Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Epilogue 2
Dua orang siswa SMA sedang mendatangi bagian tersembunyi di balik gudang olahraga. Tempat ini, sama seperti atap sekolah yang dilarang dimasuki, hampir tak terlihat oleh siapa pun. Di siang hari, hampir tidak ada orang yang akan mampir ke sini.
(Oh… jadi ada tempat seperti ini ya. Ke depannya, sepertinya aku bisa memanfaatkan tempat ini juga)
Akhir-akhir ini, Haruya jadi sering menghabiskan waktu makan siang bersama Sara, tapi mengetahui tempat persembunyian yang bisa dipakai untuk menyendiri tentu bukan hal yang merugikan.
Di sekolah ini, sejauh yang Haruya tahu, satu-satunya tempat yang terasa seperti oasis hanyalah atap sekolah. Karena itu, menemukan tempat seperti ini benar-benar menjadi pelajaran baru baginya. Namun, terlepas dari itu semua… sekarang Haruya justru dilanda keinginan kuat untuk segera pergi dari tempat ini.
Penyebabnya tak lain adalah gadis yang berdiri tepat di hadapannya.
“Ah, kamu datang ya……”
Dengan raut wajah tegas dan mata yang tajam—memberikan kesan dingin pada pandangan pertama—gadis cantik kelas S di kelas mereka, Takamori Yuna, membuka pembicaraan lebih dulu.
Datang atau tidak datang sebenarnya bukan pilihan, karena Haruya memang dipanggil ke tempat ini olehnya. Cara pemanggilannya pun sangat klasik. Mungkin karena memperhatikan Haruya yang cenderung menyendiri di kelas, Yuna menyelipkan secarik kertas ke dalam loker sepatunya.
Isi pesannya seperti ini:
『……Tidak apa-apa setelah kamu selesai makan siang, tapi aku ada sesuatu yang ingin kusampaikan saat jam istirahat siang…… jadi aku akan menunggumu.』
Saat membaca pesan itu, rasa kantuk Haruya seolah langsung menguap seketika. Karena selain pengakuan cinta, dia tak bisa memikirkan kemungkinan lain. Tulisan tangannya juga rapi dan jelas terlihat seperti tulisan seorang gadis.
(Apa jangan-jangan…… pengakuan? Tidak, mustahil…)
Haruya memegangi kepalanya.
Wajar saja—bagi seseorang yang tidak ingin menonjol di sekolah, sebuah “event pengakuan cinta” adalah hal yang merepotkan setengah mati.
(Ya, ya… paling cuma salah masukin loker)
Atau mungkin juga lelucon jahat, atau pengakuan palsu.
Berbagai kemungkinan terlintas di pikirannya, tapi yang paling masuk akal dan terasa paling mungkin adalah kesalahan memasukkan loker. Kemungkinan lelucon memang belum bisa sepenuhnya dikesampingkan, tapi rasanya kecil.
Di sekolah ini, sepertinya tidak ada murid yang memiliki kepribadian sejahat itu. Lagipula—bukan mau sombong—keberadaannya saja hampir tidak dikenali oleh sebagian besar siswa di kelas. Karena itulah Haruya menyimpulkan bahwa ini pasti hanya salah loker.
Meski tetap terasa merepotkan, jika Haruya tidak datang, pengirim pesan itu akan terus menunggu dengan sia-sia, dan itu terasa terlalu kejam. Maka dari itu, saat jam istirahat siang, setelah selesai makan bersama Sara, Haruya pun datang ke balik gudang olahraga ini…
“E, eumm……”
Rambut hitam panjang yang menjuntai hingga pinggang. Postur yang tegak dan berwibawa. Orang yang ada di tempat ini adalah rekan seperjuangannya sebagai Nayu—dan juga si S-Class Beauty, Takamori Yuna.
Apakah benar dia yang memanggil Haruya?
Haruya menoleh ke sekeliling, namun tak merasakan kehadiran orang lain selain mereka berdua. Sepertinya memang begitu.
