Chapter 9
Kepulangan
Sudah lebih dari sepuluh hari berlalu sejak kami
meninggalkan Bismarck.
Perjalanan menuju Ilgusia berlangsung sangat lancar.
Berkat kehadiran Ike dan Sieg, aku maupun Clarice tidak perlu lagi mencemaskan
soal MP, dan itu adalah faktor yang sangat besar.
Clarice terus-menerus merapalkan Heal pada kuda
kami, dan saat MP miliknya mulai menipis, aku segera menggantikannya.
Setelah MP Clarice pulih, giliranku yang menghabiskan seluruh MP
lalu bertukar peran lagi dengannya.
Dengan mengulang siklus ini, kami mampu memacu kuda untuk
terus berlari selama lebih dari sepuluh jam.
Dan sekarang, setelah melewati Almeria, kami sudah hampir
sampai di Ilgusia.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore lewat, tapi
daerah ini sudah seperti halaman rumah bagi kami. Karena tidak terlalu
berbahaya, kami memutuskan untuk terus memacu kuda hingga mencapai Ilgusia.
Kami berempat melakukan konfirmasi terakhir sebelum
memasuki kota.
"Clarice, setelah sampai di Ilgusia, aku ingin kamu
sebisa mungkin menyembunyikan kemampuan sihir suci milikmu dari siapa pun,
kecuali anggota keluarga Bryant atau orang-orang terdekat kami. Bisa
dimengerti?"
Sieg mengonfirmasi hal itu kepada Clarice.
"Baik. Saya memang berniat melakukan hal itu."
"Lalu, aku ingin kamu tinggal bersama kami di
kediaman Bryant. Secara pribadi, aku ingin menyambutmu sebagai anggota keluarga
baru. Selain Mars, aku sudah memberitahu yang lain dan mereka semua setuju.
Bagaimana?"
"Te-terima kasih banyak. Mohon bantuannya."
"Ayah, terima kasih."
"Baiklah, detailnya akan kita bicarakan lagi setelah
sampai di rumah. Lihat, Ilgusia sudah kelihatan!"
Ilgusia yang sudah lama tidak kulihat tampak sedikit
berubah. Jumlah batu sihir yang menerangi kota telah meningkat secara drastis.
"Luar biasa, banyak sekali lampu batu sihirnya...
Kalau begini, kita bisa berjalan-jalan di luar saat malam hari dengan tenang,
ya."
Clarice pun mengeluarkan suara kekaguman melihat cahaya
fantastis yang dihasilkan oleh batu-batu sihir tersebut.
"Ini semua dipasang atas perintah Ayah dan Ibu
kepada para petualang serta penduduk agar mereka tetap bisa mencarimu meski di
malam hari, Mars. Tentu saja, aku juga ikut membantu memasangnya."
Ternyata aku sudah membuat keluargaku sangat khawatir. Aku harus membalas budi mereka dengan menjadi anak yang berbakti.
Dengan tekad baru di dalam dada, kami melewati
gerbang kota Ilgusia. Di sana, Maria, Lina, anggota Blue Fang, serta
para petualang dan penduduk Ilgusia sudah berkumpul untuk menyambut kami.
"""Mars! Selamat datang
kembali!!!"""
Begitu mereka melihatku dalam keadaan sehat,
perhatian semua orang langsung beralih dariku menuju Clarice.
Terutama di Ilgusia, karena tingkat kesulitan
labirinnya, banyak petualang Peringkat E yang baru saja naik dari Peringkat G
atau F. Para petualang Peringkat E ini rata-rata berusia lima belas tahun.
Karena itu, Clarice yang terlihat sedikit lebih muda
dari mereka langsung mencuri pandangan... bahkan hati para pemuda yang sedang
dalam masa puber tersebut.
Clarice, yang kini menjadi pusat perhatian semua
orang, mengikuti di belakangku dengan raut wajah yang tampak sungkan.
Sesampainya di rumah, pesta besar pun digelar.
Beberapa petualang dan penduduk juga diundang, dan seperti biasa, tatapan serta
rasa penasaran mereka semua tertuju pada Clarice.
