Interlude
Monolog GM
Terkadang, seorang GM bisa sangat menyukai salah satu
NPC-nya.
Selain melibatkan mereka dalam cerita utama, GM terkadang
membuat berlembar-lembar teks latar belakang untuk mereka.
Di meja permainan di mana informasi karakter dibagikan
melalui layanan berbasis cloud, para pemain mungkin tidak sengaja
menemukan timbunan data tersebut.
Meski ini bagus untuk pembangunan dunia (world-building),
para pemain terkadang dibuat ternganga melihat betapa banyak cinta dan waktu
yang dicurahkan untuk sosok yang, di mata mereka, hanyalah NPC acak.
Schnee tidak tahu apa-apa soal asal-usulnya.
Dia mungkin lahir di Marsheim, tapi dia tidak tahu tepatnya
di mana atau kapan, atau bahkan siapa orang tuanya.
Satu-satunya yang dia tahu adalah dia ditemukan telantar di
gang kotor, mengeong tanpa henti.
Keluarga angkatnya adalah orang-orang yang selamanya
kesulitan uang, namun kaya hati.
Rumah mereka berada di pemukiman kecil yang nyaman bernama
Gutterwalk.
Sebagian besar sistem pembuangan limbah Marsheim bermuara di
sana; penduduk setempat, demi menghemat kaki malang mereka, memasang jaringan
papan kayu yang selalu bergeser dan diperbarui sebagai jalur pejalan kaki.
Bau menyengat di tempat itu menjauhkan pihak berwenang dan
uang kota, sehingga kota kumuh tersebut tetap tidak berubah selama
turun-temurun.
Sudah sewajarnya jika penduduk setempat tidak memiliki masa
depan yang cerah.
Sama seperti perkemahan tenda di luar kota, tempat itu
adalah sarang bagi pendatang baru yang tak punya uang dan mereka yang tidak
bisa atau tidak berani menyebutkan nama kampung halaman atau orang tua sah
mereka.
Meski begitu, mereka bukan orang jahat.
Mereka masih memiliki kebaikan hati untuk memungut gumpalan
bulu putih kecil—yang sejujurnya nyaris tidak lebih dari anak kucing biasa.
Gutterwalk bukanlah tempat untuk mendapatkan
pendidikan—bahkan bukan tempat untuk menguasai bahasa Rhinian standar dengan
percaya diri, mengingat betapa beragamnya asal-usul orang-orang di sana.
Tetap saja, terlepas dari campuran bahasa asing yang
melingkupinya sejak kecil, keluarga angkat Schnee memilih memberinya nama yang
menurut pengetahuan mereka terdengar cukup ke-Rhine-an dan mencerminkan bulu
putih saljunya.
Mereka tidak paham akan implikasi suram dari nama
itu—dinginnya salju yang menyakitkan atau sifatnya yang fana.
Banyak dari mereka bahkan belum pernah melihat salju
sebelumnya.
Schnee menghargai namanya meskipun nama itu sering
mengundang tawa yang kejam.
Dia mungkin lahir ke dalam masyarakat mensch dan
dipaksa berurusan dengan segala penderitaan di dalamnya, tapi sifat namanya
yang singkat dan manis terasa seperti kesamaan dengan kerabat kucingnya yang
lebih kecil.
Orang-orang suka menamai kucing berdasarkan kesan pertama.
Di Kekaisaran, kau akan menemukan kucing nakal yang
dipanggil Schelm atau yang manis dipanggil Hubsch; banyak kucing hitam akhirnya
dipanggil Schwarz dan kucing putih, tentu saja, cenderung mendapat nama Weiss.
Schnee tidak
merasa malu diperlakukan serupa.
Orang-orang lebih
menyukai hewan liar dan telantar daripada manusia yang berada dalam kondisi
yang sama.
Schnee memiliki
masa kecil yang keras dan serba kekurangan, tapi dia dibesarkan dengan layak,
bukan sekadar dibiarkan hidup.
Keluarganya
mengajarinya membaca dan mengeja meskipun dengan logat pelabuhan yang kasar.
Dia merasa
diberkati.
Dari Gutterwalk,
seseorang bisa melihat dengan jelas banyaknya nasib yang jauh lebih buruk yang
bisa saja menimpanya.
Beruntung bagi
Schnee, ras bubastisian bisa mencerna daging mentah dan makanan basi
lebih baik daripada mensch.
Apa yang
menghambat teman sebaya justru membuatnya tumbuh subur, sampai batas tertentu.
Teman-teman
sesama yatim piatunya berasal dari berbagai ras—kemiskinan sepertinya tidak
memihak pada ras tertentu.
Pada saat Schnee
berusia delapan tahun, dia sudah memiliki kekuatan orang dewasa.
Bubastisian hidup paling lama sekitar lima puluh
tahun, tapi itu berarti mereka berkembang lebih cepat juga.
Terlepas dari
banyaknya ras di Marsheim, tidak ada satu pun yang tampaknya tahu cara menebak
usia kucing—seseorang bisa berspekulasi berdasarkan kualitas bulu atau ukuran,
tapi pada akhirnya itu semua hanyalah spekulasi.
Tidak terkecuali
dengan Schnee.
Kebanyakan orang
bahkan tidak bisa membedakan jenis kelaminnya.
Sejak awal, dia
tidak pernah kesulitan berbaur dengan orang-orang yang jauh lebih tua darinya.
Lebih dari
segalanya, tinggi badannyalah yang membuatnya bisa lewat tanpa disadari di
antara orang dewasa.
Dia nyaris tidak
memiliki perawakan anak berusia delapan tahun.
Sekali lagi,
Schnee tidak keberatan selama itu berarti dia bisa mulai membalas budi kepada
keluarganya lebih cepat.
Mereka mungkin
hidup dalam kotoran dan kemelaratan, tetapi orang-orang Gutterwalk berjuang
untuk menjalani hidup yang lurus.
Bagi Schnee,
seluruh lingkungan itu seperti satu keluarga besar.
Sudah sepantasnya dia membalas budi.
