NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 3 Chapter 6

Chapter 6

Karen


"Pernah dengar soal Ujian Labirin?"

Beberapa hari kemudian sepulang sekolah, Clarice menanyakan hal itu saat kami bertiga—bersama Elie dan Misha—sedang berkeliling melihat-lihat fasilitas sekolah.

"Ujian Labirin? Belum, memangnya kenapa?"

"Katanya, begitu kartu tanda siswa diterbitkan, kita akan langsung masuk ke labirin. Aku dengar dari wali kelas, penentuan kelas resmi bakal bergantung pada hasil ujian itu."

Sepertinya kecepatan informasi juga berbeda-beda tergantung kelasnya, ya.

"Begitu ya. Ngomong-ngomong, apa rasanya nyaman di Kelas S?"

Mendengar pertanyaanku, mereka bertiga saling pandang.

"Hmm... kurasa rasa kompetisinya sangat tinggi. Terutama antara Baron dan Dominic."

Clarice memiringkan kepalanya, lalu Misha menimpali.

"Benar juga. Saat pelajaran ilmu pedang, mereka berdua benar-benar terlihat ingin saling menjatuhkan."

Jadi mereka rival, ya? Yah, itu hal yang bagus sih.

"Bagaimana dengan Karen yang peringkat satu itu?"

Saat aku bertanya tanpa maksud apa pun, Clarice menjawab sambil sedikit mengernyit.

"Dia agak sulit didekati. Tadi aku menyapanya, tapi dia sangat dingin. Mungkin dia sedang punya masalah. Oh iya, sebaiknya kamu pakai sebutan hormat padanya. Orang-orang dari kelas lain yang mengerumuni Karen-sama itu sangat berisik kalau soal tata krama... Eh, panjang umur, itu dia."

Aku mengikuti arah pandangan Clarice dan melihat sosok Karen yang sedang berjalan sendirian menuju suatu tempat.

Karena kami tidak punya tujuan khusus, langkah kaki kami secara alami mengikuti Karen dari belakang.

Tempat yang dituju Karen adalah gimnasium, tempat yang sama di mana aku mengikuti pelajaran Fire Magic hari ini.

Latihan Fire Magic memang hanya diperbolehkan di tempat-tempat tertentu yang sudah ditentukan.

Bahaya kalau berlatih sembarangan di sekitar sini lalu apinya menyambar bangunan.

"Ayo kita intip sedikit."

Misha mencoba mengintip ke dalam gimnasium, sementara Clarice menyahut,

"Misha, itu tidak sopan, lho."

Tapi meski berkata begitu, Clarice tetap ikut mengintip di belakangnya.

Yah, aku juga penasaran latihan seperti apa yang dilakukan Karen.

Sambil menarik tangan Elie, aku mengintip ke dalam gimnasium, dan di sana tampak pemandangan yang sulit dipercaya.

Bola-bola api berwarna putih kemerahan menari-nari di udara mengikuti kehendak Karen, melesat ke sana kemari. Rasanya seolah-olah bola api itu memiliki nyawa sendiri.

"Cantik sekali... Ternyata Fireball bisa dikendalikan sebebas itu..."

Clarice bergumam tanpa sadar, dan di saat itulah Karen menyadari keberadaan kami.

Seketika itu juga, bola-bola api itu lenyap tanpa sisa.

"Kalian..."

Saat Karen berjalan mendekat, aku menyampaikan kesan jujurku.

"Maaf karena sudah mengintip tanpa izin. Tapi tadi itu sungguh hebat, aku sampai terharu. Kapan-kapan tolong ajari aku juga."

Namun, reaksi Karen sangatlah dingin.

"Wajahmu memang tidak ada cela, tapi kamu 'tanpa warna'. Kalian juga jangan sampai tertipu oleh pria semacam ini. Kalau sampai kalian mengalami hal buruk darinya, adukan padaku. Dan satu lagi, sebagai teman sekolah aku ingatkan, demi keselamatanmu sendiri jangan sembarangan melakukan Appraisal pada orang lain."

