Penerjemah: Flykitty
Proofreader: Flykitty
Chapter
6
Watanabe Fuka memantapkan tekad untuk menaklukkan Raja Iblis
"Oi,
Yukuto. Ada apa? Hari ini ada pemotretan ya?"
Pukul
tujuh pagi.
Lapangan
dan gedung olahraga SMA Minami-Itabashi sudah ramai oleh latihan pagi berbagai
klub olahraga. Klub voli putra pun tak terkecuali; mereka menggunakan setengah
bagian gedung olahraga, dan Tetsuya bersama para anggota klub lainnya melakukan
pemanasan di tempat masing-masing.
"Entah
kenapa, Watanabe-san kelihatan sudah sepenuhnya jadi anggota klub fotografi ya.
Iya, kan?"
Ucapan
Tetsuya—yang tanpa malu mengaku sebagai penggemar rahasia Watanabe—terdengar
seolah mengandung niat membunuh. Tapi mungkin karena masih pagi atau karena
sebentar lagi akan berolahraga, dia tidak melanjutkan godaannya lebih jauh.
Lagipula,
tak heran kalau Tetsuya berkata begitu.
"Memang
sih, hari ini aku kelihatan seperti anak klub fotografi."
Soalnya
bukan hanya Yukuto dan Izumi—Fuka juga menggantungkan tas kamera DSLR di
lehernya.
"Tapi
hari ini tugasku cuma bawa barang. Lihat, waktu pemotretan foto untuk daftar
nama kemarin, kamera sempat bermasalah, kan? Komiyama-kun juga tahu."
"Oh
iya, kamu memang sempat bilang begitu. Jadi kamera yang kamu bawa itu kamera
cadangan?"
"Se-harus-nya
sih begitu… ya."
"Hah?"
Fuka
menatap tas kamera yang tergantung di lehernya dengan ekspresi rumit.
"Aku
bilang belum sempat sekalipun konsultasi dengan guru atau Amami-senpai soal
foto-fotonya, jadi aku sendiri juga kurang paham kenapa pagi ini aku buru-buru
banget datang ke latihan pagi."
"Haa…"
Tetsuya
melirik dari kejauhan ke arah Yukuto yang sedang berdiskusi dengan Izumi dan
Yui—yang ikut latihan pagi bersama anggota klub.
"Padahal
belum benar-benar paham situasinya, tapi kamu tetap datang sepagi ini. Dari
kemarin sudah ada pembicaraan soal itu?"
"Enggak.
Itu tadi pagi—"
"Tadi
pagi?"
"…………………………………
maksudku semalam. Aku dapat LINE dari Oki-kun, dan kebetulan aku juga memang
berniat bangun pagi karena ada pekerjaan klub berkebun."
"Oh,
begitu."
Tetsuya
tampak curiga, tapi hanya melirik kamera yang digantung di leher Fuka, lalu
tidak bertanya lebih jauh.
Fuka
bahkan merasa ngeri membayangkan kalau tadi hampir saja dia bilang
"sebelum sarapan pagi ini" secara tidak sengaja.
"Ngomong-ngomong,
Komiyama-kun! Amami-senpai nggak datang juga di latihan pagi hari ini?"
"Iya,
itu dia masalahnya. Katanya kemarin jarinya keseleo dan pergi ke rumah sakit,
tapi aku nggak dengar kabar apa-apa soal hari ini."
"Oh
begitu… tapi yang nggak ada bukan cuma Amami-senpai, kan? Saito-kun,
Saitou-senpai, dan Saitou-kun juga nggak kelihatan."
"Watanabe-san
hebat ya. Rasanya kamu sadar banyak hal yang bahkan aku sendiri nggak
ngeh."
Wajah
Tetsuya sempat menegang, tapi ia segera menenangkan diri.
"Kalau
di klub kami, ikut latihan pagi itu nggak wajib."
"Oh
ya?"
"Entah
klub lain bagaimana, tapi kami juga nggak latihan setiap hari. Nggak ikut pun
nggak ada penalti, nggak perlu izin absen juga."
"Wah.
Tapi aneh juga ya, tetap banyak yang datang."
"Itu
sama seperti yang dibilang ketua klub dan guru kemarin. Klub kami sekarang
isinya orang-orang yang benar-benar termotivasi dan ingin jadi kuat, jadi
suasananya penuh persaingan. Makanya justru kalau ada yang nggak latihan atau
libur, orang sekitar sampai khawatir."
"Berarti
semua benar-benar serius sama voli."
"Yup.
Kami keren, kan?"
"Kalau
bagian itu nggak ada sih, mungkin bakal kelihatan keren."
Diledek
begitu, Tetsuya tersenyum kecut, tapi wajahnya segera kembali muram.
"Cuma
ya… justru karena itu, aneh juga kalau Ketua Amami nggak ada. Kemarin juga dia
absen karena jarinya keseleo. Jangan-jangan lukanya cukup parah…"
Walau
Fuka baru sebentar berinteraksi dengan klub voli putra, kekompakan para
anggota, semangat mereka menghadapi turnamen, dan karisma Amami Rio sudah jelas
terlihat.
Ia
tak bisa sembarangan menyemangati Tetsuya yang tampak cemas, dan sementara itu—
"Baik,
kita mulai latihan! Badan sudah hangat, kan! Seperti biasa, shuttle run
berpasangan!"
Dengan
aba-aba Yui, Tetsuya bergabung kembali dengan anggota klub lainnya. Fuka
melambaikan tangan kecil-kecil untuk melepas mereka.
"Padahal
yang motret bukan aku."
Tak
lama kemudian, Yukuto mengeluarkan kamera DSLR milik klub fotografi di dekat
Yui—lalu menyerahkannya pada Izumi.
"………………
Izumi-chan, apa kamu nggak terlalu dekat dengan Oki-kun?"
"Hei,
Senpai! Yang ini nggak kelihatan dinamis banget? Menurutku ini terambil dengan
bagus."
Izumi,
yang mengambil beberapa foto secara beruntun, memperlihatkan layar kamera
kepada Yukuto.
Di
sana tampak tiga anggota klub sedang fokus melakukan shuttle run, tertangkap
dengan kesan gerakan yang kuat.
"Ya.
Nggak buruk. Tapi untuk kali ini, ini belum cukup."
"Hah?"
"Menurutku,
sehebat apa pun zaman berkembang, tetap ada ekspresi wajah dan suara yang
seharusnya tidak diperlihatkan perempuan. Coba ingat lagi permintaan dari klub
voli kali ini."
"Foto
untuk daftar nama, foto candid, dan foto saat latihan, kan? Ini jelas foto
latihan yang keren!"
"Wajahnya
tidak kelihatan."
"Hah?"
"Wajahnya
tidak kelihatan. Ini memang foto ‘latihan yang keren’, tapi tidak jelas ‘siapa’
yang keren."
Dalam
foto Izumi, ketiga pemain memenuhi layar dengan pose dinamis tanpa saling
menutupi, tetapi karena diambil dari sudut agak belakang, wajah mereka hampir
tidak terlihat.
"Permintaan
Amami-senpai adalah foto keren yang bisa meningkatkan rasa percaya diri anggota
klub saat dilihat nanti. Kalau seperti ini, mungkin hari ini mereka masih tahu
mana diri mereka, tapi sebulan lagi belum tentu."
"Eh!?
Masa sih… masa sih… oh, iya juga ya."
Sempat
terlihat ingin membantah, tapi Izumi tampaknya langsung memahami maksud Yukuto,
dan semangatnya pun mereda.
"Eh!?
Tapi susah, kan, masukin wajah!? Soalnya shuttle run itu—"
Karena
mereka melakukan shuttle run di sisi pendek dekat panggung gedung olahraga,
kalau ingin memotret wajah dengan jelas, tentu saja harus berdiri di depan arah
lari.
"Bisa
ketabrak dong! Tempatnya sempit gini!"
"Itulah
sulitnya memotret olahraga. Pada dasarnya, momen paling keren seorang atlet itu
berada di posisi yang masuk ke dalam bidang pandangnya. Tapi kalau masuk
pandangan berarti…"
Shuttle
run pun selesai, semua orang bekerja sama memasang net, lalu latihan spike
dimulai.
Saat
Izumi mencoba memotret suasana itu—
"Hyah!?"
Sebuah
spike dari klub yang hampir masuk level nasional meluncur ke dekat kakinya,
membuatnya menjerit dan refleks menghindar.
"Itu
dia. Buat pemain juga sering jadi gangguan."
"Itu
dia bukan masalahnya! Dengan kondisi begini, bukannya aku bisa terpental waktu
motret!?"
Biasanya,
dalam pertandingan profesional, fotografer eksternal memotret dari area khusus
dengan lensa yang disesuaikan jarak dan objek.
Meski
begitu, dalam olahraga seperti sepak bola atau rugby, bola sering terbang ke
area kamera. Fotografer olahraga selalu berdampingan dengan risiko.
Apalagi
bagi klub fotografi yang tidak punya perlengkapan mahal seperti lensa
super-telefoto—untuk mendapatkan posisi yang bisa menangkap wajah pemain,
mereka harus ekstra hati-hati agar tidak mengganggu permainan.
"Tapi
yang kita potret ini bukan pertandingan resmi, melainkan latihan. Kalau begitu,
pasti ada posisi yang aman dan tetap bisa melihat wajah. Untuk latihan spike…
di sana."
Yukuto
berdiri di sisi yang berlawanan dengan tempat para anggota klub berbaris untuk
latihan, tepat di luar garis samping lapangan.
Dilihat
dari posisi para pemain yang sedang berlatih, di sisi kanan setelah melewati
net terdapat Yui yang mengamati latihan serta beberapa anggota yang bertugas
memungut bola. Karena itu, Yukuto membawa Izumi dan mengambil posisi di sisi
kiri, di dalam garis serang yang memisahkan pemain depan dan belakang.
"Kalau
di sini, selama mereka tidak mulai latihan yang menargetkan pukulan ke sini,
bola tidak akan terbang ke arah kita. Pada dasarnya, serangan itu diarahkan ke
area yang lebih dalam dari garis serang ini."
"Tidak!
Itu barusan terbang ke sini, kan!?"
Begitu
Izumi selesai bicara, sebuah bola mendarat tepat di garis serang, di sebelah
kiri Yukuto.
"Tenang.
Sekarang mereka latihan open spike, jadi jarang sekali bola terbang ke
sini."
"Makanya
aku bilang, barusan terbang ke sini!"
"Itu
cuma karena anak kelas satu yang kontrolnya masih belum stabil. Selama kamu
waspada pada mereka saja tidak masalah! Sampai latihan quick dimulai, sebaiknya
motret dari sini!"
"Walaupun
kamu jelasin soal open spike atau quick, aku tetap nggak ngerti!"
Izumi
berdiri dengan ragu di posisi yang ditunjuk Yukuto, sambil mati-matian
mengikuti gerakan para anggota klub yang melompat-lompat dengan aturan dan
teknik yang tidak ia pahami.
"Kotaki-san.
Setelah ambil beberapa foto, coba naik ke atas kursi dan memotret dari
ketinggian yang sejajar dengan net."
"Naik
ke kursi yang nggak stabil di tempat bola datang bertubi-tubi seperti
ini!?"
Izumi
mengerutkan kening sambil menatap kursi lipat pipa berkarat yang dibawa Yukuto.
"Keindahan
voli itu ada pada pertarungan antara spike di titik tertinggi dan blok. Kalau
kamu berdiri di sudut pandang yang sama, kamu bisa dapat gambar yang penuh daya
hentak. Semangat!"
"Eh?
Serius? Hii—!?"
Kali
ini tidak ada apa pun yang terbang, tetapi dari atas kursi yang dipaksanya
naiki, suara hentakan spike terdengar jauh lebih jelas. Izumi kembali menciut
ketakutan.
"Baik!
Oke, berikutnya quick! Bergiliran juga masuk jadi dinding blok!"
Sementara
itu, menu latihan diperbarui mengikuti instruksi Yui.
"Kotaki-san,
geser kursinya sedikit lebih dekat ke net, dan lanjutkan memotret dari sudut
itu. Aku akan ambil dari sisi sini."
"Bukannya
kamu bilang kalau latihan quick itu bolanya bakal datang ke sini!?"
"Tidak
apa-apa. Kalau dekat net, kamu bisa memotret sisi penyerang dan pemblokir
sekaligus."
