NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Mugen no Majutsu Shi Maryoku Nashi de Heimin no Ko to Hakugai Sareta Ore ⁓ Jitsuha Mugen no Maryoku Mochi Volume 2 Chapter 3

Chapter 3

Penderitaan Celestine


Setelah kejadian itu, Roderick dan para pengikutnya dikirim ke ruang medis bersama siswa yang menjadi korban.

Dokter sekolah di akademi ini sangat kompeten. Saking hebatnya, sampai ada rumor yang mengatakan, "Selama kepala masih tersambung, luka apa pun bisa disembuhkan."

Berkat keahlian sang dokter, komplotan Roderick maupun siswa korban dikabarkan bisa kembali ke kehidupan normal tanpa cacat permanen.

Setelahnya, Roderick dijatuhi hukuman skorsing dan harus menjalani masa tahanan rumah di kediamannya, alias di kastil kerajaan.

Meskipun hukuman skorsing terasa terlalu ringan, tampaknya pihak keluarga kerajaan telah membayar uang kompensasi dalam jumlah besar kepada siswa yang terluka dan siswi yang diganggu.

Mungkin terdengar buruk jika dikatakan sebagai uang tutup mulut, tapi nilainya setara dengan puluhan juta yen.

Tidak heran jika kedua siswa dari kalangan rakyat jelata itu beserta keluarga mereka akhirnya luluh.

Mengenai sosok yang menghajar Roderick dan dua pengikutnya, hal itu tetap menjadi misteri. Pihak pengajar sempat mengumumkan agar pelakunya mengaku, namun Rest tidak pernah mengangkat tangannya.

"Menurutku itu pilihan yang tepat. Tidak perlu repot-repot mengaku."

"Akan merepotkan jika Pangeran Roderick atau para pendukungnya sampai menandaimu," tambah Primula.

Setelah mendengar ceritanya, Viola dan Primula mendukung keputusan Rest. Menghajar pangeran idiot yang langka itu mungkin tidak akan mendatangkan hukuman resmi.

Namun, dunia ini penuh dengan orang dengan berbagai pemikiran.

Ada yang memuja keluarga kerajaan tanpa syarat, ada yang iri karena Rest dipilih oleh si kembar Rosemary dan ingin menjatuhkannya, bahkan ada yang mendukung Roderick karena sangat mengidolakan Ibu Suri.

Jika keterlibatan Rest terungkap, sudah pasti akan menjadi masalah panjang. Jadi, diam adalah pilihan terbaik.

"Ah, syukurlah. Berarti keputusanku memakai asap sudah benar ya."

"Kalau perlu, nanti kami yang akan bicara pada Ayah," ujar Viola.

"Jika Ayah melaporkannya secara pribadi kepada Raja atau pihak akademi, seharusnya tidak akan ada masalah," Primula menimpali.

"Begitu ya... kalau kalian berdua bilang begitu, aku jadi tenang."

Rest merasa lega mendapat jaminan dari mereka. Meski ia melakukannya karena terbawa suasana, dalam hati ia sempat merasa was-was karena telah memukul anggota keluarga kerajaan.

Begitulah, meski sempat terjadi insiden yang kurang menyenangkan, kehidupan akademi Rest dan kawan-kawan berlanjut dengan lancar.

"Wind Bullet!"

"Water Ball! Water Ball!"

"Kena kau! Hei, jangan menghindar!"

Di salah satu sudut lapangan akademi, para siswa Kelas A Departemen Sihir sedang berkumpul. Saat ini, mereka sedang menjalani pelajaran 'Praktik Sihir'.

Materi hari ini adalah 'Menembak Target Bergerak'—alias latihan untuk mengenai sasaran yang bergerak dengan sihir.

"Sial... tidak kena! Targetnya terlalu cepat!"

Seorang teman sekelas berteriak kesal di tengah kubah transparan yang merupakan penghalang sihir.

Di dalam kubah beradius tiga puluh meter itu, terdapat siswa, pengajar, dan sekitar dua puluh 'target' yang bergerak liar ke segala arah.

Target-target itu adalah benda sihir khusus yang melayang dan terbang tidak beraturan seperti burung di dalam kubah. Sihir yang boleh digunakan hanyalah sihir tingkat rendah.

Artinya, mereka tidak boleh membakar habis semuanya dengan serangan area berdaya hancur tinggi.

Untuk mengenai target yang bergerak cepat, dibutuhkan bukan hanya ketajaman mata, tapi juga kecepatan aktivasi dan akurasi sihir.

Bahkan bagi siswa Kelas A yang berbakat, ini bukan hal mudah. Bisa menjatuhkan setengah target dalam batas waktu satu menit saja sudah dianggap lumayan.

"Baik, cukup sampai di situ. Target yang kena hanya tujuh. Nilaimu di bawah standar."

"Uugh... sialan..."

Luid Jistal, teman Rest, tertunduk lesu.

"Jistal-kun, kau memang memperhatikan target dengan baik, tapi akurasimu rendah. Teruslah berlatih repetisi sihirmu," ujar Baretis, sang pengajar.

"Baik..."

"Minggu depan akan ada tes praktik. Jika tidak mencapai nilai kelulusan yaitu 8 poin, kau harus ikut kelas tambahan. Berlatihlah dengan benar."

Baretis memberikan teguran yang lembut namun tegas. Luid keluar dari kubah dengan wajah muram dan kembali ke tempat Rest dan yang lainnya.

"Gagal, deh... Sial, targetnya terlalu cepat, tahu."

"Semangat, ya."

"Itu karena akurasimu yang buruk saja. Kau menembak asal-asalan, kan," Maurice Wood menimpali dengan pedas.

"Bawel! Kau sendiri juga tidak sebagus itu, kan!"

"Aku dapat 9 poin. Setidaknya sudah di atas batas lulus."

"Sejauh ini di antara kita, cuma Luid-kun yang tidak lulus. Aku sendiri dapat 11 poin," Jewel Easel ikut menimpali. Luid semakin tertunduk lesu.

