Chapter
11
Kekuatan
Baru
Keesokan harinya, setelah kembali ke Ilgusia dan
berkonsultasi dengan Sieg soal batu sihir di Almeria, keputusannya sudah bulat:
batu sihir itu harus ditukarkan menjadi uang.
Keluarga Bryant jelas termasuk golongan yang
berkecukupan di antara keluarga Viscount lainnya.
Namun, mulai sekarang biaya sekolah Ike, aku,
Clarice, dan Lina akan sangat membengkak. Terutama kami bertiga yang tertua,
kami akan bersekolah dan tinggal di negara lain. Aku bisa memahami kekhawatiran
Sieg.
"Aku sudah memikirkannya sejak lama, kurasa aku
akan membeli budak."
Mendengar ucapan Sieg, aku dan Clarice spontan saling
pandang. Bagi orang di dunia ini mungkin itu hal yang lumrah, tapi bagi kami
berdua, ada rasa enggan yang tersisa.
Apalagi kami sendiri hampir saja dijadikan budak. Aku
bertekad untuk terus menjaga kondisi mental Clarice.
Mengenai di mana kami akan membelinya, ternyata di
Almeria ada pedagang budak yang cukup besar.
Kami segera kembali ke Almeria bersama Sieg dan
menuju ke toko tersebut. Toko budak itu terletak di area timur laut kota,
wilayah yang belum pernah kukunjungi sebelumnya.
Begitu masuk, pemilik toko menyambut Sieg sambil
menggosok-gosokkan kedua tangannya dengan gaya pedagang yang menjilat.
"Tuan, tipe seperti apa yang Anda cari? Kami
baru saja kedatangan stok yang segar-segar, lho."
"Ah, soal itu putraku yang akan menjawabnya.
Ike, katakan keinginanmu."
Didorong oleh Sieg, Ike menyampaikan persyaratan yang
sudah kami siapkan.
"Kami mencari Porter (pembawa barang). Karena
itu, kami mencari orang dengan Strength dan Agility yang
tinggi."
"Mohon maaf, tapi tidak ada manusia yang
memenuhi kriteria tersebut," jawab pemilik toko dengan wajah menyesal.
Sieg menyela pembicaraan. "Berarti ada yang
bukan manusia?"
"Benar. Jika ras Beastman, banyak yang memenuhi
kriteria itu. Tapi mungkin Anda sudah tahu, Beastman tidak mudah mengakui
seseorang yang lebih lemah dari mereka sebagai tuan... Karena budak di sini
bukan budak kriminal, mereka juga punya hak untuk memilih..."
"Begitu ya. Kalau begitu tidak masalah. Boleh
kami melihat-lihat sebentar?"
Pemilik toko mengangguk ragu, lalu menuntun kami ke
bagian dalam toko.
Di sana terdapat sepuluh ruangan yang mirip dengan rumah
kontainer. Agar bisa dipantau dari luar, beberapa bagian ruangan dilubangi
kecil sehingga kami bisa mengintip ke dalam. Di dalamnya, para budak manusia
hidup dengan wajar. Ruangannya sangat bersih, lingkungan yang cukup memadai
untuk ditingali seperti apartemen biasa.
Satu kamar diisi oleh empat orang, dipisah antara
laki-laki dan perempuan. Dari sepuluh kamar, tujuh di antaranya terisi, total
ada dua puluh delapan orang. Karena dindingnya berlubang, tentu saja para budak
juga bisa melihat kami. Seperti halnya kami menilai mereka, mereka pun menatap
kami dengan mata yang seolah mengukur harga diri kami.
Melihat rona wajah para budak dan kebersihan ruangan,
terlihat jelas bahwa pemilik toko memperlakukan mereka dengan baik.
Aku sempat punya prasangka bahwa budak diletakkan di
lingkungan yang kumuh dan rendah, tapi sepertinya itu hanya prasangka burukku
saja.
"Mars, ada yang terlihat bagus?"
"Tidak, tidak ada yang sesuai kriteria."
Mendengar jawabanku, Sieg kembali meminta kepada
pemilik toko.
"Tunjukkan ras selain manusia juga. Sepertinya tidak
ada manusia di sini yang sanggup mengikuti petualang seperti kami."
"...Baiklah. Tapi izinkan saya memperingatkan satu
hal. Alasan kenapa tidak ada budak petualang manusia adalah karena mereka sudah
habis dibeli oleh para petualang di kota ini. Dan alasan kenapa budak Beastman
masih tersisa adalah karena mereka jauh lebih kuat daripada petualang di kota
ini, dan mereka punya harga diri tinggi untuk tidak melayani tuan yang
lemah."
