NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonda Otome Gēmu no Akuyaku Mobu desu ga ⁓ Danzai wa Iya na no de Mattō ni Ikimasu Volume 8 Chapter 4 - 5

Chapter 4

Awal Mula Pengembangan


Gema dari acara ramah tamah yang diadakan di ibu kota kekaisaran ternyata jauh lebih dahsyat dari yang kubayangkan.

Begitu kami kembali dari ibu kota ke wilayah Baldia, para bangsawan kekaisaran dan pedagang dari seluruh penjuru kekaisaran segera berdatangan silih berganti.

"Aku tidak bisa melupakan cita rasa hidangan yang kumakan di acara itu, aku ingin mencicipinya lagi."

"Setelah melihat langsung mobil arang dan jam saku, aku ingin menjalin kerja sama dagang yang baru."

"Aku ingin melihat sendiri kondisi terkini dari wilayah Baldia."

Begitulah, banyak orang datang dengan berbagai tujuan. Di antara mereka, ada pula orang-orang yang berniat mencuri teknologi, atau mendekati anak-anak Beastkin di bengkel kerja serta Ellen dan Alex demi merayu mereka pindah pihak dengan tawaran menggiurkan.

Namun, para pengacau semacam itu segera terendus oleh anak-anak yang tergabung dalam "Badan Intelijen Khusus Perbatasan" yang dibentuk di dalam Pasukan Ksatria Kedua.

Mereka tertangkap basah beserta barang buktinya dan langsung diringkus. Setelah berdiskusi dengan Ayah, aku memberikan hukuman berat kepada mereka, termasuk larangan masuk ke wilayah Baldia.

Karena di balik para pengacau itu pasti ada bangsawan kekaisaran atau kamar dagang besar, tindakan ini juga berfungsi sebagai semacam peringatan.

Jika mereka sudah keterlaluan, aku berencana memikirkan cara penanganan yang baru, meski untuk saat ini jumlah mereka sudah berkurang sehingga kami masih dalam tahap mengamati situasi.

Hubungan dengan teman-teman yang kujalin saat acara ramah tamah masih berlanjut melalui surat-menyurat secara rutin.

Yang paling sering adalah Valerie. Alasan mengapa frekuensi surat dengannya meningkat adalah karena masalah "Marone Jeanpaul".

Begitu aku menyampaikan informasi yang kudapatkan melalui Ayah, Valerie menyatakan bahwa ia akan mencoba mendalami informasi internal sambil mempererat persahabatan dengan Marone.

Sejujurnya aku merasa cemas, tapi karena Valerie didampingi oleh Latiga, aku memutuskan untuk mempercayai dan mengawasi mereka.

Namun, sejauh ini belum ada informasi penting mengenai Marone yang berhasil didapatkan.

Di tengah kesibukan menangani berbagai urusan setiap harinya, kabar gembira datang dari Alex.

Ia berhasil mengolah batu sihir yang disebut "Batu Cahaya Guntur" yang konon menyimpan kekuatan petir. Produk baru itu diberi nama Mana Battery.

Mana Battery adalah batu berbentuk kotak dengan warna biru tua yang anggun, mirip seperti Royal Blue pada permata safir.

Selain itu, bentuknya bisa disesuaikan secara luas seperti bulat atau oval melalui teknik pengolahan tertentu.

Saat sedang menyimpan daya petir, batu ini memancarkan cahaya biru pucat yang lembut, namun cahaya itu akan hilang saat dayanya habis.

Jika diisi kembali dengan kekuatan petir, batu tersebut akan kembali bercahaya dan dapat digunakan lagi. Inilah kelahiran "baterai isi ulang" di dunia ini.

Anak-anak Beastkin yang membantu Alex tampak gembira atas keberhasilan ini, meski mereka memiringkan kepala sambil bertanya, "Apa gunanya menyimpan daya petir seperti ini?"

