NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 2 Chapter 11

Chapter 11

Kekuatan Baru


Keesokan harinya, setelah kembali ke Ilgusia dan berkonsultasi dengan Sieg soal batu sihir di Almeria, keputusannya sudah bulat: batu sihir itu harus ditukarkan menjadi uang.

Keluarga Bryant jelas termasuk golongan yang berkecukupan di antara keluarga Viscount lainnya.

Namun, mulai sekarang biaya sekolah Ike, aku, Clarice, dan Lina akan sangat membengkak. Terutama kami bertiga yang tertua, kami akan bersekolah dan tinggal di negara lain. Aku bisa memahami kekhawatiran Sieg.

"Aku sudah memikirkannya sejak lama, kurasa aku akan membeli budak."

Mendengar ucapan Sieg, aku dan Clarice spontan saling pandang. Bagi orang di dunia ini mungkin itu hal yang lumrah, tapi bagi kami berdua, ada rasa enggan yang tersisa.

Apalagi kami sendiri hampir saja dijadikan budak. Aku bertekad untuk terus menjaga kondisi mental Clarice.

Mengenai di mana kami akan membelinya, ternyata di Almeria ada pedagang budak yang cukup besar.

Kami segera kembali ke Almeria bersama Sieg dan menuju ke toko tersebut. Toko budak itu terletak di area timur laut kota, wilayah yang belum pernah kukunjungi sebelumnya.

Begitu masuk, pemilik toko menyambut Sieg sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya dengan gaya pedagang yang menjilat.

"Tuan, tipe seperti apa yang Anda cari? Kami baru saja kedatangan stok yang segar-segar, lho."

"Ah, soal itu putraku yang akan menjawabnya. Ike, katakan keinginanmu."

Didorong oleh Sieg, Ike menyampaikan persyaratan yang sudah kami siapkan.

"Kami mencari Porter (pembawa barang). Karena itu, kami mencari orang dengan Strength dan Agility yang tinggi."

"Mohon maaf, tapi tidak ada manusia yang memenuhi kriteria tersebut," jawab pemilik toko dengan wajah menyesal.

Sieg menyela pembicaraan. "Berarti ada yang bukan manusia?"

"Benar. Jika ras Beastman, banyak yang memenuhi kriteria itu. Tapi mungkin Anda sudah tahu, Beastman tidak mudah mengakui seseorang yang lebih lemah dari mereka sebagai tuan... Karena budak di sini bukan budak kriminal, mereka juga punya hak untuk memilih..."

"Begitu ya. Kalau begitu tidak masalah. Boleh kami melihat-lihat sebentar?"

Pemilik toko mengangguk ragu, lalu menuntun kami ke bagian dalam toko.

Di sana terdapat sepuluh ruangan yang mirip dengan rumah kontainer. Agar bisa dipantau dari luar, beberapa bagian ruangan dilubangi kecil sehingga kami bisa mengintip ke dalam. Di dalamnya, para budak manusia hidup dengan wajar. Ruangannya sangat bersih, lingkungan yang cukup memadai untuk ditingali seperti apartemen biasa.

Satu kamar diisi oleh empat orang, dipisah antara laki-laki dan perempuan. Dari sepuluh kamar, tujuh di antaranya terisi, total ada dua puluh delapan orang. Karena dindingnya berlubang, tentu saja para budak juga bisa melihat kami. Seperti halnya kami menilai mereka, mereka pun menatap kami dengan mata yang seolah mengukur harga diri kami.

Melihat rona wajah para budak dan kebersihan ruangan, terlihat jelas bahwa pemilik toko memperlakukan mereka dengan baik.

Aku sempat punya prasangka bahwa budak diletakkan di lingkungan yang kumuh dan rendah, tapi sepertinya itu hanya prasangka burukku saja.

"Mars, ada yang terlihat bagus?"

"Tidak, tidak ada yang sesuai kriteria."

Mendengar jawabanku, Sieg kembali meminta kepada pemilik toko.

"Tunjukkan ras selain manusia juga. Sepertinya tidak ada manusia di sini yang sanggup mengikuti petualang seperti kami."

"...Baiklah. Tapi izinkan saya memperingatkan satu hal. Alasan kenapa tidak ada budak petualang manusia adalah karena mereka sudah habis dibeli oleh para petualang di kota ini. Dan alasan kenapa budak Beastman masih tersisa adalah karena mereka jauh lebih kuat daripada petualang di kota ini, dan mereka punya harga diri tinggi untuk tidak melayani tuan yang lemah."

