Penerjemah : Flykitty
Proofreader: Flyykitty
Chapter
1
Watanabe
Fuka adalah gadis yang diakui semua orang sangat imut
Kesan
pertama yang lembut dan pendiam memang sulit dihapus, tetapi kenyataannya dia
memiliki kepribadian yang sangat teguh dan selalu berjalan di jalannya sendiri.
Itulah
penilaian kepribadian Yukuto Oki terhadap Fuka Watanabe.
"Eh?
Aku memang kelihatan sekeras itu, ya?"
Yukuto
dan Fuka, siswa kelas dua SMA Minami Itabashi. Pertengahan bulan Juni, musim
ketika bekerja di bawah sinar matahari saat kegiatan berkebun membuat keringat
tak berhenti mengalir.
Sambil
membantu ketua Klub Berkebun, Fuka Watanabe, mencabuti rumput liar di petak
bunga, Yukuto tiba-tiba ditanya oleh Fuka tentang bagaimana pendapatnya
mengenai kepribadian Fuka sendiri.
"Bukan
keras kepala sih. Tapi lebih ke… kalau sudah memutuskan sesuatu, kamu langsung
bertindak dulu sebelum berpikir. Dan baru berpikir atau berhenti setelah
menabrak masalah, begitu kesannya."
"Uuuh…
yah, aku nggak bilang itu sama sekali nggak benar sih."
Mendengar
jawaban Yukuto, Fuka tampak bisa menerimanya, tetapi entah kenapa masih
terlihat kurang puas dan memonyongkan bibirnya.
Namun
sepertinya dia tak bisa merangkai rasa tidak puas itu menjadi kata-kata, dan
hanya menggumamkan keluhannya dengan suara pelan yang tak terdengar oleh
Yukuto.
"Bukannya
kamu ceroboh atau apa. Tapi kalau kamu merasa ingin melakukan sesuatu atau
merasa harus melakukannya, kamu nggak terlalu peduli walaupun itu sedikit
menyimpang dari kebiasaan umum atau standar masyarakat, kan?"
"Ya…
bisa dibilang begitu."
"Itu
yang bikin aku merasa kamu tipe yang benar-benar mandiri."
"Kalau
Oki-kun mengatakannya seperti itu, entah kenapa aku merasa itu nggak
buruk."
Kalau
dibilang "nggak buruk", berarti sebenarnya kata itu sendiri kurang
berkenan di hatinya?
Mungkin
karena kesan tajam dari kanji "mandiri sepenuhnya", atau karena kata
yang ritmenya dimulai dengan bunyi "do" terasa kurang imut baginya?
Sambil
memandangi raut wajah samping Fuka yang tampak rumit, Yukuto memikirkan hal-hal
tak penting semacam itu, ketika—
"Hum!"
"Bahaya!"
Aura
dingin penuh niat membunuh menyerang dari belakang, membuat Yukuto memutar
tubuhnya di atas tanah. Tepat di tempat yang ia tinggalkan sesaat sebelumnya,
telapak sepatu yang kotor oleh tanah melintas.
"Tunggu,
Izumi-chan! Kamu ngapain!? Itu berbahaya!"
Fuka
yang panik menoleh ke belakang. Di sana berdiri Izumi Kotaki, mengenakan sarung
tangan kerja dan memeluk karung baru berisi tanah humus, menatap punggung
Yukuto dengan mata dingin setelah gagal menendangnya.
"Kalau
senpai memandang Fuka-chan dengan tatapan mesum, ya harus dihukum dong."
"Tidak
boleh dihukum begitu dong! Oki-kun, kamu nggak apa-apa!?"
"Tenang,
aku berhasil menghindar tepat waktu."
"Izumi-chan!
Kalau saat kegiatan klub ada anggota yang sengaja mencederai orang lain,
seluruh klub bisa dihentikan kegiatannya, tahu!"
"Eh?
Yang itu yang dipermasalahkan?"
Korban
dan pelaku percobaan penganiayaan itu bersamaan menoleh ke arah yang sama
sambil berseru.
Di
sana berdiri seorang elf dengan pipi menggembung, mengenakan jaket olahraga
sekolah yang boleh kotor untuk kegiatan klub, dengan bordir nama
"Watanabe".
Rambut
emas, telinga panjang, dan mata hijau zamrud.
Elf
bernama Fuka Watanabe itu, dengan sikap tegas khas ketua Klub Berkebun SMA
Minami Itabashi, bertolak pinggang sambil membimbing para anggota.
"Ngomong-ngomong,
soal klub yang dihentikan kegiatannya tadi, aku jadi kepikiran. Klub Berkebun
sih baru naik status jadi klub resmi, tapi bagaimana dengan Klub Fotografi?
Dengan kekurangan anggota, apa mereka nggak bakal diturunkan jadi klub hobi?"
Seolah
tak mendengar ceramah Fuka, Izumi berkata dengan santai.
"Padahal
kalau anggota klub menendang ketua dari belakang sampai cedera, sebenarnya Klub
Fotografi sudah pasti kena penghentian kegiatan, lho?"
Yukuto
berusaha membalas dengan keras kepala.
"Kan
cuma percobaan. Lagi pula, selama senpai diam saja, nggak akan jadi
masalah."
"Di
era Reiwa masih ada orang yang terang-terangan membawa logika perundung sekejam
ini…"
Di
mata Izumi terlihat tatapan dingin seorang gadis yang cintanya pada Fuka
terlalu berat. Yukuto tanpa sadar menarik napas ketakutan di tenggorokannya.
Bahkan
Fuka pun tak bisa membiarkan argumen keterlaluan itu begitu saja, dan menegur
Izumi dengan suara tegas.
"Izumi-chan."
"Eh,
maksudku Fuka-chan…"
"Izumi-chan."
"……maaf,
Senpai. Aku nggak akan menendang dari belakang lagi kalau ada kesempatan."
"Jangan
nyiapin celah dalam pilihan katanya!"
Ucapan
"kalau ada kesempatan" membuat Yukuto merinding, membayangkan jenis
tendangan lain yang mungkin akan dilakukan.
"Izumi-chan
juga anggota Klub Fotografi, jadi kamu harus tetap menunjukkan rasa hormat pada
ketua klub!"
"Iyaaa…"
"Barusan
itu ada hormatnya di mana?"
Tanggapan
Yukuto membuat telinga elf itu bereaksi dengan jelas.
"Oki-kun.
Kekurangan Izumi-chan itu nggak bisa diperbaiki sekaligus. Kita harus terus
memuji hal-hal kecil seperti ini supaya bisa membimbing Izumi-chan sedikit demi
sedikit menjadi manusia yang layak."
"Fuka-chan,
itu bukan sesuatu yang seharusnya kamu katakan sambil memelukku."
Kali
ini Izumi yang menyela, tetapi Fuka tidak menanggapinya dan langsung mengganti
topik.
"Lalu,
alasan kenapa Klub Fotografi tidak diturunkan statusnya."
"Fuka-chan
yang menjelaskan, ya."
"Semua
ketua klub diberi tahu peraturan sekolah mengenai status klub. Ada beberapa
syarat agar kegiatan ekstrakurikuler yang tidak berhubungan langsung dengan
pelajaran bisa diakui sebagai klub resmi. Selain kegiatannya harus diakui
sekolah, jumlah anggota organisasi harus minimal enam orang secara keseluruhan,
atau minimal dua orang di tiap angkatan. Kalau syarat ini tidak terpenuhi,
tetapi klub berhasil mencatat prestasi yang diakui sekolah dalam kurun satu
tahun sebelum atau sesudah kekurangan anggota itu, maka masa tenggang sebelum
diturunkan menjadi klub hobi diperpanjang satu setengah tahun sejak saat
itu."
"…Agak
rumit sih, tapi berarti karena senpai pernah lolos seleksi lomba sebelumnya,
Klub Fotografi setidaknya bisa tetap jadi klub resmi sampai semester dua tahun
depan?"
"Benar.
Memang karena kegiatannya lebih sedikit, dana klub juga berkurang. Tapi untuk
Klub Fotografi, semua senior kelas tiga sudah lulus, jadi klubnya sempat
tinggal satu orang. Itu keadaan yang tak terhindarkan, jadi sampai Oki-kun naik
ke kelas tiga, statusnya tetap klub resmi tanpa syarat."
"Ooh,
begitu. Di manga biasanya begitu anggota berkurang, OSIS langsung datang
memberi peringatan penurunan status. Kukira lebih ketat. Kalau begitu, mungkin
aku nggak perlu memaksakan diri ikut dua klub."
"Bisa
dibilang iya, tapi juga bisa dibilang tidak."
"Hah?"
"Awalnya
aku sempat berpikir Izumi-chan curang karena ikut dua klub sendirian."
Sambil
berkata begitu, Fuka melirik Yukuto sekilas, lalu segera memalingkan
pandangannya dengan senyum samar penuh rasa malu.
"Kalau
dipikir-pikir, secara pribadi hasil akhirnya memuaskan."
"Hah…"
Izumi
merasa ada sesuatu yang tidak beres dari isyarat mata Fuka, dan kembali
memperlihatkan sikap seolah siap menendang Yukuto lagi.
"Ngomong-ngomong,
Oki-kun. Hari ini mau foto bagaimana? Dari sisi Klub Berkebun, sepertinya
setelah menaburkan tanah yang dibawa Izumi-chan, kegiatan hari ini
selesai."
"Ah,
kalau begitu Kotaki-san. Mau latihan komposisi dengan subjek di tengah hari
ini?"
Ditanya
begitu, Yukuto menarik tas kamera SLR yang diletakkannya di atas blok tepi
petak bunga dan menyerahkannya pada Izumi.
"……aku
masih agak takut sama kamera itu."
"Kontes
berikutnya juga sudah ditentukan. Kamu masuk Klub Fotografi meski ada orang
yang kamu benci sampai ingin menendangnya dari belakang, kan?"
"Senpai,
serius deh, kebiasaan kamu ngomong begitu."
