NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze ka S-kyuu Bijotachi no Wadai ni Ore ga Agaru Ken V3 Bonus E-Book

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Bonus E-book – Cerita Pendek Orisinal

“Seandainya Aku Membersihkan Ruangan Bersama Rin”

“Walaupun panitia kebersihan sudah bekerja keras, beres-beres tetap saja capek ya.”


“Iya. Lebih berat dari yang kukira.”


Mengikuti Haruya, Rin juga menatap sekeliling kelas sambil bersuara.


Festival Eiga berlangsung meriah dengan banyak tamu undangan yang datang—itu memang bagus, tetapi… pekerjaan beres-beres setelahnya benar-benar melelahkan.


“Memangnya nggak apa-apa tetap pakai pakaian itu?”


“Uhn. Soalnya ini cuma bisa kupakai hari ini.”


Rin masih mengenakan kostum idol yang dipakainya saat live. Memang imut, tapi untuk bersih-bersih, pakaian itu jelas terasa kurang praktis.


“Kostum itu… kelihatan niat banget. Bagus.”


“Iya.”


Bukan kostum yang terlalu terbuka, tetapi karena ini adalah kostum khusus festival budaya, entah kenapa terlihat berkilau. Mungkin karena melihat Haruya yang gelisah, Rin menyahut dengan mode menggoda.


“Akasaki-kun. Kayaknya di perpustakaan tadi kamu sudah lihat kostumku dengan saksama deh… tapi ya sudahlah, nanti setelah beres-beres aku perlihatkan baik-baik kok~”


“Enggak, nggak perlu.”


“Eh? Padahal cuma hari ini, lho~”


Rin berputar satu kali di tempat. Rok berenda itu pun bergoyang. Belum waktunya cahaya bulan, tetapi karena ini adalah waktu di antara senja dan malam, sosok Rin tampak begitu fantastis di mata Haruya.


“Kalau gitu… mungkin aku lihat saja.”


Kata-kata “cuma hari ini” terdengar terlalu menggoda.


Haruya mengangguk seolah terpancing. Rin pun tertawa kecil.


“Apa. Ujung-ujungnya mau lihat juga, kan.”


“…Yah, aku nggak menyangkal.”


Soalnya memang tepat sasaran.


Sambil saling melontarkan canda ringan, mereka melanjutkan beres-beres. Saat melepas dekorasi yang ditempel di dinding, perasaan sentimental pun muncul.


Ketika melirik ke luar jendela, terlihat para siswa lain juga sedang membereskan area luar sekolah.


“Kita kebagian bersih-bersih di dalam ruangan, untung ya.”


“Iya… terima kasih sudah membalas kekalahan waktu urusan es krim itu.”


Tempat ini adalah gedung khusus. Panitia pelaksana menentukan lokasi bersih-bersih tiap kelas lewat suit. Haruya dan yang lain menang, sehingga mereka bertanggung jawab atas beberapa ruang kelas seperti ini.


Untuk sementara, mereka bekerja dalam diam. Namun ketika tiba saatnya menata kursi dan meja, Rin tiba-tiba membuka suara.


“Eh. Ngomong-ngomong, ada yang belum sempat kutanyain ke Akasaki-kun.”


“Hm? Kenapa?”


“Aku, Sarachin, Yunarin. Menurut Akasaki-kun, siapa yang paling bagus?”


“Eh?”


Haruya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Tak menyangka pertanyaan seperti itu akan muncul.


Menyadari kebingungannya, Rin menambahkan,


“Soalnya Akasaki-kun bilang, kan. Katanya aku bisa tampil live yang nggak kalah dari Sarachin dan Yunarin.”


“…Memang aku bilang sih, tapi soal siapa yang paling bagus… harus dijawab?”


“Bukan harus sih, tapi aku pengin dengar…”


Ketiganya punya daya tarik masing-masing.


Sara dengan kostum Cinderella yang anggun.

Yuna dengan penampilan pangeran yang gagah.

Rin pun imut, dan di balik itu ada semangat yang membara.

Namun karena sudah ditanya, mau tak mau ia harus menjawab.


Awalnya Haruya kira akan butuh waktu untuk berpikir, tetapi jawabannya justru keluar begitu saja.


“Mungkin… Kohinata-san.”


“Serius? Bukan karena sungkan sama aku?”


“Iya. Bahkan sekarang, lihat kostum itu lagi, aku tetap berpikir begitu.”


Perannya sebagai penutup festival Eiga juga besar pengaruhnya. Ditambah lagi antusiasme penonton yang luar biasa.