Seluruh hidupnya ditentukan oleh komunitas di mana setiap
orang berbagi apa pun yang mereka miliki.
Ketika dia akhirnya cukup umur untuk melakukan lebih dari
sekadar mengeong, Schnee memutuskan untuk mencari pekerjaan yang lebih cocok
bagi seorang bubastisian daripada mencuri atau mengais sampah.
Pekerjaan pertama
yang dia ambil hanyalah pembasmian hama.
Bayarannya kecil,
tapi tidak ada orang lain yang mau melakukannya, jadi si yatim piatu itu segera
menemukan ceruk pasarnya.
Marsheim memiliki
populasi yang padat dan banyak lubang persembunyian di mana hama bersembunyi
dan berkembang biak.
Kebanyakan orang
senang membayar beberapa keping perunggu untuk melenyapkan masalah mereka.
Saat bekerja,
Schnee menyadari sesuatu.
Ketika
dia menyapa orang, mereka sering kali terlonjak kaget.
Bahkan
ketika dia berdiri di depan seseorang, mereka sering kali seolah-olah melihat
menembusnya.
Entah karena
alasan apa, orang-orang merasa sulit menyadari keberadaannya.
Kurangnya hawa
keberadaan bawaannya semakin teredam oleh langkah kakinya yang sunyi (berkat
bantalan cakarnya), aromanya yang hampir tidak ada (berkat kebiasaan
membersihkan diri), dan sesuatu yang tak terlukiskan dalam cara dia bergerak.
Dia memulai hidup
sebagai sesuatu yang sangat kecil, mudah terinjak-injak di bawah kaki.
Untuk berjalan di
mana pun di Ende Erde, dia harus belajar di luar kepala cara agar tidak
menghalangi jalan.
Bahkan jika dia
tidak tahu logika di baliknya, Schnee muda segera menyadari bahwa seorang gadis
dengan bakat sepertinya bisa menghasilkan keuntungan nyata.
"Dengar,
Schnee. Tidak peduli seberapa kecil kelihatannya sesuatu, orang-orang yang
bekerja keras telah bersusah payah untuk mendapatkannya. Jangan sampai kau pergi dan
melakukan sesuatu yang curang, mengerti?"
Pak Tua
Stump, seorang pria mensch yang mendapat nama itu karena kehilangan
tangan kanannya, telah memberi tahu Schnee—dan siapa pun yang mau
mendengarkan—bahwa mencuri dari orang lain adalah kesalahan yang paling berat.
Tangannya
telah diambil sebagai hukuman yang sah secara hukum karena mencuri—tidak ada
yang tahu detail pastinya, tapi nilainya tidak mungkin lebih dari sembilan
drachmae, atau hukum akan mengambil seluruh lengannya—dan meskipun Schnee baru
mengetahui hal itu saat dia lebih tua, dia telah meresapi kata-katanya sejak
awal.
Kejahatan
hanya melahirkan kejahatan—begitulah injil di Gutterwalk, dan karena itu dia
tidak pernah berani melangkahkan kaki ke jalur yang lebih gelap.
Komunitasnya
sangat paham bahwa aksioma moral "yang penting jangan ketahuan" hanya
berlaku bagi mereka yang memiliki jaminan sosial; di antara kaum mereka
sendiri, satu langkah salah bisa berakhir pada penyesalan seumur hidup.
Satu-satunya
yang bisa mereka pegang teguh hanyalah prospek kehidupan yang adil, meskipun
sederhana.
"Schnee,
kau harus berhati-hati dengan apa yang kau ucapkan, ya? Kata-kata itu mudah diucapkan tapi mustahil untuk
ditarik kembali."
Begitu nasihat
dari seorang gadis yang lebih tua dengan rambut cepak.
Dia memberi tahu
Schnee untuk jangan pernah menjelek-jelekkan perilaku seseorang—baik di depan
wajah mereka maupun tidak.
Itu adalah
kecerobohan yang bodoh, dan itu telah merenggut rambut yang dia banggakan dan
rawat sepanjang hidupnya.
"Jangan
berkelahi, bertengkar, atau berthuatu dengan orang lain. Kalau kau gagal, thini
lah akibatnya."
Begitu
seorang anak laki-laki yang lebih tua memberitahunya, sambil menunjuk ke gigi
depannya yang hilang.
Dia kehilangan
giginya saat mencoba melerai perkelahian di antara anak-anak lain.
Dia adalah anak
yang tangguh, dan dia berhasil menang tanpa terluka parah—tapi beberapa hari
kemudian mereka mengeroyoknya dan mencabut keempat gigi serinya sebagai
hukuman.
"Adalah
fakta menyedihkan dalam hidup bahwa kau tidak bisa membeli kepercayaan,
persahabatan, atau nyawa seseorang dengan uang receh. Tapi kau bisa menjual
nyawamu sendiri. Jika kau menjual sesuatu yang tidak bisa kau beli kembali,
maka itu tidak akan pernah kembali," demikian nasihat-nasihat yang dia
terima terus berlanjut.
Ke mana pun kau
pergi di Gutterwalk, akan ada keluarga yang bisa ditemukan yang memiliki cacat
atau kehilangan anggota tubuh atau keduanya, dan mereka selalu memiliki semacam
pelajaran moral untuk disampaikan—paman yang bertato, seorang pemuda dengan hanya
satu mata, seorang gadis yang lebih tua dengan hanya tiga jari.
Sudah menjadi
praktik umum di komunitas tersebut untuk tidak pernah menghindar dari sejarah
buruk seseorang.
Seperti hal
lainnya, sejarah itu harus dibagikan demi keuntungan tetangga dan anak-anak
mereka, agar tidak ada yang mengulangi kesalahan mereka.
Di inti cerita
mereka adalah pelajaran bahwa tidak pernah melenceng dari jalan yang lurus
adalah solusi terbaik dan paling sederhana.
Schnee tidak
pernah meragukan kebenaran pelajaran ini, tapi dia berpikir bahwa akan jauh
lebih sulit untuk menerima kegagalan dan kesalahanmu.