"Aku
bilang aku takut bola terbang ke arahku! Kalau bola hasil blok mental ke sini
gimana!?"
"Kalau
dekat net, itu juga aman! Kalau kamu perhatikan, kamu bakal ngerti ke mana arah
bola hasil blok biasanya bergerak. Semangat!"
"Haduh!"
Dengan
setengah putus asa, Izumi tetap mengikuti arahan Yukuto, melanjutkan pemotretan
di tempat yang ditentukan sambil bercucuran keringat dingin.
Melihat
itu dengan puas, Yukuto mendekati Yui yang mengawasi latihan dari sisi lapangan
yang berlawanan.
"Apa
nggak apa-apa ninggalin Kotaki-san begitu saja?"
Yui
yang sejak tadi sesekali melirik pergerakan Yukuto dan Izumi tampak terkejut
saat Yukuto tiba-tiba berdiri di sampingnya.
"Hari
ini kan latihan. Aku ingin dia merasakan langsung kekuatan pemotretan olahraga
dari jarak dekat, tapi tetap di tempat yang relatif aman. Ada hal-hal yang
nggak bisa dipahami kalau cuma lihat lewat TV atau dari tribun."
"Ya…
mungkin memang begitu. Tapi tetap saja, kelihatan sekali kamu mantan pemain
voli, ya. Kamu tahu persis ke mana bola kemungkinan besar akan terbang. Maaf
kalau ini terdengar stereotip, tapi aku kira orang yang serius di fotografi
biasanya nggak terlalu mikirin hal-hal begitu."
"Itu
stereotip yang cukup parah."
"Awalnya
aku juga nggak terlalu senang kalian datang ke klub. Jujur saja, orang yang
bawa kamera besar padahal bukan profesional itu kadang terkesan merasa apa pun
boleh dilakukan asal demi ‘foto bagus’."
"Aku
akui, orang seperti itu memang ada."
Yukuto
hanya bisa tersenyum pahit. Sudah jadi rahasia umum bahwa tidak semua
fotografer mematuhi etika dan aturan.
"Kalau
aku, ayahku dulu setidaknya seorang profesional. Supaya aku nggak mempermalukan
dia, ada batas yang harus selalu kujaga. Lagipula, fotografer profesional
biasanya punya satu bidang yang mereka pahami lebih dalam dari orang lain,
selain kameranya sendiri, dan itu yang mereka jadikan objek. Dalam kasusku,
salah satunya adalah voli."
Sambil
berkata begitu, Yukuto sudah mengambil kamera dari tasnya dan menekan tombol
rana.
Tepat
saat itu, Tetsuya memukul bola yang diumpan setter dengan serangan A-quick.
"Hebat
juga Tetsuya bisa lompat secepat itu. Dan setter itu anak kelas satu, kan? Jago
banget. Andai aku bisa begitu."
"Komiyama-kun
itu stabil sebagai pemain inti. Tinggal sifatnya yang terlalu ceroboh saja yang
perlu diperbaiki… Kalau Oki-kun, dulu waktu SMP main di posisi apa?"
"Aku
bermimpi jadi opposite hitter, tapi fisik dan kemampuanku kurang, jadi waktu
latihan sering jadi setter. Aku juga bukan pemain inti, jadi sering
dipindah-pindah ke posisi yang lagi kurang."
"Dipindah
sembarangan, maksudmu…"
"Anggotanya
banyak. Dan aku juga nggak terlalu kuat, jaraknya jauh dibanding pemain inti.
Jadi pemain lapis bawah ya diperlakukan seadanya. Karena itu sekarang, kalau
lihat orang yang jago main, aku cuma bisa mikir, ‘wah, hebat banget’."
Setelah
tersenyum seolah sudah benar-benar berdamai dengan masa lalunya yang pahit,
Yukuto bertanya,
"Hari
ini Amami-senpai bagaimana? Absen lagi?"
Yui
memalingkan wajahnya dari Yukuto dan kembali menatap latihan di lapangan.
"…Sebenarnya,
aku juga nggak tahu. Latihan pagi memang tidak wajib, jadi absen itu sendiri
tidak masalah. Tapi ketua klub belum pernah absen sebelumnya, jadi aku jadi
bertanya-tanya, ada apa sebenarnya…"
"Kalau
Kotaki-san bisa melihat langsung permainan Amami-senpai, pasti itu jadi
pengalaman yang bagus buat dia."
"Memang
begitu?"
"Aku
sendiri nggak pernah jago voli, tapi… melihat seseorang menekuni sesuatu dengan
sepenuh hati dan mati-matian berjuang itu, kelihatan keren, ya."
Yang
tertangkap di bidikan Yukuto saat itu bukan hanya sosok siswa kelas tiga yang
baru saja menembus blok dengan spike-nya, tetapi juga Izumi yang mengarahkan
lensa dengan ekspresi jauh lebih serius dan mati-matian.
"Barusan
kamu memotret Kotaki-san?"
"Iya.
Dia masih belum tahu foto seperti apa yang seharusnya dia ambil di sini.
Kupikir kalau dia sendiri merasakan bagaimana rasanya menjadi objek foto,
mungkin dia akan lebih mengerti."
"Tapi
dia nggak akan marah? Sepertinya dia nggak terlalu menghormati Oki-kun sebagai
senior."
"Tidak
juga. Di balik itu semua, dia mengakui kemampuan fotoku, kok. Ngomong-ngomong,
Hasegawa-san—"
"Apa—eh,
tunggu! Kamu ngapain!?"
Yui
tiba-tiba berteriak, membuat perhatian orang-orang di sekitarnya tertuju pada
Yukuto dan Yui.
"Ah,
ma-maaf! Tidak apa-apa, lanjutkan latihan saja!"
"…Hei,
Oki-kun! Aku sudah bilang jangan memotreti aku, kan! Waktu kemarin itu cuma
karena untuk foto daftar nama!"
Yui
berteriak karena Yukuto tiba-tiba mengarahkan lensa ke arahnya. Yui langsung
menutupi wajahnya dengan buku catatan, dan Yukuto pun segera menurunkan
kameranya.
"Segitunya
kamu nggak mau difoto olehku?"
"H-hah?
Bukan begitu! Maksudku bukan soal itu, tapi aku memang sejak awal tidak suka
difoto…"
"Kalau
begitu, kenapa kamu membiarkan Kotaki-san memotretmu?"
"…Hah?"
Mata
di balik kacamatanya menyempit dengan ekspresi panik.
"Dari
tadi Kotaki-san memotret dari posisi di mana kita masuk ke dalam frame, tapi
kamu sama sekali tidak menjauh atau menunjukkan keberatan. Kalau memang tidak
mau difoto, seharusnya aku bisa saja menyuruh Kotaki-san untuk tidak memotret
Hasegawa-san."
"Itu,
itu karena… jaraknya jauh, jadi aku pikir tidak apa-apa. L-lagi pula, untuk
melihat latihan, tempat ini yang paling—!"
"Kalau
begitu, aku juga boleh memotret Hasegawa-san dari jauh? Tentu saja aku tidak
akan menjadikanmu objek utama, dan hasilnya juga akan aku perlihatkan secara
pribadi."
"…I-itu…
um…"
Dengan
gugup, Yui menatap layar kamera DSLR yang disodorkan kepadanya.
"Ah,
maaf. Sebenarnya aku barusan sempat memotret, tapi yang ini akan kuhapus. Kamu
tiba-tiba menutupi wajahmu, jadi fokusnya nggak kena dan fotonya juga
blur."
Meski
tadi menolak dengan suara keras, melihat foto yang ternyata tidak tertangkap
dengan jelas itu, Yui tampak lega secara terang-terangan.
"B-begitu
ya. Kalau begitu, tidak apa-apa. Tapi… bisa jangan terlalu mengganggu? Aku ini
sedang memantau latihan semua orang."
"Baik.
Maaf ya. Aku cuma ingin memastikan. Foto yang ada Hasegawa-san di dalamnya
nanti juga akan kubagikan dengan guru dan Amami-senpai."
"I-iya.
Kalau begitu… ah, ba-baik, selanjutnya latihan servis dan receive! Anak kelas
satu pindah ke sisi receive—"
"Hei,
Senpai, boleh sebentar?"
Tanpa
disadari, Izumi sudah berdiri di dekat mereka dengan ekspresi serius.
"Kayaknya
kamera ini memang bermasalah."
"Kenapa?
Fokusnya tetap nggak pas?"
"Aku
nggak yakin. Mungkin cara motretku yang salah. Bisa kamu lihat?"
"Baik.
Coba kulihat…"
Yukuto
mengintip melalui viewfinder kamera yang diserahkan Izumi, mula-mula
mengarahkan ke Izumi yang tadi dibawanya ke posisi itu, lalu ke para anggota
klub voli yang berpindah ke posisi latihan sesuai instruksi Yui.
Terakhir,
ke arah Yui.
"Hei!"
"Aku
nggak motret kok. Cuma ngecek autofokusnya. …Hmm, eh? Tapi Kotaki-san, ini SD
card-nya sudah penuh."
"Hah?
Oh, iya juga. Cepat banget penuh ya kalau pakai mode burst?"
Dalam
fotografi olahraga modern, memaksimalkan mode pemotretan beruntun sudah menjadi
hal yang umum, karena peluang menangkap momen terbaik atlet jadi jauh lebih
besar.
Sebagai
konsekuensinya, kapasitas media penyimpanan cepat habis, dan demi memaksimalkan
performa burst kamera, sering kali diperlukan kartu memori mahal dengan
kecepatan tulis tinggi.
"Ini
cuma kartu 64GB murah. Kalau pakai dana klub, SD card berkapasitas besar dan
performa tinggi itu susah… kalau begitu mau bagaimana lagi. Hasegawa-san,
latihan pagi masih berapa lama?"
"Hmm…
ada waktu ganti baju, ada juga yang mau mandi, jadi paling lama sekitar lima
belas menit lagi."
"Terima
kasih. Kalau begitu, tidak apa-apa."
Yukuto
mengangguk puas, lalu melirik tas kamera kedua yang diselempangkan Izumi.
"Sekalian
saja, pakai yang itu. Yang sebelumnya sempat dititipkan. Nggak bisa burst
seperti kamera digital, tapi anggap saja latihan menangkap momen tanpa
melewatkan timing. Untuk latihan dasar servis dan receive, di sisi servis kamu
masih bisa sedikit masuk ke lapangan tanpa bola terbang ke arahmu. Cari posisi
yang tidak mengganggu pemain, dan pastikan wajahnya masuk ke frame. Jangan lupa
sisi receive juga."
"Hmm.
Oke."
Izumi
mengangguk patuh, melirik sekilas ke arah Yui, lalu berpindah ke titik
pemotretan sambil menyerahkan kamera yang tadi dipakainya kepada Yukuto.
Dan
orang yang terkejut melihat kamera yang dikeluarkan Izumi adalah Yui.
"Ah,-itu
jangan-jangan…"
"Kamu
tahu? Itu kamera film yang kupakai waktu menang lomba beberapa waktu
lalu."
Saat
itu juga, keringat dingin muncul di dahi Yui.
"Eh…
iya, soalnya desainnya… agak jadul, dan dibanding kamera digital itu,
kelihatannya lebih tipis, jadi aku sempat berpikir begitu…"
Dibandingkan
kamera DSLR digital, kamera film milik Yukuto memiliki suara rana yang lebih
nyaring.
Tepat
ketika Tetsuya melakukan jump serve dan Izumi menekan tombol shutter, Yui
terkejut hingga tubuhnya tersentak.
"Ada
apa? Wajahmu pucat. Kamu tidak apa-apa?"
"Eh?
I-iya, aku tidak apa-apa."
"Oh
begitu. Aduh, Kotaki-san, kamera film itu beda dengan kamera digital. Kalau
kamu memotret sembarangan begitu, filmnya cepat habis, lho."
Walaupun
berkata demikian, Yukuto tidak bergerak, dan mengambil satu foto di
tempat—menangkap Tetsuya yang selesai melakukan servis dan berpose sok keren ke
arah Izumi.
Izumi
pun tanpa sadar memotret pose Tetsuya itu. Setelah sadar sedang
"dikerjai", ia menurunkan kamera dari wajahnya, menatap tingkah
Tetsuya dengan ekspresi setengah kesal, setengah geli.
"Kotaki-san!
Jangan lupa foto sisi receive juga! Kita cuma punya satu roll film
cadangan!"