Tentu saja, drama Sara dan Yuna juga berkualitas tinggi dan sangat menarik, tetapi tidak seflashy live performance.


Karena itu, live Rin-lah yang paling membekas di hati Haruya.


“…Oh, gitu.”


Padahal dia sendiri yang bertanya, tapi Rin malah memalingkan wajah. Biasanya dia akan menggoda lebih jauh, tetapi mungkin karena lelah setelah live, dia tampak kehabisan tenaga.


Setelah ruangan ini selesai dibereskan, Haruya mengusap keningnya sambil menghela napas. Saat itulah Rin melangkah mendekat dengan gerakan anggun.


“Kohinata-san. Kalau begitu, kita pindah ke kelas lain?”


“…Iya. Tapi sebelum itu.”


Dengan gelisah, Rin berdiri tepat di depan Haruya. Cahaya redup yang masuk dari jendela menyinari dirinya.


“Kamu pengin lihat kostum ini baik-baik, kan? Kalau begitu, sekarang nggak ada orang, jadi—”


“Ah, jadi begitu.”


Sebenarnya, bisa melihat dari jarak sedekat ini saja sudah cukup. Merasa tak sopan menatap terlalu lama, Haruya mengalihkan pandangan sambil menjawab,


“Iya. Terima kasih. Aku sudah cukup paham betapa bagusnya.”


“Akasaki-kun. Poni kamu kan panjang, susah lihat. Jadi lihat yang benar.”


“…I-iya.”


Tanpa sadar, Haruya meluruskan punggung dan menjawab dengan bahasa sopan. Saat kembali menatap ke depan, terlihat jelas betapa detail kostum itu dikerjakan.


Rin, dengan telinga yang sedikit memerah, tetap berdiri tegak di hadapannya.


“Memang cocok banget. Menurutku ini kostum yang sangat ‘Kohinata-san’.”


Haruya teringat pernah melihat pakaian kasual Rin sebelumnya.

Saat itu, dia mengenakan gaya yang biasa disebut fashion ‘jirai-kei’. Meski berbeda dengan kostum idol yang sekarang, tetap terasa sangat dirinya.


Mendengar pujian itu… Rin tiba-tiba melompat ke arah dada Haruya.

Terlalu mendadak, Haruya tak sempat bersiap, dan gagal menahan tubuhnya.


───gedebuk.


Dengan suara itu, mereka berdua terjatuh ke lantai.


“K-Kohinata-san…?”


Rin tetap menenggelamkan wajahnya di dada Haruya dan tak berusaha bangun. Saat Haruya merasakan bahunya mulai bergetar, ia dengan lembut mengusap punggung Rin. Mungkin karena semua ketegangan yang selama ini ia tahan akhirnya terlepas. Air mata menggenang di mata Rin.


Haruya tak mengatakan apa pun, hanya terus mengusap punggungnya dengan lembut. Lalu Rin pun mulai meluapkan isi hatinya.


“…Akasaki-kun. Sebenarnya aku… takut.”


“Iya.”


“Aku senang bisa tampil live, tapi aku benar-benar takut.”


“Iya.”


“Begitu melihat mereka berdua, kakiku langsung gemetar…”


“Iya. Kamu sudah berjuang dengan hebat.”


Awalnya, Rin mungkin berniat menggoda Haruya saat ia memuji kostumnya. Namun ketika benar-benar berhadapan langsung dengannya, semua yang selama ini ia pendam seakan meledak begitu saja.


Tak lama kemudian, Rin yang berada di atas perlahan menopang tubuhnya dengan kedua tangan.


“Kohinata-san.”


Yang terlihat adalah wajah Rin yang basah oleh air mata, berantakan tak karuan. Namun Haruya hanya menyebut namanya dengan suara lembut.


“…Aku senang, lho. Akasaki-kun menghalau mereka berdua tadi.”


“Itu kekuatanmu sendiri. Aku cuma sedikit mendorong dari belakang.”


Dan meski tak ia ucapkan, Haruya sadar bahwa selama ini ia justru sering dibantu Rin di kafe tempat mereka biasa bertemu.


Baginya, itu impas.


Tetes demi tetes air mata terus mengalir dari mata Rin tanpa henti.


“Terima kasih… terima kasih ya, Akasaki-kun. Tapi… aku masih punya banyak kecemasan.”


“……”


Haruya diam, mempersilakannya melanjutkan.


“Aku sangat takut memperlihatkan diriku yang sebenarnya pada Sarachin dan Yunarin… tapi aku juga merasa kalau terus begini, nggak baik—”


“Begitu ya. Kohinata-san memang hebat.”