Betapa
menyakitkannya harus menanggung pengingat permanen akan kejahatanmu di tubuhmu,
agar kau bisa menilainya kembali setiap hari dalam hidupmu?
Lalu bahkan tidak
merasa malu atau menjadi depresi, melainkan mengumumkan bahwa itu hanyalah
biaya dari kebodohanmu sendiri?
Schnee telah
bersumpah untuk tidak pernah menodai tangannya dengan kejahatan dan menggunakan
keterampilan yang dia miliki untuk mencari nafkah yang jujur.
Keputusannya
adalah berdagang rumor.
Schnee sering
mendengarkan lagu-lagu di alun-alun secara diam-diam.
Dia tahu betul
bahwa informasi bisa terjual dengan harga tinggi tergantung kepada siapa
informasi itu dijual.
Para penyair dan
pengumpul berita selalu haus akan gosip terverifikasi yang berkualitas.
Schnee
mendapatkan bayaran pertamanya setelah membuktikan bahwa seorang pemilik kedai
telah dituduh secara keliru mencampur minumannya dengan air.
Dia tidak akan
pernah melupakan beratnya koin perak yang diberikan oleh wartawan surat kabar
kepadanya.
Orang-orang
Marsheim selalu punya uang cadangan untuk informasi kotor yang terpercaya.
Namun tidak
pernah ada cukup waktu untuk memeriksa ulang semuanya.
Pekerjaan
lapangan, pemeriksaan latar belakang sumber yang tak ada habisnya, itu adalah
pekerjaan penuh tersendiri.
Ada pasar untuk
kepercayaan, Schnee menyadari hal itu.
Setiap orang
menginginkan informan khusus—seseorang yang bisa membuat mereka selangkah lebih
maju dari rival mereka tanpa dibebani keraguan.
Tentu saja, dia
ingat nasihat temannya yang berambut cepak dan selalu memastikan untuk menjaga
jarak aman dari dunia skandal.
Dia sebenarnya
lebih dari mumpuni untuk menyelinap ke rumah bangsawan yang paling dijaga ketat
sekalipun dan mengumpulkan segala macam informasi kotor tentang perselingkuhan
dan kehidupan cinta para bangsawan, tapi ini bukan pekerjaan lurus yang dia
hargai.
Schnee bahagia
dengan "mantel"-nya—hidupnya saat ini, dalam istilah bubastisian—dan
kotanya.
Dia menjadikannya
misinya untuk tidak pernah membawa malu bagi keluarganya dan memastikan
Marsheim selalu penuh dengan tempat-tempat nyaman untuk tidur siang.
Kejadian itu
terjadi mungkin sekitar dua tahun setelah ia memulai kariernya sebagai
informan.
Dia berusia
sepuluh tahun dan bangga dengan pekerjaan yang dia lakukan, tidak pernah
sekalipun mencampuri urusan kotor meskipun bayarannya besar, namun dia tidak
akan pernah melupakan musim panas itu.
Cuacanya sangat
panas; dia bersyukur atas bulu putihnya.
Hari itu sama
brutalnya dengan hari-hari sebelumnya sejak musim berganti—hari di mana seluruh
keluarganya dibunuh di tangan sekelompok petualang.
Schnee tahu bahwa
keberuntungannya sematalah yang menyelamatkannya.
Tidak, dia benci
menyebut putaran takdir ini sebagai keberuntungan.
Pada saat dia
mendengar berita tentang apa yang terjadi, semuanya sudah terlambat.
Dia sedang
bekerja saat itu.
Panas hari itu
membuatnya kelelahan, jadi dia tidur siang sejenak di atas menara di sisi lain
kota, menikmati kesejukan angin malam.
Ketika dia
kembali ke Gutterwalk keesokan harinya, dia melihat darah dan mayat-mayat.
Schnee telah
kehilangan semua yang dia cintai dalam satu malam yang singkat.
Tempat istirahat
yang paling aman dan paling nyaman, di antara keluarganya—tidak ada yang
tersisa.
Tidak butuh
informan berbakat untuk menyusun alur ceritanya.
Pada saat dia
mencapai kebenaran, dia hampir berharap bahwa itu akan lebih sulit—setidaknya
dengan begitu dia bisa menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan.
Hanya butuh satu
putaran cepat di lingkungan itu untuk mencari korban selamat, sambil
memperhatikan orang-orang dari kediaman tetangga yang mengintip melalui jendela
mereka ke lokasi kejadian.
Penyebab insiden
itu sangat membosankan dan menyayat hati.
Informan lain
yang bekerja di Marsheim telah melakukan pekerjaan yang buruk, sederhananya
begitu.
Serangkaian
keluarga pedagang telah dirampok, toko-toko mereka dibakar.
Pembakaran
sengaja mendatangkan hukuman berat bagi orang-orang dari kelas mana pun.
Terlebih lagi,
kebakaran itu hanyalah kedok untuk pembunuhan yang dilakukan di dalamnya.
Pemerintah telah
menjatuhkan hukuman mereka secara jelas, berat, dan di depan umum, untuk
dilaksanakan segera setelah para pelakunya ditemukan; Asosiasi Petualang juga
ikut serta, menawarkan jumlah besar tiga puluh drachmae untuk kelompok itu,
hidup atau mati.
Itu sudah lebih
dari cukup untuk memacu adrenalin jantung petualang tipikalmu.
Dan dari semua
petualang yang muncul untuk mencari pelakunya, satu kelompok mendatangi seorang
informan yang, karena kurangnya ide yang lebih baik, mengarahkan mereka ke
Gutterwalk.
Orang-orangnya.
Rumahnya.
Schnee tahu bahwa
semua kecuali anak-anak Gutterwalk memiliki catatan kriminal yang terkenal.
Mereka menjadi
kambing hitam yang mudah bagi perantara informasi yang mencari bayaran cepat.
Kurangnya
pemikiran panjangnya telah mengirim seluruh keluarga Schnee ke liang lahat
lebih awal.
Para petualang
itu percaya buta pada sang informan dan menyerang lingkungan tersebut bahkan
tanpa repot-repot berbicara dengan penduduk.