Karena aku sudah mendengar soal rencana pesta ini
dari Sieg sebelumnya, aku meminta izin untuk berbicara terlebih dahulu. Sieg
pun mempersilakanku memberikan sapaan sebelum dirinya.
"Semuanya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya
karena telah merepotkan kalian semua atas kejadian yang menimpa saya. Karena
sepertinya banyak yang penasaran dan terkejut dengan gadis yang datang bersama
saya, izinkan saya memperkenalkannya. Clarice, kemarilah."
Aku memanggil Clarice yang sedang berbincang dengan
Maria untuk mendekat.
"Ini adalah Clarice Lampard-san. Dia adalah
orang yang sangat berharga bagiku, jadi aku mohon bantuan kalian semua untuk
menyambutnya dengan baik."
Begitu aku memperkenalkannya, Clarice kembali menunjukkan gestur yang sama seperti waktu itu; mengangkat sedikit ujung roknya, menarik kaki kirinya ke belakang, dan menekuk lutut kanannya dengan anggun.
"Semuanya, salam kenal. Saya Clarice Lampard,
baru saja diperkenalkan oleh Mars. Suatu kehormatan bagi saya karena diizinkan
tinggal dan dirawat di kediaman Bryant. Saya sadar masih banyak kekurangan,
jadi mohon bimbingan dan bantuannya."
Clarice tampak sangat tegang. Kalimatnya terdengar
formal seperti sapaan orang kantoran, membuatku sedikit menahan tawa.
Di antara para tamu pesta, ada yang terkagum-kagum
melihat tata krama dan cara bicaranya yang luar biasa. Namun, para petualang
muda justru terlihat tertunduk lesu.
"Soal Clarice, mungkin akan kita bicarakan lagi
di lain hari. Hari ini adalah perayaan kembalinya Mars dan pesta
sambutan untuk Clarice. Semuanya, lepaskan beban pikiran dan
bersenang-senanglah! Merdeka! Cheers!"
Begitu Sieg memberikan komando untuk bersulang, para
petualang muda itu langsung menenggak alkohol dengan rakus seolah sedang
melampiaskan kekesalan, bahkan ada yang mulai menangis.
◆◇◆
—Keesokan harinya.
Sieg mengumpulkan seluruh anggota keluarga Bryant dan
juga Clarice untuk memulai rapat keluarga.
"Mars, Clarice, maaf mengganggu waktu istirahat
kalian setelah perjalanan jauh. Kita akan menentukan rencana kita ke
depan."
Suasana seketika berubah menjadi serius mendengar ucapan
Sieg.
Ngomong-ngomong,
Lina sedang duduk di pangkuan Clarice. Tampaknya mereka sudah sangat akrab
hanya dalam satu hari. Katanya, semalam Lina bahkan tidur satu ranjang dengan
Clarice.
"Pertama, Ike. Aku
ingin kamu mengincar pendaftaran di Sekolah Nasional Lister bulan Januari tahun
depan. Ujiannya dimulai bulan Desember tahun ini. Mengerti?"
Mendengar itu, aku dan Clarice spontan saling
pandang. Sekolah Nasional Lister!? Itu kan sekolah yang disarankan oleh Sasha
dan Cyrus! Kenapa tiba-tiba nama sekolah itu keluar dari mulut Sieg?
Entah karena sudah menduganya atau memang sudah
diberitahu sebelumnya, Ike menjawab tanpa ragu sedikit pun.
"Baik, Ayah. Saya pasti akan lulus ke Sekolah
Nasional Lister yang dikenal sebagai sekolah tersulit di benua ini."
Selanjutnya, Sieg mengalihkan pandangannya padaku.
"Mars, aku ingin kamu membantu pengadaan material
untuk kompleks perumahan skala besar tempat para petualang menetap!
Spesifiknya, aku butuh batu bata! Waktunya satu bulan! Kamu mau membantu,
kan?"
Batu bata? Kalau untuk tempat tinggal, berarti butuh batu
bata bakar yang kokoh, kan? Seingatku, aku pernah melihat beberapa rumah mewah
dari batu bata di Almeria... tapi bukankah membuatnya itu sulit?
"Aku mengerti. Tapi, aku tidak tahu cara membuat
batu bata?"
