NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Make Heroine ga Oosugiru Volume 8.5 Chapter 4

Penerjemah: Flykitty

Proofreader: Flykitty

Terima Kasih Atas Bantuan Waktu Itu


 Pusat Masa Depan Anak Niko Niko.

 

Sebuah fasilitas publik untuk anak-anak yang berjarak sekitar 10 menit berjalan kaki dari Stasiun Toyohashi.

 

Selain mengadakan berbagai acara dan kelas pengalaman, tempat ini juga memiliki area bermain untuk anak kecil.

 

Yang sedang berjalan melewati pintu masuknya adalah Ketua OSIS SMA Tsubaki──Basori Tiara. Tiara berjalan lurus menuju resepsionis lalu menyapa staf di sana.

 

"Permisi. Aku Basori dari OSIS SMA Tsuwabuki, yang kemarin sudah menghubungi."

 

"Oh, murid dari Tsuwabuki ya. Sudah kami dengar."

 

Wanita di resepsionis menunduk melihat dokumen di tangannya.

 

"Umm, Basori…"

 

"Ya, Basori! Aku membawa brosur untuk acara membaca cerita bulan depan!"

 

Nama depannya tidak akan dia biarkan dipanggil.

 

Tiara segera melanjutkan pembicaraan dan meletakkan brosur di atas meja.

 

"Terima kasih sudah repot-repot datang. Nanti langsung kami pajang──"

 

Tepat saat pembicaraan hampir selesai tanpa masalah, seorang gadis bertubuh kecil berlari ke arah konter.

 

Yang muncul adalah anggota Klub Sastra SMA Tsuwabuki──Komari Chika.

 

"Ma, maaf! Adikku, hilang!"

 

Begitu selesai mengatakannya, dia batuk-batuk keras.

 

"U, usianya 4 tahun, rambutnya sama seperti aku. Fo, fotonya──"

 

Komari mencoba mengeluarkan ponsel, tapi panik hingga menjatuhkannya ke lantai.

 

Yang lebih dulu mengulurkan tangan sebelum Komari mengambilnya adalah Tiara.

 

"Komari-san. Kalau ada sesuatu, aku akan membantu."

 

"U, ueh…"

 

Komari terkejut melihat wajah yang dikenalnya, sementara Tiara menyerahkan ponsel yang dipungutnya.

 

…………

 

………………

 

……………………Tidak ada reaksi.

 

"Umm, Komari-san? Aku Basori dari OSIS SMA Tsuwabuki. Kalau berkenan, aku ingin membantu."

 

Wajar kalau Komari merasa takut. Keduanya memiliki sedikit hubungan kurang baik di rapat ketua klub tahun lalu.

 

Duri rasa bersalah menusuk dada Tiara.

 

"……Maaf sudah menyapamu tiba-tiba. Aku juga akan mencoba melihat-lihat sekitar."

 

Tiara meletakkan ponsel Komari di atas konter lalu berbalik.

 

Katanya adiknya yang berusia 4 tahun tersesat. Kalau rambutnya sama seperti kakaknya, mungkin akan mudah dikenali.

 

Saat hendak meninggalkan tempat itu, ujung bajunya ditarik seseorang.

 

"……Komari-san?"

 

"To, tolong ba, bantu aku!"

 

Suara Komari bergetar, jari yang mencengkeram bajunya juga gemetar. Melihat itu, Tiara menggenggam tangan Komari dengan lembut.

 

"Ya, biarkan aku membantu. Apakah ada tempat yang mungkin dia tuju?"

 

"A, aku pergi ke toilet, dan saat kembali dia sudah tidak ada."

 

Komari menarik napas dalam-dalam lalu melanjutkan.

 

"A, aku sudah mencari ke seluruh gedung, tapi tidak ketemu di mana pun."

 

"Kalau begitu Komari-san, tolong sampaikan ciri-ciri adikmu ke staf. Aku akan memeriksa area luar."

 

"Lu, luar?"

 

Komari menatap ke luar melalui dinding kaca dengan cemas.