Orang-orang
ditebas tanpa pandang bulu saat kelompok itu menggerebek rumah-rumah untuk
mencari bukti.
Mereka pasti
yakin buktinya ada di sana.
Para pelaku toh
sudah dijatuhi hukuman mati—lebih baik, kalau begitu, membungkam rakyat jelata
agar mereka bisa mencari barang-barang curian dengan tenang.
Namun tidak
peduli seberapa keras mereka mencari, mereka tidak bisa menemukan sedikit pun
bukti.
Orang-orang
Gutterwalk memang miskin, tapi tidak pernah sebegitu miskin sampai mengulangi
kesalahan lama—terutama sesuatu yang sangat mengerikan seperti pembakaran,
pembunuhan, dan pencurian besar.
Sudah sewajarnya
mereka tidak bersalah.
Semua yang
ditemukan para petualang hanyalah sedikit uang yang dikumpulkan selama musim
panas agar mereka bisa membeli kayu bakar saat musim dingin tiba.
Satu kebohongan
telah membunuh seluruh komunitas.
Seorang penjaja
rumor yang tidak kompeten dan sekelompok pembunuh berlisensi negara yang mudah
percaya telah merenggut semua yang Schnee sayangi.
Dia bahkan tidak
mendapatkan katarsis untuk menuntut balas dendamnya pada sang informan—pria itu
sudah mati sebelum dia sempat melakukannya.
Para petualang
itu panik ketika mereka gagal menemukan bukti apa pun, dan dalam kegilaan
mereka, mereka tidak berani membiarkan satu pun saksi hidup.
Ini
termasuk informan bodoh itu.
Di
sanalah dia, seorang pria yang belum pernah dilihat Schnee sebelumnya,
terbaring di genangan darah di rumah keluarganya, wajahnya membeku dalam
ekspresi ketidakpercayaan yang mendalam.
Dunia
adalah tempat yang kejam dan tidak adil, karena telah merenggut objek utama
kebenciannya, nyawanya dihabisi oleh pelaku di urutan kedua.
Schnee tidak
dalam posisi untuk menuntut sisa-sisa keadilannya.
Dia
nyaris tidak sebanding dengan sekelompok pembunuh profesional yang tidak waras.
Maka, di
hadapan keluarganya yang telah tiada dan semua bukti yang dia butuhkan untuk
memahami bagaimana perbuatan itu dilakukan, dia tidak bisa melakukan apa-apa
selain menangis—sama seperti yang dia lakukan pada hari mereka menemukannya.
Namun
dunia tidak dibangun di atas air mata saja.
Terkadang
ketika semuanya hilang, sesuatu yang baru diberikan kembali.
Sama
seperti komunitas petualang yang telah merampas rumahnya, seorang petualang
jugalah yang telah mengulurkan tangan bantuan di saat-saat tergelapnya.
"Aku
tidak menyarankan meninggalkan jiwa-jiwa malang ini seperti ini. Kita harus
memberi mereka penghormatan terakhir yang layak."
"Siapa...
kamu?"
"Namaku
Fidelio. Fidelio dari Eilia. Aku seorang petualang."
Orang yang
berdiri di depan Schnee yang menangis adalah seorang santo muda, Fidelio.
Ini belum
menjadi Fidelio dari legenda.
Dia belum
memiliki malam keadilan lurusnya yang termasyhur.
Dilihat
dari lengan bajunya yang koyak dan tombak sederhananya, dia terlihat,
sejujurnya, seperti orang suci yang cukup dekil.
Fidelio,
sang santo yang hatinya suci telah membedakannya dari paroki mana pun, telah
menunjukkan kebaikannya melalui perbuatannya—dia mengumpulkan mayat-mayat itu,
yang sudah mulai membusuk karena setengah hari berada di bawah matahari yang
tanpa ampun, dan membawanya ke sebidang tanah kosong.
"Sekelompok
pemuda yang bersemangat baru saja meninggalkan Asosiasi, berbincang tentang
mendapatkan pekerjaan yang cukup penting, tapi tidak ada dari mereka yang
kembali," kata Fidelio sambil bekerja.
"Rasanya
aneh, jadi aku datang untuk melihat sendiri situasinya. Tidak disangka akan
berakhir seperti ini..."
Ras bubastisian
bukanlah kaum yang paling kuat, jadi Schnee hanya bisa melihat Fidelio membawa
mayat-mayat itu, tidak mampu membantu sendiri.
Hari sudah malam
ketika Fidelio telah membawa semua mayat ke satu tempat.
Dia berlumuran
keringat dan kotoran.
Keringat tidak
bisa dihindari dalam cuaca panas, tapi Fidelio tetap teguh meskipun darah dan
jeroan dari jiwa-jiwa malang yang dia pindahkan menutupi dirinya.
Selama itu semua,
petualang muda itu tidak pernah melontarkan satu kata pun keluhan, dia juga
tidak memperlakukan mayat-mayat itu dengan kurang hormat.
Bagaimanapun,
Fidelio tahu betul bahwa mayat orang yang sudah meninggal bukanlah benda kotor.
Ritual pemakaman
dilakukan baik untuk yang mati maupun untuk yang hidup yang ditinggalkan.
Sambil memikul
bebannya, Schnee menceritakan apa yang terjadi padanya.
Suaranya
terbata-bata. Sesekali dia menangis di tengah kalimat.
Dia tidak akan
pernah berperilaku seperti ini di depan klien.
Hati Fidelio
perih saat mendengarkan kisah itu.
Sang santo tahu
betul betapa sombongnya seseorang untuk menawarkan simpati atau rasa kasihan;
itu terlalu mengerikan.
Bahkan dia, orang
asing yang datang secara kebetulan, tahu bahwa tidak ada yang dia katakan yang
bisa cukup untuk mengisi kekosongan dalam jiwa Schnee.
Tetap menyakitkan
baginya untuk tidak mengatakan apa-apa sama sekali.
Dia datang karena
dorongan hati, dan apa yang dia lihat melampaui hal terburuk yang bisa dia
bayangkan.