Sambil
mengerutkan wajah, Izumi menerima tas itu dari tangan Yukuto dan dengan
hati-hati mengeluarkan kamera di dalamnya.
Sebuah
kamera film SLR yang tampak biasa saja, sedikit kuno.
"Fuka-chan,
tolong ya."
"Iya.
Sedikit saja, ya."
Saat
Izumi menyerahkan kamera kepada Fuka, Fuka hanya mengintip ke dalam viewfinder
kamera itu sesaat.
Pada
saat itu, terdengar suara samar seperti kaca tipis yang retak entah dari mana,
dan seluruh tubuh Fuka tampak berkilau sangat tipis untuk sesaat.
Karena
masih berada di bawah sinar matahari sore awal musim panas, tidak jelas apakah
dia benar-benar bercahaya atau itu hanya perasaan Izumi saja.
Ketika
Fuka mengembalikan kamera itu dengan hati-hati kepada Izumi, Izumi pun dengan
ragu-ragu melihat Fuka melalui viewfinder.
"Gimana,
Kotaki-san. Kelihatan sesuatu?"
"Fuka-chan
kelihatan… seperti sedikit bercahaya… mungkin? Kalau Senpai gimana?"
Bersamaan
dengan jawaban Izumi yang terdengar ragu, kamera itu kembali ke tangan Yukuto.
Dan saat Yukuto mengintip melalui viewfinder dan melihat Fuka—
"Reproduksinya
sempurna sampai sejauh ini."
Tak
seperti jawaban Izumi yang samar, di mata Yukuto, seluruh tubuh Fuka terlihat
bersinar dengan sangat jelas.
Bukan
berarti Fuka benar-benar memancarkan cahaya, tetapi itu adalah cahaya subjek
luar biasa yang hanya bisa dilihat oleh fotografer yang memandang dunia melalui
viewfinder kamera tersebut.
Cahaya
yang ditunjukkan kamera—kamera yang pernah digunakan untuk mengambil foto
peraih penghargaan juara dua dalam Tokyo Student Usual Life Photo Contest,
sekaligus merupakan peninggalan mendiang ayah Yukuto—tampaknya berkaitan dengan
sesuatu yang seharusnya tidak ada di Bumi maupun Jepang: "kekuatan
sihir".
Dan
kamera yang telah menyimpan kekuatan sihir elf di dalamnya itu memiliki
kemampuan untuk menembus "sihir penyamaran wujud" yang ada dalam diri
Fuka Watanabe.
◇
Mengungkapkan
perasaan pada gadis yang disukai, lalu dia menampakkan wujud aslinya sebagai
elf. Itulah kejadian yang menimpa Yukuto Oki.
Yukuto
Oki, ketua sekaligus satu-satunya anggota Klub Fotografi SMA Minami Itabashi,
meminta Fuka Watanabe—ketua Klub Berkebun sekaligus teman sekelasnya—untuk
menjadi model foto yang akan ia kirimkan ke lomba.
Melihat
Fuka yang dengan sungguh-sungguh menekuni kegiatan klub setelah menyetujui
permintaan itu, perasaan yang selama ini dipendam pun tanpa sengaja terucap,
dan perasaan itu diterima.
Namun
tepat setelah merasa diterima, Fuka Watanabe yang polos dan lembut sebagai
gadis Jepang berubah menjadi seorang elf berambut pirang dan berparas cantik.
Di
mata Yukuto, dia hanya bisa terlihat sebagai elf, tetapi ketika difoto melalui
kamera, wujudnya tetap seperti Fuka Watanabe yang biasa.
Setelah
berdiskusi berulang kali, Yukuto mengulang pengakuan perasaannya, dan mereka
berdua sepakat untuk terus saling mengenal lebih dalam, serta memastikan bahwa
Fuka akan tetap menjadi model foto Yukuto.
Namun,
di hadapan Yukuto yang masih bimbang sejauh mana ia harus melangkah lebih dalam
ke dunia "elf", muncul Izumi Kotaki—teman masa kecil Fuka yang juga
bisa melihat wujud asli Fuka.
Izumi,
yang sejak kecil mengetahui kebenaran tentang Fuka, menunjukkan
ketidaksukaannya pada sikap setengah-setengah Yukuto dan memusuhinya dengan
keras. Namun justru itulah yang menjadi pemicu bagi Yukuto untuk semakin ingin
mengenal elf lebih dalam.
Menanggapi
perasaan itu, Fuka mengundang Yukuto dan Izumi ke kampung halaman para elf,
dunia lain bernama Natche Riviera.
Di
sana, Yukuto dan Izumi mengetahui bahwa Fuka sendiri tidak bisa melihat wujud
elf miliknya.
Dari
ibu Fuka, Suzuka, terungkap bahwa kamera yang selama ini digunakan Yukuto
berasal dari Natche Riviera, dan dengan menyalurkan kekuatan sihir ke dalamnya,
kamera itu dapat mematahkan "sihir penyamaran wujud" yang menyerupai
kutukan pada ras elf—tetapi hanya di dalam foto.
Sejak
saat itu, Yukuto, Fuka, dan Izumi mulai memikirkan kembali apa sebenarnya
"wujud sejati Fuka Watanabe", dan makna menghabiskan waktu bersama
seorang gadis yang berwujud elf namun tidak dapat melihat wujud aslinya
sendiri—semua itu melalui satu-satunya foto di dunia yang berhasil menangkap
wujud sejatinya.
Peristiwa
itu terjadi pada pertengahan bulan Juni.
◇
"Bagus~
Fuka-chan imut~! Coba sedikit condong ke depan lagi!"
"Eh?
B-begini?"
"Oh!
Bagus, itu! Tetap begitu, sekarang taruh jari di dagu, lalu julurkan lidah
sedikit, kayak lagi pengen sesuatu."
"L-lidah?
Eh… b-begini?"
"…Ah,
bagus! Fuka-chan lucu banget! Keringat di leher Fuka-chan itu—ngugh!"
Suara
Izumi yang terdengar penuh semangat tiba-tiba terhenti oleh bunyi tumpul yang
ringan, disertai suara lain.
"…Senpai,
barusan kepalaku…"
Dengan
bagian datar, Yukuto menjatuhkan reflektor lipat tepat ke puncak kepala Izumi
yang rambut poninya terbelah rapi.
"Berikutnya
kena sudutnya. Kotaki-san, jangan teriak hal-hal yang menurunkan martabat Klub
Fotografi."
"Tapi!
Fuka-chan yang kelihatan dari viewfinder itu benar-benar imut! Pengen nyuruh
dia pose macem-macem!"
"Dari
mana sih meme pemotretan gravure mesum itu berasal? Ini latihan untuk lomba
foto pelajar, lho. Pose yang terlalu dibuat-buat itu NG!"
"Di-bu-at?"
"Maksudnya
pose yang terlalu disengaja! Kalau kamu nyuruh pose kayak di photobook gravure
idol, bisa-bisa kita dilarang ikut lomba berikutnya!"
"Apa
sih, itu sama aja menolak semua gravure idol!"
"Bukan
begitu maksudnya… dan Watanabe-san juga, jangan terus-terusan pakai pose
itu."
"Eh?
Sudah cukup?"
"Iya…
lomba kali ini bukan yang seperti itu… dan juga, itu…"
Fuka
yang dengan patuh mempertahankan pose ‘khas’ yang disuruh Izumi itu membuat
Yukuto refleks memalingkan pandangannya.
"Berbahaya
buat mata…"
Celana
training-nya digulung sampai betis, resleting atasannya diturunkan sedikit di
bawah dada, kancing pertama blus di dalamnya terbuka, lengannya disilangkan
agak kuat di depan perut, duduk di tepi petak bunga dengan kaki terulur tak
beraturan—jika ada elf cantik seperti itu di depan mata, siapa pun siswa SMA
laki-laki pasti bereaksi sama.
"O-oh
begitu… hmm…"
Mungkin
terkejut dengan reaksi Yukuto, Fuka sedikit membelalakkan mata, lalu dengan
ekspresi senang sekaligus agak enggan, ia melepas pose itu.
"Senpai,
jangan-jangan barusan kamu lihat pose Fuka-chan dengan pikiran mesum—"
"Yang
nyuruh pose begitu kan kamu, Kotaki-san! Jangan nendang! Jangan nendang!"
Sambil
menahan Izumi yang hendak melancarkan tendangan berkelahi dengan memperlihatkan
telapak sepatunya, Yukuto menahan wajah dan perasaannya yang hampir memerah,
lalu menatap Fuka yang sudah berdiri.
"Kotaki-san.
Menurutmu, dari 5W1H fotografi yang pernah aku jelaskan, apa yang paling
dipentingkan dalam gravure idol?"
"Ya
jelas Who, kan. Gravure idol itu difoto dalam berbagai situasi, tapi intinya
tetap idol itu sendiri."
"Mungkin
ini pertama kalinya aku dengar kalian ngobrol kayak anak Klub Fotografi."
Fuka
yang mendengarkan percakapan mereka dengan penuh minat menangkupkan tangan di
depan wajahnya dan mengalihkan pandangan antara keduanya.
5W1H
fotografi adalah ajaran turun-temurun Klub Fotografi, yang menyesuaikan konsep
5W1H dalam bahasa Inggris: kapan, di mana, siapa, apa, mengapa, dan
bagaimana—mana yang paling ditekankan dalam foto yang akan diambil.
"Betul.
Tema fotonya sangat bergantung pada individu. Kalau orang lain disuruh pose
sama, tema fotonya langsung runtuh. Karena itu, untuk lomba kali ini, nggak
bisa."
"Eeh?
Masa sih?"
Izumi
memprotes dengan wajah tidak puas, lalu mengeluarkan ponselnya,
mengoperasikannya, dan menyodorkannya ke Yukuto.
"Kalau
begitu kirim aja foto Fuka-chan yang super imut pakai seragam. Beres, kan?
Masalahnya apa?"
Student
Uniform Photo Contest.
