NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha-kei ni Shosu: Choubatsu Yuusha 9004-tai Keimu Kiroku Volume 1 Interlude 2

Catatan Pengadilan Kerajaan

Venetim Leopool


Ruangan itu gelap dan sempit.

Tidak jauh berbeda dengan penjara bawah tanah.

(...Tempat yang sangat suram,) pikir Venetim Leopool.

Seharusnya ia dibawa ke hadapan 'Tirai Kebenaran' yang megah dalam pengadilan kerajaan. Ia sudah berencana untuk mengerahkan seluruh kemampuan orasinya di depan para dewan inkuisisi dan imam pemberi sakramen yang berderet di sana.

(Sekalian saja aku akan mengarang kebohongan terbesar di dunia. Sesuatu yang akan tercatat dalam sejarah,) begitu tekadnya.

Namun, rencana itu tampaknya tidak akan pernah terwujud.

Di hadapannya hanya ada dua orang.

Seorang pemuda yang duduk di seberang meja dengan senyum ceria yang berlebihan, serta seorang wanita berpakaian poncho putih—seragam pendeta—yang berdiri bersedekap di belakangnya. Wanita itu menatapnya dengan mata sayu tanpa emosi, seolah sedang mengantuk.

(Rasanya ada yang aneh,) Venetim tak bisa menahan pikirannya. Prosedur ini berbeda dengan cara pengadilan yang pernah ia dengar. Tidak ada dewan inkuisisi, tidak ada pula sumpah kebenaran.

(Ini lebih mirip seperti interogasi,) pikirnya lagi.

Apakah masih ada yang ingin mereka gali darinya? Semua hal yang bisa ia bicarakan—baik yang nyata, yang bohong, maupun fakta yang ia paksakan untuk ia percayai sendiri—semuanya sudah ia tumpahkan.

"Mohon maaf, Venetim Leopool," ucap pemuda itu sambil bertumpu dagu di atas meja kayu yang reyot dan menangkupkan kedua tangannya seperti sedang berdoa. Suaranya terdengar agak sembrono.

"Sebenarnya aku ingin kita berbincang di ruangan yang lebih layak. Aku sangat ingin bertemu denganmu. Aku mengagumimu."

"Be... Benarkah?"

Venetim hanya mengangguk dengan ekspresi bingung. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Venetim bukanlah tipe orang yang bisa berbicara dengan memilih kata secara hati-hati. Meski profesinya sebagai penipu sering menimbulkan salah paham, ia sebenarnya tidak memiliki teknik berpikir tenang atau pemilihan diksi yang brilian. Biasanya, bahkan saat menipu orang pun, ia hanya menyambungkan segala hal yang terlintas di kepalanya secara beruntun.

Saat ini pun ia melakukan hal yang sama.

"Apa maksud Anda dengan mengagumi saya?"

Pertanyaan itu benar-benar menjadi tanda tanya besar baginya.

"Apakah Anda juga berniat mencari nafkah dengan menipu? Jika iya, jangan pernah mengagumi orang seperti saya. Lihat saja, akhirnya saya tertangkap juga."

"Benar. Bagian itu memang tepat sekali."

Pemuda itu tertawa dari balik tenggorokannya. Meski ekspresinya cerah, tawa itu memiliki kejanggalan yang mengerikan, seolah-olah ada seekor ular yang sedang mendesis di kerongkongannya.

"Apakah saya bertindak terlalu jauh? Jika dilihat dari beratnya hukuman, mungkinkah karena kasus saat saya mencoba menjual istana kerajaan ke kelompok sirkus itu—"

"Tidak. Itu hampir tidak ada hubungannya. Meski aku akui, kejadian itu cukup lucu."

Pemuda itu melambaikan tangan, dan wanita berseragam pendeta di sampingnya bergerak tanpa suara.

Wanita itu meletakkan setumpuk dokumen di atas meja. Di sana terpampang deretan panjang tulisan yang tampaknya adalah daftar kejahatan Venetim.

"Ini adalah tindak kriminal yang belum pernah ada sebelumnya. Aku sampai heran bagaimana bisa kamu melakukan hal segila ini."

Pemuda itu menatap dokumen tersebut, lalu kembali tersenyum seperti ular.

"Pertama, kamu membuat kontrak penjualan tanah kepada kelompok sirkus yang ingin mengadakan pertunjukan di ibu kota. Kamu bahkan sampai memalsukan rencana pemindahan istana kerajaan demi memuluskannya... luar biasa."

Venetim ingat betul kejadian itu. Itu adalah penipuan yang tanpa ia sadari menjadi masalah besar.

Awalnya ia hanya berniat berjanji menjual tanah kepada kelompok sirkus, mengambil uang muka, lalu kabur. Namun, saat pembicaraan berlanjut, muncul kebutuhan akan rencana pemindahan istana, proyek pembongkaran istana, hingga target penjualan material batu dan besinya. Ia pun terpaksa berbohong secara beruntun kepada setiap kontraktor yang terlibat.

(Waktu itu benar-benar seperti berjalan di atas tali. Sibuk sekali...)

Sambil menyiapkan surat penawaran, dana awal, hingga surat kuasa dari komite wakil perdana menteri, rencana itu malah membengkak menjadi skema yang sangat megah. Pada hari kelompok sirkus itu tiba, kabarnya suasana menjadi sangat kacau karena tumpang tindihnya tukang kayu, pengepul batu, hingga demonstran yang menolak pemindahan istana.