Orang-orang
akan menyebutnya tidak berperasaan dan kejam karena tetap diam.
Itu
benar-benar ujian yang berat bagi sang santo yang bekerja rajin untuk menjalani
hidup yang lurus, menyebarkan keyakinan, dan membangun dunia yang lebih baik.
Meskipun
begitu, bahkan Dewa Ujian pun tidak menjatuhkan beban seperti itu tanpa
secercah harapan yang redup.
"Aku
benci harus memberitahumu ini, tapi kurasa pihak berwenang tidak akan
mengerahkan banyak tenaga untuk menyelidiki ini," kata Fidelio.
"Berapa pun
jumlahnya akan mengejutkanku, sungguh."
Penjaga Marsheim
hanyalah untuk pajangan saja, terus terang.
Petualang mengisi
kekosongan dalam banyak kasus, tapi adalah fakta menyedihkan dalam hidup bahwa
banyak warga Marsheim, sering kali yang lebih miskin, dibiarkan terabaikan.
Hal itu berlaku
dua kali lipat bagi kaum paria sosial dari Gutterwalk.
Penjaga lokal
tidak hanya akan menolak untuk menyelidiki, tetapi setiap keluhan atau
permintaan untuk melakukannya akan diabaikan begitu saja.
Tidak ada satu
pun penjaga yang datang untuk menyelidiki pembunuhan tersebut, meskipun hampir
satu hari penuh telah berlalu sejak insiden pemicu itu terjadi.
Sudah sewajarnya
mereka yang tinggal di dekat sana paling banyak hanya mengajukan satu atau dua
laporan dan diabaikan begitu saja.
Tidak ada
kemuliaan atau penghargaan yang bisa didapat dari penyelidikan.
Faktanya jelas;
tidak ada orang yang peduli yang memiliki kepentingan, dan tidak ada orang yang
berkepentingan yang peduli.
Bahkan Asosiasi
Petualang—yang dipimpin oleh pendahulu Maxine, karena dia baru menjadi asisten
manajer saat ini—tidak ingin diasosiasikan dengan insiden yang memberatkan
tersebut, jadi kecil harapan mereka untuk menjadi proaktif.
Ini hanya akan
menjadi semacam skandal jika ada pihak yang kalah.
Dalam kasus ini,
tidak ada pihak yang kalah—siapa pun yang mungkin kehilangan sesuatu sudah
mati.
Selama Schnee
menutup mulutnya, semua orang bisa melanjutkan hidup seolah-olah tidak ada yang
terjadi.
Para petualang
bodoh itu akan menerima hukuman yang pantas, jadi hal yang paling bijaksana
baginya adalah menghindari kehilangan muka.
Semua korban itu
memang tidak dianggap. Itu sebuah kecelakaan.
Belasungkawa
diberikan.
Ini adalah
keburukan yang terletak pada birokrasi Marsheim, di mana kematian mantan
narapidana tidak layak dilabeli sebagai kejahatan.
Insiden
seperti itu tidak langka.
Bukanlah
hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya jika info yang salah menyebabkan
beberapa korban sipil; terkadang beberapa orang bodoh yang haus darah memimpin
penggerebekan yang seharusnya tidak mereka lakukan dan menimbulkan kerusakan
kolateral.
Ini bukan
dunia yang adil, dan jika diberi pilihan antara menghukum sesekali pelaku
kesalahan dan melindungi nyawa, Kekaisaran memilih yang pertama setiap saat.
Kecuali
kau punya kekuatan untuk berdiri dan melakukan sesuatu tentang hal itu, maka
itu akan disapu di bawah karpet seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Aku
mungkin seorang petualang, tapi aku adalah pendeta Dewa Matahari terlebih
dahulu," kata Fidelio.
"Kata-Nya
sangat jelas dalam hal ini: tidak ada cahaya yang bersinar tanpa menimbulkan
bayangan; orang yang benar tidak memiliki tempat tanpa kejahatan untuk
ditaklukkan."
"Itu moto yang cukup kejam," balas Schnee.
"Kecuali kau sendiri yang menuntut keadilanmu, mereka
yang mengenyangkan diri dengan kejahatan pasti akan bebas berkeliaran. Kita tidak maha tahu maupun maha kuasa.
Yang tersisa bagi kita, mungkin, hanyalah meditasi dan pencerahan."
Dewa Matahari,
dan dulu sekali bahkan semua dewa baik di dunia, melihat penderitaan fana
sebagai biaya masuk untuk tempat seseorang di dunia.
Apakah kau
menangis atau bersujud, para dewa hanya akan terus mengklaim bahwa urusan
manusia adalah untuk dikelola manusia—kecuali untuk situasi yang tidak bisa
diabaikan oleh para dewa.
Beberapa orang
menyebut kondisi kosmologis seperti itu sebagai keadaan kebebasan mutlak.
Lainnya mengecam
para panteon karena ketidaktanggungjawaban Mereka.
Namun, faktanya
tetap bahwa manusia adalah penentu jalan mereka sendiri.
"Aku dengar
dalam mitos para dewa menciptakan kita kaum manusia, anak-anak terakhir Mereka,
dari semua kualitas terbaik Mereka. Mengingat hal itu, seluruh kejadian ini
terasa seperti tamparan dingin di wajah. Benar-benar memalukan untuk berpikir
bahwa makhluk dengan semua bagian terbaik dewa bisa melakukan... semua
ini."
Beberapa orang
mungkin akan menghujat Schnee karena penistaannya, tetapi ada orang-orang
religius yang tidak menutup mata terhadap kenyataan kejam dunia.
Mereka mengerti
bahwa dunia ini penuh dengan penderitaan, bahwa orang-orang tidak
setara—beberapa ras ditakdirkan untuk menjadi lebih lemah dari yang lain, atau
hanya diberi umur yang lebih pendek dari yang lain—dan melihat di mana letak
kesalahannya.
Fidelio adalah
salah satu orang seperti itu.