"Aku
tahu! Tapi Senpai, boleh sebentar?"
Saat
Izumi mendekati Yukuto dan Yui, Yui mulai terlihat gelisah. Yukuto, tanpa
menghiraukannya, menghampiri Izumi.
"Cara
ganti film gimana, ya?"
"Pastikan
dulu filmnya sudah tergulung sepenuhnya, lalu buka kunci knop rewind di sisi
kiri itu. Setelah itu keluarkan film lama dan masukkan ke casing. Terus pasang
film baru ke bagian spool ini… film barunya mana? Sudah aku kasih, kan?"
"Oh.
Mungkin masih di tas sekolahku. Tunggu sebentar, aku ambil dulu."
Izumi
menyerahkan kamera kepada Yukuto lalu berlari ke ujung gedung olahraga tempat
tas sekolahnya diletakkan.
Dengan
suara ringan, Yukuto menutup kembali penutup belakang kamera sementara ia tetap
mengintip melalui viewfinder dan mengamati sekitar.
Tak
lama kemudian Izumi kembali.
"Jangan
biarkan penutup belakang kamera terbuka lama-lama. Debu bisa masuk."
"Iyaaa,
maaf."
Sambil
mengernyit melihat Izumi yang tampak tidak terlalu menyesal, Yukuto menyerahkan
kembali kamera yang filmnya sudah diganti dengan aman, lalu kembali berdiri di
samping Yui.
"Sebentar
lagi latihannya selesai, ya."
"Eh,
iya. Tapi Oki-kun hampir tidak memotret hari ini. Tidak apa-apa?"
"Iya.
Hari ini aku cuma ingin tahu suasana latihan di gedung olahraga.
Lagipula—"
Tanpa
menoleh ke arah Yui, Yukuto melanjutkan,
"Sepertinya
hari ini Hasegawa-san memang tidak ingin aku memotretmu ya."
"……"
Menyadari
Yui sedang menatapnya, Yukuto tetap memandang latihan di lapangan.
"Maksudmu…?"
"Sebenarnya
tidak ada kewajiban untuk memotret. Tidak perlu. Tapi kalau kamu terus
berpura-pura tidak tahu, aku jadi harus memotret."
"Itu—"
"Sejak
dua hari lalu sebenarnya sudah ada petunjuk. Aku baru sadar pagi ini kalau itu
memang petunjuk. Mau lihat?"
Yang
disodorkan Yukuto adalah sebuah foto dengan cap waktu dua hari lalu.
Di
dalamnya ada Tetsuya, Fuka, dan Yui.
Foto
itu diambil saat Yukuto mencoba memotret Rio, ketika kamera bermasalah dan ia
mengambil beberapa foto percobaan.
Hanya
Tetsuya di tengah yang terlihat jelas, sementara Fuka dan Yui di kedua sisi
tampak terdistorsi, seolah-olah diberi efek mosaik.
"Ini…
maksudnya apa…"
"Waktu
aku mengintip viewfinder dengan mata kanan, ada tiga orang yang tidak bisa
tertangkap dengan benar. Yang pertama Amami-senpai. Yang kedua Watanabe-san.
Dan yang ketiga… kamu, Hasegawa-san."
"Itu…
cuma kebetulan—"
"Kalau
memang kebetulan, aku juga berharap begitu. Karena itu, bolehkah aku memotret
Hasegawa-san? Kalau memang kebetulan, aku akan menghormati keinginan orang yang
tidak ingin difoto dan langsung menghapusnya."
"……"
"Seperti
yang sudah kubilang, ini juga berkaitan dengan sistem keamanan di rumahku.
Kalau kamu tidak mengizinkanku memotret…"
Yukuto
mengalihkan pandangannya ke sisi lapangan yang berlawanan.
Di
sana ada Izumi yang memegang kamera film milik Yukuto dan mengarahkannya ke
sini, serta Fuka di sebelahnya yang memegang onigiri raksasa di kedua tangan
dan melahapnya dengan kecepatan luar biasa.
"Nggak
apa-apa kok kalau minta Kotaki-san yang motret."
"T-tunggu!"
Pada
saat itu, Yui menjerit nyaring, dan udara di dalam gedung olahraga seakan
membeku.
"A-ada
apa, Hasegawa?"
Melihat
Yui Hasegawa yang tampak ketakutan sambil menutupi wajahnya dengan buku catatan
di sebelah Yukuto, Tetsuya bertanya dengan nada curiga.
"……Ah"
Bersamaan
dengan Yui yang tersadar kembali, bunyi bel menggema dan menguasai gedung
olahraga.
Itu
adalah bel tiga puluh menit sebelum jam pelajaran dimulai, tanda bagi klub-klub
yang melakukan latihan pagi.
"Ah……
itu, um…"
Yui
melirik Yukuto dari sudut matanya, tapi Yukuto tidak mengatakan apa-apa lebih
lanjut, dan Izumi juga menurunkan kameranya sambil menggelengkan kepala.
"E-eto…
belnya sudah berbunyi, jadi latihan pagi hari ini… sampai di sini saja…"
"O-oh…
k-kalau begitu ayo bereskan jaringnya. Anak kelas satu, kumpulkan bola!"
Meski
Tetsuya memiringkan kepala mendengar instruksi Yui, ia tetap mengangguk dan
menyampaikannya kepada para siswa tahun pertama.
"Haa…
haa…"
Yui
menurunkan buku catatan yang menutupi wajahnya, tubuhnya terhuyung seolah akan
jatuh—
"Kamu
nggak apa-apa?"
Yukuto
menopang tubuhnya.
"…………Ternyata
kamu cukup usil juga ya, Oki-kun"
Setelah
segera menegakkan tubuhnya kembali, Yui menatap Yukuto dengan pandangan kesal
dan penuh dendam.
"Rumah
kami baru saja dimasuki pencuri, jendela rumah kami dipecahkan. Ditambah lagi,
kamu memberi tekanan yang tidak perlu pada kehidupan salah satu rekan penting
klub kami. Kurasa melakukan ini saja tidak akan kena karma. Dan lagi…"
Sambil
melirik lapangan yang sedang dibereskan dengan cekatan, Yukuto bertanya pelan,
seolah menyembunyikan suaranya di balik berbagai bunyi di sekitar.
"Hasegawa-san
itu, yang mana?"
"Yang
mana maksudmu?"
Yui
melepas kacamatanya, lalu mengelap keringat dingin yang menetes di lensa dengan
sapu tangan, sebelum menghela napas panjang.
"Maksudmu
apakah aku tim inspeksi yang datang menyelidiki kamera yang menghancurkan sihir
Jalan Kesesatan, atau pencuri yang mencoba menyusup ke rumahmu, Oki-kun? Kalau
begitu, jawabanku adalah: aku bisa dibilang keduanya, tapi juga bukan keduanya."
"Jawaban
itu agak mengejutkan, tapi sepertinya yang pertama lebih mendekati, ya."
Yukuto
menatap Yui—yang tampak pasrah—sambil tetap menyisakan keraguan di dalam
hatinya. Lalu, ia menyerahkan dua lembar foto kepada Yui.
Yang
satu adalah foto pencuri yang diambil dari lantai dua rumah, dengan sengaja
tidak memotret Fuka.
Yang
satu lagi adalah foto saat ia berdiri menghadang pencuri yang telah menerobos
penghalang sihir, diambil dari depan.
Di
kedua foto itu, terlihat jelas seorang perempuan dengan tubuh yang jauh lebih
besar dibandingkan Yui.
"Setidaknya,
orang yang menyusup ke rumah kami pagi ini bukanlah Hasegawa-san. Perawakan
tubuhnya terlalu berbeda. Setahuku, sihir penyamaran tidak bisa mengubah ukuran
tubuh. Dan lagi… saat aku mengambil foto dari depan ini, aku mendengar suara si
pencuri. Aku mendengarnya langsung—dan justru karena itu, aku masih belum bisa
mempercayainya."
"Begitu
ya. Tapi sepertinya apa yang Oki-kun pikirkan itu tidak salah."
"Bagaimanapun
juga, yang ingin kutanyakan adalah: apakah Hasegawa-san itu sekutu atau musuh
San-Alf?"
"Untuk
itu pun, jawabannya tetap sama—bisa keduanya, dan juga bukan keduanya. …Ah,
Yamamoto-kun, bola itu sepertinya kurang angin, ya? Pisahkan dulu. Nanti aku
cek."
Dengan
ekspresi yang terlihat pasrah namun entah kenapa terasa lebih lega, Yui dengan
tajam menyadari kejanggalan pada bola yang dibawa murid kelas satu dan langsung
memberi instruksi.
Menyadari
Yukuto menatapnya dengan wajah heran, Yui berkata dengan nada kesal.
"Begini-begini,
aku serius menjalani peranku sebagai manajer klub voli, lho. Dan aku juga
sungguh berharap kapten—eh, orang itu—bisa menuntaskan penaklukan Raja Iblis.
Kenapa kamu kelihatan begitu kaget sih?"
"Aku
cuma belum yakin apa arti kata ‘penaklukan Raja Iblis’ itu. Apakah maksudnya
SMA Ouka Afiliasi Mabuchiyama, atau benar-benar ‘Raja Iblis’ yang
sesungguhnya."
"Itu
juga, jawabannya: keduanya."
"Walaupun
kamu bilang keduanya, aku masih belum tahu apa sebenarnya ‘penaklukan Raja
Iblis’ itu. Watanabe-san katanya…"
Saat
ia melirik ke arah Fuka dan Izumi, entah kenapa Fuka sedang memandang Yukuto
dan Yui dengan tatapan tajam sambil memasukkan onigiri ke mulutnya sampai
penuh, sementara Izumi di sebelahnya menghela napas putus asa.
"Katanya
Watanabe-san sudah serius soal penaklukan Raja Iblis, tapi dia nggak pernah
menjelaskan detailnya dengan jelas."
"……Sekadar
tanya, apa yang dilakukan Watanabe-san setelah jadi serius?"
"Paling
cuma belajar mata pelajaran yang dia nggak suka."
"Ah.
Berarti cukup serius juga ya."
"Eh,
dari sudut pandangmu pun itu kelihatan serius?"
"Ara.
Jadi dari Watanabe-san kamu benar-benar belum dengar apa-apa ya."
"Ada
insiden pencurian juga, jadi belum sempat mikir ke sana sih… Tapi soal pencuri
yang masuk ke rumah kami, Hasegawa-san…"
"Itu
pun, setengahnya bisa dibilang salahku."
Meskipun
sejak tadi Yui terus memberi jawaban yang ambigu, Yukuto merasa dia tidak
sedang berbohong, sehingga ia melangkah lebih jauh.
"Oki-kun
sebenarnya sudah sadar, kan? Identitas pencuri itu."
"Kalau
ini, aku benar-benar baru menyadarinya pagi ini. Tapi soal itu pun, masih ada
satu hal yang belum kupahami. Ini."
Yukuto
memperlihatkan foto yang ia ambil dari lantai dua rumah Oki, saat melihat
pencuri yang menyerbu rumah mereka pagi tadi.
Di
sana, meski samar, terlihat jelas sosok manusia bertubuh perempuan.
"Kalau
pakai logika aku dan Watanabe-san, foto ini aneh dalam banyak hal. Tentang ini,
apa Hasegawa-san tahu sesuatu?"
"Aku
tahu, tapi… bukankah lebih baik kamu bertanya langsung pada orangnya?"
"Hah?"
Saat
Yukuto melihat ke arah pandangan Yui, ia mendapati para anggota klub yang
hampir selesai membereskan peralatan tiba-tiba berdiri tegap dan membungkuk
serempak ke arah pintu masuk gedung olahraga.
"""Selamat
pagi, Kapten!!"""
Dengan
cahaya pagi di belakangnya, sosok bertubuh besar dan tinggi yang tetap terlihat
jelas meski dalam keadaan siluet—Amami Rio—datang ke sekolah tepat saat latihan
pagi berakhir.
Di
kepalanya, ada topi rajut hitam yang sangat dikenal oleh Yukuto.
"Yo.
Selamat pagi, kalian semua. Maaf ya, dua hari berturut-turut bolos dan bikin
kalian khawatir."
"Nggak
apa-apa sih, Kapten, tapi… itu topinya kenapa?"
"Eh,
kamu nanya itu, Komitetsu. Sebenarnya sih—"
Sambil
tersenyum kecut, Rio melepas topinya, memperlihatkan rambutnya yang anehnya
keriting kusut.
