Extra Chapter
Obrolan Ringan — Kekhawatiran Seorang Orang Tua terhadap Anaknya
"Dia
sudah tidur, ya. Rupanya, beban pada tubuh dan jumlah mana yang dia habiskan
memang luar biasa."
Rainer
menatap putranya, memastikan napasnya teratur, dan ekspresi lega menyelimuti
wajahnya.
Latihan
penguatan tubuh hari ini dilakukan di bawah bimbingannya.
Putranya,
Reed, berhasil menguasai penguatan tubuh yang disebut Second Form dengan sangat
lancar—bisa dibilang kemajuannya luar biasa.
Meski itu
saja sudah merupakan pertumbuhan yang fenomenal, Rainer bermaksud menunjukkan
tujuan selanjutnya dengan memperlihatkan Body Enhancement: Blazing Fire.
Dia sama
sekali tidak menyangka bahwa putranya akan langsung menantang teknik itu,
bahkan sampai berhasil mengaktifkannya.
Rainer
merasa marah, lebih dari sekadar khawatir, karena Reed melakukan tantangan yang
begitu gegabah.
Namun di saat
yang sama, dia juga merasa bangga bisa menyaksikan "bakat alami" sang
putra. Perasaan yang campur aduk itu membuatnya menghela napas panjang.
Tanpa memedulikan
perasaan orang tuanya, sang putra tertidur lelap. Rainer menatapnya dengan
pandangan yang antara lembut dan jengkel.
"Dasar...
kau ini benar-benar jenius yang bodoh."
"Ugh...
uun... Ayah... aku bisa... pakai Blazing Fire... puji aku dong..."
"Jangan-jangan kau bangun?"
Rainer mengerutkan dahi. Namun, sejauh yang ia lihat, Reed benar-benar
sedang bermimpi.
"Hanya igauan, ya. Fufu, baiklah. Kau itu tipe yang
cepat besar kepala, jadi aku hanya akan memujimu saat kau tidur saja. Di usia segitu, bisa mengaktifkan
Second Form dan Blazing Fire, kau memang benar-benar seorang jenius. Hebat
sekali, Reed."
Tepat
saat Rainer mengusap kepala putranya dengan lembut, pintu kamar diketuk.
"Tuan Rainer. Boleh saya masuk?"
"Umu. Masuklah."
Diana dan Danae masuk setelah mendengar jawaban itu.
"Aku sudah menunggu kalian. Maaf, tolong ganti baju putraku."
"Dimengerti."
Setelah
keduanya membungkuk hormat, Diana melanjutkan bicaranya.
"Tuan
Rainer. Sesuai instruksi Anda, kami juga sudah menghubungi Nona Sandra. Beliau
diperkirakan akan segera tiba."
"Begitu,
baguslah. Kalau begitu, kuserahkan sisanya pada kalian."
Rainer
bangkit dari duduknya dan berbalik untuk meninggalkan ruangan. Namun, dia
mendadak berhenti di depan pintu.
"Dan
untuk berjaga-jaga, pastikan selalu ada seseorang yang siaga di ruangan ini
sampai Reed terbangun. Tubuhnya menerima beban yang sangat berat. Kita tidak
tahu apakah kondisinya akan berubah drastis secara tiba-tiba."
"Dimengerti.
Kami, termasuk pelayan lainnya, akan berjaga secara bergantian untuk mengawasi
Tuan Reed sampai beliau sadar."
Setelah
Diana memberikan kepastian, Rainer mengangguk "Kuserahkan padamu" dan
melangkah keluar. Dia kemudian langsung menuju kamar Nanally.
◇
"Jarang
sekali Anda datang pada jam segini. Apakah terjadi sesuatu?"
Nanally
menatap ke luar jendela yang mulai gelap, lalu bertanya pada Rainer dengan nada
sedikit khawatir.
"Yah, itu...
hari ini aku melakukan latihan penguatan tubuh dengan Reed..."
Dengan wajah yang
sedikit serba salah, Rainer menjelaskan kejadian hari ini secara mendetail.
Bahwa Reed telah menguasai sihir baru, bahkan berhasil mengaktifkan sihir
tingkat tinggi di atasnya.
Namun, ia juga
memberitahukan bahwa Reed sekarang sedang tertidur di kamarnya akibat beban
dari efek samping sihir dan terkurasnya mana. Ekspresi Nanally seketika berubah
muram.
"Ya ampun...
Jadi, apakah Reed benar-benar baik-baik saja?"
"Iya. Aku
sudah meminta Sandra untuk segera memeriksanya. Selain itu, meski aku merasa
tidak enak pada Diana dan yang lainnya, aku sudah menginstruksikan mereka untuk
berjaga sepanjang malam demi mengawasi Reed."
"Begitu
ya..."
Nanally
mengangguk, tapi wajahnya tetap terlihat cemas. Rainer melembutkan ekspresinya
dan menyipitkan mata dengan penuh kasih.
"Tenanglah, Reed itu anak yang kuat. Lagipula, bakat
alaminya benar-benar luar biasa. Dia memang anakmu."
"Aduh. Tapi kalau soal bakat bela diri, bukankah itu
darah Baldia?"
"Kalau hanya bela diri, mungkin bisa dibilang darah Baldia.
Tapi soal bakat sihir, aku merasa
garis keturunan Ronamis-mu jauh lebih kuat. Wajah Reed pun sangat mirip
denganmu."
"Fufu, kalau
begitu saya senang mendengarnya. Tapi benar juga, seingat saya mendiang ayah
pernah berkata saat mabuk bahwa ada penyihir terkenal di antara leluhur
keluarga Ronamis... Waktu itu saya tidak terlalu memperhatikan, tapi mungkin
seharusnya saya bertanya lebih detail ya."
Mereka berdua pun
berbincang santai mengenai dari mana bakat luar biasa Reed berasal. Setelah
suasana sedikit tenang, Rainer mengubah topik pembicaraan.
"Nanally.
Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin kuminta darimu mengenai Reed."
"Iya, apa
itu?"
Melihat istrinya
memiringkan kepala, Rainer menunjukkan ekspresi serius.
"Mengenai
kenekatan Reed kali ini, aku berniat memberinya 'teguran keras' begitu dia
bangun. Setelah itu, aku ingin kau mencari waktu yang tepat untuk menghibur
sekaligus menasihatinya."
"Saya
mengerti. Ini bukan pertama kalinya anak itu melakukan hal nekat. Kalau begitu,
tolong beri tahu saya apa isi teguran Anda nanti."
"Baiklah,
akan kulakukan."
Saat Rainer
mengangguk, Nanally tiba-tiba teringat sesuatu.
"Ah, benar
juga! Ada hal serupa
dengan Mel. Saya yang akan memberi Mel teguran, jadi saat itu tiba, tolong Anda
yang menasihati Mel, ya."
"U-umu."
Melihat jawaban
Rainer yang kurang meyakinkan, mata Nanally berkilat tajam.
"Anda itu
terlalu memanjakan Mel. Saat menasihatinya nanti, pastikan Anda tidak kalah
oleh tatapan manja Mel. Anak-anak itu terlihat seperti tidak memperhatikan,
padahal mereka mengamati orang dewasa dengan sangat baik, lho."
"A-ah...
baiklah. Saat itu tiba, aku akan bicara dengan tegas."
Rainer tampak
kelabakan menghadapi poin tajam dari istrinya.
