NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha-kei ni Shosu: Choubatsu Yuusha 9004-tai Keimu Kiroku Volume 3 Chapter 13 - 15

Hukuman

Pasokan Logistik Darurat Kelpressie 1


Kemunculan Tuan Putri Ketiga, Melneatis, memberikan efek yang luar biasa dalam rapat militer tersebut.

Bisa dikatakan, keberadaan dirinya saja sudah cukup untuk mematahkan argumen Aliansi Bangsawan. Selama mereka masih bersumpah setia pada Keluarga Kerajaan Serikat dan hak atas wilayah mereka dijamin oleh kerajaan, Aliansi Bangsawan tidak punya pilihan selain bungkam. Mereka tidak bisa mengabaikan keabsahan tuntutan Melneatis. Dalam situasi ini, jika mereka memisahkan diri sambil membawa prajurit yang masih sanggup bertempur, entah berapa banyak kecaman yang akan mereka terima nantinya.

Tindakan semacam itu sama saja dengan menjadikan Pasukan Ksatria Suci, para Goddess, dan pihak Kuil sebagai musuh.

"……Apa pun yang terjadi, kita akan merebut Gunung Toujin," ucap Horde akhirnya.

Rapat sempat dihentikan sejenak untuk pembicaraan tegang antara Horde, para bangsawan, dan sang Tuan Putri sebelum akhirnya dimulai kembali. Tentu saja, tidak ada celah bagi kami untuk ikut campur dalam percakapan itu. Hasilnya, aku benar-benar merasa bosan, sementara Venetim bahkan hampir jatuh tertidur.

"Jika kita bergerak maju... seperti kata para Prajurit Hukuman ini, para Raja Iblis tidak punya pilihan selain mengejar. Begitu kita mengamankan Gunung Toujin, justru merekalah yang akan terisolasi. Membasmi dua entitas yang tersisa pun akan menjadi mudah."

Sambil berbicara, Horde mengarahkan pandangannya padaku dan Venetim.

Hanya sekali. Itu pun dengan sorot mata yang sangat tajam. Seolah ada rasa tidak suka yang tersirat di sana, menegaskan bahwa dia sama sekali tidak sudi mengakui kami.

"Bagaimana menurut Anda, Yang Mulia Melneatis?" Horde segera mengalihkan pandangannya kembali pada Melneatis. "Apakah pengiriman unit logistik dan Pasukan Ksatria Suci ke titik pertemuan bisa dikabulkan?"

"Ya. Aku akan memintanya atas namaku dan adik laki-lakiku."

Melneatis mengangguk, lalu mengusap cincin di tangan kanannya.

Itu adalah cincin dengan ukiran segel keluarga kerajaan—aku pernah mendengar selentingan tentangnya. Katanya, cincin itu sendiri adalah sebuah Seal, dan mampu membubuhkan 'tanda' khusus pada dokumen yang hanya bereaksi terhadap garis darah kerajaan.

"Melihat situasi saat ini, kemungkinan besar Pasukan Ksatria Suci Kedelapan yang akan datang."

Serius? Aku mencoba tetap diam dan memasang wajah datar, tapi sepertinya aku gagal.

Pasukan Ksatria Suci Kedelapan—sang Goddess 'Bayangan' Kelflora dan Ksatria Suci-nya. Sejujurnya, mereka adalah tipe orang yang paling tidak kusukai. Aku sudah merasa tidak akan bisa akur dengan mereka. Aku teringat sorot mata Ksatria Suci mereka yang sinis dan penuh sandiwara. Lalu, tatapan dingin dan jengah dari sang Goddess.

"Kalau begitu, kita bergerak maju dengan kecepatan maksimal. Begitu kita memiliki pijakan di gunung, menghadang musuh akan jadi mudah. Tentu saja, para Raja Iblis akan melakukan pengejaran. Ditambah dengan sisa-sisa pasukan tentara bayaran yang kabur ke barat, diperkirakan akan terjadi serangan yang sengit."

Dengan kata lain, jika kami bisa menahan serangan itu, hampir tidak ada lagi penghalang untuk merebut Gunung Toujin. Kami akan bisa membangun kamp dengan leluasa dan mengubahnya menjadi benteng.

Oleh sebab itu, masalahnya adalah...

"……Unit 9004 Prajurit Hukuman. Kalian diperintahkan untuk menahan laju Fenomena Raja Iblis."

Horde mengatakannya dengan suara berat.

Mata birunya kali ini menatapku lurus-lurus. Jika berhadapan seperti ini, dia terlihat masih sangat muda. Mungkin usianya di bawahku.

"Jangan biarkan mereka mendekati pasukan utama. Untuk itu, wewenang komando atas kavaleri dan unit penembak jitu dari mantan Pasukan Ksatria Suci Ketiga belas akan tetap dipercayakan padamu. Aku serahkan cara bertarungnya padamu, tapi lakukanlah sambil terus bergerak. Ada pertanyaan?"

Artinya aku harus melakukannya dengan jumlah pasukan yang sama seperti pertempuran tadi malam? Total kavaleri dan penembak jitu tidak sampai empat ratus orang. Ini benar-benar terlalu sedikit. Karena itu, aku menyikut lengan Venetim.

"……Anu, Xylo-kun. Kode sikutanmu itu rasanya sakit sekali, lho... Tidak bisakah kau lebih lembut sedikit?"

"Ini sudah sangat lembut. Cepat lakukan sesuatu," bisikku pelan.

Wajah Venetim tampak mual. "Tentara, ya? Anu... kira-kira butuh berapa banyak...?"

"Aku mau dua kali lipat. Pertama unit zeni, tidak perlu teknisi, dua ratus orang saja cukup. Yang penting mereka cukup cekatan. ……Bagaimanapun juga, Norgalle terluka. Kami butuh 'tangan dan kaki' yang bisa mendengar instruksinya lalu menjalankannya."

"……A-ada lagi? Apa itu saja tidak cukup?"

"Infanteri. Orang-orang yang bisa bergerak selaras dengan penembak jitu. Ini juga minimal dua ratus... kalau boleh minta lebih, aku mau empat ratus."

"Rasanya jumlahnya jadi banyak sekali ya……"

"Kuserahkan padamu."

Venetim menghela napas sejenak. Lalu, dia bersuara. Tetap dengan suara yang luar biasa keras.

"Mohon maaf atas kelancangan saya, tapi izinkan saya menyampaikan pendapat! Tuan Komandan Ksatria Suci. Mengenai kekuatan militer, kami membutuhkan sedikit lagi dukungan agar bisa menuntaskan operasi ini. Karena—"

"Aku mengerti."

Di luar dugaan, Horde mengangguk sebelum Venetim menyelesaikan kalimatnya.

Aku terkejut—sempat terpikir apakah Venetim akhirnya mendapatkan kemampuan semacam hipnotis. Namun, melihat wajah Venetim, dia sendiri tampak lebih terkejut dariku. Entah kenapa dia menunjuk dirinya sendiri, tapi kalau dipikir-pikir lagi, aku ingin menyebutnya bodoh. Mana mungkin kemampuan khusus semacam itu bisa bangkit dalam dirimu.

"Akan kukabulkan, Venetim. Berapa banyak personel yang kalian butuhkan?"

Apakah Horde sudah mendapatkan kembali ketenangannya? Ataukah dia sudah memiliki kelapangan hati untuk mendengarkan pendapat kami? Ataukah—

Seolah mendahului imajinasiku, Horde menoleh ke arah Tuan Putri yang berdiri di belakangnya.

"Ini juga merupakan keinginan dari Yang Mulia Melneatis."

Kata-kata Horde itu lebih terdengar seperti sedang meyakinkan para bangsawan di sekitarnya, dan yang terpenting, meyakinkan dirinya sendiri.

"Sebagai komandan, aku akan menghargai dukungan bagi kalian yang akan menjalani pertempuran paling brutal dalam operasi ini semaksimal mungkin. Karena diperkirakan akan terjadi pertempuran melawan dua Raja Iblis yang tersisa. Jika hanya soal personel, aku bisa mengaturnya."

"Horde Krivios. Terima kasih telah menerima pendapat dari orang sepertiku."

Suaranya tenang dan terkendali. Jelas ada sesuatu yang mendasar yang berbeda darinya dibandingkan Venetim. Di tengah suasana yang hampir jatuh dalam kekacauan, itu adalah jenis suara yang membuat siapa pun tanpa sadar akan memasang telinga.

Pemilik suara itu—Tuan Putri Ketiga Melneatis—mengarahkan wajahnya padaku dan Venetim.

"Aku dan adikku diselamatkan oleh mereka. Meski mereka tidak mengetahui identitas kami, mereka tetap mengambil risiko dan datang menolong."

Mendengar ini, tidak ada yang bersuara. Orang yang punya posisi untuk mendebat kata-kata anggota keluarga kerajaan di sini hanyalah Horde Krivios, namun meski wajahnya tampak masam, dia tetap bungkam.

"Unit Prajurit Hukuman bisa dipercaya. Baik kemampuan mereka, maupun keluhuran jiwa mereka."

Kau berlebihan, pikirku. Mata Tuan Putri ini pasti bermasalah.

Membicarakan soal keluhuran jiwa hanya akan membuatku repot. Terutama unit kami yang isinya pada dasarnya hanyalah orang-orang yang moralnya sudah hancur, atau orang-orang yang sejak awal memang sudah tidak beres.

