Penerjemah: Flykitty
Proofreader: Flykitty
Chapter
3
Watanabe Fuka menguatkan tekadnya
"Pencurian… sampai sejauh itu……!?"
Begitu
mengucapkannya, Fuka langsung terdiam, tak mampu berkata apa-apa lagi.
"Eh,
itu serius? Keluargamu nggak apa-apa? Senpai kan tinggal cuma berdua sama
ibumu, kan!?"
Izumi
pun kali ini memasang wajah serius; nuansa bercandanya yang biasa sama sekali
tidak terlihat.
"Tidak
apa-apa kok. Terima kasih ya. Mereka masuk saat rumah kosong, dan perusahaan
keamanan yang kami kontrak langsung datang, jadi selain jendela yang
dipecahkan, tidak ada kerusakan lain."
"Oh
begitu. Ya… memang bukan hal yang pantas dibilang ‘syukurlah’, tapi setidaknya
itu masih keberuntungan di tengah kemalangan."
"…………"
Izumi
tampak lega, tetapi wajah Fuka masih pucat seolah napasnya tertahan.
"Cuma
ya, gara-gara itu kemarin aku sama sekali nggak sempat mengedit foto klub voli.
Habis ini aku juga harus minta maaf ke Amami-senpai dan Hasegawa karena hari
ini nggak bisa datang. Jadi Kotaki-san, hari ini nggak ada kegiatan klub
fotografi, kamu fokus ke klub berkebun aja—"
"…Tidak."
"Hah?"
"…………Oki-kun
sama sekali nggak perlu minta maaf!"
Fuka
yang sejak tadi terdiam tiba-tiba berteriak dengan suara keras, seolah menarik
kembali napas yang ditahannya.
"F-Fuka-chan!?"
"Aku
yang akan pergi! Aku yang akan minta maaf ke Amami-senpai dan Hasegawa! Oki-kun
sama sekali tidak salah!"
"Eh,
tunggu dulu, kenapa tiba-tiba begitu? Kalau Watanabe-san yang minta maaf, pihak
sana malah bakal bing—"
"Aku
akan menjelaskannya dengan benar! Tentu saja, juga ke ibu Oki-kun!"
"Ke
orang tuaku!? Kenapa!? Mau jelasin apa!?"
"Bahwa
aku ini elf!"
Teriakan
Fuka menembus Yukuto. Ia memang terkejut, tetapi di sudut hatinya ia sudah
menduga Fuka akan bereaksi seperti ini.
"Soalnya…
kalau dipikir-pikir, bukankah kemungkinan besar tim inspeksi memang mengincar
kamera Oki-kun itu?"
"…………Belum
tentu juga."
"Oki-kun.
Kamu pernah bilang, kan? Bahwa kamu percaya diri dengan resolusi suaramu."
"Hah?
Ah, iya. Benar."
"Hah?
Apa itu? Nggak bisa didiemin gitu aja dong!"
"Izumi-chan,
diam sebentar. Ini pembicaraan serius."
"Akupun
bica-ra serius fufufu—"
Wajah
Izumi ditekan dengan telapak tangan, tapi melihat nada suara Fuka yang kali ini
benar-benar tegas, ia menutup mulutnya dan menurut.
"Oki-kun
juga pasti sempat memikirkan itu, kan. Makanya aku juga berpikir begitu—dan aku
tahu kamu akan berpikir seperti itu. Nada bicaramu barusan seperti itu."
"…Ah."
Ia
memang tidak sampai merumuskannya sejelas itu di dalam pikirannya. Namun kalau
dipikir ulang, memang benar ia sempat terpikir demikian.
"Aku
juga…"
Dengan
mata sedikit berkaca-kaca dan wajah memerah karena emosi, Fuka berbisik.
"Aku
juga cukup percaya diri dengan resolusi suara Oki-kun."
"…W-Watanabe-san?"
"Makanya
aku tahu apa yang kamu pikirkan saat menceritakan ini. Kamu sebenarnya bisa
saja diam. Tapi karena kamu tidak bisa sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan
bahwa ini perbuatan tim inspeksi Natche Riviera, kamu memilih untuk berbagi
informasi denganku dan khawatir bersama, daripada diam dan membuatku cemas
sendirian, kan?"
"Tidak,
itu—"
Penafsiran
yang begitu lurus dan penuh niat baik itu justru membuat Yukuto merasa malu.
"Aku
nggak… sampai sejauh itu memikirkannya saat bicara. Mungkin. Tapi entahlah, aku
cuma… nggak ingin berbohong."
Tak
sanggup menahan tatapan Fuka, Yukuto mengalihkan pandangannya.
Bukan
karena rasa bersalah, melainkan karena mengatakan hal ini sambil menatap
langsung mata Fuka terasa terlalu besar dan memalukan baginya.
"Aku
memang… sempat membayangkan kamu akan berpikir begitu. Makanya ada bagian
diriku yang nggak ingin bilang. Cuma… dulu, ayahku itu—"
"Ayahmu?"
"Iya,
ayahku yang sudah meninggal. Dia fotografer lanskap alam, jadi sering ke luar
negeri. Ada tempat-tempat yang keamanannya nggak begitu baik, dan setiap kali
dia pergi ke tempat seperti itu… ayah selalu menjelaskan ke aku dan ibu, ke
mana dia pergi dan risiko apa saja yang ada."
Fotografi
alam pun bermacam-macam. Laut dan gunung tentu punya risiko berbeda; negara dan
wilayah, belahan bumi utara atau selatan, daerah tropis atau dingin, keberadaan
hewan berbahaya—ayahnya selalu membagikan sebanyak mungkin informasi negatif
kepada keluarganya.
