Cerita Sampingan 1
Ambisi dan Niat Buruk
Di salah satu
ruang tamu kediaman keluarga Grandork, pemimpin suku Kitsune-jin.
Di sana,
seperti biasanya, beridiri seorang pria yang menyebut dirinya 'Robe',
mengenakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya.
Di
hadapannya, telah berkumpul tokoh-tokoh terpandang: sang kepala suku Gareth,
diikuti oleh Elba, Malbus, dan Rapha.
"……Demikianlah
situasi terkini di wilayah Baldia."
Saat Robe
membungkuk hormat, gurat jemu muncul di wajah Elba.
"Hoh.
Kupikir dia membeli budak anak-anak untuk apa, ternyata dia malah melakukan
investasi besar-besaran demi memberikan 'pendidikan'. Benar-benar hobi yang aneh."
"Sama
sekali tidak bisa dimengerti. Namun, Kakak. Seperti yang dikatakan pria ini,
kecepatan perkembangan Baldia akhir-akhir ini bisa dibilang sangat tidak
wajar."
"Umu.
Di pertemuan para kepala suku pun, topik tentang Baldia sering sekali diungkit.
Elba, aku merasa sudah saatnya kita bergerak, bagaimana menurutmu?"
"Entahlah……"
Menanggapi
pertanyaan Malbus dan Gareth, Elba menopang dagu dengan tangan kirinya sembari
memejamkan mata.
Informasi
yang dibawa Robe kepada Elba dan yang lainnya sungguh mengejutkan.
Wilayah Baldia yang berbatasan dengan wilayah Kitsune-jin
dan merupakan bagian dari Kekaisaran, telah berhasil mengembangkan berbagai
produk baru—dimulai dari 'Lotion', lalu Pocket Watch, hingga Charcoal Car.
Jaringan
penjualan produk-produk tersebut, melalui kerja sama antara Kamar Dagang
Christy dan Kamar Dagang Saffron, tidak hanya terbatas di seluruh Kekaisaran,
tetapi telah menjangkau hampir ke seluruh benua.
Ditambah
lagi, dengan pernikahan putra sulung keluarga Baldia, 'Reed Baldia', dengan
putri pertama Kerajaan Renalute, perdagangan dengan Dark Elf serta lalu lintas
orang menjadi sangat padat.
Wajar
saja jika para pedagang berkumpul dan perniagaan menjadi aktif apabila banyak
orang yang keluar-masuk dan terdapat produk yang hanya tersedia di Baldia.
Lebih
jauh lagi, ada fakta yang membuat Elba dan yang lainnya tercengang. Faktor
pendorong pergerakan orang dan barang tersebut ternyata adalah 'anak-anak' yang
dijual sebagai budak dari Zvera.
Setelah
keluarga Baldia membeli anak-anak yang dijual sebagai budak tersebut, entah apa
yang mereka lakukan, mereka memberikan 'pendidikan' berupa sihir, bela diri,
hingga pengetahuan umum.
Biasanya,
untuk bisa menguasai sihir diperlukan latihan yang sepadan. Namun, keluarga Baldia
berhasil membuat lebih dari seratus anak mampu menggunakan sihir dalam waktu
singkat.
Tidak hanya
itu. Hal yang benar-benar mengejutkan adalah mereka membuat anak-anak itu mampu
menggunakan sihir pada tingkat praktis yang bisa digunakan dalam pekerjaan
nyata. Ini adalah sesuatu yang bisa dibilang sebagai ancaman.
Elba memiliki
ambisi. Ambisi untuk bertahta sebagai 'Beast King' di Negara Beastkin Zvera,
lalu memimpin setiap suku untuk menguasai benua. Elba yakin hal itu pasti
mungkin dilakukan jika ia memanfaatkan kemampuan fisik tinggi dan sihir milik Beastkin.
Menjadi 'Beast
King' dan membuat setiap suku bersumpah setia adalah langkah pertama, namun hal
berikutnya yang ia pikirkan adalah pengetahuan ahli mengenai sihir, pendidikan
prajurit, serta berbagai teknologi.
Selama
mendengar cerita Robe, segala hal yang dibutuhkan Elba setelah ia menjadi Beast
King ternyata telah tersedia di Baldia.