Jika hanya "baterai" saja, memang sulit untuk memahami nilainya. Namun di saat yang hampir bersamaan, kabar gembira juga datang dari Ellen bahwa Motor Electric telah selesai dibuat.

Yah, yang selesai baru berupa prototipe mesin kecil seukuran jempol orang dewasa, sih.

Tapi, apa yang bisa dilakukan jika Mana Battery dan Motor Electric kecil digabungkan? Menunjukkan hal itu saja sudah lebih dari cukup untuk membuat semua orang mengerti.

Ellen dan Alex menggabungkan keduanya dan mengembangkan sebuah "Mobil Listrik Empat Roda Super Mini", lalu menyiapkan lintasan balap di dalam bengkel kerja.

Mereka memamerkan performanya di depan semua orang, termasuk Ayah.

"Pergilah! Mobil Empat Roda Kecilku Nomor Satu!"

"Kakak... aku masih merasa ada yang aneh dengan nama itu..."

Tanpa memedulikan teguran Alex, Ellen meluncurkan mobil mini tersebut ke lintasan.

Melihat pemandangan di depan matanya, Ayah bergumam kagum, sementara anak-anak Beastkin bersorak keheranan.

Mungkin, inilah momen pertama kalinya di dunia ini sebuah "benda" bergerak menggunakan kekuatan "listrik".

Mobil Empat Roda Kecil Nomor Satu milik Ellen, meskipun kecil, mengeluarkan suara menderu yang cukup keras dan melesat di lintasan dengan kecepatan yang lumayan tinggi sembari membelah angin. Mustahil bagi siapa pun untuk tidak terkejut melihatnya.

Tapi, bukankah ini sedikit terlalu cepat? Sesaat setelah aku berpikir demikian, mobil mini itu meluncur keluar dari lintasan dengan kencang dan menabrak dinding bengkel.

"Aaaaaah!? Mobil Empat Roda Kecilku Nomor Satuuuu!"

"Kakak... makanya sudah kubilang berkali-kali untuk menyetelnya dulu..."

Bengkel kerja itu pun meledak dalam tawa melihat Ellen yang berteriak histeris dan Alex yang tampak sangat jemu.

Namun, melalui kejadian ini, semua orang memahami nilai dan potensi dari baterai penyimpan daya.

"Pengembangan ini sungguh luar biasa. Namun, untuk sementara waktu, masalah ini akan dikategorikan sebagai rahasia negara."

Setelah berkata demikian, Ayah memerintahkan tutup mulut kepada semua orang di bengkel kerja serta semua pihak terkait.

Beberapa hari kemudian, aku mengadakan pertemuan dengan Ayah di ruang kerja kediaman untuk membahas cara penggunaan Mana Battery dan Motor Electric.

Pertemuan itu dihadiri oleh Ellen dan Alex sebagai penanggung jawab pengembangan, ditambah Sandra dari bidang sihir, serta Chris yang bertugas dalam pengadaan "Batu Cahaya Guntur" sebagai bahan bakunya.

Jika kami bisa meningkatkan kualitas baterai dan motor, serta membangun "pembangkit listrik" yang dapat menjamin sumber daya listrik yang stabil, maka kehidupan nyaman seperti di duniaku sebelumnya akan menjadi kenyataan sedikit demi sedikit.

Bagi orang-orang di sini, mungkin sulit membayangkan kegunaan dari motor listrik. Padahal, di duniaku dulu, motor listrik dengan berbagai ukuran digunakan dalam banyak peralatan rumah tangga seperti penyedot debu, mesin cuci, kipas angin, dan lain-lain.

Bahkan untuk hal yang paling dekat, sistem saluran air pun digerakkan oleh pompa yang ditenagai motor listrik.

Dengan mengambil contoh kemudahan di duniaku sebelumnya, aku menjelaskan cara pemanfaatan yang efektif dari kedua penemuan tersebut kepada mereka semua.