Hmm... merasa ada yang janggal, aku pun bertanya.
"Kenapa Anda menyetok budak Beastman seperti itu?
Anda pasti tahu level petualang di kota ini, kan? Memberi makan budak
terus-menerus itu tidak murah."
"Itu untuk berjaga-jaga jika terjadi Stampede
(parade monster) atau saturasi labirin. Hanya saat situasi darurat seperti itu
saya bisa memaksa mereka bertarung. Saya sudah mengikat kontrak seperti itu
dengan mereka. Marquis Carmel memerintahkan saya untuk selalu menyediakan
Beastman unggul demi melindungi kota ini..."
Intinya, mereka ditempatkan di sini hanya untuk keadaan
darurat. Pemilik toko melanjutkan.
"Dulu di sini banyak petualang Peringkat B, jadi
mereka laku karena ada tuan yang diakui kekuatannya. Tapi sekarang... pemula
yang berbakat semuanya lari ke Ilgusia, sementara petualang Peringkat B atau
kelompok Peringkat B sudah pergi ke kota lain atau ke medan perang..."
Ternyata pengaruh Ilgusia sampai ke sini juga. Sepertinya
di masa depan Almeria akan ditelan oleh Ilgusia.
"Terima kasih atas penjelasannya. Tolong perlihatkan
pada kami. Soal negosiasi, biarkan kami yang melakukannya."
Pemilik toko mengangguk dan menuntun kami lebih jauh ke
dalam.
Tata ruangnya sama dengan kamar budak manusia tadi, tapi
satu kamar hanya diisi dua orang, sehingga ruangannya terasa jauh lebih luas.
Ada Beastman tipe anjing, kucing, serigala, beruang...
berbagai macam ras dengan rentang usia enam hingga tiga puluh tahun.
Para Beastman laki-laki menunjukkan taring dan tatapan
tajam yang mengancam saat melihat kami, sementara para perempuan menatap dengan
pandangan menghina seolah melihat kotoran. Keduanya seolah berteriak bahwa
mereka tidak akan pernah mengakui kami.
Dan di ruangan paling ujung, ada dua kamar yang digabung
menjadi satu untuk ditempati oleh seorang Beastman... dan seekor hewan. Kamar
itu dibuat khusus, bukan hanya ukurannya tapi interiornya pun jauh lebih mewah
dibanding kamar lain.
"Kenapa kamar ini sangat istimewa?"
Sieg bertanya, membuat pemilik toko menjawab dengan
gugup.
"Orang dewasa di ruangan ini dulunya adalah satu
dari dua belas Duke di Federasi Lister, Duke Seleance. Seperti yang Anda tahu,
Federasi Lister dijalankan oleh Dewan Meja Bundar dua belas Duke, tapi Duke
Seleance yang mewakili ras Beastman digulingkan melalui kudeta dan dibuang. Marquis Carmel membelinya dengan harga yang sangat tidak masuk
akal..."
"Lalu kenapa budak yang dibeli Marquis Carmel
dengan harga semahal itu ada di sini? Bukankah wajar jika dia ditempatkan di
dekat Marquis?"
Pertanyaan Sieg sangat masuk akal. Kenapa tidak
dijadikan bawahan saja setelah diberi gelar... Eh? Tunggu
sebentar. Apa jangan-jangan di sini juga soal kekuatan?
"Itu
karena... Duke Seleance menyatakan tidak mau menjadi bawahan Marquis Carmel
yang lebih lemah darinya..."
Segitu terobsesinya dia pada kekuatan. Saat aku mengintip
ke dalam ruangan khusus itu, terlihat seorang pria singa emas bertelanjang
dada, memamerkan otot-ototnya yang perkasa dengan tinggi badan lebih dari dua
meter.
Di sampingnya ada seekor singa dengan pita merah yang
lucu.
Tepat saat aku hendak melakukan Appraisal pada
pria dan singa itu...
Dinding ruangan yang tebal itu hancur berantakan, dan
bersamaan dengan itu, pria singa emas itu melesat keluar.
"—Apa!?"
Tanpa sempat terkejut, pria singa emas itu menyerang
dengan aura membunuh yang luar biasa. Kecepatannya berada pada level yang
nyaris tak bisa diikuti oleh mata.
Aku segera mengaktifkan Sylphid Enclosure dan
menggunakan Vision untuk memprediksi serangan.
