NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha-kei ni Shosu: Choubatsu Yuusha 9004-tai Keimu Kiroku Volume 1 Chapter 13 - 14

Perintah Siaga

Benteng Myurid 1


Bagi penjahat seperti kami yang menyandang status Ksatria Hukuman, konsep liburan itu tidak ada.

Sebab, penanganan yang seharusnya adalah membelenggu dan mengurung kami di dalam sel tahanan. Namun, status "siaga" itu nyata adanya. Itu adalah celah di antara tugas eksekusi, atau masa persiapan sebelum hukuman yang lebih berat dijatuhkan.

Kami dilarang keluar masuk area selain blok yang telah ditentukan, tetapi masih memungkinkan untuk menghabiskan waktu dengan istirahat—atau sesuatu yang menyerupainya. Kami boleh minum teh di kantin, atau menggunakan fasilitas latihan. Tatsuya, misalnya, kerjaannya cuma berjemur terus.

Meski begitu, aku tidak punya niat untuk jalan-jalan ke luar. Pasalnya, hari ini Benteng Myurid tempat kami bermarkas sedang sangat ramai.

(Merepotkan saja,) pikirku. Di hari seperti ini, paling benar adalah menghabiskan waktu dengan membaca buku.

Walaupun statusku Ksatria Hukuman, selama berada di dalam militer, tidak sulit untuk mendapatkan buku hiburan. Maka dari itu, aku memutuskan untuk berbaring di lantai dan tenggelam dalam bacaanku.

Hari ini adalah hari "Pasar Besar" yang diadakan sepuluh hari sekali.

Ini bisa dibilang pasar kecil. Bukan kedai biasa yang menetap di benteng, melainkan pedagang utusan dari Perusahaan Pengembangan Vercle yang datang untuk menjual kebutuhan sehari-hari dan barang hobi di halaman tengah. Yang populer biasanya adalah miras, rokok, jasa pengiriman surat, dan berbagai macam kembang gula.

Prajurit membeli barang-barang tersebut menggunakan uang kertas imitasi yang disebut "skrip militer". Ini diterbitkan oleh Galtuill dan bisa digunakan sebagai pengganti uang tunai. Secarik kertas dengan jaminan bahwa nantinya bisa ditukarkan dengan uang sungguhan jika dibawa ke kantor administrasi kota mana pun.

Oleh karena itu, banyak prajurit yang berkumpul di Pasar Besar. Tentu saja orang-orang dari Orde Ksatria Suci ke-13 juga membaur di sana, dan aku tidak sudi bertatap muka dengan mereka.

Selain itu, aku juga punya tugas mengurus Yang Mulia Norgalle—karena Beliau, yang kehilangan kaki kanannya dan dikirim kembali dari bengkel perbaikan bersama Dotta, tampaknya cukup kesulitan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

"Panglima! Panglima Xylo! Di mana kamu!"

Sambil berteriak-teriak kencang, Yang Mulia Norgalle berjalan di lorong dengan bunyi langkah kaki yang kaku dan keras.

"Pedangang keliling sudah datang. Aku ingin minum miras! Anggur merah. Pergi beli sana!"

Sejak kembali dari bengkel perbaikan, delusi Yang Mulia Norgalle semakin parah. Dia mulai memanggilku 'Panglima', dan Tatsuya 'Jenderal'.

Ingatannya pun tampaknya banyak yang hilang; dia hampir tidak ingat apa pun soal kejadian di dalam terowongan. Dia menganggap kami para Ksatria Hukuman sebagai pasukan pengawal pribadinya. Selain itu, kaki kanannya sepertinya tidak bisa beregenerasi dengan sempurna, sehingga diganti dengan kaki palsu dari kayu. Kuil saat ini sedang dalam proses memilih mayat agar bisa mengambil kaki kanan mereka sebagai pengganti untuk Beliau. Ini semua salah tubuh Beliau yang terlalu besar.

"Panglima Xylo! Kamu di sini!"

