Chapter
4
Undangan
dari OSIS
Setelah itu, aku mengantar Celestine sampai ke
kediaman keluarga Duke sebelum akhirnya pulang ke rumah.
Viola dan Primula sempat bertanya kenapa aku pulang
terlambat, dan ketika aku menceritakan kejadian yang sebenarnya, mereka berdua
benar-benar terkejut.
Beberapa hari kemudian, sebuah tanda terima kasih
tiba dari kediaman Crocus, bersamaan dengan kabar mengenai penyelesaian insiden
tersebut.
Para penyerang itu memang benar anggota dari
"Faksi Ibu Suri". Setengah dari mereka berhasil ditangkap saat sedang
pingsan akibat sihirku.
Mereka dijatuhi hukuman berat seperti pencabutan
gelar bangsawan karena mencoba menculik putri Duke... namun anehnya, sisa
anggota yang melarikan diri ditemukan tewas terbunuh di sebuah gang sempit.
Pelakunya tidak diketahui. Pihak berwenang menduga
ini adalah hasil dari pertikaian internal faksi atau upaya untuk membungkam
saksi.
Mengenai insiden ini, Marquis Eiger yang merupakan
pemimpin "Faksi Ibu Suri" membantah keterlibatannya.
Karena pelaku yang tertangkap juga bersaksi bahwa Marquis
Eiger tidak ada hubungannya, tangan penyelidik tidak sampai menyentuhnya.
Kusir kereta yang sempat disekap pun berhasil
ditemukan dengan selamat... namun insiden ini ditutup dengan meninggalkan
perasaan tidak enak yang sulit dihilangkan.
◇ ◇ ◇
"Rest-san,
apa Anda punya waktu sebentar?"
Satu minggu telah berlalu sejak insiden itu. Suatu hari
setelah jam pelajaran usai.
Di salah satu ruang kelas Akademi Kerajaan, Celestine
menghampiri Rest.
"Ada apa?"
"Iya, ada hal yang ingin saya bicarakan secara
rahasia. Viola-san
dan Primula-san juga. Apa kalian punya waktu setelah ini?"
Celestine
menunjukkan senyum lembut sambil sedikit memiringkan kepalanya.
Entah
ini yang disebut berkat di balik musibah... sejak kejadian itu, ekspresi yang
ditunjukkan Celestine kepada Rest terasa lebih natural.
Wajah
itu adalah wajah yang ditunjukkan kepada kenalan dekat.
Terkadang,
saat berbicara dengan Rest, pipinya akan merona tipis, yang tak jarang membuat
jantung Rest berdegup kencang.
"Aku
sih tidak keberatan... kalian berdua bagaimana?"
"……Tidak
masalah," jawab Viola.
"……Aku
juga bisa," tambah Primula.
Viola
dan Primula mengangguk setelah sempat terdiam sesaat dengan penuh arti.
Melihat
jarak antara Rest dan Celestine yang semakin menyempit, entah kenapa sorot mata
si kembar Rosemary saat menatap Celestine tampak semakin waspada.
Bukan sampai ke tahap kebencian. Di permukaan mereka
masih terlihat akrab sebagai teman, jadi Rest pun tidak berani berkomentar
lebih jauh agar tidak memancing kemarahan mereka.
"Kalau begitu, silakan lewat sini."
Keluar dari kelas, Rest dan yang lainnya berjalan
menyusuri koridor akademi di bawah panduan Celestine.
Mereka menaiki tangga menuju lantai yang jarang mereka
datangi saat pelajaran.
"Kita mau ke mana?"
"Anda akan segera tahu... di sini tempatnya."
Mereka tiba di depan sebuah ruangan dengan tulisan
"Ruang OSIS" di pintunya. Begitu Celestine mengetuk pintu, terdengar
sahutan "Silakan masuk" dari dalam.
"Permisi."
Celestine membuka pintu dan mempersilakan Rest serta si
kembar Rosemary masuk. Di dalam ruangan itu, ada tiga orang.
Orang pertama adalah seorang siswa laki-laki yang duduk
di meja paling belakang.
Dilihat dari ban lengan di seragamnya, dia adalah kakak
kelas. Rambut pirang pendek, wajahnya tampan, namun tubuhnya terlihat berotot
dan terlatih.
Dua orang lainnya adalah seorang laki-laki dan perempuan
yang berdiri di dekat dinding sisi kiri dan kanan.
Pria di sebelah kanan berambut cokelat dengan wajah
garang dan tubuh besar yang kuat. Wanita di sebelah kiri memiliki wajah dingin
dengan rambut perak, tubuhnya semampai dan tinggi layaknya seorang model.
(Kalau ini ruang OSIS... berarti mereka ini pengurus
OSIS, ya?)
Tentu saja, kakak kelas berambut pirang yang duduk di
meja utama itu pastilah sang Ketua OSIS. Meski belum pernah bertemu langsung,
setara itulah Rest tahu siapa Ketua OSIS tahun ini.
"Senang bertemu kalian, terima kasih sudah
datang."
Sosok yang tampak seperti pemilik ruangan itu berdiri
dari mejanya dan memberi salam.
"Aku Andrew Aywood, Ketua OSIS periode ini. Aku
siswa kelas tiga Departemen Ksatria, dan ya, aku adalah Pangeran Kedua di
negara ini."
Pangeran Kedua, Andrew Aywood.
Dia adalah kakak tiri dari si Pangeran Idiot, Roderick,
yang tempo hari membuat masalah. Rest pernah mendengar rumor bahwa dia adalah
siswa beasiswa di Departemen Ksatria, tapi hanya sebatas itu pengetahuannya.
Di antara tiga pangeran kerajaan, Andrew adalah sosok
yang namanya paling jarang terdengar.
Tentu saja, pangeran yang paling menarik perhatian adalah
Pangeran Pertama, Richard Aywood, yang digadang-gadang sebagai calon raja
berikutnya.
Dia sering tampil di acara resmi dan dipercaya menjadi
perwakilan saat Raja berhalangan hadir.
Bahkan Rest yang tidak punya hubungan dengan keluarga
kerajaan pun mengenali wajah Richard karena sering tampil di depan publik.
Pangeran
yang menonjol berikutnya adalah Pangeran Ketiga, Roderick Aywood.
Namun,
menonjolnya dalam arti negatif; dia dikenal luas sebagai pangeran bodoh yang
sering membuat masalah.
