NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha-kei ni Shosu: Choubatsu Yuusha 9004-tai Keimu Kiroku Volume 1 Chapter 10 - 12

Hukuman

Memandu Penaklukan Terowongan Zewan-Gun 4


Penyembunyian para pekerja tambang itu sudah bisa dikatakan mencapai batasnya.

Tempat itu berada di ujung lorong pertambangan yang jauh, tepat di ujung jalur rel yang membentang. Di sana, sebuah bangunan yang menyerupai gubuk—atau lebih tepatnya benteng darurat yang buruk—telah didirikan.

Peralatan penggalian dan kereta lori besar pengangkut personel digunakan sebagai pengganti dinding pelindung. Benda-benda yang aslinya seukuran gubuk itu disusun berjajar untuk membentuk barikade.

Namun, dinding itu sudah hancur berantakan. Jelas sekali bahwa barikade tersebut tidak akan bertahan jika ada Fairy berukuran besar yang menyerang.

Segel Suci yang berfungsi melindungi diri dari Fenomena Raja Iblis pun hanya memancarkan cahaya redup. Simpanan cahayanya sudah hampir habis.

Di tempat tanpa sinar matahari yang menjadi bahan bakarnya, Segel Suci jenis apa pun akan terkuras dengan cepat. Karena situasi itulah, mereka benar-benar sedang berada di bawah serangan.

Aku, Norgalle, dan Tatsuya entah bagaimana berhasil merangsek masuk ke lokasi tersebut tepat pada waktunya.

Kawanan Bogart tipe kelabang yang telah mengalami pembengkakan hebat sedang mengamuk. Mereka tampak hampir menghancurkan barikade.

Taring-taring mereka melubangi dinding kereta lori yang berkarat. Suara teriakan seseorang juga terdengar dari dalam.

"Maju!"

Perintah segera diberikan dengan sigap oleh Yang Mulia.

"Serbu! Selamatkan rakyatku!"

Meskipun perintahnya terdengar sembarangan, apa yang dikatakannya sendiri tidak salah. Karena tidak ada pilihan lain, aku dan Tatsuya segera mematuhi perintah Yang Mulia.

Pertempuran selesai dalam sekejap mata.

"Buaaa!"

Tatsuya menerjang dan menghancurkan kepala Bogart. Tatsuya mengayunkan kapak perangnya dan membelah tubuh Bogart menjadi dua. Tatsuya melompat dan meremukkan rahang Bogart.

Hanya butuh belasan detik sampai semuanya menjadi sunyi.

Jika hanya dikatakan seperti ini, kesannya hanya Tatsuya yang bekerja, dan yah, memang kenyataannya begitu. Namun, aku melakukan pekerjaan yang hanya bisa dilakukan olehku.

Setelah mengamankan para pekerja tambang, aku harus menjelaskan bahwa pria-pria yang memiliki penampilan seperti pengidap perubahan Fairy ini bukanlah musuh. Aku harus meyakinkan mereka bahwa kami adalah sekutu yang datang untuk menolong.

Pekerja yang tersisa berjumlah dua puluh empat orang. Mereka sangat kelelahan.

Untungnya, tidak ada yang terlalu lemah hingga tidak bisa bergerak. Orang-orang yang seperti itu mungkin sudah lama mati atau disingkirkan. Aku memutuskan untuk tidak menanyakannya sekarang.

"...Aku tidak menyangka bantuan akan datang," ucap seorang pria tua yang sepertinya adalah mandor di tempat ini.

Ekspresinya menunjukkan seolah dia masih berada di dalam mimpi—atau lebih tepatnya, mimpi buruk.

"Apakah kalian orang-orang dari Orde Ksatria Suci?"

"Yah, begitulah. Ini perintah dari Orde Ksatria Suci."

Aku tidak mengatakan yang sebenarnya. Jika mereka tahu bahwa kami adalah Pahlawan Hukuman, mereka pasti akan kembali berputus asa.

"Pertama-tama, semuanya harus mempersenjatai diri."

Aku menyusun hal-hal yang harus dilakukan di dalam kepala.

Untuk melarikan diri dari sini, aku harus memberikan sarana perlindungan diri kepada warga sipil ini. Mustahil untuk melindungi sekelompok orang yang hanya menjadi beban secara total.

Aku memperhatikan sumber daya yang ada di tempat itu. Ada pria yang memegang sekop, ada juga beliung dan potongan kayu. Itu sudah cukup.

Bahkan bongkahan batu pun tidak masalah. Semuanya bisa diubah menjadi senjata pelindung diri yang layak. Ada cara untuk melakukannya.

"Yang Mulia Norgalle di sana adalah ahli dalam penyelarasan Segel Suci. Dia bisa mempersenjatai kalian. Semuanya, tanpa terkecuali, harus membawa senjata."

"...Yang Mulia... Norgalle?"

"Dia memang dipanggil begitu."

Para pekerja menunjukkan ekspresi bingung, tapi aku mengabaikannya. Saat ini kami benar-benar tidak punya waktu.

"Tenanglah, rakyatku! Wahai abdi setiaku!"

Seruan Yang Mulia Norgalle memang memiliki gema yang terasa seperti seorang pemimpin—setidaknya perasaanku mengatakan begitu.

"Kita akan keluar dari sini, dan aku pasti akan membalas kerja keras kalian semua. Angkat senjata! Ikuti para elit yang berada di bawah komando langsungku ini!"

Pidato yang cukup megah, bukan? Sambil mengetahui bahwa ini tidak ada artinya—atau justru karena tidak ada artinya—aku menepuk bahu Tatsuya. Dia menatapku dengan wajah kosong. Dia hanya bereaksi terhadap rangsangan.

Aku tidak tahu detail mengenai apa yang telah terjadi pada Tatsuya. Aku hanya mendengar bahwa dia adalah manusia dari dunia lain yang dipanggil oleh Goddess.

Rumornya, dia telah memicu kemarahan Sang Goddess. Ada yang bilang dia adalah manusia yang paling ahli dalam membunuh di dunia asalnya.

Ada juga rumor bahwa hobinya adalah menyerang dan membunuh wanita secara khusus, dan karena itulah dia dipanggil, lalu karena itu pula dia hancur dan menjadi Pahlawan. Rumor semacam itu memang ada.

Entah itu benar atau tidak, bagiku tidak masalah.

Tatsuya yang sekarang tidak memiliki ego maupun kemampuan berpikir. Dia hanyalah seorang Pahlawan. Seorang pria yang tidak akan pernah berputus asa, tidak peduli seberapa kejam situasinya. Dia tidak memiliki fungsi untuk itu. Sama seperti Norgalle dan aku, dia hanya bisa bertarung.

"Tatsuya, maju ke depan. Buka jalan."

Yang Mulia berkata sambil mengukir Segel Suci sederhana pada salah satu beliung.

Itu adalah Segel Suci perlindungan sederhana. Ditambah Segel Suci penghancur kecil.

Segel itu memberikan kekuatan yang mampu menghancurkan batu dengan mudah sebanyak satu atau dua kali. Di tangan Norgalle, efeknya akan bertahan lebih lama dan kekuatannya pun meningkat.

Meskipun begitu, jika dihadapkan dengan jumlah Fairy yang sangat banyak, itu semua hanyalah sekadar penghibur hati saja.




"Saling jaga punggung satu sama lain! Aku tidak berniat membiarkan satu orang pun gugur!"

"Lalu Xylo, kamu—"

"Aku tahu."

Aku mengangguk sambil menghitung jumlah pisau yang tersisa. Dalam situasi ini, aku harus berada di barisan paling belakang.

Dalam istilah militer, posisi ini disebut rearguard. Peran ini tidak cocok untuk Tatsuya, dan aku juga tidak bisa menyerahkannya kepada Norgalle.

Aku tahu persis kemampuan bertarung Norgalle. Tubuhnya memang besar, tapi hanya sebatas itu saja.