Hmm... merasa ada yang janggal, aku pun bertanya.

"Kenapa Anda menyetok budak Beastman seperti itu? Anda pasti tahu level petualang di kota ini, kan? Memberi makan budak terus-menerus itu tidak murah."

"Itu untuk berjaga-jaga jika terjadi Stampede (parade monster) atau saturasi labirin. Hanya saat situasi darurat seperti itu saya bisa memaksa mereka bertarung. Saya sudah mengikat kontrak seperti itu dengan mereka. Marquis Carmel memerintahkan saya untuk selalu menyediakan Beastman unggul demi melindungi kota ini..."

Intinya, mereka ditempatkan di sini hanya untuk keadaan darurat. Pemilik toko melanjutkan.

"Dulu di sini banyak petualang Peringkat B, jadi mereka laku karena ada tuan yang diakui kekuatannya. Tapi sekarang... pemula yang berbakat semuanya lari ke Ilgusia, sementara petualang Peringkat B atau kelompok Peringkat B sudah pergi ke kota lain atau ke medan perang..."

Ternyata pengaruh Ilgusia sampai ke sini juga. Sepertinya di masa depan Almeria akan ditelan oleh Ilgusia.

"Terima kasih atas penjelasannya. Tolong perlihatkan pada kami. Soal negosiasi, biarkan kami yang melakukannya."

Pemilik toko mengangguk dan menuntun kami lebih jauh ke dalam.

Tata ruangnya sama dengan kamar budak manusia tadi, tapi satu kamar hanya diisi dua orang, sehingga ruangannya terasa jauh lebih luas.

Ada Beastman tipe anjing, kucing, serigala, beruang... berbagai macam ras dengan rentang usia enam hingga tiga puluh tahun.

Para Beastman laki-laki menunjukkan taring dan tatapan tajam yang mengancam saat melihat kami, sementara para perempuan menatap dengan pandangan menghina seolah melihat kotoran. Keduanya seolah berteriak bahwa mereka tidak akan pernah mengakui kami.

Dan di ruangan paling ujung, ada dua kamar yang digabung menjadi satu untuk ditempati oleh seorang Beastman... dan seekor hewan. Kamar itu dibuat khusus, bukan hanya ukurannya tapi interiornya pun jauh lebih mewah dibanding kamar lain.

"Kenapa kamar ini sangat istimewa?"

Sieg bertanya, membuat pemilik toko menjawab dengan gugup.

"Orang dewasa di ruangan ini dulunya adalah satu dari dua belas Duke di Federasi Lister, Duke Seleance. Seperti yang Anda tahu, Federasi Lister dijalankan oleh Dewan Meja Bundar dua belas Duke, tapi Duke Seleance yang mewakili ras Beastman digulingkan melalui kudeta dan dibuang. Marquis Carmel membelinya dengan harga yang sangat tidak masuk akal..."

"Lalu kenapa budak yang dibeli Marquis Carmel dengan harga semahal itu ada di sini? Bukankah wajar jika dia ditempatkan di dekat Marquis?"

Pertanyaan Sieg sangat masuk akal. Kenapa tidak dijadikan bawahan saja setelah diberi gelar... Eh? Tunggu sebentar. Apa jangan-jangan di sini juga soal kekuatan?

"Itu karena... Duke Seleance menyatakan tidak mau menjadi bawahan Marquis Carmel yang lebih lemah darinya..."

Segitu terobsesinya dia pada kekuatan. Saat aku mengintip ke dalam ruangan khusus itu, terlihat seorang pria singa emas bertelanjang dada, memamerkan otot-ototnya yang perkasa dengan tinggi badan lebih dari dua meter.

Di sampingnya ada seekor singa dengan pita merah yang lucu.

Tepat saat aku hendak melakukan Appraisal pada pria dan singa itu...

Dinding ruangan yang tebal itu hancur berantakan, dan bersamaan dengan itu, pria singa emas itu melesat keluar.

"—Apa!?"

Tanpa sempat terkejut, pria singa emas itu menyerang dengan aura membunuh yang luar biasa. Kecepatannya berada pada level yang nyaris tak bisa diikuti oleh mata.

Aku segera mengaktifkan Sylphid Enclosure dan menggunakan Vision untuk memprediksi serangan.