Yang Mulia Norgalle membuka pintu kamar yang dialokasikan untukku dengan kasar. Seluruh tubuhnya masih dibalut perban di sana-sini—mungkin ada bagian yang belum menempel dengan kuat.

"Pedagang sudah datang. Segera belikan miras untukku."

"Yang Mulia, apa kamu punya uang?"

Mau tidak mau, aku bangkit dan duduk bersila.

"Sebenarnya kas kerajaan kita sedang kosong, lho. Beli miras saja tidak mampu."

"Apa katamu? Sampai semiskin itukah kita? Di mana Menteri Keuangan, apa yang dia lakukan!"

Sejujurnya, skrip militer milik Yang Mulia Norgalle—meskipun jatahnya turun—langsung ludes dalam sekejap. Itu karena dia memakainya untuk miras dan makanan mewah. Beliau sendiri yang pelupa tidak ingat akan hal itu.

"Kalau memang ingin minum, pergi beli sendiri pakai utang sana," usulku sebagai solusi yang masuk akal.

"Aku sedang sibuk, lagi meninjau literatur penting. Perintah saja Benetim."

"Perdana Menteri itu sedang mengawasi Dotta."

"Oh, begitu."

Kalau dipikir-pikir, benar juga. Karena Dotta sudah kembali dan hari ini adalah hari Pasar Besar, perlu ada pengawas. Anak itu harus dirantai dan diawasi ketat. Karena Benetim adalah komandan secara nominal, tugas itu diberikan padanya. Tatsuya jelas tidak bisa melakukan pekerjaan seperti itu.

"Kalau begitu, ada Zhurv."

Aku menyebutkan nama satu orang lagi yang baru saja kembali dari misi lain.

"Pinjam saja padanya."

"Zhurv sama sekali tidak bisa diandalkan. Dia terlalu boros dan sangat payah dalam berjudi. Bukankah dia pasti sudah menghabiskan semuanya?"

"Tidak, kabarnya dia akhirnya dilarang masuk ke tempat judi di benteng ini. Uangnya tidak akan terpakai kecuali di hari seperti sekarang. Kalau buru-buru, kamu masih sempat."

"Terpaksa, ya."

Beliau mengangguk mantap lalu berbalik pergi. Dengan begini, aku bisa menyerahkan urusan orang berisik ini kepada Zhurv.

Zhurv adalah penembak jitu di unit kami. Dia pria yang ahli—tapi mengingat dia dijebloskan ke unit Ksatria Hukuman, kepribadiannya sudah bisa ditebak. Dia itu bajingan yang dulunya seorang pembunuh bayaran.

Seharusnya dia dikirim sendirian ke garis depan bagian barat, tapi apakah tugasnya berjalan lancar? Karena dia kembali dengan anggota tubuh yang masih lengkap, mungkin dia sudah menyelesaikan perannya. Berhasil menembak targetnya, barangkali.

—Pokoknya, sekarang sudah tenang.

Aku kembali berbaring. Sampai Pasar Besar selesai nanti, aku akan menghabiskan waktu luang di sini.

Namun, biasanya justru di saat seperti inilah orang-orang berisik datang silih berganti.

"Ksatria-ku!"

Yang melompat masuk bersama langkah kaki ringan adalah Sang Goddess.

"Xylo, ternyata kamu di sini. Aku mencarimu, tahu."

"Ada apa?"

"Kamu tidak pergi ke Pasar Besar? Aku pikir kamu pergi berbelanja."

"Aku tidak mau bertemu para Ksatria Suci."

Kalau cuma dipelototi sih masih mending, tapi kalau mereka mulai cari gara-gara, aku bisa repot. Belum lagi kalau mereka mulai menyindir atau mengejek.

(Jangan bercanda, deh.)

Jika itu terjadi, aku tidak yakin bisa menahan sabarku.

"Kalau begitu, bangunlah dan bermain denganku."

Teoritta menatap wajahku yang sedang berbaring dengan angkuh. Bayangannya menutupi wajahku.

"Teoritta sendiri, tidak ke Pasar Besar?"

"...Aku ini seorang Goddess, tahu! Aku tidak tertarik dengan hal seperti itu."