'Tanpa warna' maksudnya adalah seragam yang tidak memiliki garis warna. Itu adalah istilah ejekan untuk Kelas E.

Dan ternyata tindakanku melakukan Appraisal saat upacara penerimaan memang ketahuan... tapi ini bukan waktunya untuk merasa kagum.

Mendengar kata-kata itu, Elie langsung meledak.

"……Tidak kumaafkan……!"

Dengan rasa permusuhan yang meluap-luap, Elie menerjang ke arah Karen.

"Elie! Berhenti—"

Namun, sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku, mata Karen lebih dulu menangkap sosok Elie. Elie tiba-tiba membeku di tempat, seolah melawan hukum inersia.

"——Ugh!?"

"Tak kusangka kamu yang biasanya tidak tertarik pada pria akan bereaksi sejauh ini."

Inikah Charm Eye!? Tidak, aku dengar Charm Eye hanya bekerja pada lawan jenis, jadi mungkin ini Binding Eye.

Tapi sekarang bukan waktunya untuk terpesona. Aku segera merangkul bahu Elie yang masih memancarkan aura permusuhan pada Karen.

"Saya minta maaf karena dia tiba-tiba menyerang! Jadi, tolong lepaskan belenggu pada Elie!"

Aku menuntut Karen agar membebaskan Elie.

"Dia sudah bisa bergerak sekarang. Elie, jika aku menyinggung perasaanmu, aku minta maaf. Tapi ingatlah satu hal ini. Aku tidak punya niat untuk bermusuhan denganmu."

Karen pergi meninggalkan gimnasium dengan rambut merah darahnya yang bergoyang, sementara pandanganku terus mengikuti punggungnya.

"Jadi itu tadi Binding Eye... Bagaimana rasanya?"

Beberapa saat setelah Karen pergi, kami juga meninggalkan tempat itu.

"……Tidak bisa gerak……"

Elie menjawab dengan nada kesal.

Hanya dengan Binding Eye saja dia sudah sangat kuat, apalagi terhadap lawan jenis pergerakannya bisa dikendalikan sesuka hati. Itu benar-benar kemampuan cheat.

"Elie. Besok kalau bertemu Karen-sama, kamu harus minta maaf, ya."

Clarice mencoba menasihati Elie, tapi...

"……Tidak mau…… Mars…… dihina……"

Elie menggelengkan kepalanya.

"Cara bicaranya mungkin buruk, tapi dia pasti hanya mengkhawatirkan kita. Bicaralah baik-baik dan minta maaf. Aku juga akan ikut minta maaf bersamamu."

"Aku juga akan ikut. Lagipula ini berawal dariku yang mengajak mengintip."

Setelah dibujuk oleh Clarice dan Misha, akhirnya Elie mau mengerti.

Katanya, besoknya mereka berhasil minta maaf dengan lancar.

◆◇◆

Beberapa hari kemudian, pukul empat pagi.

Setelah menyelesaikan latihan pagi, karena masih ada sedikit waktu luang, aku menuju gimnasium tempat latihan Fire Magic.

Aku tidak bisa melupakan Fireball milik Karen yang kulihat tempo hari. Setiap ada waktu luang, aku berlatih sendirian, tapi sesering apa pun aku mencoba, aku tidak bisa mengendalikannya sesuai kehendak seperti Karen.

Bagaimana caranya menghentikan Fireball yang melesat dengan kencang secara tiba-tiba?

Lalu, kalau aku meluncurkannya dengan pelan, aku masih bisa membelokkannya sekitar sembilan puluh derajat, tapi aku tidak bisa memutar balik arahnya seratus delapan puluh derajat seperti Karen.

Bahkan saat aku bertanya pada guru Fire Magic, beliau juga angkat tangan.

Hari ini pun gagal ya... Saat aku menundukkan bahu dan hendak berbalik pergi, ternyata Karen sudah berdiri di sana.

