Chapter 9
Membasmi Iblis
Para bawahan di
wilayah Kruck menyeringai senang saat melihat Noah memutuskan untuk terjun
langsung membasmi iblis.
Bagi mereka, ini
adalah masalah menahun yang bahkan tidak bisa diselesaikan oleh penguasa
sebelumnya maupun diri mereka sendiri.
Iblis-iblis itu
memiliki tubuh yang luar biasa besar dan tenaga raksasa yang sanggup mengangkat
seekor gajah dengan mudah.
Para prajurit
biasanya langsung gemetar ketakutan dan lari terbirit-birit hanya dengan
melihat wujud mereka.
Sekuat apa pun
Ophelia sebagai seorang wanita, dia tidak mungkin bisa menang melawan monster
sungguhan. Begitulah pikir mereka.
Jika Ophelia
gagal membasmi iblis dan harga diri Noah hancur, maka penguasa muda yang sok
tahu itu akan semakin terdesak. Pasti akan ada desertir dari kalangan militer
juga.
Jika itu terjadi,
kembalinya kekuasaan mereka sudah di depan mata. Para menteri senior Kruck pun
menunggu dengan penuh harap agar Ophelia pulang membawa kegagalan yang
mengenaskan.
◆◇◆
Setelah kepergian
Ophelia, Noah fokus membangun sistem pertahanan dan menangani wilayah Luke.
Pertama, sebagai
pertahanan, ia menempatkan 2.000 prajurit di Kastil Kruck untuk berjaga secara
bergantian. Ini secara praktis merupakan deklarasi keadaan darurat.
Personel yang
dipilih terutama adalah mereka yang telah mengikuti Noah sejak awal ia menjabat
di Arcloy. Sedangkan prajurit yang baru direkrut dari Kruck, semuanya
dimasukkan ke dalam unit pembasmi iblis di bawah komando Ophelia.
Langkah
ini diambil agar para menteri senior tidak bisa melakukan makar di balik layar.
Mereka diawasi ketat oleh
penjaga selama 24 jam penuh, praktis berada dalam status tahanan rumah.
Noah menunjuk
orang-orang dengan nilai kesetiaan dan kepercayaan tinggi sebagai komandan
pertahanan. Sebaliknya, mereka yang memiliki nilai ambisi, keberanian, atau
muslihat yang tinggi dikirim ke unit pembasmi iblis atau dijauhkan dari pos-pos
pertahanan vital.
Selain itu, di
titik kunci Luinika, ia membangun pos pertahanan yang mampu menampung sekitar
1.000 orang.
Dengan ini, jika
ada invasi mendadak dari wilayah lain, mereka bisa bertahan setidaknya selama
satu bulan. Dalam kurun waktu itu, Ophelia dan pasukan utamanya pasti sudah
bisa kembali ke Luinika dengan leluasa.
Menghadapi
pemberontakan rakyat, Noah memilih pendekatan persuasif. Ia menanyakan langsung
kepada beberapa tokoh sentral tentang alasan mereka mengamuk dan mencoba
melarikan diri dari wilayah Kruck.
Ternyata, mereka
termakan rumor tak berdasar. Kabarnya, Noah akan merampas tanah dan harta
petani untuk diberikan kepada kaum Kijin, atau sengaja memancing iblis untuk
memakan petani demi mengurangi populasi. Noah bahkan menemukan bukti bahwa
menteri senior Kruck terlibat dalam penyebaran fitnah tersebut.
Noah membesarkan
hati para pemimpin pemberontak dengan menegaskan bahwa penguasa tidak berniat
merampas harta rakyat, dan pasukan pembasmi iblis telah dikirim ke Dressen. Di
saat yang sama, ia memperingatkan bahwa pemberontakan ini sia-sia, namun
menjanjikan pengampunan jika mereka segera berhenti.
Seketika, gejolak
di dalam wilayah mereda. Para petani berhenti melarikan diri dan kembali ke
desa mereka masing-masing.
Terhadap wilayah
Luke, Noah memilih tindakan balasan ketimbang deklarasi perang. Ia melarang akses keluar-masuk
orang ke wilayah Luke, termasuk para pedagang. Ia memblokade Duke Luke agar
tidak bisa bertukar pesan dengan penguasa lainnya.
Saat Noah
mendeklarasikan tindakan balasan ini dengan sedikit waswas, ternyata tidak ada
faksi yang langsung bergerak menentang. Merasa lega, Noah segera mengambil
langkah berikutnya.