Itulah
lomba yang Yukuto dan Izumi putuskan untuk ikuti sebagai Klub Fotografi.
Nuansanya
mirip dengan Tokyo Student Usual Life Photo Contest tempat Yukuto meraih juara
dua, tetapi bedanya, lomba ini berskala nasional dan mengangkat
"seragam" sebagai tema utama.
"Masalahnya
segunung."
"Lah,
emangnya kenapa sih!"
Sekilas,
foto "Fuka-chan Super Imut Berseragam" yang dimaksud Izumi memang
tampak sesuai dengan tema, tetapi Yukuto menggeleng dengan ekspresi serius dan
berkata tegas:
"Karena
yang bisa menganggap foto itu ‘super imut’ cuma aku dan Kotaki-san!"
"Huh!?"
Mendengar
jawaban itu, tubuh Fuka bergetar seolah melompat, matanya terbelalak lebar.
"Hah?"
Entah
kenapa, dengan tatapan mata kesal, Izumi kembali bersiap menendang Yukuto,
mulai menggesekkan telapak kakinya ke tanah seperti banteng yang hendak
menyeruduk.
"Hah?
Maksudmu apa, Senpai? Mau bilang kalau yang ngerti betapa imutnya Fuka-chan
cuma kamu sendiri, gitu?"
"Enggak,
aku juga masukin kamu kok, Kotaki-san. Lagipula selain kita, katanya di sekolah
ini masih ada setidaknya dua puluh orang lagi."
"Ngomongin
apa sih?"
"Ngomongin
keberadaan tersembunyi yang bahkan aku sendiri nggak begitu paham. Pokoknya,
kita nggak boleh menganggap kalau yang menyadari betapa spesialnya imut dan
menariknya Watanabe-san itu cuma kita berdua."
"Oki-kun!?
A-anu, itu—!"
"Hah?
Imutnya Fuka-chan itu level nasional, tahu!?"
"Walaupun
begitu, tetap nggak bisa. Pada akhirnya, buat orang yang nggak kenal karakter
‘Watanabe Fuka’ sebagai pribadi, fotonya cuma akan terlihat seperti ‘gadis imut
yang meniru gravure’."
"……Hah?
Eh?"
"Seimut
apa pun pakaian yang dikenakan Watanabe-san, kekuatan subjek akan terlalu berat
di ‘siapa’ dari 5W1H. Alasan kenapa harus berseragam juga jadi lemah, jadi
nggak cocok dengan tema yang diajukan."
"Eeh?
Aku masih nggak puas. Emangnya ‘gadis imut pakai seragam’ separah itu?"
"Kita
boleh saja menganggap itu foto yang bagus. Faktanya, bagaimanapun cara
memotretnya, Watanabe-san tetap imut menurutku. Tapi kemungkinan besar juri
lomba nggak akan berpikir begitu—kalau lihat foto-foto pemenang tahun-tahun
sebelumnya, harusnya kamu juga bisa paham."
"Hm…
ya sih."
Saat
Izumi menggulir halaman portal lomba, beberapa karya terpilih tahun lalu
terpampang di halaman utama.
"Jadi
foto yang kelihatan banget ‘ma-sa mu-da!’ kayak gini yang laku?"
Foto
pemenang utama tahun lalu menampilkan tiga siswi SMA yang membawa kotak alat
musik dengan bentuk berbeda, masing-masing memegang payung warna berbeda namun
mengenakan syal dengan warna yang sama, sedang mendaki jalan menanjak di kota
bersalju.
Dalam
ulasan juri tertulis:
—Di
tengah keheningan, terasa gairah yang kokoh dan ikatan persahabatan dalam
menghadapi kesulitan—sebuah pemandangan yang tak tergantikan. Ada tanjakan di
sini yang, setelah dewasa, tak akan pernah bisa dinaiki lagi, seberapa besar
pun tekad atau uang yang dikeluarkan.
"Beneran
foto sebagus ini bisa keambil secara kebetulan? Pasti yang motret ngasih arahan
dan nyuruh mereka pose, kan?"
"Di
syarat lomba juga nggak dibilang kalau subjek nggak boleh diarahkan. Tapi
terlepas dari kebenarannya, blur mobil yang melintas di depan kamera memberi
kesan bahwa ini mungkin pemandangan yang kebetulan terlihat dari seberang
jalan. Bahkan kalau sebenarnya mereka disuruh menunggu dengan pose itu sampai
mobil lewat, fotonya tetap punya kedalaman cerita dan aliran waktu yang membuat
kita nggak merasa dibuat-buat. Rasa penasaran tentang isi kotak alat musik,
apakah ini daerah bersalju, apakah latihan mereka berat, apakah karena musim
dingin ini mungkin lomba terakhir—semua itu membangkitkan ketertarikan pada
tokoh-tokohnya. Menurutku ini foto yang luar biasa."
"Haa…
oh… ya, kalau dibilang begitu sih."
"Kalau
begitu, menembus lomba cuma dengan foto yang menampilkan imutnya Watanabe-san
di level nasional bakal sulit. Kalau tetap mau bertaruh di situ, kita harus
menampilkan tema atau latar yang juga mengeluarkan pesona Watanabe-san selain
sekadar imut. Di lomba Usual Life Photo Contest kemarin, kita bisa menang
karena itu."
"Uuuuh…
nyebelin. Aku kalah debat secara logika sama Senpai. Jadi… imutnya Fuka-chan
doang nggak cukup, ya."
"Kalau
Kotaki-san secara pribadi mau motret dengan tema ‘Watanabe-san yang imut’, itu
sama sekali nggak masalah. Kalau kamu bilang itu fotonya dan nunjukin ke aku,
aku juga pasti bakal bilang dia imut dan itu foto yang bagus. Tapi kalau mau
menyampaikannya ke orang yang nggak kenal Watanabe-san, dibutuhkan faktor kuat
lain yang makin menonjolkan keimutannya… hm?"
Di
samping Yukuto dan Izumi yang sedang berdebat panas, terdengar suara benda
berat jatuh ke tanah.
Saat
menoleh, mereka melihat Fuka terjatuh di tanah sambil menutupi wajahnya dengan
kedua tangan, tubuhnya menggeliat pelan.
"F-Fuka-chan!?"
"Watanabe-san!
Ada apa!? Kamu nggak apa-apa!?"
"A-aku
nggak apa-apa! Nggak apa-apa, jadi tolong! Umm, Oki-kun, bisa tolong diam
sebentar!?"
Wajah
Fuka di balik kedua tangannya merah menyala, menggeliat seperti cacing yang
terdampar di aspal panas musim panas. Seberapa kuat pun dia menutupi wajahnya,
erangan kecil tetap lolos dari sela-sela jarinya.
Melihat
keadaan yang tak biasa itu, Yukuto dan Izumi hanya bisa menahan napas dan
memperhatikannya. Tak lama kemudian, gerakannya berhenti, dan dari sela
jarinya, mata Fuka—yang tampak benar-benar goyah—menatap Yukuto.
"Oki-kun,
kamu ngomong gitu sengaja, ya?"
"Hah?
Eh, nggak, anu…"
Setelah
jeda sesaat, Yukuto tersadar.
"A!
…e-enggak… bukan sengaja, tapi karena ini soal foto, dan… ya… tapi… itu memang
perasaanku…"
Menyadari
bahwa dengan nada tegas dia sudah berulang kali secara tidak langsung menyebut
Fuka "imut", otaknya terasa seperti boiler yang meledak.
Satu
terkapar di tanah, satu lagi berdiri kaku dengan wajah merah padam seperti pose
Sandai Otani Oniji no Yatsuko Edobei karya Sharaku—Fuka dan Yukuto sama-sama
membeku.
"…………Hmph!"
"Adduh!"
Kesal
melihat mereka berdua, Izumi akhirnya benar-benar melayangkan tendangan tepat
ke bokong Yukuto.
◇
Karena
Yukuto sempat "mati fungsi" dan Fuka pun punggung serta bokongnya
penuh debu pasir, akhirnya setelah itu mereka hampir tidak bisa memotret dengan
benar.
Satu-satunya
foto Fuka yang diambil Izumi menggunakan kamera Yukuto yang telah diisi sihir
Fuka pun belum bisa diketahui hasilnya sebelum dicuci.
"Haaah…
ya ampun… kalian berdua… benar-benar…"
Dalam
perjalanan pulang dari sekolah, Fuka mendinginkan pipinya yang panas—bukan
hanya karena cuaca—dengan botol teh rooibos yang dibelinya di minimarket.
"Itu
tuh, kebiasaanmu, Oki-kun…"
Saat
menempelkan botol ke dahinya, tangannya yang menyentuh poni merasakan ada benda
asing di rambutnya.
Ketika
diambil, itu hanyalah butiran pasir kecil—mungkin masuk ke rambutnya saat tadi
menggeliat di tanah.
Sambil
berpikir bahwa hari ini dia harus mencuci rambut dan mencuci jaket training
dengan saksama, Fuka memasukkan botol ke dalam tas sekolah, lalu mengeluarkan
ponselnya. Ia menyalakan kamera depan untuk mengecek apakah poninya kotor.
"Oki-kun,
benar-benar deh…"
Meskipun
ia berpikir ini hanya karena matahari sore atau cuaca, wajahnya masih terasa
agak merah, membuatnya kembali merasa malu sendiri.
Karena
tidak menemukan hal mencolok pada poninya, Fuka menutup aplikasi kamera. Yang
kemudian muncul di matanya adalah—
"Oki-kun…"
Gambar
layar kunci: foto dirinya bersama sang ibu.
Foto
yang diambil Yukuto, yang menampilkan wujud asli dirinya dan ibunya.
Foto
aslinya adalah foto analog yang diambil dengan kamera film itu, lalu dipindai
dengan printer rumahan dan disesuaikan ukurannya untuk wallpaper ponsel.