"Eh!?
Itu apaan, Kapten!?"
"Ah—sebenarnya
aku kemarin kena petir."
Rio
jelas-jelas berbohong untuk mengelak, lalu menyadari tatapan Yukuto, Yui, serta
Fuka dan Izumi.
"Aku
agak bikin masalah. Tapi, cocok kan?"
"Iya
sih. Orang ganteng ngapain aja tetep cocok. Enak ya."
"Komitetsu,
kamu itu… ah sudahlah. Tolong bereskan sisanya ya."
"Siap!"
Sambil
tersenyum kecut menanggapi ucapan Tetsuya yang terlalu pandai merayu suasana,
dengan langkah lemah ia menghampiri Yukuto.
"Yo."
"Halo,
Amami-senpai. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku tanyakan, tapi yang
dibawa Kotaki-san di sana itu kamera film yang saya pakai saat memotret
Watanabe-san untuk kontes. Mau difoto?"
"Nggak,
sekarang tidak usah."
Setelah
melihat wajah Izumi yang kewaspadaannya jelas meningkat, Rio menggelengkan
kepala dengan ringan.
"Oki-kun,
kamu ini cukup licik juga ya. Sejak kapan kamu mulai mencurigai kami?"
"Aku
baru benar-benar yakin pagi ini. Tapi bahkan sebelum itu, aku sudah tahu kalau
inti masalah yang menimpa rumah Watanabe-san kali ini adalah kameraku. Jadi
kupikir lebih baik disembunyikan dulu, makanya aku titipkan di rumah
Kotaki-san. Kamera itu peninggalan ayahku yang sudah meninggal, jadi aku nggak
suka kalau orang yang nggak bisa dipercaya ikut campur atau mengusiknya."
"Oh,
begitu. Masuk akal sih."
"Makanya,
kalau boleh, bisa jelaskan nggak, dengan niat apa Amami-senpai datang ke rumah
kami di waktu yang merepotkan selama dua hari berturut-turut?"
"Hmm…"
Rio
menatap Yui dengan wajah bingung, lalu melihat ke arah Fuka yang entah sejak
kapan berdiri di belakangnya, dan langsung menjatuhkan bahunya dengan lemas.
"Sebelum
itu, ada satu hal yang mau kutanya."
"Apa
itu?"
"Kamu
benar-benar nggak pernah jadi pemain inti waktu SMP? Intersepmu tadi keras
banget, sampai kayak screen-out anak basket."
"Hanya
karena badanku lebih terlatih sedikit, bukan berarti kemampuan olahragaku
otomatis meningkat, kan."
Dipuji
oleh ace yang masih aktif pun sama sekali tidak terasa menghibur.
"Sekadar
mengingatkan, aku belum memaafkan fakta bahwa kalian sudah merepotkan Oki-kun
dan keluarganya."
Di
akhir, Fuka—dengan butiran nasi masih menempel di pipinya—menatap Rio dan Yui
dengan ekspresi serius.
"Saat
jam istirahat siang hari ini, Amami-senpai dan Hasegawa-san, datanglah ke ruang
klub berkebun. Jelaskan semuanya, tanpa ada yang ditutupi, tentang apa niat
kalian dan apa yang kalian lakukan selama beberapa hari ini. Kalau itu tidak
bisa dilakukan, kami juga bisa saja langsung melaporkan ke Kantor Pulau Penjara
Terapung atas kejahatan yang kalian lakukan di dunia ini."
"Oke.
Sekarang pun aku nggak berniat kabur."
"Baik.
Aku pasti akan datang."
Rio
menjawab dengan santai, dan Yui pun menundukkan kepala seolah sudah pasrah.
Namun, seakan teringat sesuatu, Yui menatap Yukuto lurus-lurus.
"Tapi
meskipun aku bilang begini, kamu pasti masih belum sepenuhnya percaya pada
kami, kan? Kalau begitu, kalau tidak keberatan… maukah kamu memotret aku dan
Amami-senpai?"
"Hah?"
"Hasegawa?"
Bukan
hanya Yukuto, Rio pun menatap Yui dengan terkejut.
"Yang
memotret Watanabe-san versi Elf itu kan akhirnya kamu, bukan? Dari laporan yang
sampai padaku, katanya dibutuhkan kamera khusus, tapi sepertinya kamu juga
menyadari sesuatu bahkan dengan kamera digital. Atau sebenarnya tidak
begitu?"
"Soal
itu, aku sendiri juga belum benar-benar paham… tapi foto yang bisa menangkap
wujud asli Watanabe-san, sejauh ini hanya yang kuambil dengan kamera film yang
sekarang dipegang Kotaki-san."
"Tolong.
Dengan kamera itu, potretlah Amami-senpai. Untuk Amami-senpai sekarang, itu
adalah hal yang paling penting. Demi penaklukan Raja Iblis… demi mengalahkan
Mabuchiyama Ouka."
Melihat
keseriusan Yui, Yukuto merasa tidak ada kebohongan di sana. Ia melirik Fuka
sekilas; Fuka memang tampak curiga, tapi tidak berusaha menghentikan Yui.
Yukuto
menghela napas kecil, menerima kamera dari Izumi, lalu mengambil jarak satu
langkah dari Rio dan Yui.
"Ini
juga ingin kusampaikan ke Watanabe-san, tapi istilah ‘penaklukan Raja Iblis’
ini sudah terlalu sering dipakai sembarangan. Jadi nanti kalian harus
menjelaskan dengan jelas, sebenarnya kalian memakai kata itu dengan makna
apa."
Yukuto
mengarahkan lensa ke arah mereka berdua.
Di
dalam viewfinder, Rio dan Yui tampak bersinar, seperti pasangan yang
benar-benar serasi.
Kamera
itu seolah memberi tahu Yukuto bahwa mereka berdua adalah subjek foto yang
"baik".
Fenomena
yang sama persis seperti saat ia memotret ibu dan anak Watanabe. Dan justru
karena itu, Yukuto merasa sedikit kecewa.
Para
anggota klub voli yang telah selesai membereskan peralatan kini mulai mengamati
Yukuto dan yang lainnya dari kejauhan, dengan rasa ingin tahu yang
terang-terangan.
"……Senpai.
Nggak apa-apa? Dipakai di tempat yang dilihat banyak orang begini."
Mendengar
bisikan Izumi yang khawatir kamera penghancur sihir elf itu digunakan di depan
umum, Yukuto menjawab tanpa menoleh.
"Tenang
saja. Sayangnya, nggak masalah. Paling cuma bakal terdengar suara keras seperti
biasanya."
Bunyi
rana yang terdengar setelah itu seperti suara kaca bening yang pecah.
Tetsuya
dan para anggota klub lainnya menoleh ke sekeliling karena bunyi aneh yang
tiba-tiba terdengar, tapi tidak menemukan hal yang mencurigakan, dan hanya
saling berpandangan dengan wajah heran.
Sementara
itu, baik Rio maupun Yui menatap tangan dan tubuh mereka sendiri dengan
saksama—menunjukkan ekspresi lega karena tidak ada yang berubah, namun juga
seolah sedikit kecewa, sebuah perasaan yang rumit.
"Aku
akan mencucinya sebelum jam istirahat siang. Untuk detail ceritanya, mari kita
bicarakan bersama di ruang klub berkebun."
"…Ya.
Mengerti."
"Iya,
terima kasih."
Meski
begitu, pada akhirnya ekspresi Rio dan Yui tampak cerah.
◇
Di
ruang klub berkebun yang remang-remang, Izumi yang melihat foto hasil cetakan
Rio dan Yui yang diambil saat latihan pagi, mengusap matanya berkali-kali
dengan wajah tak percaya, membandingkan foto dan sosok Rio yang duduk di
depannya, lalu berteriak:
"Amami-senpai
itu elf!"
"Ah,
iya."
"Dan
cewek!!"
"Begitulah."
"Ini
yang kedua!!"
Lalu
ia memegangi kepalanya dan menelungkup di atas meja.
"Eh,
apa-apaan ini, apa-apaan ini, aku nggak ngerti. Sampai elf sih masih bisa
diterima. Soal elf aku sudah paham. Tapi perempuan itu maksudnya apa!?"
Tak
heran Izumi kebingungan, bahkan Fuka pun sampai terdiam melihat foto itu.
Di
sana terlihat seorang elf perempuan dengan telinga elf yang sedikit lebih
pendek daripada milik Fuka, serta rambut perak pendek.
Baik
dalam wujud manusia Jepang maupun elf, tubuh Fuka sama sekali tidak
berubah—yang berubah hanya bagian dari leher ke atas.
Namun
dalam kasus Rio, meskipun tinggi badannya tidak berubah, perbedaan bentuk tubuh
laki-laki dan perempuan tampak jelas sepenuhnya.
"Mau
bagaimana lagi, ya memang begitu adanya. Sama seperti Watanabe-san, akibat
sihir penyamaran, aku hidup sebagai seorang laki-laki."
"…………Standar
kesadaran hak asasi di Natche Riviera itu sebenarnya gimana sih…"
Izumi
menatap Yui yang duduk di samping Rio dengan pandangan lembap dan tajam.
Yui
di dalam foto memang jelas mengalami perubahan penampilan, tetapi perubahan itu
hanya sebatas warna rambut dan warna mata yang keduanya menjadi merah terang.
Baik
Yukuto maupun Izumi, ini adalah pertama kalinya mereka bertemu manusia dari
Natche Riviera yang bukan elf.
"Jangan
salah paham dulu, ya. Perubahan pada Ketua Amami itu sendiri sebenarnya juga di
luar perkiraan pihak yang mengelola para elf. Tapi bagaimanapun juga, semua elf
harus berada di bawah pengawasan demi rencana penaklukan Raja Iblis. Karena
itu, aku dikirim ke Jepang sebagai pengawas Ketua Amami."
"Pihak
yang mengelola, ya. Dari cara ngomongnya saja sudah terasa seperti akan
meninggalkan masalah besar di masa depan setelah penaklukan Raja Iblis
tercapai."
"Manusia
memang tidak pernah pandai mengelola sejarahnya, tak peduli dunia berubah
seperti apa pun. Kamu mengeluh ke bawahan rendahan sepertiku juga tidak akan
mengubah apa-apa."
Setelah
berkata demikian, Yui menundukkan wajahnya, tampak sedikit lelah.
"Manusia
di Bumi—dalam bahasa kami—disebut San Namu. Klan keluargaku secara historis
bekerja dekat dengan para elf. Aku datang ke Jepang setelah dewasa… ah, sejak
umur 15 tahun, lalu mengambil alih tugas pengawasan Ketua Amami dari
pendahuluku. Jujur saja, SMA Minami Itabashi itu nyaris gagal lolos, tapi aku
berhasil masuk berkat tekad keras."
"Eh?
Bukannya biasanya kursi sekolah sudah disiapkan lewat kekuatan tersembunyi atau
semacamnya?"
Mungkin
karena sudah menganggap Yui sebagai pihak lawan, sikap Izumi padanya menjadi
sangat santai.
"Kalau
manusia tidak melakukan usaha apa pun tapi malah memaksa elf untuk berusaha,
ketidakpuasan akan menumpuk dan jadi bibit pemberontakan di masa depan,
kan?"
"Hah…
ini arogan atau justru konsisten secara logika, ya…"
"Jadi,
menjawab pertanyaan awal Oki-kun. Kalau ditanya aku musuh atau sekutu San Alf,
secara posisi aku adalah musuh. Tapi dalam arti ingin mewujudkan mimpi Ketua
Amami, aku ingin berada di pihak beliau."
"Ah…
makanya setengah-setengah…"
"Dan
karena aku ingin membantu Ketua Amami, aku pasti ingin menaklukkan SMA Ouka.
Penaklukan Raja Iblis dalam arti itu harus tercapai. Dan jika itu berhasil,
maka ‘Penaklukan Raja Iblis’ yang menjadi tujuan seluruh umat manusia Natche
Riviera juga bisa berjalan paralel. Jadi dalam arti itu, penaklukan Raja Iblis
juga kuincar setengah-setengah."
"Itu!"
"Wah,
Senpai, suaramu gede banget."
Yukuto,
yang sejak tadi mendengarkan penjelasan Yui dengan tenang, langsung
mencondongkan tubuh ke depan.