Aku menggunakan Wind untuk meniup mundur Sieg, Ike, Clarice, dan pemilik toko yang membeku karena aura membunuh itu, lalu bermaksud melepaskan Wind Impulse untuk memukul mundur pria itu.

Namun, pria singa emas itu sama sekali tidak terpengaruh oleh Wind Impulse. Dia sudah berada tepat di depanku dalam posisi siap menyerang.

Perbedaan kekuatan kami terlalu jauh. Tidak peduli tindakan apa yang kuambil, aku hanya bisa melihat masa depan di mana tinjunya menghantam telak wajahku.

Demi meredam benturan itu, aku mengerahkan seluruh mana ke dalam Sylphid Enclosure dan memasang posisi bertahan.

"Barrier!"

Tepat saat tangan kanan si pria singa emas hampir menyentuh wajahku, suara Clarice menggema di ruangan itu. Meski ikut terlempar oleh sihir Wind-ku, hanya Clarice yang berhasil lepas dari tekanan aura membunuh dan memasang Barrier tepat di depanku.

Bersamaan dengan suara kaca pecah, lengan kanan pria singa emas itu terpental balik.

Dia membelalakkan mata, menatap bergantian antara tangan kanannya dan aku, tapi sedetik kemudian dia langsung mengincar kepalaku dengan tangan kirinya.

"Uooooooooh!!!!"

Aku berteriak sambil mencoba menangkis tangan kirinya dengan kedua tanganku, tapi Vision memperlihatkan tangan kiri pria itu tetap akan mencapai wajahku. Aku tidak boleh menyerah di sini! Kalau aku mati, Clarice dalam bahaya!

—Seketika itu juga.

Mana menyilaukan yang terwujud dalam warna emas menyelimuti tubuhku. Jumlah mana yang tidak bisa dibandingkan dengan Sylphid Enclosure.

Mana itu dilepaskan menuju tangan kiri yang mendekat. Sesaat ruangan itu diterangi cahaya keemasan, lalu disusul suara dentuman keras yang mengguncang seluruh bangunan.




Dentuman keras itu begitu dahsyat, hingga sanggup membuat beberapa Beastman di ruangan lain pingsan seketika.

A-apa ini? Tinju raksasa di depanku tampak menghitam hangus, dan pemiliknya—si pria singa emas—menunduk menatapku.

"Kamu, apa yang baru saja kamu lakukan?"

Begitu si singa emas membuka mulut, para budak Beastman di sekitarnya tampak terperanjat. Namun, kali ini ekspresi dan kata-katanya tidak lagi mengandung aura membunuh.

"A-aku tidak tahu."

Si pria singa emas menunjukkan ekspresi ragu, lalu mengucapkan satu kalimat lagi.

"Masih mau lanjut?"

"Ti-tidak, dari awal aku tidak berniat berkelahi... tapi, bolehkah aku bicara sebentar?"

"……Boleh saja."

"Kenapa Anda tiba-tiba menyerang?"

Dia menjawab pertanyaanku sambil memberikan tatapan tajam yang mengintimidasi.

"Kamu tadi mencoba menilaiku, kan? Aku hanya terpikir untuk sedikit menggertakmu."

Kalau diingat-ingat, Sasha pernah memperingatiku untuk tidak menggunakan Appraisal sembarangan. Aku sudah berusaha berhati-hati setelah mendengar itu, tapi tak kusangka aturan itu juga berlaku terhadap budak.

"Mohon maafkan kelancanganku."

Aku menundukkan kepala, lalu kembali memohon dengan sopan.

"Namaku Mars Bryant. Bolehkah saya mengetahui nama Anda?"

"Burns. Burns Leo."

"Burns-sama, bolehkah saya melakukan Appraisal sekali lagi?"

"……Silakan."

"Terima kasih. Kalau begitu, permisi……"


[Nama] Burns Leo

[Gelar] Beast King

[Status] Beastman / Budak

[Kondisi] Tersengat Listrik (Lemah)

[Usia] 29 Tahun

[Level] 72

[HP] 320 / 420

[MP] 20 / 20

[Strength] 306

[Agility] 250

[Magic] 5

[Dexterity] 45

[Endurance] 278

[Luck] 1

[Special Ability] Taijutsu A (Lv 17 / 19)


Ini benar-benar di luar nalar... Padahal dia sudah menahan diri sekuat tenaga tadi... Gelar "Beast King" itu memang pantas untuknya.

