Perintah Siaga
Benteng Myurid 1
Bagi
penjahat seperti kami yang menyandang status Ksatria Hukuman, konsep liburan
itu tidak ada.
Sebab,
penanganan yang seharusnya adalah membelenggu dan mengurung kami di dalam sel
tahanan. Namun, status "siaga" itu nyata adanya. Itu adalah celah di
antara tugas eksekusi, atau masa persiapan sebelum hukuman yang lebih berat
dijatuhkan.
Kami
dilarang keluar masuk area selain blok yang telah ditentukan, tetapi masih
memungkinkan untuk menghabiskan waktu dengan istirahat—atau sesuatu yang
menyerupainya. Kami boleh
minum teh di kantin, atau menggunakan fasilitas latihan. Tatsuya, misalnya,
kerjaannya cuma berjemur terus.
Meski begitu, aku
tidak punya niat untuk jalan-jalan ke luar. Pasalnya, hari ini Benteng Myurid tempat kami
bermarkas sedang sangat ramai.
(Merepotkan
saja,) pikirku.
Di hari seperti ini, paling benar adalah menghabiskan waktu dengan membaca
buku.
Walaupun
statusku Ksatria Hukuman, selama berada di dalam militer, tidak sulit untuk
mendapatkan buku hiburan. Maka dari itu, aku memutuskan untuk berbaring di
lantai dan tenggelam dalam bacaanku.
Hari ini
adalah hari "Pasar Besar" yang diadakan sepuluh hari sekali.
Ini bisa
dibilang pasar kecil. Bukan kedai biasa yang menetap di benteng, melainkan
pedagang utusan dari Perusahaan Pengembangan Vercle yang datang untuk menjual
kebutuhan sehari-hari dan barang hobi di halaman tengah. Yang populer biasanya
adalah miras, rokok, jasa pengiriman surat, dan berbagai macam kembang gula.
Prajurit
membeli barang-barang tersebut menggunakan uang kertas imitasi yang disebut
"skrip militer". Ini diterbitkan oleh Galtuill dan bisa digunakan
sebagai pengganti uang tunai. Secarik kertas dengan jaminan bahwa nantinya bisa
ditukarkan dengan uang sungguhan jika dibawa ke kantor administrasi kota mana
pun.
Oleh
karena itu, banyak prajurit yang berkumpul di Pasar Besar. Tentu saja
orang-orang dari Orde Ksatria Suci ke-13 juga membaur di sana, dan aku tidak
sudi bertatap muka dengan mereka.
Selain
itu, aku juga punya tugas mengurus Yang Mulia Norgalle—karena Beliau, yang
kehilangan kaki kanannya dan dikirim kembali dari bengkel perbaikan bersama
Dotta, tampaknya cukup kesulitan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
"Panglima!
Panglima Xylo! Di mana kamu!"
Sambil
berteriak-teriak kencang, Yang Mulia Norgalle berjalan di lorong dengan bunyi
langkah kaki yang kaku dan keras.
"Pedangang
keliling sudah datang. Aku ingin minum miras! Anggur merah. Pergi beli
sana!"
Sejak
kembali dari bengkel perbaikan, delusi Yang Mulia Norgalle semakin parah. Dia
mulai memanggilku 'Panglima', dan Tatsuya 'Jenderal'.
Ingatannya
pun tampaknya banyak yang hilang; dia hampir tidak ingat apa pun soal kejadian
di dalam terowongan. Dia menganggap kami para Ksatria Hukuman sebagai pasukan
pengawal pribadinya. Selain itu, kaki kanannya sepertinya tidak bisa
beregenerasi dengan sempurna, sehingga diganti dengan kaki palsu dari kayu.
Kuil saat ini sedang dalam proses memilih mayat agar bisa mengambil kaki kanan
mereka sebagai pengganti untuk Beliau. Ini semua salah tubuh Beliau yang
terlalu besar.
"Panglima
Xylo! Kamu di sini!"
Yang Mulia Norgalle
membuka pintu kamar yang dialokasikan untukku dengan kasar. Seluruh tubuhnya
masih dibalut perban di sana-sini—mungkin ada bagian yang belum menempel dengan
kuat.
