Chapter 4
Aku Mengetahui Fakta yang Nggak Terduga, Bro!
"...Lagi,
ya," gumamku pelan di tengah ruang yang gelap.
Sepertinya
aku sedang melihat mimpi misterius itu lagi. Aku berdiri mematung sendirian di
tengah ruang hampa yang kelam.
"Sudahlah,
lepaskan aku," keluhku.
Tepat
setelah aku berpikir bahwa interval mimpi ini terasa lebih singkat dari
biasanya, benang-benang hitam muncul dalam jumlah tak terhitung. Dari
sela-selanya, keluarlah seorang pria dengan tubuh yang hancur berantakan.
"...Paman
ini lagi."
Pria yang
sebelumnya selalu memohon bantuan itu, kali ini tidak mengatakan sepatah kata
pun.
Dia tampak lunglai seolah tak sadarkan diri, bahkan terlihat
seperti sudah mati... Lalu, sekumpulan wanita muncul mengelilingi pria itu.
"Akhirnya
dia lenyap juga."
"Ini hukuman
karena sudah melakukan hal menjijikkan pada kami."
"Aplikasi
hipnotis apanya, jangan bercanda!"
"Sampah yang
menyerang wanita saat mereka tak berdaya!"
Mimpi hari ini
terasa sangat jelas. Suara penuh kebencian dari para wanita itu menggema hingga
ke sini.
Di saat yang
sama, sebuah jawaban yang selama ini hanya berupa spekulasi dalam kepalaku
akhirnya terungkap.
"Jadi, paman
itu juga punya aplikasi hipnotis?"
Ini hanyalah
kesimpulan dari pemandangan di depanku. Sudah cukup lama sejak aku mendapatkan
'Partner', tapi meski sesekali aku mencari tahu, tidak ada fakta bahwa
keberadaan aplikasi hipnotis dikenali oleh publik, ataupun informasi mengenai
korban yang pernah mengalaminya.
Itu sebabnya,
memikirkan siapa pria ini atau siapa para wanita ini sebenarnya tidak ada
gunanya... Namun,
tetap saja aku merasa terganggu dengan benang-benang hitam ini.
"Kamu..."
"Hah!?"
Saat salah satu
wanita mengalihkan pandangannya padaku, seketika itu juga mereka semua
menatapku. Tatapan yang tadinya tertuju pada si pria kini berpindah padaku,
persis seperti adegan film di mana sekumpulan zombi menoleh serempak karena
mendengar suara keras.
"Kamu pun
suatu saat akan menjadi seperti ini."
"Eh...?"
"Jika kamu
membiarkan dirimu dikuasai nafsu dan menjadikan wanita sebagai mangsa... kau
pasti akan berakhir begini. Sama seperti pria ini, kau pun akan menerima
hukumanmu!"
Tepat saat dia
menunjukku dengan tajam, aku terpental seolah diterjang angin puyuh. Kupikir
aku akan menghantam tanah dengan keras, namun benang-benang hitam menjulur dan
melilit tubuhku, lalu mengangkatku ke udara.
"Aku... rasa
aku tidak punya urusan sampai harus diperlakukan begini oleh kalian."
"Diam
kamu."
"Dasar
sampah."
"Bedebah
yang menghipnotis gadis-gadis!"
Ugh... aku tidak
bisa membantah!! Benang hitam yang mengikat tubuhku terlalu kokoh, tidak bisa
lepas seberapa pun aku meronta.
Jika sudah
begini, aku hanya bisa menunggu bantuan seseorang... Memalukan memang, tapi aku
percaya Matsuri dan yang lainnya akan datang menolongku—dan sepertinya
permohonan itu terkabul.
"Datang!"
Retakan muncul di
ruang gelap itu, dan cahaya mulai masuk. Kupikir mereka benar-benar datang
menolongku... tapi yang muncul dari sana justru sebuah tangan raksasa.
"Tangan
raksasaaaaa!?"
"A-Apa
itu...?"
"Apa-apaan
ini...!?"
Bukan hanya aku
yang terkejut setengah mati, para wanita itu juga sama. Aku tahu itu adalah
tangan seorang wanita, tapi aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat...
sebuah perasaan familiar seolah aku sering melihatnya.
"...Kok... makin dekat ya?"
Bagiku, itu
adalah tangan raksasa. Tepat saat aku membayangkan diriku ditangkap oleh tangan
itu dan dibawa ke mulut raksasa berwajah menyeramkan untuk dikunyah, rasa
takutku melampaui urusan benang hitam dan para wanita tadi.
Tubuhku gemetar
hebat. Apalagi tangan itu bergerak lurus ke arahku.
"Tu-tunggu
sebentar!?"
Tangan raksasa
itu mencengkeram tubuhku. Aku diangkat seolah merobek benang-benang hitam itu.
Dalam hal
itu aku terselamatkan, tapi tentu saja aku secara refleks meminta bantuan...
pada para wanita tadi!
"To-tolong aku!"
"Ah, anu..."
"Ki-kita tidak bisa menang melawan benda seperti
itu..."
"Woi! Kenapa kalian menyerah, dasar pengecut!!"
Ke mana perginya
keberanian kalian tadi, dasar bodoh! Memang seharusnya aku tidak bicara kasar
pada wanita yang lebih tua, tapi tolong mengertilah kalau aku sedang dalam
kondisi terdesak.
"Uooooooooh!?!?"
Aku meronta
sekuat tenaga tapi tidak bisa lepas dari genggaman ini.
Mimpi macam apa
ini... aku akan dimakan oleh raksasa jahat nan kejam yang seperti iblis, lalu
terbangun... Tepat saat aku berpikir ini adalah mimpi terburuk, rasa sakit yang
kuat menjalar di pipiku akibat tamparan.
"Aduh!?"
Bersamaan dengan
rasa sakit itu, aku terbangun.
◆◇◆
"...I...
Kai!"
"Hah!?"
Aku terbangun
karena suara keras yang menggetarkan gendang telingaku dan rasa sakit di pipi.
"A-Ada apa...!?"
"Akhirnya bangun juga, dasar adik malas."
"Kakak...!?"
Di depanku, wajah Kakak terlihat sangat dekat. Meskipun baru
bangun, rasa sakit yang tiba-tiba itu membuatku tersadar sepenuhnya, tapi aku
masih bingung dengan situasi ini.
"Kau susah
sekali dibangunkan, jadi aku memukulmu sedikit."