"Guaaa... kenapa cuma aku..."

"Selanjutnya, Viola Rosemary-san."

"Ah, giliranku."

Menyusul Luid yang depresi, nama Viola dipanggil.

"Kalau begitu, aku pergi dulu ya."

"Iya, semangat."

Setelah dilepas oleh Rest dan Primula, Viola masuk ke dalam kubah.

Penghalang itu dibuat agar target tidak keluar dan sihir tidak nyasar ke orang di sekitar, namun manusia bisa keluar masuk dengan bebas.

Rest belum paham sistemnya, yang ia tahu ilmu sihir memang sangat dalam.

"Kalau begitu... Mulai!"

"Fire Bullet!"

Begitu Baretis memberi komando, Viola langsung melepaskan peluru api. Salah satu dari dua puluh target yang mulai terbang langsung jatuh tertembak.

"Fire Bullet! Fire Bullet! Fire Bullet!"

Viola terus melepaskan tembakan api. Target jatuh satu demi satu. Belum sampai tiga puluh detik, setengah dari target sudah rontok ke tanah.

"Hebat... seperti yang diharapkan dari Viola-san!"

"Inilah sihir keluarga Rosemary... Putri Kepala Penyihir Istana memang bukan main-main."

Siswa Kelas A di luar kubah berdecak kagum. Sihir Viola sangat cepat dan akurat.

Terlihat jelas betapa biasanya sihir yang digunakan Luid tadi jika dibandingkan dengannya.

(Aku tidak merasa kalah dalam hal jumlah mana atau daya hancur, tapi kecepatan aktivasinya jauh di atasku... dia memang hebat.)

Rest juga berdecak kagum dalam hati. Berkat mana yang tak terbatas dan kemampuan fisik yang unggul, ia mungkin tidak akan kalah jika bertarung melawan Viola atau Primula.

Namun, jika hanya mengadu teknik sihir murni, mereka berdua jelas lebih unggul.

Bakat yang didukung garis keturunan dan bimbingan guru hebat. Serta kepribadian mereka yang tekun membuat kemampuan sihir mereka mekar dengan indah.

"Fire Bullet!"

"Cukup... 18 poin. Luar biasa. Kau lulus tanpa cela!"

Baretis memuji Viola, dan teman sekelas secara spontan bertepuk tangan.

"Ah, dua tembakanku meleset. Padahal sedikit lagi poin sempurna."

"Tidak, itu sudah sangat hebat... aku sampai kaget."

"Berikutnya, Primula Rosemary-san."

"Ah, saya."

Kini giliran Primula. Ia mengangguk kecil pada Rest dan Viola sebelum masuk ke kubah.

"Water Bullet...!"

Primula menggunakan sihir air. Dengan wajah sedikit tegang, ia mulai menembaki target.

Setelah mengamati lebih saksama, akurasi dan kecepatan aktivasi sihir Primula ternyata tidak kalah dari Viola.

(Penyebab dia merasa kurang mungkin karena masalah rasa percaya diri? Dia merasa inferior terhadap Viola, padahal aslinya tidak perlu begitu...)

"Cukup, 16 poin. Sangat bagus."

"Baik..."

Waktunya habis. Meski sedikit di bawah Viola, skornya tetaplah tinggi.

"Selesai... ternyata tetap lebih rendah dari Kakak."

"Tidak, kau hebat kok, Primula!"

"Iya, tadi itu keren. Kau harus lebih bangga dan percaya diri."

Viola dan Rest menyemangati Primula yang baru kembali. Menurut Rest, perbedaan nilai mereka hanya karena masalah mental Primula saja.

Secara kemampuan, mereka sebenarnya seimbang. Dalam hal nilai teori pun Primula lebih unggul, jadi secara keseluruhan mereka tidak ada bedanya.

"Selanjutnya... Yuri Katreia-san."

"Siap!"

Yuri mengangkat tangan dengan penuh semangat. Entah apa dasarnya, ia berjalan dengan langkah mantap yang penuh percaya diri misterius.

"Yuri-san... apa dia akan baik-baik saja?" Primula bertanya khawatir.

Jumlah mana Yuri sangat sedikit. Singkatnya, dia sama sekali tidak punya bakat sihir.

(Tapi Yuri tetap berusaha. Dia sangat rajin di kelas dan belajar sendiri setelah sekolah. Namun... bakat memang sesuatu yang tidak bisa dipaksakan.)

Jika begini terus, dia pasti tidak lulus. Saat sedang mengamati apa yang akan dia lakukan, Yuri mulai mengumpulkan mana di tengah kubah.

"FUAAAAAAAAAAAAA!"

Mana terpancar bersama napas panjangnya. Di depan Yuri, terbentuk tiga bongkah batu runcing.

"Stone Bullet, ya..."

Rest ingat pemandangan ini. Saat ujian praktik masuk dulu, Yuri juga menciptakan peluru batu dan melemparkannya ke target.

Dia menutupi kekurangan mana dengan kekuatan lengan yang luar biasa.

Tapi kali ini targetnya ada dua puluh. Meski Yuri sekarang sudah bisa menciptakan tiga peluru batu sekaligus, itu tetap tidak cukup.

"Baiklah! Yaa!"

Yuri yang bercucuran keringat butuh waktu tiga puluh detik penuh untuk menciptakan peluru batu itu, lalu ia mencengkeramnya.

Ia mengambil ancang-ancang dan terdiam sejenak, menatap tajam target yang bergerak cepat.

"Sekarang!"

Dilemparnya peluru itu. Dengan kecepatan seperti lemparan straight pemain bisbol profesional, peluru batu itu menembus satu target, menghantam target di belakangnya, lalu menembus target berikutnya lagi. Tiga target jatuh sekaligus.

"Eeeh!? Bohong, kan!?" Rest spontan berteriak.

Benar-benar cara yang kasar, tapi didukung oleh ketajaman mata yang gila.

Tak ada yang menyangka dia bisa menjatuhkan tiga target sekaligus dalam satu lemparan.

"Hap! Hap!"

