NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Torimaki A kara Hajimeru Akuyaku Kousei Puran Volume 1 Chapter 4

Chapter 4

Perang Gula


Aku sedang berguling-guling di atas tempat tidur dengan perasaan frustrasi. Aku tidak tahu cara membuat gula, ini benar-benar misi yang mustahil.

Soal bit gula pun aku hanya tahu lewat novel, aku tidak tahu itu sayuran seperti apa. Kalau bicara soal gula, yang pertama terlintas adalah tebu, tapi tebu hanya tumbuh di daerah hangat.

Sebaliknya, wilayah Falduras berada di tempat yang cukup tinggi dengan iklim sejuk. Tebu tidak akan bisa tumbuh di sini.

Selain itu, aku terpikir soal sirup maple sebagai pengganti…… tapi dalam ingatan Radcliff muda, dia belum pernah memakannya.

Kalau tidak salah, itu adalah getah dari pohon maple. Aku tahu bentuk daunnya dari bendera Kanada, tapi jika ditanya seperti apa pohonnya, jujur saja aku tidak tahu. Mengingat Eric membangun kekayaan dari gula, aku menduga sirup maple tidak ada di dunia ini sebagai saingan gula.

Lagipula, mencari pohon dengan bentuk daun tertentu sangatlah mustahil bagiku yang tidak bisa keluar dari kediaman keluarga dengan bebas.

Dalam ingatan Radcliff, satu-satunya hal manis yang pernah dia makan adalah madu. Itu pun barang mahal yang dibelikan oleh Ayah sebagai barang berharga……

Aku mencoba mencari di buku apakah madu bisa didapatkan di sekitar sini, tapi sepertinya sulit. Monster yang menghasilkan madu tidak ada di wilayah ini. Memang ada lebah pembunuh bernama Killer Bee, tapi sepertinya mereka sejenis tawon yang tidak menghasilkan madu.

Sial……

Meski tidak sedingin wilayah utara, wilayah Falduras yang berada di dataran tinggi ini memiliki suhu yang cukup rendah. Jika dipikir secara logis, bit gula seperti yang dilakukan Eric adalah yang paling masuk akal, tapi……

Itu mustahil. Perusahaan Dagang Prosper yang ditolak kontraknya akan mengirim mata-mata, namun mereka semua akan dihabisi oleh sang protagonis yang sudah mulai menunjukkan bakat Cheat-nya.

Apalagi jika kabar ini sudah sampai ke telinga Marquis, itu berarti gula tersebut sudah dipersembahkan kepada Raja dan mendapatkan perlindungan khusus sebagai produk lokal baru wilayah utara.

Wilayah Stoltz yang tadinya hampir bangkrut dan tidak bisa membayar pajak akhirnya mendapatkan penangguhan pajak dari Raja berkat rencana produksi gula ini. Gula adalah komoditas yang sangat penting bagi negara ini.

Ugh……

Mungkin jika aku datang dengan santai dan menyapanya, "Halo Brother, Jepang menyenangkan ya?", mungkin masih ada kesempatan. Tapi seperti yang kupikirkan sebelumnya, Jepang di dalam novel dan Jepang di duniaku mungkin berbeda. Aku juga tidak mungkin bilang "Kamu itu cuma karakter novel" kepada protagonis yang merasa dirinya adalah orang yang bereinkarnasi dari Bumi.

……Sepertinya aku harus mencari cara lain.

Kalau begitu, cara terbaik adalah menghentikan tindakan sembrono Ayah, tapi Ayah bukan tipe orang yang mau mendengarkan kata-kataku……

"Rasanya mau muntah……"

Sejak latihan bersama Adric dan yang lainnya, hatiku benar-benar merasa lelah dan tertekan.

Tok tok……

Tilly masuk ke kamar bersamaan dengan suara ketukan pintu.

"A-ah…… Makan siang?"

"Bukan."

"Eh? Oh, ganti baju ya……"

Mungkin aku sudah tidak ganti baju selama tiga hari. Kamarku juga berantakan dengan buku-buku yang kusebar demi mencari solusi masalah gula.