"Unit Prajurit Hukuman. Jika kalian berniat menjadikan mereka tameng kembali, maka kalian tidak boleh pelit dalam memberikan dukungan sebisa mungkin."

Kata-kata Melneatis terdengar lembut, namun di sana terdapat ketajaman yang tidak mengizinkan bantahan. Para bangsawan tampak tidak puas, tapi bagaimanapun juga mereka tetap diam. Inilah yang disebut dengan wibawa darah kerajaan.

"Aku percaya pada kalian. Orang-orang yang pemberani."

Melneatis tersenyum ke arahku dan Venetim. Itu adalah senyuman dari seseorang yang sudah sangat terbiasa mengarahkan ekspresi seperti itu kepada orang lain.

"……Begitulah. Aku pun telah mencapai kesimpulan yang sama, murni hanya dari sudut pandang taktik militer. Kalian telah menunjukkan kemampuan kalian. Aku terpaksa menilai bahwa kalian layak mendapatkan dukungan itu. Namun—"

Horde memejamkan matanya sedikit.

"Jangan salah paham. Logistik kita tidak melimpah. Yang bisa kuberikan hanyalah personel tambahan."

Sudah kuduga, pikirku. Sebenarnya, di situlah letak kelemahan tentara ini. Maksudnya, dia boleh saja menyiapkan personel, tapi 'selain itu' kami harus mengaturnya sendiri.

"Kalau begitu, Komandan Ksatria Suci Krivios. Ada hal yang ingin kusampaikan secara pribadi."

Melneatis berkata dengan suara berbisik yang lirih.

"Mengenai alasan kenapa kami melarikan diri dari Ibu Kota Kedua. —Tentang kunci yang dimaksud itu."

Seperti yang sudah diperkirakan, aku diusir dari pembicaraan rahasia antara Tuan Putri dan Horde. Sebenarnya, aku berniat langsung menjenguk Norgalle. Aku perlu memberitahunya bahwa dia mendapatkan dua ratus bawahan sementara, dan aku harus memaksanya untuk memimpin mereka.

Namun di tengah jalan, aku melihat sesuatu yang merepotkan.

Jace.

Terlebih lagi, dia sedang membentak—kepada belasan prajurit. Mungkin mereka yang dibentak semuanya adalah penunggang naga. Mereka memakai pakaian penahan dingin yang tebal, mirip dengan yang dipakai Jace. Namun, semuanya tampak duduk di atas salju dengan bahu merosot, benar-benar kelelahan. Atau mungkin, mereka sudah tidak punya tenaga lagi untuk berdiri.

Neely tidak ada di samping Jace. Ini adalah situasi yang sangat gawat. Artinya, sosok langka yang bisa menghentikan Jace sedang tidak ada. Jika bukan Neely yang memegang kendalinya, pria bernama Jace ini bisa menjadi terlalu buas bagi manusia.

"Jangan bercanda, kalian bajingan sialan!" bentak Jace.

Dia tampak jauh lebih marah daripada biasanya.

"Kenapa kalian meninggalkannya? Dengan muka apa orang-orang seperti kalian bisa selamat sampai ke sini? Semuanya bertarung demi kalian, tahu!"

Jace tampak seperti sedang menangis. Dia mencengkeram kerah baju salah satu ksatria naga, memelototinya dengan mata yang bahkan memancarkan niat membunuh. Pria itu masih muda. Menghadapi kemarahan Jace, wajahnya menunjukkan ketakutan yang nyata.

"Cordelia itu! Dia mengkhawatirkanmu, tahu! Karena kau terlalu lemah dan terlalu naif, dia takut kau tidak bisa pulang dengan selamat—tapi kau, kenapa! Kenapa kau meninggalkannya dan datang ke sini!"

Apa Cordelia itu nama naga? ……Aku tidak tahu alasan kemarahan Jace.

Aku juga tidak bisa menghentikan Jace yang sedang mengamuk. Aku bahkan tidak berniat menghentikannya. Saat Jace marah, itu selalu demi naga. Dia tidak pernah marah demi dirinya sendiri. Karena itu, tidak ada kata-kata untuk menghentikannya.

Saat aku sedang bimbang bagaimana harus campur tangan, sebuah suara menyapaku dari belakang.

"Lebih baik biarkan saja, Kamerad Xylo. Itu tidak bisa dihindari."

Itu Rhino.

Dia meletakkan Armor Cannon-nya begitu saja di atas padang salju dan dengan anggunnya sedang membaca buku. Itu adalah pemandangan yang biasa kulihat. Selama matahari masih ada, dia akan mengisi sedikit cahaya ke dalam Armor Cannon. Dan Rhino sangat suka buku. Dia benar-benar membaca apa saja. Meski aku agak ragu apakah dia benar-benar memahaminya atau tidak.

Buku yang dia baca hari ini berjudul 'Kiv Bezalfipe'. Sepertinya buku tentang masakan serangga. Menurutku itu jenis buku yang isinya sebaiknya segera dilupakan.

"Kamerad Jace marah soal naga."

"Itu aku tahu. Aku tidak pernah melihat Jace marah soal hal lain."

"Benar. Tampaknya Kamerad Jace sangat murka karena naga-naga yang ditinggalkan begitu saja oleh para ksatria naga itu."

Rhino membalik halaman bukunya dengan senyum yang tampak tenang seperti biasanya. Di sana ada ilustrasi serangga aneh yang digambarkan secara mendetail.

"Sepertinya mereka melarikan diri dan meninggalkan naga-naga itu dalam keadaan terikat di kandang naga di markas utama."

"Begitu rupanya."

Aku tahu sifat Jace. Jika masalahnya seperti itu, tidak ada yang bisa kulakukan.

"Wajar kalau Jace marah. Kuharap dia tidak sampai membunuh mereka secara tidak sengaja."

"Kamerad Jace tidak akan membunuh orang yang sedang merenung, menyesal, dan putus asa. Karena itulah dia hanya melakukan sejauh itu. Jika mereka adalah lawan yang tidak bisa diajak bicara, Kamerad Jace pasti sudah membunuh mereka seketika."

"……Yah, benar juga."

Aku menatap Rhino sekali lagi.

Orang ini sepertinya sama sekali tidak paham soal moral manusia, tapi dia sangat tahu soal bagaimana pola pikir kami masing-masing.

"Kalau begitu syukurlah. Karena untuk operasi berikutnya, aku benar-benar butuh Jace."

"Berarti, sudah diputuskan ya?"

Rhino akhirnya mengangkat wajahnya dari buku. "Apa yang harus kita lakukan?"

"Kita rebut Gunung Toujin. Kita akan menjaga barisan paling belakang dari pasukan utama yang bergerak maju."

"Sedikit disayangkan, tapi mau bagaimana lagi. Hanya saja—ada masalah."

Rhino menghela napas dan menutup bukunya.

"Armor Cannon-ku kehabisan peluru, dan tidak ada kejelasan soal pasokan ulang. Aku tidak bisa bertarung dalam kondisi begini. Pasokan lainnya juga pasti kurang, kan? Piringan kosong untuk ukiran Seal, magasin pengumpul cahaya……"

"Aku tahu."

Sudah sewajarnya, dalam urutan pasokan, unit Prajurit Hukuman selalu jadi yang terakhir. Kami tidak akan bisa mendapatkannya dengan cara yang normal. Aku bisa saja menyuruh Dotta, tapi untuk saat ini aku tidak boleh mengandalkan keahlian mencurinya. Mengingat semua pasokan sedang menipis, itu bisa merugikan unit lain.

"……Biar aku yang urus. Kau pikirkan saja cara membunuh Raja Iblis, jangan lakukan hal yang tidak perlu."

"Luar biasa. Kata-katamu menyenangkan sekali."

Rhino tampaknya menemukan semacam kegembiraan dari jawaban sarkastikku. Dia tersenyum dengan wajah segar yang membuatku ingin meninjunya.

"Aku akan mengikutimu ke mana pun. Sejujurnya, aku kagum padamu. Aku akan jujur padamu—secara pribadi, kau dan Kamerad Jace adalah tujuanku."

"Jangan samakan aku dengan Jace. Dipuji olehmu pun aku tidak senang."

Aku memelototi Rhino dengan wajah seseram mungkin.

"Kau itu benar-benar mencurigakan setengah mati."

"Begitukah? Lebih mencurigakan daripada Kamerad Venetim?"

"Perbandingannya buruk."

"Begitu ya, ada benarnya juga."

Sepertinya Rhino setuju dengan hal itu. Lalu tiba-tiba dia mulai berbicara dengan cepat.

"Kalau begitu, aku ingin segera berdiskusi soal cara membunuh Raja Iblis. Misalnya, Charon. Soal Raja Iblis itu. Aku sudah punya dugaan soal jati dirinya, tapi aku ingin sekali mendengar pendapat Kamerad Xylo."

"……Kau sudah memikirkan cara membunuhnya?"

"Setidaknya aku punya petunjuk. Sebenarnya, Fenomena Raja Iblis itu—"

Jika Rhino sudah masuk ke mode ini, dia tidak akan berhenti sampai merasa puas. Aku terpaksa harus menemaninya sampai dia tuntas menceritakan metode pembunuhan Raja Iblis itu dalam satu tarikan napas.

—Pokoknya, dengan begini operasi kami pun dimulai.


Hukuman

Pasokan Logistik Darurat Kelpressie 2

Saat akhirnya aku pergi menjenguk, Norugayu sudah tertidur lelap. Mungkin karena efek racun yang disebutkan oleh Goddess Kesembilan.