"Bukankah
itu keterlaluan!?"
Aku tahu Kakak
yang memukulku, tapi bukankah itu keterlaluan...!?
Meskipun lawanku
adalah Kakak yang seperti Raja Iblis, aku nyaris melayangkan protes, namun aku
menelan kembali kata-kataku. Sebab, tatapan Kakak saat menatapku adalah tatapan
yang penuh kekhawatiran.
"Coba kau
lihat tubuhmu sendiri."
"...Eh?"
Mendengar itu,
aku baru sadar... tubuhku penuh dengan keringat. Piyamaku basah, begitu juga
seprai tempat tidurku yang terasa dingin.
Sepertinya aku
berkeringat hebat saat tidur... dan itu adalah jenis keringat dingin yang tidak
enak.
"Aku minta
maaf karena memukulmu, meski tidak keras. Habisnya, kau terlihat sangat gelisah
dalam tidur, dan kau tidak bangun-bangun meski sudah dipanggil pelan."
"...Serius?"
"Iya, apa
kau bermimpi buruk?"
"..........."
Mimpi buruk...
memang itu mimpi yang buruk.
Karakter yang
muncul dalam mimpi itu—pria yang menggunakan aplikasi hipnotis dan para wanita
yang menaruh dendam padanya... Aku memang terkadang memikirkan hal itu, tapi
yang jauh lebih menakutkan adalah tangan raksasa tadi.
"...Tadi ada
wanita-wanita yang sangat menakutkan di depanku."
"Heem."
"Tepat saat
kupikir aku tertangkap oleh mereka, muncul tangan raksasa yang membawaku
pergi."
"...Mimpi
macam apa itu."
"Mimpi yang
aneh, kan."
Bagi Kakak,
mungkin terdengar konyol setelah dia merasa khawatir.
Tapi satu hal
yang kupahami, tangan itu bukanlah tangan raksasa yang ingin memakanku,
melainkan tangan Kakak yang menyelamatkanku dari mimpi itu.
"...Yah,
terima kasih, Kak. Berkatmu aku bisa lari dari mimpi itu."
"Begitu?
Yah, lagipula caramu mengigau tadi tidak normal, tapi sepertinya kau tidak
terlalu terbebani ya?"
"Begitulah."
"Syukurlah
kalau begitu. Kalau kau bermimpi buruk lagi... mari kita lihat."
Kakak melipat
tangan dan berpikir sejenak, lalu seolah mendapat ide, dia tersenyum tipis dan
membuka mulut.
"Kalau kau
sudah tidak tahan lagi, andalkan saja Kakakmu ini, oke? Aku akan turun tangan
demi adikku yang malang."
"O-Oh..."
"Aku akan
menemanimu tidur di sampingmu."
Senyum Kakak saat
mengatakan itu terasa sangat menyilaukan.
Melihat kasih
sayangnya yang selalu memikirkan dan mengkhawatirkan adiknya, jika aku lengah,
hatiku bisa terasa hangat dan air mata nyaris jatuh... yah, aku tidak akan
bilang sampai sejauh itu, tapi Kakak memang tetaplah Kakak.
"Terima
kasih, Kak."
"Iya♪"
"Tapi tidak
perlu sampai tidur bareng juga tidak apa-apa kok. Malah sepertinya Kakak yang
bakal kesepian dan datang ke tempatku dengan tubuh seperti itu—"
"...Hoo?"
"Ah..."
Sudah terlambat
saat aku sadar kalau mulutku terpeleset.
Dengan kecepatan
luar biasa, Kakak mengubah posisinya, mengunci kedua kakiku dengan kuat, dan
langsung mengunci area selangkanganku dengan kakinya.
"Apa...
jangan-jangan!?"
"Fufuffu~
ini hukuman untuk adik yang berani menggoda kakaknya!"
"Gyaaahhhhhhhhhh!?!?"
Bahkan aku tidak
sempat memprotes bahwa teknik itu sudah kuno di zaman sekarang, aku kembali
kalah dari Kakak... Dasar Raja Iblis, kapan aku bisa menang darinya?
"Pokoknya
kalau tidak ada apa-apa, syukurlah. Ayah dan Ibu tidak ada, aku yang akan
membuat sarapan, jadi cepatlah turun."
"...Ba-baik."
Aku baru saja
'dinodai' oleh Kakak... itu cuma bercanda. Mengingatnya lagi, aku merasa
nostalgia karena sudah sering dibuat tak berdaya seperti itu sejak masih bocah.
"...Tapi,
terima kasih ya, Kak."
Aku tetap tidak
lupa berterima kasih, dan dalam hati aku selalu menganggapnya sebagai Kakak
hebat yang sangat kuhormati.
Setelah itu, aku
menghabiskan waktu dengan melamun setelah sarapan.
Melanjutkan hari
Sabtu kemarin, hari Minggu ini pun aku tidak punya rencana khusus... tapi aku
memikirkan banyak hal.
"...Selain
soal mimpi, kejadian kemarin memang terasa sangat intens, ya."
Bahkan sebelum
memikirkan mimpi, waktu yang kuhabiskan bersama Saika kemarin benar-benar hari
yang sangat padat.
Mulai dari
pertemuan hangat dengan kakak perempuan yang dulu pernah kutemui, hingga waktu
mesum yang intens bersama Saika... terlebih lagi, itu adalah hari Sabtu terbaik
karena aku bisa menikmati payudara itu sepuasnya di kamarnya.
"Aku sudah
kencan sepulang sekolah dengan Matsuri, kencan hari libur dengan Saika...
akhir-akhir ini hidupku benar-benar produktif!"
Namun, aku
kembali melipat tangan dan tenggelam dalam pikiran.
Hal ini sudah
sering kupikirkan, tapi beruntung sekali aku yang menggunakan aplikasi hipnotis
bisa menjalin hubungan seakrab ini dengan mereka yang menjadi targetnya.
"Seandainya...
seandainya saja aku berakhir dibenci oleh Matsuri dan yang lainnya seperti pria
dalam mimpi itu, apa yang akan terjadi?"
Tidak perlu
dipikirkan lagi... aku pasti akan dibungkus oleh benang hitam dan berakhir sama
seperti pria itu.
"...Haa,
tidak mau, tidak mau."
