NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha-kei ni Shosu: Choubatsu Yuusha 9004-tai Keimu Kiroku Volume 2 Interlude 3

Catatan Pengadilan Kerajaan

Tsav


Tak satu pun dari metode yang digunakannya bisa dibilang rapi.

Sebaliknya, tindakan itu lebih tepat digambarkan sebagai sesuatu yang mengerikan.

Inspektur Kerajaan, Theodony Nantia, merasa yakin setelah melihat catatan di tangannya. Lelaki ini—lelaki muda yang duduk di hadapannya—adalah seorang pembunuh psikopat sejati.

Rumor bahwa dia memakan korban yang dibunuhnya pun mulai terasa seperti kenyataan.

(—Seorang inspektur harus membuang prasangka saat melakukan interogasi, itulah yang diajarkan.)

Theodony Nantia menatap tajam lelaki di depannya.

(Tapi, ini sulit dilakukan.)

Sekilas, lelaki itu tampak berantakan dan selalu memasang senyum ceria. Sifat ringannya nyaris membuat siapa pun lengah.

Namun, bersikap sesantai itu di dalam ruang interogasi seperti ini sudah merupakan sebuah keabnormalan.

Namanya adalah Tsav.

Dia dijuluki sebagai "Ogre Pemakan Manusia".

Dia tidak memiliki nama keluarga. Begitulah nasib para pembunuh yang dibesarkan oleh Ordo Nguyen Mosa.

Lelaki ini pastilah pelaku utama dari rentetan kasus hilangnya delapan orang secara beruntun—yang kenyataannya adalah kasus pembunuhan.

"Delapan orang, ya."

Theodony membacakan jumlah korban yang tertera pada dokumen di tangannya. Itulah jumlah orang yang telah dihabisi lelaki ini.

"Kira-kira sebulan sekali. Selama setahun terakhir, kau sudah bertindak sesuka hatimu, bukan?"

"Ah—bukan, bukan! Maaf ya, Tuan Inspektur, sebenarnya bagian itu agak keliru," sahut Tsav, masih dengan senyuman yang sama.

"Karena aku orangnya jujur, akan kukatakan yang sebenarnya. Aku membunuh dua belas orang. Lima puluh persen lebih banyak. Habisnya... aku ini kan dasarnya orang yang serius. Ditambah lagi, aku terlalu baik hati."

Tsav menghela napas panjang.

Seolah-olah dia ingin mengatakan bahwa sifat 'baik hati' inilah yang membuatnya terus-menerus mengalami kesulitan.

"Kalau aku gagal atau pekerjaanku terhambat, aku merasa kasihan karena penilaian atasan terhadapku akan turun. Aku ini tipe orang yang seperti itu. Alhasil, aku selalu kena sial. Aku menyesal sudah bekerja keras, karena ujung-ujungnya aku malah dibuang begini."

Theodony merasakan sakit kepala saat mendengar kata-kata Tsav.

Lelaki ini sama sekali tidak menganggap pembunuhan sebagai masalah besar.

Dia adalah monster. Theodony merasa sedang berhadapan dengan monster yang luar biasa mengerikan.

"Apa kau tidak punya rasa bersalah?" tanya Theodony tanpa sadar.

"Kau telah membunuh manusia. Apa kau tidak merasa bahwa hal itu adalah perbuatan buruk?"

Theodony pernah mengenal seorang pria yang dibesarkan oleh naga. Dia pernah menyelidikinya.

Pria itu tidak memiliki kesadaran akan dosa terhadap manusia. Theodony berpikir bahwa mungkin Tsav juga sama seperti itu.

"Ah! Maaf, maksudmu soal benar atau salah? Nilai moral? Kalau soal agama begitu, aku benar-benar tidak paham... Gara-gara itu juga aku dianggap anak bermasalah di Ordo."

Tsav tertawa dengan riang.

"Kalau aku membunuh orang yang aku sukai, perasaanku pasti tidak enak. Aku paham soal itu. Tapi selain itu, aku sama sekali tidak mengerti."

Theodony merasa seolah sedang menghadapi entitas yang sangat asing.

Tanpa sadar, dia menuangkan air dari teko di sampingnya.

Saat meminumnya, hanya ada sensasi air suam-suam kuku yang terasa. Sebuah ketidaknyamanan yang sulit dijelaskan.

Lelaki bernama Tsav ini memiliki sesuatu yang serupa dengan perasaan tidak enak itu.

"Mungkin karena aku terlalu bodoh, jadi pikiran dalam kepalaku tidak terpengaruh oleh Ordo," ujar Tsav terus berbicara seakan tidak ada habisnya.

"Ah, jangan-jangan ini tandanya aku adalah orang terpilih? Gawat, aku ini tipe yang punya rasa tanggung jawab kuat, jadi aku pasti akan kepikiran. Bagaimana kalau aku ternyata memikul takdir yang hebat?"

Mungkin saja memang begitu.

Theodony sangat mengenal metode Ordo. Untuk menanamkan konsep baik dan buruk pada anak-anak, mereka melakukan berbagai hal.

Rasa sakit, obat-obatan, kesenangan—mereka menggunakan segalanya. Namun, Tsav tetap tidak memahami etika Ordo.

Lelaki ini pasti memiliki susunan saraf yang sangat istimewa.

"...Apa kau tidak merasa takut?"

Theodony mencoba memancing reaksi manusiawi dari lelaki ini.

Dia ingin percaya bahwa Tsav adalah manusia yang sama dengannya.

"Mulai sekarang, nasibmu paling baik adalah dikurung sampai mati. Paling buruk, kau akan dieksekusi. Apa kau tidak takut akan hal itu?"

