlaluan...!?

Meskipun lawanku adalah Kakak yang seperti Raja Iblis, aku nyaris melayangkan protes, namun aku menelan kembali kata-kataku. Sebab, tatapan Kakak saat menatapku adalah tatapan yang penuh kekhawatiran.

"Coba kau lihat tubuhmu sendiri."

"...Eh?"

Mendengar itu, aku baru sadar... tubuhku penuh dengan keringat. Piyamaku basah, begitu juga seprai tempat tidurku yang terasa dingin.

Sepertinya aku berkeringat hebat saat tidur... dan itu adalah jenis keringat dingin yang tidak enak.

"Aku minta maaf karena memukulmu, meski tidak keras. Habisnya, kau terlihat sangat gelisah dalam tidur, dan kau tidak bangun-bangun meski sudah dipanggil pelan."

"...Serius?"

"Iya, apa kau bermimpi buruk?"

"..........."

Mimpi buruk... memang itu mimpi yang buruk.

Karakter yang muncul dalam mimpi itu—pria yang menggunakan aplikasi hipnotis dan para wanita yang menaruh dendam padanya... Aku memang terkadang memikirkan hal itu, tapi yang jauh lebih menakutkan adalah tangan raksasa tadi.

"...Tadi ada wanita-wanita yang sangat menakutkan di depanku."

"Heem."

"Tepat saat kupikir aku tertangkap oleh mereka, muncul tangan raksasa yang membawaku pergi."

"...Mimpi macam apa itu."

"Mimpi yang aneh, kan."

Bagi Kakak, mungkin terdengar konyol setelah dia merasa khawatir.

Tapi satu hal yang kupahami, tangan itu bukanlah tangan raksasa yang ingin memakanku, melainkan tangan Kakak yang menyelamatkanku dari mimpi itu.

"...Yah, terima kasih, Kak. Berkatmu aku bisa lari dari mimpi itu."

"Begitu? Yah, lagipula caramu mengigau tadi tidak normal, tapi sepertinya kau tidak terlalu terbebani ya?"

"Begitulah."

"Syukurlah kalau begitu. Kalau kau bermimpi buruk lagi... mari kita lihat."

Kakak melipat tangan dan berpikir sejenak, lalu seolah mendapat ide, dia tersenyum tipis dan membuka mulut.

"Kalau kau sudah tidak tahan lagi, andalkan saja Kakakmu ini, oke? Aku akan turun tangan demi adikku yang malang."

"O-Oh..."

"Aku akan menemanimu tidur di sampingmu."

Senyum Kakak saat mengatakan itu terasa sangat menyilaukan.

Melihat kasih sayangnya yang selalu memikirkan dan mengkhawatirkan adiknya, jika aku lengah, hatiku bisa terasa hangat dan air mata nyaris jatuh... yah, aku tidak akan bilang sampai sejauh itu, tapi Kakak memang tetaplah Kakak.

"Terima kasih, Kak."

"Iya♪"

"Tapi tidak perlu sampai tidur bareng juga tidak apa-apa kok. Malah sepertinya Kakak yang bakal kesepian dan datang ke tempatku dengan tubuh seperti itu—"

"...Hoo?"

"Ah..."

Sudah terlambat saat aku sadar kalau mulutku terpeleset.

Dengan kecepatan luar biasa, Kakak mengubah posisinya, mengunci kedua kakiku dengan kuat, dan langsung mengunci area selangkanganku dengan kakinya.

"Apa... jangan-jangan!?"

"Fufuffu~ ini hukuman untuk adik yang berani menggoda kakaknya!"

"Gyaaahhhhhhhhhh!?!?"

Bahkan aku tidak sempat memprotes bahwa teknik itu sudah kuno di zaman sekarang, aku kembali kalah dari Kakak... Dasar Raja Iblis, kapan aku bisa menang darinya?

"Pokoknya kalau tidak ada apa-apa, syukurlah. Ayah dan Ibu tidak ada, aku yang akan membuat sarapan, jadi cepatlah turun."

"...Ba-baik."

Aku baru saja 'dinodai' oleh Kakak... itu cuma bercanda. Mengingatnya lagi, aku merasa nostalgia karena sudah sering dibuat tak berdaya seperti itu sejak masih bocah.

"...Tapi, terima kasih ya, Kak."

Aku tetap tidak lupa berterima kasih, dan dalam hati aku selalu menganggapnya sebagai Kakak hebat yang sangat kuhormati.

Setelah itu, aku menghabiskan waktu dengan melamun setelah sarapan.

Melanjutkan hari Sabtu kemarin, hari Minggu ini pun aku tidak punya rencana khusus... tapi aku memikirkan banyak hal.

"...Selain soal mimpi, kejadian kemarin memang terasa sangat intens, ya."

Bahkan sebelum memikirkan mimpi, waktu yang kuhabiskan bersama Saika kemarin benar-benar hari yang sangat padat.

Mulai dari pertemuan hangat dengan kakak perempuan yang dulu pernah kutemui, hingga waktu mesum yang intens bersama Saika... terlebih lagi, itu adalah hari Sabtu terbaik karena aku bisa menikmati payudara itu sepuasnya di kamarnya.

"Aku sudah kencan sepulang sekolah dengan Matsuri, kencan hari libur dengan Saika... akhir-akhir ini hidupku benar-benar produktif!"

Namun, aku kembali melipat tangan dan tenggelam dalam pikiran.