"Aku akan mengikuti dari belakang. Kalau ada yang mau menyerah, bilang saja sekarang," ucapku santai sambil memandang para pekerja.

"Akan kuhabisi kalian sebelum hal terburuk terjadi."

Wajah para pekerja itu pun seketika berubah menjadi semakin nelangsa.

"Xylo. Aku memercayai kemampuanmu."

Yang Mulia Norgalle berujar sembari mengukir Segel Suci bahkan pada potongan kayu.

"Jika berhasil pulang dengan selamat, aku akan memberikan jabatan Panglima Tertinggi militer padamu. Nikmatilah kehormatan tertinggi itu."

"Aku sangat berterima kasih."

Hanya itu yang bisa kujawab. Intinya, tidak ada kemuliaan atau kehormatan dalam pertarungan ini.

Kalaupun berhasil, hasilnya hanyalah dua puluh empat pria kelelahan yang bertahan hidup. Kemungkinan gagal jauh lebih besar.

Kami juga tidak akan mengalahkan Raja Iblis. Itu bukan tugas kami. Orde Ksatria Suci pasti akan menghancurkan seluruh terowongan ini.

Hanya ada risiko kerepotan yang luar biasa dan penderitaan jika rencana ini gagal.

(Rasanya benar-benar seperti hukuman.)

Aku mencabut sebilah pisau sambil menertawakan diri sendiri. Pekerjaan penyelarasan Segel Suci Norgalle masih setengah jalan, tapi sepertinya tidak ada waktu untuk menunggu sampai selesai.

"Yang Mulia, sebaiknya kita bergerak sekarang."

Aku menyadari adanya getaran.

Sesuatu sedang mendekat. Dalam situasi ini, sesuatu itu pastilah Fairy.

Seolah membuktikan hal itu, dinding tanah di belakang kami hancur. Rahang Bogart tipe kelabang yang tampak mengerikan mengintip dari balik sana. Seseorang berteriak dan jatuh terduduk karena terkejut.

"Cepat berdiri!"

Aku memberi perintah singkat lalu melemparkan pisau. Baru mulai saja aku sudah harus merelakan satu senjataku.

Segel Suci Zatte Finde meledakkan kepala Bogart tersebut.

"Siapa pun yang jatuh berikutnya, akan kutinggalkan tanpa ampun."

Pernyataan itu bergema di dalam terowongan yang sempit.

"Lindungi diri kalian masing-masing. Begitulah yang dikatakan Yang Mulia Norgalle."

Mungkin untuk menutupi rasa takut, para penambang itu berteriak lantang. Suara itu bercampur dengan geraman Tatsuya yang mulai berlari ke depan, menciptakan jeritan yang terdengar seperti di neraka.

Aku merasakan hawa keberadaan para Bogart yang mendekat dari segala arah. Inilah saatnya menunjukkan kemampuanku.

Akan kulewati ini dengan mudah, lalu akan kupamerkan pada siapa saja nanti. Aku menatap wajah Yang Mulia Norgalle.

"Xylo, kamulah yang akan mati pertama kali."

Begitulah kata-kata penuh berkah yang diberikan Yang Mulia padaku.

"Lalu aku. Dan biarkan Tatsuya yang mati ketiga. Dibandingkan nyawa rakyat yang telah mengabdi dengan setia, kematian kita benar-benar tidak berarti!"

Benar-benar raja yang luar biasa.

Dia memang tidak bisa diajak bicara dengan waras, tapi aku tidak membencinya.

Hanya ada satu alasan mengapa para penambang ini tertinggal di sini.

Itu karena keterlambatan informasi. Evakuasi penduduk yang diperintahkan oleh Kantor Administrasi Kerajaan Serikat memiliki urutan prioritas.

Pertama adalah anak-anak, orang sakit, wanita, dan lansia. Kemudian diikuti teknisi Segel Suci, pedagang yang memiliki peralatan, tentara—dan para pekerja kasar berada di urutan paling akhir.

Ini pasti hasil keputusan setelah perdebatan panjang antara pihak Kuil dan militer. Kuil yang menjunjung tinggi penyelamatan kaum lemah dan militer yang memprioritaskan keuntungan praktis saling beradu kepentingan, dan hasilnya jadi seperti ini.

Konflik antara Kuil dan militer telah menjadi masalah besar sejak berdirinya Kerajaan Serikat. Bukannya salah satu dari mereka benar, hanya saja bidang yang mereka tangani terlalu berbeda.

Namun, keadaan menjadi tidak terkendali saat para bangsawan penyumbang dana ikut campur. Perdana Menteri yang menyuarakan dan mencoba melakukan reformasi pun mati mendadak lima tahun lalu, sehingga kekacauan kembali terjadi.

"Awalnya... ada lima puluh orang."

Pemimpin para penambang itu berkata sambil berlari dengan langkah gontai.

Lima puluh orang itu katanya perlahan-lahan mulai menjadi aneh.

"...Saat malam tiba, ada yang mulai bilang kalau mereka 'mendengar suara'. Saat sedang tidur, orang itu... menghilang ke suatu tempat... dan ketika kembali, dia sudah berubah menjadi monster."

(Suara, ya?)

Aku memperhatikan poin itu. Itu bisa menjadi petunjuk bagi Fenomena Raja Iblis yang menjadi inti dari tambang ini. Ada juga Fenomena Raja Iblis yang memberikan pengaruh abnormal pada mental manusia.

Dalam kasus ini—

"Xylo! Mereka datang!"

Yang Mulia Norgalle berteriak. Jeritan para penambang menyusul setelahnya.

Di samping barisan mereka yang sedang melarikan diri, dinding tanah mengeluarkan suara gemuruh yang aneh. Itu adalah suara Bogart tipe kelabang yang bergerak di dalam tanah.

Jika sudah begini, akulah yang harus menanganinya. Tatsuya berada di depan menghancurkan para Bogart yang menghalangi jalan, sementara Yang Mulia Norgalle tidak memiliki kemampuan bertarung maupun kepemimpinan militer.

"Siapkan sekop kalian."

Aku memerintah para penambang. Sebisa mungkin aku bersikap tenang, acuh tak acuh, sekaligus angkuh.

Sekitar lima orang di tengah barisan kubekali dengan sekop yang cukup layak. Sekop lebih ringan dari beliung, dan karena ujungnya terbuat dari besi, kekuatannya juga lumayan.

"Hantam saat kepalanya muncul. Mereka datang. Mundur setengah langkah lagi—sedikit lagi. Bagus, sekarang—hajar!"

Aku meneriakkan kata 'hajar!' dengan lantang.

Itu memberikan dorongan semangat. Sekop para penambang menghantam moncong Bogart yang menjulur keluar. Segel Suci-nya berfungsi dengan baik. Suara hantaman terdengar, dan rahang yang keras itu retak.

Kini, justru pihak Bogart yang menjerit kesakitan. Aku tidak membiarkan mereka menarik kembali kepalanya. Aku segera melemparkan pisau.

Kekuatan Segel Suci yang dialirkan cukup minimal saja. Pisau itu menancap di kepala, cahaya meledak, dan cairan tubuh mereka memuncrat ke mana-mana.

Dengan serangan ini, situasi berhasil terkendali.

"Bagus. Istirahat sejenak! Yang terluka segera hentikan pendarahannya. Kalian boleh minum, tapi cuma satu teguk saja."

Sambil berteriak, aku mengambil kembali pisau dari kepala Bogart yang hancur.

Bilah besinya tampak seperti terpanggang, dan saat disentil dengan ujung jari, bilah itu patah dengan mudah. Inilah kelemahan serangan petir yang menggunakan Zatte Finde. Objek yang menjadi media perantara akan rusak dengan mudah. Saat aku masih menjadi Ksatria Suci, aku dibekali pisau khusus yang ditempa di bengkel eksklusif.

Sekarang, aku harus melakukan segalanya dengan peralatan seadanya.

