NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Te ni Ireta Saimin Appli de Yume no Harem Seikatsu o Okuritai Volume 1 Chapter 8

Chapter 8

Aku Ingin Bertemu Gadis Normal

Beberapa hari telah berlalu sejak insiden yang menimpa Wazuma.

Sepertinya masalah tersebut tidak bisa selesai dalam sekejap mengingat betapa peliknya situasi yang ada, namun Wazuma akhirnya resmi berada di bawah perlindungan kakek dan neneknya.

Mulai dari sini, ini bukan lagi panggung bagi anak-anak sepertiku untuk ikut campur.

Tapi karena kakek dan neneknya sudah berjanji akan melindungi Wazuma apa pun yang terjadi, maka semuanya akan baik-baik saja... Dia, Wazuma, akhirnya benar-benar terbebas dari lingkungan tersebut dalam arti yang sesungguhnya.

"Masaki-kun, Mari-san, terima kasih banyak."

Saat dia kembali mengucapkan terima kasih, senyumannya benar-benar luar biasa.

Bukan hanya aku, tapi bahkan Aisaka pun sampai dibuat berdebar oleh daya hancur senyum itu; ingatan saat kami sempat terpana beberapa saat karenanya masih terasa sangat segar.

Terlepas dari itu semua, aku baru saja melewati waktu yang terlalu padat untuk dialami oleh seorang siswa SMA... Bisa melihat gadis-gadis yang terlibat denganku, yaitu Aisaka dan Wazuma, tetap sehat dan ceria, serta menjalani hari-hari di mana mereka tetap menyembuhkanku dalam kondisi terhipnotis seperti biasa, benar-benar sebuah kebahagiaan yang tiada tara.

"Akhir-akhir ini, sahabat kita sepertinya makin akrab ya dengan para gadis."

"Gadis-gadis cantik mengerumuni diriku yang suram di kelas... atau semacam itulah yang sedang kau pikirkan, kan, Kai!"

"…… Berisik kalian."

Jangan bicara sesuka hati, kataku sambil menyenggol pelan Akira dan Shogo.

Yah, bukan hanya soal masalah Wazuma saja, tapi karena sejak awal aku sudah sering mengobrol dengan Aisaka, maka menjadi akrab dengan mereka hanyalah masalah waktu.

Mungkin karena kami bertiga makin sering berkumpul dan mengobrol di sekolah, sempat ada rumor kurang menyenangkan tentang apakah aku telah melakukan sesuatu pada mereka... Aku hanya bisa menghela napas karena betapa rendahnya kepercayaan orang-orang padaku.

"Hah... aku ke toilet sebentar."

Setelah pamit, aku menuju toilet dan dalam perjalanan kembali setelah merasa lega, mataku menangkap sosok Aisaka dan Wazuma yang sedang berbincang di koridor.

Mereka pun menyadari keberadaanku, mengalihkan pandangan, dan menghampiriku seperti hal yang sudah sewajarnya.

"Yahho~ Masaki-kun♪"

"Baru dari toilet?"

"Begitulah, apa ada perlu?"

"Enggak, bukan begitu."

"Tadi Saika terus-terusan mencarimu lho, padahal dia sedang mengobrol denganku."

"I-itu... soalnya... umm... dia kan orang yang sudah menolongku."

Wazuma menunduk malu-malu sambil memainkan jari-jarinya. Melihat tingkahnya, Aisaka bergumam betapa imutnya dia, dan dalam hati aku pun mengangguk setuju dengan sangat kuat.

"Tidak usah menganggapku sebagai orang yang berjasa begitu. Aku cuma menolong karena memang ingin menolong."

"…… Masaki-kun."

"Lagipula, aku rasa pasti ada cara yang lebih cerdas. Bagaimanapun, aku yang masih bocah ini cuma bisa melakukan cara seperti itu; mengumpulkan bukti lalu mengandalkan orang dewasa."

Dan pengumpulan bukti itu pun bisa berhasil berkat kekuatan si Sobat... Kalau tanpa kekuatannya, entah apa yang bisa kulakukan.