"Takut," jawab Tsav seketika.

"Aku sangat ketakutan. Tapi rasa takut pun tidak akan mengubah apa pun, jadi ya sudahlah..."

Lalu, dia tersenyum serampangan.

"Lebih baik aku menikmati waktu yang tersisa sekarang. Itu lebih menguntungkan, kan? Surga atau neraka itu tidak ada. Lagi pula, manusia akan selesai begitu mereka mati. Tidak ada gunanya menghabiskan waktu di sela-sela itu dengan ketakutan."

Dia memang monster. Itulah kesimpulan yang diambil Theodony.

"Manusia biasa, meski secara logika berpikir begitu, perasaan dan intuisi mereka tidak akan membiarkannya. Atau apa kau hanya tidak memiliki rasa realitas? Kau tidak punya imajinasi?"

"Kejam sekali! Aku bahkan sering memikirkan kehidupan korbanku, jadi imajinasiku ini sangat tinggi. Tapi bagiku, tetap saja aku tidak mengerti."

Senyuman Tsav menghilang. Dia menatap Theodony dengan wajah serius.

"Apa ada yang lebih penting daripada keuntungan bagi diriku dan orang-orang yang kusukai? Demi hal itu, aku bisa melakukan apa saja, kan. Kalau dipikir secara serius, merasa takut pada hukuman mati itu rugi besar. Ah, jangan-jangan aku ini terlalu serius?"

Theodony kehilangan kata-kata. Dia merasa sedang melihat sesuatu yang menjijikkan. Dia bahkan merasa ingin muntah.

"Tsav, kau—"

"Menarik sekali."

Tiba-tiba, terdengar suara gumaman dari sampingnya.

Seorang lelaki yang duduk di meja yang sama. Dia tampak ceria, namun memiliki gaya tertawa yang entah kenapa terasa ganjil.

Theodony tidak tahu namanya—dia hanya dengar bahwa lelaki itu juga seorang inspektur. Bahkan, pangkatnya jauh di atas Theodony.

"Tsav-kun. Kau memang sudah membunuh dua belas orang, tapi..."

Lelaki tanpa nama itu mencondongkan tubuhnya ke arah Tsav.

"Bagaimana kau memilih dua belas orang ini? Apa kriterianya?"

"Entahlah. Hanya karena mereka mudah dibunuh saja."

"Mudah dibunuh. Begitu, ya? Lalu, misalnya, pria bernama Tardi ini..."

Lelaki tanpa nama itu mengambil selembar dokumen.

"Dia tidak hilang di rumahnya. Dia menghilang di kantor tempatnya bekerja, di siang bolong, hanya dalam waktu tujuh puluh detik. Kau membunuh dan membawanya pergi, kan? Apakah itu juga termasuk 'mudah dibunuh'?"

"Bukan, bukan, ini bukan soal caranya," Tsav tertawa lagi.

"Secara insting. Maksudku, rasanya mudah dibunuh. Hei, aku ini kan jenius? Warga sipil yang tidak waspada seperti mereka, di mana pun mereka berada dan apa pun yang mereka lakukan, tidak ada bedanya. Tingkat kesulitan membunuhnya sama saja—jadi, yah."

Tsav merendahkan suaranya, seolah sedang membisikkan sebuah rahasia.

"Aku memilih orang yang sekiranya tidak akan membuat hatiku sakit saat aku membunuh mereka."

"Apa kriterianya?"

"Entahlah—aku hanya bisa bilang itu adalah intuisi."

Tsav sempat menunjukkan gelagat sedang berpikir sejenak. Namun, dia segera menyerah.

"Kalau aku mulai berempati pada lawan, aku jadi tidak bisa membunuh sama sekali. Maaf ya, habisnya aku ini terlalu baik hati. Aku memang terlahir sebagai pria yang lembut, kau mengerti?"

"Aku sudah mendengar itu tadi. Jadi, bagi dua belas orang ini..."

Lelaki tanpa nama itu melemparkan dokumen ke atas meja.

"Bagi mereka tidak begitu? Kau merasa tidak bisa berempati pada mereka?"

"Ya," Tsav mengangguk dengan nada yang sangat akrab.

"Begitulah. Entah kenapa, mereka terasa mudah dibunuh."

"Begitu rupanya."

Lelaki tanpa nama itu memperlebar senyumnya. Itu adalah senyum yang entah bagaimana terasa sadis.

"Luar biasa," suaranya terdengar lirih.

Theodony tidak bisa menangkap maksud dari kata-kata itu. Lelaki itu mengangguk berkali-kali, membalik dokumen, lalu kembali menatap Tsav. Matanya tampak seperti sedang menikmati sesuatu.

"Tsav. Menurutku, hukuman mati terlalu ringan untukmu."

"Eh? Memangnya ada hukuman yang lebih berat dari mati?"

"Ada."

Lelaki tanpa nama itu menjeda kalimatnya seolah sengaja membuat suasana menjadi tegang. Dia tampak menikmati perubahan ekspresi pada wajah Tsav.

"Aku menjatuhkan Hero Sentence padamu."

"Tunggu dulu."

Saat itulah, untuk pertama kalinya Tsav tampak benar-benar panik.

"Bentar, bentar! Tunggu dulu, itu sih beda urusannya! Takut pada hukuman mati atau hukuman lain itu memang tidak ada gunanya! Tapi Hero Sentence itu—"

"Ya. Seperti yang kau bayangkan."

Lelaki tanpa nama itu tersenyum lebih lebar lagi.

"Kau bahkan tidak akan diizinkan untuk mati."




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close