"Dan
ibu selalu bertanya, langkah apa yang sudah disiapkan untuk menghadapi risiko
itu. Mungkin karena ibu bekerja di perusahaan asuransi juga, tapi intinya,
menyampaikan informasi negatif memang membuat khawatir. Tapi kalau kita juga
menunjukkan bahwa kita sudah siap menghadapinya, justru bisa membuat orang
lebih tenang. Aku juga termasuk yang merasa lebih tenang karena itu. Jadi…
maksudku, ya begitu."
"O-Oki-kun,
anu… ‘begitu’ yang kamu maksud itu apa?"
"Jadi…
memang aku nggak ingin membuat Watanabe-san khawatir, tapi kalau dalam hubungan
kita sekarang aku menyembunyikan masalah seperti ini, rasanya seperti aku nggak
percaya padamu, dan itu yang nggak aku suka."
"Mm,
mm, aku paham. Tapi maksudku bukan itu. Yang penting sekarang bukan di
situ."
"Hah?"
Saat
Yukuto mengangkat wajahnya, Fuka berdiri menghadap dinding kosong ruang klub,
wajahnya merah padam, sementara kedua tangannya bergerak gelisah di depan dada.
"Anu…
seperti ayah Oki-kun ke ibumu… itu berarti… kamu melakukan hal yang sama… ke
aku?"
Sesaat
Yukuto tidak mengerti apa yang sedang dipastikan.
Namun
melihat Izumi di samping Fuka menatapnya dengan wajah seperti Raja Yama atau
Myoo yang murka, ia segera menganalisis apa yang barusan ia katakan.
Baginya,
ia hanya berniat menjelaskan bahwa prinsip tindakannya didasari oleh apa yang
ayahnya lakukan pada ibunya.
Namun
fakta bahwa Izumi marah berarti hubungan dirinya dan Fuka sudah berada pada
jarak yang cukup dekat. Jika dirumuskan—
"Ah…………,
itu—"
Ia
akhirnya menyadari bahwa ia baru saja berbicara kepada Fuka dengan filosofi
yang sama seperti seorang suami kepada istri.
"Anu,
eh, a-a-anu……"
Suhu
tubuh Yukuto melonjak drastis, dan setiap kali kata-katanya tersendat, sudut
alis dan mata Izumi makin terangkat, kemiringannya seolah menyaingi tanjakan
paling curam di dunia.
"Itu!
Maksudku cuma sebagai contoh saja! Li-lihat, situasi kita sekarang ini kan
sangat tidak biasa! Jadi aku pikir, apa pun yang terjadi, kita nggak boleh
lalai berbagi informasi, makanya, itu—"
Ia
sadar betul bahwa semua ini terdengar seperti alasan yang dangkal, dan semakin
ia berbicara, semakin jauh suaranya dari perasaan yang sebenarnya.
Mungkin
keguncangan itu terlihat jelas di wajahnya. Wajah Fuka sedikit meredup dari
merahnya, lalu ia melangkah mendekat satu langkah.
"F-Fuka-chan!!!!"
Bahkan
teriakan Izumi tak sempat menyusul, ketika Fuka mengangkat jari telunjuk
kanannya dan menempelkannya ke mulut Yukuto, seolah membungkamnya.
"Mmnh!?"
"Aku…
merasa sudah mengerti, kok."
"…!!"
Untuk
pertama kalinya dalam hidupnya, ada sesuatu yang menyentuh bibirnya—bukan
makanan, bukan minuman, bukan peralatan makan, bukan lip balm, bukan sikat
gigi, bukan sapu tangan, bukan handuk, bukan masker, bukan tisu, bukan jari
tangannya sendiri yang menjepit keripik kentang, bukan bantal atau guling saat
tidur, dan bukan pula bagian dalam pakaian saat berganti baju.
"Karena
Oki-kun itu orang yang baik, aku tahu kok. Bukan cuma ke aku, tapi juga ke
Izumi-chan, Komiyama-kun, Amami-senpai, dan Hasegawa-san juga—kamu pasti akan
mengatakan yang sebenarnya supaya tidak membuat siapa pun khawatir."
Itu
adalah jari Fuka. Jari telunjuk seorang gadis yang benar-benar ia cintai.
"Apa
kamu bisa mengerti… bahwa aku mengerti?"
"……"
Ia
tak bisa bersuara. Tak bisa menggerakkan mulut. Rasanya, jika ia bergerak, itu
akan menjadi tindakan yang sangat tidak sopan dan tak termaafkan terhadap Fuka.
"Aku…
senang, tahu. Jadi meskipun aku sudah mengerti…"
Pada
saat itu, jari itu menjauh.
"Bolehkah
aku dibiarkan tetap salah paham?"
Baru
pada saat itu Yukuto menyadari bahwa sejak tadi ia menahan napas.
Bahkan
setelah momen itu berlalu, apa yang baru saja terjadi masih belum bisa ia cerna
sepenuhnya.
Saat
ini, sebagai hasil akhirnya, dirinya telah—
"F-f-f-Fukaaa-chaaan!!"
Sebelum
pikirannya sempat sampai pada sebuah kesimpulan, Izumi—yang wajahnya memerah
tak kalah dari mereka berdua—menyela masuk.
"Hya!
I-Izumi-chan! Dingin!"
Dengan
tangan kanan memegang cairan disinfektan alkohol, Izumi menyemprotkannya ke
tangan kanan Fuka. Lalu dengan tangan kiri ia dengan cekatan mengambil tisu
basah beralkohol, dan mulai menggosok tangan Fuka yang sudah disemprot itu
seolah sedang mengasah pisau.
