NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Make Heroine ga Oosugiru Volume 8.5 Chapter 7

Penerjemah: Flykitty

Proofreader: Flykitty

Biarkan Kenangan Tetap Indah


 Sekitar 20 menit naik bus dari Stasiun Barat. Fasilitas pameran di Pelabuhan Mikawa, Kamomeria.

 

Bagi siswa SD di Toyohashi, tempat ini adalah lokasi klasik untuk kunjungan studi sosial, berdampingan dengan museum sumber daya bawah tanah.

 

Di ruang pamerannya, terlihat siswi kelas dua SMA Tsuwabuki, Yakishio Lemon.

 

Dengan mulut sedikit terbuka, ia menatap sekoci penyelamat raksasa yang paling mencolok di ruang pameran itu.

 

Dari belakang, seorang gadis berkacamata dengan rambut kepang mendekat. Yakishio Nagi, siswi kelas satu SMP Momozono.

 

Saat menemukan kakaknya, ia menutup buku catatan yang sedang ia tulis.

 

"Kak, sudah waktunya pindah ke tempat berikutnya."

 

"Nagi, lihat ini?! Yang bisa menyelam ke laut!"

 

Lemon berbalik dengan mata berbinar. Melihat kakaknya yang polos, Nagi menghela napas.

 

"Itu bukan kapal selam, tapi sekoci penyelamat."

 

"Ooh, jadi menyelam buat menolong ya."

 

Sepertinya Nagi menyerah menjelaskan. Ia berdiri di samping Lemon sambil menatap sekoci itu.

 

"Waktu kelas lima SD kita pernah ke sini, kan? Kamu nggak dengar penjelasannya?"

 

"Nggak dengar sih. Kayaknya sempat dimarahin guru."

 

Dengan nada ceria Lemon berkata begitu, lalu mengintip buku catatan di tangan Nagi.

 

"Sampai di sini pun kamu masih belajar ya."

 

"Aku kan sudah bilang, aku lagi meneliti tentang Teluk Mikawa buat tugas bebas pelajaran IPS."

 

Mengabaikan ekspresi kesal adiknya, Lemon melipat tangan sambil mengangguk-angguk.

 

"Jadi karena itu kamu datang ke sini. Kalau ada yang nggak kamu ngerti, tanya kakak saja!"

 

"Eh... nggak usah."

 

Nagi menggeleng keras.

 

"Nggak usah sungkan gitu. Lihat, di sana ada mobil keren. Toyota ya."

 

"Di situ tertulis Volkswagen sih."

 

"Di Aichi semua mobil itu Toyota. Kamu sudah catat belum?"

 

Nagi mengangguk lalu berpura-pura menulis di buku. Pengalamannya menjadi adik selama 12 tahun bukan tanpa alasan.

 

"Kak, lantai satu sudah selesai dilihat. Boleh ke menara observasi?"

 

"Boleh! Ayo lomba naik, aku lewat tangga, kamu lewat lift!"

 

Nagi menatap kakaknya yang bersemangat dengan mata dingin di balik kacamata.

 

"Naik lift saja yang benar. Kakak kan baru dimarahin Mama waktu itu."

 

"...Iya."

 

Lemon mengangguk patuh lalu mengikuti Nagi menuju lift.

 

Yakishio Nagi, 12 tahun. Ia sudah terlalu berpengalaman menjadi adik Lemon selama bertahun-tahun.

 

 

Lantai yang dicapai lift adalah ruang observasi, dari ketinggian lantai empat, pelabuhan Mikawa bisa terlihat jelas.

 

Sambil melirik kakaknya yang berseru gembira berlari ke jendela, Nagi mulai membaca panel pameran di dinding.

 

"Eh, mobilnya banyak banget dan rapi ya. Apa orang yang kerja di pelabuhan jago nyetir semua ya?"

 

Nagi melirik Lemon sekilas lalu kembali menatap pameran.

 

"Itu motor pool. Katanya tempat parkir mobil yang mau diekspor ke luar negeri."

 

"Ooh. Berarti itu mobil luar negeri?"

 

Gerakan pensil Nagi di buku catatan berhenti.

 

"...Kalau di negara tujuan ekspor, mungkin dianggap mobil luar negeri."

 

"Berarti semuanya mobil luar ya. Keren."

 

SMA Prefektur Tsuwabuki. Sekolah favorit terbaik di daerah ini, sekaligus sekolah yang ingin dimasuki Nagi──dan juga almamater Lemon.

 

Beberapa pikiran kurang sopan sempat muncul, tetapi Nagi memaksanya menghilang dari kepalanya.

 

"Nagi nggak lihat pemandangan? Kalau cuma baca tulisan terus kan bosan."