Yuri melemparkan peluru kedua dan ketiga. Lemparan kedua juga menjatuhkan tiga target, sedangkan lemparan ketiga menjatuhkan dua target.

"C-Cukup... 8 poin. Kau lulus. Eh?"

Baretis mengumumkan akhir sesi dengan wajah kaku dan nada bingung.

"Yah, yang terakhir cuma hancur dua. Sayang sekali."

"Tidak... itu sudah sangat hebat. Aku benar-benar terkejut."

"Aku saja tidak lulus, tapi kenapa Katreia..."

Rest memasang wajah kaku melihat pemandangan mengejutkan itu, sementara Luid tertunduk lesu.

"S-Selanjutnya Rest-kun."

"...Giliranku. Aku pergi dulu."

Baretis memanggil Rest dengan suara yang masih sedikit tercekat. Rest mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu masuk ke dalam kubah.

"Baik, mulai."

Dua puluh target terbang liar. Rest mengembuskan napas panjang sambil mengaktifkan sihirnya.

Di sekitar Rest, muncul bola-bola petir ungu yang memercikkan listrik dalam jumlah banyak.

"Thunder Ball."

Petir menyambar ke arah target. Rest menembak mereka satu per satu dengan akurat.

(Satu, dua, tiga... targetnya memang cepat. Karena aku sudah melatih ketajaman mata, aku masih bisa mengikutinya... delapan, sembilan, sepuluh...)

Rest berhasil menembak target dengan lancar dan mencapai batas lulus. Namun, Baretis berujar dengan tenang.

"Sisa sepuluh detik."

(Hmm, kalau begini terus aku cuma bisa kena satu atau dua lagi. Apa boleh buat. Agak curang sih, tapi mari selesaikan sekaligus.)

"Thunder Ball!"

Di sekitar Rest muncul bola petir yang tak terhitung jumlahnya. Sepuluh, dua puluh, tiga puluh... saking banyaknya hingga tak bisa dihitung.

"Tembak!"

Rest melepaskan mereka secara bertubi-tubi. Target yang tersisa jatuh satu per satu. Ia hanya menggunakan sihir tingkat rendah dan menembakkannya secara beruntun, bukan serangan area.

Jadi secara teknis, ia tidak melanggar aturan. Ia hanya menutupi kekurangan akurasinya dengan jumlah mana yang luar biasa besar.

"20 poin. Yah, kau lulus."

Baretis mengatakannya dengan wajah yang tampak sedikit bingung. Rest berhasil menjatuhkan semua target dengan sisa waktu tiga detik. Nyaris saja.

"Kau memang lulus tanpa cela, tapi... ini sedikit melenceng dari tujuan pelajaran. Aku memuji kemampuan aktivasi sihir beruntunmu, tapi untuk masalah akurasi, kau harus tetap berlatih."

"Baik. Terima kasih banyak."

Setelah menerima teguran ringan, Rest kembali ke teman-temannya.

(Yah, wajar kalau ditegur... sepertinya aku harus lebih melatih teknik penembakan sihirku.)

Meskipun mendapat poin sempurna dengan cara kasar yang nyaris curang, ia merasa memang perlu mengasah diri lagi.

(Menembak dengan sihir ya... kalau lawannya terlalu cepat mungkin sulit kena, tapi kalau dikombinasikan dengan Life Search, mungkin bisa jadi serangan yang lebih presisi? Seperti menembak monster yang berada beberapa kilometer jauhnya...)

"Aduh, Rest-kun. Kau ini keterlaluan ya."

"Tapi itu tadi hebat. Skor tertinggi, lho."

Viola menyambutnya dengan wajah heran, sementara Primula tersenyum kecul. Yuri juga menepuk bahu Rest dengan tawa ceria.

"Ahahaha! Rest benar-benar gila. Kau selalu saja melakukan hal yang di luar nalar!"

"Aku tidak mau dengar itu darimu. Benar-benar tidak mau."

Sambil bertukar gurauan, satu per satu siswa Kelas A lainnya maju untuk mencoba 'Menembak Target Bergerak'.

"Celestine Crocus-san. 8 poin, nyaris saja."

Kini giliran Celestine yang selesai. Ia tidak gagal, tapi nilainya cukup mengkhawatirkan.

"Kau tampak kurang sehat. Apa kondisi tubuhmu sedang tidak baik?" tanya Baretis.

"Tidak... saya baik-baik saja. Terima kasih atas perhatiannya."

Celestine kembali. Ia menjaga jarak dari Rest dan teman-temannya, lalu berdiri sendirian di sudut lapangan.

"Celestine-sama... ada apa dengannya ya?"

"Aneh melihatnya yang biasanya berprestasi jadi seperti itu. Jangan-jangan, karena 'itu' ya?"

"Ah..." Primula langsung merona mendengar ucapan kakaknya.

"Memangnya 'itu' apa? Kalian tahu sesuatu?"

"Rest-kun tidak perlu tahu kok."

"I-Iya, kau tidak perlu tahu..."

"............?"

Mendengar jawaban serempak dari si kembar Rosemary, Rest hanya bisa memiringkan kepala dengan perasaan bingung.

"Hari ini kami diundang ke salon oleh kakak kelas. Rest-kun, kau pulang duluan ya."

"Rest-sama, sampai jumpa nanti di kediaman."

Sore itu, Rest kembali berpisah dengan si kembar Rosemary. Sejak masuk akademi, mereka berdua jadi punya banyak teman perempuan, sehingga waktu yang mereka habiskan terpisah dari Rest pun bertambah. Itu hal yang bagus. Apalagi sekarang Roderick sedang diskors, jadi suasana sekolah cukup damai.

"Nah... sekarang aku mau ngapain ya?"

Rest berpikir sejenak. Saat tidak bersama si kembar, biasanya ia bermain dengan Luid dan yang lainnya, membantu Yuri belajar, atau latihan sihir mandiri.

Tapi mereka tidak ada di kelas. Luid langsung pulang karena ada urusan keluarga, sedangkan Yuri dipanggil oleh pengajar.

