Chapter 16
Di Akhir
Pertempuran
Pertarungan dahsyat itu telah berakhir, dan sudah lebih
dari setengah tahun berlalu sejak kematian Burns. Banyak kejadian besar yang
menyusul setelah hari itu.
Pertama adalah kenaikan takhta Sieg menjadi Count. Sieg
menerima gelar Count tersebut dari Margrave Carmel.
Di Kerajaan Balcus, tampaknya bangsawan tingkat tinggi
bisa memiliki beberapa gelar sekaligus, mirip dengan sistem di Inggris.
Ngomong-ngomong, aku tidak tahu apakah sistemnya
benar-benar sama persis dengan Inggris, ya? Soalnya aku tidak pernah belajar
soal gelar bangsawan saat masih di Jepang dulu.
Margrave Carmel tidak mewariskan gelar Count itu kepada
putra kandungnya, melainkan memberikannya kepada Sieg.
Tentu saja pihak keluarga kerajaan telah memberikan
persetujuan, sehingga lahirlah Sieg Bryant, sang Count Bryant.
Biasanya gelar itu akan menjadi Count (Nama Wilayah) Sieg
Bryant, tapi sepertinya kita boleh menyematkan nama sendiri di depan gelar
tersebut jika diinginkan. Meski kudengar, bangsawan tingkat tinggi pun harus
memberikan kontribusi yang sangat besar untuk bisa melakukannya.
Selain itu, Sieg juga menerima hak pemerintahan atas
Almeria dari Margrave Carmel.
Margrave Carmel mengaku sudah kapok berurusan dengan
labirin, jadi ia menyerahkannya kepada Sieg.
Belakangan aku baru mendengar ceritanya, ternyata putra
tunggal Margrave Carmel adalah orang yang sangat tidak berguna. Sebenarnya sang
Margrave sangat ingin mewariskan gelar kepada putra tunggalnya itu.
Demi memberinya prestasi, ia ditunjuk sebagai komandan
ksatria saat pengiriman ke Labirin Almeria kali ini. Namun, kabarnya dia
terlalu takut hingga tidak berani melangkah keluar dari kediamannya.
Melihat hal itu, sang Margrave akhirnya menyerah pada
putra bodohnya dan memutuskan untuk mewariskan gelar Count kepada Sieg.
Hanya saja, beliau masih menaruh harapan pada cucu
perempuannya yang kini berusia dua belas tahun. Kalau tidak salah, aku pernah
dengar cucu Margrave Carmel gagal masuk ke Akademi Nasional Lister, mungkin
anak itu orangnya.
Dengan ini, keluarga Count Bryant menjadi satu-satunya
bangsawan di Kerajaan Balcus yang memiliki dua labirin di dalam wilayah
kekuasaan mereka.
Dimulai dari dua party, Blue Fang dan Red Wing,
yang merasa Labirin Ilgusia sudah tidak menantang lagi, para petualang tingkat
atas Ilgusia mulai berpindah ke Almeria satu per satu.
Hal
kedua adalah soal Labirin Almeria. Kondisi Labirin Almeria kini telah
kembali seperti sediakala.
Setelah kejadian itu, kami berempat hanya sempat masuk
sampai lantai dua, tapi monster semut sudah tidak terlihat lagi di sana.
Kami menemukan banyak telur semut yang tersebar di lantai
dua, tapi semuanya sudah kami musnahkan.
Lalu, setelah Queen Ant Arlyn lenyap, ada dua batu
sihir yang terjatuh.
Satu adalah batu sihir hitam berukuran besar yang sama
dengan milik Queen Ant lainnya.
Dan satunya lagi adalah batu sihir kecil yang memancarkan
cahaya hitam. Mungkin alasan kenapa Arlyn terlihat berpendar hitam adalah
karena batu sihir ini.
[Nama] Artificial Magic Stone
[Special] —
[Value] —
[Detail] Batu sihir yang diciptakan
dengan metode khusus tertentu.
Begitu
aku memberitahukan hasil Appraisal ini kepada Sieg, dia melarangku keras
untuk membicarakannya kepada siapa pun.
Hal
ketiga adalah mengenai Burns, Elie, dan para beastman.
Margrave
Carmel telah berjanji akan membebaskan Burns dari perbudakan jika ia memberikan
kontribusi yang berarti dalam pertahanan Labirin Almeria.
Margrave Carmel menepati janji itu dengan baik,
membebaskan mendiang Burns dan putrinya, Elie, dari status budak.
Para beastman lainnya juga menyatakan bersedia
mengabdi kepada Sieg, sehingga Sieg akhirnya menebus mereka semua.
