NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze ka S-kyuu Bijotachi no Wadai ni Ore ga Agaru Ken V2 Bonus E-book

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Bonus E-book – Cerpen Orisinal

“Dua Vampir dan Akasaki Haruya”

Kalau mendengar kata cosplay, apa yang terlintas di pikiran?

Kebanyakan orang mungkin akan membayangkan menjadi karakter dari anime atau manga favorit.


(Setidaknya begitu bagiku. Sama sekali bukan cosplay vampir. Dan ini jelas bukan soal seleraku.)


Memang belum masuk musim Halloween, tapi seperti tahun-tahun sebelumnya, pada tanggal tiga puluh satu Oktober nanti pasti akan banyak terlihat cosplay karakter populer dari karya yang sedang tren di sekitar stasiun.


“Akasaki-san, anu… bolehkah aku mengisap darahmu?”


Karena itulah aku ingin mengatakan satu hal.


(Himekawa-san… cosplay apa sebenarnya itu?)


Haruya tak bisa menyembunyikan kebingungannya saat menatap gadis cantik yang berdiri di hadapannya—Himekawa Sara.


Gigi runcing, jubah hitam panjang, dan bando dengan telinga kucing. Kalau bicara soal aksesori terakhir itu, sebenarnya tidak terlalu terasa seperti vampir, tapi tetap saja, di depan mata Haruya berdiri seekor “vampir”.


Tempat ini adalah atap SMA Eiga.


Biasanya ini adalah tempat Haruya diam-diam berinteraksi dengan Sara, tapi hari ini hari Sabtu, jadi sekolah sedang libur.


Di tengah situasi itu, Haruya tiba-tiba dipanggil Sara ke atap. Katanya urusannya akan dijelaskan setelah sampai di sana, dan begitu dia datang… yang menunggunya adalah Sara dengan cosplay vampir.


Wajar saja kalau Haruya kebingungan. Baru saja bertemu, langsung cosplay vampir. Dan kalimat pertama yang keluar adalah, “Bolehkah aku mengisap darahmu?”


“Himekawa-san… ini sebenarnya apa?”


“Ah, Akasaki-san. Kurang asyik, ya?”


Sara mengangkat telunjuknya dan sedikit membungkuk ke depan.


“Walaupun kau bilang begitu…”


“Ini cosplay vampir. Makanya aku bilang, ‘bolehkah aku meminjam darahmu~’.”


“Ah—iya sih. Aku paham itu cosplay vampir, tapi…”


“Oh! Jadi aktingku tersampaikan? Syukurlah.”


Mata Sara berbinar-binar.


“Tak perlu sampai membusungkan dada begitu…”


“Iya juga. Maaf… sepertinya aku belum menjelaskannya, jadi akan aku ceritakan sedikit.”


Setelah berdehem sekali, Sara mulai bercerita.


Singkatnya, sepertinya dia dan teman-temannya akan mengadakan lomba cosplay kecil-kecilan, dan Haruya diajak untuk menemani latihan. Bukan acara sekolah, juga bukan karena Halloween sudah dekat.


“Kesimpulannya, penilaian dari laki-laki itu yang paling penting. Karena itu aku memanggil Akasaki-san. Terima kasih sudah repot-repot datang.”


“Yah, hari ini aku juga sedang kosong, jadi tidak masalah. Tapi ternyata para perempuan suka main dandanan seperti ini, ya.”


Haruya memiringkan kepala, terlihat agak heran.


Sara mengangguk lalu melanjutkan.


“Yah, cuma ikut suasana saja… ini pengecualian kok. Tapi ngomong-ngomong…”


Sara mulai menggeliat gelisah, pandangannya berkelana. Sambil merapatkan kedua tangannya, dia bertanya dengan suara pelan. Matanya tampak sedikit berkaca-kaca.


“Itu… bolehkah aku mengisap darahmu?”


“…!”


Dengan polos, Sara memperlihatkan gigi putihnya yang runcing. Jantung Haruya tanpa sadar berdebar. 


Entah kenapa, ekspresi dan gerak-gerik Sara terlihat menggoda dan provokatif. Padahal Sara sendiri tidak melakukannya dengan sengaja, tapi ada alasan kenapa dia melakukan pendekatan seperti ini pada Haruya.


(…Aku tidak boleh kalah dari Rin-san dan yang lain.)


Saat mereka memutuskan untuk mengadakan lomba cosplay bersama teman-temannya (Yuna dan Rin), Rin pernah mengusulkan:


“Cosplay-nya bebas saja. Minggu depan kita saling memperlihatkan. Terus, Yunarin dan Sarachin kelihatannya urusan lawan jenisnya lancar, kan? Jadi sekalian saja, siapa yang paling bikin lawan jenis malu, dia yang menang. Ah, tentu saja kalau tidak mau juga tidak apa-apa.”