(Iya… aku pengin cepat-cepat pulang…)
Beberapa hari lalu, Haruya pernah dipanggil Yuna ke sebuah pertemuan offline, dan di sana dia mengatakan bahwa ke depannya dia akan mengetahui, menyelidiki jati diri Haruya. Karena itulah, Haruya ingin sekali meninggalkan tempat ini. Namun, tampaknya semuanya sudah terlambat.
“Ah, kamu datang ya.”
Sepertinya dia sedang mendengarkan musik sambil menunggu.
Sambil melepas earphone-nya, Yuna kembali berbicara.
“…Y-ya…”
Mungkin karena kejadian sebelumnya, Haruya sulit menatap matanya secara langsung. Entah kenapa, suaranya pun dibuat lebih rendah untuk menutupi kegugupannya.
“Ngomong-ngomong, Akasaki-kun. Kamu agak telat sedikit ya.”
“M-maaf.”
“Tapi kamu tetap datang, jadi nggak apa-apa kok……”
Dari cara bicaranya, jelas ini bukan sekadar salah memasukkan loker.
Ini memastikan bahwa Yuna memang sengaja memasukkan pesan ke loker Haruya karena ada urusan dengannya.
(Tapi… kenapa…)
Saat Haruya masih tak bisa menyembunyikan kebingungannya, Yuna berbisik dengan nada bercanda,
“Jangan-jangan kamu gugup? Kamu sempat mikir ini pengakuan cinta?”
Bahunya refleks bergetar.
Meski tidak menjawab dengan suara, tampaknya itu sudah cukup sebagai jawaban.
“…Eh? Masa kamu beneran mikir ini pengakuan?”
Dia menatap Haruya dengan ekspresi terkejut, sekaligus sedikit jengah.
Memang, ini jelas bukan pengakuan.
Sebagai Yuna—bukan sebagai Nayu—interaksi mereka hanya sebatas saat Haruya terlambat dan dihukum lari mengelilingi sekolah. Selain itu, mereka hampir tidak pernah berbicara atau berhubungan sama sekali. Dengan hubungan setipis itu, pengakuan cinta seharusnya mustahil.
“Ya jelas nggak mungkin…… tapi kalau lihat situasinya sekarang, hehe, ya wajar juga sih kalau disalahpahami begitu……”
Yuna terkekeh pelan, lalu melanjutkan,
“Maaf ya. Aku cuma…… mungkin agak malu. Soalnya aku jarang menyampaikan hal seperti ini.”
Apa sebenarnya yang ingin dia sampaikan?
(Eh, ini kenapa… suasananya? Maaf, tapi ini benar-benar terasa seperti suasana pengakuan cinta)
Tak heran jika naluri Haruya berpikir demikian.
Pipi Yuna sedikit memerah, dan pandangannya sesekali menghindar. Ditambah lagi angin sepoi-sepoi yang berhembus di tempat itu. Sebagai seseorang yang sudah banyak membaca shoujo manga dan romcom, Haruya tak bisa tidak berpikir—
Ini adalah event pengakuan cinta yang klise.
Menelan ludah sambil berkeringat dingin di dalam hati, Haruya akhirnya memecah keheningan. Dia tak sanggup lagi menahan suasana yang terasa manis-asam itu.
“Bahkan Takamori-san juga bisa malu, ya.”
“Ya jelas dong…… Aku juga bisa malu, tahu.”
Tak terduga.
Tidak, kalau menilik kembali selama pertemuan offline-nya dengan Nayu sejauh ini, mungkin sebenarnya itu tidak terlalu mengejutkan.
“Takamori Yuna” adalah siswi yang mengenakan seragam longgar dengan rapi dan memberi kesan dingin. Namun Haruya tahu, di balik itu semua, di dalam dirinya berkobar semangat juang yang panas.
Kalau tidak demikian, mustahil dia bisa mengerahkan tenaga sepenuhnya di game center, atau mencurahkan gairah sebesar itu pada basket.
Sering kali, ketika Haruya menyinggung sisi itu darinya, Yuna akan menatapnya dengan pandangan protes sambil berkata, “……itu bukan bagian yang perlu kamu gali, kan?” Dan pada akhirnya dia akan menggerutu, “Kepribadianmu jahat.”