"Ah,
soal itu jangan khawatir. Seperti yang kamu tahu, sebagian besar orang di
Ilgusia adalah pindahan dari Almeria. Aku sudah bicara dengan tukang kayu soal
itu, jadi tenang saja."
Kalau
hanya begitu, itu tugas yang mudah bagiku. Lagipula, sepertinya akan berguna
untuk masa depan.
"Baik!"
Mendengar
jawaban mantapku, Sieg mengangguk puas.
"Untuk
Clarice, aku ingin kamu sebisa mungkin terbiasa dengan Ilgusia dalam satu bulan
ini. Anggaplah tempat ini sebagai kampung halaman keduamu.
Maria, aku titip dia padamu."
Sieg berbicara sambil menatap Maria dan Clarice
bergantian.
"Tentu saja. Aku akan melakukan apa pun demi calon
putriku."
Keluarga Bryant sepertinya menggunakan taktik
"mengepung dari luar" untuk merebut hati Clarice.
Wajah Clarice memerah, tapi dia tampak lega (setidaknya
begitu yang terlihat di mataku).
"Terima kasih banyak, Maria-san. Mohon
bantuannya."
Begitu Clarice menjawab, Maria dan Lina langsung
menimpali.
"Mungkin kamu belum terbiasa, tapi panggil aku 'Ibu'
ya."
"Lina
juga boleh panggil Clarice-san 'Kakak'?"
Serangan
bertubi-tubi dari keluarga Bryant terhadap gadis delapan tahun itu pun dimulai.
"Alasan
kenapa aku memberikan batas waktu satu bulan kepada Mars dan Clarice adalah
karena sebulan lagi, aku ingin kalian berdua bersama Ike masuk ke Dungeon
Almeria. Di sana, kalian harus menaikkan level, mencari
perlengkapan, dan jika memungkinkan, mengumpulkan uang."
Aku rasa kami tidak kekurangan uang, tapi kenapa ya?
"Yang akan aku bicarakan sekarang adalah prospek
keluarga Bryant ke depan. Aku akan mengincar kenaikan gelar menjadi
Count."
Sieg, yang selama ini tidak tertarik pada gelar
bangsawan, tiba-tiba ingin naik pangkat!? Namun, Maria dan Ike tidak tampak
terkejut. Mungkin Sieg sudah membicarakan ini dengan mereka sebelum aku
kembali.
"Untuk itu, uang sangatlah diperlukan. Begitu juga
dengan sumber daya manusia. Alasan aku meminta Mars membangun perumahan besar
adalah untuk mengamankan sumber daya manusia itu sendiri. Petualang ada yang
akan terus menjadi kuat seperti Blue Fang, tapi ada juga yang sudah
melewati masa jaya dan menyerah bertarung di garis depan. Petualang-petualang
seperti itu terkadang menjadi bandit atau jatuh menjadi budak demi bertahan
hidup. Karena itu, aku ingin mempekerjakan mereka sebagai korps keamanan kota
ini. Jika aku berhasil naik menjadi Count, aku berniat menjadikan mereka
anggota ksatria atau instruktur pelatih!"
Sieg melanjutkan penjelasannya dengan lebih
bersemangat.
"Semua anggota Blue Fang setuju dengan
pendapatku dan memutuskan untuk menetap di kota ini. Selain itu, Red Wing yang
punya prospek sebagus Blue Fang juga sudah setuju. Ike pasti akrab
dengan mereka. Mereka adalah kelompok Peringkat C yang seluruh anggotanya
petualang Peringkat D. Aku ingin mempekerjakan Blue Fang, Red Wing,
dan satu kelompok lagi untuk mengawasi Dungeon Ilgusia secara konstan. Tentu
saja, aku dan Maria juga akan masuk ke Dungeon Ilgusia. Di masa depan,
aku berharap bisa membentuk setidaknya tiga korps ksatria. Yah, kira-kira
begitulah rencananya. Ada pertanyaan?"
Karena Sieg bertanya, aku langsung mengajukan pertanyaan
yang mengganjal.
"Kenapa tiba-tiba Kak Ike harus mengincar Sekolah
Nasional Lister? Dan sekolah macam apa itu?"