Roderick
dicap sebagai anak bermasalah di istana maupun sekolah, bahkan reputasinya di
kalangan rakyat jelata pun sangat buruk.
Lalu...
di antara keduanya, ada Pangeran Kedua Andrew Aywood. Tidak ada rumor buruk
tentangnya, tapi bukan berarti dia berada di posisi yang mencolok.
Bisa
dibilang dia adalah orang yang "biasa-biasa saja" dalam arti baik
maupun buruk, sehingga banyak bangsawan yang bahkan tidak pernah bertemu
langsung dengannya.
(Jadi orang ini Pangeran Andrew... Pangeran
Kedua, ya.)
"Aku meminta Celestine untuk memanggil kalian. Maaf
karena mendadak, Rest-kun, juga Nona Viola dan Nona Primula."
"……Salam
kenal, saya Rest, Pangeran Andrew."
"Salam
sejahtera, Pangeran Andrew."
"Sa-salam
sejahtera……"
Rest
menundukkan kepala, diikuti oleh si kembar Rosemary. Menanggapi ketiganya yang
memberi hormat sesuai tata krama bangsawan, Andrew melambaikan tangannya dengan
santai.
"Jangan
terlalu kaku. Hari ini aku mengundang kalian bukan sebagai anggota kerajaan,
tapi sebagai Ketua OSIS."
Andrew
menunjuk ke arah sofa yang ada di ruang OSIS.
"Silakan duduk dulu. Mari kita bicara."
Rest dan si kembar Rosemary duduk berjajar. Andrew duduk
di sofa di hadapan mereka, dengan Celestine di sampingnya. Sementara itu, pria dan wanita tadi berdiri di belakang sofa.
"Hari ini aku memanggil kalian karena ada sebuah
permintaan. Langsung saja... maukah kalian bergabung dengan
OSIS?"
Andrew menangkupkan tangannya di atas meja sambil
menanyakan hal itu.
"Kami... bergabung dengan OSIS?"
"Benar. Menurutku kalian sudah sangat memenuhi
kualifikasi."
Andrew mengangkat bahu dan melanjutkan pembicaraan
dengan nada tenang.
"Pengurus OSIS dipilih dari orang-orang dengan
prestasi gemilang dan mereka yang memiliki status keluarga tinggi. Untuk
menjadi penengah di akademi yang penuh dengan bangsawan ini, dibutuhkan salah
satu dari kekuatan atau garis keturunan."
"Memang
benar Viola dan Primula memenuhi kedua syarat itu……"
"Begitu juga denganmu, Rest-kun. Kamu memiliki
dukungan dari keluarga Marquis Rosemary, dan aku juga mendengar bahwa kamu
meraih nilai terbaik dibandingkan siapa pun dalam ujian praktik masuk."
Andrew menyeringai tipis, memperlihatkan senyum yang
sedikit ironis.
"Aku juga dengar cerita bahwa kamu telah
menghentikan amukan adikku. Bukankah beberapa hari lalu kamu juga
menolong Celestine dari amukan 'Faksi Ibu Suri'? Itu pencapaian yang
hebat."
"……Terima kasih."
Rest menjawab dengan ambigu. Karena dia tidak bisa
menceritakan detail perselisihannya dengan Roderick, responnya pun menjadi
setengah-setengah.
"Aku tidak bermaksud ingin tahu lebih dalam...
Intinya adalah begini. Saat ini, OSIS hanya terdiri dari kami bertiga dan
Celestine. Sejak kakak kelas lulus, kami belum sempat mengisi posisi yang
kosong. Aku ingin Rest-kun bergabung sebagai anggota Departemen Penegak,
sedangkan Nona Viola dan Nona Primula menjadi anggota inti pengurus."
Jika Pengurus OSIS bertugas menangani masalah
administratif, Departemen Penegak adalah posisi yang menindak siswa pembuat
masalah.
Semacam komite kedisiplinan. Siswa di Departemen Penegak
diizinkan mencabut pedang dan melepaskan sihir demi menjaga ketertiban akademi.
"Memiliki riwayat di OSIS bisa menjadi nilai tambah
bagi reputasi kalian. Kalian juga bisa membangun jaringan, dan di masa depan,
ini akan sangat menguntungkan saat mencari pekerjaan. Bukankah ini tawaran yang
bagus?"
"Begitu ya……"
"Tawaran yang... tidak buruk, menurutku," bisik
Primula pelan di samping Rest yang sedang berpikir.
"Orang-orang yang masuk OSIS biasanya adalah mereka
yang memiliki status tinggi, atau orang-orang jenius yang nantinya akan
memegang peran penting di pusat kerajaan. Membangun koneksi dengan orang-orang
seperti itu adalah hal yang bagus sebagai seorang bangsawan."
"Aku juga setuju untuk masuk. Tentu saja, kalau
Rest-kun tidak mau, aku tidak akan memaksamu."
Viola dan Primula tampaknya setuju. Karena Rest masih
banyak tidak paham soal dunia bangsawan, jika mereka berdua memberikan lampu
hijau, ia tidak punya alasan untuk menolak. Apalagi Celestine juga sudah
bergabung di sana, jadi seharusnya tidak ada masalah.
"Sebagai tambahan... meskipun posisiku sebagai
Pangeran Kedua agak rumit, aku tetap anggota kerajaan. Jika terjadi sesuatu,
aku punya cukup kekuasaan untuk melindungi kalian."
"……Baiklah. Dengan senang hati saya menerima
tawaran ini."
"Ah, syukurlah. Aku sangat terbantu karena kalian
bersedia menjadi rekan kami."
Andrew mengangguk puas.
"Kalau begitu, mari kita jelaskan detail tugasnya...
Nona Viola dan Nona Primula akan dijelaskan oleh Celestine. Sedangkan Rest-kun
akan dijelaskan oleh anggota Departemen Penegak."
"Silakan, lewat sini."
Salah satu kakak kelas yang berdiri di belakang Andrew...
yang perempuan, membuka pintu dan memberi isyarat.
"Kalau begitu, sampai nanti ya."
"Iya, sampai nanti."
Setelah berpisah sementara dengan Viola dan Primula, Rest
keluar ke koridor.
"Departemen Penegak memiliki ruangan terpisah dari
Ruang OSIS. Aku akan mengantarmu ke sana."
"Terima kasih... Anu……"
"Rilanda Marker. Siswa kelas tiga Departemen
Ksatria dan menjabat sebagai bendahara. Aku adalah salah satu ajudan Pangeran
Andrew, tapi kau tidak perlu repot-repot menghafal namaku."