Sepertinya Sieg masih diliputi keraguan, apakah ia
akan menunjuk Guy dari Black Three Wolf Stars sebagai kepala budak untuk
membentuk pasukan ksatria, atau justru meminta mereka membantu pengelolaan
labirin.
Selain itu, setelah aku menyampaikan wasiat terakhir
Burns kepada Margrave Carmel dan Sieg, diputuskan bahwa Elie akan dititipkan
kepadaku setelah dibebaskan.
Elie awalnya hanya mau dekat denganku, tapi
perlahan-lahan ia mulai membuka diri kepada Clarice dan Ike.
Setelah dia mulai akrab dengan Clarice, aku dan
Clarice berkonsentrasi penuh untuk menghilangkan kutukan yang diderita Elie.
Kami mencoba merapalkan Heal, Cure,
bahkan High Heal yang tertulis dalam buku sihir suci tingkat menengah,
namun kutukannya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan hilang.
Namun, di sini sebuah keajaiban terjadi. Saat level Holy Magic
milik Clarice mencapai level 9, Clarice mendapatkan gelar Saint.
[Saint] Gelar yang diberikan kepada
penyihir suci wanita yang telah mencapai puncak di dunia ini. Menghilangkan
status abnormal saat menggunakan sihir pemulihan.
Berkat
efek ini, proses penghilangan kutukan pun berhasil. Elie bisa kembali ke wujud
manusia dari wujud singanya.
Elie
dalam wujud manusia memiliki rambut pendek berwarna emas yang sedikit lebih
muda dariku.
Matanya
yang bulat sempurna berwarna abu-abu kebiruan. Matanya telah sembuh total tanpa
meninggalkan bekas luka sedikit pun.
Penampilannya
tampak seperti gadis cantik yang sangat aktif, namun ia sangat pendiam hingga
sulit dipercaya kalau dia adalah seorang beastman.
Dia tidak memiliki telinga hewan, melainkan telinga
manusia biasa. Ia juga tidak memiliki ekor. Secara fisik, tidak ada bagian
tubuhnya yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang beastman.
Namun, mungkin karena faktor ras, ia memiliki tinggi
badan yang setara dengan Clarice—penyihir suci yang pertumbuhannya lebih pesat
dibanding anak-anak lain—dan fisiknya berkembang dengan sangat baik.
Setelah kutukannya hilang, Elie malah menjadi semakin menempel padaku. Sepertinya dia tidak tenang jika tidak menyentuhku setiap saat. Dia bahkan ingin selalu bersama saat masuk ke labirin, ke toilet, mandi, hingga saat tidur sekalipun.
Hari kutukan itu berhasil dihilangkan, aku benar-benar
terkejut saat Elie tiba-tiba masuk ke kamar mandi ketika aku sedang keramas.
Padahal aku sudah tahu kami sering mandi bersama saat dia masih berwujud singa,
dan usianya pun baru delapan tahun.
Tetap saja, itu gawat. Bisa-bisa suasana hati Clarice
rusak karena hal ini. Namun yang terpenting, jauh di lubuk hatiku, aku belum
bisa memercayai Elie sepenuhnya…… bukan tidak percaya secara personal, tapi aku
penasaran dengan Innate Ability miliknya.
Suatu hari, aku dan Clarice membulatkan tekad untuk
menginterogasi Elie bersama-sama.
Apakah dia seorang reinkarnator atau bukan.
Ternyata, Elie mengakuinya dengan mudah.
Elie sendiri mengira dia hanya terlahir kembali
secara biasa, dan ingatan kehidupan sebelumnya pun sudah tidak banyak yang
tersisa.
Begitu aku menanyakan sisa ingatannya, sepertinya di
kehidupan sebelumnya pun dia berada di dunia ini. Apa ini yang disebut dengan
reinkarnasi berulang? Yah, berkat ini aku jadi bisa memercayainya.
Tapi meski sudah percaya, bukan berarti aku bisa
membiarkannya masuk ke kamar mandi atau tempat tidur bersamaku……
Di hari lain, Elie kembali menyelinap ke ranjangku. Saat
aku menolaknya dengan sopan, dia menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"……Papa…… titip Elie…… bilang…… serahkan padaku……"
Iya, aku memang bilang begitu, tapi maksudku bukan
'menitipkan' yang seperti itu……
Lagipula,
aku sudah punya Clarice. Jika aku terus bersikap ambigu dan malah membuatnya
lebih terluka nanti, lebih baik aku mengatakannya sejak dini.