"Pedagang
sudah datang. Segera belikan miras untukku."
"Yang Mulia,
apa kamu punya uang?"
Mau tidak
mau, aku bangkit dan duduk bersila.
"Sebenarnya
kas kerajaan kita sedang kosong, lho. Beli miras saja tidak mampu."
"Apa katamu?
Sampai semiskin itukah kita? Di mana Menteri Keuangan, apa yang dia
lakukan!"
Sejujurnya, skrip
militer milik Yang Mulia Norgalle—meskipun jatahnya turun—langsung ludes dalam
sekejap. Itu karena dia memakainya untuk miras dan makanan mewah. Beliau
sendiri yang pelupa tidak ingat akan hal itu.
"Kalau
memang ingin minum, pergi beli sendiri pakai utang sana," usulku sebagai
solusi yang masuk akal.
"Aku
sedang sibuk, lagi meninjau literatur penting. Perintah saja Benetim."
"Perdana
Menteri itu sedang mengawasi Dotta."
"Oh,
begitu."
Kalau
dipikir-pikir, benar juga. Karena Dotta sudah kembali dan hari ini adalah hari
Pasar Besar, perlu ada pengawas. Anak itu harus dirantai dan diawasi ketat.
Karena Benetim adalah komandan secara nominal, tugas itu diberikan padanya.
Tatsuya jelas tidak bisa melakukan pekerjaan seperti itu.
"Kalau
begitu, ada Zhurv."
Aku menyebutkan
nama satu orang lagi yang baru saja kembali dari misi lain.
"Pinjam saja
padanya."
"Zhurv sama
sekali tidak bisa diandalkan. Dia terlalu boros dan sangat payah dalam berjudi.
Bukankah dia pasti sudah menghabiskan semuanya?"
"Tidak,
kabarnya dia akhirnya dilarang masuk ke tempat judi di benteng ini. Uangnya
tidak akan terpakai kecuali di hari seperti sekarang. Kalau buru-buru, kamu
masih sempat."
"Terpaksa,
ya."
Beliau
mengangguk mantap lalu berbalik pergi. Dengan begini, aku bisa menyerahkan
urusan orang berisik ini kepada Zhurv.
Zhurv adalah
penembak jitu di unit kami. Dia pria yang ahli—tapi mengingat dia dijebloskan
ke unit Ksatria Hukuman, kepribadiannya sudah bisa ditebak. Dia itu bajingan
yang dulunya seorang pembunuh bayaran.
Seharusnya dia
dikirim sendirian ke garis depan bagian barat, tapi apakah tugasnya berjalan
lancar? Karena dia kembali dengan anggota tubuh yang masih lengkap, mungkin dia
sudah menyelesaikan perannya. Berhasil menembak targetnya, barangkali.
—Pokoknya,
sekarang sudah tenang.
Aku kembali
berbaring. Sampai Pasar Besar selesai nanti, aku akan menghabiskan waktu luang
di sini.
Namun, biasanya
justru di saat seperti inilah orang-orang berisik datang silih berganti.
"Ksatria-ku!"
Yang melompat
masuk bersama langkah kaki ringan adalah Sang Goddess.
"Xylo,
ternyata kamu di sini. Aku mencarimu, tahu."
"Ada
apa?"
"Kamu
tidak pergi ke Pasar Besar? Aku pikir kamu pergi berbelanja."
"Aku
tidak mau bertemu para Ksatria Suci."
Kalau
cuma dipelototi sih masih mending, tapi kalau mereka mulai cari gara-gara, aku
bisa repot. Belum lagi kalau mereka mulai menyindir atau mengejek.
(Jangan
bercanda, deh.)
Jika itu terjadi,
aku tidak yakin bisa menahan sabarku.
"Kalau
begitu, bangunlah dan bermain denganku."
Teoritta
menatap wajahku yang sedang berbaring dengan angkuh. Bayangannya menutupi
wajahku.
"Teoritta
sendiri, tidak ke Pasar Besar?"
"...Aku
ini seorang Goddess, tahu! Aku tidak tertarik dengan hal seperti
itu."
