Hukuman
Pertempuran Sengit Jalur Perak Asgarsha 1
Ada tiga jalan
yang dianggap sebagai "Jalan Utama" di Ibu Kota Kedua, Zeialente.
Di antara
ketiganya, yang paling makmur secara komersial pastilah Jalan Utama Perak,
Asgarsha, di bagian timur.
Jalan yang paling
besar mungkin adalah Jalan Utama Agung yang digunakan para bangsawan, dan Jalan
Utama Terpelajar yang membelah distrik mahasiswa juga tampak luar biasa, tapi
Asgarsha memiliki makna yang sedikit berbeda. Jalan ini membentang lurus dari Gerbang
Timur kota hingga ke Alun-Alun Pusat, menjadikannya jantung komersial Ibu Kota
Kedua.
Selain itu, Jalan
Utama Asgarsha adalah jalan yang memiliki dua sisi. Jalan ini berhubungan erat dengan Distrik
Timur yang dijuluki "Tempat Pembuangan Abu". Jika sedikit melipir
dari jalan besar Asgarsha yang megah, kamu akan sampai di gang-gang belakang
tempat para berandalan seperti petualang berkeliaran.
Dulu aku
juga sering datang ke sana untuk bermain saat senggang. Ada pemandian umum
besar yang menggunakan mata air panas, dan teater baru yang tertata rapi juga
dekat dari sana. Bagusnya, di sini lebih sedikit orang yang mengenalku
dibandingkan di Ibu Kota Pertama. Aku bahkan pernah minum-minum sampai pagi
bersama Komandan Ordo Ksatria Suci Keenam layaknya mahasiswa.
Karena itulah aku
cukup menguasai medan.
──Yah, setidaknya
"cukup menguasai".
Untuk detail
kecilnya, tidak cukup hanya melihat peta, tapi perlu memeriksa lokasi secara
langsung. Aku sama sekali tidak bisa mempercayakan hal itu pada para petualang
dari "Organisasi Perlawanan". Dari senja hingga fajar, memanfaatkan
celah waktu aktivitas antara manusia dan para Fairy, aku, Rhino, dan Frensi
berlarian sambil meredam suara langkah kaki.
Kesimpulannya
adalah begini.
"…Bahan-bahannya
tidak cukup."
Aku hanya bisa
mengatakan itu.
"Sama sekali
tidak cukup."
Kami berada di
sebuah ruang bawah tanah di sudut "Tempat Pembuangan Abu" yang
menjadi markas baru Organisasi Perlawanan.
Di depanku
berjajar bahan-bahan untuk mengukir Holy Seal yang berhasil dikumpulkan.
Aku tahu mustahil menyiapkan pelat dasar yang layak. Jadi, yang ada hanyalah
pelat besi atau kepingan yang sebisa mungkin tidak berkarat. Cat fosfor, cairan
pelindung, pelarut, alat ukir, dan banyak potongan kertas untuk desain.
Meski sebanyak
ini, dalam kasusku pasti akan ada produk gagal, jadi rasanya agak mencemaskan.
Aku tidak begitu percaya pada kemampuanku sendiri. Mengukir Holy Seal
secara dadakan adalah kemampuan yang benar-benar khusus. Bukannya aku yang terlalu buruk,
tapi Norgalle-lah yang memang aneh.
Untuk
mengumpulkan pasokan ini meski hanya sedikit, Rhino saat ini masih mencari-cari
di seluruh kota bersama anggota Organisasi Perlawanan.
Namun,
kami tidak bisa sembarangan menyerang gudang logistik. Penjagaannya lumayan
ketat, dan aku tidak bisa memaksakan hal itu pada orang-orang di sini. Secara
teknis pun mustahil. Dalam kondisi begini, yang bisa kulakukan hanyalah berdoa
demi keberhasilan dan bekerja keras mengukir Holy Seal.
"Tanganmu
berhenti, Xylo. Kelihatannya situasinya tidak begitu bagus, ya."
Frensi
mengintip ke arah tanganku dengan wajah tanpa ekspresi. Aku meregangkan
punggungku yang kaku, lalu melihat ke arah tangan Frensi juga. Aku pun berucap.
"Kau
juga. Melakukannya dengan sangat hati-hati, ya."
"…Setelah
dipikir-pikir, aku juga tidak pandai dalam pekerjaan seperti ini."
Dia
sendiri sejak tadi tampak berkonsentrasi pada pencampuran cairan.
Pengenceran
dan pengadukan cat fosfor membutuhkan ketelitian. Jika rasionya salah, durasi aktifnya akan kurang
atau kekuatannya tidak akan maksimal. Dalam pekerjaan yang membutuhkan
ketelitian seperti ini, tak disangka Frensi tampak kesulitan.
Dia sudah mencampur cukup banyak cat yang gagal. Benar
juga──seingatku sejak dulu Frensi memang bukan tipe yang terampil dengan
tangannya. Aku juga ingat dia tipe yang tidak suka memikirkan hal-hal detail di
kepalanya. Terutama aritmetika.
Buktinya, dia bahkan pernah kabur dari pelajaran aritmetika
bersama guru privatnya dan lari ke kediaman tempatku tinggal dulu. Aku
terkadang melihatnya di taman.
"Dibandingkan aritmetika, aku seratus kali lebih suka
puitika."
Begitu katanya dulu, dan aku setuju soal itu.
Namun, tetap saja dia masih lebih baik daripada orang awam.
Setidaknya tidak ada satu pun dari para petualang Organisasi Perlawanan yang
bisa dipercaya untuk pekerjaan semacam ini.
Aku sempat berpikir apakah sebaiknya aku meminta Rhino
membantu, tapi dia sendiri secara tak terduga sangat ahli dalam tindakan
infiltrasi. Kalau dipikir-pikir itu masuk akal, mengingat betapa seringnya dia
meninggalkan pos tugasnya dan menghilang dari hadapan kami. Dia punya kemampuan
mendeteksi bahaya sekaligus kemampuan untuk kabur.
Oleh karena itu, Rhino
tidak bisa dilepaskan dari tugas pengintaian. Saat ini pun dia sedang berada di
luar.
Selain itu, Frensi
bersikeras ingin melakukan pekerjaan ini. Dia pasti sedang keras kepala. Gadis
ini sepertinya tipe yang sangat benci jika diremehkan.
"…Setidaknya,
andai saja kita bisa mengumpulkan sedikit lebih banyak bahan."
Meski tahu itu
sia-sia, aku menyuarakan keinginan yang mustahil.
"Karena
tidak boleh gagal jadi aku terlalu berhati-hati, rasanya waktu yang terbuang
jadi lebih banyak."
"Permintaan
yang benar-benar tidak berguna," Frensi memotong perkataanku dalam
sekejap.
"Kita
hanya bisa bertarung dengan kartu yang ada di tangan sekarang. Bukankah kau
sendiri yang biasanya mengatakan itu? Apa kau punya ide cemerlang untuk
mengumpulkan bahan?"
"Tidak,
tidak ada sama sekali."
"Kalau
begitu, diam dan kerjakanlah. Atau kau mau menggunakan cara bertarung yang
lain? Kalau ada ide katakan saja. Aku akan menjabarkan kecacatannya satu per
satu dengan teliti."
Aku terdiam.
Lagipula, saat aku memikirkan cara bertarung ini pun, dia sudah puas
menjabarkan kecacatannya padaku.
Dari sekian
banyak pilihan, aku memutuskan menjalankan rencana yang dianggap paling
mendingan. Setidaknya ini punya peluang berhasil daripada mengharapkan simpati
massa untuk pemberontakan bersenjata atau menyusun rencana pembunuhan.
(…Kecacatan
rencana ini hanyalah kurangnya tenaga dan bahan.)
Aku
menggambar peta di dalam kepalaku. Merespons serangan dari luar dengan memulai
sabotase dari dalam. Semakin besar skalanya semakin baik, dan akan lebih bagus
lagi jika terjadi secara serentak di banyak titik.
Aku sudah
menentukan lokasi peledakan. Menghindari pemukiman warga dan menargetkan titik-titik militer yang
tersebar. Misalnya gudang logistik, atau fasilita prajurit penjaga dan Fairy
yang berpatroli.
Mereka
pasti akan segera menyadari kalau itu hanya pengalihan isu, tapi mereka tidak
akan bisa mengabaikannya. Mau
tak mau mereka harus mengerahkan sebagian pasukan ke sana. Memanfaatkan
kekacauan itu, kami sendiri akan menuju gerbang kota. Menyerang dari dalam
untuk mendukung invasi dari luar.
──Untuk
menyukseskan itu, dibutuhkan Holy Seal dengan mekanisme bom waktu.
Hanya saja, ini
berbeda dengan bom lempar biasa, dibutuhkan teknik yang cukup tinggi. Atau,
tindakan operasi terkoordinasi yang presisi oleh banyak orang sebagai
penggantinya.
Dan jika bicara
soal kekuatan tempur untuk operasi semacam itu...
"Owaaa!"
Terdengar
suara dari ruangan sebelah.
Aku ingin
mereka berhenti berteriak karena bisa saja terjadi sesuatu yang buruk, tapi
sudah berapa kali pun diperingatkan, tidak ada tanda-tanda mereka akan berubah.
"Gawat,
gagal lagi. Ada retakannya! Sial, tidak berjalan lancar."
"Lagipula
ini panas sekali. Apa kau melakukan hal seperti ini setiap hari? Aku
menyerah..."
Yang berisik itu
adalah anggota Organisasi Perlawanan.
Karena di antara
mereka ada yang mengaku pernah menjadi pandai besi, aku mencoba meminta mereka
menempa pisau. Untuk kugunakan sendiri.
