NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha-kei ni Shosu: Choubatsu Yuusha 9004-tai Keimu Kiroku Volume 1 Chapter 1 - 3

Hukuman

Dukungan Mundur dari Hutan Kwunzi 1


"Gawat sekali," ucap Dotta Luzulas dengan wajah yang tampak sangat serius.

"Benar-benar gawat. Aku merasa semuanya mungkin sudah berakhir bagiku."

Lagi-lagi dia begini, pikirku.

Sejujurnya, setidaknya tiga hari sekali Dotta memang selalu terjerumus dalam situasi yang benar-benar gawat. Itu hal biasa.

Ini semua karena tangannya yang terlalu ringan dan nakal.

Saking buruknya, dia sampai dijatuhi hukuman sebagai Pahlawan atas kejahatan 'Pengkhianatan Serius terhadap Negara'. Benar-benar keterlaluan.

Sebelum ditangkap dan dipenjara oleh Orde Ksatria Suci, katanya dia sudah melakukan lebih dari seribu kasus pencurian. Dia bisa dibilang pencuri kecil paling langka dalam sejarah dunia.

Dotta Luzulas benar-benar mencuri apa saja. Aku tertawa terbahak-bahak saat mendengar cerita dia mencuri naga milik keluarga kerajaan.

Namun, aku langsung terdiam saat mendengar bagian setelahnya, di mana lengan kirinya habis dimakan naga itu. Dia memang sudah tidak waras.

Meski begitu, orang-orang yang disebut Pahlawan memang semuanya sejenis itu.

"Hei, Xylo. Apa yang harus kulakukan? Aku—"

"Masalah itu," potongku.

Aku mendorong wajah Dotta yang mendekat, memaksanya untuk diam.

"Bisa tidak kalau dibahas besok saja? Kau mungkin tidak sadar, tapi saat ini kita sedang sibuk setengah mati."

Istilah 'setengah mati' ini bukanlah sebuah kiasan semata.

Tempat ini sudah menjadi medan perang. Inilah ujung utara Kerajaan Persatuan—satu-satunya negara yang tersisa bagi umat manusia.

Jauh di dalam hutan bersalju yang lebat, di mana angin dingin berembus menusuk kulit.

Tempat ini disebut Hutan Kwunzi. Sebuah wilayah yang sebentar lagi akan hilang dari tangan umat manusia.

Karena berbagai alasan, aku dan Dotta bersembunyi di sini, bersiaga sejak pagi hari. Matahari sudah hampir terbenam, dan malam yang sangat dingin akan segera dimulai.

Sebentar lagi, kami harus menjalani 'Operasi Kematian' melawan Fenomena Raja Iblis yang sudah menunggu di depan mata.

Di tengah situasi seperti itu, Dotta baru saja kembali dari pengintaian dan berucap, "Gawat sekali." Hal itu membuat kepalaku pening dan ingin menyuruhnya diam saja.

"Dotta, kau tahu kan pekerjaan apa yang menunggu kita setelah ini?"

"Yah... setidaknya aku tahu."

"Coba katakan."

"Bertarung melawan Raja Iblis."

Dotta bergumam dengan wajah pucat, lalu mengeluarkan botol kecil dari balik bajunya. Kurasa itu adalah minuman keras kelas atas dari Kepulauan Timur. Minuman yang terbuat dari kacang-kacangan.

"Benar. ...Omong-omong, benda itu."

Aku menunjuk botol minuman di tangan Dotta.

"Kau mencuri lagi, ya? Apa dari gudang Perusahaan Pengembangan Varkle?"

"Hehe... tidak apa-apa, kan? Aku mengambilnya dari tenda petinggi militer," sahutnya.

Dotta menyesap minuman mewah itu dengan wajah yang tampak senang. Bajingan ini, padahal dia baru saja mencuri barang orang lain, tapi dia bisa menunjukkan ekspresi seceria itu.




"Aku mengambil yang kelihatannya paling mahal. Salah mereka sendiri menaruhnya sembarangan begitu," ujar Dotta.

"Dilihat dari sudut mana pun, yang mencuri tetap yang salah. Padahal kau sendiri tidak tahu bedanya rasa minuman mahal," balasku.

Aku merebut botol itu dari tangan Dotta, lalu meminumnya sedikit. Rasanya membakar tenggorokan. Ini hanya untuk memacu semangat. Aku tidak berniat menikmatinya, apalagi sampai mabuk.

"Keras juga ya," gumamku.

"Kalau tidak minum sekeras itu, aku tidak akan kuat. Kita akan bertarung melawan pasukan Raja Iblis... Omong-omong, jumlah mereka sangat banyak, kan?"

"Untuk ukuran Fenomena Raja Iblis, skalanya cukup besar. Ada lima ribu Fairy yang terpengaruh. Rasanya ingin menangis saja," jawabku.

Setidaknya, itulah informasi yang kudapatkan sebelumnya.

Mungkin jumlahnya sudah sedikit berkurang—berkat upaya Orde Ksatria Suci kita yang sangat agung dan mulia itu. Tapi kurasa itu hanya harapan kosong. Lagipula, mengurangi satu atau dua ribu musuh tidak akan banyak berpengaruh.

Sebabnya adalah—

"Kita berdua saja yang harus menahan semua Fairy itu," kataku sambil menyodorkan kembali botol minuman itu ke arah Dotta.

"Iya..."

Dotta menunduk dengan wajah pucat pasi.

"Aku tahu. Kita ini Pahlawan, jadi mau bagaimana lagi."

Begitulah kenyataannya.

Kami adalah narapidana yang menjalani hukuman sebagai Pahlawan, dan kami tidak bisa membangkang perintah. Tato yang terukir di leher kami adalah buktinya. Itu adalah sejenis segel khusus yang disebut 'Segel Suci'.

Mereka yang menerima hukuman ini bahkan tidak diizinkan untuk mati.

Sekalipun jantung berhenti atau kepala hancur, kami akan dibangkitkan kembali dan dipaksa bertarung lagi di garis depan.

Mungkin terdengar bagus karena bisa hidup kembali meski sudah mati—tapi tentu saja ada masalahnya. Setiap kali dibangkitkan, kami akan kehilangan sedikit demi sedikit ingatan dan kemanusiaan kami. Ada yang sampai kehilangan jati diri sepenuhnya dan menjadi seperti mayat hidup.

Kami tidak punya pilihan. Tidak ada yang bisa kami lakukan selain menjalankan misi. Misi yang diberikan kepada kami saat ini sebenarnya cukup sederhana jika diucapkan.

Yaitu, "Bantuan Penarikan Mundur".

Kami harus melindungi Orde Ksatria Suci yang kalah perang dan membantu mereka melarikan diri dari hutan ini. Pasukan musuh—'pasukan' Fairy yang tercipta dari Fenomena Raja Iblis—berjumlah sekitar lima ribu. Tidak ada unit bantuan atau pendukung. Unit Pahlawan Hukuman 9004 harus menyelesaikannya sendirian.

Dan yang bisa bergerak di Unit Pahlawan Hukuman 9004 hanyalah aku, Xylo, dan Dotta—ditambah seorang 'Komandan' yang sama sekali tidak berguna. Anggota lainnya sedang dalam proses perbaikan lengan atau kepala yang hancur, atau sedang menjalankan misi lain, jadi tidak ada yang bisa diharapkan.

Syarat keberhasilan misi adalah lebih dari separuh anggota Orde Ksatria Suci berhasil melarikan diri. Jika syarat ini tidak terpenuhi, atau jika kami melarikan diri dari hutan, Segel Suci di leher kami akan menyiksa dan membunuh kami.

Singkatnya, ini benar-benar gila. Aku ingin sekali membunuh orang yang merencanakan ini.

Meski begitu, ini masih mendingan. Awalnya, rencana misinya jauh lebih mustahil. Yaitu, mengalahkan Raja Iblis yang menjadi inti dari Fenomena Raja Iblis ini.

Mengenai hal ini, 'Komandan' kami yang melakukan negosiasi. Dia memang pengecut tak berguna yang tidak bisa memimpin pasukan sama sekali, tapi sebagai mantan narapidana politik penipu, kemampuannya membodohi orang sangat luar biasa.

"Yah, pasti akan ada jalannya... kan?"

Dotta menatapku seolah ingin memastikan, lalu menenggak minumannya lagi.

"Kali ini ada Xylo yang ahli dalam kekerasan, dan kita kan Pahlawan. Paling buruk ya jadi daging cincang lalu dibangkitkan lagi—"

"Kau tidak mengerti, ya," kataku.

Aku merasa perlu menyadarkan Dotta pada kenyataan.

"Keberhasilan kebangkitan itu tergantung pada kondisi mayatnya. Kalau mayatnya jadi daging cincang, atau bahkan tidak bisa ditemukan, pasti akan ada efek samping yang mengerikan."

