NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha-kei ni Shosu: Choubatsu Yuusha 9004-tai Keimu Kiroku Volume 2 Interlude 1

Catatan Pengadilan Kerajaan

Dotta Luzulas


Ketika Dotta Luzulas muncul di ruang pengadilan, gumaman rendah langsung pecah.

Dari balik tirai tipis yang berjejer, aku bisa merasakan kebingungan yang jelas dari para pendeta pengaku dosa dan dewan inkuisisi.

Terserah kalian saja, pikir Dotta. Tempat ini memang ditujukan untuk membuktikan betapa bodohnya diriku dan menjadikannya tontonan publik.

(Tapi... tetap saja ini mengganggu.)

Tanpa sadar, Dotta menyentuh pangkal lengan kirinya yang telah hilang. Rasanya seolah bagian dari siku ke bawah yang sudah tidak ada itu masih berdenyut sakit.

Penyebabnya ada tepat di sampingnya saat ini—seekor naga. Makhluk raksasa menyerupai kadal yang memiliki sayap.

Itu adalah seekor Naga Hijau dengan sisik cemerlang yang indah, memiliki empat kaki dengan cakar yang kuat. Saat mendekam, ukurannya sebesar kuda, tapi jika berdiri dengan kaki belakang, tingginya mungkin mencapai tiga kali lipat tinggi badanku.

Dotta menyesal telah memercayai rumor bahwa Naga Hijau lebih tenang daripada Naga Merah. Kini dia menyadari dengan pahit bahwa tidak ada naga yang tenang di dunia ini.

(Aku benar-benar gagal.)

Dia menyesal. Bukan atas dosa yang dilakukannya, melainkan atas kecerobohan cara kerjanya dan motif di baliknya.

Gara-gara mencuri demi hal semacam itu, dia berakhir gagal. Bukan berarti dia tidak pernah merenungkan kenapa dirinya bisa menjadi seperti ini.

Namun, kesimpulan yang didapatnya selalu berakhir pada satu titik.

"Kesabaranku benar-benar nol besar."

Hidupnya selama ini selalu disetir oleh ketiadaan rasa sabar tersebut. Masalahnya, Dotta memiliki keahlian mencuri yang bahkan bisa dibilang sebagai sebuah keajaiban.

Tidak ada yang bisa menangkapnya. Lebih tepatnya, dia pernah tertangkap tiga kali di masa lalu, tapi dia selalu bisa melarikan diri—setidaknya sampai sekarang.

Namun, keberuntungannya habis saat dia tertangkap untuk keempat kalinya dan dikirim ke penjara kastil kerajaan.

"—Terdakwa, Dotta Luzulas," ucap pendeta pengaku dosa dengan suara berat.

"Ada lebih dari seribu tuduhan kejahatan yang ditujukan padamu."

Hanya segitu? pikir Dotta. Jika dia menghitung semua hasil curiannya, jumlahnya pasti jauh lebih banyak dari itu.

"Namun, yang akan dipertanyakan di tempat ini hanyalah satu poin. Yaitu melarikan diri dari penjara tempatmu ditahan atas kasus pencurian beruntun—"

Pendeta itu menjeda kalimatnya sejenak.

"—Dan dosa karena telah mencuri naga itu dari kandang naga."

Pernyataan ini benar-benar di luar dugaan Dotta.

(...Apa katanya?)

Dia merasa aneh. Ada sesuatu yang salah, bagian yang paling krusial telah hilang.

Dotta memutar lehernya dengan posisi kaku dari kursi tempatnya terikat. Naga itu ada di sana—sebagai barang bukti.

Namun, ada satu lagi sosok penting yang tidak ada. 'Barang bukti' yang sebenarnya ingin Dotta curi.

Naga itu hanyalah sarana pelarian yang dia curi demi tujuan tersebut—ke mana perginya anak itu?

"Terdakwa Dotta Luzulas. Jawablah, bagaimana caramu membobol penjara kastil kerajaan?"

"Itu—"

Pertanyaan yang mudah. Sebab saat dimasukkan ke penjara, dia sudah mengantongi kuncinya.

