NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 2 Chapter 13

Chapter 13

Persiapan


Aku mulai merasakan kejanggalan, tidak, sebuah anomali bahkan saat baru menuruni tangga. Terdengar suara dari arah bawah tangga. Suara gesekan yang merayap. Bunyi itu bahkan sampai terdengar hingga lantai atas.

Saat mencoba mendekat perlahan…… tampak semut-semut raksasa dengan panjang tubuh hampir satu meter memenuhi ruangan.

Semut-semut itu saling bertumpuk berlapis-lapis, mulai dari ruangan di Lantai Dua hingga memenuhi lorong di depannya dalam jumlah yang masif. Aku mengurungkan niat untuk menggunakan Appraisal karena ada kemungkinan mereka akan menyadari keberadaan kami.

Di dinding dan langit-langit, benda yang tampak seperti telur semut berderet rapat tanpa celah seujung jarum pun, pemandangan yang sangat menjijikkan.

Saat aku berpikir ingin membawa rocket launcher ke sini dan meledakkan semuanya dengan meriah, Clarice bergumam, "Rasanya persis seperti di dunia gim, ya." Sepertinya dia memikirkan hal yang sama persis denganku.

"Kak Ike, apa yang harus kita lakukan?"

"Kalau kita sembarangan menyerang, ini bisa jadi gawat…… Semuanya, apa ada saran?"

"Berada di sini saja sudah berbahaya, bagaimana kalau hari ini kita pulang dulu saja? Sepertinya ini benar-benar berbeda dari informasi yang kita dengar."

Mengikuti saran Clarice, kami semua membawa batu sihir dan bergerak menuju pintu keluar.

Musuh yang muncul di tengah jalan pulang kuhabisi semua dengan sihir. Soalnya, tangan yang lain sedang penuh membawa batu sihir.

Sambil berjalan kembali, aku menggunakan Appraisal pada Ike dan Clarice yang levelnya sudah naik.


[Nama] Ike Bryant

[Gelar] —

[Status] Manusia / Putra Sulung Keluarga Viscount Bryant

[Kondisi] Sangat Baik

[Usia] 11 Tahun

[Level] 25 (+4)

[HP] 147 / 147

[MP] 822 / 1.175

[Strength] 95 (+15)

[Agility] 72 (+12)

[Magic] 52 (+9)

[Dexterity] 41 (+7)

[Endurance] 90 (+14)

[Luck] 10

[Special Ability] Swordsmanship C (Lv 6 / 15) (4→6)

[Special Ability] Spearmanship B (Lv 8 / 17) (7→8)

[Special Ability] Fire Magic C (Lv 7 / 15) (6→7)

[Perlengkapan] Flame Lance, Salamander Sword, Ifrit Surcoat, Fire Bracelet


Ini pertama kalinya aku melakukan Appraisal pada Ike secara mendalam sejak aku terlempar ke Granzam. Dalam rentang waktu itu, dia bertambah usia dan pastinya menjadi lebih kuat, kini dia memiliki kemampuan setara petualang Peringkat C.

Berikutnya, Clarice.


[Nama] Clarice Lampard

[Gelar] —

[Status] Manusia / Putri Sulung Keluarga Baron Lampard

[Kondisi] Sangat Baik

[Usia] 8 Tahun

[Level] 25 (+4)

[HP] 120 / 120

[MP] 354 / 624

[Strength] 51 (+8)

[Agility] 55 (+9)

[Magic] 75 (+12)

[Dexterity] 83 (+15)

[Endurance] 51 (+7)

[Luck] 20

[Innate Ability] Barrier Magic G (Lv 1 / 5)

[Special Ability] Swordsmanship C (Lv 4 / 15) (3→4)

[Special Ability] Archery B (Lv 7 / 17) (5→7)

[Special Ability] Water Magic C (Lv 3 / 15) (2→3)

[Special Ability] Holy Magic A (Lv 7 / 19) (6→7)

[Perlengkapan] Defender, Magic Arrow, Saint Robe, Mysterious Anklet, Vow of Love Hairpin, Camouflage Bracelet


Karena Clarice terus menyusuri Labirin Ilgusia bahkan saat aku sedang membuat batu bata, kenaikan levelnya terasa sangat cepat. Dalam sekejap dia sudah melampauiku dan kini sejajar dengan Ike.

Karena dia menggunakan busur dan pedang, nilai Dexterity-nya tinggi, dan karena dia juga menggunakan sihir, Magic-nya pun meningkat. Kemampuan pelacak dari Ice Arrow yang baru-baru ini dia pelajari juga cukup mengerikan.

Matahari sudah benar-benar tenggelam saat kami keluar dari labirin.

Sambil menembus keriuhan kota, kami menuju Guild Petualang. Selain untuk menukarkan batu sihir, kami memutuskan untuk melaporkan kondisi Lantai Dua kepada Guild Master, Ralph.

Di tengah bau keringat yang menyengat, aku meminta Black Three Wolf Stars untuk mengantre menukarkan batu sihir, sementara kami bertiga menuju Lucia, putri Ralph yang bertugas di bagian resepsionis.

Saat itu, para petualang terkejut melihat jumlah batu sihir kami, namun mereka lebih terkejut lagi melihat para Beastman yang mengabdi di bawah seseorang.

"Ada hal yang ingin segera kami laporkan pada Tuan Ralph, bisakah Anda menghubungkan kami?"

"Ada apa? Tolong katakan dulu urusannya."

Saat Ike bertanya pada Lucia yang sedang melayani petualang lain, Lucia menghentikan tangannya dan mendengarkan kata-kata Ike dengan saksama.