 Di samping Norugayu yang terlelap seperti orang mati, ada Teoritta dan—tak disangka—Dotta. Awalnya Teoritta-lah yang harus berbaring karena kelelahan hebat setelah menggunakan Holy Sword, tapi kenapa ikatan Dotta sudah dilepas?

Bukankah seharusnya Tsav yang mengawasinya dalam penahanan?

Saat akhirnya aku pergi menjenguk, Norugayu sudah tertidur lelap. Mungkin karena efek racun yang disebutkan oleh Goddess Kesembilan. Di samping Norugayu yang terlelap seperti orang mati, ada Teoritta dan—tak disangka—Dotta. Awalnya Teoritta-lah yang harus berbaring karena kelelahan hebat setelah menggunakan Holy Sword, tapi kenapa ikatan Dotta sudah dilepas? Bukankah seharusnya Tsav yang mengawasinya dalam penahanan?

"Dotta. ...Kenapa kau bisa bebas begini? Di mana Tsav?"

"Anu, itu, katanya ada 'hal yang harus dikerjakan' lalu dia pergi entah ke mana..." ucap Dotta dengan raut wajah tidak enak.

Aku merasakan sedikit pening di kepala. Seharusnya aku tidak menyerahkan pengawasan kepada Tsav di saat seperti ini.

"Judi. Sudah pasti itu."

"Sepertinya begitu. Tapi, sebagai gantinya aku malah dipaksa mengerjakan tugasnya. Katanya Norugayu dan Teoritta tidak bisa bergerak untuk sementara, jadi aku yang harus mengurus mereka..."

"Tidak. Itu... salah."

Teoritta mengangkat sedikit tubuh bagian atasnya dari tempat tidur. Gerakan sederhana itu saja sudah membuatnya tampak kesakitan.

"Aku sendiri yang... mengawasi dua anak bermasalah ini sekaligus..."

Teoritta membusungkan dada dengan bangga. Hebat juga dia bisa bersikap begitu dengan wajah yang pucat pasi.

"Luar biasa, bukan? Aku hebat, kan?"

"...Kerja bagus."

Karena tidak ada pilihan lain, aku mengakuinya. Teoritta mendengus bangga.

"Tentu saja. Karena aku adalah Goddess yang melindungi unit ini."

"Eh...? Kau masih bisa bicara begitu dalam kondisi seperti itu? Padahal yang merawat itu aku, lho... Aku juga yang menyiapkan makanan. Kalian berdua kan sama sekali tidak bisa bergerak."

"Aku memang berterima kasih soal makanannya. Tapi, aku sudah tidak apa-apa... Aku bisa... berangkat bertempur kapan saja. Lihat..."

Teoritta mengangkat kedua tangannya ke atas kepala, melakukan gerakan aneh seperti senam. Bohong, pikirku. Tubuh bagian atasnya jelas-jelas terlihat goyah.

Setidaknya, untuk sementara dia tidak bisa menggunakan Holy Sword. Kami harus bertarung tanpa kartu as itu.

"Hentikan. Tidurlah."

"Ugh. Tapi—"

"Besok pagi kita berangkat. Begitu lelahmu hilang, aku akan mempekerjakanmu sekuat tenaga."

Jika dikatakan seperti ini, Teoritta baru akan benar-benar beristirahat. Benar saja, dia tampak lega, menarik selimutnya hingga ke ujung hidung, lalu kembali terbaring.

"...Serahkan padaku! Aku akan... beristirahat seperti ini, lalu berjuang dalam kondisi prima. Tolong beri tahu aku soal rencana operasi berikutnya."

"Ah. Benar juga. Soal itu."

Dotta ikut mencondongkan tubuh dengan cemas.

"Xylo, apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Kita sudah bekerja terlalu keras, apa kita sudah boleh ditarik mundur?"

"Mana mungkin. Setelah ini kita pindah ke Utara. Kita bertugas sebagai pengawal, dan kita harus menghentikan siapa pun yang mengejar."

"Aaah..."

Wajah Dotta tampak putus asa.

"Itu artinya... kita masih harus bertarung melawan Fenomena Raja Iblis?"

"Wajahmu tidak punya semangat sekali, Dotta. Berusahalah lebih keras. Itu artinya pencapaian kita diakui, kita sedang diandalkan."

Teoritta menegurnya, tapi hal seperti itu tidak akan membuat suasana hati Dotta membaik.

"Jangan murung. Memang ada sedikit masalah, tapi jika itu terselesaikan, kita masih bisa bertarung."

"Bagian 'sedikit masalah' itu justru sangat mengusik pikiranku."

"Persediaan kita kurang. Amunisi untuk Rhino, dan material agar Norugayu bisa bekerja. Termasuk makanan juga."

"Aaah..."

Dotta mengacak-acak rambutnya. Hal yang biasa, jika boleh dibilang begitu. Namun kali ini, pasukan utama pun kekurangan pasokan, jadi situasinya semakin parah.

"Lalu, apa... aku harus mencarikannya? Tapi kalau semuanya sekaligus, itu mustahil."

"Tidak. Kali ini, kau jangan bergerak. Tolong, jangan lakukan apa pun. Jika kau mencuri dengan mencolok dari pasukan reguler yang pasokannya saja sudah menipis, itu akan jadi fatal."

Hord Krivios adalah komandan yang lurus dan teliti. Hal itu pasti berlaku juga dalam manajemen logistiknya. Jika melakukan hal yang tidak perlu, itu hanya akan menghambat semuanya, dan bahayanya akan berbalik kepada kita sendiri.

"Daripada itu, kali ini kau sudah membuat jasa yang benar selain mencuri, ya."

"Eh? A-Apa maksudmu? Aku jadi merasa tidak tenang kalau kau bicara begitu, Xylo."

"Soal Tuan Putri dan Pangeran. Dua anak yang waktu itu kau katakan dengan bodohnya 'ayo kita tolong'. Apa kau menyadari sesuatu saat itu?"

"Ah... Hmm... Entahlah."

Dotta tersenyum ragu.

"Bagaimana, ya? Apa aku melakukan itu karena menyadari sesuatu?"

"Apa-apaan itu, aku tidak tahu."

"...Yah, tidak apa-apa juga. Kalau begitu, apa artinya kali ini aku tidak perlu melakukan hal yang khusus?"

"Bodoh. Mana mungkin."

Aku harus segera menghancurkan pemikiran manis Dotta itu.

"Tidak mungkin ada orang yang bisa dibiarkan bermain-main di unit kita. Lagipula, sudah saatnya kau mendapat giliran kerja yang sesungguhnya."

"Eh."

Wajah Dotta menegang.

"...Maksudnya?"

"Sejak awal, aku memeliharamu bukan untuk mencuri pasokan dari pasukan kawan. Mulai sekarang, kau harus bekerja dengan serius."

"Eeeh... Kau serius?"

"Aku serius. Jika kau melakukannya dengan baik, semua orang akan selamat."

"Aku merasa tidak bersemangat... Ini pasti tugas yang sangat berbahaya, kan?"

"Memang berbahaya, tapi ini peran yang diperlukan. Jika ini berhasil, pengorbanan akan berkurang. Dengar, pertama-tama—"

Saat aku baru saja ingin mulai membujuk Dotta. Sebuah suara terdengar dari arah pintu masuk tenda.

"Permisi."

Suara yang lembut, namun entah kenapa terdengar jelas di telinga. Aku sudah mendengar suara ini tadi. Aku segera menoleh.

"—Kalian adalah anggota Unit Pasukan Hukuman 9004, bukan? Maafkan kunjungan mendadak ini."

Putri Ketiga Merneatis berdiri di sana. Mungkin karena pantulan sinar matahari, dia tampak seolah memancarkan cahaya suci. Karena kunjungannya yang terlalu tiba-tiba, aku terkejut, sementara Dotta entah kenapa mencoba bersembunyi di belakangku.

"Tuan Xylo Forbartz, kita sudah bertegur sapa tadi, ya. Dan yang di sana, apakah Anda adalah Goddess Teoritta-sama?"

"I-Iya... benar."

Teoritta juga mengangguk dengan agak kaku dan menegakkan punggungnya. Aku bisa mengerti perasaannya. Lawan bicaranya memang memiliki aura yang seperti itu.

"Bersama Ksatria Suci Xylo, aku adalah Goddess Pedang, Teoritta, yang memberikan berkat kepada para pahlawan!"

"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda. Saya telah mendengar tentang pencapaian Anda dan para pahlawan sekalian."

Mendengar tentang pencapaian kami, ya. Dari siapa dia mendengarnya—pasti Venetim. Si bajingan itu pasti sudah membisikkan segala macam hal, baik yang benar maupun yang tidak, dalam waktu singkat setelah rapat strategi selesai.

"Lalu, Tuan Dotta. ...Saya berterima kasih karena Anda telah menyarankan untuk menyelamatkan kami. Saya mewakili adik saya mengucapkan terima kasih."

"A-Ah, ya, anu... Berkat doa Anda, saya sehat-sehat saja. Terima kasih banyak..."

Dotta menjawab dengan terbata-bata dan tidak jelas, lalu menundukkan kepala. Dan kali ini dia benar-benar bersembunyi di belakangku.

"Saya dengar Anda orang yang pemberani. Katanya Anda dulunya adalah seorang pemburu. Saya pernah mendengar cerita tentang para pemburu Fairy di Pegunungan Quadaie."

"Eh? Ah, iya...?"