Untuk
pertama kalinya, ia benar-benar melihat wujud sejatinya sendiri. Sosok elf itu
sesuai dengan "rasa diri" yang ia miliki, tetapi sama sekali tidak
mirip dengan sosok gadis Jepang biasa yang tadi muncul di kamera depan.
"Hey,
Oki-kun…"
Meskipun
tadi sampai terjatuh ke tanah karena terlalu senang, kini Fuka justru merasa
sedikit membenci dirinya sendiri karena memikirkan hal seperti ini. Namun tetap
saja, ia tak bisa menahan pertanyaan itu di dalam hatinya.
"Yang
mana, ya…"
Aku
yang mana yang kamu bilang imut, sampai seseru itu bersama Izumi?
Langkah
kaki Fuka melambat sedikit, ponsel masih digenggam erat.
Belum
lama sejak pengakuan mengejutkan Yukuto.
Tentu
saja, bagi Yukuto, kenyataan bahwa Fuka adalah makhluk dari ras lain mungkin
lebih mengejutkan daripada pengakuannya sendiri.
Dan
setidaknya sampai momen itu, tak diragukan lagi bahwa yang Yukuto anggap
"imut" adalah Fuka Jepang—yang muncul di kamera depan ponsel ini dan
yang setiap pagi ia lihat di cermin rumahnya.
Namun
sekarang, di mata Yukuto, wujud Jepang itu tidak lagi terlihat.
Meski
begitu, ketika Yukuto mengatakan ia imut—apakah itu ditujukan pada dirinya yang
kini terlihat olehnya?
Ataukah
pada dirinya yang ada di dalam foto?
"…Aku
bodoh. Memikirkan hal seperti ini sekarang."
Jika
pertanyaan seperti ini benar-benar dilontarkan kepada Yukuto, pasti dia akan
kebingungan.
Fuka
ingin menepis semua perasaan negatif yang terlanjur ia miliki terhadap Yukuto,
lalu mempercepat langkahnya yang sempat melemah dan segera menyusuri jalan
pulang. Namun, tepat saat itu, ponsel yang digenggam erat di tangannya
berdering menandakan ada panggilan masuk.
"Eh?
Ibu? Ibu hari ini di sini?"
Yang
tertera di layar panggilan masuk adalah nama ibunya, Suzuka.
Ibu
Fuka, Watanabe Suzuka, menjabat sebagai pejabat administrasi di Desa Ierefu
yang menguasai Hutan Raya Timur, sebuah desa yang berada di dalam Pulau Penjara
Terapung tempat seluruh elf dari dunia lain Natche Riviera ditahan.
Karena
itu, ia hanya menginap di rumah sisi Jepang saat hari libur di sana, dan
setidaknya hari ini seharusnya tidak ada rencana untuk pulang.
"Halo?
Ada apa, Bu? Aku nggak nyangka ibu di sini hari ini, jadi aku belum nyiapin
makan malam sama sekali—eh? A, ada apa?"
Suara
ibunya di seberang telepon terdengar suram, dipenuhi rasa cemas.
"Aku?
Aku sudah keluar dari sekolah, lima menit lagi juga sampai rumah kok… iya,
mengerti. Kalau begitu, tunggu ya."
Langkah
kakinya yang tadi melambat kini berubah menjadi langkah cepat, nyaris berlari.
Ibunya,
Suzuka, adalah prajurit terkuat di Desa Ierefu, seseorang yang terlatih baik
secara fisik maupun mental. Sejak Fuka kecil, rasanya ia belum pernah melihat
ibunya memperlihatkan kecemasan sedalam ini.
Akhirnya,
setelah berlari pulang, pemandangan yang Fuka lihat di ruang tamu adalah sosok
ibunya yang begitu gelisah hingga terasa asing—duduk di meja makan sambil
meminum teh dengan tangan yang tak tenang.
"Aku
pulang… Ibu, ada apa? Ibu nggak apa-apa?"
"Oh,
Fuka. Selamat datang. Ibu baru saja menyeduh teh. Kamu mau juga?"
"Aku
nggak usah. Yang penting itu, ada apa? Terjadi sesuatu, kan?"
Di
telepon, ibunya mengatakan bahwa ada hal yang harus dibicarakan langsung,
sehingga Fuka diminta pulang secepat mungkin. Ini jelas bukan masalah sepele.
Berbagai
firasat buruk melintas di benak Fuka.
Hal
pertama yang terpikir adalah kecelakaan atau penyakit yang menimpa kerabat.
Atau mungkin bencana alam yang terjadi di Desa Ierefu—sesuatu yang tak bisa ia
tangani sendiri, tetapi tetap harus dibagikan informasinya sebagai elf Natche
Riviera, San-Alf.
"Jangan-jangan
ada sesuatu yang terjadi di Ierefu? Atau… ada anggota keluarga yang
kenapa-kenapa?"
"Ah,
itu… tenang saja. Bukan masalah besar yang menyangkut nyawa seseorang."
Kata-kata
itu mungkin dimaksudkan untuk menenangkan Fuka, tetapi nada suara ibunya yang
berat sama sekali tidak membuatnya merasa lega.
"Hanya
saja, ada sedikit masalah yang merepotkan, dan mungkin akan melibatkanmu juga.
Karena itu, ibu pikir lebih baik memberitahumu lebih awal, jadi ibu ambil
setengah hari cuti sore dan menunggumu."
Disebut
"sedikit masalah", tapi sejauh ingatan Fuka, ibunya belum pernah
sekalipun mengambil cuti kerja dengan alasan seperti ini.
Ditambah
lagi, ibunya yang biasanya selalu bersikap tegas pada Fuka, sejak percakapan
dimulai sama sekali tidak berani menatap matanya.
Padahal
pembicaraan yang sebenarnya bahkan belum dimulai, tapi kecemasan Fuka sudah
mencapai puncaknya.
"Pendahuluannya
nggak usah. Ada apa sebenarnya? Ini bukan pembicaraan yang bisa dilakukan
sambil makan, kan?"
"Itu,
eh…"
Setelah
ragu-ragu dengan sikap yang tidak seperti biasanya, Suzuka akhirnya
mengatakannya dengan suara sekecil nyamuk.
"……ke…lihat,
gitu."
"Hah?
Apa?"
"J-jadi,
itu… ke-li-hat, gitu!"
"Apa
sih, Bu!? Ada orang ngapain ibu!?"
"Makanya!"
Suzuka
akhirnya menyerah dan berteriak keras.
"Ketahuan
dilihat!"
"Dilihat
apanya!?"
"Foto
itu!"
"Foto
itu yang mana—………………………………eh."
Waktu
seakan berhenti.
Karena
ibunya menyampaikan pengakuan mengejutkan itu dengan terburu-buru, Fuka sempat
tak bisa mencerna maksudnya dan belum langsung memahami betapa seriusnya
situasi ini.
Namun,
tak lama kemudian nalurinya menyadari bahwa pengakuan sang ibu adalah masalah
yang benar-benar tak terbayangkan dalam hidupnya selama ini. Wajahnya pucat,
keringat dingin mengalir, dan kakinya mulai gemetar hebat.
"Ibu…
Ibu bercanda, kan. Foto itu maksudnya…"
"……"
"Fo-foto
itu… jangan-jangan foto yang itu? Siapa yang lihat? Foto siapa, dilihat oleh
siapa, dan apa yang mereka lihat!? Jelasin yang jelas!"
Ditekan
oleh pertanyaan putrinya, Suzuka mengatupkan gigi, lalu mulai berbicara
perlahan.
"Beberapa
waktu lalu, Oki-kun dan Kotaki-san datang ke Ierefu, kan. Saat itu, dengan
kamera itu, sihir Jalan Tersesat berhasil ditembus, kan. Karena kejadian itu,
pihak pemerintahan mengirim tim inspeksi. Dan dari situ… semuanya jadi
ketahuan."
"Nggak
nyambung! Cara Oki-kun menembus sihir itu memang mencurigakan karena kameranya,
tapi hubungan sebab-akibatnya belum terbukti, dan masih dalam penyelidikan,
kan! Kalau nggak ada yang ngomong soal kamera itu, mana mungkin nyambung ke
foto!?"
"Ada
yang bicara. Seseorang dari pasukan penjaga desa bilang kalau belakangan ini
ada manusia dari Bumi yang membawa benda aneh."
"Eh—ah!"
Fuka
tersentak. Saat pertama kali ia mengundang Yukuto ke Natche Riviera, karena
sebuah kecelakaan, Fuka sempat kehilangan kesadaran sehingga Yukuto dan Izumi
tidak bisa kembali ke Jepang.
Izumi
mencoba meminta bantuan Suzuka di Desa Ierefu, tetapi jalan mereka terhalang
oleh sihir Jalan Tersesat—sistem pertahanan yang mencegah orang yang tidak
diundang memasuki desa.
Pada
akhirnya, bidikan kamera Yukuto memantulkan dan menampakkan jalan tersebut.
Saat itulah pasukan penjaga Ierefu langsung dikerahkan dan mengepung mereka.
"Lalu,
pengelola manusia yang mengatur Pulau Penjara Terapung mengirim tim inspeksi,
dan… sebagai desa, kami tidak punya pilihan selain mengatakan yang
sebenarnya."
"T-tim
inspeksi? Sampai segitunya!?"
Pulau
Penjara Terapung berada di bawah yurisdiksi Pemerintahan Aliansi Penakluk Raja
Iblis yang dibentuk oleh manusia Natche Riviera. Pada prinsipnya, semua elf
wajib mematuhi hukum yang ditetapkan oleh pemerintah aliansi tersebut, termasuk
misi penaklukan Raja Iblis.
Karena
itulah, tim inspeksi tidak akan melewatkan tanda-tanda pemberontakan sekecil
apa pun di kalangan elf.
Tim
inspeksi hanyalah sebutan umum; nama resminya adalah ‘Tim Inspeksi dan Inspeksi
Khusus Penaklukan Raja Iblis’.