"Ternyata kamu bukan petarung garda depan melainkan seorang penyihir, ya. Terlebih lagi, pengguna Fire Magic yang cukup hebat. Aku tertipu oleh bentuk tubuhmu itu."

Aku sama sekali tidak menyangka Karen akan mengajakku bicara duluan.

Padahal sebelumnya dia terlihat sangat membenciku.

"Iya. Benar, aku seorang penyihir. Tapi aku tidak bisa menghentikan Fireball seperti Karen-sama. Yah, aku tidak berniat menyerah, sih."

Saat aku mencoba berjalan melewati Karen, ia memberikan balasan yang tak terduga.

"Bukannya dihentikan. Tapi dibuat berputar di tempat."

"Eh?"

"Makanya kamu gagal terus, karena kamu mencoba menghentikan Fireball itu secara paksa di tempat. Awalnya, fokuslah untuk membuatnya berputar membentuk lingkaran kecil. Jika sudah terbiasa, kecilkan lingkaran itu perlahan-lahan sampai akhirnya ia akan terlihat berhenti di tempat."

Karen mewujudkan Fireball seolah ingin memberikan contoh, lalu meluncurkannya lurus ke depan.

Begitu Fireball itu mencapai titik yang diinginkan, bola api itu berputar membentuk lingkaran besar.

Perlahan-lahan lingkaran itu mengecil, dan akhirnya berhenti dengan sempurna di tempatnya.

Begitu rupanya! Jadi begitu caranya!

"Terima kasih banyak!"

"Kurasa butuh waktu sampai kamu terbiasa, jadi lakukanlah pelan-pelan. Oh iya, perhatikan juga sisa MP-mu. Kalau berlebihan, nanti bisa mengganggu pelajaran... Eh!? Kenapa bisa?"

Sepertinya Karen mencoba melakukan Appraisal padaku, tapi gagal.

Memang sepertinya Appraisal tidak mempan padaku.

"Sepertinya aku punya kondisi tubuh yang unik sehingga tidak bisa diidentifikasi. Bahkan Duke Regan bilang Charm Eye pun tidak mempan padaku."

"Charm Eye juga?"

"Iya. Mau coba?"

Saat aku bertanya pada Karen yang sedang terkejut, ia menjawab,

"Tidak... Kalau Charm Eye Duke Regan saja tidak mempan, sudah pasti milikku juga tidak akan mempan. Kemampuan itu boros energi, tidak boleh digunakan sembarangan."

Heh... jadi boros energi, ya. Aku mendapat informasi yang bagus.

Berarti kalau dia bertarung mengandalkan Charm Eye, dia akan kesulitan dalam pertarungan jangka panjang.

"Tapi, kenapa kamu mau mengajariku?"

Karena sikapnya jelas berbeda dari sebelumnya, aku pun memberanikan diri bertanya. Karen menunjukkan wajah yang sedikit kesepian.

"Hampir semua murid kelas satu memilih pelajaran Water Magic, kan? Kamu tahu kan kalau sudah menguasai Water Magic, akan sulit untuk mempelajari Fire Magic?"

Aku baru tahu hal ini setelah masuk sekolah. Ternyata Fire Magic berpasangan dengan Water Magic, begitu juga Earth Magic dengan Wind Magic. Jika menguasai salah satunya, maka yang lain akan sulit dipelajari.

"Iya. Aku sudah mempelajarinya di kelas."

"Bukan cuma kelas satu, di angkatan mana pun murid-murid selalu mengambil Water Magic, kan? Akibatnya, jumlah orang yang bisa menggunakan Fire Magic otomatis berkurang. Aku tidak bisa membiarkan situasi itu. Rasanya seolah-olah Fire Magic dianggap lebih rendah daripada Water Magic."

"Tapi tempo hari saat aku minta diajari, sepertinya kamu tidak mau mengajariku..."

Aku ingat jelas karena saat itu Elie meledak gara-gara kata-kata Karen.

"Ada banyak orang yang mendekatiku dan minta diajari hanya agar bisa mengambil hati atau memanfaatkanku. Maaf, tapi aku sempat mengira kamu adalah salah satu dari mereka."