"Sekali-kali pulang sambil mampir ke suatu tempat sendirian seru juga..."

Rest merapikan barang-barangnya dan meninggalkan kelas. Rest adalah tipe orang yang tidak punya hobi.

Selain belajar dan latihan sihir, ia tidak tahu harus melakukan apa di waktu senggang. Ia tidak pernah pergi jalan-jalan sendirian kecuali bersama si kembar atau teman-temannya.

(Viola dan Primula juga sering bilang kalau aku harus cari hobi selain belajar dan sihir. Mari cari sesuatu yang cocok.)

Dengan pemikiran itu, Rest memutuskan untuk pergi ke kota sendirian.

"Oh... bukankah itu Rest-san? Hari ini Anda sendirian ya."

Namun, di gerbang sekolah ia berpapasan dengan Celestine. Celestine baru saja hendak naik ke kereta kuda yang memiliki lambang keluarga Duke Crocus.

"Nona Celestine..."

"Panggil Celestine saja tidak apa-apa. Tidak perlu bahasa formal juga. Hari ini ke mana Viola-san dan Primula-san?"

"Ah... mereka diundang ke salon oleh kakak kelas. Jadi aku berencana pergi ke kota sendirian."

"Oh, begitu? Kalau begitu, mau pergi bersama saya?"

"Hah...?"

"Saya juga ingin ke kota untuk menyegarkan pikiran. Berdua pasti lebih menyenangkan daripada sendirian, kan? Ada hal yang ingin saya bicarakan juga, bagaimana?"

"............Baiklah."

Setelah berpikir sejenak, Rest mengangguk setuju. Ia penasaran dengan hal yang ingin dibicarakan Celestine, dan ia juga merasa khawatir padanya.

Baru sekarang Rest menyadari ada lingkaran hitam di bawah mata Celestine. Karena tertutup riasan dengan baik, ia tidak menyadarinya saat di kelas tadi.

(Ternyata memang terjadi sesuatu ya? Yah, setidaknya aku bisa menemaninya belanja.)

Dalam situasi seperti ini, Viola dan Primula sangat pengertian sehingga sangat membantu.

Ada orang di dunia ini yang menganggap jalan dengan wanita lain adalah perselingkuhan, tapi Rest yakin mereka berdua akan menghargai keputusannya dengan positif.

"Kalau begitu, silakan naik ke kereta."

"Ah—silakan, berpeganganlah pada lenganku."

"Oh?"

Rest mengawal Celestine. Ini adalah etiket pria yang dulu tidak mungkin bisa ia lakukan, namun ia mempelajarinya selama berinteraksi dengan si kembar Rosemary.

"Terima kasih. Anda benar-benar seorang pria sejati ya."

"Bukankah ini hal biasa di kalangan bangsawan?"

"Tapi ada juga orang yang tidak bisa melakukan hal biasa seperti ini... bahkan orang yang sangat dekat denganku."

Sudah pasti yang dimaksud adalah Roderick. Hanya Celestine yang tahu betapa beratnya memiliki tunangan yang bahkan tidak bisa mengawal pasangannya. Rest dan Celestine duduk berhadapan. Kereta pun mulai berjalan.

"Jadi... apa yang ingin kau bicarakan?"

"Sebenarnya... ada hal yang ingin saya pastikan pada Rest-san. Orang yang melumpuhkan Pangeran Roderick pada insiden penyerangan tempo hari adalah Rest-san, bukan?"

"............Maksudmu apa ya?"

Setelah hening sejenak, Rest pura-pura bodoh. Namun, Celestine tetap tersenyum lembut dan mengangguk.

"Ternyata benar dugaan saya. Pangeran benar-benar sudah menyusahkan Anda lagi."

"Tidak... aku tidak ingat pernah membenarkannya?"

"Rest-san ternyata tipe orang yang tidak bisa berbohong ya. Kau sama sekali tidak bisa menutupinya."

"Muu..." Rest memasang wajah cemberut.

Seperti yang dikatakan Celestine, Rest memang payah dalam berbohong. Meski begitu, ia tidak menyangka wajahnya akan sejelas itu.

"Begini-begini, saya merasa punya mata yang cukup tajam untuk menilai orang. Saya rasa orang lain tidak akan menyadarinya, jadi Anda bisa tenang."

"Aku belum mengiyakannya, lho... cuma itu yang mau kau bicarakan?"

"Tidak. Intinya baru dimulai dari sini."

Celestine memperbaiki posisi duduknya, lalu menundukkan kepala dengan sopan di kursinya.

"Terima kasih banyak karena telah menghentikan amukan Pangeran. Jika bukan karena Rest-san, mungkin akan ada korban jiwa. Izinkan saya mengucapkan terima kasih meskipun secara tidak resmi."

"............"

Seorang putri Duke... wanita yang mungkin memiliki otoritas tertinggi di negeri ini setelah Ratu, sedang menundukkan kepala di depan Rest. Padahal meski berada di bawah perlindungan keluarga Marquis, status Rest hanyalah rakyat jelata.

Rambut platinum indahnya mengalir seperti air terjun dari kepalanya. Entah mengapa, jantung Rest berdegup kencang melihatnya.

"A-Ayo angkat kepalamu... aku tidak melakukan apa pun yang pantas menerima ucapan terima kasih darimu."

"Tapi..."

"Kumohon. Aku jadi merasa tidak enak sendiri."

Setelah dipaksa, barulah Celestine mengangkat kepalanya. Rest mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak beraturan karena kejadian tak terduga ini, lalu berdeham keras.

"Pertama, aku tidak melakukan apa pun pada Pangeran Roderick. Seandainya pun yang menghentikannya adalah aku, amukan Pangeran adalah tanggung jawab Pangeran sendiri. Tidak ada alasan bagi Celestine untuk meminta maaf."

Jika seorang anak berbuat nakal, itu adalah tanggung jawab orang tua yang mendidiknya. Tapi seorang tunangan yang bahkan tidak menginginkan pertunangan itu jelas tidak punya tanggung jawab apa-apa.

