NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonda Otome Gēmu no Akuyaku Mobu desu ga ⁓ Danzai wa Iya na no de Mattō ni Ikimasu Volume 8 Extra Chapter

Extra Chapter

Obrolan Ringan — Kekhawatiran Seorang Orang Tua terhadap Anaknya



"Dia sudah tidur, ya. Rupanya, beban pada tubuh dan jumlah mana yang dia habiskan memang luar biasa."

Rainer menatap putranya, memastikan napasnya teratur, dan ekspresi lega menyelimuti wajahnya.

Latihan penguatan tubuh hari ini dilakukan di bawah bimbingannya.

Putranya, Reed, berhasil menguasai penguatan tubuh yang disebut Second Form dengan sangat lancar—bisa dibilang kemajuannya luar biasa.

Meski itu saja sudah merupakan pertumbuhan yang fenomenal, Rainer bermaksud menunjukkan tujuan selanjutnya dengan memperlihatkan Body Enhancement: Blazing Fire.

Dia sama sekali tidak menyangka bahwa putranya akan langsung menantang teknik itu, bahkan sampai berhasil mengaktifkannya.

Rainer merasa marah, lebih dari sekadar khawatir, karena Reed melakukan tantangan yang begitu gegabah.

Namun di saat yang sama, dia juga merasa bangga bisa menyaksikan "bakat alami" sang putra. Perasaan yang campur aduk itu membuatnya menghela napas panjang.

Tanpa memedulikan perasaan orang tuanya, sang putra tertidur lelap. Rainer menatapnya dengan pandangan yang antara lembut dan jengkel.

"Dasar... kau ini benar-benar jenius yang bodoh."

"Ugh... uun... Ayah... aku bisa... pakai Blazing Fire... puji aku dong..."

"Jangan-jangan kau bangun?"

Rainer mengerutkan dahi. Namun, sejauh yang ia lihat, Reed benar-benar sedang bermimpi.

"Hanya igauan, ya. Fufu, baiklah. Kau itu tipe yang cepat besar kepala, jadi aku hanya akan memujimu saat kau tidur saja. Di usia segitu, bisa mengaktifkan Second Form dan Blazing Fire, kau memang benar-benar seorang jenius. Hebat sekali, Reed."

Tepat saat Rainer mengusap kepala putranya dengan lembut, pintu kamar diketuk.

"Tuan Rainer. Boleh saya masuk?"

"Umu. Masuklah."

Diana dan Danae masuk setelah mendengar jawaban itu.

"Aku sudah menunggu kalian. Maaf, tolong ganti baju putraku."

"Dimengerti."

Setelah keduanya membungkuk hormat, Diana melanjutkan bicaranya.

"Tuan Rainer. Sesuai instruksi Anda, kami juga sudah menghubungi Nona Sandra. Beliau diperkirakan akan segera tiba."

"Begitu, baguslah. Kalau begitu, kuserahkan sisanya pada kalian."

Rainer bangkit dari duduknya dan berbalik untuk meninggalkan ruangan. Namun, dia mendadak berhenti di depan pintu.

"Dan untuk berjaga-jaga, pastikan selalu ada seseorang yang siaga di ruangan ini sampai Reed terbangun. Tubuhnya menerima beban yang sangat berat. Kita tidak tahu apakah kondisinya akan berubah drastis secara tiba-tiba."

"Dimengerti. Kami, termasuk pelayan lainnya, akan berjaga secara bergantian untuk mengawasi Tuan Reed sampai beliau sadar."

Setelah Diana memberikan kepastian, Rainer mengangguk "Kuserahkan padamu" dan melangkah keluar. Dia kemudian langsung menuju kamar Nanally.

"Jarang sekali Anda datang pada jam segini. Apakah terjadi sesuatu?"

Nanally menatap ke luar jendela yang mulai gelap, lalu bertanya pada Rainer dengan nada sedikit khawatir.

"Yah, itu... hari ini aku melakukan latihan penguatan tubuh dengan Reed..."

Dengan wajah yang sedikit serba salah, Rainer menjelaskan kejadian hari ini secara mendetail. Bahwa Reed telah menguasai sihir baru, bahkan berhasil mengaktifkan sihir tingkat tinggi di atasnya.

Namun, ia juga memberitahukan bahwa Reed sekarang sedang tertidur di kamarnya akibat beban dari efek samping sihir dan terkurasnya mana. Ekspresi Nanally seketika berubah muram.

"Ya ampun... Jadi, apakah Reed benar-benar baik-baik saja?"

"Iya. Aku sudah meminta Sandra untuk segera memeriksanya. Selain itu, meski aku merasa tidak enak pada Diana dan yang lainnya, aku sudah menginstruksikan mereka untuk berjaga sepanjang malam demi mengawasi Reed."

"Begitu ya..."

Nanally mengangguk, tapi wajahnya tetap terlihat cemas. Rainer melembutkan ekspresinya dan menyipitkan mata dengan penuh kasih.

"Tenanglah, Reed itu anak yang kuat. Lagipula, bakat alaminya benar-benar luar biasa. Dia memang anakmu."

"Aduh. Tapi kalau soal bakat bela diri, bukankah itu darah Baldia?"

"Kalau hanya bela diri, mungkin bisa dibilang darah Baldia. Tapi soal bakat sihir, aku merasa garis keturunan Ronamis-mu jauh lebih kuat. Wajah Reed pun sangat mirip denganmu."

"Fufu, kalau begitu saya senang mendengarnya. Tapi benar juga, seingat saya mendiang ayah pernah berkata saat mabuk bahwa ada penyihir terkenal di antara leluhur keluarga Ronamis... Waktu itu saya tidak terlalu memperhatikan, tapi mungkin seharusnya saya bertanya lebih detail ya."

Mereka berdua pun berbincang santai mengenai dari mana bakat luar biasa Reed berasal. Setelah suasana sedikit tenang, Rainer mengubah topik pembicaraan.

"Nanally. Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin kuminta darimu mengenai Reed."

"Iya, apa itu?"

Melihat istrinya memiringkan kepala, Rainer menunjukkan ekspresi serius.

"Mengenai kenekatan Reed kali ini, aku berniat memberinya 'teguran keras' begitu dia bangun. Setelah itu, aku ingin kau mencari waktu yang tepat untuk menghibur sekaligus menasihatinya."

"Saya mengerti. Ini bukan pertama kalinya anak itu melakukan hal nekat. Kalau begitu, tolong beri tahu saya apa isi teguran Anda nanti."

"Baiklah, akan kulakukan."

Saat Rainer mengangguk, Nanally tiba-tiba teringat sesuatu.

"Ah, benar juga! Ada hal serupa dengan Mel. Saya yang akan memberi Mel teguran, jadi saat itu tiba, tolong Anda yang menasihati Mel, ya."

"U-umu."

Melihat jawaban Rainer yang kurang meyakinkan, mata Nanally berkilat tajam.

"Anda itu terlalu memanjakan Mel. Saat menasihatinya nanti, pastikan Anda tidak kalah oleh tatapan manja Mel. Anak-anak itu terlihat seperti tidak memperhatikan, padahal mereka mengamati orang dewasa dengan sangat baik, lho."