"Jadi
sebenarnya, apa sih penaklukan Raja Iblis versi Natche Riviera itu? Dari
ceritanya, jelas bukan soal bawa senjata, naik level, lalu pergi mengalahkan
Raja Iblis, kan?"
"Makna
itu sih tidak sepenuhnya salah, tapi sudah sangat kuno. Atau… Watanabe-san
belum cerita apa-apa? Bukannya Oki-kun dan Kotaki-san sudah cukup dekat
sampai-sampai diundang ke Natche Riviera?"
Pemilik
ruang klub, Fuka, justru yang paling diam sejauh ini. Ia menatap Yui dengan
pandangan kesal, lalu berkata dengan nada sebal.
"…Kalau
kamu dari tim inspeksi, seharusnya kamu tahu, kan? Bahwa penaklukan Raja
Iblisku ini nggak berjalan dengan baik."
"Ya,
sedikit sih pernah kudengar…"
"Eh?
Apa? Nggak berjalan baik? Kenapa pakai nada seolah masih berlangsung
sekarang!?"
Saat
Yukuto menatap Fuka dengan penuh tanya, Fuka menundukkan wajahnya dengan malu.
"…Aku
sudah cerita ke Oki-kun, kan. Tentang nilai ujian tengah semesterku yang hancur
total."
"Ya,
aku dengar memang banyak yang bermasalah, tapi…"
"Itulah
alasan kenapa penaklukan Raja Iblisku tidak berjalan baik."
"Nah
itu dia! Bagian itunya! Aku pengen tahu hubungan di antaranya! Nggak nyambung
antara nilai sekolah yang jelek dengan penaklukan Raja Iblis! Soalnya Raja
Iblis itu kan… yang dulu bikin kerusakan besar di Natche Riviera, lalu kabur ke
Bumi, dan sekarang nggak tahu ada di mana!"
"Sampai
situ harusnya sudah kelihatan, kan?"
Yui
memotong ucapan Yukuto.
"Eh!?"
"Raja
Iblis memang tidak diketahui keberadaannya. Tapi selama belum ada bukti bahwa
dia sudah mati, para elf yang datang ke Bumi harus mempersempit jaring
pengepungan terhadap Raja Iblis dan mencegahnya mengulangi kebodohan yang dulu
ia lakukan di Natche Riviera. Karena itu—"
Yui
bergantian menatap Rio dan Fuka, lalu berkata:
"Semua
elf yang hidup di Bumi diwajibkan untuk meraih kesuksesan sosial."
Mata
Yukuto dan Izumi sama-sama membelalak.
"…diwajibkan
meraih kesuksesan sosial?"
"Betul.
Ambil contoh Ketua Amami. Kalau berhasil mengalahkan Mabuchiyama Ouka dan lolos
ke tingkat nasional, pasti media akan meliput, kan? Kalau jadi atlet tingkat
nasional, masuk tim perusahaan, bahkan jadi wakil Jepang, namanya akan terkenal
dan sering muncul di media."
"I-iya…
terus?"
"Oki-kun
tahu komedian ‘Caffeine Chuudoku’? Yang jadi peran bodoh itu elf, lho."
"Hah!?"
"Terus,
presiden perusahaan baja di Kobe yang jadi sponsor event bela diri juga
elf."
"Hahhh!?"
"Kalau
yang ini mungkin kurang terkenal di Jepang, tapi ada Aryan Shusika di liga
kriket profesional India, Jack Bronson di NHL Amerika, lalu atlet tembak
sasaran Inggris yang ikut Olimpiade Tokyo kemarin…"
"Tunggu,
tunggu, tunggu. Tunggu dulu. Eh? Tunggu!?"
"Serius
deh, ini malah kebanyakan olahraga yang nggak populer di Jepang."
"Kotaki-san,
kamu harus minta maaf ke orang-orang olahraga itu. Bukan itu maksudku—yang mau
kutanya itu… jadi artinya begini?"
Yukuto
merangkum semua yang ia dengar, lalu terkejut.
"Semua
elf jadi terkenal di Bumi, sering muncul di media, dan dengan begitu memberi
tekanan ke Raja Iblis yang nggak diketahui keberadaannya!? Berarti itu ya, arti
penaklukan Raja Iblis di era sekarang!?"
"Tepat
sekali. Lama juga kamu nangkapnya. Kukira kamu lebih peka, Oki-kun."
"Mana
mungkin bisa langsung peka dengar cerita kayak gini!"
Yukuto
berteriak sambil memegangi kepalanya.
"Tunggu,
berarti… Watanabe-san menyebut belajar sebagai penaklukan Raja Iblis itu
maksudnya…!"
"…………Kalau
sampai harus tinggal kelas dan terlambat terjun ke masyarakat, di kalangan elf
itu posisinya jadi cukup sulit. Dalam konteks penaklukan Raja Iblis, itu
dianggap buruk."
Pemilik
ruang itu berbicara seakan sedang membeberkan aib hidupnya sendiri.
"Elf
yang masih pelajar wajib melaporkan nilai mereka secara berkala ke kampung
halaman. Jadi… gara-gara nilai ujian tengah semesterku, aku dimarahi ibu dan
juga dimarahi perwakilan desa."
Mendengar
sistem yang terasa seperti neraka ganda bagi pelajar, Yukuto tanpa sadar
menahan napas.
Sudah
cukup menyiksa jika orang tua tahu nilai kita turun, apalagi sampai ditegur di
forum resmi—itu sungguh tak terbayangkan.
"…Saat
laporan bahwa keluarga Watanabe berhasil mematahkan sihir penyamaran muncul,
sebenarnya sempat ada usulan untuk memulangkan Fuka Watanabe ke Ierefu dan
memberinya program pendidikan ulang."
"Sampai
segitunya…"
Fuka
terkejut membayangkan hukuman yang hampir dijatuhkan padanya.
"Lalu
kebetulan aku yang sedang bertugas mengawasi Ketua Amami diberi perintah untuk
mengaudit Watanabe-san. Terus terang saja, divisi pengawas elf selalu
kekurangan orang, jadi satu orang merangkap banyak tugas itu biasa. Karena aku
kebetulan sekolah di tempat yang sama, aku diperintahkan untuk mengawasi
Watanabe-san sekaligus, dan kalau kesadarannya terhadap penaklukan Raja Iblis
terlalu rendah, aku harus melaporkan aktivitasnya dan memproses
pemulangannya."
"Kalau
benar-benar sampai dijatuhi hukuman itu… apa yang akan terjadi pada
Fuka-chan?"
"Tergantung
tingkatnya. Bisa dianggap cuti sekolah dan dipulangkan sementara, atau… jejak
keberadaannya di dunia ini dihapus sepenuhnya."
"Serius…"
"Nggak
mungkin…"
Yukuto
dan Izumi, yang sama-sama sangat peduli pada Fuka, saling menatap dengan wajah
pucat.
"Dan
ya… melihat wajah kalian berdua seperti itu, sebenarnya aku ingin kalian
berterima kasih padaku, sih…"
"Hasegawa,
kamu ini benar-benar punya sifat yang luar biasa, ya."
Melihat
Yui yang tersenyum menyeringai, Rio menanggapinya dengan senyum kecut penuh
kelelahan.
"Aku
sibuk. Dengan pekerjaan sebagai manajer klub voli. Musim panas kali ini adalah
kesempatan pertama sekaligus terakhir bagi klub yang dipimpin oleh Kapten Amami
untuk lolos ke tingkat nasional. Aku sama sekali nggak punya waktu buat
melakukan hal-hal yang tidak perlu. Karena itu, aku menulis dokumen palsu yang
menyatakan bahwa Watanabe-san melakukan ‘penaklukan Raja Iblis’ dengan prestasi
yang diperolehnya lewat kerja sama dengan klub fotografi untuk menutupi
penurunan nilainya, lalu menyerahkan laporan bahwa pengawasan terhadap
Watanabe-san cukup dilakukan dalam bentuk observasi berkala saja."
"Prestasi
dari membantu klub kami itu maksudnya……"
"Ah!
Jangan-jangan foto Fuka-chan yang sempat naik di forum internet itu!? Itu kamu
pelakunya!?"
Saat
Izumi menunjuk Yui, Yui mengangguk dengan wajah puas.
"Kalau
dibilang tanpa basa-basi, bagi para elf saat ini, penaklukan Raja Iblis itu
intinya adalah sebisa mungkin menarik perhatian dan meningkatkan peluang
sekecil apa pun agar dilirik oleh Raja Iblis. Memang ini ekstrem, tapi
kemungkinan Raja Iblis bersembunyi di Distrik Itabashi atau SMA Minami Itabashi
itu bukan nol. Hanya dengan menyebarkan kabar bahwa ‘di akar rumput pun ada
prajurit elf’, itu saja sudah bisa disebut penaklukan Raja Iblis yang
sah."
"……Tapi
tetap saja, menyebarkan foto hasil jepretan orang lain tanpa izin itu……"
"Lalu
kamu lebih milih Watanabe-san dipulangkan paksa ke desa asalnya karena nilai
penaklukan Raja Iblisnya buruk? Perlu kuingatkan, laporan yang kubuat sudah
resmi diterima dan dinilai dapat dipercaya."
Walaupun
hal itu membuat orang bertanya-tanya apakah pihak pengawas elf benar-benar
tidak masalah dengan cara seperti itu, baik Yukuto maupun Izumi sama sekali
tidak ingin Fuka menghilang dari kehidupan mereka, jadi mereka menelan
kata-kata mereka sendiri.
"……Tapi
tunggu dulu. Kalau begitu, kenapa Amami-senpai sampai repot-repot mencoba
membobol rumah kami? Mungkin sekarang sudah terlambat untuk memastikan, tapi
tujuannya ini, kan?"
"Ya.
Waktu mendengar soal kamera itu dan tentang Watanabe-san dari Hasegawa, aku
sampai nggak percaya telingaku. Aku sama sekali nggak menyangka kamera itu
dititipkan ke Kotaki-san."
Rio
mengangguk sambil melirik kamera film di tangan Yukuto.
"Mungkin
kamu nggak akan percaya, tapi aku bersumpah aku tidak mencuri apa pun dari
rumahmu. Soal jendela yang rusak juga…… mungkin nggak bisa diumumkan secara
terbuka, tapi aku pasti akan menggantinya."
"Itu
tergantung pembicaraan selanjutnya sih…… tapi Hasegawa-san dan Amami-senpai kan
saling tahu situasi masing-masing. Berarti kalian juga tahu hubunganku dengan
Watanabe-san. Kalau saja kalian menjelaskan keadaannya dengan benar, aku bahkan
bisa meminjamkan kamera itu. Kenapa harus pakai cara sekeras itu……?"
"Itulah
jawaban atas pertanyaan terakhirmu kepadaku. Secara pribadi aku berada di pihak
ketua klub, tapi di saat yang sama aku juga termasuk objek pengawasan. Aku
tidak bisa secara terbuka mengakui bahwa seorang elf menggunakan alat untuk
menembus sihir penyamaran. Baik memakainya sendiri, maupun meminta izin
kepadamu agar kamu yang memakainya. Mungkin kelihatannya sepele, tapi sebagai
pengawas, kalau sampai atasan menganggap aku sengaja menutup mata atau
membiarkannya, itu masalah besar. Karena itu satu-satunya jalan keluar
adalah……"
"Entah
aku mendapatkan kamera itu tanpa sepengetahuan Hasegawa, atau Oki-kun
mengetahui jati diriku bukan dari mulutku sendiri, lalu secara sukarela
memotretku."
"Ribet
banget……"
"Aku
tidak bisa mengizinkan Kapten Amami atau Watanabe-san memakai kamera Oki-kun
untuk saling memotret atau memotret diri mereka sendiri. Tapi kalau
Oki-kun—manusia dari pihak sini—memotret siapa pun dengan kameranya sendiri,
aku tidak bisa protes, dan pihak atas Natche Riviera juga tidak bisa ikut
campur. Soal foto ibu dan anak Watanabe juga, untuk saat ini dianggap abu-abu
mendekati putih dan dibiarkan begitu saja. Alasannya karena itu dianggap
sebagai kecelakaan yang terjadi secara tidak sengaja saat kamu mengajukan foto
ke kontes. Karena itulah aku hanya bisa memberi tahu ketua klub tentang
keberadaan kamera itu. Kalau seandainya……"
Yui
menoleh ke arah Fuka.