Haruya memang tahu sisi menggemaskan dari dirinya itu, tapi itu hanya ketika mereka berinteraksi sebagai Haru dan Nayu.
Sekarang, karena mereka sedang berhubungan di sekolah, Haruya hanya bisa memandangnya sebagai Takamori Yuna seperti yang dikenal semua orang.
Sambil menendang pelan kerikil di dekat kakinya, Yuna membuka pembicaraan.
“Sebenernya… ada dua hal yang ingin kusampaikan ke Akasaki-kun.”
Sepertinya urusannya bukan cuma satu. Hal itu justru membuat situasinya terasa semakin aneh dan menakutkan. Haruya sama sekali tidak punya firasat apa pun.
Sambil menahan gugup di dalam hati, Haruya mempersilakan Yuna melanjutkan. Yuna pun sengaja berdeham sekali sebelum berbicara lagi.
“Yang pertama, aku ingin bilang terima kasih. Bukan berarti semuanya berkat Akasaki-kun sih, tapi waktu itu… kamu pernah bilang, ‘kamu suka basket, kan?’ kan? Faktanya, kata-kata itu benar-benar menyelamatkanku.”
“Kalau kamu bisa kembali menghadapi basket, itu sudah bagus… dan selain itu—”
Kalau begitu, rasanya pantas juga baginya untuk membalas ucapan terima kasih itu.
Haruya pun kali ini menatap Yuna langsung saat berbicara.
“Aku juga yang harus berterima kasih. Karena waktu itu Takamori-san bilang kamu suka lari, aku bisa menjadi diriku yang sekarang.”
“……!”
Yuna sejenak membelalakkan mata dan membeku.
Hanya sesaat—benar-benar sesaat—Akasaki Haruya terpantul di mata Yuna sebagai Haru. Namun, setelah kemungkinan itu ditepis ke sudut pikirannya… Yuna segera tersenyum kecil.
“Hehe, ternyata kita ini cukup mirip ya, Akasaki-kun.”
“Hah?”
“Bukannya begitu? Kita saling menolong satu sama lain saat itu. Dan dua-duanya soal olahraga.”
Haruya dengan atletik.
Yuna dengan basket.
Kalau dipikir-pikir, sebutan “mirip” memang terasa pas.
“Kalau begitu, yang kedua apa?”
“Ehm… sebenarnya aku sedang mencari seorang siswa laki-laki. Aku pikir mungkin Akasaki-kun punya petunjuk.”
“Siswa laki-laki?”
Pilihan katanya terdengar aneh, membuat Haruya bertanya balik.
Yuna tampak kesulitan memilih kata-katanya.
“Ehm… aku nggak tahu tingkat atau kelasnya, tapi aku yakin dia siswa di sekolah ini. Dan ciri-cirinya—”
Dengan serius, Yuna pun mulai menjelaskan tentang siswa laki-laki yang sedang dicarinya.
Katanya, penampilannya berbanding terbalik dengan Haruya yang sekarang berkesan sedikit urakan dengan poni diturunkan.
Pada titik ini, Haruya sudah bisa menebak segalanya. Dia ingin kabur dari tempat ini secepat mungkin.
“…Tapi aneh ya. Padahal dia kebalikannya Akasaki-kun, tapi entah kenapa tadi aku merasa ada aura yang sama. Dengan dia.”
“……!”
Gawat. Ini benar-benar gawat.
Haruya makin membungkukkan badan dan sengaja mengalihkan pandangannya darinya.
“Ya, meski kupikir itu nggak mungkin sih. Tapi apa kamu punya bayangan tentang siswa itu?”
“…Maaf, tapi aku nggak kenal siswa seperti itu.”
“O-oh begitu…”
“Ka-kalau begitu, kenapa nggak tanya ke teman-temanmu saja?”
“Oh, maksudmu Sara atau Rin? Hmm, tapi aku agak nggak ingin cerita ke mereka.”
Bagi Haruya, itu justru melegakan—setidaknya dia tak perlu merasakan sakit perut di kelas nanti. Namun, dia tetap penasaran dengan alasannya, jadi dia pun bertanya.