"Bukankah Celestine sendiri adalah korbannya? Aku dengar kau selalu saja memberesi kekacauan yang dibuat oleh si ba—maksudku, oleh Pangeran."

Rest hampir saja kelepasan mengumpat 'pangeran idiot'. Ada hal-hal yang tidak boleh diucapkan meski itu adalah fakta, dan Rest cukup paham soal itu.

"Apa penyebab kau terlihat sangat lelah akhir-akhir ini juga karena Pangeran Roderick?"

"...Ternyata kau tahu ya. Seperti dugaanmu."

Celestine membenarkan tebakan Rest dengan senyum lelah.

"Belakangan ini, beberapa bangsawan termasuk Marquis Eiger datang berkunjung ke kediaman Duke hampir setiap hari. Jika Ayah sedang pergi untuk urusan pemerintahan, sayalah yang harus melayani mereka."

"Marquis Eiger...?"

Rest pernah mendengar nama itu. Dia adalah bangsawan agung dari faksi 'Ibu Suri' dan merupakan wali dari Roderick.

"Kenapa Marquis Eiger datang ke kediaman Duke?"

"Mereka mendesak agar skorsing Pangeran Roderick dicabut. Karena permohonan mereka ditolak oleh Raja, mereka jadi terus-terusan mendesak saya sebagai tunangan untuk bertindak demi Pangeran."

Celestine memijat sudut matanya. Ia terlihat sangat lelah. Sepertinya ia benar-benar ditekan oleh si Marquis Eiger itu.

"Pangeran Roderick melukai teman sekelas karena alasan egois. Wajar jika ia dihukum. Saya sudah berkali-kali menekankan hal itu, tapi... haah."

"Begitu ya... pantas saja kau terlihat lelah."

Muncul rasa simpati di mata Rest. Meski terlihat dewasa, Celestine seumur dengan Rest, gadis berusia lima belas tahun. Melihatnya terseret dalam urusan orang dewasa yang rumit membuat Rest benar-benar merasa kasihan.

"Makanya hari ini saya ingin pergi ke kota untuk sedikit menyegarkan pikiran."

"Iya, iya. Wajar kalau kau ingin main... omong-omong, ada yang bisa kubantu?"

"Yang bisa... dilakukan?"

"Iya, kita kan teman. Kalau ada yang bisa kubantu, aku akan menolongmu."

"Begitukah... kalau begitu, maukah kau menemaniku hari ini?"

Celestine menaruh tangan di dadanya dan tersenyum lembut.

"Rasanya aku ingin melampiaskan semua kekesalanku. Ada beberapa toko yang agak sulit dimasuki sendirian, jadi aku akan sangat terbantu jika kau mau menemani..."

"Tentu, kalau cuma itu dengan senang hati."

Singkatnya, ia minta ditemani untuk menghilangkan stres. Kebetulan Rest juga sedang punya waktu luang.

"Kalau begitu, kita mau pergi ke mana?"

"Maukah kau mengawalku? Sejujurnya aku tidak terlalu tahu toko-toko yang asyik buat main."

"Kalau begitu... bagaimana kalau kita pergi ke toko yang pernah kudatangi bersama Luid dan yang lainnya?"

Aku tahu tempat yang paling tepat untuk melepas penat.

Celestine mungkin tidak tahu tempat ini. Ini bukan jenis tempat yang biasa didatangi oleh seorang putri Duke, tapi justru karena itulah dia bisa merasa segar kembali.

"Pak kusir, lurus saja lewat sini. Lalu belok kanan di ujung jalan."

"Baik, Tuan."

Setelah Rest memberikan instruksi kepada kusir, mereka tiba di sebuah fasilitas terbuka yang luas.

Dari dalam fasilitas itu, terdengar suara dentingan yang ritmis dan menyenangkan. Bola-bola putih tampak meluncur tinggi ke angkasa.

"Tempat apa... ini sebenarnya?"

"Ini namanya batting center."

Kalau bicara soal cara klasik melepas stres, batting center adalah pilihannya.

Di fasilitas ini, kamu bisa menikmati sensasi memukul bola yang ditembakkan dari sebuah magic item khusus menggunakan tongkat pemukul.

(Di kehidupanku yang dulu, aku sering memukul bola di batting center dekat rumah... soalnya hidupku dulu benar-benar penuh tekanan.)

Bagi Rest di kehidupan sebelumnya yang memikul beban stres dari pekerjaan paruh waktu dan masalah keluarga, batting center adalah salah satu kebahagiaan kecilnya.

(Aku sempat terkejut saat tahu ada batting center di dunia ini... apa mungkin, ada orang lain yang bereinkarnasi selain aku?)

Bukan hal yang aneh. Sebaliknya, Rest tidak pernah merasa bahwa hanya dirinya yang spesial.

Mungkin saja ada banyak reinkarnator lain selain Rest, dan salah satu dari mereka yang menyebarkan konsep batting center ini.

"Memukul balik bola dengan tongkat? Apa maknanya melakukan tindakan itu?"

"Kalau ditanya maknanya, aku juga bingung... tapi ini bisa membuat perasaanmu lega. Kamu akan tahu kalau sudah mencobanya sendiri."

"Baiklah... kalau Rest-san memang berkata begitu."

Dengan wajah yang tampak agak ragu, Celestine mengikuti Rest. Setelah membayar biaya di loket dan menerima tongkat pemukul, Celestine masuk ke ruang ganti untuk berganti pakaian olahraga khusus wanita yang disewakan di sana.

Keduanya memasuki area yang kosong dan berdiri di depan magic item pelempar bola dengan jarak sekitar dua puluh meter.

"Pertama-tama, aku akan berikan contoh."

"Silakan."

Rest memasang kuda-kuda dengan tongkat pemukul. Tak lama kemudian, sebuah bola putih melesat dari mesin pelempar.

"Hup...!"

Sambil mengembuskan napas pendek, Rest mengayunkan tongkatnya.