"Ah. Sebenarnya aku pun baru tahu soal Sekolah
Nasional Lister belum lama ini. Ingat surat yang kamu kirimkan sebelum
meninggalkan Granzam? Di sana terlampir surat dari Lord Beetle. Beliau sangat
menyarankan agar Mars dan Clarice yang berbakat belajar di Sekolah Nasional
Lister."
Count Beetle yang menyarankannya?
"Sejak saat itulah aku menyelidiki tentang sekolah
itu. Di sana, anak-anak berbakat pilihan dari berbagai negara dididik oleh
guru-guru kelas satu. Bukan mimpi lagi bagi lulusannya untuk menjadi petualang
Peringkat A atau melayani bangsawan agung di Federasi Lister."
Jadi sekolah itu sangat berharga sampai-sampai Sieg rela
mengirim penerus keluarga Bryant ke luar negeri. Yah, menghabiskan hari-hari
dengan bersaing bersama teman sebaya yang jenius pasti akan memberikan
stimulasi yang luar biasa.
Saat aku mulai paham, Sieg menambahkan penjelasannya.
"Sebenarnya aku juga berkonsultasi dengan Marquis
Carmel. Beliau bilang, dulu ada dua anaknya yang sangat jenius mencoba ujian
masuk Sekolah Nasional Lister, tapi hasilnya gagal. Bahkan mereka tidak
diizinkan mengikuti tes dengan layak. Begitu masuk ke gerbang utama dan
berjalan sebentar, mereka hanya diberi beberapa lembar kertas lalu langsung
dinyatakan tidak lulus. Tahun ini cucunya juga mencoba, tapi tetap saja
gagal."
Eh? Dinyatakan tidak lulus hanya dengan diberi kertas
tanpa ujian? Bukankah itu aneh? Kalau begitu kan mereka tidak tahu kenapa
mereka gagal?
Rasa penasaran bertambah, tapi Sieg pun tidak tahu alasan
kegagalan mereka. Yah, mana mungkin seorang kakek atau ayah bertanya
"Kenapa anak saya gagal?" setelah kalah dalam ujian masuk sekolah
sehebat itu.
Aku juga penasaran kenapa dia mengincar gelar Count, tapi
orang kantoran pun mengincar promosi, dan petualang pun mengincar peringkat
yang lebih tinggi. Meski terkejut dengan deklarasi mendadak Sieg, kupikir-pikir
itu adalah hal yang wajar, jadi aku memilih untuk diam.
"Baiklah, jika tidak ada pertanyaan lagi, aku
mengandalkan kalian mulai besok. Besok, aku, Maria, Ike, Mars, dan Clarice akan
menuju ruang bos. Aku sudah melihat kekuatan Clarice di Rimulgard, tapi
tunjukkan juga sihir suci dan sihir lainnya padaku!"
◆◇◆
—Keesokan harinya.
Kami berlima menuju ruang bos di Dungeon Ilgusia.
Kesimpulannya, mereka bisa bertarung dengan leluasa meski
tanpa bantuanku. Ternyata serangan Magic Arrow Clarice dari lini
belakang sangat efektif. Konsumsi MP-nya kecil tapi damagenya besar.
Begitu Goblin General terluka, Ike tinggal menusuknya
sekali dengan tombak dari jarak jauh, dan monster itu langsung berubah menjadi
batu sihir atau setidaknya lumpuh.
Sieg dan Maria hanya turun tangan saat melawan Goblin
King dan Goblin Lord. Namun, sejauh yang kulihat dengan Vision, Ike dan
Clarice saja sebenarnya sudah cukup.
Sambil memperhatikan mereka bertarung, aku sendiri
berlatih sihir tanah. Aku ingin menaikkan levelku sedikit saja agar bisa
membuat batu bata dengan lebih efisien.
Setelah beberapa kali masuk bersama, Sieg mungkin
merasa sudah aman, sehingga mereka berempat mulai lebih sering masuk tanpa aku.
Lagipula Clarice masih punya kartu as yaitu sihir
penghalang. Ike dan Sieg sudah pernah melihatnya sekali, tapi situasinya belum
pernah seberbahaya itu sampai harus menggunakannya dalam pertarungan sungguhan.
Selama itu pula, aku terus memproses pembangunan kompleks
perumahan.
—Dan satu bulan pun berlalu.



Post a Comment