Aku tidak
berharap mereka membuat sesuatu yang hebat, tapi sepertinya masalahnya jauh
sebelum itu. Orang yang menerima tugas itu kemampuannya sangat buruk──dia
merengek karena tidak ada peralatan yang layak di sini, tapi intinya dia
terus-menerus gagal.
"Guru,
maafkan kami!"
Ditambah lagi,
ini. Tanpa mengetuk,
pintu ruang kerja dibuka dengan tidak sopan.
Orang-orang
sering sekali datang kemari. Terlebih lagi, mereka memanggilku
"Guru". Apa mereka pikir aku ini semacam pengawal atau apa? Ini
benar-benar merusak konsentrasiku.
"Kakek
Oldo minum-minum lagi! Sekarang dia teler dan sedang tidur."
"…Dia masih
punya simpanan alkohol? Siapa
yang memberinya?"
"Itu,
si brengsek Harbo. Katanya kalau tidak minum tangannya gemetar, jadi ya mau
bagaimana lagi."
"Jangan
bercanda!"
Saat aku
membentak, anggota Organisasi Perlawanan itu sangat ketakutan. Mungkin dia
pikir aku akan melempar sesuatu, jadi dia bersembunyi di balik pintu.
"Sial.
Biarkan saja Kakek Oldo, lagipula sejak awal dia tidak bekerja sama sekali,
kan."
"Benar juga.
Katanya dulu dia tentara bayaran atau petualang hebat, tapi karena tidak ada
pedang jadi tidak ada yang bisa dikerjakan... begitulah kelakuannya dari siang
hari."
"Kalau
begitu cepat tempa pedang untuknya. Kau yang bilang kau mantan pandai besi,
kan."
"Hehe...
saya sedang berusaha. Sedang berusaha, tapi... anu..."
"Pokoknya
siapkan pisau yang layak sebanyak mungkin! Kalau tidak bisa, akan kupatahkan
tulangmu dan kujadikan senjata."
"S-siap!"
Dia buru-buru
menarik wajahnya dan menutup pintu. Rasanya aku ingin menghela napas. Sebagai
gantinya, aku mendecak. Frensi sepertinya merasakan hal yang sama.
"…Kau
benar-benar berniat mengandalkan orang-orang itu?"
"Aku
tidak mengandalkan mereka. Tapi, tidak ada orang lain lagi."
"Seseorang
mungkin akan berkhianat."
"Kalau soal
itu, si mantan pandai besi tadi sepertinya bisa diandalkan. Katanya dia mencoba
menggoda istri Kevin, orang yang pertama kali berkhianat... kalau dia menyerah
pun dia bakal dibunuh. Tragis memang, tapi orang semacam itu justru lebih bisa
dipercaya."
"Itu kalau
ceritanya benar."
"Kalau mulai
curiga tidak akan ada habisnya. Lagipula, aku tidak berniat memberitahu detail
operasinya sampai detik terakhir."
Orang yang
tangannya gemetar kalau tidak minum alkohol, atau kakek-kakek pemabuk, jika
mereka berkhianat pun pasti hanya akan berakhir jadi bahan makanan bagi musuh.
Anggota yang lain pun masing-masing punya kecacatan dalam sifat sosial mereka.
Mungkin terdengar
ironis, tapi orang-orang seperti itulah yang justru lebih bisa dipercaya dan
digunakan.
"Situasi
yang menyedihkan. Bukankah ini semacam hukuman untukmu yang biasanya
bermalas-malasan?"
"Kalau
hukuman, aku selalu menerimanya."
Karena kami
adalah Unit Hukuman. Aku juga tidak merasa kami disukai oleh para dewa.
"Maaf ya, Frensi.
Situasinya parah. Kau pasti marah, kan."
"Tidak
juga. Aku tidak marah."
"Bohong."
Ada hal
yang kusadari──sejak terkurung di kota ini, frekuensi Frensi menyentuh
rambutnya jadi lebih sering.
"Kau
menyentuh rambutmu. Itu artinya kau sedang marah."
"Hah? …Kenapa? Sama sekali tidak benar. Kenapa kau bisa mengambil kesimpulan begitu? Itu
bukti kalau daya observasimu lebih rendah daripada lumut yang tumbuh di sana.
Aku benar-benar heran."
Dia mencercaku
bertubi-tubi. Aku pun yakin, dia memang marah. Pasti itu.
"Sebaliknya,
aku menikmati situasi saat ini."
"Itu baru
bohong. Lihat situasinya. Terkurung di kota yang dikuasai Fenomena Raja Iblis,
sekutunya cuma Rhino dan orang-orang tidak berguna. Hilal keberhasilan operasi
pun belum kelihatan."
"Tidak, aku
menikmatinya. Mungkin ini yang paling menyenangkan dalam beberapa tahun
terakhir."
Frensi
menodongkan kuas yang digunakannya untuk mengaduk larutan tepat di depan
mataku.
Karena itu cairan
yang cukup berbahaya aku ingin dia berhenti, tapi tatapan mata Frensi terlihat
serius. Dia memang wanita yang sulit dibaca emosinya, tapi dia tidak berbohong
dengan tatapan seperti itu.
"Bagaimana
denganmu?"
"Aku?"
"Apa situasi
ini hanya memberimu penderitaan? Ataukah kau sedikit merasa senang?"
Aku mencoba
memikirkannya. Menikmati adalah hal yang mustahil kuucapkan dalam situasi
seperti ini. Itu salah sebagai seorang tentara.
"Aku itu ya,
Xylo. Bersamamu begini──"
"Agoh!"
Kalimat Frensi
tiba-tiba terputus oleh jeritan yang terdengar mendadak.
Disusul suara
pintu yang terbuka dengan keras. Kerutan jarang terlihat muncul di antara alis Frensi.
Aku pikir orang-orang Organisasi Perlawanan berbuat ulah lagi──tapi aku
terkejut melihat sosok yang melompat masuk.
Karena itu adalah
wajah manusia yang benar-benar tidak terduga.
"…Sakit.
Parah sekali…"
Pria mungil itu
mengerang sambil memegangi bagian punggungnya.
"Dotta?"
Aku memanggil
nama penyusup yang sangat tak disangka-sangka itu.
Aku sama sekali
tidak bisa mencerna apa yang terjadi.
"Apa yang
kau lakukan di sini?"
"Atau lebih
tepatnya, kenapa kau bisa ada di sini?"
Frensi sepertinya
merasakan hal yang sama. Baginya ini pasti juga di luar dugaan.
"Yo, Xylo.
Sepertinya situasinya gawat, ya… Sebenarnya aku juga sama. Aku diusir
dari bengkel perbaikan sampai ke sini dengan kecepatan luar biasa…"
Dotta tertawa
lemas dengan wajah yang tampak ketakutan.
"…Aku
menyelinap ke kota ini, dan begitulah, aku dipaksa bergabung dengan
kalian."
"Menyelinap
katamu, bagaimana caranya? Semua jalan diblokir, kan. Apa kau memanjat tembok benteng?"
"Eh, ehhh? Xylo
bisa melakukan hal seperti itu?"
"Tidak,
mungkin aku tidak bisa, tapi…"
"Aku juga
tidak mau, itu melelahkan… Sepertinya di dekat sini Fairy baru saja bentrok dengan tentara
lokal. Banyak mayat manusia, jadi aku menyelinap masuk dengan berpura-pura
menjadi salah satunya."
Apa-apaan itu,
pikirku. Ada cara seperti itu?
Menyelinap
dengan berpura-pura menjadi mayat. Apa yang akan dia lakukan kalau di tengah jalan dia malah dimakan? Terlalu
berbahaya. Pihak Fairy saja pasti butuh kerja sama untuk itu.
"Sebenarnya,
itu… aku dibantu oleh semacam asisten yang jago meniru Fairy, atau orang
yang mirip sipir penjara… aku dibantu orang semacam itu."
"Salah.
Bukan asisten atau sipir, tapi ajudan."
Dari pintu tempat
Dotta masuk, terdengar suara yang rendah dan tertahan. Seorang wanita dengan
rambut merah kusam. Lengan kanannya dibalut perban. Aku samar-samar
mengenalinya.
Orang yang
memungut dan membawa Dotta saat pertempuran Touzin-Touga, ya.
"Kau itu,
perkenalkan ajudanmu sendiri dengan benar."
Dia menatap
rendah ke arah Dotta dengan tajam. Dotta jelas ketakutan dan bahkan melangkah
mundur.
"Eh,
a-ajudan? Setting apa itu? Aku baru pertama kali mendengarnya…"
"…Kalau
begitu, sudahlah. Aku perkenalkan diri sendiri. Aku Trisill… yang mengawasi dan
membimbing pria ini. Itulah tugasku."
Trisill
menyatakan itu dengan wajah yang sangat cemberut. Mungkin saja dia adalah
pejabat yang ditugaskan militer untuk mengawasi Dotta yang terus-menerus
melakukan pencurian gila.
Benar-benar
seperti sipir. Jika begitu, tatapan matanya yang sangat gelap itu cukup
mengusikku. Tapi sekarang bukan waktunya memikirkan itu.
Poin pentingnya
adalah Dotta telah bergabung di sini.
Kemampuan
pengadaan logistik dan kemampuan pengintaian──keduanya akan melonjak drastis.
Cakupan operasi akan meluas. Hal yang bisa dilakukan akan bertambah pesat. Dan
di antara semua itu, yang paling efisien adalah──
"Bagus,
Dotta. Langsung saja, kau harus bekerja."
"Eeeh?
Anu, aku baru saja sampai, dan ada pesan dari luar…"
"Hal semacam
itu dengarkan saja nanti lewat komunikasi rutin. Pokoknya kumpulkan bahan.
Minyak. Lalu senjata. Pisau, sebanyak apa pun tidak masalah."
Aku melihat
senjata Holy Seal buatanku yang masih kasar. Beberapa mungkin bisa
digunakan, tapi tidak semuanya. Karena tidak bisa diuji coba, aku tidak bisa
menjamin akurasi dan keandalannya. Setidaknya, rencana bom waktu harus dibuang.