"T-tunggu,
Izumi-chan! Itu agak sakit…!"
"Apa
yang kamu lakukan, Fuka-chan!? Kalau kamu melakukan hal seperti itu, kalau kamu
melakukan hal seperti itu! Pupil mata bisa melebar, muncul gejala muntah dan
sesak napas, lalu koma! Aku! Yang akan mengalaminya!"
"Apa
Oki-kun itu jamur beracun seperti amanita muscaria atau apa?"
"Buatku,
dia sudah jadi musuh yang lebih berbahaya dan lebih pantas dibenci daripada
jamur api!"
Menyebut
senior dan ketua klubnya sendiri sebagai jamur beracun jelas sangat tidak
sopan, tapi karena pikirannya sudah lumpuh akibat tindakan Fuka, Yukuto justru
dengan mudah menerima bahwa Izumi yang melihat dari samping juga pasti sangat
terkejut. Bahkan obrolan soal jamur beracun yang tiba-tiba muncul pun terasa
wajar baginya.
"Lagian,
kenapa bisa jadi begini sih!? Awalnya kan ceritanya rumah senpai kemasukan
pencuri, kan!? Kalian berdua langsung memutuskan itu gara-gara tim inspeksi
elf, tapi kan belum tentu begitu, kan!?"
"Iya
sih, tapi timing-nya…"
"Itu
dia! Aku bilang kalian sedang bias! Memang sih, tiba-tiba rumah senpai jadi
korban kejahatan itu kebetulan yang berlebihan, tapi bukan berarti kebetulan
seperti itu mustahil, kan!?"
Sambil
terus bicara, Izumi tetap menggosok jari Fuka dengan tisu disinfektan.
"Aku
ngerti kok kenapa Fuka-chan merasa bertanggung jawab, dan aku juga ngerti kalau
senpai nggak ngomongin ini dengan niat buruk! Tapi! Untuk sekarang, tenang
dulu! Di depan mata kita sekarang, orang Natche Riviera selain Fuka-chan itu
belum ada satu pun!"
"!!"
"Ibu
Fuka-chan bilang kalau tim inspeksi datang, kita nggak tahu mereka akan ngapain
atau orang seperti apa yang datang. Amami-senpai dan Hasegawa-senpai terlihat
mencurigakan. Rumah senpai kemasukan pencuri. Tapi sampai sekarang, kita belum
melihat bukti nyata apa pun secara langsung, kan? Iya, kan?"
"I-iya.
Benar juga. Umm, Izumi-chan, jariku sudah mulai sakit…"
"Fuka-chan
sendiri bilang, kan. Kalau tim inspeksi benar-benar datang, paling tidak mereka
akan datang ke tempatmu duluan. Aku juga mikir begitu. Kalau tiba-tiba malah
masuk ke rumah senpai buat nyolong itu aneh banget. Itu bukan inspeksi, tapi
penyelidikan ilegal."
"T-tapi
hukum Natche Riviera dan hukum Jepang itu berbeda, dan mereka tahu kamera yang
dimiliki anak laki-laki yang dekat denganku itu mengambil foto tersebut, jadi
mungkin saja mereka ingin mengamankannya lebih dulu…"
"Jangan
bikin cerita ngawur kayak teori konspirasi bodoh di media sosial. Sekarang,
tidak ada satu pun bukti pasti yang bisa memastikan itu! Iya, kan!?"
"I-iya…"
"Lagi
pula, kalau ibu senpai, atau Amami-senpai dan Hasegawa-senpai ternyata memang
tidak ada hubungannya sama sekali, mau bagaimana? Tidak seperti aku dan senpai,
penampilan Fuka-chan—baik secara langsung maupun di foto—di mata orang Jepang
terlihat sepenuhnya seperti orang Jepang. Mau datang ke orang-orang seperti itu
dan bilang, ‘Sebenarnya aku elf dari dunia lain’? Kalau kamu melakukan
itu—"
Sambil
memperlihatkan gigi seperti binatang buas, Izumi menoleh ke Yukuto dan berkata,
"Kamu
tahu tidak, posisi senpai bisa jadi bagaimana?"
"Ah…"
"Ibu
senpai bisa berpikir, ‘Anak ini baik-baik saja, kan?’ Dan Amami-senpai dan yang
lain bisa saja mempertimbangkan ulang permintaan mereka ke klub fotografi.
Kalau kamu mau merasa tenang meskipun harus sampai sejauh itu, ya silahkan.
Tapi meskipun ada konspirasi seperti yang kamu bayangkan, itu tidak berarti
keselamatan senpai atau aku akan terjamin. Kamu paham, kan?"
Mendengar
penjelasan Izumi yang logis dan runtut, Fuka menjadi gugup dan terbata-bata,
lalu akhirnya perlahan duduk terjatuh.
"……Maaf.
Sepertinya aku agak tidak tenang."
"Jelas
saja!"
"Dan
juga, Izumi-chan, jariku benar-benar sakit…"
"Pokoknya,
karena hari ini kegiatan klub fotografi libur, senpai cepat pergi ke tempat
Amami-senpai dan yang lain. Dan hari ini, jangan mendekati Fuka-chan di
sekolah! Aku bisa sesak napas!"
Tampaknya
teori "Yukuto adalah jamur beracun" masih berlaku.
"I-iya.
Mengerti. Umm… maaf ya, Watanabe-san. Aku bilang hal aneh."
"T-tidak
apa-apa. Tolong sampaikan salamku ke Amami-senpai dan yang lain…"
"Kubilang
cepat pergi karena aku bisa sesak napas!"