Saat menjalankan
peran sebagai Margrave dan istrinya, mereka tidak akan pernah memperlihatkan
sisi ini kepada siapa pun.
Namun saat ini, mereka hanyalah sepasang suami istri biasa yang sedang mengkhawatirkan anak-anak mereka.
Chapter Tambahan (Orisinal)
Gadis Bernama Marone
Hari itu, sebuah
kereta kuda berhiaskan lambang keluarga yang khas mengunjungi kediaman mewah Marquis
Jeanpaul di Ibukota.
Lambang tersebut
menyerupai roda yang terbelah menjadi dua, namun bisa juga diartikan sebagai
pemandangan matahari yang mulai terbit dari balik samudera.
Saat
kereta berhenti di depan gerbang, seorang penjaga mendekat dan mengetuk pintu
kereta dengan pelan.
"Sepertinya
ini kereta dari keluarga Baron Lordpis. Bolehkah saya mengetahui nama
Anda?"
"Kepala
keluarga, Ashen Lordpis. Ini adalah surat pribadi dari Tuan Berlutti."
Ashen adalah pria
dengan paras yang sangat tampan; matanya biru lembut yang meneduhkan.
Rambut cokelatnya
disisir rapi ke belakang dalam gaya all-back yang elegan, dengan sedikit
poni yang dibiarkan jatuh di dahi.
Siapa pun, baik
pria maupun wanita, pasti akan menoleh setidaknya sekali saat melihat
penampilannya.
"Baik, saya
terima... Terima kasih banyak."
Setelah memeriksa amplop tersebut, penjaga pun membukakan
gerbang.
◇
"Mohon
tunggu sebentar di sini sampai Tuan Berlutti datang."
"Ah,
baiklah."
Begitu kepala
pelayan keluarga Marquis Jeanpaul meninggalkan ruang tamu VIP, Ashen
mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan seolah sedang menilai sesuatu.
"Fumu.
Seperti biasa, interiornya sangat berkelas meski dalam kesederhanaan.
Benar-benar contoh yang harus ditiru oleh para bangsawan di seluruh
Kekaisaran."
Ashen juga
merupakan pemimpin dari 'Ashen Trading Company' yang wilayah perdagangannya
mencakup seluruh Kekaisaran.
Melalui
bisnisnya, ia sering keluar-masuk kediaman para bangsawan.
Menurut Ashen,
desain interior sebuah rumah adalah salah satu kepingan informasi yang
menunjukkan psikologi dan selera pemiliknya.
Jika interiornya
terlalu mewah tanpa alasan yang jelas, sering kali sang pemilik memiliki
keinginan besar untuk memamerkan diri, terlepas dari bagaimana ia bersikap di
permukaan.
Sebaliknya, jika
terlalu sederhana hingga terkesan tidak terurus, itu menunjukkan
ketidakpedulian; dalam skenario terburuk, itu menandakan masalah keuangan atau
ketidakmampuan manajemen sang kepala keluarga.
Tentu saja, tidak
semua hal bisa dinilai hanya dari situ. Namun, berdasarkan pengalaman Ashen,
penilaiannya tepat sekitar delapan puluh persen.
Saat ia menyesap
teh yang diletakkan di atas meja, pintu ruangan diketuk pelan.
"Tuan Ashen.
Bolehkah saya masuk?"
Mendengar
suara yang bening itu, ia langsung tahu siapa yang datang.
"Ah, Marone
ya? Silakan saja."
Seorang gadis
cantik dengan rambut panjang pirang keemasan yang hampir putih, kulit pucat,
dan mata biru nila yang memberikan kesan lembut sekaligus rapuh masuk ke
ruangan.
Ia mendekati
Ashen dan melakukan curtsey dengan gerakan yang sangat anggun.
"Tuan Ashen,
sudah lama kita tidak bertemu. Selamat datang hari ini."
"Umu.
Melihat keadaanmu, sepertinya kau baik-baik saja di sini, Marone."
"Benar.
Mulai dari Tuan Berlutti yang telah menjadi ayah angkat saya, Tuan Bergamot,
hingga Kakak Belzeria... Semuanya memperlakukan saya dengan sangat baik."
"Begitu ya.
Kau memang sudah terlihat berbakat sejak masih di panti asuhan. Jika Tuan
Berlutti tidak meminta untuk menjadikanmu anak angkatnya, aku pasti sudah
menjadikanmu anak angkatku sendiri."
"Astaga!?
Saya sangat senang mendengarnya, meskipun itu mungkin hanya pujian
belaka."
Marone tersenyum
ceria tanpa beban.
"Mana
mungkin itu hanya pujian. Dari semua anak yang kukenal, kaulah yang paling luar biasa."
Ashen berkata
jujur. Sambil mengusap kepala Marone, ia teringat kembali saat pertama kali
mereka bertemu.
Pertemuan mereka
terjadi beberapa tahun lalu, di dalam sebuah kandang kuda yang berada di area
panti asuhan milik Ashen.
◇
Hari itu hujan
sangat deras.
Saat Ashen hendak
pulang setelah menginspeksi manajemen panti asuhan, hujan turun lebih lebat
dari dugaannya. Saat ia mengerutkan dahi, sebuah suara tertangkap oleh
telinganya.
"Hm? Apa kau
mendengar sesuatu?"
Ashen bertanya
kepada pria pengelola panti asuhan di dekatnya, namun pria itu menggeleng.
"Tidak,
saya tidak mendengar apa pun..."
"Fumu.
Mungkin hanya perasaanku."
Namun
pada saat Ashen memiringkan kepalanya, matanya entah kenapa tertuju pada
kandang kuda di area tersebut. Di saat yang sama, ia merasa mendengar suara
tangisan bayi yang bercampur dengan derasnya suara hujan.
Tidak, mana
mungkin. Mungkin ia hanya kelelahan. Itu konyol. Namun, entah mengapa ia tidak
bisa mengabaikannya begitu saja.
"...Pinjamkan
payungmu."
"Eh? Ah,
iya. Silakan digunakan."
Seolah merampas
payung dari sang pengelola, Ashen bergegas menuju kandang kuda.
Ada apa ini...
kenapa aku begitu merasa terganggu?
Sambil
bertanya pada diri sendiri, ia mendekati kandang. Suara tangisan bayi terdengar
sayup-sayup di antara bunyi hujan, namun kali ini ia yakin.
Ashen
membuka pintu kandang dan memanggil, "Apa ada orang di sini?" Namun,
jawabannya hanyalah tangisan bayi.
Begitu ia
mendekat ke arah suara tersebut, ia terbelalak tidak percaya.
Di tengah
genangan darah yang sangat banyak, ada seorang wanita dan seorang bayi yang
terus menangis. Tanpa mengubah raut wajahnya, Ashen memanggil, "Hei, kau
tidak apa-apa?" sambil dengan tenang memeriksa kondisi sang wanita.
"...Ibunya
sepertinya sudah meninggal."
Ini
benar-benar merepotkan. Saat ia menghela napas panjang, ia menyadari sebuah
keanehan. Tangisan bayi itu terhenti.
Begitu ia
menoleh, sang bayi tidak lagi menangis dan sedang menatap Ashen dengan lekat.
Saat itu,
Ashen merasa melihat cahaya seperti pola aneh di dalam kedalaman mata biru nila
bayi tersebut, yang membuatnya sedikit mengangkat alis.
"Anak
yang aneh. Jika kau bisa menunjukkan kepadaku bahwa kau berbakat, mungkin saja
aku akan menjadikanmu anak angkatku. Kau mau mencoba tantangan itu?"