Jelas-jelas bohong, tapi mungkin memang terpaksa. Memang benar, jika ditanya apakah seorang Goddess bisa bebas menggunakan Pasar Besar, jawabannya tidak. Karena dituntut untuk berperilaku tanpa kehilangan wibawa sebagai Goddess, dia butuh izin dan pengawasan dari Ksatria Suci atau pendeta.

Dugaanku, Kivia maupun pendeta militer itu sedang sibuk. Terutama karena mereka harus menentukan nasibku dan Teoritta ke depannya.

"Karena kamu juga luang, Xylo, aku akan memberimu kehormatan untuk bermain denganku. ...Kamu senang, kan?"

Di salah satu tangan Teoritta yang bertanya demikian, dia mendekap sebuah kotak kecil. Isinya adalah satu set papan permainan dan bidaknya.

Tergantung daerahnya, nama permainan ini berbeda-beda, tetapi papan permainan semacam ini biasanya disebut "Jig". Pemain menggerakkan bidak bertanda untuk saling merebut wilayah.

Karena aturannya sederhana, dari anak-anak sampai orang dewasa memainkannya. Ini pembunuh waktu yang bagus. Di militer pun cukup banyak yang mahir, bahkan sering jadi bahan taruhan.

Tiga hari yang lalu aku mengajari Teoritta cara bermain "Jig" karena dia kebosanan saat masa siaga. Sejak saat itu, setiap ada waktu luang, dia selalu datang membawa papan itu. Aku merasa telah melakukan kesalahan besar, tapi sudah terlambat.

"Aku juga sudah berlatih keras. Aku tidak akan kalah semudah itu."

"Padahal kita baru main tadi malam."

"Barusan aku belajar taktik tingkat tinggi dari Benetim. Huhun. Ini adalah cara bertarung bernama 'Tombak Tersembunyi' yang dulunya digunakan di istana Kerajaan Meto—"

Kalau lawannya Benetim, dia pasti sedang ditipu, pikirku. Namun aku memilih diam. Taktik bersejarah biasanya berarti taktik yang sudah ketinggalan zaman.

Saat Teoritta hendak menyusun bidak di papan, aku menghentikannya dengan satu tangan.

"Aku sedang sibuk. Lagi baca buku."

"Eeeh... buku? Kalau buku kan bisa dibaca nanti."

Sambil berkata begitu, Teoritta tampak tertarik dengan apa yang sedang kubaca. Dia mengintip ke arah tanganku.

"Tak disangka Xylo suka membaca. Kamu sedang baca apa? Apa ceritanya menarik?"

"Puisi. Buku kumpulan puisi."

"Kumpulan puisi! ...Xylo, ...kamu?"

Dia sangat terkejut. Mata Teoritta membulat. Benar-benar di luar dugaan baginya. Kenapa dia harus sekaget itu, sih?

"Puisi seperti apa? Aku jadi penasaran. Aku akan memberimu kehormatan untuk membacakannya untukku."

"Ditolak."

"Mugh."

Mendengar penolakanku yang instan, pipi Teoritta menggembung sesaat.

"Kalau begitu, tidak perlu dibacakan. Aku juga bisa baca sendiri... Tidak apa-apa kan kalau aku ikut membaca di sampingmu! ...Boleh, kan?"

"Jangan. Kurasa ini bukan jenis kumpulan puisi yang disukai oleh seorang Goddess."

Aku menutup buku itu. Judulnya "Naga Mabuk". Puisi dari zaman kuno.

"Ini karya Altoyard Comette. Penyair pemabuk. Dia dipecat dari istana dan mengasingkan diri di gunung—di masa tuanya dia mulai berdelusi ingin jadi naga, tiap malam latihan terbang, dan akhirnya mati karena jatuh."

"Hoo... orang yang aneh, ya."

"Penyair di zaman itu memang banyak yang seperti itu."

Dan puisi semacam itulah yang aku suka. Jika aku tidak jadi tentara, mungkin aku akan mencoba menjadi penyair. Karena kelihatannya santai.