Tongkat itu mengenai bagian tengah bola dengan sempurna, menghasilkan bunyi dentingan yang merdu. Bola itu melesat kencang dan mengguncang jaring yang terpasang di belakang mesin pelempar.

"Sip, home run!"

"Luar biasa. Jadi begitu ya cara mainnya."

Celestine bertepuk tangan dengan anggun.

Rest terus memukul balik bola yang datang satu per satu. Kecepatan bolanya sekitar delapan puluh kilometer per jam, kecepatan standar untuk pemula. Bagi Rest, ini terasa agak kurang menantang.

"Yah, kira-kira seperti itu."

"Tadi itu hebat sekali. Selanjutnya giliranku, kan?"

"Iya, cobalah."

"Cara mengayun tongkatnya... begini, ya?"

Celestine masuk ke kotak pemukul dan melakukan beberapa kali ayunan percobaan.

Meskipun ini baru pertama kalinya, gerakannya terlihat cukup meyakinkan. Sepertinya dia memang punya bakat atletik yang bagus.

"Bagus juga. Tidak kelihatan seperti pemula."

"Terima kasih atas pujiannya... Yaa!"

Celestine mengayunkan tongkat ke arah bola yang meluncur.

Ayunan pertamanya meleset. Namun, karena penentuan waktunya sudah pas, kemampuannya memang menjanjikan.

"Perhatikan bolanya lebih saksama. Pegang tongkatnya sedikit lebih pendek, dan awalnya jangan berpikir untuk memukul jauh, tapi fokuslah agar kena dulu. Kamu boleh menggunakan sihir Physical Up."

"Saya mengerti."

Sesuai saran Rest, Celestine memperkuat fisiknya dengan sihir.

Dia menangkap bola berikutnya dengan ayunan yang sedikit lebih lambat. Meski bolanya hanya bergulir lemah ke arah pelempar, dia berhasil memukulnya balik.

"Ah... kena."

"Bagus. Lanjutkan terus."

"Begitu ya, aku mulai menangkap rahasianya... Seperti ini!"

Setelah itu, Celestine terus berhasil mengenai bola dengan lancar. Meski kebanyakan hanya bola darat atau bola lambung, dia berhasil mengenai bola setidaknya satu dari dua kali percobaan.

"!"

Dan... akhirnya, dia berhasil mengenai bagian tengah bola dengan telak.

Bola itu meluncur membentuk garis parabola besar di udara dan menabrak jaring dengan kencang.

"Terbang...!"

"Hebat. Itu pukulan telak."

"Luar biasa...! Sekarang saya mengerti apa maksud Anda tentang merasa lega...!"

Suara Celestine terdengar bersemangat. Kegembiraan dan rasa puas saat berhasil menerbangkan bola sekuat tenaga adalah perasaan yang tak tertandingi.

"Saya ingin mencobanya sekali lagi...!"

"Oh iya... benar juga. Kalau kamu memukul sambil membayangkan bola itu adalah wajah orang yang kamu benci, bolanya bakal lebih mudah terbang, lho. Dulu aku juga sering membayangkan wajah ayahku..."

"YAAA!"

"Membayangkan... ah."

Terdengar dentingan yang jauh lebih keras dari sebelumnya. Sekali lagi, bola putih itu melesat jauh hingga ke jaring.

"Pangeran Roderick... DASAR KURANG AJAR! TIDAK TAHU ATURAN! LICIK! CABUL! KEPARAT! TIDAK TAHU MALU! HIDUNG BELANG! MESUM! PEMAKSA! TIDAK TAHU SOPAN SANTUN! DASAR IDIOOOOOOOT!"

"O-Oh... ternyata dia memang memendam banyak kekesalan, ya..."

Celestine berteriak sambil mengayunkan tongkatnya sekuat tenaga.

Nada bicaranya kasar, tidak seperti biasanya. Sepertinya sesuatu di dalam dirinya baru saja meledak. Sambil terus memukul bola, Celestine meneriakkan jeritan jiwanya berkali-kali.

"Jangan menyusahkan saya terus! Saya bukan orang tua maupun pengasuh Anda!"

"Kenapa saya terus yang harus membereskan kekacauan Anda... saya juga ingin lebih banyak bermain, bukan cuma bekerja terus tahu!"




"Selalu ada ya... anak yang kelihatannya tenang tapi tiba-tiba meledak karena terlalu lama memendam semuanya."

Di kehidupan lamanya dulu, ada ketua kelas yang sangat pendiam saat SD, tapi tiba-tiba mengamuk, membalikkan meja, dan membuat keributan besar.

Celestine adalah tipe siswi teladan, dan justru karena itulah dia mungkin tidak bisa menyalurkan rasa frustrasinya hingga terus menumpuk di dalam hati.

"Punya tunangan seperti dia itu BENAR-BENAR MENYEBALKAAAAAAAN!"

"Sepertinya dia senang sekali. Harus ditambah durasinya... biarkan dia memukul sampai puas."

Rest perlahan menjauh dari Celestine yang terus mencetak home run beruntun, lalu berjalan menuju loket. Ia membayar biaya tambahan dan meminta perpanjangan waktu.

"Mohon maaf... saya sudah memperlihatkan sisi memalukan di depan Anda."

"Tidak... yah, intinya, kamu sudah bekerja keras. Benar-benar."

Saat matahari hampir terbenam, Celestine akhirnya tampak puas. Setelah berganti kembali dari pakaian olahraga sewaan, Celestine tampak merona merah dan merasa malu saat teringat makian yang ia lontarkan tadi.

Meski begitu, ekspresinya terlihat jauh lebih lega. Beban pikiran yang ada sebelum masuk ke batting center tadi telah sirna.

"Saya benar-benar lupa diri... entah mengapa saya sampai berteriak seperti itu..."

"Mungkin karena kamu sudah menumpuk stres sebanyak itu... itu bukan salahmu. Aku tidak akan membocorkan kejadian hari ini pada siapa pun, jadi jangan dipikirkan."

"Tolong, lakukanlah begitu... ini rahasia di antara kita berdua."