"Katanya dengan mata dan telinga yang tajam, serta pengalaman dan insting, Anda telah berkali-kali menyelamatkan unit dari bahaya."

"Hah...?"

Aku bisa melihat Dotta semakin bingung. Aku tidak tahu dia sedang membicarakan siapa, tapi ini pasti informasi dari Venetim. Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk mengoreksinya satu per satu.

"Selain itu, Tuan Norugayu. ...Tak disangka bisa bertemu Anda di tempat seperti ini."

"Ah."

Tanpa sadar aku mengeluarkan suara.

"Soal itu. Tuan Putri, apakah Anda mengenal orang ini?"

Aku melirik Norugayu yang masih tertidur. Dari samping, wajahnya entah kenapa terlihat berwibawa. Mungkin karena janggutnya yang sangat luar biasa itu.

"Tuan Norugayu adalah seorang sarjana yang menempuh pendidikan di akademi kuil yang sama dengan kakak saya—Routsir."

Sarjana. Aku memang pernah mendengar rumornya. Katanya Norugayu adalah teknisi Segel Suci yang jenius dan sarjana yang masa depannya sangat menjanjikan. Memang kemampuannya tidak akan masuk akal jika bukan karena latar belakang seperti itu.

"Kami sudah sering mengobrol. Sama seperti Kakak, dia juga sangat baik kepadaku. Dia rendah hati, tenang... aku sempat berpikir orang ini pasti tahu segalanya tentang dunia ini..."

Tuan Putri Merneatis menatap Norugayu seolah-olah sedang melihat pemandangan yang jauh.

"Waktu kecil aku berpikir begitu. Aku dengar dia meninggalkan akademi segera setelah Kakak menghilang, tapi tak disangka... keadaannya menjadi seperti ini."

Sepertinya dia tidak tahu tentang teror skala besar yang disebabkan oleh Norugayu. Faktanya, aku sendiri pun awalnya tidak tahu nama dalangnya. Sesuai pengumuman Galtuir, aku pikir itu adalah ulah faksi ekstremis mantan keluarga kerajaan Metto yang menentang Kerajaan Persatuan. Baru setelah bergabung dengan unit ini aku mendengar bahwa individu bernama Norugayu Senridge-lah yang menyebabkan teror tersebut.

Jika seorang sarjana yang menjanjikan melakukan tindakan keji seperti itu karena gangguan mental, pihak kuil mana mungkin memublikasikannya. Terutama kepada keluarga kerajaan, mereka pasti melakukan penutupan informasi secara menyeluruh. Mungkin hanya Raja sendiri dan Putra Mahkota yang tahu siapa dalang sebenarnya dari insiden itu.

"...Tuan Norugayu itu. Menyebutku sebagai adiknya."

Aku menyadari suara Merneatis sedikit bergetar.

"Aku tidak tahu apa yang telah terjadi pada Tuan Norugayu. Tapi..."

Dia mencoba mengatakan sesuatu. Namun, dia tidak melanjutkan kata-katanya.

"...Setidaknya, aku harus bersyukur karena dia masih mengingat wajah ini."

Gadis ini pasti sangat mengagumi sosok bernama Norugayu Senridge. Entah kenapa, aku merasa kami harus keluar dari tenda lebih dulu.

Setelah keluar dari tenda, aku berjalan sebentar. Sinar matahari senja yang merah menyinari sungai yang mengalir di samping desa, terasa menyilaukan. Pohon-pohon kenari yang berjajar di sepanjang sungai tampak agak kusam, mungkin karena sering terpapar angin dan salju.

Desa Kelplessi ternyata merupakan pemukiman dengan skala yang lumayan besar, berbeda dengan kesan pertamaku. Ada bangunan yang tampak seperti penginapan, kuil kecil, dan pemandian air panas umum. Meski penduduknya sudah tidak ada, ada jejak bahwa fasilitas pemandian itu masih digunakan hingga baru-baru ini, dan kondisinya tidak terlalu terbengkalai.

Di Kerajaan Persatuan, seiring dengan perkembangan teknologi Segel Suci, teknologi pengeboran mata air panas juga mengalami kemajuan pesat. Sekarang, selama bukan daerah yang sangat terpencil, hampir setiap komunitas memiliki setidaknya satu fasilitas pemandian air panas.

Kalau dipikir-pikir, sebelum menjadi Komandan Ksatria Suci—saat masih menjadi pelajar—aku sering mengunjungi pemandian air panas di berbagai daerah. Saat itu aku punya teman, dan kurasa kami sering melakukan hal-hal konyol. Terkadang sambil pergi ke daerah pedesaan, kami pergi memburu bandit untuk sekadar menyegarkan pikiran.

Masalah mendesak—kekurangan pasokan—sama sekali tidak menemukan jalan keluar, tapi aku malah teringat hal-hal tidak penting seperti itu.

(Sadarlah. Sekarang bukan waktunya untuk itu.)

Aku memantapkan niat kembali. Bagaimanapun juga, aku butuh amunisi dan pelat dasar untuk penyelarasan Segel Suci. Tidak harus pelat besi berkualitas, papan kayu pun jadi. Tanpa itu, nilai taktis Rhino dan Norugayu akan merosot tajam.

(Pikirkan caranya.)

Cara untuk mendapatkan pasokan. Jika menggunakan cara mencuri secara ilegal, sekarang bisa berakibat fatal bagi unit kawan. Kalau begitu, aku tidak punya pilihan selain meminta pasokan secara baik-baik dari unit yang kooperatif dengan kita.

(Unit yang kooperatif dengan kita?)

Mana ada hal seperti itu. Kalaupun ada, paling hanya orang-orang dari mantan Ksatria Suci Ketiga Belas, dan mereka hanyalah kavaleri. Aku tidak yakin mereka punya sisa amunisi untuk Armor Meriam dan material untuk penyelarasan Segel Suci.

Singkatnya, jalan buntu.

Saat sedang berpikir begitu, aku malah harus melihat hal yang tidak ingin kulihat. Di bawah naungan pohon di tepi sungai, para prajurit berkumpul dan sedang mengocok dadu. Sudah pasti itu judi. Dan tentu saja, ada wajah yang kukenal di antaranya—Tsav. Apalagi hari ini tidak hanya dia. Di sampingnya ada Rhino dan Tatsuya juga.

"Apa yang kalian lakukan?"

Melihat kombinasi yang tidak masuk akal ini, aku terpaksa ikut campur. Padahal aku baru saja melarang Rhino melakukan hal yang tidak perlu.

"Ah! Kakak, sekarang ini benar-benar lagi seru-serunya!"

Tsav melambaikan tangannya dengan riang.

"Setelah sekian lama, keberuntungan akhirnya datang! Kita bisa menang kalau ada Tatsuya-san!"

"Kau... jangan ajari mereka permainan yang aneh-aneh..."

"Bicara apa sih! Padahal kami sedang berusaha membantu menyelesaikan masalah kekurangan pasokan unit kita."

Benar-benar alasan yang konyol. Sisa barang yang dijadikan taruhan oleh penjudi mana mungkin bisa menutupi jumlah yang dibutuhkan untuk pertempuran.

"Kurasa ini lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa," ucap Rhino yang entah kenapa mengacungkan jempol dengan bangga.

"Dalam situasi sulit begini, aku akan berkontribusi dalam pengadaan pasokan meski sedikit. Kamerad Tatsuya sepertinya juga sedang bersemangat hari ini—ayo, giliranmu. Kocok dadunya."

"Gruuuulruuu, ruuuuulguuuge."

Tatsuya mengeluarkan erangan yang tidak jelas, lalu mengocok banyak dadu sesuai instruksi Rhino. Suara dadu dari tulang yang bergulir di dalam mangkuk terdengar nyaring. Judi yang dimainkan mungkin adalah yang disebut 'Zuda-Hare'. Pemain bersaing mendapatkan kombinasi angka tertentu. Karena kombinasi terendah disebut "Zuda" dan kombinasi tertinggi disebut "Hare", itulah asal nama permainannya.

Sekali lempar, Tatsuya mendapatkan angka kembar—kombinasi yang keluar adalah "Oo-Hare". Dan orang-orang di sekitarnya berteriak.

"Apa-apaan orang ini!"

"Keberuntungannya terlalu bagus, bagaimana bisa? Aku menyerah kalau melawan dia."

"Pasti curang. Mana mungkin 'Hare' keluar sesering ini? Hei, kau, kau melakukan sesuatu ya?"

"Vaaaa, kekekekekikikiki!"

"Tolong jangan menuduh sembarangan! Tatsuya-san hanya sedang sangat beruntung!"

Tatsuya mengeluarkan suara aneh seolah tenggorokannya tertarik, sementara Tsav merentangkan kedua tangannya seolah ingin melindunginya.

"Aku saja sejak tadi kalah terus! Rhino-san juga cuma pintar bicara tapi tidak banyak menang."

"Ya. Itu yang aneh. Berdasarkan kalkulasi probabilitas, seharusnya aku bertaruh untuk menang."

"Kalau sudah mulai menghitung probabilitas dalam judi dadu, itu tandanya kiamat! Cepat buang buku catatan penelitianmu yang sama sekali tidak berguna itu!"

Sepertinya yang menang hanya Tatsuya, sementara Tsav dan Rhino sama sekali tidak beruntung. Jika begini terus, paling mereka hanya pulang dengan kemenangan kecil. Artinya, sama sekali tidak bisa diandalkan untuk pasokan logistik.