Tidak ada harapan bagi Orde Ksatria Suci untuk mengambil mayat kami yang terkubur di salju nanti. Sebab, hutan ini akan segera terkontaminasi oleh Fenomena Raja Iblis.

Jika itu terjadi, sekalipun menggunakan teknologi kebangkitan, ingatan dan jati diri akan mengalami kerusakan serius. Aku sendiri hanya tahu detail ini dari rumor, tapi katanya teknologi kebangkitan yang digunakan pada Pahlawan Hukuman adalah jenis yang menyeret jiwa dari neraka dan memaksanya masuk ke dalam tubuh.

Semakin utuh tubuh aslinya, semakin tinggi tingkat keberhasilan kebangkitannya. Namun, asalkan ada bahan, menggunakan tubuh orang lain pun tidak masalah. Hanya saja, melakukan hal kasar seperti menyatukan darah dan daging orang lain untuk menghidupkan seseorang kembali akan meningkatkan tingkat kecacatan—katanya. Hasilnya, ada Pahlawan yang menjadi seperti mayat hidup.

Mendengar ini, wajah Dotta tampak benar-benar terkejut.

"Eh, benarkah?"

"Untuk apa aku berbohong?"

"Aku tidak tahu. Kau tahu banyak ya, Xylo."

Aku tidak menjawab. Mungkin informasi seperti ini memang tidak dipublikasikan untuk umum. Atau mungkin Dotta hanya lupa karena efek dia sudah pernah mati beberapa kali.

"Makanya, kita harus melakukannya dengan benar. Aku tidak punya waktu mendengarkan ceritamu."

"Tapi, tapi..."

"Lagipula aku tidak mau dengar."

"Dengarkanlah! Ini mungkin benar-benar gawat. Bagaimana menurutmu tentang ini?"

Dotta menunjuk ke tanah di sampingnya.

Ada sebuah benda besar di sana, yang sedari tadi sengaja tidak kulihat.

"...Apa itu?"

Pikiran pertamaku adalah itu sebuah peti mati.

Sebuah kotak panjang yang ukurannya cukup untuk memuat satu orang bertubuh kecil. Permukaannya dihiasi ukiran yang rumit. Jika itu peti mati, pasti yang menempatinya adalah orang berkedudukan sangat tinggi.

Sekali lagi aku meragukan kewarasan Dotta.

"Dotta... kenapa kau mencuri peti mati?"

"Aku tidak tahu... ada kotak mewah di sana, kelihatannya bisa dicuri, dan tahu-tahu sudah kubawa."

Aku tidak membalas sepatah kata pun. Aku tidak berniat mengomentari kebiasaan mencuri Dotta sekarang. Dorongan mencurinya yang impulsif itu mungkin tidak akan sembuh meski dia mati. Dia benar-benar mencuri apa saja, dan semakin tidak berguna barangnya, semakin dia ingin mencurinya.

Saat itu, yang membuatku penasaran adalah hal lain.

"Hei, Dotta. Mengenai peti mati ini..."

Aku meletakkan tangan di atas penutupnya.

"Jangan-jangan... ada orang di dalamnya?"

"Begitulah," jawab Dotta sesuai dugaanku. Dia memang sudah gila.

"Saat membawanya aku merasa ini sangat berat, dan saat aku memeriksanya tadi—"

"Periksa dulu sebelum mencuri! Kenapa kau mencuri mayat, aku benar-benar tidak paham!"

"Aku pun tidak paham! Tahu-tahu saja sudah kucuri!"

"Kenapa kau malah balik marah padaku? Sebelum Fairy membunuhmu, biar aku saja yang membunuhmu dulu."

Aku mulai mengerti maksud Dotta saat berkata 'gawat'.

Karena ditempatkan di peti mati semewah ini, mayatnya pasti anggota keluarga kerajaan atau bangsawan tinggi. Mungkin orang sangat hebat yang ikut berperang bersama Orde Ksatria Suci meninggal dan ditempatkan di sini.

Pasti akan jadi masalah besar kalau ini ketahuan dicuri. Dalam situasi ini, hanya ada satu saran yang bisa kuberikan.

"Segera kembalikan, bodoh," kataku sambil membuka penutupnya untuk memastikan mayat di dalamnya.

Aku sendiri tidak tahu pasti kenapa aku membukanya.

Mungkin karena rasa penasaran yang buruk. Jika itu bangsawan atau keluarga kerajaan, ada kemungkinan aku mengenalnya, apalagi daftar orang yang ingin kubunuh sangat panjang. Aku merasa punya ekspektasi jahat dan tidak etis bahwa mungkin itu salah satu dari mereka.

Namun pada intinya, itu hanyalah karena 'ingin saja'. Itu hanya karena aku orang yang kurang berhati-hati.

"Gawat," gumamku menyesal setelah membukanya.

Memang ada manusia di dalamnya—seorang gadis.

Apalagi, dia gadis yang sangat cantik sampai-sampai terasa sedikit menakutkan. Dia mengenakan seragam militer putih Orde Ksatria Suci. Rambut emasnya yang halus, dan kulit seputih salju yang mengingatkan pada orang dari wilayah Utara. Fitur wajahnya tampak seperti buatan—

Namun, yang paling menarik perhatianku adalah 'Segel' yang terukir dari pipi kiri hingga ke lehernya. Polanya pasti mencapai dada, di sekitar jantungnya. Aku tahu benda itu.

Benda itu disebut Segel Suci. Sedikit mirip dengan yang ada di leher kami, tapi secara mendasar berbeda.

"Dotta, ini gawat."

"Iya kan? Dia anak keluarga kerajaan, kan?"

"Bukan. Dia bahkan bukan manusia."

Aku merasa ada sensasi panas di sudut pikiranku.

"Bocah ini adalah seorang Goddess."

"Eh? Apa?"

"Jangan bilang 'apa'. Dia adalah Goddess."

Salah satu harapan umat manusia. Makhluk hidup untuk pertempuran pamungkas yang diciptakan oleh kearifan kuno.

Itu adalah slogan promosi yang berlebihan. Namun aku tahu, ungkapan itu tepat. Goddess tidak diragukan lagi adalah kekuatan tempur terbesar dan terkuat yang dimiliki umat manusia melawan para Raja Iblis.

Orde Ksatria Suci adalah organisasi yang dibentuk untuk melindungi sekaligus menggunakan Goddess sebagai senjata.

Jumlah Goddess yang ada saat ini hanya tinggal dua belas di dunia—tidak, sekarang tinggal sebelas kalau tidak salah. Mengingat dia mencuri salah satunya, pria bernama Dotta ini benar-benar luar biasa. Jika bukan karena situasi seperti ini, dia pasti sudah menjadi pencuri besar yang tercatat dalam sejarah dunia.

"Segera kembalikan. Ini jauh lebih berbahaya dari apa pun. Kau pasti tahu soal Goddess, kan!"

"Eh? Yah, aku pernah melihatnya dari jauh, tapi... benarkah?"

Dotta tampak tidak mengerti.

Begitu ya. Ternyata rupa asli seorang Goddess tidak diketahui oleh masyarakat umum.

"Apa dia benar-benar berbentuk gadis seperti ini? Dulu Goddess yang kulihat bentuknya seperti paus raksasa, atau seperti bongkahan besi—"

"Sulit menjelaskannya, tapi yah, ada juga yang seperti itu."

Goddess adalah senjata super ciptaan masa kuno yang bahkan sekarang pun belum bisa dijelaskan sepenuhnya.

Ada yang berbentuk tidak masuk akal bagi manusia, ada juga yang tidak. Meski demi kenyamanan mereka disebut Goddess, mereka tidak selalu berwujud perempuan. Sejauh yang kutahu, setidaknya begitu.

"Dotta, dengar baik-baik. Dia ini..."

Meski merepotkan, aku mencoba menjelaskan sedikit. Namun sebelum itu, telingaku menangkap suara keras yang memecah kegelapan senja.

Suara terompet tanduk dan tabuhan drum.

Ini pasti suara berisik dari tentara pihak manusia, pihak kita. Biasanya Fenomena Raja Iblis tidak menggunakan alat-alat seperti itu.

"Apa itu? Mereka sudah datang?"

Secara refleks, aku mengepalkan kedua tangan lalu membukanya lagi.

Telapak tangan. Pergelangan tangan. Lalu siku—sampai ke bahu. Seluruh kulitku terukir Segel Suci. Segel Suci khusus untuk bertarung. Namanya sangat panjang, Multi-Purpose Belkur-Type Mobile Lightning Strike Seals. Hanya ini yang tidak dicabut dariku meski aku dijatuhi hukuman Pahlawan.

Satu-satunya 'milik pribadiku' saat ini.

"Itu kawanan Fairy, kan? Bisa lihat, Dotta?"

"Iya."