Mungkin setengah bercanda, tapi dari situlah semuanya bermula. Karena itu… Sara berusaha keras untuk membuat Haruya malu.


Cosplay vampir, lengkap dengan dialog, “Bolehkah aku mengisap darahmu?”


Pertama kali dia mengatakannya, karena sudah menyiapkan mental, dia tidak terlalu gugup. Namun saat mengulanginya untuk kedua kali, entah kenapa rasa gugupnya justru makin menjadi.


Sebaliknya, Haruya mengira tindakan Sara ini hanyalah godaan.


(Untuk sekadar mendalami karakter cosplay rasanya agak berlebihan. Kelihatannya dia cuma sedang menggodaku. Kalau begitu, aku juga tidak boleh kalah. Terpaksa harus pasang muka tebal.)


Merasa tidak enak kalau Sara jadi terbiasa menggoda orang, Haruya melangkah maju satu langkah. Menghadapi Sara yang tersenyum nakal sambil memperlihatkan giginya, Haruya dengan berani memperlihatkan tengkuknya.


“Kalau begitu, tidak masalah. Ayo, kapan saja kau mau.”


Ia mengangkat rambutnya dan sengaja menyingkap lehernya.


“……e, anu…”


Sepertinya Sara tidak menyangka Haruya akan menanggapi dengan serius dan tanpa ragu.


Dia tampak terkejut.…Namun tepat sebelum mundur, Sara berhasil menahan diri dan melanjutkan.


“Nanti bisa meninggalkan bekas gigitan, lho. Tidak apa-apa? Kalau mau mundur, sekarang masih sempat, Akasaki-san.”


Sambil berkata begitu, di dalam hatinya Sara menjerit, “Apa sih yang aku katakan!? Aku ini kenapaaa!”


“Iya, itu tidak masalah sama sekali.”


Haruya menjawab tanpa sedikit pun goyah. Padahal di dalam hatinya dia panik, “Eh, serius mau digigit? Jangan bercanda…”


Entah karena sudah tidak bisa mundur lagi, Sara perlahan memperkecil jarak dengan Haruya.


Saat itu, aroma parfum yang lembut menggelitik hidung Haruya.

Ketika Sara mendekat ke lehernya dan hendak membuka mulut—


“…Aku tetap tidak bisa. Maaf.”


Hanya dengan suara pelan itu, Sara pergi menjauh. Wajahnya memerah seperti mesin yang terlalu panas. 


Setelah memastikan kehadiran Sara benar-benar menghilang, Haruya duduk di tempat.


(Hah… hampir saja. Kalau sampai ketahuan aku lemah terhadap tekanan, bisa gawat…)


Pada akhirnya, cosplay itu sebenarnya apa, sih?


Haruya pulang dengan perasaan penuh tanda tanya. Sebagai catatan tambahan, kostum cosplay Sara benar-benar cocok dengannya tanpa perlu basa-basi.


Yah, sudah jadi hukum alam kalau gadis cantik akan terlihat cocok dengan apa pun yang dikenakannya.


“Ngomong-ngomong, kostum itu lagi tren ya?”


“…Eh? Kenapa, Haru-san?”


“Enggak… ya, cuma tadi juga lihat, atau semacamnya.”


Beberapa jam setelah sesi cosplay Sara berakhir. Kali ini giliran Yuna yang memanggil Haruya. Tempatnya adalah gudang peralatan olahraga SMA Eiga.


Katanya sejak masuk klub basket, Yuna ditunjuk sebagai petugas kunci gudang, dan entah bagaimana, dengan alasan yang sangat pribadi, dia memanggil Haruya ke sana.


(Ya ampun… atap bareng Himekawa-san saja sudah aneh, masa sekarang gudang olahraga dipakai buat begini juga? Bukannya Nayu-san itu setting-nya murid teladan ya?)


Haruya hanya bisa mengeluh dalam hati. Namun, yang paling layak dipertanyakan bukanlah tempatnya—melainkan penampilan Yuna.


Gigi putih runcing. Jubah hitam. Vampir. Seorang vampir cantik berdiri di hadapannya.


“Oh, begitu. Sebagai catatan ya… aku pakai kostum ini bukan karena mau memperlihatkannya ke Haru-san atau apa,” kata Yuna dengan sungguh-sungguh menjelaskan alasannya.


Ternyata dia juga akan mengadakan lomba cosplay bersama teman-temannya, dan sebagai latihan, mau tak mau Haruya diminta untuk melihatnya.


