NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Make Heroine ga Oosugiru Volume 8.5 Chapter 6

Penerjemah: Flykitty

Proofreader: Flykitty

Sebaiknya Rahasia Jangan Terlalu Berlebihan


Pagi-pagi sekali di SMA Tsuwabuki.

 

Di gudang gedung lama yang sepi, terlihat seorang siswi, Asagumo Chihaya dari kelas 2-E.

 

Ia mengandalkan sinar matahari pagi yang masuk dari jendela dan pantulan cahaya dari dahinya, sambil mengintip kabel yang menjalar di balik dinding yang telah ia kupas.

 

Hal seperti ini memang sering terjadi pada bangunan tua, tetapi di gedung lama, karena renovasi yang dilakukan berulang kali, banyak jalur kabel yang rutenya menjadi tidak jelas. Ada kabel yang seharusnya ada di denah namun tidak ditemukan, dan sebaliknya, ada kabel yang tidak tercantum di denah tetapi justru terpasang.

 

Selain itu, gedung lama sering digunakan untuk kegiatan ekstrakurikuler maupun keperluan pribadi siswa, sehingga bagi dirinya yang hanyalah seorang siswi biasa, tempat ini sangat cocok untuk menyalurkan rasa ingin tahunya.

 

Tiba-tiba, cahaya dari dahi Asagumo yang sedang mengintip balik dinding semakin terang.

 

"...Ketemu!"

 

Tanpa bisa menahan kegembiraan, suaranya pun terlepas. Ia akhirnya menemukan kabel yang ia cari. Jika menggunakan kabel ini, ia bisa mengakses seluruh sistem audio di gedung lama.

 

Karena berkali-kali diperbaiki dan ditambah instalasi, keberadaan kabel ini bahkan sempat tidak jelas, tetapi ternyata masih tersisa.

 

Selanjutnya, ia hanya perlu memastikan sampai di mana kabel ini masih berfungsi, lalu menyambungkan bagian yang sudah mati dengan rangkaian baru──

 

Saat Asagumo menyusun rencana berikutnya di dalam kepalanya, ia menyadari ada suara langkah kaki yang mendekati gudang.

 

...Lebih dekat dari yang ia kira. Fakta bahwa ia tidak menyadarinya sampai sekarang hanyalah kelalaian semata.

 

Asagumo menyelipkan alat-alat yang ia pegang ke balik bayangan benda, lalu berbalik menghadap pintu.

 

Doanya agar orang itu hanya lewat sia-sia──pintu terbuka dengan keras.

 

"...Oh, Asagumo-kun rupanya."

 

Tokoh kedua yang muncul adalah mantan ketua OSIS, Hokobaru Hibari.

 

Sepertinya ia tidak menyangka ada orang lain di sana. Melihat Hibari yang terkejut, Asagumo menyapanya dengan senyum.

 

"Selamat pagi. Ada keperluan apa sepagi ini?"

 

"Aku sedang mengadakan kelompok belajar percakapan bahasa Inggris dengan beberapa relawan. Ada whiteboard yang tidak terpakai di sini, jadi aku ingin meminjamnya."

 

"Oh, kalau begitu mungkin yang ini?"

 

Asagumo menunjuk whiteboard di dekat dinding. Di balik tumpukan kardus, berdiri sebuah whiteboard tua berkaki.

 

"Ah, yang itu. Sepertinya bakal cukup sulit mengeluarkannya."

 

"Aku bantu, silahkan jangan sungkan."

 

"Maaf. Barang berat biar aku saja yang──"

 

"Silakan jangan sungkan! Senpai tolong bereskan barang yang di bagian dalam."

 

Terdorong oleh semangatnya, Hokobaru mengangguk lalu mulai membereskan barang di bagian belakang.

 

Sambil secara alami menutupi lubang di dinding dengan tubuhnya, Asagumo menumpuk kardus di depannya.

 

"Bagian sini sudah kupindahkan. Bagaimana di sana, Senpai?"

 

"Ya, di sini juga sudah beres. Baiklah, sepertinya bisa digerakkan."

 

Saat memegang whiteboard, Hokobaru menatapnya dengan rasa penasaran.

 

"Ngomong-ngomong Asagumo-kun──kamu sepagi ini sedang apa?"

 

"Itu──"

 

Lawan bicaranya adalah Hokobaru Hibari. Bukan tipe orang yang menjebak orang lain. Setelah memutuskan begitu, Asagumo membuka mulutnya sambil memilih kata-kata dengan hati-hati.