Hal ini sudah sering kupikirkan, tapi beruntung sekali aku yang menggunakan aplikasi hipnotis bisa menjalin hubungan seakrab ini dengan mereka yang menjadi targetnya.

"Seandainya... seandainya saja aku berakhir dibenci oleh Matsuri dan yang lainnya seperti pria dalam mimpi itu, apa yang akan terjadi?"

Tidak perlu dipikirkan lagi... aku pasti akan dibungkus oleh benang hitam dan berakhir sama seperti pria itu.

"...Haa, tidak mau, tidak mau."

Sayang sekali jika hari Minggu yang berharga ini dihabiskan dengan pikiran gelap. Hari ini aku akan pergi keluar sebentar... Berbeda dengan kemarin, aku tidak akan mencari target hipnotis, aku hanya akan jalan-jalan mengikuti kata hati.

"Siapa tahu... dengan alur seperti ini, aku bisa bertemu dengan Emu?"

Kalau benar-benar bertemu, itu sih namanya keajaiban, pikirku sambil bersiap-siap.

Hanya saja, ada kata-kata yang terus terngiang di benakku... yaitu kata-kata wanita dalam mimpi tadi, bahwa suatu saat aku pun akan menjadi seperti pria itu.

Kata-kata itu terus terngiang di telingaku seperti riak air yang tak kunjung tenang.

"Kak, aku pergi keluar sebentar ya."

Setelah berpamitan pada Kakak, aku pergi menuju kota, dan tak disangka, sebuah pertemuan sudah menantiku.

"...Serius?"

"...Eh?"

Aku berpapasan dengan Emu yang baru saja keluar dari sebuah bangunan.

"Emu...?"

"Kai-senpai...?"

Emu yang sedang mendekap kantong belanjaan dengan hati-hati itu membelalakkan matanya. Reaksiku pun sama, aku benar-benar terkejut karena tidak menyangka akan benar-benar bertemu dengannya.

"Kebetulan sekali, ya...?"

"Be-begitu ya...?"

"...Kalau begitu, duluan ya."

Aku berkata begitu pada Emu dan kembali berjalan ke arah tujuanku.

(...Tunggu, kenapa aku malah mengabaikannya padahal sudah bertemu!?)

Tidak, tidak, mumpung sudah bertemu, lebih baik bicara sebentar. Saat aku berpikir begitu dan mendadak berhenti, seseorang menabrak punggungku, dan terdengar teriakan kecil yang imut.

"Duh... jangan berhenti mendadak dong, Kai-senpai."

"Maaf... lagipula kenapa kau menempel sekali di belakangku!"

"Habisnya Kai-senpai pergi begitu saja tanpa bilang apa-apa."

"Yah... benar juga sih?"

Emu mengangguk seolah membenarkan ucapanku. Emu yang mengenakan pakaian chic bermotif kotak-kotak itu memancarkan aura seperti putri bangsawan yang dipingit, membuat pandangan orang di sekitar terpaku padanya.

Emu memang selalu terlihat seperti nona muda terhormat... meskipun aslinya dia adalah gadis masokis tingkat akut yang tidak tertolong.

"Jadi... ada apa?"

"Ah... itu..."

Sambil meremas kantong kertasnya, Emu menunduk. Sesekali ia mengangkat wajah menatapku lalu membuang muka lagi, seolah ia sedang berjuang keras mencari kata-kata yang tak kunjung ketemu.

"Jangan-jangan... kau tidak punya urusan khusus, tapi karena menemukanku, kau jadi mengikutiku tanpa tujuan?"

"Auu... i-iya."

"..........."

Sekarang dia menyembunyikan wajahnya dengan kantong kertas... sial, imut sekali. Tapi ini adalah kesempatan bagus. Sudut mulutku terangkat, membentuk seringai licik yang tidak boleh terlihat oleh Emu.

(Siapa sangka aku bisa bertemu Emu juga... hehe, Emu harus menemaniku menghabiskan waktu sesukaku!)

Setelah memutuskan hal itu, aku harus segera bertindak. Aku berniat menggiring Emu ke tempat teduh seperti yang kulakukan pada Saika... namun, tepat saat pejalan kaki mulai menyeberang di zebra cross dekat situ, seorang kakek menjatuhkan kantong belanjaannya.




"Aa~……"

Benda-benda yang ada di dalam tas itu berhamburan keluar. Si kakek tua bergegas memungutinya dengan panik.

Namun, tentu saja di usianya sekarang, dia tidak bisa lagi bergerak lincah. Jika dibiarkan, lampu lalu lintas akan segera berubah menjadi merah.

"Aku ke sana sebentar, ya," ucapku pada Emu, lalu berlari menghampiri kakek itu.

"Mari saya bantu pungut, Kek."

"Oh, terima kasih banyak, Nak……"

Aku tersenyum meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja, lalu segera mengumpulkan barang-barangnya yang terjatuh.

"Kai-senpai, aku akan menuntun Kakek menyeberang duluan."

"Oh, oke. Tolong, ya, Emu."

"Sama-sama. Nah, Kek, mari lewat sini…… Jangan khawatir, Senpai akan memungut semuanya untuk Anda."

"Begitukah? Benar-benar merepotkan kalian, ya."