Dotta membelalakkan mata, menatap jauh ke dalam kegelapan senja. Mata miliknya memang istimewa karena terlatih dari pekerjaan mencuri. Dia bisa melihat dengan baik dalam gelap.

"...Ada. Mereka sudah bergerak."

"Kalau begitu, giliran kita beraksi."

"T-Tunggu. Persiapan mentalku belum—"

"Apa ada waktu untuk itu? Tanya saja pada Segel Suci di lehermu. Pertama-tama, kita bergabung dengan rekan kita."

Maksudku adalah mereka yang baru saja membunyikan terompet dan drum tadi.

Kurasa jaraknya tidak terlalu jauh. Dari skala suaranya, itu bukan unit utama Orde Ksatria Suci yang jumlahnya lebih dari dua ribu orang. Mungkin hanya unit pengintai atau unit terpisah.

"T-Tunggu! Jangan tinggalkan aku!"

"Cepat! Jangan lupakan Goddess-nya juga, kau yang mencurinya jadi kau yang bertanggung jawab membawanya!"

"Eh... anu, serius? Ini berat sekali, aku tadi terpikir mau meninggalkannya saja..."

Dotta sempat ingin memprotes, tapi begitu aku melotot, dia langsung diam dan memanggul peti mati berisi Goddess itu lalu mengikutiku.

Setelah itu kami bergerak cepat tanpa bicara. Suasana hutan dipenuhi aura musuh. Teriakan kemarahan dan denting logam terdengar. Suara terompet dan drum mulai jarang terdengar. Firasatku buruk. Kami harus bergegas—pasti tidak jauh lagi. Harusnya begitu.

Tepat saat kami sampai di lereng yang terbuka dan hendak meluncur turun.

"Tunggu! Xylo, ini... agak gawat!"

Tiba-tiba Dotta mencengkeram lenganku. Aku hampir jatuh tersungkur, dan saat aku hendak melotot untuk memarahinya, aku sadar wajahnya sangat serius. Dia menyodorkan lensa pengintai padaku.

"Sudah terlambat. Lihatlah."

"Apa sih."

Aku merunduk, mengambil lensa itu dan mengintip. Di sela-sela pepohonan, di balik kegelapan malam. Aku tidak bisa melihat dalam gelap seperti Dotta, tapi berkat cahaya obor yang berserakan di tanah, aku bisa melihat sesuatu.

Di sanalah aku mengerti maksud dari kata 'terlambat'.

(Para Fairy itu, mereka benar-benar melakukannya.)

Mungkin mereka adalah unit terpisah. Sekitar dua ratus prajurit.

Semuanya kini sudah menjadi mayat, atau dalam kondisi hampir mati.

Ada jejak bahwa mereka mencoba melawan. Namun pedang di tangan para prajurit yang telah menjadi mayat itu sudah patah, dan saat ini sedang dikunyah oleh monster raksasa mirip katak—seekor Fairy. Yang kulihat barusan adalah saat monster itu menggigit putus lengan seorang prajurit.

Jenis Fairy ini disebut 'Fua'. Katak yang terpengaruh Fenomena Raja Iblis dan berubah menjadi monster. Tingginya setara manusia dewasa dan memiliki mobilitas yang luar biasa.

"Gi," "Gii," "Gigii," suara aneh mereka bergema dalam kegelapan. Mata mereka yang bersinar buas tampak melompat-lompat.

Unit terpisah Orde Ksatria Suci sedang dibantai oleh para Fairy ini. Ada yang menggigit kaki prajurit yang berteriak histeris lalu memutar-mutarnya. Ada yang melompat ke arah prajurit yang mencoba melindungi diri dengan perisai, menjatuhkannya, lalu mengunyah kepalanya.

Mereka sudah tidak bisa melakukan perlawanan yang berarti. Darah, daging, dan lumpur memuncrat di bawah kaki mereka.

"T-Tidak bisa, Xylo," ujar Dotta dengan wajah yang sudah benar-benar pucat.

"Ayo lari! Kita sembunyi di suatu tempat sampai mereka pergi! Mereka sudah sampai ke sini..."

"Memang, pergerakan mereka sangat cepat."

Unit terpisah Orde Ksatria Suci langsung dihancurkan sesaat setelah menyadari kehadiran musuh. Padahal mereka pasti sudah waspada terhadap serangan mendadak, tapi tetap saja kalah semudah ini. Itu berarti mereka adalah pasukan besar dengan mobilitas tinggi.

"Tapi, belum semuanya mati. Kita pergi menolong, Dotta."

"Eeh?!"

Dotta membelalakkan mata menatapku. Tatapan seperti melihat orang yang sangat bodoh.

"Mustahil, pasti tidak bisa."

"Masih ada yang bertahan."

Kira-kira kurang dari dua puluh orang. Mereka membentuk lingkaran, mencoba melawan Fua yang mendekat.

"Akan lebih menguntungkan jika kita menolong dan menjadikan mereka sekutu kita, kan?"

"Sama sekali tidak menguntungkan!"

"Dengar, bodoh. Misi ini adalah agar separuh lebih anggota Orde Ksatria Suci selamat. Kalau begitu, semakin banyak yang kita tolong, peluang keberhasilan misi akan semakin tinggi. Lagipula..."

"Lagipula?"

"Aku sedang ingin menggunakan kekerasan sepuasnya."

Aku menyeringai. Jika alasannya sudah selengkap ini, kurasa sudah cukup.

"Kita bertarung, kita tolong mereka."

"—B-Bertarung?"

Aku tersentak mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu. Itu bukan suara Dotta.

Suaranya terbata-bata, tapi terdengar jernih seperti denting baja tipis.

Saat itulah aku menyadarinya. Penutup peti mati itu sudah terbuka. Dari dalamnya, si Goddess sudah bangkit separuh badan. Ditambah lagi, dia membuka mata—matanya bersinar sewarna api dan menatapku dengan tajam.

"Bertarung. Menolong. ...Begitu ya."

Goddess itu bergumam seperti merintih, lalu berdiri dengan tenang.

"Kata-kata yang bagus. Sepertinya, kau adalah ksatria-ku."

Dia mengucapkan kata demi kata dengan jeda.

Rambut emasnya tertiup angin sambil mengeluarkan percikan api. Matanya yang sewarna api bergerak, mengamatiku dari kepala hingga ujung kaki dengan tajam. Lalu setelah sedikit mengernyitkan dahi, dia mengangguk beberapa detik kemudian.

"Baiklah."

Pelafalannya perlahan-lahan menjadi semakin lancar.

"Aku akan memberimu nilai kelulusan."

"Apa katamu?"

"Pertempuran akan dimulai, kan? Apalagi pertempuran demi menyelamatkan orang lain. Sebagai Goddess, aku menjanjikan kemenangan padamu. Karena itu—"

Goddess itu menyisir rambut emasnya. Percikan api yang kuat bertebaran.

"Setelah kau menyapu bersih musuh, kau harus memuji dan memuja-ku, lalu usaplah kepalaku."

Goddess. Ada berbagai tipe dari mereka. Masing-masing punya kepribadian.

Namun, ada satu hal yang dimiliki oleh semua Goddess. Harga diri yang tinggi dalam pertempuran dan keinginan kuat untuk diakui. Aku tahu betul hal itu. Karena aku pernah mengoperasikan seorang Goddess.

"...Dotta."

Aku merangkul leher pria kecil di sampingku itu. Aku mencekiknya.

"Kali ini saja, apa yang kau katakan benar. Mungkin semuanya benar-benar sudah berakhir."

"Gueeeh... eh? Apa? Jadi benar?"

"Iya benar."

Ini semua adalah kesalahan Dotta. Aku semakin mengencangkan rangkulanku.

"Dia ini Goddess asli. Apalagi—sepertinya dia tipe yang belum diaktifkan. Dia adalah Goddess ke-13."


Hukuman

Dukungan Mundur dari Hutan Kwunzi 2

Katanya, umat manusia dan Fenomena Raja Iblis telah berulang kali terlibat dalam pertempuran yang terputus-putus sejak zaman dahulu kala.

Jika merunut sejarah dari pertempuran pertama di masa kuno, saat ini adalah yang keempat kalinya. Ini disebut sebagai 'Penaklukan Raja Iblis Keempat'.

Entitas pertama dalam Penaklukan Raja Iblis Keempat ini dikonfirmasi sekitar dua puluh tahun yang lalu.

Konon, hal itu bermula di jauh di wilayah Barat, jauh di dalam pegunungan daerah perintisan.

Fenomena Raja Iblis Nomor 1, dengan sebutan 'Uwabami'.

Semuanya berawal dari rumor penduduk desa perintisan yang mengaku "melihat ular raksasa yang luar biasa". Sejak kemunculan ular raksasa itu, kekacauan mulai terjadi. Bukan hanya manusia yang diserang.

Pepohonan di hutan meliuk aneh, hewan kecil dan serangga berubah menjadi monster, dan tanah mulai membusuk. Manusia yang digigit ular itu bangkit kembali setelah menjadi mayat, lalu menyerang pemukiman di kaki gunung.