Ia
bergumam demikian, lalu tersentak dan tertawa mencemooh dirinya sendiri. Sepertinya kesibukan belakangan ini dan
inspeksi panti asuhan membuatnya sangat lelah.
"Apa yang
kukatakan... pada seorang bayi seperti ini..."
Tepat
saat ia hendak menggelengkan kepala, sang bayi tersenyum dan mengangguk.
Ashen
terperanjat. Ia pikir itu hanya kebetulan atau salah lihat, namun entah mengapa
ia malah bertanya, "Kau serius?" Dan bayi itu kembali mengangguk.
Apakah
anak ini sudah mengerti kata-kata... atau ia membaca emosiku?
Sambil
meragu, ia teringat sebuah cerita. Bahwa terkadang ada anak yang memiliki
ingatan sangat jelas sejak lahir, dan umumnya anak-anak seperti itu sangat
cerdas dan berbakat.
"Menarik.
Meskipun ini terdengar mustahil, mari kita bertaruh pada cahaya yang kulihat di
matamu itu."
Mendengar
kata-kata Ashen, bayi itu menyipitkan mata dengan senang dan mengangguk sekali
lagi.
◇
Bayi itu
kemudian dititipkan sementara di panti asuhan yang dikelolanya. Dari
pemeriksaan jenazah sang ibu, diketahui bahwa bayi itu perempuan.
Namun,
sang ibu tidak membawa tanda pengenal apa pun, dan pencocokan dengan daftar
orang hilang di seluruh Kekaisaran tidak membuahkan hasil. Akhirnya, setelah
prosedur resmi, bayi itu secara sah diadopsi oleh panti asuhan Ashen.
Mengenai
nama, ditemukan sepucuk memo di antara barang bawaan mendiang wanita tersebut
yang bertuliskan: "Anak yang akan lahir adalah perempuan. Namanya Marone,"
dalam tulisan tangan yang agak kasar. Maka, gadis kecil itu pun dinamai Marone.
Keajaiban Marone
tidak berhenti pada kelahirannya saja. Meski belum bisa bicara, Marone tampak
mengerti perkataan orang dewasa.
Awalnya ia lebih
membaca ekspresi wajah, namun setelah satu bulan di panti asuhan, ia sudah bisa
berkomunikasi sederhana dengan anggukan atau gelengan kepala.
Saat berusia tiga
tahun, Marone sudah bisa berbicara layaknya orang dewasa dan mulai mengatakan
hal-hal ajaib. Kadang ia menatap langit dengan hampa lalu berkata, "Besok
akan hujan," atau "Besok pagi cerah, tapi sore hujan," dan
ramalannya selalu tepat.
Awalnya pengasuh
panti asuhan mendengarnya dengan setengah percaya, namun ramalannya tidak
pernah meleset satu kali pun.
Beberapa orang
dewasa merasa ngeri, namun Ashen justru gembira dan melarang keras siapa pun
membicarakannya ke luar.
Satu tahun
kemudian, di usia empat tahun, Marone mulai membantu merawat anak-anak yang
lebih muda darinya. Namun, hal ini kembali mengejutkan para pengasuh.
Marone bisa
mengerti semuanya meskipun sepuluh anak atau lebih mengajaknya bicara secara
bersamaan.
Ia juga sangat
peka terhadap perasaan orang lain, sehingga tanpa sadar ia selalu menjadi pusat
perhatian dan menerangi panti asuhan dengan keceriaannya.
Pernah suatu
hari, Ashen mengajaknya pergi memancing di sungai untuk menunjukkan dunia luar
panti asuhan.
Marone menatap
aliran sungai sejenak, lalu memanggil "Tuan Ashen" sambil menunjuk ke
permukaan air.
"Pasti jika
dilempar ke sana, Anda akan mendapat ikan besar. Setelah itu ke arah sana. Lalu
ke sana."
"Hou,
menarik. Jika itu benar, aku akan membelikanmu apa pun yang kau suka saat
pulang nanti."
"Fufu. Saya
tidak pernah berbohong. Janji ya."
Melihat Marone
yang tersenyum penuh percaya diri, Ashen tertawa kecil dan melemparkan umpan ke
tempat yang ditunjuk.
Benar
saja, ikan langsung menyambar dan ia berhasil menarik ikan yang sangat besar.
Ashen benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Lihat.
Seperti yang saya katakan, kan, Tuan Ashen?"
"...Begitulah."
Mungkin
hanya kebetulan.
Dengan
rasa ragu, ia kembali melemparkan umpan sesuai instruksi Marone. Namun, ia
segera menyadari bahwa ini bukan sekadar kebetulan.
Karena
setiap kali ia melempar ke tempat yang ditunjuk, ikan selalu memakan umpannya.
Ia mencoba melempar ke tempat lain yang tidak ditunjuk, dan hasilnya nihil.
Namun
saat melempar kembali ke instruksi Marone, ikan langsung menyambar. Tanpa
sadar, Ashen telah menarik 153 ekor ikan besar hari itu.
"Fumu.
Apa kau bisa melihat di mana
ikan-ikan itu berada?"
"Tidak.
Hanya saja, saya merasa ikan itu akan tertangkap, dan saya bisa melihat
bayangan Tuan Ashen sedang menarik ikan tersebut. Saya sendiri merasa ini aneh... apakah saya
tidak normal?"
"Tidak.
Sepertinya kau memiliki
kekuatan yang luar biasa. Namun, jangan pernah menceritakan ini kepada siapa
pun. Ini rahasia antara aku dan Marone saja."
"Baik. Saya
mengerti."
Sejak hari itu, cara pandang Ashen terhadap Marone berubah. Marone memiliki kekuatan yang luar biasa.
Jika ia bisa
memanfaatkan anak ini dengan baik, ia mungkin bisa memanjat hingga puncak
bangsawan Kekaisaran.
Berpikir
demikian, Ashen mulai memberikan pendidikan khusus kepada Marone.
Ternyata ia tidak
hanya memiliki kekuatan khusus, Marone juga sangat cerdas; ia mengerti semua
pelajaran dengan sangat cepat, yang lagi-lagi membuat para pengajar
terperangah.
Dan saat Marone
berusia enam tahun, Marsekal Berlutti Jean-Paul, pemimpin dari faksi progresif
bangsawan Kekaisaran, mengunjungi panti asuhan Ashen.
Rumor beredar
bahwa sang Marsekal sedang mencari gadis kecil yang seumuran dengan para
Pangeran Kekaisaran untuk memperkuat posisi politiknya.
Ashen mendengar
rumor itu, namun ia tidak pernah bermimpi bahwa sosok besar seperti sang
Marsekal akan mendatangi panti asuhan miliknya yang bukan dari kalangan
bangsawan (saat itu).
Marsekal Berlutti
sangat terkesan dengan kebijakan operasional panti asuhan dan manajemennya yang
rapi. Namun yang terpenting, ia sangat menghargai kemampuan Ashen.
"Aku sudah
melihat semuanya, dan kemampuanmu sangat luar biasa, Tuan Ashen. Bagaimana jika
kau menjadi bangsawan? Awalnya dari Baron, tapi dengan kemampuanmu, kau pasti
akan segera naik pangkat."
"Itu adalah
sebuah kehormatan besar. Saya sangat bersedia."
Saat Ashen
membungkuk hormat, Marsekal Berlutti menyeringai.