"Padahal Tuan Muda baru saja mulai berolahraga di luar, tapi sekarang malah mengurung diri lagi……"

"Ugh…… Begitulah, aku ini sedang berada di usia yang punya banyak kekhawatiran, tahu."

"Aduh. Kalau Tuan Muda tidak lebih bersemangat, nanti Anda akan dibenci, lho."

"Hm? ……Oleh siapa?"

Kadang gadis ini mengatakan hal-hal yang tidak kumengerti. Hatti juga begitu, mungkin Tilly ini sebenarnya tipe yang agak polos dan aneh.

Aku hanya terpaku karena tidak mengerti apa maksud Tilly.

"Saya sudah dengar, lho. Soal Lumiere-sama."

"……Hah?"

"Fufufu. Tidak perlu ditutup-tupi. Saya sudah dengar rumornya. Katanya Lumiere-sama itu sangat cantik, ya."

"Tunggu. Apa yang──"

"Tidak apa-apa kok. Fufufufufufufufu."

"Tunggu dulu, ketawa macam apa itu?"

"Apakah itu cinta pertama Tuan Muda?"

Cinta pertama matamu! Tilly sedang menatap kejauhan dengan mata berbinar seperti gadis yang kecanduan novel romantis.

Sepertinya Tilly menyimpulkan kalau alasanku mengurung diri dan termenung selama ini adalah karena sedang jatuh cinta.

"Tunggu, dari mana kamu dengar cerita itu?"

"Tuan Besar bilang kalau Tuan Muda jadi sedikit aneh setelah bertemu Lumiere-sama."

"Kuakwse drftgy fujiko lp!"

Sialan, Ayah itu benar-benar tidak paham perasaan anaknya sama sekali. Aku merasa lemas, lalu mencoba mengubah suasana hati. Tidak ada gunanya terus mengeluh karena tidak akan menyelesaikan masalah.

"Di mana…… Master Scott?"

"Sedang berlatih bersama Hatti. Master bilang anak itu punya bakat yang luar biasa, ya?"

"Hm? Oh. Dia benar-benar punya potensi untuk menjadi petualang S-Rank nanti."

"Sampai sejauh itu……?"

Yah, dalam novel dia memang benar-benar menjadi S-Rank. Aku tidak berbohong.

"Baiklah, aku juga akan menggerakkan tubuh sedikit."

"Ah, kalau begitu saya siapkan air mandi dulu ya."

"Tidak perlu, nanti saja."

"Jangan begitu. Bau Tuan Muda sudah mulai tercium."

"Eh? ……Serius?"

Saat aku bertanya begitu, Tilly hanya mengangguk dalam diam. Anggapan bahwa anak muda tidak akan bau badan ternyata hanya ilusi. Kalau sudah dibilang bau begitu, aku pun jadi merasa risi sendiri.

Setelah sedikit membersihkan diri, aku pergi menemui Hatti dan yang lainnya.

"Dasar pemalas, beraninya bolos latihan."

"Bukan begitu, banyak hal yang terjadi, tahu."

"Aku tetap melatih Hatti saat kamu tidak ada, jadi aku tetap akan mengambil gajiku."

"Iya, aku tahu……"

Saat aku sampai di depan kandang kuda, Scott mengeluh dengan wajah masam. Yah, wajar saja bagi orang yang dibayar untuk mengajar pedang.

"Yah, mau bagaimana lagi. Kamu baru saja bertemu kembali dengan cinta pertamamu."

"……Hah?"

Tiba-tiba Scott melepaskan bom informasi.

"Hm? Sudah dua tahun ya sejak terakhir kali kamu bertemu Lumiere-sama?"

"Pfft! Tunggu sebentar! Itu salah paham!"

"Hahaha. Dasar anak muda. Suka dengan bunga di puncak gunung itu bagus, kok."

"Sudah kubilang bukan begitu──"

"Waktu di mana kamu bisa membicarakan hal itu secara alami adalah saat kamu bisa disebut sebagai orang dewasa."

"Kuakwse drftgy fujiko lp!"