"Akibatnya,
semua anggota pasukan penjaga Ierefu yang bertugas hari itu diperiksa
mendadak—loker dan barang bawaan mereka digeledah, ponsel disita, dan dari
ponsel ibu ditemukan data bermasalah, yaitu foto itu. Karena itu, ibu dikenai
sanksi skorsing."
"Pemeriksaan
tim inspeksi tuh kayak razia barang sekolah SMP gitu? Terus, ibu pakai foto itu
sebagai wallpaper ponsel?"
"Kamu
sendiri yang mengirimkannya, dan kamu juga pakai sebagai wallpaper, kan."
"I-it
sih iya, tapi…"
"Pokoknya!
Untuk elf yang tetap tinggal di Pulau Penjara, sudah diputuskan akan ada
wawancara tatap muka, pemeriksaan perilaku, dan dalam kasus terburuk, skorsing.
Tapi masalahnya itu kamu dan Oki-kun."
Begitu
nama Yukuto disebut, ekspresi Fuka langsung menegang.
"Apakah…tim audit juga bakal datang ke sini?"
"Fakta
bahwa kamera itu dibawa olehmu dan teman sekelasmu yang laki-laki sudah jelas.
Tapi ibu sendiri tidak tahu bagaimana bentuk audit terhadap anggota yang
ditempatkan di Bumi. Bahkan, dalam dua puluh tahun terakhir, tidak ada catatan
elf asal Ierefu yang ditempatkan di Bumi pernah diaudit. Jadi mungkin saja
hanya ada seseorang yang datang untuk memberi kalian pembinaan… tapi lingkungan
tempat bertugas itu berbeda-beda tergantung negara dan wilayah, kan?"
"Y-ya,
memang."
"Karena
itu, ibu rasa audit terhadap elf di Jepang dan elf di Venezuela pasti tidak
sama."
"Venezuela
yang katanya paling rawan kejahatan di Bumi itu? Masa disamain?"
"Bisa
saja kamu bilang begitu, tapi Fuka, kamu bisa langsung menunjuk letak Venezuela
di peta dunia? Bisa sebutkan ibu kotanya? Bisa bilang negara apa yang
berbatasan di sebelah timurnya?"
"Kenapa
sih ibu ngotot banget soal Venezuela. Ya jelas aku nggak tahu."
"Orang-orang
dari pemerintah aliansi itu menganggap seluruh Bumi sama saja, disatukan
sebagai ‘dunia lain’. Aku sudah sering bertemu pejabat yang cuma bilang, ‘Bumi
itu banyak tempat berbahaya, serem ya,’ begitu saja. Huh!"
"O-oh…
begitu."
"Yah,
mereka nggak akan sampai datang dengan persenjataan lengkap, tapi tetap saja,
tidak ada yang tahu seperti apa audit itu akan berdampak padamu dan Oki-kun.
Tentu saja mereka tidak akan memberi tahu kita sebelumnya… jadi, Fuka!"
Meski
tampak letih dan kelelahan, dengan sorot mata yang tajam menyala, ia berdiri,
mencondongkan tubuhnya dari seberang meja dan mencengkeram bahu Fuka dengan
kuat.
"Penaklukan
Raja Iblis… kamu benar-benar mengerjakannya dengan serius, kan!?"
"Uh…"
Fuka
mengerang. Ia masih bisa menahan diri untuk tidak memalingkan pandangan.
"Kamu
mengerti, kan!? Dinding pun punya telinga, pintu geser pun punya mata. Lakukan
yang terbaik…! Mengerti!?"
"I-iya…
aku mengerti… aku mengerti sih, tapi…"
Tatapan
tajam yang membuat Fuka merasa seolah ibunya sendiri bisa berubah menjadi Raja
Iblis itu memaksanya untuk mengangguk.
Namun,
sikap dan kemampuan penyelidikan tim inspeksi terhadap para elf adalah sesuatu
yang, bagi siapa pun yang terlahir sebagai elf, sudah lebih akrab di telinga
daripada kisah Momotaro.
Setelah
kembali ke kamarnya, Fuka menjatuhkan diri di atas tatami dan memegangi
kepalanya.
"Gimana
caranya aku harus menjelaskan ini ke Oki-kun…"
Lalu
ia melirik ke arah lemari geser yang terhubung dengan padang rumput di sekitar
Ierefu.
"Untuk
sementara… ditutup saja."
Ia
menyelipkan pel lantai sebagai palang di sisi seberang selimut tebal, lalu
mengunci dengan kunci seadanya pintu yang terhubung ke dunia lain lewat sihir.
◇
"J-jadi,
begitulah kejadiannya…"
Pilihan
Fuka bahkan tidak menunggu sampai keesokan hari, apalagi waktu makan malam. Ia
langsung menceritakan semuanya tanpa sisa kepada Yukuto lewat panggilan video,
lalu menyampaikan bahwa kemungkinan besar ia akan merepotkan dirinya ke depan,
sambil bersujud meminta maaf.
"J-jadi
audit, ya… kedengarannya berat juga. Eh, bisa tolong angkat kepalamu dulu
nggak?"
Di
sisi lain, Yukuto sendiri panik karena tiba-tiba menerima panggilan tanpa
peringatan dari Fuka. Ia buru-buru duduk di meja belajarnya, menelan ludah,
mengecek apakah kerah baju santainya tidak melorot aneh, lalu menekan tombol
terima. Namun wajar saja jika ia terkejut—yang memenuhi layar ponselnya
hanyalah bagian atas kepala Fuka.
Saat
akhirnya Fuka mengangkat wajahnya, raut wajahnya terlihat sangat letih hingga
justru membuat Yukuto merasa kasihan.
"Kalau
begitu… aku harus gimana? Misalnya kalau ada yang nanya soal Natche Riviera
atau kamera itu, lebih baik aku jawab jujur saja?"
"Itu
nggak apa-apa. Aku rasa tim inspeksi juga nggak akan langsung melewatiku dan
tiba-tiba mendatangi Oki-kun atau Izumi-chan. Data yang bisa mengidentifikasi
wajah kalian nggak ada di sana, termasuk di ponsel ibuku. Lagi pula, mengganggu
manusia Bumi juga melanggar aturan. Jadi kalaupun ada yang akan dikenai
tindakan lebih dulu, itu aku. Soal itu, tenang saja."
"Kalau
kamu bilang ‘yang kena dulu aku’, mana mungkin aku bisa tenang."
Ucapan
Fuka yang terlalu mengkhawatirkan membuat Yukuto ikut tegang.
"Jadi
benar-benar nggak tahu apa yang bakal terjadi? Bahkan di catatan lama pun nggak
ada contohnya?"
"Benar-benar
nggak tahu. Katanya sudah sangat lama tidak ada audit terhadap elf tipe
penugasan tetap seperti aku di Ierefu."
"Penugasan
tetap…"
Yukuto
tak menyangka dunia elf punya klasifikasi pekerjaan yang terdengar seperti
perusahaan penyalur tenaga kerja.
"Tapi
cepat atau lambat, pasti akan ada seseorang yang langsung menghubungiku. Jadi
mungkin tiba-tiba akan ada orang asing mondar-mandir di sekitarku. Tapi jangan
khawatir, ya. Aku juga akan bilang hal yang sama ke Izumi-chan."
"Siapa
juga yang bisa nggak khawatir setelah dengar begitu!?"
"Lalu,
karena penyebab langsungnya adalah foto kita dan kamera Oki-kun itu, mungkin
sebaiknya untuk sementara kamera itu jangan dibawa ke sekolah. Ini skenario
terburuk, tapi walaupun mereka tidak berniat menyakitimu secara langsung, kalau
kamera itu dinilai sebagai benda yang berasal dari Raja Iblis, tidak aneh kalau
mereka memutuskan menyitanya dengan alasan pencegahan krisis."
"Itu
keterlaluan banget, kan?"
"Penaklukan
Raja Iblis adalah keadilan mutlak di Natche Riviera."
Sambil
berkata begitu, Fuka tersenyum sedih.
"Lagipula,
nggak apa-apa. Akhir-akhir ini aku memang agak malas, tapi kalau aku menjadikan
ini sebagai kesempatan untuk benar-benar serius menjalani ‘Penaklukan Raja
Iblis’, kurasa tidak akan ada hukuman."
"Penaklukan
Raja Iblis… jangan-jangan, Watanabe-san, kamu bakal berhenti sekolah atau
semacamnya…!?"
"Bukan!
Bukan begitu! Aku tetap akan sekolah kok! Hanya saja… mungkin hari-hari di mana
aku bisa membantu klub fotografi akan berkurang, atau akan lebih sering ada
urusan yang tidak bisa kuceritakan pada Oki-kun dan Izumi-chan. Mungkin… akan
jadi seperti itu. Padahal aku tidak ingin begitu."
"Watanabe-san…"
"Pokoknya,
kalau kamu melihat aku berbicara dengan orang yang tidak kamu kenal, bisa saja
itu anggota tim inspeksi yang menyamar sebagai orang Jepang. Jadi tolong jangan
terlalu dipikirkan, ya."
"Aku
juga nggak tahu semua relasi pertemananmu, dan aku nggak akan asal menyela
hanya karena kamu ngobrol dengan orang yang aku nggak kenal."
"Iya."
"Meski
begitu… aku memang nggak tahu bisa berbuat apa, tapi kalau ada hal sekecil apa
pun yang bisa kubantu… bilang saja, ya?"
"Iya.
Terima kasih, Oki-kun."
Fuka
mengucapkannya dengan senyum yang lembut.
Namun
senyum itu justru membuktikan bahwa satu kalimat Yukuto barusan sama sekali
belum mampu menjadi kekuatan bagi kondisi Fuka saat ini.
Penaklukan
Raja Iblis.
Kata
itu beberapa kali muncul selama panggilan ini. Namun ketika Fuka—seorang
San-Alf dari Natche Riviera, dunia yang seluruhnya bersatu menghadapi
keberadaan bernama Raja Iblis—benar-benar harus menanganinya, apa yang bisa
dilakukan oleh Yukuto, seorang siswa SMA laki-laki biasa yang bahkan bukan
anggota klub olahraga? Tak perlu dipikirkan lagi, mungkin sama sekali tidak
ada.