"Kalau
Watanabe-san atau ibu Watanabe-san secara sadar meminta kamu memotret mereka
demi melihat wujud asli mereka sendiri, maka ceritanya akan berubah. Tolong
ingat itu."
Faktanya,
foto wujud elf ibu dan anak Watanabe diambil atas permintaan Watanabe Suzuka,
yang menebak fungsi kamera film milik Yukuto.
Yui
kemungkinan besar juga mencurigai hal itu, tapi karena tidak ada bukti, ia
memilih untuk membiarkannya.
"Karena
itu, soal aku membobol rumahmu pun, Hasegawa sama sekali tidak tahu—itu murni
keputusanku sendiri. Kalau kamu tidak bisa memaafkannya, kamu boleh
menyerahkanku ke polisi."
"Tunggu,
Kapten Amami! Aku sama sekali tidak berniat membuatmu melakukan hal seperti
itu……!"
"……Masalah
ini, bisa dibilang berakar dari nilai akademikku yang buruk dan kecerobohanku
terhadap Oki-kun, jadi aku tidak bisa berkata terlalu keras, tapi…… kenapa kamu
sampai bertindak sependek itu? Hasegawa-san memang bilang begitu, tapi kalau
kamu tahu aku ini elf, mungkin ada cara lain……"
Menanggapi
pertanyaan Fuka, Rio berkata dengan wajah sangat letih.
"Aku
panik…… karena waktunya sudah tidak ada. Padahal jarak ke turnamen sudah dekat,
tapi sejak awal tahun ini…… kemampuan fisikku yang tidak bergantung pada sihir,
berhenti berkembang."
"Tidak
bergantung pada sihir?"
"Dalam
masyarakat manusia di Bumi, kamu tahu kan kalau menggunakan sihir atau kekuatan
magis itu pantangan besar untuk meraih nama?"
Memang
benar—bahkan Fuka yang biasanya terlihat anggun pun memiliki kemampuan fisik
sampai bisa melompat turun tanpa ragu dari lantai dua rumah. Kalau kekuatan
seperti itu digunakan oleh elf berwujud manusia, dunia olahraga pasti akan
kacau balau.
"Tapi……
tubuh asliku adalah perempuan. Sejak tahun pertama, meskipun aku terus
berlatih, kekuatanku sulit mengejar teman-teman seangkatanku. Mengandalkan
teknik untuk menutupinya juga sudah mendekati batas. Karena itu aku ingin
setidaknya memastikan penampilan tubuh asliku sendiri…… apakah latihan beban
benar-benar memberi hasil. Apakah tubuhku benar-benar terbentuk…… memang satu
foto tidak bisa menjelaskan segalanya, tapi rasa cemas karena tidak bisa
melihat apa pun itu terlalu kuat……"
"……Ah,
begitu……"
"Aku
benar-benar ingin menang. Di turnamen musim panas……"
"Aku
bisa mengerti sih, tapi kalau memang ada begitu banyak elf yang aktif di sini,
kenapa tidak mendirikan rumah sakit yang seluruh stafnya orang Natche Riviera
yang bisa menjaga rahasia sepenuhnya?"
Pertanyaan
Izumi sangat masuk akal, namun Yui tampak sudah menduganya dan langsung
menggelengkan kepala.
"Kalau
memang ada, kami tidak akan sesusah ini. Lagipula, perubahan jenis kelamin
akibat sihir penyamaran itu belum pernah sekalipun diamati sebelumnya. Oki-kun
dan Kotaki-san pasti tahu, seharusnya seperti Watanabe-san—yang berubah hanya
wajah dan warna rambut, sedangkan postur dan rangka tubuh tidak berubah."
"Tidak
ada petunjuk soal penyebabnya?"
"Ada
beberapa kemungkinan…… tapi aku tidak bisa mengatakannya di depan Watanabe-san.
Detail soal sihir penyamaran adalah hal yang tidak boleh dibicarakan kepada
para elf."
"Ya……
masuk akal sih……"
Yukuto
menarik napas dalam-dalam berkali-kali, mencoba menata kepalanya setelah banjir
pertanyaan dan misteri yang tiba-tiba terpecahkan.
Setiap
kejadian ternyata bukan hasil konspirasi Rio dan Yui, melainkan akibat dari
tindakan masing-masing yang digerakkan oleh niat mereka sendiri sambil tetap
menghormati posisi satu sama lain.
Kasus
pembobolan rumah memang sulit dimaafkan, tapi menyentuh rahasia baru Natche
Riviera lewat Fuka juga menimbulkan perasaan yang melampaui sekadar kemarahan.
"Terakhir,
boleh aku tanya satu hal? Untuk Amami-senpai dan Hasegawa-san."
"Apa?"
"Apa
itu?"
"Kenapa
kalian begitu mencurahkan diri pada bola voli? Kalau dipikir-pikir, itu sama
sekali tidak ada hubungannya dengan misi yang kalian pikul sebagai orang Natche
Riviera, tapi kelihatannya kalian menempatkannya setara—atau bahkan lebih
berat—dari misi itu."
Rio
dan Yui saling melirik sejenak, lalu tanpa ragu menjawab dengan tegas.
""Karena
kami menyukainya.""
"……"
"Aku
tidak tahu apakah di masa depan aku bisa hidup dari bola voli. Tapi aku
benar-benar menyukainya, aku serius menjalaninya, dan itu adalah bagian dari
hidup dan masa mudaku."
"Aku
memang bukan pemain. Tapi aku bangga bisa mengatur latihan dan mendukung klub
voli dari balik layar. Mengalahkan Mabuchiyama Ouka dan melaju ke tingkat
nasional itu……"
Lalu,
seolah tanpa isyarat, Rio dan Yui saling menggenggam tangan dan berkata:
""Itu
adalah mimpi kami berdua.""
"……Aku
mengerti."
Yukuto
mengangguk besar, lalu menoleh ke arah Fuka dan Izumi.
"Aku
sih sudah bisa menerima, tapi kalau kalian berdua?"
"……Kalau
dipikir-pikir, semuanya juga berawal dari berbagai kecerobohanku."
"Kalau
aku sih, selama Fuka-chan tidak dirugikan, aku tidak keberatan."
"……Jadi
kalian mau memaafkan kami?"
Menyadari
suasana di sekitar Yukuto dan yang lain mulai melunak, Rio berkata dengan
hati-hati.
"Aku
sendiri sebenarnya ingin soal jendela itu diganti rugi, tapi yang keluar uang
itu ibuku—bahkan lebih tepatnya asuransi kebakaran—jadi mau minta ganti pun
agak susah."
"Aku
juga sejak awal memang orang dari pihak sana……"
"Selama
kalian tidak mengganggu Fuka-chan lagi dengan hal-hal yang tidak perlu."
Masih
bergandengan tangan, Rio dan Yui saling menatap, tampak sedikit lebih rileks.
"Tapi
sebagai syarat, aku punya satu permintaan untuk Amami-senpai."
"Apa
itu? Selama aku bisa melakukannya, apa pun akan kulakukan."
"Klub
fotografi sekarang sedang mengambil foto untuk diajukan ke kontes baru. Tidak
perlu sering-sering, tapi maukah senpai datang sesekali ke klub fotografi dan
menjadi model? Aku rasa itu juga bisa jadi penyegaran buat senpai, dan pada
akhirnya membantu penaklukan Raja Iblis."
Rio
sempat merenungkan makna kata-kata Yukuto, lalu tersadar dan menoleh ke Yui.
"Kalau
ketua klub punya waktu, seharusnya tidak masalah, kan? Selama tidak mengganggu
latihan kami, aku tidak punya alasan untuk melarang."
Yui
menjawab dengan nada yang sengaja dibuat dingin.
Rio
menghembuskan napas panjang, lalu menatap Yukuto.
"Terima
kasih. Benar-benar keputusan yang tepat menghubungi klub fotografi…… maksudku,
Ketua Oki."
Rio,
Yui, dan Yukuto kemudian pergi menemui guru pembina klub voli, Gotou-sensei,
untuk membahas foto-foto yang diambil pada hari pertama dan pagi itu.
Sementara
itu, dengan sisa waktu istirahat makan siang yang tinggal sedikit, Fuka
diam-diam menyuapkan bekalnya ke mulut.
"Fuka-chan
kelihatannya belum sepenuhnya puas?"
Menanggapi
pertanyaan Izumi, Fuka menjawab tanpa menghentikan gerakan sumpitnya.
"Menurutku
itu sudah jalan tengah yang cukup baik. Aku sendiri juga merasa bersalah soal
nilai akademikku, dan pada akhirnya posisi ibu juga terbantu oleh Hasegawa-san.
Alasan Oki-kun berkata seperti itu ke Amami-senpai juga intinya karena—selama
di suatu tempat di Jepang yang tidak diketahui Hasegawa-san Oki-kun memotret
Ketua Amami, apa pun tujuannya, itu bukan urusan Hasegawa-san. Dan untuk
Amami-senpai, cara itu memang paling baik untuk memastikan status tubuhnya
secara akurat."
"Kalau
begitu, apa yang bikin kamu tidak puas? Sejak para senpai pulang, kamu
kelihatan cemberut terus."
"…………Aku
nggak mau bilang."
"Hah?"
"Keluhan
ini seharusnya kusampaikan langsung ke Oki-kun. Tapi aku juga nggak mau
dianggap sebagai orang yang manja cuma karena bilang hal seperti ini."
"Jadi
sebenarnya kamu tidak mau memaafkan dua orang dari klub voli itu? Tadi memang
terasa seperti para senpai yang seenaknya menyimpulkan semuanya."
"Bukan
begitu. Cuma…… sedikit saja, rasanya mengganjal."
"Apaan
sih, nggak jelas banget."
Wajar
saja kalau ia merasa mengganjal. Bahkan dari sudut pandang Fuka, cara Yukuto
membawa pembicaraan tadi adalah solusi terbaik yang bisa dipikirkan.
Karena
itu—
"Seharusnya,
modelnya Oki-kun itu cuma aku saja……"
"Hah?
Apa?"
"……Tidak
apa-apa. Namanya juga nasi sudah jadi bubur. Aku cuma kepikiran, kalau saja aku
lebih serius berusaha soal penaklukan Raja Iblis, mungkin hasilnya akan
berbeda."
"Ngapain
sih kamu bicara setengah-setengah begitu, Fuka-chan. Kamu itu sebenarnya mau
curhat atau nggak sih?"
"Aku
nggak nyirat apa-apa kok."
"Duh……
Oh iya, tapi ngomong-ngomong, ada satu hal dari pembicaraan tadi yang juga
bikin aku kepikiran. Soal penaklukan Raja Iblis versi Hasegawa-senpai."
"……Apa?"
"Katanya,
dengan berpura-pura jadi manusia dan terkenal di sini, itu bisa memberi tekanan
ke Raja Iblis, kan? Tapi bukankah itu aneh?"
"Aneh
di mana?"
Izumi
mengambil ponsel yang ada di atas meja, menyalakan kamera, lalu mengarahkannya
ke Fuka.
Yang
terlihat di layar bukanlah elf, melainkan Watanabe Fuka—seorang gadis Jepang
biasa.
"Entah
foto atau video, yang terekam kan selalu wujud manusia di sini. Dengan begitu,
bahkan Raja Iblis pun tidak akan tahu siapa yang elf dan siapa yang bukan,
kan?"
"Ah……
soal itu? Oh iya, aku memang belum pernah cerita ke Izumi-chan ya."
Fuka
menjawab dengan nada yang sama sekali santai.
"Pernah
terpikir nggak, kenapa Raja Iblis bisa menimbulkan bencana besar sampai layak
disebut Raja Iblis di Natche Riviera, dengan banyak korban jiwa? Di dunia itu,
bukan cuma elf—manusia pun bisa menggunakan sihir."
"Ah……
ya, kalau dipikir normal sih, mungkin dia bisa pakai sihir paling kuat, kebal
senjata api, dan jago bela diri atau semacamnya?"
"……Mungkin
memang ada unsur seperti itu, tapi sebenarnya ceritanya jauh lebih
sederhana."
Dengan
suara pelan, Fuka melanjutkan.
"Sebenarnya,
Raja Iblis itu……"
Dan
fakta yang diungkapkan membuat Izumi cukup terkejut.
"Itu
berarti…… eh, bukankah itu sama dengan kita—bahkan lebih dari itu? Kenapa
bisa……"
"Itu
tidak ada yang tahu. Tapi justru karena itu, meningkatkan posisi sosial elf di
masyarakat manusia Bumi memiliki arti……"
Saat
Fuka hendak melanjutkan,
"Permisi.