Tak
sanggup lagi melihat Fuka dan Yukuto yang masih sama-sama memerah, Izumi
melepaskan tangan Fuka, mendorong punggung Yukuto yang masih ragu-ragu, dan
mengusirnya keluar dari ruang klub hortikultura.
"Duh!
Sebenarnya kalian mikir apa sih………… F-Fuka-chan!?"
"Feh?"
"A-a-a-apa,
apa yang kamu lakukan……!?"
"Mm?
Maksudmu apa aku sedang apa? Soalnya…"
Dengan
wajah bingung, Fuka hendak memasukkan jari telunjuknya—yang tadi digosok
Izumi—ke dalam mulutnya.
"Setelah
digosok sekeras itu, jelas sakit. Aku nggak bawa plester, jadi refleks
menjilatnya…"
"Menjilatnya…………
padahal belum sepenuhnya disterilkan!"
"Eh?
Disinfeksi apa yang—"
Saat
itu juga, Izumi jatuh berlutut seolah mengalami sesak napas. Melihat reaksi
Izumi yang berlebihan, Fuka sempat menunjukkan ekspresi heran, lalu—
"Ah."
Ia
teringat apa yang baru saja ia lakukan pada Yukuto dengan jari itu.
"Hau!"
Wajahnya
memerah seperti meledak, dan ia menutup wajahnya dengan kedua tangan lalu
ambruk ke lantai.
Fuka
merintih tanpa suara sambil menutupi wajahnya, sementara Izumi berlutut,
menatap langit-langit dengan mata hampir terbalik dan tubuh kejang-kejang.
Pemandangan
itu sungguh seperti dua orang yang baru saja menelan jamur beracun amanita
muscaria sekaligus.
Sementara
itu, Yukuto yang diusir keluar terus mengulang-ulang kejadian di ruang klub
berkebun di dalam kepalanya, sampai-sampai ia tidak bisa berjalan lurus.
Tatapan
lurus mata elf Watanabe Fuka, dan sensasi jari elf Watanabe Fuka yang menekan
bibirnya—semuanya tertinggal dengan panas seperti luka bakar.
Jika
sekarang ada seseorang yang akrab dengannya melihat wajahnya, mungkin mereka
akan menganggap pupil matanya yang menyempit dan matanya yang terbuka lebar itu
sangat menyeramkan.
Namun,
meski ia menyadari itu, seluruh sel tubuhnya tidak mau menuruti akal sehat.
"Tidak,
tidak, tidak………… tidak."
Di
depan tangga menuju lantai kelas tiga, Yukuto pun akhirnya ambruk dari lutut
seperti baru menelan jamur beracun, dan nyaris jatuh sebelum buru-buru
membalikkan badan dan duduk di tangga.
"A-apa
yang……"
Entah
ia memejamkan mata, atau membuka mata lalu menundukkan wajah dan menatap lantai
koridor berlapis linoleum serta ujung sepatu dalam ruangannya sendiri, tetap
saja—seperti film yang sudah terpapar cahaya—wajah elf Watanabe Fuka terpatri
di matanya dan tak mau pergi, berkilau seperti cahaya.
—Aku
senang…… jadi meskipun aku sudah tahu, aku akan salah paham.
Apa
maksud perkataan itu sebenarnya?
Salah
paham yang bagaimana? Ia mati-matian mencoba mengingat kembali konteks tepat
sebelum kejadian itu.
"Aku……
bilang sesuatu yang sebenarnya cuma berlaku di antara orang tuaku, lalu……"
Hal
yang hanya berlaku di antara pasangan Oki itu, seolah-olah telah ia terapkan
pada Fuka.
"Itu……
maksudnya…… begitu, ya?"
Sesaat
sebelum mengetahui soal elf dan segala hal itu. Saat ia mengaku pada Watanabe
Fuka yang saat itu ia kenal sebagai gadis Jepang, dan mendapat jawaban
"iya", ada satu hal yang terus mengganjal pikirannya.
Fuka
menerima perasaannya. Namun terlepas dari itu, bagaimana sebenarnya perasaan
Fuka terhadap dirinya?
Ia
memang telah dengan jelas menyatakan ingin menjalin hubungan sebagai pacar, dan
fakta bahwa Fuka menyetujui situasi itu berarti setidaknya Fuka memiliki
perasaan positif terhadapnya.
Tapi
apakah Fuka "menyukainya" atau tidak—itu, tentu saja, tidak pernah ia
ketahui.
"Rasanya……
itu masih di level ‘mulai sekarang kita berdua akan saling mengenal lebih
dalam’…… ya……"
—Aku
senang.
Apa
yang membuatnya senang?
Yukuto
menceritakan tentang hubungan orang tuanya, lalu menjelaskan alasan sikapnya
kepada Fuka berdasarkan itu……
—Jadi,
bolehkah aku dibiarkan tetap salah paham?
"Eh……"
Bayangan
elf Watanabe Fuka yang terpatri di balik kelopak matanya menimpa ingatan
tentang Watanabe Fuka—gadis Jepang yang ia temui di depan taman bunga saat ia
menyatakan perasaannya—bersama dengan sensasi sentuhan jari itu, hanya sesaat
seperti kilatan petir.
"Eh,
tidak, tapi, masa sih……"
Kalau
itu benar-benar cuma salah paham, rasanya terlalu menyakitkan.
Ini
memang hal yang pasti terpikirkan oleh setiap anak laki-laki di masa pubertas,
dan mengingat pengakuannya sendiri berhasil, sikap seperti ini juga bisa
dibilang arogan.