Aku menggunakan Wind untuk meniup mundur Sieg,
Ike, Clarice, dan pemilik toko yang membeku karena aura membunuh itu, lalu
bermaksud melepaskan Wind Impulse untuk memukul mundur pria itu.
Namun, pria singa emas itu sama sekali tidak terpengaruh
oleh Wind Impulse. Dia sudah berada tepat di depanku
dalam posisi siap menyerang.
Perbedaan kekuatan kami terlalu jauh. Tidak peduli
tindakan apa yang kuambil, aku hanya bisa melihat masa depan di mana tinjunya
menghantam telak wajahku.
Demi meredam benturan itu, aku mengerahkan seluruh mana
ke dalam Sylphid Enclosure dan memasang posisi bertahan.
"Barrier!"
Tepat saat tangan kanan si pria singa emas hampir
menyentuh wajahku, suara Clarice menggema di ruangan itu. Meski ikut terlempar
oleh sihir Wind-ku, hanya Clarice yang berhasil lepas dari tekanan aura
membunuh dan memasang Barrier tepat di depanku.
Bersamaan dengan suara kaca pecah, lengan kanan pria
singa emas itu terpental balik.
Dia membelalakkan mata, menatap bergantian antara tangan
kanannya dan aku, tapi sedetik kemudian dia langsung mengincar kepalaku dengan
tangan kirinya.
"Uooooooooh!!!!"
Aku berteriak sambil mencoba menangkis tangan kirinya
dengan kedua tanganku, tapi Vision memperlihatkan tangan kiri pria itu
tetap akan mencapai wajahku. Aku tidak boleh menyerah di sini! Kalau aku mati,
Clarice dalam bahaya!
—Seketika itu juga.
Mana menyilaukan yang terwujud dalam warna emas
menyelimuti tubuhku. Jumlah mana yang tidak bisa dibandingkan dengan Sylphid
Enclosure.
Mana itu dilepaskan menuju tangan kiri yang mendekat. Sesaat ruangan itu diterangi cahaya keemasan, lalu disusul suara dentuman keras yang mengguncang seluruh bangunan.
Dentuman keras itu begitu dahsyat, hingga sanggup membuat
beberapa Beastman di ruangan lain pingsan seketika.
A-apa ini? Tinju raksasa di depanku tampak menghitam
hangus, dan pemiliknya—si pria singa emas—menunduk menatapku.
"Kamu, apa yang baru saja kamu lakukan?"
Begitu si singa emas membuka mulut, para budak Beastman
di sekitarnya tampak terperanjat. Namun, kali ini ekspresi dan
kata-katanya tidak lagi mengandung aura membunuh.
"A-aku tidak tahu."
Si pria singa emas menunjukkan ekspresi ragu, lalu
mengucapkan satu kalimat lagi.
"Masih mau lanjut?"
"Ti-tidak, dari awal aku tidak berniat berkelahi...
tapi, bolehkah aku bicara sebentar?"
"……Boleh saja."
"Kenapa Anda tiba-tiba menyerang?"
Dia menjawab pertanyaanku sambil memberikan tatapan tajam
yang mengintimidasi.
"Kamu tadi mencoba menilaiku, kan? Aku hanya
terpikir untuk sedikit menggertakmu."
Kalau diingat-ingat, Sasha pernah memperingatiku untuk
tidak menggunakan Appraisal sembarangan. Aku sudah berusaha berhati-hati
setelah mendengar itu, tapi tak kusangka aturan itu juga berlaku terhadap
budak.
"Mohon maafkan kelancanganku."
Aku menundukkan kepala, lalu kembali memohon dengan
sopan.
"Namaku Mars Bryant. Bolehkah saya mengetahui nama
Anda?"
"Burns.
Burns Leo."
"Burns-sama,
bolehkah saya melakukan Appraisal sekali lagi?"
"……Silakan."
"Terima kasih. Kalau begitu, permisi……"
[Nama] Burns Leo
[Gelar] Beast King
[Status] Beastman / Budak
[Kondisi] Tersengat Listrik (Lemah)
[Usia] 29 Tahun
[Level] 72
[HP] 320 / 420
[MP] 20 / 20
[Strength] 306
[Agility] 250
[Magic] 5
[Dexterity] 45
[Endurance] 278
[Luck] 1
[Special Ability] Taijutsu A (Lv 17 / 19)
Ini benar-benar di luar nalar... Padahal
dia sudah menahan diri sekuat tenaga tadi... Gelar "Beast King" itu
memang pantas untuknya.