Laporan-laporan tersebut awalnya hanya dianggap sebagai cerita hantu atau bualan orang desa saja. Surat kabar yang diterbitkan oleh Perusahaan Pengembangan Varkle pun hanya memperlakukannya sebatas itu. Berita mengenai beberapa desa yang hancur dianggap sebagai dilebih-lebihkan.

Penaklukan Raja Iblis Ketiga setidaknya terjadi lebih dari empat ratus tahun yang lalu, sehingga banyak orang tidak menganggapnya sebagai fakta sejarah. Fenomena Raja Iblis dianggap hanya ada dalam dongeng para pengembara atau penutur cerita lama.

Karena itulah, tindakan awal sangat terlambat dilakukan.

Setelah jatuh banyak korban, Orde Ksatria Suci akhirnya dikerahkan dan terpaksa meledakkan seluruh gunung dengan Segel Hangus—rumor itu beredar, namun orang-orang kota hanya tertawa dan menganggapnya sebagai kabar burung yang dibesar-besarkan.

Saat mereka sadar bahwa semua itu nyata, semuanya sudah terlambat. Fenomena Raja Iblis muncul silih berganti di berbagai tempat dan meluas dalam sekejap mata.

Hingga akhirnya, umat manusia kehilangan separuh wilayah huni mereka sampai sekarang.

Aku menatap jauh ke dalam kegelapan, melihat bayangan yang melompat seolah sedang terbang.

Fairy jenis ini, yang disebut Fua, memang memiliki cara bergerak yang khas seperti itu. Sifat mereka sangat buas.

Salah satu ciri khas yang dimiliki oleh semua Fairy adalah keganasan mereka yang menyerang makhluk hidup lain tanpa pandang bulu.

Alasannya tidak diketahui pasti. Menurut cendekiawan di kuil, mereka itu seperti perwujudan mimpi buruk yang dilihat oleh makhluk hidup. Penjelasan yang sulit dimengerti, tapi memang penampilan dan ekosistem mereka menyerupai eksistensi dalam mimpi buruk.

Karena itu, tidak ada cara lain selain membasmi mereka secepatnya.

Sebelum sisa-sisa Orde Ksatria Suci yang sedang diserang di depan mataku ini habis tak bersisa.

(Benar. Lupakan soal Goddess, jangan dipikirkan.)

Aku harus fokus pada apa yang harus kulakukan. Yaitu, bertempur.

"Dotta!"

Aku menarik sebilah pisau dari sabuk di pinggangku dan menggenggamnya dengan tangan kanan. Aku bisa merasakan Segel Suci di telapak tanganku mulai memanas. Kekuatan mengalir ke bilahnya.

"Sesuaikan arah dan jaraknya. Di mana titik yang paling padat? Aku akan menghantam bagian itu untuk menarik perhatian mereka."

"Aku sedang tidak ingin melakukannya, tahu..."

Dotta memasang wajah ketakutan, tapi aku tidak peduli.

Aku sudah menentukan cara bertarungnya. Karena misi ini adalah bantuan penarikan mundur, aku harus melakukan pengalihan perhatian secara besar-besaran.

"Arah jam sepuluh, geser sekitar satu jari ke arah jam sembilan," ujar Dotta sambil mengintip melalui lensa pengintai dan mengerang.

"Jaraknya sekitar tiga puluh tujuh langkah? Itu titik yang paling padat."

Dotta memang bisa melihat cukup baik di malam hari, tapi kemampuan ini bukan sekadar soal penglihatan.

Bisa dibilang, dia memiliki insting yang aneh. Sepertinya terbatas pada makhluk hidup, tapi karena dia penakut, dia jadi sangat sensitif terhadap kehadiran orang lain. Dia bisa mengukur jarak benda dengan akurasi yang sulit dipercaya.

"...Heh. Begitu ya."

Padahal aku baru saja mencoba melupakannya, tapi suara itu terdengar lagi. Suara si Goddess.

"Orang yang tampak payah itu ternyata punya mata yang bagus juga ya," katanya.

Dia melontarkan hinaan yang sangat tepat sasaran kepada Dotta. Kemudian, dia melangkah maju di depanku.

"Nah, Ksatria-ku. Kau akan bertarung, kan? Taktik apa yang akan kau gunakan?"

"Eh? Xylo, anu, anak ini..."

Dotta menatapku dengan bingung, dan aku kesulitan menjawabnya. Sangat sulit. Lawanku adalah seorang Goddess. Aku harus berhati-hati dalam berucap.

"Untuk lawan selevel mereka... ya... begitu..."

Aku tidak boleh menggunakan kekuatan Goddess sembarangan. Aku sangat memahami hal itu.

"Hamba tidak pantas... tidak pantas meminjam kekuatan agung Yang Mulia Goddess. Tolong, anu. Awasi saja kami dari sana."

"Ya ampun, kau rendah hati sekali ya," sahutnya.

Wajah Goddess itu tampak sangat senang.

"Kau tidak perlu sungkan. Ayo, segera bergantunglah padaku. Akan kutunjukkan bagian agung dari diriku padamu."

"Bukan, ini bukan soal sungkan—"

Aku mencoba mencari kata-kata untuk menolak lebih tegas, tapi situasi tidak mengizinkannya.

"Xylo, gawat!"

Kali ini Dotta memanggil namaku dengan suara ketakutan.

"Ada yang menyadari keberadaan kita!"

"Sial."

Aku mengumpat. Baguslah kalau begitu.

"Bagaimana ini, Xylo?"

"Tidak masalah."

Aku mengayunkan pisau dan melemparkannya dengan kekuatan penuh.

Pisau itu melesat lurus seperti anak panah. Terdengar suara udara yang robek, lalu—hantaman. Kata itu sangat cocok.

Untuk sesaat, kilatan cahaya membelah kegelapan malam.

Disusul oleh suara ledakan.

Energi panas yang besar terlepas, menghempaskan pepohonan, tanah, batu, dan tubuh para Fua hingga hancur berantakan. Aku bahkan bisa merasakan tekanan udaranya sampai ke sini. Padahal aku sudah menyesuaikan kekuatannya.

Jika aku menggunakannya dengan serius, kekuatannya bisa menghancurkan rumah kecil dalam sekali pukul. Tadi aku hanya mempersempit radius kehancurannya sebatas untuk menghancurkan sebuah kereta kuda.

Ini bukan pisaunya, tapi Segel Suci di telapak tangankulah yang memiliki rahasia. Itu adalah alat kerjaku di tempat kerja lama. Saat dijatuhi hukuman Pahlawan, sebagian besar fungsi Segel Suci-ku disegel, tapi dua di antaranya dibiarkan tetap ada. Salah satunya adalah ini.

Nama produk dari segel ini adalah Zatte Finde.

Dalam bahasa kerajaan kuno, artinya 'Permen Besar'—Segel Suci Panas dan Cahaya. Salah satu persenjataan anti-Fenomena Raja Iblis, dan bisa dibilang yang tercanggih saat ini. Alat ini meresapkan kekuatan Segel Suci ke dalam benda dan mengubahnya menjadi senjata penghancur.

Seperti petasan lempar yang sangat mencolok.

"Perhatian mereka sudah teralih. Sejauh ini sesuai rencana," kataku sambil berpura-pura tenang.

Sebab jika aku panik, Dotta pasti akan lari.

"A-Apa benar-benar sesuai rencana?"

"Kalau kubilang sesuai rencana, ya berarti sesuai rencana!"

Aku bisa melihat para Fua yang terkena ledakan mulai panik. Mereka diserang tiba-tiba dan belum bisa mengukur tingkat ancaman kami. Mereka mulai waspada ke arah kami daripada ke arah para prajurit yang terkepung.

Sambil memelototi mereka, aku sudah mulai berlari. Meluncur menuruni lereng.

"Dotta, pokoknya tembak terus! Setelah tembak, lari. Jangan sampai tertinggal! Bawa juga Yang Mulia Goddess!"

Mendengar perintahku, Dotta menarik tongkat pendek dari sabuknya. Dia membidiknya setinggi mata.

"Rasanya mau muntah..."

Sambil mengeluh, Dotta mengencangkan genggamannya pada tongkat itu. Ada Segel Suci yang terukir di tongkat tersebut.

Senjata jenis ini disebut Tongkat Petir.

Nama produk segelnya adalah Hilke. Produk lama yang dikembangkan oleh Perusahaan Pengembangan Varkle. Alat ini melepaskan petir melalui Segel Suci. Dipasarkan dengan slogan senjata jarak jauh yang sulit dihindari maupun ditangkis. Namun karena pengatur garis tembak dan fokusnya membutuhkan keahlian tinggi, efektivitasnya hanya sedikit lebih baik daripada busur silang.