Untuk
urusan pembalasan ini, ia menggunakan kavaleri Kijin. Banyak kaum Kijin yang
memiliki bakat alami sebagai penunggang kuda.
Noah
memberikan kuda kepada kavaleri Kijin yang telah ia bina sejak di kediaman
Arcloy, ditambah kaum Kijin di wilayah Kruck yang sebelumnya tertindas. Awalnya
mereka tampak ragu karena sudah terlalu lama menjadi kasta rendahan, namun saat
menunggangi kuda, jati diri asli mereka bangkit. Mereka memperoleh keberanian
dan kegarangan seorang prajurit.
Dan ini
adalah kejutan yang menyenangkan; banyak Kijin di wilayah Kruck ternyata
memiliki Skill pengintai yang tinggi.
Kavaleri Kijin
Mounted Combat: C → B
Scouting: E → B
Skill Scouting adalah kemampuan untuk membawa
informasi hasil pengintaian atau menemukan pasukan musuh yang bersembunyi.
Dengan kata lain,
mereka sangat cocok untuk tugas pemantauan dan patroli. Mungkin kemampuan
observasi ini terasah karena selama bertahun-tahun mereka harus waspada sebagai
kaum yang terdiskriminasi.
Noah membangun
pos jaga dan kandang kuda tidak jauh dari Benteng Luke untuk mengawasi mereka.
Setiap pedagang atau utusan yang keluar dari wilayah Luke akan disergap tanpa
ampun oleh kavaleri Kijin, dilucuti hartanya, ditawan, dan jika perlu,
diinterogasi.
Karena wilayah
Luke adalah tempat di mana persekusi terhadap Kijin sangat parah, bagi mereka,
Duke Luke adalah musuh bebuyutan. Kaum Kijin pun menjalankan tugas memburu
utusan Luke dengan semangat yang luar biasa.
Mereka segera
membuahkan hasil. Mereka menangkap sosok yang diduga mata-mata dari wilayah
Luke dan menyita surat yang dibawanya. Hasil interogasi mengungkap beberapa
hal:
Duke Luke tidak
berniat menyerang wilayah Noah sendirian. Ia meminta bantuan pasukan dari
penguasa lain.
Namun, penguasa
lain tidak bisa segera bergerak dan butuh waktu. Selama itu, Duke Luke perlu
mengulur waktu dan berencana mengurung diri di benteng sampai persiapan
sekutunya selesai.
Mengetahui hal
ini, Noah memutuskan untuk mengikuti permainan musuh. Pihaknya pun sama-sama
butuh waktu. Jika musuh memilih mengurung diri di benteng, itu justru
menguntungkan bagi Noah.
Ia membiarkan
pergerakan penguasa lain dan hanya fokus melanjutkan blokade terhadap Duke
Luke. Setiap utusan yang keluar dari sana ditangkap habis oleh kavaleri Kijin.
Tentu saja itu
terjadi. Orang-orang Luke yang tidak pandai berkuda tidak mungkin bisa lolos
dari sergapan ratusan kavaleri Kijin yang memiliki spesialisasi tempur dan
pengintaian tinggi.
Sebaliknya, jika
pasukan infanteri Luke keluar menyerang dengan 1.000 orang pun, kaum Kijin bisa
memacu kuda mereka dan lari ke zona aman dengan mudah. Meski pada kenyataannya,
tidak ada prajurit Luke yang berani melakukan operasi senekat itu.
Mereka
takut harus bertarung dengan Ophelia di medan terbuka. Karena informasi mereka
terputus, para prajurit Luke tidak tahu bahwa Ophelia sebenarnya sedang tidak
ada di tempat.
Merasakan
keberhasilan ini, Noah menambah jumlah kavaleri Kijin dan memperluas jaringan
patroli di sekitar wilayah Luke. Ia juga membagi tugas sesuai dengan bakat
masing-masing:
Mereka
dengan nilai Military Tactics tinggi ditugaskan menyusun rencana
penyergapan. Mereka dengan nilai Intrigue tinggi ditugaskan
menginterogasi tawanan. Mereka dengan kemampuan Politics tinggi mengurus
logistik.
Mereka
dengan Leadership tinggi ditunjuk sebagai kapten peleton. Dan tentu
saja, mereka dengan nilai Melee tinggi dipersenjatai pedang atau tombak,
sementara yang ahli Marksmanship dibekali busur panah.