Aku melambaikan tangan dan berniat pergi. Namun—

"...Omong-omong Kakak, kau sadar tidak?"

Tiba-tiba Tsav berdiri dan berbisik pelan di telingaku.

"Kau sedang diikuti."

"Hah? Oleh siapa?"

"Aku tidak tahu sampai sejauh itu. Bukan aku yang dikuntit, dan aku baru saja merasakan kehadirannya sekilas. Tapi, entah kenapa haus darahnya sangat kuat... ah, tapi entahlah. Mungkin bukan satu orang, tapi sebuah organisasi."

"Bagaimana mungkin sebuah organisasi bisa menyusup ke desa ini dan menguntitku?"

"Mana aku tahu. Jadi..."

Tsav menepuk punggungku.

"Sekarang aku sedang sibuk dengan operasi pengadaan pasokan, jadi Kakak urus saja sendiri dengan baik! Yah, meski pembunuh bayaran pun, kau tidak akan mati, kan? Kalau itu Kakak."

"Jangan memberikan kemungkinan yang mengerikan begitu..."

Suasana hatiku menjadi sangat buruk. Sebagai balasan, aku pun meninggalkan sepatah kata untuk Tsav.

"Omong-omong, tadi Jace yang sedang marah mencarimu, jadi sebaiknya kau cepat kembali ke kandang naga."

"Eh."

Tawa ringan Tsav membeku dengan cara yang jarang terjadi, membuatku merasa sedikit puas saat mulai berjalan pergi.

(Lalu—penguntit, ya.)

Faktanya, aku tidak terlalu percaya diri bisa mengatasi serangan pembunuh bayaran. Orang-orang seperti itu akan menyerang saat ada celah dalam kewaspadaan. Sulit untuk membaca taktik mereka, dan bagi prajurit biasa, bersiap menghadapi mereka itu sulit, butuh ahli untuk melakukannya. Lebih baik aku memancingnya keluar dan menghadapinya segera.

Maka aku mempercepat langkahku. Sampai pada kecepatan di mana lawan pun terpaksa harus bergegas. Aku terus mempercepat hingga hampir mencapai kecepatan lari.

Di sana, aku tiba-tiba berbalik.

(...Apa-apaan ini.)

Aku merasa konyol. Karena aku bisa melihat wajah yang sama sekali tidak terlihat seperti pembunuh bayaran, dengan cepat bersembunyi di balik bayangan pohon kenari. Aku menghentikan langkah dan memanggil namanya.

"Patausche. Apa yang kau lakukan?"

"...Tidak."

Patausche bersedekap sambil bersandar pada pohon kenari. Dengan ekspresi wajah yang sangat masam.

"Aku... tidak sedang melakukan apa-apa? Aku hanya sekadar jalan-jalan."

"Bohong, sejak tadi kau menguntitku, kan?"

"Yah... itu, memang benar aku menguntitmu! Tapi itu untuk mengawasimu agar tidak malas-malasan. Aku belum mengakuimu sebagai komandan unitku."

Patausche mengeluarkan logika yang luar biasa konyol. Komandannya adalah Venetim, tapi aku memilih untuk tidak mengatakannya. Tidak ada gunanya juga.

"Karena kau tampak... sedang galau, tidak seperti biasanya. Aku hanya ingin memperingatkan bahwa dengan kondisi seperti itu, kau tidak akan bisa menjalankan tugas sebagai komandan. Sikap yang membuat anggota unit cemas itu tidak baik."

"Itu benar."

Aku hanya bisa tertawa pahit. Jika dikatakan oleh Patausche yang mantan perwira, aku tidak bisa membantahnya.

"Maaf soal itu. Aku akan bersikap lebih baik."

"Lakukanlah. ...Tapi, jika ada masalah, tidak ada salahnya aku mendengarkannya, kan?"

Sepertinya itu tujuan utamanya. Patausche menatapku dengan mata tajam. Tentu saja. Jika komandan unitnya sedang galau, wajar jika dia ingin mencari tahu penyebabnya.

"Apa masalahnya. Katakan saja."

"Pasokan kita kurang. Semuanya. Aku butuh pasokan segera tanpa mengandalkan Venetim atau Dotta."

"...Eh. Itu... itu... sulit juga, ya."

Apa dia tadi punya kepercayaan diri untuk menyelesaikan masalah apa pun? Setelah ragu sejenak, Patausche mengangguk perlahan.

"Kau, bagaimana caramu mengatur urusan logistik dulu? Sepertinya kau tipe yang payah dalam hal itu."

"Ksatria Suci sudah punya jatah yang ditentukan. Jadi aku tidak terlalu kesulitan. Jika ada bagian yang sangat diperlukan, aku minta tolong pada teman... Tunggu sebentar. Bukankah kau juga payah dalam hal ini?"

"Ke-Kenapa kau berpikir begitu!"

"Aku minta maaf kalau aku salah, tapi kau memang payah, kan?"

"...Dalam kasusku juga... aku lebih sering mengandalkan teman yang pandai dalam lobi semacam itu..."

Patausche menunduk dan menjawab dengan suara agak pelan. Sudah kuduga. Ternyata kami berdua sama-sama payah. Aku tertawa.

"Sama saja, kan."

"Tatapan apa itu! Aku berbeda denganmu! Ya... kalau aku meminta tolong pada mantan rekan di Ksatria Suci Ketiga Belas... mungkin bisa meminjam sedikit..."

"Jangan lakukan itu. Kita tidak punya prospek untuk melunasi, dan mereka juga tidak punya pasokan berlebih. Mau bagaimana lagi."

Maka aku memasukkan tangan ke saku mantel, mencari bungkusan kecil di dalamnya. Saat aku menjulurkan kepalanku, Patausche menunjukkan wajah bingung.

"Apa? Ini apa?"

"Buah kering yang direndam madu. Anggur atau apel. Kau pasti tidak bisa menyiapkan bekal perjalanan sendiri, kan?"

"Belum dibagikan."

"Pasukan Hukuman tidak akan diberi barang seperti ini. Buatlah saat ada waktu luang. Termasuk daging asap juga."

"Tunggu... ini membuatku kesulitan. Aku yang sekarang tidak bisa membalas apa-apa."

"Kalau begitu, balaslah nanti."

"F-Fuwaaa!"

Saat aku memegang tangan Patausche dan memaksanya menggenggam bungkusan itu, dia tiba-tiba mengeluarkan suara seperti teriakan.

"Apa yang kau lakukan!"

"Barang-barang seperti ini dibuat sendiri secara bergantian. Kau juga harus segera bisa membuatnya. Kalau tidak—ah?"

"A-Apa! Ada apa, dengan...!"

Patausche terdiam dan tangannya meraih pedang di pinggangnya. Tapi reaksi itu bisa dimengerti. Karena faktanya, aku pun terkejut. Secara refleks, aku menggenggam pisau. Bersiap untuk mencabutnya dalam satu gerakan.

(Lima orang—atau enam?)

Kami dikepung. Apakah mereka juga yang tadi menguntit? Sekarang aku mengerti maksud Tsav soal 'organisasi'.

Namun, anehnya tidak ada aura permusuhan. Semuanya mengenakan pakaian prajurit. Prajurit dari aliansi bangsawan, mereka menjahit lambang keluarga di pakaian mereka. Singa yang menggigit kapak perang. Keluarga Dasmitea? Kalau dipikir-pikir, ada wajah yang kukenal juga. Prajurit yang tampak seperti anak-anak.

Merekakah orang-orang yang dipaksa berada di posisi paling belakang saat mundur?

"Anu," prajurit muda itu bersuara lebih dulu. Dia melangkah maju satu langkah.

"Hm. Kau."

"Hentikan. Kau tahu sendiri mereka tidak punya niat jahat, kan?"

Aku menahan Patausche yang hampir mencabut pedangnya.

"Siapa kau?"

"Sa-Saya, nama saya Sifrit."

Prajurit muda itu tampak sedikit ketakutan, namun dia mengambil napas dalam-dalam dan bersuara lagi.

"Saya dengar para anggota Pasukan Hukuman sedang... kesulitan dengan pasokan logistik."

"Sedikit, ya. Tapi semua orang juga sedang kesulitan, kan?"

"Tidak. Di unit kami, ada banyak kelebihan. Amunisi, juga pelat dasar untuk penyelarasan Segel Suci."

Aku tidak percaya. Benar-benar sesuai reputasi bangsawan besar Dasmitea. Hebat juga mereka bisa membawanya sampai ke tempat seperti ini. Tapi, kenapa bisa sisa sebanyak itu? —pertanyaan itu terjawab dengan jawaban terburuk.

"Tuan Dasmitea sampai saat ini belum pernah melakukan pertempuran serius sekali pun. Dan, sepertinya beliau juga tidak berencana melakukannya ke depan. Dalam perjalanan berikutnya pun, kami ditempatkan di belakang Ksatria Suci Kesembilan."

"Begitu ya."

Bisa dibilang itu adalah posisi paling aman. Sepertinya keluarga Dasmitea sangat bangga dengan kekuatan politik mereka. Hord Krivios pun sepertinya kesulitan menghadapi mereka.

"...Oleh karena itu, kami ingin kalian menggunakannya. Untuk Unit Pasukan Hukuman."

"Apa katamu? Tunggu sebentar."

"Tolong beri tahu kami barang apa saja yang dibutuhkan. Malam ini akan kami antarkan."

"Aku bilang tunggu. Itu jelas-jelas tindakan ilegal. Apa Dasmitea akan mengizinkan hal itu?"