 

"Aku mau lihat ini."

 

Nagi mendorong kacamatanya sambil menghela napas.

 

"Aku memang berterima kasih sudah diajak ke sini, tapi kalau bosan kakak nggak perlu memaksakan diri."

 

"Soalnya Nagi dari dulu pengen ke sini, kan?"

 

Saat Nagi hendak membalas, ia terdiam, dan Lemon melanjutkan.

 

"Waktu kelas lima SD kamu sakit, jadi nggak ikut kunjungan studi sosial."

 

"Kak, kamu ingat ya."

 

Lemon mendekat lalu memeluk Nagi dari belakang.

 

"Nagi waktu itu kelihatan sangat menantikannya. Kalau bilang ke Papa, pasti langsung diajak ke sini kok."

 

"Bilang kalau aku menantikan kunjungan studi itu... agak memalukan."

 

Nagi menutup buku catatannya dengan kasar.

 

"Waktu itu kakak yang merawat aku, kan?"

 

"Ah, iya, ada ya."

 

"Kamu mau masakin aku, tapi dapurnya jadi berantakan banget. Lupa?"

 

"Ah... kayaknya memang ada ya."

 

Lemon tersenyum canggung sambil menggaruk pipinya.

 

"Ah, ingat. Aku bikin bubur, kan?"

 

"Rasanya parah banget."

 

Nagi berkata begitu sambil tertawa. Lemon ikut tertawa. Setelah tertawa sejenak, Nagi melepas kacamatanya dan mengusap sudut matanya.

 

"Kak, hari ini makas──"

 

"Ah, ada teropong! Nagi, ayo lihat juga!"

 

"...Aku nggak mau."

 

Menanggapi kakaknya yang bersemangat dengan dingin, Nagi kembali membuka buku catatannya.

 

12 tahun menjadi adik. Ia sudah lama menemani kakak seperti ini.

 

Ceria, cepat lari, cantik, dan populer. Hanya karena menjadi adik Lemon, ia sering menjadi pusat perhatian orang sekitar.

 

Namun kakak seperti itu juga pernah melepas sekumpulan jangkrik yang ditangkapnya ke dalam kamar saat musim panas, dan membuat manusia salju di tengah kamar saat musim dingin──sepanjang tahun, selalu saja membuat keributan di keluarga Yakishio.

 

...Tapi belakangan ini kakaknya terasa sedikit lebih dewasa. Ia sudah tidak memanjat pohon di depan umum, dan tidak lagi berjalan keliling rumah hanya dengan handuk setelah mandi.

 

Mungkin dia sudah punya orang yang disukai. Tapi laki-laki yang datang ke rumah tempo hari terlihat tidak bisa diandalkan dan dikelilingi banyak perempuan, jadi sebaiknya dihindari──

 

Saat Nagi memikirkan itu, Lemon tiba-tiba berteriak dari belakang.

 

"Kak, berisik. Kamu nemu kejadian apa?"

 

"...Aku nemu mayat."

 

"Hah?"

 

Lelucon macam apa ini. Saat Nagi berbalik, Lemon memegang teropong dengan wajah pucat dan gemetar.

 

"...Kak, maksudnya mayat itu apa?"

 

Saat Nagi bertanya dengan hati-hati, Lemon seperti tersadar lalu bergerak.

 

"Aku cek ke sana dulu, Nagi tetap di sini!"

 

Setelah menyodorkan teropong ke Nagi, Lemon langsung berlari menuju tangga darurat.

 

 

Beberapa menit berjalan kaki dari Kamomeria terdapat gedung konser Lifeport Toyohashi. Hari ini tampaknya tidak ada acara, sehingga suasana sekitar sepi.

 

Lemon berlari menyeberangi area parkir yang luas, lalu mendekati gedung.

 

Di depan bangunan terdapat kolam dangkal dengan air mancur, dan di depannya──seorang wanita muda terbaring.

 

Sosoknya persis sama seperti yang terlihat dari ruang observasi lewat teropong, membuat keringat dingin mengalir di punggung Lemon.

 

Lemon menelan ludah lalu mendekat perlahan.

 

Wanita yang terbaring itu memiliki rambut panjang cokelat muda. Pakaiannya dengan bagian dada terbuka lebar memberi firasat seperti sebuah insiden──

 

"Orang ini, anggota OSIS...?"

 

Kata-kata itu tanpa sadar keluar, dan ingatan Lemon pun tersentak.

 

Yang terbaring adalah siswi kelas tiga yang pernah bertengkar dengan Tsukinoki-senpai. Kalau tidak salah, Shikiya-senpai.

 

Saat itu, ujung jari Shikiya sedikit bergerak. Lemon buru-buru mendekat dan mengangkat tubuhnya.