 

"Yang paling berbahaya adalah kalau dia keluar dari area fasilitas. Untuk keluar dari area, dia harus lewat pintu depan atau turun tangga menuju parkiran. Komari-san tetap di pintu masuk untuk mengawasi pintu depan. Aku akan mencari di parkiran dan sekitar luar bangunan."

 

Setelah memastikan Komari mengangguk, Tiara berjalan cepat menuju tangga.

 

"Tu, tunggu!"

 

Tiara berbalik saat dipanggil, dan melihat Komari mengarahkan ponsel ke arahnya.

 

Di layar terlihat seorang gadis kecil imut dengan rambut diikat ke satu sisi.

 

"I, ini Hina. To, tolong."

 

"Ya. Anak yang manis."

 

Tiara tersenyum menenangkan lalu berlari menuruni tangga.

 

 

Tiara kembali dengan keringat di dahinya, dan Komari langsung berlari mendekat.

 

"Ba, bagaimana?"

 

"Di parkiran dan sekitar bangunan tidak ada. Aku juga bertanya pada orang yang lewat, tapi tidak ada yang melihat."

 

Sambil menepuk punggung Komari yang wajahnya pucat, Tiara menatap ke arah ruang terbuka di tengah gedung.

 

"Sudah memeriksa lantai dua?"

 

"Su, sudah… tapi…"

 

Komari mengikuti arah pandangan Tiara dan melihat koridor lantai dua di sepanjang ruang terbuka itu.

 

Sepertinya sebuah acara baru saja selesai. Beberapa keluarga sedang berjalan di sana.

 

"A, aku belum lihat dalam ruang pelatihan."

 

"Baik. Aku akan memeriksanya."

 

Saat Tiara hendak menuju tangga, Komari mencoba mengikutinya.

 

"A, aku juga mau mencari."

 

"Namun Komari-san sebaiknya tetap di sini──"

 

Saat Tiara kebingungan, staf resepsionis menyela.

 

"Kalau sebentar saja, aku bisa mengawasi kalau adikmu lewat. Pergilah mencarinya."

 

"Te, terima kasih!"

 

Begitu mengucapkan terima kasih, Komari langsung berlari ke tangga. Terkejut dengan semangat tak terduga itu, Tiara pun mengejarnya.

 

Mereka akhirnya menyusuri seluruh ruang pelatihan bersama, tapi tidak menemukan Hina.

 

Di tengah ruangan, Komari berdiri dengan mata berkaca-kaca. Tiara memperlihatkan brosur bangunan.

 

"Ayo kita tenang dan periksa lagi. Apakah sudah melihat area berbayar di lantai satu? Mungkin dia masuk tanpa sengaja."

 

"Su, sudah. T-tapi, tidak ada."

 

"Kalau begitu──bagaimana dengan tempat bernama Plaza Pengasuhan Anak ini?"

 

"Te, tempat itu untuk anak sampai 3 tahun, jadi sekarang tidak digunakan."

 

"Dulu Hina pernah menggunakannya?"

 

"I, iya. Hina suka tempat itu──"

 

Belum selesai berbicara, Komari kembali berlari.

 

Tiara mengusap keringat di dahinya yang baru saja mereda, menarik napas besar, lalu mengikuti Komari.

 

 

Plaza Pengasuhan Anak.

 

Tempat interaksi untuk balita hingga usia 3 tahun dan orang tua mereka. Tersedia berbagai permainan dan fasilitas sehingga balita bisa bermain seharian.

 

Di sudut buku cerita tempat itu, terlihat Komari Hina tertidur di depan buku terbuka.

 

Menjepit Hina di antara mereka, Komari dan Basori duduk lemas di lantai.

 

"Syukurlah. Kita menemukannya dengan selamat."

 

"I, iya… syukurlah."

 

Komari mengelus kepala Hina.

 

Setelah beberapa saat, Komari menatap Tiara dengan ragu.

 

"Ke, kenapa kamu mau membantu?"