Jumlah
sandera yang ditangkap kavaleri Kijin melampaui puluhan orang. Untuk sementara,
tindakan balasan Noah sukses besar. Harga dirinya yang sempat dihina kini
setidaknya telah pulih. Tak lama kemudian, tak ada satu jiwa pun yang berani
keluar dari Benteng Luke.
Noah juga memulai
kembali pengintaian bersenjata. Ia mengirim kavaleri Kijin ke wilayah Finen,
Kiesel, dan Vique secara acak untuk memamerkan bahwa kekuatan kavalerinya masih
utuh.
Ia mengintip
pergerakan musuh tanpa memberikan informasi sedikit pun tentang pihaknya.
Secara resmi, ia
mengirim surat yang berbunyi, "Aku tidak mencurigai kalian, tapi aku hanya
berjaga-jaga," sebuah pesan tersirat yang secara halus mengatakan:
"Aku sedang mengawasi kalian."
◆◇◆
Setelah memacu
kuda selama beberapa hari, Ophelia akhirnya tiba di sebuah pemukiman di
pinggiran kota Dressen, tempat yang katanya dikuasai para iblis. Ia tiba lebih
dulu hanya dengan beberapa pengawal, mendahului 10.000 prajuritnya yang masih
dalam perjalanan.
(Ini...
mengerikan.)
Bahkan sebelum
memasuki Dressen, tingkat kerusakan di pemukiman itu sudah sangat
memprihatinkan. Hampir semua bangunan hancur dan menjadi puing-puing. Rumah
dengan atap yang masih utuh adalah pemandangan langka.
Suara
isak tangis terdengar dari hampir setiap gang. Para penduduk tampak kurus kering.
Kemungkinan besar
semua makanan mereka telah dirampas oleh para iblis. Mereka yang bekerja
melakukan tugasnya dengan tatapan kosong, seolah tidak tahu lagi untuk apa
mereka hidup.
Secara
keseluruhan, pemukiman itu lebih banyak dihuni wanita. Sebagian besar pria
mungkin sudah melarikan diri setelah menyadari penguasa tidak akan menolong
mereka.
Yang tersisa
hanyalah mereka yang tidak punya tempat tujuan, yang hidup karena inersia, yang
dirantai sehingga tidak bisa lari, atau yang sudah kehilangan semangat hidup.
Baik pria maupun
wanita tidak mengenakan pakaian yang layak, hanya selembar kain compang-camping
yang melilit tubuh.
Di emperan sebuah
rumah tua, seorang gadis kecil tampak menimang bayi, namun bayi itu memiliki
tanduk. Tak diragukan lagi, itu adalah Kijin yang lahir dari hubungan antara
iblis dan manusia.
Keputusasaan
menguasai seluruh pemukiman itu.
(Tak kusangka
situasinya separah ini. Jika tidak segera dibereskan, ini akan merusak reputasi
Noah-sama.)
Tepat saat itu,
terlihat beberapa iblis yang tampaknya baru turun dari kota Dressen datang
sambil tertawa terbahak-bahak. Di belakang mereka, terlihat manusia dan Kijin yang dijadikan budak
sedang menarik kereta barang.
Kereta itu penuh
dengan stok makanan, pakaian, hingga logam mulia. Kemungkinan besar itu adalah
hasil jarahan paksa dari penduduk. Tampaknya para iblis itu datang untuk
memeras barang lebih banyak lagi.
(Jadi itu yang namanya iblis.)
Memang
benar-benar monster yang menakutkan. Tiga sosok iblis berjalan ke arah sini,
masing-masing memiliki tinggi lebih dari dua meter.
Tubuh
mereka berotot kekar, kepala dengan tanduk tajam, dan dari mulut mereka tumbuh
taring seperti anjing. Bau amis darah tercium, seolah mereka baru saja memakan
manusia. Pria biasa pasti tidak akan berani melawan mereka.
Prajurit
yang menyertai Ophelia pun tampak mundur teratur melihat wujud asli mereka.
"Apa-apaan
desa ini? Kok miskin banget!"
"Aku ingat
sekarang. Sepertinya kita juga ke sini kemarin."
"Yaelah,
makanya jangan jadi buta arah dong."
"Barang
jarahan dari desa-desa sekitar mulai habis, ya."