Namun yang paling menarik perhatian adalah kondisinya yang tertulis "Tersengat Listrik (Lemah)". Berarti, mungkinkah……

"Terima kasih sudah mengizinkan saya. Dan terima kasih juga karena sudah menahan diri tadi."

Entah kenapa aku malah berterima kasih karena dia telah berbelas kasihan. Jujur saja, baru sekarang aku merasa gemetar menyadari perbedaan kekuatan yang luar biasa ini.

"Umu. Tidak masalah."

"Sekarang giliranku bertanya. Siapa sebenarnya kamu? Apa yang tadi mementalkan tangan kananku? Dan apa yang terjadi dengan tangan kiriku? Aku tidak bisa merasakannya sama sekali."

Aku tidak tahu harus menjawab sampai sejauh mana, jadi aku melirik ke arah Sieg yang masih mematung.

Sieg tampak tersadar dari lamunannya lalu mengangguk kecil. Sepertinya dia mengizinkanku untuk bicara jujur sampai batas tertentu.

"Aku adalah petualang Peringkat E. Yang mementalkan tangan kanan Burns-sama adalah gadis di sana. Dan yang membuat tangan kiri Anda menjadi seperti itu sepertinya adalah aku, tapi karena tadi aku sangat panik, aku tidak tahu pastinya. Bolehkah aku melihat tangan Anda?"

Burns melirik ke arah Clarice sambil menyodorkan tangan kirinya yang gosong kepadaku. Saat aku menyentuh tangan raksasa itu, aliran mana berwarna emas terasa mengalir dari Burns ke tubuhku.

"Apakah sensasi di tangan kiri Anda sudah kembali?"

"Ah, sudah."

Sambil melihat Burns membuka-tutup kepalan tangannya untuk memastikan indranya kembali, aku melakukan Appraisal pada diriku sendiri.


[Nama] Mars Bryant

[Gelar] Thunder God / Wind King / Goblin Slayer

[Status] Manusia / Putra Kedua Keluarga Viscount Bryant

[Kondisi] Sangat Baik

[Usia] 8 Tahun

[Level] 21

[HP] 130 / 130

[MP] 7.395 / 7.999

[Strength] 84

[Agility] 90

[Magic] 133 (+1)

[Dexterity] 115

[Endurance] 81

[Luck] 30

[Innate Ability] Talent (Lv MAX)

[Innate Ability] Heaven's Eye (Lv 8)

[Innate Ability] Lightning Magic S (Lv 1 / 20) (0→1)

[Special Ability] Swordsmanship B (Lv 7 / 17)

[Special Ability] Fire Magic F (Lv 6 / 8)

[Special Ability] Water Magic G (Lv 3 / 5)

[Special Ability] Earth Magic G (Lv 4 / 5)

[Special Ability] Wind Magic A (Lv 14 / 19)

[Special Ability] Holy Magic C (Lv 6 / 15)


Ternyata benar-benar Lightning Magic! Aku sanggup memberikan damage dan efek sengatan listrik pada lawan yang bahkan tidak bergeming oleh Wind Impulse. Dan lagi, gelar "Thunder God"? Padahal levelnya baru satu...

Ah, mungkin karena hanya aku satu-satunya orang di dunia ini yang bisa memakai Lightning Magic, makanya aku mendapat gelar itu. Hm?

Tapi kenapa Clarice tidak mendapat gelar untuk sihir penghalangnya? Harusnya itu juga sihir unik miliknya... Yah, dipikirkan pun tidak ada gunanya sekarang. Mari fokus pada efek gelar Thunder God ini dulu.

[Thunder God]: Gelar yang diberikan kepada mereka yang berdiri di puncak sihir petir di dunia ini. Meningkatkan kekuatan Lightning Magic secara drastis. Mempercepat waktu perapalan sihir.

Luar biasa. Terdengar agak berlebihan seperti karakter chuunibyou, tapi "Thunder God" itu keren juga. Meski sebenarnya aku juga ingin dipanggil "Thunder Emperor" sih...

"Urusanmu sudah selesai, kan?"

Suara Burns menarikku kembali ke kenyataan.

"Eh? Ah... sebenarnya kami sedang mencari budak..."

"Aku tidak akan melayani orang yang lebih lemah dariku."

"Begitu... ya..."