Karena Dotta
sudah bergabung, ada cara yang jauh lebih baik.
"Bergembiralah,
Dotta. Kau bisa menunjukkan aksi hebatmu."
"Hoh."
Entah kenapa,
Trisill yang merespons hal ini. Dia menyeringai dengan cara yang agresif.
"Bagus kalau
begitu. Berikan dia tanggung jawab seberat apa pun."
"Kenapa
Trisill yang menjawab! Jangan seenaknya──"
"Setelah
makan sedikit kita berangkat. Frensi, kita pakai daging kering yang disimpan. Karena orang ini sudah datang, mulai malam ini
kita tidak akan kekurangan makanan."
"Berita
bagus. Karena mumpung ada dia, mari kita pakai kejunya juga."
"Ah,
sepertinya pendapatku tidak ada artinya di sini…"
Hukuman
Pertempuran Sengit Jalur Perak Asgarsha 2
Berdasarkan
informasi dari Venetim, rencana penyerangan ke Kota Kerajaan Kedua mengalami
perdebatan sengit sampai detik terakhir.
Ada dua masalah
utama.
Pertama, Kota
Kerajaan Kedua adalah kota yang seluruhnya dikelilingi oleh tembok. Terdapat
tiga gerbang—Timur, Barat, dan Selatan—serta terowongan bawah tanah.
Pertanyaannya adalah titik mana yang harus ditembus. Sebenarnya ada gerbang di
Utara untuk melarikan diri dari kastel, tapi penjagaan di sana terlalu ketat
dan jalannya tidak bisa dilewati pasukan besar, sehingga tidak cocok untuk
penyerangan.
Masalah kedua adalah bagaimana cara membuat sang "Saint"
bertarung.
Untungnya, kami sebagai tim penyusup internal diberikan misi
gangguan dengan wewenang yang cukup luas. Kami bebas bertindak berdasarkan
penilaian sendiri untuk mendukung serangan. Target operasi utama adalah
penguasaan gerbang menggunakan Holy Key Cale Vork. Singkatnya, kami
harus membuka jalan agar pasukan utama bisa merangsek masuk.
Namun, titik target penguasaan yang ditentukan benar-benar
buruk.
Target yang diperintahkan adalah Gerbang Selatan.
Sepertinya Tuan Panglima Tertinggi yang baru menjabat
berniat meluncurkan serangan terbuka dari depan dengan gagah berani. Setelah
kuperiksa kembali, Gerbang Selatan memang gerbang terbesar, tapi karena itulah
pertahanannya sangat tebal. Kami akan langsung terjun ke tengah-tengah musuh
yang sudah bersiaga. Bahkan bagi kami pun, menguasai gerbang itu terlalu
mustahil.
Jika ingin menyerang, seharusnya dari Gerbang Timur. Itulah
kesimpulanku. Prajurit di sana lebih sedikit daripada di Gerbang Selatan, dan
meskipun mereka menutupinya dengan penempatan fasilitas garnisun, masih ada
cara untuk membuat kekacauan.
Seharusnya
pendapat ini sudah disampaikan melalui Venetim.
Namun, instruksi
yang kembali justru seolah mengabaikan segalanya—"Berikan ketakutan pada
musuh dengan unjuk kekuatan pasukan besar dari depan, sekaligus menenangkan
hati rakyat di Kota Kerajaan Kedua." Ada kemungkinan pesan lewat Venetim
tidak tersampaikan dengan baik, tapi pola pikir itu sendiri sudah melenceng. Mana
mungkin Fenomena Raja Iblis bisa merasa takut.
Karena itu, aku
memutuskan untuk mengambil tindakan tegas.
"Kuasai
Gerbang Timur. Datanglah lewat jalan raya Asgarsha," ucapku pada Venetim.
Di sekitar markas
"organisasi perlawanan" ini, alias di dalam Distrik Timur, aku sudah
menjalankan beberapa langkah gangguan. Dengan memanfaatkan gang-gang sempit dan
saluran air bawah tanah, tingkat keamanan setidaknya akan sedikit meningkat.
Aku tahu dalam
situasi ini kata "aman" itu omong kosong, tapi aku tetap harus
mengerahkan seluruh kemampuanku. Para petualang di "organisasi
perlawanan" ini—orang-orang yang gagal atau sudah habis masa
jayanya—bukanlah tentara. Secara sosial mereka adalah bajingan yang hanya
peduli pada nyawa sendiri, tapi menyusun rencana dengan asumsi mengorbankan
nyawa mereka adalah hal yang salah.
Begitulah
pikirku. Hanya di dalam hati. Aku tidak mengatakannya pada siapa pun.
Karena Rhino
adalah orang pertama yang setuju dengan kebijakan ini, aku memilih untuk
semakin bungkam.
(Tapi—aku
merasa seolah sedang digiring untuk menyerang Gerbang Timur.)
Mulai dari
insiden pembakaran di Gerbang Selatan, aku merasakan firasat itu. Namun, aku
tidak punya pilihan selain mengikuti arus. Meski ada banyak jebakan di Gerbang
Timur, itu masih lebih baik daripada Gerbang Selatan atau Barat. Tugas kami
sebagai tim operasi internal adalah mendeteksi letak jebakan lebih awal dan
mengatasinya—atau menjadi tumbal pertama untuk menyingkap bahaya yang ada.
"Begitu ya.
Jadi lewat Gerbang Timur?" tanya Venetim dengan nada bingung melalui
komunikasi rutin tersebut.
"Sulit ya.
Benar-benar sulit. Kebijakan umum sudah diputuskan soalnya."
Saat orang ini
menggunakan kata "sulit", artinya "aku rasa itu mustahil, tapi
kalau aku bilang langsung nanti kau marah atau menganggapku tidak becus, jadi
lebih baik jangan".
Dengan kata lain,
justru di saat seperti inilah Venetim harus bekerja.
"Dengar,
berkat kalian, informasi internal sudah diketahui, kan? Setidaknya ada tiga
ekor Fenomena Raja Iblis, bukan?"
Pemimpin Fenomena
Raja Iblis yang sudah pasti ada tiga ekor. Begitulah yang kusampaikan.
Pertama, sang
panglima tertinggi, "Abaddon". Detailnya tidak diketahui.
Lalu unit tempur
udara, "Shugar". Dia menggunakan semacam senjata jarak jauh yang
mengejar target lalu meledak.
Dan
"Arvank" yang mengawasi para pelarian. Raja Iblis yang gerakannya
lambat tapi luar biasa buas, dengan serangan tebasan yang sangat tajam. Dia
bahkan sanggup menebas roboh Menara Radiant Heat.
Lalu mungkin ada
satu atau dua ekor Fenomena Raja Iblis lainnya.
"Pertama,
terowongan bawah tanah akan ditangani oleh Ksatria Suci Kesembilan dan <<Goddess>>
Racun. Sejak awal, bertarung di ruang tertutup adalah keahlian mereka."
"Benar.
Kurasa itu penempatan yang tepat."
Pasukan Ksatria
Suci Kesembilan yang dipimpin oleh Horde Krivios memang menunjukkan daya hancur
tinggi di lingkungan seperti itu. Sepertinya mereka akan melakukannya dengan
baik.
"...Lalu,
pasukan utama yang dipimpin Sang Saint beserta seluruh sisa tentara akan
menyerang secara terbuka dari Gerbang Selatan... Begitulah rencananya."
"Terlalu
optimis. Siapa yang menyusun rencana itu?"
Pemusatan
kekuatan memang hal yang bagus. Terowongan bawah tanah juga punya daya tekan
yang cukup, dan keduanya bisa menjadi target utama. Dengan serangan total
seluruh pasukan, kemungkinan menembus Gerbang Selatan memang tinggi.
(Tapi, berapa
banyak nyawa yang akan melayang?)
Mengonsumsi nyawa
prajurit seperti membuang air, memakan banyak waktu, dan terus merangsek masuk
tidak peduli seberapa besar kerusakan yang terjadi. Itu adalah taktik yang
hanya mengandalkan kekuatan otot. Jika pertempuran berlarut-larut, kemungkinan
penduduk kota digunakan sebagai sandera akan meningkat. Para tentara bayaran
pasti akan menjarah tanpa ampun sebelum melarikan diri.
Lagi pula, kami
mungkin akan mati. Semakin lama pertempuran berlangsung, semakin sulit untuk
mempertahankan penguasaan wilayah.
(Seharusnya, kita
butuh cara bertarung yang cepat dan menentukan dalam satu serangan.)
—Di dalam
kepalaku, aku membayangkan wajah dua pria yang kemungkinan memegang komando
dalam pertempuran kali ini.
Wajah kaku nan
serius milik Horde Krivios dari Ksatria Suci Kesembilan.
Dan seringai
sinis yang merendahkan orang lain milik Adif Twibel dari Ksatria Suci
Kedelapan.
Mungkinkah mereka
berdua menyusun rencana seperti ini? Aku tidak terlalu mengenal Horde, tapi
Adif, yang biasa mengoperasikan para pelayan "Bayangan", memiliki
catatan prestasi yang cukup bagus dalam melawan Fenomena Raja Iblis di wilayah
barat. Aku pernah bertarung bersamanya. Taktik Adif lebih cenderung teliti
daripada mahir atau berani.
Mungkinkah dia
melakukan hal seceroboh ini?
"Anu... ini
adalah perintah dari Tuan Panglima Tertinggi yang datang dari Galtuil,"
ucap Venetim, menyampaikan hal yang mengerikan seperti dugaanku.
"Marcolas Esgain, Gubernur Jenderal Angkatan Darat
Wilayah Kedua Utara. Dia adalah salah satu bangsawan penyumbang dana besar bagi
operasional Ksatria Suci. Sepertinya
dia memiliki hak suara yang sangat kuat..."