Dotta bukanlah ahli dalam menggunakan alat ini.

Meskipun matanya bagus dan sensitif terhadap kehadiran musuh, dia kekurangan insting untuk mengendalikan Segel Suci. Tapi, itu pun bisa berguna tergantung situasi. Misalnya, saat melawan kawanan Fairy yang jumlahnya luar biasa banyak.

"—Ah! Kena!" seru Dotta senang.

Ujung Tongkat Petir melepaskan kilat, mengeluarkan suara seperti logam yang retak. Di saat yang sama, kepala salah satu Fua hancur berkeping-keping. Hal itu membuat semakin banyak perhatian tertuju pada kami.

"Xylo, kena lho!"

"Dengan jumlah sebanyak itu, lebih sulit untuk meleset daripada mengenai mereka! Terus berikan bantuan! Kalau kau mengenaku, akan kuhajar kau!"

Aku berlari kencang menyelinap di antara pepohonan hutan.

Lalu, aku menerjang ke tengah-tengah kawanan Fua.

"Jangan menghalangi jalan," gumamku sambil melangkah masuk ke wilayah yang penuh darah, daging, dan lumpur.

Aku mengaktifkan Segel Suci dan melempar pisau. Dua monster langsung hancur sekaligus. Ini cara menarik perhatian yang lebih efektif daripada sekadar berteriak menantang. Lalu kilatan cahaya lagi, ledakan, jeritan monster yang menyakitkan telinga—ditambah keluhan Dotta.

"Anu, maaf. Sangat sulit dan butuh konsentrasi tinggi supaya tidak mengenai Xylo..."

Berani-beraninya dia mengeluh begitu. Kalau memang bisa, coba saja tembak aku; Dotta tidak punya kemampuan sehebat itu.

"Pokoknya tembak saja! Jangan berhenti! Terus menembak!"

Perintahku itu pasti terdengar olehnya.

Beberapa kali petir menyambar lagi, dan aku terus melemparkan pisau sambil berlari. Setelah menghancurkan mereka berturut-turut seperti itu, tidak butuh waktu lama untuk membereskan sisanya. Sambil menendang serpihan monster yang hangus, aku memanggil para prajurit yang selamat.

"Hei! Kalian masih hidup, kan?"

Jumlah mereka yang bertahan dengan formasi lingkaran tadi telah berkurang lagi. Sisa sekitar sepuluh orang.

"Anda ini..."

Salah satu dari mereka—prajurit yang masih sangat muda, bahkan terlihat seperti remaja—menatapku. Tidak, tepatnya dia menatap Segel Suci di leherku.

"Pahlawan Hukuman? Kenapa bisa ada di tempat seperti ini...!"

Antara lega karena ditolong dan terkejut karena penolongnya adalah Pahlawan Hukuman. Hal itu membuatnya sangat bingung.

Tapi aku tidak punya waktu untuk meladeninya. Aku menghitung sisa pisauku. Gelombang pertama sudah dihentikan, tapi kelompok berikutnya pasti akan datang. Mustahil menghadapi semuanya. Untuk keluar dari situasi ini, satu-satunya cara adalah melarikan diri, tapi—

"...Jangan pedulikan kami," ujar prajurit muda itu dengan wajah getir.

Dia sedang memapah rekannya yang terluka dan jelas-jelas tidak sadarkan diri. Dia sendiri sudah kelelahan, sampai harus menggunakan tombaknya sebagai tongkat penyangga.

"Ditolong oleh Pahlawan Hukuman... itu penghinaan bagi kehormatan kami...!"

"Lho? Eh?"

Dotta menoleh menatapku dengan bingung.

"Tadi, bukannya suasananya kita harusnya sangat berterima kasih? Bukan ya?"

Aku setuju dengan Dotta—maksudku, aku merasa ini tidak masuk akal.

Sudah susah payah ditolong malah bilang 'jangan pedulikan'. Memang mudah saja untuk membiarkan mereka dan lari sendiri. Aku bisa menjadikan mereka umpan untuk menembus kepungan musuh. Namun...

"—Aku mengerti, Ksatria-ku."

Tiba-tiba, si Goddess sudah ada di sampingku.

Napasnya sedikit terengah, tapi sepertinya dia terus mengikuti kami tanpa tertinggal. Dalam kondisi itu, dia dengan anggun menyisihkan seuntai rambut emas yang menutupi dahinya.

"Tidak mungkin meninggalkan mereka dan lari begitu saja, kan? Serahkan ini padaku. Fairy kotor selevel itu akan kusapu bersih dalam sekejap."

"Eh, tidak, itu, anu..."

Aku mencoba mencari alasan untuk menolak. Menggunakan kekuatan Goddess adalah hal yang sangat buruk. Sekarang masih sempat. Aku masih bisa mengembalikannya secara diam-diam ke Orde Ksatria Suci. Begitu kekuatannya digunakan, tidak ada jalan kembali.

Aku harus mencari alasan apa pun, meski hanya sementara.

"T-Tunggu!"

Saat aku sedang berpikir keras, salah satu prajurit berteriak panik. Matanya tertuju pada si Goddess.

"Apa maksudnya ini? Rambut emas itu, mata itu, jangan-jangan..."

Ketahuan juga. Sepertinya mereka akhirnya sadar.

"Kenapa kalian membawa Beliau! Apa yang kalian lakukan?!"

"J-Jangan mulai deh, sekarang bukan waktunya bertengkar dengan sesama kawan! Lagipula Xylo!"

Dotta berteriak menyela. Mungkin agar aksi pencuriannya tidak diusut lebih lanjut.

"Gelombang berikutnya datang! Kita sudah ketahuan. Harus melakukan sesuatu!"

"Benar."

Tembakan sembarangan dari Dotta terlalu lemah untuk menahan musuh. Prajurit yang kami selamatkan juga terluka atau sangat kelelahan, sehingga tidak bisa diharapkan sebagai kekuatan tempur. Akhirnya, meski aku khawatir dengan sisa pisauku, akulah yang harus maju.

"Yang Mulia Goddess, pokoknya di sini aman. Biar kami yang urus—"

Sambil mencoba menahan sang Goddess, aku hendak menarik satu pisau lagi.

Saat itulah, masalah lain datang.

—"Xylo-kun! Dotta!"

Sebuah teriakan melengking terdengar tepat di telingaku.

Suara cempreng yang membuat gendang telinga perih. Aku dan Dotta sangat mengenal pemilik suara ini. Tanpa sadar kami berdua menutupi telinga.

Meski sia-sia, kami terpaksa melakukannya. Segel Suci Pahlawan di leher kamilah yang menyampaikan suara ini—memang ada kekuatan seperti itu. Komunikasi jarak jauh. Kami tidak bisa melarikan diri dari ikatan yang menyebalkan ini.

"Gawat sekali, tolong dengarkan! Terjadi sesuatu yang gawat. Benar-benar gawat."

Itu adalah suara 'Komandan' kami secara formal.

Seorang narapidana politik sekaligus penipu yang tidak punya keberanian dan tidak berguna, Vanetim Leopool. Biasanya jika dia menghubungi kami, dia selalu melaporkan 'hal yang sangat gawat' yang levelnya sama dengan keluhan Dotta. Biasanya itu berupa perintah sampah dari atasan atau situasi yang memburuk.

"Ini sangat gawat sampai rasanya semuanya sudah berakhir. Xylo-kun, apa kau sedang senggang sekarang?"

"Tentu saja tidak!" sahutku sambil menggenggam pisau.

Kekuatan Segel Suci mengalir masuk—aku melemparnya sekuat tenaga. Suara ledakan terdengar. Tubuh kenyal para Fua terpental hancur. Dengan ini, pasukan garis depan yang menemukan kami telah musnah. Ini memberi sedikit waktu luang.

"Kau dengar suara tadi? Hah? Apa menurutmu aku sedang senggang?"

"Firasatku bilang tidak. Tapi kalau tidak kukatakan sekarang, nanti Xylo-kun pasti marah, kan?"

"Aku marah! Sekarang pun aku marah! Ada apa?!"

"Orde Ksatria Suci telah bergerak."

"Baguslah kalau begitu! Mereka segera mulai mundur, kan? Kalau laporannya cuma segitu—"

"Bukan. Mereka bergerak maju menuju Fenomena Raja Iblis."

Sesaat, aku tidak percaya dengan telingaku sendiri. Aku bertanya balik.

"Tadi kau bilang apa?"

"Para anggota Orde Ksatria Suci yang sedang memulihkan posisi di hutan itu sedang menyusun barisan tempur melawan Fenomena Raja Iblis. Katanya, mereka akan menahan laju Fenomena Raja Iblis di sini."

"...Kenapa?"

"Mana aku tahu."

Lalu Vanetim tertawa dengan suara yang terdengar lemah lesu.

"Sebentar lagi kedua pihak akan bentrok. ...Bagaimana ya?"