Wanita itu bicara dengan nada datar. Tidak terasa
adanya kebencian atau niat jahat, sepertinya memang sifatnya yang dingin.
Rilanda tidak banyak berbasa-basi dan membawa Rest sampai ke depan sebuah
ruangan.
"Ini
markas Departemen Penegak... Permisi. Ini Marker."
"Ya,
masuklah."
Begitu
Rilanda memanggil, terdengar sahutan dari dalam ruangan. Saat pintu
dibuka... tampak beberapa orang siswa di sana.
"Geh...!"
"Oh?"
Mata Rest tertuju pada salah satu siswa laki-laki di
sana. Wajah yang ia kenal... anak laki-laki bernama Danila yang pernah
bertarung melawan Rest di pelajaran 'Teknik Pedang'.
"…………"
Danila memasang ekspresi sangat canggung dan langsung
memalingkan wajah dari Rest.
(Ternyata si ini juga anggota Departemen Penegak ya...
semoga saja dia tidak cari masalah karena dendam pribadi.)
"Ada wajah baru ya. Jadi dialah anggota baru
kita?"
Di ujung ruangan, seorang siswi kakak kelas yang berdiri
sambil bersedekap mulai angkuh bicara.
"Aku Isis Calvert, siswa kelas tiga Departemen
Sihir. Aku penanggung jawab Departemen Penegak. Bawahan biasanya memanggilku
'Leader' atau 'Kapten', jadi kau panggil saja begitu."
Wanita itu memiliki rambut cokelat yang diikat ponytail
dengan aura yang sangat tegas.
Meskipun lekuk tubuhnya jelas menunjukkan dia seorang
wanita, sosoknya yang berdiri tegak dengan penuh percaya diri membuatnya
terlihat seperti seorang ksatria muda yang tampan.
"Saya
Rest. Saya bergabung dengan Departemen Penegak atas undangan Pangeran
Andrew."
"Ya,
aku sudah dengar ceritanya. Ada siswa kelas satu yang berani bertindak nekat
bahkan terhadap keluarga kerajaan, ya?"
"…………"
Itu
penilaian yang berlebihan. Sepertinya masalahnya dengan Roderick sudah menyebar
dengan bumbu yang dilebih-lebihkan.
"Kau
pasti sudah tahu... Departemen Penegak OSIS adalah pasukan penjaga ketertiban
di Akademi Kerajaan. Peran kita adalah menindak siswa yang melanggar aturan.
Sebenarnya, mencabut pedang atau menggunakan sihir tanpa izin dilarang di dalam
akademi, tapi anggota Penegak dikecualikan. Kita
diizinkan melakukan tindakan kekerasan jika diperlukan demi menjaga
keamanan."
"Ya, saya tahu."
"Kalau begitu, kau pasti paham... orang yang
memiliki otoritas besar membutuhkan kekuatan dan mentalitas yang sepadan. Apa
kau memilikinya?"
Isis menyeringai tipis dengan bibirnya yang indah.
"Tidak butuh kata-kata. Tunjukkan saja hasilnya...
Aku ingin kau bergabung dalam penyelidikan kasus yang saat ini sedang
meresahkan akademi."
"!"
Cepat sekali. Rasanya ingin protes karena terlalu
mendadak, tapi Rest tidak membenci sistem yang mengutamakan hasil dan
kemampuan.
"Kasus seperti apa?"
"Penangkapan penyusup... Sejak seminggu yang lalu,
ada pihak luar yang memasuki area akademi tanpa izin. Aku ingin kau menangkap
orang itu."
"Penyusup... di akademi ini?"
Akademi Kerajaan adalah institusi pendidikan bagi para
bangsawan dan keluarga kerajaan, jadi sudah sewajarnya keamanannya sangat
ketat. Ada penjaga dari alumni Departemen Ksatria, jadi seharusnya bukan tempat
yang bisa dimasuki dengan mudah.
"Mungkinkah... mata-mata negara lain?"
"Entahlah... tujuannya belum jelas. Tapi, membiarkan
penyusup berkeliaran adalah penghinaan bagi nama Departemen Penegak. Kita harus menyelesaikannya
secepat mungkin... Kau mau membantu, kan?"
"Tentu
saja."
Rest
tidak tahu apa tujuan penyusup itu, tapi ada kemungkinan hal itu bisa
membahayakan Viola atau Primula. Walaupun ia bukan anggota Penegak pun, ia
tidak bisa membiarkannya begitu saja.
"Jawaban yang bagus. Kalau begitu, mari kita
patroli……"
"Kapten Isis! Itu dia!"
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka lebar. Seorang kakak kelas yang tidak dikenal merangsek masuk tanpa mengetuk.
"Pria itu menyusup ke dalam sekolah... di lantai
dua Gedung Timur!"
"Seluruh anggota, berangkat!"
Isis segera memberi perintah. Seluruh anggota
Departemen Penegak yang ada di sana langsung berlari keluar menuju koridor.
"Ooh... hebat juga. Sudah seperti detektif di
drama."
"Rest-san, apa Anda tidak ikut?" Rilanda
bertanya pada Rest yang masih melihat rekan-rekannya pergi.
"Tentu saja aku ikut... tapi, caraku bergerak
sedikit lebih liar daripada mereka."
Rest membuka jendela. Ini lantai empat... tapi ia
melompat ke udara tanpa ragu.
"Kalau
ke Gedung Timur, lewat sini jauh lebih cepat... Wind Control!"
Dengan
mengendalikan angin, ia meluncur di udara. Ia mengambil jalan pintas dengan
terbang dari Gedung Utama akademi menuju Gedung Timur.
"Life
Search!"
Sambil
bergerak, ia mengaktifkan sihir pendeteksi mana.
Biasanya
jangkauannya menyebar melingkar dengan dirinya sebagai pusat, namun kali ini ia
memberikan pengarahan tertentu pada sihirnya.
Ia
memblokir informasi yang tidak perlu dan memfokuskan pelacakan hanya pada
Gedung Timur yang ada di depannya.
(Karena
ada banyak siswa, mencari satu orang mungkin tidak mu—ketemu. Gampang sekali.)
Ada
seseorang yang berlari dengan kecepatan luar biasa di koridor lantai dua Gedung
Timur. Orang itu diselimuti oleh mana yang kuat. Dari
situasinya, hampir bisa dipastikan itulah pelakunya.
"Di sana ya...!"