"Ya sudahlah. Kalau kamu seluang itu, aku akan menemanimu main 'Jig'."

Aku juga tidak tenang kalau dia membaca buku di sampingku. Aku memutuskan untuk berhadapan dengannya di papan permainan—toh cuma untuk membunuh waktu sampai Pasar Besar berakhir.

"Iya!"

Tepat saat Teoritta menunjukkan senyumnya...

"...Xylo Forwards."

Seorang pengunjung baru muncul di ambang pintu kamar. Sosok wanita asing berambut hitam yang jangkung. Siapa—pikirku sejenak, tapi itu cuma ilusi.

Karena dia biasanya memakai baju zirah lengkap, kesannya jadi berbeda saat dia memakai seragam militer. Apalagi rambut hitamnya dikepang rapi.

Itu Kivia. Dia sendirian, tanpa pengawal.

Artinya, ini bukan penjemputan paksa. ...Kalau begitu, ada urusan apa dia ke sini?

"Ternyata kamu di sini, bukan di Pasar Besar. ...Aku tidak menyangka Goddess Teoritta juga bersamamu."

"Seorang Komandan Ksatria Suci yang mulia, sampai sudi datang jauh-jauh ke tempat seperti ini."

Aku tidak bisa menahan nada bicaraku agar tidak terdengar sarkastis.

"Apakah akhirnya nasib kami sudah diputuskan, atau ada perintah untuk misi berikutnya?"

"...Keduanya benar. Namun, urusanku berbeda."

Kivia sedikit mengernyitkan dahi. Mungkin dia tidak suka dengan cara bicaraku.

"Ikut aku, Xylo."

"Ke mana? Ke ruang penyiksaan di penjara bawah tanah?"

"Bukan."

Kivia tampaknya sama sekali tidak paham dengan candaanku. Dia membantahnya dengan wajah serius. Namun, permintaan yang dia ajukan setelahnya sungguh di luar dugaan.

"Aku... ingin bicara denganmu. Di mana saja tidak masalah."

Lalu Kivia menatapku dengan tajam. Aku merasa seolah sedang ditantang berduel.

"Bagaimana. Kamu mau, atau tidak. Jawab."

Apa-apaan itu, pikirku. Namun kalau dipikir-pikir lagi, aku tidak punya hak untuk menolak.

"Boleh saja, tapi bolehkah aku yang menentukan tempatnya?"

"Katakan. Akan kupenuhi sejauh yang aku bisa."

"Di Pasar Besar di halaman tengah. Aku ingin belanja. Dan juga, aku akan membawa Teoritta."

"Eh!"

"Mu..."

Berlawanan dengan Kivia yang entah kenapa terdiam ragu, wajah Teoritta langsung mendongak dengan antusias. Matanya berbinar-binar. Dia menatapku dan Kivia bergantian dengan pandangan penuh harap.

"Xylo, Kivia, ayo kita bicara! Ayo lakukan sekarang juga! Menurutku itu ide yang bagus!"

"...Baiklah. Aku mengerti."

Setelah hening sekitar sepuluh detik, Kivia mengangguk.

"Akan kupenuhi permintaanmu. ...Kita ke halaman tengah!"

Pernyataan itu terdengar persis seperti aba-aba untuk maju berperang.


Perintah Siaga

Benteng Myurid 2

Benteng Myurid, tempat kami para Ksatria Hukuman tinggal—ralat, dikurung—dibangun untuk memutus akses dari wilayah utara menuju ibu kota kerajaan.

Benteng ini bisa disebut sebagai benteng alami karena dilindungi oleh sungai dan tebing. Nama lainnya adalah "Sarang Burung Migran". Berkat lokasinya, pemandangan di sini sangat luar biasa. Terutama pemandangan Sungai Besar Kadu Tai dari atas menara saat senja, benar-benar pemandangan yang spektakuler.

