NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Hikichi ni Tsuihō Sareta Utsuke Ryōshu Kantei Sukiru de Saikyō no Haika-tachi to Tomo ni Chō Taikoku o Tsukuru Volume 1 Afterword

Kata Penutup


Terima kasih banyak karena telah membeli buku “Penguasa Konyol yang Diasingkan ke Pelosok, Membangun Negara Adidaya Bersama Para Bawahan Terkuat Melalui Skill Appraisal”.

Karya ini ditulis dengan inspirasi dari “As a Reincarnated Aristocrat, I'll Use My Appraisal Skill to Rise in the World” serta beberapa karya ‘Narou’ lainnya, terutama yang bergenre pengasingan dan perjuangan dari nol (rise from zero).

Mengenai tema manajemen dan pengembangan sumber daya manusia menggunakan skill Appraisal, ini sebenarnya adalah karya kedua saya setelah sebelumnya sempat menulis “The Exiled S-Class Appraiser Creates the Strongest Guild”. Namun, karena merasa masih ada hal yang belum sempat saya lakukan di karya tersebut, saya selalu ingin menulis sekali lagi tentang skill Appraisal.

Kali ini saya memberanikan diri mencoba genre simulasi strategi perang dan sejarah dengan latar dunia yang kacau, tapi ternyata sulit sekali ya.

Karya ini tentu belum bisa menandingi bobot, kemegahan, dan ketelitian dari karya idola saya, “Legend of the Galactic Heroes”.

Sejujurnya, memadukan beratnya sejarah dengan pengumpulan kekuatan militer ala video game, taktik dan negosiasi, hingga kekacauan dunia perang, membuat saya harus memikirkan banyak hal secara terus-menerus. Saya sudah mengerahkan seluruh kemampuan hanya untuk merangkai semua itu menjadi satu kesatuan.

Noah yang diasingkan ke pelosok, mengandalkan skill Appraisal hanya dengan modal badan dan sedikit meminjam wibawa ayahnya untuk naik kasta—bagaimana menurut Anda kisah ini?

Ini adalah kisah tentang perjuangan dari kondisi tanpa dukungan, menyatukan kelompok di daerah terpencil, menjadi penguasa satu Kastil, hingga akhirnya membangun kekuatan regional yang membentang di beberapa Kastil dan negara. Apakah wibawa Noah sebagai "pemimpin para pemimpin" dan kesetiaan Ophelia sebagai jenderal berhasil tersampaikan kepada para pembaca sekalian?

Omong-omong, mengenai pengaturan Command (Kepemimpinan) di dalam cerita, secara pribadi saya merasa prinsip bahwa "setiap orang memiliki batas jumlah prajurit yang bisa dipimpin" sebenarnya cukup relevan dengan dunia nyata. Saya percaya setiap individu memiliki batas maksimal dalam mengoordinasi orang di medan tempur.

Dalam militer modern yang sangat terorganisir dan mekanis, perasaan ini mungkin sulit dipahami. Namun, dari cerita-cerita yang sesekali terdengar, saya merasa faktor ini tidak bisa diabaikan begitu saja.

Bukankah pertempuran yang terasa sangat sulit atau berlarut-larut padahal ada perbedaan kekuatan yang mencolok merupakan salah satu bentuk perwujudan dari hal tersebut?

Namun, kenyataannya, meskipun seseorang memiliki bakat untuk menggerakkan sepuluh ribu prajurit, tidak semudah itu baginya untuk langsung menduduki posisi atas dalam organisasi.

Sama seperti kisah jenderal Tiongkok kuno, Han Xin, yang hanya menjadi perwira tak dikenal saat melayani Xiang Yu, namun mendadak menjadi pahlawan tanpa tanding setelah melayani Liu Bang. Saya rasa di masyarakat modern pun, di mana pendidikan wajib sudah merata dan peluang tampak terbuka bagi siapa saja, kasus seperti ini masih banyak terjadi.

Tema lain tentang hubungan antara penguasa dan jenderal adalah masalah kesetiaan. Bagaimana seorang jenderal yang dipercaya memegang urusan militer negara melayani penguasanya, dan bagaimana cara ia menunjukkan kesetiaannya?

Selain itu, sejauh mana seorang penguasa harus memercayai jenderal yang memiliki kesetiaan tinggi? Saya rasa ujung dari masalah ini adalah teori tentang "ketidakperluan sosok nomor dua".

Dalam “Legend of the Galactic Heroes”, sosok nomor dua keluar dari panggung lebih awal sebelum dampak negatifnya muncul. Namun dalam buku ini, Noah mengadopsi metode pemberian wewenang yang sangat besar kepada sosok nomor dua sejak awal. Saya mencoba menggambarkan betapa berisikonya menempatkan sosok nomor dua dalam sebuah organisasi.

Saya berharap bisa terus mengeksplorasi tema ini di masa mendatang.

Terakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada editor yang telah menghubungi saya untuk menerbitkan buku ini, semua pihak yang terlibat dalam proses produksi, serta ilustrator Tetsubuta-sensei yang telah bersabar menghadapi berbagai permintaan egois saya.

Saya sangat berharap kita bisa bertemu kembali di volume kedua.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close