Petualang yang sedang dilayani pun adalah orang yang pernah mengobrol bersama kami saat pesta perkenalan, jadi meski kami menyela di tengah-tengah urusan darurat, dia sama sekali tidak menunjukkan wajah kesal dan tetap tenang mengamati percakapan kami.

"Ada kemungkinan Labirin Almeria akan mengalami Labyrinth Saturation."

"————Ba-baiklah. Silakan lewat sini."

Kami mengikuti Lucia dan sampai di depan ruang Guild Master di lantai dua.

"Ada laporan dari putra-putra Viscount Sieg dari Ilgusia."

Begitu Lucia mengetuk, terdengar suara Ralph dari dalam ruangan.

"Masuk."

Lucia membuka pintu dan mempersilakan kami masuk, ternyata di dalam sudah ada tamu. Seorang kakek yang berpakaian rapi sedang duduk di sofa. Rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat…… Saat aku mencoba mengingatnya, Ralph segera memperkenalkan sosok tersebut.

"Kalian, beliau ini adalah penguasa perbatasan Carmel, Tuan Evin Saorum."

Margrave Carmel yang diperkenalkan oleh Ralph berdiri perlahan.

"Salam kenal, aku Evin Saorum."

Karena Margrave Carmel memperkenalkan diri dengan ekspresi tenang dan ramah, kami pun masing-masing memperkenalkan diri. Melihat itu, Ralph langsung menanyakan urusan kami.

"Jadi, ada apa dengan kalian? Aku dengar ada laporan mendesak?"

"Benar. Hari ini kami berniat menuju Lantai Dua Labirin Almeria, namun karena kondisinya tidak normal, kami memutuskan kembali untuk melapor."

"Lantai Dua? Kalian sudah sampai sejauh itu…… yah, bagi kalian itu hal yang wajar…… lanjutkan."

"Baik. Di Lantai Dua ada banyak sekali monster semut. Sampai-sampai bagian dalamnya tidak terlihat. Karena jumlah sebanyak itu tidak mungkin bisa ditangani sendiri, kami datang untuk melapor."

"Bahkan bagi kalian pun mustahil?"

"Kami tidak tahu kalau belum mencoba, tapi jika hasilnya adalah gagal…… Kami lebih baik menyerah setelah mencoba dalam kondisi paling prima, daripada memaksakan diri menghadapi mereka sendirian tanpa persiapan dan berisiko menghancurkan kota ini."

"Umu. Aku juga ingin melihatnya sekali, kalian, bisakah kalian mengantar kami sampai ke Lantai Dua labirin sekarang?"

Margrave Carmel menyambung perkataan Ralph.

"Aku juga ingin ikut. Bagaimanapun juga, itu adalah wilayah yang aku pimpin…… Maaf, tapi bisakah kalian juga menjadi pengawal pribadiku?"

"Kurasa tidak masalah. Karena kami menyusuri labirin bersama budak Beastman, kurasa jumlah personel kami cukup untuk mengawal……"

Mendengar itu, Margrave Carmel bertanya dengan ekspresi sedikit terkejut.

"Budak Beastman? Di mana kalian membelinya?"

"Di tempat Tuan Helic di Almeria."

"Apa para Beastman itu patuh begitu saja?"

"Tidak, Burns-sama dan adikku, Mars, sempat beradu tanding sedikit…… Melihat itu, para Beastman merasa mereka tidak keberatan melayani kami…… Tentu saja, Burns-sama sendiri saat ini masih belum berniat untuk melayani."

"Kalian bicara dengan Burns?"

"Benar. Hanya adikku saja. Beastman lainnya pun terkejut karena menurut mereka sangat jarang Burns-sama mau bicara dengan manusia."

"……Begitu ya…… Jadi para Beastman itu mau tunduk pada kalian……"

Melihat ekspresi Margrave Carmel, sepertinya dia memiliki perasaan yang cukup rumit.

"Saat ini kami sedang menukarkan batu sihir, apa Anda ingin segera berangkat?"

"Ya! Lebih cepat lebih baik. Bagaimana menurut Margrave?"

Margrave Carmel mengangguk pada ucapan Ralph. Saat keluar dari ruang Guild Master dan turun ke lantai satu, kami berpapasan dengan Black Three Wolf Stars yang masih mengantre.

Melihat Black Three Wolf Stars menundukkan kepala kepada kami seolah menunjukkan rasa hormat yang mendalam, Margrave Carmel kembali menunjukkan ekspresi terkejut.

"Sekarang kita akan masuk ke labirin lagi. Aku ingin kalian mengawal kedua orang ini."

"Dimengerti. Lalu bagaimana dengan batu sihir ini?"

Benar, batu sihir sebanyak itu tidak mungkin dibawa. Namun di sini Ralph menggunakan wewenangnya.

"Aku adalah Guild Master di sini. Meski kemampuanku sudah berkarat, aku masih bisa bertarung sedikit. Serahkan urusan penukaran batu sihir padaku, kalian bisa tenang. Aku minta kalian memprioritaskan pengawalan Margrave Carmel ini."

Ralph memanggil Lucia dan yang lainnya yang sedang bertugas di resepsionis, memerintahkan mereka membawa tumpukan besar batu sihir ke bagian dalam.

"Guy, begitulah urusannya. Aku minta kalian fokus mengawal Margrave Carmel. Kalau sudah pulang nanti, kita akan makan banyak hidangan daging!"

"Siap! Dimengerti!"

Mendengar ucapan Ike; Guy, Mack, dan Ol dari Black Three Wolf Stars menundukkan kepala.

Sambil melihat Margrave Carmel dan Ralph yang terkejut melihat sikap disiplin para budak Black Three Wolf Stars, kami bergegas menuju labirin.