"Xylo, apa jalan ini sudah benar?"

Yang Mulia Norgalle bertanya dengan suara pelan dan nada tidak puas.

"Ini berbeda dengan jalan yang kita lewati tadi."

"Ini rute terpendek. Tatsuya tidak mungkin salah jalan."

Tujuannya sudah ditentukan. Aku sudah memberi tahu Tatsuya tentang hal itu.

Rute yang kutuju sengaja dibuat berbeda dari jalur mundur Orde Ksatria Suci. Jalur ini berbeda dari pangkalan garis depan yang kami buat maupun jalan pintas yang menghubungkannya.

Jika Orde Ksatria Suci menjalankan tugas memasang Scorched Seal sampai ke bagian terdalam, pergerakan dan pekerjaan mereka pasti akan terdeteksi oleh Fenomena Raja Iblis.

Mereka akan menjadi target prioritas utama. Aku membiarkan mereka menarik perhatian pasukan utama musuh. Rencana ini sangat berhasil. Musuh memang menyerbu, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak.

Kami harus bergegas, tapi gerak maju paksa ini sudah mencapai batasnya. Para penambang juga sudah kelelahan. Para Bogart pun pasti sudah mulai merasa kami ini pengganggu. Tingkat pertemuan dengan musuh semakin meningkat. Aku tahu serangan besar pasti akan datang di suatu tempat.

Jika bisa menembusnya, barulah ada harapan.

"Dengarkan sambil beristirahat," ucapku pada para penambang yang napasnya tersengal-sengal.

"Kita akan membentuk barisan pertahanan di sini. Kita hentikan pengejaran mereka, sebentar saja juga tidak apa-apa. Lalu, yang masih punya tenaga, angkat tangan. Tiga orang ikut dengan Tatsuya sebagai unit terpisah—Tatsuya, bergeraklah sesuai rencana."

Setelah memastikan Tatsuya mengangguk, aku memandang ke arah semuanya.

"Maaf, tapi kalian semua harus bekerja sekali lagi. Bisa?"

Keinginan untuk bertahan hidup pasti dirasakan oleh semua orang. Para penambang saling berpandangan, dan aku tahu mereka sedang mencoba bersandar pada semacam harapan—eh, tunggu. Harapan?

"Kalau kalian yang bilang, kami sanggup," mandor para penambang itu mengangguk.

"Kalian... bukan orang dari Orde Ksatria Suci, kan? Aku pernah dengar. Tentang... Segel Suci di leher itu..."

"Apa, kamu tahu soal ini?"

Kalau sudah begini, tidak ada gunanya berbohong.

"Sepertinya kami cukup terkenal, ya. Wajar saja sih. Apa kalian dengar kalau kami ini kelompok penjahat paling keji di dunia?"

"Meskipun penjahat, kalian datang untuk menolong kami."

Mandor itu tersenyum sedikit mendengar candaanku. Baguslah kalau dia sudah bisa sedikit tenang.

"Jadi, apa pun yang terjadi pada kami nanti, setidaknya... aku pikir kami bisa mati dengan cara yang lebih baik."

"Jangan bicara hal yang tidak mengenakkan begitu. Aku tidak akan membiarkan kalian mati."

"Umu. Tetaplah hidup dan jadilah berguna bagi negaraku."

Aku melambaikan tangan, sementara Norgalle mengangguk dengan wibawa. Rasanya aneh melihat pendapat kami sejalan, tapi mau bagaimana lagi. Baru saja mau protes, tamu berikutnya sudah datang.

Bukan hanya dari depan, suara tanah yang dikeruk juga terdengar dari atas kepala dan bawah kaki.

"Tatsuya, bawa tiga orang itu! Lewat lorong kanan!"

Setelah berteriak, aku menghentakkan kaki ke tanah dengan cukup kuat.

(Sepertinya jumlahnya lebih banyak dari yang tadi.)

Aku bisa tahu dari tingkat pantulan suaranya. Jika bicara soal kemampuan mendeteksi musuh lewat suara, aku yang dulu memiliki kemampuan yang jauh lebih akurat.

Segel Deteksi Roadd. Segel Suci itu memang sudah disegel, tapi instingku masih tersisa. Pengalaman yang didapat dalam situasi hidup dan mati sepertinya memang melekat dalam diri secara tak terduga. Sekarang pun aku masih bisa membuat perkiraan kasar.

"Mereka datang."

Tanah hancur berantakan. Dari langit-langit, dinding, lantai, dan segala penjuru, musuh-musuh baru muncul menembus tanah. Jalur depan dan belakang kami tertutup, formasi pengepungan pun terbentuk, namun ini semua sudah masuk dalam perkiraan.

(Mari kita tunjukkan pada mereka.)

Sebagian besar Bogart yang muncul menyerbu ke arahku. Ini adalah serangan besar yang sesungguhnya. Sepertinya mereka mulai sadar siapa ancaman terbesar di antara kami.

Lumayan cerdas juga, tapi hanya sebatas itu.

"Mundur lima belas langkah! Jangan panik, aku yang akan menahan bagian belakang!"

Inilah poin yang paling penting. Kami harus menghindari bertarung dalam kondisi terkepung. Kami perlu menembus barisan belakang dan mengatur ulang posisi, namun melakukan penarikan mundur yang teratur itu luar biasa sulit. Aku tahu benar akan hal itu.

Sedikit saja kekacauan terjadi, maka semuanya akan langsung tercerai-berai. Untuk mencegah hal itu, harus ada pasukan belakang yang mumpuni. Dalam situasi ini, hanya aku yang bisa melakukannya.

"Pergi!" teriakku sambil melemparkan pisau ke arah belakang.

Pisau itu sudah dialiri Segel Suci dengan maksimal. Ini untuk membuka jalan mundur. Ledakan dahsyat menerangi kegelapan sesaat, dan para penambang pun berlari sekuat tenaga sambil mengayunkan beliung maupun sekop mereka.

Setelah itu, aku berdiri sendirian di barisan paling belakang sambil menyiapkan senjata. Ini juga senjata rakitan berupa pisau yang diikat di ujung batang kayu yang sudah diberi Segel Suci sederhana oleh Norgalle.

"Jangan sombong dulu."

Aku menerima terjangan Bogart sambil mundur satu langkah. Pergerakan mereka terlihat jelas. Aku menusukkan tombak rakitanku.

Menembus celah di bagian kepala, lalu mundur satu langkah lagi untuk menahan serangan berikutnya. Dua langkah. Ujung taring salah satu dari mereka menyerempet betisku. Aku menendang makhluk yang mencoba melilitku.

Napasku terasa sesak. Meski begitu, aku tetap bertahan sampai batas kemampuanku, setidaknya sampai satu atau dua serangan lagi.

Karena aku berjuang sampai sejauh itulah rencana ini bisa berhasil.

"Bagus—sekarang! Balas serang mereka!"

"Umu! Majulah, wahai para elitku!"

"Ooooh!"

Para penambang menanggapi instruksiku dan perintah angkuh Norgalle dengan baik. Sorakan berat yang membahana dan gerak maju yang mantap.

Terbukti bahwa kata-kata mandor tadi bukan sekadar omong kosong.

Kelompok yang telah mundur sejauh lima belas langkah itu berhasil menghindari pengepungan Bogart dan mendapatkan jarak yang cukup untuk melakukan serangan balik.

Sekop dan beliung diayunkan secara serentak. Kepala-kepala Bogart hancur berantakan.

Suara teriakan dan dentuman logam bersahutan. Serangan balik para Bogart pun terjadi. Pertarungan pun pecah secara frontal.

Dalam kondisi ini, para penambang berada di posisi yang tidak menguntungkan. Perbedaan teknik bertarung dan kemampuan fisik mulai terlihat jelas.

Tapi, ini sudah cukup. Aku sudah berhasil menghambat pergerakan awal mereka dan mengulur waktu.

"—Gruuuuuuaaaaaaa!"