Jelas-jelas
bohong, tapi mungkin memang terpaksa. Memang benar, jika ditanya apakah seorang
Goddess bisa bebas menggunakan Pasar Besar, jawabannya tidak. Karena
dituntut untuk berperilaku tanpa kehilangan wibawa sebagai Goddess, dia
butuh izin dan pengawasan dari Ksatria Suci atau pendeta.
Dugaanku, Kivia
maupun pendeta militer itu sedang sibuk. Terutama karena mereka harus
menentukan nasibku dan Teoritta ke depannya.
"Karena kamu
juga luang, Xylo, aku akan memberimu kehormatan untuk bermain denganku. ...Kamu
senang, kan?"
Di salah satu
tangan Teoritta yang bertanya demikian, dia mendekap sebuah kotak kecil. Isinya
adalah satu set papan permainan dan bidaknya.
Tergantung
daerahnya, nama permainan ini berbeda-beda, tetapi papan permainan semacam ini
biasanya disebut "Jig". Pemain menggerakkan bidak bertanda untuk
saling merebut wilayah.
Karena aturannya
sederhana, dari anak-anak sampai orang dewasa memainkannya. Ini pembunuh waktu
yang bagus. Di militer pun cukup banyak yang mahir, bahkan sering jadi bahan
taruhan.
Tiga hari yang
lalu aku mengajari Teoritta cara bermain "Jig" karena dia kebosanan
saat masa siaga. Sejak saat itu, setiap ada waktu luang, dia selalu datang
membawa papan itu. Aku merasa telah melakukan kesalahan besar, tapi sudah
terlambat.
"Aku juga
sudah berlatih keras. Aku tidak akan kalah semudah itu."
"Padahal
kita baru main tadi malam."
"Barusan
aku belajar taktik tingkat tinggi dari Benetim. Huhun. Ini adalah cara
bertarung bernama 'Tombak Tersembunyi' yang dulunya digunakan di istana
Kerajaan Meto—"
Kalau lawannya
Benetim, dia pasti sedang ditipu, pikirku. Namun aku memilih diam. Taktik
bersejarah biasanya berarti taktik yang sudah ketinggalan zaman.
Saat Teoritta
hendak menyusun bidak di papan, aku menghentikannya dengan satu tangan.
"Aku sedang
sibuk. Lagi baca buku."
"Eeeh...
buku? Kalau buku kan bisa dibaca nanti."
Sambil
berkata begitu, Teoritta tampak tertarik dengan apa yang sedang kubaca. Dia
mengintip ke arah tanganku.
"Tak
disangka Xylo suka membaca. Kamu
sedang baca apa? Apa ceritanya menarik?"
"Puisi. Buku
kumpulan puisi."
"Kumpulan
puisi! ...Xylo, ...kamu?"
Dia sangat
terkejut. Mata Teoritta membulat. Benar-benar di luar dugaan baginya. Kenapa
dia harus sekaget itu, sih?
"Puisi
seperti apa? Aku jadi penasaran. Aku akan memberimu kehormatan untuk
membacakannya untukku."
"Ditolak."
"Mugh."
Mendengar
penolakanku yang instan, pipi Teoritta menggembung sesaat.
"Kalau
begitu, tidak perlu dibacakan. Aku juga bisa baca sendiri... Tidak apa-apa kan
kalau aku ikut membaca di sampingmu! ...Boleh, kan?"
"Jangan.
Kurasa ini bukan jenis kumpulan puisi yang disukai oleh seorang Goddess."
Aku menutup buku
itu. Judulnya "Naga Mabuk". Puisi dari zaman kuno.
"Ini karya
Altoyard Comette. Penyair pemabuk. Dia dipecat dari istana dan mengasingkan
diri di gunung—di masa tuanya dia mulai berdelusi ingin jadi naga, tiap malam
latihan terbang, dan akhirnya mati karena jatuh."
"Hoo...
orang yang aneh, ya."
"Penyair
di zaman itu memang banyak yang seperti itu."
Dan puisi semacam
itulah yang aku suka. Jika aku tidak jadi tentara, mungkin aku akan mencoba
menjadi penyair. Karena kelihatannya santai.
"Ya
sudahlah. Kalau kamu seluang itu, aku akan menemanimu main 'Jig'."