"Aku
ingin sebisa mungkin tidak menjadi beban bagi Oki-kun, tapi kalau aku
benar-benar kesulitan, mungkin aku akan meminta bantuanmu. Jadi… maaf ya,
tiba-tiba menelepon."
"Iya.
Sampai besok… besok kita masih bisa bertemu, kan?"
"Tenang
saja. Aku akan tetap ke sekolah. Maaf sudah bikin kamu khawatir. Sampai
besok."
Fuka
melambaikan tangan, lalu menutup panggilan dengan senyum.
"Repot
juga…"
Yukuto
memasukkan ponselnya ke saku dan merebahkan tubuhnya di atas meja belajar.
Panggilan
dari Fuka membuatnya tegang dan cukup menguras tenaga.
Isi
pembicaraannya jelas mengejutkan, tetapi yang paling mengguncang Yukuto adalah—
"Rasanya
sudah lama sekali aku nggak melihat itu."
Sosok
Fuka yang tampil di panggilan video adalah Watanabe Fuka versi manusia Jepang.
Baik
secara digital maupun analog, wujud Fuka yang terekam melalui mesin akan selalu
dikenai sihir penyamaran, sehingga tercatat sebagai sosok manusia Jepang.
Kamera
yang biasa digunakan Yukuto adalah kamera film; saat ia mengintip melalui
viewfinder, yang terlihat adalah wujud elf, tetapi foto yang dicetak
menampilkan wujud manusia Jepang.
Sejak
Izumi bergabung dengan klub fotografi, mereka sudah beberapa kali memotret Fuka
sebagai model. Karena itu, bukan sekadar melihat "wujud manusia
Jepang", melainkan melihat sosok yang dulu pernah ia cintai—bergerak dan
berbicara dengan rupa yang sama persis seperti saat dulu ia jatuh cinta—membuat
hatinya terguncang hebat.
Yukuto
tidak mencintai Watanabe Fuka hanya karena penampilannya. Namun, tak
terbantahkan bahwa setelah jatuh cinta, ia juga menyukai penampilannya.
Soal
jarak batin antara dirinya dan Fuka, Yukuto merasa—bukan karena terlalu percaya
diri—bahwa justru setelah mengetahui kebenaran tentang elf, ia bisa lebih dekat
dengannya.
Karena
itu, ia tanpa sadar mengira bahwa sosok "Watanabe Fuka si manusia Jepang
yang bergerak" tidak akan pernah ia lihat lagi.
Fakta
bahwa ia bisa bertemu lagi dengan sosok itu begitu mudah membuat hatinya
bergejolak hebat.
Singkatnya,
di dalam hati Yukuto, "Watanabe Fuka si Elf" dan "Watanabe Fuka
si Manusia Jepang" tanpa sadar dibandingkan satu sama lain.
"Ughhh…"
Baru
saja ia ingin terus memotret wujud asli Fuka dari dekat, kini ia dihadapkan
pada situasi ini—terlebih lagi di tengah cerita bahwa Fuka sedang berada dalam
kondisi krisis. Tak heran Yukuto terjerumus ke dalam rasa muak pada dirinya
sendiri.
Kejahatan
dan gosip memang seolah tidak pernah ada jika tidak terbongkar, tetapi meskipun
begitu, Yukuto benar-benar ingin bersikap tulus terhadap Fuka. Dan satu-satunya
hal yang bisa ia lakukan adalah—
"Setidaknya
aku harus benar-benar mendengarkan apa yang Watanabe-san katakan, dan tidak
menjadi penghalang baginya."
Ia
tidak akan membawa kamera film itu ke sekolah.
Dan
saat Fuka berinteraksi dengan orang-orang yang tidak ia kenal, kecuali jika ia
dipanggil secara langsung, ia tidak akan pernah ikut campur.
◇
Padahal
ia sudah memutuskan begitu.
"Kok
hari ini orang-orang di sekitar Watanabe-san banyak, ya?"
"A-ah,
iya…"
Keesokan
harinya di sekolah, di setiap jam istirahat selalu ada seseorang yang datang
menghampiri Fuka.
Situasinya
tidak berubah bahkan saat jam makan siang. Sampai-sampai terlihat pemandangan
langka di mana ia duduk mengelilingi meja bersama teman sekelas sambil
menggigit sandwich dari kantin sekolah.
Yang
mengelilingi Fuka pada dasarnya adalah para siswi dari kelas yang sama, tetapi
kadang-kadang ada juga siswi dari kelas lain yang tidak dikenalnya, bahkan
siswi kelas satu dengan dasi berwarna khas angkatan mereka.
Padahal,
biasanya waktu makan siang Fuka dihabiskan dengan bersembunyi di ruang klub
berkebun sambil makan dalam porsi besar untuk memulihkan energi sihir yang
tersedot oleh sihir penyamaran.
Namun,
sejauh yang dilihat Yukuto, hari itu Fuka bahkan tidak makan sepersepuluh dari
biasanya.
Saat
Yukuto mulai khawatir apakah dia baik-baik saja, di waktu istirahat singkat
antara jam pelajaran kelima dan keenam, Fuka keluar dari kelas dan berlari
entah ke mana.
Mungkin
ia pergi untuk mengisi perutnya dengan sisa makan siang yang kurang.
"Harusnya
sih nggak apa-apa, tapi…"
Konon,
sihir penyamaran menghabiskan energi sihir dalam jumlah yang sangat besar, dan
jika energi itu benar-benar habis, elf bisa mati.
Tentu
saja, melewatkan satu kali makan tidak akan langsung membuatnya tewas, tetapi
membayangkan jika kondisi seperti ini berlangsung setiap hari tetap membuatnya
cemas.
"Bukan
berarti aku bisa begitu saja bilang ‘ayo makan bareng’…"
Bagaimanapun
juga, mustahil semua wajah baru yang mengelilingi Fuka hari ini adalah anggota
tim inspeksi dari Natche Riviera. Dan meski ingin membantu, Yukuto jelas tidak
mungkin menunggu di ruang klub lalu menyuapi Fuka makanan atau minuman tinggi
kalori seperti membuat foie gras.
Kalau
Fuka benar-benar nekat, memang ada pilihan untuk sedikit membuat kelas heboh
dengan mempertontonkan kotak makan tiga tingkat dan menggigit apel utuh di
dalam kelas.
Tapi
kalau ia bisa melakukan itu, sejak awal Fuka pasti sudah melakukannya. Selain
itu, sesuai dugaan awal, ada risiko popularitasnya sebagai "food
fighter" melonjak dan ia akan dikelilingi oleh jenis orang yang berbeda
dari sekarang.
Lagipula,
mereka sudah berjanji bahwa Yukuto tidak akan ikut campur sebelum Fuka sendiri
mengirimkan sinyal SOS.
Di
sudut pandang Yukuto yang gelisah tak bisa tenang, Fuka kembali ke kelas sambil
mengunyah, lalu melambaikan tangan kecil seolah ingin menenangkannya sebelum
kembali ke tempat duduknya.
"Mana
bisa aku tenang…"
Baru
kembali ke kelas saja mulutnya sudah dipenuhi butiran nasi seperti anak TK.
Bisa dibayangkan betapa tergesa-gesanya ia makan.
"Eh—fu-chan,
kenapa wajahmu begitu!?"
"Hah?
Ada yang nempel? Kayaknya tadi makannya kurang, jadi aku agak lapar…"
Siswi
yang duduk di depan dan belakangnya menyadari kumpulan nasi itu dan menegurnya
dengan santai. Fuka memerah sambil mengambil butiran nasi itu dengan jari, lalu
memasukkannya satu per satu ke dalam mulut kecilnya.
"Hah?
Wah! Aduh, malu banget. Maaf… ahm…"
"Wah,
fu-chan, gerakanmu barusan agak erotis, loh."
Siswi
di belakangnya berkata dengan suara rendah sambil tersenyum.
Terus
terang, Yukuto juga merasakan hal yang sama. Tapi di luar itu, panggilan
"fu-chan" terasa tidak cocok baginya, dan ia juga khawatir dengan
reaksi sekelompok cowok penggemar rahasia Watanabe yang entah bersembunyi di
mana.
Ia
ingin mereka berhenti bicara sembarangan. Yang paling penting, kalau ini
terjadi setiap hari, perut Fuka pasti tidak akan tahan.
"Memang
sih, tadi agak erotis."
"Berisik."
Kalau
Yukuto bisa mendengarnya, berarti Tetsuya juga pasti mendengarnya. Ia menimpali
tanpa pikir panjang. Namun berbincang dengan Tetsuya di tempat duduk berarti
telinga elf Fuka juga bisa mendengarnya, dan Yukuto sama sekali tidak ingin
memulai percakapan yang diawali kata "erotis".
"Ngomong-ngomong,
tadi aku sempat nanya kenapa hari ini Watanabe-san begitu populer," kata
Tetsuya.
"Hah?
Serius?"
"Kepikiran,
ya?"
"Jangan
senyum aneh. Tolong jelasin."
Tetsuya
sebenarnya hanya ingin menggoda Yukuto yang sering terlihat dekat dengan Fuka,
tapi bagi Yukuto, ini adalah kondisi darurat sehari setelah peringatan krisis.
Wajar saja kalau ia benar-benar serius.
"Setengahnya
sih… katanya gara-gara kamu."
"Hah?
Aku? Kenapa?"
Karena
sama sekali tidak merasa bersalah, Yukuto kebingungan. Namun Tetsuya malah
mengangkat bahu dengan ekspresi tak kalah bingung.
"Tadi
aku dengar dari anak kelas sebelah, Oki, kamu tahu ‘Tochitoku’?"
"Nggak.
Baru dengar. Tochitoku? Apa itu, bahasa Jepang?"