Suara teriakan bergema dari dalam terowongan.

Tatsuya dan tiga penambang lainnya merangsek masuk dari belakang kawanan Bogart.

Dengan kata lain, penarikan mundur tadi hanyalah tipuan untuk memancing musuh masuk, lalu unit terpisah yang memutar akan menyerang dari belakang.

Ini adalah taktik klasik yang sudah diulang berkali-kali dalam sejarah, namun masih sangat efektif hingga saat ini.

Kawanan Bogart menjadi kacau. Beberapa dari mereka bahkan saling bertabrakan.

Di saat itulah Tatsuya melompat masuk sambil mengayunkan kapak perangnya, menghancurkan dua kepala sekaligus.

"Aaaaaauuuuuu!"

Raungan Tatsuya bergema panjang. Inilah saat penentuannya. Aku mencabut sebilah pisau yang selama ini kusimpan.

"Fu," aku mengambil ancang-ancang.

"Ki," aku mengalirkan Segel Suci ke dalam pisau.

"Tobe!" aku melemparkannya.

Ledakan dan kilatan cahaya menerjang kawanan Bogart yang sudah gentar akibat serangan Tatsuya dan yang lainnya.

(Tinggal berapa ekor lagi?)

Taktik yang kususun hanya efektif sampai di sini, sisanya adalah pertempuran kacau balau.

Aku langsung merangsek maju. Melangkah dengan mantap, segera melompat, menghindar dengan selisih setipis kertas, lalu menebas. Aku bertarung seolah menegaskan bahwa akulah ancaman terbesar bagi mereka. Aku membunuh mereka satu per satu.

(Ayo, alihkan perhatian kalian padaku.)

Aku menciptakan badai darah, seolah sedang bersaing dengan Tatsuya. Tatsuya mengaum keras, dan aku pun mengikuti jejaknya.

"Ke sini, ayo! Jangan buat aku bosan!"

Dengan begitu, aku mengalihkan perhatian mereka dari para penambang. Jantungku berdegup sangat kencang hingga rasanya mau meledak. Kami terus membuat mereka tetap waspada terhadap kami.

Meski begitu, baik aku maupun Tatsuya terkadang tidak bisa menangani semuanya tepat waktu. Momen seperti itu akhirnya datang juga.

Beberapa ekor Bogart berhasil lolos dari hadangan aku dan Tatsuya. Mereka membuka rahang, menunjukkan organ aneh dengan taring-taring yang mengerikan.

Serangan balik dari para penambang saja tidak cukup untuk menangani mereka. Seorang pria yang gagal membalas serangan kakinya digigit.

Dia menjerit. Serentak para Bogart mencoba mengerumuninya. Ini gawat.

(Sialan.)

Aku mencoba membalikkan badan dengan paksa.

Aku tahu ini adalah pilihan yang buruk. Aku membalikkan punggung pada musuh di depanku dan bersiap untuk terluka—di saat itulah, sebilah pedang baja muncul menembus kepala makhluk-makhluk itu.

Sesaat aku berpikir apakah ini ekologi Bogart yang belum diketahui.

Tapi mana mungkin. Pedang itu jatuh dari kehampaan. Para Bogart itu menyemburkan cairan tubuh dan mengeluarkan suara rintihan kesakitan.

Aku menyipitkan mata, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Percikan api muncul di kegelapan.

Di ujung lorong, jauh di belakang Tatsuya yang sedang mengayunkan kapak perang, sepasang mata yang berkobar seperti api tampak bersinar.

"Maaf membuat kalian menunggu."

Goddess Teoritta berujar dengan suara yang sedikit meninggi.

Pipinya tampak memerah dan napasnya sedikit tersengal-sengal. Bahkan Sang Goddess yang memiliki rasa harga diri tinggi itu pun tidak bisa menyembunyikan kelelahannya, menunjukkan betapa terburu-burunya dia datang ke sini. Atau betapa keras usahanya untuk mengelabui Orde Ksatria Suci demi sampai di tempat ini.

"Goddess dari Pedang, Teoritta, telah tiba. Semuanya, silakan puji dan agungkan aku sesuka hati kalian! Nah, Ksatria-ku Xylo. Biarkan aku mendengar suara kegembiraanmu."

Kata-kata pembukaan yang konyol itu—ternyata dia punya selera yang lumayan juga.


Hukuman

Memandu Penaklukan Terowongan Zewan-Gun 5

Munculnya Teoritta membawa dua sisi, ada hal yang baik dan ada pula yang buruk.

Hal baik yang pertama, batasan waktu kami telah hilang. Karena situasinya sudah begini, Orde Ksatria Suci tidak akan mungkin bisa mengaktifkan Scorched Seal begitu saja. Mereka tidak mungkin membiarkan Goddess Teoritta terkubur hidup-hidup bersama kami.

Hal baik yang kedua. Kami berhasil mengamankan pedang dalam jumlah besar. Terlebih lagi, semuanya adalah pedang besi dengan kualitas tinggi.

"Aku akan memberikan Segel Suci! Tancapkan pedang yang sudah selesai ke tanah. Buat barikade!"

Yang Mulia Norgalle menunjukkan kemampuannya sebagai insinyur tempur, hal yang jarang dia pamerkan.

"Kita bersama Sang Goddess. Terima kasih banyak karena telah datang untuk memberkati kami!"

"Ya. Serahkan saja padaku, Norgalle."

Teoritta tersenyum dengan agung dan penuh percaya diri. Repot juga kalau percakapan kedua orang ini jadi terlalu nyambung begini.

"Selama ada aku dan Ksatria-ku, kita tidak mungkin kalah."

Jika ada pedang-pedang yang dipanggil Teoritta, kami bisa mengukir Segel Suci pertahanan dan menyusunnya menjadi pagar besi.

Saat ini, kami harus membangun posisi pertahanan darurat di sini. Bagaimanapun juga, pengejaran pasti akan datang. Kami harus menahannya dan bertarung dengan seheboh mungkin. Dengan begitu, kami bisa mencoba bertemu kembali dengan Orde Ksatria Suci. Mereka pasti juga sedang mencari kami.

Di sisi lain, hal buruk dari munculnya Teoritta mencakup hampir semua hal selain dua poin yang kusebutkan tadi.

"Apa yang kamu lakukan?"

Aku tidak bisa menyembunyikan kekesalanku.

"Teoritta. Bagaimana dengan orang-orang Ksatria Suci itu? Kenapa kamu malah datang ke tempat seperti ini?"

"Aku ini seorang Goddess, Xylo," ucap Teoritta dengan bangga.

"Aku meloloskan diri. Manusia biasa mana mungkin bisa menghentikanku."

"Kamu ini..."

"Ayo, puji aku."

Teoritta menyodorkan kepalanya padaku. Rambut pirangnya yang halus berkilau di tengah percikan api.

"...Anu. Barusan aku sudah menolong kalian dari situasi sulit, kan? Aku datang tepat waktu saat keadaan sedang bahaya, kan? Aku berguna bagi kalian, kan?"

"Mana mungkin aku memujimu."

Aku mendorong kepala Teoritta menjauh.

Seharusnya dengan begitu dia sadar kalau aku sedang marah. Wajahnya langsung terlihat seperti mau menangis.

"Ke-Kenapa? Apa kamu marah, Ksatria-ku? Apa kamu ingin bilang kalau aku datang terlambat? Tapi itu..."

Teoritta menggigit bibirnya, tampak bertekad untuk melayangkan protes.

"...Itu karena kamu meninggalkanku! Perlakuan seperti itu tidak bisa dimaafkan! Itu adalah tindakan pengkhianatan yang sangat serius. Jangan pernah melakukan hal seperti itu lagi—"

"Akan kukatakan berkali-kali, aku sama sekali tidak berharap kamu menjadi berguna bagiku."

Saat ini, aku harus mengatakannya dengan jelas. Aku menatap mata Teoritta lekat-lekat. Matanya menyala seperti api—bukan. Itu hanya karena air matanya yang menggenang.