Aku juga tidak
tenang kalau dia membaca buku di sampingku. Aku memutuskan untuk berhadapan
dengannya di papan permainan—toh cuma untuk membunuh waktu sampai Pasar Besar
berakhir.
"Iya!"
Tepat saat Teoritta
menunjukkan senyumnya...
"...Xylo
Forwards."
Seorang
pengunjung baru muncul di ambang pintu kamar. Sosok wanita asing berambut hitam
yang jangkung. Siapa—pikirku sejenak, tapi itu cuma ilusi.
Karena dia
biasanya memakai baju zirah lengkap, kesannya jadi berbeda saat dia memakai
seragam militer. Apalagi rambut hitamnya dikepang rapi.
Itu Kivia. Dia
sendirian, tanpa pengawal.
Artinya, ini
bukan penjemputan paksa. ...Kalau begitu, ada urusan apa dia ke sini?
"Ternyata
kamu di sini, bukan di Pasar Besar. ...Aku tidak menyangka Goddess Teoritta
juga bersamamu."
"Seorang
Komandan Ksatria Suci yang mulia, sampai sudi datang jauh-jauh ke tempat
seperti ini."
Aku tidak bisa
menahan nada bicaraku agar tidak terdengar sarkastis.
"Apakah
akhirnya nasib kami sudah diputuskan, atau ada perintah untuk misi
berikutnya?"
"...Keduanya
benar. Namun, urusanku berbeda."
Kivia
sedikit mengernyitkan dahi. Mungkin dia tidak suka dengan cara bicaraku.
"Ikut aku, Xylo."
"Ke mana? Ke
ruang penyiksaan di penjara bawah tanah?"
"Bukan."
Kivia tampaknya
sama sekali tidak paham dengan candaanku. Dia membantahnya dengan wajah
serius. Namun, permintaan yang dia
ajukan setelahnya sungguh di luar dugaan.
"Aku...
ingin bicara denganmu. Di mana saja tidak masalah."
Lalu Kivia
menatapku dengan tajam. Aku
merasa seolah sedang ditantang berduel.
"Bagaimana.
Kamu mau, atau tidak. Jawab."
Apa-apaan itu,
pikirku. Namun kalau dipikir-pikir lagi, aku tidak punya hak untuk menolak.
"Boleh saja,
tapi bolehkah aku yang menentukan tempatnya?"
"Katakan.
Akan kupenuhi sejauh yang aku bisa."
"Di
Pasar Besar di halaman tengah. Aku ingin belanja. Dan juga, aku akan membawa Teoritta."
"Eh!"
"Mu..."
Berlawanan dengan
Kivia yang entah kenapa terdiam ragu, wajah Teoritta langsung mendongak dengan
antusias. Matanya berbinar-binar. Dia menatapku dan Kivia bergantian dengan
pandangan penuh harap.
"Xylo,
Kivia, ayo kita bicara! Ayo lakukan sekarang juga! Menurutku itu ide yang
bagus!"
"...Baiklah.
Aku mengerti."
Setelah
hening sekitar sepuluh detik, Kivia mengangguk.
"Akan
kupenuhi permintaanmu. ...Kita ke halaman tengah!"
Pernyataan itu
terdengar persis seperti aba-aba untuk maju berperang.
Perintah Siaga
Benteng Myurid 2
Benteng Myurid,
tempat kami para Ksatria Hukuman tinggal—ralat, dikurung—dibangun untuk memutus
akses dari wilayah utara menuju ibu kota kerajaan.
Benteng ini bisa
disebut sebagai benteng alami karena dilindungi oleh sungai dan tebing. Nama
lainnya adalah "Sarang Burung Migran". Berkat lokasinya, pemandangan
di sini sangat luar biasa. Terutama pemandangan Sungai Besar Kadu Tai dari atas
menara saat senja, benar-benar pemandangan yang spektakuler.