Sayang
sekali jika hari Minggu yang berharga ini dihabiskan dengan pikiran gelap. Hari
ini aku akan pergi keluar sebentar... Berbeda dengan kemarin, aku tidak akan
mencari target hipnotis, aku hanya akan jalan-jalan mengikuti kata hati.
"Siapa
tahu... dengan alur seperti ini, aku bisa bertemu dengan Emu?"
Kalau
benar-benar bertemu, itu sih namanya keajaiban, pikirku sambil bersiap-siap.
Hanya saja, ada
kata-kata yang terus terngiang di benakku... yaitu kata-kata wanita dalam mimpi
tadi, bahwa suatu saat aku pun akan menjadi seperti pria itu.
Kata-kata itu
terus terngiang di telingaku seperti riak air yang tak kunjung tenang.
"Kak, aku
pergi keluar sebentar ya."
Setelah
berpamitan pada Kakak, aku pergi menuju kota, dan tak disangka, sebuah
pertemuan sudah menantiku.
"...Serius?"
"...Eh?"
Aku berpapasan
dengan Emu yang baru saja keluar dari sebuah bangunan.
"Emu...?"
"Kai-senpai...?"
Emu yang sedang
mendekap kantong belanjaan dengan hati-hati itu membelalakkan matanya. Reaksiku
pun sama, aku benar-benar terkejut karena tidak menyangka akan benar-benar
bertemu dengannya.
"Kebetulan
sekali, ya...?"
"Be-begitu
ya...?"
"...Kalau
begitu, duluan ya."
Aku berkata
begitu pada Emu dan kembali berjalan ke arah tujuanku.
(...Tunggu,
kenapa aku malah mengabaikannya padahal sudah bertemu!?)
Tidak, tidak,
mumpung sudah bertemu, lebih baik bicara sebentar. Saat aku berpikir begitu dan
mendadak berhenti, seseorang menabrak punggungku, dan terdengar teriakan kecil
yang imut.
"Duh...
jangan berhenti mendadak dong, Kai-senpai."
"Maaf...
lagipula kenapa kau menempel sekali di belakangku!"
"Habisnya
Kai-senpai pergi begitu saja tanpa bilang apa-apa."
"Yah...
benar juga sih?"
Emu mengangguk
seolah membenarkan ucapanku. Emu yang mengenakan pakaian chic bermotif
kotak-kotak itu memancarkan aura seperti putri bangsawan yang dipingit, membuat
pandangan orang di sekitar terpaku padanya.
Emu memang selalu
terlihat seperti nona muda terhormat... meskipun aslinya dia adalah gadis
masokis tingkat akut yang tidak tertolong.
"Jadi... ada
apa?"
"Ah...
itu..."
Sambil meremas
kantong kertasnya, Emu menunduk. Sesekali ia mengangkat wajah menatapku lalu
membuang muka lagi, seolah ia sedang berjuang keras mencari kata-kata yang tak
kunjung ketemu.
"Jangan-jangan...
kau tidak punya urusan khusus, tapi karena menemukanku, kau jadi mengikutiku
tanpa tujuan?"
"Auu...
i-iya."
"..........."
Sekarang dia
menyembunyikan wajahnya dengan kantong kertas... sial, imut sekali. Tapi ini
adalah kesempatan bagus. Sudut mulutku terangkat, membentuk seringai licik yang
tidak boleh terlihat oleh Emu.
(Siapa sangka
aku bisa bertemu Emu juga... hehe, Emu harus menemaniku menghabiskan waktu
sesukaku!)
Setelah memutuskan hal itu, aku harus segera bertindak. Aku berniat menggiring Emu ke tempat teduh seperti yang kulakukan pada Saika... namun, tepat saat pejalan kaki mulai menyeberang di zebra cross dekat situ, seorang kakek menjatuhkan kantong belanjaannya.
"Aa~……"
Benda-benda
yang ada di dalam tas itu berhamburan keluar. Si kakek tua bergegas
memungutinya dengan panik.
Namun,
tentu saja di usianya sekarang, dia tidak bisa lagi bergerak lincah. Jika dibiarkan, lampu lalu lintas akan
segera berubah menjadi merah.
"Aku ke sana
sebentar, ya," ucapku pada Emu, lalu berlari menghampiri kakek itu.
"Mari saya
bantu pungut, Kek."
"Oh, terima
kasih banyak, Nak……"
Aku tersenyum
meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja, lalu segera mengumpulkan
barang-barangnya yang terjatuh.
"Kai-senpai,
aku akan menuntun Kakek menyeberang duluan."
"Oh, oke. Tolong, ya, Emu."
"Sama-sama.
Nah, Kek, mari lewat sini…… Jangan khawatir, Senpai akan memungut semuanya
untuk Anda."
"Begitukah?
Benar-benar merepotkan kalian, ya."
Aku mengacungkan
jempol atas bantuan apik Emu. Meski tampak belum terbiasa, dia membalas dengan acungan jempol yang
sama. Emu memang tidak punya teman laki-laki yang akrab dengannya, dan kurasa
dia juga jarang melakukan hal seperti ini dengan sesama perempuan…… Mengingat
hal itu, pemandangan tadi terasa sangat langka sampai-sampai aku ingin
memotretnya.
"Sip,
ini sudah semua."
Tapi
kalau dipikir-pikir, buah-buahan yang dibawa kakek ini banyak sekali. Apa dia
mau pergi menjenguk orang sakit?
"Kai-senpai!
Lampunya sebentar lagi berubah!"
"Iya,
iya!"
Dipanggil
oleh Emu, aku pun segera berlari menghampiri mereka berdua.
"Ini, Kek.
Semuanya sudah saya ambilkan."
"Terima
kasih, ya. Kakek sedang dalam perjalanan menjenguk Nenek di rumah sakit."
"Oalah."
"Begitu
rupanya."
Ternyata dugaanku
benar. Si kakek kemudian mengeluarkan sebuah kotak kukis dari kantong
belanjaannya.
"Ini hadiah
karena sudah membantu Kakek. Jangan sungkan, terimalah. Kalau tidak diterima,
Kakek tidak akan beranjak dari sini."
"……Wah, Anda
pintar sekali ya menutup jalan keluar saya."
"Hohoho!
Kakek cuma mau berterima kasih saja, kok."
Kakek itu
pun berbalik dan berjalan pergi sambil melambaikan tangan kecilnya. Aku sempat
bertanya lebih lanjut, dan katanya si nenek tidak menderita penyakit parah dan
bisa segera pulang. Meski tidak ada hubungannya dengan kami, aku dan Emu
menghela napas lega secara bersamaan.