Kondisi
geografis untuk menguasai benua, teknologi produksi, hingga pengetahuan ahli
sihir. Semuanya adalah hal yang menurut Elba akan ia butuhkan suatu saat nanti.
Jika Kitsune-jin
bisa menelan Baldia, itu juga akan menjadi prestasi yang bagus untuk menyatukan
para kepala suku Beastkin lainnya.
"Rupanya
budak yang dijadikan umpan berhasil memancing tangkapan besar."
Setelah
merenung, Elba membuka matanya dan mengalihkan pandangan pada Robe.
"Waktunya
sudah matang. Sampaikan pada 'pria itu'…… bahwa kami akan mulai bergerak."
"Baik,
akan saya sampaikan demikian. Namun, tolong jangan lupakan masalah 'Nannally'
dan 'Meldy' yang saya minta."
Meskipun Robe
menunjukkan sikap merendah yang kentara, Elba mengangguk datar tanpa
memedulikannya.
"Aku
tahu. Termasuk masalah pemberesan Reed dan Reiner."
"Terima
kasih banyak. Kalau begitu, saya permisi undur diri."
Setelah Robe
meninggalkan ruangan, Elba menatap Gareth dengan tajam.
"Ayah.
Sampaikan pada setiap suku bahwa 'keberadaan anak-anak yang hilang telah
diketahui', dan keluarga Grandork dari Kitsune-jin akan bertanggung jawab
menangani masalah ini…… Tolong siapkan landasannya."
Gareth sempat
memiringkan kepala sejenak, namun segera tersadar dan menyeringai.
"Aku
mengerti. Yang akan kita lakukan mulai sekarang adalah 'Pembebasan Budak'……
Sebuah alasan mulia yang luar biasa."
"Seperti dugaan, Ayah cepat
tanggap. Yah, begitulah. Malbus, kau periksa kesiapan militer di dalam negeri.
Lalu, siapkan landasan kepada para petinggi kenalan kita di Kekaisaran maupun
Balst agar mereka 'tidak ikut campur' dengan apa yang akan terjadi nanti. Lagipula, kita terus menjual budak
selama ini adalah demi saat-saat seperti sekarang."
"Siap
dilaksanakan. Fufu, jantungku berdebar kencang."
Gareth dan
Malbus meninggalkan ruangan bersama-sama dengan raut wajah penuh kegembiraan.
Setelah keduanya pergi, Rapha tersenyum misterius.
"Ayah
dan Malbus terlihat sangat bersemangat ya. Kakak, lalu apa yang harus
kulakukan?"
"Rapha.
Kau dan bawahanmu gunakan 'Ilusi' untuk menyusup ke Baldia. Lakukan verifikasi
terhadap informasi dari Robe dan kumpulkan informasi yang kurang. Jika
memungkinkan, bawa beberapa Beastkin yang menjadi budak ke sini. Lalu, setelah
menyembunyikan instruksi yang baru saja kuberikan, bawalah Amon dan Sitri
bersamamu nanti. Aku punya sedikit rencana."
"Fufu,
kedengarannya mendebarkan dan menarik. Tapi, Amon dan Sitri akan jadi
pengganggu jika dibawa sekarang, jadi bolehkah aku membawa mereka setelah tugas
dari Kakak agak tenang?"
"Ah,
tidak masalah."
"Kalau
begitu, aku akan segera bersiap-siap. Ini pas sekali untuk mengusir rasa
bosan."
Rapha
melangkah ringan meninggalkan ruangan. Elba yang tersisa di sana menyandarkan
punggungnya dengan santai pada sandaran kursi.
"Baldia,
ya. Tempat yang pas untuk dijadikan batu pijakan."
Ia bergumam
demikian, lalu mulai tertawa dengan angkuh.
◇
Di kawasan
bangsawan yang terletak di pusat ibu kota Kekaisaran Magnolia, terdapat
kediaman 'Keluarga Marquis Jeanpaul' yang sangat besar dengan bangunan yang
sederhana namun elegan.
Di salah satu
ruangan di kediaman tersebut, Marquis Berlutti dan Bergamot duduk menyandar di
kursi mereka, mendengarkan laporan dari Marone dan Belzeria mengenai acara
ramah tamah.