Mungkin dia tidak bermaksud begitu, tapi kata 'rahasia' yang keluar dari mulut gadis cantik seperti Celestine sempat membuat jantung Rest berdegup kencang.

(Padahal situasinya sama sekali tidak romantis... ini lebih ke arah sejarah kelam, sih.)

"Kalau begitu, mari kita pulang."

"Baik. Saya akan mengantar Anda dengan kereta. Karena saya sudah meminjam tunangan mereka cukup lama, saya harus menjelaskan situasinya kepada Viola-san dan Primula-san."

Rest dan Celestine meninggalkan batting center menuju tempat kereta kuda keluarga Duke Crocus diparkir.

Waktu senja menyelimuti kota, mewarnai jalanan ibu kota dengan warna oranye. Pejalan kaki mulai sepi, dan dalam tiga puluh menit lagi, tirai malam akan turun.

"Eh? Pak kusirnya tidak ada? Pergi ke mana dia?" Celestine bergumam heran.

Kereta kudanya memang ada di sana, tapi tempat duduk kusir yang seharusnya terisi tampak kosong.

"Apa mungkin dia sedang mampir makan di suatu tempat?"

"Bisa jadi...—!?"

Saat Celestine hendak mengintip ke dalam kereta, Rest tiba-tiba mencengkeram lengannya dan menariknya menjauh.

"Bahaya!"

"Kyaa! Apa yang..."

Celestine menjerit panik karena ditarik ke dalam pelukan Rest. Namun, situasi tidak memungkinkan untuk penjelasan. Rest segera mengaktifkan sihir pertahanan.

"Earth Wall!"

Sebuah dinding pelindung mencuat dari tanah dan menangkis bola api yang terbang entah dari mana. Terjadi ledakan kecil yang membuat Celestine tersentak kaget.

"Sihir serangan... siapa sebenarnya...!?"

"Celestine Crocus! Ketemu kau, dasar pengkhianat!"

Suara bentakan menggema di jalanan yang senja. Tak lama kemudian, beberapa sosok muncul dari gang yang tak jauh dari sana.

"Kalian ini... siapa?"

"Mencurigakan sekali. Apa mereka orang cabul...?"

Keduanya terbelalak heran. Sekitar sepuluh orang dengan jenis kelamin yang tidak jelas muncul tiba-tiba.

Mereka mengenakan jubah hitam yang menutupi seluruh kepala hingga wajah mereka hampir tidak terlihat. Benar-benar sosok yang mencurigakan.

"Kami adalah 'Rasul' yang melayani Ibu Suri yang agung!"

"Beraninya kau menjadi tunangan Pangeran Roderick tapi tidak mengabdi padanya! Dasar pengkhianat! Biar kami yang menghukummu!"

"Siapa orang-orang ini...?"

"Dilihat dari bicaranya, sepertinya mereka orang-orang dari 'Faksi Ibu Suri'... tampaknya aku yang menjadi incaran mereka," gumam Celestine dengan nada lelah.

Lagi-lagi, ia terseret masalah gara-gara Roderick. Pria itu benar-benar menyusahkan, baik saat ada maupun saat sedang diskors.

"Laki-laki di sebelahmu itu selingkuhanmu, ya? Sudah mendapat kehormatan menjadi tunangan Pangeran tapi malah menggoda laki-laki lain, benar-benar tidak bisa dimaafkan!"

"Pelacur berkedok putri Duke! Kamu tidak pantas untuk Pangeran Roderick!"

"Enyahlah, dasar bodoh! Mati saja kalian!"

"Bicara seenaknya sendiri... kalian ini egois sekali ya," Rest menyahut dengan wajah kaku.

Setelah melihat betapa menderitanya Celestine di batting center tadi, Rest hanya merasakan amarah terhadap orang-orang asing yang memuja sumber stresnya dan malah menyalahkan Celestine secara sepihak.

"Apa kalian tidak tahu seberapa menderitanya Celestine gara-gara Pangeran Roderick itu? Aku tidak peduli soal pangeran idiot itu. Cepat pergi sana."

"Pangeran idiot!? Kurang ajar!"

"Kata-kata itu tidak bisa dibiarkan! Mati kau juga!"

Orang-orang berjubah itu langsung tersulut emosi dan melepaskan sihir ke arah Rest. Rest yang muak dengan emosi mereka yang labil segera memeluk tubuh Celestine.

"Ah...!"

"Mereka sama temperamentalnya dengan tuan mereka. Hati-hati jangan sampai lidahmu tergigit!"

Rest menghentakkan kaki ke tanah dan melompat ke udara sambil mendekap Celestine. Ia melompat sangat tinggi... dan alih-alih jatuh, ia justru terus melesat terbang.

"Wind Control!"

"Apa...!?"

"D-Dia terbang...!?"

Orang-orang berjubah itu berteriak kaget. Dengan mengendalikan angin, Rest menaikkan ketinggiannya hingga ke atas atap bangunan.

Teknik terbang adalah keahlian yang hampir mustahil bagi penyihir biasa. Ini hanya bisa dilakukan dengan pengendalian mana yang luar biasa dan jumlah mana yang masif.

"Sudah sore, aku tidak punya waktu meladeni orang bodoh."

"Mau lari ya! Dasar pengecut!"

"Sudah kubilang aku tidak peduli... Thunder Storm!"

"GYAAAAAAAAAAAAAAA!?"

Rest melepaskan sihir sebagai "hadiah" perpisahan. Petir menyambar turun seperti hujan, menghujani orang-orang berjubah tersebut.

"Ugh... kurang ajar...!"

Karena Rest menahan kekuatannya agar tidak membunuh, mereka masih hidup, meski beberapa orang pingsan seketika.

(Tapi... aku tidak bisa terus mengamuk di tengah kota.)

Gendarmerie (polisi militer) pasti akan datang setelah mendengar keributan ini. Keselamatan Celestine adalah prioritas utama. Ia akan menyerahkan sisanya pada polisi dan segera pergi.

"Celestine, pegangan yang kuat!"