"Umu,
baiklah. Tapi sebelum itu, aku ingin bertanya satu hal. Aku dengar di panti asuhan ini ada
seorang gadis yang sangat luar biasa. Bisakah kau mempertemukan aku
dengannya?"
Ashen
sedikit mengangkat alisnya. Dari mana beliau mendengarnya?
Namun, ia
segera berpikir bahwa jika Marone menjadi anak angkat Marsekal Berlutti, ia
akan menjadi bagian dari puncak kekuasaan Kekaisaran.
Keluarga Marquis Jeanpaul akan menjadi pelindung bagi Ashen
Trading Company. Tidak ada pelindung
yang lebih kuat di Kekaisaran selain itu.
Ashen
adalah orang yang sangat pragmatis. Baginya, bangsawan yang hanya memakan hak
istimewa tanpa kemampuan adalah orang-orang bodoh.
Ia
menghitung bahwa dengan kekuatan nasional dan militer Kekaisaran, seharusnya
seluruh benua bisa dikuasai. Namun, Ashen tidak memiliki posisi maupun suara
saat itu.
Itulah
sebabnya ia membangun kekuatan finansial dan koneksi melalui perusahaannya
sambil menunggu kesempatan.
Namun,
hanya menjadi bangsawan saja tidak cukup. Idealnya, ia harus mendapatkan gelar
melalui rekomendasi dari keluarga besar seperti Adipati Elasenize, Adipati
Loveless, atau Marquis Jeanpaul. Dan kesempatan sekali seumur hidup itu kini ada di hadapannya.
Marone yang
memiliki kekuatan misterius tak terbatas, melawan kesempatan emas yang telah ia
nantikan. Setelah menimbang keduanya, ia mengambil keputusan.
"...Baiklah.
Akan saya antarkan Anda menemuinya."
"Umu. Mohon
bantuannya."
Saat mereka tiba,
Marone sedang berada di tengah-tengah anak-anak lain. Seolah merasakan sesuatu,
ia menoleh ke arah mereka berdua dan menatap lekat Marsekal Berlutti. Ia
kemudian berjalan ke arah mereka dan melakukan curtsey yang sangat
sempurna dan anggun.
"Saya sudah
menunggu Anda, Marsekal Berlutti Jean-Paul."
Ashen terbelalak.
Ia tidak pernah bicara soal Marsekal Berlutti kepada Marone. Tentu saja, ia
juga tidak memberitahunya soal kunjungan hari ini. Namun, sang Marsekal justru
tersenyum puas.
"Hou. Kau
sudah tahu siapa aku?"
"Ya. Saya
sudah sering melihat dalam mimpi bahwa hari ini Marsekal Berlutti akan
mengunjungi panti asuhan."
"Fufu, mimpi
ya. Begitu ya, begitu ya. Benar-benar bukan gadis biasa."
Marsekal
Berlutti mengusap dagunya dengan puas.
"Tuan
Ashen. Aku ingin menjadikan anak ini sebagai putri angkatku, apakah kau
bersedia?"
"I-iya.
Tentu saja."
Demikianlah
Marone menjadi putri angkat Marsekal Berlutti, dan Ashen mendapatkan gelar
Baron.
◇
"Tuan Ashen.
Ada apa?"
"Mu. Tidak,
aku hanya teringat sedikit saat kau masih di panti asuhan dulu."
Tersentak dari
lamunannya, Ashen tertawa kecil untuk menutupi rasa canggungnya.
"Begitu
ya."
"Ya.
Benar-benar bukan hal besar."
Marone
yang memiringkan kepalanya dengan bingung terlihat masih memiliki atmosfer yang
sama seperti saat di panti asuhan.
Namun,
Ashen merasa di kedalaman matanya, tersimpan cahaya misterius yang lebih pekat
dari sebelumnya.
Saat
Marsekal Berlutti memasuki ruang tamu, Marone berpamitan, "Kalau begitu,
karena saya hanya akan mengganggu, saya mohon pamit."
Sambil
berjalan sendirian di lorong, Marone mendadak berhenti dan menatap ke luar
jendela.
"Reed
Baldia... Aku ingin segera bertemu denganmu. Kau pasti akan membuatku terhibur... fufu."
Entah kebetulan atau takdir, arah pandangannya tertuju jauh ke depan, ke tempat di mana Wilayah Baldia berada.
Cerita Bonus Orisinal
Valeri Eraseniese Dan Masa Depan yang Penuh Ujian
"Haa...
Benar-benar, aku harus bagaimana?"
Aku mengeluh
lemas sambil merebahkan diri telungkup di tempat tidur dan membenamkan wajahku
di bantal.
Jika Tuhan itu
ada, Dia pasti membenciku.
Maksudku,
membiarkanku bereinkarnasi dengan 'ingatan kehidupan sebelumnya yang
setengah-setengah' ke dalam sosok yang ditakdirkan untuk dihukum mati di masa
depan?
Selera
humor-Nya benar-benar buruk.
Atau
mungkin, Tuhan ini punya kepribadian yang sangat buruk sampai tidak punya
teman, jadi Dia menghibur diri dengan menonton manusia yang sedang kesulitan
dari suatu tempat.
"Ah...
Benar-benar tidak adil, ini membuatku kesal."
Aku
mengangkat wajah dari bantal dan menatap cermin di kamar. Di cermin itu,
terpantul seorang gadis dengan tatapan mata tajam namun cantik seperti
'boneka'.
Karakter
pengganggu yang muncul dalam otome game tingkat sulit berjudul 'Tokimeku
Cinderella!', sang putri bangsawan antagonis: Valerie Elasenize... Itulah
diriku sekarang.
Yah,
meskipun aku hanya punya ingatan yang terputus-putus, ini adalah kejadian yang
sering ada di light novel kehidupan sebelumku.
Lagipula,
karakter antagonis itu hanya menarik untuk dibaca sebagai hiburan.
Begitu
menjadi orangnya langsung, kau harus menjalani hidup dengan premis yang sangat
mustahil: "Kalau dibiarkan begini, hukuman mati sudah pasti, jadi
berusahalah sekuat tenaga untuk bertahan hidup, ya!"
Jika
bicara blak-blakan, ini adalah permainan sampah dengan tingkat kematian tinggi
(kusoge die-game).
Namun,
jika menyerah, maka permainan berakhir... tidak, dalam kasusku, hidupku
berakhir. Apa pun yang
terjadi, aku tidak punya pilihan selain mencari cara untuk bertahan hidup.
"Setidaknya,
kalau saja ingatanku kembali sebelum kesan Pangeran Pertama padaku memburuk,
mungkin masih lebih baik..."
Aku
mengusap luka yang ada di dahiku.
Sebelum
ingatan masa laluku kembali, aku benar-benar menjalani jalur antagonis dengan
kepribadian Tenjou Tenge Yuiga Dokson (Hanya Aku yang Paling Hebat di
Seluruh Langit dan Bumi).
Ucapan
dan tindakan akibat kepribadian itulah yang memicu pertengkaran dengan Pangeran
Pertama, David, yang berujung pada luka di dahi ini. Dan saat itulah ingatan
masa laluku bangkit.
Setelah
itu, demi mencegah skandal bahwa Pangeran Pertama telah melakukan kekerasan
pada putri keluarga Adipati Elasenize, pertunanganku dengan David diputuskan
secara rahasia.