Rest mengendalikan angin menuju sosok yang sedang
bergerak tersebut. Kemudian... di koridor lantai dua Gedung Timur, di balik
jendela, ia menemukan sosok misterius yang mengenakan pakaian serba hitam.
"Kena kau! Wind Ball!"
Rest memecahkan kaca jendela dari luar dan melompat
masuk ke dalam gedung. Anggap saja jendela yang pecah itu perbuatan si
penyusup... ia lalu berdiri menghadang si sosok hitam.
"Thunder Ball!"
Tanpa basa-basi ia melepaskan sihirnya. Tidak ada
siswa lain di koridor itu, jadi ia tidak perlu khawatir soal salah sasaran.
Bola petir yang memercikkan listrik ungu menyerang sosok hitam itu.
"Shadow Wall!"
Namun, sosok hitam itu juga mengaktifkan sihir.
Dinding hitam pekat muncul menghadang dan menahan sambaran petir. Kecepatan
aktivasi dan akurasi sihirnya... itu jelas bukan teknik seorang amatir.
"Shadow Lance!"
"High Accelerator……!"
Dinding itu runtuh, dan kini tombak hitam pekat
melesat keluar. Rest meningkatkan kecepatannya dengan sihir untuk menghindar.
Ia menerobos celah serangan tombak bayangan dan merangsek masuk ke jarak dekat
lawan.
"Hup!"
"Gakh...!"
Rest
melancarkan pukulan ke arah dagu lawan. Serangan itu mendadak, namun... sosok
hitam itu berhasil menghindari kepalan tangan di saat terakhir dan melakukan
langkah mundur besar untuk melarikan diri.
"Jangan
harap bisa lari!"
"Cih...
Shadow Cutter!"
Rest
menghentakkan kaki di koridor untuk mengejar sosok hitam itu. Lawan meluncur
mundur sambil melepaskan sihir untuk menghambat pengejaran Rest.
(Orang ini... kuat...!)
Gerakan sosok hitam itu sangat gesit. Tak diragukan lagi, dia menggunakan sihir tipe penguat fisik. Padahal
di saat yang sama, dia juga melepaskan sihir serangan. Itu adalah teknik
tingkat tinggi, aktivasi sihir ganda.
(Sambil meningkatkan kecepatan, dia bisa menembakkan
sihir beruntun seolah itu hal biasa. Bahkan bagi penyihir istana pun ini teknik
yang sulit, dia benar-benar bukan orang sembarangan!)
Pantas saja para penjaga maupun anggota Penegak tidak
bisa menangkapnya selama ini. Penyusup berpakaian hitam ini sudah sangat
terbiasa dengan pertempuran sihir. Bukan orang biasa.
"Sekarang aku benar-benar tidak boleh membiarkanmu
lolos...!"
"Ada di sana! Di sana orangnya!"
Tiba-tiba terdengar teriakan nyaring dari ujung koridor,
tepat di arah pelarian sosok hitam tersebut. Tampaknya Isis dan anggota Penegak
lainnya sudah sampai.
"Anggota baru sedang bertarung! Dia penyusupnya. Tangkap!"
"Siap!"
Atas perintah Isis, anggota Penegak berlari mendekat.
Mereka berada di sisi lain sosok hitam, sehingga posisinya kini terjepit.
"Cih...!"
Sosok hitam itu menyadari dirinya sudah seperti tikus
dalam perangkap. Ia langsung melompat keluar melalui jendela yang tadi
dipecahkan oleh Rest.
"Earth Bind!"
Rest mengaktifkan sihir pengikat. Tali dari tanah
menjalar keluar dari lantai koridor. Tali itu melilit kaki lawan seperti ular,
namun sosok hitam itu segera memotongnya dengan sihir kegelapan.
"Shadow Blade! Wind Control!"
Si sosok hitam mengendalikan angin dan mencoba kabur
dengan terbang di udara seperti yang dilakukan Rest tadi. Kecepatannya sangat
tinggi. Bahkan jika dikejar dengan sihir yang sama pun, belum tentu bisa
tertangkap.
"Ternyata dia bisa terbang juga, benar-benar
penyihir yang hebat... kalau begitu, mari gunakan sihir baru."
Rest memutuskan untuk mencoba sihir baru yang sedang ia
kembangkan. Meskipun masih belum sempurna, jika berhasil, sihir ini seharusnya
bisa menjatuhkan lawan yang sedang kabur itu.
"Aktivasi sihir...!"
Sebuah bola hitam muncul di tangan Rest. Entah mengapa...
sekelilingnya mendadak menjadi gelap sesaat. Ia membidik sihir tanpa nama yang
belum selesai itu, lalu melepaskannya.
"Tembuslah...!"
Seketika, kilatan cahaya membelah langit. Lebih cepat
dari angin, lebih tajam dari suara, garis putih melesat dan menghantam sosok
hitam itu.
"Nuooh!?"
Disambar oleh garis putih yang menghanguskan seluruh
tubuhnya, sosok hitam itu kehilangan kendali atas angin dan jatuh terhempas. Ia
menabrak tanaman hias di taman akademi dengan keras.
"Gawat... apa aku berlebihan!?"
Rest sempat ngeri jangan-jangan ia sudah membunuhnya...
namun kaki sosok hitam yang tertancap di tanaman itu tampak bergerak-gerak
kejang. Sepertinya dia masih hidup.
"Huuh... bikin panik saja. Tapi, meski belum jadi,
ternyata kekuatannya lumayan juga ya..."
Sihir tanpa nama yang sedang dikembangkan itu—menurut
standar Rest—bahkan belum mencapai nilai lulus.
Mananya masih berpencar dan tidak sesuai dengan
bayangannya. Benar-benar sihir yang masih "jelek".
Masih banyak ruang untuk perbaikan... tapi, melihat
sihir itu bisa menjatuhkan lawan dalam satu serangan, daya hancurnya cukup luar
biasa.
(Jika sihir ini selesai, pasti akan menjadi kartu
as-ku... aku bisa menjadi jauh lebih kuat lagi...!)
"Dia jatuh! Amankan!"
Isis berteriak sambil melihat ke luar jendela.
Anggota Penegak berlari menuju taman dan segera meringkus sosok hitam yang
jatuh di tanaman tersebut.
"Luar biasa, Rest-kun. Aku tidak menyangka kau
bisa menjatuhkannya sendirian."
Isis menepuk punggung Rest dengan keras sebagai
pujian.