Sungai Besar Kadu
Tai juga merupakan urat nadi kehidupan benteng ini. Benteng ini telah menjadi
titik pertahanan penting untuk menerima pasokan dari kota pelabuhan Yof dan
menangani Fenomena Raja Iblis yang datang dari utara lebih awal. Seiring dengan
meningkatnya Fenomena Raja Iblis dan hilangnya wilayah negara secara
berturut-turut belakangan ini, tingkat kepentingan benteng ini pun terus
meroket.
Karena alasan
itulah, Perusahaan Pengembangan Vercle yang serakah itu tidak tinggal diam. Mereka mengirim banyak pedagang ke
Pasar Besar, dan pasokan barang untuk menjaga moral para prajurit pun sangat
lengkap.
"Sisanya,
tinggal perlu perempuan saja."
Begitulah
pendapat Dotta dan Zhurv, tetapi meskipun toko semacam itu ada, mana mungkin
Ksatria Hukuman seperti kami diberi izin untuk menggunakannya. Sedikit skrip
militer yang sampai ke tangan kami paling banter hanya habis untuk berjudi atau
minum miras.
"Nah! Lihat
ini, Xylo!"
Teoritta berjalan
dengan langkah riang di antara deretan kedai yang berjajar.
Kios-kios itu
dihiasi papan nama, bendera, dan kain dengan warna-warna mencolok, membuat
halaman tengah Benteng Myurid yang biasanya membosankan tampak seperti sebuah
festival kecil. Hal itu sepertinya membuat suasana hati Teoritta menjadi sangat
gembira.
"Apakah itu
makanan? Ataukah semacam hiasan?"
Teoritta menunjuk
pada sebuah seni permen berwarna merah tua. Bentuknya mungkin meniru stroberi.
Tergantung pada pantulan sinar matahari, benda itu bisa terlihat seperti
perhiasan.
"Itu permen.
Apa kamu belum pernah melihat yang seperti itu?"
"Tidak ada
yang seperti itu di zaman saat aku diciptakan. Kelihatannya persis seperti batu
mulia, ya."
Teoritta menatap
seni permen itu dengan saksama. Matanya penuh rasa ingin tahu. Begitu, ya.
Kabarnya para Goddess diciptakan pada zaman dahulu kala, setidaknya
lebih dari tiga ratus tahun yang lalu. Di Kuil, terkadang ada narasi bahwa
mereka adalah putri-putri terakhir para dewa yang lahir di Zaman Dewa seribu
tahun silam—tapi itu sudah pasti bohong.
Aku yakin Goddess
adalah buatan manusia.
Jika tidak,
kenapa mereka menunjukkan "pengabdian" yang sangat menguntungkan bagi
manusia? Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, tetapi teknologi untuk
menciptakan Goddess mungkin sudah terlupakan atau dirahasiakan hingga
sekarang. Entah karena serangan Raja Iblis yang terlalu besar, atau karena
pertikaian antarmanusia.
Aku tidak tahu
banyak soal sejarah dan tidak tertarik juga. Setidaknya, sampai sekarang.
"Lalu, Xylo,
yang itu apa? Baunya enak sekali. Makanan yang panjang-panjang itu..."
"Itu
Mi Bakar. Masakan dari barat, gandum yang dipanjangkan lalu dipanggang dengan
mentega dan saus kedelai."
"Begitu!
Lalu—eeh, yang itu! Di sana juga banyak orang yang mengantre. Lihat, yang ada papan nama beruangnya!
Apakah itu makanan populer?"
"Itu..."
Memang
ada orang yang mengantre. Terlebih lagi, sepertinya semuanya adalah
prajurit wanita. Kalau begitu, aku rasa itu adalah jenis kembang gula tertentu,
tapi aku tidak begitu tahu karena terlalu ramai. Di papan nama kiosnya, memang
tergambar maskot hewan yang menyerupai beruang besar.
"Aku belum pernah melihatnya. Apa itu?"
"Kamu tidak tahu? Itu adalah Myurid's Cream."
Pertanyaanku dijawab dari arah yang tak terduga. Itu Kivia.
"Toko es krim terkenal yang sangat populer di Ibu Kota
Pertama. Krim kocok yang dibekukan, lalu ditaburi madu dan kacang-kacangan.
Rasanya sangat lezat. Dan beruang lucu itu adalah maskotnya, namanya sedang
dalam proses sayembara sekarang."