"Tapi, dengan kemampuanmu, mungkin kawan-kawanku yang lain bisa menerimanya. Kami pun tidak keras kepala ingin selamanya tidak melayani siapa pun."

Burns berbicara sambil melirik ke arah para Beastman lain yang tampak heboh.

Aku mencoba mempertajam pendengaranku untuk mencari tahu apa yang membuat mereka begitu bersemangat. Ternyata selain soal sihirku tadi, topik utamanya adalah fakta bahwa Burns mau bercakap-cakap dengan manusia.

Saat aku bertanya-tanya dalam hati mengapa hal seperti itu bisa jadi seheboh ini, pemilik toko yang sudah lepas dari tekanan aura membunuh mulai menjelaskan.

"Sejak Tuan Seleance tiba di Almeria, selain saya, hanya Mars-sama lah satu-satunya manusia yang dia ajak bicara. Dia hanya mau bicara dengan mereka yang kekuatannya dia akui."

Berarti, aku sudah sedikit diakui olehnya, ya.

"Kalau begitu, bolehkah saya menilai kalian semua?"

Begitu aku bertanya pada para budak Beastman, mereka mengangguk. Tatapan mereka bukan lagi tatapan mengancam seperti tadi, melainkan tatapan penuh harapan.

Tepat saat aku hendak melakukan Appraisal pada semuanya, Burns memberi peringatan.

"Jangan sentuh wanita di kamar paling ujung. Sisanya, tanyakan pada orangnya langsung."

Sepertinya gadis yang bersama Burns tidak boleh dinilai. Dia lebih terlihat seperti singa daripada manusia sih, tapi...

"Baiklah. Saya tidak akan menilai wanita di ujung."

Status para Beastman ini didominasi oleh Strength dan Agility yang tinggi, sementara Magic berada di level terendah.

Setelah menyampaikan status mereka kepada Sieg—yang tampaknya baru benar-benar pulih dari tekanan mental tadi—Sieg segera bertanya pada pemilik toko.

"Aku ingin tahu harga mereka. Tentu saja selain Tuan Burns dan wanita di ujung."

"Harga Beastman hampir sama dengan manusia, Tuan. Sekitar sepuluh keping emas per orang."

Ternyata lebih murah daripada di pelelangan budak. Seingatku di pelelangan harganya bisa mencapai dua puluh sampai tiga puluh keping emas. Meski ada satu orang yang waktu itu tidak laku sih.

"Namun, Anda harus bernegosiasi sendiri mengenai perlakuan mereka setelah kontrak perbudakan dimulai."

Paham. Intinya kami harus memberikan gaji atau sesuatu yang setara kepada mereka.

"Lalu, seperti yang mungkin sudah Anda ketahui, hubungan seksual dengan budak dilarang keras kecuali ada kesepakatan bersama. Mungkin tidak banyak yang mematuhi aturan ini, tapi saat transaksi nanti, saya pasti akan mengonfirmasi hal tersebut."

Bagus! Ini poin yang sangat bagus! Alasan kenapa aku merasa enggan dengan kata "budak" adalah karena poin ini selalu mengusik pikiranku.

"Ayah, berapa banyak yang akan Ayah beli?"

Ike yang juga sudah pulih kini berdiri di samping Sieg dan bertanya.

"Hmm. Kalau harganya sepuluh keping emas... kurasa tiga orang sudah cukup. Bagaimana?"

"Benar juga. Meski tugasnya mungkin hanya membawa batu sihir dari Dungeon Almeria, kita tidak tahu kapan akan bertemu monster saat perjalanan pulang. Rencana kita adalah menyisir Lantai Satu sebelum masuk ke Lantai Dua, jadi butuh tiga orang agar perjalanan pulang-pergi tetap aman."

Begitu Sieg menyatakan keinginannya untuk membeli tiga orang, pemilik toko langsung merekomendasikan Beastman andalannya.

"Kalau begitu, bagaimana dengan tiga bersaudara ini? Mereka dari ras Serigala. Sebagai penjual, saya akan lebih tenang jika mereka dibeli oleh majikan yang sama..."

Ketiga orang yang diperkenalkan itu berusia enam belas tahun. Mungkin mereka kembar tiga? Secara kemampuan, tidak jauh berbeda dengan Beastman lainnya.