Aku mengacungkan jempol atas bantuan apik Emu. Meski tampak belum terbiasa, dia membalas dengan acungan jempol yang sama. Emu memang tidak punya teman laki-laki yang akrab dengannya, dan kurasa dia juga jarang melakukan hal seperti ini dengan sesama perempuan…… Mengingat hal itu, pemandangan tadi terasa sangat langka sampai-sampai aku ingin memotretnya.

"Sip, ini sudah semua."

Tapi kalau dipikir-pikir, buah-buahan yang dibawa kakek ini banyak sekali. Apa dia mau pergi menjenguk orang sakit?

"Kai-senpai! Lampunya sebentar lagi berubah!"

"Iya, iya!"

Dipanggil oleh Emu, aku pun segera berlari menghampiri mereka berdua.

"Ini, Kek. Semuanya sudah saya ambilkan."

"Terima kasih, ya. Kakek sedang dalam perjalanan menjenguk Nenek di rumah sakit."

"Oalah."

"Begitu rupanya."

Ternyata dugaanku benar. Si kakek kemudian mengeluarkan sebuah kotak kukis dari kantong belanjaannya.

"Ini hadiah karena sudah membantu Kakek. Jangan sungkan, terimalah. Kalau tidak diterima, Kakek tidak akan beranjak dari sini."

"……Wah, Anda pintar sekali ya menutup jalan keluar saya."

"Hohoho! Kakek cuma mau berterima kasih saja, kok."

Kakek itu pun berbalik dan berjalan pergi sambil melambaikan tangan kecilnya. Aku sempat bertanya lebih lanjut, dan katanya si nenek tidak menderita penyakit parah dan bisa segera pulang. Meski tidak ada hubungannya dengan kami, aku dan Emu menghela napas lega secara bersamaan.

"Hah, tiba-tiba saja ada kejadian begitu, ya."

"Benar juga…… Tapi, Kai-senpai?"

"Ada apa?"

"Ternyata tubuh Senpai bisa langsung bergerak spontan di saat seperti itu…… Aku rasa itu sangat mengagumkan."

"……Yah, soalnya aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Kurasa dalam hal itu, kamu juga sama, kan?"

"Habisnya, aku juga tidak tega membiarkannya."

Apa-apaan itu. Ternyata pada akhirnya pikiran kita sama saja. Kami berdua terkekeh pelan, lalu kembali mendiskusikan apa yang akan kami lakukan setelah ini.

"Ah, maaf Kai-senpai…… Aku mau ke toilet sebentar."

"Oke, aku tunggu di sini."

"Terima kasih."

"Barangnya sini aku bawakan saja sekalian."

"……Kalau begitu, tolong, ya."

Emu menyerahkan kantong kertas itu padaku, lalu berjalan menuju toilet. Sambil melepas kepergian punggungnya yang menghilang ke dalam bangunan, pandanganku tertuju pada kantong kertas di tanganku.

"……Ringan, ya."

Dibandingkan dengan ukuran kantongnya dan segelnya yang terlihat kokoh, isinya ternyata cukup ringan. Meski Emu sedang tidak ada, aku tidak berniat mengintip isinya, dan apa yang dia beli pun bukan urusanku.

"Wajar saja kan kalau aku sedikit penasaran."

Pasalnya, Emu tadi tidak ragu menyerahkannya padaku…… tapi, ekspresi wajahnya saat menyerahkannya tadi terlihat kaku, jadi aku agak kepikiran. Apakah itu barang penting, ataukah sesuatu yang tidak ingin diketahui orang lain…… Gara-gara memikirkan hal itu, aku malah jadi makin penasaran!?

"……Waduh, ada gerombolan yang kelihatan gawat."

Satu gerombolan yang berjalan ke arah sini masuk ke jarak pandangku. Mungkin kurang sopan menyebut mereka 'gawat', tapi mereka adalah kelompok empat orang wanita dengan penampilan mencolok yang jarang terlihat di daerah sini.

"Terus~? Habis ini kita mau ke mana?"

"Lagian ngapain juga kita kumpul dari pagi begini."

"Gak apa-apa, kan~ Sesekali bangun pagi juga seru, tahu."

"Hah, berisik ah…… ya aku juga bego sih mau-mau aja diajak."

Karena tidak mungkin anak SMA polos sepertiku akan diganggu oleh mereka, aku pun sedikit menepi untuk memberi jalan…… namun.

"Hei, jangan dorong-dorong dong!"

"Makanya kalau kasih kabar itu yang cepat!"

"Kyaa!?"

Terdengar teriakan kecil dibarengi benturan di punggungku. Karena dorongannya cukup kuat, keseimbanganku goyah. Aku memang tidak sampai terjatuh, tapi kantong kertas yang dititipkan Emu tidak hanya terlepas dari tanganku, tapi wanita yang menabrakku—salah satu dari gerombolan mencolok itu—menginjaknya dengan sepatu hak tingginya.

"Ah……"

"Aduh, aku injak sesuatu ya~?"

Kaki itu segera ditarik, dan aku pun terburu-buru mengambil kantong kertas itu. Gara-gara ujung tajam sepatunya, kantong itu kini berlubang total, tapi barang di dalamnya mungkin masih aman…… kuharap begitu.

"Maaf ya~"

"Apaan sih? Injak apa?"

"Gak tahu~ Gak penting juga~"

"……Hah?"

Tanpa sadar, aku mengeluarkan suara pelan. Kalau dibilang aku yang salah karena menjatuhkannya, mungkin memang benar…… Tapi selain menginjaknya sambil cengengesan, bilang 'tidak penting' itu keterlaluan, kan?