Entah kenapa waktu itu dia terpikir untuk mencuri kunci penjara kastil—tidak ada alasan khusus. Dia mencurinya hanya karena merasa bisa melakukannya.

Bagi Dotta, ada hal yang jauh lebih penting daripada masalah itu.

"Tunggu... Anu, sebelum itu. Tolong tunggu sebentar!"

Dotta merasakan suaranya melengking tinggi karena panik.

"Bagaimana dengan anak itu?"

"Apa yang kau bicarakan?"

"Bukankah masalah anak itu juga termasuk kejahatanku?"

Dotta berusaha sekuat tenaga mengeraskan suaranya. Itulah yang seharusnya menjadi dosanya.

Itulah satu-satunya pencurian yang gagal dia lakukan. Bukan soal cara atau hasilnya, tapi menurutnya motifnyalah yang salah.

Seharusnya mencuri dilakukan dengan alasan yang lebih sepele dan tanpa beban. Karena itulah dia gagal.

"Putra Mahkota! Beliau yang kumaksud!"

Dotta bisa merasakan dewan inkuisisi mulai riuh mendengar teriakannya. Dia merasakan kepuasan kecil yang sia-sia.

"Orang itu bilang padaku, 'Tolong selamatkan aku!' Itu benar! Putra Mahkota dikurung di dalam kastil itu—"

"Terdakwa Dotta Luzulas. Diamlah. Jawab hanya pertanyaan yang diajukan."

Suara berwibawa pendeta pengaku dosa menenggelamkan perkataan Dotta.

"Juga, berhentilah berbohong. Tidak ada fakta bahwa Putra Mahkota mengatakan hal seperti itu padamu. Tidak ada pula fakta bahwa beliau mencoba kabur dari kastil."

"Itu tidak mungkin!"

Mereka mengatakan hal yang mustahil. Dotta yakin betul, saat dia mencoba melarikan diri dari kastil waktu itu, dia bertemu dengan Putra Mahkota.

Putra mahkota pertama dari Kerajaan Persatuan ini. Menurut pengamatan Dotta, dia hanyalah bocah berumur sekitar sepuluh tahun dengan mata yang sangat ketakutan.

Saat itu, Dotta merasa untuk pertama kalinya melihat seseorang yang lebih ketakutan daripada dirinya sendiri terhadap sesuatu.

Kala itu, sang pangeran berkata bahwa dia "telah melarikan diri". Ditambah lagi, dia sampai memohon "Tolong selamatkan aku" kepada Dotta.

Dia sangat putus asa. Benar-benar ketakutan dan sungguh-sungguh ingin lari.

Saking terpojoknya, dia sampai bergantung pada Dotta—seorang narapidana kaburan yang tidak jelas asal-usulnya.

Mencoba menolongnya adalah kesalahan terbesar Dotta.

(Itu adalah titik lemahku.)

Meski sering disalahpahami, Dotta percaya bahwa dirinya pun masih memiliki nurani. Hanya saja, nurani itu cuma muncul pada orang-orang tertentu—yaitu mereka yang lebih lemah darinya.

Jika lawannya seperti itu, dia tidak keberatan menolong. Sebaliknya, dia sama sekali tidak berminat menolong atau peduli pada mereka yang lebih kuat darinya.

Masalahnya, di dunia ini hanya sedikit orang yang menurut Dotta terlihat lebih lemah darinya. Putra Mahkota saat itu nyaris memenuhi kriteria tersebut.

Pada akhirnya, dia merasa motifnya tidak murni. Itu adalah tindakan yang lahir dari kelemahannya sendiri.

(Tapi—)

Dotta membatin. Dia tidak tahan jika hal itu disebut sebagai kebohongan.

Putra Mahkota benar-benar meminta bantuan. Tidak harus dirinya, siapa pun seharusnya menolong anak itu.

Sesaat, dia merasa tindakannya konyol. Apa gunanya bersikeras seperti ini?

