Chapter 2
Salam Kenal, Dunia Lain
Setengah
tahun telah berlalu sejak aku bereinkarnasi ke dunia lain, dan aku mulai
memahami sedikit demi sedikit tentang dunia ini.
Pertama,
aku terlahir sebagai anak laki-laki kedua dari keluarga Baronet dengan nama Mars
Bryant.
Struktur
keluargaku adalah sebagai berikut:
Ayah: Zeke
Bryant (21 tahun), penyihir tampan berambut cokelat.
Ibu: Maria
Bryant (20 tahun), penyihir cantik berambut cokelat.
Kakak: Ike
Bryant (3 tahun), bocah nakal berambut merah.
Ayah Zeke
dan Ibu Maria dulunya dikenal sebagai petualang Dungeon. Setelah
mempersembahkan barang yang sangat langka kepada Raja, mereka diangkat dari
rakyat jelata menjadi Baronet.
Di dunia
ini terdapat sesuatu yang disebut Dungeon. Di dalamnya ada monster, dan
jika masuk lebih dalam, kita bisa menemukan harta karun. Monster menjatuhkan Magic
Stone atau terkadang material, sedangkan peti harta karun berisi
barang-barang yang sangat berharga.
Monster
sepertinya muncul juga di luar Dungeon, dan belakangan ini kabarnya
jumlah mereka semakin meningkat.
Zeke dan Maria
keduanya bisa menggunakan sihir. Aku pernah mencoba menggunakan Appraisal,
tapi mungkin karena level Heavenly Eye milikku masih rendah, aku belum
bisa melihat statistik detail mereka.
Yang bisa kuketahui hanyalah [Name] dan [Condition].
Ike sedang dalam masa aktif-aktifnya dan sangat suka bermain
pedang-pedangan. Saat ini pun dia sedang mengayun-ayunkan potongan kayu.
Sedangkan aku, beberapa hari yang lalu aku mulai makan
makanan pendamping ASI. Tubuh ini sepertinya sangat jenius; meski belum bisa
bicara, aku bisa mengerti secara garis besar apa yang orang lain katakan.
Dan yang paling penting, meski masih limbung, aku sudah bisa
berjalan sendiri. Berhasil berjalan adalah sebuah kemajuan, tapi ada satu lagi
kemajuan besar lainnya.
Yaitu ini. ( Status Open )
[Name] Mars Bryant
[Title] —
[Status] Human / Commoner
[Level] 1
[HP] 1/1
[MP] 10/10
[Strength] 1
[Agility] 1
[Magic] 1
[Dexterity] 1
[Endurance] 1
[Unique Ability] Natural Talent
[Unique Ability] Heavenly Eye
[Unique Ability] Lightning Magic
[Special Ability] Swordsmanship
[Special Ability] Wind Magic
[Special Ability] Holy Magic
Kemajuan itu adalah bertambahnya nilai maksimal MP-ku
sejak dua hari yang lalu. Saat
pertama kali melihat status, MP maksimalku adalah 5.
Satu kali
penggunaan Appraisal—salah satu kemampuan Heavenly Eye—mengonsumsi
1 MP. Jika aku menggunakannya lima kali, MP-ku menjadi 0, tubuhku
akan terasa lemas luar biasa, dan aku langsung kehilangan kesadaran.
Namun, saat
bangun berikutnya, MP maksimalku bertambah menjadi 6. Aku berpikir
mungkin MP akan bertambah jika digunakan sampai titik nol, jadi aku
terus menggunakan Appraisal dan pingsan setiap saat.
Begitu bangun, MP
maksimalku bertambah lagi, dan begitulah seterusnya. Selain itu, di dunia ini
sepertinya merapalkan Status Open saja tidak cukup untuk melihat Condition,
Luck, atau level bakat sihir dan pedang.
Seperti yang
dikatakan Tuan Demi-God, aku harus meningkatkan level Heavenly Eye agar
bisa melihatnya melalui Appraisal.
Hari ini pun,
setelah sarapan, aku berniat menggunakan Appraisal untuk menghabiskan
seluruh MP sebelum tidur. Aku berjalan limbung menuju ruang tengah, lalu
duduk mengelilingi meja makan bersama keluarga seperti biasanya.
Makanan pokok di
dunia ini sepertinya adalah roti; roti selalu muncul di setiap waktu makan.
Padahal aku tim nasi, pikirku sambil memakan roti yang sudah dilembutkan dengan
susu oleh Maria.
