NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze ka S-kyuu Bijotachi no Wadai ni Ore ga Agaru Ken V3 Afterword

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Afterword

Bagi yang baru pertama kali bertemu, senang berkenalan. Bagi yang sudah lama tak berjumpa, lama tak jumpa.


Saya penulisnya, Wakioka Konatsu.


Pertama-tama, terima kasih banyak karena telah mengambil dan membaca volume ketiga ini. Saya sangat senang bisa kembali menyapa para pembaca sekalian seperti ini.


Kisah kali ini menyorot Kohinata Rin sebagai pusat cerita. Bagaimana menurut kalian?


Seorang gadis yang memendam rasa rendah diri, menghadapi masa lalunya, bangkit, lalu melangkah maju.


Secara pribadi, saya menganggap sosok seperti itu sangat keren, sehingga memikirkan bagaimana mengembangkan volume ketiga ini adalah proses yang sangat menyenangkan. Namun, di saat yang sama, penulisan kali ini juga membuat saya sangat tersiksa……


Dari seluruh pengalaman menulis saya sejauh ini, inilah yang paling membuat saya bimbang.


Sebenarnya, saya pribadi tidak terlalu suka membicarakan “dapur” proses kreatif kepada para pembaca. Namun kali ini, karena perjuangannya begitu berat, izinkan saya sedikit bercerita.


Pertama, saya terus-menerus diliputi keraguan apakah Rin sudah tergambar dengan cukup imut atau belum. Seorang gadis yang mengenakan topeng dan menyembunyikan jati dirinya. Sulit membedakan mana akting dan mana perasaan yang sebenarnya.


Menulis karakter perempuan yang begitu sulit ditebak seperti ini adalah pengalaman pertama bagi saya, dan saya terus khawatir apakah saya sudah berhasil menggambarkannya dengan menarik.


Kemudian, soal seberapa jauh pekerjaan panitia bisa digambarkan. Saat menulis adegan rapat, saya bertanya-tanya: apakah ini akan terasa berlebihan? Namun jika rapat sama sekali tidak digambarkan, nuansa “panitia festival budaya” tidak akan tersampaikan.


Di sisi lain, sampai sejauh mana karakter-karakter panitia boleh ditampilkan dalam cerita utama? Jika terlalu jauh, ceritanya malah berubah menjadi kisah tentang panitia, bukan tentang Rin. Dan itu tentu tidak boleh…….


Dengan berbagai pertimbangan seperti itu, saya benar-benar dibuat pusing. Sejak debut sebagai penulis, saya sudah berkali-kali merasakan pahitnya proses melahirkan karya. Namun kali ini, rasa cemas terus menemani.


Jumlah halaman memang terus bertambah, tetapi saya menulis dengan perasaan tidak pernah benar-benar puas—kondisi yang bisa dibilang sedang tidak baik. Meski begitu, saya tidak bisa lari dari kewajiban untuk menuntaskan tulisan ini.


“Sudah sejauh ini menulis, mungkin kalau dibaca ulang penilaiannya akan berubah,” begitulah saya mencoba meyakinkan diri. Namun saat naskah yang selesai itu saya baca kembali, hasilnya terasa janggal dan tidak menyatu.


“Ini tidak boleh sampai ke tangan pembaca……”


Saya pun menguatkan tekad, lalu menyusun ulang plot dari awal dengan sungguh-sungguh.


Sebenarnya sejak awal saya sudah memiliki plot, namun karena festival budaya pasti melibatkan banyak karakter, saya berpikir ingin menulisnya dengan lebih fleksibel, sehingga memulai dengan plot yang masih samar. Akhirnya, itu tidak berhasil.


Saya memutuskan untuk menyusun ulang plot dan melakukan revisi besar. Volume ketiga ini adalah


“kisah Rin—dan tetaplah kisah Rin, bukan kisah panitia.”


Saya mengulang-ulang prinsip itu dalam hati berkali-kali. Dan begitulah cerita kali ini akhirnya terbentuk.


Saya percaya bahwa kali ini saya berhasil menampilkan pesona Rin dengan baik. Setidaknya, saya ingin mempercayainya.


Kepada editor penanggung jawab, S-sama, saya telah merepotkan Anda luar biasa banyak. Kepada seluruh tim redaksi juga, saya yakin volume ini merepotkan kalian lebih dari biasanya. Saya sungguh meminta maaf. Mohon terus bimbingan dan kerja samanya ke depan.


Nah, begitulah volume ketiga yang lahir melalui begitu banyak pergulatan. Sejauh ini saya telah menulis episode Sara, Yuna, dan Rin—heroine mana yang paling kalian sukai? Atau kira-kira siapa yang akan kalian sukai?


Jika kalian mau membagikan kesan dan pendapat melalui SNS, penulis ini akan menangis bahagia.


Sebagai catatan, heroine favorit saya adalah… ketiganya sekaligus (tertawa).


Jawaban licik, ya. Maaf.


Kepada para pembaca sekalian, saya berharap kalian terus menemani karya ini ke depannya.


Sebagai penutup, izinkan saya menyampaikan ucapan terima kasih.


Kepada seluruh tim redaksi dan editor penanggung jawab, S-sama,

sekali lagi saya meminta maaf karena telah merepotkan Anda lebih dari biasanya. Mohon kerja samanya terus ke depan.


Kepada magako-sama, yang kembali menghadirkan ilustrasi-ilustrasi indah untuk volume ketiga ini. Setiap kali ilustrasi tiba, semangat saya selalu melonjak. Terutama ilustrasi para heroine—terlalu imut sampai membuat saya terus menggeliat sendiri.


Terima kasih banyak.


Kepada semua pihak terkait, saya menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya di tempat ini. Semoga kita bisa bertemu kembali di volume keempat.


Terima kasih.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close