Melihat wanita-wanita yang tidak merasa bersalah itu…… tidak, dalam hal ini hanya wanita yang menginjak kantong itu saja, aku pun tanpa sengaja memelototinya.

"Apa? Ada masalah?"

Wanita yang bertanya itu balik memelototiku, sementara tiga orang lainnya menyeringai geli. Dalam situasi seperti ini, pemandangan itu bahkan terlihat menjijikkan bagiku.

"Mungkin memang aku yang salah karena menjatuhkannya…… Tapi, tidak seharusnya Anda bilang 'tidak penting' setelah menginjak barang orang lain, kan?"

"Mau menceramahiku, ya? Jijik banget deh."

Pikii. Sesuatu dalam diriku rasanya hampir putus. Aku ingin segera mengeluarkan ponsel dari saku dan menghipnotis mereka untuk mempermalukannya sesuka hati…… tapi, sosok mereka berempat yang menatapku entah kenapa tumpang tindih dengan pemandangan yang kulihat dalam mimpi.

"Cih……"

"Eh, kok dia malah ketakutan?"

"Habisnya kamu seram sih."

"Habisnya bocah belagu ini tadi sok banget."

"Padahal dia tadi bergaya keren, mendingan kamu pura-pura kalah aja tadi. Lagian kelihatan banget bocah kayak dia gak punya pacar."

Mereka bicara semaunya, sementara pandangan orang-orang di sekitar terasa simpatik padaku. Jika ditanya apakah aku kesal, tentu saja aku kesal. Tapi, hanya karena pemandangan ini sedikit mirip dengan mimpiku, aku sampai merasa ciut seperti ini…… Hah, ternyata aku cukup memikirkannya, ya.

"Ayo, bilang sesuatu dong~ Kan kamu duluan yang mulai?"

"Sudah, hentikan saja."

"Habisnya masih bocah tapi sudah berlagak, menyebalkan tahu."

Sambil berkata begitu, wanita itu mendorong bahuku dengan kuat. Saat wanita itu melangkah mendekat dengan seringai yang masih sama, Emu yang tadi ke toilet akhirnya kembali.

"Maaf sudah menunggu, Kai-senpai."

"Ah, e-eh."

"Siapa……?"

Begitu Emu muncul, wanita-wanita itu langsung ternganga dan terpaku. Hanya dari penampilan saja, ekspresi mereka berubah menjadi wajah yang merasakan kekalahan telak terhadap Emu.

"Sepertinya saat aku tidak ada, Senpai diganggu oleh orang-orang aneh, ya…… Maafkan aku, Kai-senpai."

"Eh…… tidak, ya sudah, selamat datang kembali."

"Aku pulang♪ ……Nah sekarang."

Emu yang tadi tersenyum, tiba-tiba berubah menjadi tanpa ekspresi. Saat dia mengarahkan tatapan matanya yang dingin dan tak terbaca ke arah wanita-wanita itu, mereka langsung tersentak kaget.

"Aku sudah mendengar bagian 'bocah yang kelihatannya tidak punya pacar'. Ternyata orang yang sikapnya buruk, matanya pun jadi ikut kusam dan buta, ya…… Yah, lagipula orang-orang seperti kalian sama sekali tidak penting bagiku."

Emu berkata demikian sambil melirik kantong kertas yang sobek, namun dia sama sekali tidak marah. Setelah melihat bagian yang sobek itu dua-tiga kali, dia bergumam 'tidak apa-apa' dan kembali menatap wanita-wanita itu.

(……Emu seram sekali.)

Mata dingin Emu tidak tertuju padaku yang berada di sampingnya…… Namun, hawa dingin yang terpancar darinya benar-benar mengingatkanku pada julukannya, Sang Ratu Es.

"Senpai adalah orang yang sangat kuat. Karena itu, meski perkataan kalian mungkin membuatnya terusik, aku yakin beliau tidak akan goyah sedikit pun── Tapi, suasana hatiku jadi buruk kalau ada orang yang menjelek-jelekkan Senpai."

Setelah berkata begitu, Emu menjeda kalimatnya…… lalu melanjutkan.

"Senpai bukanlah orang seperti yang kalian pikirkan…… Bagiku, beliau adalah sosok yang kukagumi dan orang yang luar biasa, itu akan kutegaskan sekarang. Kalian tidak perlu mengingat kata-kataku pun tidak masalah, aku hanya ingin menyampaikannya secara pribadi saja."

Emu mengatakannya dengan tegas. Wanita-wanita itu sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menyela. Mereka hanya bisa menatap kami dengan linglung tanpa ada tanda-tanda ingin membalas. Sepertinya harga diri mereka tinggi, tapi tetap saja mereka terintimidasi oleh aura Emu.

"Kalau begitu Senpai, ayo pergi."

"O-oke……!"

Emu menarik tanganku dan kami pun menjauh dari wanita-wanita itu. Begitu mereka sudah tidak terlihat lagi, Emu berhenti melangkah, dan aku pun tersadar lalu menundukkan kepala.

"Maaf, Emu! Barang ini……"

"……Ah~ iya, tadi aku menitipkannya, ya."

……Kenapa ringan sekali ya? Emu menerima kantong kertas itu dan memasukkan tangannya untuk mengecek isinya.

"Tidak apa-apa, kok. Sepertinya tidak rusak."

"……Syukurlah kalau begitu."