"A-ah... baiklah. Saat itu tiba, aku akan bicara dengan tegas."

Rainer tampak kelabakan menghadapi poin tajam dari istrinya.

Saat menjalankan peran sebagai Margrave dan istrinya, mereka tidak akan pernah memperlihatkan sisi ini kepada siapa pun.

Namun saat ini, mereka hanyalah sepasang suami istri biasa yang sedang mengkhawatirkan anak-anak mereka.




Chapter Tambahan (Orisinal)

Gadis Bernama Marone

Hari itu, sebuah kereta kuda berhiaskan lambang keluarga yang khas mengunjungi kediaman mewah Marquis Jeanpaul di Ibukota.

Lambang tersebut menyerupai roda yang terbelah menjadi dua, namun bisa juga diartikan sebagai pemandangan matahari yang mulai terbit dari balik samudera.

Saat kereta berhenti di depan gerbang, seorang penjaga mendekat dan mengetuk pintu kereta dengan pelan.

"Sepertinya ini kereta dari keluarga Baron Lordpis. Bolehkah saya mengetahui nama Anda?"

"Kepala keluarga, Ashen Lordpis. Ini adalah surat pribadi dari Tuan Berlutti."

Ashen adalah pria dengan paras yang sangat tampan; matanya biru lembut yang meneduhkan.

Rambut cokelatnya disisir rapi ke belakang dalam gaya all-back yang elegan, dengan sedikit poni yang dibiarkan jatuh di dahi.

Siapa pun, baik pria maupun wanita, pasti akan menoleh setidaknya sekali saat melihat penampilannya.

"Baik, saya terima... Terima kasih banyak."

Setelah memeriksa amplop tersebut, penjaga pun membukakan gerbang.

"Mohon tunggu sebentar di sini sampai Tuan Berlutti datang."

"Ah, baiklah."

Begitu kepala pelayan keluarga Marquis Jeanpaul meninggalkan ruang tamu VIP, Ashen mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan seolah sedang menilai sesuatu.

"Fumu. Seperti biasa, interiornya sangat berkelas meski dalam kesederhanaan. Benar-benar contoh yang harus ditiru oleh para bangsawan di seluruh Kekaisaran."

Ashen juga merupakan pemimpin dari 'Ashen Trading Company' yang wilayah perdagangannya mencakup seluruh Kekaisaran.

Melalui bisnisnya, ia sering keluar-masuk kediaman para bangsawan.

Menurut Ashen, desain interior sebuah rumah adalah salah satu kepingan informasi yang menunjukkan psikologi dan selera pemiliknya.

Jika interiornya terlalu mewah tanpa alasan yang jelas, sering kali sang pemilik memiliki keinginan besar untuk memamerkan diri, terlepas dari bagaimana ia bersikap di permukaan.

Sebaliknya, jika terlalu sederhana hingga terkesan tidak terurus, itu menunjukkan ketidakpedulian; dalam skenario terburuk, itu menandakan masalah keuangan atau ketidakmampuan manajemen sang kepala keluarga.

Tentu saja, tidak semua hal bisa dinilai hanya dari situ. Namun, berdasarkan pengalaman Ashen, penilaiannya tepat sekitar delapan puluh persen.

Saat ia menyesap teh yang diletakkan di atas meja, pintu ruangan diketuk pelan.

"Tuan Ashen. Bolehkah saya masuk?"

Mendengar suara yang bening itu, ia langsung tahu siapa yang datang.

"Ah, Marone ya? Silakan saja."

Seorang gadis cantik dengan rambut panjang pirang keemasan yang hampir putih, kulit pucat, dan mata biru nila yang memberikan kesan lembut sekaligus rapuh masuk ke ruangan.

Ia mendekati Ashen dan melakukan curtsey dengan gerakan yang sangat anggun.

"Tuan Ashen, sudah lama kita tidak bertemu. Selamat datang hari ini."

"Umu. Melihat keadaanmu, sepertinya kau baik-baik saja di sini, Marone."

"Benar. Mulai dari Tuan Berlutti yang telah menjadi ayah angkat saya, Tuan Bergamot, hingga Kakak Belzeria... Semuanya memperlakukan saya dengan sangat baik."

"Begitu ya. Kau memang sudah terlihat berbakat sejak masih di panti asuhan. Jika Tuan Berlutti tidak meminta untuk menjadikanmu anak angkatnya, aku pasti sudah menjadikanmu anak angkatku sendiri."

"Astaga!? Saya sangat senang mendengarnya, meskipun itu mungkin hanya pujian belaka."

Marone tersenyum ceria tanpa beban.

"Mana mungkin itu hanya pujian. Dari semua anak yang kukenal, kaulah yang paling luar biasa."

Ashen berkata jujur. Sambil mengusap kepala Marone, ia teringat kembali saat pertama kali mereka bertemu.

Pertemuan mereka terjadi beberapa tahun lalu, di dalam sebuah kandang kuda yang berada di area panti asuhan milik Ashen.

Hari itu hujan sangat deras.

Saat Ashen hendak pulang setelah menginspeksi manajemen panti asuhan, hujan turun lebih lebat dari dugaannya. Saat ia mengerutkan dahi, sebuah suara tertangkap oleh telinganya.

"Hm? Apa kau mendengar sesuatu?"

Ashen bertanya kepada pria pengelola panti asuhan di dekatnya, namun pria itu menggeleng.

"Tidak, saya tidak mendengar apa pun..."

"Fumu. Mungkin hanya perasaanku."

Namun pada saat Ashen memiringkan kepalanya, matanya entah kenapa tertuju pada kandang kuda di area tersebut. Di saat yang sama, ia merasa mendengar suara tangisan bayi yang bercampur dengan derasnya suara hujan.

Tidak, mana mungkin. Mungkin ia hanya kelelahan. Itu konyol. Namun, entah mengapa ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.

"...Pinjamkan payungmu."

"Eh? Ah, iya. Silakan digunakan."

Seolah merampas payung dari sang pengelola, Ashen bergegas menuju kandang kuda.

Ada apa ini... kenapa aku begitu merasa terganggu?

Sambil bertanya pada diri sendiri, ia mendekati kandang. Suara tangisan bayi terdengar sayup-sayup di antara bunyi hujan, namun kali ini ia yakin.

Ashen membuka pintu kandang dan memanggil, "Apa ada orang di sini?" Namun, jawabannya hanyalah tangisan bayi.

Begitu ia mendekat ke arah suara tersebut, ia terbelalak tidak percaya.

Di tengah genangan darah yang sangat banyak, ada seorang wanita dan seorang bayi yang terus menangis. Tanpa mengubah raut wajahnya, Ashen memanggil, "Hei, kau tidak apa-apa?" sambil dengan tenang memeriksa kondisi sang wanita.

"...Ibunya sepertinya sudah meninggal."

Ini benar-benar merepotkan. Saat ia menghela napas panjang, ia menyadari sebuah keanehan. Tangisan bayi itu terhenti.

Begitu ia menoleh, sang bayi tidak lagi menangis dan sedang menatap Ashen dengan lekat.

Saat itu, Ashen merasa melihat cahaya seperti pola aneh di dalam kedalaman mata biru nila bayi tersebut, yang membuatnya sedikit mengangkat alis.