Venetim terlalu takut untuk pergi melihatnya. Ia berniat meninggalkan ibu kota setelah kekacauan mereda, namun ia tertangkap dengan sangat mudah.

"Selain itu, masih banyak lagi yang kamu lakukan. Penipuan investasi, pemalsuan barang antik, penipuan lotre, hingga pelanggaran hukum pendanaan. Ada sekitar seratus tuntutan dari Perusahaan Pengembangan Vercle."

"Maaf... saya menyesal."

"Simpan saja penyesalanmu. Semua sudah aman sekarang. Lebih dari itu, aku ingin tahu motifmu."

Kalimat 'semua sudah aman' itu terdengar sangat tidak menyenangkan di telinga Venetim.

"Kenapa kamu memilih menjadi penipu?"

"...Sejak kecil, saya tidak tahan melihat wajah orang yang kecewa."

Ia sudah sering mengatakan hal ini. Ini adalah 'motif' yang isinya selalu berubah setiap kali ia menceritakannya. Jika dipikirkan baik-baik, rasanya semua itu benar, namun di saat yang sama semuanya terasa seperti bohong.

"Agar tidak melihat wajah kecewa mereka, saya mengarang kebohongan seadanya untuk menyelamatkan keadaan saat itu, dan mencoba menambal lubang-lubangnya agar semuanya terlihat pas."

"Usaha yang luar biasa. Aku kagum kamu bisa menambal lubang pada rencana sebesar itu hingga semuanya tampak pas."

"Begitulah."

Venetim menjawab seadanya. Ia tidak tahu harus merespons bagaimana lagi.

Lagipula, ia penasaran siapa sebenarnya pria di hadapannya ini, dan apakah ia tidak akan diadili secara resmi.

"Anu. Apakah saya akan dijatuhi hukuman mati?"

"Hm? Oh, tidak. Sayangnya tidak."

Pemuda itu mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Kenyataannya, kamu tidak akan diadili atas tuduhan penipuan."

"...Bukan penipuan? Kalau begitu, saya—"

"Masalahnya adalah yang ini."

Tiba-tiba, setumpuk kertas baru dilemparkan ke atas meja.

Venetim mengenalnya. Itu adalah surat kabar. Catatan Livio. Itu bukan majalah ternama, melainkan majalah kelas tiga yang mutunya paling rendah.

Isinya hanya penuh dengan berita okultisme yang mencurigakan, teori konspirasi, skandal, hingga bualan tentang Fenomena Raja Iblis yang dikarang-karang.

Benar, Venetim memang bekerja sebagai jurnalis di sana sejak setahun lalu. Itu karena ia sangat ahli menulis cerita bohong.

"Anu," Venetim memiringkan kepalanya. "Apa maksud dari semua ini...?"

"Ini adalah artikel yang kamu tulis. 'Tangan Raja Iblis yang Diam-diam Melakukan Invasi'. Kamu menulis bahwa mata-mata yang terpengaruh oleh Fenomena Raja Iblis telah menyusup ke dalam Kuil, Galtuill, hingga kalangan bangsawan dengan berpura-pura menjadi manusia?"

Ia memang ingat pernah menulisnya. Ia kehabisan bahan soal skandal ksatria suci dan Goddess atau aib keluarga kerajaan, dan diminta untuk menulis artikel yang lebih memicu keresahan publik.

Jadi, ia hanya memenuhi permintaan itu.

(Habisnya, kalau dia menunjukkan wajah kecewa seperti itu, mau bagaimana lagi...)

Sifat tidak tahan melihat orang lain kecewa mungkin memang adalah jati dirinya yang asli.

"Bahkan kamu menuliskan nama-nama mereka secara spesifik. Mulai dari Uskup Agung Marlen Kivia, Jenderal Delf, hingga Gubernur Simrid. Luar biasa. Delusi yang hebat. ...Sejujurnya, bagiku menipu itu boleh saja. Skandal juga tidak masalah. Teori konspirasi pun silakan saja jika kamu suka. Tapi..."

Sambil mendesis, pemuda itu tertawa.

"Hanya kebenaranlah yang merepotkan kami."

"Eh?"

"Terutama karena kamu memiliki kemampuan untuk membuat orang percaya pada cerita karanganmu. Setidaknya, kemampuanmu cukup untuk membuat kami berpikir demikian."

Venetim merasa seolah-olah ia sedang ditimpa ketidakadilan yang luar biasa.

"Tunggu dulu, saya sama sekali tidak—"

Venetim mencoba berdiri, namun gagal.

Tanpa ia sadari, wanita berseragam pendeta itu sudah berada di sampingnya dan mencengkeram bahunya. Seketika itu juga rasa sakit yang hebat menjalar, membuat Venetim mengerang kesakitan.

"Padahal kami sedang berusaha mengatasinya, tapi kamu malah mengacaukan semuanya. ...Agar kamu tidak bisa membicarakan hal ini lagi, aku akan memasangkan belenggu khusus padamu."

Pemuda itu menjentikkan jarinya dengan gaya teatrikal.

Saat itulah Venetim menyadari—di balik senyum ceria pemuda ini, ada sisi sadis yang tersembunyi. Itu adalah senyum seseorang yang menikmati rasa takut lawannya.

"Sayangnya, hukumanmu tidak akan berakhir hanya dengan hukuman mati."

Pemuda itu menyeringai lebar, sama sekali tidak tampak menyesal.

"Venetim Leopool, kau akan dihukum sebagai pahlawan."




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close