"Hah,
tiba-tiba saja ada kejadian begitu, ya."
"Benar juga…… Tapi, Kai-senpai?"
"Ada apa?"
"Ternyata tubuh Senpai bisa langsung bergerak spontan
di saat seperti itu…… Aku rasa itu sangat mengagumkan."
"……Yah, soalnya aku tidak bisa membiarkannya begitu
saja. Kurasa dalam hal itu, kamu
juga sama, kan?"
"Habisnya,
aku juga tidak tega membiarkannya."
Apa-apaan itu.
Ternyata pada akhirnya pikiran kita sama saja. Kami berdua terkekeh pelan, lalu
kembali mendiskusikan apa yang akan kami lakukan setelah ini.
"Ah, maaf Kai-senpai…… Aku mau ke toilet
sebentar."
"Oke, aku
tunggu di sini."
"Terima
kasih."
"Barangnya
sini aku bawakan saja sekalian."
"……Kalau
begitu, tolong, ya."
Emu menyerahkan
kantong kertas itu padaku, lalu berjalan menuju toilet. Sambil melepas
kepergian punggungnya yang menghilang ke dalam bangunan, pandanganku tertuju
pada kantong kertas di tanganku.
"……Ringan,
ya."
Dibandingkan
dengan ukuran kantongnya dan segelnya yang terlihat kokoh, isinya ternyata
cukup ringan. Meski Emu sedang tidak ada, aku tidak berniat mengintip isinya,
dan apa yang dia beli pun bukan urusanku.
"Wajar saja
kan kalau aku sedikit penasaran."
Pasalnya, Emu
tadi tidak ragu menyerahkannya padaku…… tapi, ekspresi wajahnya saat
menyerahkannya tadi terlihat kaku, jadi aku agak kepikiran. Apakah itu barang
penting, ataukah sesuatu yang tidak ingin diketahui orang lain…… Gara-gara
memikirkan hal itu, aku malah jadi makin penasaran!?
"……Waduh,
ada gerombolan yang kelihatan gawat."
Satu gerombolan
yang berjalan ke arah sini masuk ke jarak pandangku. Mungkin kurang sopan
menyebut mereka 'gawat', tapi mereka adalah kelompok empat orang wanita dengan
penampilan mencolok yang jarang terlihat di daerah sini.
"Terus~?
Habis ini kita mau ke mana?"
"Lagian
ngapain juga kita kumpul dari pagi begini."
"Gak
apa-apa, kan~ Sesekali bangun pagi juga seru, tahu."
"Hah, berisik ah…… ya aku juga bego sih mau-mau aja
diajak."
Karena tidak
mungkin anak SMA polos sepertiku akan diganggu oleh mereka, aku pun sedikit
menepi untuk memberi jalan…… namun.
"Hei, jangan
dorong-dorong dong!"
"Makanya
kalau kasih kabar itu yang cepat!"
"Kyaa!?"
Terdengar
teriakan kecil dibarengi benturan di punggungku. Karena dorongannya cukup kuat,
keseimbanganku goyah. Aku memang tidak sampai terjatuh, tapi kantong kertas
yang dititipkan Emu tidak hanya terlepas dari tanganku, tapi wanita yang
menabrakku—salah satu dari gerombolan mencolok itu—menginjaknya dengan sepatu
hak tingginya.
"Ah……"
"Aduh,
aku injak sesuatu ya~?"
Kaki itu
segera ditarik, dan aku pun terburu-buru mengambil kantong kertas itu.
Gara-gara ujung tajam sepatunya, kantong itu kini berlubang total, tapi barang
di dalamnya mungkin masih aman…… kuharap begitu.
"Maaf
ya~"
"Apaan
sih? Injak apa?"
"Gak
tahu~ Gak penting juga~"
"……Hah?"
Tanpa sadar, aku
mengeluarkan suara pelan. Kalau dibilang aku yang salah karena menjatuhkannya,
mungkin memang benar…… Tapi
selain menginjaknya sambil cengengesan, bilang 'tidak penting' itu keterlaluan,
kan?
Melihat
wanita-wanita yang tidak merasa bersalah itu…… tidak, dalam hal ini hanya
wanita yang menginjak kantong itu saja, aku pun tanpa sengaja memelototinya.
"Apa?
Ada masalah?"
Wanita
yang bertanya itu balik memelototiku, sementara tiga orang lainnya menyeringai
geli. Dalam situasi seperti
ini, pemandangan itu bahkan terlihat menjijikkan bagiku.
"Mungkin
memang aku yang salah karena menjatuhkannya…… Tapi, tidak seharusnya Anda bilang 'tidak
penting' setelah menginjak barang orang lain, kan?"
"Mau
menceramahiku, ya? Jijik banget deh."
Pikii. Sesuatu dalam diriku rasanya hampir
putus. Aku ingin segera mengeluarkan ponsel dari saku dan menghipnotis mereka
untuk mempermalukannya sesuka hati…… tapi, sosok mereka berempat yang menatapku
entah kenapa tumpang tindih dengan pemandangan yang kulihat dalam mimpi.
"Cih……"
"Eh, kok dia
malah ketakutan?"
"Habisnya
kamu seram sih."
"Habisnya
bocah belagu ini tadi sok banget."
"Padahal dia
tadi bergaya keren, mendingan kamu pura-pura kalah aja tadi. Lagian kelihatan
banget bocah kayak dia gak punya pacar."
Mereka bicara
semaunya, sementara pandangan orang-orang di sekitar terasa simpatik padaku.
Jika ditanya apakah aku kesal, tentu saja aku kesal. Tapi, hanya karena
pemandangan ini sedikit mirip dengan mimpiku, aku sampai merasa ciut seperti
ini…… Hah, ternyata aku cukup memikirkannya, ya.
"Ayo, bilang
sesuatu dong~ Kan kamu duluan yang mulai?"
"Sudah,
hentikan saja."
"Habisnya
masih bocah tapi sudah berlagak, menyebalkan tahu."
Sambil
berkata begitu, wanita itu mendorong bahuku dengan kuat. Saat wanita itu
melangkah mendekat dengan seringai yang masih sama, Emu yang tadi ke toilet
akhirnya kembali.
"Maaf sudah
menunggu, Kai-senpai."
"Ah,
e-eh."