Dia tidak membabi
buta membacakan bagian-bagian dari kitab suci tuhannya; iman yang nyata
menuntut pemikiran yang lebih tajam dan pemahaman yang lebih dalam tentang
substansi keyakinannya.
Dia tidak bisa
mengatakan apa pun kepada wanita awam malang ini yang mencaci maki para dewa
karena membiarkan orang-orang di dunia ini dengan penderitaan bawaannya.
Fidelio percaya
bahwa para dewa tidak ingin menuliskan kisah tentang dunia di mana semua orang
hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan tanpa kerumitan.
Tidak, Mereka
ingin menciptakan dunia di mana mereka yang hidup di dalamnya memahami tanggung
jawab berat yang menyertai kehidupan itu sendiri.
"Maksudku,
memang benar semua keluargaku... melakukan beberapa hal buruk. Mereka tahu itu
lebih dari siapa pun. Tapi... ini semua terlalu berat untuk kutanggung, tahu?
Dewa benar-benar kejam..." ucap Schnee.
Fidelio adalah
penganut Dewa Matahari yang taat, tetapi dia tidak merasa ingin berceramah
kepada wanita muda yang malang ini.
Para dewa
pencipta telah menciptakan dunia ini sebagai tempat yang secara pasif
mengizinkan tragedi—yang sebenarnya, menciptakan tragedi sebagai fakta
kehidupan yang tak terelakkan. Alasan di balik niat ini terlalu agung, sebuah
kebenaran yang terlalu jauh untuk digapai bahkan oleh teolog paling bijak
sekalipun.
Kaum Bubastisian
biasanya tidak meneteskan air mata di saat sedih, namun Schnee tetap menangis.
Sebagai manusia
biasa, Fidelio memutuskan bahwa memenuhi perannya adalah satu-satunya cara agar
dia bisa membawakannya kedamaian.
"Wahai
Mentari, Ayah Agung dari kami makhluk-makhluk malang dan rendah... Di ufuk
senja yang memudar dari sinar-Mu yang bercahaya, tolong dengarkan doaku."
Pemakaman di
Kekaisaran selalu diadakan saat senja, ketika matahari dan bulan menempati
ruang yang sama di langit.
Periode
penyelarasan yang singkat ini adalah momen di mana kekuatan para dewa pencipta,
Mereka yang mengatur waktu dan kehidupan, berada pada puncaknya. Tidak ada
waktu yang lebih pas bagi anak-anak Mereka, para fana di dunia ini, untuk
menerima salam perpisahan.
Fidelio
meletakkan tombaknya dan berlutut di tanah, berdoa kepada cahaya malam yang
menyirami garis cakrawala kota.
Dia tidak
memiliki tongkat pendeta, tetapi tangan kanannya yang diletakkan di atas dada,
menggenggam sebuah segel suci. Dia gemerencingkan hiasan pada segel itu.
Di tangan kirinya
ada sekantong dupa murah, yang selalu dia bawa ke mana-mana.
Bahkan tanpa
pembakar dupa, dewanya menjawab doanya; dupa itu menyala dengan api yang tidak
membakar saat disentuh. Saat bunga heliotrope itu berderak di telapak tangan
pengikut Dewa Matahari tersebut, dupa mulai terbakar dengan aroma yang manis.
"Bagi
orang-orang ini yang telah menjalani hidup mereka sepenuhnya, berjuang dengan
jerih payah yang tak henti-hentinya seperti Matahari yang terbit di langit, aku
memohon agar mereka menerima pendampingan abadi-Mu dan momen istirahat di dada
Bunda Rembulan yang Terkasih."
Fidelio telah
menempatkan tubuh semua almarhum dengan kepala menghadap ke barat, ke arah
matahari terbenam.
Dalam pemakaman
resmi, penampilan mereka akan dibersihkan, barang kesayangan akan diletakkan di
samping mereka, lalu mereka akan dikremasi atau dikubur.
Setiap orang ini
hidup dalam kemiskinan, jadi mereka harus menerima ritus terakhir apa adanya.
Permohonan Fidelio untuk sebuah keajaiban telah dikabulkan—baik Dewa Matahari
maupun Dewi Malam pasti tersenyum pada tindakan ini, bahkan jika pendeta lain
mungkin berpikir sebaliknya.
"Saat
Matahari terbenam pada hari ini, tepat saat Engkau bersiap untuk tidur, aku
berdoa agar Engkau memberikan jiwa-jiwa ini istirahat dan belas kasih-Mu. Atas
nama ajaran abadi-Mu, amin."
Menanggapi doa
Fidelio, tepat saat matahari melewati garis cakrawala, di momen di mana langit
merah berubah menjadi biru pekat, tubuh-tubuh itu meledak dalam nyala api.
Itu hanya
berlangsung sesaat. Keajaiban pemakaman seperti itu biasanya hanya bisa
dipanggil oleh para pendeta paling taat dan berpangkat tinggi.
Seorang pendeta
di bawah dewa lain akan membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk melakukan hal
yang sama, bahkan dengan tumpukan kayu bakar. Dalam kasus Fidelio, hal itu datang dan pergi
dalam sekejap mata. Tubuh jiwa-jiwa malang itu telah menjadi abu bahkan sebelum
Schnee sempat menarik napas.
"Ohh...
Keluargaku..."
"Mereka
menemui akhir yang tak terduga. Biarlah ini menjadi penghiburan kecil bahwa
jiwa mereka akan dibimbing tanpa gagal menuju Dewaku."
Tak satu
pun dari mereka berdua yang tahu, tetapi di dunia yang jauh dari mereka ada
agama yang percaya bahwa ketika jiwa-jiwa yang paling bermoral pergi ke surga,
mereka akan dibebaskan dari perjalanan setelah kematian dan disambut oleh dewa
mereka secara langsung. Adegan di depan mereka sangat mirip dengan itu.
Namun,
ini bukannya tanpa biaya. Permohonan tersebut membutuhkan keteguhan yang luar
biasa dari pihak sang pendeta.
Fidelio
akan merahasiakan ini dari Schnee, tetapi dalam sepuluh hari setelahnya, dia
akan menjalani cobaan pribadi untuk tidak tidur dan tetap berdiri tegak
sepanjang waktu.