Hasil diskusi memutuskan untuk membangun sebuah pembangkit listrik di dalam wilayah, dengan menggunakan prototipe generator listrik berbahan bakar arang yang dikembangkan oleh Ellen dan tim sebagai pondasi utamanya.

Meskipun aku juga memikirkan pembangkit listrik tenaga air atau angin yang memanfaatkan sihir, untuk saat ini kami harus memprioritaskan pengembangan "peralatan listrik" dan pengamanan sumber daya listrik agar beban pekerjaan pengolahan dapat dikurangi dan menjadi lebih efisien.

Begitu mendengar tentang peralatan kerja, Ellen dan Alex tampak sangat antusias dan mencondongkan tubuh mereka.

"Jadi kita akan mengecilkan Mana Battery dan menggabungkannya dengan motor listrik kecil untuk mengembangkan 'peralatan kerja', ya? Tentu saja, jika ada peralatan yang sepraktis itu, efisiensi kerja saat ini pasti akan meningkat pesat. Benar kan, Alex?"

"Ya. Selain itu, jika kita menggunakan motor listrik dengan tenaga yang besar, bukankah kita bisa membuat mesin pengolah skala besar juga?"

"Benar sekali. Di duniaku dulu pun ada banyak mesin pengolah yang menggunakan motor listrik besar. Berbagai material seperti kayu atau besi dipotong, ditekan, dan dipoles oleh mesin, lalu para pengrajin tinggal mengerjakan detail akhirnya saja."

Begitu aku menjawab, mata Ellen dan yang lainnya berbinar penuh harapan.

Mengenai duniaku sebelumnya, aku sudah pernah menjelaskannya kepada semua orang yang ada di sini, jadi tidak masalah untuk menggunakannya sebagai contoh. Justru aku memberitahu mereka agar diskusi bisa berjalan lancar seperti ini.

"Sandra, aku ingin kau bekerja sama dengan Ellen dan yang lainnya untuk meneliti perbaikan agar Telepathy Magic bisa digunakan dengan lebih efektif. Kurasa kita bisa melakukannya jika membuat alat pembantu 'komunikasi' menggunakan Mana Battery."

Telepathy Magic adalah sihir ciptaan yang menggabungkan sihir yang kupelajari dari tiga bersaudara Nezumi-jin—Salvia, Silvia, dan Serbia—serta Aria dan kawan-kawan dari Tori-jin (kaum burung). Sederhananya, ini adalah sihir yang memungkinkan "percakapan melalui komunikasi nirkabel" menggunakan sihir atribut petir.

Hanya saja, saat ini sihir tersebut mengharuskan pengirim dan penerima mengaktifkannya secara bersamaan, jadi masih banyak ruang untuk perbaikan.

"Aku mengerti. Aku juga sangat tertarik untuk melihat apa saja yang bisa dilakukan dengan Mana Battery. Mari kita coba berbagai macam hal."

"Ya. Mohon bantuannya."

Selanjutnya, topik beralih ke perbaikan jalan dari wilayah Baldia hingga ke ibu kota kekaisaran. Proyek perbaikan jalan yang diterima dari Yang Mulia Kaisar segera dimulai pengerjaannya oleh Pasukan Ksatria Kedua.

Jika melihat progres saat ini, pengerjaannya tidak akan memakan waktu lebih dari satu bulan. Setelah jalan selesai diperbaiki, pengiriman "Amazake" yang dipesan oleh Yang Mulia Matilda juga akan dimulai.

Chris telah memanfaatkan acara ramah tamah untuk memperkenalkan dirinya kepada para bangsawan yang biasanya sulit ditemui, sambil menegosiasikan hal-hal yang kuminta kepada bangsawan tertentu. Ia menyodorkan selembar dokumen di hadapanku dan Ayah.

