Epilog
Aku dan Seva
sengaja mencari tahu rumor tentang bandit di Gunung Riul, lalu menyewa orang
untuk mengejar Lumiera dan menyelamatkannya. Sepertinya cerita seperti itulah
yang tersebar luas di seluruh wilayah feodal ini.
Tanpa kusadari,
aku telah mendadak menjadi sosok pahlawan.
Setelah puas
menikmati liburan di Pireno, kami yang kembali ke Falcrest disambut dengan
sambutan yang luar biasa.
Kami
bahkan tidak bisa langsung pulang ke rumah masing-masing dan berakhir menginap
di kastel milik Marquis.
"Rad!
Seva!"
Sesaat
setelah aku turun dari kereta kuda, Adric yang sudah menunggu untuk menjemput
kami langsung menghampiri.
"Adric?"
"Kalian
berdua, terima kasih sudah menyelamatkan Lumiera……"
"U-um,
ya."
Melihat reaksi
Adric, aku dan Seva saling bertatapan dengan wajah tersipu malu.
Malam itu, aku,
Adric, dan Seva berkumpul hingga larut malam untuk menceritakan petualangan
besar kali ini. Adric pasti juga ingin bertarung bersama kami; raut penyesalan
yang sesekali muncul di wajahnya meninggalkan kesan mendalam bagiku.
Keesokan harinya,
sebuah perjamuan syukur diadakan sebagai tanda terima kasih kepada kami.
Ini bukanlah
pesta besar-besaran, melainkan perjamuan kecil yang hanya mengundang keluarga
Marquis, keluarga Croftol, dan keluarga Prosper—pertemuan antara tiga keluarga.
Di awal
perjamuan, Marquis Farduras berdiri dengan khidmat, mengangkat cawannya, lalu
mulai bicara.
"Dalam
insiden kali ini, kepada Servant Croftol dan Radcliff Prosper yang telah
menyelamatkan putriku. Kepada dua pahlawan ini, aku ingin mempersembahkan rasa
terima kasihku yang tulus."
Di
samping sang Marquis, istrinya dan Lumiera tersenyum dengan lembut.
"Akan
datang saatnya di mana nilai seseorang ditentukan oleh tindakan apa yang ia
pilih. Tindakan kalian berdua benar-benar merupakan kebanggaan wilayahku.
Teruslah ingat untuk tidak melupakan kebenaran yang kalian yakini──"
Mendengar
kata-kata itu, para orang dewasa yang hadir turut mengangkat cawan mereka
dengan tenang. Di sisi lain, aku merasa sedikit bersalah karena motivasiku
sebenarnya adalah demi melarikan diri dari death flag sendiri.
Meski begitu,
perasaan ingin menyelamatkan Lumiera itu benar-benar tulus tanpa keraguan.
"──Agar
kalian tidak mempermalukan Alca."
Seandainya saja
kalimat terakhir itu tidak ada…… Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berpikir begitu.
Di meja
perjamuan, Ayah juga tampak sangat bersemangat, hal yang jarang terjadi. Dia
biasanya pria pendiam yang minim ekspresi, tapi kali ini, mungkin karena
pengaruh alkohol, dia menyunggingkan senyum dan menepuk bahuku sambil berkata,
"Kerja bagus."
……Walaupun tepat
setelah itu, dia memberiku peringatan dengan suara rendah, "Tapi…… kamu
masih anak-anak. Hal seperti itu harusnya dikonsultasikan dulu kepadaku."
Dia pasti mengkhawatirkanku.
Lalu Ayah
bertanya, "Sebagai hadiah, tongkat sihir seperti apa yang kamu
inginkan?"
Tapi, aku sudah
memilikinya. Tongkat kayu eboni yang ditinggalkan oleh Sabero. Meski
memancarkan kilau yang terasa mengerikan, cahaya pada permata sihirnya sangat
luar biasa dan jelas merupakan barang kelas satu.
Tiba-tiba mataku
tertuju pada ukiran nama yang ada di sana. Wailing Lazar, nama yang
terdengar sangat tidak beruntung bagaimanapun aku memikirkannya, tapi aku
meyakinkan diriku bahwa ini pasti selera Sabero saja.
Aku sudah
mencobanya sedikit dan tongkat itu sendiri tidak memiliki masalah.
……Seharusnya.
Saat aku
menatapnya, permata pada tongkat itu berkilat redup sesaat, seolah-olah sedang
menertawakanku.
……Pasti tidak
apa-apa.
Terlebih lagi,
aku juga mendapatkan cincin yang mempercepat pemulihan mana (Mana Regen).
Karena ukurannya terlalu besar, untuk sementara aku berniat memasangkannya pada
rantai dan mengalungkannya di leher.
Benda-benda ini
pastinya akan menjadi kekuatanku. Aku telah menggenggam dan menjadikannya
milikku sepenuhnya.
Bagaimanapun
juga, tujuan awalku untuk mencegah serangan terhadap Lumiera telah berhasil
dilakukan dengan selamat. Dengan ini, rencanaku telah melangkah maju secara
signifikan.
Meski begitu,
masih banyak hal yang tersisa untuk dikerjakan.
Pertama-tama,
sirup pohon shirakaba. Peralatan sudah siap, tenaga kerja pun sudah diamankan.
Sisanya hanya butuh sedikit keberuntungan, tapi aku harus menyelesaikannya demi
Perusahaan Dagang Prosper.
Demikianlah, "Rencana Rehabilitasi Antagonis" milikku telah memulai langkah pertamanya dengan lancar.



1 comment