Memang benar sih, mendekati dengan cara seperti itu adalah yang paling praktis.

"Begitu ya. Sepertinya aku juga sempat salah paham. Terima kasih banyak atas semua ajarannya!"

Aku meninggalkan gimnasium, sementara Karen masuk ke dalamnya.

Setelah berjalan sedikit, aku menoleh ke belakang. Cahaya Fireball yang bersinar terang tampak menerangi kegelapan subuh yang belum berakhir.

◆◇◆

"Ada sesuatu yang terjadi dengan Karen-sama?"

Sore harinya, saat kami berempat sedang menghabiskan waktu bersama, Clarice menanyakan hal itu padaku.

Berbeda dari biasanya, suaranya terdengar sedikit tegang.

"Iya. Aku bertemu Karen-sama saat latihan pagi. Aku bertanya soal Fire Magic padanya."

Aku menceritakan percakapanku dengan Karen apa adanya kepada Clarice.

"Begitu... Karen-sama adalah putri kedua dari keluarga Duke Flesvaldt yang memiliki lambang api, jadi mungkin perasaannya terhadap Fire Magic lebih kuat dari orang lain... Tunggu, Mars melakukan latihan pagi?"

"Iya. Aku ingin segera menang melawan Cyrus-sensei. Aku mulai dengan maraton, lalu latihan otot, baru kemudian latihan mengayun pedang. Tiga hari sekali aku meliburkan latihan otot untuk pemulihan, nah saat itulah aku pergi latihan Fire Magic. Kebetulan hari ini jadwalnya. Memangnya kenapa?"

"Hmm... tumben sekali... tidak, ini baru pertama kalinya Karen-sama yang mengajak bicara duluan. Dia bertanya padaku tentang Mars."

"Ah, aku juga ditanya tadi? Kenapa Mars bisa ada di Kelas E."

Bukan cuma Clarice, Misha juga ditanya? Padahal dia bisa tanya langsung padaku.

"Mungkin dia merasa ada ikatan karena kami sesama pengguna Fire Magic."

Apalagi dia sedang merisaukan sedikitnya pengguna Fire Magic.

"Hei... Boleh tidak aku ikut latihan pagi juga? Ah, tapi kalau kamu keberatan tidak apa-apa..."

Suaranya mengecil di akhir kalimat, seolah takut ditolak.

"Latihannya mulai jam tiga pagi, lho. Tidak apa-apa?"

Inilah alasannya kenapa aku tidak mengajak siapa pun.

Aku pun sadar kalau itu terlalu pagi.

Lagipula, aku tahu Clarice bisa bangun pagi, tapi Elie itu sangat sulit bangun pagi.

Kalau aku mengajak Clarice, Elie pasti akan ikut, jadi aku merasa kasihan dan tidak berani mengajak mereka.

"Tentu saja! Aku pasti ikut! Elie bagaimana?"

"……Aku…… juga ikut……"

Ternyata Elie juga ikut-ikutan.

"Serius? Itu pagi sekali, lho?"

"……Iya…… akan berusaha……"

Elie mengepalkan tangannya sambil tersenyum.

Lalu Misha juga mengangkat tangannya sedikit.

"Boleh aku ikut juga? Ada sesuatu yang ingin kucoba."

"Baiklah! Kalau begitu, besok pagi jam tiga kumpul di depan gedung sekolah kelas satu, ya?"

"""Iya!"""

Besok pagi aku bisa bertemu Clarice dan yang lainnya.

Pikiranku hanya dipenuhi oleh hal itu.

Tanpa menyadari apa yang ada di dalam hati Misha.

◆◇◆

Besoknya, 20 Januari.

"Hah... hah... akhirnya selesai..."

"……Mau mati……"

Sudah satu jam sejak aku, Clarice, Elie, dan Misha mulai maraton.

Misha tumbang di tengah jalan, tapi Clarice dan Elie berhasil mengikutiku sampai garis finis di hari pertama ini.