"Esgain, ya.
Jadi dia sudah kembali."
Venetim
pasti mendengar decakan lidahku. Begitulah betapa merepotkannya orang itu.
Dalam sistem
Galtuil, di bawah Panglima Tertinggi terdapat jabatan Gubernur Jenderal
Wilayah. Jika menggunakan istilah Kerajaan lama, ini setara dengan pangkat
"Jenderal". Sebagai orang yang mengoordinasi garis depan di setiap
wilayah, seingatku ada tujuh atau delapan orang. Sekarang mungkin lebih banyak.
Di antaranya, Esgain terkenal sebagai Gubernur Jenderal yang hanya mengandalkan
kemuliaan nama keluarganya. Karena dia sudah ada sejak aku masih menjadi
Ksatria Suci, sepertinya dia belum juga lengser.
Keluarga Esgain
banyak memberikan bantuan dana, sehingga sedikit orang di militer yang berani
memprotesnya.
Namun, ini adalah
salah satu kasus terburuk. Ibarat seorang penyumbang dana yang suka menonton
pertunjukan, lalu mendirikan kelompok teater sendiri dan merangkap jadi penulis
naskah, pemeran utama, sekaligus sutradara. Orang yang bisa melakukan hal seperti
itu hanyalah segelintir genius yang muncul sekali dalam beberapa ratus tahun
sejarah.
Marcolas Esgain
merasa dirinya adalah salah satu dari segelintir orang genius itu.
"Jika ingin
menyerang, lewatlah Gerbang Timur. Lakukan sesuatu untuk mengubah rencana
itu."
"Meskipun
Anda bilang begitu, itu sulit..."
"Jika tidak
bisa seluruh pasukan, kalian saja sudah cukup. Kirimkan Patausche dan Teoritta
kepadaku."
Aku menyebutkan
syarat minimal yang bisa kupikirkan.
"Terutama
Patausche. Dia pasti bisa melakukannya dengan baik."
Maksudku, dia
pasti bisa menerobos dan sampai ke sini. Patausche Kivia sangat mengerti cara
menangani kavaleri. Dalam pertempuran barisan belakang di Perbukitan Tujin Tuga
beberapa waktu lalu, dia berkali-kali berhasil menembus kepungan musuh untuk
memulihkan formasi kawan yang hampir hancur.
Tentara yang
benar-benar bisa diandalkan adalah mereka yang mampu menunjukkan kekuatannya
justru dalam kondisi terdesak seperti itu.
"Mungkin
dengan begitu, kita bisa melakukan sesuatu. Mungkin. ...Jika kita
beruntung."
"Anu, apa
yang harus kulakukan dengan permintaan mustahil itu?"
"Minta
tolonglah pada Adif. Dia adalah tipe orang yang mungkin—hanya mungkin—bisa
diajak bicara kalau kau menjelaskannya."
"Eeeh...
anu, bukankah itu terlalu sembrono?"
"Aku
tidak mau dengar itu darimu. Lalu, jangan lupa bawa Magical Cannon Armor
milik Rhino saat kita bergabung nanti. Sisanya kuserahkan padamu."
"Ah, Xylo-kun,
tunggu sebentar..."
Venetim masih
ingin mengatakan sesuatu, tapi aku tidak mau mendengarnya. Aku memutus
komunikasi dan berbalik.
Tepatnya,
berbalik ke arah Rhino dan Dotta.
"Venetim
bilang segalanya berjalan lancar, jadi mari kita semua berjuang."
"Itu pasti
bohong!" seru Dotta seperti menjerit.
Dia sangat lemah
akibat kerja paksa selama dua hari terakhir, dan wajahnya pucat pasi. Dia baru
saja bisa beristirahat sejenak dan memakan bubur gandum serta babi panggang
rempah yang agak mendingan.
"Begitu Venetim
mengatakannya, Venetim sudah tidak bisa dipercaya, dan begitu Xylo yang
menyampaikannya, tingkat ketidakpercayaannya makin bertambah! Ada dua poin yang
tidak bisa dipercaya di sini!"
"Bukankah
kalau sudah berputar satu lingkaran penuh malah jadi bisa dipercaya?"
"Tidak
mungkin!"
Dotta menunjukkan
wajah putus asa. "Kenapa jadi begini... Padahal aku baru saja kembali dari
tempat perbaikan, aku ini masih dalam masa pemulihan tahu!"
"Tapi kau terlihat sehat, itu yang terpenting. Kawan Dotta," ucap Rhino
sendirian, memberikan komentar yang meleset. Seperti biasa, dengan senyuman
mencurigakan yang tertempel di wajahnya, dia menenggak anggur curian Dotta yang
dicampur buah kering dan dihangatkan.
Orang ini
tidak pernah terlihat mabuk seberapa banyak pun dia minum. Seolah-olah dia
hanya meminum air hangat.
"Lagi
pula, sepertinya kau memiliki ajudan prajurit yang cukup menarik ya. Siapa
namanya?"
"Trisir...
Tidak, jabatan ajudan itu juga cuma pengakuannya sendiri. Aku benar-benar tidak mengerti jalan
pikirannya." Dotta membantah dengan sangat keras.
Untungnya,
Trisir tidak ada di sini. Dia sedang membersihkan diri bersama Frensi di
fasilitas pemandian bawah tanah yang memanfaatkan mata air panas. Kota Kerajaan
Kedua memang memiliki fasilitas air bersih yang lengkap. Selain itu, Trisir
entah kenapa tampak sangat akrab dengan Frensi. Mungkin karena kepribadian
mereka mirip.
"Benar
juga. Trisir." Rhino bergumam pelan, lalu menunjukkan tatapan jauh seolah
sedang memikirkan sesuatu.
"Lengan
kanannya cukup menarik. Sepertinya itu bukan milik manusia, ya?"
"Ah, iya.
Katanya... lengan kanan Variant Fairy ditanamkan ke tubuhnya. Berkat itu, dia
bisa dengan mudah membaur di antara kawanan Variant Fairy, dan itu sangat
membantu saat kami menyelinap ke sini."
"Hah?"
Aku spontan berteriak. Saking terkejutnya.
"Apa-apaan
itu? Apa lengan kanan Variant Fairy bisa ditanamkan ke tubuh manusia?"
"Sepertinya
bisa. Katanya kekuatan fisiknya juga jadi kuat hanya di lengan kanan itu."
"Kenapa kau
menerimanya begitu saja! Harusnya kau lebih heran, tahu!"
"Itu bukan
hal yang mustahil, Kawan Xylo," ucap Rhino sambil mengangguk dengan
ketenangan yang menjengkelkan.
"Variant
Fairy pada dasarnya adalah makhluk yang telah menjadi Raja Iblis. Mereka punya
kekuatan untuk menginvasi dan menyerap makhluk hidup lain. Jika daya tahan
orang tersebut... sebut saja kekuatan hidup... atau kekuatan jiwa mereka
seimbang, ada kemungkinan proses asimilasi terhenti di tengah jalan."
"Kau tahu
banyak ya. Apa kau membawa pulang daging Variant Fairy sesekali karena sedang
melakukan eksperimen semacam itu?"
"Yah,
begitulah."
"Eeeh...?
Kalau begitu, Rhino... aku juga sudah lama ingin menanyakannya," ucap Dotta
dengan suara ragu-ragu.
"Bukan cuma
mayat Variant Fairy, bukankah terkadang kau juga membawa pulang mayat
manusia?"
"Itu hanya
perasaanmu saja. Untuk apa aku perlu membawa pulang mayat manusia?"
"Kalau
ditanya begitu aku tidak bisa menjelaskannya, tapi... anu, seperti membedah
atau memakannya..."
"Untuk apa
aku melakukan hal itu?"
"Ti-tidak,
maksudku kalau Rhino yang melakukannya sepertinya masuk akal saja..."
"Kenapa
harus aku?"
"Ah, ya
sudah kalau begitu..."
"Haha! Kawan
Dotta memang lucu ya. Kau mengeluarkan teori baru satu demi satu. Sangat
menarik."
Rhino tertawa
ceria, sehingga Dotta pun terdiam.
Itu pilihan yang
bijak, dan aku setuju. Tidak ada gunanya menggali lebih dalam hobi menjijikkan Rhino.
Ada sesuatu pada diri Rhino yang membuatku merasa tidak ingin berbagi rahasia
apa pun dengannya.
Tapi, itu masalah
lain.
Entah dia
menyimpan mayat manusia untuk dimakan atau membedah mayat Variant Fairy, itu
bukan masalah besar.
Dia memang orang
yang sama sekali tidak bisa dipercaya, tapi di samping itu, Rhino adalah
penembak meriam tingkat tertinggi yang pernah kukenal.
Setidaknya, tidak
ada manusia lain di dunia ini yang bisa melakukan apa yang dia lakukan.
"Rhino.
Mulai sekarang, Venetim akan bergerak agar serangan dilakukan dari Gerbang
Timur bagaimanapun caranya. Setidaknya dia akan mengirimkan Magical Cannon
Armor milikmu. Setelah itu, aku akan membuatmu bekerja sampai mati."
"Aku akan
mengerahkan seluruh kemampuanku. Di depan Kawan Xylo dan Kawan Dotta, aku tidak
boleh menunjukkan pertarungan yang memalukan."
"Aku sih
kalau bisa tidak ingin bekerja..."
"Target kita
hanya satu." Mengabaikan
Dotta, aku menunjuk satu titik di peta yang terbentang di lantai. Bagian utara kota, Kastel Kerajaan.
"Komandan
Fenomena Raja Iblis, 'Abaddon'. Kita bunuh dia. Dengan begitu perang ini akan berakhir."
"Ya.
......Ya, luar biasa..." Aku bisa merasakan Rhino menjilat bibirnya.