“Gimana ya… bukan berarti aku menyembunyikan sesuatu, tapi soal dia, aku ingin jadi orang pertama yang menemukannya. Aku ingin aku yang pertama tahu. Ke Rin dan Sara… aku ingin membongkar identitasnya dulu, lalu…”
Dia menggeliat gelisah, mondar-mandir kecil.
Dengan suara pelan, Yuna terus bergumam. Meski suara itu tak sampai ke telinga Haruya, jelas kalau identitasnya terbongkar, tidak akan berakhir dengan baik.
“Yah, tapi dia itu, meski kelihatannya begitu, cukup ceria. Kayaknya punya banyak teman, jadi mungkin bakal cepat ketemu.”
“Aku ini hampir nggak punya pergaulan, jadi maaf kalau nggak bisa bantu.”
“Ah, nggak, nggak apa-apa kok. Lagipula… karena yang kutanya Akasaki-kun, makanya aku berani nanya hal memalukan begini.”
“Hah?”
“Soalnya kalau nanya ke anak lain, bisa-bisa langsung jadi gosip. Terus kalau sampai manggil siswa laki-laki, nanti malah disangka pengakuan cinta atau yang aneh-aneh.”
“Kalau soal itu, aku juga sempat mikir ini pengakuan, sih.”
“…Y-ya, m-maksudku, tapi kamu kan nggak bakal salah paham terus, Akasaki-kun. Dan kamu juga kelihatannya nggak bakal nyebarin gosip.”
“Ya, soalnya aku juga nggak punya siapa pun buat diceritain.”
“…Maaf, tapi ya memang begitu.”
Kepribadiannya cukup licik juga.
Begitulah keseluruhan alasan kenapa dia memanggilnya ke sini. Merasa sudah mengerti, Haruya pun hendak meninggalkan tempat itu, tapi—
“…Tunggu.”
Menghentikan langkahnya, Haruya menoleh ke belakang.
“Maaf. Tadi aku bilang sesuatu yang jahat, ya. Kayak menilai kamu seolah-olah nggak punya teman.”
“Enggak, itu fakta kok, jadi aku nggak masalah.”
Sepertinya telah terjadi kesalahpahaman.
Memang, dilihat dari alur percakapan, wajar saja kalau Yuna merasa khawatir saat Haruya langsung hendak pergi dari tempat itu—mungkin dia takut ucapannya barusan menyinggung perasaannya.
Dengan ekspresi bersalah, Yuna membuka layar ponselnya.
“Sebagai permintaan maaf—meski kedengarannya agak aneh—mau nggak… kita jadi teman?”
“Hah?”
Tanpa sadar, Haruya mengeluarkan suara aneh.
Itu wajar. Siapa pun pasti akan kebingungan menerima tawaran mendadak seperti itu.
“Soalnya aku bikin Akasaki-kun nggak enak, kan… dan aku juga benar-benar berterima kasih karena kamu sudah nolong aku. Jadi… nggak mau?”
“………!”
Haruya menahan napas, tenggorokannya tercekat.
Seharusnya dia menolak. Demi menyembunyikan identitas aslinya, menjaga jarak adalah pilihan yang tepat. Tapi kenyataannya, dengan cara bicara seperti itu, dia tak sanggup menolak.
“Lagipula, kalau suatu saat Akasaki-kun dapat info tentang dia, tolong kasih tahu aku, ya.”
“…K-kalau cuma begitu sih.”
“Yay. Kalau begitu… maaf langsung to the point, tapi kamu bisa keluarin ponsel?”
Sepertinya langkah berikutnya adalah bertukar kontak.
“Maaf, ponselku ketinggalan di kelas…”
“Ah, kalau begitu ini.”
Yuna mengeluarkan secarik kertas berisi informasi kontak dari sakunya dan menyerahkannya.
“Aku biasanya nyimpen beberapa lembar. Nanti kalau sudah sampai rumah, tinggal kamu tambahin saja.”
“…O-oke.”
Haruya mengangguk sambil tersenyum kecut. Dan tepat pada saat itu—
Kiin-kong-kaan-kong, kiin-kong-kaa-kong.
Bel penanda berakhirnya jam istirahat siang pun berbunyi nyaring.
“Ah, gawat.”