Pertemuan
keluarga pun diadakan di kediaman Adipati Elasenize hari ini, tapi kesan David
padaku sudah di titik terburuk.
'Valerie
Elasenize. Aku sangat membencimu, dan aku tidak mengakuimu sebagai tunanganku. Aku hanya menurut karena ini keputusan
orang tua. Ingatlah itu baik-baik. Sampai jumpa.'
Dia membisikkan
itu di telingaku, lalu tersenyum tipis dan pergi.
'Lalu aku
harus bagaimana dari sini!?'
Teriakanku saat
ditinggal sendirian itulah yang menjadi penutup kejadian hari ini.
Tapi, di
kehidupan sebelumnya aku adalah seorang wanita dewasa yang terhormat...
seharusnya begitu.
Apa pun itu, aku
tidak akan menyerah karena hal seperti ini. Pasti ada jalan keluarnya.
"Ah, benar
juga. Dunia ini seharusnya punya 'Sihir'. Ya... kenapa aku tidak menyadarinya.
Biasanya kalau kesulitan datang setelah reinkarnasi, menyelesaikannya dengan
'sihir' adalah standar utama... Baiklah!"
Aku melompat dari
tempat tidur dan bergegas menuju orang yang paling bisa kuandalkan saat ini.
◇
"Ingin bisa
menggunakan sihir... katamu?"
"Iya, Kakak.
Kakak percaya kan kalau aku punya ingatan masa lalu, dan Kakak bilang akan
membantu memikirkan solusinya? Karena itu, tolong ajarkan aku sihir."
Yang ada di
depanku sekarang adalah Latiga Elasenize. Dia adalah kakak yang bisa
diandalkan, yang sudah tahu bahwa aku memiliki ingatan masa lalu dan bersedia
bekerja sama denganku. Aku yakin dia akan membantuku. Namun, Kakak
menggelengkan kepalanya.
"Valerie.
Sihir itu tidak mudah, tahu? Kau tidak bisa menguasainya hanya dalam semalam
tanpa latihan setiap hari. Apa kau mengerti hal itu?"
"Eh...
benarkah?"
Aku memiringkan
kepala tanpa sadar.
Apakah sihir
sesulit itu?
Padahal di dalam
permainan, hampir semuanya bisa langsung digunakan.
Biasanya hanya
perlu naik level lalu mempelajarinya, atau membeli sihir di toko dan langsung
bisa dipakai.
Apakah aslinya
sesulit itu?
"Fumu. Kalau
begitu, biarkan aku menjelaskan sedikit tentang sihir sejauh yang aku
tahu."
"Terima
kasih, Kakak."
Seolah bisa
membaca pikiranku, Kakak menceritakan pengetahuannya tentang sihir.
Untuk menggunakan
sihir, seseorang harus mulai dengan menyadari energi kehidupan (life force)
di dalam dirinya, lalu mempelajari sensasi mengubah energi kehidupan menjadi
mana melalui konversi mana, baru setelah itu akhirnya bisa mengaktifkan sihir.
Katanya, butuh
waktu paling cepat beberapa bulan hanya untuk bisa mengendalikannya.
Apa-apaan itu?
Aku belum pernah dengar sistem seperti itu...
Saat aku
kebingungan, Kakak meletakkan tangannya dengan lembut di atas kepalaku.
"Sudah
kubilang, kan? Itu bukan sesuatu yang bisa dikuasai dengan mudah. Lagipula,
Valerie akan mulai menjalani pendidikan ketat untuk menjadi Permaisuri. Kurasa
kau tidak akan punya waktu untuk berlatih sihir."
"He...!? Aku
belum dengar soal itu!"
Belajar untuk
menjadi Permaisuri!?
Jangan
bercanda.
Daripada itu, aku
harus merancang dan menjalankan rencana untuk menghindari hukuman mati.
Tapi, berbanding
terbalik dengan kecemasanku, Kakak justru menyipitkan mata dan tersenyum.
"Haha, itu
wajar. Kan kau baru saja melakukan pertemuan formal dengan Tuan David hari ini.
Sebentar lagi berbagai pelajaran akan dimulai. Tenang saja, kalau Valerie pasti
bisa."
"Bu-bukan
itu maksudku. Kakak, sudah kubilang kan? Kalau kita tidak melakukan apa-apa,
keluarga Adipati Elasenize akan dihukum. Karena itu, kumohon. Ajarkan aku
sihir."
Melihatku memohon
dengan sangat serius, Kakak mengangkat bahu seolah tidak punya pilihan.
"Kalau kau
sampai berkata sejauh itu, apa boleh buat. Aku akan mengajarkan apa yang aku
bisa semampuku."
"Benarkah!?
Kakak, aku sayang padamu!"
Saat aku
memeluknya, wajah Kakak sedikit memerah.
"Haha, aku
juga sayang padamu, Valerie."
"Kalau
begitu, mari segera kita lakukan! Karena hal baik harus dilakukan secepatnya,
Kakak."
"Eh...
sekarang!?"
"Tentu
saja!"
Tanpa
membiarkannya protes, aku menarik lengan Kakak menuju lapangan latihan.
◇
"Ayo, Kakak.
Cepat tunjukkan sihirnya."
"Iya, iya,
aku mengerti. Mundurlah sedikit, ini berbahaya."
Begitu sampai di
lapangan latihan, Kakak memintaku berdiri di belakangnya lalu menarik napas
dalam. Dia menatap tajam ke arah sasaran yang berada agak jauh.
"...Bola
Petir (Thunderball)."
Begitu dia
bergumam, sebuah bola kuning terbentuk di atas telapak tangan kanan Kakak
disertai suara guntur yang berderit.
"He-hebat..."
Saat aku terpaku
menahan napas, Kakak melontarkan bola petir yang sudah mencapai ukuran tertentu
itu ke arah sasaran.
Bola petir itu
melesat cepat, mengenai sasaran, dan meledakkan suara guntur yang dahsyat.
Sasaran itu seketika menjadi gosong menghitam.
"Fuu...
Inilah 'Bola Petir', sihir dasar dari bakat elemen petir yang diwariskan
bersama darah keluarga Adipati Elasenize. Perlu kau tahu, butuh latihan yang
sangat berat untuk bisa menggunakan ini."
◇
"Ini dia...
Inilah inti dari jalur utama reinkarnasi dunia lain! Lihat saja, aku juga akan
menguasainya!"
"...?
Valerie, ada apa denganmu?"
"Kakak, aku
juga akan mencobanya!"
"Eh!?"
Pertama-tama,
coba saja dulu. Kalau gagal, baru pikirkan langkah selanjutnya.
Aku memejamkan
mata, memutar kembali ingatan tentang 'Bola Petir' yang ditunjukkan Kakak di
dalam benakku, lalu menarik napas dalam.
Kemudian,
aku membuka mata lebar-lebar, mengangkat tangan kanan, dan berteriak.
"Bola
Petir!"
"Ja-jangan-jangan...!?"
Kakak
mengeluarkan suara terkejut. Ya, aku bisa... Aku juga memiliki darah keluarga
Adipati Elasenize. Aku pasti bisa mengaktifkannya... Aku sangat yakin akan hal
itu.
Namun, meski sudah menunggu lama, suara guntur tak kunjung
terdengar. Angin yang cukup kencang justru berembus di lapangan latihan.
Tubuhku terasa sedikit dingin. Hatiku juga mendingin, dan wajahku memerah karena
malu.
"Ugu
gu gu..."
"Haa...