"Begitu! Luar biasa ya, aku bisa merasakan perkembangan
peradaban!" Teoritta berkata dengan mata berbinar.
"Kelihatannya enak ya, Xylo! Kelihatannya enak sekali. Apa kamu tadi sudah
tahu?"
"Baru dengar
sekarang. Apa itu toko baru? Lagipula, Kivia, kamu ternyata tahu banyak
ya."
"...Apa yang
aneh dari itu?"
Komentarku
sepertinya menyinggung perasaan Kivia.
"Aku juga
makan es krim. Apa ada masalah dengan itu?"
"Aku tidak
bilang itu masalah, sih."
"Kalau kamu
berniat mengkritikku karena memakan camilan seperti itu, bersiaplah! Apa ada
yang salah kalau aku makan es krim, atau memiliki barang dengan bordiran maskot
semacam itu? Apa ada yang salah kalau aku ikut mendaftarkan usul nama untuk
maskotnya!"
"Makanya,
kan aku tidak bilang apa-apa soal itu."
Ucapanku
sepertinya merangsang ingatan masa lalu Kivia. Mungkin dia pernah diejek
soal hal semacam itu. Sejujurnya aku terkejut mendengar dia ikut sayembara nama
maskot. Bagaimana ya, dia tidak memberikan kesan seperti itu—
"Oi, kamu,
barusan kamu memikirkan sesuatu, kan?"
"Jangan
sampai menyensor isi pikiranku juga dong..."
Aku berusaha
untuk tidak mengatakan hal yang tidak perlu lagi. Sepertinya suasana hatinya
bisa rusak karena hal-hal yang sama sekali tidak kupahami. Orang seperti ini
sulit diketahui di mana letak "ranjau"-nya.
Terpaksa, aku
menoleh pada Teoritta untuk meminta bantuan. Namun, dia malah menatap deretan kedai dengan
sangat serius. Pantas saja
dia jadi sangat diam.
"Xylo."
Tangan kecil Teoritta
menarik lenganku. Pandangannya terpaku pada toko es krim tadi.
"Bagaimana
menurutmu? Apa kamu tidak ingin memakan itu?"
Cara bicaranya
aneh, tapi ini sangat khas Goddess, atau lebih tepatnya khas Teoritta.
Dia ingin membuatnya seolah-olah dia membelikan sesuatu karena aku yang
ingin memakannya, bukan karena dia sendiri yang mau. Dia punya harga diri—atau
mungkin rasa malu—yang aneh seperti itu.
"Ya sudah,
ayo beli. Teoritta mau juga?"
"—Ya!
Sebagai Goddess, aku tidak boleh menolak upeti dari Ksatria-ku
sendiri."
"Kalau
begitu, belilah dua yang menurut seleramu enak—ah, tidak."
Sambil
menyerahkan skrip militer, aku menoleh pada Kivia.
"Mau tiga,
Kivia?"
"Aku...
tidak perlu. Aku tidak akan memboroskan skrip militer dan memilih untuk
menabung. Karena aku sudah menyusun rencana anggaran jangka panjang."
Tadinya aku
berniat bercanda, tapi setelah tampak bimbang sesaat, dia menjawab dengan wajah
yang sangat serius. Karena tidak ada pilihan, aku memberikan skrip militer itu
kepada Teoritta. Mengingat sifat Goddess ini, dia pasti ingin berbelanja
sendiri.
"Teoritta,
bisa tolong belikan? Beli dua ya."
"Ya! Mau
bagaimana lagi, serahkan saja padaku!"
Teoritta
berlari pergi dengan gembira. Langkah kakinya begitu ringan hingga rambut
emasnya berkibar saat dia ikut mengantre di toko es krim. Hal itu membuat perhatian para prajurit tertuju
pada Goddess Teoritta. Orangnya sendiri tetap memasang wajah tenang,
seolah menerima tatapan itu sebagai hal yang wajar.
"...Xylo.
Ada yang harus kukatakan padamu."
Sambil menatap
punggung Teoritta dengan tajam, Kivia memanggil namaku. Aku tahu dia ingin
masuk ke inti pembicaraan.