"Masaki-kun."

"…… Apa."

"Kamu sadar tidak kalau ucapan 'menolong karena ingin menolong' itu keren banget? Menurutmu berapa banyak orang yang benar-benar bisa melakukannya?"

"Itu sih……"

"Aku tidak tahu bagaimana menurutmu, tapi bagiku, Masaki-kun yang bergerak demi menolong Saika itu sangat keren dan luar biasa."

Dia mengatakannya sambil tersenyum manis, membuatku menggaruk pipi karena malu.

Aisaka tertawa sambil menggodaku kalau aku sedang malu, lalu dia menyenggol bahuku seperti biasanya untuk terus mengejekku.

"Lagipula... aku juga pernah merasakan perhatian dari Masaki-kun. Dalam artian itu pun, aku tahu betapa hebatnya kamu♪"

"Kh... hentikan, jangan teruskan lagi."

"Yeee~ wajahmu sampai merah padam tuh."

Dia benar-benar memasang tampang mengejek... Fu-fu, kalau kau terus mengejekku seperti itu, aku punya rencana sendiri untukmu, Aisaka! Yah, hari ini aku ada urusan jadi 'hal itu' saat istirahat siang ditiadakan, tapi bersiaplah karena besok aku akan menikmatinya lagi!

"…… Omong-omong."

"??"

Wazuma memiringkan kepalanya saat menyadari tatapanku.

"Wazuma... atmosfermu berubah drastis ya?"

"Mungkin begitu. Soalnya rambutku dipotong."

Ya, poni panjang Wazuma telah dipotong sehingga area matanya terlihat jelas.

Hanya dengan perubahan kecil itu, kecantikan tersembunyi yang selama ini tertutup kini terpampang nyata.

Tentu saja sifat aslinya tidak berubah, tapi karena perubahan penampilan dan atmosfernya yang menjadi sedikit lebih cerah, kabarnya jumlah murid yang menyapa Wazuma mulai bertambah.

"Hati-hati ya, Saika. Kalau ada cowok aneh yang menyapamu, jangan sungkan untuk minta tolong."

"Iya, terima kasih Mari-san."

"Sip! Masaki-kun juga pasti akan menolong, kan?"

"Tentu saja."

Ya jelaslah aku pasti akan menolong. Melihat aku dan Aisaka yang saling mengangguk, wajah Wazuma makin memerah karena malu, tapi dia tersenyum dengan sangat bahagia dari lubuk hatinya.

"Saika imut bangettt!"




"Tu-tunggu, jangan menempel begitu—"

Dua gadis cantik yang sedang bercanda... Oh, lihat bagaimana dada mereka sampai berubah bentuk, ini benar-benar pemandangan terbaik!

Omong-omong, karena musim berganti pakaian sudah tiba, penampilan mereka sekarang terlihat jauh lebih sejuk.

Hanya dengan hilangnya lapisan pakaian yang biasa dipakai di atas kemeja, garis pakaian dalam yang samar-samar terlihat itu benar-benar menjadi penyegar mata yang luar biasa.

"Masaki-kun?"

"Wajahmu terlihat sangat bahagia ya?"

"O-oh, gawat, gawat."

Mendengar suara mereka, aku segera memasang ekspresi serius dan berwibawa. Setelah mengobrol sebentar, Wazuma kembali ke kelasnya. Aku dan Aisaka yang mengantarnya pun ikut kembali ke kelas... namun di tengah jalan, aku memanggilnya.

"Aisaka."

"Ada apa?"

"Baguslah kalau Wazuma sudah jadi ceria begitu, tapi bagiku, itu berlaku juga untukmu."

"Eh?"

Aku menunjuk ke arah lengannya. Berkat lengan baju yang digulung, kulitnya yang cantik terlihat jelas... dan bekas luka yang ada di sana kini sudah sangat tipis sampai-sampai tidak akan terlihat kecuali jika diperhatikan dengan sangat saksama.

Bagian yang selama ini dia sembunyikan, kini dia perlihatkan tanpa sadar... Bukankah itu juga merupakan perubahan besar bagi Aisaka?