Sudah kubilang, kan? Menggunakan
sihir itu sulit. Latihan untuk bisa merasakan mana di dalam diri saja konon
butuh waktu minimal satu bulan."
"Ugaaaaa!?
Apa-apaan ini! Padahal sebagai bonus reinkarnasi, seharusnya aku bisa melakukan
hal sekecil ini! Tuhan benar-benar pelit!"
"A-ada apa,
Valerie? Kenapa kau mengeluarkan suara aneh begitu..."
Kakak
tampak bingung mendengar teriakan jiwaku.
Di light
novel, anime, atau game dalam ingatan masa laluku, bukankah orang yang
bereinkarnasi biasanya jenius dalam sihir?
Itulah
sebabnya aku pikir aku juga bisa. Tapi ternyata kenyataan tidak semanis itu.
Saat aku
tertunduk lesu, seseorang memanggil namaku, "Valerie!" dan aku
tersentak. Saat aku mengangkat wajah dan menoleh, di sana ada ibuku, Cattleya
Elasenize.
"Ibu,
ada apa datang ke tempat seperti ini?"
Saat aku
bertanya, alis Ibu sedikit berkerut.
"Ada apa?
Bukan itu pertanyaannya! Ibu sudah bilang kan, setelah pertemuan dengan
Pangeran David selesai, kau juga harus bertemu dengan para guru pendidikan
Permaisuri!"
"Eeeh!?
Kapan Ibu bicara soal itu?"
Ibu menggelengkan
kepala dengan wajah jengkel. Sepertinya sejak mendapatkan kembali ingatan masa
lalu, kepalaku terlalu penuh dengan urusan hukuman mati sehingga aku melewatkan
pembicaraan itu.
"Wah,
Valerie. Ternyata memang ada pembicaraan soal pendidikan Permaisuri ya. Kau
boleh berkonsultasi padaku kapan saja, jadi cepatlah pergi."
Kakak berkata
begitu sambil tersenyum lebar.
"...Baiklah.
Kalau begitu, aku pergi dulu."
"Haa...
Benar-benar, Ibu pikir kau sudah sedikit lebih tenang. Ternyata kau memang
masih anak-anak."
Ibu menghela
napas, lalu menggandeng tanganku dan mulai berjalan.
◇
"Nah, Ibu
akan memperkenalkan para gurumu."
"Eh...? Ibu,
kenapa gurunya banyak sekali?"
Di ruangan tempat
Ibu membawaku, ada sepuluh orang lebih orang dewasa yang tampak terhormat
sedang menunggu.
"Tidak, ini
bahkan sudah Ibu seleksi seketat mungkin. Pendidikan Permaisuri mencakup banyak
hal, mulai dari etika, sejarah Kekaisaran dan negara lain, bahasa, pengelolaan
negara, hubungan antar bangsawan Kekaisaran, diplomasi, urusan dalam negeri, tarian,
musik, hingga budaya. Ini bahkan sudah dikurangi setelah mendapat saran dari
Yang Mulia Permaisuri saat ini."
"Eeeh..."
Wajahku kaku.
Dengan pelajaran sebanyak ini, mustahil aku punya waktu untuk berlatih sihir.
Maksudku, tidak mungkin gadis sekecil ini bisa mengingat semuanya sekaligus.
Ini benar-benar pemaksaan.
"Tenang
saja. Valerie kan sudah bisa membaca buku cerita dengan lancar. Meski awalnya
berat, kau pasti akan segera bisa."
"Na...!?"
Gawat, aku
terjebak. Ibu sepertinya sudah membaca pikiranku dan menutup jalan kaburku
terlebih dahulu.
Jika aku yang
dulu, materi pelajaran ini mungkin mustahil. Tapi dengan ingatan masa lalu, aku
memang seharusnya bisa melakukannya.
Namun, mengingat
rencana untuk menghindari hukuman mati, sepertinya aku harus mencoba merengek
untuk mengurangi beban belajar ini.
"A-anu, Ibu.
Sepertinya pelajaran sebanyak ini masih terlalu dini untukku..."
Saat aku bertanya
dengan ragu, mata Ibu mulai berkaca-kaca.
"Tidak
boleh, Valerie. Kau tidak boleh menyerah sejak awal. Lagipula, pengaturan
guru-guru ini juga mendapat dukungan dari Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri.
Jika kau menolaknya mentah-mentah, apa yang akan terjadi pada reputasi keluarga
Adipati Elasenize... Gadis cerdas sepertimu pasti tahu konsekuensinya,
kan?"
"Ugh..."
Benar juga, jika
aku merusak reputasi keluarga Elasenize, itu justru bisa mempercepat jalan
menuju hukuman mati. Semua jalan keluar benar-benar sudah ditutup.
Hah, sepertinya
aku harus menyerah.
"Baiklah.
Aku akan berusaha dalam pendidikan Permaisuri."
"Bagus,
Valerie. Memang putriku."
Begitu aku
menjawab, Ibu langsung memelukku dengan kuat. Di matanya sudah tidak ada air
mata. Ternyata itu cuma tangisan palsu. Aku hanya bisa tertunduk lemas di
pelukan Ibu.
Setelah itu,
perkenalan para guru dimulai. Saat guru terakhir selesai menyapa, aku
memiringkan kepala.
"Ibu. Di
mana guru sihirnya?"
Bukan hanya Kakak
yang bisa memakai sihir. Kupikir kalau ada sihir dalam pendidikan Permaisuri,
itu masih lumayan.
Tapi ternyata
tidak ada penanggung jawab untuk pendidikan sihir.
"Tentu saja
tidak ada. Bagi bangsawan, sihir dipelajari oleh kepala keluarga atau putra
mahkota yang bertugas menjaga negara. Permaisuri tidak perlu bisa menggunakan
sihir. Yah, mungkin lebih baik kalau bisa, tapi karena prioritasnya rendah, Ibu
menghapusnya dari materi pendidikan kali ini."
"E...
Eeeeeeeh!?"
Apa yang Ibu
katakan memang benar secara umum. Tapi bagiku, itu salah besar.
Karena tidak
mengerti alasan teriakanku, Ibu dan semua guru di sana tampak bingung secara
bersamaan.
"...Ngomong-ngomong, bagaimana jadwalnya?"
"Ah, benar juga. Ini dia."
Apa-apaan ini...
Dari pagi sampai malam benar-benar penuh. Jadwal macam apa ini?
Sebagai
informasi, satu tahun di dunia ini sama dengan kehidupan sebelumnya, yaitu dua
belas bulan, dan jumlah hari dalam sebulan juga hampir sama.
Namun, saat aku
memperhatikan jadwal itu baik-baik, aku menyadari ada blok waktu kosong yang
cukup panjang di siang hari setiap hari Minggu.
Syukurlah, aku
bisa memakai waktu ini untuk menyusun berbagai rencana... Tepat saat aku merasa
lega, Ibu menunjuk bagian kosong itu.
"Fufu, waktu
itu... setiap minggu adalah waktu bagi Valerie dan Pangeran David untuk
bertemu. Jangan
bertengkar, dan akurlah dengan dia, ya."
"He...?"
Begitulah,
pendidikan Permaisuri dari neraka dimulai.
Meskipun
begitu, aku yang tidak bisa menyerah untuk menguasai sihir kadang mencoba
menyelinap keluar kelas untuk berlatih.
Tapi, aku
selalu ketahuan oleh Ibu dan membuatnya marah besar berkali-kali.