"Eh……
eh?"
—Aku
senang.
"Eh,
Watanabe-san, eh?"
—Aku
senang.
"Eh,
ini, eh? Jangan-jangan……"
—Aku
senang.
"Watanabe-san,
apa jangan-jangan kamu benar-benar…… menyukaiku—"
"Apa
yang kamu lakukan di tempat seperti ini, Oki-kun?"
"Huwaaah—!?
Uweh!!"
Punggungnya
yang membungkuk tiba-tiba ditepuk seseorang, membuat Yukuto meloncat sambil
berteriak dan terbatuk keras.
"Kyaa!?
A-apa!? Aku melakukan sesuatu yang mengejutkan!?"
"T-t-tidak,
tidak! H-ha-ha, Hasegawa-san!? K-kenapa kamu di sini!?"
Yukuto,
yang jantungnya terasa hampir meloncat keluar dari mulut karena kaget, melihat
Hasegawa Yui berdiri di sana dengan ekspresi yang sama terkejutnya.
"Apanya
yang kenapa, aku cuma pulang dari kelas Ketua Klub Amami saja! J-jangan
mendekat! Wajahmu agak menyeramkan! Jijik!"
"Eh…"
Ia
sendiri pun merasa isi pikirannya barusan cukup menjijikkan, dan memang benar
ia telah mengejutkan Yui. Tapi meskipun ia yang salah, tetap saja mendengar
kata "jijik" dari seorang gadis itu sangat melukai hati.
"Tapi
ya, kebetulan bagus. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu,
Hasegawa-san."
"Eh?
Denganku?"
Yui
lalu menoleh ke sekeliling dengan gelisah. Sambil tetap waspada, ia melangkah
satu langkah mendekat ke Yukuto.
"Itu……
pembicaraan penting?"
"Kalau
dibilang penting, ya, mungkin. Sedikit merepotkan, sih……"
"Kemari!
Ke sini!"
"Eh?"
Tiba-tiba
Yui meraih tangan Yukuto dan menariknya dengan paksa.
"Eh!?
T-tunggu, Hasegawa-san!?"
"Sudah,
ikut saja!"
Ia
diseret ke ruang bawah tangga di ujung barat lantai satu gedung sekolah. Selain
kotak hidran, tempat itu jarang terkena cahaya matahari, dan karena di
sekitarnya hanya ada ruang kelas untuk mata pelajaran khusus seperti seni dan
teknik, hampir tidak pernah ada siswa yang datang ke sana.
"Jadi……
apa?"
"Maksudnya
apa ya…… itu seharusnya pertanyaanku. Kenapa sampai ke tempat seperti
ini?"
"Kamu
bilang ini pembicaraan penting, kan. Kalau begitu, kupikir sebaiknya di tempat
yang sebisa mungkin tidak ada orang. Yang terpikir cuma tempat ini."
"Haa…"
"……Atau……
ini masih tempat yang tidak bisa dipakai bicara?"
"Hah?"
"Waktu
sampai pelajaran berikutnya memang tidak banyak, tapi…… kalau sekarang, ruang
klub voli di gedung klub mungkin tidak ada siapa-siapa…… kalau mau, di sana
kita bisa berdua saja."
"Berdua
saja? Tidak, eh? Kenapa harus berdua saja?"
"K-kamu
bilang ini pembicaraan penting, kan! Jadi…… ya, kamu paham, kan?"
Yui
menyilangkan kedua lengannya di depan tubuh seolah memeluk dirinya sendiri,
lalu mengambil satu langkah menjauh dari Yukuto.
Wajahnya
sedikit memerah. Ia memalingkan muka, tapi matanya tetap menatap wajah Yukuto
dengan jelas.
—Jangan-jangan
Hasegawa-san juga mengincar Oki-kun……
Saat
itu, ucapan Fuka beberapa waktu lalu melintas di benak Yukuto.
—Oki-kun,
kamu jangan lengah sama Hasegawa-san. Mungkin penilaianku keliru. Kalau jarak
kalian dipersempit sekaligus, bisa berbahaya.
"……!"
Seperti
kata Izumi, saat ini memang tidak ada satu pun hal yang bisa dipastikan sebagai
keberadaan Natche Riviera di depan mata mereka. Namun tetap saja, Yui masih
termasuk salah satu pihak yang patut dicurigai.
Kemungkinan
bahwa ia menyeretnya ke tempat sepi untuk menggali informasi—itu tidak
sepenuhnya nol.
"C-cepat
bilang saja. Kamu bilang ada…… pembicaraan penting denganku, kan?"
Nada
bicara Yui terdengar tegas, namun ada kesan ia sedang mengamati reaksi Yukuto.
"Tidak,
ini bukan hal besar."
Sambil
merasakan keringat tegang muncul di punggungnya, Yukuto menghitung posisi
dirinya dan Yui.
Dirinya
berada di sisi koridor yang terbuka. Yui berada di sisi dinding bawah tangga
tanpa jalan keluar.
Cahaya
dari luar samar-samar menyinari dari belakang Yukuto, membuat sosok Yui
terlihat jelas, sementara dari posisi Yui, Yukuto pasti terlihat siluet karena
cahaya belakang.
Jika
harus melarikan diri, posisinya lebih menguntungkan. Jika Yui benar-benar
anggota tim inspeksi Natche Riviera, secara logika Yukuto tidak akan punya
peluang menang.
Justru
karena itulah, sebagai manusia biasa, satu-satunya pegangan hatinya hanyalah
keuntungan geografis kecil—bahwa jika terjadi sesuatu, ia berada di posisi yang
relatif lebih mudah untuk kabur.