"Anu... kuharap kau tidak menangkap ini dengan arti yang aneh, tapi—lenganmu cantik, lho."

"…… Ah."

Memuji lengan itu cantik... apa termasuk pujian ya? Ah, sudahlah... aku langsung merasa menyesal sekaligus malu, kenapa juga aku harus mengatakan hal seperti itu. Aisaka membelalakkan matanya mendengar kata-kataku, tapi...

"…… Iya! Terima kasih, Masaki-kun!"

Aisaka menunjukkan senyum yang lebih cantik dari ekspresi mana pun yang pernah kulihat darinya sampai sekarang.

◆◇◆

Nah, meskipun banyak hal terjadi akhir-akhir ini! Aku tidak boleh lupa bahwa aku adalah seorang bajingan yang mengejar cara untuk memperlakukan gadis-gadis sesuka hatiku.

Sepulang sekolah, aku berdiri di depan pintu yang menuju ke atap.

Di sisi lain, sepasang laki-laki dan perempuan sedang berhadapan. Di sana, sebuah drama pernyataan cinta dari seorang cowok kepada seorang cewek sedang berlangsung.

"Honma-san! Aku menyukaimu! Tolong jadilah pacarku!"

"Aku tidak tertarik. Apa kamu tidak paham kalau menyatakan cinta pada orang yang belum pernah bicara sama sekali dengannya itu hanya akan menyusahkan?"

Dan dalam sekejap, cowok itu ditolak mentah-mentah. Si cowok berseru minta maaf dengan suara keras, lalu berlari ke arah sini seperti tentara yang kabur dari medan perang.

Dia melewatiku yang sedang bersembunyi tanpa sadar dan berlari turun tangga.

"…… Tanpa ampun ya."

Honma Emu... dia adalah adik kelas yang sudah masuk dalam radar incaranku sejak awal.

Aku sudah dengar kalau dia sering menolak cowok dengan kata-kata yang cukup pedas, dan karena itu pula dia mendapat julukan 'Ratu Es'—entah siapa yang memulai.

Tapi ini pertama kalinya aku melihat momen penolakan itu secara langsung dari dekat.

"Ratu Es, ya... aku penasaran apa yang dia pikirkan tentang itu."

Yah, aku tinggal menghipnotisnya lalu bertanya langsung saja. Berpikir begitu, aku pun melangkah keluar menuju atap dengan penuh percaya diri.

"Honma."

"Anda... senior, kan?"

Tentu saja kemunculanku yang tiba-tiba membuat gadis cantik tipe cool seperti Honma terkejut. Bahunya sedikit bergetar karena suara pintu, dan itu terlihat imut.

(Berbahagialah Honma... kaulah gadis ketiga yang bersejarah yang akan kuperlakukan sesuka hati!)

Aku segera mengaktifkan si Sobat. Honma masuk ke kondisi hipnotis dan menatapku dengan pandangan kosong.

"Bagus, berhasil... Hei, Honma."

"Iya."

"Bagaimana perasaanmu sebenarnya dipanggil Ratu Es?"

"Selain memalukan, apa lagi? Siapa sebenarnya yang memulai panggilan itu?"

Wah... dia benar-benar sangat membencinya. Bahkan dalam kondisi terhipnotis pun dia menunjukkan sedikit amarah, sepertinya dia benci sekali dengan julukan Ratu Es itu. Mulai sekarang, aku tidak akan mengatakannya lagi bahkan sebagai candaan.

"Bawa aku ke rumahmu sekarang."

"Saya mengerti."

"Orang rumahmu?"

"Tidak ada. Sepertinya mereka baru akan pulang sekitar jam enam."

Kalau begitu pas sekali. Karena jika kami berjalan bersama di area sekolah atau sekitarnya pada saat yang sama, ada kemungkinan muncul rumor aneh.

Jadi aku membiarkan Honma berjalan lebih dulu, baru kemudian aku keluar sekolah... dan akhirnya kami bertemu di titik yang aman.

"Hal begini sih sudah jadi keahlianku."