"Sampai sehebat ini…… Semuanya setara Peringkat C ke atas, ya……"

Margrave Carmel dan Ralph terbelalak melihat cara bertarung kami. Dengan momentum itu, kami sampai di ruangan terakhir Lantai Satu. Yang ada di sana bukan Grizzly Bear, melainkan sekelompok Rock Lizard. Seperti biasa, aku, Ike, dan Clarice menghabisi mereka bertiga.

Saat Margrave Carmel dan Ralph memeriksa ke arah bawah tangga, mata mereka berdua membelalak.

"Apa-apaan…… pemandangan mengerikan ini…… Setidaknya saat Sieg dan yang lainnya masih di sini, semut…… tidak, Killer Ant harusnya tidak ada di sini…… Apa mungkin mereka datang ke Lantai Dua dari tempat yang lebih dalam……?"

Jadi semut ini namanya Killer Ant. Kepada Ralph yang memanggil Sieg tanpa gelar saking terkejutnya, Margrave Carmel bertanya.

"Bagaimanapun juga, yang pasti ini bukan situasi yang bisa dibiarkan…… Ralph, apa yang harus kita lakukan?"

"Margrave, bagaimana kalau kita kembali dulu? Di sini terlalu berbahaya untuk bicara."

Saat kami keluar lagi dari labirin, hari sudah larut malam. Saat masuk tadi, matahari terbenam menyinari Almeria, namun kini cahaya itu telah digantikan oleh lampu batu sihir.

"Maaf. Karena kami sudah menyusuri labirin sejak pagi, jujur saja kami sudah lelah. Bolehkah kami undur diri untuk hari ini?"

Mewakili Ike, aku mengajukan permohonan pada Margrave Carmel. Soalnya kami belum makan dan terus bergerak sejak tadi. Black Three Wolf Stars juga sudah lelah, dan yang terpenting, aku tidak ingin Clarice terjaga lebih lama lagi.

"……Begitu ya. Baiklah. Kalian sudah bekerja keras. Maaf, tapi bisakah besok kalian datang lagi ke Guild? Aku akan memberikan imbalan yang pantas."

Kami mengangguk pada ucapan Margrave Carmel, lalu bergegas menuju kediaman di mana Misa dan Rei sudah menunggu.

◆◇◆

Keesokan harinya. Margrave Carmel sudah berada di ruang Guild Master. Apa orang ini menginap di sini?

"Langsung saja, apa kalian punya saran?"

Saat Margrave Carmel bertanya pada kami, Ike memberi isyarat mata padaku untuk berbicara.

"Pertama-tama, kami tidak tahu kekuatan monsternya jadi agak sulit bicara. Tuan Ralph sepertinya tahu tentang monster itu, seberapa kuat mereka?"

Kemarin saat melihat semut-semut itu dia menyebutnya Killer Ant, jadi pasti dia tahu sesuatu.

"Ah, itu adalah monster bernama Killer Ant yang habitatnya ada di tempat seperti 'Hutan Kematian' di Perserikatan Lister. Tingkat ancamannya D. Kalau cuma satu memang bukan ancaman besar, tapi masalahnya ada di jumlahnya sebanyak itu……"

Memang benar, Killer Ant memenuhi ruangan sampai ke bagian terdalam.

"Kalau tingkat ancamannya D dan jumlahnya sekitar seribu ekor, kurasa masih mungkin untuk menghabisi mereka. Tapi akan sulit jika ada spesies tingkat tinggi di sana……"

"Apa itu maksudnya jika hanya ada seribu Killer Ant, kalian bertiga sanggup mengatasinya sendiri?"

"Kalau melawan seribu sekaligus di tanah lapang mungkin mustahil, tapi di dalam labirin, apalagi jika bertarung di tangga, kurasa ada caranya."

"Kalau seandainya kamu yang memegang komando, apa yang akan kamu lakukan?"

"Kalau aku…… pertama-tama aku akan memanggil tiga Party peringkat C dari Ilgusia, yaitu Brown Shield, Blue Fang, dan Red Wing. Lalu entah bagaimana caranya, aku akan membujuk para budak Beastman, dan bersama petualang tingkat atas di kota ini, kami akan bersiaga di ruangan terakhir Lantai Satu. Di sini yang terpenting adalah bantuan Burns-sama sangatlah krusial. Sebab jika musuh dari Lantai Tiga ke bawah ikut keluar, kami sendiri tidak akan sanggup menangani monster tingkat ancaman B."

Mendengar perkataanku, Margrave Carmel mengangguk seolah sudah menduganya.

"Begitu ya…… Ternyata memang sampai sejauh itu, ya…… Mari kita coba lakukan apa yang bisa dilakukan! Aku tahu apa yang akan diminta Burns, tapi…… yah, pasti mustahil…… Aku tahu ini sulit, tapi kami butuh kekuatan kalian. Kalian bisa mengharapkan imbalannya. Mohon bantuannya."

Margrave Carmel menundukkan kepala kepada kami bertiga yang masih anak-anak. Benar-benar berbeda dari bayanganku tentang bangsawan. Begitu juga dengan Count Beetle dulu, para bangsawan tinggi di dunia ini semuanya orang-orang baik. Mungkin hanya orang dengan kepribadian luar biasa yang bisa memimpin.

"Margrave Carmel, tolong angkat kepala Anda. Tentu saja, izinkan kami bertarung bersama. Ini juga merupakan tempat kami lahir. Ayah dan Ibu pasti juga akan memberikan bantuan."