Keesokan
harinya, saat kami bertiga sedang berkumpul, aku bicara serius kepada Elie.
"Elie,
aku sudah punya Clarice. Aku juga menyukaimu, tapi Clarice adalah orang yang
paling aku sukai. Tidak, aku mencintainya. Kelak, aku dan Clarice akan
menikah."
Segenap
keluarga Bryant sudah membantuku membangun 'benteng' pertahanan dari luar.
Sekarang Clarice bahkan memanggil Sieg, Maria, dan Ike dengan sebutan Ayah
Mertua, Ibu Mertua, dan Kakak Ipar, serta dipanggil Kakak oleh Lina. Namun,
ini adalah pertama kalinya aku menyampaikan perasaan sejujur ini kepadanya.
Mendapat pengakuan mendadak, wajah Clarice langsung
memerah padam. Dia terlihat bahagia—tolong, semoga ini bukan sekadar kegeeran
dariku!
Namun, reaksi Elie justru di luar dugaan.
"……Sudah
tahu…… Ike…… yang bilang…… selir……"
Eh? Selir? Apa itu selir?
"Selir
itu…… apa?"
Saat
aku bertanya pada Clarice, dia menjelaskan bahwa jika menjadi bangsawan, selain
istri sah, seseorang bisa memiliki selir. Jumlah selir yang boleh diambil
tergantung pada tingkatan gelarnya.
Baron
boleh memiliki satu istri sah dan satu selir. Viscount boleh satu istri sah dan
dua selir. Sedangkan untuk bangsawan tinggi kelas Count ke atas, jumlahnya
tidak terbatas. Selain itu, ada juga yang disebut gundik, yang hanya hubungan
fisik tanpa status istri resmi.
"Selir,
ya…… yah, akan kupikirkan nanti……"
Akhirnya
jawabanku jadi ambigu lagi, tapi setidaknya aku sudah menegaskan pada Elie
bahwa Clarice adalah nomor satu. Anggap saja itu sudah cukup baik.
Bagi
Clarice, Elie seharusnya adalah gangguan. Namun, Clarice tidak memperlakukannya
dengan kasar, malah justru aktif mengurus keperluan Elie.
Begitu
tahu aku dan Clarice akan mengikuti ujian masuk Akademi Nasional Lister, Elie
ikut menggebu-gebu ingin ikut, tapi masalahnya dia tidak bisa baca-tulis.
Clarice
dengan sabar mengajarinya, hingga sekarang Elie setidaknya sudah bisa membaca
huruf.
Dia
juga sampai turun ke dapur demi membujuk Elie yang benci sayur agar mau
memakannya, atau membangunkan Elie yang suka tidur kelamaan.
Perlahan
Elie mulai membuka hati pada Clarice, dan ekspresinya pun mulai berubah.
Senyuman
yang tadinya hanya diperlihatkan kepadaku, kini mulai ia tunjukkan di depan
Clarice.
Melihat
hal itu, bukan hanya Clarice, Sieg dan Maria pun bisa bernapas lega. Mereka
sempat khawatir Elie tidak akan bisa membuka hati kepada siapa pun selain aku.
Yah,
Elie memang baru bisa membuka diri kepada orang-orang terdekat di keluarga
Bryant saja.
Jika ingin menjalani kehidupan sekolah, dia butuh
kemampuan sosial yang lebih baik. Aku dan Clarice pun sering berdiskusi bahwa
kami harus membiasakannya perlahan-lahan.
Sejak Elie kembali ke wujud manusia, kesempatan kami
berempat—aku, Ike, Clarice, dan Elie—untuk menjelajahi labirin semakin sering.
Awalnya kami ke Labirin Ilgusia, lalu setelah level Elie
naik, kami pindah ke Labirin Almeria.
Dan
inilah hasilnya.
[Nama] Mars Bryant
[Gelar] Wind King / Goblin Slayer
[Status] Human / Putra Kedua Keluarga
Count Bryant
[Kondisi] Baik
[Usia] 8 Tahun
[Level] 25 (+2)
[HP] 150 / 150
[MP] 8601 / 8601
[Strength] 100 (+9)
[Agility] 108 (+10)
[Magic Power] 152 (+10)
[Dexterity] 136 (+12)
[Endurance] 97 (+9)
[Luck] 30
[Innate Ability] Gifted (Lv MAX)
[Innate Ability] Heavenly Eye (Lv 8)
[Innate Ability] Lightning Magic S (Lv
3 / 20) (2 → 3)
[Special Ability] Swordsmanship B (Lv 8
/ 17)
[Special Ability] Martial Arts G (Lv 1
/ 5) (NEW)
[Special Ability] Fire Magic F (Lv 6 /
8)
[Special Ability] Water Magic G (Lv 3 /
5)
[Special Ability] Earth Magic G (Lv 4 /
5)
[Special Ability] Wind Magic A (Lv 15 /
19)
[Special Ability] Holy Magic C (Lv 7 /
15) (6 → 7)
[Equipment] Salamander Sword, Bracelet
of Disguise
Dalam
kasusku, levelku naik masing-masing satu tingkat saat menghabisi Queen Ant
Arlyn dan setelahnya di Labirin Almeria.