"Aku akan
mengikutimu sampai mati, Kawan Xylo. Sebuah kehormatan bisa bertarung bersamamu."
"Menjijikkan."
Dotta mengerang pelan. Aku benar-benar sependapat dengannya.
Hukuman
Pertempuran Sengit Jalur Perak Asgarsha 3
Tenda itu
jauh lebih berantakan daripada yang kubayangkan.
Rasanya
benar-benar tidak sesuai dengan gelar Komandan Ksatria Suci Kedelapan yang
disandangnya.
Adif
Twibel. Saat pertama kali melihat pria itu, dia tampak seperti orang yang
selalu mempersiapkan segala sesuatunya dengan cermat, atau bahkan memancarkan
aura yang begitu elegan.
Karena
itulah, aku terkejut melihat tenda pribadinya. Benda-benda tak berguna yang
tampak seperti rongsokan, rak yang terbuka setengah, hingga pakaian yang
menggulung sembarangan memenuhi pandangan.
Namun,
kekacauan aneh di dalam tenda ini mungkin disebabkan oleh sang "Goddess",
Kerflora.
Saat
Venetim masuk, dia sedang asyik memainkan teka-teki klasik yang terbuat dari
jalinan kawat tebal. Atau lebih tepatnya, dia tampak sedang bergulat dengan
benda itu.
"Ada sesuatu
yang ingin kusampaikan padamu," kata Venetim saat meminta waktu untuk
berbicara.
Adif kemudian
menyuruh Kerflora untuk pergi bermain di luar. Alih-alih sebuah perintah, itu
terdengar lebih seperti permintaan dari kerabat yang jauh lebih tua.
Kerflora
mengangguk tanpa kata. Dia mengambil segenggam manisan dari rak yang terbuka
setengah, lalu melangkah keluar dari tenda.
Jika bukan karena
penampilannya yang terlalu sempurna dan ekspresi sedingin es, gerak-geriknya
benar-benar hanya terlihat seperti anak kecil biasa.
"──Jadi,
kamu ingin mengatakan ini kepada kami?"
Setelah mendengar
seluruh keperluan itu, Adif yang masih duduk di kursi lipat melirik Venetim
yang berdiri tegak dengan tatapan merendah.
Sepasang
matanya seolah sedang mengejek. Atau mungkin, itu memang tatapan bawaannya sejak lahir.
"Operasi
dari gubernur yang diangkat secara resmi oleh Galtuill memiliki kesalahan.
Jadi, kami harus mendengarkan pendapat kalian para Terpidana Pahlawan dan
mengubah rencana di saat-saat terakhir ini──begitu?"
Suara Adif sedikit bercampur dengan tawa.
"Menyampaikan hal itu dengan lantang di hadapanku, kamu
punya nyali yang cukup besar."
Memang benar, pikir Venetim. Namun, tidak ada cara lain.
Dalam operasi perebutan kembali Zeialente, Ibu Kota Kerajaan
Kedua ini, hanya ada tiga orang yang terlibat dalam keseluruhan rencana
operasi.
Gubernur Angkatan Darat Front Utara Kedua dari Galtuill,
Marcoras Esgain.
Komandan Ksatria Suci Kedelapan, Adif Twibel.
Dan Komandan Ksatria Suci Kesembilan, Hord Krivios.
Di antara ketiganya, bertemu langsung dengan Marcoras adalah
hal yang mustahil. Diusir sebelum sampai ke pintu saja sudah termasuk
beruntung; salah-salah malah bisa dicari-cari kesalahannya.
Di sisi lain,
menemui Hord Krivios bukannya tidak mungkin. Dia juga sedikit mengakui
keberadaan Terpidana Pahlawan.
Namun, itu hanya
sebatas pengakuan atas kekuatan tempur. Dan yang terpenting, dia orang yang terlalu
serius.
──Karena
kondisinya seperti itu, tidak ada pilihan selain mencoba bicara pada satu orang
yang tersisa.
Adif Twibel.
Menurut Xylo, dia
adalah tipe orang yang 'kalau diajak bicara, mungkin bukan berarti dia tidak
akan mengerti'.
Venetim ingin
sekali mengeluh karena harus bekerja berdasarkan informasi ambigu seperti itu,
tapi dia sendiri pun sudah putus asa──agar tidak mati. Jika Xylo bilang mereka
harus menyerang dari gerbang timur, maka itu pasti benar.
"……Kita
harus memusatkan seluruh pasukan dan menyerang dari gerbang timur. Tentu saja,
setelah menempatkan unit terpisah untuk pengepungan."
Venetim
mengulangi argumennya yang tadi.
"Menyerang
dari gerbang selatan adalah strategi yang bodoh. Kerugian yang diperkirakan
terlalu besar, dan umat manusia akan kesulitan untuk terus bertarung di 'masa
depan'. Ini harus dikoreksi. Ya──"
Venetim
menarik napas di sana.
Dari nada
suara Adif sejauh ini dan pergerakan ekspresinya yang halus, dia mencoba
memikirkan gaya bicara seperti apa yang disukai pria ini.
Tidak masalah
jika itu bukan kebenaran. Bagi Venetim, yang terpenting adalah dia bisa disukai
oleh lawan bicaranya.
"Jujur saja,
kebijakan operasi Yang Mulia Gubernur Marcoras Esgain memiliki masalah. Aku
hanya bisa menegaskannya seperti itu."
Venetim merasa
dirinya baru saja melontarkan kata-kata yang sangat kasar. Tapi belum cukup.
Kata-kata selanjutnya akan jauh lebih provokatif.
"Oleh karena
itu, aku ingin Anda mempertimbangkan nasihat dari unit Terpidana Pahlawan kami.
Sebelum kesalahan fatal terjadi, aku mohon bantuan Komandan Ksatria Suci
Twibel. Bisa dikatakan, kami berniat memanfaatkan Anda──begitulah."
Bahkan setelah
rentetan kata-kata itu, ekspresi Adif hampir tidak berubah sama sekali.
"Kami juga
tidak ingin mati, soalnya."
Venetim merasa
Adif adalah tipe orang yang sangat menyukai humor mencela diri sendiri seperti
ini. Gaya bicaranya yang sinis adalah buktinya. Mungkin, dia juga pria yang
sadar akan hal itu.
"……Kejujuran adalah hal yang baik. Meski tergantung
pada waktu dan situasinya."
Adif menyeruput teh yang baru saja dia tuang sendiri.
Gerakannya tetap terlihat elegan, ciri khas bangsawan kelas atas.
"Sebenarnya, aku pun berpendapat sama. Operasi dengan
kerugian yang terlalu besar──tapi, aku juga tidak ingin membahayakan posisiku
sendiri."
Venetim merasa seolah-olah sedang diuji.
"Lawanmu adalah kepala keluarga Esgain. Jika aku
menentang ini, ada kemungkinan aku akan berada dalam posisi sulit dalam
pertempuran dan masalah politik di masa depan. Mereka bisa saja mencari-cari
alasan untuk mengurangi pendanaan bagi Ksatria Suci Kedelapan milikku──hal
semacam itu sangat mungkin terjadi."
Itu masuk
akal, dan Venetim setuju dengan bagian itu.
Ini bukan
sekadar masalah emosi atau gengsi. Jika orang setingkat Adif Twibel melayangkan
keberatan, maka niat permusuhan terhadap keluarga Esgain akan dicurigai.
"Sebagai
Komandan Ksatria Suci, aku juga memiliki kewajiban untuk melindungi Kerflora
dan para prajurit. Bisa dikatakan itu adalah prioritas utamaku. Aku tidak ingin
membuat mereka kesulitan karena terkena pelecehan dari keluarga Esgain."
Lalu,
Adif kembali menatap Venetim.
"Atau,
Kapten Venetim. Bisakah kamu memberikan keuntungan yang sepadan, atau mungkin
strategi untuk menghindari permusuhan tersebut?"
"Ya. Tentu
saja."
Venetim menjawab
seketika.
Lalu dia menyesal
segera setelah menjawabnya. Tapi apa boleh buat. Karena sudah terlanjur
diucapkan, dia harus menyelesaikannya.
Seperti biasa,
setiap kali berbohong, dia merasa seolah kepalanya pusing. Adif menyipitkan
mata melihat Venetim. Dia mungkin sedang tersenyum.
"Kamu yang
menerima Hukuman Pahlawan karena kejahatan penipuan, aku benar-benar tidak
habis pikir keuntungan seperti apa yang bisa kamu tawarkan."
"……Memang
benar aku dipenjara karena dosa penipuan. Namun, penipuan adalah hal yang sulit
dilakukan tanpa modal minimal. Hal pertama yang harus dilakukan seorang penipu,
di atas segalanya, adalah mencari dana."
Sambil
berbicara, Venetim merasa tenggorokannya kering. Dia ingin minum air. Teh
seperti yang sedang diminum Adif pun tidak masalah.
"Untungnya,
aku memiliki dana yang bisa kugunakan dengan bebas. Dan aku terus mengamankannya hingga saat
ini."
"Apa kamu
sedang membicarakan harta karun yang disembunyikan? Semacam harta karun
terpendam. Tiba-tiba saja aku jadi tidak tertarik. Kamu harus memilih lawan
bicara jika ingin membual dengan cerita yang tidak masuk akal."
"Bukan. Ini
tentang brankas milik Perusahaan Pengembangan Varkul."
Kemudian, Venetim menyingsingkan lengan baju kirinya tinggi-tinggi untuk diperlihatkan.
Di lengan itu,
terdapat tato yang terlihat jelas seperti empat garis lurus. Aku bisa merasakan
tatapan tajam Adif yang memperhatikan dengan sebelah mata menyipit.