"Anak yang aneh. Jika kau bisa menunjukkan kepadaku bahwa kau berbakat, mungkin saja aku akan menjadikanmu anak angkatku. Kau mau mencoba tantangan itu?"

Ia bergumam demikian, lalu tersentak dan tertawa mencemooh dirinya sendiri. Sepertinya kesibukan belakangan ini dan inspeksi panti asuhan membuatnya sangat lelah.

"Apa yang kukatakan... pada seorang bayi seperti ini..."

Tepat saat ia hendak menggelengkan kepala, sang bayi tersenyum dan mengangguk.

Ashen terperanjat. Ia pikir itu hanya kebetulan atau salah lihat, namun entah mengapa ia malah bertanya, "Kau serius?" Dan bayi itu kembali mengangguk.

Apakah anak ini sudah mengerti kata-kata... atau ia membaca emosiku?

Sambil meragu, ia teringat sebuah cerita. Bahwa terkadang ada anak yang memiliki ingatan sangat jelas sejak lahir, dan umumnya anak-anak seperti itu sangat cerdas dan berbakat.

"Menarik. Meskipun ini terdengar mustahil, mari kita bertaruh pada cahaya yang kulihat di matamu itu."

Mendengar kata-kata Ashen, bayi itu menyipitkan mata dengan senang dan mengangguk sekali lagi.

Bayi itu kemudian dititipkan sementara di panti asuhan yang dikelolanya. Dari pemeriksaan jenazah sang ibu, diketahui bahwa bayi itu perempuan.

Namun, sang ibu tidak membawa tanda pengenal apa pun, dan pencocokan dengan daftar orang hilang di seluruh Kekaisaran tidak membuahkan hasil. Akhirnya, setelah prosedur resmi, bayi itu secara sah diadopsi oleh panti asuhan Ashen.

Mengenai nama, ditemukan sepucuk memo di antara barang bawaan mendiang wanita tersebut yang bertuliskan: "Anak yang akan lahir adalah perempuan. Namanya Marone," dalam tulisan tangan yang agak kasar. Maka, gadis kecil itu pun dinamai Marone.

Keajaiban Marone tidak berhenti pada kelahirannya saja. Meski belum bisa bicara, Marone tampak mengerti perkataan orang dewasa.

Awalnya ia lebih membaca ekspresi wajah, namun setelah satu bulan di panti asuhan, ia sudah bisa berkomunikasi sederhana dengan anggukan atau gelengan kepala.

Saat berusia tiga tahun, Marone sudah bisa berbicara layaknya orang dewasa dan mulai mengatakan hal-hal ajaib. Kadang ia menatap langit dengan hampa lalu berkata, "Besok akan hujan," atau "Besok pagi cerah, tapi sore hujan," dan ramalannya selalu tepat.

Awalnya pengasuh panti asuhan mendengarnya dengan setengah percaya, namun ramalannya tidak pernah meleset satu kali pun.

Beberapa orang dewasa merasa ngeri, namun Ashen justru gembira dan melarang keras siapa pun membicarakannya ke luar.

Satu tahun kemudian, di usia empat tahun, Marone mulai membantu merawat anak-anak yang lebih muda darinya. Namun, hal ini kembali mengejutkan para pengasuh.

Marone bisa mengerti semuanya meskipun sepuluh anak atau lebih mengajaknya bicara secara bersamaan.

Ia juga sangat peka terhadap perasaan orang lain, sehingga tanpa sadar ia selalu menjadi pusat perhatian dan menerangi panti asuhan dengan keceriaannya.

Pernah suatu hari, Ashen mengajaknya pergi memancing di sungai untuk menunjukkan dunia luar panti asuhan.

Marone menatap aliran sungai sejenak, lalu memanggil "Tuan Ashen" sambil menunjuk ke permukaan air.

"Pasti jika dilempar ke sana, Anda akan mendapat ikan besar. Setelah itu ke arah sana. Lalu ke sana."

"Hou, menarik. Jika itu benar, aku akan membelikanmu apa pun yang kau suka saat pulang nanti."

"Fufu. Saya tidak pernah berbohong. Janji ya."

Melihat Marone yang tersenyum penuh percaya diri, Ashen tertawa kecil dan melemparkan umpan ke tempat yang ditunjuk.

Benar saja, ikan langsung menyambar dan ia berhasil menarik ikan yang sangat besar. Ashen benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.

"Lihat. Seperti yang saya katakan, kan, Tuan Ashen?"

"...Begitulah."

Mungkin hanya kebetulan.

Dengan rasa ragu, ia kembali melemparkan umpan sesuai instruksi Marone. Namun, ia segera menyadari bahwa ini bukan sekadar kebetulan.

Karena setiap kali ia melempar ke tempat yang ditunjuk, ikan selalu memakan umpannya. Ia mencoba melempar ke tempat lain yang tidak ditunjuk, dan hasilnya nihil.

Namun saat melempar kembali ke instruksi Marone, ikan langsung menyambar. Tanpa sadar, Ashen telah menarik 153 ekor ikan besar hari itu.

"Fumu. Apa kau bisa melihat di mana ikan-ikan itu berada?"

"Tidak. Hanya saja, saya merasa ikan itu akan tertangkap, dan saya bisa melihat bayangan Tuan Ashen sedang menarik ikan tersebut. Saya sendiri merasa ini aneh... apakah saya tidak normal?"

"Tidak. Sepertinya kau memiliki kekuatan yang luar biasa. Namun, jangan pernah menceritakan ini kepada siapa pun. Ini rahasia antara aku dan Marone saja."

"Baik. Saya mengerti."

Sejak hari itu, cara pandang Ashen terhadap Marone berubah. Marone memiliki kekuatan yang luar biasa.

Jika ia bisa memanfaatkan anak ini dengan baik, ia mungkin bisa memanjat hingga puncak bangsawan Kekaisaran.

Berpikir demikian, Ashen mulai memberikan pendidikan khusus kepada Marone.

Ternyata ia tidak hanya memiliki kekuatan khusus, Marone juga sangat cerdas; ia mengerti semua pelajaran dengan sangat cepat, yang lagi-lagi membuat para pengajar terperangah.

Dan saat Marone berusia enam tahun, Marsekal Berlutti Jean-Paul, pemimpin dari faksi progresif bangsawan Kekaisaran, mengunjungi panti asuhan Ashen.

Rumor beredar bahwa sang Marsekal sedang mencari gadis kecil yang seumuran dengan para Pangeran Kekaisaran untuk memperkuat posisi politiknya.

Ashen mendengar rumor itu, namun ia tidak pernah bermimpi bahwa sosok besar seperti sang Marsekal akan mendatangi panti asuhan miliknya yang bukan dari kalangan bangsawan (saat itu).

Marsekal Berlutti sangat terkesan dengan kebijakan operasional panti asuhan dan manajemennya yang rapi. Namun yang terpenting, ia sangat menghargai kemampuan Ashen.

"Aku sudah melihat semuanya, dan kemampuanmu sangat luar biasa, Tuan Ashen. Bagaimana jika kau menjadi bangsawan? Awalnya dari Baron, tapi dengan kemampuanmu, kau pasti akan segera naik pangkat."