"I-Iya...!"

Sambil mendekap Celestine, Rest terbang semakin tinggi. Melampaui atap-atap bangunan di sekitar, bahkan lebih tinggi dari menara jam yang menjadi simbol ibu kota.

"Wah...!" Celestine tanpa sadar bergumam.

Itu bukan jeritan ketakutan, melainkan kekaguman. Pemandangan kota yang diwarnai senja terlihat sangat indah dari langit.

Bangunan-bangunan berwarna merah cerah, cakrawala yang tampak membara, dan bayangan burung-burung yang melintas di langit untuk kembali ke sarang.

Pemandangan itu, meski di tengah situasi seperti ini, terasa sangat berkilau dan membekas di ingatannya.

"Indah sekali..."

"Benar... sayang sekali kita tidak bisa menikmatinya pelan-pelan."

Sambil membalas gumaman Celestine, Rest memeriksa situasi di bawah. Orang-orang berjubah tadi tampak melarikan diri ke gang-gang sempit saat melihat polisi militer datang.

Keberadaan mereka memang mencurigakan, tapi yang penting Celestine sudah aman. Kini ia harus mengantarnya sampai ke kediamannya.

"Rest-san..."

"Ehm? Ada apa?"

"Tidak... bukan apa-apa."

Celestine menyembunyikan wajahnya di dada Rest. Pipinya tampak merona merah, tapi mungkinkah itu hanya karena pantulan cahaya matahari terbenam?

"Hah, hah... Sialan. Celestine Crocus...!"

"Aku tidak akan melupakan penghinaan ini... tak kusangka kita harus lari seperti tikus...!"

"Kami, bawahan Ibu Suri yang agung, diperlakukan seperti ini... tidak akan kumaafkan!"

Orang-orang berjubah yang berhasil lolos dari polisi militer bersembunyi di gang sempit sambil mengatur napas.

Setengah dari mereka yang pingsan karena sihir Rest telah tertangkap. Kini tersisa lima orang.

Meski sulit dipercaya karena penampilan mereka yang mencurigakan, mereka adalah bangsawan.

Gelar mereka adalah Baron atau Viscount. Mereka adalah pendukung Roderick yang sangat memuja mendiang Ibu Suri.

Tujuan mereka adalah menculik Celestine. Menjadikannya sandera sebagai alat tawar-menawar dengan keluarga kerajaan dan keluarga Duke Crocus.

Mereka selalu merasa tidak puas karena Roderick yang sangat disayangi Ibu Suri diperlakukan dengan dingin, dipaksa puas hanya dengan posisi Pangeran Ketiga.

Roderick harus menjadi raja, karena itulah yang sering dikatakan oleh Ibu Suri.

Fakta bahwa Roderick, sang raja sejak lahir, harus menjalani hukuman skorsing hanya karena masalah sepele di akademi—yang bagi orang awam itu sudah hukuman yang sangat ringan—bagi mereka adalah hal yang tidak bisa dimaafkan.

Karena itulah mereka bertindak nekat. Mereka berniat menculik Celestine untuk menuntut pencabutan hukuman Roderick dan kenaikan statusnya.

"...Tapi tidak apa-apa. Kita sudah menangkap kusir keretanya. Kita paksa dia bicara soal keamanan kediaman Duke, lalu malam ini juga kita serbu tempat itu dan tangkap gadis itu...!"

"Kalian menghalangi jalan. Jangan bergerombol di tengah jalan."

"Hah...?"

Saat mereka mulai menyusun rencana jahat lagi, sebuah suara menegur mereka.

Saat berbalik, mereka melihat seorang remaja laki-laki. Ia mengenakan seragam Akademi Kerajaan, dan sesaat mereka teringat pada remaja yang bersama Celestine tadi.

Tapi berbeda. Remaja ini memiliki rambut abu-abu kusam yang dibiarkan panjang hingga menutupi matanya. Penampilannya sama sekali tidak mirip dengan Rest.

"Orang-orang mencurigakan di tempat seperti ini... apa kalian pencuri?"

"Apa... beraninya kau menyamakan kami dengan kriminal rendahan!?"

"Tidak termaafkan! Sebelum Celestine, kau duluan yang akan kami hukum!"

Orang-orang berjubah yang temperamental itu langsung menyerang remaja berambut abu-abu tersebut.

Meski mereka mudah dipecundangi oleh Rest, mereka tetaplah bangsawan dan penyihir. Mereka tidak lemah. Dengan keunggulan jumlah, nasib remaja itu tampak di ujung tanduk.

"Aduh, aduh... seharusnya aku tidak mengambil jalan pintas. Untung saja di pihak lawan tidak ada perempuan."

Namun... di saat berikutnya, sosok remaja itu menghilang. Setelah jeda sesaat, ia muncul kembali... tepat di belakang orang-orang berjubah tersebut.

"Apa..."

"Gakh...?"

Tubuh mereka tumbang begitu saja, bersimbah darah. Entah sejak kapan, sebilah pedang sudah tergenggam di tangan remaja itu.

Pedang dengan satu mata pisau yang sedikit melengkung, berbentuk seperti katana Jepang. Darah menetes dari ujung pedangnya.

"Tidak... mungkin... kakh..."

Orang-orang berjubah itu tewas seketika. Kejadiannya sangat cepat, namun apa yang terjadi sudah sangat jelas. Mereka ditebas oleh remaja itu. Tanpa menggunakan sihir, lima orang itu dibantai dalam sekejap.

"...Jadi sebenarnya siapa orang-orang ini?"

Dengan wajah heran, remaja itu menyarungkan pedangnya dan berjalan pergi dari gang tersebut seolah tidak terjadi apa-apa.

Remaja yang membantai lima orang tanpa terkena setetes pun percikan darah di bajunya itu bernama Wilhelm Lyubece.

Dia adalah sosok yang pernah berduel melawan Yuri dalam pelajaran 'Teknik Pedang' dan mengalami kekalahan... sang 'Sword Saint yang Membenci Wanita'.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close