"Perusahaan
Varkul adalah organisasi yang sangat antusias dalam mengumpulkan sumber daya
manusia. Mereka memungut anak-anak yang menjanjikan, membesarkannya, dan saat
mereka siap mandiri, perusahaan menyediakan dana dalam bentuk pinjaman. Itu pun
dalam bentuk koin emas Kerajaan Lama. Jumlahnya ditentukan oleh banyaknya garis
ini."
Jumlah pinjaman
tersebut dilambangkan melalui tato. Jika sampai empat garis, itu adalah nominal
yang cukup untuk segera mempekerjakan orang dan membuka bisnis skala besar;
sesuatu yang sangat jarang ada.
"Aku masih
menyimpan dana itu. Perusahaan Varkul yang mengelolanya. Saat aku dipenjara,
harta pribadiku memang disita, tapi mereka tidak bisa menyentuh apa yang ada di
dalam brankas perusahaan."
"Secara
hukum, itu pun seharusnya ikut disita, bukan?"
"Perusahaan
Varkul tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dan aku, masih memiliki hak untuk
menarik dana tersebut."
"Meski
statusmu seorang kriminal?"
"Meski
seorang kriminal. Varkul adalah organisasi yang seperti itu. Lagipula──"
Venetim
mengucapkan kelanjutannya, berusaha membuatnya terdengar seSantai mungkin.
"Lagipula
aku bukan anak angkat, melainkan putra garis keturunan langsung dari keluarga
Varkul. ……Jika Anda mau menerima pendapatku, aku menjanjikan dukungan politik
dan ekonomi dari Perusahaan Varkul."
Hening
tercipta selama beberapa detik.
Adif
memejamkan sebelah matanya. Mungkin itu kebiasaannya saat sedang berpikir
keras. Sekitar satu menit
berlalu dalam kondisi seperti itu.
"……Nama
keluarganya berbeda. Namamu adalah Venetim Leopool."
"Dalam
catatan sipil, memang tertulis begitu."
Masalah catatan
sipil bisa diatur sedemikian rupa. Dulu, aku bahkan pernah memiliki tiga
identitas yang berbeda.
"Silakan
selidiki masalah ini sesuka Anda. Karena yang akan Anda temukan hanyalah
fakta."
"Begitu,
ya."
Adif
mengangguk sedikit.
"Aku
tahu tentang tato itu. Itu cocok dengan ingatanku. ……Tapi, tidak ada waktu
luang untuk menyelidikinya sekarang."
"Benar.
Selagi Anda menyelidikinya, banyak bawahan Anda yang akan mati."
Venetim
menarik kembali lengan bajunya. Cap pengkhianat ini bukanlah sesuatu yang ingin dia pamerkan kepada orang
lain.
"Anda bilang
memiliki kewajiban untuk melindungi bawahan dan menghindari kesulitan bagi
mereka. Jika demikian, Anda harus bertarung dengan cara yang mengutamakan nyawa
mereka. Alih-alih takut pada konflik politik di masa depan, pikirkanlah
prajurit yang mungkin terbunuh besok."
"……Setelah
membuat lawan goyah, lalu mencampurkan elemen emosional di akhir, dan mencoba
menutupnya dengan logika yang digunakan lawan itu sendiri. ……Hmm."
Sudut mulut Adif
terangkat, membentuk senyum tipis.
"Tidak
buruk. Bahkan jika itu bohong, bagian terakhirnya selaras denganku. Jika aku
menggunakan logika sebagai Komandan Ksatria Suci, aku terpaksa setuju dengan
kesimpulan itu──artinya, sepertinya kamu cukup berguna."
Entah kenapa,
Venetim merasakan firasat buruk. Dia bisa merasakan bahwa lawan bicaranya sedang bersenang-senang.
"Venetim
Leopool. Tidak, jika ceritamu benar, Venetim Varkul. Aku bisa memaksakan revisi rencana operasi ini.
Kita juga bisa mendapatkan dukungan dari Pangeran Ketiga dan Putri Ketiga.
Mereka berdua sangat menghargai unit Terpidana Pahlawan kalian."
Venetim
membayangkan wajah kedua orang itu. Upaya untuk menolong mereka waktu itu
sebenarnya hanyalah tindakan berdasarkan suasana hati Dotta yang berubah-ubah,
tapi sepertinya memberikan keuntungan.
"Tapi di
saat yang sama, dengan menentang keluarga Esgain, aku──tidak, seluruh Ksatria
Suci akan memiliki musuh politik yang besar. Tentu saja itu setelah operasi ini
berakhir. Bisa dibilang, perang politik akan dimulai."
"Ya."
Venetim
mengangguk, berpura-pura mengerti meski sebenarnya tidak tahu apa-apa.
"Sepertinya
akan begitu."
"Kalau
begitu, biarkan aku memanfaatkanmu. Lebih tepatnya, unit Terpidana Pahlawan
kalian."
Adif berdiri.
Ternyata dia lebih tinggi dari perkiraan. Dan dengan tatapan yang berubah
drastis menjadi sangat mengintimidasi, dia menatap tajam ke arah Venetim.
"Aku akan
memanfaatkan lidahmu itu. Jangan sampai lupa. Kamu baru saja berutang padaku
juga."
"Jika
demikian, dengan senang hati."
Venetim
tersenyum lemah. Dia tahu betul bahwa terkadang sikap seperti itu justru
memberikan kesan menyeramkan.
"Karena aku
pun punya tujuan sendiri. Untuk itulah, aku memanfaatkan Anda."
Ini adalah
kebohongan total.
Dia tidak
memiliki tujuan khusus apa pun──hanya saja, pria seperti Adif pasti akan
menyukai sikap yang seperti itu. Venetim sangat yakin akan hal itu.
Bahkan jika
penyamarannya terbongkar, atau justru karena terbongkar, Adif pasti akan
menikmati sosok dirinya yang konyol ini.
◆
Saat keluar dari
tenda Adif Twibel, Tatsuya, Patausche, dan Jace sudah menunggu.
Venetim merasa
sedikit aneh. Patausche dan Tatsuya memang menunggu untuk mendengar hasil
negosiasi, tapi Jace berbeda.
(Tumben sekali.)
Dia adalah pria
yang jarang keluar dari kandang naga. Di antara unit Terpidana Pahlawan pun,
dia yang paling enggan berinteraksi dengan orang lain. Paling-paling hanya
saling melontarkan makian dengan Xylo.
Sepertinya dia
baru saja berbicara cukup lama dengan Patausche.
"Ada apa,
Jace-kun?"
Saat disapa, Jace
menatap tajam dengan pandangan khas anak remaja yang sedang memberontak.
"Ada
informasi. Keadaan jadi merepotkan."
"Lebih dari
sekarang? Padahal aku sudah punya banyak masalah."
"Ada musuh
yang menyebalkan. Mungkin lebih buruk daripada Fenomena Raja Iblis
Shugar."
Nada bicaranya
penuh kebencian. Ini berbeda dengan kekesalan setengah bercanda saat dia bicara
tentang Xylo. Venetim merasakan rasa jijik yang tulus di sana.
"Aku datang
untuk menyampaikan ini. Tadi aku naik ke langit untuk patroli, lalu terjadi
bentrokan kecil dengan para Fairy tipe terbang di Ibu Kota Kedua. Cara
bertarung musuh jelas sudah berubah."
"Katanya ada
perubahan besar dalam taktik mereka."
Patausche juga
memasang wajah yang cukup serius. Venetim sebenarnya tidak mengerti, tapi dia memutuskan untuk mengangguk
saja.
"Begitu ya.
Jadi? Musuh seperti apa itu?"
"Sepertinya
mereka melakukan sesuatu seperti jebakan dengan memanfaatkan awan. Sebagai
taktik, itu adalah tindakan yang tidak pernah ada pada Fairy tipe
terbang sebelumnya."
"Terlebih
lagi, mereka melakukan pengepungan. Gerakan itu jelas dimaksudkan untuk
memusnahkan kami. Kalau bukan aku dan Neely yang bertugas, kami pasti sudah
habis."
Jace melepas kacamata badainya dan menatap bagian kacanya.
Ada retakan di sana. Ini juga pemandangan langka──artinya situasi tadi cukup
berbahaya hingga membuat perlengkapan Jace rusak.
"Aku
mengenali cara bertarung itu. Karena aku juga menjadikannya referensi──dulu, saat pemberontakan yang
kulakukan, ingat?"
"E-eh. Ya.
Aku tahu sih……. Itu
tentang serangan mendadak dan pendudukan benteng yang gila-gilaan itu,
kan?"
"Benar. Saat
itu dia berada di posisi seperti wakilku. Namanya Tovitz Huker."
Ini mungkin
pertama kalinya Venetim mendengar cerita tentang saat Jace melakukan
pemberontakan. Memang kabarnya saat itu bukan hanya naga, tapi beberapa perwira
juga ikut bergerak mengikuti Jace.
"Dia
seharusnya dijebloskan ke penjara Ibu Kota Kedua, jadi kemungkinannya tinggi.
Kalau orang itu memihak musuh, baik langit maupun darat akan jadi
merepotkan."
"O-oh."
"Kau ini,
jawabanmu seperti tidak mengerti sama sekali."
Patausche
menggelengkan kepala dengan ekspresi lelah.
"Ini
bukan sekadar masalah munculnya individu Fairy yang kuat atau
bertambahnya Fenomena Raja Iblis. Level taktik mereka telah berubah drastis.
Artinya pertempuran setelah ini akan jauh lebih berat──termasuk perebutan Ibu
Kota Kedua kali ini."
"O-oh……"
"Hmph.
Berhenti saja mencoba membuat si bodoh ini mengerti masalah seperti itu."
Jace mendengus,
menyerah pada kemampuan pemahaman Venetim. Bagi Venetim, itu justru jauh lebih
melegakan.
"Intinya,
bantuan dari langit ke darat jadi luar biasa sulit. Jangan berharap banyak,
Patausche."