 

"Aku juga ingin mengadakan kelompok belajar dengan teman, jadi aku mencari barang yang bisa dipakai."

 

"Oh, Asagumo-kun juga ya. Kalau butuh sesuatu, tanyakan saja padaku──"

 

Gerakan Hokobaru berhenti saat menggeser whiteboard.

 

Ia menyadari sejumlah alat yang muncul karena barang-barang tadi dipindahkan.

 

"Asagumo-kun, ini apa?"

 

"...Entahlah, ya?"

 

Hokobaru mengambil sebuah papan kecil yang mirip sendok sepatu.

 

"Ini alat untuk melepas panel interior. Kenapa benda seperti ini ada di sini?"

 

"Oh, Senpai tahu?"

 

"Ada kerabatku yang hobi mengutak-atik mobil. Aku pernah melihat pekerjaannya."

 

Hokobaru memandang alat-alat yang bertumpuk secara berantakan.

 

"Ada tester dan tang listrik, ya. Banyak juga yang belum pernah kulihat."

 

"Senpai cukup tahu ya."

 

"Orang tuaku punya lisensi teknisi listrik. Jadi sejak kecil aku sudah terbiasa."

 

Tiba-tiba, pandangan Hokobaru beralih ke arah Asagumo. Lebih tepatnya, ke lubang dinding yang terlihat sekilas di balik tumpukan kardus di belakangnya.

 

"Asagumo-kun, bagaimana dengan dinding di belakangmu itu?"

 

"Oh, ada lubang di sini ya."

 

Asagumo berpura-pura terkejut seolah baru menyadarinya. Hokobaru memindahkan kardus lalu mengintip lubang dinding itu.

 

"Siapa yang membuat lubang seperti ini──"

 

"Kontraktor, mungkin."

 

Asagumo menjawab tegas.

 

"Mungkin masih bagian dari pekerjaan mereka. Alat-alat yang dibiarkan di sini juga bisa dijelaskan dengan itu."

 

Mendengar penjelasan Asagumo yang penuh keyakinan, Hokobaru mengangguk jujur.

 

"Begitu ya. Tapi sepertinya ada alat yang mahal juga. Tidak aman kalau dibiarkan begitu saja. Aku akan membawanya ke kantor administrasi──"

 

"Aku yang akan mengantarkannya!"

 

Mendengar pernyataan Asagumo yang memotong ucapannya, Hokobaru tersenyum kecut lalu mengangguk.

 

"Baiklah, kutitipkan padamu. Kalau begitu aku pamit dulu ya."

 

"Ya, terima kasih atas kerja kerasnya!"

 

Saat mendorong whiteboard keluar, Hokobaru berhenti tanpa berbalik.

 

"...Namun aneh juga."

 

Kata-kata yang seolah mengundang.

 

Asagumo sempat ragu sejenak, tetapi rasa ingin tahunya mengalahkan kewaspadaan. Ia pun bertanya kembali.

 

"Aneh dalam hal apa?"

 

"Waktu aku masih kelas satu, panel distribusi listrik gedung lama pernah terbakar karena sambaran petir. Karena sulit diperbaiki, aku dengar instalasi kabel gedung lama kemudian disambungkan ke gedung barat."

 

"............"

 

Seolah menanggapi keheningan Asagumo, Hokobaru melanjutkan.

 

"Kabel di situ seharusnya sudah tidak digunakan sekarang. Kira-kira kontraktor sedang mengerjakan apa, ya?"

 

"............Entahlah, aku tidak tahu."

 

Mendengar nada bicara Asagumo yang berhati-hati, Hokobaru melambaikan tangan tanpa berbalik.

 

"Ah, jangan dipikirkan. Hanya omong kosong saja."

 

"Tidak, itu cerita yang sangat menarik."

 

Meskipun pintu ruangan sudah tertutup, Asagumo tetap menatapnya dengan saksama.

 

──Hokobaru Hibari. Mantan ketua OSIS SMA Tsuwabuki yang bukan hanya berhati baik.

 

Memang, di sekolah ini ada banyak orang yang menarik.

 

"...Makanya aku jadi ingin tahu."

 

Asagumo menggenggam tang listrik, lalu kembali menghadap lubang di dinding.




Previous Chapter | Next Chapter

0

Post a Comment

close