"Itu adalah sebuah kehormatan besar. Saya sangat bersedia."

Saat Ashen membungkuk hormat, Marsekal Berlutti menyeringai.

"Umu, baiklah. Tapi sebelum itu, aku ingin bertanya satu hal. Aku dengar di panti asuhan ini ada seorang gadis yang sangat luar biasa. Bisakah kau mempertemukan aku dengannya?"

Ashen sedikit mengangkat alisnya. Dari mana beliau mendengarnya?

Namun, ia segera berpikir bahwa jika Marone menjadi anak angkat Marsekal Berlutti, ia akan menjadi bagian dari puncak kekuasaan Kekaisaran.

Keluarga Marquis Jeanpaul akan menjadi pelindung bagi Ashen Trading Company. Tidak ada pelindung yang lebih kuat di Kekaisaran selain itu.

Ashen adalah orang yang sangat pragmatis. Baginya, bangsawan yang hanya memakan hak istimewa tanpa kemampuan adalah orang-orang bodoh.

Ia menghitung bahwa dengan kekuatan nasional dan militer Kekaisaran, seharusnya seluruh benua bisa dikuasai. Namun, Ashen tidak memiliki posisi maupun suara saat itu.

Itulah sebabnya ia membangun kekuatan finansial dan koneksi melalui perusahaannya sambil menunggu kesempatan.

Namun, hanya menjadi bangsawan saja tidak cukup. Idealnya, ia harus mendapatkan gelar melalui rekomendasi dari keluarga besar seperti Adipati Elasenize, Adipati Loveless, atau Marquis Jeanpaul. Dan kesempatan sekali seumur hidup itu kini ada di hadapannya.

Marone yang memiliki kekuatan misterius tak terbatas, melawan kesempatan emas yang telah ia nantikan. Setelah menimbang keduanya, ia mengambil keputusan.

"...Baiklah. Akan saya antarkan Anda menemuinya."

"Umu. Mohon bantuannya."

Saat mereka tiba, Marone sedang berada di tengah-tengah anak-anak lain. Seolah merasakan sesuatu, ia menoleh ke arah mereka berdua dan menatap lekat Marsekal Berlutti. Ia kemudian berjalan ke arah mereka dan melakukan curtsey yang sangat sempurna dan anggun.

"Saya sudah menunggu Anda, Marsekal Berlutti Jean-Paul."

Ashen terbelalak. Ia tidak pernah bicara soal Marsekal Berlutti kepada Marone. Tentu saja, ia juga tidak memberitahunya soal kunjungan hari ini. Namun, sang Marsekal justru tersenyum puas.

"Hou. Kau sudah tahu siapa aku?"

"Ya. Saya sudah sering melihat dalam mimpi bahwa hari ini Marsekal Berlutti akan mengunjungi panti asuhan."

"Fufu, mimpi ya. Begitu ya, begitu ya. Benar-benar bukan gadis biasa."

Marsekal Berlutti mengusap dagunya dengan puas.

"Tuan Ashen. Aku ingin menjadikan anak ini sebagai putri angkatku, apakah kau bersedia?"

"I-iya. Tentu saja."

Demikianlah Marone menjadi putri angkat Marsekal Berlutti, dan Ashen mendapatkan gelar Baron.

"Tuan Ashen. Ada apa?"

"Mu. Tidak, aku hanya teringat sedikit saat kau masih di panti asuhan dulu."

Tersentak dari lamunannya, Ashen tertawa kecil untuk menutupi rasa canggungnya.

"Begitu ya."

"Ya. Benar-benar bukan hal besar."

Marone yang memiringkan kepalanya dengan bingung terlihat masih memiliki atmosfer yang sama seperti saat di panti asuhan.

Namun, Ashen merasa di kedalaman matanya, tersimpan cahaya misterius yang lebih pekat dari sebelumnya.

Saat Marsekal Berlutti memasuki ruang tamu, Marone berpamitan, "Kalau begitu, karena saya hanya akan mengganggu, saya mohon pamit."

Sambil berjalan sendirian di lorong, Marone mendadak berhenti dan menatap ke luar jendela.

"Reed Baldia... Aku ingin segera bertemu denganmu. Kau pasti akan membuatku terhibur... fufu."

Entah kebetulan atau takdir, arah pandangannya tertuju jauh ke depan, ke tempat di mana Wilayah Baldia berada.



Cerita Bonus Orisinal

Valeri Eraseniese Dan Masa Depan yang Penuh Ujian

"Haa... Benar-benar, aku harus bagaimana?"

Aku mengeluh lemas sambil merebahkan diri telungkup di tempat tidur dan membenamkan wajahku di bantal.

Jika Tuhan itu ada, Dia pasti membenciku.

Maksudku, membiarkanku bereinkarnasi dengan 'ingatan kehidupan sebelumnya yang setengah-setengah' ke dalam sosok yang ditakdirkan untuk dihukum mati di masa depan?

Selera humor-Nya benar-benar buruk.

Atau mungkin, Tuhan ini punya kepribadian yang sangat buruk sampai tidak punya teman, jadi Dia menghibur diri dengan menonton manusia yang sedang kesulitan dari suatu tempat.

"Ah... Benar-benar tidak adil, ini membuatku kesal."

Aku mengangkat wajah dari bantal dan menatap cermin di kamar. Di cermin itu, terpantul seorang gadis dengan tatapan mata tajam namun cantik seperti 'boneka'.

Karakter pengganggu yang muncul dalam otome game tingkat sulit berjudul 'Tokimeku Cinderella!', sang putri bangsawan antagonis: Valerie Elasenize... Itulah diriku sekarang.

Yah, meskipun aku hanya punya ingatan yang terputus-putus, ini adalah kejadian yang sering ada di light novel kehidupan sebelumku.

Lagipula, karakter antagonis itu hanya menarik untuk dibaca sebagai hiburan.

Begitu menjadi orangnya langsung, kau harus menjalani hidup dengan premis yang sangat mustahil: "Kalau dibiarkan begini, hukuman mati sudah pasti, jadi berusahalah sekuat tenaga untuk bertahan hidup, ya!"

Jika bicara blak-blakan, ini adalah permainan sampah dengan tingkat kematian tinggi (kusoge die-game).

Namun, jika menyerah, maka permainan berakhir... tidak, dalam kasusku, hidupku berakhir. Apa pun yang terjadi, aku tidak punya pilihan selain mencari cara untuk bertahan hidup.

"Setidaknya, kalau saja ingatanku kembali sebelum kesan Pangeran Pertama padaku memburuk, mungkin masih lebih baik..."

Aku mengusap luka yang ada di dahiku.

Sebelum ingatan masa laluku kembali, aku benar-benar menjalani jalur antagonis dengan kepribadian Tenjou Tenge Yuiga Dokson (Hanya Aku yang Paling Hebat di Seluruh Langit dan Bumi).

Ucapan dan tindakan akibat kepribadian itulah yang memicu pertengkaran dengan Pangeran Pertama, David, yang berujung pada luka di dahi ini. Dan saat itulah ingatan masa laluku bangkit.

Setelah itu, demi mencegah skandal bahwa Pangeran Pertama telah melakukan kekerasan pada putri keluarga Adipati Elasenize, pertunanganku dengan David diputuskan secara rahasia.