"Gimana
kalau kita ekspedisi lagi ke desa baru?"
"Nggak mau
ah, kalau kejauhan nanti nyasar. Kita kan payah soal arah."
"Terus
makanan hari ini gimana? Nggak ada hasil lagi?"
"Ya sudah,
perkosa saja perempuannya terus pulang. Oh?"
Mata para iblis
itu berbinar saat melihat ksatria wanita berambut hitam legam yang mengenakan
zirah megah sedang berdiri di sana.
"Lihat!
Zirahnya bagus banget!"
"Sudah lama
aku nggak lihat manusia pakai baju semewah itu."
"Wah, ini
bisa jadi oleh-oleh bagus buat bos."
"Eh, tunggu.
Dia perempuan, kan?"
"Kalian.
Atas izin siapa kalian berkeliaran di wilayah ini?"
Ophelia menyapa
ketiga iblis itu tanpa rasa takut sedikit pun. Para iblis itu tampak seperti
sedang mabuk; jika diperhatikan baik-baik, pipi dan telinga mereka memerah.
"Penguasa
Kruck, Noah-sama, tidak mengizinkan iblis tinggal di sini. Cepat pergi sekarang
juga."
Para iblis itu
memandangi tubuh Ophelia dari atas ke bawah. Gadis yang sangat cantik. Tubuhnya
pun terlihat kuat. Gadis manusia biasanya langsung hancur setelah mereka pakai,
tapi wanita ini sepertinya bisa memberikan kesenangan untuk waktu yang lama.
"Daripada
ngomong begitu, mending ikut kami ke gang itu yuk, Manis. Kami akan kasih kamu kesenangan."
Salah satu iblis
mencoba meletakkan tangan di bahu Ophelia.
Sret!
Ophelia menebas lengan iblis itu hingga putus.
"Hah? Ah... AAAAAAAARGH!"
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu. Hanya Tuanku
yang boleh menyentuhku tanpa izin."
"Tanganku!
Tanganku putuuuuus!"
"Brengsek!
Apa yang kau lakukan, jalang!"
Dua iblis sisanya
mencoba menerjang, namun setiap tangan yang terjulur langsung ditebas putus
oleh Ophelia.
"GYAAAAAA!"
"A-AAAAARGH!"
"Hmph.
Ternyata cuma gertakan kosong."
Meski memiliki
tubuh raksasa dan tenaga yang tak terukur, para iblis ini ternyata sangat
kikuk, sehingga mereka tidak pandai menggunakan senjata panjang.
Karena itulah
mereka tidak bisa mengimbangi teknik pedang yang cepat.
"Pulanglah
dan sampaikan pada bos kalian. Jika kalian segera pergi dari kota sekarang, aku
akan membiarkan kalian hidup. Waktu kalian satu minggu. Lebih dari itu, aku
tidak menjamin nyawa kalian."
"Hiieee!"
"UWAAAAAA!"
Para iblis yang kehilangan lengan itu lari terbirit-birit dengan wajah pucat. Mereka meninggalkan desa sambil terjatuh berulang kali saking takutnya.
Saat Ophelia
menyarungkan pedangnya dan mendekati para pria yang tadi menarik kereta, wajah
mereka langsung pucat pasi dan tubuh mereka gemetar hebat.
"Hi-hiii!"
"T-tolong
jangan bunuh kami! Ampuni nyawa kami!"
"Tenanglah.
Aku Ophelia, jenderal yang diutus oleh Noah-sama, penguasa baru wilayah ini.
Aku datang untuk menyelamatkan kalian."
"Eh?
Penguasa baru?"
"Jadi...
kamu manusia?"
Sepertinya mereka
mengira Ophelia adalah iblis. Maklum, bagi mereka, hanya monster yang bisa menaklukkan monster
lainnya.
"A-anda...
apa yang sudah Anda lakukan?"
Seorang
lelaki tua yang tampaknya adalah tetua desa keluar menemui Ophelia.
"Mereka
itu adalah bawahan dekat sang pemimpin iblis yang menduduki kota. Mereka pasti
akan membawa banyak pasukan iblis untuk membalas dendam ke desa ini!"
"Jangan
khawatir, Pak Tua. Kami berencana menyerang kota sebelum mereka sempat datang
ke sini."
"A-apa
katamu?"
"Semuanya,
dengarkan!" seru Ophelia.