Namun yang paling menarik perhatian adalah kondisinya
yang tertulis "Tersengat Listrik (Lemah)". Berarti, mungkinkah……
"Terima kasih sudah mengizinkan saya. Dan terima
kasih juga karena sudah menahan diri tadi."
Entah kenapa aku malah berterima kasih karena dia telah
berbelas kasihan. Jujur saja, baru sekarang aku merasa gemetar menyadari
perbedaan kekuatan yang luar biasa ini.
"Umu. Tidak masalah."
"Sekarang giliranku bertanya. Siapa sebenarnya kamu?
Apa yang tadi mementalkan tangan kananku? Dan apa yang terjadi dengan tangan
kiriku? Aku tidak bisa merasakannya sama sekali."
Aku tidak tahu harus menjawab sampai sejauh mana, jadi
aku melirik ke arah Sieg yang masih mematung.
Sieg tampak tersadar dari lamunannya lalu mengangguk
kecil. Sepertinya dia mengizinkanku untuk bicara jujur sampai batas tertentu.
"Aku adalah petualang Peringkat E. Yang mementalkan
tangan kanan Burns-sama adalah gadis di sana. Dan yang membuat tangan kiri Anda
menjadi seperti itu sepertinya adalah aku, tapi karena tadi aku sangat panik,
aku tidak tahu pastinya. Bolehkah aku melihat tangan Anda?"
Burns melirik ke arah Clarice sambil menyodorkan tangan
kirinya yang gosong kepadaku. Saat aku menyentuh tangan raksasa itu, aliran
mana berwarna emas terasa mengalir dari Burns ke tubuhku.
"Apakah sensasi di tangan kiri Anda sudah
kembali?"
"Ah, sudah."
Sambil melihat Burns membuka-tutup kepalan tangannya
untuk memastikan indranya kembali, aku melakukan Appraisal pada diriku
sendiri.
[Nama] Mars Bryant
[Gelar] Thunder God / Wind King /
Goblin Slayer
[Status] Manusia / Putra Kedua Keluarga
Viscount Bryant
[Kondisi] Sangat Baik
[Usia] 8 Tahun
[Level] 21
[HP] 130 / 130
[MP] 7.395 / 7.999
[Strength] 84
[Agility] 90
[Magic] 133 (+1)
[Dexterity] 115
[Endurance] 81
[Luck] 30
[Innate Ability] Talent (Lv MAX)
[Innate Ability] Heaven's Eye (Lv 8)
[Innate Ability] Lightning Magic S (Lv 1
/ 20) (0→1)
[Special Ability] Swordsmanship B (Lv 7 /
17)
[Special Ability] Fire Magic F (Lv 6 / 8)
[Special Ability] Water Magic G (Lv 3 / 5)
[Special Ability] Earth Magic G (Lv 4 / 5)
[Special Ability] Wind Magic A (Lv 14 /
19)
[Special Ability] Holy Magic C (Lv 6 / 15)
Ternyata benar-benar Lightning Magic! Aku
sanggup memberikan damage dan efek sengatan listrik pada lawan yang
bahkan tidak bergeming oleh Wind Impulse. Dan lagi, gelar "Thunder
God"? Padahal levelnya baru satu...
Ah, mungkin karena hanya aku satu-satunya orang di
dunia ini yang bisa memakai Lightning Magic, makanya aku mendapat gelar
itu. Hm?
Tapi kenapa Clarice tidak mendapat gelar untuk sihir
penghalangnya? Harusnya
itu juga sihir unik miliknya... Yah, dipikirkan pun tidak ada gunanya sekarang.
Mari fokus pada efek gelar Thunder God ini dulu.
[Thunder God]: Gelar yang diberikan kepada
mereka yang berdiri di puncak sihir petir di dunia ini. Meningkatkan kekuatan Lightning
Magic secara drastis. Mempercepat waktu perapalan sihir.
Luar
biasa. Terdengar agak berlebihan seperti karakter chuunibyou, tapi
"Thunder God" itu keren juga. Meski sebenarnya aku juga ingin
dipanggil "Thunder Emperor" sih...
"Urusanmu
sudah selesai, kan?"
Suara Burns menarikku kembali ke kenyataan.
"Eh? Ah... sebenarnya kami sedang mencari
budak..."
"Aku tidak akan melayani orang yang lebih lemah
dariku."
"Begitu... ya..."