"Hari
ini, aku jadi tidak bisa ikut pemotretan klub voli."
"……Oh
ya? Lalu?"
"Ya,
cuma itu sih……"
"Cuma
itu………………………hah?"
"Hah?"
Yui,
yang sejak tadi memerah sambil menunggu langkah Yukuto, membuka mata
lebar-lebar dengan ekspresi kecewa.
"Itu
bukan…… pembicaraan penting?"
"Penting,
kok. Baru kemarin bilang mau mulai, dan hari ini sudah begini. Ini hal yang
harus disampaikan dengan benar ke Ketua Klub Amami dan manajer, Hasegawa-san,
kan?"
"…………Ya,
sih. Tapi benar-benar cuma itu?"
"Eh?
I-iya. Jadi hari ini bukan cuma aku, tapi Kotaki-san dan Watanabe-san juga
tidak ikut. Tolong sampaikan itu ke semua anggota klub voli. Mulai besok,
sepertinya pemotretan bisa kembali sesuai jadwal."
"…………Hmm.
Oh begitu. Mengerti."
Padahal
ia bersikap seolah penuh makna sebelumnya, tapi reaksinya terhadap penjelasan
Yukuto justru terasa hambar.
"Memangnya
kamu kira pembicaraan apa?"
"Eh,
ya soalnya…… kamu mendekat dengan wajah serius dan napas berat seperti itu……
aku kira itu hal yang seperti itu."
"Hal
yang seperti apa sih. Ya, memang sih mungkin wajahku seperti itu!"
Jika
dilihat oleh orang lain yang sama sekali tidak tahu apa-apa, memang wajah itu
mungkin terlihat seperti itu. Namun, tetap saja aku sama sekali tidak bisa
memahami apa sebenarnya yang dibayangkan oleh Yui.
"Padahal
kemarin kelihatannya kamu begitu bersemangat sampai melibatkan seluruh klub.
Ada apa memangnya?"
"Ah,
kemarin di rumah ada macam-macam masalah, jadi aku sama sekali belum sempat
mengedit foto bust-up. Gara-gara ‘macam-macam’ itu juga, hari ini aku harus
pulang cepat."
"…Macam-macam
apa? Kamu kan sudah dengar soal penaklukan Raja Iblis dari klub kita? Apa
alasannya sampai separah itu?"
Ekspresi
Yui sedikit menegang. Apa dia mengira aku bolos atau semacamnya?
"Yah…
lumayan sih. Sebenarnya, kemarin rumah kami kemasukan pencuri."
"Eh!?
Kemasukan pencuri!?"
"Iya.
Polisi sampai malam masih di rumah, jadi jelas aku nggak mungkin bisa ngedit
apa pun kemarin. Hari ini juga jendela yang pecah masih dibiarkan begitu saja,
makanya aku harus pulang lebih awal."
"Ka—kalau
begitu bilang dari awal dong! Kalau begitu, memangnya kamu masih pantas datang
ke sekolah?"
"Nggak
juga. Sampai siang nanti ibuku ambil setengah hari libur dan tinggal di rumah,
bantu penyelidikan polisi dan ngurus perbaikan jendela. Nanti setelah aku
pulang, kami gantian, jadi aku yang jaga rumah."
"Oh
begitu… itu memang berat ya. Kalau begitu, mau bagaimana lagi. Nanti aku juga
bilang ke Gotou-sensei."
"Kalau
begitu aku terbantu. Ketua Amami itu…"
"Oh,
soal itu… hari ini Ketua Amami nggak masuk."
"Hah?
Nggak masuk?"
"Aku
juga baru tahu tadi. Ada urusan ke kelas, terus dikasih tahu kalau hari ini
beliau absen."
"Oh
begitu. Masuk angin atau gimana?"
"Tadi
aku ‘menginterogasi habis-habisan’ lewat LINE—"
"Kamu
menginterogasi habis-habisan ya…"
"Iya.
Terus katanya dia lagi rutin ke dokter ortopedi, aku sampai kaget."
"Eh!?
Ortopedi? Itu berarti cedera atau apa?"
"Kayaknya
nggak sampai parah sih. Katanya tanpa sengaja jarinya terkilir di rumah, jadi
buat jaga-jaga dia ke rumah sakit, tapi katanya rumah sakitnya penuh
banget."
"Oh…
semoga nggak kenapa-kenapa ya."
"Benar!
Nggak tahu dia ngapain sih, tapi pasti melakukan hal aneh lagi. Dia itu hobinya
masak dan tipe yang perfeksionis. Pernah tiba-tiba memanggang pizza buat
seluruh anggota klub, lho."
"Memanggang
pizza!? Bukan pesan antar?"
"Katanya
pengen coba gara-gara lihat video. Dia nguleni adonan dari nol, bahkan ada
video buktinya. Adonan gede diputar-putar pakai ujung jari kayak
profesional."
"Padahal
kelihatannya sibuk sama kegiatan klub…"
"Ketua
itu tangannya cekatan dan pintar, jadi hampir semua yang mau dia lakukan bisa.
Pernah juga menjahit jersey atau seragam anggota klub yang robek. Terus, main
gitar juga jago."
Aku
sama sekali nggak menyangka, di momen seperti ini lagi-lagi aku diperlihatkan
betapa jauh ‘kelasnya’ Amami sebagai manusia berbeda jauh.
"Makanya
aku pengen dia sedikit ngerem soal hobi yang pakai ujung jari. Waktu dia bawa
kalian anak klub fotografi, aku sampai mikir, ‘jangan-jangan sekarang kamera
juga jadi sasarannya’."