Percakapan
di meja makan berlangsung seperti ini:
"Mars
benar-benar anak yang tidak merepotkan ya. Baru setengah tahun tapi sudah bisa berjalan meski
masih goyah. Rasanya dia juga mengerti apa yang kita bicarakan."
"Iya ya.
Dulu saat Ike masih bayi sangat melelahkan, tapi Mars malah membuatku khawatir
karena saking tidak merepotkannya. Mungkin karena ada Ike di dekatnya, dia jadi
mendapatkan stimulasi yang bagus."
"Mars hebat
ya. Beda sama bayi-bayi lainnya."
Mereka memujiku.
Sebagai tipe orang yang makin semangat jika dipuji, aku merasa harus berusaha
lebih keras lagi. Setelah selesai makan, aku mulai berjalan berkeliling untuk
melatih kaki dan pinggang, lalu saat mulai lelah, aku menggunakan Appraisal
sampai MP-ku habis.
Aku ingin cepat
jadi pria mandiri dan berjuang demi keluarga! Sebagai ganti karena tidak bisa
berbakti di kehidupan sebelumnya, kali ini aku harus melakukannya minimal
setara dua kali masa hidup.
◆◇◆
Setahun telah
berlalu sejak reinkarnasi. Aku tidak pernah membolos sehari pun. Setiap hari
aku berlari ke sana kemari bukannya sekadar berjalan, dan aku sudah mulai bisa
bicara sedikit-sedikit.
Mengenai MP,
karena aku membiarkannya terkuras habis berkali-kali dalam sehari, jumlahnya
meningkat drastis. Karena aku terus-menerus menggunakan Appraisal, level
Heavenly Eye-ku naik, sehingga informasi yang muncul jadi lebih
mendetail.
Kategori [Age]
telah ditambahkan, dan nilai bakat juga mulai terlihat. Kelebihan Heavenly
Eye adalah, berbeda dengan Status Open, aku bisa meng-Appraisal
orang lain juga.
Untuk
membedakannya dengan Status Open, aku memutuskan menyebut kemampuan Heavenly
Eye ini sebagai Appraisal. Berikut adalah hasil Appraisal
pada diriku sendiri:
[Name] Mars Bryant
[Title] —
[Status] Human / Commoner
[Condition] Healthy
[Age] 1 Tahun
[Level] 1
[HP] 2/2
[MP] 872/873
[Strength] 1
[Agility] 1
[Magic] 3 (+2)
[Dexterity] 1
[Endurance] 1
[Luck] 30
[Unique Ability] Natural Talent (LvMAX)
[Unique Ability] Heavenly Eye (Lv3) (Naik dari
1)
[Unique Ability] Lightning Magic S (Lv0/20)
[Special Ability] Swordsmanship B (Lv0/17)
[Special Ability] Wind Magic A (Lv0/19)
[Special Ability] Holy Magic C (Lv0/15)
Mungkin karena
aku terus menguras MP, status Magic-ku juga naik 2 poin. Melihat
hasil kerja keras yang bisa divisualisasikan seperti ini membuatku sangat
senang. Aku jadi ingin terus berjuang.
Namun, saat ini
aku menghadapi satu masalah. Menggunakan Appraisal hanya mengonsumsi 1 MP,
jadi butuh waktu lama untuk menguras habis MP yang sekarang.
Aku ingin
menggunakan sihir, tapi aku tidak tahu caranya. Meski mencoba merapalkan
"Thunder" atau "Lightning" secara asal, tidak ada
tanda-tanda sihir itu akan aktif. Memang aku harus belajar cara menggunakan
sihir dengan benar.
Saat makan, aku
mencoba bertanya pada Zeke dan Maria.
"Gimana...
calanya pake sihil?"
Zeke dan Maria
saling berpandangan, tampak terkejut mendengar pertanyaan dari anak yang baru
saja menginjak usia satu tahun.
"Mars tahu
soal sihir? Dan kenapa kamu ingin menggunakannya?"
"Pengen coba
pake."
"...Begitu
ya. Mungkin Mars juga bisa menggunakannya nanti. Tapi Ike yang sudah empat
tahun saja belum bisa. Saat Ike belajar nanti, Ayah akan mengajarimu juga. Tapi
karena MP-mu mungkin belum cukup, kurasa sekarang masih belum
bisa."
"Kakak kapan
belajal sihil?"