Akibatnya,
aku sekarang selalu diawasi selama pelajaran, dan rencana menguasai sihir
secara praktis harus tertunda.
Hah... Benar-benar masa depan yang suram.
Bonus E-book:
Cerita Pendek Tambahan
Kebanggaan Drake Kelvin
"Ada apa
dengan kalian? Cuma segini kemampuanmu?"
Guntur teriakan
Drake Kelvin menggema di lapangan latihan kediaman Kelvin yang terletak di
Ibukota Kekaisaran Magnolia.
Di sekelilingnya,
para ksatria yang melayani keluarga Kelvin terkapar dengan tubuh penuh memar
akibat latihan yang keras. Suara rintihan terdengar dari segala penjuru.
Drake, yang
berdiri tegak dengan pedang kayu di tangannya, mendecak lidah saat menyadari
tidak ada satu pun ksatria yang menunjukkan tanda-tanda akan bangkit. Ia
menatap mereka dengan tatapan dingin.
"...Benar-benar
memalukan. Keluarga Kelvin adalah keluarga Margrave yang ada untuk mencegah
invasi dari negara-negara besar. Meski berada di Ibukota, kita harus selalu
siap berada di garis depan dan mempertaruhkan nyawa demi melindungi negara.
Semangat dan kemampuan itulah yang dituntut dari kita. Jika kalian tidak punya
tekad itu, berhentilah menjadi ksatria sekarang juga."
"Se...
sekali lagi. Mohon bimbingannya..."
"Bagus, itu
baru semangat. Kemarilah!"
Seorang ksatria
berusaha bangkit dengan sisa tenaganya, mengangkat pedang kayu dalam posisi jodan
(posisi atas), lalu menerjang.
"Uoooooooo!"
"Lambat!
Terlalu lambat!"
Drake menangkis
pedang kayu ksatria itu hingga terpental, lalu berteriak, "Kuatkan
gigimu!" sambil melayangkan pukulan telak yang menghempaskan ksatria
tersebut.
"Guaaaaa!?"
Ksatria itu
terpental jauh, meringkuk di tanah dan tidak bergerak lagi. Ksatria lain
memeriksanya; sepertinya dia pingsan. Namun, Drake bahkan tidak menoleh. Ia
hanya menggelengkan kepala dan mendengus.
"Ayo, jangan
takut. Serang aku satu demi satu. Kalian adalah ksatria, bukan?"
Melihat para
ksatria yang mulai gentar karena latihan yang teramat keras, Drake mengerutkan
dahi dan mengancam dengan aura yang mengerikan.
"Bagaimana
jika aku adalah penjahat yang menyerang kediaman Kelvin? Apakah kalian akan
gemetar ketakutan karena sayang nyawa? Jika begitu, kalian bukan ksatria...
kalian hanyalah pengecut. Dan keluarga Kelvin tidak cukup kaya untuk
mempekerjakan pengecut sebagai ksatria."
Drake mengarahkan
ujung pedang kayunya kepada mereka.
"Tentu saja,
aku akan memecat kalian setelah mengumumkan fakta bahwa kalian adalah pengecut
ke seluruh Kekaisaran. Jika itu terjadi, kalian tidak akan bisa bekerja sebagai
ksatria, petualang, bahkan pengawal sekalipun. Tapi itu jauh lebih baik daripada
membiarkan orang mati karena ketidakmampuan kalian."
"Gu...!?"
Mendengar hinaan
pedas itu, cahaya kemarahan dan harga diri yang terluka muncul di mata para
ksatria. Mereka menggenggam pedang kayu dengan erat.
"Benar,
tatapan itu. Yang dibutuhkan ksatria adalah tekad untuk berdiri menghadapi
lawan, sekuat apa pun mereka. Ayo, serang!"
"Uoooooooooo!"
Kekerasan latihan
keluarga Kelvin sudah menjadi rahasia umum di Kekaisaran.
Di antara
semuanya, latihan yang dipimpin oleh Drake adalah yang paling brutal dan tak
kenal ampun.
Hari itu, latihan
berlangsung lebih intens dari biasanya, terus berlanjut hingga para ksatria
pingsan atau suara mereka tidak terdengar lagi.
Meski latihan itu
dipenuhi dengan aura membunuh yang mencekam, Drake tidak mendapatkan satu luka
gores pun, bahkan hampir tidak berkeringat.
Terlepas dari
statusnya sebagai putra mahkota keluarga Kelvin, Drake adalah seorang jenius
pedang yang menyerupai iblis.
"...Orang-orang
yang tidak berguna. Mereka
menjadi lembek karena terlalu lama di Ibukota. Aku akan menambah porsi latihan
untuk sementara waktu."
"Ka... kami
mohon maaf."
Para ksatria
saling memapah satu sama lain untuk bangkit dan meninggalkan lapangan latihan.
Melawan arus tersebut, seorang pemuda datang mendekat.
"Kakak, Ayah
memanggilmu."
"Begitu ya.
Tapi David, sampaikan pada Ayah kalau aku akan menemuinya setelah berganti
pakaian."
"Dimengerti.
Akan saya sampaikan."
"Umu."
David adalah adik
Drake yang terpaut usia cukup jauh.
Bakat
pedangnya tidak setinggi Ayah atau aku. Tapi, pesona yang menarik orang lain
dan bakat politiknya adalah yang paling bersinar di keluarga kami.
Itulah penilaian Drake terhadap adiknya. Saat
David membungkuk dan berbalik pergi, Drake menatap punggungnya dan ekspresinya
sedikit melunak.
"Aku sebagai
kakak akan menebas musuh, dan kau sebagai adik akan menjaga wilayah. Dengan
begitu, keluarga Kelvin akan aman."
Setelah bergumam
pelan, Drake berjalan menuju kamarnya.
◇
"...Saya
tidak setuju. Kenapa hanya saya yang harus kembali ke wilayah kekuasaan?"
Begitu mendengar
penjelasan dari ayahnya, Margrave Greid Kelvin, wajah Drake memerah padam. Ia
membentak dan memukul meja kerja ayahnya dengan keras menggunakan kedua
tangannya.
Namun, Greid yang
duduk di kursinya hanya menggelengkan kepala dengan tenang.
"Sifatmu
yang seperti itulah masalahnya, Drake."
"Guh.
Maafkan saya, Ayah. Tapi, jika kita bicara soal kejadian di Ruang Audiensi, Reed
Baldia juga seharusnya menerima hukuman yang setimpal. Saya tidak bisa terima
jika hanya saya yang disuruh pulang ke wilayah dan menjalani masa hukuman
(tahanan rumah)."
Drake
terus memprotes dengan napas yang memburu. 'Kejadian di Ruang Audiensi' yang
dimaksud adalah perang kata-kata antara dirinya dan Reed di hadapan Kaisar dan
Permaisuri. Memang benar, menuduh ayah Reed, Rainer Baldia, memiliki 'niat
makar' adalah ucapan yang berlebihan dan merupakan sebuah kesalahan fatal.
Drake mengakui hal itu.
Namun,
Drake merasa dalam aliran percakapan saat itu, ucapannya memang bisa
ditafsirkan demikian.
Jika saja
Reed Baldia tidak mencari-cari kesalahannya, segalanya pasti akan baik-baik
saja... setidaknya, itulah yang dipikirkan Drake.
Oleh
karena itu, ia tidak habis pikir mengapa dirinya harus dihukum sementara Reed
Baldia bebas tanpa teguran. Tidak, Drake tidak sudi mengakuinya.