Gawat. Eh? Apa di sini ada jaringan media sosial? Kenapa gosip itu bisa sampai ke telinga Scott juga?

Aku hanya bisa menatap Scott dengan wajah cengo.

Lalu giliran Hatti yang bertanya dengan wajah penasaran.

"Hei. Apa itu cinta?"

……Haa. Di saat seperti ini, Hatti memang yang terbaik. Hidup karakter polos!

"Eto…… Lihat, Hatti suka Dixie, kan?"

"Iya!"

"Rasanya seperti itu."

"Begitu ya, jadi Lumiere-sama itu seekor kuda, ya."

"Bukan! Jangan bilang begitu! Jangan──!"

Ternyata karakter polos juga berbahaya. Aku tarik kembali kata-kataku.

Sialan. Melihat Hatti juga tahu, sumber informasinya pasti Tilly. Di dunia dengan sedikit hiburan ini, informasi seperti ini sangat berbahaya……

Meski begitu, selama ini aku bisa memastikan keselamatan Lumiere berkat informasi dari Scott. Fakta bahwa Scott mengira aku mencari informasi karena jatuh cinta pada Lumiere sebenarnya sangat membantu.

Aku tidak mungkin bilang pada anggota Morgan kalau aku datang dari Jepang. Tapi meskipun aku sudah 'menjual jiwa', informasi tidak bisa didapatkan semudah itu. Scott pasti akan menjaga rahasia Morgan dengan ketat. Dia tidak akan membawakan informasi dalam jumlah besar yang bisa menimbulkan kecurigaan.

Secara logika, mustahil bagi putra kedua dari keluarga Baron sepertiku untuk mendapatkan informasi tentang putri keluarga Marquis. Jadi, ini adalah pilihan yang tak terhindarkan.

Ya…… Kalau tidak menganggapnya sebagai keuntungan, aku tidak akan merasa impas.

Belakangan ini aku sudah tidak mempedulikan pandangan Scott dan terus berlatih 32 Jurus Pedang Tai Chi sendirian. Karena sulit mengayunkan pedang di kamar, tempat ini sangat pas.

Hatti yang awalnya minta diajari juga langsung bosan melihat gerakan lambat yang diulang terus-menerus, dan dia kembali berlatih dengan Scott.

"Sss…… Haa……"

Sudah sekitar tiga hari aku melalaikan pengendalian mana. Seperti biasa, aku mengumpulkan mana perlahan sambil mengulangi gerakan tersebut.

……Hm?

Aku melakukan ini setiap hari sejak mulai berlatih, tapi entah kenapa hari ini sensasi mananya terasa berbeda dari biasanya. Apa karena aku sempat libur tiga hari?

Aku tidak tahu pasti, tapi aku mulai merasa senang dan mempercepat tempo gerakanku sedikit. Keseimbanganku tetap terjaga meski dengan kecepatan tertentu.

Apa perasaanku saja, atau jumlah manaku memang bertambah? Mungkin ini cuma halusinasiku karena sudah lama tidak berlatih. Tapi bisa saja ini seperti latihan otot, di mana memberikan waktu istirahat yang cukup justru memberikan efek Super Compensation.

Layak untuk dicoba.

Aku masih belum melakukan pelepasan mana untuk meningkatkan kapasitas total karena rasanya mual. Karena selama ini aku belum merasakan perubahan besar dari latihanku, sensasi kali ini membuatku sedikit senang.

Setelah beberapa saat, aku menyelesaikan jurusku dan menoleh. Seperti biasa, mereka berdua sedang menyeruput teh di tempat peristirahatan di bawah pohon.

──Hahaha. Sangat berbeda dengan acara minum teh di kastil.

Sambil berpikir begitu, aku memutuskan untuk beristirahat juga. Awalnya kami hanya duduk di atas alas di bawah pohon, tapi lama-kelamaan kotak kayu yang berfungsi sebagai kursi bertambah, dan baru-baru ini entah dari mana sebuah tong muncul sebagai pengganti meja.

……Lho?