"Terima kasih. Ternyata pilihanku menitipkan Almeria kepada Tuan Sieg adalah keputusan yang tepat……"

Margrave Carmel tampak sedikit berkaca-kaca, suaranya sedikit bergetar. Diputuskan bahwa besok kami akan memanggil Sieg dan yang lainnya untuk mengadakan pertemuan kembali.

◆◇◆

Setelah kembali ke rumah dan selesai makan malam, aku pergi sendirian ke labirin.

Tujuannya untuk melatih Lightning Magic. Saat aku melakukan Appraisal pada sihir petir, tertulis bahwa dibutuhkan latihan pengendalian mana yang cukup keras untuk menggunakannya.

Pertama-tama, aku mencoba menyelimuti tubuhku dengan sihir petir seperti saat beradu tanding dengan Burns.

Tak disangka, aura cahaya emas langsung menyelimuti tubuhku dengan mudahnya, padahal sebelumnya tidak pernah muncul meski dicoba berkali-kali.

Lho? Bukannya petir itu harusnya berwarna putih kebiruan? Aku baru benar-benar melihat petir sekali, yaitu saat aku datang ke dunia ini bersama Clarice. Yah, soal warna tidak perlu dipikirkan terlalu seriuslah.

Petir emas yang menyelimuti tubuhku ini sepertinya tidak memberikan kerusakan pada diriku sendiri. Begitu pula pada benda-benda yang kupakai.

Dan aku bisa berjalan sambil menyelimuti diri dengan petir ini. Saat terus berjalan di lorong labirin, di depanku tampak sekawanan Silver Bat.

Silver Bat sepertinya juga menyadari keberadaanku, dan mereka menyerangku yang sedang diselimuti petir. Saat aku mencoba menghindari serangan Silver Bat sambil berpikir bagaimana cara mengalahkan mereka dengan sihir petir, hal itu terjadi.

Petir yang menyelimuti tubuhku terlontar dengan sendirinya menuju Silver Bat.

Saat petir emas itu menembus Silver Bat, dentuman keras terdengar dan pandanganku menjadi serba emas. Sesaat kemudian, Silver Bat sudah berubah menjadi batu sihir. Silver Bat lainnya juga jatuh ke tanah akibat suara dan guncangan tersebut.

Ga-gawat sihir ini. Dipikir bagaimana pun, ini pasti tidak bisa dihindari. Begitu terlihat berkilat, serangan sudah mendarat. Kekuatannya juga tak terukur. Setidaknya tidak bisa dibandingkan dengan Fire Storm.

Aku memutuskan untuk menamai sihir menyelimuti petir ini dengan Tenrai. Konsumsi MP dari Tenrai ternyata mencapai 500. Benar-benar menguras MP.

Aku berpikir mungkin konsumsi MP bisa ditekan jika aku bisa mengatur kekuatannya, dan saat aku sedang bereksperimen, tiba-tiba terdengar suara manis yang sudah akrab di telingaku dari arah belakang.

"Mars? Kamu tidak apa-apa? Tadi ada cahaya dan suara yang luar biasa…… Apa yang sedang kamu lakukan?"

Saat menoleh, tampak sosok Clarice yang menatapku dengan cemas.

"Eh!? Kenapa…… kamu ada di sini?"

"Habisnya…… saat aku sedang beres-beres dengan Misa dan Rei, aku melihat Mars keluar rumah. Karena agak cemas, aku jadi mengikutimu."

Clarice berjalan mendekat dengan wajah sedikit merasa bersalah.

"Aku sedang latihan sihir. Soalnya ini jenis sihir yang akan merepotkan kalau ada orang atau barang di sekitar."

Aku mendekat untuk menyambut Clarice yang berjalan ke arahku, namun saat hendak memegang tangan Clarice, aku menyadari sesuatu. Aku belum melepaskan Tenrai!

"Bahaya!"

Sia-sia saja aku berteriak, petir emas dari tubuhku sudah merambat ke tangan kanan Clarice.

"Kyaaaaaaaa!!!"

…… …… …

"Lho, eh?"

Seharusnya Tenrai mengenai Clarice telak, tapi……

"Ka-kamu tidak apa-apa?"

"I-iya…… apa itu barusan……?"

Clarice bertanya sambil menatap tangan kanannya yang bercahaya dengan heran.

"Mungkin sihir yang sedang kulatih tadi mengenai Clarice…… tapi apa benar-benar tidak apa-apa? Itu sihir yang tempo hari melukai Burns-sama, jadi aku ingin cepat-cepat bisa menggunakannya. Tapi karena kupikir akan gawat kalau latihan di depan orang, makanya aku datang ke sini sendirian untuk latihan……"

"Sensasi barusan rasanya agak akrab…… kurasa, aku tahu perasaan ini."

Memang benar, aku pun entah kenapa merasa sihir ini memberikan kesan yang akrab.

"Ini sihir petir. Aku pun punya perkiraan. Mungkin ini sensasi saat kejadian di minimarket itu, ya?"

"Benar juga…… aku juga langsung berpikir begitu. Apa ini berarti aku punya ketahanan?"

"Mungkin saja……"

Atau mungkin berkat perlengkapan Saint Robe yang dia kenakan.

"Tunggu, aku akan berusaha agar tidak terlalu sakit, jadi bisakah kamu melepas pakaianmu dulu?"

Mendengar perkataanku, Clarice tertegun sejenak, namun kulit putih bersihnya perlahan merona merah padam.

"Tu-tunggu!? A-apa yang kamu katakan!? Di sini!? Kalau di sini aku tidak mau……"

Ah, cara bicaraku benar-benar buruk…… ini sih pasti terhitung kasus pelecehan seksual.