"Tapi, dengan kemampuanmu, mungkin kawan-kawanku
yang lain bisa menerimanya. Kami pun tidak keras kepala ingin selamanya tidak
melayani siapa pun."
Burns berbicara sambil melirik ke arah para Beastman lain
yang tampak heboh.
Aku mencoba mempertajam pendengaranku untuk mencari tahu
apa yang membuat mereka begitu bersemangat. Ternyata selain soal sihirku tadi,
topik utamanya adalah fakta bahwa Burns mau bercakap-cakap dengan manusia.
Saat aku bertanya-tanya dalam hati mengapa hal seperti
itu bisa jadi seheboh ini, pemilik toko yang sudah lepas dari tekanan aura
membunuh mulai menjelaskan.
"Sejak Tuan Seleance tiba di Almeria, selain saya,
hanya Mars-sama lah satu-satunya manusia yang dia ajak bicara. Dia hanya mau
bicara dengan mereka yang kekuatannya dia akui."
Berarti, aku sudah sedikit diakui olehnya, ya.
"Kalau begitu, bolehkah saya menilai kalian
semua?"
Begitu aku bertanya pada para budak Beastman, mereka
mengangguk. Tatapan mereka bukan lagi tatapan mengancam seperti tadi, melainkan
tatapan penuh harapan.
Tepat saat aku hendak melakukan Appraisal pada
semuanya, Burns memberi peringatan.
"Jangan sentuh wanita di kamar paling ujung.
Sisanya, tanyakan pada orangnya langsung."
Sepertinya gadis yang bersama Burns tidak boleh dinilai.
Dia lebih terlihat seperti singa daripada manusia sih, tapi...
"Baiklah. Saya tidak akan menilai wanita di
ujung."
Status para Beastman ini didominasi oleh Strength
dan Agility yang tinggi, sementara Magic berada di level
terendah.
Setelah menyampaikan status mereka kepada Sieg—yang
tampaknya baru benar-benar pulih dari tekanan mental tadi—Sieg segera bertanya
pada pemilik toko.
"Aku ingin tahu harga mereka. Tentu saja selain Tuan
Burns dan wanita di ujung."
"Harga Beastman hampir sama dengan manusia, Tuan. Sekitar sepuluh keping emas per
orang."
Ternyata
lebih murah daripada di pelelangan budak. Seingatku di pelelangan harganya bisa
mencapai dua puluh sampai tiga puluh keping emas. Meski ada
satu orang yang waktu itu tidak laku sih.
"Namun, Anda harus bernegosiasi sendiri mengenai
perlakuan mereka setelah kontrak perbudakan dimulai."
Paham. Intinya kami harus memberikan gaji atau
sesuatu yang setara kepada mereka.
"Lalu, seperti yang mungkin sudah Anda ketahui,
hubungan seksual dengan budak dilarang keras kecuali ada kesepakatan bersama.
Mungkin tidak banyak yang mematuhi aturan ini, tapi saat transaksi nanti, saya
pasti akan mengonfirmasi hal tersebut."
Bagus! Ini poin yang sangat bagus! Alasan kenapa aku
merasa enggan dengan kata "budak" adalah karena poin ini selalu
mengusik pikiranku.
"Ayah,
berapa banyak yang akan Ayah beli?"
Ike
yang juga sudah pulih kini berdiri di samping Sieg dan bertanya.
"Hmm.
Kalau harganya sepuluh keping emas... kurasa tiga orang sudah cukup.
Bagaimana?"
"Benar
juga. Meski tugasnya mungkin hanya membawa batu sihir dari Dungeon
Almeria, kita tidak tahu kapan akan bertemu monster saat perjalanan pulang.
Rencana kita adalah menyisir Lantai Satu sebelum masuk ke Lantai Dua, jadi
butuh tiga orang agar perjalanan pulang-pergi tetap aman."
Begitu
Sieg menyatakan keinginannya untuk membeli tiga orang, pemilik toko langsung
merekomendasikan Beastman andalannya.
"Kalau
begitu, bagaimana dengan tiga bersaudara ini? Mereka dari ras Serigala. Sebagai
penjual, saya akan lebih tenang jika mereka dibeli oleh majikan yang
sama..."
Ketiga
orang yang diperkenalkan itu berusia enam belas tahun. Mungkin mereka kembar
tiga? Secara kemampuan, tidak jauh berbeda dengan Beastman lainnya.