Pertemuan keluarga pun diadakan di kediaman Adipati Elasenize hari ini, tapi kesan David padaku sudah di titik terburuk.

'Valerie Elasenize. Aku sangat membencimu, dan aku tidak mengakuimu sebagai tunanganku. Aku hanya menurut karena ini keputusan orang tua. Ingatlah itu baik-baik. Sampai jumpa.'

Dia membisikkan itu di telingaku, lalu tersenyum tipis dan pergi.

'Lalu aku harus bagaimana dari sini!?'

Teriakanku saat ditinggal sendirian itulah yang menjadi penutup kejadian hari ini.

Tapi, di kehidupan sebelumnya aku adalah seorang wanita dewasa yang terhormat... seharusnya begitu.

Apa pun itu, aku tidak akan menyerah karena hal seperti ini. Pasti ada jalan keluarnya.

"Ah, benar juga. Dunia ini seharusnya punya 'Sihir'. Ya... kenapa aku tidak menyadarinya. Biasanya kalau kesulitan datang setelah reinkarnasi, menyelesaikannya dengan 'sihir' adalah standar utama... Baiklah!"

Aku melompat dari tempat tidur dan bergegas menuju orang yang paling bisa kuandalkan saat ini.

"Ingin bisa menggunakan sihir... katamu?"

"Iya, Kakak. Kakak percaya kan kalau aku punya ingatan masa lalu, dan Kakak bilang akan membantu memikirkan solusinya? Karena itu, tolong ajarkan aku sihir."

Yang ada di depanku sekarang adalah Latiga Elasenize. Dia adalah kakak yang bisa diandalkan, yang sudah tahu bahwa aku memiliki ingatan masa lalu dan bersedia bekerja sama denganku. Aku yakin dia akan membantuku. Namun, Kakak menggelengkan kepalanya.

"Valerie. Sihir itu tidak mudah, tahu? Kau tidak bisa menguasainya hanya dalam semalam tanpa latihan setiap hari. Apa kau mengerti hal itu?"

"Eh... benarkah?"

Aku memiringkan kepala tanpa sadar.

Apakah sihir sesulit itu?

Padahal di dalam permainan, hampir semuanya bisa langsung digunakan.

Biasanya hanya perlu naik level lalu mempelajarinya, atau membeli sihir di toko dan langsung bisa dipakai.

Apakah aslinya sesulit itu?

"Fumu. Kalau begitu, biarkan aku menjelaskan sedikit tentang sihir sejauh yang aku tahu."

"Terima kasih, Kakak."

Seolah bisa membaca pikiranku, Kakak menceritakan pengetahuannya tentang sihir.

Untuk menggunakan sihir, seseorang harus mulai dengan menyadari energi kehidupan (life force) di dalam dirinya, lalu mempelajari sensasi mengubah energi kehidupan menjadi mana melalui konversi mana, baru setelah itu akhirnya bisa mengaktifkan sihir.

Katanya, butuh waktu paling cepat beberapa bulan hanya untuk bisa mengendalikannya.

Apa-apaan itu? Aku belum pernah dengar sistem seperti itu...

Saat aku kebingungan, Kakak meletakkan tangannya dengan lembut di atas kepalaku.

"Sudah kubilang, kan? Itu bukan sesuatu yang bisa dikuasai dengan mudah. Lagipula, Valerie akan mulai menjalani pendidikan ketat untuk menjadi Permaisuri. Kurasa kau tidak akan punya waktu untuk berlatih sihir."

"He...!? Aku belum dengar soal itu!"

Belajar untuk menjadi Permaisuri!?

Jangan bercanda.

Daripada itu, aku harus merancang dan menjalankan rencana untuk menghindari hukuman mati.

Tapi, berbanding terbalik dengan kecemasanku, Kakak justru menyipitkan mata dan tersenyum.

"Haha, itu wajar. Kan kau baru saja melakukan pertemuan formal dengan Tuan David hari ini. Sebentar lagi berbagai pelajaran akan dimulai. Tenang saja, kalau Valerie pasti bisa."

"Bu-bukan itu maksudku. Kakak, sudah kubilang kan? Kalau kita tidak melakukan apa-apa, keluarga Adipati Elasenize akan dihukum. Karena itu, kumohon. Ajarkan aku sihir."

Melihatku memohon dengan sangat serius, Kakak mengangkat bahu seolah tidak punya pilihan.

"Kalau kau sampai berkata sejauh itu, apa boleh buat. Aku akan mengajarkan apa yang aku bisa semampuku."

"Benarkah!? Kakak, aku sayang padamu!"

Saat aku memeluknya, wajah Kakak sedikit memerah.

"Haha, aku juga sayang padamu, Valerie."

"Kalau begitu, mari segera kita lakukan! Karena hal baik harus dilakukan secepatnya, Kakak."

"Eh... sekarang!?"

"Tentu saja!"

Tanpa membiarkannya protes, aku menarik lengan Kakak menuju lapangan latihan.

"Ayo, Kakak. Cepat tunjukkan sihirnya."

"Iya, iya, aku mengerti. Mundurlah sedikit, ini berbahaya."

Begitu sampai di lapangan latihan, Kakak memintaku berdiri di belakangnya lalu menarik napas dalam. Dia menatap tajam ke arah sasaran yang berada agak jauh.

"...Bola Petir (Thunderball)."

Begitu dia bergumam, sebuah bola kuning terbentuk di atas telapak tangan kanan Kakak disertai suara guntur yang berderit.

"He-hebat..."

Saat aku terpaku menahan napas, Kakak melontarkan bola petir yang sudah mencapai ukuran tertentu itu ke arah sasaran.

Bola petir itu melesat cepat, mengenai sasaran, dan meledakkan suara guntur yang dahsyat. Sasaran itu seketika menjadi gosong menghitam.

"Fuu... Inilah 'Bola Petir', sihir dasar dari bakat elemen petir yang diwariskan bersama darah keluarga Adipati Elasenize. Perlu kau tahu, butuh latihan yang sangat berat untuk bisa menggunakan ini."

"Ini dia... Inilah inti dari jalur utama reinkarnasi dunia lain! Lihat saja, aku juga akan menguasainya!"

"...? Valerie, ada apa denganmu?"

"Kakak, aku juga akan mencobanya!"

"Eh!?"

Pertama-tama, coba saja dulu. Kalau gagal, baru pikirkan langkah selanjutnya.

Aku memejamkan mata, memutar kembali ingatan tentang 'Bola Petir' yang ditunjukkan Kakak di dalam benakku, lalu menarik napas dalam.

Kemudian, aku membuka mata lebar-lebar, mengangkat tangan kanan, dan berteriak.

"Bola Petir!"

"Ja-jangan-jangan...!?"

Kakak mengeluarkan suara terkejut. Ya, aku bisa... Aku juga memiliki darah keluarga Adipati Elasenize. Aku pasti bisa mengaktifkannya... Aku sangat yakin akan hal itu.

Namun, meski sudah menunggu lama, suara guntur tak kunjung terdengar. Angin yang cukup kencang justru berembus di lapangan latihan.

Tubuhku terasa sedikit dingin. Hatiku juga mendingin, dan wajahku memerah karena malu.