Nilai Dexterity
yang melonjak disebabkan karena aku mengaktifkan Sylpheed sambil
melakukan Enchant sihir api pada Salamander Sword saat melawan
Arlyn. Ngomong-ngomong, pedang itu akhirnya diwariskan kepadaku oleh Ike.
Saat
aku memberikan Enchant sihir api pada Salamander Sword dan
mengayunkannya dengan cara mengumpulkan mana lalu melepaskannya seperti Wind
Impulse, tercipta tebasan jarak jauh mirip dengan Water Blade milik
Cyrus.
Aku sangat ingin melatih teknik ini, tapi aku
teringat peringatan Sasha bahwa pedang bisa hancur jika terlalu sering
digunakan, jadi aku menahan diri meski rasanya gatal ingin berlatih.
Aku
mempelajari Martial Arts baru karena hampir setiap hari aku melakukan mass
sparring dengan Elie. Setiap level Martial Arts naik, Strength
dan Agility masing-masing akan bertambah satu poin. Aku sudah
memastikannya sendiri lewat statistik Elie.
Pertumbuhan
Elie juga sangat luar biasa.
[Nama] Elie
Leo
[Gelar] —
[Status]
Beastman / Rakyat Jelata
[Kondisi] Baik
[Usia] 8 Tahun
[Level] 15 (+14)
[HP] 100 / 100
[MP] 50 / 50
[Strength] 46 (+33)
[Agility] 56 (+43)
[Magic Power] 13 (+11)
[Dexterity] 29 (+19)
[Endurance] 36 (+26)
[Luck] 10
[Innate Ability] Sound Magic G (Lv 1 /
5) (0 → 1)
[Special Ability] Dagger Techniques C
(Lv 2 / 15) (0 → 2)
[Special Ability] Martial Arts A (Lv 4
/ 19) (1 → 4)
[Special Ability] Wind Magic F (Lv 1 /
8) (0 → 1)
[Equipment] Sylph Dagger, Wind Boots
Elie
sepenuhnya tipe petarung garis depan khas kaum Beastman, namun ada perbedaan
mencolok antara dirinya dengan Burns yang sesama Singa Emas. Pertumbuhan Burns
sangat kuat di Strength, sedangkan Elie lebih menonjol di Agility.
Karena
dia punya bakat sihir angin, aku memberikan Sylph Dagger yang dulu kugunakan,
dan dia menjaganya seolah itu harta karun yang sangat berharga.
Selain itu, dia sangat mahir dalam mendeteksi musuh.
Bahkan dalam situasi di mana Search bisa membuat keberadaan kita
ketahuan oleh monster, Elie bisa mendeteksi mereka tanpa terdeteksi balik.
Wind Boots yang kami dapatkan di Labirin Almeria juga
menjadi perlengkapan yang sangat cocok untuknya.
[Nama] Wind Boots
[Special] Agility +1
[Value] —
[Detail] Dengan mengalirkan mana, pengguna bisa menendang udara dan berjalan di
angkasa.
Berkat
sepatu ini, pergerakan Elie menjadi tiga dimensi. Dia jadi bisa bermanuver di
udara untuk mengambil posisi di belakang musuh dengan mudah, sehingga
pertempuran kami menjadi jauh lebih stabil.
Lalu
mengenai Sound Magic yang membuatku penasaran, ternyata fungsinya
sederhana; sihir itu bisa menghilangkan suara lawan. Namun, menghilangkan suara
berarti juga menghilangkan ucapan. Jika digunakan pada lawan yang sedang
merapalkan mantra, sihir lawan tersebut tidak akan tercipta.
Benar-benar sihir pembunuh penyihir yang sempurna.
Tapi karena sihir anginku tidak butuh rapalan, kemampuanku tidak terpengaruh
olehnya.
Selanjutnya
adalah Clarice.