Dia menangis? Sial. Jadi terlihat seolah aku sedang merundungnya.

"Kamu tidak perlu menjadi berguna. Aku tidak menginginkan hal semacam itu."

"...Kalau begitu, apa?"

Teoritta tampaknya juga bertekad untuk balas menatapku.

"Apa sebenarnya yang kamu inginkan dariku?"

"Jangan mencoba untuk mati sesukamu. Tidak apa-apa meskipun kamu tidak berguna, yang penting diamlah dan tetap hidup. Jangan pertaruhkan nyawamu demi orang lain, itu konyol!"

"Ya. Benar juga."

Padahal aku berniat memakinya dengan kasar, tapi entah kenapa, Teoritta malah mengangguk dengan bangga.

"Justru karena kamu adalah orang yang bisa mengatakan hal seperti itulah, nyawaku berharga untuk dipertaruhkan. Aku tidak salah telah memilihmu."

"Kenapa jadi begitu hasilnya? Kan kubilang berhenti, dengarkan bicara orang lain dong."

"Aku adalah seorang Goddess."

Teoritta mengatakan hal yang sudah jelas. Dia sudah tidak menangis lagi.

"Aku dilahirkan untuk berguna bagi manusia. Aku tidak berniat merasa malu atau mengasihani diriku sendiri karena hal itu—semua orang menerimaku dengan cara seperti itu. Tapi, kenapa kamu berbeda?"

"Aku benci Goddess. Dulu, ada seseorang yang bilang tidak apa-apa jika harus mati demi orang lain. Aku merasa muak setiap kali melihat hal semacam itu."

Aku sudah tidak bisa beralasan lagi. Aku memutuskan untuk berterus terang, dan Teoritta mengangguk seolah sudah memahaminya.

"Apakah itu Goddess sebelumnya yang kamu layani?"

"Benar. Kamu pintar menebak, ya. Akulah yang membunuhnya."

"Karena dia sendiri yang menginginkan hal itu, kan?"

Teoritta menebak dengan tepat. Padahal dia tidak tahu situasinya, berani sekali dia bicara setegas itu.

"Aku juga bisa memahaminya."

"Apa yang kamu pahami? Aku sama sekali tidak bisa mengerti pola pikir membuang nyawa demi orang lain."

Aku sadar kata-kataku sendiri terdengar kacau. Karena akulah yang menerima pemikiran itu dan membunuhnya. Dan tentu saja, hal itu juga tersampaikan kepada Teoritta.

"Tidak, aku paham. Karena aku juga seorang Goddess. —Aku sudah mengerti sekarang bahwa kamu mengkhawatirkanku, dan karena itulah kamu menggunakan kata 'benci'."

"Kalau begitu, kamu pasti tahu... seberapa marah aku pada para Goddess."

"Ya. Tapi, tidak peduli apa yang kamu pikirkan tentangku, itu tidak ada hubungannya."

Teoritta tersenyum. Itu adalah senyuman yang sangat percaya diri, bahkan terkesan menantang.

"Aku ingin dipuji oleh semua orang. Aku ingin dikagumi. Mungkin Goddess memang diciptakan untuk menjadi seperti itu, tapi meskipun begitu, aku ingin hidup dengan menganggap diriku sebagai keberadaan yang agung. Sayang sekali ya, Xylo. Meskipun kamu adalah Ksatria-ku, kamu tidak akan bisa menghentikan keinginanku."

"Begitu ya."

Saat menjawab begitu, aku yakin wajahku terlihat sangat bodoh. Memang benar, mengasihani Teoritta atau menganggapnya sebagai keberadaan yang menyimpang hanyalah bualan 'objektif' dari orang luar sepertiku. Bagi orang yang bersangkutan, hal semacam itu pasti dianggap omong kosong belaka.

Karena dia sendiri yang ingin menjadi seperti itu, bukan orang lain.

"Baiklah, aku mengerti."

Aku masih merasa keberadaan Goddess itu tidak menyenangkan. Namun, setidaknya aku harus mengakui satu hal ini—Goddess Teoritta adalah sosok yang luar biasa. Dia mencoba hidup dengan aturannya sendiri. Tidak peduli seberapa banyak luka yang mungkin dia terima nanti.

Aku meletakkan tanganku di atas kepala Teoritta.

"Masih banyak hal yang ingin kukatakan, tapi mari kita pinjam kekuatan berkah dari Goddess yang agung ini. Mulai dari sini akan menjadi pertempuran yang seperti neraka, kamu sudah siap?"

"Nn. Fufu, itulah yang kunantikan."

Sambil tanganku masih berada di atas kepalanya, Teoritta menggerakkan kepalanya sedikit, memaksaku untuk mengusap rambutnya.

"Kamu sendiri, perhatikan tindakanmu. Bersikaplah selayaknya Ksatria-ku! Terutama sikap kasarmu itu, ada banyak masalah di sana."

"Bukan urusanmu."

Tanpa sadar aku tertawa—namun saat itulah hal itu terjadi.

"Xylo!"

Yang Mulia Norgalle berdiri dengan pedang di tangan.

"Ambil posisi. Mereka datang lagi! Jangan biarkan mereka mendekat selangkah pun!"

"Perintah yang sangat tidak masuk akal."

Pria ini selalu menganggap memerintah orang lain adalah hal yang wajar. Seolah para 'abdi' akan mengerahkan segenap tenaga untuk melaksanakannya. Santai sekali dia.

Aku menghentakkan kaki ringan ke tanah.

Pantulan suara—aku merasakan jumlah yang jauh lebih banyak daripada sebelumnya.

"Me-Mereka datang!" teriak salah satu penambang.

Ada satu hal yang berbeda dari sebelumnya. Sekarang ada pagar yang telah diukir dengan Segel Suci pelindung. Di ruang yang dikelilingi pagar ini, para Fairy tidak akan bisa masuk meskipun mereka bergerak di dalam tanah. Jika mereka mencoba masuk, mereka akan terpanggang oleh cahaya. Itulah sistem pertahanannya.

"Kalau begitu, mari kita mulai juga."

Teoritta membusungkan dada dengan angkuh dan mengangkat wajahnya. Saat dia mengayunkan tangan ke udara, beberapa bilah pedang lagi muncul dan menancap di tanah.

"Ksatria-ku, apakah ini cukup?"

"Ya."

Aku akan berhenti memprotes Teoritta. Lagipula, mana mungkin manusia biasa bisa menghentikan apa yang dilakukan seorang Goddess. Dan aku adalah Ksatria Suci dari Goddess tersebut.

"Xylo. Jika kamu tidak menyukai pengabdianku."

Teoritta menggunakan kata 'pengabdian'.

"Maka kamu cukup melindungiku saja. Berusahalah agar hal yang tidak menyenangkan bagimu tidak terjadi."

"Benar juga."

Dia bisa mengatakan hal yang cukup lucu. Mulai dari orang yang mengaku raja, sampai Sang Goddess—di sekelilingku hanya ada orang-orang yang suka memerintah. Aku tidak punya pilihan. Aku mencabut pedang yang dipanggil Teoritta dan melemparnya dengan cepat.

Kilatan cahaya dan ledakan. Dengan lemparan jarak jauh, kekuatan ledakannya bisa dibuat cukup besar. Serangan itu meledakkan kawanan Bogart secara bersamaan. Cangkang keras mereka hancur, bercampur dengan tanah saat mereka tewas. Jika dilakukan tiga kali, gerakan mereka pun mulai terlihat ragu-ragu.

(Selalu berhasil. Aku pasti bisa.)

Sebenarnya, kelompok Thunderstrike Seal tipe Belku memang cocok untuk pertempuran pertahanan seperti ini. Aku bisa melakukannya sebanyak apa pun. Menghancurkan mereka dengan meriah. Para penambang juga berjuang keras, apalagi Tatsuya. Kata-kata penyemangat dari Yang Mulia Norgalle juga tidak sepenuhnya sia-sia.