"Oh…
begitu."
"Ketua
juga sadar sekarang lagi masa penting, makanya dia nggak lengah dan tetap ke
rumah sakit."
Aku
nggak tahu seberapa parah jarinya terkilir atau bagaimana kejadiannya, tapi
sikap untuk tidak meremehkan cedera sekecil apa pun dan tetap ke dokter
benar-benar terasa seperti seorang atlet.
"Amami-senpai
benar-benar serius soal penaklukan Raja Iblis ya."
Raja
Iblis yang dimaksud di sini adalah SMA Ouka.
"Iya.
Dari dulu memang begitu. Amami-senpai selalu serius soal penaklukan Raja
Iblis."
Yui
mengatakannya dengan penuh semangat, lalu seolah sadar dirinya terlalu terbawa
suasana, ia tersentak dan menggelengkan kepala.
"Lagipula,
kamu ini kan orang yang dibawa oleh ketua karena dibutuhkan untuk penaklukan
Raja Iblis. Jadi ya… aku cukup percaya kok. Memang sih, sejauh ini belum banyak
yang dimulai, tapi aku juga sudah cek foto-foto yang kamu ambil sejauh ini, dan
menurutku kemampuanmu memang nyata."
"Be—benarkah?"
Dinilai
secara tiba-tiba soal kemampuan fotografi, Yukuto justru terkejut.
"Aku
lihat foto yang katanya dapat penghargaan di kontes beberapa waktu lalu, sama
foto yang dipamerkan waktu festival budaya tahun lalu. Aku sendiri bukan ahli
foto sih, tapi… ya, menurutku itu foto yang bagus."
"O—oh
begitu. Terima kasih. Tapi foto festival budaya itu… kamu lihat dari
mana?"
Foto-fotonya
memang masih ada di ruang klub fotografi, tapi bukan sesuatu yang selalu
dipamerkan. Karena itu Yukuto heran di mana Yui melihatnya.
"Foto
kontes yang kemarin kan dipajang di luar ruang klub fotografi. Kalau yang
festival budaya, aku ditunjukkan oleh Komiyama-kun."
"Tetsuya?"
"Kalian
sekelas kan? Katanya dia sudah mengecek semua foto yang kamu ambil di klub
fotografi. Dari kelihatannya sih, dia ternyata cukup peduli sama
temannya."
Yukuto
nggak tahu bagaimana Yui melihat Tetsuya, tapi dipuji soal temannya jelas bikin
perasaannya nggak buruk. Apalagi tahu Tetsuya diam-diam mengecek fotonya tanpa
bilang apa-apa, itu malah bikin senang.
"Kalau
lihat foto-foto itu… meskipun sebelumnya aku bilang nggak mau difoto, entah
kenapa aku jadi mikir, mungkin aku mau difoto juga."
"…Iya.
Kalau kamu berubah pikiran, bilang saja kapan pun. Aku yakin Amami-senpai juga
bakal senang."
"Benarkah?
Ya… nanti kupikirkan."
Yui
tersenyum kecil. Dalam hati, Yukuto berpikir wajah itu pasti akan terlihat
bagus di foto.
"Kalau
begitu, aku pergi dulu ya. Maaf sudah menahanmu lama-lama. Kalau urusan beratmu
sudah selesai dan kamu bisa mampir lagi ke klub voli, hubungi aku lagi ya. Aku
tunggu."
Sambil
berkata begitu, Yui menepuk ringan bahu Yukuto saat melewatinya dan hendak
pergi dengan langkah cepat—
"Eh!?"
Begitu
kakinya menginjak tangga, entah kenapa ia mengeluarkan suara ketakutan.
"A—ah,
oh, ternyata Watanabe-san. Bikin kaget aja. Kenapa kamu berdiri di tempat gelap
begitu?"
"Hah?
Watanabe-san?"
Saat
Yukuto mengikuti Yui, di kegelapan tangga memang terlihat Fuka berdiri hampir
tak bergerak, menatap ke arah mereka.
"Wa—Watanabe…
san?"
Sedikit
menyeramkan.
"E—eh,
kalau begitu aku pergi dulu ya? S—sampai nanti, Oki-kun."
Yui
yang tampaknya gentar oleh aura tak terkatakan dari cara Fuka berdiri,
mengatakannya dengan cepat lalu menaiki tangga dengan langkah tergesa.
"Oki-kun."
"Y,
ya?"
Entah
kebetulan macam apa, tapi Yukuto merasa mata kanan Fuka Watanabe—mata hijau
zamrud milik sang elf—memancarkan cahaya tajam saat menatapnya dari atas.
Bagi
Yui, seharusnya Fuka terlihat sebagai Watanabe Fuka yang orang Jepang, tapi
apakah dia juga merasakan tatapan dingin yang sama?
"Maaf
ya, aku nggak bermaksud menguping. Tapi aku melakukan hal aneh, jadi aku cari
Oki-kun. Begitu ketemu, kamu malah mulai bicara dengan Hasegawa-san, jadi
kupikir aku nggak boleh mengganggu."
"O..oh
begitu. Jadi… masih ada yang mau dibicarakan?"
"Oki-kun?
Kenapa kamu menjauh dariku? Kenapa nggak mau menatap wajahku?"
Sebenarnya
Yukuto hanya merasa canggung menatap Fuka karena kejadian di ruang klub tadi,
tapi di mata Fuka, sepertinya terlihat sebagai sesuatu yang lain.
"B—bukan,
maksudku… sudah hampir jam pelajaran mulai, aku cuma khawatir,
Watanabe-san."
"…Oki-kun.