“Kita kelamaan di sini ya. Maaf sudah ngerepotin. Ayo cepat balik ke kelas.”
“Ah, iya.”
Begitulah, Haruya dan Yuna berlari sekuat tenaga berdampingan.
Di tengah lari, Yuna menyapanya dengan nada ceria.
“Nee, kalau nanti kita telat lagi, bisa-bisa disuruh lari keliling sekolah lagi, ya.”
“…Itu sih aku mohon jangan.”
“Kalau sampai kejadian, kali ini aku nggak bakal kalah pas lari, lho.”
“……!”
Ucapan itu membuat Haruya tanpa sadar tersenyum. Benar-benar terlihat kalau di dalam hati Yuna berkobar semangat bertanding.
Sepertinya dia memang sangat tidak mau kalah. Karena dia menunjukkan sisi seperti itu bahkan dalam situasi begini, Haruya pun tanpa sadar memperlihatkan jati dirinya yang sebenarnya.
“…….”
Saat itu, Yuna merasakan sedikit kejanggalan. Namun karena mereka sedang terburu-buru, dia tak terlalu memikirkannya dan terus berlari bersama Haruya menuju kelas. Hasilnya, mereka berdua berhasil masuk kelas tanpa terlambat.
Meski begitu…Haruya harus menghadapi rentetan pertanyaan dari Kazamiya yang duduk di belakangnya, dan sesekali menerima tatapan protes dari Sara. Alhasil, dia melewati waktu yang terasa sangat tidak nyaman. Namun yang paling membuat jantungnya hampir copot adalah pesan yang dikirim gadis itu.
Saat jam istirahat pelajaran, ponselnya bergetar dengan bunyi “brr”.
Ketika dia mengecek notifikasi… pesan dari Nayu masuk.
Nayu: Tadi, aku dapat teman baru. Haru-san, kapan kita bisa off-kai lagi?
Tanpa sadar, Haruya melirik ke arah Yuna, tapi dia terlihat santai berbincang dengan teman-temannya, seolah tak terjadi apa-apa.
“Eh, Yunarin. Tadi kamu kelihatannya kirim pesan. Kamu kirim ke siapa sih?”
“Yuna-san, aku juga penasaran…!”
Menanggapi pertanyaan dari dua orang itu, Yuna tersenyum malu-malu.
“…Nanti aku ceritain. Sekarang rahasia dulu.”
“Cara ngomongmu itu sih jelas hubungan sama lawan jenis.”
“Benar.”
“Hehe, mungkin iya.”
“Eh, kamu barusan ngaku. Ayo, mumpung sekarang, ngakuin aja, Yunarin. Kalau nggak—”
Rin mulai menggelitik sisi tubuh Yuna.
“Aha-ha, sudah, berhenti dong… Rin!”
“Ayo, Sarachin juga! Kita nggak boleh melewatkan gelombang besar ini!”
“B-baik. Bersiaplah.”
Sara pun ikut bergabung dan mulai menggelitik Yuna.
Melihat keakraban para S-Class Beauty itu, beberapa siswa laki-laki hampir “naik ke surga” sambil berbisik, “Mulianya…”
Sementara itu, Haruya menanggapi obrolan Kazamiya dengan setengah hati, sambil diam-diam memperhatikan Yuna.
***
Dia bermimpi. Seorang siswa SMA laki-laki mendorong seorang siswi ke sudut dinding. Siswa laki-laki itu berponi panjang, murid yang agak tersisih di kelas. Sementara siswi perempuan itu berambut hitam yang tergerai, berpenampilan dingin.
Sekilas, dari segi penampilan, mereka tampak bertolak belakang. Namun sang siswa laki-laki mendekat dengan aura yang gagah.
“…Dasar. Lama sekali kamu sampai menemukan aku.”
“M-maaf. Soalnya aku sama sekali nggak menyangka Akasaki-kun itu Haru-san.”
“Aku sudah lama ingin kamu membongkar identitasku, sampai rasanya nggak sabar. Selama itu, aku cuma mikirin Nayu-san.”
“Jadi… kamu selama ini terus memikirkan aku?”
“Sudah, jangan mendekatkan wajahmu begitu… serius, aku jadi malu.”