"Siapa……?"
Begitu Emu
muncul, wanita-wanita itu langsung ternganga dan terpaku. Hanya dari penampilan
saja, ekspresi mereka berubah menjadi wajah yang merasakan kekalahan telak
terhadap Emu.
"Sepertinya
saat aku tidak ada, Senpai diganggu oleh orang-orang aneh, ya…… Maafkan
aku, Kai-senpai."
"Eh…… tidak, ya sudah, selamat datang kembali."
"Aku pulang♪ ……Nah sekarang."
Emu yang tadi tersenyum, tiba-tiba berubah menjadi tanpa
ekspresi. Saat dia mengarahkan tatapan matanya yang dingin dan tak terbaca ke
arah wanita-wanita itu, mereka langsung tersentak kaget.
"Aku sudah mendengar bagian 'bocah yang kelihatannya
tidak punya pacar'. Ternyata orang yang sikapnya buruk, matanya pun jadi ikut
kusam dan buta, ya…… Yah, lagipula orang-orang seperti kalian sama sekali tidak
penting bagiku."
Emu berkata demikian sambil melirik kantong kertas yang
sobek, namun dia sama sekali tidak marah. Setelah melihat bagian yang sobek itu
dua-tiga kali, dia bergumam 'tidak apa-apa' dan kembali menatap wanita-wanita
itu.
(……Emu seram sekali.)
Mata dingin Emu tidak tertuju padaku yang berada di
sampingnya…… Namun, hawa dingin yang terpancar darinya benar-benar
mengingatkanku pada julukannya, Sang Ratu Es.
"Senpai adalah orang yang sangat kuat. Karena itu,
meski perkataan kalian mungkin membuatnya terusik, aku yakin beliau tidak akan
goyah sedikit pun── Tapi, suasana hatiku jadi buruk kalau ada orang yang
menjelek-jelekkan Senpai."
Setelah berkata begitu, Emu menjeda kalimatnya…… lalu
melanjutkan.
"Senpai bukanlah orang seperti yang kalian pikirkan……
Bagiku, beliau adalah sosok yang kukagumi dan orang yang luar biasa, itu akan
kutegaskan sekarang. Kalian tidak
perlu mengingat kata-kataku pun tidak masalah, aku hanya ingin menyampaikannya
secara pribadi saja."
Emu mengatakannya
dengan tegas. Wanita-wanita itu sama sekali tidak diberi kesempatan untuk
menyela. Mereka hanya bisa menatap kami dengan linglung tanpa ada tanda-tanda
ingin membalas. Sepertinya harga diri mereka tinggi, tapi tetap saja mereka
terintimidasi oleh aura Emu.
"Kalau
begitu Senpai, ayo pergi."
"O-oke……!"
Emu menarik
tanganku dan kami pun menjauh dari wanita-wanita itu. Begitu mereka sudah tidak
terlihat lagi, Emu berhenti melangkah, dan aku pun tersadar lalu menundukkan
kepala.
"Maaf, Emu!
Barang ini……"
"……Ah~ iya,
tadi aku menitipkannya, ya."
……Kenapa ringan
sekali ya? Emu menerima kantong kertas itu dan memasukkan tangannya untuk
mengecek isinya.
"Tidak
apa-apa, kok. Sepertinya tidak rusak."
"……Syukurlah
kalau begitu."
Aku menghela
napas lega. Namun tetap saja, kalau aku tidak menjatuhkannya, hal ini tidak
akan terjadi, dan tidak perlu sampai adu mulut dengan mereka…… Terlebih lagi,
aku tidak seharusnya membiarkan Emu sampai berkata sejauh itu.
"Kai-senpai,
tolong jangan dipikirkan lagi."
"……Tapi tadi
aku merasa agak memalukan."
"Benarkah?
Malahan, menurutku keberanian Senpai untuk menatap balik mereka dengan jujur
seperti itu sangat pantas dipuji."
"Itu…… aku cuma tidak terima saja. Memang aku yang
menjatuhkannya, tapi kalau mereka bilang 'tidak penting' setelah menginjak
barang orang, aku jadi ingin membalasnya."
"Aku memang tidak tahu kejadian lengkapnya, tapi yang
pasti Senpai marah demi aku…… Jadi, yang kurasakan hanyalah rasa terima kasih
kepada Kai-senpai."
Meskipun kantong yang dipeluk Emu sudah berlubang, senyum
yang tersungging di wajahnya berhasil menghapus kegelisahan dalam hatiku.
"……Kalau
kamu bilang begitu, aku jadi tenang."
"Iya♪"
Jika Emu
sudah berkata sejauh itu, sebaiknya aku tidak terus-menerus menyesalinya.
(Tapi…… tadi benar-benar mirip dengan kejadian di mimpi, ya.
Ternyata aku jauh lebih memikirkan
mimpi itu daripada dugaanku sendiri.)
Padahal kakakku
sudah bilang begitu, apa kepribadianku memang sesensitif ini ya, pikirku sambil
tersenyum getir.
"Ada
apa?"
"Eh? Tidak,
aku cuma berpikir apa aku memang sesensitif ini."
"Sensitif……?
Kai-senpai?"
"Oi, aku
tahu itu tidak cocok denganku, tapi reaksimu itu tidak sopan lho, Kouhai."
Aku menjulurkan
tangan ke kepala Emu, lalu mengacak-acak rambutnya dengan sedikit kuat. Aku
tidak bermaksud membuatnya kesal, tapi aku harus menunjukkan wibawaku sebagai
senior. Begitu aku melepaskan tanganku, rambut Emu sudah berantakan bukan main,
dan aku pun segera menarik tanganku kembali dengan rasa sesal.
"Ma-maaf…… aku tadi agak kelewatan."
Sambil
merapikan rambutnya, Emu mendongak dengan wajah yang memerah. Ekspresinya bukan
karena malu atau marah, melainkan terlihat seperti sedang berada dalam kondisi Ecstasy.
Aku yakin mataku tidak salah lihat.
"……Emu-san?"
"Duh…… tiba-tiba apa-apaan sih, Kai-senpai!"
Wajahnya masih
merah, namun dia merapatkan pipinya dan memelototiku dengan tajam. Namun bagi
aku yang sudah melihat ekspresinya tadi, pelototan Emu sekarang sama sekali
tidak terasa menakutkan.
"Makanya,
kan aku sudah minta maaf."