Aku menghela napas lega. Namun tetap saja, kalau aku tidak menjatuhkannya, hal ini tidak akan terjadi, dan tidak perlu sampai adu mulut dengan mereka…… Terlebih lagi, aku tidak seharusnya membiarkan Emu sampai berkata sejauh itu.

"Kai-senpai, tolong jangan dipikirkan lagi."

"……Tapi tadi aku merasa agak memalukan."

"Benarkah? Malahan, menurutku keberanian Senpai untuk menatap balik mereka dengan jujur seperti itu sangat pantas dipuji."

"Itu…… aku cuma tidak terima saja. Memang aku yang menjatuhkannya, tapi kalau mereka bilang 'tidak penting' setelah menginjak barang orang, aku jadi ingin membalasnya."

"Aku memang tidak tahu kejadian lengkapnya, tapi yang pasti Senpai marah demi aku…… Jadi, yang kurasakan hanyalah rasa terima kasih kepada Kai-senpai."

Meskipun kantong yang dipeluk Emu sudah berlubang, senyum yang tersungging di wajahnya berhasil menghapus kegelisahan dalam hatiku.

"……Kalau kamu bilang begitu, aku jadi tenang."

"Iya♪"

Jika Emu sudah berkata sejauh itu, sebaiknya aku tidak terus-menerus menyesalinya.

(Tapi…… tadi benar-benar mirip dengan kejadian di mimpi, ya. Ternyata aku jauh lebih memikirkan mimpi itu daripada dugaanku sendiri.)

Padahal kakakku sudah bilang begitu, apa kepribadianku memang sesensitif ini ya, pikirku sambil tersenyum getir.

"Ada apa?"

"Eh? Tidak, aku cuma berpikir apa aku memang sesensitif ini."

"Sensitif……? Kai-senpai?"

"Oi, aku tahu itu tidak cocok denganku, tapi reaksimu itu tidak sopan lho, Kouhai."

Aku menjulurkan tangan ke kepala Emu, lalu mengacak-acak rambutnya dengan sedikit kuat. Aku tidak bermaksud membuatnya kesal, tapi aku harus menunjukkan wibawaku sebagai senior. Begitu aku melepaskan tanganku, rambut Emu sudah berantakan bukan main, dan aku pun segera menarik tanganku kembali dengan rasa sesal.

"Ma-maaf…… aku tadi agak kelewatan."

Sambil merapikan rambutnya, Emu mendongak dengan wajah yang memerah. Ekspresinya bukan karena malu atau marah, melainkan terlihat seperti sedang berada dalam kondisi Ecstasy. Aku yakin mataku tidak salah lihat.

"……Emu-san?"

"Duh…… tiba-tiba apa-apaan sih, Kai-senpai!"

Wajahnya masih merah, namun dia merapatkan pipinya dan memelototiku dengan tajam. Namun bagi aku yang sudah melihat ekspresinya tadi, pelototan Emu sekarang sama sekali tidak terasa menakutkan.

"Makanya, kan aku sudah minta maaf."

"……Karena ini Kai-senpai, aku maafkan."

Emu membuang muka sambil bergumam begitu. Selain ekspresinya yang tidak bisa menyembunyikan bakat seorang Masochist, aku merasa lega karena sudah dimaafkan meskipun tadi sempat mengacak-acak rambutnya.

Setelah itu kami berjalan tanpa arah tujuan yang jelas. Setelah berjalan dalam diam sekitar lima ratus meter, aku akhirnya tak tahan untuk bertanya pada Emu.

"……Kita sebenarnya mau ke mana?"

"……Entahlah?"

Ternyata Emu juga tidak punya tujuan. Kalau dipikir-pikir, sebelum kami sempat mengobrol mau ke mana setelah bertemu tadi, sudah ada kejadian soal kakek tadi dan wanita-wanita itu.

"Ka-kalau begitu!"

"Hm?"

"Aku ingin menaruh barang ini di rumah dulu…… Bagaimana kalau kita ke rumahku sekarang?"

"Eh…… apa boleh?"

"Tentu! Anu…… mungkin terdengar aneh kalau kubilang 'sesekali', tapi aku ingin mencoba mengobrol berdua saja dengan Kai-senpai."

Setelah berpikir sejenak, aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini dan mengangguk setuju. Lagipula niat awalku keluar rumah memang untuk bertemu Emu…… ini benar-benar menguntungkan!

"Kalau begitu ayo segera berangkat!"

Entah dia tahu isi hatiku atau tidak, Emu berjalan di depanku dengan wajah ceria. Saat berjalan mengikuti punggungnya, ingatan buruk di perjalanan ini kembali muncul…… karena kami melewati area tiang listrik tempat pria yang membuntuti Emu dulu sering berada.

"……Tidak mungkin, kan."

Aku menghentikan langkah dan memastikan keadaan di belakang dengan santai. Tidak ada sosok mencurigakan dalam jangkauan pandangku, dan aku juga tidak melihat ada orang yang bersembunyi dengan lihai.

"Kai-senpai?"

"……Ah, tidak, maaf."

"Mungkinkah…… Senpai khawatir kalau-kalau ada orang mencurigakan?"

"Sedikit…… terpikirkan saja."

Meskipun aku selalu mengecek kondisi Emu saat dalam keadaan Hypnosis di sekolah, tetap saja ada kemungkinan dia tidak sadar dibuntuti…… Terlebih lagi, baru-baru ini aku sempat berpapasan dan bertengkar dengan mantan pacar Mari dan ayahnya Saika.