Sebab,
itu berarti ia kalah dalam debat melawan Reed. Reed mungkin berusia hampir
sepuluh tahun lebih muda darinya.
Kalah
dalam perang argumen di hadapan Kaisar dan banyak bangsawan oleh lawan seperti
itu adalah penghinaan.
Kabar ini
akan menjadi aib seumur hidup bagi Drake dan menjadikannya bahan tertawaan para
bangsawan. Namun, itu bukan yang terburuk.
Baginya,
hal yang paling tidak bisa dimaafkan adalah tercorengnya martabat keluarga
Kelvin. Seolah bisa membaca isi hati putranya, Greid menatap lurus mata Drake
dan mulai bicara.
"Kelebihanmu
adalah kejujuran dan keteguhanmu pada keyakinan. Tapi kali ini, hal itu
berbalik menjadi buruk. Masa hukuman ini adalah waktu bagimu untuk merenung dan
melihat kembali dirimu sendiri. Kau masih muda. Kejadian ini akan menjadi
pelajaran yang berharga."
"...Kesempatan
yang hilang sekali tidak akan datang dua kali. Martabat keluarga Kelvin telah terluka. Jika
begitu, lebih baik hapus saja hak warisku."
Drake bergumam
sambil menggigit bibir, bahunya bergetar. Greid bangkit berdiri, mendekatinya, dan
menepuk bahunya dengan lembut.
"Ada
dua kesempatan utama bagi seseorang untuk tumbuh besar. Pertama, saat ia meraih
pencapaian besar. Kedua, saat ia merangkak bangkit dari keterpurukan. Dan
pertumbuhan yang paling besar biasanya datang dari keterpurukan."
"Ayah..."
"Mungkin
ini berat bagimu, tapi renungkanlah kesalahan ini dengan jujur dan jadikan
pelajaran untuk masa depan. Mengerti?"
"...Saya
mengerti. Kalau begitu, saya akan kembali ke kamar untuk mengemas
barang-barang."
"Umu.
Aku dan David rencananya akan berangkat dari Ibukota paling cepat dalam
beberapa hari. Aku percayakan urusan wilayah padamu."
"Baik,
serahkan pada saya."
Sambil
menyeka wajah dengan lengan bajunya, Drake membungkuk dalam-dalam lalu
meninggalkan ruangan. Greid menatap punggung putranya dengan tatapan penuh
kekhawatiran.
◇
"David.
Boleh bicara sebentar?"
Saat
Drake mengetuk pintu kamar adiknya, terdengar langkah kaki dari dalam.
"Kakak,
ada apa?"
Begitu
David mengintip keluar, Drake meletakkan tangannya dengan lembut di kepala
adiknya.
"Maaf,
tapi aku harus pulang ke wilayah lebih awal. Aku titip Ayah padamu."
"Baik,
saya mengerti. Tapi, apakah Kakak akan pulang tanpa menghadiri jamuan ramah
tamah keluarga Baldia?"
"Ya,
begitulah. Karena itu, aku ingin kau memperhatikan jamuan itu dengan
saksama."
"Baiklah.
Kudengar putra keluarga Baldia, Tuan Reed, seumuran denganku. Jika
memungkinkan, aku akan berusaha menjalin persahabatan dengannya."
Mendengar
ucapan David yang tersenyum ramah, alis Drake sedikit berkedut.
"...Begitu
ya. Jika itu kau, pasti bisa."
Ia menjawab
demikian, lalu bergumam sangat pelan, "Sesuatu yang mustahil
bagiku..."
"Kakak?"
Melihat David
memiringkan kepala kebingungan, Drake mengubah ekspresinya dan menggeleng.
"Tidak,
bukan apa-apa. Kalau begitu, aku titip ya."
"Baik,
Kakak!"
Mendengar jawaban
yang ceria itu, Drake berpamitan kepada David dan segera meninggalkan kediaman
Kelvin di Ibukota. Ia berangkat menggunakan kereta kuda menuju wilayah
kekuasaannya.
◇
"Reed Baldia...
Aku tidak akan melupakan penghinaan ini."
Tepat saat Drake
bergumam di dalam kereta yang sedang melaju, tiba-tiba kereta berhenti di
jalanan yang sepi.
"Ada apa
ini!"
Saat Drake
berdiri, pintu kereta diketuk.
"Mohon maaf.
Saya membawa surat dari tuan saya yang ditujukan untuk Tuan Drake Kelvin. Mohon
sudi menerimanya."
Di depan pintu,
berdirilah sosok misterius yang seluruh tubuhnya tertutup jubah dan tudung
hitam, bahkan mulutnya pun tersembunyi.
Drake memegang
gagang pedangnya dengan curiga sambil membuka pintu.
"...Aku
tidak tahu siapa tuanmu, tapi ini benar-benar tidak sopan."
"Anda benar,
saya memohon maaf atas kelancangan ini."
Sosok misterius
itu membungkuk dalam. Dilihat dari suaranya, dia adalah laki-laki.
Meski
penampilannya mencurigakan, gerak-gerik dan bicaranya sangat sopan dan tertata,
layaknya pesuruh dari seorang bangsawan berpangkat tinggi.
Saat Drake merasa
heran, pria itu kembali bicara dengan wajah tertunduk.
"Meski
lancang, izinkan saya mengatakan bahwa kejadian di Ruang Audiensi tempo hari...
Tuan saya berpendapat bahwa Tuan Drake sama sekali tidak bersalah, dan beliau
sangat mengkhawatirkan Anda."
"Apa...?"
Pandangan Drake
mengikuti arah yang ditunjuk pria itu. Di sana, terparkir sebuah kereta kuda
yang dekorasinya tak kalah mewah dari milik keluarga Kelvin. Namun, tidak ada
lambang keluarga yang terlihat.
"Jika
setelah membaca surat ini Anda merasa tertarik dengan identitas tuan saya, saya
akan mengantarkan Anda ke kereta tersebut."
"...Baiklah."
Drake menerima
surat itu, merobek segelnya, dan mulai membaca isinya.
Tak lama
kemudian, dahinya berkerut. Surat itu merinci detail kejadian di Ruang Audiensi
dan menjelaskan secara logis mengapa Drake tidak bersalah dalam situasi
tersebut.
Dengan kata lain,
orang di dalam kereta tanpa lambang itu adalah bangsawan yang hadir di Ruang
Audiensi hari itu, atau seseorang yang terkait erat dengan mereka.
Siapa
sebenarnya orang ini?
Saat Drake
mengalihkan pandangannya dari surat ke arah kereta, ia merasa pria misterius di
depannya sedang menyeringai tipis.
"Apakah
Anda... ingin bertemu dengan tuan saya?"
"Baiklah,
aku akan menemuinya. Tapi sebelumnya, biarkan aku tahu namamu."
"Tolong panggil saya... 'Lobe'."
"Lobe... katamu?"
Drake menatap penampilan pria yang baru saja memperkenalkan
dirinya itu, lalu mendengus.
"Nama yang konyol."
"Mohon maafkan saya. Nama asli sudah saya buang sejak
lama. Mari, saya akan memperkenalkan
tuan saya kepada Anda."
Setelah berkata demikian, pria bernama Lobe itu dengan
sangat sopan mengantarkan Drake menuju kereta kuda misterius tersebut.
Previous Chapter | ToC | End V8



Post a Comment