Saat aku duduk di atas kotak kayu, sebuah sensasi aneh menyelimutiku. Eh? Apa ada yang aku lupakan? Tidak……Bukan? Apa ada yang terlewat?

Apa ya? Perasaan mengganjal ini masih tersisa di dalam hati.

"Ada apa?"

"Tidak……"

Aku tidak tahu harus menjawab apa pada Scott. Namun tiba-tiba aku mendongak ke atas dan menyadarinya.

──Jangan-jangan!

"Scott, punya pisau?"

"Ada, tapi buat apa?"

"Pinjam sebentar!"

Aku merebut pisau dari Scott dan berlari menuju pohon tempat kami berteduh…… pohon birch putih. Lalu, aku memegang pisau dengan posisi terbalik dan menusukkannya ke batang pohon tersebut.

"Oi, oi, apa yang──"

"Tunggu dulu! Rado!"

Scott dan Hatti yang melihatnya berteriak kaget. Tapi aku mengabaikan mereka.

Gak gak. Bagi Hatti, ini adalah pohon yang sudah ada di depan matanya sejak kecil. Dia pasti tidak terima jika pohon itu tiba-tiba ditusuk dengan pisau. Dia berdiri untuk menghentikanku, tapi Scott menahannya.

"Ke-kenapa!"

"Lihat saja dulu. Anak ini tidak akan merusak sesuatu tanpa alasan."

"Tapi dia sedang merusaknya!"

Meski keadaan di luar berisik, aku tetap fokus.

──Gagal ya?

Aku melihat lubang yang kubuat agak dalam, tapi hasilnya tidak seperti yang kubayangkan. Sepertinya faktor musim memang sangat menentukan. Meski begitu, saat aku memasukkan jari ke dalam lubang, rasanya sedikit basah.

Aku mengorek lubang itu dengan pisau, mengambil serpihan kayu, dan memasukkannya ke mulut.

"Lihat! Rado sudah jadi aneh!"

"Oi, Radcliff. Apa maksudnya ini?"

Aku memejamkan mata dan berusaha fokus pada indra perasaku. Lalu, aku merasakan rasa manis yang samar dari serpihan kayu itu.

"Hahahaha! Ya! Ya! Ini mungkin berhasil!"

Aku tidak bisa berhenti tertawa karena dugaanku tepat sasaran.

"Ah, sepertinya dia sudah tidak tertolong."

"Apa gara-gara terlalu kepikiran soal Lumiere-sama……"

Karena tidak mengerti maksudku, mereka berdua menatapku dengan mata penuh iba.

"Bukan begitu, lihat, ini manis tahu."

"Rado yang dulu sudah……"

"……tidak akan kembali."

Ugh. Berhenti menatapku dengan mata seperti itu.

Aku memberikan serpihan kayu yang basah oleh getah itu kepada mereka berdua dan menyuruh mereka mencicipinya. Mereka sempat saling pandang dengan ragu, namun akhirnya memasukkannya ke mulut.

"Yah…… memang terasa manis samar-samar, tapi lalu kenapa? Getah kan memang disukai serangga."

"Benar, tapi jika ini dikumpulkan dalam satu panci besar dan direbus hingga mengental, ini akan menjadi sirup yang manis."

"Dari serpihan kayu ini?"

"Bukan, dari getah yang membasahi serpihan kayu ini."

"……Kamu sehat?"

"Eh? Apa maksudnya?"

"Bagaimana caranya kamu mengumpulkan getah yang cuma membasahi sedikit begini dalam jumlah banyak?"

"……Ah. Yah, soal itu……"

Sepertinya ini hanya bisa dilakukan saat musim mencairnya salju, saat pergantian dari musim dingin ke musim semi.

Bicara soal merebus getah menjadi sirup, siapa pun pasti akan teringat sirup maple. Aku pun begitu. Tapi, ada pohon lain yang juga bisa menghasilkan sirup manis yang sama. Yaitu pohon birch.