"Sekarang...
yang tersisa hanyalah memutuskan apa yang harus dilakukan dengan jiwamu,"
kata Fidelio.
"Jiwaku?"
balas Schnee.
"Ya.
Keinginanmu untuk membalas dendam membuatmu menangis. Tapi mereka yang ingin
kamu hukum kemungkinan besar sudah menerima hukuman yang setimpal di pangkuan
para dewa sekarang."
Pendeta
itu menunjuk ke arah gundukan abu yang dulunya merupakan sebuah
komunitas—anehnya, meski ada angin malam, abu itu tetap diam di
tempat—menunjukkan bahwa tubuh si informan, yang terbunuh dalam amukan para
petualang, tetap tidak terbakar.
Tunjuk
jari Fidelio, kemungkinan besar, bukanlah ajakan untuk mendoakan orang itu.
"Mereka
masih ada di luar sana—orang-orang bodoh yang enggan kusebut sebagai rekan
bisnisku," lanjut Fidelio. "Apa yang akan kamu lakukan terhadap
mereka?"
Schnee
ingin menyerah pada kesedihan dan kemarahannya lalu menebas mereka seperti yang
mereka lakukan pada keluarganya. Namun melihat apa yang telah dilakukan sang
pendeta untuk keluarganya, dia menyadari sesuatu.
"Aku
akan menuntut balas. Bajingan-bajingan itu tidak layak berjalan di bawah
teriknya matahari maupun sejuknya rembulan."
"Kalau begitu..."
Schnee memotong ucapan Fidelio. Dia berasumsi pria itu akan
mengumumkan bahwa dia akan bergabung dengannya. Schnee adalah seorang
informan—dia punya caranya sendiri untuk membalas dendam.
"Aku
akan membeberkan setiap hal kecil tentang apa yang terjadi. Mereka yang
melakukan ini dan mereka yang pura-pura tidak tahu—mereka semua akan mengakui
apa yang mereka lakukan dan meminta maaf atas hal itu."
Schnee
bersumpah untuk mengungkap setiap kebohongan terang-terangan dan kebenaran
buruk yang berujung pada momen ini.
Dia akan
mengidentifikasi setiap petualang yang berperan dalam tragedi keji ini dan
membiarkan gelombang cemoohan publik melahap mereka.
Bagi
mereka yang memilih berpaling, yang menganggap ini semua terlalu berat untuk
ditanggung, maka dia akan memusnahkan mereka dengan caranya sendiri—menghukum
mereka karena tidak melakukan hal yang benar saat mereka memiliki kesempatan.
Bukan alasan
untuk mengatakan bahwa mereka tidak tahu. Ketidaktahuan yang disengaja adalah
kejahatan itu sendiri. Memilih solusi termudah tanpa memikirkan kengerian apa
yang mungkin ditimbulkannya adalah tindakan yang lebih rendah dari yang
terendah.
Schnee akan
memberikan hukuman yang setimpal dengan kejahatan mereka. Dia akan menjatuhkan
mereka ke neraka dunia.
Saat dia kembali
ke pekerjaannya, dia akan melakukannya dengan kesadaran bahwa dia telah
mewujudkan kebajikan tertinggi dari panggilannya.
"Aku tumbuh
besar dengan berkat pelajaran mereka—untuk tidak mencuri, tidak melakukan
kekerasan, tidak bicara buruk tentang orang lain, tidak melakukan apa pun yang
membuatku malu. Jika aku membunuh mereka, baik dengan tanganku sendiri atau
melalui orang lain, keluargaku pasti akan sangat marah."
Satu-satunya
jalan ke depan bagi Schnee adalah jalan yang hanya bisa diragukan oleh mereka
yang benar-benar jahat.
"Baiklah.
Kamu memiliki hati yang cukup teguh."
"Aku tidak
kuat sama sekali... Hanya saja aku tidak bisa melepaskan didikan baikku. Tapi
aku akan mencoba melakukan yang terbaik untuk memastikan hal seperti ini tidak
terjadi lagi. Dengan begitu, aku yakin mereka akan memujiku saat aku 'berganti
mantel' dan pindah ke kehidupan yang baru."
Pendeta awam dari
Dewa Matahari itu tetap diam.
Meskipun dia
tidak bisa sepenuhnya menyelaraskannya dengan keyakinannya sendiri, dia cukup
mengenal kredo Bubastisian, dan dia pun melihat percikan ilahi pada diri para
kaum kucing tersebut.
Dunia ini
menyimpan lebih banyak hal daripada yang bisa ditampung oleh satu gagasan
tunggal; jika keyakinannya memberinya kedamaian, Fidelio tidak punya alasan
untuk mengeluh. Dia adalah pembela agamanya dan kebajikannya, tetapi
penginjilan adalah langkah yang terlalu jauh.
"Poin yang
bagus. Kurasa aku harus memastikan jaringan informasiku sendiri seandal
dirimu," jawab Fidelio. "Dan jika itu membantu, aku akan
menghancurkan setiap orang yang kutemui yang menjajakan intel sampah."
Informan itu
tertawa.
"Ada apa
ini? Kamu membantuku karena punya masalah pribadi dengan pihak berwenang?"
"Kompas
moral adalah milikku sendiri. Tidak ada negara yang memegang posisi lebih
tinggi daripada matahari dan dunia yang disinarinya. Nah, kalau begitu, ada
seseorang yang harus kamu temui. Dia pekerja keras di Asosiasi, dan uban di
kepalanya adalah buktinya. Dia akan membantumu membereskan ceritamu dengan
pihak birokrasi."
"Hah,
kedengarannya seru. Beri waktu sedikit lagi untuk ubannya, dan kita akan
terlihat seperti anak kembar."
Schnee yakin
keluarganya akan menyetujui metode ini.
Dia telah kehilangan rumahnya, dan itu tidak akan pernah kembali. Namun masih ada tempat-tempat di kota ini di mana dia bisa tidur siang dengan tenang. Sudah menjadi tugasnya untuk melindungi tempat-tempat itu dari kerusakan yang disebabkan oleh para pembohong dan pembunuh pengecut lainnya.