Pagar pedang menghalangi serangan Bogart yang merangsek maju.

"Ugh—Aaa—"

Di sampingku yang sedang melempar pedang, Tatsuya mengeluarkan raungan keras.

"Aaaaaaaauuuuuuuu!"

Pergerakan yang luar biasa. Dia melompat seolah tidak mengenal lelah dan mengayunkan kapak perangnya. Menebas secara horizontal. Dia bahkan menghujamkan tinjunya pada Bogart yang menerjang. Entah seperti apa kekuatan tinjunya, dia sanggup menghancurkan cangkang Bogart yang seharusnya cukup keras dan melumat kepala mereka.

Sesaat, aku merasa mata kami bertemu—dan aku pun tersenyum. Kita berdua sudah mulai panas, ya. Karena itu, aku menoleh sebentar ke arah Teoritta.

"Teoritta. Jika kamu memang sudah siap."

Aku mengulurkan satu tangan dan mencabut pedang baru lagi.

"Ikutilah instruksi dari Ksatria-mu ini. Pertama, akulah yang akan menentukan kapan saatnya kamu harus mempertaruhkan nyawa. Dan juga—"

Aku melempar pedang. Tidak mungkin meleset. Terjadi ledakan lagi.

"Saat kamu mati pun, akulah yang akan memberikan perintah."

"Ya."

Jawaban Teoritta terdengar tanpa beban.

"Karena aku dilahirkan untuk itu. Itu sudah sewajarnya, kan, Ksatria-ku?"

Kepercayaan yang diberikan secara penuh. Itu terasa terlalu berat. Tapi, justru itulah yang kubutuhkan saat ini. Rasa berat seperti itu malah membuatku semakin bersemangat.

"Bagus! Serbu, rakyatku!"

Mungkin karena merasa di atas angin, Yang Mulia Norgalle meneriakkan hal yang tidak perlu.

"Maju menuju jalan keluar!"

"Hentikan, Yang Mulia," cegahku cepat.

Memang jumlah Bogart sudah berkurang dan sepertinya kami bisa menembus mereka, tapi aku segera menghentikannya.

"Kita diuntungkan karena ini pertempuran bertahan, kalau sekarang kita—"

Belum sempat kuselesaikan, secara tidak sengaja aku menyadari bahwa kata-kata Yang Mulia Norgalle ada benarnya dalam artian tertentu.

(Apa itu?)

Pertandanya adalah telinga yang berdenging ringan. Awalnya kupikir itu adalah sisa dari ledakan Zatte Finde. Dengingan logam yang menusuk tajam—dalam sekejap suara itu menjadi semakin besar. Sampai-sampai gendang telingaku terasa sakit.

Suara itu terdengar seperti jeritan seseorang. Atau mungkin suara—apakah itu suara seseorang?

(Bukan. Bahaya. Jangan dengarkan!)

Aku tahu jenis serangan seperti ini. Tanpa sadar aku hampir mencoba memastikan identitas suara itu, tapi aku segera menutup telinga untuk menghentikannya. Saat aku melirik ke sekeliling, para penambang juga mendengar 'suara' yang sama. Mereka pasti merasa kesakitan. Semuanya jatuh tersungkur di tempat.

Yang Mulia Norgalle juga meringkuk dengan wajah kesakitan. Segel Suci pada lampu lentera yang terjatuh tampak berkedip-kedip. Hanya Tatsuya yang sendirian terus membunuhi sisa Bogart secara mekanis.

Namun, sudah pasti ancaman berikutnya sedang mendekat.

"...Teoritta!"

Aku menoleh padanya sambil tetap menutup telinga. Teoritta menggenggam tanganku. Dengan begitu, rasa sakitnya sedikit berkurang. Suaranya pun menjauh. Itulah kekuatan perlindungan dan penyembuhan yang dimiliki seorang Goddess.

"Sepertinya dia sudah datang ke sini."

Teoritta mencoba memasang senyum percaya diri. Mungkin dia bahkan mencoba untuk menyemangati kami. Hebat juga dia. Meski begitu, dengan wajahnya yang pucat, efek yang diharapkan tidak akan muncul.

"Itu adalah inti dari Fenomena Raja Iblis."

Sesuatu menggeliat di kegelapan yang dalam. Terlihat seperti tentakel yang tak terhitung jumlahnya—atau mungkin sulur pohon. Makhluk itu mengeluarkan jeritan melengking. Aku bisa memahami arti suara yang tadi terdengar samar. Itu tersampaikan kepadaku. Bukan lewat suara, tapi lewat perasaan.

(Ketemu.)

Begitulah yang dikatakan makhluk itu.

(Ketemu.)

Dia terus berteriak secara berulang-ulang. Sesuatu dari dalam kegelapan telah menangkap keberadaan Teoritta.


Hukuman

Akhir dari Penaklukan Terowongan Zewan-Gun

Telingaku berdenging hebat.

Meskipun sudah ada perlindungan dari Teoritta, rasanya masih menyakitkan. Sepertinya kemampuan mental makhluk ini memang sekuat itu.

Aku merasa ada sesuatu yang berteriak jauh di dalam otakku. Merintih—atau mungkin menangis. Sesuatu yang menyerupai rasa kesepian menusuk tepat di tengah kepalaku—bukan.

Itu salah.

(Jangan dipikirkan.)

Aku sengaja menutup kesadaranku dari suara itu. Aku harus melakukannya. Aku pernah menghadapi Fenomena Raja Iblis dengan serangan semacam ini. Raja Iblis yang "mengontaminasi" mental manusia.

Mandor tadi bercerita soal lima puluh penambang yang berkurang satu demi satu. Katanya ada suara yang memanggil mereka di tengah malam. Suara inilah yang memaksa manusia bertindak demikian.

"Jangan bergerak!" teriakku pada orang-orang di sekitar.

Para penambang ada yang bergulingan di tanah, ada pula yang berusaha bangkit menahan sakit. Aku menangkap salah satu dari mereka.

"Jangan bergerak. Tetaplah tiarap."

"Tu-Tunggu..."

Pria itu menggerakkan tangannya seolah ingin mengadu.

"—Dari sana, ada suara... apa kamu tidak dengar? Dia mengatakan sesuatu!"

Dia menatap kegelapan dengan cemas sambil menjambak rambutnya sendiri. Aku mencengkeram kepalanya agar dia tetap diam.

"Itu cuma perasaanmu saja. Jangan didengarkan."

"Tapi aku bisa mendengarnya, cuma tidak mengerti. Apa... apa yang dia katakan...!"

"Kalau kamu ke sana, kamu akan mati. Kamu paham itu, kan?"

Sulur-sulur merambat keluar dari kegelapan. Bentuknya mirip akar tanaman, atau memang tanaman itu sendiri. Mungkin tumbuhan yang telah berubah menjadi Fairy. Penampilannya berbeda dari Fairy mana pun yang kukenal. Dan ukurannya sangat besar. Apakah itu tubuh asli dari Fenomena Raja Iblis ini? Sulur itu setebal batang pohon. Jika terkena hantaman langsung, tubuh manusia pasti akan hancur berantakan.

Tatsuya melompat ke sana kemari dengan kemampuan motorik yang tidak masuk akal bagi manusia, menebas setiap sulur yang menggeliat.

"Tapi, ada... sesuatu..."

Penambang yang panik itu seolah tidak melihat bahaya di depannya.

"Dia mengatakan sesuatu! Tapi, itu, apa... ah, akh, akh!"

Dia menggaruk telinganya dengan kasar hingga darah memuncrat—lalu mencoba mendorongku untuk pergi ke sana. Tidak ada pilihan lain. Aku melayangkan pukulan dan menghempaskannya ke tanah.

(Pertahanan sudah mustahil.)

Hanya itu kesimpulan yang bisa kuambil.