"Ugu gu gu..."

"Haa... Sudah kubilang, kan? Menggunakan sihir itu sulit. Latihan untuk bisa merasakan mana di dalam diri saja konon butuh waktu minimal satu bulan."

"Ugaaaaa!? Apa-apaan ini! Padahal sebagai bonus reinkarnasi, seharusnya aku bisa melakukan hal sekecil ini! Tuhan benar-benar pelit!"

"A-ada apa, Valerie? Kenapa kau mengeluarkan suara aneh begitu..."

Kakak tampak bingung mendengar teriakan jiwaku.

Di light novel, anime, atau game dalam ingatan masa laluku, bukankah orang yang bereinkarnasi biasanya jenius dalam sihir?

Itulah sebabnya aku pikir aku juga bisa. Tapi ternyata kenyataan tidak semanis itu.

Saat aku tertunduk lesu, seseorang memanggil namaku, "Valerie!" dan aku tersentak. Saat aku mengangkat wajah dan menoleh, di sana ada ibuku, Cattleya Elasenize.

"Ibu, ada apa datang ke tempat seperti ini?"

Saat aku bertanya, alis Ibu sedikit berkerut.

"Ada apa? Bukan itu pertanyaannya! Ibu sudah bilang kan, setelah pertemuan dengan Pangeran David selesai, kau juga harus bertemu dengan para guru pendidikan Permaisuri!"

"Eeeh!? Kapan Ibu bicara soal itu?"

Ibu menggelengkan kepala dengan wajah jengkel. Sepertinya sejak mendapatkan kembali ingatan masa lalu, kepalaku terlalu penuh dengan urusan hukuman mati sehingga aku melewatkan pembicaraan itu.

"Wah, Valerie. Ternyata memang ada pembicaraan soal pendidikan Permaisuri ya. Kau boleh berkonsultasi padaku kapan saja, jadi cepatlah pergi."

Kakak berkata begitu sambil tersenyum lebar.

"...Baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu."

"Haa... Benar-benar, Ibu pikir kau sudah sedikit lebih tenang. Ternyata kau memang masih anak-anak."

Ibu menghela napas, lalu menggandeng tanganku dan mulai berjalan.

"Nah, Ibu akan memperkenalkan para gurumu."

"Eh...? Ibu, kenapa gurunya banyak sekali?"

Di ruangan tempat Ibu membawaku, ada sepuluh orang lebih orang dewasa yang tampak terhormat sedang menunggu.

"Tidak, ini bahkan sudah Ibu seleksi seketat mungkin. Pendidikan Permaisuri mencakup banyak hal, mulai dari etika, sejarah Kekaisaran dan negara lain, bahasa, pengelolaan negara, hubungan antar bangsawan Kekaisaran, diplomasi, urusan dalam negeri, tarian, musik, hingga budaya. Ini bahkan sudah dikurangi setelah mendapat saran dari Yang Mulia Permaisuri saat ini."

"Eeeh..."

Wajahku kaku. Dengan pelajaran sebanyak ini, mustahil aku punya waktu untuk berlatih sihir. Maksudku, tidak mungkin gadis sekecil ini bisa mengingat semuanya sekaligus. Ini benar-benar pemaksaan.

"Tenang saja. Valerie kan sudah bisa membaca buku cerita dengan lancar. Meski awalnya berat, kau pasti akan segera bisa."

"Na...!?"

Gawat, aku terjebak. Ibu sepertinya sudah membaca pikiranku dan menutup jalan kaburku terlebih dahulu.

Jika aku yang dulu, materi pelajaran ini mungkin mustahil. Tapi dengan ingatan masa lalu, aku memang seharusnya bisa melakukannya.

Namun, mengingat rencana untuk menghindari hukuman mati, sepertinya aku harus mencoba merengek untuk mengurangi beban belajar ini.

"A-anu, Ibu. Sepertinya pelajaran sebanyak ini masih terlalu dini untukku..."

Saat aku bertanya dengan ragu, mata Ibu mulai berkaca-kaca.

"Tidak boleh, Valerie. Kau tidak boleh menyerah sejak awal. Lagipula, pengaturan guru-guru ini juga mendapat dukungan dari Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri. Jika kau menolaknya mentah-mentah, apa yang akan terjadi pada reputasi keluarga Adipati Elasenize... Gadis cerdas sepertimu pasti tahu konsekuensinya, kan?"

"Ugh..."

Benar juga, jika aku merusak reputasi keluarga Elasenize, itu justru bisa mempercepat jalan menuju hukuman mati. Semua jalan keluar benar-benar sudah ditutup.

Hah, sepertinya aku harus menyerah.

"Baiklah. Aku akan berusaha dalam pendidikan Permaisuri."

"Bagus, Valerie. Memang putriku."

Begitu aku menjawab, Ibu langsung memelukku dengan kuat. Di matanya sudah tidak ada air mata. Ternyata itu cuma tangisan palsu. Aku hanya bisa tertunduk lemas di pelukan Ibu.

Setelah itu, perkenalan para guru dimulai. Saat guru terakhir selesai menyapa, aku memiringkan kepala.

"Ibu. Di mana guru sihirnya?"

Bukan hanya Kakak yang bisa memakai sihir. Kupikir kalau ada sihir dalam pendidikan Permaisuri, itu masih lumayan.

Tapi ternyata tidak ada penanggung jawab untuk pendidikan sihir.

"Tentu saja tidak ada. Bagi bangsawan, sihir dipelajari oleh kepala keluarga atau putra mahkota yang bertugas menjaga negara. Permaisuri tidak perlu bisa menggunakan sihir. Yah, mungkin lebih baik kalau bisa, tapi karena prioritasnya rendah, Ibu menghapusnya dari materi pendidikan kali ini."

"E... Eeeeeeeh!?"

Apa yang Ibu katakan memang benar secara umum. Tapi bagiku, itu salah besar.

Karena tidak mengerti alasan teriakanku, Ibu dan semua guru di sana tampak bingung secara bersamaan.

"...Ngomong-ngomong, bagaimana jadwalnya?"

"Ah, benar juga. Ini dia."

Apa-apaan ini... Dari pagi sampai malam benar-benar penuh. Jadwal macam apa ini?

Sebagai informasi, satu tahun di dunia ini sama dengan kehidupan sebelumnya, yaitu dua belas bulan, dan jumlah hari dalam sebulan juga hampir sama.

Namun, saat aku memperhatikan jadwal itu baik-baik, aku menyadari ada blok waktu kosong yang cukup panjang di siang hari setiap hari Minggu.

Syukurlah, aku bisa memakai waktu ini untuk menyusun berbagai rencana... Tepat saat aku merasa lega, Ibu menunjuk bagian kosong itu.

"Fufu, waktu itu... setiap minggu adalah waktu bagi Valerie dan Pangeran David untuk bertemu. Jangan bertengkar, dan akurlah dengan dia, ya."

"He...?"

Begitulah, pendidikan Permaisuri dari neraka dimulai.

Meskipun begitu, aku yang tidak bisa menyerah untuk menguasai sihir kadang mencoba menyelinap keluar kelas untuk berlatih.