"Aku sudah
sedikit mengubah pandanganku terhadap kalian. Kalian bukan sekadar kumpulan
penjahat, tapi, bagaimana ya, itu—"
"Kumpulan
penjahat besar bajingan yang bodoh, kan? Itu benar, kok."
"Bukan
begitu. Setidaknya, bukan kamu."
Kivia
benar-benar tidak paham soal lelucon. Dia membantahku dengan wajah
datar.
"Aku tidak
lupa. Kamu membantu prajurit unitku di Hutan Kvunji. Begitu juga di Tambang Zewan-Gan. Kamu mencoba
menyelamatkan warga sipil di tambang yang seharusnya kami tinggalkan."
"Tapi
tetap saja lebih banyak yang tidak terselamatkan."
"Tapi kamu
melakukannya. Menurutku itu patut dihormati. Para prajurit yang terluka dan
mundur di Hutan Kvunji menitipkan ucapan terima kasih."
"Oh,
begitu."
Aku
tersenyum sedikit. Aku merasa ini laporan bagus yang jarang kudengar
akhir-akhir ini.
"Mereka
selamat, ya. Ternyata ada gunanya juga. Apa cuma itu bicaranya?"
Aku mencoba
bertanya, tapi Kivia tidak menjawab. Dia hanya menatap wajahku dengan tatapan
tajam. Aku berpikir mungkin aku telah menginjak ranjau aneh lagi.
"Kenapa kamu
melototi wajahku?"
"Bodoh. Aku
tidak sedang memandangi wajahmu."
Kivia
mengernyitkan dahi lalu berdehem.
"Aku hanya
berpikir bahwa ternyata kamu bisa tersenyum dengan cara yang normal. Karena
biasanya kamu terlihat marah terus."
"Di dunia
ini terlalu banyak hal yang bikin emosi."
"...Jika
saja kamu mengubah sikap seperti itu—ah, tidak, lupakan. Pokoknya, aku ingin
bilang bahwa aku mengakui kemampuanmu. Kamu memang memberikan hasil. ...Begitu
juga dengan Nona Teoritta."
Saat menyebut
nama itu, ada nada yang terdengar sedikit menyesakkan.
"Mungkin
menjalin kontrak denganmu adalah hal yang menyelamatkan Beliau."
"Apa
maksudmu?"
"...Keberadaan
Nona Teoritta dikonfirmasi di reruntuhan utara. Oleh para petualang."
Aku juga tahu
tentang kaum yang disebut petualang. Sebuah profesi yang diklaim sendiri oleh
para ahli perampokan reruntuhan yang membentuk serikat.
Dulunya gelar itu
tidak lebih dari kata ganti "pencuri", tapi pandangan orang berubah
sejak situasi perang menjadi begini. Karena mereka berani masuk ke tempat
berbahaya dan menggali peninggalan masa lalu, pemerintah tidak punya pilihan
selain mendukung mereka.
Di
antaranya, ada benda-benda seperti Goddess kali ini.
"Orde
Ksatria Suci ke-13 menerima misi untuk penggalian itu. Namun, muncul masalah
dalam aspek manajemen dan operasional. Perselisihan antara pihak militer dan
Kuil."
"Repot juga,
ya. Urus saja sendiri."
Aku tertawa
mengejek, tapi Kivia menatapku dengan mata marah.
"Apa yang
kamu katakan. Ini adalah tanggung jawabmu. Karena kamu telah membunuh Goddess
Senelva."
"...Apa yang
ingin kamu katakan?"
"Pihak
militer sampai pada satu gagasan. ...Jika seorang Goddess bisa dibunuh,
maka sebaliknya, bukankah kita bisa menambah jumlah Goddess?"
Aku
merasa sedang mendengarkan sesuatu yang sangat buruk. Dan jika bicara soal hal ini, Kivia pun tampaknya
memiliki pemikiran yang sama.
"Pihak
militer menginginkan analisis terhadap tubuh Nona Teoritta. Di sisi lain, Kuil
mengambil posisi menentang hal tersebut."
Analisis tubuh.