Aku ingat Xylitol yang sering digunakan dalam permen karet tanpa gula itu ditemukan dari pohon birch. Saat masih di Jepang, aku tinggal di daerah pegunungan Shinshu, dan aku ingat pernah melihat di TV proyek pengembangan kota yang membuat sirup seperti maple dari pohon birch.

Aku ingat mengonsumsi Xylitol dalam jumlah banyak bisa menyebabkan diare, tapi seingatku sirup pohon birch kandungan utamanya adalah glukosa. Bagian itu mungkin agak meragukan, sih.

Kemungkinan besar rasa sirup pohon birch tidak akan bisa mengalahkan sirup maple. Itu bisa dilihat dari fakta bahwa sirup birch tidak sepopuler sirup maple. Tapi, jika ini adalah "Dunia Lain hasil karya fiksi" buatan orang Jepang, mungkin perbedaannya tidak akan sedrastis itu.

Bisa saja pohon birch di sini malah menghasilkan sirup maple biasa, atau sebaliknya, pohon birch tidak diberi karakteristik seperti itu sehingga getahnya tidak bisa diambil dalam jumlah banyak saat musim semi. Sangat merepotkan karena hukum alam di dunia fiksi dan dunia nyata tidak selalu sama.

Tapi saat ini, aku akan berpegang pada harapan ini. Pokoknya, aku akan mencoba sebisaku.

Sebenarnya aku ingin segera bergerak, tapi aku terhalang oleh batasan usiaku yang masih delapan tahun. Namun, tidak ada gunanya terburu-buru. Aku punya banyak waktu.

Pembuatan gula dari bit yang dilakukan Eric pun dimulai dari menanam tanaman. Kurasa panennya hanya satu tahun sekali. Di usia delapan tahun, paling dia baru merasakan dua, atau paling banyak tiga kali masa panen.

Itu artinya, semuanya masih dalam tahap eksperimen. Butuh waktu lama untuk memperluas lahan, masa tanam, hingga panen secara besar-besaran.

Belum lagi pembangunan fasilitas pemurnian, proses pemurnian itu sendiri, persiapan kemasan agar layak jual, hingga membangun jalur distribusi.…… Ya, sudah pasti masih butuh waktu lama sampai produk itu benar-benar dipasarkan.

Kalau dipikir sampai ke sana, aku tidak perlu terburu-buru.

Meskipun banyak peristiwa terjadi di antaranya, kurasa Eric baru bisa membereskan sistemnya agar bisa dikelola oleh rekan-rekannya sendiri saat dia berusia dua belas tahun, tepat sebelum masuk akademi.

Jika dipikir begitu, aku masih punya waktu empat tahun.

Yah, kemungkinan besar Ayahku sudah mulai bergerak. Beliau pasti menekan keluarga Eric dengan iming-iming investasi demi mendapatkan hak monopoli. Sebentar lagi juga Beliau akan diusir mentah-mentah dengan memalukan.

Karena hal itu sudah tidak bisa dicegah, lebih baik aku menyerah saja soal itu. Bagiku, yang terpenting adalah membawa ideku ini ke hadapan Ayah sebelum hubungan dengan Eric menjadi benar-benar hancur.

Lalu, jika aku bisa masuk akademi dan berteman baik dengannya, mungkin aku bisa menjadi perantara untuk mendamaikan Eric dengan Ayah.

Sip. Rasanya ini bisa berhasil.

Atau lebih tepatnya, kalau aku tidak berhasil melakukannya dengan benar, kehidupan dunia lainku yang elegan ini bakal lenyap.

Untuk itu, aku harus menyusun rencana yang sangat matang……

Pertama-tama, aku kembali mengubur diri dalam buku-buku seperti biasa. Meskipun jumlahnya sedikit, ada beberapa buku yang membahas tentang pepohonan.

Namun, sebanyak apa pun aku mencari, tidak ada satu pun catatan tentang pohon yang memiliki getah manis. Ini mungkin bukan karena penelitian botani yang belum maju, tapi lebih karena Ayah memang tidak membeli buku-buku semacam itu……

Meski begitu, aku tidak boleh berhenti. Aku mengerahkan seluruh pengetahuanku untuk memikirkan apa saja yang dibutuhkan untuk menyadap getah.