"Tuan Reiner, Tuan Reed. Mengenai pengadaan 'Batu Cahaya Guntur', negosiasi dengan para bangsawan yang memiliki lahan tambang di dalam kekaisaran berjalan lancar. Untuk sementara waktu, kita bisa menjamin pasokan jumlahnya tanpa Sayatan."

Saat aku dan Ayah memeriksa dokumen itu, hampir semua kontrak telah disepakati dengan harga yang kami harapkan.

"Terima kasih, Chris. Tapi, meskipun aku menawarkan harga yang cukup murah, hebat juga mereka mau menyetujuinya."

"Umu. Aku heran mereka mau mengangguk setuju dengan harga segini."

Isi tawaran kepada para bangsawan itu adalah harga berani yang dihitung berdasarkan harga pasar Batu Cahaya Guntur dengan syarat pembelian dalam jumlah besar.

Aku dan Ayah memperkirakan negosiasi akan berjalan sulit. Chris melihat reaksi kami dan menyeringai tipis.

"Sejak awal, Batu Cahaya Guntur dianggap tidak berguna dan tidak bernilai. Bagi mereka, kesempatan untuk menjalin hubungan dagang dengan keluarga Baldia jauh lebih penting. Selain itu, aku juga bilang bahwa aku akan mengatur agar para istri mereka bisa mendapatkan sedikit lotion yang dipakai Yang Mulia Matilda serta Amazake yang beliau sukai... Begitu aku mengatakannya, mereka langsung mengangguk setuju tanpa ragu."

"Ja-jadi begitu ya..."

Untuk sesaat, aku merasa ekspresi Chris tumpang tindih dengan Yang Mulia Matilda.

Tapi benar juga, sejak acara ramah tamah, jumlah bangsawan yang ingin menjalin hubungan dagang dengan keluarga kami memang meningkat pesat.

Di ibu kota, suara para nyonya bangsawan yang menginginkan lotion dan amazake dari Kamar Dagang Christy yang dipuji oleh Yang Mulia Matilda terdengar semakin kencang dari hari ke hari.

Chris pasti sudah memahami hal itu saat maju ke meja negosiasi. Diskusi kami pun berlanjut untuk beberapa saat setelah itu.

Setelah pertemuan selesai, hanya tersisa aku dan Ayah di dalam ruangan.

"Fuu..."

Ayah yang duduk di sofa tepat di hadapanku menghela napas panjang, lalu mulai berbicara.

"Sekarang, mengenai pergerakan di dalam wilayah. Bagaimana perkembangan rencana pemberian kurikulum pendidikan bagi anak-anak ksatria yang tergabung dalam Pasukan Ksatria Baldia?"

"Ya. Untuk saat ini, sebagai uji coba, kuota dibatasi hingga tiga puluh orang, dan kami sedang melakukan penyesuaian serta latihan dengan kurikulum pendidikan yang sama dengan anak-anak Beastkin."

Selama kami berada di ibu kota, wilayah Baldia membuka pendaftaran bagi anak-anak manusia yang ingin mengikuti kurikulum pendidikan uji coba, serupa dengan anak-anak Beastkin.

Karena masih uji coba, pendaftaran dibatasi hanya untuk anak-anak ksatria dari Pasukan Ksatria Baldia.

Para orang tua dan anak-anak yang telah melihat langsung perjuangan di Lomba Ikat Kepala serta kehebatan Pasukan Ksatria Kedua kabarnya sangat gembira mendengar kabar itu, karena mereka bisa mempelajari pengetahuan, sihir, dan bela diri yang dikelola keluarga Baldia.

Namun, karena jumlah pendaftar jauh melampaui kuota, akhirnya diadakan ujian tulis, bela diri, dan sihir.

Begitu kembali dari ibu kota, aku terkejut saat menerima laporan dari Galun. Akulah yang membuat keputusan akhir dalam penyeleksian itu, tapi sejujurnya rasanya cukup menyesakkan dada.