Hari ini saja ia sudah berjuang sekuat tenaga, dan sekarang ia masih ingin tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik esok hari. Padahal, berhenti dan diam di tempat adalah pilihan yang jauh lebih mudah. Namun Rin tidak memilih jalan itu. Ia memilih untuk tidak lari dan tidak memalingkan pandangan dari kenyataan.


Itulah sebabnya, bagi Haruya, Rin tampak begitu menyilaukan.


“Tidak apa-apa. Mereka pasti akan menerimamu… dan kalau pun tidak, aku akan meminjamkan dadaku lagi seperti ini.”


Begitu kata-kata itu terucap, Haruya tersentak dan menahan napas. Tanpa sadar, ia baru saja mengatakan kalimat yang terdengar seperti dialog dari manga shoujo. Wajahnya pun langsung memerah karena malu.


“…Kalimat itu, menyakitkan banget dengernya, Akasaki-kun.”


“Serius?”


“Iya. Sama sekali nggak cocok sama kamu… beneran nggak cocok.”


Tok.


Kepala Rin bersandar ringan di dadanya. Saat ia mengangkat wajahnya, terlihat senyum lembut di wajah Rin. Berat tubuh yang menindihnya dari atas justru terasa nyaman bagi Haruya.


***


Setelah mereka selesai membereskan semuanya, sebagai penutup, Rin mengulurkan tangannya.


“Hm?”


Haruya memiringkan kepala, tak paham maksudnya. Rin pun berkata dengan nada ketus.


“Akasaki-kun, kamu lupa? Dulu kan sempat ada usulan kalau kita juga mau menari.”


“Aku ingat sih, tapi…”


“Aku sebenarnya ingin coba menari juga. Jadi, mau nggak kita lakukan sekarang? Bisa nari bareng aku yang pakai kostum begini, itu berkah besar, lho~”


Mungkin karena kembali masuk ke mode ‘iblis kecil’, nada bicara Rin terdengar genit maksimal.


“Kalau dibilang menari… aku belum pernah ikut folk dance.”


“Nggak apa-apa, tenang aja. Aku juga belum pernah.”


Itu sama sekali tidak menenangkan. Justru bikin makin cemas. Namun karena Rin sudah lebih dulu mengulurkan tangan, Haruya tak punya pilihan selain menerimanya.


Tak ada musik yang diputar. Mereka hanya menari mengikuti suasana. Berusaha membuatnya terlihat seperti folk dance, mereka bergerak bersama. Tatapan Rin terus tertuju pada Haruya, tetapi Haruya terlalu sibuk memikirkan langkah-langkah tari hingga tak sempat memperhatikan hal lain.


“Festival Eiga akhirnya benar-benar selesai ya. Rasanya… sedih banget.”


Sambil menari dan menggenggam tangan, Rin berkata begitu sambil menatap ke luar jendela.


Mengikuti pandangannya, Haruya melihat bahwa semua dekorasi yang sebelumnya dipasang untuk persiapan kini telah dibereskan.


Festival telah usai. 


Apa pun, suatu hari pasti akan berakhir. Tak ada yang benar-benar abadi. Segala sesuatu itu terbatas. Meski memahami hal itu, Haruya tetap angkat bicara.


“…Ya, meski tahun ini selesai, masih ada tahun depan, kan.”


“Tahun depan, ya… Akasaki-kun bakal jadi panitia lagi?”


“Y-ya, kalau kepikiran pengin sih…”


Pekerjaan panitia ternyata jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Memang ada kesenangannya, tapi rasa capek dan susahnya lebih membekas.


“Pasti nggak bakal, kan.”


Rin menatapnya dengan pandangan setengah menyipit. Lalu kembali mengalihkan pandangan ke jendela, dan dengan nada cemas ia bergumam,


“Tahun depan… kita bakal jadi apa ya…”


Haruya pun tidak tahu jawabannya.


Setidaknya, dalam beberapa bulan terakhir saja, kehidupan SMA-nya sudah sangat jauh berbeda dari yang ia bayangkan. Masa depan adalah sesuatu yang tak bisa dipastikan. Namun meski begitu, waktu terus berjalan. Bahkan momen sederhana seperti menari ala folk dance bersama Rin ini pun, suatu hari nanti, akan menjadi satu halaman kenangan.


Menyadari hal itu, Haruya dan Rin tetap melanjutkan tarian mereka.


Previous Chapter | ToC | 

Post a Comment

Post a Comment

close