 

"Itu tentu saja karena kalau murid Tsuwabuki kesulitan──"

 

Tiara menghentikan kata-katanya dan menunduk canggung. Percuma berpura-pura di saat seperti ini. Dia membuka mulut dengan jujur.

 

"……Maaf. Kurasa ini untuk menenangkan rasa bersalahku."

 

Wajah Komari dipenuhi kebingungan mendengar jawaban tak terduga itu.

 

"Rapat ketua klub tahun lalu──ingat?"

 

"E, eeh…"

 

Komari mencari kata-kata beberapa saat, lalu akhirnya mengangguk pelan.

 

"Aku sudah lama ingin meminta maaf tentang saat itu."

 

Tiara melanjutkan, seolah melepaskan beban di dadanya.

 

"Waktu itu aku tidak punya kelonggaran dan hanya memikirkan soal ketepatan waktu. Sekarang aku sadar aku sudah bersikap buruk pada Komari-san. Aku benar-benar minta maaf."

 

Tiara menundukkan kepala dalam-dalam, sementara Komari buru-buru melambaikan tangan.

 

"Ti, tidak. Itu karena aku tidak memperhatikan sekitar. Jadi Basori-san tidak salah."

 

──Yang tidak memperhatikan sekitar justru aku.

 

Tiara hampir mengatakan itu, tapi menelan kata-katanya saat melihat ekspresi Komari.

 

Komari sekarang berbeda dari dulu. Wajah seorang gadis yang mempercayai sesuatu dan memiliki keteguhan hati.

 

"……Karena Nukumizu-san?"

 

Pertanyaan mendadak itu justru paling mengejutkan Tiara sendiri.

 

Kenapa nama Nukumizu muncul di sini?

 

Berlawanan dengan Tiara yang kebingungan, Komari berdiri tanpa mengubah ekspresi.

 

"Su, sudah waktunya keluar. Hina tidak bisa menggunakan tempat ini."

 

"Pengunjung hari ini sedikit, kan. Bagaimana kalau kita minta izin agar dia boleh menggunakan tempat ini sebentar?"

 

Komari menggeleng pelan.

 

"Te, tempat ini bukan lagi tempat anak ini."

 

Komari mengangkat Hina yang masih tertidur.

 

"Hi, Hina masih anak-anak──tapi walaupun bisa tumbuh besar, dia tidak bisa kembali jadi kecil."

 

"……Ya, benar sih."

 

Setelah keluar dari Plaza Pengasuhan Anak menuju pintu masuk, Hina masih tertidur pulas di dada Komari.

 

Melihat tatapan lembut Komari pada adiknya, sudut bibir Tiara mengendur.

 

"──Komari-san."

 

"Ueh… a, ada apa?"

 

Nada bicara Tiara yang tiba-tiba formal membuat Komari mundur setengah langkah.

 

Kesalahan masa lalu dan pengampunan.

 

Dirinya dan Komari mungkin sedikit mirip di suatu tempat.

Penakut, melindungi diri dengan duri. Namun setelah merasakan kebaikan orang sekitar, mereka belajar mengulurkan tangan sendiri.

 

Dan mungkin──mereka memandang orang yang sama.

 

Tiara mengulurkan tangan dengan senyum.

 

"Lain kali, bolehkah aku berkunjung ke ruang Klub Sastra? Bagaimana kalau kita mengobrol bersama?"

 

"I, itu… mending tidak usah."

 

──Jawaban instan.

 

Tiara membeku, sementara Komari menundukkan kepala kecil.

 

"Ha, hari ini benar-benar terbantu. Ja, jadi aku pergi dulu."

 

"……Ah, ya. Hati-hati di jalan."

 

Komari keluar dari gedung sambil menggendong adiknya.

 

Menatap punggung mereka, Tiara menghela napas panjang.

 

──Hidup memang penuh hal yang tidak berjalan sesuai keinginan.

 

Entah kenapa dengan perasaan segar, Tiara berbisik ke arah punggung kakak beradik Komari.

 

"……Aku ditolak lagi ya.”






Previous Chapter | Next Chapter

0

Post a Comment

close