Rasanya ingin bilang 'mana kutahu'.

Apa rencana operasinya tidak tersampaikan ke Orde Ksatria Suci? Atau mereka mengabaikannya meskipun sudah tahu?

Sejauh yang kutahu, Orde Ksatria Suci seburuk apa pun tetaplah pakar militer. Harusnya dalam situasi begini, sudah menjadi taktik standar untuk menjadikan unit Pahlawan sebagai tumbal dan segera menarik diri.

"Hei!"

Aku berteriak pada para prajurit di sampingku yang sepertinya sudah tidak punya tenaga lagi bahkan hanya untuk berdiri.

"Apa yang dipikirkan komandan kalian? Apa memang rencana awalnya seperti itu?"

"...Benar," jawab prajurit yang paling muda dengan susah payah.

"Kami tidak percaya pada bantuan penarikan mundur oleh Pahlawan Hukuman. Selain itu, Komandan Kivia... kami Orde Ksatria Suci sangat menjunjung tinggi kehormatan. Kami berniat melakukan perlawanan terakhir—"

"Kalian bodoh ya."

Rasanya aku ingin menendang mereka satu per satu. Tapi tidak ada waktu. Apa pun alasannya, saat ini juga, rencana yang kususun hancur berantakan.

Selama perintah untuk membantu penarikan mundur Orde Ksatria Suci masih berlaku, akan sangat merepotkan jika mereka tetap diam di dalam hutan. Apalagi menabrakkan diri ke kawanan Fenomena Raja Iblis dari depan. Jika dibiarkan, kami akan mati konyol, dan Orde Ksatria Suci pun akan mengalami kerugian yang hampir total.

Karena Goddess yang harusnya menjadi kartu as mereka ada di sini.

(Benar-benar gila.)

Jika sudah begini, hanya ada satu hal yang bisa kami lakukan. Jika Orde Ksatria Suci tidak mau mundur, maka cara untuk keluar dari sini adalah—

"Xylo," panggil Dotta dengan wajah seperti mau menangis.

"Bagaimana ini?"

Aku terdiam sambil menatap Dotta dan sepuluh orang prajurit di belakangnya. Mereka terluka dan lelah. Dengan ekspresi putus asa, namun entah kenapa mereka menatap kami seolah-olah sedang menggantungkan harapan pada sesuatu.

Orang-orang yang menyebalkan. Padahal mereka orang asing yang baru saja kutemui.

Seharusnya aku tidak usah datang ke tempat ini, pikirku.

"...Yang Mulia Goddess."

"Iya, ada apa?"

Begitu aku menoleh, si Goddess menjawab dengan senyum lebar.

"Akhirnya kau butuh kekuatanku juga ya, Ksatria-ku? Waktunya serangan balik, kan?"

"Ya. ...Benar... begitulah. Kau benar, kita akan menyerang balik."

Dia tidak mendengar percakapanku dengan Vanetim. Dia masih salah paham. Dia tidak tahu siapa kami, siapa aku sebenarnya. Artinya aku akan membohonginya. Tapi, tetap saja.

"Hamba mohon pinjamkan kekuatan Yang Mulia Goddess."

Aku mengatakannya dengan tegas.

"Ganti rencana, Dotta. Sekarang kita akan membunuh Raja Iblis."

"Eh? Tunggu, kau serius? Musuhnya ada lima ribu, kau pikir kita bisa menang?"

"Kau tidak sopan sekali ya. Tentu saja bisa. Karena aku akan meminjamkan kekuatanku," potong sang Goddess sambil membungkuk anggun.

"Kalau begitu Ksatria-ku, serahkan harga untuk kontraknya."

"...Aku tahu."

Aku menarik pisau, lalu menggores lenganku sendiri. Rasa sakit yang tajam muncul seiring darah yang mengalir keluar.

Inilah cara untuk membuat kontrak dengan seorang Goddess. Sang Ksatria yang menjadi penggunanya harus menyerahkan sebagian dari tubuhnya. Sebagai bukti kontrak. Kemudian mereka saling bertukar janji. Kontrak satu lawan satu—yang akan terus berlanjut sampai salah satu mati.

Hanya dengan ini, sang Goddess bisa mengerahkan kekuatannya demi manusia.

"Tolong. Bantu kami."

"Kalau begitu, sebagai Ksatria-ku, maukah kau bersumpah untuk membuktikan bahwa dirimu adalah keberadaan yang agung?"

"Aku bersumpah."

Aku menjawab tanpa ragu.

Tidak, itu bohong. Aku sedikit ragu, tapi itu terjadi setelah aku mengucapkannya. Aku merasa sudah terlanjur mengatakannya.

"Baiklah."

Meskipun begitu, si Goddess tampak senang dan mendekatkan bibirnya ke luka di lenganku.

"Aku menerimanya dengan senang hati."

Melihat wajahnya yang sesempurna boneka, aku sempat mengira bibirnya mungkin akan terasa keras seperti kaca. Tapi ternyata tidak. Bibir yang lembut dan halus menyentuh luka itu.

Aku merasakan api menyala di dalam kepalaku. Sensasi mengambil kembali sebagian dari diriku yang sudah lama tidak kugunakan—atau mungkin sudah kulupakan. Aku tahu si Goddess sedang tersenyum. Seluruh tubuhnya bersinar semakin terang.

(Sudah terlanjur kuberi ya.)

Sesaat, saat aku memejamkan mata, percikan api muncul dalam kegelapan di balik kelopak mataku. Rasanya seperti ada sebuah pintu yang terbuka di lubuk hatiku. Itu adalah bukti bahwa 'Sambungan' telah selesai. Jika sudah begini, tidak ada jalan untuk kembali. Aku tahu betul hal itu.

Bisa dibilang, saat inilah langkah pertama yang benar-benar tidak bisa diperbaiki lagi.

Begitulah, sekali lagi aku mengacaukan hidupku sendiri.




Hukuman

Dukungan Mundur dari Hutan Kwunzi 3

Goddess adalah sebuah senjata.

Senjata yang hidup.

Menurut buku sejarah, mereka pertama kali turun ke dunia pada masa peradaban besar, saat era Penaklukan Raja Iblis Pertama. Melampaui waktu ribuan tahun, mereka terbangun setiap kali Fenomena Raja Iblis muncul, dan kembali tertidur di dalam peti mati begitu tugas mereka usai.

Entah apa prinsipnya, ingatan mereka sebelum tertidur hampir selalu hilang, namun peran mereka sebagai pelindung dunia dan umat manusia tetap tidak berubah.

Fungsi yang mereka miliki adalah memanggil—melakukan pemanggilan terhadap "sesuatu" dari antah berantah untuk melawan Fenomena Raja Iblis. Menurut cendekiawan di kuil, Goddess adalah semacam "gerbang".

Sifat kekuatan itu berbeda-beda bagi setiap Goddess. Ada yang memanggil manusia, ada yang memanggil fenomena alam seperti petir atau badai. Konon, ada juga yang bisa memanggil pemandangan masa depan untuk meramal.

Dalam mengoperasikan Goddess, tidak diperlukan buku panduan atau instruksi tertulis. Seorang Ksatria Suci yang telah menjalin kontrak akan langsung memahami fungsi, kemampuan, dan apa yang bisa dipanggil oleh sang Goddess.

Saat itu juga, aku segera memahaminya.

"Teoritta?"

Gadis berambut emas yang meminum darahku itu adalah Goddess dengan nama tersebut.

"Benar, Ksatria-ku," sahutnya.

Teoritta menyisir rambutnya sambil memercikkan bunga api.

"Xylo."

Dia pun telah memahami namaku.

"Beritahu aku, berkah seperti apa yang kau inginkan?"

Di balik mata Teoritta yang bagaikan api saat menanyakan hal itu, aku melihat kilauan baja.

Pedang. Berbagai bilah baja tak terhitung jumlahnya—pedang ternama, pedang iblis, pedang pusaka, pedang suci. Semuanya menunggu untuk dipanggil dari balik dimensi kosong.

"Silakan. Berdoalah."

Goddess Pedang, Teoritta.

Memahami itu saja sudah cukup bagiku. Aku tahu persis apa yang bisa dia panggil.

"Pagar," ucapku singkat.

Taktik yang harus diambil. Apa yang bisa kami lakukan satu sama lain.

Melalui sesuatu yang bahkan bukan sebuah keinginan melainkan sekadar sensasi—sebuah imajinasi—aku berbagi hal itu dengan Teoritta. Aku juga mengenal perasaan ini. Kemampuan inilah yang membuat Goddess menjadi kartu as umat manusia.

Hanya memanggil keberadaan yang kuat saja tidaklah cukup. Karena pengguna yang ahli militer bisa berbagi dan mengoperasikannya, barulah mereka menjadi kartu as.

"Tega-teganya kau...!"