Aneh. Cerita ini terasa familiar. Bahkan seperti baru saja dia dengar beberapa jam yang lalu.


“Ehm… Haru-san. Menurutmu, kostum ini cocok nggak? Aku bakal senang banget kalau mirip Fal-chan.”


Fal-chan adalah karakter vampir dari manga shoujo, sekaligus oshi bersama Haruya dan Yuna.


“Kalau soal cocok, itu sih sudah pasti.”


“Jawabnya santai banget ya, Haru-san,” gumam Yuna dengan nada agak bosan, lalu menyelipkan rambut ke belakang telinganya dan tersenyum tipis.


“Kalau begini gimana? Mirip Fal-chan… nggak?”


“…!”


Jantung Haruya berdegup kencang. Ekspresinya menegang sesaat. Perubahan kecil itu tak luput dari perhatian Yuna, yang langsung tersenyum puas.


“…Hei. Barusan aku mirip Fal-chan, ya? Reaksimu kelihatan kayak gitu.”


“…Y-ya, mungkin memang mirip.”


“Berlagak kuat aja. Kamu kan mikir Fal-chan itu imut, Haru-san. Artinya ya… begitu, kan.”


“……”


Sambil memasukkan tangan ke saku, Yuna bergumam ringan.


Saat Haruya terdiam, Yuna memperlihatkan gigi vampir putihnya sambil tersenyum.


“…Tadi kamu sempat malu, kan? Haru-san. Kalau iya, aku senang.”


“…Y-ya, sedikit sih. Ngomong-ngomong, kamu nggak bilang ‘bolehkah aku mengisap darahmu’?”


Dengan maksud menutupi rasa malunya, Haruya mengalihkan topik.


“Hah? Mana mungkin aku bisa bilang kalimat memalukan kayak gitu. Itu seleramu, Haru-san? Aku nggak bilang jelek sih, tapi itu benar-benar malu tahu.”


Mengingat Sara di kepalanya, Haruya tersenyum kecut.


“Yah, kalau kamu sudah malu, berarti target hari ini tercapai.”


“…Katanya cuma latihan cosplay buat ditunjukkan ke laki-laki, tapi menurutku sebaiknya kamu jangan melakukan hal kayak gini ke laki-laki lain. Bisa bikin mereka salah paham.”


Mendengar itu, Yuna menghembuskan napas kecil sebelum berbicara.


“Tenang saja… ke laki-laki lain, aku nggak berniat memperlihatkannya kok.”


Saat berpisah, Yuna berbisik pelan di dekat telinganya, “……Soalnya malu,” lalu meninggalkan gudang.


Setelah memastikan Haruya pergi, mungkin dia akan mengunci gudang itu. Sementara Haruya sendiri menghela napas ringan di tempat.


(…Vampir, ternyata daya rusaknya besar juga.)


Keesokan harinya. Lomba cosplay para S-Class Beauty pun digelar, dan tanpa disangka, ketiganya sama-sama memilih vampir, membuat mereka tertawa bersama saat saling memperlihatkan kostum.


Kemudian topik pembicaraan beralih ke siapa yang berhasil membuat lawan jenisnya malu.


“…A-ahem, kalau aku sih berhasil bikin pasanganku tergila-gila!”


Itu bohong. 


Sara hanya menggertak dan berusaha melewati situasi itu dengan gengsi. Sementara Yuna, dengan jarinya memutar ujung rambut, berkata dengan ekspresi puas,


“…Kurasa dia cukup malu, sih.”


Melihat sikap kedua temannya itu, Rin menatap mereka dengan pandangan lembut.


“Kalian berdua imut banget~ Rasanya benar-benar kayak lagi jatuh cinta~”


“Kalau Sara mungkin iya, tapi aku masih belum,” jawab Yuna.


“Masih? MASIH, katamu? Yunarin?”


“…Lalu Rin sendiri? Kamu berhasil bikin lawan jenismu malu?”


“Hmm~ aku beda sama kalian. Aku nggak punya orang khusus buat diperlihatkan sih… jadi aku perlihatkan ke adikku. Eh, dia malah malu banget.”


Rin menjulurkan lidah sambil menggaruk kepalanya. Yuna dan Sara saling berpandangan, lalu mendekati Rin.


“…Eh, kalian berdua? M-maaf! Aku nggak ada maksud jahat kok!”


“Ah, bohong. Jelas-jelas ada niat jahatnya kan?”


“Betul!”


Dengan begitu, Sara dan Yuna bekerja sama menggelitik pinggang Rin.


Apakah suatu hari nanti Rin akan menemukan seseorang yang menarik perhatiannya?


Itu masih belum diketahui siapa pun.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close