"Sejauh yang aku tahu sih tidak apa-apa…… Tapi, aku senang karena Senpai mau mengkhawatirkanku."

"Ya jelas lah aku khawatir."

Tapi yah, melihat kondisinya, sepertinya memang tidak perlu ada yang dikhawatirkan.

"Maksudku soal pembuntutan…… hal semacam itu kan bisa berkembang jadi insiden tragis, aku sering lihat di berita jadi terbawa pikiran."

"Begitu ya…… Memang benar rasa takut itu ada. Meskipun orang itu sudah ditangkap polisi, belum tentu dia tidak menyimpan dendam saat keluar nanti."

Apa yang aku khawatirkan maupun yang Emu katakan memang kemungkinannya kecil. Tapi justru karena itulah aku memikirkan keselamatan Emu, dan karena kami sudah sedekat ini, aku ingin melindunginya. Sama seperti Mari dan Saika, aku ingin melindunginya dengan segenap kemampuanku meskipun harus menggunakan kekuatan si 'Partner'.

(Kalau terjadi apa-apa, aku kan tidak bisa bersenang-senang sesukaku…… Demi nafsuku juga, dia tidak boleh sampai terluka sedikit pun.)

Uu~m, benar-benar pemikiran seorang bajingan, pikirku sambil mengangguk mantap.

Begitulah, kami pun sampai di rumah Emu. Katanya orang tuanya baru akan pulang nanti malam, jadi hanya ada kami berdua di sana.

"Silakan bersantai di ruang tamu. Aku taruh barang dulu."

"Oke."

Ditinggal sendiri di ruang tamu, aku melipat tangan sambil berpikir. Tidak kusangka aku akan berkunjung ke rumah perempuan berturut-turut begini…… Meskipun ini terjadi padaku sendiri, rasanya masih sulit dipercaya.

"Atau begini ya? Dalam ingatan Emu, ini adalah pertama kalinya aku berkunjung ke sini, kan?"

Karena waktu ke sini sebelumnya aku menggunakan kekuatan Partner, aku harus berhati-hati agar tidak keceplosan!

"Tapi tetap saja…… ini rumah perempuan, lho!"

Meskipun aku menjaga ekspresi wajahku agar tidak ketahuan Emu, tetap saja aku merasa bersemangat saat berkunjung ke rumah perempuan…… Kuu! Cepatlah kembali!

"……Oh."

Sambil menunggu Emu dengan gelisah, mataku tertuju pada bingkai foto yang diletakkan di atas rak. Emu kecil bersama orang tuanya…… kah? Di foto itu mereka bertiga tampak tersenyum, terutama senyum sang ayah yang menggendong Emu benar-benar memancarkan aura ayah yang sangat memanjakan anaknya.

"Dia bilang hubungan keluarganya baik, ya…… Heh, baguslah."

Keluarga itu kan keberadaan yang tak tergantikan…… Aku benar-benar berharap Emu bisa terus akur dengan keluarganya selamanya.

"……Kukuku, tapi Ayah, Ibu…… Maafkan saya. Putri kalian sudah saya mangsa dengan taring beracun saya…… Kuhhahahaha!"

"Kai-senpai? Ada apa?"

DEG-DE-DEG-DE-DEEEEENG!?!?

Lupakan soal tawa jahat tadi, aku langsung menoleh karena mengira dia mendengar perkataanku. Tapi Emu hanya memiringkan kepalanya…… Sepertinya dia baru saja sampai dan tidak mendengar apa pun?

"Cuma latihan olah vokal sebentar."

"Latihan olah vokal? Suara tawa tadi…… terdengar seperti tokoh penjahat sekali."

"Cocok, kan?"

"Kelihatan sangat meyakinkan, sih."

Bagus, aku bisa bernapas lega karena tidak ketahuan…… Fuh. Karena sedang berduaan dengan Emu, aku ingin segera menggunakan kekuatan Partner dan melakukan hal-hal sesukaku, tapi mari nikmati waktu bersama dirinya yang biasa ini sedikit lebih lama.

"Ini, jus dan camilan."

"Terima kasih."

Padahal aku bilang tidak usah repot-repot, tapi dia tetap menyediakan jus dan kukis. Kukis yang dilumuri banyak cokelat itu terlihat sangat lezat, tapi melihat camilan seperti ini membuatku membayangkan kakakku yang melahapnya dengan rakus seperti anak kecil.

"Ada apa?"

"Tidak, cuma terpikir kalau ini tipe camilan yang bakal dilahap habis oleh kakakku."

"Kakak Kai-senpai…… aku belum pernah bertemu dengannya, ya."

"Kamu sudah dengar dari Mari dan yang lain, kan? Dia itu kakak yang penampilannya seperti bocah."

"Ahaha…… aku dengar parasnya memang sangat imut."

Sambil ditatap oleh Emu yang tampak bingung harus merespons apa, aku memasukkan camilan itu ke mulut.

"Wah, ini enak sekali."

"Itu oleh-oleh yang dibelikan Ayah saat dinas luar kota."

"Heh…… apa tidak apa-apa kalau aku yang makan?"

"Gak apa-apa. Aku juga ikut makan, kok."

Sambil berkata begitu, Emu juga menyuapkan kukis ke mulutnya.