"Tidak ada komplain. Mulai sekarang, aku akan
mengandalkanmu sebagai rekan di Departemen Penegak!"
"……Terima kasih."
Sambil meringis karena punggungnya ditepuk berkali-kali, Rest menerima sambutan kasar namun hangat tersebut sebagai anggota baru.
◇ ◇ ◇
"Aku harus memetik buah muda yang masih ranum
dan menuangkannya ke atas kanvas! Ini bukan perasaan mesum. Ini adalah
aktivitas seni!"
"Pedang maupun sihir tidak bisa diandalkan. Hanya
seni yang bisa menyelamatkan dunia! Sebagai seniman cinta dan damai, aku
memiliki misi untuk mengunci momen-momen singkat musim semi para gadis cantik
ke dalam lukisan!"
"Ini adalah penindasan yang tidak bisa dimaafkan
terhadap aktivitas seni! Segera lepaskan aku!"
Singkat cerita... penyusup berpakaian hitam itu bukanlah
mata-mata dari negara lain.
Tujuannya hanyalah mengintip. Dia menyusup tanpa izin
demi melihat siswi Akademi Kerajaan dalam keadaan tidak berbusana untuk
dijadikan objek lukisannya.
Benar-benar konyol sampai membuatku tak habis pikir;
repot-repot menggunakan sihir tingkat tinggi hanya untuk mengintip. Namun,
kabarnya dia adalah mantan penyihir istana.
Saat masih menjabat dulu, dia diusir karena ketahuan
mengintip rekan sesama penyihir wanita, ksatria wanita, hingga pelayan yang
sedang berganti pakaian atau mandi.
Karena kemampuannya sangat hebat dan telah mengumpulkan
banyak prestasi, dia hanya dijatuhi hukuman pengasingan. Namun, tampaknya dia
tidak bisa membuang hasrat mesumnya terhadap kaum hawa, dan kali ini ia
mengarahkan taringnya pada para siswi Akademi Kerajaan.
Untungnya, karena keamanan yang sangat ketat, dia belum
sempat memetik hasil dan korbannya pun sedikit.
Si penyusup mesum itu akhirnya diserahkan ke pihak
ksatria dan kali ini benar-benar dijebloskan ke penjara.
◇ ◇ ◇
"Begitu ya... jadi itu yang terjadi. Benar-benar musuh kaum
wanita."
"Mengerikan...
memikirkan kalau mungkin saja akulah yang sedang diincar, rasanya
merinding."
Belakangan,
setelah mendengar pengakuan si penyusup—ah tidak, sebut saja 'si cabul'—Viola
dan Primula tampak bergidik ngeri dengan wajah kaku.
Gadis
cantik tiada tara seperti mereka berdua pasti akan membakar semangat
kreativitas si seniman cabul gadungan itu. Syukurlah masalah ini selesai
sebelum mereka sempat jadi korban.
"Aku
memang sudah dengar ada orang mencurigakan yang terlihat di sekolah... tapi aku
tidak menyangka mantan penyihir istana melakukan hal sebodoh itu. Ayah pasti
sedang pening memikirkannya."
"Kurasa
begitu... Tuan Besar pasti kesulitan..."
Merespons kata-kata Viola, Rest mengangguk dengan
ekspresi yang entah kenapa terlihat sangat tegang.
Status pelakunya sebagai mantan penyihir istana berarti
dia adalah mantan bawahan Marquis Rosemary.
Sang Marquis sudah memecat dan mengusirnya. Meski sudah
diberi pengampunan karena jasa-jasanya terdahulu, orang itu malah mengulangi
kesalahan yang sama.
Wajar saja jika Marquis Rosemary merasa bersalah atas
keputusannya yang terlalu lunak.
"Lalu... apa Rest-sama sudah diakui sebagai anggota
resmi Departemen Penegak?"
Primula mendekatkan tubuhnya ke arah Rest sambil
bertanya. Rest mengangguk, masih dengan wajah tegang.
"Iya... aku dipuji habis-habisan karena sudah
bekerja keras. Katanya mereka sangat kewalahan menghadapi si cabul itu. Bahuku
bahkan ditepuk-tepuk sambil diminta untuk terus mengandalkannya..."
"Itu bagus sekali. Departemen
Penegak OSIS adalah penjaga ketertiban di akademi. Anggotanya akan dihormati
sebagai ksatria hebat tanpa memandang status bangsawan atau rakyat jelata. Ayah
dan Ibu juga dulu bertemu dan berjodoh di sana, lho."
Kepala Penyihir Istana, Albert Rosemary, dan
istrinya, Eilish Rosemary, keduanya adalah petarung garis keras. Mereka adalah
penyihir sekaligus ksatria yang luar biasa.
Jika mereka berdua mengawasi akademi sebagai anggota
Penegak di waktu yang sama, pasti tidak akan ada kejahatan sekecil apa pun yang
diizinkan terjadi.
"Aku juga harus berusaha keras agar bisa menjadi
kekuatan pencegah kriminal..."
"Kalau Rest-kun pasti bisa. Aku jamin!"
"Aku juga! Jika Rest-sama yang melindungi kami,
rasanya sangat tenang!"
Keduanya memberi dukungan penuh dengan nada bicara tanpa
keraguan.
Memiliki orang yang mempercayai kita sepenuhnya adalah
hal yang sangat membahagiakan. Di kehidupan sebelumnya, Rest tidak memiliki
orang seperti itu. Bahkan keluarga yang seharusnya menjadi orang paling
terpercaya pun, bagi Rest adalah musuh yang tak bisa diajak bicara dari hati ke
hati.
(Benar-benar berharga... aku harus menjaga mereka
baik-baik...)
Sekali lagi, ia mensyukuri keberuntungan bisa bertemu
mereka berdua. Bagi Rest, Viola dan Primula adalah dewi keberuntungan. Sejak
bertemu mereka, hidup Rest terus menanjak ke arah yang lebih baik.
(Aku benar-benar berterima kasih... ke depannya, aku
harus terus melindungi mereka...)
"Tapi ngomong-ngomong... bukankah situasi sekarang
ini agak aneh...?"
Sambil memantapkan tekad, Rest akhirnya menyuarakan
keraguan tentang kondisi mereka saat ini.
Tempat di mana mereka bertiga sedang berbincang dengan
khusyuk ini... adalah sebuah kamar mandi.
Di dalam kamar mandi luas yang diselimuti uap putih,
mereka bertiga duduk di atas kursi kayu sambil mengobrol.