"Hoh. Janji berkirim surat dengan
Tuan Reed, ya…… Bagus sekali. Ditambah lagi, informasi bahwa mereka sedang
meneliti sesuatu yang menggunakan 'Atribut Petir'. Kerja bagus, Marone. Begitu
juga kau, Belzeria."
"Terima kasih atas pujiannya,
Ayah."
"Te-terima kasih, Kakek."
Marone dan Belzeria membungkuk hormat
kepada Marquis Berlutti. Namun, Bergamot menatap Belzeria dengan tatapan tidak puas.
"Aku
mengamati kalian dari jauh, tapi yang aktif memperluas percakapan dengan Reed dan
yang lainnya adalah Marone. Belzeria, bukankah kau hanya meringkuk dan terlihat tertekan saja?"
"Mo-mohon
maafkan saya……"
"Sebagai
putra sulung bangsawan, masa depanmu akan suram jika kau terus terbata-bata
setiap kali berbicara. Bandingkan dengan Reed dari keluarga Baldia itu. Dia
bisa bersikap tegas tanpa merasa gentar sedikit pun terhadap kami. Kenapa kau
tidak bisa melakukan apa yang bisa dilakukan oleh anak yang seumuran denganmu?
Belzeria, kau bukan sekadar anak kecil biasa. Kau adalah pewaris keluarga
Marquis Jeanpaul, apakah kau sadar akan hal itu?"
Awalnya
Bergamot bicara dengan nada tenang, namun di akhir ia meninggikan suaranya dan
menunjukkan kemarahannya.
Belzeria yang
gemetar melihat sosok ayahnya, menundukkan pandangan dan menjawab dengan nada
menyesal, "Saya tidak punya kata-kata untuk membela diri," sembari
membungkuk dalam-dalam. Namun, amarah Bergamot tidak tampak mereda.
"Apa-apaan.
Kau bisa bicara normal, kan. Benar-benar suram jika kau tidak bisa melakukan sesuatu tanpa diperintah.
Meski kau anakku, aku merasa sangat kecewa."
Mendengar
cara bicara yang terlalu kasar itu, Marone yang berdiri di samping Belzeria
mengerutkan alisnya.
"Tuan
Bergamot, tolong hentikan sampai di situ. Kakak juga sudah berjanji untuk
berkirim surat dengan Tuan Reed dan Nona Farah, jadi saya rasa kedepannya
mungkin ada hal-hal yang hanya akan diceritakan kepada Kakak saja. Lagipula,
saat mendapatkan informasi tentang 'Atribut Petir', itu berawal dari Kakak yang
memuji Nona Ellen dan anak-anak Kitsune-jin. Mohon redamlah amarah Anda."
Bergamot
mendengus dan melirik tajam ke arah Marone.
"Meskipun
begitu, aku tetap merasa kesal karena dia tidak bisa mengatakannya dengan jelas
di tempat ini. Lagipula……"
"Sudahlah,
hentikan."
Marquis
Berlutti menyela dengan suara beratnya.
"Bergamot.
Aku mengerti
perasaanmu, tapi cukup sampai di sini. Bagaimanapun, kita sudah berhasil
mendapatkan informasi. Namun, Belzeria. Apa yang dikatakan ayahmu ada benarnya.
Jika kau merasa menyesal, berlatihlah dengan giat agar bisa menang dari Reed. Mengerti?"
"Saya
mengerti, Kakek. Ayah, mohon maafkan putra Anda yang tidak berguna ini."
Belzeria
membungkuk, lalu mengarahkan pandangannya pada sang ayah.
Namun,
Bergamot hanya membalas dengan tatapan dingin dan berkata dengan nada
mencampakkan.
"Permintaan
maaf itu tidak perlu. Tunjukkan dengan hasil."
"……Baiklah."
Belzeria
memberi salam, namun ia tetap menunduk tanpa mengangkat wajahnya.
Meski begitu,
tinjunya terkepal kuat dan gemetar sedikit seolah sedang menahan sesuatu.
Marone menatap Belzeria dengan cemas, namun di dalam lubuk matanya, terpancar sebuah cahaya yang aneh. Melihat sosok Marone yang seperti itu, Marquis Berlutti pun menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.



Post a Comment