"Aku
mengerti. Lagipula sejak awal aku tidak berniat bergantung sepenuhnya. Selain
itu, apakah pria bernama Tovitz itu tidak punya kelemahan? Akan sangat membantu
jika kita tahu kecenderungan cara bertarungnya."
"Kelemahan,
ya."
Sejenak, Jace
tampak berpikir. Segera setelah itu, dia bergumam ketus.
"Dia tidak
akan melakukan apa yang tidak bisa dia lakukan. ……Entah itu bisa disebut
kelemahan atau bukan. Artinya, dia hanya bergerak saat dia yakin bisa berhasil.
Atau, saat dia sudah menyiapkan asuransi jika gagal."
"Jika itu
benar, bukankah seharusnya pemberontakanmu dulu berhasil?"
"……Artinya
ada elemen yang tidak bisa dia prediksi sepenuhnya. Dia mungkin tidak berniat
tertangkap, tapi pada akhirnya, kemampuan intelijen manusia berhasil
menangkapnya."
"Hanya itu
celahnya, ya."
"Ya. Aku
tidak tahu lebih dari itu. Kami tidak berhubungan selain sebagai atasan dan
wakil. Karena aku memang tidak menyukainya."
Venetim melihat
wajah Jace yang semakin tidak senang.
"Dia tipe
orang yang hidup seolah hanya untuk membunuh waktu. Tidak punya obsesi pada apa
pun. Tapi, karena dia sudah memutuskan keluar dari penjara untuk bertarung, dia
pun──tidak──"
Jace bungkam
sebelum menyelesaikan kalimatnya, lalu berbalik pergi. Dia berjalan dengan langkah lebar
yang menyiratkan kekesalan di hatinya.
"……Terserahlah.
Pokoknya kita perlu memikirkan cara bertarung. Aku akan bicara sebentar dengan Norgalle──urusan
darat, kalian uruslah sendiri. Segera kembalikan si bodoh Xylo itu ke
unit."
"Aku
mengerti. Akan kuusahakan
sebaik mungkin."
"Berusaha
saja tidak akan cukup. Perebutan Ibu Kota Kedua akan memasuki tahap krusial
mulai sekarang."
Patausche
menatap Venetim dengan mata yang serius dan tegang seperti biasanya.
"Sepertinya
kau juga sudah selesai bernegosiasi dengan Adif Twibel. Bagaimana
hasilnya?"
"Hampir
semuanya berjalan lancar. Rencana operasinya diubah. Meski aku jadi harus
memikul satu utang budi. Serangannya akan dilakukan dari gerbang timur.
Penyerangan akan dimulai besok saat senja."
"Begitu.
Baguslah."
Pipi
Patausche sedikit mengendur. Itu adalah senyum yang lebih mirip dengan rasa lega.
"Kalau
begitu tidak ada pilihan lain. Jika Xylo memang meminta bantuanku, akan
kuhancurkan gerbang timur itu untuknya."
"……E-eh. Ya.
Benar sekali."
"Katanya aku
boleh memimpin kavaleri dari Ksatria Suci Ketiga Belas yang dulu lagi. Begitu
gerbang hancur, kami akan melakukan terobosan cepat. Tidak akan kubiarkan siapa
pun menghalangi."
"Aku
mengandalkanmu. Xylo-kun juga bilang dia sangat bergantung pada pasukan
kavalerimu."
"Tentu
saja."
Jawabnya sambil
membusungkan dada.
Tampaknya
menyampaikan pesan dari Xylo kepada Patausche dengan sedikit dilebih-lebihkan
memberikan efek yang baik. Suasana hatinya membaik secara drastis, dan atmosfer
unit pun meningkat pesat. Jace tetap terlihat kesal, tapi setidaknya dia masih
punya tenaga untuk mengeluh saat Venetim datang.
"Kalau
begitu, aku juga akan bersiap untuk berangkat. Kau juga jangan terlambat. Aku
tidak akan memaafkan siapa pun yang menjadi beban."
"Aku
mengerti."
Venetim berpikir,
jika dia memang menjadi beban, dia lebih suka ditinggalkan saja. Meski begitu,
dengan ini permintaan Xylo sudah terpenuhi──apakah peluang untuk bertahan hidup
akan meningkat?
(Meski bayarannya
sepertinya tidak murah.)
Venetim menepuk
bahu Tatsuya dan mulai berjalan. Tatsuya baru saja kembali dari tempat
perbaikan, tapi katanya sudah tidak ada masalah untuk kembali bertugas.
Sepertinya dia sudah siap untuk bertempur.
"Ayo pergi,
Tatsuya."
"Uu."
Menanggapi
erangan kecil Tatsuya, di belakang terdengar suara sorak-sorai para prajurit.
Kalau dipikir-pikir, sebentar lagi adalah waktunya sang "Saint"
menampakkan diri. Mungkin untuk meningkatkan moral pasukan.
(……Hal seperti
apa yang akan diperintahkan padaku.)
Venetim
memikirkan hal itu. Jika Xylo tahu tentang perjanjian rahasia yang dia buat
dengan Adif, apakah Xylo akan memukulnya lagi? Dia tidak mau itu terjadi.
Namun──
(Jika ketahuan
aku berbohong seperti ini, apakah Kakak Phizius akan marah?)
Venetim
menyadari dirinya sedang memegangi lengan kirinya. Ada bagian dari apa yang dia katakan pada Adif
yang sengaja dia sembunyikan. Pertama, soal utang pada Perusahaan Varkul. Dia
bukanlah orang yang begitu diharapkan hingga layak diukir empat garis. Tiga
garis di antaranya adalah tambahan yang dia buat sendiri untuk menggertak.
Dan meskipun dia
adalah putra garis keturunan langsung keluarga Varkul──dia hanyalah orang yang
dibuang secara rahasia sebagai aib keluarga.
Ada orang lain
dengan kelahiran yang persis sama dan riwayat hidup hingga usia empat belas
tahun yang masih terdaftar namanya di silsilah keluarga Varkul. Fakta bahwa
dirinya dijatuhi Hukuman Pahlawan tidak mungkin dibocorkan ke luar.
(Aku tidak mau
dimarahi Kakak.)
Atau, apakah
kakaknya akan benar-benar mengabaikannya secara total?
Itu justru jauh lebih baik.
◆
Hari itu, Tsav melihat sesuatu yang aneh.
Itu
terlihat seperti seorang gadis manusia yang sedang berjongkok. Tenda tempat
para Terpidana Pahlawan tinggal terletak di bagian paling ujung Tujin Bahak,
tapi ini adalah gudang penyimpanan logistik sementara yang letaknya lebih jauh
lagi dari tenda tersebut.
Gadis itu
berjongkok, seolah terselip di antara celah logistik yang berantakan.
Dengan
posisi memeluk kepala──warna rambutnya merah membara.
(Apa-apaan ini?)
Pikir Tsav, lalu
memutuskan untuk berhenti melangkah. Itu karena dia sudah sangat lelah. Di
punggungnya, dia memikul keranjang besar. Keranjang yang penuh berisi pelat
logam dasar untuk pengukiran segel suci. Bagaimanapun juga, itu terlalu berat.
"Apa yang
kau lakukan, Tsav!"
Norgalle
yang berjalan di depan menegurnya.
"Tidak
ada waktu untuk dihambur-hamburkan! Segera kembali ke ruang kerja-Ku dan
mulailah mengukir!"
Orang
yang bersemangat sekali, pikir Tsav.
Tentu
saja begitu, karena Norgalle tidak membawa beban apa pun. Pelat logam dasar
untuk mereka berdua semuanya dijejalkan ke dalam keranjang yang dipikul Tsav. Mau bagaimana lagi karena orangnya sendiri
sama sekali tidak berniat membawa barang.
(Yah, namanya juga Yang Mulia.)
Tsav sangat
mengerti. Norgalle, bahkan jika akan dibunuh sekalipun, tidak akan mau menerima
pekerjaan kasar seperti ini. Karena itu ancaman pun tidak ada gunanya, dan
lagipula, keberadaan Norgalle adalah salah satu hal paling berharga di unit
Terpidana Pahlawan. Dia bukan sekadar membunuh seratusan Fairy. Nilainya
jauh lebih besar dari itu.
Oleh karena itu,
Tsav tidak keberatan membawakan logistik untuk dua orang──tapi lelah tetaplah
lelah.
"Tunggu
sebentar, Yang Mulia."
Demi bisa
istirahat barang sejenak, Tsav menurunkan keranjang bebannya dan menunjuk ke
arah kakinya. Seorang gadis yang sedang berjongkok.
"Kayaknya
ada orang yang butuh bantuan, deh. Ada anak yang kelihatan kurang sehat di
tempat kayak gini."
"Apa
katamu!"
Norgalle
mendekat dengan langkah kaki yang kasar. Sesuai dugaan, perhatiannya
teralihkan. Tsav memanfaatkan kesempatan ini untuk memutar-mutar bahunya yang
sakit dan beristirahat dengan serius.
"Anu,
Nona?"
Tsav
membungkuk, mencoba mengintip wajah gadis itu.
"Lagi
apa di tempat kayak begini? Ada yang lucu ya? Serangga langka atau semut──atau
Nona ini tipe orang yang suka sama tanah?"
"T-tidak……"
Gadis itu
hanya menggelengkan rambut merah membaranya tanpa mengangkat wajah.
"Bukan
seperti itu…… terima kasih atas perhatiannya……"
"Hmm.
Sepertinya kondisi fisikmu sedang tidak baik."
Norgalle
menatap gadis itu dan mengangguk mantap.
"Apakah kamu
bisa berjalan?"
"A-aku……
baik-baik saja. Maaf. Aku tidak sedang sakit…… kalau istirahat sebentar, pasti
nanti sudah tidak apa-apa. Tolong jangan dipikirkan…… benar-benar…… aku
tidak apa-apa."