Salah satu anggota Orde Ksatria Suci—prajurit yang tampak seperti remaja tadi—menegurku. Lebih tepatnya, dia meratap. Wajahnya menunjukkan keputusasaan. Jika dia punya tenaga, mungkin dia sudah mencengkeram kerah bajuku.

"Tega-teganya kau menjalin kontrak dengan Yang Mulia Goddess! Kau itu—"

"Diamlah. Tidak ada cara lain."

Aku akan hidup kembali meski mati, tapi mereka tidak. Para prajurit ini semuanya kelelahan dan tidak punya kemampuan bertarung lagi. Lagipula, sekarang bukan waktunya menimbang baik-buruknya tindakanku.

"Xylo! L-L-Lagi! Gelombang berikutnya datang!"

"Aku tahu."

Dotta berteriak sambil menyiagakan Tongkat Petir-nya.

Benar. Para Fua sudah mendekat di depan mata. Dengan tubuh katak yang hitam pekat dan kenyal, mereka menyerbu seperti tsunami lumpur.

"Bukankah mereka jadi lebih buas dari yang tadi? Bagaimana ini! Kita bisa mati!"

"Jangan bicara mati begitu saja, bodoh," balasku ketus sambil menunjuk ke arah kawanan Fua yang mendekat.

"Teoritta! Lakukan dengan meriah, kita pukul mundur mereka di sini!"

"Pukul mundur di sini. Kata-kata yang bagus."

Teoritta tersenyum senang dan menggerakkan satu tangannya seolah sedang membelai udara kosong.

"Sangat cocok untuk Ksatria-ku. Dengan senang hati akan kuberikan berkahnya."

Krak! Suara jernih terdengar seolah udara terbelah.

Pada saat itu juga, hujan perak turun dari langit—itu adalah ratusan bilah pedang.

Kumpulan bilah yang bersinar dengan sendirinya bahkan dalam kegelapan. Hal itu memenuhi jarak pandangku, terasa sangat menyilaukan hingga membekas di mata.

Dengan baja sebanyak itu yang turun dalam sekejap, mustahil bagi musuh untuk menghindar. Tanpa ampun dan tanpa menahan diri, pedang-pedang itu menembus tubuh para Fua secara serentak. Suara tebasan yang kuat dan paduan suara jeritan yang menyakitkan telinga saling bersahutan. Pedang yang turun itu tertancap di tanah, seketika menjadi seperti garis pembatas antara kami dan para Fua.

Sesuai pesananku. Kumpulan pedang itu menjadi pagar pertahanan. Jumlah Fua pun berkurang hingga kurang dari separuh.

"Uwah, hebat...!"

Dotta meringis sambil menutup hidungnya. Tanah kini dibanjiri cairan tubuh keruh dari para Fua, menimbulkan bau busuk yang luar biasa menyengat.

"Apa Goddess itu memang seperti ini? Kuat sekali...!"

"Begitulah. Tapi kita juga tidak punya waktu untuk santai. Dotta, tembak!"

Sambil berteriak, aku berlari menuju pagar pedang.

"Jangan biarkan mereka mendekat. Hajar habis-habisan."

Aku menarik satu dari pedang yang tertancap. Aku menggenggamnya dengan tangan kanan dan bersiap melempar—teknik melempar tombak atau pedang sudah ditanamkan padaku di tempat kerja yang lama.

Ini adalah teknik bertarung menggunakan Segel Suci, meresapkan kekuatan ke dalam benda. Khusus untukku, mustahil aku meleset dalam jarak dua puluh atau tiga puluh langkah. Dengan memutar pinggang untuk menyatukan kekuatan tubuh bagian bawah dan atas, aku melemparnya.

Pedang yang kulempar mengeluarkan kilatan cahaya di tengah-tengah kerumunan Fua dan meledak. Ledakan itu menyeret beberapa monster lagi dan menyapu bersih kelompok mereka.

Darah, lumpur, dan potongan daging Fua bercampur aduk, membuat area sekitar menjadi semakin mengerikan.

"Ugh... aku mau muntah, tapi alasannya berbeda dari yang tadi."

Dotta juga mulai menembak dengan Tongkat Petir. Tembakannya sangat buruk dan bahkan tidak bisa menahan musuh dengan layak, namun dia tetap tidak terkena serangan balik karena pagar pedang berfungsi sebagai tempat berlindung. Monster yang mencoba melompati pagar langsung kubelah dengan satu tangan.

Karena hal itu, beberapa dari mereka mulai melarikan diri. Sepertinya mereka sadar bahwa telah terjadi perubahan besar pada kekuatan tempur kami.

"A-Apa sudah aman? Sekarang kita bisa tenang, kan?"

"Begitulah, tapi Dotta, tembakanmu benar-benar payah. Di paruh terakhir tidak ada yang kena sama sekali."

"Hehe. Anu... sebenarnya, aku tidak pandai menyakiti orang lain."

"Bicara apa kau. Kau kan juga pernah melakukan perampokan. Kau membunuh orang saat itu, kan?"

"Aku memang tidak pandai, tapi saat itu aku berusaha keras. Tolong pujilah aku..."

Ini bukan masalah usaha atau bukan, tapi karena mendiskusikan mentalitas Dotta hanya akan membuang waktu, aku berhenti bicara.

Para Fua melarikan diri. Bisa dibilang kami sudah berhasil melewati krisis ini. Dotta terduduk di tanah sambil terengah-engah. Dia memang pada dasarnya pengecut.

"—Bagaimana, Ksatria-ku?"

Goddess Teoritta berdiri membusungkan dada di depanku. Dilihat lagi, dia memang bertubuh mungil. Tingginya hanya sampai dadaku.

"Apakah kau terkesan dengan berkahku ini? Kekuatan agung yang membinasakan para Fairy dan melindungimu... kuizinkan kau memuji dan memujaku sesukamu."

Kata-katanya sangat angkuh, tapi penampilannya benar-benar seperti anak kecil. Matanya bersinar sewarna api. Dia menyodorkan kepalanya ke arahku seolah menantikan sesuatu.

"Xylo. Aku bilang, aku mengizinkanmu."

Aku tahu betul apa yang ingin dia katakan. Imajinasinya tersampaikan padaku.

"Usaplah kepalaku, dan katakan betapa agungnya aku."

Singkatnya, dia ingin bilang begini: Usap kepalaku dan katakan 'kau hebat'.

(Tapi, melakukan hal itu...)

Aku ragu. Ini terlalu kekanak-kanakan.

Bagi mereka, mendapatkan pujian dari manusia adalah nilai tertinggi. Kami manusia tahu hal itu dan memanfaatkannya. Meski begitu, mereka memang benar-benar membutuhkannya—pujian dari seseorang. Seolah mereka tidak bisa hidup tanpanya.

Namun, apakah pantas jika orang sepertiku melakukan hal itu sekarang? Bukankah itu seperti kemunafikan yang parah?

"Ah. Xylo-kun dan Dotta, kalian masih hidup?"

Tepat saat aku hendak mengulurkan tangan, suara menyebalkan itu terdengar lagi di telingaku.

'Komandan' kami, Vanetim.

"Kenapa kau terdengar sedikit kaget begitu?"

"Benar, kau benar-benar menganggap ini urusan orang lain ya! Vanetim, sesekali datanglah ke garis depan!"

Jarang-jarang pendapatku dan Dotta searah. Vanetim sepertinya sedikit gentar.

"B-Begitu ya. Aku mengerti jerih payah kalian berdua, akan kupikirkan."

"Dasar pembual. Kau bercanda ya?"

"Bahkan aku pun tahu itu bohong..."

"Hahaha. Baiklah, lupakan soal itu untuk sekarang."

Akhirnya, dia menghindar dengan tawa palsu dan pengalihan topik yang dipaksakan. Dasar bajingan.

"Ini lanjutan dari pembicaraanku tadi. Apa yang akan kalian berdua lakukan sekarang? Jika tidak pergi menolong Orde Ksatria Suci... akan gawat kalau mereka habis tak bersisa, kan?"

Benar-benar, kenapa dia bisa bicara seolah-olah ini bukan urusannya. Dotta sampai mengerang mendengarnya.

"Apa maksudmu. Kami akan segera lari. Aku tidak peduli jika Orde Ksatria Suci mau bertarung sendiri sampai mati."

"Benar juga ya. Tapi, apa kalian lupa? Kalau lebih dari separuh anggota Orde Ksatria Suci mati, kalian berdua juga akan mati, kan? Mungkin kalian akan dibakar hidup-hidup setelah dibangkitkan nanti... pasti rasanya sangat sakit..."

"Ugh."

Dotta memegangi kepalanya lalu menatapku.

"Bagaimana ini, Xylo?"

"Kenapa kau memasang wajah menyedihkan begitu! Apa ada yang perlu dibingungkan?"

Sepertinya Teoritta memahami alur pembicaraan dari potongan kata-kata Dotta. Dia melototi Dotta seolah sedang mencelanya, lalu menunjuk ke depan wajahnya.