"Penguasa wilayah Kruck telah berganti. Penguasa yang
baru, Archduke Arcloy, adalah pahlawan sejati yang memiliki keberanian serta
kecerdasan luar biasa, namun tidak pernah melupakan kasih sayang kepada
rakyatnya. Beliau adalah pemimpin yang bertindak tegas dan cepat. Aku diutus
olehnya, dan kami pasti akan mengusir para iblis itu demi mengembalikan
kedamaian di desa ini!"
Mendengar kata-kata itu, sorak-sorai penduduk desa pecah.
Ophelia segera membagikan muatan kereta barang milik para iblis kepada
penduduk.
Setelah sekian
lama, penduduk desa akhirnya bisa menikmati makanan yang layak. Harapan pun
kembali menyelimuti desa yang tadinya mati itu.
◆◇◆
Oisgen, pemimpin
para iblis yang bermarkas di Dressen, membelalakkan matanya saat melihat anak
buah kesayangannya pulang tanpa lengan.
"Ada
apa dengan kalian? Bertemu naga?"
"Naga saja
tidak ada apa-apanya!"
"Dia seorang
wanita manusia yang kuatnya seperti iblis!"
"Wanita
manusia?"
Oisgen
dan pengikutnya tertawa terbahak-bahak.
"Jangan
bercanda! Kalian dikalahkan oleh wanita manusia?"
"Kita
harus segera lari! Dia bilang akan menyerang kota ini!"
"Dia memberi
waktu satu minggu untuk pergi! Kalau tidak, nyawa kita taruhannya! Ayo cepat
bersiap-siap!"
"Hmph!
Jangan bicara omong kosong. Hidup di sini sangat nyaman. Kita tidak perlu
berburu hewan karena tinggal merampas makanan dari manusia. Mereka itu makhluk
lemah yang mudah dikendalikan. Sekali kita tunjukkan siapa yang berkuasa,
mereka akan menjadi budak selamanya. Siapa yang sudi pergi dari sini?"
"Tapi wanita
itu akan datang!"
"Bagus!
Biarkan dia datang. Aku, Oisgen, yang akan menghadapinya!"
"Terserah
kau saja kalau begitu!"
"Kami pergi
duluan!"
Para iblis yang
lengannya ditebas Ophelia segera melarikan diri menuju Hutan Horns di balik
gunung sebelah barat Dressen. Iblis lainnya hanya memandang mereka dengan
bingung, merasa tidak ada alasan untuk takut pada manusia.
◆◇◆
Setelah bergabung
dengan pasukan utama yang datang menyusul, Ophelia memutuskan untuk melatih
para prajurit agar terbiasa menghadapi iblis sebelum memasuki Dressen.
Ia menyadari
bahwa meski iblis memiliki kekuatan raksasa yang tak tertandingi, mereka sangat
kikuk sehingga tidak mahir menggunakan senjata seperti tombak atau busur panah.
Selain itu, jika musuh berhasil masuk ke jarak dekat, tubuh raksasa mereka
justru membuat mereka kehilangan arah dan menjadi tak berdaya.
Oleh karena itu,
Ophelia melatih tim yang terdiri dari tiga orang untuk menghadapi satu iblis.
Satu orang
bertugas mengalihkan perhatian dengan senjata jarak jauh, satu orang
menggunakan tombak panjang untuk melakukan manuver Parry, dan orang
terakhir menyelinap masuk untuk menebas kaki sang iblis.
Mereka
menggunakan tombak yang panjangnya dua kali lipat ukuran normal dan menyiapkan
banyak senjata lempar. Untuk menebas kaki iblis, Ophelia menemukan bahwa parang
lebih efektif daripada pedang biasa.
Saat mencoba
menyerang iblis yang berkeliaran di luar kota dengan formasi tiga lawan satu,
mereka berhasil menang dengan mudah. Begitu pula saat pertempuran kelompok,
ternyata iblis-iblis itu tidak sesulit yang dibayangkan.
Dengan
rasa percaya diri yang tinggi, pasukan Ophelia merangsek masuk ke kota Dressen.
Para iblis yang sudah lengah dan malas karena terbiasa hidup enak itu sebagian
besar sedang mabuk dan tertidur lelap.
Sesuai rencana,
pasukan Ophelia menembakkan panah api ke kediaman Oisgen. Mereka menyudutkan
para iblis yang keluar dengan panik menggunakan senjata jarak jauh dan tombak,
lalu membantai mereka.