Berdasarkan dokumentasi acara berita yang pernah kutonton, mereka melubangi batang pohon menggunakan bor listrik di tengah hutan yang masih bersalju, lalu memasukkan selang karet untuk mengumpulkan getah ke dalam botol plastik.

Di dunia ini tidak ada bor listrik, selang karet, apalagi botol plastik. Masalahnya adalah bagaimana cara menyadapnya. Aku mencoba memikirkan sistem yang mungkin dibuat dengan teknologi dunia ini.

Setelah berhasil membuat semacam cetak biru alat yang kubutuhkan, aku menyerahkannya pada Scott.

"Kamu mau memesan alat ini? Hm? Sampai sepuluh buah?"

Tentu saja orang yang kumintai tolong adalah Scott. Meskipun orang tuaku penganut paham kebebasan, soal urusan keluar rumah mereka cukup ketat. Mungkin karena ini adalah dunia yang penuh monster, izin untuk pergi ke kota tidak diberikan sembarangan.

Karena tidak ada selang karet, mau tidak mau aku harus memasukkan sesuatu yang berbentuk tabung logam. Kacamata saja ada, jadi alat begini pasti bisa dibuat.

"Boleh saja sih, tapi uangnya bagaimana?"

"……Eh?"

"Alat begini pasti memakan biaya yang lumayan, tahu……"

"Ah, tunggu sebentar. Benar juga, uang ya……"

"Kukuku. Padahal kamu terlihat sangat dewasa, tapi kalau melihat hal seperti ini, kamu memang masih bocah."

Sialan. Uang, ya? Meskipun Ayahku seorang pedagang besar, beliau sangat ketat dalam mengatur keuangan untukku. Beliau terasa agak lunak pada Kakak, tapi sangat keras padaku. Aku tidak punya uang yang bisa kugunakan sebebas itu.

Scott menghela napas geli, namun dia tetap tertawa dengan riang.

"Eto…… Bagaimana kalau ditalangi dulu?"

"Tidak mau."

"Guh."

Aku kembali membentur dinding. Aku punya rasa percaya diri untuk meyakinkan Ayah jika aku sudah berhasil membuat sampel sirupnya, tapi pada tahap sekarang, rasanya masih sulit.

Sial. Uang ya…… Aku harus mengerahkan seluruh pengetahuan Light Novel-ku……

…….

…….

"Uang". Sesuatu yang terasa dekat namun sulit digapai.

……Oi, oi, bagaimana cara melakukan Knowledge Cheat yang benar? Aku berpikir keras mencari ide lain.

Yang paling umum biasanya adalah penemuan permainan Reversi. Tapi itu adalah jatah yang akan dilakukan Eric dengan benar. Saat bagian Akademi nanti, dia juga akan membuat sampo untuk para selebritas di ibu kota.

Pada dasarnya, hal-hal yang bisa dilakukan dengan pengetahuan orang awam biasanya adalah poin-poin penting milik sang protagonis, jadi aku tidak boleh mengambilnya.

Selain itu, masalahnya adalah untuk melakukan Knowledge Cheat, aku butuh dukungan dari orang dewasa sampai batas tertentu.

Dalam kasus Eric, muncul pedagang baik hati yang tertarik dengan idenya dan meraup untung besar, sehingga si pedagang mau memberikan investasi awal dan bahan baku. Itulah kunci kesuksesannya.

……Uang ya.

Aku sebenarnya tidak mau melakukannya, tapi ada satu cara.

Koleksi buku orang tuaku punya banyak informasi berguna bagiku. Namun, di antaranya ada buku-buku yang isinya terlalu mengada-ada dan tidak bisa dijadikan referensi.

Mungkin tidak apa-apa kalau aku menjual buku-buku itu. Di dunia ini, sebuah "Buku" saja sudah termasuk barang berharga.

Pada akhirnya, aku merasa sedih karena pikiranku berujung pada menjadi anak beban orang tua.

Tapi, buku yang tidak terpakai adalah jatah Book-Off.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close