Kepada anak-anak yang tidak lolos seleksi kali ini, aku menyampaikan, "Tahun depan kami kemungkinan akan membuka pendaftaran lagi, jadi kami ingin memprioritaskan kalian saat itu. Karena itu, tolong asah kemampuan dasar kalian untuk bersiap."

Setelah itu, banyak pertanyaan masuk dari para orang tua yang sangat antusias dengan pendidikan, bertanya, "Apa yang sebaiknya saya ajarkan pada anak saya?"

Di antara tiga puluh orang yang terpilih sebagai calon ksatria uji coba tersebut, terdapat nama "Tice", putri dari Wakil Komandan Ksatria Baldia, Cross, yang juga merupakan teman Mel.

Sepertinya dia tidak pernah melewatkan latihan harian sejak kami bertemu dulu, karena semua hasil ujian Tice mendapatkan nilai sempurna.

Namun, karena dia menjadi lebih dekat dengan Mel, muncul sebuah masalah baru.

"... Hanya saja, Ayah."

Saat aku bergumam ragu, kerutan muncul di dahi Ayah.

"Hanya saja... apa?"

"Sepertinya Mel sesekali ikut menyelinap dan ikut latihan bersama anak-anak itu."

"Apa...!?"

Mata Ayah membelalak, dan itu wajar saja. Aku pun bereaksi sama saat menerima laporan dari para instruktur pelatihan anak-anak.

Begitu Mel tahu bahwa anak-anak ksatria dikumpulkan di asrama untuk berlatih, ia berseru, "Aku juga mau ikut bersama semuanya!", lalu mengabaikan larangan Danae dan langsung bernegosiasi dengan para instruktur.

Awalnya para instruktur menolak, namun mereka terdesak oleh kegigihan Mel dan akhirnya memberikan alasan penolakan, "Setidaknya, jika Nona Meldy memiliki kemampuan yang sepadan..." Tapi, itu adalah sebuah kesalahan fatal.

Mel selama ini ikut dalam latihanku dan Farah, jadi ia sudah memiliki "kemampuan yang sepadan". Kabarnya saat itu, Mel tersenyum dengan sangat manis.

Mel bertanding melawan Tice yang merupakan lulusan terbaik dalam ujian, menunjukkan kemampuannya, dan membungkam para instruktur serta anak-anak lainnya.

Meski begitu, hal ini sampai ke telinga Ibu melalui Danae. Kudengar Mel mendapatkan omelan dari Ibu, sama seperti aku yang sering dimarahi Ayah.

Meskipun begitu, Mel tidak menyerah dan tetap ikut latihan bersama anak-anak itu.

Sepertinya ia sangat senang bisa berinteraksi dengan anak-anak seumurannya meskipun status mereka berbeda.

Ibu memang memarahinya, tapi sepertinya beliau juga memahami perasaan Mel dan membiarkannya secara diam-diam.

Mendengar penjelasan itu, Ayah memegang dahinya sambil menunduk lesu, lalu menggelengkan kepala.

"Sejak Mel mulai tertarik pada bela diri dan sihir karena pengaruhmu... aku sudah punya firasat buruk, tapi sepertinya firasat itu benar-benar jadi kenyataan."

"A-ahaha. Tapi, di usia Mel, kurasa menjadi sedikit tomboi itu hal yang wajar, kan?"

"Tomboi ya... Baiklah. Serahkan urusan Mel kepada Nannally."

Ayah mengangkat wajahnya dan kembali ke ekspresi tegasnya yang biasa, lalu menatapku dengan sorot mata tajam.

"Terlepas dari itu, ada yang ingin kubicarakan denganmu."

"Apa itu?"

"Mungkin agak terlalu cepat untuk usiamu, tapi aku ingin kau mulai mempelajari hal-hal yang diperlukan sebagai seorang penerus."

"Hal-hal yang diperlukan sebagai penerus... ya. Aku mengerti. Tapi, dari siapa aku akan mempelajarinya?"