"Mungkin tidak. Tapi bagi kami, itu tidak masalah."

Mungkin seperti kata Sifrit. Para prajurit keluarga Dasmitea yang ada di sana semuanya menatapku dengan wajah serius. Atau lebih tepatnya, dengan ekspresi seperti sedang berdoa.

"Anda telah menyelamatkan kami."

Seorang prajurit berkata dengan nada berat. Diikuti oleh orang lainnya. Lalu satu orang lagi angkat bicara.

"Jika Anda tidak datang, kami pasti sudah musnah."

"Jika Anda bisa berbuat sesuatu untuk perang ini, kami akan membantu semampu kami. Atasan kami hanya memikirkan diri mereka sendiri, dan paling jauh hanya memikirkan keluarga mereka."

(Tolong, jangan begitu,) pikirku dengan kuat. Aku kesulitan menghadapi wajah-wajah seperti itu. Aku tidak pandai memikul harapan orang lain.

"Kami yakin Unit Pasukan Hukuman-lah yang akan membawa perang ini menuju kemenangan. Kami berpikir begitu."

"...Jangan katakan itu pada orang-orang di sekitar. Nanti kau dikira sudah gila."

"Tidak! Apakah Anda tidak tahu? Prajurit dari unit lain pun begitu. Ada orang-orang yang mengagumi kalian. Terutama... Thunderbolt Hawk, Tuan Xylo Forbartz. Rumor tentang Anda sangat terkenal."

"Apakah Goddess Slayer seterkenal itu?"

"Mana mungkin! Bukan itu. Anda adalah—ah, anu, benar juga. Saya ingin minta tanda tangan Anda—"

"Tunggu. Terlalu dekat."

Tiba-tiba, suara dingin Patausche menyela dari samping. Dia berdiri menghalangi depanku, dan tatapannya membuat Sifrit tampak ciut.

"Kami adalah Pasukan Hukuman. Kontak dengan prajurit biasa tidak disarankan."

"Eh, tidak, tapi tadi di tepi sungai ada tempat judi... anggota Pasukan Hukuman juga ada di sana."

"Itu juga tidak disarankan."

Kata-katanya mengandung tekanan yang tidak bisa dibantah. Sifrit mundur sedikit, mencoba mengatakan sesuatu. Namun akhirnya dia menelannya kembali dan hanya menundukkan kepala.

"...Pokoknya, terima kasih banyak untuk waktu itu. Barang-barang yang kalian butuhkan untuk bertempur pasti akan kami antarkan! Nanti kami akan datang ke tempat kalian!"

"Ya," hanya itu yang bisa kujawab. Seolah itu adalah isyarat, prajurit muda itu segera berlari pergi, dan prajurit lainnya juga menundukkan kepala padaku sebelum meninggalkan tempat itu. Kini tinggal aku dan Patausche saja.

"...Aku yakin kau sudah tahu, tapi ada satu hal yang ingin kukatakan."

Patausche tiba-tiba berbalik. Tatapannya jauh lebih tajam dari sebelumnya.

"Jangan besar kepala hanya karena dipuji oleh gadis muda. Kita harus tahu diri dengan posisi kita."

"Hah?"

"Prajurit yang tadi itu."

"Bocah itu?"

"Bukan bocah. Apa matamu itu buta?"

Aku terdiam. Pantas saja dia terlihat jauh lebih ramping daripada rata-rata prajurit muda seusianya. Terlepas dari itu, masalahnya sudah selesai. Amunisi, dan pelat dasar untuk penyelarasan Segel Suci. Selama ada persediaan, kami bisa bertarung. Aku mengepalkan tangan, lalu membukanya kembali.

Aku merasa bisa melakukannya. Hanya saja—harapan seperti itu benar-benar menjadi beban yang berat.

"...Operasi berikutnya."

Trisill berkata demikian di depan papan strategi. Dia menatap Rentby dengan mata yang memancarkan cahaya redup dari dasarnya. Di wajahnya yang tajam dan rupawan, sekarang aku merasa ada bayangan gelap yang bertambah.

Mungkin karena lengan kanan yang baru. Tanpa sadar Rentby memperhatikan lengan kanan Trisill. Lengan yang seharusnya telah tertebas putus oleh kavaleri musuh waktu itu—di tempat yang seharusnya hilang itu, sekarang ada lengan yang ditutupi sisik hitam dengan kuku-kuku tajam.

Itu adalah lengan milik Fairy.

Fenomena Raja Iblis bernama 'Charon' itu memberikan lengan tersebut kepadanya saat dia kembali dalam keadaan terluka. Charon melemparkan lengan Dullahan yang dipungutnya begitu saja, dan 'Furiae' memerintahkan agar lengan itu ditekan ke luka Trisill.

Sejak saat itu, semuanya tampak seperti sihir jahat. Lengan yang ditempelkan ke bekas potongan lengan Trisill itu menyatu. Lukanya berbuih-buih, dan itu berlangsung selama setengah hari. Selama pengobatan, Trisill tampak merasakan penderitaan yang luar biasa, namun dia membiarkan dirinya diikat di tempat tidur agar tidak bergerak, dan dia berhasil bertahan.

Setelah selesai, dia mendapatkan lengan baru. Lengan yang hitam, janggal, dan membawa firasat buruk.

"Musuh kita adalah Unit Pasukan Hukuman."

Trisill mengeluarkan geraman penuh kebencian.

"Rentby. Kita sudah tidak punya jalan mundur. Bagaimanapun caranya, kita harus menghabisi mereka—masalahnya adalah..."

Rentby bisa membayangkan kalimat selanjutnya.

"Komandan para bajingan Pasukan Hukuman itu. Hangman Fox. Jika kita bisa menghabisinya saja...!"

"Apakah kita akan mencoba melakukan penembakan runduk?"

"Itu sudah pasti. Kita akan lakukan apa pun yang bisa dilakukan."

Mendengar kata-kata Rentby, Trisill menolehkan tatapan matanya yang dingin.

"Kau juga, pikirkan strateginya. Jika kita gagal lagi, nyawa kita terancam. Bagaimanapun caranya, pikirkan cara untuk membunuh Hangman Fox. Tanpa dia, Pasukan Hukuman hanyalah sekumpulan orang tak berguna."

Komandan ini sudah tersudut, pikir Rentby. Mungkin sudah saatnya untuk meninggalkannya. Dirinya masih memiliki hal yang harus dilakukan. Meskipun sekarang dia memihak Raja Iblis, sebenarnya dia ingin bertarung demi umat manusia, dan pada akhirnya ingin dikatakan sebagai orang yang luar biasa.

Mungkin ini hanyalah kesombongan belaka. Meski begitu.

(...Suatu saat aku akan membunuh wanita ini dan menjadi komandannya.)

Dengan begitu, dia bisa bertahan hidup sedikit lebih lama lagi. Jika dia bisa mengambil hati Fenomena Raja Iblis dan berpura-pura menjadi budak yang setia, nyawanya pasti akan sedikit lebih terjamin. Selama masih hidup, kesempatan akan selalu ada.

(Suatu hari nanti, hari itu pasti akan datang.)

Sampai saat itu tiba, dia akan melakukan apa pun untuk tetap hidup. Dia bisa melakukan hal-hal kejam sekalipun. Dia telah menjatuhkan orang lain, mengundang musuh masuk ke kota, dan membunuh orang-orang yang seharusnya dilindungi. Dia membunuh orang tua dan anak-anak dengan alasan pengurangan populasi. Untuk menghapus semua dosa-dosa ini, dia tidak punya pilihan selain terus bertahan hidup.

Dia ingin membuktikan bahwa dirinya sebenarnya tidak jahat, bahwa sebenarnya dia berniat melakukan hal yang benar. Bahwa apa yang dia lakukan sekarang hanyalah kepura-puraan semata.

(Benar—semua ini bohong.)

Hasil bukanlah segalanya. Proses dari tindakan pun seharusnya dipertimbangkan. Jika demikian, karena dia sudah merasa sangat menyesal dan menderita seperti ini, bukankah dia sudah menerima hukuman yang cukup.

(...Jadi, maafkan aku.)

Rentby menatap profil wajah Trisill dengan mata yang gelap.


Hukuman

Pemblokiran Mematikan Ngarai Tuzin 1

Matahari terbit, lalu terbenam lagi. Malam kembali datang menyapa.

Setelah meninggalkan Desa Kelplessi, kami terus berjalan tanpa henti.

Di sela-sela barisan, kami beristirahat sesingkat mungkin dan memakan ransum tempur yang rasanya sangat menjijikkan. Ini adalah ransum terburuk dari yang terburuk yang disebut "Nikufu"—campuran lemak, daging asap, dan buah kering yang ditumbuk menjadi satu. Aku diam-diam bersumpah suatu hari nanti akan memperbaiki ransum ini dari dasarnya.

"Aku akan menjelaskan operasinya," ucapku pada Venetim sambil mencoba membilas rasa Nikufu dari mulutku dengan air.

"Pasukan Hukuman kita akan bertugas sebagai pasukan belakang untuk melakukan pertempuran penahan."

"Begitu ya. Jadi kita menjadi pasukan belakang untuk pertempuran penahan—begitu?"

Venetim bersedekap dan mengangguk sambil mengelus dagunya, tapi aku sama sekali tidak mempercayai sikapnya itu.