Semua orang tumbang sambil memegangi telinga. Mereka yang masih bisa bergerak malah mencoba mendekati Sang Raja Iblis dengan langkah gontai. Aku harus menangkap dan memukul mereka hingga pingsan.

Mereka yang mentalnya cukup kuat untuk menahan denging ini justru akan berakhir mendengar suara itu. Suara yang memanggil dari Fenomena Raja Iblis. Kemungkinan besar, 'suara' itulah serangan intinya, bukan dengingnya. Mana pun yang kena, target akan dibuat tidak berdaya. Apa dia berniat memakan siapa pun yang mendekat?

Alasan kenapa serangan semacam ini tidak terlalu mempan padaku adalah karena keberadaan Teoritta. Ada semacam ikatan dengan Goddess yang telah menjalin kontrak denganku. Kekuatan yang melindungi mental Goddess menjagaku tetap waras di ambang kegilaan—sisanya berkat pagar pedang ini. Segel Suci perlindungan milik Norgalle masih berfungsi. Sementara alasan Tatsuya bisa bergerak tanpa masalah adalah hal yang berbeda lagi.

Kalau begini terus, semua orang akan mati. Aku tidak akan membiarkannya.

"Ubah rencana, kita menyerang! Hei, Yang Mulia!"

Aku mencabut sebilah pedang dari tanah. Sekalian saja kutendang Norgalle. Dia sedang mengerang dengan mata yang terbalik hingga terlihat putihnya saja.

"Bangun, ayo kerja!"

Aku menempelkan lentera yang dilepaskan Norgalle ke kepalanya dengan kasar. Lentera itu seharusnya memiliki Segel Suci perlindungan yang cukup kuat, tapi tidak terlalu berefek. Norgalle mengerang pelan dan mencengkeram lenteranya, tapi dia tidak terlihat dalam kondisi bisa bergerak.

"T-Tahtaku... Tahtaku..."

Kata-kata mengigau keluar dari mulutnya.

"Kamu ingin merampasnya... dasar pencuri! Kubunuh kalian semua! Para perampas!"

Sial. Delusi biasanya malah jadi makin parah. Dia tidak bisa diandalkan.

(Apa kupatahkan saja gendang telinganya?)

Kalau itu bisa membuat suara tidak terdengar dan melepaskannya dari pengaruh ini, boleh saja dicoba. Namun, suara tidak hanya didengar lewat telinga, apalagi lawannya adalah Fenomena Raja Iblis. Aku tidak tahu kemampuan tidak masuk akal apa lagi yang dia punya. Lagipula, tidak ada waktu untuk bereksperimen.

"Sial! Teoritta!"

"Ya."

Teoritta mencengkeram lenganku. Percikan api sudah menari-nari di ujung jarinya.

"Sebutkan keinginanmu, Ksatria-ku. Karena aku adalah Goddess, aku akan mengabulkannya."

"Aku akan menembak dari sini untuk mendukung Tatsuya."

Begitu keluar dari pagar pelindung Segel Suci, denging ini pasti akan jadi lebih parah. Apa aku akan langsung lumpuh? Jika harus menunggu sampai mencoba, itu sudah terlambat.

"Tatsuya pasti bisa. Tolong suplai pedangnya."

"Begitu baru benar, Ksatria-ku. Bergantunglah padaku."

Teoritta menciptakan lebih banyak pedang. Bilah-bilah tajam yang berkilau. Pedang ramping yang cocok untuk dilempar.

(Sudah lama tidak melakukan pertempuran jarak jauh.)

Dulu aku bisa menggunakan Segel Suci yang jauh lebih kuat. Caljissa yang memiliki jarak tembak dan radius kehancuran besar. Atau Yark Lead yang bahkan bisa menembus dinding benteng.

Sekarang semuanya hanya tinggal angan-angan—aku mengumpulkan tenaga di tangan kanan, lalu mengambil ancang-ancang melempar pedang.

Aku melihat Tatsuya melompat ke arah kegelapan yang dalam. Ternyata denging ini memang tidak mempan padanya. Dia hanyalah senjata berbentuk manusia yang bertugas menangkap dan menyerang Fenomena Raja Iblis. Karena itulah, Pahlawan mungkin memang diciptakan hanya untuk menghadapi Raja Iblis.

"Tatsuya!" teriakku sambil melontarkan pedang.

"Maju terus! Bunuh Raja Iblis itu!"

Pedang yang kulempar memang meleset dari sulur-sulur yang menggeliat, tapi menancap di dinding tanah. Cahaya ledakan dari Zatte Finde membakar kegelapan.

Ledakan itu menghancurkan sulur-sulur terdekat, menyebarkan getah yang tampak seperti darah.

Denging yang terdengar seperti jeritan menjadi semakin kuat hingga membuatku hampir jatuh, tapi Teoritta segera menopangku.

(Tuh kan, untung ada aku.)

Seolah itulah yang dikatakan matanya yang memercikkan api. Aku tidak punya waktu untuk membalasnya. Aku terus melemparkan pedang satu demi satu, mendukung gerak maju Tatsuya.

(Ternyata benar, sebaiknya tidak keluar dari pagar.)

Aku hanya bisa memberi bantuan—tapi jika itu Tatsuya, ini sudah cukup.

Aku melemparkan pedang berikutnya. Lalu berikutnya, dan berikutnya lagi.

Pedang yang dipanggil Teoritta dari kehampaan memang bidikannya berantakan, tapi jumlahnya banyak.

Dalam sekejap, sulur-sulur itu tercabik-cabik. Kami benar-benar membuka jalan bagi Tatsuya. Tidak akan kubiarkan para Bogart menghalanginya.

Cahaya dan suara ledakan berantai di terowongan bawah tanah yang gelap.

Tatsuya melompat di tengah bayang-bayang yang tajam. Dia tidak terlihat seperti manusia, melainkan monster dengan anggota tubuh yang panjang dan aneh yang sedang menari.

"Ugh."

Akhirnya, Tatsuya sampai di sana. Geraman samar keluar dari mulutnya yang sedikit terbuka.

"Hakh!"

Kapak perang Tatsuya berputar cepat seperti baling-baling, menebas habis sulur-sulur di depannya. Dan, tepat di pangkalnya—sebuah gundukan besar menyerupai umbi.

Namun, itu salah.

(Dia serius?)

Aku menyadari kegagalanku. Bagian yang dipukul dan dihancurkan oleh kapak Tatsuya barusan hanyalah umbi yang meledak begitu saja. Sulur-sulur itu tidak berhenti bergerak. Itu bukan tubuh aslinya.

Apakah itu semacam umpan? Jika benar, maka—

"Bu, gh!"

Suara teredam terdengar dari belakang.

Mandor penambang tadi—dia terhempas ke dinding tanah dan menjerit. Dari dalam tanah, sebuah sulur dan gundukan muncul. Itu adalah gundukan yang lebih besar dari yang dihancurkan Tatsuya tadi.

(Mereka berhasil masuk. Waktu kita habis...!)

Beberapa pedang yang digunakan sebagai pagar pelindung patah. Segel Suci yang diukir Norgalle tidak lagi memancarkan cahaya. Energinya sudah habis.

Begitu cahayanya habis, sekuat apa pun Segel Suci buatan Yang Mulia, tidak akan ada gunanya. Sepertinya energi fosfor alami di dalam bajanya sudah terkuras habis.

Aku mencabut pisau dan berbalik. Dari dalam gundukan raksasa yang muncul menembus tanah, sebuah mata besar yang melotot menampakkan diri.

(Ini adalah bola mata.)

Atau mungkin jantungnya—yang jelas, inilah tubuh utamanya. Makhluk itu menjulurkan sulur, menangkap salah satu penambang, dan mengayunkannya. Aku bisa melihat leher pria itu patah saat menghantam tanah.

Sialan.