Tidak ada bak mandi. Sebagai gantinya, terdapat tungku
keramik berisi batu-batu panas.
Dengan menyiramkan air ke batu tersebut, uap panas akan
muncul, membelai kulit dan memancing keringat keluar... tempat ini biasa
disebut steam sauna.
Ini adalah sauna di dalam rumah besar keluarga Marquis
Rosemary di ibu kota. Rest diajak—atau lebih tepatnya dipaksa—oleh si kembar
Rosemary untuk mandi bersama.
"Kenapa aku mandi bersama kalian...?"
"Kenapa? Apa ada yang aneh?"
"Tidak aneh, kok. Kita kan keluarga."
Menjawab pertanyaan Rest, si kembar Rosemary kembali
menegaskan hal itu seolah itu adalah hal yang lumrah.
Mereka... termasuk Rest, tidak benar-benar telanjang.
Ketiganya mengenakan baju mandi putih tipis yang nyaris menutupi bagian-bagian
penting saja.
Tetap saja... baju mandi yang basah karena keringat
dan uap itu mempertegas lekuk tubuh mereka berdua, menciptakan pemandangan
seksi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
"Kami kan pakai baju, jadi tidak apa-apa, kan?
Sehat, kok."
"Sehat... ya, benar, ini sehat..."
Rest mengulangi kata-kata Viola seolah-olah sedang
meyakinkan dirinya sendiri. Sebenarnya perkataan Viola tidak salah. Di dunia
ini, mandi bersama bukanlah hal yang terlalu aneh.
Mirip seperti sauna di Eropa yang memiliki area campur
gender, di dunia ini pun mandi bersama antara laki-laki dan perempuan yang
memiliki hubungan dekat adalah hal yang lumrah, meski tentu saja tidak
dilakukan dengan orang asing.
"Ya... di dunia ini mandi bersama itu biasa. Kita
ini tunangan. Tidak aneh. SA-MA SE-KA-LI TI-DAK A-NEH..."
"Kenapa bicaramu jadi kaku begitu..."
"Kalau dilihat terus seperti itu, kami juga jadi
malu..."
Melihat Rest yang tampak sangat malu, keduanya ikut
tersipu.
(Gawat... kalau begini aku terlihat seperti mesum
tersembunyi. Aku tidak boleh membuat mereka malu, aku harus tenang.)
Rest berusaha keras untuk membiasakan diri dengan
situasi ini. Namun... serangan susulan yang kejam kembali menghantamnya.
"Maaf menunggu lama! Aku datang!"
"Mohon maaf. Persiapannya memakan waktu sedikit
lama."
Pintu kamar mandi terbuka, dan dua wanita baru muncul...
atau lebih tepatnya, terpaksa muncul. Wanita-wanita yang kini hanya mengenakan
baju mandi tipis itu adalah Yuri dan Celestine.
"Wah, panas sekali! Di rumahku memang ada pemandian,
tapi sauna adalah hal baru bagiku!"
"Omong-omong, aku dengar Nyonya Marquis Eilish
adalah penggemar berat sauna. Beliau sering masuk ke sini bersama Ratu."
"Situasi ini aneh! Benar-benar aneh!"
Tanpa sadar Rest berdiri dan meneriakkan jeritan
hatinya.
Proporsi tubuh si kembar Rosemary sudah tidak perlu
ditanyakan lagi. Yuri dan Celestine pun ternyata memiliki tubuh yang sangat
proporsional, memamerkan lekuk tubuh mereka yang sehat di balik uap panas.
Fakta bahwa bukan hanya tunangannya, tapi dua teman
sekelasnya pun ada di sini, benar-benar tidak masuk akal baginya.
(Babak
bonus macam apa ini...! Apa ini kompensasi dari Tuhan karena hidupku dulu begitu
malang!?)
Sebagai laki-laki, ini adalah situasi yang terlalu
membahagiakan. Namun, Rest tidak punya keberanian untuk memandangi tubuh mereka
secara terang-terangan, sehingga ia pun jatuh dalam kebingungan total.
Bagaimana situasi ini bisa terjadi? Mari kita mundur
beberapa jam.
Celestine, yang sudah lebih dulu masuk OSIS, memberikan
penjelasan mendalam tentang tugas-tugas OSIS kepada si kembar Rosemary.
Karena mereka teman sekelas dan sudah akrab, si kembar
mengajak Celestine untuk mampir ke rumah mereka.
Mengingat tugas OSIS baru saja selesai, mereka memutuskan
untuk memenuhi janji itu hari ini.
Kebetulan besok adalah hari libur. Jika
pulang terlalu malam, mereka menyarankan agar Celestine menginap saja.
Akhirnya, mereka juga mengajak Yuri yang kebetulan masih
ada di kelas untuk mengerjakan tugas, lalu dimulailah acara menginap bersama.
(Aku tahu ada tradisi pajamas party di kalangan
perempuan... kupikir itu tidak ada hubungannya denganku, dan aku berniat
menjadi pajangan saja agar tidak mengganggu mereka!)
Tapi
nyatanya... Rest secara alami disertakan dalam daftar anggota pesta menginap
itu.
Mengingat
Rest memang tinggal di rumah Marquis Rosemary, istilah "menginap"
mungkin kurang tepat baginya. Namun, ia ikut makan malam bersama keempat gadis
itu, mengobrol di ruang santai... hingga akhirnya terseret masuk ke sauna
bersama mereka.
"Terlepas dari Viola dan Primula... apa kalian
berdua tidak merasa risi ada aku di sini?"
"Risi? Apa maksudmu?"
Menanggapi pertanyaan Rest, Yuri memiringkan kepala
seolah benar-benar tidak mengerti.
"Aku dan Rest adalah teman. Mandi bersama adalah
acara yang sangat menyenangkan, bukan?"
"Tapi, aku ini laki-laki..."
"Jenis kelamin itu masalah sepele. Aku tidak akan
membiarkanmu dikucilkan hanya karena alasan membosankan seperti itu!"
"I-ini bukan soal dikucilkan... eh?"
Rest
mengalihkan pandangannya ke arah Celestine, meminta pertolongan.
"Fufufu..."
Celestine
tidak polos seperti Yuri. Dia tampak memahami sepenuhnya kebingungan Rest...
namun meski begitu, dia tetap memberikan senyum anggunnya.
"Kalau
dengan Rest-san, saya tidak keberatan. Menunjukkan kulit pada orang yang tidak
bisa dipercaya memang membuat risi, tapi saya paham bahwa Rest-san adalah orang
yang pantas untuk dipercayai."