Sungai Besar Kadu Tai juga merupakan urat nadi kehidupan benteng ini. Benteng ini telah menjadi titik pertahanan penting untuk menerima pasokan dari kota pelabuhan Yof dan menangani Fenomena Raja Iblis yang datang dari utara lebih awal. Seiring dengan meningkatnya Fenomena Raja Iblis dan hilangnya wilayah negara secara berturut-turut belakangan ini, tingkat kepentingan benteng ini pun terus meroket.

Karena alasan itulah, Perusahaan Pengembangan Vercle yang serakah itu tidak tinggal diam. Mereka mengirim banyak pedagang ke Pasar Besar, dan pasokan barang untuk menjaga moral para prajurit pun sangat lengkap.

"Sisanya, tinggal perlu perempuan saja."

Begitulah pendapat Dotta dan Zhurv, tetapi meskipun toko semacam itu ada, mana mungkin Ksatria Hukuman seperti kami diberi izin untuk menggunakannya. Sedikit skrip militer yang sampai ke tangan kami paling banter hanya habis untuk berjudi atau minum miras.

"Nah! Lihat ini, Xylo!"

Teoritta berjalan dengan langkah riang di antara deretan kedai yang berjajar.

Kios-kios itu dihiasi papan nama, bendera, dan kain dengan warna-warna mencolok, membuat halaman tengah Benteng Myurid yang biasanya membosankan tampak seperti sebuah festival kecil. Hal itu sepertinya membuat suasana hati Teoritta menjadi sangat gembira.

"Apakah itu makanan? Ataukah semacam hiasan?"

Teoritta menunjuk pada sebuah seni permen berwarna merah tua. Bentuknya mungkin meniru stroberi. Tergantung pada pantulan sinar matahari, benda itu bisa terlihat seperti perhiasan.

"Itu permen. Apa kamu belum pernah melihat yang seperti itu?"

"Tidak ada yang seperti itu di zaman saat aku diciptakan. Kelihatannya persis seperti batu mulia, ya."

Teoritta menatap seni permen itu dengan saksama. Matanya penuh rasa ingin tahu. Begitu, ya. Kabarnya para Goddess diciptakan pada zaman dahulu kala, setidaknya lebih dari tiga ratus tahun yang lalu. Di Kuil, terkadang ada narasi bahwa mereka adalah putri-putri terakhir para dewa yang lahir di Zaman Dewa seribu tahun silam—tapi itu sudah pasti bohong.

Aku yakin Goddess adalah buatan manusia.

Jika tidak, kenapa mereka menunjukkan "pengabdian" yang sangat menguntungkan bagi manusia? Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, tetapi teknologi untuk menciptakan Goddess mungkin sudah terlupakan atau dirahasiakan hingga sekarang. Entah karena serangan Raja Iblis yang terlalu besar, atau karena pertikaian antarmanusia.

Aku tidak tahu banyak soal sejarah dan tidak tertarik juga. Setidaknya, sampai sekarang.

"Lalu, Xylo, yang itu apa? Baunya enak sekali. Makanan yang panjang-panjang itu..."

"Itu Mi Bakar. Masakan dari barat, gandum yang dipanjangkan lalu dipanggang dengan mentega dan saus kedelai."

"Begitu! Lalu—eeh, yang itu! Di sana juga banyak orang yang mengantre. Lihat, yang ada papan nama beruangnya! Apakah itu makanan populer?"

"Itu..."

Memang ada orang yang mengantre. Terlebih lagi, sepertinya semuanya adalah prajurit wanita. Kalau begitu, aku rasa itu adalah jenis kembang gula tertentu, tapi aku tidak begitu tahu karena terlalu ramai. Di papan nama kiosnya, memang tergambar maskot hewan yang menyerupai beruang besar.

"Aku belum pernah melihatnya. Apa itu?"

"Kamu tidak tahu? Itu adalah Myurid's Cream."

Pertanyaanku dijawab dari arah yang tak terduga. Itu Kivia.

"Toko es krim terkenal yang sangat populer di Ibu Kota Pertama. Krim kocok yang dibekukan, lalu ditaburi madu dan kacang-kacangan. Rasanya sangat lezat. Dan beruang lucu itu adalah maskotnya, namanya sedang dalam proses sayembara sekarang."