Sesampainya di rumah Honma, aku langsung dipersilakan masuk ke kamarnya. Dia adalah orang ketiga setelah Aisaka dan Wazuma, tapi... jujur saja, aku terpana melihat rumahnya yang sangat megah.

"…… Luar biasa... sepertinya dia memang dari keluarga kaya."

Sambil berpikir bahwa rumah seperti ini sama sekali tidak ada hubungannya denganku, aku masuk ke kamar Honma dan tanpa sadar berdecak kagum lagi.

Kamarnya terasa imut khas anak perempuan, tapi lebih dari itu, kamarnya luas dan penuh dengan ketenangan... benar-benar seperti kamar seorang putri bangsawan.

Meski begitu, apa pun yang kulihat, tujuanku tetap satu!

"…… Fuhett, kalau begitu langsung saja—"

Aku merasa agak bersalah pada Aisaka dan Wazuma yang bersikap baik padaku di kondisi normal... Pikiran itu sempat melintas sesaat, tapi kalau aku mundur sekarang, aku bukan laki-laki namanya.

Ini adalah hari pertama bagi Honma... tetap saja ada ketegangan unik di sini. Baiklah, mari kita mulai. Aku pun mengucapkan kata-kata itu.

"Honma, lepaskan pakaianmu."

"Iya."

Melihat kulitnya memang bagus, tapi jenis pakaian dalam apa yang dia pakai juga merupakan objek pengamatan. Di depanku yang sedang menyeringai lebar, Honma yang menerima perintah mulai perlahan melepaskan seragamnya... dan area dadanya pun terlihat.

"Ooooh……"

Padahal dia gadis tipe cool, tapi dia memakai bra berwarna merah yang cukup mencolok... aku ingin bilang 'luar biasa', tapi ini benar-benar di luar dugaan.

"…… Ternyata Honma juga besar ya."

Memang tidak sebesar Aisaka atau Wazuma... yah, dua orang itu memang ukurannya spesial sih, tapi Honma juga punya aset yang lumayan.

"Mungkin sekitar D atau E Cup... ampun deh, sekolah kita ini benar-benar punya terlalu banyak siswi yang bentuk tubuhnya bagus."

Berarti 'mangsanya' juga banyak... Ah, omong-omong aku lupa menanyakan hal penting.

"Hei Honma, apa hubunganmu dengan orang tuamu buruk?"

"Tidak ada hal seperti itu. Ayah dan ibu sangat menyayangiku, dan aku pun sangat menyayangi mereka."

"…… Syukurlah."

Baguslah, sepertinya benar-benar tidak ada masalah keluarga, aku jadi tenang.

"Kalau begitu, roknya juga langsung GO!"

"Saya mengerti."

Pasatt, suara rok yang jatuh ke lantai terdengar... Aku langsung mengeluarkan suara kaget dan segera memalingkan wajah. Kenapa... KENAPA?!

"Ke-kenapa kamu tidak pakai celana dalam?!"

Mungkinkah celana dalamnya ikut melorot bersama roknya?! Berpikir begitu, aku melirik ke arah rok di lantai, tapi di sana sama sekali tidak terlihat benda seperti celana dalam... Eh?!

"Hari ini seharian saya memang tidak memakainya."

"…… What?"

A-apa maksudnya ini?

Maaf... aku benar-benar tidak paham apa yang terjadi—Lho?

Anak perempuan biasanya pakai celana dalam, kan?

Aku saja pakai celana bokser. Aisaka dan Wazuma juga pakai celana dalam, kan? Lho, lhooo?

"Kenapa kamu tidak memakainya?"

"Saya seorang M."

"…… Hmm? Namamu kan Emu (M), kan?"

"Benar."

"???"

Aneh... rasanya ada sesuatu yang tidak nyambung. Honma berjalan ke arah lemari, membuka laci, dan mengeluarkan berbagai macam benda.

"Rantai... borgol... tali... dan ini kan...!"

Aku tidak akan menyebutkan namanya, tapi aku pernah melihat mainan itu di suatu tempat!