"……Karena
ini Kai-senpai, aku maafkan."
Emu
membuang muka sambil bergumam begitu. Selain ekspresinya yang tidak bisa
menyembunyikan bakat seorang Masochist, aku merasa lega karena sudah
dimaafkan meskipun tadi sempat mengacak-acak rambutnya.
Setelah itu kami
berjalan tanpa arah tujuan yang jelas. Setelah berjalan dalam diam sekitar lima
ratus meter, aku akhirnya tak tahan untuk bertanya pada Emu.
"……Kita
sebenarnya mau ke mana?"
"……Entahlah?"
Ternyata Emu juga
tidak punya tujuan. Kalau dipikir-pikir, sebelum kami sempat mengobrol mau ke
mana setelah bertemu tadi, sudah ada kejadian soal kakek tadi dan wanita-wanita
itu.
"Ka-kalau
begitu!"
"Hm?"
"Aku ingin
menaruh barang ini di rumah dulu…… Bagaimana kalau kita ke rumahku
sekarang?"
"Eh…… apa boleh?"
"Tentu! Anu…… mungkin terdengar aneh kalau kubilang
'sesekali', tapi aku ingin mencoba mengobrol berdua saja dengan
Kai-senpai."
Setelah berpikir sejenak, aku tidak ingin melewatkan
kesempatan ini dan mengangguk setuju. Lagipula niat awalku keluar rumah memang
untuk bertemu Emu…… ini benar-benar menguntungkan!
"Kalau
begitu ayo segera berangkat!"
Entah dia
tahu isi hatiku atau tidak, Emu berjalan di depanku dengan wajah ceria. Saat berjalan mengikuti punggungnya,
ingatan buruk di perjalanan ini kembali muncul…… karena kami melewati area
tiang listrik tempat pria yang membuntuti Emu dulu sering berada.
"……Tidak
mungkin, kan."
Aku
menghentikan langkah dan memastikan keadaan di belakang dengan santai. Tidak
ada sosok mencurigakan dalam jangkauan pandangku, dan aku juga tidak melihat
ada orang yang bersembunyi dengan lihai.
"Kai-senpai?"
"……Ah,
tidak, maaf."
"Mungkinkah…… Senpai khawatir kalau-kalau ada orang
mencurigakan?"
"Sedikit…… terpikirkan saja."
Meskipun aku selalu mengecek kondisi Emu saat dalam keadaan Hypnosis
di sekolah, tetap saja ada kemungkinan dia tidak sadar dibuntuti…… Terlebih
lagi, baru-baru ini aku sempat berpapasan dan bertengkar dengan mantan pacar
Mari dan ayahnya Saika.
"Sejauh yang aku tahu sih tidak apa-apa…… Tapi, aku
senang karena Senpai mau mengkhawatirkanku."
"Ya jelas lah aku khawatir."
Tapi yah, melihat kondisinya, sepertinya memang tidak perlu
ada yang dikhawatirkan.
"Maksudku soal pembuntutan…… hal semacam itu kan bisa
berkembang jadi insiden tragis, aku sering lihat di berita jadi terbawa
pikiran."
"Begitu ya…… Memang benar rasa takut itu ada. Meskipun
orang itu sudah ditangkap polisi, belum tentu dia tidak menyimpan dendam saat
keluar nanti."
Apa yang aku khawatirkan maupun yang Emu katakan memang
kemungkinannya kecil. Tapi justru
karena itulah aku memikirkan keselamatan Emu, dan karena kami sudah sedekat
ini, aku ingin melindunginya. Sama seperti Mari dan Saika, aku ingin
melindunginya dengan segenap kemampuanku meskipun harus menggunakan kekuatan si
'Partner'.
(Kalau
terjadi apa-apa, aku kan tidak bisa bersenang-senang sesukaku…… Demi nafsuku juga, dia tidak boleh sampai
terluka sedikit pun.)
Uu~m,
benar-benar pemikiran seorang bajingan, pikirku sambil mengangguk mantap.
Begitulah, kami
pun sampai di rumah Emu. Katanya orang tuanya baru akan pulang nanti malam,
jadi hanya ada kami berdua di sana.
"Silakan
bersantai di ruang tamu. Aku taruh barang dulu."
"Oke."
Ditinggal
sendiri di ruang tamu, aku melipat tangan sambil berpikir. Tidak kusangka aku
akan berkunjung ke rumah perempuan berturut-turut begini…… Meskipun ini terjadi
padaku sendiri, rasanya masih sulit dipercaya.
"Atau
begini ya? Dalam ingatan Emu,
ini adalah pertama kalinya aku berkunjung ke sini, kan?"
Karena waktu ke
sini sebelumnya aku menggunakan kekuatan Partner, aku harus berhati-hati agar
tidak keceplosan!
"Tapi tetap saja…… ini rumah perempuan, lho!"
Meskipun aku menjaga ekspresi wajahku agar tidak ketahuan
Emu, tetap saja aku merasa bersemangat saat berkunjung ke rumah perempuan……
Kuu! Cepatlah kembali!
"……Oh."
Sambil menunggu Emu dengan gelisah, mataku tertuju pada
bingkai foto yang diletakkan di atas rak. Emu kecil bersama orang tuanya…… kah?
Di foto itu mereka bertiga tampak tersenyum, terutama senyum sang ayah yang
menggendong Emu benar-benar memancarkan aura ayah yang sangat memanjakan
anaknya.
"Dia bilang hubungan keluarganya baik, ya…… Heh,
baguslah."
Keluarga
itu kan keberadaan yang tak tergantikan…… Aku benar-benar berharap Emu bisa
terus akur dengan keluarganya selamanya.
"……Kukuku, tapi Ayah, Ibu…… Maafkan saya. Putri kalian
sudah saya mangsa dengan taring beracun saya…… Kuhhahahaha!"
"Kai-senpai?
Ada apa?"
DEG-DE-DEG-DE-DEEEEENG!?!?
Lupakan
soal tawa jahat tadi, aku langsung menoleh karena mengira dia mendengar
perkataanku. Tapi Emu hanya memiringkan kepalanya…… Sepertinya dia baru
saja sampai dan tidak mendengar apa pun?
"Cuma
latihan olah vokal sebentar."
"Latihan
olah vokal? Suara tawa tadi…… terdengar seperti tokoh penjahat
sekali."
"Cocok,
kan?"
"Kelihatan
sangat meyakinkan, sih."