"Katanya
singkatan dari ‘Papan Diskusi Anonim Wilayah Tokyo’. Ada papan anonim besar,
terus di dalamnya ada papan khusus Tokyo, dan bahkan ada lagi yang lebih
spesifik seperti distrik Itabashi atau Nerima."
"Heeh…"
"Terus,
di papan distrik Nerima itu ada thread tentang ‘gadis cantik di wilayah
ini’."
"Hah?"
Arah
pembicaraan tiba-tiba terasa berbahaya, dan wajah Yukuto langsung menegang.
"Di
situ ada fotonya. Foto Watanabe-san yang menang kontes itu."
"HAAAAAA!?"
Yukuto
tanpa sadar berteriak keras hingga menarik perhatian sekitar, lalu buru-buru
mengecilkan suaranya.
"Aku
sudah milih fotonya dengan sangat hati-hati supaya bordiran nama di jersey
nggak kelihatan!"
"Ya
tapi, buat orang yang kenal langsung Watanabe-san atau tahu jersey sekolah
kita, bukan hal sulit buat menebaknya."
"M-menebak…?"
Yukuto
memang tahu secara teori betapa mengerikannya identitas pribadi bisa terungkap
di forum anonim, tapi ia sama sekali tak menyangka Fuka akan terseret ke
dalamnya karena dirinya. Darahnya langsung terasa surut.
"Ah,
entah ini bisa bikin tenang atau nggak, tapi thread-nya sendiri hampir nggak
ada pengguna aktif, jadi sepertinya nggak bakal langsung menyebar ke SNS.
Lagipula resolusi fotonya juga cukup rendah."
"Kalau
resolusinya rendah, berarti kamu juga lihat?"
"Iya.
Kupikir kita bakal ngobrol soal ini, jadi aku minta URL-nya. Nih."
Yukuto
merebut ponsel Tetsuya. Di layar memang terpampang foto Fuka yang memenangkan
Tokyo Student Usual Life Photo Contest.
Sumbernya
jelas dari halaman portal kontes yang memajang karya pemenang. Namun tentu
saja, pihak penyelenggara tidak menyediakan format yang bisa langsung disimpan
ke PC atau ponsel.
Rasio
dan potongan fotonya sedikit berbeda dari ingatan Yukuto, dan meski masih
standar zaman sekarang, kualitas gambarnya memang kasar. Kemungkinan besar,
seseorang mengambil tangkapan layar dari tampilan situs dan memotong bagian
fotonya saja.
"Terus,
ada orang sekolah kita yang nemuin itu, nunjukin ke orang lain, dan bilang,
‘Eh, di sekolah kita ada gadis secantik ini?’ Lalu, ‘Lho, foto ini kayaknya
pernah aku lihat deh… bukannya klub fotografi pernah menang pakai foto begini?’
Dari situ banyak orang mengaitkan fotomu dengan Watanabe-san. Terus rame lagi:
fotonya bagus, Watanabe-san imut, dan akhirnya jadi kayak sekarang."
"Entah
kenapa… aku nggak bisa jelasin, tapi cara menyebarnya nggak enak banget."
Yukuto,
sebagai anak zaman sekarang, pernah melihat foto gadis seumuran yang tak jelas
asal-usulnya tersebar di SNS dengan kalimat provokatif yang jauh dari kata
sopan.
Masalah
di Natche Riviera yang kini dihadapi "Watanabe si Elf" pun, jika
dipikir-pikir, juga bermula dari foto yang diambil Yukuto dan akhirnya menjadi
masalah besar melalui berbagai rangkaian sebab.
Di
sini, dilihat dari sikap orang-orang yang berkumpul dan reaksi Fuka sendiri,
meski sumbernya forum anonim, penilaiannya masih sebatas memuji penampilan Fuka
dan belum sampai membahayakan dirinya. Namun rasa cemas yang tak terjelaskan
tetap tidak bisa dihapus.
"Ya…
salah langkah sedikit saja bisa langsung jadi bahan bakar drama besar. Dan
setidaknya, ini berarti ada seseorang di sekolah yang rutin membuka forum itu,
dan tipe orang yang suka menyebarkannya ke mana-mana."
"Bukan
cuma itu. Bisa saja ada orang lain yang sengaja repot-repot memotong gambar
lalu mengunggahnya ke forum. Artinya, mungkin ada dua orang di sekolah yang
ceroboh soal urusan internet. Kalau dipikir begitu, rasanya benar-benar nggak
enak, dan selain itu…"
"Selain
itu?"
"………………nggak,
nggak apa-apa."
Yukuto
mati-matian menelan kata-kata yang hampir saja terlepas dari mulutnya.
Jika
Tetsuya saat ini sama sekali tidak merasakan kejanggalan atau keraguan, maka
ini adalah pertanyaan yang tidak boleh diajukan oleh Yukuto.
Mengapa
foto Fuka diposting di papan anonim wilayah "Nerima"?
Dalam
kaitannya dengan foto itu, satu-satunya nama yang muncul hanyalah Yukuto. Dan
jika informasi tentang Fuka atau Yukuto bocor ke publik luas, selain dari
identifikasi lewat jaket olahraga yang terlihat di foto, satu-satunya
kemungkinan lain adalah fakta bahwa Yukuto menerima penghargaan di sekolah
bocor secara spesifik.
Artinya,
jika seseorang dari kalangan tidak dikenal atau seorang siswa yang berada di
luar lingkar pertemanan Yukuto dan Fuka menemukan foto Fuka di lautan internet
lalu mulai melakukan proses identifikasi, secara normal mereka seharusnya
mempostingnya di papan wilayah "Itabashi", yaitu lokasi sekolah.
Namun
kenyataannya, foto itu diposting di papan wilayah "Nerima". Dan rumah
Fuka sendiri berada bukan di Itabashi, melainkan di Nerima.
Jika
dugaan Yukuto benar, maka meskipun alamat rumah Fuka diketahui hingga nomor
rumah, itu tetap bukan tempat yang bisa dijangkau orang biasa. Tapi, apakah
boleh menganggap semua ini hanya kebetulan dan membiarkannya begitu saja?
"Yah…
sekarang aku paham alasannya. Terima kasih."
"Oke."
Setelah
mengembalikan ponsel kepada Tetsuya, Yukuto kembali menghadap ke papan tulis.
"Duh…
baru soal penaklukan Raja Iblis saja sudah bikin kepalaku penuh…"
Ia
menggumam pelan sambil memegangi kepalanya.
Tepat
pada saat itu bel berbunyi menandakan pelajaran berikutnya dimulai, sehingga
kegaduhan di kelas dan percakapan Yukuto dengan Tetsuya pun berakhir.
Namun,
Tetsuya menatap punggung Yukuto dengan ekspresi heran, lalu bergumam pelan
dengan volume yang hampir sama dengan gumaman Yukuto.
"Kenapa
kamu tahu soal penaklukan Raja Iblis…?"
◇
"Hei,
Yukuto…!"
"Maaf,
kalau ada apa-apa nanti habis kegiatan klub saja!"
"Eh,
tunggu! …Hah, sudah pergi."
Begitu
pelajaran keenam selesai, Yukuto mengabaikan panggilan Tetsuya dan langsung
berlari keluar dari kelas.
Tak
perlu dijelaskan lagi—tujuannya adalah bergabung dengan Fuka di klub berkebun
untuk memastikan kondisi dan situasinya.
Kamera
biasanya ia tinggalkan sesuai permintaan Fuka, tetapi hari ini sebagai gantinya
ia membawa kamera DSLR digital lama model standar yang dulu ditinggalkan oleh
para senior klub fotografi.
Fuka
memang tidak mengatakan apakah ia harus datang atau tidak ke klub berkebun,
tetapi jika alasannya adalah untuk mengajari Izumi soal fotografi, itu masih
bisa dijadikan alasan yang masuk akal seperti biasa.
Sambil
memikirkan hal itu, di pintu masuk terdekat dengan taman klub berkebun, ia
kembali berpapasan dengan Izumi yang seperti biasa berwajah masam.
"Ah,
Senpai. Sebenarnya itu semua apa sih?"
Pertanyaan
pembuka itu keluar begitu saja, tapi tanpa perlu penjelasan rinci pun, Yukuto
langsung paham apa yang dimaksud Izumi dengan "itu".
"Sejauh
mana kamu tahu, Kotaki-san? Tentang papan anonim itu dan semacamnya?"
"Yang
soal foto itu diunggah ulang tanpa izin ke papan anonim regional, kan?!
Kayaknya aku sudah tahu hampir semua yang Senpai tahu! Huh! Siapa sih orang
bodoh yang melakukan hal seperti itu! Pakai foto itu untuk hal semacam
itu!"
Karena
Izumi biasanya selalu menunjukkan sikap bermusuhan pada Yukuto, reaksi ini
justru terasa agak mengejutkan.
"Apa
sih dengan wajahmu itu?"
"Enggak,
cuma… kupikir kalau Kotaki-san, kamu bakal marah besar karena aku memotret
Watanabe-san sebagai model sejak awal."
"Hah?
Foto itu sendiri tidak bersalah, kan. Memang aku tidak suka fakta bahwa Senpai
memotret Fuka-chan seperti menjilat-jilat dengan kamera, tapi hasil fotonya
sendiri bagus, dan Fuka-chan juga menyukainya, kan. Aku tidak sebodoh itu
sampai tidak bisa mengakui kualitas foto hanya karena aku tidak suka
Senpai."
"Hah?"
"Makanya,
apa sih wajah itu?!"
"Bukan
apa-apa, cuma… aku agak terkejut Kotaki-san menilai foto itu sejujur itu, dan
tanpa sadar aku jadi senang…"
"Hah?!
………Ah!"
"Eh?"
"B-bukan,
maksudnya, itu…"
Tidak
seperti biasanya, Izumi menepuk-nepuk ujung rok seragamnya dengan kedua tangan,
wajahnya sedikit memerah karena kesal, lalu akhirnya menatap Yukuto dengan
pandangan tajam dari bawah.