Watanabe-san, kamu masih di sini?"
Pintu
diketuk, dan Yui—yang seharusnya sudah pergi tadi—masuk kembali.
"Oh,
Hasegawa-san. Diskusinya sudah selesai?"
"Nyaris
tidak ada peranku. Gotou-sensei langsung menyetujui semua foto Oki-kun, dan
sisanya diserahkan pada Ketua Amami dan Oki-kun untuk menentukan
detailnya."
"Begitu
ya…… lalu ada keperluan apa?"
"Iya.
Soalnya kami—atau lebih tepatnya klub voli—sudah banyak merepotkan. Dan aku
berpikir, mungkin saja, setelah pembicaraan tadi pun, Watanabe-san masih ada
hal yang belum kamu terima. Wajahmu kelihatan begitu."
"……"
"Hasegawa-senpai,
kamu sering dibilang punya kepribadian menyebalkan nggak?"
"Kadang-kadang
sih. Tapi meski kelihatannya begini, aku cukup akrab dengan tim voli putri,
kok. Ngomong-ngomong, Watanabe-san, aku punya sedikit konsultasi—atau tepatnya,
sebuah usulan."
"Usulan?"
"Iya.
Soal pembicaraan tadi, banyak bagian dari pencapaian penaklukan Raja Iblis
milikmu yang sebenarnya aku karang. Aku memang merasa bersalah karena
menyebarkan karya Oki-kun tanpa izin, tapi demi penilaianku sendiri ke
depannya, kalau dibiarkan seperti sekarang, bisa jadi aku dan kamu sama-sama
akan kembali dipertanyakan soal prestasi. Karena itu, aku ingin memperkuat
rekam jejak di bagian itu dengan benar."
"Maksudmu
apa? Kamu mau menyuruhku melakukan sesuatu?"
"Kalau
disederhanakan, ya begitu. Tapi menurutku ini bukan tawaran yang buruk—baik
untukmu, maupun untuk Oki-kun dan klub fotografi."
Melihat
Yui yang begitu percaya diri, Fuka dan Izumi saling berpandangan dengan
ekspresi heran.
◇
"Gimana?
Menurutku tidak buruk, kan?"
"Ya…
kalau dibilang buruk atau tidak, sih sebenarnya tidak buruk, tapi……"
Melihat
sikap Yui yang begitu penuh percaya diri, Yukuto tak bisa menyembunyikan
kebingungannya.
"Ini…
situasi apa, sih?"
Di
hadapan Yukuto berdiri Fuka, mengenakan baju olahraga, rompi latihan (bibs),
sambil memegang bola voli.
Kalau
cuma itu saja sebenarnya tidak masalah. Masalahnya adalah tempat ini bukan
sekolah, melainkan sebuah studio sewaan untuk pemotretan yang berada di dalam
wilayah distrik.
Kalau
hanya namanya, Yukuto juga pernah mendengar nama studio ini—studio yang cukup
mahal, dengan pencahayaan alami yang sangat bagus, seluruh interiornya dari
langit-langit, dinding, sampai perabot, semuanya serba putih.
Pemotretan
klub voli sendiri berjalan lancar dan tinggal selangkah lagi sebelum semua foto
yang dibutuhkan terkumpul.
Di
tengah situasi itu, Yukuto dan Izumi dipanggil secara terpisah oleh Yui ke
studio ini. Dan di sana, seorang elf "bernuansa klub voli" sedang
menunggu dengan wajah merah padam.
Kalau
hanya melihat Fuka dalam wujud elf mengenakan baju olahraga, Yukuto sudah
sering melihatnya, dan biasanya Fuka pun tidak akan semalu ini.
Masalahnya
jelas—pakaian yang dipakaikan padanya lebih kecil dari ukuran yang seharusnya
ia kenakan, sehingga di beberapa bagian terlihat terlalu terbuka.
Terus
terang saja, pakaian itu menonjolkan pinggang dan paha dengan gaya ala foto
gravure.
"Fuka-chan…
bagus banget! Hasegawa-senpai, aku boleh motret Fuka-chan di sini!?"
"Tunggu!
Kotaki-san, tunggu!"
"Hasegawa-san!
Ini maksudnya apa sih sebenarnya!?"
Izumi
tampak sudah tak bisa menahan kegembiraannya, sementara Yukuto hanya bisa
kebingungan.
Soalnya
jelas-jelas terlihat bahwa Fuka sendiri belum siap secara mental untuk difoto
dalam kondisi seperti ini.
"Ini
penaklukan Raja Iblis!"
"Jangan
pikir aku bakal langsung nerima cuma karena kamu bilang ‘penaklukan Raja
Iblis’!"
"Aku
tidak berbohong. Ini bahan tambahan untuk audit. Prestasi ‘penaklukan Raja
Iblis’-nya Watanabe-san dalam arti nilai akademik tidak bisa langsung membaik,
kan. Selama kita tidak tahu kapan tim inspeksi akan mempersoalkannya, lebih
baik punya sebanyak mungkin bukti bahwa Watanabe-san memang benar-benar
‘menaklukkan Raja Iblis’. Oh, soal uang jangan khawatir! Hari ini semua biaya
studio aku yang tanggung!"
"Justru
itu aku nggak ngerti! Kenapa jadinya harus pemotretan di studio kayak
gini…!?"
"Kamu
kurang peka ya, Oki-kun! Dia sudah pernah dinilai secara resmi sebagai model
dalam sebuah kontes foto, kan? Kalau begitu, kita tinggal bilang saja kalau dia
‘bercita-cita menjadi model’, dan alasan penaklukan Raja Iblis-nya jadi masuk
akal."
"E-eh…?"
"Aku
sudah dengar, kok, klub fotografi kalian mau menargetkan apa di kontes
berikutnya. Katanya temanya soal seragam, ya?"
"Memang
sih, tapi…!"
"Kalau
di sini, Watanabe-san bisa dipakaikan seragam apa saja sesuka hati!"
"B-bentar
dulu, Hasegawa-san. Bukan begitu maksudnya. Kamu salah paham! Kontes berikutnya
itu justru menganjurkan memotret sisi alami para siswa, bukan pemotretan studio
yang terlalu dibuat-buat seperti ini…"
"Justru
kamu yang salah paham. Aku tidak menyuruhmu memotret foto untuk kontes di sini.
Aku menyuruhmu melatih Watanabe-san sebagai model."
"H-hah!?"
"Aku
akan bicara terus terang. Inspeksi terhadap ibu dan anak Watanabe sudah
selesai, untuk sementara. Tapi soal kamera yang kamu pegang itu, keputusannya
masih ditunda. Memang sudah pernah ada kasus orang Bumi tanpa sengaja
mendapatkan produk sihir buatan Natche Riviera, tapi punyamu itu berpotensi
menimbulkan niat permusuhan dari San Alf terhadap San Namu."
"Ti-tidak
mungkin…"
"Itu
mungkin. Fakta bahwa kamu terus memotret Watanabe-san dengan kamera itu harus
dibingkai sebagai sesuatu yang diperlukan—demi kesuksesanmu sebagai fotografer,
dan demi penaklukan Raja Iblis-nya Watanabe Fuka. Mulai hari ini, kita akan
membangun rekam jejak yang menanamkan kesan itu. Lagipula, belum tentu kamu
bisa menang atau masuk peringkat di kontes berikutnya, kan? Ini juga demi
melindungi kondisi kalian berdua sekarang. Karena itu, Watanabe-san pun datang
ke sini hari ini dengan kesadaran penuh."
"E-eh…
begitu ya, Watanabe-san…?"
"I-i-iya,
Oki-kun… hari ini aku juga sudah menyiapkan diri kok…!"
Melihat
suara Fuka yang jelas bergetar dan tatapan matanya yang tidak fokus—jelas tanda
belum benar-benar siap—Yukuto menghela napas panjang.
"……Oke.
Aku paham. Aku paham sih, tapi… bolehkah bajunya diganti?"
"Eh!?
Kenapa!?"
Izumi
memprotes, tapi Yukuto menghentikannya hanya dengan tatapan mata.
"Kalau
Watanabe-san mau berlatih sebagai model, aku ingin memotret Watanabe-san yang
seperti biasanya. Itu juga akan lebih baik untuk Watanabe-san sendiri."
"Eeh~
masa sih?"
Kali
ini Yui juga terdengar tidak puas, tapi Yukuto tidak menggubrisnya.
"Watanabe-san,
untuk sementara ganti saja ke seragam sekolah. Lalu latarnya pakai dinding
putih itu—yang tidak ada sofa, tidak ada jendela."
"A-aku
boleh ganti baju…?"
"Iya.
Tolong. Soalnya kalau tetap begitu… agak susah untuk dilihat langsung."
"Oki-kun…
baiklah. Kalau begitu…"
Fuka
bergegas menuju ruang ganti di dalam studio, lalu kembali dengan seragam
sekolahnya setelah berganti secepat mungkin.
"Yup.
Jauh lebih baik. Watanabe-san, aku mau ambil foto seluruh badan. Bisa berdiri
membelakangi dinding?"
"Seperti
ini?"
"Selangkah
ke depan. Kalau bayangannya terlalu jatuh di dinding, hasilnya jadi terlihat
datar. Ya, di situ. Sekarang, berdirilah dengan pose yang ‘terasa seperti
siswa’."
"P-pose
siswa… begini, ya?"
Diberi
tema seperti itu, Fuka berdiri dengan pose seperti di brosur panduan sekolah
untuk SMP—sikap siap, tangan dikepalkan ringan di samping tubuh, ujung kaki
sedikit terbuka, berdiri miring menghadap kamera.
"……G-gimana?"
Menanggapi
pertanyaan Fuka, Yukuto tidak langsung menjawab, melainkan melemparkannya ke
Izumi dan Yui.
"Menurut
kalian berdua gimana?"
"……Entah
kenapa terasa hambar."
"Sama
dengan Kotaki-san."
"Eh,
eeh!? Bukannya kelihatan seperti pelajar?"
"Kalau
buat pamflet panduan sekolah sih, nilainya sempurna. Tapi kalau ini dianggap
sebagai latihan Watanabe-san sebagai model hari ini, ceritanya jadi beda sama
sekali. Watanabe-san, kamu pernah lihat siswa di sekolah yang berpakaian
seperti itu?"
"Eh?
……Ah."
"Ya.
Saat seorang fotografer ingin memotret model, ‘kesan pelajar’ yang dicari itu
bukanlah ‘siswa dengan penampilan yang mustahil ada di dunia nyata’ seperti
yang diinginkan sekolah, orang tua, atau dinas pendidikan. Yang ingin aku foto
adalah sosok pelajar yang hidup dan bersemangat, yang menurut si model sendiri
bisa menampilkan daya tariknya secara maksimal."
"……E-eh……
maksudnya itu……?"
"……Jadi,
kalau dibilang secara blak-blakan……"
Melihat
Fuka yang tampak kebingungan, Yukuto menahan rasa malu yang belum sepenuhnya
bisa ditekan hanya dengan profesionalisme, lalu berkata,
"Aku
ingin postur berdiri ‘ala pelajar’ yang membuat Watanabe-san terlihat paling
imut. Tentu saja, bukan berarti harus memakai baju yang dipaksakan seperti tadi
atau memperlihatkan kulit secara berlebihan."
"S-sekalipun
kamu bilang begitu, aku sendiri tidak pernah merasa kalau diriku
menarik……"
Setiap
orang pasti pernah berpikir, mungkin bagian penampilannya ini atau itu adalah
kelebihannya.
Namun,
meski bukan hanya Fuka, kebanyakan orang tidak merasa bahwa penampilannya
berada di atas rata-rata, dan juga sulit untuk mengatakan atau bahkan
memikirkan bahwa dirinya imut atau menarik di depan orang lain.
Pada
kenyataannya, daya tarik seseorang justru sering kali lebih disadari oleh orang
lain.
"……Kalau
begitu, sekalian kita ulangi pelajaran kemarin, ya. Kotaki-san."
"Hah?
Tiba-tiba apa? Ulangan apaan?"
"Sedikit
trik agar orang yang tidak mengenal karakter ‘Watanabe Fuka’ pun bisa
menganggap fotonya bagus—bukan sekadar ‘gadis imut berseragam’ saja."
"Ah……!"
"Itu
berarti……"
"Eh?