Melihat suasananya, mungkinkah ini semacam pelajaran tata negara atau kepemimpinan?

Saat aku sedang menerka-nerka, Ayah mencondongkan tubuhnya dan menyeringai angkuh.

"Sudah jelas... dariku."


Chapter 5

Perkembangan dan Pendidikan Sang Penerus

Beberapa bulan berlalu sejak aku mulai belajar pendidikan penerus dari Ayah. Kini, aku dan Farah telah menginjak usia delapan tahun, sementara adikku, Mel, sudah berusia enam tahun.

Waktu terasa berlalu begitu cepat, namun di wilayah Baldia, banyak hal besar telah terjadi.

Pertama, berkat kerja sama antara Sandra, Alex, dan yang lainnya, kami berhasil mengembangkan "Alat Penerima Sihir Komunikasi" portabel yang menggunakan Mana Battery.

Berkat alat ini, menerima pesan sihir komunikasi tidak lagi hanya bisa dilakukan oleh penyihir.

Selain itu, sang penyihir tidak perlu lagi terus-menerus mengaktifkan sihirnya hanya untuk menunggu pesan masuk.

Kemampuan penyampaian informasi, termasuk dalam keadaan darurat, meningkat secara drastis. Jika di duniaku dulu, ini mirip seperti 'Radio Polisi'.

Meskipun untuk mengirim pesan masih sulit dilakukan tanpa bantuan penyihir, namun penelitian metode pengiriman melalui alat penerima ini terus maju.

Mungkin suatu saat nanti, komunikasi nirkabel yang sesungguhnya akan benar-benar terwujud.

Selanjutnya, pengerjaan perbaikan jalan yang menghubungkan wilayah Baldia ke Ibu Kota Kekaisaran serta pembangunan pos pengisian bahan bakar untuk Mobil Arang telah selesai.

Kamar Dagang Christy kini menggunakan Mobil Arang untuk menarik kereta beban, membuat transaksi dagang dan logistik dengan Ibu Kota meningkat pesat.

Dengan modal dana yang diperoleh dari transaksi tersebut, kami membeli bahan baku dari Kerajaan Renalute, mengolahnya di wilayah Baldia, lalu mengirimkannya kembali ke Ibu Kota.

Dark Elf, warga Renalute, memiliki kesan positif terhadap Kekaisaran yang dianggap 'berkontribusi dalam pembebasan budak sesama ras mereka' di masa lalu.

Hal ini menciptakan permintaan potensial yang besar dari mereka yang ingin mengunjungi Kekaisaran.

Untuk menanggapi hal itu, ditandatanganilah "Perjanjian Perdagangan Bebas Perbatasan Khusus" antara Renalute dan keluarga Baldia.

Perjanjian ini tidak hanya bertujuan memperlancar pengadaan bahan baku dari Renalute, tetapi juga untuk menarik minat warga Renalute agar datang ke wilayah Baldia.

Hasilnya, kami berhasil mendatangkan banyak pengunjung, tidak hanya dari warga Kekaisaran, tetapi juga warga Renalute ke wilayah kami.

Singkatnya, dana yang diperoleh keluarga Baldia dari transaksi di dalam Kekaisaran akan mengalir ke Renalute melalui pembelian bahan baku, dan dana yang terkumpul di Renalute akan kembali lagi ke keluarga Baldia melalui transaksi dan kunjungan para Dark Elf... Kami berhasil menciptakan sebuah perputaran ekonomi yang harmonis.

Karena Kamar Dagang Christy yang dipimpin oleh Chris si Elf terlibat besar dalam aliran ini, bisa dikatakan bahwa Astoria—negara para Elf—juga terlibat secara tidak langsung. Faktanya, menurut Chris, Astoria mulai memperhatikan gerak-gerik keluarga Baldia.

Mengingat jarak geografis antara Baldia di Timur dan Astoria di Barat terlalu jauh, transaksi langsung sepertinya masih mustahil dilakukan.