"B-bukan, bukan begitu maksudku. Aku berpikir mungkin berkat Saint Robe Clarice jadi tidak menerima kerusakan atau status kelumpuhan tersengat listrik. Sama sekali bukan maksud yang 'begitu'."

"Ah……! Makanya bicara yang jelas dong."

Sambil berkata begitu, Clarice melepas Saint Robe-nya. Gara-gara percakapan tadi, aku jadi mendadak sadar secara berlebihan, bahkan suara gesekan kainnya saja…… Aku berusaha keras membuang pikiran kotor dan berbicara senatural mungkin.

"Kalau begitu aku mulai, ya. Sebisa mungkin aku akan melakukannya dengan lembut…… maksudku tidak sakit…… maksudku…… pokoknya aku akan berusaha tidak melukaimu, tapi kalau terasa sakit sedikit pun, katakan saja, ya."

Rasanya apa pun yang kukatakan sekarang akan terdengar seperti kata-kata "ke arah sana". Namun sepertinya Clarice mengerti.

"Aku percaya padamu, Mars. Jangan kasar-kasar, lakukan dengan lembut, ya."

Dia menggoda sambil tersenyum, lalu menggenggam tanganku.

"Baiklah, aku mulai, ya?"

Menanggapi pertanyaanku, Clarice menatap mataku lekat-lekat dan mengangguk.

"Tenrai."

Begitu cahaya emas menyelimutiku, petir itu merambat dari tanganku ke tubuh Clarice, menyelimutinya dengan lembut seolah melindunginya.

"Ini berarti memang benar aku punya ketahanan, kan?"

"Sepertinya begitu. Kalau dipikir lagi sekarang, bahaya sekali kalau kamu tidak punya ketahanan. Aku terlalu gegabah. Maaf."

"Tidak apa-apa. Karena aku yakin kalau Mars pasti tidak akan apa-apa. Lagipula dengan begini aku bisa ikut menyusuri labirin bersamamu, kan? Meski itu Mars, aku tetap cemas kalau kamu sendirian di labirin ini."

"Terima kasih. Kalau begitu aku terima bantuanmu."

Aku melatih pengendalian kekuatan Tenrai agar bisa ditembakkan sesuai keinginanku. Sementara Clarice membawa buku sihir Holy Magic tingkat menengah dan berusaha mempelajari Cure yang tertulis di sana.

Sihir petir ini memiliki keluaran tenaga yang terlalu besar, sehingga mungkin membutuhkan Magic dan Dexterity yang cukup tinggi untuk mengendalikannya.

Aku merasa sudah bisa menahan kekuatannya sedikit, tapi tetap saja itu bukan sesuatu yang bisa ditahan oleh Silver Bat atau Rock Lizard.

Lagi pula, sekali Tenrai mengunci target, aku tidak bisa menarik kembali petirnya sesuai keinginanku. Lebih tepatnya, saat aku sadar, serangan sudah mendarat. Jadi ini bukan sihir yang bisa dikeluarkan sembarangan di depan orang banyak.

Ditambah lagi konsumsi MP-nya yang boros juga menjadi kendala. Buktinya meski baru latihan sebentar, sisa MP-ku sudah mendekati angka dua digit.

"Bagaimana? Apa kamu bisa mempelajari Cure?"

"Iya. Kurasa aku sudah mulai menangkap triknya, sedikit lagi mungkin……"

Saat aku melihat wajah Clarice yang sedang berusaha keras dari samping, cahaya putih terpancar dari tangan kanan Clarice.

"Yey! Aku bisa!"

"Selamat! Lain kali ajarkan aku juga, ya. Kalau terlalu larut nanti akan berpengaruh pada hari esok, jadi ayo kita pulang."

"Benar juga. Besok mungkin akan jadi pertarungan sungguhan, jadi mari segera kembali."

Aku menggandeng tangan Clarice dan kami berdua meninggalkan labirin.

Sesampainya di depan rumah, kami mencoba masuk secara diam-diam agar tidak ketahuan siapa pun, namun kami langsung ditemukan oleh ketiga anggota Black Three Wolf Stars. Pendengaran Beastman benar-benar mengerikan.

Setelah menjelaskan situasinya, mereka bilang meski mungkin lancang mencemaskan kami yang lebih kuat dari mereka, setidaknya tolong beri tahu kalau mau keluar rumah.

"Maafkan kami," jawab kami berdua sambil meminta maaf. Aku berpikir lain kali aku harus menghilangkan suara dan bau dengan sihir angin, kalau tidak kencan labirin berkedok latihan ini tidak akan bisa dilakukan lagi. Kemudian aku kembali ke kamar.

◆◇◆

Keesokan harinya. "Baiklah, mari segera kita mulai."

Sejak pagi buta, bersama Sieg dan yang lainnya yang datang dari Ilgusia, kami mengintai kondisi Lantai Dua Labirin Almeria, lalu mengadakan rapat strategi di ruang Guild Master.

Semua orang mengangguk pada ucapan Guild Master, Ralph. Di sana ada aku, Ike, Clarice, lalu Sieg, Maria, Party Blue Fang, Red Wing, Black Three Wolf Stars, dan Margrave Carmel.

"Aku sudah dengar garis besarnya dari Mars. Bagaimana dengan para Beastman?"

Saat Sieg bertanya pada Ralph, Margrave Carmel yang menjawab.

"Kemarin aku langsung bernegosiasi dengan para Beastman, dan selain Burns, semuanya bersedia membantu. Ternyata permintaan Burns memang seperti dugaanku. Maafkan aku."

"Apa sebenarnya permintaan Burns-sama?"

Ike melontarkan pertanyaan yang wajar.