"Saat Ike
berusia enam tahun, akan ada upacara Appraisal untuk tes bakat.
Bagaimana kalau saat itu Mars ikut tes juga, lalu mulai belajar sihir?"
Masih dua tahun
lagi... aku tidak mau membuang-buang waktu selama dua tahun. Maka dari itu, aku
mengajukan pertanyaan lain.
"Sihil Suci
itu apa?"
Begitu aku
bertanya, Zeke dan Maria saling bertatapan dengan ekspresi yang lebih terkejut
dari sebelumnya. Ike, kakakku, tampak sangat tertarik dengan pembicaraan kami.
"Dari mana
kamu tahu kata itu?"
"Tadi mampir
ke mimpi pas tidul."
"Sayang,
mungkinkah Mars punya bakat Holy Magic? Kalau dia pengguna Holy Magic,
pertumbuhan pesatnya ini jadi masuk akal. Kita harus segera mengajarinya dan
menanamkan bahaya dari kekuatan itu. Itu terlalu langka, kita tidak tahu apa
yang bisa terjadi nanti."
"Kau benar.
Mars, Ayah dan Ibu akan berdiskusi dulu, jadi hari ini tidurlah lebih awal.
Kita bicara lagi besok."
"Iya. Aku
nunggu besok ya. Selamat tidul."
"Selamat
tidur."
Sebagai
informasi, berikut adalah status milik Ike:
[Name] Ike Bryant
[Special Ability] Swordsmanship C (Lv0/15)
[Special Ability] Spearmanship B (Lv0/17)
[Special Ability] Fire Magic C (Lv0/15)
Sepertinya
dia tipe petarung fisik. Omong-omong, Special Ability biasanya
diwariskan dari orang tua sampai batas tertentu.
Ayah Zeke
memiliki Special Ability elemen Tanah, sedangkan Ibu Maria elemen Air.
Keluarga Bryant sepertinya tidak normal.
Sambil
memikirkan hal itu, aku menggunakan Appraisal sekuat tenaga pada segala
hal untuk menguras MP sebelum akhirnya tertidur. Semoga besok aku
bisa diajari sihir.
Pagi
harinya, aku berjalan limbung menuju ruang tengah.
"Pagi."
"Pagi."
Zeke dan Maria
membalas sapaanku, tapi Ike sepertinya masih tidur.
"Mars, soal
pembicaraan kemarin, Ayah akan melihat kecocokan sihirmu dulu. Setelah itu baru
kami putuskan apakah akan mengajarimu atau tidak."
Zeke
mengeluarkan dua benda seperti kristal dari kantong yang ada di atas meja.
"Ini
namanya Kristal Appraisal. Kristal ini bisa digunakan untuk menilai
kemampuan diri sendiri. Maria, tolong bangunkan Ike."
Atas
perintah Zeke, Maria membangunkan Ike dan membawanya ke sini.
"Ike,
coba pegang kristal ini sambil ucapkan Status Open."
"Iya!
Status Open!"
Seketika,
status milik Ike terpampang di kristal tersebut. Namun, informasinya
tidak sedetail hasil Appraisal-ku.
[Special Ability] Swordsmanship (Lv0)
[Special Ability] Spearmanship (Lv0)
[Special Ability] Fire Magic (Lv0)
Melihat hasil itu, Zeke dan Maria berseru:
"Luar biasa! Ike punya bakat Swordsmanship dan Spearmanship,
ditambah lagi ada bakat Fire Magic! Ayah ingin melatih sihirmu juga!
Menjadi Komandan Ksatria bukan lagi mimpi!"
"Iya!
Tidak berlebihan jika menyebutnya anak ajaib. Ayo kita besarkan dia dengan
benar."
Ike
sepertinya belum mengerti sepenuhnya apa yang mereka bicarakan, tapi dia tampak
senang karena tahu Zeke dan Maria merasa bangga padanya.
"Selanjutnya Mars. Coba ucapkan Status Open."
"Status Open."
[MP] 877/877
[Special Ability] Swordsmanship (Lv0)
[Special Ability] Wind Magic (Lv0)
[Special Ability] Holy Magic (Lv0)
"A-apa-apaan
ini... jumlah MP 877... Bukankah itu lima kali lipat lebih banyak dariku
atau Maria yang penyihir ini...?"