“Hehe, Haru-san punya sisi imut juga ya.”
“Sekarang kan aku yang sedang menyerang, jadi jangan menggoda, Nayu-san.”
“…Bisa nggak kamu berhenti memanggilku Nayu?”
“Hah?”
“Soalnya kita kan sudah saling tahu identitas masing-masing. …Mulai sekarang, aku ingin dipanggil dengan nama yang sebenarnya.”
“Begitu ya. Takamori.”
“Panggil pakai nama keluarga itu terasa terlalu formal, kan? Jadi kalau bisa, aku maunya dipanggil pakai nama depan.”
“Kalau begitu, bukankah kamu yang harus mulai duluan?”
Sambil menyeringai, dia meniupkan napas pelan ke tengkuknya.
“Eh, a-apa yang harus kupanggil?”
“Ya jelas, Haruya.”
“Eh, tapi…”
“Ada masalah?”
“D-dia terlalu dekat, Haru-san…”
“Segini doang nggak masalah, kan?”
Sambil berkata begitu, dia menyibakkan rambutnya dan menatapnya lurus.
(Kalau dilihat dari dekat… bulu mata Haru-san panjang. Matanya juga indah…)
Apa yang sedang kupikirkan, sih?
Perasaanku jadi aneh.
“Ayo, panggil aku Haruya.”
“…Ha, Haru—”
“Ayo panggil. Yuna.”
Dia menahan Yuna ke dinding dan mendekatkan mulutnya ke telinganya saat berkata demikian.
“Y-yang seperti ini bukan Haru-san…!”
Bersamaan dengan kata-kata itu, Yuna terbangun dengan terkejut.
Dia menyingkap selimut dengan kasar, lalu langsung menyadari bahwa semua itu hanyalah mimpi.
(Mimpi, ya… tapi mimpi yang aneh)
Saat mengecek waktu, ternyata masih pukul 06:00.
Karena isi mimpinya begitu kuat, rasa kantuknya sudah lenyap entah ke mana. Setelah meregangkan badan besar-besaran, Yuna memegangi kepalanya.
(Aku benar-benar bermimpi sesuatu yang sama sekali nggak boleh diceritakan ke siapa pun. Padahal Haru-san bukan tipe agresif seperti itu…)
Dan bukan cuma itu yang terasa janggal.
(Akasaki-kun itu Haru-san? Mana mungkin…)
Memang, beberapa kali dia merasa Akasaki-kun dan Haru-san terlihat tumpang tindih. Tapi menyimpulkan mereka orang yang sama rasanya sulit dipercaya.
(Pasti aku kecapekan. Karena jadi teman Akasaki-kun, pikiranku jadi ketarik ke sana. Hah… mimpi macam apa sih yang kulihat ini)
Isi mimpi yang terasa seperti manga shoujo itu membuatnya hanya bisa mengeluh dalam hati. Mungkin karena belakangan ini dia sering membaca manga shoujo semacam itu, jadi terbawa sampai ke mimpi.
Apa pun alasannya, mimpi ini tetaplah “sejarah kelam”. Tak diragukan lagi, ini sesuatu yang sama sekali tak boleh diceritakan ke orang lain. Namun tanpa disadari, detak jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Apa sebenarnya dia merasa itu… tidak buruk?
Tentang isi mimpi tadi. Padahal itu memalukan saja, dan dia sama sekali bukan tipe “dream girl”…
“Yuna.”
Dia teringat kembali bagaimana tadi dia dipanggil seperti itu.
Wajahnya langsung memerah, lalu Yuna menggelengkan kepala dan menyusup kembali ke balik selimut.
“Dasar bodoh…”
Panas. Bukan karena dia menyelimuti diri dengan selimut.
───Apa aku menyukainya?
Menghadapi perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, Yuna tak bisa menyembunyikan kebingungannya.
(Apa sebenarnya perasaan ini…?)
Pasti, di balik saat dia membongkar identitas Haru, ada jawaban atas perasaan ini. Memikirkan hal itu, tekad Yuna untuk mengungkap jati diri Haru pun semakin menguat.
Previous Chapter | ToC |



Post a Comment