"Ngh..."
Schnee merasakan
kesadarannya perlahan muncul kembali ke permukaan. Sisa-sisa terakhir dari
mimpi tentang masa lalunya memudar, digantikan oleh pemandangan di hadapannya.
Hari sudah
beranjak malam, dan ruangan itu diterangi oleh cahaya lilin. Langit di luar
sana merupakan perpaduan antara warna merah tua dan biru pekat; persis seperti
malam saat dia dilahirkan.
"Ahh...
Sepertinya aku masih bernapas, ya..."
Seluruh rasa
sakit yang sempat terlupakan saat tak sadarkan diri kini menyerang dalam satu
sentakan hebat. Namun, rasa sakit itu tak ada apa-apanya dibandingkan rasa
lelah yang memaku tubuhnya ke tempat tidur.
Schnee
menyunggingkan senyum letih yang lembut saat menyadari bahwa, sekali lagi,
hidupnya akan terus berlanjut.
Sudah lama sekali
sejak dia mengumpulkan abu jenazah keluarganya, memasukkannya ke dalam guci,
dan mengubur mereka di rumah yang dulu menyatukan mereka semua dengan sebuah
nisan sederhana.
Dari kejauhan,
dia seolah bisa mendengar mereka berkata, "Belum saatnya kamu
menyusul."
Saat dia menyeret
dirinya melewati lahan penuh sampah itu, dia benar-benar mengira waktunya telah
tiba. Lukanya berdenyut dan tubuhnya linu karena kelelahan akibat pengejaran
yang tiada henti, tapi di sinilah dia sekarang.
Tubuhnya terasa
begitu berat hingga tidak terasa seperti miliknya sendiri, namun jantungnya
masih memaksa darah mengalir melalui pembuluh-pembuluh nadinya.
Mimpi tadi terasa
manis sekaligus pahit. Seharusnya seluruh perjalanan hidupmu terlintas di depan
mata tepat sebelum kamu mati, bukannya saat kamu nyaris bertahan hidup.
Schnee menghela napas. "Gawat... Aku masih harus
menabung lebih banyak amal baik lagi, ya..."
Schnee telah mendapatkan beberapa informasi berharga. Adalah
sebuah berkah karena dia berhasil selamat, sebab dia tidak punya kesempatan
untuk menuliskannya saat kejadian berlangsung.
Meski begitu, dia
merasakan keletihan yang luar biasa membayangkan harus menjalani hari esok. Dia
telah mengerjakan banyak kasus yang menyelamatkan hegemoni sang margrave
di masa lalu, tapi sudah lama sekali sejak terakhir kali dia menghadapi
kejahatan dan kebencian sebesar ini.
"Sialan,
Fidelio..."
Dari sekian
banyak petualang baru di Marsheim, kenapa dia harus memintanya berteman dengan
yang satu itu?
Pertama kali
Schnee melihat petualang berambut emas itu, dia merasakan aura yang mirip
dengan milik Fidelio. Perbedaannya hanya satu: dia merasa sembilan nyawa pun
tidak akan cukup untuk menanggung tumpukan kemalangan pria itu.
Bukan itu saja.
Fidelio dan si Rambut Emas sama-sama gigih dalam mengejar keadilan.
Namun, tampaknya
jika Fidelio membebankan aturan ketat yang tak ada habisnya pada diri sendiri
demi mewujudkan idealismenya, Erich akan melakukan apa pun untuk mencapai
tujuan yang menurutnya terbaik.
Tidak, itu tidak
sepenuhnya tepat, begitulah insting kucing Schnee membisikinya.
Mungkin Fidelio
dan Erich memiliki tujuan yang benar-benar berbeda.
Kalau tidak,
kenapa dia, seorang pemula peringkat amber-orange rendahan, memutuskan
untuk membangun klan dan menyeretnya ke dalam ranah bahaya dan tipu muslihat
ini?
Petualang pemula
normal yang datang ke Marsheim biasanya tahu diri—mereka akan lari menangis
pada Fidelio dan memintanya membereskan masalah, sambil memohon pekerjaan yang
benar-benar sesuai dengan kemampuan mereka.
Schnee menguap
kecil saat merenungkan kecenderungan Erich yang selalu mengundang kekacauan.
Meski begitu, dia segera sadar sepenuhnya.
Sejak hari itu,
dia tahu bahwa dia telah memilih jalan hidup yang mendatangkan lebih banyak
kehilangan daripada keuntungan. Jika dia mulai mengeluh sekarang, bagaimana
mungkin dia bisa mengumpulkan amal baik untuk ditunjukkan saat dia
"berganti mantel" nanti?
Schnee mencoba
bergerak, namun sia-sia. Dia benar-benar terlalu lelah dan terlalu banyak
dicekoki obat penahan sakit.
Dia mencoba
memiringkan lehernya untuk melihat situasinya dengan lebih baik. Di meja
samping tempat tidur, ada sebuah teko air, gelas, dan lonceng kuningan kecil.
Tertempel pada
lonceng itu secarik kertas kecil yang bertuliskan, "Bunyikan jika kamu
bangun." Tulisan tangannya jelas milik si Rambut Emas.
"Astaga,
baiklah, baiklah... Dia memang menyelamatkan nyawaku, jadi setidaknya aku harus
menunjukkan apa yang berhasil kutemukan."
Tempat
tidurnya tidak buruk, tapi kurang pas dengan selera Schnee. Schnee
menahan insting kucingnya untuk bermalas-malasan dan membunyikan lonceng itu.
[Tips] Kekerasan adalah cara termudah untuk menyelesaikan situasi. Namun, jika target kekerasanmu salah sasaran, kau bisa berubah dari petualang menjadi kriminal dalam sekejap. Seorang PC yang berbudi luhur harus berhati-hati dan mencatat bahwa tidak setiap informasi yang diberikan oleh GM dimaksudkan untuk diterima mentah-mentah.



Post a Comment