Tapi, aku selalu ketahuan oleh Ibu dan membuatnya marah besar berkali-kali.

Akibatnya, aku sekarang selalu diawasi selama pelajaran, dan rencana menguasai sihir secara praktis harus tertunda.

Hah... Benar-benar masa depan yang suram.


Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Kebanggaan Drake Kelvin

"Ada apa dengan kalian? Cuma segini kemampuanmu?"

Guntur teriakan Drake Kelvin menggema di lapangan latihan kediaman Kelvin yang terletak di Ibukota Kekaisaran Magnolia.

Di sekelilingnya, para ksatria yang melayani keluarga Kelvin terkapar dengan tubuh penuh memar akibat latihan yang keras. Suara rintihan terdengar dari segala penjuru.

Drake, yang berdiri tegak dengan pedang kayu di tangannya, mendecak lidah saat menyadari tidak ada satu pun ksatria yang menunjukkan tanda-tanda akan bangkit. Ia menatap mereka dengan tatapan dingin.

"...Benar-benar memalukan. Keluarga Kelvin adalah keluarga Margrave yang ada untuk mencegah invasi dari negara-negara besar. Meski berada di Ibukota, kita harus selalu siap berada di garis depan dan mempertaruhkan nyawa demi melindungi negara. Semangat dan kemampuan itulah yang dituntut dari kita. Jika kalian tidak punya tekad itu, berhentilah menjadi ksatria sekarang juga."

"Se... sekali lagi. Mohon bimbingannya..."

"Bagus, itu baru semangat. Kemarilah!"

Seorang ksatria berusaha bangkit dengan sisa tenaganya, mengangkat pedang kayu dalam posisi jodan (posisi atas), lalu menerjang.

"Uoooooooo!"

"Lambat! Terlalu lambat!"

Drake menangkis pedang kayu ksatria itu hingga terpental, lalu berteriak, "Kuatkan gigimu!" sambil melayangkan pukulan telak yang menghempaskan ksatria tersebut.

"Guaaaaa!?"

Ksatria itu terpental jauh, meringkuk di tanah dan tidak bergerak lagi. Ksatria lain memeriksanya; sepertinya dia pingsan. Namun, Drake bahkan tidak menoleh. Ia hanya menggelengkan kepala dan mendengus.

"Ayo, jangan takut. Serang aku satu demi satu. Kalian adalah ksatria, bukan?"

Melihat para ksatria yang mulai gentar karena latihan yang teramat keras, Drake mengerutkan dahi dan mengancam dengan aura yang mengerikan.

"Bagaimana jika aku adalah penjahat yang menyerang kediaman Kelvin? Apakah kalian akan gemetar ketakutan karena sayang nyawa? Jika begitu, kalian bukan ksatria... kalian hanyalah pengecut. Dan keluarga Kelvin tidak cukup kaya untuk mempekerjakan pengecut sebagai ksatria."

Drake mengarahkan ujung pedang kayunya kepada mereka.

"Tentu saja, aku akan memecat kalian setelah mengumumkan fakta bahwa kalian adalah pengecut ke seluruh Kekaisaran. Jika itu terjadi, kalian tidak akan bisa bekerja sebagai ksatria, petualang, bahkan pengawal sekalipun. Tapi itu jauh lebih baik daripada membiarkan orang mati karena ketidakmampuan kalian."

"Gu...!?"

Mendengar hinaan pedas itu, cahaya kemarahan dan harga diri yang terluka muncul di mata para ksatria. Mereka menggenggam pedang kayu dengan erat.

"Benar, tatapan itu. Yang dibutuhkan ksatria adalah tekad untuk berdiri menghadapi lawan, sekuat apa pun mereka. Ayo, serang!"

"Uoooooooooo!"

Kekerasan latihan keluarga Kelvin sudah menjadi rahasia umum di Kekaisaran.

Di antara semuanya, latihan yang dipimpin oleh Drake adalah yang paling brutal dan tak kenal ampun.

Hari itu, latihan berlangsung lebih intens dari biasanya, terus berlanjut hingga para ksatria pingsan atau suara mereka tidak terdengar lagi.

Meski latihan itu dipenuhi dengan aura membunuh yang mencekam, Drake tidak mendapatkan satu luka gores pun, bahkan hampir tidak berkeringat.

Terlepas dari statusnya sebagai putra mahkota keluarga Kelvin, Drake adalah seorang jenius pedang yang menyerupai iblis.

"...Orang-orang yang tidak berguna. Mereka menjadi lembek karena terlalu lama di Ibukota. Aku akan menambah porsi latihan untuk sementara waktu."

"Ka... kami mohon maaf."

Para ksatria saling memapah satu sama lain untuk bangkit dan meninggalkan lapangan latihan. Melawan arus tersebut, seorang pemuda datang mendekat.

"Kakak, Ayah memanggilmu."

"Begitu ya. Tapi David, sampaikan pada Ayah kalau aku akan menemuinya setelah berganti pakaian."

"Dimengerti. Akan saya sampaikan."

"Umu."

David adalah adik Drake yang terpaut usia cukup jauh.

Bakat pedangnya tidak setinggi Ayah atau aku. Tapi, pesona yang menarik orang lain dan bakat politiknya adalah yang paling bersinar di keluarga kami.

 Itulah penilaian Drake terhadap adiknya. Saat David membungkuk dan berbalik pergi, Drake menatap punggungnya dan ekspresinya sedikit melunak.

"Aku sebagai kakak akan menebas musuh, dan kau sebagai adik akan menjaga wilayah. Dengan begitu, keluarga Kelvin akan aman."

Setelah bergumam pelan, Drake berjalan menuju kamarnya.

"...Saya tidak setuju. Kenapa hanya saya yang harus kembali ke wilayah kekuasaan?"

Begitu mendengar penjelasan dari ayahnya, Margrave Greid Kelvin, wajah Drake memerah padam. Ia membentak dan memukul meja kerja ayahnya dengan keras menggunakan kedua tangannya.

Namun, Greid yang duduk di kursinya hanya menggelengkan kepala dengan tenang.

"Sifatmu yang seperti itulah masalahnya, Drake."

"Guh. Maafkan saya, Ayah. Tapi, jika kita bicara soal kejadian di Ruang Audiensi, Reed Baldia juga seharusnya menerima hukuman yang setimpal. Saya tidak bisa terima jika hanya saya yang disuruh pulang ke wilayah dan menjalani masa hukuman (tahanan rumah)."

Drake terus memprotes dengan napas yang memburu. 'Kejadian di Ruang Audiensi' yang dimaksud adalah perang kata-kata antara dirinya dan Reed di hadapan Kaisar dan Permaisuri. Memang benar, menuduh ayah Reed, Rainer Baldia, memiliki 'niat makar' adalah ucapan yang berlebihan dan merupakan sebuah kesalahan fatal. Drake mengakui hal itu.

Namun, Drake merasa dalam aliran percakapan saat itu, ucapannya memang bisa ditafsirkan demikian.

Jika saja Reed Baldia tidak mencari-cari kesalahannya, segalanya pasti akan baik-baik saja... setidaknya, itulah yang dipikirkan Drake.

Oleh karena itu, ia tidak habis pikir mengapa dirinya harus dihukum sementara Reed Baldia bebas tanpa teguran. Tidak, Drake tidak sudi mengakuinya.