"Bukan
berarti aku menerima senpai memotret Fuka-chan, jadi jangan besar kepala! Tapi…
yah, kalau hasilnya bagus ya aku anggap bagus saja! Mengerti?!"
Ia
menggertakkan gigi seakan ingin menarik kembali fakta bahwa ia barusan mengakui
tindakan Yukuto.
"Ya,
ya, aku mengerti. Kalau Kotaki-san bilang begitu, itu cukup menyemangatkan.
Tapi untuk sekarang, ayo kita lihat dulu keadaan Watanabe-san."
"Hey!
Bukan itu maksudku!"
Takut
ditendang lagi dari belakang, Yukuto mempercepat langkah menuju taman klub
berkebun—
"!?"
Melihat
pemandangan di depannya, ia spontan menghentikan napas dan langkahnya.
"Uwah!"
Izumi
yang tadinya tertinggal malah menabrak punggung Yukuto dengan tubuhnya.
"Hei,
Senpai! Kenapa tiba-tiba berhenti— …hah?"
Namun
Izumi pun terdiam setelah mengikuti arah pandangan Yukuto dan melihat apa yang
ada di depan.
"Apa…
itu?"
Taman
klub berkebun dulunya adalah kebun mawar dari era Showa. Baru-baru ini mereka
menanam berbagai benih bunga dan sayuran, jadi belum ada tanaman indah yang
bermekaran.
Namun,
Yukuto dan Izumi benar-benar melihat mawar ilusi di sana.
Tak
peduli pria atau wanita, ketika seseorang yang cantik berdiri di suatu tempat,
di sana akan lahir sebuah "aura".
Di
samping taman bunga, Fuka Watanabe sedang berbincang sambil tersenyum dengan
seorang siswa laki-laki kelas tiga yang bahkan Yukuto dan Izumi tidak kenal.
Dan
dia bukan siswa biasa.
Bahkan
dari sudut pandang Yukuto sebagai sesama pria, dalam sekali lihat saja sudah
jelas bahwa pria itu berada di "kelas" yang berbeda.
Tingginya
satu kepala lebih tinggi dari Yukuto, kakinya panjang, dan wajahnya tampan.
Ditambah
lagi, meskipun tertutup kemeja seragam, terlihat jelas otot bahu dan
lengannya—ramping namun padat dan berisi.
Ketika
seorang pria dengan tubuh sempurna sebagai jantan manusia berdiri berdampingan
dengan seorang elf yang merupakan kecantikan tiada tara, lalu keduanya
tersenyum sambil berbincang, pemandangan itu sudah seperti sampul manga atau
poster promosi film.
Terlalu
sempurna untuk disebut kebetulan. Terlalu "jadi gambar".
Tentu
saja, hanya karena Fuka sedang berbicara dengan pria tampan yang tidak dikenal,
bukan berarti bisa langsung disimpulkan bahwa hubungan mereka dekat. Itu
terlalu tergesa-gesa.
Namun,
iblis bodoh yang mulai tumbuh dan bersarang di hati Yukuto sejak ia melakukan
panggilan video dengan Fuka semalam, kini seolah mendapatkan kekuatan. Iblis
itu berbisik, menanamkan benih niat jahat dan kecurigaan di benaknya.
Bagaimana
jika dirinya yang berdiri di samping pria itu, lalu dibandingkan dan dinilai
lebih rendah?
Kebodohan
karena tanpa sadar membandingkan Watanabe Fuka si elf dengan Watanabe Fuka si
manusia Jepang, lalu mencerminkan perasaan itu kembali kepada Fuka.
Meski
sadar itu bodoh, sebagai naluri makhluk hidup, Yukuto sudah merasa kalah dari
siswa kelas tiga yang tak dikenalnya itu—bahkan sebelum melakukan apa pun.
Dan
lebih parahnya lagi, begitu Fuka menyadari keberadaan mereka, ia berteriak
dengan wajah panik.
"Ah!
B-bukan! Ini bukan seperti yang kamu pikirkan!"
Kalimat
yang benar-benar terdengar seperti ucapan seseorang yang ketahuan berselingkuh.
Yukuto
hampir saja ambruk berlutut, tetapi—
"Humph!"
Tiba-tiba
Izumi menghantam bagian belakang lutut Yukuto dengan lututnya sendiri. Sebelum
sempat benar-benar jatuh lemas, Yukuto terkena knee tap dan hampir terduduk di
tanah.
"H-hey,
Kotaki-san!?"
"Humph!
Payah sekali! Halo~ Selamat siang, Watanabe-senpai. Terima kasih atas kerja
kerasnya~"
Di
depan siswa laki-laki yang tidak dikenal, Izumi langsung berubah sikap,
memasang wajah manis dan menyapa dengan nada ceria.
Namun
melihat wajah Izumi, Fuka justru tampak ketakutan dan berbicara seolah sedang
membela diri.
"T-tunggu,
Izumi-chan! Makanya aku bilang ini bukan begitu! Kamu salah paham lagi,
kan!"
"Eh~?
Maksudnya bagaimana, senpai? Aku kan belum bilang apa-apa?"
"Aku
baru pertama kali bicara dengan Amami-senpai tadi, dan dia juga bukan datang
untuk menemuiku."
"Amami-senpai…
Amami… eh? Jangan-jangan Amami-senpai itu…?"
"Oh,
kamu tahu aku?"
Untuk
pertama kalinya, pria yang dipanggil Amami-senpai membuka mulutnya.
Tak
disangka, suaranya bernuansa androgini, namun tetap memiliki serak lembut yang
justru semakin menegaskan kesan elegan secara keseluruhan.
"Kalau
tidak salah… Senpai adalah kapten klub voli putra, kan? Tahun lalu, di
kualifikasi Haruko Volley, memimpin tim dan langsung mengangkat klub ke tingkat
nasional…"
"Ah,
tidak, itu berlebihan. Masa cerita seperti itu sudah sampai ke siswa kelas
satu? Itu benar-benar hasil kerja keras semua orang dan kebetulan yang
beruntung. Sama sekali bukan karena kekuatanku sendiri."
Kerendahan
hati itu jelas tulus dan faktual—dan justru karena itulah terasa menyebalkan.
"Walau
begitu, kalau dibilang aku datang untuk menemui Watanabe-san, ya memang benar.
Untuk melakukan apa yang ingin kulakukan, mendekati Watanabe-san adalah jalan
tercepat."
"Hah…
lalu, sebenarnya Amami-senpai sedang membicarakan apa dengan Fuka-chan?"
"Kami
sedang membicarakan foto ini."
"Ah!"
Di
ponsel yang Amami sodorkan ke Izumi, terpampang foto Fuka yang bocor—foto yang
seharian ini terus membuat Yukuto dan Izumi gelisah.
Menyadari
perubahan ekspresi Izumi yang menegang, Amami buru-buru melambaikan tangan.
"Tidak,
tidak, jangan salah paham. Aku justru ingin bertemu dengan orang yang mengambil
foto ini, dan berniat meminta Watanabe-san mengenalkanku."
"Hah?"
Tanpa
sadar Izumi menoleh ke arah Yukuto, dan Yukuto yang tiba-tiba jadi pusat
pembicaraan pun terbelalak.
"Oh,
jadi dia orangnya."
Dari
arah pandangan Izumi, Amami tampaknya langsung menyadari bahwa Yukuto adalah
orang yang ia cari.
"Baru
saja aku mendengar dari Watanabe-san bagaimana proses foto ini diambil.
Sepertinya Watanabe-san benar-benar senang dengan hasilnya dan bangga bisa
menjadi model."
"T-tunggu,
Amami-senpai! Jangan bilang itu…!"
Rahasia
yang tiba-tiba terbongkar membuat Fuka memerah dan memalingkan wajahnya, seolah
ingin menghindari tatapan Yukuto.
"Jadi,
tenang saja. Aku tidak datang untuk menggoda Watanabe-san."
"T-tidak
ada yang bilang begitu…"
Izumi
menjawab canggung, karena sebenarnya ia memang sempat berpikir seperti itu.
"Justru
aku datang untuk mengajak dia. Bisa berdiri?"
Yukuto,
yang sejak tadi jatuh akibat knee tap, refleks meraih tangan Amami yang
diulurkan dan ditarik berdiri.
Kekuatan
di tangan itu hampir membuatnya merasa kalah lagi, tapi kali ini yang ia
rasakan justru kebingungan.
Di
saat banyak siswa lain mendatangi Fuka setelah melihat foto itu, mengapa orang
ini justru mencari dirinya—si fotografer?
"Biar
kuperkenalkan diri dengan benar. Aku Amami Rio, kelas tiga A. Kapten klub voli
putra. Hari ini aku datang untuk secara resmi meminta kerja sama kepada ketua
klub fotografi, Yukuto Oki, atas nama klub voli putra."
"Ah…
salam kenal. Aku Oki, kelas dua. Um, permintaan kerja sama resmi itu…
jangan-jangan soal pemotretan kegiatan klub, ya?"
"Yup,
pada dasarnya memang begitu."
"Itu
memang sudah dilakukan para senior sebelumnya, jadi tentu saja aku bersedia.
Tapi kalau klub voli putra, kenapa tidak lewat Tetsuya—Komiyama Tetsuya?"
"Ketua
Oki satu kelas dengan Komitetsu ya. Itu aku tidak tahu. Tapi meski tahu pun,
aku memang ingin merahasiakan permintaan ini dari para anggota sampai saat
pemotretan benar-benar dimulai. Kalau dibuat kejutan, semangat mereka pasti
lebih naik."
"Begitu
ya…"
Dari
cara bicara dan gesturnya yang berlebihan, Yukuto bisa merasakan bahwa Amami
sedang memikirkan sesuatu yang besar—tapi gambaran besarnya masih belum jelas.
Namun
melihat kebingungan Yukuto, Amami sedikit membungkuk mendekat, lalu tersenyum
nakal sambil berkata,
"Aku
ingin kamu meminjamkan kekuatanmu… untuk penaklukan Raja Iblis."



Post a Comment