"Kau dan Tatsuya harus bergerak bersama Hord dan yang lainnya. Sebagai pengawal untuk berjaga-jaga. Aku sudah mendapatkan izin untuk itu."

"Eh?"

"Karena saat ini, di dalam pasukan kita, kalian adalah kekuatan tempur tunggal terkuat. Jika terjadi sesuatu yang buruk, setidaknya kalian bisa mengulur waktu."

"Sesuatu yang buruk...? Lalu, apa peranku?"

"Sesuatu yang buruk ya sesuatu yang buruk. Tugasmu adalah mengendalikan Tatsuya. Lagipula kau tidak akan berguna jika terjadi tawuran di pihak sini."

"Benar juga. Saya punya kepercayaan diri soal itu."

"Kau jujur sekali, ya."

Venetim mengangguk sambil tersenyum, jadi aku hanya bisa tertawa pasrah, dan urusan pun selesai. Sejak awal Venetim memang tidak punya opini militer, jadi dia malah senang mengikuti unit Hord. Mungkin dia pikir itu lebih aman daripada menjadi pasukan belakang. Dia tidak salah.

(Dengan ini, semua yang bisa dilakukan sudah selesai.)

Sisanya hanyalah bergerak secepat mungkin. Kami harus mencapai Gunung Toujin sesegera mungkin.

Angin dingin mulai berembus. Tengah malam nanti mungkin salju akan turun lagi. Aku mengembuskan napas putih dan menatap tajam Gunung Toujin yang menjulang di Utara.

Norugayu dan dua ratus zeni yang ditempatkan di bawahnya telah berangkat lebih dulu dari kami. Mereka punya tugas yang harus dilakukan. Yaitu memasang jebakan di wilayah Barat Laut.

Spesifiknya, aku menginginkan jebakan tipe yang dipasang secara luas dan tersebar. Jika para Fenomena Raja Iblis mencoba mengejar pasukan utama, setidaknya itu bisa menghambat langkah mereka sedikit. Jika itu Norugayu, dalam waktu singkat ini dia pasti akan melakukan pekerjaan yang lebih baik dari yang kubayangkan.

Sesaat sebelum berangkat, aku sempat berbincang sedikit dengan Norugayu.

"Merneatis dan Raequel adalah adik perempuan dan laki-lakiku yang memiliki darah yang sama denganku."

Yang Mulia, yang entah bagaimana sudah bisa bergerak kembali, memperingatkanku dengan tegas.

"Panglima Xylo, kuserahkan mereka padamu. Lindungi mereka berdua. Mengerti?"

"Aku mengerti."

Dia menatapku dengan tatapan mata yang mengerikan, tapi sejujurnya, aku tidak bisa berbuat banyak. Mereka berdua adalah bangsawan. Mereka akan bergerak di tempat yang paling aman mengikuti Hord dan yang lainnya. Untuk berjaga-jaga, aku juga menempatkan Tatsuya bersama mereka.

"Kau sendiri, pastikan pekerjaanmu beres, ya."

"Tentu saja. Akan kubuat mereka menyesal karena telah menduduki Ibu Kota Kedua milikku."

"Kau punya bawahan sekarang, jadi jangan bertengkar dengan mereka."

Sejujurnya, itulah yang paling kukhawatirkan.

Saat perkenalan pertama, Norugayu tiba-tiba mengaku sebagai Raja dari Kerajaan Persatuan di depan para zeni. Seorang zeni yang mungkin masih muda bertanya dengan jujur, "Apa maksud Anda dengan Yang Mulia?", dan langsung dibalas dengan makian kemarahan yang hebat.

Jika Venetim tidak segera menolong, hal itu mungkin akan memicu kebingungan dan keributan yang tidak perlu.

"Itu bukan pertengkaran! Itu adalah teguran yang benar. Terlalu banyak orang yang bicara tidak sopan padaku."

"Itu... mungkin karena mereka tegang."

Karena aku tidak ingin merusak suasana hati Yang Mulia di saat seperti ini, aku hanya asal bicara. Jika itu Venetim, apakah dia akan mengatakan sesuatu yang lebih baik?

"Prajurit rendahan mana mungkin tahu cara bicara kepada seorang Raja."

"Hmm... mungkin benar. Pendidikan memang diperlukan."

Yang Mulia Norugayu mengelus janggutnya dan bergumam dengan tatapan mata yang tajam.

"Situasi saat ini di mana akademi dimonopoli oleh kuil sangatlah tidak baik. Kita harus membuka kas negara dan membangun akademi kerajaan. Dengar, Panglima Xylo. Kekayaan sebuah negara itu pertama-tama harus dibangun dari dasarnya..."

Karena ceritanya sepertinya akan panjang, aku diam-diam menutup hatiku.

Konsep negara Yang Mulia Norugayu terdengar sangat sia-sia, dan yang terpenting, aku sama sekali tidak mengerti. Setelah membiarkan Yang Mulia menceritakan visi besarnya, aku memintanya berangkat menuju Utara.

Setelah Norugayu dan pasukannya pergi duluan, diikuti Dotta dengan segelintir pasukan, barulah barisan utama mulai bergerak.

Sambil mengerahkan pengintai, kami maju melewati daerah perbukitan dengan kecepatan maksimal.

Dari Desa Kelplessi ke Gunung Toujin memakan waktu sekitar satu hari lebih sedikit jika berjalan tanpa istirahat—setelah itu barulah kami mulai mendaki.

Seberapa banyak kami bisa memangkas waktu perjalanan?

Jika pihak Fenomena Raja Iblis menyadari pergerakan kami, mereka pun pasti akan mulai bergerak.

Mereka pasti akan segera sadar bahwa menutup komunikasi dengan Kota Jof adalah hal yang sia-sia.

"Xylo. Apa menurutmu mereka sudah menyadari pergerakan kita?"

Di tengah perjalanan, Patausche memacu kudanya ke sampingku.

"Apakah kita bisa mencapai Gunung Toujin atau tidak. Bagaimana prediksimu?"

Mungkin ini hanya sekadar basa-basi.

Bukannya dia ingin membicarakan taktik sekarang. Dia hanya ingin meredakan ketegangan. Kurasa Patausche memiliki pengetahuan militer dan kemampuan memimpin yang cukup sebagai pemimpin ksatria suci, tapi mengingat usianya yang masih muda, dia mungkin sangat kurang dalam pengalaman tempur yang sesungguhnya.

Aku mulai memahami sosok bernama Patausche Kivia ini sedikit demi sedikit.

Mungkin karena alasan "sedang dalam tugas", dia tidak tahu bagaimana cara berbasa-basi selain topik kaku seperti ini. Di Pasukan Hukuman, tidak ada prajurit yang benar-benar berperilaku layaknya prajurit seperti dia.

Jika ini Tsav, dia pasti akan tanpa ragu melemparkan obrolan sampah yang tidak penting atau cerita masa lalu yang tragis, dan jika ini Venetim, dia akan mulai membual tanpa ada kaitannya dengan apa pun.

Maka aku menjawab dengan santai.

"Kalau beruntung, kita akan sampai."

"Mengandalkan keberuntungan?"

"Kurasa kita punya peluang menang yang cukup jika keberuntungan memihak kita."

"Pria yang aneh. Kau selalu begitu. Apa kau tidak berniat berpikir serius?"

Kata-katanya tajam, tapi tidak bersungguh-sungguh. Aku merasa dia hanya tidak tahu cara lain untuk mengatakannya. Faktanya, Patausche tampak sedikit tersenyum.

"Tapi, mau tidak mau kita memang harus berdoa untuk keberuntungan. Taruhan ini, jika menang, akan menjadi langkah besar untuk merebut kembali Ibu Kota Kedua."

"Mengejutkan. Patausche, kau suka judi?"

"Aku tidak melakukan hiburan dekaden seperti itu."

"Berarti kau payah, ya. Jika ada orang yang payah dalam taruhan, aku jadi cemas soal arah operasi ini."

"...Aku tidak payah. Seharusnya. Hanya saja, aku tidak melakukannya. Karena itu dekaden!"

Hanya itu yang dia katakan sebelum memacu kudanya lebih cepat, kembali ke barisan kavaleri.

Segitu saja sudah cukup. Ketegangannya pasti sudah reda. Entah kenapa, bertukar kata dengan prajurit yang benar-benar berperilaku seperti prajurit terasa sangat merindukan.

—Namun, di tempat ini ada satu orang lagi yang mendengar ucapanku.

"Mengandalkan keberuntungan, itu adalah ucapan yang bermasalah, Xylo Forbartz."

Hord Krivios. Tanpa sadar dia sudah ada di belakangku—dengan Pelmelly yang mengikutinya, dia mengendalikan kendali kuda dengan wajah muram. Sepertinya dia menelan bulat-bulat ucapanku soal "mengandalkan keberuntungan".

"Operasi ini adalah sesuatu yang juga kusujui dan kuterima. Kumohon berhentilah mengeluarkan ucapan yang merendahkan keputusan itu."

"Yah, maaf soal itu."

Karena malas meladeni, aku melambaikan tangan untuk mendiamkannya.

"Maaf aku banyak bicara hal yang tidak berguna."

"Aku sudah lama memikirkan ini, tapi sikapmu benar-benar buruk, Xylo Forbartz. Sejak dulu saat kau masih menjadi pemimpin ksatria suci kelima, aku sudah berpikir bahwa posisi itu adalah sebuah kesalahan."