[Nama] Guy Jet
[Gelar] —
[Status] Beastman / Budak
[Kondisi] Sangat Baik
[Usia] 16 Tahun
[Level] 24
[HP] 158 / 158
[MP] 5 / 5
[Strength] 70
[Agility] 52
[Magic] 1
[Dexterity] 12
[Endurance] 56
[Luck] 1
[Special Ability] Taijutsu C (Lv 8 / 15)
Guy berada di level petualang Peringkat C bawah
hingga Peringkat D atas. Adik keduanya, Mack, dan adik ketiganya, Ol, memiliki
status yang hampir serupa.
Selesai penilaian, pemilik toko menyuruh mereka
keluar ruangan untuk memberi salam.
"Aku Guy, putra sulung ras Serigala Hitam."
"Aku Mack, putra kedua." "Aku Ol, putra ketiga."
Ketiganya memiliki bulu berwarna biru kehitaman dengan
ujung ekor berwarna putih. Guy si sulung terlihat cocok dengan janggutnya. Mack
si anak tengah memiliki satu mata buta. Sementara Ol si bungsu memiliki tubuh
yang sangat besar.
Seketika sebuah nama terlintas di kepalaku. Mulai hari
ini, mereka adalah Tiga Serigala Hitam!
Saat Sieg menanyakan syarat kontrak pada mereka, Guy si
sulung menjawab.
"Jamin kebutuhan sandang, pangan, dan papan kami. Sediakan tempat tinggal di mana kami bertiga bisa tinggal bersama. Lalu
soal makanan, beri kami porsi yang melimpah setiap hari. Kami tidak
minta makanan mewah, tapi harus selalu ada daging. Jika Anda menjanjikan itu,
kami tidak butuh gaji tetap."
Wah... apa ini tandanya mereka "mahal"?
Sepertinya bagian tempat tinggal yang akan jadi masalah utama...
"Hmm... kalau begitu aku juga punya beberapa syarat.
Aku akan memenuhi semua permintaan kalian. Sebagai tambahan, aku akan
menyiapkan rumah untuk kalian tinggal bersama Ike dan yang lainnya. Namun, yang
akan mengikat kontrak perbudakan adalah aku sebagai kepala keluarga Bryant.
Jadi, kalian harus mematuhi perintahku. Setuju?"
Benar juga, para Beastman ini mengakui kekuatanku, tapi
belum tentu mengakui Sieg.
"Boleh saja. Lagipula Anda tidak akan ikut masuk ke
dalam Dungeon, kan?"
"Benar. Aku ini bangsawan yang dipercaya mengelola
Ilgusia. Aku tidak bisa lama-lama di sini. Tapi jika ada apa-apa, aku pasti
akan datang. Saat itu terjadi, kalian harus mematuhiku. Mengerti?"
Tiga Serigala Hitam itu mengangguk. Tiba-tiba pemilik
toko bertanya dengan nada penasaran.
"Sejak tadi aku merasa familier... apakah Tuan ini
adalah Sieg-san dari Brown Shield? Suami dari Maria-sama yang agung
itu...?"
"Maria
yang agung...? Yah, benar, itu aku."
"Benarkah!? Kalau begitu, lain kali jika Anda datang
bersama Maria-sama, saya akan beri pelayanan ekstra! Beliau pasti masih
secantik dulu, ya!"
Memang benar, punya ibu cantik itu banyak untungnya. Tapi
mendengarkan orang lain memuji penampilan ibuku sendiri rasanya agak aneh...
campur aduk antara senang dan malu.
"Baiklah. Besok aku akan datang lagi bersama
Maria. Jadi, tidak apa-apa kan kalau transaksinya besok?
Sekalian aku ingin membeli satu pelayan manusia."
Pemilik toko tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya,
dia menjawab dengan semangat berapi-api.
"Tentu saja! Saya akan menunggu besok. Saya harus segera pergi potong rambut dulu kalau begitu..."
Saking semangatnya, kata-katanya di bagian akhir
sudah tidak terdengar jelas lagi.
Di tengah pembicaraan, Burns sudah kembali ke
kamarnya dan berteriak marah pada pemilik toko.
"Helic! Cepat urus perbaikan ruangan ini!"
Yaaah... meski aku tidak akan pernah berani
mengatakannya, tapi dia sendiri yang menghancurkannya... Lagipula, gara-gara
sihir petirku, kamar budak lainnya juga mengalami kerusakan yang lumayan parah.
"Kalau begitu, sampai jumpa besok."
Setelah meninggalkan toko budak, rasa lelah luar biasa langsung menghampiriku sekaligus.



Post a Comment