"Tidak perlu lari. Kita harus segera menuju pertempuran berikutnya. Benar kan, Ksatria-ku?"

"Aku mengerti apa yang ingin kalian katakan, jadi tolong kalian berdua diam sebentar!"

Jika dibiarkan mereka berdua terus mengomel secara sepihak, aku tidak bisa menyusun pikiran dengan benar. Aku menarik napas dalam-dalam, dan pertama-tama berpikir untuk menggerakkan Vanetim.

"Vanetim, tidak bisakah kau bernegosiasi? Bukankah itu satu-satunya nilai keberadaanmu?"

"Dimengerti. Akan kucoba, beri aku sedikit waktu."

"Hei, jangan langsung berbohong begitu. Jawaban macam apa itu, terlalu penurut!"

Aku langsung menyadari kebohongan Vanetim.

Dia adalah pria yang berbohong semudah bernapas. Aku tahu apa yang dipikirkan Vanetim. Aku juga tahu situasi yang dihadapinya. Gelar Vanetim adalah 'Komandan', dan dia memberi perintah dari luar hutan. Itu pun di bawah pengawasan petugas penjara kerajaan.

Artinya, pria itu perlu—dan terus berhasil—meyakinkan para petugas penjara kerajaan bahwa dialah satu-satunya sosok yang mampu menilai situasi perang secara fleksibel dan menangani unit Pahlawan Hukuman yang penuh dengan penjahat kelas kakap.

'Sosok yang tampak kurang bisa diandalkan dan biasanya tidak berguna, namun entah kenapa menjadi pemimpin yang disegani oleh para kriminal'.

Sebagai mantan penipu, dia sangat ahli dalam membentuk kesan seperti itu. Tidak heran dia pernah ditangkap karena menipu keluarga kerajaan dan hampir menjual istana raja ke kelompok sirkus.

Kenyataannya, Vanetim memang hanya tidak bisa diandalkan, dan kami tidak menyeganinya sama sekali. Baik di waktu biasa maupun darurat, dia tidak berguna selain dalam hal bicara. Kata-katanya "Dimengerti, akan kucoba" tadi pun hanyalah sekadar akting. Dia benar-benar bicara asal-asalan.

Karena para anggota Orde Ksatria Suci yang sangat mulia itu melakukan tindakan ceroboh dengan memilih mencegat musuh demi menjunjung kehormatan sampah mereka, Vanetim mengira kami akan segera mati.

"Percayakan padaku, Xylo-kun. Bagaimanapun aku ini komandan kalian semua. Sesekali aku harus menunjukkan sisi kerenku, kan?"

"Kau pasti bicara asal karena tahu suara kami tidak terdengar oleh petugas penjara, kan!"

"Kalau begitu, maaf ya, sampai di sini dulu."

"Kau jangan bercanda, awas kau nanti—ah, tidak, tunggu sebentar."

Saat itu, aku terpikir akan sesuatu yang mungkin bisa membuat Vanetim sedikit berguna.

"Orde Ksatria Suci? Sampai di mana mereka maju untuk mencegat musuh?"

"Eeeh..."

Terjadi keheningan yang cukup lama.

Mungkin dia baru memeriksanya sekarang, atau sedang mengonfirmasinya pada petugas penjara. Rasanya aku ingin menyuruhnya memastikan hal seperti itu dulu baru menghubungi kami.

"Sedikit lebih ke Utara dari tempatmu, di sepanjang Sungai Percell... anu... di titik penyeberangan sungai kedua mereka menyusun barisan. Sepertinya begitu. Agak jauh ya."

"Tidak jauh sama sekali!"

Sekali lagi aku merasa heran. Orang ini hanya memantau posisi kami secara asal-asalan. Tapi, kali ini dia sedikit membantu. Keberuntungan juga karena letaknya tidak begitu jauh.

Saat ini, apakah aku punya pilihan?

Karena melakukannya secara normal tampak mustahil, aku bisa saja menyerah menolong Orde Ksatria Suci dan memilih gantung diri saja di sini.

Sebagai Pahlawan, aku bisa melakukan itu. Memang nanti aku akan dibangkitkan dengan cara yang mengerikan, tapi itu pun kalau beruntung.

(—Tidak bisa, ya.)

Hanya saja, aku punya kebiasaan buruk—semacam bagian dari diriku yang tidak bisa diapa-apakan lagi. Aku menghela napas pasrah, lalu menoleh ke belakang. Di sana ada para prajurit yang sudah sangat kelelahan hingga tidak punya tenaga lagi untuk bicara.

"Kalian, apa yang akan kalian lakukan?"

"...Kami sudah memutuskan untuk bertarung dan mati bersama Komandan Kivia."

Salah satu prajurit termuda berdiri dengan terhuyung-huyung.

"Kami harus... bergabung dengan mereka."

"Jangan lakukan itu. Kalian hanya akan jadi penghambat. Apa kalian berniat bertarung sambil membuat rekan kalian melindungi kalian yang terluka?"

Sengaja kugunakan kata-kata yang tajam. Aku sudah biasa dibenci.

"Teroboslah ke Selatan lewat jalan ini."

Kawanan Fairy yang menyerang unit terpisah ini sudah dipukul mundur. Sisanya, aku sendiri yang akan menjadi umpan dan berusaha bergabung dengan pasukan utama ksatria.

"Begitu kalian sampai di ujung Selatan hutan, ada unit yang mengawasi kami. Kalau sudah di sana, tolong pukul pria bernama Vanetim untukku. Aku akan pergi memarahi komandan kalian sekarang."

"...Sulit dipercaya."

Prajurit muda ini sepertinya memahami maksud dari kata 'pergi memarahi' itu.

"Apa kau benar-benar akan membantu penarikan mundur kami?"

"Karena aku sudah terlanjur menjalin kontrak dengan Goddess."

Semua prajurit itu tampak bingung harus memberikan kesan apa terhadap kata-kataku.

Itu wajar saja. Mereka memang ditolong, tapi penolongnya adalah Pahlawan Hukuman, dan lagipula dia menjalin kontrak dengan Goddess tanpa izin. Mereka pasti sudah tidak paham lagi dengan situasinya.

(Lagi-lagi, aku harus melakukan hal seperti ini.)

Aku menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah Dotta.

"Ayo pergi sesuai rencana. Lanjutkan operasi."

"Xylo..."

Wajah Dotta tampak sangat cemas.

"Sekali lagi, aku tanya untuk memastikan, apa kau benar-benar mau pergi mengalahkan Raja Iblis? Kau masih waras?"

"Aku waras. Pertama-tama kita bergabung dengan Orde Ksatria Suci dan mencegah mereka hancur total. Tidak ada cara lain lagi sekarang."

"Wah!"

Yang pertama bereaksi adalah Teoritta. Dia bertepuk tangan dengan gembira.

"Benar-benar Ksatria-ku! Harus begitu, dong. —Betapa beruntungnya aku. Kau memang benar-benar sosok yang pantas menjadi pemujaku."

"Aku menolak."

Dotta mengangkat tangan tanpa semangat.

"Meski ada kekuatan Yang Mulia Goddess, mengalahkan Raja Iblis itu urusan lain. Xylo, kau sendiri pasti tidak mau mati demi Orde Ksatria Suci yang mulai bertarung sesuka hati mereka—lagipula, kau kan—"

"Justru karena itulah."

Aku mengerti apa yang ingin dikatakan Dotta.

Dulu aku adalah anggota Orde Ksatria Suci. Aku diusir dari sana hingga menjadi seperti ini.

Aku sangat membenci Orde Ksatria Suci—atau lebih tepatnya, para bangsawan bodoh di balik mereka.

Di antara mereka ada yang menjebakku hingga aku mengalami nasib sial ini, dan aku punya rencana untuk membunuh mereka suatu saat nanti.

Hanya saja,

"Aku pun tidak menyukai mereka. Tapi, aku sangat muak jika alasan itu dijadikan bahan gunjingan bahwa aku telah membiarkan mereka mati."

"Kurasa itu cuma perasaanmu saja, biarkan saja mereka menggunjingkanmu."

"Aku tidak bisa menahannya."

Aku tidak tahan jika dianggap sebagai orang yang berjiwa sempit oleh orang-orang yang lebih remeh dariku.

Pada akhirnya, ini pasti karena kebiasaan burukku. Aku sedikit menyadarinya. Singkatnya, aku benci diremehkan—karena itulah aku menerima hukuman seperti ini di sini.

"Ayo berangkat."

Aku menendang Dotta, lalu menarik salah satu pedang yang tertancap di tempat itu.

Bilah yang tajam. Bersinar perak tanpa noda sedikit pun. Benar-benar pedang yang dipanggil oleh seorang Goddess.

"Kalau Orde Ksatria Suci hancur, kita juga habis."




Prolog | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close