Sepertinya aku sangat dibenci. Kalau diingat kembali, saat aku masih menjadi pemimpin dulu, aku tidak punya kesan yang kuat terhadap pria bernama Hord ini. Karena kami hampir tidak pernah mengobrol. Tapi, apakah itu hanya karena aku dibenci? Aku baru menyadarinya sekarang.

Hord menatapku tajam seolah sedang melihat sesuatu yang terkutuk.

"Pemikiranku ternyata benar. Pilihanmu sebagai ksatria suci, memang adalah sebuah kesalahan."

Aku mencoba membalas sesuatu. Karena itu adalah topik yang tidak terlalu kuberikan perhatian. Bahwa aku pernah menjadi pemimpin ksatria suci, mungkin memang sebuah kesalahan.

Membunuh Goddess—ksatria suci seperti itu tidak seharusnya ada. Mengenai kebenaran di baliknya, aku tidak berpikir orang lain akan percaya meski aku menceritakannya.

Selain hinaan tentang Cenerva, aku sudah terbiasa menerimanya dalam diam.

Namun, di tempat ini ada seseorang yang tidak bisa diam saja.

"Cukup sampai di situ. Ucapan Anda sudah keterlaluan."

Yang melongokkan wajah dari punggungku dan menegurnya tentu saja adalah Teoritta. Meskipun sudah bisa bergerak setelah istirahat semalam, dia masih tidak banyak bicara. Sebagai gantinya, sekali dia bicara, dia akan bicara banyak sekaligus seolah ingin melampiaskan kekesalan.

"Xylo adalah ksatria suci pilihanku."

Sejak berangkat tadi, dia terus memainkan Bisty (Batu Pemanas Abadi) yang kumasukkan ke dalam kantong jaketku. Karena terasa geli, aku ingin dia menyentuh miliknya sendiri, tapi sepertinya dia sama sekali tidak berniat mendengarkan.

Bisty adalah alat Segel Suci yang sering digunakan dalam perjalanan barisan di musim dingin, dan memiliki fungsi menghasilkan panas.

Karena segel suci diukir pada batu mineral dari Zewan-Gun, harganya cukup mahal. Di dalam barang bantuan dari keluarga Dasmitea, bahkan ada barang-barang mendetail seperti ini. Persiapan mereka sepertinya sangat lengkap.

"Hord Krivios. Aku tidak mengizinkan ucapan tidak sopan terhadap ksatriaku."

"...Itu adalah—"

Hord tampak bingung sejenak. Dia pasti tidak tahu bagaimana harus bersikap terhadap keberadaan yang terlalu istimewa ini, seorang Goddess yang tergabung dalam Pasukan Hukuman.

Namun, dia segera memicingkan mata dan akhirnya memilih untuk mengikuti prinsipnya sendiri.

"Maafkan saya, Goddess Teoritta."

"Baguslah jika Anda mengerti. Terpilihnya Xylo dulu, sama sekali bukan sebuah kesalahan."

Teoritta mendengus bangga.

Lalu, meski sebaiknya tidak dilakukan, dia tersenyum kepada Pelmelly yang tampak ketakutan di belakang Hord. Aku merasa itu adalah senyum seolah sedang menasihati adik perempuannya.

"Goddess Pelmelly. Kurasa Anda harus membimbing cara bicara ksatria Anda. Memang butuh usaha keras, tapi membimbing manusia adalah tugas kita."

"...Eh... itu, iya. Saya mengerti. Tapi..."

Pelmelly sedikit menunduk. Dengan begitu, rambut hitam panjangnya menutupi matanya, sehingga ekspresinya tidak terbaca dengan jelas.

"...Ksatria saya, Hord, sama sekali tidak bermaksud buruk dengan ucapannya. Hanya saja... dia sedikit terlalu perfeksionis, atau..."

"Jangan bicara yang tidak perlu, Pelmelly."

Hord dengan cepat memotong kata-katanya.




"Aku benci orang yang mengabaikan disiplin dan bertindak sesuka hati. Mengarang kebohongan yang tidak masuk akal, mencuri pasokan, dan bersikap sewenang-wenang. Saat aku berhasil mendapatkan buktinya nanti, aku akan segera menghukum kalian tanpa ampun."

"Begitu ya."

Semoga saja kau bisa melakukannya, pikirku.

Bahkan para Inspektur Mobilisasi dari Kantor Administrasi Persatuan yang sangat mereka banggakan saja tidak bisa menangkap orang-orang ini sampai saat-saat terakhir.

Bagaimana dia bisa melakukannya sambil menjalankan tugas utamanya memimpin pasukan?

"Kau orang yang sangat serius, ya. Aku jadi paham kenapa kau bisa menyatukan prajurit sebanyak ini saat sedang dipukul mundur."

Prinsip militer tentang 'Penghargaan dan Hukuman yang Tegas' memang sering diucapkan, namun perwira yang benar-benar bisa menjalankannya secara konsisten adalah sosok yang sangat berharga.

Jika ingin memimpin tentara dengan semacam "kebersihan" moral seperti itu, dia sendiri harus menjadi perwujudan dari disiplin itu sendiri. A

tau, dia harus punya wakil komandan hebat yang mau melakukan pekerjaan kotor untuknya.

Dulu, saat aku masih menjadi Ksatria Suci, unitku adalah tipe yang kedua. Aku menyerahkan tugas memarahi bawahan kepada wakil komandanku. Itulah sebabnya, meski tipe seperti Hord ini menyebalkan, aku tidak membencinya.

"Tolong biarkan prajuritmu bertahan hidup sebanyak mungkin."

"Itu adalah hal yang wajar dilakukan bagi seorang komandan. Pujian semacam itu tidak akan mengubah perasaan suka atau benciku, dan aku tidak berniat mengubah perlakuanku pada kalian hanya karena perasaan pribadi," ucap Hord tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Aku tahu dia bicara sungguhan.

Itu artinya, meskipun Hord membenci kami, selama kami menjalankan pekerjaan kami, kami tidak akan saling menjegal. Sangat mudah dimengerti.

"...Anu... bagaimana menurut Anda? Kontraktor saya juga... k-ksatria suci yang luar biasa, kan?" Pelmelly tersenyum canggung. Hal ini sepertinya memicu rasa persaingan dalam diri Teoritta.

"Yah, dia lumayan juga, kurasa. Tapi, Xylo-ku juga luar biasa, lho. Sama sekali bukan berlebihan jika kukatakan dia sangat, sangat luar biasa! Sekarang akan kujelaskan secara mendetail, pertama-tama—"

Hentikan, aku baru saja hendak mengatakannya, tapi pada akhirnya aku tidak perlu menghentikannya.

Sebab, suara terompet tanduk bergema, menenggelamkan suara Teoritta. Suara itu panjang melengking, ditiup dua kali. Berasal dari arah Barat—para pengintai yang dikerahkan ke sana sedang mengirimkan sinyal.

Artinya, musuh telah ditemukan.

"Mereka datang. Pergerakan kita ketahuan. Pasukan musuh dari arah Barat Daya, jumlahnya ribuan."

Hord menyentuh sesuatu yang tampak seperti perisai kecil yang terpasang di sabuk pinggangnya.

Itu adalah benda yang diukir dengan Segel Suci untuk komunikasi. Mereka menyebutnya Wind Echo Seal atau Echo. Harganya jauh lebih mahal daripada Bisty, dan jika ukurannya sekecil itu, nilainya pasti cukup untuk membuat Dotta tidak bisa melepaskan pandangannya.

"Semuanya, pakai armor kalian! Persiapan tempur!" teriak Hord, lalu dia mengenakan sesuatu yang tampak seperti topeng ke wajahnya. Itu adalah topeng baja berwarna abu-abu kusam yang menutupi seluruh wajah, terlihat sangat menyeramkan. Jadi ini adalah Poison-Breaker Mask yang terkenal dari Ksatria Suci Kesembilan. Ini pertama kalinya aku melihatnya secara langsung. Katanya mereka melindungi diri seperti ini saat bertempur agar bisa bertarung bersama Goddess Pelmelly yang menggunakan racun secara taktis.

"Kau bisa melakukannya, kan, Pelmelly?"

"...Iya. Sebelum itu... maukah Anda mengatakan bahwa... jika itu aku, aku pasti bisa melakukannya, Hord?"

"Jika itu kau, kau pasti bisa."

"Kalau begitu... aku bisa."

Pelmelly yang sedari tadi menunduk sedikit menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. Aku jadi paham kenapa sikap Hord terhadap Pelmelly terasa begitu dingin dan mekanis. Hord adalah orang yang terlalu serius. Dia mencoba melakukan apa yang diminta, persis seperti yang diminta.

Dia percaya bahwa itulah perlakuan yang benar. Aku merasa begitu.

"Xylo. ...Kami akan melakukan terobosan ke Utara dengan kekuatan penuh. Pasukan Hukuman, tahan musuh yang mengejar. Begitu kami mengamankan posisi, aku akan memberi sinyal. Sampai saat itu tiba, kalian harus mengulur waktu."

"Kata 'harus' itu agak merepotkan, ya. Tidak ada yang pasti di medan perang."

Sengaja aku bicara dengan gaya yang dibenci Hord.

"Tapi, aku akan mencobanya agar kau tidak punya alasan untuk mengeluh."

Bagi lawan yang perfeksionis seperti ini, 'berusaha agar tidak dikeluhkan' adalah tugas yang sangat berat.

Untuk membungkam Hord, aku tidak punya pilihan selain menang telak.

—Dan jika itu tidak berhasil, kehancuranlah yang menanti kami.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close