"I-itu tidak mungkin..."
"Maksud Anda, Anda tidak bisa dipercayai? Jadi,
Anda memiliki niat tidak senonoh pada kami?"
"…………"
Pertanyaan
itu benar-benar curang. Tidak mungkin Rest mengiyakan bahwa ia melihat mereka
dengan mata mesum, dan jika ia menyangkalnya, maka kesimpulannya adalah
"kalau begitu tidak masalah".
Akhirnya, Rest tidak punya pilihan selain ikut sauna
bersama mereka berempat. Meskipun ia berkeringat deras karena alasan yang
berbeda dari hawa panas sauna.
"Ugh..."
"……Rest-san benar-benar orang yang menyenangkan, ya.
Pantas saja Viola-san, Primula-san, dan Yuri-san sangat menyukai Anda."
Melihat Rest yang hanya bisa terdiam sambil meringkuk,
Celestine mengguncangkan bahunya karena geli.
"Andai saja Pangeran Roderick memiliki setengah saja
dari ketulusan dan sifat menggemaskan Anda, mungkin saya bisa menaruh rasa
hormat padanya... saya jadi merasa iri."
Putri Duke yang cantik itu menyipitkan matanya yang
jernih.
"Orang-orang berbakat cenderung menjadi sombong.
Mereka memandang rendah orang lain dan bertindak semau sendiri... tapi Rest-san
tidak memiliki egoisme seperti itu. Anda selalu menghargai orang lain dan
bertindak sopan. Menurut saya, itu adalah kualitas yang sangat langka."
"Aku tidak mengerti hal-hal yang rumit, tapi
menurutku juga Rest adalah laki-laki yang hebat! Aku sangat
menyukainya!"
Menyusul Celestine, Yuri pun memberikan penilaian tinggi
pada Rest.
"Sejak bertemu Rest di gunung itu, duniaku terus
meluas! Berkat Rest, aku punya banyak teman... aku
benar-benar berterima kasih. Jika kau menginginkannya, aku rela
memberikan seluruh hidupku padamu!"
"He... Yuri, apa yang kau katakan!"
Mendengar kalimat yang tak bisa diabaikan itu, Viola
buru-buru bersuara.
"Apa ada yang aneh?"
"Aneh sekali tahu!"
"Rest-sama itu tunangan kami, lho?"
"…………?"
Yuri yang disudutkan oleh Viola dan Primula hanya
memiringkan kepala dengan bingung, tidak mengerti kenapa dia dimarahi.
"Maksudku... kalau aku menjadi istri Rest juga, kita
semua bisa tetap bersama-sama, kan? Bukankah itu akan sangat
menyenangkan?"
“““…………!”””
Viola, Primula... dan Rest yang mendengarkan pun ikut
bungkam seribu bahasa.
Yuri tampaknya tidak sadar bahwa dia baru saja mengatakan
sesuatu yang gila. Dia tidak berpikir soal merebut kekasih orang lain; dia
mengatakannya murni karena berpikir itu akan "menyenangkan".
"Wah? Sepertinya itu seru. Saya jadi ingin ikut
bergabung."
“““Eeehhh!?”””
Bahkan Celestine ikut menjatuhkan bom besar.
"Jika saya meninggalkan Pangeran Roderick dan
menikah dengan Rest-san, hari-hari saya pasti akan terasa menyenangkan...
Tolong jangan memasang wajah seperti itu. Tentu saja saya hanya bercanda,
tahu?"
"Itu tidak terdengar seperti bercanda sama
sekali..."
"Benar... kita tidak boleh lengah."
Viola dan Primula memasang wajah curiga, sementara
Rest yang mendapatkan pujian bertubi-tubi dari empat gadis cantik itu semakin
terjebak dalam pusaran kebingungan.
"Sudah... aku menyerah..."
Pikiran Rest sudah mendidih, ia benar-benar
"kepanasan" luar dalam.
◇ ◇ ◇
Tempat berganti ke ruang santai di kediaman Marquis
Rosemary.
Keempat gadis cantik yang baru selesai mandi itu
sudah berganti pakaian tidur dan duduk dengan santai di sofa empuk.
Mereka semua mengenakan gaun tidur tipis dengan
kardigan di atasnya. Celestine dan Yuri mengenakan pakaian yang dipinjamkan
oleh si kembar Rosemary.
(Rasanya... aku baru saja melewati pengalaman yang
luar biasa...)
Mengingat kejadian tadi, Rest menutupi wajahnya
dengan tangan. Jika ini adalah dunia komik, ia mungkin sudah mimisan
hebat karena kegirangan.
Begitu dahsyatnya dampak pemandangan mereka saat memakai
baju mandi tadi.
(Mungkin seharusnya aku melihat lebih jelas ya... Eh,
tidak, aku tidak punya nyali untuk melototi tubuh gadis-gadis itu.)
"Omong-omong... aku ingin bicara serius sedikit.
Sebentar lagi akan ada 'Festival Perburuan Sihir' (Demon Hunting Festival),
kan?"
Setelah
meminum jus buah dingin dan suasana mulai tenang... Celestine membuka topik
pembicaraan tersebut.
"Festival
Perburuan Sihir...?"
"Ah,
Rest-san belum tahu ya. Itu adalah acara pembasmian monster tahunan yang
diadakan di Akademi Kerajaan."
Celestine
menjelaskan dengan nada yang sopan.
"Meskipun
ada rakyat jelata yang bersekolah di sana, Akademi Kerajaan pada dasarnya
adalah institusi pendidikan bagi bangsawan. Dan misi terbesar seorang bangsawan
adalah melindungi wilayah dan rakyatnya."
"Musuh
yang mengancam wilayah dan rakyat... perampok, tentara negara lain, dan tentu
saja monster."
"Membasmi
monster yang muncul di wilayah kekuasaan adalah salah satu tugas resmi
bangsawan."
Viola
dan Primula melanjutkan penjelasan Celestine.
"Membasmi
monster... jadi Festival Perburuan Sihir ini adalah semacam latihan untuk
itu?"
"Tepat
sekali."
Yuri
ikut menimpali dengan wajah tertarik. Celestine
mengangguk.
"Festival ini bersifat opsional. Jika tidak mau,
kalian tidak harus ikut. Namun... banyak siswa yang bercita-cita menjadi
Ksatria Pengawal atau Penyihir Istana yang mengikutinya. Dengan
membasmi banyak monster dan menunjukkan prestasi, itu akan sangat menguntungkan
saat mencari pekerjaan setelah lulus nanti."