"Kalian berdua memang hebat. Kupikir kalian tidak akan kuat mengikutiku, tapi ternyata luar biasa."

Aku memberikan gelas yang kubuat dari sihir tanah berisi air hasil sihir Water kepada mereka berdua yang sedang terkapar.

"Bisa mengikutimu saja sudah merupakan perjuangan mati-matian... Masih butuh waktu lama sebelum aku bisa melakukan lari interval sepertimu, Mars."

"……Iya…… mustahil……"

Maraton yang kumulai untuk memperkuat fungsi jantung dan paru-paru ini sebenarnya kusisipkan lari sprint sekuat tenaga setiap sepuluh menit sekali.

Karena ada saatnya aku harus menaikkan "gigi" di tengah pertempuran.

Ngomong-ngomong, saat Misha melihatku menaikkan kecepatan, dia malah merapalkan Wind pada dirinya sendiri untuk berakselerasi... tapi ke arah yang salah.

Sepertinya dia berniat merapalkan Wind di punggungnya, tapi karena kelelahan, dia malah memegang pinggangnya dan merapalkan Wind di sana.

Dia pun terpental dengan dahsyat ke arah tanaman pagar yang terawat, dan langsung gugur sepuluh menit setelah mulai.

Tadi saat aku ingin menjemput Misha, dia berkali-kali bilang bisa pulang sendiri dan menyuruhku lanjut maraton, jadi aku terus berlari. Tapi tetap saja aku merasa khawatir.

Aku memberitahu Clarice dan Elie yang sudah kelelahan bahwa aku akan pergi ke tempat aku berpisah dengan Misha. Ekspresi Clarice sedikit mendung.

"Mars. Tolong jaga Misha, ya. Belakangan ini, aku merasa dia sedang memikirkan sesuatu dengan sangat dalam..."

Memikirkan sesuatu? Sepertinya dia terlihat biasa saja bagiku.

"Baiklah. Aku pergi dulu. Aku sudah memeriksa sekitar dengan Search dan tidak ada orang. Jika kalian mau pakai Sacred Magic, sekaranglah saatnya, tapi Elie tolong tetap waspada."

Aku berbisik pelan pada Clarice lalu pergi dari sana.

Misha sedang duduk tertunduk di dekat tanaman pagar.

"Misha. Kamu tidak apa-apa?"

Misha tampak terkejut melihatku datang menjemputnya.

"Eh!? Mars!? Iya... aku tidak apa-apa kok."

Dia menjawab dengan tegar, tapi mata Misha yang diusapnya dengan terburu-buru itu terlihat merah dan bengkak.

"Maaf ya, aku duduk di sini sebentar."

Begitu aku duduk di sampingnya, tak lama kemudian Misha mulai terisak.

"Clarice... Elirin... mereka hebat, ya... Mereka sampai finis, kan?"

Aku tidak menjawab dan menunggu kata-kata Misha selanjutnya.

"……Rasanya aku…… sangat memalukan, ya…… Clarice bisa melakukan apa saja, Elie adalah spesialis pertarungan jarak dekat. Karen-sama adalah pengguna Fire Magic nomor satu di angkatan kita…… Baron dan Dominic juga punya kelebihan masing-masing…… cuma aku yang tidak punya apa-apa. Aku cuma bisa tersenyum dan menjaga perasaan semua orang."

Emosi Misha perlahan meluap, suaranya mulai bergetar.

Sambil memeluk lututnya dan menyembunyikan wajah di sana, ia melanjutkan.

"Maaf ya... padahal aku sendiri yang bilang ingin ikut... Tapi mulai besok, kalian bertiga saja yang latihan. Kalau ada aku, aku cuma bikin kalian semua merasa tidak enak. Tiga tahun lalu, aku belum benar-benar tahu kemampuan kalian berdua, makanya aku berani menulis hal-hal besar di surat kalau aku ingin berjuang bersama. Tapi sekarang setelah tumbuh dewasa, aku sadar. Aku hanya menjadi penghambat bagi kalian."