"Amu…… chuu……"

Melihatnya menjilat cokelat yang menempel di jari, jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Aku tidak merasa itu kotor, malah terlihat sangat erotis, apalagi dilakukan oleh gadis sedingin Emu, kesan erotisnya jadi berkali-kali lipat.

Mungkin karena aku menatapnya terlalu lama, pandanganku dan Emu sesaat saling bertemu. Karena tatapannya terasa sangat sensual, aku pun sampai membuang muka karena jantungku berdegup makin kencang.

(……Tapi tunggu, apa wajahnya tidak kemerahan?)

Aku merasa ada yang sedikit aneh dengan sikap Emu. Wajahnya merah bukan karena malu seperti aku, melainkan pipinya memerah seolah sedang demam dan napasnya pun sedikit memburu……?

"Emu…… apa kamu sedang demam?"

"……Fueh?"

"……Suaramu juga terdengar aneh, lho?"

Ini…… sepertinya dia benar-benar sedang tidak enak badan. Begitu aku bangkit dari kursi dan mendekatinya, Emu tidak hanya menatapku dengan wajah lemas, tapi tubuhnya juga gemetar seolah sedang kedinginan.

"Apa kamu kena flu──"

"Ti-tidak apa-apa! Aku mau ke kamar sebentar…… unh!"

Meski kupikir ini bukan masalah sepele, Emu langsung keluar dari ruang tamu dengan gerakan lincah.

"……Ada apa dengannya?"

Sebenarnya dia kenapa? Aku jadi makin khawatir melihat sikapnya yang belum pernah kulihat sebelumnya, tapi tak lama kemudian Emu kembali dengan kondisi normal…… tepatnya, kembali ke sikap biasanya seperti saat kami mengobrol di luar tadi.

"Maaf sudah menunggu."

"……Apa kamu benar-benar tidak apa-apa?"

"Iya, tidak apa-apa, kok."

Kalau tidak apa-apa sih ya sudah…… oh, iya. Padahal aku tidak perlu bertanya sejujur ini, kan aku punya kekuatan Partner untuk membuatnya mengaku. Ya ampun, bisa-bisanya aku melupakan kekuatanku sendiri meski cuma sesaat, aku masih amatir ya.

"Tapi rasanya aneh juga── karena aku tidak pernah mengundang lawan jenis ke rumah saat orang tuaku sedang tidak ada seperti ini."

"Heh……"

"Jadi kupikir aku akan gugup…… tapi mungkin karena ini Kai-senpai, aku jadi tidak terlalu gugup. Malah rasanya seolah aku sudah pernah mengundang Senpai ke sini beberapa kali."

"Be-begitu ya……"

Yah, aku memang pernah mampir ke sini saat kamu tidak punya ingatan tentang itu, sih. Emu mengambil bingkai foto tadi, lalu mulai bercerita perlahan.

"Dulu ekspresi wajahku sangat kaya seperti ini, tapi sekarang aku merasa sudah banyak berubah. Seiring tubuhku yang tumbuh dewasa, makin banyak kejadian merepotkan yang terjadi. Meskipun aku tidak bermaksud apa-apa, hanya dengan menunjukkan senyuman saja bisa membuat orang lain salah paham…… yah, kata-kata ini bisa keluar karena aku memang percaya diri dengan wajahku sendiri, sih."

"……Mungkinkah alasan kenapa kamu bersikap dingin…… sampai dijuluki Ratu Es karena sering tanpa ekspresi itu gara-gara hal itu?"

Aku mencoba bertanya, dan kurasa dugaanku benar. Bagi gadis secantik Emu, hanya tersenyum pada lawan jenis saja sudah cukup untuk membuat mereka baper, apalagi sampai ada yang melakukan tindakan pembuntutan…… Ternyata Emu juga punya kesulitan tersendiri.

"Mungkin itu salah satu alasannya, tapi alasan utamanya sebenarnya berbeda."

"Eh?"

"Menurut Senpai, apa alasannya?"

"……Uu~m."

Aku melipat tangan, mencoba memikirkan alasan yang dimaksud Emu…… Setelah berpikir beberapa saat, aku tidak menemukan jawaban yang pas, jadi aku mengangkat kedua tangan tanda menyerah.

"Tidak tahu."

"Tentu saja. Kalau Senpai sampai bisa menebaknya, aku pasti akan mati karena malu…… Tapi mungkin itu juga tidak buruk…… unh."

Emu menempelkan kedua tangan ke pipinya, lalu menggeliat malu.

"Ada apa……?"

"Fufu, kalau soal ini biarkan jadi rahasia saja. Tapi…… mungkin suatu hari nanti aku akan menceritakannya padamu♪"

Mana mungkin aku tidak penasaran kalau digantung begitu. Aku pun segera mengeluarkan ponsel dari saku dan mengaktifkan si Partner untuk menghipnotis Emu. Menyelesaikan hal yang mengganjal dengan cepat, itulah moto hidupku yang baru saja kutentukan. Jadi maaf ya Emu, rahasiamu akan kubongkar sekarang juga!

'Kamu pun suatu saat akan jadi seperti itu.'

Tepat saat aku hendak menghipnotis Emu dengan semangat, sebuah suara terngiang di benakku dan menghentikan gerakanku…… Sial, suara dari mimpi itu benar-benar mengganggu saja.

"Hypnosis!"

"Ugh……"

Seolah ingin menepis segala kejadian di mimpi tadi, aku pun menghipnotis Emu.