Bagus, aku bisa
bernapas lega karena tidak ketahuan…… Fuh. Karena sedang berduaan dengan Emu,
aku ingin segera menggunakan kekuatan Partner dan melakukan hal-hal sesukaku,
tapi mari nikmati waktu bersama dirinya yang biasa ini sedikit lebih lama.
"Ini, jus
dan camilan."
"Terima
kasih."
Padahal aku
bilang tidak usah repot-repot, tapi dia tetap menyediakan jus dan kukis. Kukis
yang dilumuri banyak cokelat itu terlihat sangat lezat, tapi melihat camilan
seperti ini membuatku membayangkan kakakku yang melahapnya dengan rakus seperti
anak kecil.
"Ada
apa?"
"Tidak, cuma
terpikir kalau ini tipe camilan yang bakal dilahap habis oleh kakakku."
"Kakak Kai-senpai…… aku belum pernah bertemu dengannya,
ya."
"Kamu
sudah dengar dari Mari dan yang lain, kan? Dia itu kakak yang penampilannya seperti
bocah."
"Ahaha…… aku dengar parasnya memang sangat imut."
Sambil ditatap oleh Emu yang tampak bingung harus merespons
apa, aku memasukkan camilan itu ke mulut.
"Wah, ini enak sekali."
"Itu oleh-oleh yang dibelikan Ayah saat dinas luar
kota."
"Heh…… apa tidak apa-apa kalau aku yang makan?"
"Gak
apa-apa. Aku juga ikut makan, kok."
Sambil berkata begitu, Emu juga menyuapkan kukis ke
mulutnya.
"Amu…… chuu……"
Melihatnya menjilat cokelat yang menempel di jari, jantungku
tiba-tiba berdegup kencang. Aku tidak merasa itu kotor, malah terlihat sangat
erotis, apalagi dilakukan oleh gadis sedingin Emu, kesan erotisnya jadi
berkali-kali lipat.
Mungkin karena
aku menatapnya terlalu lama, pandanganku dan Emu sesaat saling bertemu. Karena
tatapannya terasa sangat sensual, aku pun sampai membuang muka karena jantungku
berdegup makin kencang.
(……Tapi tunggu,
apa wajahnya tidak kemerahan?)
Aku
merasa ada yang sedikit aneh dengan sikap Emu. Wajahnya merah bukan karena malu
seperti aku, melainkan pipinya memerah seolah sedang demam dan napasnya pun
sedikit memburu……?
"Emu…… apa kamu sedang demam?"
"……Fueh?"
"……Suaramu juga terdengar aneh, lho?"
Ini…… sepertinya dia benar-benar sedang tidak enak badan.
Begitu aku bangkit dari kursi dan mendekatinya, Emu tidak hanya menatapku
dengan wajah lemas, tapi tubuhnya juga gemetar seolah sedang kedinginan.
"Apa kamu
kena flu──"
"Ti-tidak
apa-apa! Aku mau ke
kamar sebentar…… unh!"
Meski
kupikir ini bukan masalah sepele, Emu langsung keluar dari ruang tamu dengan
gerakan lincah.
"……Ada apa
dengannya?"
Sebenarnya dia
kenapa? Aku jadi makin khawatir melihat sikapnya yang belum pernah kulihat
sebelumnya, tapi tak lama kemudian Emu kembali dengan kondisi normal……
tepatnya, kembali ke sikap biasanya seperti saat kami mengobrol di luar tadi.
"Maaf sudah
menunggu."
"……Apa kamu
benar-benar tidak apa-apa?"
"Iya, tidak
apa-apa, kok."
Kalau tidak
apa-apa sih ya sudah…… oh, iya. Padahal aku tidak perlu bertanya sejujur ini,
kan aku punya kekuatan Partner untuk membuatnya mengaku. Ya ampun, bisa-bisanya
aku melupakan kekuatanku sendiri meski cuma sesaat, aku masih amatir ya.
"Tapi
rasanya aneh juga── karena aku tidak pernah mengundang lawan jenis ke rumah
saat orang tuaku sedang tidak ada seperti ini."
"Heh……"
"Jadi
kupikir aku akan gugup…… tapi mungkin karena ini Kai-senpai, aku jadi tidak
terlalu gugup. Malah rasanya seolah aku sudah pernah mengundang Senpai ke sini
beberapa kali."
"Be-begitu
ya……"
Yah, aku memang
pernah mampir ke sini saat kamu tidak punya ingatan tentang itu, sih. Emu
mengambil bingkai foto tadi, lalu mulai bercerita perlahan.
"Dulu
ekspresi wajahku sangat kaya seperti ini, tapi sekarang aku merasa sudah banyak
berubah. Seiring tubuhku yang tumbuh dewasa, makin banyak kejadian merepotkan
yang terjadi. Meskipun aku tidak bermaksud apa-apa, hanya dengan menunjukkan
senyuman saja bisa membuat orang lain salah paham…… yah, kata-kata ini bisa
keluar karena aku memang percaya diri dengan wajahku sendiri, sih."
"……Mungkinkah
alasan kenapa kamu bersikap dingin…… sampai dijuluki Ratu Es karena sering
tanpa ekspresi itu gara-gara hal itu?"
Aku mencoba
bertanya, dan kurasa dugaanku benar. Bagi gadis secantik Emu, hanya tersenyum
pada lawan jenis saja sudah cukup untuk membuat mereka baper, apalagi sampai
ada yang melakukan tindakan pembuntutan…… Ternyata Emu juga punya kesulitan
tersendiri.
"Mungkin itu
salah satu alasannya, tapi alasan utamanya sebenarnya berbeda."
"Eh?"
"Menurut
Senpai, apa alasannya?"
"……Uu~m."
Aku melipat
tangan, mencoba memikirkan alasan yang dimaksud Emu…… Setelah berpikir beberapa
saat, aku tidak menemukan jawaban yang pas, jadi aku mengangkat kedua tangan
tanda menyerah.
"Tidak
tahu."
"Tentu saja.
Kalau Senpai sampai bisa menebaknya, aku pasti akan mati karena malu…… Tapi
mungkin itu juga tidak buruk…… unh."
Emu menempelkan
kedua tangan ke pipinya, lalu menggeliat malu.
"Ada
apa……?"