Orang yang paling merasa lega karena uang mulai berputar adalah Ayah. Meskipun transaksi sebelumnya juga menghasilkan pendapatan, investasi yang dikeluarkan jauh lebih besar dari itu.

Aku sangat berterima kasih dan merasa berutang budi kepada Ayah yang telah mempercayaiku.

Saking berterima kasihnya, rasanya aku tidak pantas tidur dengan kaki menjulur ke arahnya... Maaf, aku sedikit berlebihan.

Yah, bagaimanapun juga, roda ekonomi yang sudah mulai berputar tidak akan berhenti kecuali terjadi sesuatu yang luar biasa.

Ekonomi ini seharusnya akan terus membesar seperti gelembung udara, namun aku tidak boleh lengah karena ada risiko 'gelembung itu pecah'. Agar hal itu tidak terjadi, aku harus memikirkan pemicu baru untuk terus memutar roda ekonomi sejak sekarang.

Alasan mengapa aku bertindak sejauh ini adalah karena semua ini berkaitan dengan 'Penghindaran Hukuman Mati'.

Keluarga Baldia yang memiliki dana melimpah sambil memutar roda ekonomi Kekaisaran... Jika itu terjadi, pengaruh keluarga Baldia di dalam Kekaisaran di masa depan pasti akan menjadi sangat besar.

Hal itu akan menjadi kekuatan untuk menangkis hukuman mati di saat darurat. Itulah sebabnya aku perlu terus menawarkan sesuatu yang baru di dunia ini. Yah, memikirkannya saja sudah membuat kepalaku agak pusing.

Lalu, acara yang paling berkesan akhir-akhir ini adalah pernikahan Ellen dan Capella. Aku benar-benar terkejut saat mereka berdua bilang ingin menikah.

Upacara diadakan di halaman tengah kediaman baru tempatku dan Farah tinggal, dengan hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat.

Meski begitu, karena dihadiri oleh seluruh anggota Ksatria Pertama dan Kedua, Chris, Emma, serta para petinggi Kamar Dagang Christy, ditambah semua pelayan keluarga Baldia, skala akhirnya menjadi cukup besar.

Saat Ellen melemparkan buket bunga di akhir upacara dan jatuh ke tangan Diana, sorak-sorai riuh terdengar, dan upacara berakhir dalam suasana yang sangat menyenangkan.

Saat aku sedang mengenang kejadian beberapa bulan terakhir itu, tiba-tiba sebuah suara memanggilku.

"Oi, Reed. Sampai kapan kau mau melamun? Ini giliranmu."

"Ah, maaf. Kalau begitu, aku ke sini..."

Begitu aku menggerakkan bidak di atas papan, Ayah bersedekap sambil bergumam, "Humu." Namun, Ayah segera menggerakkan bidak Bishop dan menyeringai angkuh.

"Tapi tetap saja, permainan yang kau sebut Shogi ini benar-benar menarik. Dengan menggunakan bidak yang direbut dari lawan, taktiknya menjadi jauh lebih rumit. Secara tidak langsung, ini seolah mengisyaratkan bahwa dalam perang pun terdapat pengkhianatan."

"Aku senang Ayah menyukainya. Konon, inti dari Shogi adalah 'melangkah ke tempat yang ingin ditempati lawan'."

"Hoh, begitu ya."

Ayah menanggapi sambil tetap menatap tajam ke arah papan.

Saat ini aku sedang bermain Shogi bersama Ayah, dan ini adalah salah satu bagian dari pendidikan penerus.

Awalnya kami bermain Catur, tapi Ayah terlalu kuat dan aku selalu kalah.

Karena kesal, aku memikirkan cara agar bisa menang dan akhirnya mengusulkan Shogi, permainan yang mirip namun berbeda.

Tentu saja, papan dan bidaknya dibuat oleh Alex dan kawan-kawan.