Perasaan yang selama ini ia pendam meluap keluar, air mata mengalir di pipi Misha seolah-olah bendungan telah runtuh.

Sepertinya tekanan berada di Kelas S benar-benar berat baginya.

Mungkin desas-desus di sekitarnya juga sampai ke telinganya.

Bahkan rumor itu pun sampai terdengar olehku.

"Misha. Mungkin sulit dipercaya, tapi ada yang ingin kuceritakan padamu."

Aku berbicara dengan suara selembut mungkin, seperti saat kami tertangkap bersama dulu. Misha menjawab dengan suara yang hampir menghilang.

"……Iya."

"Sebenarnya, aku punya sesuatu yang sangat tidak kukuasai, dan aku sudah gagal berkali-kali."

"—!?"

Misha mendongakkan wajahnya, tampak sangat terkejut dengan ucapanku.

"Ada banyak hal yang bisa dilakukan orang lain, tapi aku tidak bisa melakukannya. 'Orang lain' yang kumaksud di sini bukan cuma orang-orang seperti Clarice, Elie, atau mereka yang masuk Kelas S, tapi termasuk mereka yang gagal masuk ke sekolah ini."

"Masa sih…… benarkah?"

"Iya. Tapi aku tidak menyerah. Aku terus berusaha, terus dan terus. Menurutmu bagaimana hasilnya?"

Ini adalah cerita dari kehidupanku yang sebelumnya, tapi sosok itu tetaplah aku yang sekarang.

"Karena itu Mars, kamu pasti akhirnya bisa, kan? Kalau Mars, rasanya kamu tidak akan menyerah dan terus mencoba berkali-kali sampai berhasil."

Misha sepertinya terlalu mendewakanku, atau mungkin itu adalah harapan yang ia ingin kucapai.

"Sesuai tebakanmu, aku memang tidak menyerah. Tapi pada akhirnya, aku tetap gagal. Kalau bisa, aku masih ingin terus menantangnya, tapi sekarang aku sudah tidak punya kesempatan lagi."

Semenjak bereinkarnasi ke dunia ini, aku tidak mungkin bisa ikut ujian masuk universitas lagi di Jepang.

Tidak, mungkin saja ada cara untuk kembali ke Jepang, tapi aku tidak berniat kembali ke sana tanpa Clarice dan Elie.

"……Bohong…… jadi semua itu sia-sia?"

Misha menutup mulutnya dengan ekspresi tidak percaya.

"Jika dilihat dari hasilnya saja, mungkin memang sia-sia. Tapi bagiku, itu bukan kesia-siaan. Aku ingin memuji diriku sendiri karena bisa terus berusaha demi satu tujuan. Kamu mungkin berpikir aku hanya berlagak kuat, tapi kenyataannya tidak begitu. Apa menurutmu aku yang sekarang terlihat sedang berlagak kuat atau terlihat memalukan?"

Misha menggelengkan kepalanya dengan sangat keras seolah-olah kepalanya akan copot.

"Kalau begitu, bukankah Misha juga tidak memalukan? Benar, kan? Misha masih punya banyak kesempatan. Bukankah justru menyerah di sini yang akan terasa memalukan dan sia-sia? Ini baru hari pertama latihan, lho."

"……"

Meski tidak menjawab, perlahan raut wajah Misha mulai terlihat teguh kembali.

Sedikit dorongan lagi.

"Aku juga ingin berlatih dan tumbuh dewasa bersama Misha. Bagaimana? Apa kamu mau terus berlatih bersamaku? Mau mencoba berjuang sekali lagi?"

"……Boleh……? Aku ikut lagi?"

Tekad muncul di mata Misha bersamaan dengan sisa air matanya.

Sepertinya setelah ini dia akan baik-baik saja.

"Tentu. Mari berjuang bersama."

Aku berdiri dan mengulurkan tangan, yang langsung disambut olehnya.

"Terima kasih. Oh iya, ada satu hal yang harus kukatakan pada Mars, kamu mau dengar?"