Sepertinya aku harus sedikit introspeksi. Mungkin di lubuk hatiku, aku sempat
berpikir kalau tanpa melakukan apa pun, pada akhirnya semuanya akan berjalan
baik-baik saja."
"H—hah?
Oh… begitu."
Yukuto
sama sekali tidak paham apa yang sedang dibicarakan Fuka. Namun satu hal pasti,
posisinya sekarang jauh lebih terpojok dibanding saat ditarik Yui ke sini tadi.
"Aku
terlalu bergantung pada Oki-kun, mengalihkan pandangan dari banyak hal yang
tidak kupahami… tapi ini tidak boleh berlanjut. Bertahan di kondisi sekarang
sama saja dengan mundur perlahan. Kalau begini terus, saat tim inspeksi
benar-benar muncul di hadapanku… aku tidak akan bisa menatap mereka… juga
Oki-kun. Karena itu…"
Tanpa
disadari, Yukuto sudah terdesak ke dinding.
Punggungnya
menyentuh dinding yang keras, sementara di hadapannya, Fuka sang elf menatapnya
dengan sungguh-sungguh dari sudut pandang sedikit lebih rendah.
"Oki-kun.
Aku… ingin benar-benar serius menekuni penaklukan Raja Iblis."
"H—eh…?"
Perkembangannya
terlalu mendadak sampai otak Yukuto tak mampu mengikutinya. Sebenarnya, sejak
awal hari ini, percakapannya dengan Fuka hampir selalu begitu.
Namun
meski begitu, satu hal pasti: "Raja Iblis" yang dimaksud Fuka di sini
jelas bukan SMA Ouka.
Raja
Iblis yang keluar dari mulut Fuka tak lain adalah Raja Iblis misterius yang
selama bertahun-tahun dilacak oleh seluruh bangsa elf di Natche Riviera.
"Ke—kenapa?
Kenapa?"
Bagian
mana dari kejadian hingga hari ini yang membuat Fuka merasa harus serius
menaklukkan Raja Iblis?
Kalau
dia mengkhawatirkan pencuri yang masuk ke rumah keluarga Oki, seperti kata
Izumi, itu jelas terlalu terburu-buru untuk disimpulkan. Selain itu, tidak ada
perubahan atau kejadian besar lain yang bisa membuat Fuka menyimpan tekad
sekuat ini hanya dalam satu-dua hari.
"T—tunggu,
Watanabe-san. Penaklukan Raja Iblis yang kamu maksud itu Raja Iblis Natche
Riviera, kan? Bukan SMA Ouka, kan!?"
"Iya.
Aku kan bukan anggota klub voli."
Bukan
itu yang ingin kutegaskan.
"Kenapa…
tiba-tiba penaklukan Raja Iblis… jangan-jangan, Watanabe-san…"
Apa
dia akan menghilang dari hadapanku?
Menghilang
ke suatu tempat di Bumi, mengejar Raja Iblis elf yang keberadaannya masih tak
diketahui, dan lenyap dari hadapanku serta Izumi?
"Watanabe-san!"
"Oki-kun!"
"Kamu
mau pergi ke suatu tempat demi penaklukan Raja Iblis…!?"
"Kalau
begitu, ajari aku pelajaran yang tidak aku kuasai demi penaklukan Raja
Iblis!"
"……………………Hah?"
"Pertama
bahasa Inggris!"
"Tunggu."
"Terus
sejarah dunia! Aku nggak boleh dapat nilai merah lagi di ujian akhir!"
"Tunggu,
tunggu, tunggu."
"Aku
payah menghafal kata-kata katakana!"
"Tunggu
tunggu tunggu tunggu tunggu tunggu. Tunggu. Tunggu!! Maksudmu apa?"
"Makanya,
demi penaklukan Raja Iblis, aku ingin mengatasi mata pelajaran yang
lemah."
"Aku
sama sekali nggak ngerti. Bahkan waktu kamu kelihatan seperti elf pun, rasanya
ini masih lebih nggak masuk akal."
"Aku
pernah bilang kan kalau aku lemah di bahasa Inggris dan sejarah dunia?"
"Bahasa
Inggris pernah, tapi sejarah dunia baru dengar."
"Makanya
aku bilang aku nggak jago hafal katakana!"
"Aku
nggak mau bilang begini, tapi elf boleh begitu? Dan ini harus aku bilang,
bahasa Inggris itu bukan katakana, lho?"
"A—aku
tahu itu!"
Dengan
wajah memerah dan mata berkaca-kaca, Fuka semakin mendekat ke Yukuto.
"Tolong,
Oki-kun! Aku tahu ini permintaan yang tidak tahu diri… tapi aku tidak bisa
meminta ini pada Izumi-chan. Tolong bantu aku… demi penaklukan Raja
Iblisku!"
Wajah
dan suaranya sepenuhnya serius.
Yukuto,
yang sangat yakin dengan kemampuannya membaca nuansa suara seseorang, paham
betul bahwa Fuka benar-benar sungguh-sungguh.
"Aku
ingin melewati banyak pertanyaan dulu dan tanya satu hal saja."
"Iya.
Tanya apa saja."
"Kenapa
‘penaklukan Raja Iblis’ itu tidak bisa kamu katakan pada Kotaki-san?"
"Karena
Izumi-chan masih kelas satu. Aku nggak bisa minta dia mengajarkan materi kelas
dua."
Di
atas kepala Yukuto yang pusing oleh alasan yang terlalu realistis itu—
"Ah,
bel."
Bel
yang menandakan dimulainya pelajaran jam pertama hari itu pun berbunyi.



Post a Comment