Logikanya menyuruhnya untuk diam dan patuh karena semua ini sia-sia. Namun, Dotta tidak pernah bisa membiarkan logikanya menang.

Kali ini pun, logikanya kalah telak.

"I-itu benar!"

Dotta menegaskan dengan suara yang serak.

"Putra Mahkota bilang kalau keluarga kerajaan itu aneh! Beliau hidup seolah-olah sedang dikurung!"

Dotta mencoba berdiri dari kursinya, tapi tidak bisa. Dia teringat bahwa dirinya sedang terikat.

"Baginda Raja juga sudah aneh sejak lama, pasti perdana menteri yang—"

"Diam, Dotta Luzulas!"

"Tidak, dengarkan dulu! Ada yang salah dengan keluarga kerajaan!"

"Diam!"

"Ta-ta-tapi, Putra Mahkota sampai mencoba mengandalkan orang sepertiku! Kalian bisa percaya itu? Terdengar seperti bohong, kan? Orang sepertiku, yang cuma pencuri rendahan dan kabur dari penjara—"

Cukup sampai di situ. Seseorang membungkam mulutnya dari belakang.

Itu adalah penjaga. Sebuah alat penyumbat mulut dipaksakan masuk.

"Ka-kalau begitu, tidak harus aku! Siapa saja boleh! Tolong selamatkan Putra Mahkota! I-ini benar-benar aneh!"

Kata-katanya tidak lagi terdengar jelas. Dewan inkuisisi gaduh, namun langsung tenang saat pendeta pengaku dosa membunyikan bel di tangannya.

"Sidang tidak mungkin dilanjutkan lebih jauh lagi."

Tidak ada yang menjawab kata-kata itu. Itu berarti, segala sesuatunya telah diputuskan di pengadilan ini.

"Tuntutannya adalah hukuman mati. Namun—"

Entah mengapa, pendeta pengaku dosa itu mendadak ragu. Karena terhalang tirai, wajahnya tidak terlihat, tapi ada aura kebingungan di sana.

Sepertinya dia membaca ulang secarik kertas di tangannya sekali atau dua kali.

"Pendeta pengaku dosa."

Salah satu anggota dewan inkuisisi angkat bicara. Suaranya tenang, namun anehnya terdengar sangat jelas.

"Menurut saya, hukuman mati adalah yang paling layak baginya. Mempertimbangkan situasi apa pun, keringanan hukuman tidak dapat diberikan."

"...Benar. Namun... dalam kasus terdakwa ini, akan dijatuhkan hukuman yang lebih berat."

"Siapa yang menetapkan keputusan itu?"

"Ini adalah usulan dari Uni Bangsawan Pusat, dan telah disahkan dengan segel raja."

Dotta sama sekali tidak mengerti situasinya. Namun, dia bisa menduga bahwa dia akan mengalami sesuatu yang lebih buruk daripada sekadar hukuman mati.

Hanya perasaan "aku telah gagal" yang terasa begitu kuat. Rasanya mirip dengan rasa sakit.

Jika dia diberi kesempatan sekali lagi, dia pasti akan mencuri Putra Mahkota itu juga. Dia harus melakukannya dengan perasaan yang lebih ringan dan tanpa beban.

Jika tidak begitu, dia tidak akan sanggup menahannya.

(Sialan. Begitu rupanya. Aku merasa menyesal, ya.)

Ini bukan demi menyelamatkan sang pangeran. Ini adalah sesuatu yang harus dia lakukan demi menyelamatkan dirinya sendiri.

Apa pun yang terjadi—bahkan jika pangeran itu membencinya atau sudah menjadi mayat sekalipun—dia bertekad untuk mencuri dan membawanya keluar dari kastil itu.

"—Dotta Luzulas. Atas dosa mencuri naga yang merupakan aset keluarga kerajaan, ditambah seribu kasus pencurian lainnya, serta berbagai kebohongan yang menghina keluarga kerajaan. Dosamu lebih berat daripada hukuman mati."

Lalu, pendeta pengaku dosa itu mengumumkan.

"Dengan ini, kau akan dihukum sebagai Hero."




Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close