Honma memperlihatkan benda-benda itu dengan wajah yang (entah kenapa) terlihat bangga. Sambil menunjuk ke arahnya, aku bergumam pelan.

"Jangan-jangan... kamu ini seorang penyimpang?"

"Penyimpang... mungkin saja begitu. Saya sangat suka disiksa oleh seseorang. Tergantung siapa orangnya, tapi membayangkan diri saya diserang saja sudah membuat saya bergairah... Ah, saya juga seorang penggila aroma tubuh."




"…… Huuu~"

Mendengar kata-kata Honma, aku menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak sekuat tenaga seolah-olah sedang meludahkan seluruh kekesalanku.

"Kenapa…… KENAPA SEMUA GADIS YANG AKU INCAR JADI SEPERTI INIIIIIIII!!"

Aneh…… ini benar-benar terlalu aneh, kan?! Padahal aku sudah lega karena dia tidak punya masalah keluarga atau trauma berbahaya yang perlu dikhawatirkan! Aku pikir aku bisa melakukan hal mesum dengan tenang, tapi malah jadi begini!

"Bukannya jadi lawan yang sempurna, ini malah levelnya ketinggian buatkuuu!"

Hei Sobat…… kau tidak sedang menjebakku, kan? Kau tidak sedang memanipulasiku untuk mendekati gadis-gadis yang punya 'kondisi' tertentu, kan?!

"…… Senior?"

"Eeei! Jangan memiringkan kepala dengan wajah datar seolah bertanya 'ada apa' begitu!"

Aku melontarkan protes pada Honma yang memiringkan kepalanya dengan polos.

"Diproses... dengan kasar... ahhh...!"

"Kenapa kamu malah malu-malu sambil membaca pikiranku sesuka hati?! Maksudku 'protes' itu bukan berarti 'mengasari', tahu?!"

…… Hmm? Bukannya tujuan akhirku memang ke sana……? Lho……? Tenang, pertama-tama hitung bilangan prima dulu supaya tenang…… 1, 3, 5, 6…… Sial, aku benar-benar panik sampai salah hitung!

"Nama Ratu Es-mu menangis kalau begini…… siapa sangka ternyata kamu ini Ratu Mesum—"

Begitu aku mengatakan itu, aku merasa pipi Honma merona merah…… Jangan-jangan dia malah senang dipanggil mesum?! Apa level kemesumannya sampai bisa menembus kondisi hipnotis?!

"…… Aneh…… Apa yang sebenarnya sedang aku lakukan."

Aku bergumam pelan, merasa muak dengan betapa menyedihkannya diriku.

Karena tidak salah lagi, Honma adalah seorang penyimpang…… tipe gadis yang justru senang jika dipaksa oleh lawannya. Kalau begitu, bukankah dia adalah target yang bisa kuperlakukan sesuka hati tanpa perlu merasa sungkan sedikit pun…… tapi…… TAPI AKUUUU!

"Saking syoknya, aku malah tidak bisa menyentuhnya…… betapa payahnya aku ini."

Bagian yang kukhawatirkan salah?

Harusnya menyentuhnya yang tidak boleh?

Berisik, aku sudah lama melewati tahap itu tahu…… sudah lewat ya lewat sajaaaa!

"Pokoknya pakai baju…… pakai lagi bajumu, ya?"

"Pakai baju? Anda serius tidak apa-apa?"

"Sudah, pakai saja!"

"…… Ternyata Anda pengecut ya."

"APA KATAMU?! Mau aku hajar beneran, hah?!"

"Iya."

"MAKANYA JANGAN MERONA BEGITU DONG!"

Kenapa aku harus merasa selelah ini hanya karena interaksi begini…… Kumohon, pertemukanlah aku dengan gadis yang normal sekaliiii sajaaaaa!!

Kekuatan supranatural bernama aplikasi hipnotis; takdir seperti apa yang akan dibawanya pada pemuda ini, dan akhir seperti apa yang menantinya…… kisah ini, baru saja dimulai.




Previous Chapter | ToC | End V1

Post a Comment

Post a Comment

close