Melihat pemimpin
mereka, Oisgen, tewas, sebagian besar iblis melarikan diri melewati gunung
menuju Hutan Horns. Setelah itu, Ophelia menyapu bersih iblis yang bersembunyi
di sekitar kota.
Tak lama
kemudian, para kapten regu sudah bisa memburu iblis secara mandiri tanpa perlu
instruksi langsung dari Ophelia. Penduduk pun dibebaskan dan mulai menata
kembali hidup mereka.
Ophelia
mengumumkan kepada penduduk bahwa Noah adalah penguasa baru mereka, dan melatih
warga lokal agar bisa melawan iblis sendiri.
Setelah ekonomi
berputar dan sistem keamanan terbentuk, ia meninggalkan 1.000 prajurit sebagai
penjaga dan memutuskan untuk kembali ke Kastil Kruck.
◆◇◆
Dalam perjalanan
kembali ke Kastil, para prajurit tampak sangat bangga.
"Hehe! Kita
berhasil! Kita bahkan bisa mengalahkan ras iblis!"
"Pasti kita
akan mendapat hadiah yang melimpah, ya."
"Kira-kira
kota yang tadinya diduduki iblis itu akan jadi milik siapa?"
"Sudah
jelas, kan? Pasti jadi milik Ophelia-sama."
"Apa kita
juga akan diberi tanah?"
"Tentu saja!
Kita kan sudah menyelesaikan masalah yang bahkan tidak bisa dibereskan oleh
penguasa sebelumnya!"
"Tuan
penguasa harus memberi kita hadiah yang sangat besar."
"Benar!
Ophelia-sama harus menuntut hadiah yang banyak dari penguasa!"
"Lagipula...
kalau ada Ophelia-sama, kita tidak butuh penguasa itu lagi, kan?"
"Benar juga
kalau dipikir-pikir."
"……"
Para prajurit
saling pandang dengan tatapan penuh arti.
◆◇◆
Mendengar berita
bahwa Ophelia telah menyelesaikan pembasmian iblis, Noah menunggu kepulangannya
dengan penuh semangat. Penduduk juga berkumpul di sepanjang jalan, membuat
suasana kota seperti sedang mengadakan parade.
Namun, saat
Ophelia semakin dekat, Noah menyadari ada yang aneh dengan suasana di
sekitarnya.
Tatapan penduduk
kepada Ophelia penuh dengan rasa hormat yang luar biasa—bahkan melebihi rasa
hormat kepada dirinya sebagai penguasa. Noah baru menyadari satu hal.
Di dunia ini,
pembasmi ras iblis mendapatkan penghormatan yang sangat istimewa. Dan ia pun
tersadar... ia telah membiarkan Ophelia meraih terlalu banyak prestasi.
(Waduh? Tunggu
sebentar. Bukankah ini gawat?)
Melihat deretan
prestasi Ophelia selama ini, tidak heran jika dia mulai berpikir untuk merdeka.
Atau setidaknya, menuntut imbalan yang setara dengan kerja kerasnya.
Siapa yang bisa
menyalahkannya jika dia menginginkan seluruh wilayah Kruck ini sebagai
miliknya? Dia memiliki kekuatan untuk merampasnya kapan saja. Jika dia
berkhianat, berapa banyak kapten regu yang akan tetap setia kepada Noah?
Mungkin mereka semua akan mengikutinya.
Bahkan jika
Ophelia tidak menginginkannya, bagaimana dengan orang-orang di sekitarnya? Jika
ada yang menghasutnya untuk memberontak agar mereka bisa mendapatkan jabatan
dan tanah yang lebih banyak, segalanya bisa hancur.
Dengan kekuatan
Ophelia, ia bisa mengincar posisi penguasa tunggal. Siapa yang bisa menjamin
hatinya tidak akan goyah? Atau siapa yang tahu jika dalam beberapa minggu ini
dia sudah mulai muak pada Noah?
Apalagi sekarang
adalah zaman perang. Pengkhianatan tingkat bawah ke tingkat atas adalah hal
biasa. Semua orang
punya ambisi, dan hanya si kuat yang diakui.
Memang status
kesetiaannya adalah Rank A. Tapi bagaimana jika kesetiaan itu bukan
kepada Noah?
(Gawat,
gawat banget! Kalau Ophelia memberontak sekarang, aku tamat!)