Sebab, itu berarti ia kalah dalam debat melawan Reed. Reed mungkin berusia hampir sepuluh tahun lebih muda darinya.

Kalah dalam perang argumen di hadapan Kaisar dan banyak bangsawan oleh lawan seperti itu adalah penghinaan.

Kabar ini akan menjadi aib seumur hidup bagi Drake dan menjadikannya bahan tertawaan para bangsawan. Namun, itu bukan yang terburuk.

Baginya, hal yang paling tidak bisa dimaafkan adalah tercorengnya martabat keluarga Kelvin. Seolah bisa membaca isi hati putranya, Greid menatap lurus mata Drake dan mulai bicara.

"Kelebihanmu adalah kejujuran dan keteguhanmu pada keyakinan. Tapi kali ini, hal itu berbalik menjadi buruk. Masa hukuman ini adalah waktu bagimu untuk merenung dan melihat kembali dirimu sendiri. Kau masih muda. Kejadian ini akan menjadi pelajaran yang berharga."

"...Kesempatan yang hilang sekali tidak akan datang dua kali. Martabat keluarga Kelvin telah terluka. Jika begitu, lebih baik hapus saja hak warisku."

Drake bergumam sambil menggigit bibir, bahunya bergetar. Greid bangkit berdiri, mendekatinya, dan menepuk bahunya dengan lembut.

"Ada dua kesempatan utama bagi seseorang untuk tumbuh besar. Pertama, saat ia meraih pencapaian besar. Kedua, saat ia merangkak bangkit dari keterpurukan. Dan pertumbuhan yang paling besar biasanya datang dari keterpurukan."

"Ayah..."

"Mungkin ini berat bagimu, tapi renungkanlah kesalahan ini dengan jujur dan jadikan pelajaran untuk masa depan. Mengerti?"

"...Saya mengerti. Kalau begitu, saya akan kembali ke kamar untuk mengemas barang-barang."

"Umu. Aku dan David rencananya akan berangkat dari Ibukota paling cepat dalam beberapa hari. Aku percayakan urusan wilayah padamu."

"Baik, serahkan pada saya."

Sambil menyeka wajah dengan lengan bajunya, Drake membungkuk dalam-dalam lalu meninggalkan ruangan. Greid menatap punggung putranya dengan tatapan penuh kekhawatiran.

"David. Boleh bicara sebentar?"

Saat Drake mengetuk pintu kamar adiknya, terdengar langkah kaki dari dalam.

"Kakak, ada apa?"

Begitu David mengintip keluar, Drake meletakkan tangannya dengan lembut di kepala adiknya.

"Maaf, tapi aku harus pulang ke wilayah lebih awal. Aku titip Ayah padamu."

"Baik, saya mengerti. Tapi, apakah Kakak akan pulang tanpa menghadiri jamuan ramah tamah keluarga Baldia?"

"Ya, begitulah. Karena itu, aku ingin kau memperhatikan jamuan itu dengan saksama."

"Baiklah. Kudengar putra keluarga Baldia, Tuan Reed, seumuran denganku. Jika memungkinkan, aku akan berusaha menjalin persahabatan dengannya."

Mendengar ucapan David yang tersenyum ramah, alis Drake sedikit berkedut.

"...Begitu ya. Jika itu kau, pasti bisa."

Ia menjawab demikian, lalu bergumam sangat pelan, "Sesuatu yang mustahil bagiku..."

"Kakak?"

Melihat David memiringkan kepala kebingungan, Drake mengubah ekspresinya dan menggeleng.

"Tidak, bukan apa-apa. Kalau begitu, aku titip ya."

"Baik, Kakak!"

Mendengar jawaban yang ceria itu, Drake berpamitan kepada David dan segera meninggalkan kediaman Kelvin di Ibukota. Ia berangkat menggunakan kereta kuda menuju wilayah kekuasaannya.

"Reed Baldia... Aku tidak akan melupakan penghinaan ini."

Tepat saat Drake bergumam di dalam kereta yang sedang melaju, tiba-tiba kereta berhenti di jalanan yang sepi.

"Ada apa ini!"

Saat Drake berdiri, pintu kereta diketuk.

"Mohon maaf. Saya membawa surat dari tuan saya yang ditujukan untuk Tuan Drake Kelvin. Mohon sudi menerimanya."

Di depan pintu, berdirilah sosok misterius yang seluruh tubuhnya tertutup jubah dan tudung hitam, bahkan mulutnya pun tersembunyi.

Drake memegang gagang pedangnya dengan curiga sambil membuka pintu.

"...Aku tidak tahu siapa tuanmu, tapi ini benar-benar tidak sopan."

"Anda benar, saya memohon maaf atas kelancangan ini."

Sosok misterius itu membungkuk dalam. Dilihat dari suaranya, dia adalah laki-laki.

Meski penampilannya mencurigakan, gerak-gerik dan bicaranya sangat sopan dan tertata, layaknya pesuruh dari seorang bangsawan berpangkat tinggi.

Saat Drake merasa heran, pria itu kembali bicara dengan wajah tertunduk.

"Meski lancang, izinkan saya mengatakan bahwa kejadian di Ruang Audiensi tempo hari... Tuan saya berpendapat bahwa Tuan Drake sama sekali tidak bersalah, dan beliau sangat mengkhawatirkan Anda."

"Apa...?"

Pandangan Drake mengikuti arah yang ditunjuk pria itu. Di sana, terparkir sebuah kereta kuda yang dekorasinya tak kalah mewah dari milik keluarga Kelvin. Namun, tidak ada lambang keluarga yang terlihat.

"Jika setelah membaca surat ini Anda merasa tertarik dengan identitas tuan saya, saya akan mengantarkan Anda ke kereta tersebut."

"...Baiklah."

Drake menerima surat itu, merobek segelnya, dan mulai membaca isinya.

Tak lama kemudian, dahinya berkerut. Surat itu merinci detail kejadian di Ruang Audiensi dan menjelaskan secara logis mengapa Drake tidak bersalah dalam situasi tersebut.

Dengan kata lain, orang di dalam kereta tanpa lambang itu adalah bangsawan yang hadir di Ruang Audiensi hari itu, atau seseorang yang terkait erat dengan mereka.

Siapa sebenarnya orang ini?

Saat Drake mengalihkan pandangannya dari surat ke arah kereta, ia merasa pria misterius di depannya sedang menyeringai tipis.

"Apakah Anda... ingin bertemu dengan tuan saya?"

"Baiklah, aku akan menemuinya. Tapi sebelumnya, biarkan aku tahu namamu."

"Tolong panggil saya... 'Lobe'."

"Lobe... katamu?"

Drake menatap penampilan pria yang baru saja memperkenalkan dirinya itu, lalu mendengus.

"Nama yang konyol."

"Mohon maafkan saya. Nama asli sudah saya buang sejak lama. Mari, saya akan memperkenalkan tuan saya kepada Anda."

Setelah berkata demikian, pria bernama Lobe itu dengan sangat sopan mengantarkan Drake menuju kereta kuda misterius tersebut.





Previous Chapter | ToC | End V8

Post a Comment

Post a Comment

close