Ini ngomongin apa sih?"
Fuka
dan Izumi tersentak mendengar kata-kata Yukuto, sementara Yui yang tidak paham
sama sekali hanya memiringkan kepalanya kecil.
"Kotaki-san,
bisa tolong ambilkan bunga lily putih buatan yang ada di atas bangku itu dan
berikan ke Watanabe-san? Ya. Itu. Lalu, Watanabe-san…… eeh, begini."
Sambil
sedikit tegang menghadapi wajah Fuka yang kebingungan saat menerima bunga lily
buatan itu, serta tatapan penuh harap Izumi dan Yui yang belum memahami
efeknya, Yukuto berkata,
"Coba
berpose seolah-olah kamu hendak memberikannya padaku, lalu ulurkan ke arah
sini."
"Eh,
i-iya. Umm……"
Fuka
yang terus-menerus gugup mencoba mengambil pose sesuai arahan.
"Untuk
Oki-kun…… bunganya……"
Karena
pose yang diminta adalah situasi yang belum pernah ia alami seumur hidupnya,
rasa malu dan tegang tak bisa ia sembunyikan, membuat senyumnya menjadi kaku.
"Seperti…
ini?"
Meski
begitu, saat ia menatap mata Yukuto dengan lurus—
"……"
"E-eh,
Oki-kun?"
"A-ah,
m-maaf. Untuk sekarang, aku ambil satu foto dulu, ya."
Yukuto
yang tampak kehilangan kesadaran sesaat itu tidak mengintip melalui viewfinder
kamera DSLR-nya, melainkan menekan tombol rana sambil melihat layar, lalu
menunjukkan foto yang diambil kepada Izumi dan Yui.
"Ah……
jadi begitu maksudnya."
Izumi
bergumam seperti orang yang tersadar sesaat, dan Yui pun mengangguk
berkali-kali tanpa berkata apa-apa.
"A-apa
maksudnya!? Gimana maksudnya!?"
Wajah
Fuka sudah memerah sambil menjerit.
"Lihat
kan? Dibanding cuma meniru penampilan gravure dan mengambil pose aneh, ini jauh
lebih bagus, kan?"
"Iya.
……Iya. Bagus. Bagus banget! Rasanya seperti, ‘ini adegan pengakuan cinta ya?’
atau ‘bunga yang dirawat dengan penuh perhatian,’ atau ‘momen ini sendiri, dan
juga soal bunganya,’ entah gimana menjelaskannya, tapi terasa kalau dia
benar-benar berusaha keras. Hal-hal sepertiitu jadi bisa dibayangkan. Dan objek
perasaannya itu……"
Wajah
Izumi yang sampai beberapa saat lalu tampak terpukau mendadak berubah, dan ia
menatap Yukuto dengan sorot mata seperti wajah patung oni yang marah.
"Kalau
objeknya itu senpai memang terasa bersalah sih… tapi ya mau bagaimana lagi. Ini
aku maafkan!"
"Izumi-chan!?"
"Benar
juga. Aku yang tidak terlalu paham soal fotografi pun bisa langsung tahu kalau
ini foto yang bagus. Ini tidak bisa langsung dipakai untuk lomba?
Oki-kun?"
"Latar
belakangnya terlalu jelas studio, dan meskipun kedalamannya lebih terasa
dibanding sekadar meniru pose gravure, tetap saja ini belum sampai level foto
yang bisa bersaing di kontes. Tapi setidaknya dengan ini, Kotaki-san jadi paham
kan, kalau bukan cuma soal meniru pose gravure saja?"
"Ugh,
menyebalkan. Aku jadi dipaksa mengerti."
"Apa
sebenarnya yang sedang terjadi!? Aku sudah boleh melepas pose ini belum!?"
Fuka
yang dibiarkan terus berpose setelah satu foto diambil akhirnya mencapai
batasnya. Ia terengah-engah seperti habis lari jarak pendek, lalu terjatuh
terduduk di tempat, sementara Yui berjongkok di sampingnya dengan senyum yang
terlihat agak usil.
"Oki-kun
benar-benar paham daya tarik seorang model, ya."
"Hah…
hah… maksudnya apa?"
"Ya
sesuai artinya. Padahal seharusnya aku dan dua orang itu melihat Watanabe-san
dengan cara yang berbeda, tapi aku cukup terkejut."
Karena
Yui tidak bisa melihat wujud elf Fuka, yang ia lihat seharusnya hanyalah Fuka
dalam wujud orang Jepang.
Namun
demikian, Izumi dan Yui—yang bisa melihat wujud elf—sama-sama merasakan daya
tarik dari pose Fuka pada saat yang sama.
Menanggapi
komentar Yui, Yukuto mengalihkan pandangannya dari Fuka dengan wajah agak malu.
"Kalau
aku memotret Watanabe-san, hasilnya memang pasti jadi wujud orang Jepang… tapi
bahkan dalam wujud elf pun, kualitasnya seharusnya tidak kalah."
"Kalau
Fuka-chan menyodorkan bunga sambil berwajah seperti itu, aku yakin bisa keluar
uang sepuluh ribu yen untuk membelinya."
"Izumi-chan,
itu berlebihan deh."
"Tapi
kalau sampai bisa membuat Kotaki-san berpikir begitu, bukankah itu berarti foto
ini benar-benar berhasil menonjolkan daya tarik Watanabe-san sebagai seorang
pelajar? Dan mungkin saja—meski tak perlu diucapkan—bagi Oki-kun sendiri, pose
ini juga termasuk pose favoritnya."
"……Hasegawa-san,
bisa nggak jangan bilang hal seperti itu?"
Ia
tak bisa menyangkalnya, tapi mendengarnya di depan Fuka membuat Yukuto tak tahu
harus menaruh muka di mana.
Bagaimanapun
juga, ini sama saja dengan membuat gadis yang sudah ia nyatakan perasaan itu
berpose sesuai seleranya sendiri dan merasa puas karenanya.
Kalau
dilihat oleh orang lain, ia pantas saja dituding dengan ketajaman seperti
pisau.
Meski
begitu, sebagai seorang fotografer, ia tak bisa menahan diri untuk tidak
mengeluarkan daya tarik model semaksimal mungkin.
Justru
karena tempat ini disiapkan tanpa persiapan khusus, ide inilah yang terlintas
di benaknya.
"……Buatku,
gambaran penuh tubuh Watanabe-san yang paling menunjukkan daya tariknya sebagai
pelajar tetaplah sosoknya saat berusaha keras di klub berkebun. Jadi… kalau
hari ini disebut sebagai latihan model, bagaimana kalau kita memotret dengan
membayangkan hal itu?"
"I-iya……
anu…… m-mohon bantuannya……"
Di
dalam ruangan putih itu, wajah mereka berdua sudah sama-sama memerah dan tak
mungkin lagi disembunyikan—bahkan tak bisa dicegah agar Izumi dan Yui tidak
menyadarinya.
"Hasegawa-senpai.
Terima kasih sudah memanggilku."
"Ah,
tidak masalah sih, tapi kenapa tiba-tiba?"
"Soalnya
kalau nanti aku tahu Fuka-chan dan senpai melakukan hal seperti ini berdua di
ruang tertutup, mungkin aku sudah menusuk senpai di jalan malam."
"Padahal
katanya mereka belum pacaran, ya? Sulit dipercaya."
"Senpai!
Sampai kapan mau terus senyum-senyum begitu! Gantian! Sekarang giliran aku yang
akan membuat Fuka-chan berpose paling menarik menurut versiku! Kalau perlu,
keluar saja! Dasar mesum!"
"Hah!?
Apaan sih tiba-tiba!"
Izumi
mendecakkan lidah ke arah Yui sekali, lalu seolah menata perasaannya kembali,
ia langsung menyerang Yukuto dengan kata-kata.
Yui
mengantar pemandangan itu dengan senyum pahit, lalu menyapa ketiganya.
"Aku
tunggu di luar saja. Nanti tunjukkan hasil akhirnya untuk bahan, ya. Foto
Watanabe-san dengan imut pakai berbagai kamera."
"A-anu!
Hasegawa-san!"
Suara
Fuka menghentikan Yui yang hendak keluar.
"……Terima
kasih."
"Dari
Watanabe-san, sebenarnya aku tidak melakukan sesuatu yang perlu diucapkan
terima kasih, tapi… sama-sama."
Yui
menerima ucapan terima kasih Fuka—yang penuh dengan perasaan rumit—dengan
melambaikan tangan, lalu meninggalkan studio.
Begitu
Yui melangkah keluar, apa pun kamera yang dipakai Yukuto untuk memotret Fuka di
dalam sudah bukan urusannya lagi.
Namun,
merasa bahwa ia tidak pantas menerima ucapan terima kasih itu juga merupakan
perasaan jujur Yui.
Beberapa
saat setelah Yui berada di luar, terdengar dua kali suara yang familiar,
seperti bunyi kaca pecah. Mungkin Yukuto menggunakan kamera itu untuk memotret
wujud sejati Fuka.
Untuk
saat ini Yui memilih berpura-pura tidak melihatnya, tetapi tetap merasa perlu
mengamati perkembangannya—tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
Hal
itu juga perlu demi memastikan aktivitasnya dan Rio sebagai anggota klub voli
tidak terganggu.
Kamera
yang bisa menembus sihir penyamaran, dan sang fotografernya.
Awalnya
ia mengira hanya kamera itulah yang menyimpan rahasia. Namun insiden di mana
kamera DSLR menampilkan wujud Yui, Rio, dan Fuka sebagai orang Jepang dalam
bentuk noise, lalu secara tak langsung membongkar jati diri Rio sebagai elf
perempuan, bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan.
Demi
masa depan dirinya dan Rio, Yui merasa punya kewajiban untuk menelusuri lebih
jauh Yukuto, kamera film miliknya, serta mata yang mampu melihat wujud sejati
Watanabe Fuka.
"Kalau
Oki-kun itu Mata Raja Iblis… pemilik mata iblis yang bisa mematahkan semua
sihir… mana mungkin…"
Di
lorong studio yang berpendingin udara itu, tak seorang pun mendengar gumaman
Yui.
◇
"Ngomong-ngomong,
menurutmu kenapa Raja Iblis sampai menyebabkan bencana besar sekelas ‘Raja
Iblis’ di Natche Riviera, sampai begitu banyak orang jadi korban? Ini dunia di
mana bukan cuma elf, manusia pun bisa memakai sihir."
"Ah……
kalau dipikir secara normal sih, mungkin karena dia bisa memakai sihir yang
jauh lebih kuat dari siapa pun, tubuhnya kebal terhadap senjata api, dan
kemampuan bela dirinya juga gila-gilaan, semacam itu?"
Jawaban
Izumi sebenarnya juga sudah diperkirakan Fuka.
Pertanyaan
ini pernah diajukan ibunya kepada Fuka ketika ia belajar tentang penaklukan
Raja Iblis, dan saat itu pun Fuka sampai pada jawaban yang sama seperti Izumi.
"……Mungkin
unsur-unsur seperti itu memang ada, tapi sebenarnya ceritanya jauh lebih
sederhana."
Fuka
mengatakannya dengan tenang.
"Sebenarnya,
Raja Iblis itu……"
Melihat
Izumi menahan napas, Fuka pun menyampaikan sebuah fakta yang di kalangan elf
sudah terlalu umum—sampai-sampai justru tak lagi dianggap penting oleh siapa
pun.
"Raja
Iblis itu…… konon memiliki ‘Mata Iblis’ yang meniadakan semua sihir. Karena
itu, sihir penyamaran tidak bekerja pada Raja Iblis. Bukan hanya saat bertemu
langsung, tapi bahkan sosoknya yang terekam dalam foto atau video pun dikatakan
tetap terlihat sebagai elf."
"Itu
berarti…… eh, tapi itu sama seperti aku dan senpai—atau bahkan lebih hebat
lagi. Kenapa……?"
"Itu,
tidak ada seorang pun yang tahu."
◇
"Sudah
dua ratus tahun sejak Raja Iblis melarikan diri ke Bumi. Walaupun disebut Raja
Iblis, elf tetaplah elf. Meski kecil kemungkinan……."
Yui
bersandar pada dinding studio sambil menatap langit-langit.
"Ada
kemungkinan juga, kan, kalau Mata Iblis Raja Iblis itu diwariskan ke manusia di
dunia ini."
─ Bersambung ─



Post a Comment