"Fufu, kalau
soal ini biarkan jadi rahasia saja. Tapi…… mungkin suatu hari nanti aku
akan menceritakannya padamu♪"
Mana mungkin aku tidak penasaran kalau digantung begitu. Aku
pun segera mengeluarkan ponsel dari saku dan mengaktifkan si Partner untuk
menghipnotis Emu. Menyelesaikan hal yang mengganjal dengan cepat, itulah moto
hidupku yang baru saja kutentukan. Jadi
maaf ya Emu, rahasiamu akan kubongkar sekarang juga!
'Kamu pun
suatu saat akan jadi seperti itu.'
Tepat saat aku
hendak menghipnotis Emu dengan semangat, sebuah suara terngiang di benakku dan
menghentikan gerakanku…… Sial, suara dari mimpi itu benar-benar mengganggu
saja.
"Hypnosis!"
"Ugh……"
Seolah ingin
menepis segala kejadian di mimpi tadi, aku pun menghipnotis Emu.
"Kukuku,
terlalu naif Emu. Kamu tahu kan kalau tidak ada rahasia yang bisa kamu
sembunyikan dariku?"
"I-itu…… uuh…… Penghinaan seperti apa yang akan
kuterima kali ini…… ahh♪"
"Dengar ya…… bisa tidak berhenti bersikap pasrah begitu
saat sedang dihipnotis?"
"Habisnya
aku jadi berdebar-debar tahu!!"
Anak ini
memang agak aneh! Meskipun sudah pasti dalam keadaan terhipnotis, mungkin
karena dia tahu aku sudah tahu sifat aslinya, dia sama sekali tidak berusaha
menyembunyikannya. Malah dia menggunakannya sebagai senjata untuk mendekatiku,
seram tahu!
(Tidak,
bukan seram sih…… karena kalau Emu yang sekarang, meskipun aku
menyerangnya dengan paksa pun dia pasti bakal senang. Tapi…… rasanya melampaui
batas itu tidak benar saja!!)
Emu yang sekarang
tidak memiliki apa-apa selain rasa antusias terhadap apa yang akan kulakukan
padanya.
Dia bahkan
mengatakannya dengan riang, dan setiap kali aku menggerakkan tubuh sedikit
saja, matanya makin berbinar penuh harap…… Tapi aku tidak akan melakukan
apa-apa.
Aku memang agak
mendambakannya, tapi…… aku tidak terlalu suka permainan S&M. Kalau
melihatnya di komik dewasa sih oke, tapi kalau melakukannya sungguhan, aku
malas.
"Aku tidak
akan melakukan apa-apa, lho?"
"Neglect Play…… itu juga bagus."
"……………"
Emu yang sudah masuk ke mode itu benar-benar merepotkan.
Meskipun sedang terhipnotis, dia adalah tipe gadis yang bisa membuatku
kelelahan……
"……Ah, hampir lupa. Jadi, apa jawaban yang tadi?"
Alasan kenapa Emu lebih sering menunjukkan wajah tanpa
ekspresi, itulah yang ingin kudengar.
"Sebenarnya,
aku sering menggunakan Sex Toy…… bahkan di depan umum. Karena aku takut
jika ketahuan pasti akan dicap sebagai orang mesum, aku berusaha menahan diri
agar rasa nikmat yang menjalar di tubuhku tidak ketahuan, dan akhirnya aku pun
mulai dijuluki seperti itu."
Eh…… jadi maksudnya begini? Alasan kenapa aura dingin Emu
terbentuk adalah hasil dari usahanya agar tidak ketahuan saat menggunakan
mainan di depan umum…… Anak ini benar-benar di luar nalar.
"Ngomong-ngomong."
"Masih ada lagi?"
"Tadi
sikapku agak aneh, kan? Sebenarnya waktu itu aku kembali ke kamar sebentar
untuk memasangnya! Makanya aku jadi merasa seperti itu!"
"Hah!?"
"Terlebih
lagi, isi kantong kertas yang kubeli di kota tadi adalah mainan baru! Syukurlah
barangnya tidak sampai rusak♪"
"……Aku
sudah capek."
Gara-gara
pengungkapan fakta yang bertubi-tubi, tanpa sadar aku terduduk lemas di tempat.
Meskipun
aku merasakan sensasi erotis karena gadis secantik ini melakukan hal seperti
itu, sepertinya aku masih belum sanggup melangkah ke wilayah tempat Emu berada.
"Tapi……"
"?"
"Sekarang
aku sudah tidak melakukannya lagi di luar rumah, dan yang terpenting, waktu
mengobrol dengan Kai-senpai jauh lebih menyenangkan."
"Emu……"
"Makanya
di rumah aku dengan bebas menyiksa tubuhku sendiri♪"
Tadinya
aku merasa terharu sampai ingin menangis, tapi air mataku langsung kering
seketika.
Namun
tetap saja, aku tidak bisa membiarkannya berakhir begitu saja…… Mumpung aku
sudah datang jauh-jauh ke rumah Emu dan bahkan sudah menghipnotisnya, sayang
sekali kalau tidak melakukan apa-apa!
"Bodo
amat lah, Dive!"
Seolah
ingin melupakan semua percakapan tadi, aku menerjang ke dada Emu.
"……Fufu,
Kai-senpai benar-benar suka melakukan ini, ya."
"Ya jelas lah…… ahh, menenangkan sekali."
Emu memang jauh lebih jujur pada nafsunya daripada aku, tapi
saat aku bermanja-manja seperti ini, dia akan memeluk dan mendekapku dengan
lembut.
Bermanja pada adik kelas yang usianya di bawahku ternyata
bukan situasi yang buruk juga. Sama
seperti saat bersama Mari dan yang lain, aku tidak pernah merasa bosan
melakukannya pada Emu.
"Kai-senpai."
"Uu~m?"
"Soal ada
orang yang membuntutiku atau tidak, itu benar-benar tidak apa-apa jadi tolong
jangan dikhawatirkan, ya?"
"……Oke."
Benar juga, jika
Emu yang sekarang yang mengatakannya, berarti memang aman.
Setelah itu aku
menikmati dada Emu selama beberapa saat, lalu melepaskan hipnotisnya dan
menghabiskan sisa waktu kami.
Namun…… karena aku sudah tahu soal barang yang dibeli Emu
hari ini dan jati dirinya yang sebenarnya, sikapku jadi sangat kaku, dan tak
perlu dikatakan lagi, aku berkali-kali membuat Emu khawatir dan bertanya ada
apa denganku.



Post a Comment