Aku menduga—bukan. Aku hampir yakin. Jika itu pihak militer, mereka pasti akan
melakukan pembedahan. Mereka akan membedah Beliau dengan sangat hati-hati agar
tidak terbunuh, demi mengungkap cara menciptakan Goddess.
(Orang-orang
Galtuill pasti akan melakukan itu.)
Aku sangat
memahaminya sampai rasanya ingin memukul mereka. Mereka hanya melihat
kenyataan.
"Pendapat
pihak militer tadinya lebih unggul, tapi situasi mulai berubah. Kalian telah
menunjukkan bahwa Nona Teoritta itu berguna. Kalian telah mengalahkan dua
Fenomena Raja Iblis dalam waktu singkat ini."
"...Lalu,
bagaimana dengan sebelumnya? Memangnya bagaimana?"
Aku merasa harus
bertanya. Aku mulai merasa kesal. Kata-kata untuk menginterogasi Kivia tidak
bisa berhenti.
"Menunjukkan
kalau dia berguna? Apa selama ini Teoritta dianggap tidak berguna? Kenapa Teoritta
yang terpilih sebagai kandidat Goddess yang akan dibedah? Padahal dia
baru saja ditemukan, kemampuan dan segalanya pun belum—"
"Kekuatan
untuk memanggil pedang sudah diketahui. Karena hal itu tercatat di reruntuhan
tempat Nona Teoritta ditemukan."
Kivia tampak
berusaha keras untuk tetap tenang.
"Bahkan
dibandingkan dengan dua belas Goddess lainnya sejauh ini, Beliau
beberapa tingkat di bawah mereka. Di antara mereka ada Goddess yang
memiliki kekuatan yang bisa dibilang sebagai versi sempurnanya."
Aku paham apa
yang ingin dia katakan. Militer akan berpikir begitu. Mungkin pihak Kuil pun
akan menerimanya sebagai pendapat yang masuk akal.
Penglihatan masa
depan—petir atau badai—pahlawan dari dunia lain—atau senjata. Dibandingkan dengan hal-hal itu,
"pedang" milik Teoritta terlalu terbatas.
"Bajingan-bajingan
itu."
Setelah
mengatakannya, aku baru sadar. Bajingan yang sebenarnya adalah kami para
Ksatria Hukuman. Tapi, aku tidak sudi mendengarnya dari orang-orang militer
atau Kuil.
Di situ
aku akhirnya mengetahui alasan di balik pergerakan aneh Kivia dan Orde Ksatria
Suci ke-13.
Kenapa mereka
melakukan pertempuran yang menjerumus ke bunuh diri di Hutan Kvunji. Mungkin
itu semacam penebusan dosa, atau karena mereka sudah putus asa.
Orde Ksatria Suci
ke-13 sedang mengawal Goddess yang seharusnya mereka lindungi untuk
diserahkan ke meja bedah.
Itu juga alasan
kenapa mereka membawa Teoritta dalam keadaan tertidur. Sebagai militer, mereka
tidak bisa menentang perintah.
Namun, jika
mereka berjuang dengan penuh pengabdian dan mempertahankan wilayah, mungkin
mereka bisa mendapatkan dukungan dari Kuil atau bangsawan utara.
Tapi,
orang-orang Galtuill itu—
"Memangnya
kenapa kalau tidak berguna?"
Aku menatap Teoritta.
Dia baru saja membeli es krim dan sedang berlari ke arah sini. Wajahnya tampak
gembira sekaligus bangga.
"Memangnya
kenapa, hah? Apa lagi yang harus kulakukan agar para bajingan Galtuill itu
mengakui kegunaannya atau apalah itu?"
Percuma saja
meluapkan kemarahan pada Kivia. Aku tahu itu, tapi aku tidak bisa berhenti.
"Benar.
Katakan saja apa misi berikutnya. Intinya kalau kami memberikan hasil di sana, Teoritta
tidak perlu dibedah, kan? Apa yang harus kami lakukan?"
"Pertahanan."
Kivia menjawab
dengan nada marah, atau lebih tepatnya seperti mendesis kesal.
"Kalian para
Ksatria Hukuman harus memikul tanggung jawab atas pertahanan benteng ini
sendirian. Kalian harus mempertahankannya sampai mati."



Post a Comment