"Padahal
normalnya usia satu tahun itu MP 1, usia dua tahun MP 2, dan baru
bisa memakai sihir paling cepat usia lima tahun saat MP mencapai 5. Tapi
kalau begini dia sudah bisa memakai sihir... Ditambah lagi selain Holy Magic,
dia juga bisa Wind Magic... Ternyata anggapan bahwa pengguna Holy
Magic terlalu dicintai Tuhan sehingga tidak bisa memakai sihir lain itu
bohong ya."
"Satu hal
yang pasti, kedua anak kita ini tidak normal."
Ternyata
aku memang sangat berbakat. Lagi pula, sejak awal aku sudah punya 5 MP.
Mungkin ini juga termasuk bonus reinkarnasi.
Aku tidak
akan tinggi hati dengan bakat yang diberikan ini. Aku akan berusaha dua kali
lipat—tidak, tiga kali lipat dari orang lain.
Tiba-tiba
Zeke bergumam dengan wajah bingung.
"Eh,
tapi kenapa mereka berdua tidak ada yang mewarisi sihir Tanah atau Air dari
kita ya? Jangan-jangan... tidak, tidak mungkin."
"Sayang!
Mereka berdua jelas-jelas anak kita! Aku bersumpah demi Tuhan, aku tidak pernah
berhubungan dengan orang lain!"
"Ya, benar
juga. Kita kan melakukannya sesering itu, jadi tentu saja mereka anak
kita."
"Jadi
diajali sihil?"
Karena
pembicaraan mulai melantur, aku bertanya sekali lagi.
"Ah, iya.
Tapi sebelum itu, berjanjilah satu hal. Holy Magic adalah sihir untuk
menyembuhkan luka dan penyakit yang nilainya sangat tinggi. Jika orang jahat
menangkapmu, kau tidak tahu nasib buruk apa yang akan menimpamu."
"Jadi,
sampai kau dewasa... tidak, sampai Ayah dan Ibu bilang boleh, jangan pernah
katakan pada orang lain kalau kau bisa menggunakannya. Mengerti?"
"Mengelti."
"Bagus.
Pertama, Ayah akan ajarkan dasarnya."
"Iya. Gimana
calanya?"
"Pertama,
pusatkan konsentrasimu pada titik di bawah pusar yang disebut Tanden. Di
sanalah energi sihir berkumpul. Bayangkan energi itu mengalir dan bersirkulasi
ke seluruh tubuhmu. Awalnya
akan sulit, tapi jika tidak bisa melakukan ini, kau tidak akan bisa memakai
sihir meski punya bakat."
"Iya.
Mengelti."
Aku
menjawab dan mulai berkonsentrasi. Aku segera menemukan gumpalan energi sihir
di titik Tanden tersebut. Hanya saja, aku tidak bisa langsung
mengalirkannya ke seluruh tubuh.
Setelah berjuang
sekitar sepuluh menit, Maria memberikan saran.
"Bayangkan
energi dari Tanden itu mengalir seperti aliran darah di dalam
tubuhmu."
Aku
mengerahkan seluruh pengetahuan dari kehidupanku yang sebelumnya. Aku mulai
bisa membayangkannya. Seketika, energi sihir mulai bersirkulasi dan tubuhku
terasa sedikit hangat.
"Ooh! Hebat.
Kamu sudah bisa melakukannya."
"Benar.
Padahal bisa bicara selancar ini di usia satu tahun saja sudah luar biasa, Mars
mungkin memang dicintai oleh banyak hal ya..."
"Udah bisa
sildulasi, tentalus gimana pake sihilnya?"
"A-ah.
Sebenarnya Ayah hanya bisa sihir Tanah dan Ibu hanya bisa sihir Air. Kami
tidak bisa Holy Magic, Wind Magic, atau Fire Magic. Nanti
Ayah akan belikan buku panduan sihir atau Grimoire."
"Ayah akan membacakan isi Grimoire itu untukmu,
tapi Mars juga harus mulai belajar membaca dan menulis ya."
"Iya.
Mengelti. Aku bakal semangats."
"Kalau Mars
latihan sihir, aku juga mau latihan sihir!"
Ike yang sejak
tadi memperhatikanku juga mulai berlatih sirkulasi energi sihir. Zeke dan Maria
melihat kami berlatih dengan wajah bahagia.
Sepertinya tidak ada orang tua yang tidak senang melihat anaknya berusaha keras. Demi berbakti pada mereka, aku akan berjuang!



Post a Comment