[Nama] Clarice Lampard
[Gelar] Saint
[Status] Human / Putri Sulung Keluarga
Baron Lampard
[Kondisi] Baik
[Usia] 8 Tahun
[Level] 29 (+2)
[HP] 136 / 136
[MP] 852 / 852
[Strength] 60 (+5)
[Agility] 65 (+6)
[Magic Power] 89 (+8)
[Dexterity] 97 (+8)
[Endurance] 58 (+4)
[Luck] 20
[Innate Ability] Barrier Magic G (Lv 1
/ 5)
[Special Ability] Swordsmanship C (Lv 5
/ 15) (4 → 5)
[Special Ability] Archery B (Lv 8 / 17)
Special Ability Water Magic C (Lv 3 / 15) Special Ability Wind Magic G (Lv 1 /
5) Special Ability Holy Magic A (Lv 9 / 19) (8 → 9)
[Equipment] Defender, Magic Arrow,
Saint Robe, Mysterious Anklet, Hairpin of Pledged Love, Bracelet of Disguise
Setelah
pertempuran melawan para semut, Clarice tampaknya merasa bahwa pertarungan
jarak dekat adalah kelemahannya, sehingga dia fokus mengasah teknik pedangnya.
Tentu saja, gurunya adalah aku.
Setiap
kali pulang dari labirin, halaman rumah selalu dipenuhi suara pedang kami yang
saling beradu. Ingat ya, yang beradu itu pedang. Karena ini penting, aku
katakan dua kali.
Terakhir
adalah Ike.
[Nama] Ike Bryant
[Gelar] —
[Status] Human / Putra Sulung Keluarga
Count Bryant
[Kondisi] Baik
[Usia] 11 Tahun
[Level] 27 (+2)
[HP] 161 / 161
[MP] 1235 / 1235
[Strength] 103 (+8) Agility 77 (+5)
[Magic Power] 55 (+3)
[Dexterity] 44 (+3)
[Endurance] 96 (+6)
[Luck] 10
[Special Ability] Swordsmanship C (Lv 6
/ 15)
[Special Ability] Spearmanship B (Lv 9
/ 17) (8 → 9)
[Special Ability] Fire Magic C (Lv 7 /
15)
[Equipment] Flame Lance, Robe of Ifrit,
Bracelet of Fire
Selain
statistiknya yang naik, pertumbuhan yang paling mencolok adalah fisiknya.
Tingginya sudah jauh melampaui 160 sentimeter.
Hari
ini adalah hari keberangkatan Ike dari Almeria untuk mengikuti ujian masuk
Akademi Nasional Lister.
Akademi Nasional Lister menempuh pendidikan selama lima
tahun. Jika lulus, dia akan menjalani kehidupan asrama di Federasi Lister
selama lima tahun ke depan. Ike akan pergi ke sana bersama Sieg dan party Red
Wing.
Selama Sieg tidak ada, kami semua akan bekerja sama di
bawah kepemimpinan Maria untuk menutupi kekosongan tersebut.
"Kak Ike. Tolong jaga kesehatan, ya. Kami juga akan
menyusul tiga tahun lagi."
"Kakak Ipar, tolong jangan terlalu nakal di sana,
ya."
"……Selamat jalan……"
Clarice dan Elie masing-masing mengucapkan sepatah kata.
Elie masih seperti biasa.
Anggota Blue Fang dan Black Three Wolf Stars
juga memberikan kata-kata perpisahan satu per satu.
Terakhir, Maria berjalan menghampiri Ike bersama Lina. Sambil memeluk Ike, dia berkata:
"Kalau terjadi sesuatu, kamu boleh langsung pulang
kapan saja, ya."
Maria mengucapkannya sambil menangis, sementara Lina pun
ikut meraung sambil mengusapkan ingusnya ke baju Ike.
Setelah keduanya tenang, Ike menyatakan tekadnya di
hadapan semua orang yang berkumpul.
"Aku pasti akan lulus ujian dan meraih prestasi yang
membanggakan, jadi mohon nantikan kabarku."
Lalu, dia berbisik padaku yang berdiri di barisan paling
depan untuk melepasnya.
"Aku
titip semuanya, ya. Jangan sampai membuat Clarice terlalu sering
menangis."
Setelah kami melakukan fist bump terakhir, Ike
berangkat menuju Federasi Lister bersama Sieg dan Red Wing.
Aku meneriakkan semangat sekuat tenaga ke arah
punggung Ike yang mulai meninggalkan Almeria.
Ike menoleh dan mengangkat tangannya untuk merespons, memperlihatkan wajah yang bersimbah air mata—bahkan dari jarak sejauh ini pun, aku bisa merasakannya.



Post a Comment