"Begitu! Luar biasa ya, aku bisa merasakan perkembangan peradaban!" Teoritta berkata dengan mata berbinar.

"Kelihatannya enak ya, Xylo! Kelihatannya enak sekali. Apa kamu tadi sudah tahu?"

"Baru dengar sekarang. Apa itu toko baru? Lagipula, Kivia, kamu ternyata tahu banyak ya."

"...Apa yang aneh dari itu?"

Komentarku sepertinya menyinggung perasaan Kivia.

"Aku juga makan es krim. Apa ada masalah dengan itu?"

"Aku tidak bilang itu masalah, sih."

"Kalau kamu berniat mengkritikku karena memakan camilan seperti itu, bersiaplah! Apa ada yang salah kalau aku makan es krim, atau memiliki barang dengan bordiran maskot semacam itu? Apa ada yang salah kalau aku ikut mendaftarkan usul nama untuk maskotnya!"

"Makanya, kan aku tidak bilang apa-apa soal itu."

Ucapanku sepertinya merangsang ingatan masa lalu Kivia. Mungkin dia pernah diejek soal hal semacam itu. Sejujurnya aku terkejut mendengar dia ikut sayembara nama maskot. Bagaimana ya, dia tidak memberikan kesan seperti itu—

"Oi, kamu, barusan kamu memikirkan sesuatu, kan?"

"Jangan sampai menyensor isi pikiranku juga dong..."

Aku berusaha untuk tidak mengatakan hal yang tidak perlu lagi. Sepertinya suasana hatinya bisa rusak karena hal-hal yang sama sekali tidak kupahami. Orang seperti ini sulit diketahui di mana letak "ranjau"-nya.

Terpaksa, aku menoleh pada Teoritta untuk meminta bantuan. Namun, dia malah menatap deretan kedai dengan sangat serius. Pantas saja dia jadi sangat diam.

"Xylo."

Tangan kecil Teoritta menarik lenganku. Pandangannya terpaku pada toko es krim tadi.

"Bagaimana menurutmu? Apa kamu tidak ingin memakan itu?"

Cara bicaranya aneh, tapi ini sangat khas Goddess, atau lebih tepatnya khas Teoritta. Dia ingin membuatnya seolah-olah dia membelikan sesuatu karena aku yang ingin memakannya, bukan karena dia sendiri yang mau. Dia punya harga diri—atau mungkin rasa malu—yang aneh seperti itu.

"Ya sudah, ayo beli. Teoritta mau juga?"

"—Ya! Sebagai Goddess, aku tidak boleh menolak upeti dari Ksatria-ku sendiri."

"Kalau begitu, belilah dua yang menurut seleramu enak—ah, tidak."

Sambil menyerahkan skrip militer, aku menoleh pada Kivia.

"Mau tiga, Kivia?"

"Aku... tidak perlu. Aku tidak akan memboroskan skrip militer dan memilih untuk menabung. Karena aku sudah menyusun rencana anggaran jangka panjang."

Tadinya aku berniat bercanda, tapi setelah tampak bimbang sesaat, dia menjawab dengan wajah yang sangat serius. Karena tidak ada pilihan, aku memberikan skrip militer itu kepada Teoritta. Mengingat sifat Goddess ini, dia pasti ingin berbelanja sendiri.

"Teoritta, bisa tolong belikan? Beli dua ya."

"Ya! Mau bagaimana lagi, serahkan saja padaku!"

Teoritta berlari pergi dengan gembira. Langkah kakinya begitu ringan hingga rambut emasnya berkibar saat dia ikut mengantre di toko es krim. Hal itu membuat perhatian para prajurit tertuju pada Goddess Teoritta. Orangnya sendiri tetap memasang wajah tenang, seolah menerima tatapan itu sebagai hal yang wajar.

"...Xylo. Ada yang harus kukatakan padamu."

Sambil menatap punggung Teoritta dengan tajam, Kivia memanggil namaku. Aku tahu dia ingin masuk ke inti pembicaraan.