"Kukuku, terlalu naif Emu. Kamu tahu kan kalau tidak ada rahasia yang bisa kamu sembunyikan dariku?"

"I-itu…… uuh…… Penghinaan seperti apa yang akan kuterima kali ini…… ahh♪"

"Dengar ya…… bisa tidak berhenti bersikap pasrah begitu saat sedang dihipnotis?"

"Habisnya aku jadi berdebar-debar tahu!!"

Anak ini memang agak aneh! Meskipun sudah pasti dalam keadaan terhipnotis, mungkin karena dia tahu aku sudah tahu sifat aslinya, dia sama sekali tidak berusaha menyembunyikannya. Malah dia menggunakannya sebagai senjata untuk mendekatiku, seram tahu!

(Tidak, bukan seram sih…… karena kalau Emu yang sekarang, meskipun aku menyerangnya dengan paksa pun dia pasti bakal senang. Tapi…… rasanya melampaui batas itu tidak benar saja!!)

Emu yang sekarang tidak memiliki apa-apa selain rasa antusias terhadap apa yang akan kulakukan padanya.

Dia bahkan mengatakannya dengan riang, dan setiap kali aku menggerakkan tubuh sedikit saja, matanya makin berbinar penuh harap…… Tapi aku tidak akan melakukan apa-apa.

Aku memang agak mendambakannya, tapi…… aku tidak terlalu suka permainan S&M. Kalau melihatnya di komik dewasa sih oke, tapi kalau melakukannya sungguhan, aku malas.

"Aku tidak akan melakukan apa-apa, lho?"

"Neglect Play…… itu juga bagus."

"……………"

Emu yang sudah masuk ke mode itu benar-benar merepotkan. Meskipun sedang terhipnotis, dia adalah tipe gadis yang bisa membuatku kelelahan……

"……Ah, hampir lupa. Jadi, apa jawaban yang tadi?"

Alasan kenapa Emu lebih sering menunjukkan wajah tanpa ekspresi, itulah yang ingin kudengar.

"Sebenarnya, aku sering menggunakan Sex Toy…… bahkan di depan umum. Karena aku takut jika ketahuan pasti akan dicap sebagai orang mesum, aku berusaha menahan diri agar rasa nikmat yang menjalar di tubuhku tidak ketahuan, dan akhirnya aku pun mulai dijuluki seperti itu."

Eh…… jadi maksudnya begini? Alasan kenapa aura dingin Emu terbentuk adalah hasil dari usahanya agar tidak ketahuan saat menggunakan mainan di depan umum…… Anak ini benar-benar di luar nalar.

"Ngomong-ngomong."

"Masih ada lagi?"

"Tadi sikapku agak aneh, kan? Sebenarnya waktu itu aku kembali ke kamar sebentar untuk memasangnya! Makanya aku jadi merasa seperti itu!"

"Hah!?"

"Terlebih lagi, isi kantong kertas yang kubeli di kota tadi adalah mainan baru! Syukurlah barangnya tidak sampai rusak♪"

"……Aku sudah capek."

Gara-gara pengungkapan fakta yang bertubi-tubi, tanpa sadar aku terduduk lemas di tempat.

Meskipun aku merasakan sensasi erotis karena gadis secantik ini melakukan hal seperti itu, sepertinya aku masih belum sanggup melangkah ke wilayah tempat Emu berada.

"Tapi……"

"?"

"Sekarang aku sudah tidak melakukannya lagi di luar rumah, dan yang terpenting, waktu mengobrol dengan Kai-senpai jauh lebih menyenangkan."

"Emu……"

"Makanya di rumah aku dengan bebas menyiksa tubuhku sendiri♪"

Tadinya aku merasa terharu sampai ingin menangis, tapi air mataku langsung kering seketika.

Namun tetap saja, aku tidak bisa membiarkannya berakhir begitu saja…… Mumpung aku sudah datang jauh-jauh ke rumah Emu dan bahkan sudah menghipnotisnya, sayang sekali kalau tidak melakukan apa-apa!

"Bodo amat lah, Dive!"

Seolah ingin melupakan semua percakapan tadi, aku menerjang ke dada Emu.

"……Fufu, Kai-senpai benar-benar suka melakukan ini, ya."

"Ya jelas lah…… ahh, menenangkan sekali."

Emu memang jauh lebih jujur pada nafsunya daripada aku, tapi saat aku bermanja-manja seperti ini, dia akan memeluk dan mendekapku dengan lembut.

Bermanja pada adik kelas yang usianya di bawahku ternyata bukan situasi yang buruk juga. Sama seperti saat bersama Mari dan yang lain, aku tidak pernah merasa bosan melakukannya pada Emu.

"Kai-senpai."

"Uu~m?"

"Soal ada orang yang membuntutiku atau tidak, itu benar-benar tidak apa-apa jadi tolong jangan dikhawatirkan, ya?"

"……Oke."

Benar juga, jika Emu yang sekarang yang mengatakannya, berarti memang aman.

Setelah itu aku menikmati dada Emu selama beberapa saat, lalu melepaskan hipnotisnya dan menghabiskan sisa waktu kami.

Namun…… karena aku sudah tahu soal barang yang dibeli Emu hari ini dan jati dirinya yang sebenarnya, sikapku jadi sangat kaku, dan tak perlu dikatakan lagi, aku berkali-kali membuat Emu khawatir dan bertanya ada apa denganku.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close