Misha menatap lurus ke mataku, membuat jantungku berdegup kencang tanpa sadar.

"Eh, i-iya…… apa itu?"

"Anu…… aku bingung harus bilang atau tidak……"

Pipi Misha merona merah.

Jangan-jangan……? Perkembangan macam apa ini? Apa mungkin?

"Jangan marah, ya. Tadi aku tidak sengaja mengelap ingus pakai tangan kanan ini……"

"Eh?"

Kupikir tangan Misha yang lembap itu adalah keringat hasil kerja keras atau air mata yang indah, ternyata ingus?

"Kalau begitu, ayo kembali ke tempat Clarice dan Elirin! Kalau mereka berdua, pasti sedang menunggu kita, kan?"

Misha menarik tanganku dengan ceria, seolah-olah rasa lelahnya tadi hanyalah bohong belaka.

Tangan kami berdua tidak terlepas sampai kami tiba di depan Clarice dan yang lainnya.

◆◇◆

Dua hari kemudian.

Hari ini pun kami berempat melakukan latihan pagi.

Karena Misha belum bisa langsung mengikuti tempo maratonku, menjemputnya yang kelelahan di tengah jalan lalu menggendongnya pulang sudah menjadi bagian dari menu maraton baruku.

Hari ini adalah jadwal libur latihan otot. Kami menuju gimnasium; aku berlatih sihir api, sementara para gadis berlatih sihir angin.

"Hei, Mars? Mars pernah menggunakan sihir angin pada diri sendiri untuk berakselerasi, kan?"

Misha bertanya di tengah latihan. Apa maksudnya Sylphid?

"Mungkinkah Misha bisa melihatnya?"

Karena tidak pernah ada yang mengomentarinya, aku mengira kemampuan itu tidak terlihat.

"Hmm. Tidak kelihatan jelas sih, tapi aku bisa merasakannya. Ajarkan itu padaku juga dong."

Apa karena dia seorang Elf yang dicintai angin sehingga bisa merasakannya?

"Clarice, apa kamu tahu kalau aku menyelimuti diriku dengan angin?"

"Tidak, aku sama sekali tidak menyadarinya."

Jika Clarice yang selalu berada di dekatku dan memiliki Magic Power tinggi saja tidak tahu, berarti ini memang karena faktor ras atau nilai bakat.

Bagaimanapun, karena Misha bisa merasakannya, mungkin dia juga bisa mempelajarinya.

"Baiklah, aku mengerti. Pertama-tama, kumpulkan energi sihir di titik tantien, lalu rasakan energi itu bersirkulasi ke seluruh tubuh……"

Saat aku sedang mengajari Misha tentang Sylphid, terdengar suara dari pintu masuk gimnasium.

"Ara? Ternyata hari ini kalian semua ada di sini?"

Di sana berdirilah Karen, yang sepertinya juga datang untuk berlatih sihir api.

"""Selamat pagi, Karen-sama."""

Hanya Elie yang tidak melirik Karen sedikit pun dan malah mengirimkan tatapan panas padaku.

"Iya, selamat pagi."

Setelah menyapa, Karen langsung memulai latihan sihir apinya.

Karen mengangkat tangan kanannya, dan api yang berkilauan menari-nari di sekelilingnya.

Mata semua orang terpaku mengikuti jejak api dari Fireball yang bergerak lincah itu. Namun tiba-tiba, Fireball tersebut lenyap, dan ekspresi Karen berubah masam.

"……Masih belum sampai…… ya."

Dia bergumam lirih, lalu Clarice yang memperhatikannya memberikan tepuk tangan.

"Tadi itu sangat indah, rasanya seperti berada di dalam mimpi!"

"Iya! Aku ingin lihat lebih banyak lagi!"

Misha juga bertepuk tangan dan memberikan kesan jujur. Meski Elie tidak berkata apa-apa, dia memberikan tepuk tangan yang paling kencang dibandingkan yang lain.

"Terima kasih. Rasanya tidak buruk dipuji begitu. Tapi ini masih belum ada apa-apanya."