"Aku sudah sedikit mengubah pandanganku terhadap kalian. Kalian bukan sekadar kumpulan penjahat, tapi, bagaimana ya, itu—"

"Kumpulan penjahat besar bajingan yang bodoh, kan? Itu benar, kok."

"Bukan begitu. Setidaknya, bukan kamu."

Kivia benar-benar tidak paham soal lelucon. Dia membantahku dengan wajah datar.

"Aku tidak lupa. Kamu membantu prajurit unitku di Hutan Kvunji. Begitu juga di Tambang Zewan-Gan. Kamu mencoba menyelamatkan warga sipil di tambang yang seharusnya kami tinggalkan."

"Tapi tetap saja lebih banyak yang tidak terselamatkan."

"Tapi kamu melakukannya. Menurutku itu patut dihormati. Para prajurit yang terluka dan mundur di Hutan Kvunji menitipkan ucapan terima kasih."

"Oh, begitu."

Aku tersenyum sedikit. Aku merasa ini laporan bagus yang jarang kudengar akhir-akhir ini.

"Mereka selamat, ya. Ternyata ada gunanya juga. Apa cuma itu bicaranya?"

Aku mencoba bertanya, tapi Kivia tidak menjawab. Dia hanya menatap wajahku dengan tatapan tajam. Aku berpikir mungkin aku telah menginjak ranjau aneh lagi.

"Kenapa kamu melototi wajahku?"

"Bodoh. Aku tidak sedang memandangi wajahmu."

Kivia mengernyitkan dahi lalu berdehem.

"Aku hanya berpikir bahwa ternyata kamu bisa tersenyum dengan cara yang normal. Karena biasanya kamu terlihat marah terus."

"Di dunia ini terlalu banyak hal yang bikin emosi."

"...Jika saja kamu mengubah sikap seperti itu—ah, tidak, lupakan. Pokoknya, aku ingin bilang bahwa aku mengakui kemampuanmu. Kamu memang memberikan hasil. ...Begitu juga dengan Nona Teoritta."

Saat menyebut nama itu, ada nada yang terdengar sedikit menyesakkan.

"Mungkin menjalin kontrak denganmu adalah hal yang menyelamatkan Beliau."

"Apa maksudmu?"

"...Keberadaan Nona Teoritta dikonfirmasi di reruntuhan utara. Oleh para petualang."

Aku juga tahu tentang kaum yang disebut petualang. Sebuah profesi yang diklaim sendiri oleh para ahli perampokan reruntuhan yang membentuk serikat.

Dulunya gelar itu tidak lebih dari kata ganti "pencuri", tapi pandangan orang berubah sejak situasi perang menjadi begini. Karena mereka berani masuk ke tempat berbahaya dan menggali peninggalan masa lalu, pemerintah tidak punya pilihan selain mendukung mereka.

Di antaranya, ada benda-benda seperti Goddess kali ini.

"Orde Ksatria Suci ke-13 menerima misi untuk penggalian itu. Namun, muncul masalah dalam aspek manajemen dan operasional. Perselisihan antara pihak militer dan Kuil."

"Repot juga, ya. Urus saja sendiri."

Aku tertawa mengejek, tapi Kivia menatapku dengan mata marah.

"Apa yang kamu katakan. Ini adalah tanggung jawabmu. Karena kamu telah membunuh Goddess Senelva."

"...Apa yang ingin kamu katakan?"

"Pihak militer sampai pada satu gagasan. ...Jika seorang Goddess bisa dibunuh, maka sebaliknya, bukankah kita bisa menambah jumlah Goddess?"

Aku merasa sedang mendengarkan sesuatu yang sangat buruk. Dan jika bicara soal hal ini, Kivia pun tampaknya memiliki pemikiran yang sama.

"Pihak militer menginginkan analisis terhadap tubuh Nona Teoritta. Di sisi lain, Kuil mengambil posisi menentang hal tersebut."