"Hmm. Sepertinya mustahil."
Norgalle
seolah mengabaikan perkataan gadis berambut merah itu.
(Anak ini kenapa,
ya?)
Memang, di mata
Tsav pun gadis itu terlihat sangat lemah. Karena tidak terlihat terluka,
mungkin ini masalah stamina atau mental.
"Tsav,
bawa dia dengan sopan. Mungkin dia gadis desa dari sekitar sini. Antarkan dia
sampai ke orang tuanya."
"Ngomong
apa sih, Yang Mulia. Mana mungkin ada warga sipil di tempat kayak gini, ini kan
benteng sementara."
Tsav merasa
heran. Karena dia berjongkok di area penyimpanan logistik seperti ini, dia
pasti bawahan kelas rendah dari unit mana gitu. Di sebelah mana dari Gunung
Tujin ini ada pemukiman dan masih ada orang-orang bodoh yang bertahan di sana?
Nyasar ke sini pun lebih mustahil lagi.
Tapi, untuk
ukuran prajurit, tubuhnya terlalu kurus. Apakah dia bahkan tidak menerima
pelatihan dasar? Jika begitu, identitasnya jadi makin tidak jelas. Satu-satunya
kemungkinan yang terpikir adalah dia pencuri gila seperti Dotta yang sengaja
menyelinap ke benteng militer untuk mencuri.
"Anak ini
tentara tahu──hei, Nona. Dari unit mana? Kalau dari keluarga Courdel, aku bisa
anterin, lho! Tapi kalau dari Dasmitea, bakal aku tendang."
"Bicara apa
kau ini bodoh, dilihat dari mana pun dia bukan prajurit. Jangan bicara tidak
sopan kepada rakyat-Ku, sang produsen agung yang menjadi fondasi
Kerajaan-Ku."
"Mana
mungkin. Kalau gitu, gimana caranya dia nyelip ke sini. Ya kan? Nona, maaf ya
orang ini kepalanya agak 'itu' sedikit."
"Tidak…… aku
tidak termasuk dalam unit mana pun."
"Eh?"
"Tapi, ya
begitu…… aku juga…… sudah bukan warga sipil biasa lagi."
Gadis berambut merah itu akhirnya mengangkat wajahnya. Tsav
sangat terkejut. Sepertinya dia baru saja menangis karena matanya sembap, tapi
itu adalah wajah yang dia kenal. Tsav yang memiliki ingatan luar biasa tidak
mungkin melupakannya.
"Bukannya ini Yurisa-chan! Ibu Saint!"
"Apa?"
Norgalle juga tampak terkejut. Sebelah alisnya terangkat.
"Begitu ya. Jadi kau adalah Saint Yurisa Kidafreny. Seharusnya kau…… dijadwalkan…… melakukan
audiensi dengan-Ku di sini."
Norgalle
menyambung kata-katanya dengan terbata-bata. Mungkin di dalam otaknya,
skenarionya sudah berubah jadi begitu. Tsav merasa kasihan pada gadis berambut
merah ini. Karena gadis itu sedang berjongkok, mungkin Norgalle menganggapnya
sedang berlutut untuk memohon audiensi.
"Tidak perlu
bersikap kaku seperti itu. Santai saja. Aku akan memberkatimu."
"Maaf.
A-anu…… maksudnya bagaimana?"
"Ah, yah,
nggak usah terlalu dipikirin. Orang ini…… ah, gawat, beliau ini adalah
Yang Mulia Norgalle. Beliau bilang beliau senang bisa punya kesempatan ngobrol
sama Yurisa-chan sang Saint."
"Eh…… i-iya. Begitu, ya. Saint…… karena aku adalah
seorang Saint."
Yurisa tersenyum kecil. Jelas sekali itu adalah senyuman
yang dipaksakan──senyum yang menyembunyikan rasa rendah diri.
"Aku
harus bersikap benar. Karena semuanya sedang menunggu…… untuk bersiap perang,
aku harus memberikan pidato dengan baik."
"Oalah.
Jadi gugup kalau di depan orang banyak ya. Mau aku kasih tips? Anggap aja
mereka semua itu serangga yang bisa mati kalau kamu potong arteri karotisnya
dari belakang! Nanti nggak bakal gugup lagi, deh!"
"Eh,
ah? Ah, itu anu, gimana ya…… ahaha. Kalau aku, bukannya gugup…… tapi……"
Entah kenapa
Yurisa sangat bingung dengan perkataan Tsav, dia ragu menjawab selama beberapa
detik, lalu mencoba menganggapnya sebagai semacam lelucon. Tsav merasa
tersinggung.
"……Maaf. Aku
takut bertarung. Selain itu, aku juga harus meminta, ……memerintah kalian semua
untuk bertarung. Itu mungkin terasa jauh lebih menakutkan……"
"Takut?
Kenapa? Padahal itu cuma bikin rugi lho."
"Takut tahu. Soalnya, gara-gara aku…… mungkin ada yang
mati. Tidak, pasti ada yang akan
mati."
"Oh, gitu?
Paham, paham! Aku juga punya rasa tanggung jawab yang tinggi dan orangnya baik
banget, jadi aku paham kok~ Tapi kalau aku, bukannya takut, tapi lebih ke
merasa kasihan sama semuanya!──Karena aku bisa berjuang melewati rasa sakit
itu, aku ini beneran hebat banget nggak sih?"
"H-haah……"
Yurisa mengerjap
beberapa kali. Seperti makhluk hidup lain yang tidak bisa memahami bahasa.
"Melewati
rasa sakit……? Maaf, aku tidak terlalu mengerti lagi……"
"Aku kan
jenius, jadi ya mungkin buat orang biasa itu susah. Tapi pasti bisa kok!"
Tsav mengedipkan
sebelah matanya.
"Percayalah
pada dirimu sendiri!"
"Eh……?"
"Tidak perlu
menanggapi serius perkataan si bodoh ini. Dengar, Saint Yurisa."
Norgalle
mendorong Tsav dan berdiri di depan. Dia membusungkan dada dengan angkuh.
"Seorang
komandan memikul tanggung jawab atas nyawa semua prajuritnya. Itu fakta──namun, jangan lupa bahwa di
atas komandan ada seorang Raja."
Dia sendiri
menekuk lututnya, membungkuk dengan canggung, dan menyentuh bahu Yurisa. Itu
adalah tindakan yang sangat murah hati untuk ukuran Norgalle. Setidaknya Tsav
tidak pernah diperlakukan dengan sikap seperti itu.
"Tindakan
komandan, maupun kegagalannya, adalah tanggung jawab Raja. Karena Raja adalah
penanggung jawab tertinggi negara. Jika saatnya tiba dan kau benar-benar ingin
membuang segalanya, bencilah Aku, dan kembalikanlah tanggung jawab itu
kepada-Ku. Kegagalan apa pun yang kau lakukan, Aku akan menerimanya."
"……Raja?"
Yurisa mengulangi
kata itu, tatapannya tampak linglung. Dia sudah benar-benar bingung sekarang.
(Ya iyalah.)
Tsav tertawa
kecil. Tiba-tiba dibilang soal Raja ini-itu, mana mungkin dia bisa paham.
Apalagi jika dicekoki informasi itu tanpa tahu apa-apa tentang sosok Norgalle.
"Yurisa-chan
lucu ya. Bukan, maksudnya reaksinya itu! Kocak banget."
"Eh……"
"Kalau Kakak
Xylo lihat, dia bakal bilang apa ya? Hmm, bakal marah nggak ya…… kayaknya bakal marah deh. Rasanya
memberikan gelar 'Saint' ke anak biasa kayak gini bakal jadi poin kemarahan
beliau. Menurutmu gimana?"
"Eh.
Anu. Kakak, maksudnya…… anu…… maaf, aku nggak ngerti maksudnya."
"──Yurisa."
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang. Mereka menoleh.
Seorang wanita yang mengenakan baju zirah, dengan tongkat petir tergantung di
pinggangnya. Rambutnya diikat, dan wajahnya tampak sedikit mengantuk. Mungkin
dia pengawal Saint ini.
"Ternyata
Anda di sini? Sudah waktunya, lho."
"Tevie. ……Maaf."
Yurisa
berdiri dengan kaku.
"A……
aku tadi sedikit tersesat."
"Saya
khawatir tahu. Tolong biarkan saya mendampingi jika Anda ingin keluar."
"……Iya.
Maaf. Tapi, sekarang sudah tidak apa-apa……"
Mengembuskan
napas kecil, Yurisa menegakkan punggungnya yang tadi membungkuk, lalu mulai
berjalan. Dia menundukkan kepala untuk terakhir kalinya.
"Maaf. Sudah
membuat kalian khawatir. Sekarang…… sekarang, pasti sudah tidak apa-apa. Aku
bisa melakukannya. Membimbing kalian semua menuju kemenangan. Itulah
tugasku."
"Umu."
Norgalle
mengangguk berat, lalu mengelus jenggotnya dengan ujung jari.
"Aku
menantikannya. Wahai Saint Yurisa, laksanakanlah tugasmu di bawah
nama-Ku."
"Hehe!
Kocak."
Tsav tidak
sengaja mengucapkannya dengan keras, dan dia langsung dipelototi dengan tajam
oleh Norgalle. Tapi Tsav tidak berhenti tertawa. Saat dia melihat punggung
Yurisa yang menjauh, wanita yang sepertinya pengawal itu juga memberikan
tatapan dingin ke arahnya.
(Kenapa ya.)
Bagi Tsav, ini
sangat konyol.
(Isinya cuma
minta maaf terus ya anak itu. Itukah yang namanya Saint──)
Jika itu memang kenyataan, entah kenapa, baginya itu terasa seperti lelucon yang sangat lucu.



Post a Comment