"Dia bilang akan ikut bertarung jika kita membawa wanita bernama Flora ke Almeria. Yah, jika terjadi Labyrinth Saturation, dia akan menjalankan tugasnya sesuai kontrak, tapi pastinya kota ini akan menerima kerusakan……"

"Apa kita tidak bisa membawa Flora-san ke sini?"

"Yah. Flora sudah masuk ke Party peringkat A. Dia sudah tidak ada di Kerajaan Balkus. Sekarang dia pasti berada di suatu daerah dengan tingkat kesulitan tinggi atau di dekat labirin di suatu tempat di dunia ini."

Party peringkat A. Aku ingin bertemu mereka suatu saat nanti. Saat aku sedang memikirkan itu, kali ini Sieg bertanya pada Margrave Carmel.

"Apa ksatria Margrave tidak bisa digerakkan? Dan juga para petualang selain di sini."

"Umu. Mereka bisa digerakkan. Sebenarnya aku sudah mengirim pasukan ksatria ke sini, tapi tugas utama mereka adalah menjaga keamanan kota, dan mereka tidak pernah menyusuri labirin. Jadi jangan terlalu berharap. Aku sudah meminta petualang dari kota lain, tapi soal itu silakan tanya Ralph nanti. Dulu ada petualang hebat di Almeria, tapi mereka dikerahkan untuk perang. Dua petualang yang menjanjikan sudah menikah, dan sekarang sayangnya mereka adalah Viscount di wilayah Tenryo."

Margrave Carmel menjawab sambil menatap Sieg dan Maria.

"Mohon maaf. Margrave sudah sangat memperhatikan kami, padahal……"

"Tidak apa-apa. Lagipula aku juga mendapat bantuan dari anak-anak Viscount tersebut. Aku pun sangat berterima kasih padamu. Jika urusan ini selesai, bisakah kita bicara berdua…… tidak, bertiga dengan istrimu?"

"Baik. Saya mengerti. Namun sekarang mari kita fokus pada Labirin Almeria."

Margrave Carmel mengangguk, lalu Sieg segera angkat bicara sambil menatap semua orang.

"Baik. Mari kita bahas strateginya. Pertama soal hari pelaksanaan, lebih cepat lebih baik jadi kita lakukan besok. Musuh di Lantai Satu Labirin Almeria akan kita lewati dengan menyisakan satu ekor di tiap ruangan. Ini metode standar, tujuannya untuk mengamankan jalur mundur. Kecuali di ruangan pemunculan monster (spawn room), jika satu monster tidak dihabisi, monster baru di ruangan tersebut tidak akan muncul, kalian semua pasti sudah tahu itu."

Sieg mengedarkan pandangan, dan semuanya mengangguk kecuali aku dan Clarice. Aku ingat pernah mendengar hal itu lama sekali, tapi Clarice sepertinya sama sekali tidak tahu.

"Saat sampai di ruangan terakhir Lantai Satu, kita juga akan menyisakan satu monster. Hanya saja, untuk monster di ruangan ini, aku ingin kita sebisa mungkin mengikatnya."

Yah, dengan kekuatan tempur sebanyak ini, cuma mengikat monster harusnya perkara mudah.

"Pertempuran sesungguhnya akan dimulai dari sini, lokasi pertarungannya adalah di antara Lantai Satu dan Lantai Dua, tepatnya di area tangga. Kemungkinan saat kita menyerang satu ekor semut, sebagian besar semut akan menuju ke Lantai Satu. Di sana, aku ingin Mars melepaskan Tornado di dekat tangga untuk menyerang para semut. Sampai sini paham?"

Sieg mengonfirmasi pada Ralph dan Margrave Carmel, dan keduanya mengangguk.

"Kami pikir satu serangan Tornado saja mungkin bisa memberikan kerusakan yang lumayan tapi tidak akan menghabisi semuanya. Karena jumlah semut yang masif, kekuatan Tornado akan melemah, dan para semut kemungkinan akan lolos dari tornado dan masuk ke Lantai Satu. Strategi kita adalah menghabisi semut-semut yang sudah melemah saat masuk ke Lantai Satu tersebut."

"Apa tidak terlalu berlebihan meminta Mars-kun terus-menerus menembakkan sihir di tangga sendirian?"

"Benar. Jika MP Mars habis, rencananya kita akan menutup tangga dengan sihir tanah atau air. Karena itu, semua pengguna sihir tanah dan air harus menjaga agar tidak mengonsumsi MP. Jika kita bisa bertahan selama tiga jam, kurasa MP Mars akan pulih sedikit, setelah itu kita akan memutuskan tindakan berdasarkan situasi…… Selain itu, untuk memastikan jalur mundur, aku mohon larang petualang lain masuk ke labirin. Ada kemungkinan petualang lain akan membunuh monster yang sengaja kita sisakan. Untuk berjaga-jaga, akan lebih baik jika mereka bersiap di depan labirin……"

"Baiklah. Kita pakai rencana Sieg."

Setelah mendapat persetujuan Ralph, aku menambahkan perkataan Sieg.

"Mohon maaf sebelumnya. Apa yang Ayah katakan tadi adalah rencana dengan asumsi Burns-sama ikut bertarung. Jika Burns-sama tidak ikut bertarung, bagaimana kalau kita mencari cara untuk melibatkan dia secara paksa? Karena kurasa jika hanya kita saja, sudah pasti kita akan habis……"

"Maksudmu…… bertarung di dalam kota Almeria……?"

Margrave Carmel menanggapi perkataanku.

"Benar. Jika kita kalah dan Burns-sama bertarung sendirian melawan kawanan semut itu, apa yang akan terjadi? Meski Burns-sama menang, kurasa kota Almeria akan menerima kerusakan yang luar biasa."