Analisis tubuh. Aku menduga—bukan. Aku hampir yakin. Jika itu pihak militer, mereka pasti akan melakukan pembedahan. Mereka akan membedah Beliau dengan sangat hati-hati agar tidak terbunuh, demi mengungkap cara menciptakan Goddess.

(Orang-orang Galtuill pasti akan melakukan itu.)

Aku sangat memahaminya sampai rasanya ingin memukul mereka. Mereka hanya melihat kenyataan.

"Pendapat pihak militer tadinya lebih unggul, tapi situasi mulai berubah. Kalian telah menunjukkan bahwa Nona Teoritta itu berguna. Kalian telah mengalahkan dua Fenomena Raja Iblis dalam waktu singkat ini."

"...Lalu, bagaimana dengan sebelumnya? Memangnya bagaimana?"

Aku merasa harus bertanya. Aku mulai merasa kesal. Kata-kata untuk menginterogasi Kivia tidak bisa berhenti.

"Menunjukkan kalau dia berguna? Apa selama ini Teoritta dianggap tidak berguna? Kenapa Teoritta yang terpilih sebagai kandidat Goddess yang akan dibedah? Padahal dia baru saja ditemukan, kemampuan dan segalanya pun belum—"

"Kekuatan untuk memanggil pedang sudah diketahui. Karena hal itu tercatat di reruntuhan tempat Nona Teoritta ditemukan."

Kivia tampak berusaha keras untuk tetap tenang.

"Bahkan dibandingkan dengan dua belas Goddess lainnya sejauh ini, Beliau beberapa tingkat di bawah mereka. Di antara mereka ada Goddess yang memiliki kekuatan yang bisa dibilang sebagai versi sempurnanya."

Aku paham apa yang ingin dia katakan. Militer akan berpikir begitu. Mungkin pihak Kuil pun akan menerimanya sebagai pendapat yang masuk akal.

Penglihatan masa depan—petir atau badai—pahlawan dari dunia lain—atau senjata. Dibandingkan dengan hal-hal itu, "pedang" milik Teoritta terlalu terbatas.

"Bajingan-bajingan itu."

Setelah mengatakannya, aku baru sadar. Bajingan yang sebenarnya adalah kami para Ksatria Hukuman. Tapi, aku tidak sudi mendengarnya dari orang-orang militer atau Kuil.

Di situ aku akhirnya mengetahui alasan di balik pergerakan aneh Kivia dan Orde Ksatria Suci ke-13.

Kenapa mereka melakukan pertempuran yang menjerumus ke bunuh diri di Hutan Kvunji. Mungkin itu semacam penebusan dosa, atau karena mereka sudah putus asa.

Orde Ksatria Suci ke-13 sedang mengawal Goddess yang seharusnya mereka lindungi untuk diserahkan ke meja bedah.

Itu juga alasan kenapa mereka membawa Teoritta dalam keadaan tertidur. Sebagai militer, mereka tidak bisa menentang perintah.

Namun, jika mereka berjuang dengan penuh pengabdian dan mempertahankan wilayah, mungkin mereka bisa mendapatkan dukungan dari Kuil atau bangsawan utara.

Tapi, orang-orang Galtuill itu—

"Memangnya kenapa kalau tidak berguna?"

Aku menatap Teoritta. Dia baru saja membeli es krim dan sedang berlari ke arah sini. Wajahnya tampak gembira sekaligus bangga.

"Memangnya kenapa, hah? Apa lagi yang harus kulakukan agar para bajingan Galtuill itu mengakui kegunaannya atau apalah itu?"

Percuma saja meluapkan kemarahan pada Kivia. Aku tahu itu, tapi aku tidak bisa berhenti.

"Benar. Katakan saja apa misi berikutnya. Intinya kalau kami memberikan hasil di sana, Teoritta tidak perlu dibedah, kan? Apa yang harus kami lakukan?"

"Pertahanan."

Kivia menjawab dengan nada marah, atau lebih tepatnya seperti mendesis kesal.

"Kalian para Ksatria Hukuman harus memikul tanggung jawab atas pertahanan benteng ini sendirian. Kalian harus mempertahankannya sampai mati."




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close