 

"! Kamu nggak apa-apa?!"

 

Saat dipanggil, bulu mata panjang Shikiya sedikit bergerak.

 

"Kamu... anak klub atletik ya...?"

 

"Aku Yakishio dari klub atletik. Ada apa?"

 

"Lebih panas dari yang kukira... lalu kehabisan tenaga..."

 

Shikiya mengangkat satu tangan dengan lemah.

 

"Aku mau ke mesin penjual minuman di sana..."

 

"Mesin penjual? Baik, serahkan padaku!"

 

Lemon mengangkat tubuh Shikiya dengan tenaga penuh lalu berlari ke bangku di samping mesin penjual minuman.

 

"Senpai duduk di sini saja. Aku yang beli."

 

"Air... yang rasa persik..."

 

"Baik! Ini, silakan!"

 

"Tolong minumkan...?"

 

"Baik! Tolong buka mulut!"

 

Yakishio memasuki mode junior klub olahraga. Saat ia menyuapkan minuman dari botol plastik, minuman yang tumpah dari mulut Shikiya jatuh ke bagian dada pakaiannya yang terbuka lebar.

 

"Maaf, jadi tumpah."

 

Saat Lemon hendak menyerahkan saputangan, jari ramping Shikiya menangkap tangannya.

 

"Tolong lapkan...?"

 

"Baik──eh, bagian itu Senpai lap sendiri saja boleh?"

 

Mungkin karena naluri liar, Lemon berhasil menghindari bahaya tipis sekali, lalu memeriksa wajah Shikiya.

 

"Kepalanya pusing nggak? Heatstroke itu bahaya loh."

 

"Aku tidak apa-apa... sudah membaik..."

 

Shikiya berdiri dengan goyah lalu berjalan dengan langkah yang jelas belum pulih.

 

"Mau ke mana?"

 

"Pulang... ke rumah..."

 

Mendengar itu, Lemon memutar ke depan Shikiya lalu berjongkok membelakanginya.

 

"Aku gendong saja ya."

 

"Boleh...?"

 

"Aku sudah terbiasa, jadi tidak masalah!"

 

Bagi Lemon yang pernah berlari beberapa kilometer sambil menggendong Komari, ini bukan hal sulit. Namun saat Shikiya naik ke punggungnya──tubuh Lemon langsung diliputi hawa dingin.

 

Tanpa sadar Lemon membeku, dan Shikiya menyandarkan hidungnya ke tengkuknya.

 

"Hya?!"

 

"Wangi..."

 

"Tangan Senpai dingin──jangan-jangan Senpai sudah mati?!"

 

"Kalau begitu... hangatkan...?"

 

Tangan Shikiya meraih bagian dada seragam Lemon.

 

"Karena dingin bukan berarti boleh memasukkan tangan ke bajuku ya?!"

 

"Rasanya... bukan pertama kali menyentuh..."

 

"Ini pertama kalinya ada yang menyentuh di situ!"

 

Saat itu, seseorang berlari mendekat. Itu Yakishio Nagi. Setelah menenangkan napas sambil menekan dadanya, ia mendorong kacamatanya dengan kesal.

 

"Kak, aku cari-cari kamu. Jangan tiba-tiba lari... dong..."

 

Nagi kehilangan kata-kata, wajar saja.

 

Ia akhirnya menemukan kakaknya yang tiba-tiba kabur, tetapi malah melihat kakaknya menggendong wanita asing sambil diraba-raba. Bagi Nagi yang masih berada di masa wajib belajar, informasi ini terlalu berlebihan.

 

"Nagi?! Ini, ehm, Senpai dari sekolah!"

 

"Ngapain kamu sama Senpai sekolah?!"

 

Melihat Nagi yang panik, Shikiya bergumam pelan.

 

"Tidak... baik untuk pendidikan..."

 

Lalu ia turun dari punggung Lemon dan berjalan lemas.

 

"Senpai, sendirian nggak apa-apa?"

 

"Tidak apa-apa... sudah panggil taksi..."

 

Saat pergi, Shikiya menoleh sekali lalu melambaikan tangan.

 

"Sampai... nanti."

 

"Ah, iya."

 

Saat Lemon membalas lambaiannya dengan bingung, Nagi menabraknya sambil memeluk.

 

"Kak, orang itu siapa sih?!"

 

"Entahlah... siapa ya."

 

Shikiya Yumeko, siswi kelas tiga SMA Tsuwabuki.

 

Sambil merasakan aroma parfum yang entah kenapa terasa familiar di sekitar lehernya, Lemon menatap punggungnya yang semakin menjauh.




Previous Chapter | Next Chapter

0

Post a Comment

close