Awalnya Ayah sempat skeptis saat aku memperkenalkan Shogi, namun beliau segera menyadari daya tariknya. Dan, dalam permainan Shogi pertama di dunia ini, aku berhasil meraih kemenangan dengan gemilang.

Namun, sepertinya Ayah sangat tidak rela menerima kekalahan itu. Di luar dugaan, kemampuannya meningkat dengan kecepatan yang mengerikan.

"Ayah. Aku ingin meletakkan bidakku di sini..."

Aku menunjuk ke arah Bishop yang digerakkan tadi, tapi Ayah tersenyum tipis dan menggelengkan kepala.

"Tidak boleh menarik langkah kembali juga merupakan aturan dalam Shogi, kan?"

"Muu..."

Kemampuan Shogi Ayah sudah melampauiku.

Kudengar setelah kalah di pertandingan pertama, Ayah diam-diam mengasah kemampuannya dengan bermain Shogi setiap malam bersama kepala pelayan Galun, serta Dynas, Cross, Rubens, dan Nels dari Ksatria Pertama. Benar-benar tidak mau kalah seperti anak kecil.

Dalam pendidikan penerus, Shogi dan Catur dianggap sebagai simulasi 'Pasukan Ksatria' untuk mempelajari pergerakan strategis dan taktik militer, serta memahami kekuatan dan kelemahan wilayah Baldia hingga hubungan dengan negara lain.

Yang paling berkesan bagiku adalah latihan untuk mengasah 'Kemampuan Memutuskan dan Menilai' dengan cara diberikan pilihan-pilihan yang mustahil dan diminta menjelaskan alasannya.

Contohnya seperti: "Aku, Nannally, dan Mel berada dalam bahaya maut. Namun, Reed, kau hanya bisa menyelamatkan satu orang.

Siapa yang akan kau selamatkan? Sebutkan juga alasannya." Tentu saja saat aku menjawab spontan, "Tentu saja semuanya!", aku dimarahi habis-habisan karena dianggap tidak serius dalam latihan.

Saat aku sedang memutar otak di depan papan Shogi, pintu ruang kerja diketuk.

"Tuan Reiner, Tuan Reed. Nona Meldy telah datang, apakah beliau boleh masuk?"

Itu adalah suara Diana.

"Umu. Tidak apa-apa."

Begitu Ayah memberi izin, pintu terbuka dengan kencang. Kemudian, Mel muncul dengan pipi menggembung, sementara Cookie dan Biscuit bertengger di bahunya.

"Kakak! Hari ini kita sudah janji untuk latihan pedang dan sihir, kan? Sampai kapan aku harus menunggu?"

Mel mengeluarkan jam saku dan menunjukkannya padaku dan Ayah.

Saat aku terpaku menatap angka di jam tersebut, ternyata memang sudah jauh melewati waktu yang dijanjikan.

"A... ahaha. Maaf ya, Mel."

"Mou..."

Saat Mel membuang muka dengan bibir mengerucut, Cookie melompat turun dari bahunya.

Kemudian, dengan kaki depannya, ia menggeser salah satu bidakku di atas papan.

"Ah, jangan, Cookie."

Cookie memiringkan kepala sambil mengeong pelan, "Nyaa?". Namun pada saat itu, aku menyadari efektivitas dari langkah bidak yang digeser tadi dan mataku membelalak.

"Be-benar. Aku memang berniat menggerakkannya ke sana, Ayah!"

"Apa...!?"

Mata Ayah membelalak kaget, namun Mel yang melihat interaksi itu dari dekat langsung berteriak.

"Kakak, bagaimana dengan janjinya!?"

"Ah, iya. Aku segera pergi. Kalau begitu Ayah, mari kita lanjutkan lain kali."

"O-oi!" Ayah berseru, namun aku sudah ditarik keluar ruangan oleh Mel. Maaf, Ayah. Mari kita lanjutkan lagi di lain waktu.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close