"Begitu ya. Ada acara seperti itu... Aku ahli dalam
membasmi monster, jadi aku menantikannya."
Rest mengangguk mantap. Sejak kecil ia sudah dilatih
bertarung melawan monster.
Ia tidak merasa keberatan sama sekali. Di Festival
Perburuan Sihir nanti, ia berniat berburu monster sepuasnya untuk menunaikan
kewajibannya sebagai bangsawan.
"Tidak, Rest-san tidak akan ikut berburu di festival
itu."
"Eh? Begitukah?"
Namun, Celestine segera menggelengkan kepala. Tekad Rest
baru saja dipatahkan.
"OSIS bertindak sebagai penyelenggara dalam festival
tersebut. Pengurus inti akan menangani masalah administratif, sedangkan anggota
Departemen Penegak akan bertugas sebagai staf penyelamat darurat."
"Staf penyelamat?"
"Benar. Lokasi festivalnya ada di 'Dataran Sabnock'
di sebelah timur ibu kota. Para siswa akan berburu monster dalam tim kecil.
Karena staf pengajar tidak bisa mengawasi seluruh dataran yang luas itu,
anggota Penegak akan berpatroli untuk membantu peserta yang dalam keadaan
darurat."
"Jadi begitu rupanya..."
Meski mereka bangsawan, orang yang tidak terbiasa
bertarung dengan monster pasti akan jatuh dalam bahaya. Memang benar diperlukan orang untuk menolong mereka di saat genting.
"Biasanya staf penyelamat dipilih dari siswa
kelas dua ke atas yang berprestasi. Jika Rest-san merasa keberatan, saya
bisa menyampaikannya pada Pangeran Andrew..."
"Tidak, aku akan melakukannya. Tidak masalah."
"Kalau Rest-kun pasti tidak masalah. Dia bahkan bisa
mengusir White Fenrir," kata Viola.
"Rest-sama tidak akan kesulitan. Dia bahkan bisa
bertukar pukulan dengan Ibu," tambah Primula.
"Rest pasti bisa! Kami kan pernah mengalahkan burung
raksasa bersama-sama!" seru Yuri.
Viola, Primula, dan Yuri mengangguk mantap bersamaan.
Kepercayaan mereka memang membahagiakan, tapi juga memberikan sedikit tekanan.
Rest harus berusaha keras agar tidak mengecewakan harapan mereka.
"Kalian semua benar-benar mempercayai Rest-san,
ya... aku benar-benar jadi iri."
Ekspresi Celestine sedikit meredup. Mungkin ia sedang
membandingkan tunangannya sendiri dengan Rest.
"Celestine-sama... anu, apakah pertunangan Anda
dengan Pangeran tidak bisa dibatalkan?"
Primula bertanya dengan ragu-ragu, mencoba memilih kata
yang tepat. Itu adalah hal yang dipikirkan oleh semua orang di sana... kecuali
Yuri yang tampak masih bingung.
Celestine
adalah wanita yang baik, sopan, dan cerdas. Dia pasti akan menjadi istri dan
ibu yang luar biasa di masa depan.
Sangat
tragis jika wanita sehebat Celestine harus menikah dengan pangeran bodoh dan
sewenang-wenang seperti Roderick.
"Setidaknya,
saya tidak bisa menolaknya dari pihak saya. Bagaimanapun
dia adalah anggota kerajaan, dan jangan sampai Pangeran dimanfaatkan oleh
faksi-faksi yang menentang tahta."
Mengingat adanya kelompok yang disebut Faksi Ibu Suri,
Roderick tidak bisa dibiarkan begitu saja tanpa pengawasan.
Tapi tetap saja, rasanya tidak adil jika Celestine harus
menjadi "tumbal" demi kepentingan itu.
(Pangeran Ketiga Roderick, ya... kuharap orang itu bisa
bertobat entah bagaimana caranya.)
Rest
membayangkan wajah si pangeran bodoh itu. Pria yang tega melepaskan sihir
serangan kepada orang lain, bahkan tunangannya sendiri.
Maaf
saja untuk Celestine, tapi Rest tidak bisa membayangkan orang itu menjadi orang
benar.
(Mungkin
akan lebih baik jika seperti di novel-novel, di mana pihak sana yang meminta
pembatalan pertunangan...)
Rest
teringat novel romantis yang pernah dibicarakan teman sekelasnya di SMA dulu.
Andai
pangeran bodoh itu jatuh cinta pada wanita lain lalu mencampakkan Celestine...
setidaknya Celestine bisa bebas dari tugas mengasuh bocah nakal itu.
"Begitu ya... berat juga ya. Eh,
mau minum teh susu?"
"Ada kue kering juga, Celestine-sama."
"Aku tidak begitu paham, tapi apa perlu aku hajar
dia?"
Viola,
Primula, dan Yuri mencoba menghibur Celestine dengan cara mereka masing-masing.
"Terima kasih, akan saya nikmati tehnya... Yuri-san,
tidak perlu menghajarnya, jadi tolong jangan lakukan hal aneh."
"Yah... kalau ada yang bisa kubantu, katakan saja. Aku juga bersedia menemanimu ke batting
center lagi kapan saja."
"Terima
kasih, Rest-san... Ah, benar juga."
Melihat
perhatian Rest, Celestine tersenyum getir seolah teringat sesuatu.
"Mengenai
Festival Perburuan Sihir... sepertinya Pangeran Roderick juga akan
berpartisipasi. Pada saat itu masa skorsingnya seharusnya sudah berakhir."
"Ugekh..."
Rest
mengeluarkan suara yang seharusnya tidak ia keluarkan di depan para gadis.
(Si
pangeran bodoh itu akan ikut acara sekolah... kuharap dia tidak macam-macam...)
Mungkin
dia akan menolak ikut dengan alasan "membasmi monster adalah pekerjaan
rendah yang tidak pantas untuk pangeran"? Tapi sayangnya, firasat buruk
Rest biasanya selalu jadi kenyataan.
"Kenapa
ya... padahal baru saja keluar dari sauna, tapi tengkukku terasa dingin
sekali..."
Firasat buruk itu benar-benar akan terbukti. Di Festival Perburuan Sihir sebulan kemudian, Rest harus sekali lagi membereskan kekacauan yang dibuat oleh si pangeran bodoh itu.



Post a Comment