Akhirnya,
Ophelia yang menunggangi kuda terlihat memimpin pasukannya. Sosoknya tampak
sangat berbeda dari sebelumnya. Setelah membasmi iblis dan memimpin puluhan
ribu tentara, auranya menjadi sangat berwibawa.
Tekanan
yang terpancar dari sang jenderal pemenang itu sangat luar biasa. Jika ini
komik, mungkin di belakangnya akan muncul tulisan efek suara bergetar yang
sangat besar.
Dan benar saja,
sorakan mulai menggema dari barisan prajurit.
"Hidup
Jenderal Ophelia!"
"Jenderal
terkuat, Ophelia!"
"Kemuliaan
bagi Jenderal Suci, Ophelia!"
Teriakan-teriakan
itu menggema tanpa ada satu pun pujian untuk Noah. Penduduk pun ikut bersorak
mengikuti seruan para prajurit. Suasana semakin memanas.
"Tuhan!
Berikanlah hadiah yang melimpah bagi Jenderal Suci kami!"
"Tuhan!
Berikanlah hadiah yang pantas bagi Jenderal Suci Ophelia!"
"Seluruh
tanah yang dibebaskan dari iblis harus menjadi miliknya!"
"Berikanlah
setengah wilayah Kruck kepadanya!"
"Bahkan dua
kali lipat wilayah Kruck pun layak untuknya!"
"Jika ada
penguasa yang pelit memberi hadiah atas jasa besarnya, Tuhan! Berikanlah
hukuman padanya!"
"Tuhan!
Ceburkanlah penguasa yang pelit itu ke neraka!"
Penduduk
bersorak dengan polosnya.
(Woi!
Kalian ini niat banget memprovokasi dia, ya!)
Akhirnya,
Ophelia maju hingga tepat di depan Noah. Tekanannya begitu dahsyat sampai Noah merasa ciut. Jika dia menuntut
imbalan apa pun sekarang, Noah mungkin akan langsung memberikannya tanpa pikir
panjang.
Namun, Ophelia
turun dari kudanya, berlutut di hadapan Noah, dan memberikan hormat seorang
bawahan.
"Ksatria
setia Archduke Arcloy, Ophelia, melapor kembali setelah menyelesaikan
pembasmian iblis. Dressen telah dibebaskan, dan penduduknya kini tunduk di
bawah wibawa Tuanku. Seluruh tanah dan prajurit yang telah pulih, saya
kembalikan kepada Tuanku."
"U-umu.
Kerja bagus. Semoga berkah Tuhan menyertai kesetiaan dan pengabdianmu. Apakah
ada hadiah yang kamu inginkan?"
"Siapa yang
mendapat hadiah dan seberapa banyak, itu adalah keputusan Tuanku sebagai
penguasa. Saya tidak memiliki tuntutan apa pun."
"Fumu.
Begitu ya. Kesetiaan yang luar biasa. Sangat mengagumkan! Tapi... tadi
sepertinya aku mendengar suara-suara sumbang dari prajuritmu. Ada yang bilang
soal hukuman Tuhan, jatuh ke neraka, sampai hadiah dua kali lipat
wilayah..."
"Eh?
Saya tidak mendengar suara-suara seperti itu. Namun, jika ada bawahan saya yang
berani bicara seperti itu, saya sendiri yang akan menghukum gantung mereka dan
memajang jasadnya di alun-alun kota sebagai peringatan."
Seketika,
orang-orang yang tadi memprovokasi langsung pucat pasi. Mereka buru-buru
meneriakkan hal yang berbeda.
"Hi-hidup
Tuan Penguasa!"
"Tuhan!
Berikanlah segalanya bagi Archduke Arcloy yang bijaksana!"
"Tuhan!
Ceburkanlah siapa pun yang menghina penguasa kami ke neraka!"
"Kemuliaan
bagi Archduke Arcloy!"
"Siapa pun
yang menentang Archduke Arcloy, aku sendiri yang akan menggantungnya!"
(Bukannya itu
kalian tadi, ya?) cibir
seorang prajurit yang jujur dalam hati.
"HIDUP
ARCHDUKE ARCLOY!!!!!"
Penduduk kembali
bertepuk tangan dengan polos. Noah dan Ophelia pun ikut bertepuk tangan. Para
prajurit provokator itu pun bisa bernapas lega karena berhasil mengalihkan
suasana.



Post a Comment