[Nama] Guy Jet

[Gelar]

[Status] Beastman / Budak

[Kondisi] Sangat Baik

[Usia] 16 Tahun

[Level] 24

[HP] 158 / 158

[MP] 5 / 5

[Strength] 70

[Agility] 52

[Magic] 1

[Dexterity] 12

[Endurance] 56

[Luck] 1

[Special Ability] Taijutsu C (Lv 8 / 15)


Guy berada di level petualang Peringkat C bawah hingga Peringkat D atas. Adik keduanya, Mack, dan adik ketiganya, Ol, memiliki status yang hampir serupa.

Selesai penilaian, pemilik toko menyuruh mereka keluar ruangan untuk memberi salam.

"Aku Guy, putra sulung ras Serigala Hitam." "Aku Mack, putra kedua." "Aku Ol, putra ketiga."

Ketiganya memiliki bulu berwarna biru kehitaman dengan ujung ekor berwarna putih. Guy si sulung terlihat cocok dengan janggutnya. Mack si anak tengah memiliki satu mata buta. Sementara Ol si bungsu memiliki tubuh yang sangat besar.

Seketika sebuah nama terlintas di kepalaku. Mulai hari ini, mereka adalah Tiga Serigala Hitam!

Saat Sieg menanyakan syarat kontrak pada mereka, Guy si sulung menjawab.

"Jamin kebutuhan sandang, pangan, dan papan kami. Sediakan tempat tinggal di mana kami bertiga bisa tinggal bersama. Lalu soal makanan, beri kami porsi yang melimpah setiap hari. Kami tidak minta makanan mewah, tapi harus selalu ada daging. Jika Anda menjanjikan itu, kami tidak butuh gaji tetap."

Wah... apa ini tandanya mereka "mahal"? Sepertinya bagian tempat tinggal yang akan jadi masalah utama...

"Hmm... kalau begitu aku juga punya beberapa syarat. Aku akan memenuhi semua permintaan kalian. Sebagai tambahan, aku akan menyiapkan rumah untuk kalian tinggal bersama Ike dan yang lainnya. Namun, yang akan mengikat kontrak perbudakan adalah aku sebagai kepala keluarga Bryant. Jadi, kalian harus mematuhi perintahku. Setuju?"

Benar juga, para Beastman ini mengakui kekuatanku, tapi belum tentu mengakui Sieg.

"Boleh saja. Lagipula Anda tidak akan ikut masuk ke dalam Dungeon, kan?"

"Benar. Aku ini bangsawan yang dipercaya mengelola Ilgusia. Aku tidak bisa lama-lama di sini. Tapi jika ada apa-apa, aku pasti akan datang. Saat itu terjadi, kalian harus mematuhiku. Mengerti?"

Tiga Serigala Hitam itu mengangguk. Tiba-tiba pemilik toko bertanya dengan nada penasaran.

"Sejak tadi aku merasa familier... apakah Tuan ini adalah Sieg-san dari Brown Shield? Suami dari Maria-sama yang agung itu...?"

"Maria yang agung...? Yah, benar, itu aku."

"Benarkah!? Kalau begitu, lain kali jika Anda datang bersama Maria-sama, saya akan beri pelayanan ekstra! Beliau pasti masih secantik dulu, ya!"

Memang benar, punya ibu cantik itu banyak untungnya. Tapi mendengarkan orang lain memuji penampilan ibuku sendiri rasanya agak aneh... campur aduk antara senang dan malu.

"Baiklah. Besok aku akan datang lagi bersama Maria. Jadi, tidak apa-apa kan kalau transaksinya besok? Sekalian aku ingin membeli satu pelayan manusia."

Pemilik toko tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya, dia menjawab dengan semangat berapi-api.

"Tentu saja! Saya akan menunggu besok. Saya harus segera pergi potong rambut dulu kalau begitu..."

Saking semangatnya, kata-katanya di bagian akhir sudah tidak terdengar jelas lagi.

Di tengah pembicaraan, Burns sudah kembali ke kamarnya dan berteriak marah pada pemilik toko.

"Helic! Cepat urus perbaikan ruangan ini!"

Yaaah... meski aku tidak akan pernah berani mengatakannya, tapi dia sendiri yang menghancurkannya... Lagipula, gara-gara sihir petirku, kamar budak lainnya juga mengalami kerusakan yang lumayan parah.

"Kalau begitu, sampai jumpa besok."

Setelah meninggalkan toko budak, rasa lelah luar biasa langsung menghampiriku sekaligus.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close