"Memang benar…… Jika pertarungan di labirin dirasa terlalu berat, mungkin pilihan terbaik adalah segera mundur ke kota Almeria dan bertarung bersama Burns……"

"Bisa tolong sekali lagi membujuk Burns-sama?"

"……Mustahil…… setidaknya bagiku. Bolehkah aku meminta Mars-kun pergi sendirian sekarang? Kamu adalah satu-satunya manusia di sini yang dia akui. Apa pun yang kukatakan mungkin tidak akan membuatnya sadar akan besarnya masalah ini, tapi kalau Mars-kun yang bicara, mungkin saja dia bisa terbujuk."

Sejujurnya agak takut kalau pergi sendirian…… tapi karena ini permintaan Margrave Carmel, apa boleh buat.

"Baiklah. Saya akan mencoba bicara dengan Burns-sama."

Akhirnya strategi untuk besok diputuskan; jika metode pertarungan tadi membuat kami terdesak—tidak, sebelum kami terdesak, kami akan mundur dan entah bagaimana caranya melibatkan Burns dalam pertarungan di dalam kota.

"Ada urusan apa? Kupikir tidak ada lagi yang perlu kubicarakan denganmu?"

Entah kenapa Burns tidak berada di dalam kamar, melainkan di depan kamar.

"Benar. Saya datang untuk memohon sekali lagi agar Anda mau ikut ke Labirin Almeria."

"Berisik! Aku akan membantu kalau Labyrinth Saturation terjadi. Tapi sampai saat itu tiba, aku tidak berniat meninggalkan tempat ini!"

"Jika kami kalah di Labirin Almeria, kota Almeria ini juga akan menerima kerusakan besar. Namun jika kita bertarung bersama, kemungkinan kota Almeria menerima kerusakan akan menjadi lebih rendah."

"Aku tidak peduli apa yang terjadi pada kota ini. Aku hanya akan membantu demi kontrak. Kalau kalian habis, aku tinggal pergi dari sini."

Ugh. Apa cuma aku yang merasa perkataan Burns ini berantakan? Dia tidak berniat meninggalkan tempat ini…… tapi tidak peduli apa yang terjadi pada kota ini…… Saat aku sedang merenungkan hal itu sejenak, seekor singa muncul dari belakang Burns.

Di kepala singa itu terikat pita merah. Dan mata kirinya buta…… atau mungkin tidak, tapi dia menderita luka yang cukup parah. Mungkinkah yang berada di kamar yang sama dengan Burns adalah singa ini? Padahal tempo hari Burns memanggilnya gadis……

"Hei, cepat pulang. Sampai Flora dibawa ke sini, aku tidak akan bergerak dari sini."

"Terakhir. Apa yang akan Anda lakukan setelah membawa Flora-sama ke sini?"

"Sudah jelas, kan? Menyuruhnya menyembuhkan kutukan dan luka Elie ini."

Setelah berkata begitu, Burns menatap ke arah singa berpita merah itu. Jadi singa ini namanya Elie.

Hm? Menyembuhkan luka? Kalau begitu mungkinkah Flora itu……?

"Mungkinkah Flora-sama bisa menggunakan Holy Magic?"

"Ya, benar. Itulah sebabnya aku masuk ke Kerajaan Balkus, bukan Perserikatan Lister. Karena aku dengar di negara ini masih ada pengguna Holy Magic yang belum bergabung dengan negara atau Party mana pun."

"Flora-sama pasti pengguna Holy Magic yang hebat, ya, sampai bisa menyembuhkan kutukan."

"Mana mungkin. Menurut kabar yang kudengar, Flora hanya bisa menggunakan Heal. Yah, mungkin sekarang dia sudah sedikit lebih hebat. Hanya saja, aku pernah dengar dulu ada pengguna Holy Magic yang berhasil menyembuhkan kutukan. Aku akan menyuruhnya sampai dia bisa menyembuhkannya."

Burns menatapku tajam lalu melanjutkan.

"Hei. Kalau kamu menemukan Flora di suatu tempat, bawa dia padaku! Paham?"

"Saya mengerti. Namun jika kota ini hancur, saya tidak akan tahu lagi di mana Burns-sama berada……"

Kali ini Burns tampak ragu. Apa ini berarti sedikit lagi?

"Ayah memintaku pergi ke Sekolah Nasional Lister di Perserikatan Lister. Saat itu, mungkin saja aku bisa mampir ke berbagai tempat untuk mencari Flora-sama, tapi…… bagaimana menurut Anda?"

"Hei. Namamu Mars, kan? Datanglah lagi besok!"

Burns kembali ke kamar, dan singa berpita merah itu mengikuti Burns dari belakang.

Dia pasti akan memikirkannya sampai besok. Kemungkinan Burns tidak bisa bergerak bebas karena ada Elie. Tidak mungkin dia berpindah-pindah kota sambil melindunginya. Karena itu dia tidak bisa pergi mencari Flora…… mencari pengguna Holy Magic sendiri.

Jika dia sedikit saja percaya padaku, dia mungkin akan menerima usulanku tadi.

Lagi pula aku juga harus berdiskusi dengan Sieg setelah pulang. Yaitu soal apakah aku boleh memberi tahu Burns bahwa aku bisa menggunakan Holy Magic.

Kalau aku bisa menyembuhkan kutukannya, mungkin aku bisa melakukannya di sini, tapi aku tidak tahu sihir semacam itu.

Skenario terburuknya adalah, dengan aku menyembuhkan luka Elie, dia akan tahu aku bisa menggunakan Holy Magic dan aku akan dikurung terus sampai kutukannya sembuh.

Aku pun pulang ke rumah sambil terus berpikir.