Karen tersenyum, namun di matanya terpancar rasa kesal.

"Oh iya. Ada satu hal yang lupa kukatakan pada Mars. Tentang metode latihan yang kuberitahu tempo hari, anggap saja butuh satu tahun untuk bisa membuat bola api itu berputar di sekelilingmu dalam lingkaran besar. Lalu satu tahun lagi untuk mengecilkan putarannya sampai berhenti. Dan satu tahun lagi untuk bisa memutar balik arahnya. Untuk bisa menggerakkannya seperti aku, mungkin butuh waktu yang jauh lebih lama lagi, tapi itu hal yang wajar jadi jangan menyerah dan berusahalah."

Lama sekali ya. Tapi itu berarti ada kemungkinan aku bisa sehebat Karen yang sekarang sebelum lulus nanti.

Lagipula, memiliki guru terbaik seperti Karen di sekolah yang sama sungguh menenangkan.

"Terima kasih atas pelajarannya! Saya sudah mencobanya berkali-kali saat jam pelajaran, tapi tidak pernah berjalan sesuai keinginan."

Aku mewujudkan Fireball dan perlahan membuatnya berputar mengelilingi tubuhku.

"A-apa!? Kamu sudah bisa sejauh itu!?"

Suara Karen melengking saking terkejutnya.

"Tidak, saya baru bisa menggerakkannya dengan pelan. Begitu bola apinya sampai di belakang punggung, apinya sering padam atau jadi tidak terkendali, jadi saya masih jauh dari kata mahir."

"Be-begitu…… Untuk mengendalikan Fireball yang tidak terlihat oleh mata, satu-satunya cara adalah dengan membiasakan diri dengan api dan menguatkan imajinasinya…… tapi, bisa mengendalikan sampai tahap itu hanya dalam beberapa hari latihan, mungkin kamu memang dicintai oleh api."

Membiasakan diri dengan api ya.

Kemungkinan besar, alasan kenapa aku bisa mengendalikan api dalam waktu singkat hingga membuat Karen terkejut adalah berkat statistik Dexterity-ku.

Karena nilai bakat Fire Magic-ku rendah, hanya itu satu-satunya alasan yang masuk akal.

"Anu. Jika diperbolehkan, saya ingin tahu, apa yang sedang Karen-sama coba lakukan? Sepertinya Anda tidak puas padahal sudah bisa mengendalikan sihir api sebebas itu."

Karena penasaran dengan ekspresi kesalnya tadi, aku pun bertanya. Karen melipat tangan dan berpikir sejenak.

"Begitu ya…… Aku akan memberitahumu setelah Ujian Labirin dan Duel Peringkat selesai. Sampai saat itu tiba, kalian bertiga yang ada di sana memang teman sekelas di Kelas S, tapi kalian juga rival bagiku."

Setelah meninggalkan kata-kata itu, Karen pergi dari gimnasium.

"Baguslah ya, Clarice. Ternyata bukan rival."

Misha menyikut lengan Clarice sambil menggodanya.

"A-apa sih yang kamu katakan. Bukan seperti itu tahu!"

Clarice membantah dengan panik. Hmm? Padahal Karen sendiri yang bilang mereka rival, kan?

"Clarice, jangan remehkan Karen-sama. Dia berjuang sendirian seperti itu. Mungkin dia melakukan usaha lain yang tidak kita ketahui. Kita juga harus berjuang agar tidak kalah dari Karen-sama!"

Saat aku memberi semangat kepada semuanya, entah kenapa mereka malah menatapku dengan dingin.

"Mars, maksudnya bukan begitu…… benar sih, tapi bukan itu."

Clarice menunjukkan wajah yang bingung.

"Hei? Apa Mars itu orangnya peka?"

Saat Misha bertanya pada Clarice dan Elie, Elie menjawab dengan satu kata sambil menghela napas.

"……Peka…… (tidak peka)……"

Akhirnya, tanpa mengerti apa yang mereka bicarakan, kami pun meninggalkan gimnasium.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close