Aku mencoba membidik tubuh utamanya, tapi jumlah sulur yang mengayun terlalu banyak. Dia benar-benar memperkuat pertahanannya. Orang yang bisa menembus ini mungkin hanya Tatsuya.

"Xylo! Di sini juga!"

Teoritta berteriak sambil memeluk lenganku. Sulur-sulur itu bergerak mengincar kami. Aku mengayunkan pedang. Menebas sekaligus meledakkannya.

(Aku populer juga ya. Repot sekali.)

Bagian dalam ruang yang dilindungi Segel Suci mulai diacak-acak. Aku kekurangan tenaga bantuan. Tatsuya masih bertarung dengan sulur-sulur di lorong sana, sementara yang ada di sini hanyalah para penambang yang tidak bisa bergerak, Sang Goddess, aku, dan Yang Mulia Raja Norgalle.

"Aaaaaaaauuuuuuuuuu!"

Norgalle bahkan membenturkan kepalanya ke tanah sambil berteriak.

"Semuanya milikku! Negara ini berada dalam perlindunganku! Tidak akan kuberikan, dasar perampas!"

Mustahil membuat Norgalle berguna sekarang. Gangguan mentalnya benar-benar berdampak ke arah yang paling buruk. Dia sudah tidak bisa diajak bicara.

Dan perburukan situasi semacam ini terus berantai.

"—Ada di sana!"

Suara tajam terdengar. Diikuti banyak langkah kaki. Itu Kivia—dan Orde Ksatria Suci. Mereka datang dari lorong arah kedatangan kami.

"Itu Goddess Teoritta. Interogasinya nanti saja—Xylo, kami akan membantumu!"

"Jangan, bodoh! Jangan ke sini!" teriakku.

Aku ingin memaki keseriusan Kivia. Aku tidak bisa membiarkan mereka masuk ke dalam radius 'suara' Raja Iblis ini. Tapi, apa aku bisa menghentikannya?

(Apa kita akan musnah di sini?)

Kemungkinan itu meningkat drastis. Teoritta mencengkeram lenganku.

"Xylo."

Dia tampak ingin melakukan sesuatu. Percikan api menyambar-nyambar.

"Berdoalah padaku. Inilah saatnya bagi seorang Goddess."

Apa dia akan memanggil pedang—dalam jumlah besar? Apa dia akan memotong semua sulur ini dan menusukkannya ke bola mata—atau jantung—yang menjadi tubuh utamanya?

Apa dia bisa melakukannya? Atau ada cara lain? Melihat percikan api di rambut Teoritta yang tidak berhenti, dia pun pasti sudah mencapai batasnya. Haruskah aku memutuskannya? Aku ragu.

Di saat keraguan itu, Norgalle berteriak.

"—Dasar perampas!"

Sepertinya mental Yang Mulia Norgalle sudah mencapai puncaknya di saat itu. Dia mengangkat lentera yang bercahaya dengan Segel Suci, lalu memutar bagian penutupnya. Aku melihat api biru pucat yang dingin mulai meluap dari celah penutup yang longgar itu. Itu pasti jebakan api berbahaya yang dia katakan saat ingin memasang perbekalan tadi.

Begitu api itu berkilat, tubuh asli Raja Iblis itu membuka matanya lebar-lebar dan mundur sambil kejang-kejang. Melihat pemandangan itu, sebuah ide terlintas di kepalaku.

(Api!)

Makhluk ini adalah Raja Iblis tipe tanaman. Sangat mungkin kalau kelemahannya adalah api. Tidak butuh serangan kuat, cukup membakarnya saja.

"Hei, Yang Mulia! Lentera itu—"

Tapi sebelum aku sempat bersuara, sulur Raja Iblis bergerak. Sulur berduri seperti taring itu menangkap kaki Norgalle. Norgalle tidak sempat bereaksi.

Suara sobekan yang keras terdengar. Sebelum sempat memutar penutup lentera sampai habis, sulur itu telah mencabik kaki kanan Norgalle dalam satu serangan. Norgalle menjerit histeris, dan lentera itu terjatuh ke tanah. Aku melompat untuk mengamankannya.

Raja Iblis itu menggeliat mencoba menjauh dari lentera sebentar saja. Cepat sekali.

Apa aku akan sempat?

Tidak, aku harus mempertaruhkan segalanya dengan kecepatan penuh. Menerjang sulur berduri yang menari di depanku.

(Tidak akan kubiarkan kamu kabur. Meski harus kehilangan satu atau dua tangan—)

Aku rela mengorbankannya. Di saat aku berpikir demikian, suara seperti gempa bumi merambat di bawah kakiku. Suara sesuatu yang terkikis dan hancur.

Belum sempat aku berpikir, sulur-sulur itu ditarik keluar dari tanah.

Persis seperti mencabut akar ubi secara paksa. Berkat itu, gerakan mundur Raja Iblis terhenti.

Makhluk itu menjerit dengan suara yang menusuk hingga ke saraf otak, meronta-ronta seolah ingin memutuskan sulurnya sendiri.

Saat aku menoleh sesaat, aku melihat penyebabnya.

"Grrr."

Tatsuya—luar biasa. Entah dari mana kekuatan fisiknya itu berasal, dia mencengkeram salah satu sulur secara asal dan menariknya sekuat tenaga.

Seolah menegaskan bahwa dia tidak akan membiarkan Raja Iblis itu kabur. Otot bahunya terlihat menonjol dan membesar.

"Goooobuaaaaaaaa!"

Raungan Tatsuya yang tidak jelas maknanya. Tidak, saat ini aku merasa mengerti artinya. Kurang lebih berarti, 'Cepat bunuh Raja Iblis ini'.

Aku sangat setuju. Aku menatap sulur yang mengayun membabi buta.

"Teoritta!"

"Ya."

Jawaban singkat. Itulah komunikasi antara Goddess dan Ksatria.

"Habisi dia, Ksatria-ku."

Suara Teoritta bergema. Pedang-pedang muncul di kehampaan. Kali ini berupa pedang lengkung dengan bilah melengkung seperti parang.

Aku menyambarnya dan menebas sulur-sulur yang mengayun. Serangan berikutnya datang, tapi itu sudah tidak berarti. Aku sudah memungut lentera yang dijatuhkan Norgalle.

"Mati terbakar sana, brengsek."

Aku memutar penutup lenteranya.

Saat api biru pucat itu memancar, ia langsung membakar tubuh asli Fenomena Raja Iblis tanpa ampun. Mungkin hanya butuh belasan detik sampai api itu berkobar hebat dan menerangi kegelapan dengan menyilaukan. Waktu yang cukup untuk melenyapkan 'jeritan' menyebalkan itu dan mengubahnya menjadi abu.

Tak ada yang sanggup berucap. Kivia dan yang lainnya yang baru tiba hanya terpaku tidak memahami situasi, sementara Norgalle juga tidak dalam kondisi untuk bicara. Pengecualiannya hanyalah Tatsuya.

"Ga... ha..."

Dia mengeluarkan suara seperti menguap, lalu berlutut di tempat. Sepertinya pria itu pun akhirnya merasa lelah.

Sementara aku, aku hanya menatap lentera di tanganku yang telah kehilangan cahayanya, dan Raja Iblis yang terkena hantaman langsung api tadi—beserta dinding dan lantai di sekitarnya. Batu-batu kecil tampak memerah dan meleleh.

Hanya orang bodoh seperti Norgalle yang terpikir untuk memasang jebakan berbahaya seperti ini di dalam paket perbekalan.

Setelah kejadian itu, tidak ada hal spesial yang perlu dicatat. Paling-paling hanya cerita lucu tentang kaki Yang Mulia yang terkoyak duri hingga hancur total dan tidak bisa digunakan lagi. Beliau langsung dikirim ke bengkel perbaikan karena pendarahan hebat.

Namun sejujurnya, aku merasa berat memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tanpa ada alasan untuk mengelak, aku dan Teoritta telah melanggar banyak sekali peraturan.





Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close