◆◇◆

"Jadi begitu ceritanya…… Aku tidak setuju jika kamu memberi tahu bahwa kamu bisa menggunakan Holy Magic. Burns-sama mungkin punya pemikiran yang sama denganku. Jika singa bernama Elie itu adalah sosok yang paling berharga bagi Burns-sama, dia pasti akan memilih Elie daripada Almeria. Mudah membayangkan bagaimana dia akan memperlakukan Mars demi Elie. Sepertinya tidak ada pilihan lain selain bertarung di kota……"

Setelah kembali ke rumah, aku melaporkan percakapanku dengan Burns kepada Sieg, dan jawaban yang kuterima sesuai dugaanku.

"Benar. Namun jika bertarung di kota, penentuan waktu kapan harus mundur dari labirin juga menjadi sangat krusial. Jika kita bisa bertahan sedikit saja di labirin, kemungkinan kota Almeria menerima kerusakan juga akan berkurang……"

"Benar. Kalau bisa, Ayah yang ingin mengambil keputusan itu. Apalagi sebagian besar peserta labirin kali ini adalah orang Ilgusia. Menyerahkan nyawa penduduk Ilgusia pada orang lain itu agak gimana ya…… Pada akhirnya Margrave Carmel atau Ralph yang akan menentukan waktu mundur, tapi Ayah akan berusaha agar bisa ikut memberikan masukan. Ayah ingin tanya satu hal, monster tingkat ancaman seperti apa yang bisa Mars kalahkan?"

"Kalau aku sendirian, tergantung kecocokannya, kurasa aku bisa menang melawan musuh tingkat ancaman C…… Sepertinya aku lebih ahli melawan banyak musuh lemah daripada satu musuh kuat. Kurasa Burns-sama adalah kebalikanku."

"Bahkan Mars pun begitu, ya…… Menurutmu seberapa kuat musuhnya nanti?"

"Menurut Tuan Ralph, Killer Ant yang paling lemah saja tingkat ancamannya D. Dalam kasus Goblin, yang paling lemah tingkat ancamannya G, dan yang paling kuat adalah C. Mengingat hal itu, monster di sana pasti lebih kuat dari C. Menurutku tingkat ancamannya B ke atas."

"Kalau begitu…… bantuan Burns-sama memang wajib, ya…… Baiklah. Mari kita makan."

"Ayah. Bolehkah Ayah ikut menyusuri labirin bersamaku?"

Setelah selesai makan, aku bertanya pada Sieg yang sedang bersantai.

"Tentu saja. Ada apa memangnya?"

"Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan sebelum pertarungan besok. Kalau bisa Ibu dan Kak Ike juga ikut. Kurasa Clarice sudah tahu, tapi aku akan terbantu jika dia ikut juga."

Meskipun permintaanku mendadak, semuanya mengangguk setuju.

"A-apa itu barusan…… petir? Tapi warnanya emas?"

"Suara dentuman, getaran, dan kekuatannya. Semuanya adalah pengalaman baru bagiku."

Begitulah reaksi Sieg dan yang lainnya saat aku menunjukkan Tenrai.

"Benar. Ini adalah sihir petir. Sihir yang kupelajari saat diancam oleh Burns-sama, dan kekuatannya seperti yang Anda lihat. Kelemahannya, aku belum bisa mengendalikan sihir ini, dan aku tidak bisa merapalkannya di dekat siapa pun kecuali Clarice."

"Kenapa cuma di dekat Clarice bisa dirapalkan?"

Sieg melontarkan pertanyaan yang wajar, jadi aku menggenggam tangan Clarice, menjauh dari yang lain, lalu menggunakan Tenrai.

"Ba-bagaimana bisa…… bahkan Clarice juga menjadi keemasan?"

"Benar. Entah kenapa hanya Clarice yang tidak menjadi target Tenrai."

Aku memberikan alasan yang samar kepada Sieg yang terkejut. Soalnya aku tidak mungkin bilang kalau kami pernah tersambar petir Demi-God bersama-sama.

"Apa bukan karena efek perlengkapannya?"

Ike melontarkan pertanyaan yang sama dengan yang kupikirkan sebelumnya.

"Mars pernah menanyakan hal yang sama sebelumnya, jadi aku mencoba melepas perlengkapanku dan mencobanya, tapi hasilnya tetap sama."

Clarice menjawab dengan wajah sedikit memerah. Pasti dia teringat saat aku memintanya melepas pakaian.

"Jika terjadi sesuatu, aku berniat menggunakan sihir ini. Saat itu terjadi, bisakah Ayah memberi instruksi agar semua orang kecuali Clarice menjauh dariku?"

"Ya. Benar juga. Kalau digunakan di saat yang tepat, ini akan sangat efektif. Mars, terima kasih sudah memberi tahu, ini sangat membantu."

"Ternyata itulah alasan Mars berdua saja menyusuri labirin dengan Clarice…… Tadinya Ayah kira kalian sedang berkencan…… Maaf ya, Mars."

Sieg berterima kasih sementara Ike tampak mengerti. Ternyata kencanku di labirin dengan Clarice ketahuan oleh Ike, ya.

"Selain itu, Clarice sudah mempelajari sihir penetral racun bernama Cure, jadi tolong ingat hal itu juga. Aku juga berniat minta diajarkan oleh Clarice setelah pulang nanti."

"Luar biasa!? Dalam waktu singkat kalian sudah berkembang sangat pesat, ya. Baiklah. Besok kita harus bangun pagi. Mari kita pulang."

Setelah kembali ke rumah, aku menghabiskan waktu bersama Clarice sampai waktunya tidur dengan dalih minta diajarkan sihir Cure.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close